We Are EXO! (Chapter 4)

a

 

 

Title                 : We Are EXO!

Author             : Elisa Hutami

Main cast      :  Kim Yoo Jung  a.k.a Dara

Oh Sehun a.k.a Sehun

Xi Luhan a.k.a Luhan

Support Cast :  Yoo Young Jae a.k.a Young Jae

Kwon Yuri a.k.a Nyonya Oh

Jeno a.k.a Jeno

Genre              : School life, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Mystery

Length            : Chapter

Rating             : PG-15

Disclaimer      : Original

 

Summary         : Planet bumi yang sudah sangat lama dihuni manusia ini ternyata mempunyai banyak rahasia yang mungkin tidak akan masuk di akal manusia biasa. Salah satunya adalah sebuah pohon yang diberi nama pohon kehidupan yang kini sudah mulai mengering karena suatu alasan, dan ke-12 member EXO diperintahkan untuk tinggal di dunia manusia dengan tugas untuk mencari “sesuatu” yang bisa mengembalikan kesuburan pohon kehidupan. Namun ternyata tugas ini sangat sulit bagi mereka, karena selama di dunia manusia mereka harus bertingkah sewajarnya manusia, dan mereka juga harus pergi ke sekolah yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan, serta memiliki keluarga baru di bumi. Bagaimana cerita selengkapnya? Pantengin terus We Are EXO!
            4st We Are EXO !

Matahari masih belum sepenuhnya bersinar, hawa dingin juga masih terasa sampai ke tulang meskipun Dara dan Sehun sudah memakai jaket yang lumayan tebal. Namun itu semua tidak bisa menghalangi teriakan Dara.

 

“Mwo!!! Namdhongshaeng???!!” Dara menaikkan alis kirinya “yah eomma..! apa kau jadi sakit karena terlalu lama tinggal di Kanada? Yah.. sejak kapan aku punya namdhongshaeng?” Dara memandangi eommanya aneh.

 

“Sejak..” Nyonya Oh bepikir “..sekarang” Nyonya Oh merangkul pundak namdhongshaeng Sehun dan Dara “kalian bertiga.. baik-baiklah.. eomma harus pergi dulu, ada rapat penting soalnya” Nyonya Oh tersenyum tanpa dosa pada ketiga anaknya bergantian.

 

“Mwo? Yah eomma.. kau baru pulang hari ini selama 2 tahun dan  akan pergi lagi?” tanya Dara tidak percaya.

 

“Ada rapat perusahaan penting, eomma tidak bisa tidak berangkat” Nyonya Oh melepaskan rangkulan pada anak termudanya.

 

Dara memutar bola matanya, tidak percaya Nyonya Oh lebih mementingkan rapat perusahaan dari pada anaknya yang sudah 2 tahun tidak bertemu dengannya.

 

“Nah Sehunnie.. sebagai anak tertua aku titipkan kedua namdhongshaengmu padamu yah” Nyonya Oh tersenyum modus pada Sehun “eomma akan pergi sekarang, bye..!” Nyonya Oh kembali memberikan senyuman lebarnya pada Sehun dan Dara yang masih menatap tidak percaya, lalu Nyonya Oh masuk ke taxi.

 

Taxipun berjalan mundur lalu berbelok keluar dari gerbang rumah, kini hanya tersisa Sehun, Dara, dan namdhongshaeng mereka di depan pintu rumah.

 

Dara memutar bola matanya “Ah cenca!” Dara kembali berteriak “aku tidak percaya ini.. eomma pulang hanya untuk mengantar anak yang dia bilang adalah namdhongshaengku? Maldandwae! Aku benar-benar tidak bisa mempercayai ini! Masa eomma….” Dara sibuk berbicara sendiri.

 

Sehun berjalan mendekati namdhongshaengnya yang sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya di depan rumah, mungkin namdhongshaengnya juga merasa tidak enak dengan situasi ini, ya.. dia juga punya perasaankankan?

 

Lalu Sehun membungkukkan tubuhnya tepat di depan namdhongshaengnya, kedua tangan Sehun memegangi lututnya “Iremi moeyo?” tanya Sehun lembut dengan wajah bersahabat.

 

Namdhongshaengnya langsung mengangkat kepalanya “Na.. nan iremi.. Jeno.. Oh Jeno..” namdhongshaeng yang ternyata bernama Oh Jeno itu lalu tersenyum karena senang Sehun menanyakan namanya, meskipun dia gelagepan dalam mengatakan namanya.

 

“Ah..  jadi namamu Jeno..” lalu Sehun mengcak-acak rambut Jeno sedikit.

 

Dara menatap Sehun bingung dari belakang “Hah? Yah oppa!” Dara kesal pada Sehun karena dia sepertinya tidak mempermasalahkan keadaannya.

 

“Senang berkenalan denganmu, Jeno” Sehun kembali berdiri lalu menolehkan wajahnya ke Dara “kita harus sekolah, kajja!” Sehun memasukkan tangannya ke saku celananya, wajahnya kembali datar saat ini lalu dia berjalan ke mobil ferrari merah yang tadinya terparkir tepat di depan taxi.

 

Pertamanya Dara bingung, tapi dia lalu berjalan mengikuti Sehun, baru beberapa langkah dia langsung berhenti lalu menatap Jeno untuk sesaat, kemudian Dara mengikuti Sehun lagi masuk ke mobil, meninggalkan Jeno yang masih berdiri di depan rumah.

 

Mobilpun dijalankan.

 

Diperjalanan..

 

“Yah oppa.. oppa wae geurrae?” tanya Dara menatap Sehun yang sedang konsen menyetir.

 

“Moeyo?” tatapan Sehun tidak berubah, dia masih tetap memandang ke depan.

 

“Jeno itu.. kenapa kau malah baik padanya?”

 

“Aku tidak baik padanya, aku hanya menyapanya, yah.. dia juga punya perasaan kau tahu? Kau harus sedikit menghargainya.. dia itu baru pulang dari Kanadakan? Dia pasti sangat lelah” saran Sehun bijaksana.

 

“Yah oppa! Aku tidak perduli padanya! Dan aku bahkan tidak tahu apa dia benar-benar namdhongshaengku atau bukan” Dara berpikir keras “yah oppa! apa saat aku kecil aku punya namdhongshaeng? Kenapa aku tidak ingat yah oppa?” Dara berpikir keras lagi.

 

“Ah molla.. aku juga tidak ingat punya namdhongshaeng”

 

*Crett..*

 

Mobil direm mendadak, Sehun dan Dara terdorong sedikit ke depan.

 

Mobil-mobil yang berjalan di belakang mobil Dara mengalami kecelakaan tabrakan beruntun, dan mirisnya mobil Dara yang merupakan penyebab kecelakaan ini malah baik-baik saja tanpa tergores atau bergeser sedikitpun. Dan lebih mirisnya lagi adalah Sehun dan Dara tidak tahu bahwa mereka telah mengakibatkan tabrakan beruntun di kilometer itu.

 

Untungnya saat itu jalanan sepi, tidak ada CCTV terpasang dan petugas yang sedang berjaga di kilometer itu, jadi Sehun dan Dara aman.

 

“Oppa apa kau sudah gila? Mengerem mendadak seperti tadi itu sangat berbahaya! kau ingin mati muda hah?” Dara berpikir “ah sudahlah.. lagian ini bukan yang pertama kalinya” Dara mengganti topik “yah oppa.. apa Jeno benar-benar namdhongshaeng kita? Apa.. eomma dan appa mengadopsinya? Atau..” Dara menatap Sehun serius.

 

“Atau.. appa selingkuh? Atau.. eomma selingkuh? Atau..” pikir Sehun ngaco.

 

“Yah..! mereka tidak akan seperti itu!” potong Dara kesal karena Sehun berpikir terlalu jauh.

 

“Bisa saja.. biarpun mereka saling mencintai, tapi jika bertemu dengan orang lain yang lebih baik pasti ada yang akan berselingkuh.. cih.. percintaan memang memuakkan!”

 

“Yah! Eomma dan appa tidak seperti Naeun dan kau! Eomma tidak akan selingkuh.. apalagi appa..” bela Dara.

 

Sehun menyipitkan matanya “Yah! Jangan bahas mantan yeojachinguku! Kau tidak tahu apa-apa soal cinta” Sehun menyenderkan kepalanya “kau bahkan belum pernah pacaran.. hahaha..” ejek Sehun pada Dara yang lalu kembali menancap gas.

 

“Yah.. yang jelas saat aku pacaran nanti aku tidak akan bertahan hanya selama satu hari sepertimu!” Dara menyilakan kedua tangannya di depan perutnya “benar juga kata oppa, aku kan belum pernah pacaran, hoah..!” teriak Dara dalam hati.

 

Saat mobil sudah dijalankan lagi, Dara masih tetap ingin berbicara dengan Sehun “Oppa..”

Dara masih menatap lurus ke depan “apa kau kira eomma sedang berbohong pada kita? Yah.. bisa saja Jeno itu namdhongshaeng appa, kan? soalnya mereka mirip, tapi kenapa eomma harus berbohong kalau Jeno itu namdhongshaeng kita….” bla bla bla.. Dara masih mengoceh sendiri.

 

Tangan kiri Sehun merogok ke saku bajunya, begitu dia mendapatkan apa yang dia inginkan dari sakunya, dia segera memasangnya ke telinganya, ya.. sebuah headsheet.

 

“Jadi oppa.. bagaimana menurutmu?” tanya Dara mengakhiri kata-kata yang bisa dibilang seperti mantra mbah dukun yang lalu menatap Sehun.

 

Sehun masih asik dengan headsheetnya.

 

Dara menarik headsheet Sehun dengan paksa “Oppa kau ingin mati? Apa kau ingin aku tendang hah? Berani-beraninya kau memasang headsheet saat aku sedang berbicara, ah..!.”

 

“Ah mian.. tapi lagu SHINee-Stand By Me ini bagus loh”

 

“Yah kau kira aku bodoh? Kau meninggalkan mp3mu di meja makan!” Dara menyipitkan matanya “lihatlah.. ujung headsheet ini tidak tersambung mp3” cibir Dara.

 

Sehun bingung “Yah.. itu.. itu karena.. yah.. apa kau mau..”

 

“Shireo!” potong Dara langsung “kau cari-cari alasan, aku membencimu!” Dara menyilakan kedua tangannya di depan perut lalu memanyunkan bibirnya.

 

Sehun menarik napas panjang “Aish cenca.. Master.. kenapa aku dimasukkan ke dalam keluarga yang penuh konflik seperti ini sih? Memikirkan member EXO yang lain saja sudah membuat kepalaku hampir gundul, eh.. sekarang malah ada konflik keluarga yang rumit, lebih-lebih Dara si yeoja setengah namja yang keras kepala ini, ah! aku tidak mau ikut campur! Aku pasrah aja deh..” pikir Sehun lelah dalam hati.

 

Dara membuka mulutnya “Jeno itu.. tampan juga ya oppa?”

 

Sehun memutar bola matanya “Cepat sekali kau berubah mood, kau memang yeoja yang aneh” Sehun menatap Dara dengan alis kirinya yang ia naikkan.

 

Dara menatap Sehun miris karena kata-katanya tadi, lalu dia kembali menatap ke depan “Oppa awas..!”

 

Sehun langsung menatap ke depan.

 

Deg! begitu kagetnya Sehun melihat seorang namja berjaket *oke itu bukan masalahnya* masalahnya adalah Sehun akan menabraknya.

 

Dengan sigap Sehun segera membelokkan mobilnya ke pinggir jalan.

 

*Brung..*

 

mbil

 

 

 

( Mobil milyarannya rusak coy! )

 

Mobil Dara sukses menabrak sebuah tiang yang ada di pinggir jalan, dan hal ini sukses juga membuat tampilan depannya penyok dan sedikit mengeluarkan asap.

 

Sehun segera melepas sabuk pengamannya “Dara gwenchana?” Sehun mengangkat Dara yang sedikit tersungkur ke depan lalu dia buat Dara tersender ke kursi.

 

“Aish oppa.. kau benar-benar ingin mati hah?” Dara memegangi kepalanya yang terasa sakit.

 

Deg! Sehun kaget melihat Dara “Dara kau berdarah! kita harus cepat keluar!” Sehun segera mengunci mobil lalu membuka pintu mobilnya, berjalan keluar lalu membuka pintu mobil Dara “Dara pegang pundakku!” Dara mengikuti perintah Sehun. Sehun menggendong Dara ke luar.

 

Sehun mendudukkan Dara di atas rerumputan hijau di pinggir jalan, dekat dengan mobil Dara “Dara gwenchana?”

 

Dara lama merespon “Gwenchana mbahmu! Yah oppa! Kepalaku berdarah karena kau! Kau benar-benar ingin aku tendang oh? Aku bahkan belum menikah oppa! Yah.. pokoknya kau harus tanggung jawab kalau sampai aku tidak mendapat namjachingu karena wajahku yang jadi jelek sepertimu!”

 

“Kau jangan banyak bicara dulu” Sehun khawatir (?) sebenarnya Sehun tidak mau mendengar omongan Dara yang selalu panjang lebar “yah.. apa di mobil ada kotak P3K?”

 

Dara tidak menjawab pertanyaan Sehun.

 

“Yah kenapa kau tidak menjawabku?”

 

“Yah pabo! Kau bilang aku jangan banyak bicara, aku diam malah kau bilang kenapa aku tidak menjawabmu, oppa pabo!”

 

Sehun termanga lalu menjitak kepalanya sendiri “Ah.. aku lupa, yah.. pakai saja sapu tangan ini untuk menghambat pendarahan” Sehun menyodorkan sapu tangannya dari saku celananya.

 

Dara mengambil sapu tangan itu “Yah.. apa disini ada bekas ingusmu?”

 

Sehun menyipitkan matanya “Kalau tidak mau sinih kembalikan” Sehun mengulurkan tangannya.

 

“Anio! Bekas ingus oppa juga tidak masalah, yang penting darahku tidak keluar” lalu Dara gunakkan sapu tangan itu di dahinya, dan ini sukses membuat darahnya tidak keluar lagi untuk sementara.

 

Tiba-tiba Sehun merasa ada sebuah tangan yang memegangi pundaknya dari belakang.

 

Reflek Sehun langsung memegangi tangan itu lalu memlintirnya seperti ibu rumah tangga yang sedang memeras jemuran. Sehingga membuat orang yang memegang pundak Sehun itu berdiri membelakangi Sehun.

 

“Ah ah.. sakit..” kata seorang namja yang tangannya diplintir Sehun, yang ternyata adalah namja yang tadi akan ditabrak Sehun.

 

“Non..?” Sehun menatap namja itu dari samping “yah.. apa kau yeoja bercelana?” tanya Sehun yang melihat wajah namja itu ternyata lumayan cantik.

 

Dara memperhatikan tingkah Sehun “Oppa pabo!” katanya dalam hati.

 

“Mwo?! Yah aku hanya namja yang baby face, ara?!” namja yang diplintir Sehun terlihat marah.

 

“Yah! Kau yang tadi berjalan sembarangan!” Sehun melepaskan plintirannya “lihat ulahmu! Mobilku jadi rusak kau lihatkan?” Sehun memarahi namja itu.

 

Dara memutar bola matanya “Mobilmu? Heh.. dan kau lebih mengkhawatirkan mobil itu dari pada aku? Dasar oppa jahat” batin Dara miris.

 

Namja itu menghadap ke arah Sehun “Aku tidak bersalah kau tahu! Yah.. lihat saja lampu lalu lintasnya! Warnanya merah kau tahu.. jadi aku tidak salah”

 

Sehun bingung mau berkata apa “Yah tapi mobilku rusak, kau harus menggantinya!” kata Sehun yang bisa dibilang asal ceplos.

 

“Naega wae? Aiishh.. tapi sebaiknya kau bawa yeojachingumu ke rumah sakit dulu, dia berdarah” kata namja itu setelah melihat Dara yang sedang memegangi sapu tangan penuh darah.

 

“Ah majayo! Lalu dimana mobilmu? Antar kami ke  ya” Sehun berpikir “tadi kau bilang apa? Yeojachingu?” pikir Sehun telat “dia itu yeodongshaengku tau!”

 

“Oh yeodongshaengmu..” Namja itu berpikir “Mwo? Yah.. aku yang jadi korban disini.. kenapa harus aku yang mengantarnya ke rumah sakit?” pikir namja itu telat seperti Sehun.

 

Sehun mengangkat Dara berdiri “Jadi.. dimana mobilmu?” tanya Sehun yang tidak mengindahkan pertanyaan namja itu.

 

Namja itu memutar bola matanya “Aish cenca.. tarrawa!”

 

Sehun dan Dara mengikuti namja itu menyebrangi jalan, lalu berhentilah mereka di depan cafe yang ada di perempatan jalan itu.

 

Didepan cafe banyak terparkir mobil-mobil keren.

 

fer

 

 

( Mobilnya keren kan? )

 

“Wah.. ferrari ungu ini keren sekali! Pemiliknya pasti sangat kaya, wah.. kalau saja aku bisa membeli mobil seperti ini dengan uang jajanku, kya..! aku ingin mobil seperti ini!” jerit Dara dalam hati.

 

“Coba saja Dara dibelikan mobil seperti ini, aku akan selalu meminjamnya pasti” pikir Sehun dalam hati.

 

*tek.. tek.. tek..*

 

Namja itu berjalan ke samping ferrari ungu, dia membuka pintu lalu menatap Sehun dan Dara “Apa yang kalian lakukan disana? Cepat masuklah..” kata namja itu yang melihat Sehun dan Dara termanga di depan mobilnya.

 

“Mwo? Mobil keren ini milik dia? Aku menarik kata-kataku tadi” batin Sehun “Wah.. pasti namja ini sangat kaya” pikir Dara dalam hati.

 

Sehun dan Dara lalu segera masuk ke mobil namja itu. Sehun duduk di depan bersama namja baby face, sedangkan Dara duduk sendirian di belakang.

 

Namja itu segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.

 

* * *

 

Sampai di rumah sakit.

 

“Mwo? Kamarnya penuh?” tanya Sehun dan Dara kencang pada seorang perawat yang ada di loket pendaftaran.

 

“Ye..” perawat itu menganggukkan kepala.

 

“Yah..” Sehun dan Dara menatap kosong ke lantai yang ada di bawah mereka.

 

“Lalu? Apa ada rumah sakit lain di dekat sini?” tanya namja itu dari samping Sehun yang membuat Sehun dan Dara menatap si perawat penuh harap.

 

“Ah.. ada” perawat itu segera mengambil pulpen dan kertas, lalu ditulislah alamat rumah sakitnya “ini alamatnya” perawat itu menyodorkan kertas pada Sehun.

 

Sehun menerimanya dengan rasa sedikit lega.

 

“T.. tapi.. itu..” perkataan si perawat terpotong dengan perkataan Sehun “Gomawo”

 

Lalu mereka bertiga langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu, menuju ke rumah sakit yang dimaksud si perawat.

 

Sampai di depan rumah sakit..

 

 

k

 

 

( Animal Hospital ? )

 

“Mwo? Yah! Apa yang dimaksudkan perawat itu! ini rumah sakit hewan!” jerit Dara kesal.

 

“Perawat pabo!” Sehun memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.

 

Namja baby face menarik napas dalam “Kajja! Kita masuk ke dalam” kata namja baby face itu polos  yang lalu melangkah mendekati pintu masuk.

 

“Kau gila ya? Ini rumah sakit hewan! Yah.. aku ini manusia, ara?” tanya Dara mencibir namja baby face itu.

 

Namja baby face itu berbalik badan “Kau masih ingin hidup kan?” namja baby face itu menarik napas lagi “kalau begitu masuklah, jika kita mencari rumah sakit lain maka kau akan segera jadi mayat kekurangan darah nanti” kata namja baby face itu polos.

 

“Yah! Kau menyumpahiku!?” Dara memanyunkan bibirnya “Oppa!” Dara menghadap ke Sehun yang berdiri di sampingnya.

 

“Kajja! Kita harus masuk sekarang!” Sehun menggandeng tangan Dara lalu menariknya untuk masuk ke dalam.

 

Dara menaikkan alis kirinya “Shireo! Yah oppa.. aku bukan hewan, ara?”

 

Sehun tidak menjawab Dara, dia malah terus menarik tangan Dara kencang agar Dara tidak bisa lepas.

 

Mereka bertiga kini berdiri di depan loket pendaftaran.

 

“Panggilkan uisanim terbaik disini, aku akan bayar 2x lipat!” kata Sehun yang sontak membuat Dara dan namja baby face memelototinya.

 

“Apa oppa punya uang?” tanya Dara dalam hati.

 

“Matilah aku! Aku yakin 100% dia  pasti menyurhku untuk membayar 2x lipat itu, ah..!’ batin namja baby face tertekan.

 

Perawat yang ada di loket pendaftaran tersenyum “Maaf tapi kami tidak menerima bayaran yang melebihi batas, jika tuan ingin seorang uisanim yang terbaik, disini semua uisanim adalah lulusan terbaik di tahunnya, dan sudah sangat profesional dalam menangani penyakit hewan”

 

Namja baby face bernapas lega “Syukurlah” batinnya lega.

 

“Kalau begitu, dimana hewan yang sakit?” tanya si perawat karena tidak melihat hewan di depannya.

 

“Emh..” Sehun menggerak-gerakkan jarinya “dia yang sakit” Sehun menarik Dara hingga kini Dara berada persis di depan perawat.

 

“Buahaha!” namja baby face tertawa lepas melihat ekspresi Dara.

 

“Maaf tapi..” si perawat berpikir kesar “dari spesies apa ya?” tanya si perawat nglawak.

 

“Buahahaha” namja itu tertawa lagi melihat ekspresi Dara yang bertambah lucu.

 

“Yah!” Data akhirnya membentak.

 

“Jadi, apa uisanim bisa mengobatinya?” Sehun menatap si perawat penuh harap “hanya memerbannya saja supaya dia tidak menjadi mayat yang kehabisan darah”

 

Si namja baby face tertawa lagi untuk kesekian kalinya melihat ekspresi Dara “Buahahaha” lalu namja itu berhenti tertawa “yah! Kau memplagiatkan kata-kataku!”

 

Dara berbalik lalu memelototi Sehun “Oppa kau ingin mati hah?”

 

“Mm.. baiklah, silahkan isi surat pendaftaran ini” si perawat menyodorkan kertas dan pulpen pada Sehun.

 

Sehun mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada di kertas itu dengan polosnya. “Nama pemilik? Mm.. Dara saja lah..” sampailah pada pertanyaan “Spesies? Hm.. aku harus tulis apa ya?” Sehun berpikir keras.

 

“Kau berani mengisinya macam-macam.. aku jamin hidupmu tidak akan lama lagi oppa!” tegas Dara.

 

“Ah molla.. ini!” Sehun menyodorkan kertas itu ke si perawat.

 

Lalu mereka duduk di ruang tunggu untuk menunggu gilirannya dipanggil. Tidak beberapa lama, nama Dara di sebutkan.

 

Deg! jantung Dara tiba-tiba berdetak kencang “Oppa aku takut” kata Dara khawatir.

 

“Mwo? yah.. kau tidak akan apa-apa kok, masuklah.. kau berani sendirian kan?” tanya Sehun yang tiba-tiba jadi perhatian.

 

“Emh..” Dara berjalan ke pintu masuk ruangan. Sehun dan si namja baby face memandangi Dara dari belakang.

 

*Suasana hening untuk beberapa saat*

 

Sehun memberanikan membuka mulutnya “Yah gomawo.. karena telah mengantar kami kesini” kata Sehun sambil malu-malu yang kini sedang duduk di samping namja yang baby face.

 

Namja itu menghadap ke samping, ke wajah Sehun “Gwenchana.. aku juga salah karena menyabrang saat mobil sudah dekat dengan zebra cross, mian” namja itu tersenyum tanpa memamerkan gigi putihnya, lalu dia menundukkan kepalanya di depan Sehun.

 

“A.. apa yang kau lakukan..? jelas-jelas aku yang salah..” Sehun mengangkat kepala namja baby face itu.

 

“Anio.. aku yang salah..” bantah namja baby face.

 

“Maldandwae! Aku yang salah..”

 

“Anio.. aku yang salah!”

 

Aku tahu ini aneh, tapi memang benar mereka sedang berebut salah saat ini. Sampai saat nada bantahan mereka sudah meninggi.

 

“Ah cowa! Kau yang salah!” kata Sehun kesal.

 

“Mwo?” namja itu memiringkan kepalanya “yah! Jelas-jelas kau yang salah!” balas namja itu.

 

“Mwo?!” Sehun meninggikan nada bicaranya, lalu dia memelototi mata coklat namja baby face itu.

 

Namja baby face itu juga memelototi mata coklat Sehun.

 

1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. 1 menit.. 5 menit..

 

“Hahaha…” mereka tertawa secara kompak.

 

“Hahaha.. yah.. kau asik sekali..” Sehun menonjok dada si namja baby face  dengan kepalan tangannya lirih.

 

“Emh” namja baby face itu menghadap ke depan, lalu menundukkan kepalanya, dengan kedua tangannya memegangi kursi bawah.

 

“Yah! Setelah menatap matamu itu.. aku jadi seperti teringat sesuatu” Sehun berpikir keras “apa dulu kita pernah bertemu?” tanya Sehun penasaran.

 

Deg! jantung namja itu berdetak kencang, napasnyapun tiba-tiba jadi terasa berat “Ma.. maldandwae! Ini pertama kali kita bertemu..” sangkal namja baby face  itu.

 

“Anio.. “ tangan Sehun terulur ke dagu namja baby face itu, membuat mereka kini saling bertatapan mata “aku yakin kita pernah bertemu, yah! Mungkinkah..” Sehun menatap dalam-dalam mata coklat namja baby face itu.

 

Lalu entah mengapa potongan-potongan pikiran mengalir ke dalam otak Sehun.

 

Flashback on

 

Langit terlihat gelap karena sang raja siang sudah tenggelam. Rasa dingin sudah mulai terasa, dan serangga-serangga liar juga sudah mulai berdatangan ke sebuah dataran luas di depan sebuah gua tua, namun itu tidak menyebabkan seorang anak laki-laki menghentikan tindakannya.

 

“Emh..” geram seorang anak laki-laki yang tidak juga berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

“Yah Thehun! Berhentilah mencoba mengangkat batu itu dengan pikiranmu, kau tidak di takdirkan untuk menjadi seorang telekinesis sepertiku” saran anak laki-laki yang kini menyenderkan badannya di dinding luar gua, lumayan dekat dengan anak laki-laki yang sedari tadi sedang melakukan hal yang tidak pula ia dapatkan.

 

Anak laki-laki yang ternyata Sehun kecil itu menggeram mendengar perkataan hyungnya“Jika kau bisa, maka aku juga harus bisa, aku tidak mau kalah darimu hyung!” Sehun lalu melanjutkan kegiatannya mencoba mengangkat batu kecil di depannya dengan pikirannya.

 

“Geumanhae.. Kau akan terluka Thehun” saran anak laki-laki itu “yah.. kau itu seorang aerokinesis, bukan telekinesis sepertiku.. jadi kau tidak akan bisa mengangkat batu itu sampai kapanpun dengan pikiranmu!” kata anak laki-laki dengan nada bicaranya yang semakin lama semakin meninggi.

 

Sehun yang sedari tadi duduk di kursi batu besar, kini jadi berdiri “Yah Luhan hyung!” bentak Sehun “menjadi aerokinesis itu sangat memuakkan! Aku lebih suka menjadi seorang telekinesis sepertimu!”

 

Anak laki-laki yang ternyata bernama Luhan itu lantas memiringkan kepalanya “Wae? Bukankah seru jadi pengendali angin? Yah.. kau tahu avatar? Dia itu pengendali angin sepertimu loh..” pikir Luhan polos yang ternyata adalah penggemar kartun Avatar.

 

“Terus? Gue harus bilang wow getoh?” Sehun menatap Luhan datar.

 

Luhan memutar bola matanya “Mulai deh” katanya singkat.

 

Sehun menarik napas panjang lalu membuka mulutnya “Yah Luhan hyung! Bagaimana rasanya jika kau jadi seorang aerokinesis padahal kau membenci angin? Pasti kau sangat membencinyakan?”

 

Luhan menatap Sehun tajam “Wae? Kau.. membenci angin?”

 

“Emh” Sehun mengangguk “angin itu sangat jahat, di bumi bagian utara selalu saja ada bencana karena tornado, dan hyung tau apa tornado itu? itu angin yang besar!”

 

“Lalu?” tanya Luhan singkat.

 

“Lalu?” Sehun tidak percaya dengan pertanyaaan Luhan “yah hyung! Angin itu menyebabkan banyak manusia mati! Seluruh dunia menangis karena ada tornado, karena itu aku membenci angin..” Sehun menundukkan kepalanya.

 

“Hanya itu?” Luhan berjalan mendekati Sehun yang masih tertunduk.

 

*Plakkk!*

 

Sebuah tamparan sukses membuat pipi Sehun sedikit memerah.

 

Sehun memegangi pipinya “Hyung?”

 

Luhan memegangi pundak Sehun, mereka saling bertatapan kini “Tatap mataku Thehun!” perintah Luhan.

 

Sehunpun mengikuti perintah Luhan.

 

“Kau hanya memandang sisi negative dari angin, kau mengabaikan sisi positivenya.. yah! Jangan jadi seorang anak yang negative thinking! Aku tidak suka!” Luhan menasehati Sehun.

 

“Tapi memang tidak ada sisi positivenya kok” bantah Sehun.

 

“Yah! Kau kira apa yang menyebabkan angin darat dan angin laut yang memudahkan para nelayan untuk berlaut? Kau kira apa yang menjadi sumber PLTA yang bisa menghasilkan listrik yang sangat berguna untuk manusia? Dan kau kira apa yang membuat makanan jadi cepat dingin hah?” Luhan berpikir sejenak “ah lupakan soal yang tadi! Yah! kau kira apa hah?!” Luhan meninggikan suaranya.

 

Sehun menelan ludah “A.. angin” Sehun masih memandangi mata coklat Luhan.

 

Luhan melepaskan tangannya dari pundak Sehun “Geurrae! Jadi kau sudah tidak membenci anginkan?” Luhan menatap Sehun sambil tersenyum.

 

“Anio! Aku masih membencinya”

 

“Yah!” Luhan membentak “apa kau ingin aku tampar lagi? Aiishh cenca!” Luhan menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya.

 

Sehun menatap ke samping “Aku.. tidak banyak berguna untuk member yang lain, itu juga membuatku membenci EXO Power ini”

 

“Mwo?” Luhan mencerna perkataan Sehun “yah.. apa yang kau bicarakan? Jelas-jelas kau sangat berguna bagi kami” kata Luhan tulus.

 

Sehun kembali menatap Luhan “Anio!” bentak Sehun yang lalu menarik napas dalam “angin memang bisa digunakkan untuk PLTA, tapi disini sudah ada hydrokinesis dan lunarkinesis, mereka juga bisa menghasilkan listikkan? Bahkan energi yang dihasilkan lebih besar dari anginku ini hyung!”

 

Luhan menatap Sehun dalam “Thehun..” katanya lirih.

 

“Mungkin para nelayan memang membutuhkan angin untuk berlayar, tapi.. apa kita membutuhkan itu untuk pergi? Anio! Kita punya teleportation hyung! Kita tidak membutuhkan angin!” Sehun mulai meneteskan air matanya.

 

“Thehun..” Luhan menatap Sehun khawatir.

 

“Kita sudah punya pyrokinetis yang membuat kita tetap hangat, kita juga punya seorang terrakinesis yang membuat kita mudah menghancurkan bebatuan, seorang levitation yang membuat kita bisa menyerang musuh dari atas langit, seorang vitakinesis yang bisa menyembuhkan luka kita, seorang chronokinesis yang bisa mengendalikan waktu, seorang electrokonesis yang bisa mengendalikan petir, dan seorang cryokinesis yang bisa membuatkan es batu agar minuman kita jadi terasa segar, tapi.. tapi aku bisa berbuat apa untuk mereka hyung? Aku hanya anak kecil termuda di EXO, dan kekuatanku juga tidak terlalu berguna.. aku tidak pantas menjadi salah satu member di grup besar ini” Sehun mengusap air matanya “aku benar-benar..”

 

Kata-kata Sehun terpotong oleh kedatangan seorang anak laki-laki lain yang baru keluar dari pintu gua, laki-laki itu sama memakai jubah seperti Sehun dan Luhan.

 

Anak laki-laki itu sedikit membungkuk “Hah..hah..” anak laki-laki itu kecapean karena telah berlari dari gua “Sehun.. hah.. hah..”

 

Sehun segera menghapus air matanya lagi “Mowe hyung?” tanyanya dengan suara sedikit serak.

 

Anak laki-laki itu lalu berdiri tegak kemudian memandangi Sehun “Yah.. kau habis menangis?”

 

 

hub

 

 

 

 

( Sumpah! Sehun lucu banget! )

 

Sehun baru membuka mulutnya.

 

“Anio! Sehun hanya kelilipan” bantah Luhan yang lantas membuat Sehun menatapnya.

 

 

 

wink

 

 

 

 

( Winknya itu loh )

 

Luhan mengedipkan matanya pada Sehun.

 

“Err.. Luhan hyung jadi kayak cewek kalo ngewink” batin Sehun.

 

“Oh” anak laki-laki itu ber-oh ria “eh aku jadi lupa! Yah Sehun! Kau harus segera pergi denganku!”paksa anak laki-laki itu yang lalu memegangi tangan Sehun.

 

Sehun kaget “Ah waeyo? Sekarang sudah malam hyung, aku mau tidur” keluh Sehun.

 

“Yah teleportation! Ada misi apa malam ini?” tanya Luhan.

 

“Anu.. di desa tempat tinggal leader kita.. sedang kekeringan dan kelebihan air” jawab anak laki-laki yang ternyata adalah seorang anak yang memiliki kemampuan teleportation.

 

“Mwo? Bagaimana bisa? Bukankah leader kita itu seorang hydrokinesis? Yah.. apa leader kita sedang sakit?” Luhan khawatir.

 

“Anio..” si teleportation menggelengkan kepalanya “entah mengapa awan disana tidak bergerak, jadi sebagian daerah dilanda hujan lebat dan sebagian lainnya kekeringan, kau tahu desa itu kan? mereka sangat membutuhkan air karena desa itu adalah desa air, tapi air yang berlebihan juga tidak bagus untuk mereka, jadi leader pergi ke tempat yang sedang diguyur hujan lebat saat ini untuk mengendalikan volume air disana”

 

“Oh.. dan leader memintamu untuk membawa Sehun ke sana untuk memindahkan sebagian awan ke tempat yang kekeringan yah?” tanya Luhan.

 

Sehun membesarkan matanya tidak percaya “Apa itu artinya aku dibutuhkan?” tanyanya tidak percaya dalam hati.

 

“Emh” si teleportation menganggukkan kepalanya “karena hanya Sehun yang bisa menggerakkan awan dengan anginnya, tidak ada lagi yang bisa kecuali dia,  kami benar-benar membutuhkanmu sekarang, jadi.. ikutlah bersamaku yah?”

 

Deg! jantung Sehun berdetak kencang “Hanya aku yang bisa melakukannya? Leader membutuhkanku? Yah.. apa ini bukan mimpi? Aku tidak sedang mimpikan?” tanya Sehun dalam hati, lalu Sehun meneteskan air matanya lagi.

 

“Mwoya? Kau menangis? Anio.. apa kau kelilipan lagi?” tanya si teleportation cemas.

 

Sehun menggelengkan kepalanya “Anio hyung, ayo kita pergi kesana sekarang, leader pasti sudah menunggu kita” Sehun mengusap air matanya.

 

“Emh” si teleportation mengangguk “kalau begitu Luhan hyung, kami pergi dulu ya”

 

 

jky

 

 

 

 

( Anggep aja ini Luhan kecil yang lagi nyemangatin Sehun ya )

 

Luhan mengangguk sambil tersenyum pada mereka berdua “Thehun! Fighting!” kata Luhan mengepalkan tangannya di depan bahu untuk menyemangati Sehun.

 

Sehun tersenyum “Aku akan berusaha semampuku Luhan hyung! Tunggu aku pulang ya” kata Sehun mantap.

 

 

 

luba

 

 

 

 

 

( Luhan tambah baby face pas nangis )

 

Lalu Sehun dan si teleportation menghilang, menyisakan Luhan yang kini sedang menangis bahagia “Thehun.. kau benar-benar membuatku iri dengan misi yang khusus kau dapatkan dari leader” Luhan menghapus air matanya “tapi selamat ya karena sudah mendapat misi pertamamu, wahai aerokinesis”

 

Flashback off

 

 

skhkl

 

 

 

 

( Ommo! Itu Sehun?)

 

Sehun membesarkan tatapannya pada Luhan.

 

Luhan memandang Sehun penuh harap.

 

Sehun menelan ludahnya “Kau… Luhan.. hyung?”

 

snkand

 

 

 

 

( Senyumnya bang Luhan Kya!!!)

 

Luhan mengangguk senang “akhirnya kau bisa mengingatku.. Thehun” tambah Luhan sambil tersenyum hangat.

 

= TBC Chapter 5=

 

Iklan

8 pemikiran pada “We Are EXO! (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s