Stuck (Chapter 2)

Stuck

Stuck Cover

 

Title       : Stuck (Chapter 2)

Author  : Hye Kim

Genre   : Romance, Comedy

Length  : Multichapter

Rate       : PG-15

Main cast:

  • Kim Hyemin
  • Oh Sehun (EXO)

Other cast:

  • EXO member
  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Other cast.

Disclaimer: Other cast and the plot of story are mine. Pure from my mind. NO plagiarism.

Summary: You are mine. And I’m yours, from the first time we meet each other. Note it. Don’t you dare to leave me.

****

[PREVIEW]

Sehun menghampiri mereka yang tengah diinterograsi oleh seorang Cho Kyuhyun.

“Hyemin­-a, sedang apa kau di sini bersama Kris? Kemarin bukannya bersama Sehun?” tanya Kyuhyun dengan nada tak suka. Hyemin hanya menunduk. “Kau—“

 “Oh Sehun,” gumam Hyemin lirih saat tangannya ditarik oleh Sehun. “Kyuhyun hyung, bukankah hyung ingat, bahwa dia asistenku sekarang? Kalau begitu, aku pergi dulu. Kris hyung, Hyemin-akajja!” Sehun menarik tangan Hyemin sedikit kasar. Entah kenapa, ia mulai membenci seniornya itu. Atau mungkin, ia mempunyai alasannya tersendiri.

****

Author POV

“Oh Sehun,” panggil Hyemin, mendongak menatap Sehun yang jauh lebih tinggi darinya, walaupun tak setinggi Kris. Sehun menoleh dan menatap gadis itu datar. “Kau kenapa?”

Aniya.”

Kali ini Kris yang bertanya pada Sehun. “Sehun-a, kenapa kau tiba-tiba menarik kami seperti itu tadi? Kau tak sabar untuk meminum bubble teamu?” Sehun hanya mengangguk pelan.  Kris mendengus. “Dasar bocah tak sabaran!”

Sehun hanya tersenyum miring.

Pintu elevator terbuka. Sehun kembali menarik tangan Hyemin. Tangannya menggenggam erat tangan Hyemin.

“Oh Sehun, pelan-pelan. Sakit,” gumam Hyemin lirih, namun masih dapat didengar oleh Sehun. Sehun melepaskan genggamannya. Belum sempat Hyemin merasa lega, Sehun langsung merangkul Hyemin. Hyemin menatap Sehun. “Kau tak boleh jauh-jauh dariku,” ujar Sehun tanpa menatap Hyemin sama sekali, lalu membuka knop pintu ruang latihan.

“Kenapa?” gumam Hyemin pelan. Ia menatap Sehun, seperti sedang mengharapkan sesuatu, tetapi ia segera menepis pikiran konyolnya itu. “Karena kau asistenku.”

Hyemin membeku. Tubuhnya terasa mati rasa. Entah kenapa, ia merasa tertohok mendengar ucapan Sehun barusan. Hyemin bodoh, apa yang kau pikirkan?

Di saat Hyemin tengah berperang dengan pikirannya sendiri, Sehun sudah menikmati bubble tea miliknya dengan sebelah tangannya masih merangkul Hyemin. Sehun yang kesal melihat Hyemin hanya terdiam, ia menjetikkan jarinya di dahi gadis itu. “Kau tak mau bubble teamu? Ambil sana di Kris hyung!” titah Sehun sembari mendorong tubuh mungil Hyemin. Hyemin mengelus dahinya yang dijentik Sehun.

Hyemin mencibir ke arah Sehun dan dengan polosnya, Hyemin bertanya, “Bukankah aku tak boleh jauh-jauh darimu?” bingo! Sehun tak berkutik selama beberapa saat. Harusnya aku tak mengatakannya tadi pada gadis ini. Ini semua karena namja itu.

Sehun tampak tergagap. “Y-ya, itu berlaku di saat-saat tertentu. Sudah sana!” Hyemin berjingkrak riang, menghampiri Kris. “Kris oppa, es krimku mana?”

Kris tersenyum, mengelus lembut kepala Hyemin, gemas. “Ada di dalam plastik yang Lay pegang,” ujar Kris, tersenyum lembut pada Hyemin. Sehun yang melihat itu, memutar bola matanya. Kesal.

Hyemin berjalan dengan cepat ke arah Lay, tak sabar untuk menikmati es krimnya. “Yixing oppa,oppa melihat es krim punyaku, tidak?”

Lay mengerjapkan matanya berkali-kali. “Es krimmu? Kukira tadi es krim Kai—“

“Lalu, es krimku di mana?” Lay menunjuk Kai yang tengah menikmati es krim—yang bahkan ia tak tahu itu milik siapa.

“Kai oppa!” Kai terkejut melihat Hyemin yang tengah menyilangkan kedua tangannya di dada, dan memajukan bibirnya. “Wwae?”

Oppa—“

“Kai-ya, kau mengambil es krim Hyemin,” ujar Sehun dengan wajah datar khas miliknya. Kai menatap es krim di tangannya, dan menyengir tak berdosa pada Sehun dan Hyemin. “Hyemin-a, mian.”

Hyemin hanya tersenyum pasrah, lalu menatap Sehun dengan puppy eyesnya. Sehun hanya menatapnya datar, mengerti arti puppy eyes yang dikeluarkan oleh Hyemin.

“Baiklah, ayo!”

****

Hyemin tersenyum riang ketika Sehun tengah menghampirinya dengan dua scoop es krim untuknya dan Sehun sendiri. “Aku Chocolate Mouse, ‘kan?”

Sehun mengangguk dengan wajah datarnya. Entah kenapa ia sedang tidak mood hari ini.

Gomawo, Oh Sehun!” Hyemin melahap sesendok besar es krim ke dalam mulutnya. Ia benar-benar maniak es krim, terlebih es krim cokelat.

Hey, pelan-pelan.” Sehun belum melahap es krimnya, ia masih menatapi gadis di depannya yang sedang menikmati es krim itu. Hyemin mengangguk. “Kau tidak memakan es krimmu? Kalau tidak—Oppa? Oppa!”

Hyemin berlari meninggalkan kedai es krim. Ia melihat seseorang yang mirip dengan seseorang yang ia kenal. Seseorang yang telah meninggalkannya demi mencapai impiannya. Kakaknya. Kakak lelaki yang ia sayangi.

“Hyemin-a, kau kenapa?” tanya Sehun yang melihat Hyemin yang jatuh terduduk. Hyemin menggeleng. Ia menyentuh kedua sisi bahu milik Hyemin. “Kim Hyemin!” seru Sehun, namun gadis itu tetap menggeleng. “Nan gwaenchana, Oh Sehun,” lirih Hyemin, menunduk.

Seseorang yang Hyemin panggil tadi terhenti ketika mendengar seseorang memanggil nama Hyemin. Orang itu menoleh dan mendapati seorang gadis tengah terduduk di jalan khusus untuk pejalan kaki. Mata lelaki itu membulat, melihat Hyemin. Ia mengenal Hyemin—tentu saja. Ia merindukan gadis itu. Merindukan adiknya yang telah ia tinggal selama lima tahun itu.

Lelaki itu berlari menghampiri Hyemin. “Hyemin-a.” Hyemin mendongak, membulatkan matanya tak percaya. “Hyunjoongoppa,” gumam Hyemin lirih. Tangis Hyemin pecah di saat Hyunjoong, memeluknya. Keduanya menitikkan air mata kerinduan mereka—setelah berpisah sekian lama.

Oppa jahat! Oppa tak pernah kembali setelah oppa pergi! Se-setidaknya oppa pulang setelah oppa sukses, tetapi, tetapi—“

Sehun yang melihat itu, perasaanya bercampur aduk. Antara terharu, bingung, dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tak percaya dengan lelaki yang tengah memeluk Hyemin itu. Siapa yang tidak mengenal lelaki itu, yah, Kim Woobin. Tetapi kenapa Hyemin memanggilnya Hyunjoong? Itulah yang ada di pikirannya.

Sehun menatap Hyemin yang terisak. Entah kenapa, hatinya terasa sakit saat melihat gadis itu menangis.

Mianhae, Minah-ya, maafkan oppa.” Woobin mengucapkannya berkali-kali. Tatapan Woobin tertuju pada seorang lelaki yang tengah menatap mereka. Lelaki itu tak lain adalah Sehun. “Kau bukannya salah satu anggota EXO itu, bukan?”

Sehun mengangguk. ”Annyeong haseyo, Sehun imnida.”

Hyemin melepaskan pelukannya pada Woobin. “Oh Sehun, ini oppaku. Kim Hyunjoong atau terkenal dengan nama Kim Woobin. Kau pasti tahu, ‘kan? Bodoh saja kalau kau tidak tahu.” Sehun menyipitkan matanya. “Kim Hyemin, kau—“

Woobin terkekeh geli melihat adiknya itu. “Minah­-ya, kau sadis sekali.” Woobin mengacak-acak rambut Hyemin. Hyemin memajukan bibirnya. “Sudah, ayo berdiri!” Woobin menarik tangan Hyemin agar berdiri, lalu menatap Sehun.

“Sehun-ssi, kau pacarnya Hyemin?” Hyemin dan Sehun terdiam. Wajah keduanya terlihat merona. Woobin menatap keduanya, terkekeh. “Tebakanku benar?” Keduanya menggeleng.

“Aku asistennya, Oppa!” Hyemin tersenyum, menunjukkan Vsign dengan jarinya. Woobin mendengus. “Apa katamu?” Hyemin menggeleng.

Oppa, ayo makan es krim!”

“Es krim?” Hyemin mengangguk. Sehun mendengus. “Bukankah kau barusan makan es krim, Kim Hyemin? Oh ya, es krimku tertinggal di kedai!” Sehun berbalik menuju kedai. Namun, Hyemin menahan tangan Sehun. “Biarkan saja es krimmu. Oppa akan membelikannya untuk kita! Lagi pula, es krimmu pasti sudah cair, bukan?”

“Baiklah, ayo kita makan es krim di dekat sini!”

Sehun hendak menyetujuinya, namun ia teringat bahwa ia masih harus kembali ke tempat latihan. Dengan tak enak hati, Sehun menolaknya secara halus—kalau saja tidak ada Woobin, ia takkan menolaknya secara halus di depan Hyemin. “Hyung, Hyemin, kalian makan es krim saja berdua. Aku harus kembali. Aku masih harus latihan. Oh ya, Hyemin-a, tasmu ada di mobilku. Tunggu sebentar di sini.” Sehun berlari ke mobilnya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Sehun kembali dan memberikannya pada Hyemin. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Nanti aku akan meneleponmu. Bye.”

Hyemin melambaikan tangannya pada Sehun yang sudah pergi menuju mobilnya. Sehun hanya tersenyum. Senyum tulus untuk Hyemin. Wajah Hyemin merona seketika. Woobin hanya menatapi adiknya itu, terkekeh.

“Kau menyukainya?” Hyemin mendongak. Kakaknya ini benar-benar sudah sangat tinggi, sama seperti Kris. “Menyukai siapa?”

“Sehun. Kau menyukai Sehun?” Hyemin mengerjapkan matanya berkali-kali. “Siapa yang bilang aku menyukai namja menyebalkan itu?” Hyemin merajuk. Woobin terkekeh.

Saranghae, uri magnae.” Woobin memeluk adiknya. “Aku juga, Oppa.”

“Ayo, kita pergi!”

****

Sehun memasuki ruang latihan dengan muka masam. Mood dia benar-benar sedang buruk. Luhan yang melihat kelakuan magnae mereka itu, menghampirinya. “Kau kenapa? Hyemin mana?”

Sehun menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Kenapa memangnya jika Hyemin tak ada?” Sehun mendelik. Hyung-hyungnya ini sudah terkena virus Hyemin.

Luhan menggeleng. “Ani, Hyemin ke mana?” Sehun benar-benar kesal. Hyemin. Hyemin. Kenapa selalu gadis itu yang selalu ia dengar da nada di pikirannya? Aku sudah gila.

“Sehun-a?”

“Hyemin tadi bertemu kakaknya. Dan dia sedang bersama kakaknya.” Sehun melengos pergi ke sofa dan duduk di samping Chen. Luhan mengikuti Sehun, dan duduk di samping namja yang dari kemarin selalu menampakkan wajah datarnya. “Hyemin punya kakak? Pasti tampan sekali kakaknya!” seru Luhan penuh semangat. Sehun mendelik. Benar-benar sudah terkena virus Hyemin.

Hyung, kau pasti tidak percaya jika aku katakan siapa kakaknya,” desis Sehun, tetap dengan wajah datarnya. Seketika, semua member mengelilingi Sehun, ingin tahu. Sehun menghela nafas. Kim Hyemin, selamat. Kau benar-benar membuat mereka terkena virusmu.

Sehun menghela nafas sekali lagi. “Kakaknya Hyemin itu Kim Woobin. Kalian tahu, ‘kan?”

Hening. Semuanya tampak tak percaya dengan apa yang Sehun katakan. Sebentar lagi mereka pasti akan teriak. 1,2,…

WHAT??”

MWORAGO?”

Mereka membulatkan matanya. Kyungsoo, yang bermata bulat pun, matanya bertambah besar.

“Jangan bercanda, Oh Sehun!” seru Baekhyun, dengan matanya yang menyipit kembali.

“Aku sedang tak bercanda, Hyung. Ini serius. Tadi mereka baru bertemu, sepert—“ Sehun terhenti. Bagaimana pun, ini mungkin rahasia mereka berdua—Hyemin dan Woobin.

“Seperti?” tanya Kyungsoo, penasaran. Sehun mengelus tengkuknya. “Ah, tidak. Aku serius melihat Woobin datang menjemput Hyemin. Awalnya kukira Woobin hyung itu kekasihnya,” ujar Sehun tanpa sadar. Sedetik kemudian, ia sadar apa yang ia katakan barusan. Ia terdengar…cemburu?

“K-kalau begitu, aku pulang dulu. Tidak latihan lagi, ‘kan? Aku pulang.” Sehun beranjak, meninggalkan ruangan.

“Astaga, Kim Woobin kakaknya Hyemin? Mereka cocok sekali!” seru Luhan histeris.

“Astaga, Kim Woobin! Kim Hyemin, Kim Woobin! Wah!” jerit Kyungsoo histeris dan memeluk Baekhyun.

HYUNG!” teriak Chanyeol dan Kai pada Kyungsoo dan Baekhyun yang tengah berpelukan. Chanyeol memajukan bibirnya dan menyilangkan tangannya di dada, sama seperti Kai.

Sedangkan Kyungsoo dan Baekhyun masih saja berpelukan, tak menghiraukan rengekan dari Chanyeol dan Kai. Dan akhirnya, terjadi tarik-tarikan Kyungsoo dan Baekhyun.

****

Hyemin melahap es krim ketiga yang dibelikan kakak tersayangnya itu. Hari ini ia benar-benar bahagia sekali. Ia bertemu kakaknya yang telah sekian lama tak kembali. Sejenak kejadian di mana kakaknya pergi saat itu, muncul di benak Hyemin.

 

FLASHBACK

Seorang gadis berumur tiga belas tahun menghampiri kakaknya yang tengah dibentak oleh Ayahnya.

“Kau boleh saja menjadi model, tapi aku tak mengizinkanmu untuk menjadi seorang aktor!” teriak ayah dari Hyunjoong dan Hyemin—gadis itu.

Hyunjoong hanya menatap sang ayah, geram. Ia tak mau hidupnya diatur ayahnya. Ia tahu, saat ia sudah cukup umur, ia pasti akan dijodohkan dengan anak rekan kerja ayahnya—atau siapapun itu. Setelah itu, ia pasti diangkat menjadi CEO perusahaan ayahnya. Ia tak mau. Hyunjoong tak mau hidupnya diatur. Niat ia mengunjungi ayahnya di Indonesia adalah untuk memberitahu bahwa ia telah direkrut sebuah agensi untuk menjadi aktor. Namun, ayahnya menolaknya mentah-mentah.

Appa, bisakah sekali ini saja appa menuruti permintaanku?” tanya Hyunjoong, menahan emosi yang akan meledak. Ia benar-benar tak tahan.

“Tidak. Aku tak ingin anakku menjadi seorang aktor. Pergilah kau jika ingin menjadi aktor. Tapi, jangan pernah berani untuk menginjak rumahku lagi. Dan kau, tak boleh bertemu dengan kami lagi! Termasuk ibu dan adikmu! Kepala Jung, bawa anak ini keluar dari rumahku. Dan belikan ia tiket pesawat. Pergilah kau!”

Hyunjoong benar-benar tak percaya. Ayahnya mengusirnya, dan melarang ia bertemu dengannya, juga ibu dan adiknya. Adiknya. Hyunjoong menatap adiknya yang tengah menangis. “Hyemin-a, oppa akan kembali. Kau jangan khawatir, ya? Tunggu oppa, ya? Oppa janji akan kembali setelah sukses. Akan kubuktikan bahwa aku ini berbakat pada appa. Jangan khawatir, ya? Aku menyayangimu.” Hyunjoong memeluk adiknya erat. Bukan masalah bagi Hyunjoong jika adiknya berada di Seoul juga. Tapi adiknya ini tinggal di Indonesia, yang jauh dari Seoul. Ia pasti akan merindukan adiknya.

“Jangan tinggalkan aku, oppa!” tangisan Hyemin pecah di saat Hyunjoong sudah ditarik oleh Kepala Jung keluar rumah.

“Hyunjoong-a! Yeobo, jangan seperti ini! Biarkan saja dia ingin menjadi aktor. Yeobo!” Ayah mereka tak mendengar omongan ibu mereka. Ayahnya benar-benar tak peduli.

“Aku ingin ikut Hyunjoong oppa! Lepaskan aku! Oppa!” Hyemin berusaha mengejar Hyunjoong, namun terlambat, Hyunjoong sudah masuk ke dalam mobil.

“Hyemin, kau jangan takut. Kakakmu sudah berjanji. Hyunjoong pasti akan menemui nanti.” Bibi Kang, menenangi Hyemin. Namun sepertinya, Hyemin tak mendengar ucapan Bibi Kang. Ia terus menangisi kepergian kakaknya itu. Kakak lelaki yang sangat ia sayangi.

END OF FLASHBACK

Hyemin menatap es krimnya yang sudah mulai meleleh. Setetes air mata turun dari mata kecokelatan milik Hyemin.

“Kenapa, Hyemin?” Woobin mengucap air mata Hyemin dengan ibu jarinya. Hyemin menggeleng. “Aku hanya teringat ketika appa mengusir oppa.”

Woobin menarik tangannya, dan menunduk. “Mianhae, oppa belum menemuimu sekalipun. Selain karena jadwal oppa yang padat, oppa tak punya keberanian untuk menemui appa,” gumam Woobin lirih.

Oppa,” panggil Hyemin, dengan senyum yang mulai terukir di wajahnya. “Eum?”

“Semenjak oppa pergi, aku selalu mendengar appa menangis tiap malam di ruang makan. Appa menyayangimu. Oppa tidak membencinya, ‘kan? Bahkan appa menonton drama dan film yang kau bintangi diam-diam. Ia sering tertawa melihatmu dan mengatakan ‘Uri Hyungjoong tampan sekali. Maafkan aku, Nak.’ Itu yang selalu appa katakan saat menontonmu.” Woobin menutupi wajahnya.

Hyemin tersenyum. Kakaknya sudah kembali. Ia bahagia. “Ah oppa, jangan nangis! Mukamu bertambah jelek, tahu! Ayo, antar aku ke café!” Woobin mengusap wajahnya, lalu mencubit pipi adiknya. “Café? Kau bekerja di café?” Hyemin mengangguk. “Ayo, antar aku!”

****

Sehun memasuki rumahnya yang mewah. Tentu saja. Ayahnya seorang CEO perusahaan milik kakeknya itu. Sejujurnya, Sehun ingin memiliki apartment sendiri. Tapi, ia juga tak mau berada jauh dari ibunya.

Kembali ke Sehun. Sehun menatap sekeliling rumahnya. Sepi. Ibunya sedang pergi, mungkin. Dan ayahnya? Sedang berada di China untuk mengurusi kantor cabang di sana.

Sehun menghela nafas. Jam menunjukkan pukul lima sore. Setibanya di kamar, ia memutuskan untuk mandi dan tidur.

SKIP~

Sehun menaiki ranjang miliknya yang empuk. Menyentuh bantal bukan membuat Sehun bisa tertidur. Di kepalanya, muncul wajah Hyemin yang sedang tersenyum. Ia mengacak rambutnya frustasi. “Kim Hyemin, kau benar-benar.. Ah!” Sehun menenggelamkan kepalanya ke bantal.

Hari ini, moodnya benar-benar hancur. Pertama karena Cho Kyuhyun. Sehun entah kenapa sangat tidak menyukai cara Kyuhyun bertanya kepada Hyemin. Lelaki itu lebih terlihat seperti ayah yang melarang anak gadisnya untuk menikah *-_-*.

Dan kedua, saat melihat Hyemin memanggil hyung-hyungnya dengan sebutan ‘Oppa’. Sedangkan gadis itu hanya memanggilnya ‘Oh Sehun’. Terlebih saat melihat tatapan memuja Hyemin pada Kris. Astaga aku gila.

Dan terakhir, ia hampir saja memukul Kim Woobin yang tiba-tiba memeluk Hyemin. Awalnya ia kira Woobin adalah lelaki mabuk yang menginginkan Hyemin, ternyata gadis itu memeluknya balik dan menangis.

Mengingat Woobin dan Hyemin, ia bertanya-tanya. “Ada apa sebenarnya dengan mereka? Tadi Hyemin bilang Woobin meninggalkan Hyemin? Apa maksudnya?” Sehun mengerang frustasi. Kenapa ia harus penasaran?

Sehun memeluk gulingnya, dan menggigit bantal itu. “Oh Sehun, sadarlah!” dan tak lama kemudian, Sehun pun tertidur.

****

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hyemin tengah membereskan baju seragamnya dan menaruhnya di loker khusus pekerja café. Saat ia membuka pintu yang berlabel staff only, seseorang menahan tangannya.

“Kim Hyemin, kau harus pulang denganku malam ini.” Kyuhyun menatap Hyemin tajam. Hyemin memajukan bibirnya. “Oppa, aku akan pulang bersam—“

“Sehun? Kris?” potong Kyuhyun cepat. Hyemin menggeleng. “Lantas bersama siapa, eum?” Kyuhyun menangkupkan kedua pipi chubby milik Hyemin. “Bersama kakakku!” seru Hyemin riang.

Kyuhyun menaikkan satu alisnya. “Kakakmu? Sejak kapan kau punya kakak? Kau tak bisa berbohong denganku, Kim Hyemin.” Hyemin melepaskan tangan Kyuhyun yang berada di pipinya, dan menarik Kyuhyun keluar Kona Beans.

“Kim Hyemin, mau ke mana?” tanya Kyuhyun, mengikuti Hyemin. “Akan kutunjukkan kakakku,” ujar Hyemin sembari menatap mata Kyuhyun.

Kyuhyun melihat seseorang tengah berdiri di depan sebuah mobil keluaran terbaru. Lelaki itu menggunakan masker dan kacamata biasa. Dan Hyemin menariknya menuju lelaki itu. Lelaki itu menoleh ketika Hyemin memanggilnya. “Eo, Hyemin-a! Ini…Kyuhyun Super Junior, bukan?”

Hyemin mengangguk. “Kyuhyun oppa, ini kakakku. Kim Hyunjoong, ani, Kim Woobin. Kau tahu, ‘kan?” Kyuhyun terdiam, tak mengerjapkan matanya selama sepersekian detik. “Kim Hyemin, jangan bercanda padaku.”

Woobin tersenyum. “Uri Hyemin tidak bercanda, Kyuhyun-ssi,” ujar Woobin, terkekeh, lalu melepaskan maskernya. Kyuhyun reflex mundur ke belakang. “Ini benar-benar Kim Woobin!”

Hyemin mencubit tangan Kyuhyun. “Kalau begitu, aku pulang dulu,ya! Selamat malam, Oppa!” Hyemin masuk ke dalam mobil Woobin, setelah melambaikan tangannya pada Kyuhyun yang masih menatap Woobin tak percaya.

Hyemin terkekeh. “Dasar ahjussi !” Woobin menoleh. “Hyemin-a, kau ini! Berarti aku ahjussi juga? Umurku dengannya hanya berbeda setahun, bukan?”

“Ya, tapi oppa adalah pangeranku yang tertampan!” seru Hyemin dengan wajah imutnya itu. Woobin mencubit pipi adiknya gemas. “Swakkyitt!”

Woobin terkekeh.

Hyemin memajukan bibirnya—seperti biasa. “Oppa, tidur di apartmentku, ya?” Woobin mengangguk. “Memang oppa berencana menginap di apartmentmu, Sayang,”ujar Woobin, tersenyum. Sedangkan adiknya itu tengah bernyanyi dengan riang saat mengetahui kakaknya akan menginap di rumahnya.

****

Sehun POV

Aku terbangun dari tidur panjangku, menatap jam wekerku. “Jam delapan?” gumamku pelan. Setelah itu melirik ke arah kalendar di samping jam wekerku. “Untung hari Minggu.” Aku beranjak dari kasurku. Pandanganku tak sengaja melihat ponselku yang tergeletak di atas meja belajarku. Di kepalaku terlintas untuk menelepon Kim Hyemin.

Aku mengambil ponselku dan menyentuh layar smartphoneku. Kutekan saja angka 1 dan tersambung ke nomor Hyemin.

“Oh, ayolah, Kim Hyemin. Kau lama sekali,” gumamku, kesal. Lama sekali gadis ini. Hingga saat aku ingin memutuskan sambungannya, akhirnya gadis itu mengangkat teleponku. “Ya! Kim Hyemin, kau—“

Oh Sehun, ya?” teriakanku terhenti saat mendengar suara seorang lelaki.

“Ini siapa?” tanyaku pelan.

Kim Woobin. Ada apa? Hyemin masih tertidur,” ujar Kim Woobin. Aku bisa mendengar dia terkekeh pelan.

“Oh, aniya, Hyung. Nanti aku telepon lagi saja. Kalau begitu, terima kasih, Hyung. Aku tutup, ya.”

Oh Sehun, kau tadi berteriak pada Kim  Woobin. Astaga. Lihat saja kau, Kim Hyemin.

Aku menghentakkan kakiku sembari berjalan menuju kamar mandi di kamarku. Aku menatap bayanganku di cermin kamar mandi.

Oh Sehun, sebenarnya ada apa denganmu?

****

 

Author POV

Woobin menatap ponsel adiknya itu, lalu terkekeh. “Sehun, Sehun.” Ia menatap adiknya  yang tengah memeluknya, dengan wajah tenangnya.

“Kim Hyemin, bangun. Oh Sehun menunggumu,” bisik Woobin pelan. Hyemin menggeliat perlahan. “Oh Sehun? Tendang saja dia,” ujar Hyemin, berbalik memunggungi Woobin. Woobin tergelak. Tendang Sehun? Astaga, adiknya ini benar-benar.

Woobin memeluk adiknya dari belakang. “Sehun meminta untuk kau menelepon dia sekarang, dan dia mengancammu jika ka—“

“Baiklah! Mana ponselku? Dasar Sehun menyebalkan!”

Hyemin menyentuh layar ponselnya dan mencari kontak Sehun. Hyemin mendengus. Oh Sehun  yang Tampan. Lelaki datar itu memang sangat berlebihan!

Entah Sehun memang menunggu telepon dari Hyemin, baru saja tersambung, Sehun sudah mengangkatnya. “Wae?”

Hyemin menghela nafas. Lelaki ini sepertinya mempunyai kepikunan akut. ”Bukankah kau menyuruh oppaku untuk meneleponmu balik?”

Ahya, aku lupa. Cepat mandi dan sebagainya. Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Jika kau telat sedetikpun, kau akan kuhukum.”

Ya! Tapi, ‘kan—Apa ini? Dia memutuskan sambungannya? Astaga, namja menyebalkan!” Hyemin hendak melemparkan ponsel miliknya ketika kakaknya malah menggodanya.

“Sepertinya kalian cocok jika menjadi pasangan.” Woobin lari sebelum adiknya itu memulai perang dunia ketiga.

YAAA! KIM WOOBINOPPA!”

****

Hyemin POV

Aku mengedarkan pandanganku pada lobi apartmentku. Kulihat dari sini, tidak ada mobil sport milik Oh Sehun menyebalkan itu. Kalau saja aku bukan salah satu EXO fans, mungkin aku sudah membuat anti-fancafekhusus Tuan Terhormat Oh Sehun! Agar ia tak bisa bermain-main dengan Kim Hyemin!

“Oh Sehun menyebalkan! Ke mana dia? Ini sudah hampir lima menit! Dasar! Dia menyuruhku untuk tepat waktu, tapi dia sendiri yang telat!” gumamku kesal. Lelaki bernama Oh Sehun itu benar-benar menyebalkan!

Tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap. Hananim, apa aku menjadi buta? Jeritku dalam hati. Aku menyentuh mataku, tetapi yang kusentuh adalah sebuah tangan besar dengan jari panjang yang menutupi mataku! Ternyata aku tidak buta!

“Ini siapa?” tanyaku pelan. Orang bertangan besar berjari panjang itu membalikkan tubuhku. Tangannya di mataku pun sudah lepas. “Siapa ka—YA! Oh Sehun! Kau pikir ini lucu? Kukira aku menjadi buta mendadak! Berhentilah tertawa!” Aku memukul dada Sehun yang sedang tertawa geli, berhasil mengerjaiku. Lelaki ini tertawa sehingga matanya terlihat sipit. Dan entah kenapa, jantungku ini dengan sialnya seperti kaset rusak. Aku hanya menatapnya sembari berusaha mengontrol jantungku ini.

Oh Sehun berhenti tertawa dan menatap tepat pada mataku. Ia…. menatapku intens. Dapat kurasakan kadar oksigen di sekitarku menipis. Dan aku baru menyadari , jarak wajahku dengannya mungkin 2 cm, atau kurang? Aku ingin mendorongnya, namun sepertinya otakku tidak dapat berfungsi dengan baik saat ini.

Aku menarik nafasku pelan.

“Oh Sehun!” aku mendorong tubuh lelaki itu dan berlari meninggalkannya. Kalau begini, aku bisa mati konyol jika berada sangat dekat dengan Sehun!

Hey.” Sehun menarik tanganku. “Kenapa lari? Itu hukumanmu karena kau telat.” Sehun menggenggam tanganku dan berjalan keluar gedung. “Aku tidak telat! Lihat jam ini!” Aku menunjukkan jam tanganku pada Sehun, tapi lelaki itu malah mengabaikanku dan membawaku hingga pinggir jalan besar di depan gedung. Aku menoleh ke kanan-kiri. Benda yang kucari tidak terdeteksi di mataku.

Sehun mendorong kepalaku. “Mencari mobilku?” Aku mengangguk. Apa mobil ia dia gadai? Sehun kembali mendorong kepalaku. “Oh Sehun!”

Sehun terkekeh. “Aku tak membawa mobilku hari ini. Ayo berjalan! Aku sedang ingin berjalan,” ujarnya sembari tersenyum lembut padaku. Oh Tuhan. “Kajja!”

Aku menatap tanganku yang digenggam oleh Sehun, lalu menatap side profile Sehun. Jujur saja, Sehun benar-benar tampan hari ini. Ketampanannya tetap terlihat walaupun ia menggunakan masker—yang entah sejak kapan ia memakainya—dan topi yang hampir menutupi mata tajamnya itu. Dan ia terlihat sangat keren dengan mantel hitam miliknya.

“Aku tahu aku tampan, tapi kau jangan menatapku dengan tatapan memujamu itu.” Sehun membuyarkan lamunanku. “Siapa yang menatapmu dengan tatapan memuja?” tanyaku, mendadak gugup. Aku berusaha untuk melepaskan tanganku, namun Sehun malah menggenggam tanganku lebih erat. “Oh Sehun.”

“Biarkan saja seperti ini. Aku menyukainya.” Sehun menatapku lembut dengan senyum tulusnya. Kurasakan wajahku memanas. Aku memalingkan wajahku darinya.  Aku tak mau wajahku terlihat merona di hadapannya. Bisa saja ia akan mengejekku.

“Wajah meronamu jelek sekali.” Bingo! Benarkan? Oh Sehun berkepribadian ganda! Baru saja ia bertingkah romantis, dan sekarang ia kembali menjadi Sehun yang menyebalkan. Aku kembali berusaha menarik tanganku. Aku menarik paksa tanganku, tetapi tetap saja namja ini tak mau melepaskannya. “Oh Sehun, lepas!” seruku kesal. Sehun melepaskan tanganku.

Aku berlari meninggalkannya, namun lelaki menyebalkan itu menahan tanganku. Ia memegang kedua sisi bahuku. Tatapan tajamnya tertuju padaku. Dan tak lama setelah itu, tatapan berubah menjadi tatapan lembut seperti tadi. “Jangan marah, eo? Kau kalau marah tambah jelek. Lebih jelek dari wajah meronamu, Kepiting Rebusku,” ujar Sehun, kembali mengejekku. Apa? Kepiting Rebusnya?

“Aku bukan kepiting!” sahutku tak terima.

“Lalu kau apa? Katak?” Sehun terkekeh pelan. Aku memukul dadanya. “Aku manusia, tentu saja.” Sehun tersenyum. “Kau mau makan es krim?” Aku langsung tersenyum ceria saat mendengar es krim.

“Kau akan membelikanku?” Sehun mengangguk. “Eum. Ayo!” Sehun menarik tanganku. Aku tersenyum. Es krim, aku datang!

****

Author POV

Sehun berjalan sembari menikmati pohon-pohon yang berguguran di jalanan. Sedangkan gadis di sebelahnya kini sedang mengutak-atik iPhone miliknya. Dan dapat Sehun lihat, gadis itu tengah mengagumi foto Kris di bandara beberapa hari yang lalu. Sehun mendengus. Kris lagi.

Hyemin menoleh ke arah Sehun. Dan Sehun tahu apa yang akan gadis itu katakan. Sehun membuang muka. Dapat dirasakannya gadis itu menarik mantel milik Sehun. “Oh Sehun, lihat! Kris oppa keren, ya? Kiyaa~Aku ingin memiliki kekasih sepertinya!”

Sehun kembali mendengus. Menyebalkan. Sehun mempercepat jalannya. “Oh Sehun, tunggu aku!” Sehun semakin mempercepat jalannya.

“Oh Sehun!” Sehun terhenti ketika sebuah tangan menggapai tangannya. Sehun menoleh. Menatap dingin gadis itu. “Kenapa?”

Sehun menggeleng. “Aniya.” Sehun berjalan meninggalkan Hyemin. Namun, gadis itu berhasil menggapai tangannya lagi. Hyemin menggenggam tangan Sehun erat. Genggaman Hyemin membuat Sehun akhirnya mengalah. “Kau marah padaku? Tapi, kenapa kalau kau marah? Aku melakukan kesalahan?”

Sehun menggeleng. “Aku hanya sedang tidak mood.”

Hening. Sehun yang merasa lelah, duduk di bangku taman di dekat mereka. Hyemin juga duduk di samping Sehun, masih berkutat pada ponselnya itu.

“Kim Hyemin,” panggil Sehun, menoleh pada Hyemin yang sedang sibuk dengan dunianya.”Ya?”

“Minggu depan aku akan pergi ke Beijing dan Tokyo,” ujar Sehun pelan. Hyemin mengerjapkan matanya. “Lalu?”

“Kau akan ikut denganku, ‘kan?” Hyemin memiringkan kepalanya sejenak. “Berapa hari? Kris oppa ikut?”

Kris lagi dan lagi. Sehun mengangguk. “Ikut. Hanya tiga sampai empat hari, mungkin.”

“Tapi aku sepertinya ada jadwal kuliah minggu depan. Dan oh sial! Minggu depan itu pelajarannya si botak!” Sehun tergelak. Wajah Hyemin sangat lucu saat mengatakan ‘si botak’. “Sepertinya kau sangat tidak menyukainya.” Hyemin mengangguk. “Sangat!”

“Jadi, kau mau ikut atau tidak?” Hyemin mengangkat bahunya. “Aku takut meminta izin padanya.” Sehun terdiam. Tampak memikirkan sesuatu.

Sehun tersenyum, mendapat ide. “Serahkan saja padaku,” ujar Sehun tersenyum bangga. “Apa yang kau lakukan? Menyogoknya? Mengancamnya? Atau—“ Hyemin menatap Sehun menyelidik.

Sehun mendengus. “Atau apa?” Hyemin menggeleng. “Tidak jadi.”

Sehun mendekatkan wajahnya pada Hyemin. “Katakan padaku atau apa itu.” Sehun mengeluarkan smirknya. Hyemin menggeleng. “Bukan apa-apa, Sehun!”

Geojitmal.”

“Aku tidak sedang berbohong,” jawab Hyemin, memajukan bibirnya. “Benarkah?” Hyemin mengangguk.

“Oh Sehun, memangnya apa yang akan kau lakukan?” Sehun tersenyum misterius. “Rahasia.”

Hyemin membuang muka. “Menyebalkan!”

Kau lebih menyebalkan, Kim Hyemin, batin Sehun, mengingat Hyemin bertanya tentang Kris tadi.

“Kim Hyemin.”

Hyemin menoleh, menatap Sehun tajam. “Mwo?” tanyanya galak. Sehun mencubit pipi kiri Hyemin. “Galak sekali,” gumam Sehun, tersenyum. “Cepat katakan! Ada apa?”

Oppamu menginap di rumahmu tadi?” Hyemin mengangguk.

“Sekarang dia di mana?” Hyemin mendelik. “Memangnya kenapa kau ingin tahu?” Sehun menggeleng. “Aku hanya ingin tahu.”

“Dia masih di rumahku. Tapi, malam ini dia tidak menginap lagi,” ujar Hyemin, terlihat kecewa. “Kenapa?”

“Dia harus rekaman drama barunya. Kau sudah lihat teaser drama SBS itu, ‘kan? The Heirs. Kau tahu, ‘kan? Oppa bermain di drama itu.” Sehun mengangguk.

Sehun mengelus puncak kepala Hyemin. “Kenapa?” Hyemin menggeleng. Hyemin tidak terlihat ceria seperti biasanya. Mungkin ia merindukan kakaknya itu.

Sehun menghela nafas. Kapan ia akan menjadi sesosok yang merindukan bagi Hyemin?

Sehun tersadar. Astaga, kau habis memikirkan apa, Oh Sehun. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Ia merasa benar-benar sudah gila.

Gila karena seorang gadis bermarga Kim itu.

****

Beijing International Airpot, China

Hyemin bergerak resah, merasakan sesuatu yang tak dapat ia tahan. Huh, gara-gara makanan sialan itu, gerutu Hyemin dalam hati. Sehun yang melihat wajah gelisah gadis itu, hanye mengangkat alisnya. “Kau kenapa?”

Hyemin menoleh. Wajahnya penuh berubah gugup. “Oh Sehun, aku ingin ke toilet,” ujar Hyemin, menyengir. Sehun menatapnya datar. “Sini tasmu. Kau tahu, ‘kan, tempat van kita menunggu di mana? Sana ke toilet. Jangan lama-lama. Banyak fans di sini.” Sehun mengambil tas milik Hyemin dan menaruhnya di atas trolley khusus untuk koper-koper. Sedangkan gadis bermarga Kim itu sudah berlari menuju toilet terdekat dengan sebelumnya mengangguk mengerti apa yang Sehun katakan.

“Dasar gadis aneh!”

Sehun kembali melanjutkan jalannya, mengikuti member lain yang sudah berjalan di depannya. Ia berjalan menuju gate di mana van-van mereka menunggu mereka dan membawanya ke hotel tempat mereka menginap.

Sesampainya di van, Sehun melirik ke arah gate di mana mereka keluar tadi. Di sana tak ada tanda-tanda bahwa Hyemin telah kembali. Sehun melirik jamnya. Sudah 20 menit berlalu, namun gadis itu belum kembali juga.

“Sehun­-a, Hyemin lama sekali! Apa dia tersesat?” Sehun membeku mendengar ucapan Kai barusan. Jangan bilang gadis itu benar-benar tersesat. Dan parahnya, saat ia tanyakan di pesawat, gadis itu tak bisa bahasa Cina! Oh Sehun, harusnya kau menungguinya, Bodoh.

Tiba-tiba pintu van terbuka. “Sehun-a, Hyemin belum kembali juga?” Sehun menggeleng. Wajahnya menjadi pucat seketika. “Ayo kita cari dia!” seru Kris—yang membuka pintu van. Sehun langsung melompat dari van. Ia menyesali kebodohannya itu. Seharusnya ia menemani Hyemin tadi. Sehun berusaha menelepon Hyemin. Dan sial, ia teringat tas gadis itu berada di van. Gadis itu selalu menaruhnya di tas.

Sehun berlari masuk ke dalam bandara lagi. Teriakan fans yang melihat Sehun dan Kris berlari bertambah riuh. Sehun tak peduli tentang itu. Saat ini, ia memikirkan gadis itu. Kim Hyemin.

****

Hyemin POV

Aku keluar dari toilet. Lega, tentu saja. Aku baru saja menyelesaikan panggilan alamku. Aku merutuki kebodohanku. Gara-gara makanan pedas sialan itu, perut menjadi sakit.

Aku berjalan, melihat sekeliling. Blank. Aku tak tahu di mana ini. Aku tahu gate berapa van EXO menunggu di mana, tapi aku tak tahu letaknya di mana. Oh Tuhan, tolong aku. Aku melihat papan petunjuk dan sialnya itu berbahasa Cina! Aku tak bisa bahasa Cina. Jarang kulihat papan petunjuk berbahasa Inggris.

Aku ingin menanyai letak gate D3, gate di mana van-van itu berada pada seorang lelaki yang sepertinya security di sini.

Excuse me—“ Lelaki setengah baya itu melambaikan tangannya padaku. Dia tidak bisa bahasa Inggris. Aku seperti ingin menenggelamkan tubuhku ini di sungai Han dan berteriak di dalam air. Eomma, Appa, Oppa, tolong aku!

Aku terduduk di kursi setelah berjalan ke sana kemari mecari gate D3. Aku menenggelamkan wajahku. Aku menangis.

“Aku takut,” isakku pelan. Oh Sehun, maafkan aku. Maafkan aku bahwa aku lupa menanyakan letaknya di mana. Aduh, betapa bodohnya aku ini!

Aku terisak. Oh Sehun, kau di mana? Tolong aku.

Tak berapa lama kemudian, aku mendengar suara seorang lelaki. Suaranya mirip dengan suara Oh Sehun. Oh Sehun? Aku mengangkat kepalaku dan menghapus air mataku. Lelaki yang berada tak jauh dariku itu menoleh ke arahku. Dapat kulihat raut wajahnya menunjukkan raut cemas. Wajah lelaki itu tampak pucat. Oh Sehun, lelaki itu, berlari ke arahku dan langsung memelukku, erat. Tidak, jantungku!

“Kim Hyemin! Kau bodoh sekali! Harusnya kau bilang padaku kalau kau tak tahu letak pintu keluar!” Sehun memarahiku atas kecerobohanku. Kulihat Kris oppa menatapku khawatir. “Ayo kita ke hotel. Hyemin-a, mulai sekarang kalau mau pergi ke manapun, kau harus ditemani, okay?” Kris oppa mengusap kepalaku. Aku mengangguk.

Sehun menjauhkan tubuhnya dariku, menghapus air mataku. “Harusnya aku menemanimu tadi. Mian.” Aku menggeleng. “Aku bodoh, ‘kan? Ini bukan salahmu. Ini salah aku yang bodoh ini!” Aku tersenyum. Sehun menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

Kajja.”

Dan sekali lagi, Sehun menggenggam tanganku. Mengalirkan jutaan volt listrik ke seluruh tubuhku, terutama jantungku. Astaga, aku gila.

****

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur king size di hotel aku menginap.Jam menunjukkan pukul 1 siang. Waktunya tidur siang!

Baru saja aku akan terlelap, seseorang mengetuk pintu kamarku dengan sadisnya. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Siapa gerangan itu? Aku meraih ponselku, segera mencari kontak Oh Sehun. Namun, orang yang akan kutelepon itu menghubungiku sekarang.

“OH SEHUN! TOLONG AKU! ADA ORANG JAHAT SEPERTINYA DI DEPAN KAMARKU!” jeritku histeris saat lelaki itu bahkan belum mengucapkan satu patah katapun. Kudengar ia hanya berdecak. “Oh Sehun? Aku takut!”

Dasar gadis bodoh! Cepat buka pintunya! Ini aku!” TUT……TUT

Jadi, yang menyiksa pintu kamarku dengan sadis itu lelaki berwajah datar itu? Aku segera melompat dari kasurku, dan sial aku harus terjatuh dengan bokongku mencium lantai. “OH SEHUN!”

Aku berdiri dengan tertatih-tatih akibat bokongku yang masih terasa sakit sekali. Aku membuka pintu kamarku dan menatap sengit pada Sehun. Lelaki itu tak peduli dengan tatapanku dan melengos masuk ke dalam kamarku. Aku menarik rambut bagian belakangnya.

“Oh Sehun! Mau apa kau? Kau tahu, karena kau aku terjatuh dari kasur!” Sehun terlihat memintaku untuk melepaskan jambakanku, namun aku masih terus menarik rambut sampai ia meronta-ronta meminta ampun.

“Kim Hyemin, tolong lepaskan! Aduh, sakit!” Aku melepaskan rambutnya dari tanganku. Aku berlari menuju kasurku dan melompat-lompat di atas kasurku, tertawa. “Hahaha!”

“Kim Hyemin, please.”

Saking semangatnya aku melompat, kakiku terkilir di kasur dan aku merasa aku melayang di udara. Kumohon tidak lagi….

Aku menutup mataku.

BRUK!

Aku terjatuh. Namun, aku tak merasakan sakit sama sekali. Aku merasakan bahwa aku menimpa tubuh seseorang. Aku membuka mataku. Dan orang itu—yah, siapa lagi kalau bukan Oh Sehun. Wajahnya hanya tersisa beberapa cm dari hadapanku. Aku membeku.

“Dasar ceroboh!” Sehun menjentikkan jarinya di dahiku. Aku menatapnya khawatir. “Kau tidak apa-apa?” Aku berusaha untuk berdiri, namun Sehun mendorong pinggangku, menahanku untuk bangun. “Oh Sehun?”

Lagi. Aku berusaha bangun dan sekarang Sehun membalikkan posisi kami! Aku dikurung oleh penjara tangan milik Sehun. Kurasakan wajahku memerah. Tidak, kumohon.

Perlahan Sehun menutup matanya dan menurunkan wajahnya, mendekat pada wajahku. Dan bodohnya, aku juga menutup mataku. Dapat kurasakan nafas Sehun menerpa wajahku, dan juga hidungnya yang mulai menyentuh hidungku. Tidak, first kissku akan terambil.

Dan ketika Sehun hampir menciumku, ponselku bordering. Aku membuka mataku, dan kulihat Sehun juga membuka matanya. Kesal. Kulihat itu emosi yang tersirat dari matanya. Dan tak lupa, wajah merona milik Sehun. Astaga, aku ingin mengabadikan wajah merona miliknya dan menyebarkannya!

Sehun bangkit dari atas tubuhku, dan duduk di pinggir kasur kamarku. Aku beranjak dan mengambil ponselku.

Shin Eunji. Eunji-ya, gomawo telah menyelamatkanku!

“EUNJI-YA!” seruku riang. Kulihat Sehun hanya mendengus mendengar teriakanku.

“Ya, Kim Hyemin, kenapa kau tidak masuk hari ini? Jangan bilang kau balas dendan karena aku tak masuk kemarin, ya, ‘kan?

Aku terkekeh. “Separuh benar! Mianhae, aku sedang berada di Beijing sekarang.”

APA KATAMU? BEIJING? DI CHINA?” Aku menjauhkan ponselku dari telingaku. Eunji dan aku ini sepertinya memiliki kesamaan, suka teriak! Hahaha.

YA! Jangan teriak juga, Bodoh! Kau kira Beijing ada berapa di dunia? Tentu saja Beijing di China, tidak mungkin di Mars.” Sehun menoleh ke arahku. Menatapku datar atas lelucon anehku tadi. “Bodoh.” Itulah yang kudengar darinya.

Bodoh? Hey, aku mendengar suara lelaki. Kau sedang bersama lelaki? Kau pergi ke sana bersama siapa?

“Lelaki? T-tidak! Aku pergi—ah! Lebih baik kuceritakan nanti saja, oke?”

Tidak, Kim Hyemin. Cepat katakan sekarang. Kau bersama siapa sekarang?

Aku tersenyum jail. ”Bersama seorang atau sekumpulan lelaki yang akan membuat pingsan di tempat, mungkin?”

KAU BERSAMA EXO?” Bingo!

“Rahasia! Sudah dulu, ya. Bye, Shin Eunji!”

Aku tertawa puas. Shin Eunji si penggemar rahasia Suho oppa. Kuyakin dia akan mencekikku saking gembiranya saat tahu sahabatnya ini bisa berjumpa dengan Suho hampir setiap hari.

Saat aku menoleh ke arah Sehun, namja itu hanya menatapku datar. “Kau puas sekali tertawanya.” Sehun merebahkan dirinya di atas kasurku. “Oh Sehun, kau sebenarnya mau apa ke sini? Aku ingin tidur,” rengekku, menarik tangan Sehun agar berdiri.

Sehun duduk di pinggir kasur dan menatapku. “Temani aku mencari udara segar.”

Aku menatap Sehun dengan tatapan memohonku. “Oh, ayolah, Sehun-ssi, aku sangat lelah sekali, kau tahu? Kau bisa pergi dengan Luhan oppa atau oppadeul yang lainnya, bukan? Ya? Kumohon,” mohonku, menatapnya sembari menggerak-gerakkan tangannya.

Sehun berdecak. “Tidurlah. Aku akan di sini saja. Aku bosan.” Sehun beranjak dari kasur dan menyalakan TV di kamarku, kemudian duduk di sofa. Baru saja aku akan protes, Sehun sudah menatapku dengan tajam dan matanya menyorotkan sinar laser berisi ancaman.

A-arasseo! Jangan melakukan hal yang aneh-aneh!” aku masuk ke dalam selimutku dan menutupi seluruh tubuhku, dan menggulungnya layaknya lemper, jajanan khas Indonesia. Mengingat itu, mendadak aku merasa lapar.

Tidak, kau harus tidur, baru setelah itu kau makan. Selamat tidur!

****

Sehun POV

Aku melihat gadis itu menggulung tubuhnya dengan selimut. Aku terkekeh geli. Setakut itukah dia padaku? Kalau dilihat-lihat, gadis itu seperti kepompong yang akan keluar esok hari.

“Dasar gadis aneh.”

Aku menatap layar TV, jenuh. Tak ada acara TV yang seru.

Aku melirik ke arah Hyemin yang sepertinya sudah terlelap itu. Melihat Hyemin, aku teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana dengan bodohnya aku membiarkan gadis yang bahkan tak bisa berbahasa Cina itu pergi ke toilet sendirian. Seharusnya aku menemaninya agar ia tak tersesat. Dan hatiku kembali terasa nyeri di saat melihat gadis itu menangis.

Aku menghela nafasku pelan.

Aku bangkit dan berjalan mendekatinya. Kubuka perlahan selimut yang menutupi kepalanya. Gadis ini terlihat sangat lelah sekali dibalik wajah polosnya itu.

Kim Hyemin.

Gadis riang yang mudah bergaul dan sering sekali berteriak itu bahkan terlihat sangat polos saat tidur dibalik kepribadiannya yang tidak bisa diam. Gadis ini sangat mudah ditebak apa yang ada di pikirannya. Tanpa sadar, gadis ini seperti memancarkan isi otaknya pada wajahnya yang sering terlihat bodoh saat berpikir. Dan juga sangat terlihat imut di saat ia memohon pada siapapun—termasuk aku. Apalagi saat ia menikmati es krim, layaknya tengah menikmati makanan terenak di dunia.

Yah, walaupun aku baru mengenalnya seminggu, tapi aku merasa sudah mengenalnya jauh, mengenalnya lama. Entah kenapa. Atau mungkin karena…..

Ah, tidak. Atau mungkin saja?

Aku menatap Hyemin sekali lagi, sebelum aku beranjak menuju pintu. “Tidurlah yang nyenyak, Nona Kim. Maafkan aku atas kejadian tadi. Aku takkan mengulanginya lagi. Aku janji.”

Aku membuka pintu kamar hotel Hyemin—yang sengaja kupesan untuk gadis bawel itu.

“Sehun­-a, apa yang kau lakukan di sini—di kamar Hyemin?”

TBC

Haloo~ ketemu lagi, yehet! Pertama-tama, thanks yak komentar dari readers sekalian hehehehe~ ah ya! Ada ralat di chap pertama, yang Sehun bilang dia akan membayar Hyemin sebagai asistennya itu bukan 1.200 Won, tetapi 1.200.000 Won. Kurang tiga nolnya~ maaf ya jika typo bertebaran di mana-mana. Dan untuk yang penasaran sama kejadian musim dingin lalu, kejadiannya akan terungkap di chap 3 ya hehehe~ maaf jika ff-ku ini kurang memuaskan  atau kurang seru—mungkin dan sedikit ga jelas ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ^^ Hye ini masih author yang amatiran hehehe *bow*. Oh ya, jangan lupa RCL ya readers tercinta ❤ Love yaaaa ❤

 

 

 

Iklan

39 pemikiran pada “Stuck (Chapter 2)

  1. Aku udah nunggu ff ini lama, ehh ternyata malah udah tertinggal sampek chapter 5, huft~
    Sehun nggak peka sama perasaannya sendiri ya??
    Emang susah kalau orang nggak peka itu-_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s