Love Guarantee (Chapter 9)

Love Guarantee (Chapter 9)

love guaranteee

 

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Hurt/Comfort

Length : Chapter // Rating : PG-15

Casts : Choi Nayoung (OC), Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Kyura (OC)

 

===

Yes, they had fun together. Spent all the day just two of them. Happy? Of course. They were the happiest creature in the world.

But could this happiness occur eternally?

Who guaranteed it?

===

Begitu masuk ke dalam rumah, Nayoung merasakan lelah yang amat sangat. Ia meletakkan boneka pemberian Baekhyun di atas kasur dan mendudukkannya. Ditatapnya boneka itu dan secara tiba-tiba wajah Baekhyun terlintas di pikirannya, membuatnya tersenyum. Baekhyun adalah namja yang baik, lucu, penyayang, peduli di balik sifatnya yang jahil, menarik, juga tampan. Pasti banyak wanita yang sudah mengejar-ngejarnya. Itulah seorang Baekhyun di mata Nayoung.

Ia bergegas mandi, tak lupa meminum obat dari Dokter Yoo, lalu tidur karena ia tak mampu lagi untuk menahan matanya agar tetap terbuka. Kejadian hari ini berlalu dengan sangat cepat, dan bermain seperti kaset yang terus berputar di otaknya hingga ia benar-benar terlelap.

 

===

 

Nayoung membuka mata secara perlahan, dilihatnya jam dinding di atas pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dan ia masih mencoba untuk membuka matanya secara sempurna.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang amat penting, dan ya memang dia baru menyadarinya sekarang. Matanya terbelalak dan ia langsung duduk tegap di kasurnya. Hari ini adalah hari ulang tahun Baekhyun.

Ia ingin memberi sesuatu pada Baekhyun, tapi apa? Ia akui, ia tak bisa memilih kado untuk seseorang bahkan untuk yeoja saja tak bisa. Jadi akan membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan apa kado yang pas untuk Baekhyun, sedangkan kini ia dikejar waktu.

Akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya ia putuskan untuk memberinya ucapan terlebih dahulu barulah kadonya menyusul. Senyum tersungging di bibirnya, ia rasa Baekhyun akan senang jika ia berkunjung ke rumahnya pagi ini. Dengan semangat ia merapikan tempat tidurnya dan bergegas mandi.

Setengah jam berlalu, setelah memastikan semuanya sempurna ia keluar dan melihat Kyungsoo tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri. “Akhir-akhir ini kau sering menggunakan mobilmu.” Tak ada maksud apa-apa dibalik pertanyaannya, ia hanya ingin berbicara saja.

“Akhir-akhir ini kau sering terlihat sibuk.” Balas Kyungsoo yang sedang mengelap mobilnya di halaman. Ia menoleh sebentar pada Nayoung dan melihat gadis itu tengah tersenyum dengan wajah ceria. ‘Pasti Baekhyun.’ Kyungsoo diam-diam tersenyum memikirkan hal itu.

“Ini hari yang istimewa. Aku pergi dulu. Annyeong!” Ungkap Nayoung bersemangat.

“Ya.”

 

===

 

Kyungsoo bilang mereka baru akan berangkat kuliah pukul sepuluh nanti, dan ini masih pukul delapan. Berarti Nayoung masih memiliki banyak waktu jadi ia memilih untuk berjalan kaki. Ia menyukai berjalan di kawasan dekat rumah Kyungsoo karena sepanjang jalan selalu terlihat menyenangkan di malam maupun di pagi hari. Ia berjalan menyusuri jalan setapak diantara pepohonan dengan langkah riang. Udara yang masih segar ia hirup dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. Tidak salah Dokter Yoo menyarankannya untuk rajin berolahraga.

Senyum terlukis di bibirnya setelah ia berbelok di tikungan dan melihat rumah Baekhyun nampak dari tempatnya berdiri sekarang. Semakin dekat, langkahnya terasa semakin ringan, ia tak sabar ingin segera melihat reaksi Baekhyun.

Dengan mudah ia masuk ke halaman karena pagar dibiarkan dibuka lebar, namun pintu depan hanya terbuka sedikit. Ia mengepalkan tangannya bersiap mengetuk pintu kayu tersebut.

PLAK

Buru-buru ia menarik tangannya. Ia yakin tidak salah dengar, ia mendengar suara… Suara seseorang menampar orang lain. Merasa ragu akan dugaannya sendiri, akhirnya ia mengintip dari celah pintu. Sosok Baekhyun yang tengah memegang pipinya langsung menjadi fokus penglihatannya.

“Kau! Kau mencemarkan nama baik keluarga!” Bentak lelaki paruh baya yang Nayoung yakini sebagai ayah Baekhyun.

“Sudah kubilang bukan aku yang melakukannya!” Teriak Baekhyun tidak kalah keras. Dapat ia lihat mata Baekhyun yang kini amat menyeramkan.

“Keluarga Kang adalah keluarga baik-baik. Mana mungkin anaknya berbuat seperti itu, kecuali kau yang memulai!” Lelaki paruh baya itu menunjuk tepat di wajah Baekhyun dan Baekhyun langsung memalingkan mukanya. Terlihat sekali ia ingin keluar dari situasi ini.

“Baekhyun, eomma tak habis pikir. Apa kau tidak bisa menahannya sebentar hingga kalian menikah nanti?” Kata eomma Baekhyun sambil menangis.

‘Baekhyun? Akan menikah?’ Batin Nayoung.

“Eomma, kau juga tak mempercayaiku? Kau tahu bagaimana aku, aku tak mungkin melakukan hal itu. Percayalah, bukan aku yang melakukannya. Sebaiknya kalian tanyakan pada orangnya langsung!”

“Lalu siapa lagi kalau bukan kau? Kau adalah kekasihnya!”

Jantung Nayoung berhenti sejenak, ‘Baekhyun sudah mempunyai kekasih? Kenapa ia tak pernah bilang padaku?’ Nayoung menutup mulutnya tak percaya.

“Baiklah, karena kau sudah terlanjur menghamilinya maka pernikahan kalian akan dipercepat.”

“Mwo?! Sudah kubilang–”

“Nanti malam keluarga Kang akan datang dan membicarakan hal ini.” Potong ayah Baekhyun.

“Arrghh!!” Erang Baekhyun.

Nayoung merasakan matanya memanas, cairan hangat mendesak di matanya siap untuk dikeluarkan. Baekhyun yang ia kenal sebagai kekasihnya di masa lalu dan kemarin baru saja mengatakan ‘Aku sangat menyayangimu’ padanya, ternyata sudah mempunyai kekasih dan bahkan telah menghamilinya. Lalu apa arti ini semua?

‘Apa Baekhyun sengaja membuatku jatuh cinta dan pada akhirnya akan mencampakkanku? Harusnya aku sudah menduga, tak akan ada namja yang se-setia itu.’ Pikir Nayoung. Sakit hati, sangat sakit hati. Rupanya selama ini Baekhyun berbohong padanya.

Pintu terbuka dengan kasar dan sosok Baekhyun muncul dengan muka gusar.

“Nayoung!! Sejak kapan kau…” Baekhyun tak meneruskan kata-katanya.

Nayoung hanya bisa menatap Baekhyun penuh kebencian, ingin sekali ia menampar wajah namja itu.

Eomma Baekhyun muncul di belakang Baekhyun dan terkejut melihat Nayoung. “Eunji?!” Nayoung menatap mereka secara bergantian. Ia tak bisa menahannya lagi, air matanya akhirnya menetes dan ia segera berbalik karena tak mau terlihat lemah dihadapan orang yang telah melukai hatinya. Namun sayangnya, Baekhyun lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.

“Lepaskan!” Dengan kasar Nayoung menepis cengkraman Baekhyun. Ia kaget begitupun Baekhyun, darimana ia mendapat kekuatan sebesar itu? Dan tanpa mengambil pusing hal tak penting itu, ia berlari sekuat tenaga.

“Nayoung!! Dengarkan aku dulu!” Baekhyun mengejar dan akhirnya berhasil menyusulnya. Ia mem-blok jalan Nayoung dan kini keduanya berhadapan. Dipegangnya kedua bahu Nayoung sehingga ia tak mungkin bisa kabur darinya.

“Kau mendengar itu semua? Kau percaya kan, bukan aku yang melakukannya. Demi Tuhan aku tak pernah melakukan apapun padanya.” Semua yang mendengar perkataan Baekhyun pasti merasa iba. Ia memohon, memohon agar Nayoung mempercayainya. Namun gadis itu malah memasang wajah tak peduli dan ingin segera menjauh dari lelaki itu.

Nayoung menatap Baekhyun tajam. Ia tak peduli lagi dengan air matanya yang masih menganak sungai. Ia tak peduli bagaimana memalukannya sosoknya sekarang. Yang ia pedulikan hanyalah hatinya, asalkan hatinya tenang dan lega, ia yakin akan baik-baik saja.

Namun untuk ini, meski air matanya jatuh satu ember-pun ia tak yakin akan merasa baik-baik saja. Karena ini menyangkut masa lalunya, yang sejak lama ia cari tahu kebenarannya dan setelah menemukannya, rupanya ia dipermainkan oleh seorang namja. Ia merasa harga dirinya telah dilecehkan. ‘Tidak bisakan kehidupan berjalan lebih berat lagi?’ Pikirnya.

“Nayoung percayalah, aku tak mungkin sebrengsek itu. Kau percaya kan?”

“Jika aku percaya bahwa bukan kau pelakunya, bisakah kau jelaskan mengapa selama ini kau membohongiku?” Perkataan Nayoung terdengar amat ketus.

“Membohongimu?”

“Aku percaya, kau namja baik, menarik, tampan, idaman semua wanita, dan kaya raya. Tapi bukan berarti kau bisa mempermainkan perasaan wanita sesuka hatimu! Kau pembohong, Baekhyun!” Nayoung setengah berteriak. Ia tak peduli dengan orang di sekitar yang mulai menaruh perhatian pada mereka.

“Katakan, apa yang kau sebut bohong dariku?”

Nayoung menarik nafas dalam, ia benar-benar muak dengan namja di depannya. “Mengapa kau tak pernah mengatakan jika kau sudah mempunyai kekasih lagi? Apa kau sengaja ingin membuatku hancur dengan membuatku jatuh di awal? Baik, aku minta maaf, aku memang salah karena aku tak bisa mengingat apapun tentang dirimu di masa lalu. Aku juga tak bisa mengingat apa saja yang kita lakukan dulu. Namun, aku juga tak pernah memaksamu untuk tetap menungguku bukan?!” Nayoung terengah-engah. Emosinya sudah berada di ambang batas.

“Kau bebas memiliki kekasih, aku tak pernah melarangmu meskipun kenyataannya dulu aku sangat mencintaimu. Kau bisa beracting seolah tak mengenalku dan menghilang dari kehidupanku. Karena aku hilang ingatan Baekhyun!” Air mata Nayoung bertambah deras.

“Nayoung aku tida–”

“Jadi selama ini aku hanya buang-buang waktu denganmu. Apa yang kau inginkan setelah ini? Apa rencanamu terhadapku?!”

“Dengarkan dulu, ak—“

“Dengar Baekhyun! Kurasa akan lebih baik jika kita beracting seolah tak saling mengenal satu sama lain. Seperti setelah aku mengalami kecelakaan dan kehilangan semua memoriku. Keadaan itu jauh lebih baik untukku, dan untukmu. Kita jalani kehidupan masing-masing dan jangan mencampuri urusan satu sama lain. Kau memiliki orang lain yang membutuhkan tanggung jawabmu. Kau–”

“Dengarkan aku dulu!” Sudah habis kesabaran Baekhyun, bentakannya membuat Nayoung menghentikan kalimatnya. Hanya isakan kecil yang terdengar.

“Ya, aku memang mempunyai kekasih. Tapi hubungan kami hanya sebatas dua orang yang terjebak dalam perjodohan. Aku tidak pernah mencintainya, dan alasan mengapa aku tak pernah bercerita padamu karena kami akan segera berpisah, karena kau telah kembali. Selain itu karena dalam sedetikpun, namanya tak pernah ada dalam hatiku. Aku hanya mencintaimu!”

Baekhyun menghela nafas panjang, dan kini kalimatnya terasa lebih lembut untuk didengar. “Cintaku padamu masih sama seperti yang dulu, dan kau tahu selama ini aku menderita karena menantimu. Orang tuaku menjodohkanku dengan wanita itu karena melihatku yang seperti orang gila ketika tau kau hilang. Mereka hanya berusaha membuatku bangkit kembali, namun sayangnya itu tak pernah bekerja. Karena hatiku, hanya akan kembali pulih bila kau hadir di sisiku.”

“Dan sekarang kau menyalahkanku atas perjodohan itu?”

“Aku tak pernah menyalahkan siapapun, karena hanya akulah yang patut disalahkan. Semua kejadian ini karena aku, akulah penyebabnya.”

Baekhyun mempersempit jarak mereka dan memberi Nayoung tatapan yang hangat dan penuh ketulusan. “Mianhae jika aku mengecewakanmu, tapi aku sangat mencintaimu, tolonglah percaya padaku. Kau juga mencintaiku kan?”

Pandangan mata Nayoung yang tadinya penuh emosi kini kian meredup. “Mianhae Baekhyun. Aku sendiri takut jika setelah aku ingat semuanya, aku tak bisa mencintaimu seperti dulu. Karena jujur saja, hingga saat ini aku sama sekali tidak tertarik padamu apalagi mencintaimu. Harusnya kau sudah tahu resikonya, kembalinya memoriku tidak menjamin kembalinya cintaku padamu.”

Nayoung menegaskan kalimat terakhirnya. Dirinya sendiri tak menyangka akan sanggup mengatakan hal ini di hadapan Baekhyun. Penuturan Baekhyun memang membuatnya tersentuh, namun itu jika ia melihatnya di TV. Dirinya sudah terlanjur memberi cap pada Baekhyun sebagai seorang pembohong. Emosinya telah menguasai dirinya dan ia benar-benar ingin melakukan pembalasan atas perlakuan Baekhyun.

“Kau belum mencobanya. Aku masih mengharapkanmu.” Baekhyun mengiba dan dapat dilihat matanya mulai memerah.

“Bahkan aku sudah merasa lelah sebelum mencoba. Maafkan aku, aku tak bisa membalas perasaanmu. Tolong jangan menunggu dan terlalu berharap, karena aku tak bisa memberikan apapun.” Nayoung menunduk dan Baekhyun tertegun, cengkramannya pada bahu Nayoung ia kendurkan. Ia menepis tangan Baekhyun kasar dan berbalik memunggunginya.

Baru saja dua langkah Nayoung berjalan, Baekhyun melontarkan pertanyaan yang membuatnya berhenti karena terkejut, “Apa kau menyukai Kyungsoo?” Nafas Nayoung tercekat, tak melontarkan satu katapun.

Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya suara kendaraan serta bisik-bisik dari orang di sekitar yang masuk ke telinga mereka dan keluar begitu saja.

“Jadi benar?” Lirih Baekhyun.

Nayoung menutup matanya, berusaha menenangkan dirinya. “Bukankah sudah kubilang, berhenti mencampuri urusanku.” Kemudian Nayoung berlari dengan sangat cepat. Baekhyun menatap punggung Nayoung yang semakin menjauh dengan tatapan nanar.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan mendongak, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Yang boleh menjadi saksi ketika ia menangis hanyalah kamarnya.

 

===

 

Nayoung berlari sekencang yang ia bisa. Semua kejadian yang akhir-akhir ini membuatnya merasa menjadi manusia paling bahagia, kini memenuhi ruang di otaknya. Ia sedikit menyesali semua rentetan peristiwa yang telah terjadi. Ia kecewa pada Baekhyun.

Masalah Baekhyun yang menghamili kekasihnya, ia sendiri ragu karena di matanya Baekhyun adalah namja yang amat baik. Namun hal yang paling ia sesalkan adalah kebenaran bahwa Baekhyun rupanya telah memiliki kekasih, padahal Baekhyun bilang ingin kembali bersama dirinya.

Jika yang ia katakan bahwa gadis itu hanyalah cara untuknya keluar dari masalah adalah benar, lalu mengapa ia tak segera berpisah saat pertama kali bertemu dengan Nayoung, dan memutuskan ingin kembali bersamanya? Apa dia pikir cinta dan perasaan wanita dapat dipermainkan seenaknya?

Diusapnya dengan kasar air mata yang masih terus menetes di pipinya. Mengapa ia menangis sehebat ini? Haruskah ia menangis untuk orang yang telah mengecewakannya? Langkahnya tertuju pada danau yang kemarin ia datangi bersama Baekhyun. Dilemparnya batu-batu ke dalam danau sembari meneriakkan, “Baekhyun! Kau tak berguna!” Ia melempar batu sebesar genggaman tangannya.

“Kau orang paling memuakkan dan menyebalkan yang pernah kutemui!” Ia lempar kerikil sebanyak yang ia temukan.

“Aku membencimu!” Ia melempar batu yang cukup besar yang menciptakan cipratan air yang lumayan besar.

Ia meneriakkan umpatan lainnya hingga hatinya merasa lebih baik. Ia tak peduli dengan anggapan orang lain terhadap dirinya yang mungkin dikira orang gila. Perasaannya jauh lebih baik namun air matanya masih saja turun meskipun tak sederas tadi.

Tubuhnya merosot jatuh terduduk di atas rumput. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, menangis dalam diam diantaranya.

 

===

 

Dengan mata sembab ia mencegat taksi dan pulang ke rumah. Dibukanya pintu depan dengan kasar dan ia masuk ke dalam kamar disertai bantingan pintu. Kyungsoo yang sedang menonton TV dibuat kaget hingga berhenti mengunyah apelnya.

Nayoung mengeluarkan kotak obat dari dalam lacinya, membuka tutupnya, dan menghamburkan isinya ke lantai.

“Akan lebih baik jika aku tak ingat apapun tentangnya. Aku tak mau mengingatnya! Dan aku tidak akan pernah mengingatnya!” Ia setengah berteriak.

“Nayoung, kau baik-baik saja?” Tanya Kyungsoo khawatir dari depan pintu.

Nayoung tak menjawab melainkan jatuh terperosok di lantai, bersandar pada tempat tidur, menekuk lututnya dan menutup wajah dengan tangannya. Ia menangis. Selama ini menangis selalu membuatnya merasa jauh lebih baik, namun kali ini sepertinya itu tak bekerja.

“Bolehkah aku masuk?” Tanya Kyungsoo yang merasakan hawa tak beres di sekitarnya. Setelah sekian detik menunggu, akhirnya ia membuat analisa sendiri, Nayoung tidak akan menjawab apalagi membukakan pintu. Akhirnya ia membuka pintunya secara perlahan karena ia agak cemas jika Nayoung tiba-tiba marah padanya.

Keadaan kamar Nayoung kacau. Bantal, guling, selimut, serta sebuah boneka besar berserakan di lantai, sprai berantakan dan tak terpasang secara sempurna, serta pil-pil berceceran di lantai. Mata Kyungsoo melebar katika melihat apa yang ada dihadapannya. Nayoung benar-benar memiliki masalah yang berat, begitu pikirnya.

“Apa yang terjadi?” Kyungsoo mendekati Nayoung sedangkan Nayoung tak bergerak, hanya bahunya saja yang terlihat bergetar. Kemudian ia duduk di lantai di samping Nayoung. ‘Apa mungkin Baekhyun?’ Ia berspekulasi dalam hati dan mulai khawatir.

Kyungsoo berdehem, dengan tempo yang cukup lambat ia mengatakan, “Apa aku pernah bilang, kalau kita telah menjadi teman?”

Tak ada respon.

“Teman bukan hanya seseorang yang bisa kau ajak jalan-jalan saat kau bosan, mengobrol dan menggosip setiap saat, makan siang bersama,  liburan bersama, dan hal lain yang menyenangkan. Namun lebih dari itu, teman ada karena kau membutuhkannya. Teman yang baik bukanlah orang yang akan menikammu dari belakang, melainkan terus mendukungmu dari belakang. Ia tak akan mengkhianatimu meskipun kau menceritakan apapun yang tak seorangpun ketahui.” Lanjutnya.

Nayoung sedikit mengangkat kepalanya. “Apakah kekasih lebih rendah dari teman?” Isaknya.

Kyungsoo mengerutkan dahi, mencari jawaban yang sekiranya tidak melukai hati Nayoung –meskipun ia sendiri tak tahu mengapa Nayoung seperti ini. ‘Ya, Baekhyun, pasti Baekhyun.’ Pikirnya.

“Kekasih adalah teman, namun teman belum tentu kekasih. Jika teman hanya memberimu kasih sayang, ketulusan, kepercayaan, dan kesetiaan, maka kekasih memberimu lebih. Kau tahu apa yang kelima? Itu adalah cinta, dan cinta itu berbeda dengan cinta yang diberikan seorang sahabat. Lebih besar dan dalam karena ia mencintai sama seperti mencintai dirinya sendiri, atau bahkan bisa lebih. Semua yang ada di dunia ini memiliki peran masing-masing.”

“Semua? Memiliki peran? Mengapa peranku seburuk ini?” Nayoung menggumam.

“Semua ada waktunya, kau hanya perlu menunggu.”

“Menunggu ya. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Aku sudah lelah dengan semua ini.” Ucapan Nayoung tak lebih dari sebuah bisikan.

“Kehidupan akan terasa amat membosankan jika berjalan begitu-begitu saja, tentu akan ada coretan-coretan di setiap perjalanan. Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha bertahan, bersabar, dan ya, bersyukur.”

“Haruskah tetap bersyukur apabila kehidupan tidak berjalan seperti yang diinginkan? Yang mungkin di kedepannya seseorang tak sanggup menghadapinya. Menyerah dan akhirnya kalah.”

“Ya, begitulah. Karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik, apapun itu. Jika Ia memberikan kesulitan, mungkin Ia hanya ingin melihat seberapa jauh kita berusaha dan menghargai kehidupan yang telah diberikan. Dan hanya orang bodohlah yang akan menyerah jika dihadapkan dengan sebuah kesulitan. Aku yakin, kau bukan termasuk golongan orang bodoh itu kan?” Nayoung menggertakkan giginya dan menutup mata.

Keduanya diam, saling menunggu satu sama lain untuk berbicara dan akhirnya Kyungsoo lebih dulu mengambil inisiatif. “Aku siap mendengar kapanpun kau mau. A–Aku tidak memaksa, hanya saja jika kau membutuhkan maka aku akan selalu siap.” Pandangan Kyungsoo lurus pada tembok di depannya.

“Apa aku boleh meminjam bahumu? Sebentar saja.” Ucap Nayoung lirih. Kyungsoo tanpa pikir panjang memperkecil jarak antara mereka dan membiarkan gadis itu menangis di sana. Baru kali ini ia melihat Nayoung menangis dan ini amatlah mengerikan. Jadi ia tak ingin melihat Nayoung menangis lagi, apapun alasannya.

Tepat di saat itu Kyura datang dan melihat keduanya. Hatinya bergejolak, dicengkeramnya rok dengan sekuat kuatnya. Emosinya sedikit terpancing, namun ia memutuskan untuk beracting seolah tak tahu apa-apa. Lebih baik diam. Lagipula ia juga tak tahu apa yang mereka lakukan. Ia hanya tak ingin hubungannya dengan Kyungsoo kandas begitu saja dengan cepat, karena sifat cemburu dan posesif.

Ia berbalik sambil berusaha tetap tersenyum. Diam-diam ia melangkah keluar rumah dan berjalan seolah urusannya sudah selesai dan tak mengalami suatu apapun.

 

===

 

Keesokan harinya Kyungsoo dan Kyura berangkat bersama menuju universitas. Saat menuju kelas mereka tak sengaja berpapasan dengan Baekhyun yang tengah berjalan di koridor. Sebenarnya Kyura ingin menyampaikan kabar bahagia bahwa kini dirinya dan Kyungsoo telah resmi menjadi sepasang kekasih, namun ternyata didahului oleh perkataan Kyungsoo yang ternyata diluar dugaannya.

“Baek! Kemarin Nayoung menangis dan berteriak tidak jelas. Apa yang telah kau lakukan padanya?!”

“Hanya sebuah kesalahpahaman.” Kata Baekhyun datar namun matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Dan ya, hanya Kyura yang dapat melihatnya.

“Lalu?! Kau biarkan begitu saja? Kau tidak berusaha menjelaskan padanya padahal selama ini kau terus menunggunya. Apa perkataanmu bahwa selama ini kau mencintainya itu sungguh-sungguh, huh? Dia amat hancur karenamu. Sebagai lelaki apa kau tidak memiliki rasa bersalah?!” Kata Kyungsoo meremehkan. Kyura tercengang, sebegitunya kah Kyungsoo memperhatikan dan memperlakukan Nayoung?

“Kau tak perlu tahu seberapa dalam cintaku. Itu tidak penting.”

“Apa maksudmu tidak penting?!” Ungkap Kyungsoo tak sabar.

“Apa gunanya? Ia tak bahagia bersamaku. Ia telah menemukan orang lain. Kau.” Baik Kyungsoo maupun Kyura terkejut.

“Maksudmu?” Tanya Kyura.

“Kyungsoo, tolong jaga dia untukku. Aku ingin melihatnya bahagia dan satu-satunya yang membuatnya bahagia adalah kau.”

“Dia mencintaimu.” Ungkap Baekhyun dengan perasaan hancur.

Kyungsoo hanya terdiam, dengan sedikit takut ia menoleh pada Kyura, begitupun Kyura yang kini menatap kedua mata Kyungsoo. Kyura langsung memalingkan muka dan berlari menjauhi mereka –tak sanggup lagi mendengar kelanjutan perkataan Baekhyun. Entah mengapa tubuh Kyungsoo seperti tak bisa digerakkan untuk mencegah Kyura.

“Mengapa kau katakan itu di hadapannya?” Tanya Kyungsoo begitu sadar sepenuhnya. Baekhyun mengerutkan dahi tanda tak mengerti.

“Kau membuat segalanya menjadi tambah sulit. Dia kekasihku.”

“Mwo?! Kau tidak bercanda kan?” Perasaan Baekhyun kini campur aduk. Antara merasa bersalah, bingung, khawatir, dan tak percaya.

“Mi– Mianhae. Aku tak tahu. Ck! Harusnya sudah kuduga sejak awal. Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?” Baekhyun menjulurkan kepala mencari-cari sosok Kyura yang kini sudah tak terlihat.

“Sudahlah, aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Gwaenchana? Tak perlu bantuanku?”

Kyungsoo tau perasaan Baekhyun kini sedang kacau balau akibat masalahnya dengan Nayoung, jadi ia rasa tak mungkin melibatkannya dengan yang ini juga.

“Terima kasih. Lebih baik kau ke kantin dan minum sesuatu yang hangat untuk menenangkan pikiranmu.” Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun.

“Fighting!” Baekhyun tersenyum penuh makna dan Kyungsoo segera berlari menyusul Kyura.

Sesaat setelah Kyungsoo menjauh, senyum Baekhyun perlahan mulai memudar dan digantikan dengan ekspresi khawatir, “Lalu bagaimana dengan Nayoung?” Gumamnya.

 

===

 

“Sudah kuduga kau disini.” Ucap Kyungsoo terengah-engah.

“Kenapa mengikutiku? Kau penguntit?” Kata Kyura sinis. Mereka berdua sedang berada di taman belakang kampus.

Kyungsoo berjalan mendekat, “Masalah perkataan Baekhyun tadi– Tolong jangan kau pikirkan.”

Kyura menutup telinganya. “Aku tidak mendengar.”

Kyungsoo dari belakang meraih pergelangan tangan Kyura dan memaksanya agar terlepas.

“Apa kau cemburu?” Kyungsoo memasang smirk bertanya tepat di samping telinga kanan Kyura.

“Nananana~” Kyura pura-pura tak mendengar.

Kyungsoo segera menutup mulut Kyura dan berkata, “Saranghae. Seumur hidupku, kau lah orang kedua yang mendengar kata itu dariku setelah eommaku. Harusnya kau merasa beruntung.” Kalimat itu berhasil membuat Kyura berhenti dan semu merah muda terlukis di pipinya. Kyungsoo mengitari bangku itu dan kini ia berhadapan dengan Kyura. Ia bungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan Kyura, namun keduanya tidak saling menatap karena buru-buru Kyura menundukkan kepala.

“Jangan pedulikan perkataan Baekhyun. Kurasa setiap orang bebas memiliki perasaan pada orang lain. Bukankan itu sesuatu yang menyenangkan dan tak patut disalahkan? Iya kan?” Kyungsoo memiringkan kepala dan sedikit memamerkan deret giginya.

“Mengapa kau lari? Kita sudah saling memiliki, jadi apa masalahnya? Kau tahu aku sudah memilihmu, dan tolong jangan meragukan perasaan ini.” Kata Kyungsoo tegas di akhir kalimat, membuat jantung Kyura berdetak kacau.

Kyungsoo menunggu, ya menunggu. Karena kini secara perlahan bola mata Kyura mulai bergerak. Dan inilah yang terjadi, kedua mata mereka terkunci. “Aku janji akan selalu menjaga perasaan ini. Karena—Karena aku sudah lama menunggu untuk memilikimu, jadi mana mungkin aku membiarkanmu lepas begitu saja.”

“Tolong jangan mengatakan sesuatu yang belum tentu bisa kau tepati. Aku tidak suka.” Cetus Kyura dengan nada pasti.

“Kau tidak mempercayaiku?”

“Aku percaya, sangat percaya. Tapi gadis itu…”

“Cukup. Sudah kubilang, aku hanya mencintaimu.”

“Apa kau bisa menjamin perasaan itu akan bertahan selamanya seperti yang kau katakan?” Kyura menatapnya serius.

Dengan singkat Kyungsoo mengecup pipi Kyura, “Aku jamin dan aku berjanji.”

Otot Kyura lemas begitu saja, kecupan itu memberi sengatan listrik pada sekujur tubuhnya. Dan sengatan itu menimbukan efek rona merah muda di kedua pipinya. “Lalu kau sendiri?” lanjut Kyungsoo yang tiba-tiba merasa gugup.

“Apa?” Kyura memasang wajah bingung karena ia memang tak tahu apa yang Kyungsoo tanyakan.

“Berjanjilah untuk selalu berada di sisiku dan yang terpenting, percayalah padaku.”

“Kau bercanda? Tentu saja iya.”

“That sounds great!” Kata Kyungsoo sembari menyentil hidung Kyura.

“Au! Appo!” Ia memukul bahu Kyungsoo yang sudah duduk di sebelahnya.

“Bukankah sudah kubilang, suruh dia kembali ke rumahnya.”

“Sekarang? Itu tidak mungkin. Kondisinya benar-benar tidak memungkinkan, kau dengar kan dari penjelasanku tadi. Ia benar-bena-“

“Nah kan. Kau sangat perhatian dan peduli padanya, dan itu berlebihan! Bagaimana bisa kau berani menjanjikan hal mustahil itu?” Kyura menatapnya sebal.

“Bukannya begitu… Itu karena… Karena…”

“Karena apa?” Cetus Kyura tak sabar.

“Karena aku menyayanginya… Sebagai saudara.” Buru-buru Kyungsoo mengatakan kalimat terakhir sebelum Kyura marah lagi. Dan memang benar, sejak kejadian tadi malam ia sudah menganggap Nayoung sebagai adiknya sendiri.

Kyura diam dan memandang tanah. ‘Tenanglah Kyura, dia sudah berjanji padamu dan kau juga sudah berjanji akan mempercayainya.’ Batinnya.

“Tidak… boleh?” Kyungsoo bertanya dengan tempo yang amat lambat.

“Gwaenchana. Kau bebas melakukan apapun asal tetap memegang janjimu.”

Kyungsoo tersenyum puas dan menarik gadisnya dalam pelukan, “Baiklah, kupastikan besok dia sudah tidak di rumahku lagi.” Dalam hati ia berjanji akan mempertanggungjawabkan perkataannya itu, dan membuat gadisnya percaya padanya untuk selamanya.

 

===

 

-To be Continued

 

——–

Keliatan dikit ya? Ini mikirnya lama banget loh. Sampe gempor otak saya karena gak begitu handal dalam membuat kalimat petuah, romantis, puitis, manis, harmonis, alamis, malkis, pianis, dan klimis. Jadi pada akhirnya… Ala kadarnya begini huhuhuhu

Oh ya, ini bakal saya post di blog ini sampe end. Jadi kalau kalian memang masih berminat, mohon tunggu disini aja ya ^^

Thanks XD

12 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s