Just Love Me (Chapter 1)

Just Love me (Chap 1)

Just love me

 

Main cast         : Oh Ah Jeong (OC), Oh Sehun

Support cast    : you can found them by yourself

Genre               : Romance, hurt, little angst

Length              : chapter

Rating               : T

Desclaimer      : cerita ini asli milik author, semua imagine keluar dari otak author sendiri. kalo ada kesamaan author tidak tahu, tapi ff ini asli, bukan plagiat. oh, iya ini fanfict pertama author. jadi mohon maaf kalo alurnya gak jelas, ceritanya ngaco dan yang lainnya. mohon bantuan komen, kritik, dan saran.
Note                   : mungkin banyak typo bertebaran, alur maju mundur.

 

okee enjoy my fanfict!!

 

XOXO-XOXO

 

 

Tidak pernah mengerti apa yang terjadi, kami benci dengan keadaan ini, kami membencinya. Kami hanya saling ingin mencintai.. mencintai sebagai sepasang kekasih.

 

Lee Ah Jeong, wanita itu rasanya tak tahan lagi. Ia menampar lelaki di depannya dengan cukup keras, meninggalkan bekas merah di pipi sang lelaki. Ah Jeong menahan air matanya, “sudah berapa kali aku katakan Oh Sehun, aku tidak bisa berada di sisimu lagi, apakah kau tidak mengerti?” ia mengucapkannya dengan bergetar.

“dan sudah berapa kali pula aku katakan padamu bahwa aku tidak bisa pergi dari sisimu Ah Jeong-a?” lelaki berkulit pucat dan memiliki pipi tirus yang bernama Oh Sehun menjawabnya dengan lugas, Ah Jeong tercekat. Sejenak ia terdiam.

“kau tahu yang seharusnya tidak terjadi Oh Sehun, baiklah jika kau tidak ingin pergi. Maka aku yang akan pergi.” Ah Jeong membalikan badannya dan beranjak pergi, tetapi sehun mencengkram lengannya. “Lee Ah Jeong, aku mencintaimu. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menghilangkanmu dari hatiku maupun pikiranku. Kau membuatku gila Ah Jeong-a.” Ah Jeong meneteskan air matanya, ia tidak ingin berbalik dan menatap Sehun dengan tatapan seperti ini, dengan dirinya yang terlihat lemah. Tidak bisa!

Ah Jeong melepaskan cengkraman Sehun dengan kasar kemudian pergi berlari keluar dari restaurant. Ah Jeong terisak, sesuatu yang melesak di dadanya, rasanya sangat sakit. Sehun, Ah Jeong mencintai lelaki itu, sangat mencintainya. Tapi rasa bencinya sekarang lebih besar dibanding rasa cintanya pada Sehun.

 

Sehun masih terdiam di tempatnya, lelaki itu sedari tadi hanya bermain dengan pikirannya sendiri. “Oh Ah Jeong.. aku membenci nama itu.” Sehun bergumam, ia mengepalkan tangannya kemudian memukul meja restaurant. Sehun menggigit bibir bawahnya, menahan emosinya. Dia benci keadaan, ya dia sangat membenci keadaan sekarang.

Sehun masuk ke dalam mobilnya, memukul setir mobil. Sehun teringat akan semua masa lalunya bersama Ah Jeong, apa yang terjadi saat ini Sehun membencinya. “Ah Jeong-ah” Sehun menunduk buliran kristal bening terjatuh membasahi pipinya. Oh Sehun terlihat rapuh saat ini, sangat rapuh.

 

 

 

 

 

 

#Flashback

Lelaki berkulit pucat itu merangkul pinggang sang wanita, mereka saling bersenda gurau. Tiba tiba mereka terdiam, lelaki tersebut mengusap rambut wanitanya “Lee Ah Jeong-ah, aku sangat mencintaimu. Benar benar mencintaimu.” Kemudian mengecup kepalanya. “Oh Sehun-ah nado, aku juga mencintaimu.” Lelaki bernama Sehun hanya tersenyum, ia memeluk erat wanitanya. “aku berjanji akan mencintaimu selamanya, berjanjilah akan terus ada di sisiku.” Ah Jeong, wanita Sehun mengangguk kemudian memeluk Sehun erat.

 

#Flashback off

 

Ah Jeong terduduk di tepi kasurnya kemudian terisak, ia memegang dadanya. Rasanya sangat sakit, benar benar sakit. dia tidak mengerti mengapa ini begitu sakit, dia yang melakukan semuanya, dia yang memutuskan, mengakhirinya dengan begitu saja. “aku mengambil keputusan yang tepat, karena tak seharusnya hubungan kita berlanjut Oh Sehun, maafkan aku. Maafkan aku karena aku mencintaimu.”

 

#Flashback

Seorang wanita paruh baya berdiri di depan sebuah pintu apartment,ia memencet bel dengan ragu. Kemudian keluar seorang wanita muda, ia adalah Lee Ah Jeong. “annyeonghaseyo” salam wanita paruh baya tersebut, Ah Jeong tersenyum sambil sedikit menundukan kepalanya “annyeonghaseyo, ada keperluan apa disini?” wanita paruh baya tersebut menyerahkan foto, Ah Jeong mengambilnya “ah, ini fotoku. Maaf, tapi bagaimana bisa kau memilikinya?” wanita paruh baya tersebut tidak menjawab, sesaat kemudian ia menangis sambil memeluk Ah Jeong.

“Ah Jeongku maafkan aku, aku yang salah, aku begitu ceroboh. Sampai aku tidak bisa mengurusmu sampai kau sebesar ini, maafkan aku Ah Jeong-ah.” Ah Jeong membelalakan matanya. Kemudian sedikit merenggangkan pelukan wanita paruh baya tersebut. “kau.. tidak berbohong? Kau eommaku?” wanita tersebut mengangguk sambil masih terisak. Ah Jeong bingung dengan keadaan ini tapi ia kembali memeluk eommanya.

 

#flashback off

 

“Andai aku tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya, andaikan aku tidak pernah bertemu dengan eommaku, andaikan aku…” terlalu sakit untuk dilanjutkan, ia tidak bisa menyalahkan eommanya, ia tidak pernah bisa menyalahkan keadaan. Ini yang telah terjadi, keinginannya dari dulu adalah bertemu dengan eommanya dan berbahagia bersamanya. Itu yang dia inginkan, tapi sekarang ia tidak menginginkannya sama sekali. Tapi terlambat, semua terjadi ketika kebahagiaannya datang.

 

 

Oh Sehun, ia kembali ke rumahnya setelah pergi menemui Ah Jeong dan mabuk di bar. Selama dengan Ah Jeong namja berkulit pucat itu tidak pernah pergi bar, tidak pernah minum alcohol bahkan merokok. Tapi sekarang ia melakukan semua itu, lelaki itu terlalu marah dengan keadaan, ia tidak dapat menerima semuanya.

“ommona! Sehun-ah, kenapa denganmu?” eomma sehun memapah anaknya yang mabuk. “semua karenamu eomma! Karenamu dia pergi dariku! Karenamu dia membenciku” Sehun terisak, eomma Sehun merasa bersalah. Mungkin ini terlalu berat untuk kedua anaknya, ia hanya memberitahu hal yang sebenarnya.

“Maafkan aku Sehun-ah, tapi eomma hanya memberitahu kau tentang kebenarannya.” Sehun mendengus “karena kebeneran itu yang menghancurkan kami!!” eomma Sehun menangis, ia sangat bersalah sekarang. Karenanya anaknya yang satu ini berubah.

 

Sinar mentari masuk melalui celah dari jendela kamarnya “ah..” lelaki itu meringis, kepalanya sangat sakit. ini karena efek dari alcohol yang ia minum semalam. ia kembali merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan miris. Wanita yang dicintainya itu masih berada dalam baying-bayangnya. “Lee Ah Jeong” Sehun mengusap kasar wajahnya kemudian bangun dan memilih untuk menyegarkan badannya.

 

Ah Jeong melangkah dengan ragu, wanita itu memasuki rumah mewah di depannya. Beberapa kali ia memegang dadanya. Ah Jeong memencet bel rumah tersebut dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang ia kenal.

“Ah Jeong-ah, kau datang. Akhirnya.” Wanita paruh baya itu memeluk Ah Jeong, Ah Jeong membalas hangat pelukannya. “masuklah, aku sudah menyiapkan masakan untukmu anakku.” Ah Jeong masuk mengikuti wanita tersebut “duduklah dulu, kopermu biarkan adikmu yang membawanya.” Ah Jeong duduk di sofa tamu, ‘adikku? Haft, ya benar dia adikku.’ Batin Ah Jeong.

“Oh Sehun, cepat ke bawah. Bantu eomma sayang.” Teriak eomma Sehun, yang tak lain adalah eomma Ah Jeong juga. Ah Jeong agak sedikit tercekat, mendengar nama itu. Entah, begitu menyakitkan di dadanya.

Lelaki bersurai coklat yang bertubuh tinggi kurus berkulit pucat menuruni tangga dengan malas. “apa yang harus kubantu eomma?” bibi Oh tersenyum simpul “kakakmu datang, bantu ia membawa kopernya.” Sehun terdiam, nafasnya tercekat. ‘kakakku? Ah Jeong sudah datang?’ Sehun menghela nafas panjang.

Ah Jeong berdiri, mencoba untuk kuat di depan Sehun “annyeonghaseyo, Sehun-ssi. Lama tidak jumpa, dan aku senang bertemu denganmu.. adikku.” Ah Jeong mengucapkannya dengan nafas yang agak tercekat, dan ucapannya bergetar ketika menyebutkan ‘adikku’ di akhir kalimatnya.

Oh Sehun, lelaki itu terdiam. Ia terpaku melihat Ah Jeong di depannya, yang mulai sekarang hingga selamanya. Akan menjadi kakaknya. Sehun menelan salivanya dengan susah, menghela nafas panjang, dan mendesah kesal.

“Lee Ah Jeong, aku tidak suka menjadi adikmu. Jadi, sekarang pergilah. Dan kita akan bertemu seperti biasa untuk kencan, dan anggap saja sekarang kau sedang mengunjungiku karena aku sedang sakit. Aku benar-benar sakit.” Sehun menatap datar wanita di depannya dan mengeluarkan kata-kata itu dengan lancar.

Ah Jeong tercengang, begitu juga dengan bibi Oh. Wanita paruh baya itu benar-benar merasa bersalah sekarang, seharusnya ia memang tidak pernah mencari Ah Jeong. Anak perempuannya yang tidak pernah ia temui 20 tahun silam.

“apa yang kau pikirkan? Aku, OH SEHUN sedang sakit. kau tidak mau merawat kekasihmu eoh?” Ah Jeong naik pitam, terkadang Sehun berpikiran gila. Bahkan di depan eomma mereka, Sehun masih bisa berkata seperti itu. “jangan jadi egois Oh Sehun, aku tidak mencintaimu. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, bisakah kau bersikap lebih sopan dengan nunamu?” Sehun menghela nafasnya, ia tahu ini akan terjadi. Tapi dengan bodohnya ia masih melakukan ini.

“siapa nunaku? Sejak 19 tahun yang lalu sampai sekarang aku tidak pernah punya nuna” Ah Jeong melirik eommanya-bibi Oh, wanita paruh baya itu terisak. Ah Jeong menelan salivanya kasar, kemudian ia menarik tangan Sehun keluar rumah.

 

Sehun melepaskan tangan Ah Jeong yang menarik lengannya dengan kasar, Ah Jeong menghela nafas panjang, kemudian berbalik menghadap Sehun. “sudah kubilang berapa kali Oh Sehun, jangan bersikap egois. Hanya menerima keadaan, mungkin ini takdir kita jadi relakanlah. Masih banyak yang lebih baik dariku.” Sehun hanya terdiam, ia hanya menatap Ah Jeong.

“aku pikir kau sudah mengerti, jadi kita harus bersikap normal di depan eomma.” Ah Jeong berjalan melewati Sehun yang tidak bicara sama sekali, Ah Jeong menoleh sejenak kemudian menghela nafas panjang.

“baiklah.” Suara Sehun membuat Ah Jeong berhenti melangkah. “jika kau berpikir aku akan mencari wanita lain, itu bisa saja terjadi. Jika kau berpikir aku dapat menemukan wanita yang lebih baik darimu, aku yakin aku bisa mencarinya. Jadi, jika kau menginginkan itu aku akan melakukannya.”

Lagi, rasa sakit itu melesak di dadanya. Mendengar Sehun berbicara seperti itu dengan nada yang sangat yakin membuat Ah Jeong menahan nafasnya untuk yang kesekian kalinya. “itu lebih baik.” Ujar Ah Jeong dengan suara yang agak tercekat kemudian pergi meninggalkan Sehun, “tapi aku tidak bisa memiliki wanita lain selain dirimu Lee Ah Jeong, aku sangat mencintaimu.” Gumam lelaki berkulit pucat tersebut, kemudian menghela nafasnya panjang.

 

 

Oh Sehun berbaring di ranjangnya, lelaki itu menutup matanya menghirup udara di kamarnya. Setelah mengantarkan Ah Jeong-nuna barunya ke kamarnya, yang tepatnya kamar yang berada di sebelah kamar Sehun. Mulai esok sampai selamanya-mungkin mereka akan satu rumah. Bukan sebagai suami-istri yang selalu mereka bayangkan, tapi menjadi kakak adik.

Hal yang tidak pernah dibayangkan Sehun sebelumnya, takdir yang tidak pernah diinginkan Oh Sehun, dan mulai esok mereka akan benar-benar menjalankan kehidupan sebagai adik-kakak.

Sehun berjalan masuk ke kamar mandi, meraup wajahnya dengan air dari kran di wastafel dan mengusap wajahnya kasar. Sehun menatap dirinya di depan kaca, “Oh Sehun, kau lelaki bodoh! Tak seharusnya kau membiarkan wanitamu menjadi nunamu! Aaaarrrrgh!” tangan Sehun yang terkepal sekarang sudah mendarat di kaca yang berada di depannya bersama dengan serpihan kaca dan darah yang keluar dari luka di jarinya.

 

Oh Ah Jeong, ya benar marga wanita itu berubah karena sekarang ia adalah keluarga Oh, bukan keluarga Lee yang ayahnya telah meninggal beberapa tahun silam karena tragedy tragis di Busan. Ah Jeong duduk di tepi ranjang, wanita itu mengusap ranjang yang ia duduki.  “aku rindu mengelus surai coklatmu Sehun-ah, aku benar-benar merindukan aroma khas apelmu.”

 

#flashback

Ah Jeong dan Sehun bersantai di hamparan rumput di bukit yang mereka sering datangi untuk hanya sekedar mencari udara segar. Oh Sehun, lelaki itu nyaman dengan posisi kepalanya yang berada di paha Ah Jeong, membaringkan tubuhnya di rumput sambil menatap langit.

Ah Jeong mengelus surai coklat Sehun yang halus, walau terlihat berantakan tetapi surai coklat itu sangat lembut dengan wangi khas apel yang sangat disukai Ah Jeong. Aktifitas mengelus surai coklat Sehun sudah menjadi kegiatan wajib untuk Ah Jeong setiap harinya, dimanapun ia berada bersama Sehun.

“Ah Jeong-ah, aku akan mengganti shampoo-ku. Bolehkah?” Ah Jeong mengerutkan dahinya “mengapa? Aku menyukai wangi apelmu.” Sehun mengerjapkan matanya “aku bosan dengan apel, ayo kita menggantinya dengan mint.” Suara manja Sehun membuat Ah Jeong tersenyum manis, wanita itu menyukai sikap manja Sehun, ya dia menyukai semua yang ada pada diri Sehun.

“jika kau menggantinya dengan mint aku akan menghentikan aktifitas rutinku untuk mengelus rambutmu.” Sehun mem-poutkan bibirnya. “tapi aku ingin menggantinya Ah Jeong-ah.” Ah Jeong menatap kekasihnya datar “terserah kau, jika kau tidak ingin aku mengelus kepalamu seperti anak kucing maka gantilah shampoomu.”

Sehun terduduk, ia menatap wanitanya. “waeyo?” Sehun memegang kedua pipi Ah Jeong “apa yang kau bilang barusan eoh?” Sehun menatap wanita di depannya “jika kau tidak ingin aku mengelus surai coklatmu itu seperti anak kucing maka gantila-mmph” belum sempat Ah Jeong menyelesaikan kalimatnya, Sehun sudah mencium lembut bibirnya. Ah Jeong membulatkan matanya dan kemudian membalas ciuman Sehun.

Sehun melepaskan ciuman mereka, “baiklah Lee Ah Jeong, sesuai keinginanmu. Aku tidak akan mengganti shampooku.” Kemudian kembali mengecup singkat bibir Ah Jeong, wajah Ah Jeong memerah. Oh Sehun benar-benar membuat pipi Ah Jeong merona merah saat itu juga.

“hey, kau terlihat manis jika seperti itu Ah Jeong-ah.” Sehun mencolek dagu kekasihnya. “yaa, Oh Sehun-a!” Sehun tersenyum jahil kemudian berbisik “aku mencintaimu, Lee Ah Jeong.” Ah Jeong menunduk, rona merah di pipinya semakin terlihat. “nado Oh Sehun-ah, aku juga mencintaimu.” Kemudian memeluk Sehun erat sambil bersandar di dada bidang Sehun.

 

#flashback off

 

Ah Jeong mengeringkan rambutnya, wanita itu baru saja selesai mandi. Dia duduk di dekat jendela kamarnya yang sedikit terbuka, benar-benar segar. Ah Jeong benar-benar menyukai udara di musim semi, rasanya hangat dan terkadang sejuk.

Seseorang mengetuk pintu kamar Ah Jeong, “Ah Jeong-ah, makan siang sudah eomma siapkan. Ayo turun dan makan bersama.” Itu bibi Oh, “iya eomma, aku akan turun.” Ah Jeong dengan segera keluar kamarnya, ia berhenti sejenak di depan kamar Sehun menatap pintu kamar Sehun yang tertutup kemudian turun menuju ke ruang makan.

Bibi Oh sudah duduk di meja makan yang penuh dengan berbagai macam sajian makanan. Ah Jeong tersenyum hangat pada eommanya kemudian duduk. “ayo, makan yang banyak Ah Jeong-ah.” Ah Jeong mengangguk “tapi eomma, dimana Sehun?” bibi Oh terdiam sejenak, “anak itu tidak ingin makan bersama, entah. Mungkin dia belum terbiasa, maafkan aku Ah Jeong-ah.”

Ah Jeong mengerutkan dahinya “kenapa eomma minta maaf padaku?” Bibi Oh menarik nafasnya “karena aku kalian seperti ini.” Ah Jeong menggeleng “tidak eomma, kau tidak salah. Mungkin kami yang belum terbiasa, sudahlah. Ayo kita makan.”

 

Oh Sehun, lelaki itu menutup matanya rapat sambil berbaring di ranjangnya. Terlalu banyak kenangannya dengan Ah Jeong, ia bisa saja melupakan wanita itu dan menganggapnya sebagai nunanya. Tapi mau dikata apalagi, hati ini masih belum bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.

Sehun mengambil jaketnya, lelaki itu berencana untuk menikmati udara musim semi sore ini sendirian. Lelaki ini turun ke bawah dan mendapati wanita yang pernah memasuki hhidupnya selama 3 tahun itu duduk di sofa sambil bersenda gurau dengan eommanya, tepatnya eomma mereka. Oh Sehun memperhatikan mereka sejenak, kemudian dengan acuh berjalan ke pintu untuk memakai sepatunya.

Bibi Oh menyadari anak lelakinya itu, “Sehun-ah, kau mau kemana nak?” Sehun terdiam, lelaki bersurai coklat itu tidak menanggapi pertanyaan eommanya. Sedangkan Ah Jeong hanya memandangi Sehun. “Sehun-ah, kau mau kemana?” Sehun membuka pintu rumah, ia terhenti memegang kenop pintu. “berhenti mengkhawatirkanku.” Kemudian menutup pintu dengan keras dan pergi menjauh dari rumah.

Bibi Oh tercengang melihat anaknya. Lagi, wanita paruh baya itu menangis terisak. Ah Jeong juga terkejut dengan perubahan Oh Sehun, lelaki yang ia kenal tidak seperti itu sebelumnya. Ah Jeong memeluk eommanya yang terisak, “jangan menangis eomma, aku yakin ia akan kembali seperti biasa. Mungkin ia butuh waktu karena keberadaanku disini.” Bibi Oh hanya mengangguk sambil tetap terisak, wanita paruh baya itu benar-benar merasa bersalah.

 

Musim semi tahun ini cukup dingin. Sehun, lelaki bersurai coklat itu merapatkan jaketnya, dia berjalan perlahan sambil sesekali menghirup udara seoul. lelaki itu berjalan menuju taman kota, duduk di sebuah bangku taman menatap langit jingga di atasnya. Kenangan tentangnya dan Ah Jeong kembali berputar di memori otaknya. “Lee Ah Jeong.”

 

#flashback

“Sehun-a, kau suka langit jingga di musim semi eoh?” Ah Jeong,wanita itu bersandar di pundak lelaki bersurai coklat disampingnya. “iya, kau tahu mengapa aku menyukai musim semi eoh?” Sehun mengusap lembut kepala Ah Jeong sambil tetap menatap langit diatasnya. “kenapa?” pertanyaan datar itu keluar dari bibir Ah Jeong “karena.. musim semi itu indah, musim semi itu hangat, membahagiakan, sangat lembut dan juga tidak mudah terlupakan. Itu adalah kau Ah Jeong-ah, musim semi itu seperti kau. Lee Ah Jeong, wanitaku, wanita milik Oh Sehun, dan hanya Oh Sehun yang miliki.” Sehun memeluk pinggang wanitanya erat dan mengecup keningnya.

Wajah Ah Jeong kembali memerah, terlihat sangat manis. Wanita itu terdiam sejenak “Oh Sehun itu seperti musim dingin.” Sehun mengerutkan dahinya “kenapa harus seperti musim dingin eoh? Aku bukanlah lelaki yang dingin kan?” Ah Jeong menggenggam tangan Sehun yang memeluk pinggangnya.

“ya, kau Oh Sehun, lelaki yang sangat dingin yang pernah aku temui. Kau itu dengan mudah membekukan perasaanku, menguncinya rapat dan tidak membiarkan hatiku mencintai lelaki lain kecuali dirimu. Kau itu putih dan lembut seperti salju, aku tahu kau setia dan kau lelaki lembut juga romantis.” Lelaki bersurai coklat itu tersenyum lembut, kembali mengecup kening Ah Jeong.

“tidak ada yang ingin kau sampaikan Oh Sehun?” Ah Jeong, wanita itu bertanya sambil menatap Sehun yang sedari tadi diam. “memang apa yang harus aku katakan eoh?” Ah Jeong mempoutkan bibirnya “minsalnya ‘saranghaeyo’ atau ‘Lee Ah Jeong, aku mencintaimu tetaplah disisiku, atau ungkapan yang lainnya?”

Sehun, lelaki itu terkekeh. Ia berpura-pura berpikir sambil memandang Ah Jeong. “hey, cepatlah, mengapa kau jadi tidak romantis?” Sehun tersenyum simpul “kau adalah malaikatku, you’re my angel. Lee Ah Jeong, tanpa kau berkata seperti itu lelaki tampan di sampingmu ini akan tetap merayumu kan? hanya tetap berada di sisiku maka kita akan bahagia, aku pastikan itu karena aku mencintaimu dari dalam lubuk hatiku.”

Ah Jeong terdiam sejenak, ia sedang berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya “kau merayuku eoh? Oh Sehun aku membencimu.” Sehun  terkekeh, ia mencubit pipi Ah Jeong lembut “kenapa kau membenciku?” Ah Jeong melepaskan pelukan Sehun dari pinggangnya “karena kau selalu membuatku terjebak dalam semua bualan romantismu.” Kemudian menarik kedua pipi Sehun kencang “yaa! Lee Ah Jeong!!”

 

#flashback off

 

Sehun memegang dadanya, lagi. Terlalu sakit untuk dikenang. Kenangan yang seharusnya masih terus ada, Sehun menarik nafas panjang. Lelaki itu memegang sisi jaketnya. “bisakah aku hapus musim semi?” Sehun bergumam pelan, kemudian menghela nafasnya  panjang, pertanyaan bodoh yang dikeluarkannya. Lelaki itu menelan salivanya kasar, kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya diantara keramaian Seoul.

 

Lagi, Oh Sehun memasuki bar yang biasa ia datangi akhir-akhir ini. Lelaki itu duduk di depan meja bartender. “Oh Sehun, kau ingin mabuk lagi eoh? Lelaki gila, pulanglah. Aku tidak mengizinkanmu untuk mabuk lagi.” Sehun memandang lelaki manis di depannya, lelaki dengan kulit putih susu, kulit mulus dan bersurai kemerahan.

“aku benar-benar gila kali ini Lu-ge.” Lelaki manis di depannya menghela nafas panjang. “tunggu aku diluar dan kita akan bicara.” Sehun menggeleng “berikan aku sebotol wine Luhan-ge” lelaki yang dipanggil Luhan itu juga menggeleng. “aku melayani pelanggan sebentar, kemudian aku izin keluar untuk kita makan malam bersama. Tunggu aku.” Sehun mengacak rambutnya frustasi sambil mendengus kesal.

 

 

 

Sehun duduk di dalam warung makan bulggogi di pinggir Seoul bersama Luhan, lelaki manis itu memesan daging bulggogi dan sebotol arak beras. “kau jangan gila Oh Sehun, aku mengerti keadaanmu. Jangan jadi lelaki bodoh.” Luhan membalik daging yang sedang dimasaknya sambil sesekali memandang Sehun yang hanya diam.

“ini bukan dirimu, kau berubah. Dan aku tidak suka kau seperti ini karena masalahmu yang terlalu kau besar-besarkan.” Sehun, lelaki itu menatap tajam lelaki di depannya yang sedang sibuk memasak daging. “apa maksudmu dengan kata ‘membesar-besarkan’ hyung?” Luhan mengangkat bahunya “well, jika kau bisa mengatasi perasaanmu dengan baik, berpikiran jernih dan normal kau tidak akan jadi seperti ini.”

Sehun terdiam, perkataan gege nya itu benar, jika ia berpikiran jernih dan normal maka ia akan bisa mengatasi semua masalahnya dengan baik, dan tentunya ia tidak akan berubah menjadi orang yang buruk.

“aku yakin, walaupun dia selalu bilang ia tidak mencintaimu dan membencimu. Ia masih mencintaimu, tulus dari dalam hatinya ia mencintaimu, asal kau tahu membohongi perasaan sendiri itu sangat sakit. jadi jangan lakukan hal yang sama.” Luhan mengangkat daging yang matang kemudian menyodorkan piring berisi daging itu pada Sehun.

“makanlah dulu, aku yakin kau lapar. Tenagamu terbuang sia-sia karena memikirkan masalah ini, jadi makanlah yang banyak.” Sehun memandang piring yang berisi daging di depannya juga semangkuk nasi secara bergantian, lelaki berkulit pucat itu memandang lelaki manis di depannya, “makanlah, jangan khawatirkan aku.” Kemudian mulai mengambil sendok dan memakannya dengan lahap.

Oh Sehun, lelaki ini jarang berbicara pada siapapun setelah kejadian ini, kejadian yang membuat penyakit sakit hatinya berkepanjangan. Lelaki bertubuh kurus ini melahap makanannya dengan perlahan, mencoba mencerna kembali semua ucapan gege-nya.

 

 

 

 

 

 

Ah Jeong menutup pintu kamar eommanya, wanita paruh baya itu terlalu lelah menangis sampai sempat tertidur di sofa, dan Ah Jeong baru saja mengantar eommanya ke kamar yang akhirnya sekarang sudah tertidur lelap di ranjanganya.

Wanita itu keluar menuju halaman, menunggu kedatangan lelaki yang sedari tadi sore pergi sendiri entah kemana. Hingga larut malam dia pun tak kunjung datang. “Oh Sehun, dimana kau lelaki bodoh?” Ah Jeong duduk memeluk lututnya di tangga depan rumah, masih tetap menunggu lelaki yang pergi.

Sekilas memorinya berputar mengingat kenangan mereka, kemudian wanita itu memukul kepalanya pelan. “bodoh, kau tidak boleh mengenangnya Ah Jeong-ah. Kau bodoh.” Gumamnya, wanita itu menguap kemudian tanpa sadar menutup matanya perlahan tanpa sadar.

 

Oh Sehun, lelaki itu berjalan memasuki rumahnya. Ia melihat wanita itu terduduk di depan rumah sambil memeluk lututnya, Sehun menghela nafas panjang. “kenapa aku harus melihatmu lagi malam ini?” Sehun melangkahkan kakinya kearah wanita itu. Ia berjongkok di depannya, “kau terlihat sama, sama seperti Lee Ah Jeong yang kukenal.” Sehun mengusap buliran krystal bening yang membasahi pipi mulusnya.

Lelaki berkulit pucat itu menggendong wanita di depannya dengan perlahan, berusaha agar ia tetap terjaga dari tidurnya. Sehun membawa Ah Jeong menuju ke kamarnya dan merebahkan perlahan wanita yang masih terlelap, kemudian menyelimutinya. “aku mencintaimu.” Kemudian mengecup kening Ah Jeong dan pergi keluar dari kamarnya.

 

 

 

 

 

 

“eungh..” Ah Jeong mengerjapkan matanya sambil bergerak kecil di kasurnya, sinar mentari sudah masuk ke kamarnya melalui celah jendela. Ia menggosok matanya, kemudian terduduk. Ia meraba kasurnya, “sejak kapan aku berada disini? Oh Sehun, apakah lelaki itu sudah pulang? Ah, sudahlah.”

Ah Jeong menuruni tangga, wanita itu baru saja selesai mandi. Ia turun ke bawah dan melihat eomma yang sudah sibuk dengan dapurnya. “eomma, ada yang perlu kubantu?” Bibi Oh menoleh dan tersenyum “Ah Jeong-ah, kau sudah bangun? Ya,aku butuh bantuan, maaf merepotkanmu, tapi bisakah kau memotong beberapa lobak itu? Eomma belum bisa memotongnya karena sibuk menyiapkan kaldu.”

Ah Jeong mengangguk “tidak apa eomma, sama sekali tidak merepotkan memang seharusnya aku yang membantu. Tidak mungkin Sehun yang membantu kan?” Bibi Oh terkekeh, akhirnya wanita paruh baya itu bisa tertawa kecil pagi ini.

“Sehun biasa membantuku menyuci sayuran, ia tidak bisa memasak, tidak seperti ayahnya.” Ah Jeong mengangguk pelan “ayah Sehun bisa memasak?” Bibi Oh terdiam sejenak, “iya, ayah Sehun bisa memasak, ayah… kalian.” Ah Jeong tersenyum simpul, “baiknya kau memanggil anak itu turun ke bawah dan makan bersama.” Ah Jeong mengangguk kemudian berjalan ke kamar Sehun.

Belum sempat Ah Jeong menaiki tangga, wangi khas apel itu tercium olehnya. Wangi khas Sehun, wangi yang Ah Jeong rindukan. Ah Jeong menoleh kearahnya, dan benar Oh Sehun sudah berdiri di depannya. “tidak usah terlalu repot memanggilku nuna, aku akan bergabung sarapan bersama kalian. Tidak perlu khawatir.” Ujarnya kemudian berjalan melewati Ah Jeong.

Ah Jeong terdiam, wanita itu menahan nafasnya sejenak. Ia memegang dadanya kembali, rasa sakit itu kembali melesak. Terlalu sakit mendengar Sehun berkata seperti itu, ia memanggil Ah Jeong ‘nuna’. Entah, tapi melihat Sehun dengan cepat merelakan semuanya dan sepertinya lelaki itu ingin memulai lagi kehidupan yang baru, Ah Jeong tidak tahu tapi rasanya kali ini benar benar sakit.

 

 

 

Mereka sarapan bersama, dengan suasana yang sangat hening, kemudian Ah Jeong memecah suasana. “eomma, masakanmu  sangat enak. Bubur lobak buatanmu juga benar-benar lezat.” Bibi Oh tersenyum “Oh Sehun juga menyukai bubur lobak buatanku, iya kan Hun-ah?” lelaki itu hanya diam, ia hanya melahap makannya dengan perlahan. “oh, jadi adikku juga menyukai bubur lobak? Aku tahu, pasti karena buatan eomma sangat lezat kan?” lagi, lelaki itu hanya terdiam, masih fokus dengan makanannya.

Oh Sehun, rasanya lelaki itu ingin sekali bersenda gurau dengan wanita di depannya. Wanita yang sangat dirindukannya. Tapi amarah ini masih ada di hatinya, ia tidak ingin membentak keras wanita di depannya, membuatnya marah. Sehun tidak mau itu terjadi, jadi lelaki itu memilih diam.

“mungkin Sehun lelah, setelah sarapan istirahat saja di kamarmu Sehun-ah. Agar kuliah esok kesehatanmu tetap terjaga.” Sehun hanya mengangguk, kemudian menghabiskan buburnya dan berdiri. “aku selesai makan, aku lelah. Aku akan beristirahat di kamar, jika kalian butuh aku ketuk saja pintu kamarku.” Kemudian pergi menuju kamarnya.

Bibi Oh dan Ah Jeong saling berpandangan “sudah kubilang kan? dia pasti akan berubah eomma, ia akan terbiasa.” Bibi Oh mengangguk “iya, setidaknya anak itu mau bicara padaku walaupun tidak bahagia seperti biasa.” Ah Jeong memperhatikan lelaki itu. Oh Sehun, lelaki itu benar-benar menyiksa batinnya.

 

Setelah membantu eomma merapihkan ruang makan Ah Jeong memilih untuk duduk di halaman rumah. Wanita itu menutup matanya, mengingat sikap Sehun padanya tadi, memang seharusnya sikapnya seperti itu. Memang seharusnya itu yang Ah Jeong harapkan. Tapi ternyata hatinya berkata lain, Ah Jeong yang sekarang ingin menjadi egois. Tapi ia tidak bisa.

“andai aku bisa membencimu, maka aku akan membencimu. Andai aku bisa melepasmu makan aku akan lepaskanmu, maaf Oh Sehun sampai sekarang ternyata aku belum bisa menghapusmu dari hatiku, terlalu sulit, terlalu sakit.” Ah Jeong menghela nafasnya panjang “dan andai kau tahu.. aku sangat mencintaimu.”

 

Oh Sehun, lelaki itu terpaksa kembali masuk ke kamarnya sebelum emosinya kembali meluap. Ya, lelaki itu mendadak menjadi agak sensitif dan emosional akhir akhir ini. Apalagi jika ia sudah melihat Ah Jeong di depan matanya. Sungguh, lelaki itu ingin sekali mengeluarkan semua sumpah serapahnya pada wanita itu. Kemudian membawa wanitanya-yang seharusnya menjadi miliknya ke dalam pelukannya.

Sehun memandang keluar jendela, dan meilihat sosok itu duduk di halaman rumah. Sehun mengepalkan tangannya, seharusnya ia duduk disana menemani wanita itu menikmati udara musim semi sambil melepas rindu bersama. Tapi bukan itu yang seharusnya terjadi.

Lelaki berkulit pucat itu kembali menghela nafasnya panjang sambil tetap memperhatikan wanita itu dalam diam. “haruskah aku lakukan yang tidak seharusnya aku lakukan Ah Jeong-ah?” Sehun menatap lekat sosok itu.

 

“maafkan aku, aku pikir memang seharusnya dari awal aku.. Melupakanmu”

 

 

 

 

TBC~

 

 

 

 

 

9 pemikiran pada “Just Love Me (Chapter 1)

  1. ini rada-rada nyesek .
    itu Sehun sama Ah Jeong beberan kakak adik gak sih ? kayaknya nggak deh . . jangan pisahin SeJeong nee.. mereka itu sweet banget. .

  2. nyesek gila…..
    kasihan ahjeong ma sehun…..
    tu beneran mereka saudara kandung??
    smoga ibunya salah orang aj deh….
    pokoknya couple tetep SeJeong
    ak tngu nxt chpter 😉

  3. apa bener mereka adik-kakak? semoga eomma.a sehun salah orang,, karena sejeong pokonya harus bersatu! bayangin dech,, lg romance”nya tiba” aja ada fakta bahwa mereka thu bersaudara.. ini nyesek bgt! gila, parah!
    next chap ditunggu^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s