The Raspberry (Chapter 1)

The Raspberry (chapter 1: Unseasonable)

 

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan (gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B (minjem doang)

                     Zelo (BAP) (ini juga minjem)

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-15

 

Author note:      wahhh, apa ini..entahlahh…hahahahah. baca ajja lah pokoknya kalo menarik minta lanjut yahh.. wkwkwkwkwk

 

 

 

Seorang yeoja berjalan dengan menggiring koper di tangan kirinya, sementara pada tangan kanannya memegang benda persegi yang ujungnya tersambung dengan earphone yang mengalung pada leher jenjangnya. Sesekali kepalanya berbalik menatap kebelakangannya. Kepadatan bandara tidak menjadi penghalang baginya untuk memberhentikan langkahnya lalu menduduki koper Elle ukuran jumbo berwarna merah terangnya.

“ck” ia berdecak kesal. Beberapa orang yang berlalu lalang disekitarnya meliriknya sekilas memperhatikan yeoja itu dengan ujung mata mereka. Dengan cuek yeoja itu memasang earphone di telinganya dan perlahan terlarut dengan alunan music yang memenuhi indra pendengarnya.

‘puk’

Yeoja terperanjat saat seseorang menepuk pundaknya dari samping, ia berbalik mendapati seorang namja dengan rambut pirang platina dan di sisir ke belakang sangat pas dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Yeoja itu tersenyum.

“oppa!” ucapnya lalu berdiri dari duduknya. Namja itu tersenyum tipis.

and now, you call me oppa, huh?” tanya namja itu.

well, its just.. a formality” sahut sang yeoja. “heiii!” sang yeoja terpekik saat tangannya di tarik paksa oleh namja itu.

“cepatlah, mom sudah menunggu sedari tadi!” ucap sang namja dan tetap menarik tangannya menghiraukan protesan sang yeoja.

“heii, aku juga menunggu kalian selama hampir setengah jam!” protesnya lagi.

“aku tau kau bodoh, tapikan kau bisa membaca petunjuk! Kau menunggu di depan pintu kedatangan domestic!” sahut sang namja cuek.

“Daniel Oh!” geram sang yeoja, namun tepat melangkahkan kakinya dengan menghentakkan-hentakkannya. Ia tidak bisa protes lagi, karena pada dasarnya memang dirinyalah yang salah.

 

***

 

Korea is hot like usual!” entah sudah keberapa kali sang namja itu bekomentar dengan komentar yang sama. Yeoja yang bediri di sampingnya hanya mendengus kesal menghadapinya, protespun akan percuma. Yeoja itu memutar matanya malas ketika memperhatikan sang namja dengan santainya membuka jas semi formal yang dikenakannya dan menampilkan kaus tanpa lengan berwarna abu-abu yang mempertontonkan lengan kekar tanpa celanya.

“sudah berapa tahun sejak kita meninggalkan korea?” seru suara lain yang memenuhi gendang telinga sang yeoja. Sang yeoja berbalik menatap sang empunya suara yag sudah sangat familiar baginya itu.

“entahlah, aku juga lupa!” sahut yeoja itu.

“mom mana sihh, sudah lima belas menit kita menunggu!” seru suara lain, namja imut dengan potongan rambut berwarna blonde terang mencolok mata.

“Zelo! Berhentilah mengeluh!”

“aishhh, mengeluh? Siapa yang sepanjang menit selalu mengeluh Korea panas, Korea panas? Cih!” namja yang dipanggil Zelo itu mengerucutkan bibirnya.

“pffttt”

 

***

 

Keempat orang yang sedang berdiri dengan koper di tangan masing-masing tampak seperti atau memang sedang menunggu seseorang. Dari kiri ke kanan, namja dengan rambut berwarna pirang platina yang mengenakan baju kaus tanpa lengan dan celana jeans sebatas lutut, sneaker putih dengan motif berwarna hitam membalut kakinya dengan sempurna. Daniel Oh. Itu namanya selama ia tinggal di London. Ditangannya, memegang erat koper ukuran jumbo dengan motif zebra. Di bahunya tersemat jas semi formal yang dikenakannya tadi.

Disamping kanannya, satu-satunya yeoja di antara mereka, Raisa Oh, yeoja dengan rambut panjang bergelombang berwarna milk tea chocolate yang diikat asal, beberapa helai anak rambut jatuh membingkai wajah manisnya. Celana pendek yang dikenakannya menampilkan kaki jenjang tanpa celanya dan tanktop berwarna kuning lembut membungkus tubuh mungilnya, di telinganya terpasang earphone berwarna merah terang. Sesekali ia melirik pada jam tangan Casio baby-G berwarna kuning yang tersemat di lengan kirinya. Sesekali pula ia memperhatikan tingkah kedua namja yang berdiri di samping kanannya yang terkadang berdebat kecil.

Kedua namja itu, Zico dan Zelo Oh. Namja yang terlahir kembar, namun memiliki bentuk wajah yang berbeda. ‘Twins but different’ istilah yang diberikan oleh saudaranya yang berdiri disamping kiri mereka.

Zico Oh. Namja dengan rambut berwarna soft pink mencolok mata. Mengenakan celana jeans dan baju kaus berwarna putih bermotifkan kartun-kartun marvels favoritnya. Kakinya berbalut sepatu toms berwarna ungu. Tangannya menggenggam koper ukuran sedang dengan motif yang sama dengan kaus yang dikenakannya. Ia Terkadang mengganggu sang adik yang berdiri di sampingnya.

Disampingnya Zelo Oh sang magnae, namja berambut pirang yang sengaja ia tutupi dengan topi spiderbilt berwarna hitam miliknya. Ia mengenakan poloshirt berwarna cokelat di lapisi jacket jeans belel favoritnya, kakinya dibalut oleh skiny jeans berwarna hitam dan mengenakan sepatu toms yang sama dengan milik Zico, hanya warna yang berbeda, miliknya berwarna hitam.

oh, here they are..” seru Daniel terlampau bahagia saat matanya menangkap sebuah mini van berhenti di hadapan mereka.

Seorang namja berusia kisaran pertengahan duapuluh turun dari kursi pengemudi, dengan setelan jas berwarna abu-abu dan sepatu oxford berwarna hitam pekat yang membungkus kakinya, khas seorang pengusaha muda. Ia  tersenyum menatap pada keempat orang yang sedang berdiri dengan wajah cemberut yang menurutnya sangat menggemaskan.

“lama sekali sih hyung!” Zelo lah yang pertama kali membuka suara dan diikuti protes-protes dari yang lain.

Namja berparas bak malaikat itu hanya tersenyum menanggapi protesan para dongsaeng tercintanya.

well, welcome back to korea, sweetheart!” ucapnya dan mencium sekilas pipi Raisa yang masih cemberut.

“jangan cemberut begitu, ayo!” tambahnya dan membantu Raisa membawa kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi.

“hyung hanya membantunya?”

“hanya dia wanita di antara kalian, jika kalian ingin hyung sebut wanita juga, maka kemarikan kopernya!” sahutnya dan tersenyum puas menatap ketiga namjadongsaengnya yang semakin cemberut, merasa didiskriminasi.

“mana mom?” Tanya Zico yang sedari tadi hanya diam dengan wajah cemberutnya.

“mom di dalam, biarkan ia istirahat” keempatnya mengangguk dan dengan serempak berjalan masuk ke dalam mini van yang akan membawa mereka ke rumah.

 

***

 

“hyung tinggal sendiri di rumah?” Tanya dan Daniel tanpa menatap yang ditanyanya. Matanya mengawasi jalan di sampingnya.

“dulu, sekarang tidak lagi!”

“eh?”

“kau masih ingat sepupu hyung yang bernama Minseok? Sekarang ia tinggal bersama hyung di rumah!” ucapnya tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan di hadapannya.

“Minseok hyung yah? Bukannya dia di China?”

“ne, tapi sekarang ia kembali melanjutkan sekolahnya di sini” Daniel mengangguk mengerti.

“ngomong-ngomong, Sehun..”

“hyuuunng!” protesnya memotong perkataan hyungnya saat mendengar nama koreanya disebut.

“wae? Ada yang salah?” hyungnya itu meliriknya sekilas.

“tidak ada, tapi kan..”

“sekarang kau di Korea, kau harus terbiasa dengan namamu” Daniel hanya terdiam dan membenarkan dalam hati. Korea ya, yah Korea. Selamat tinggal London, batinnya. Selamat tinggal juga Daniel.

“pergaulanmu di sana tidak burukkan?” tanyanya kembali memecah keheningan.

Daniel melirik hyungnya itu dan mengangkat bahunya lalu milirik Raisa, Zico dan Zelo yang sudah terlelap di kursi penumpang, ia kembali teringat kehidupannya di London, dirinya dan saudaranya yang lain jarang keluar rumah, sekolah pun mom dan dadnya mengambil home schooling bagi keempatnya, satu-satunya sahabatnya adalah anjing shiberian husky milik tetangganya, namun beberapa kali juga ia bermain basket bersama beberapa remaja lingkungan sekitarnya di lapangan basket yang terletak tidak jauh dari rumah. Ia bukan termasuk seorang yang ramah, namun juga bukan seorang anti social, hanya saja, ia tidak begitu suka jika harus membuat hubungan lain selain bersama saudaranya, lagipula dia tidak akan selamanya tinggal di sana, baginya bersama saudaranya  hal itu lebih dari cukup.

“hei, kenapa melamun?”

“ani,,”

“ah, tenang saja, ini Korea tanah kelahiranmu. Cepat atau lambat kau akan terbiasa!” potong hyungnya itu dan tersenyum padanya, senyum bak malaikat yang memang sudah tertempel permanent pada wajahnya.

Daniel menghembuskan nafasnya dalam dan kembali melirik hyung di sampingnya itu, Kim Joonmyun, namanya, namun entah mengapa ia mengubah namanya menjadi Suho, mungkin setelah kejadian itu, entahlah. Marga mereka berbeda bukan? terang saja, Suho adalah anak dari  istri pertama dadnya yang telah tiada, lalu demi mengenang eommanya itu, ia memilih menggunakan marga eommanya saja. Ia kemudian berbalik melirik momnya yang juga sudah terlelap dengan kedua tangan memeluk Zico dan Zelo. Sandara Park, momnya itu merupakan istri ketiga dari dadnya. Setelah eomma Suho meninggal, dadnya menikah dengan adik dari mendiang istrinya Boa Kwon, dari pernikahan mereka ia dan Raisa lahir namun saat umur mereka berusia satu tahun, orang tua mereka bercerai ia dan Raisa diasuh oleh dadnya, perceraian orangtuanya itu membuat Suho hyungnya itu terpuruk, sudah cukup ia saja yang kehilangan eommanya dongsaengnya yang lain tidak perlu lagi meresakannya, mungkin itulah alasan hyungnya itu mengubah namanya menjadi Suho yang berarti malaikat pelindung, setahun setelah dadnya bercerai, dadnya bertemu dengan mom yang merupakan cinta pertamanya kemudian mereka menikah dan lahirlah Zelo dan Zico lalu mereka pindah ke London, pernikahan itu masih berlanjut hingga kini. Mereka hidup bahagia, secara tidak langsung ikatan darah yang mengalir di tubuh mereka menjadikan pengikat di antara mereka dan membuat mereka saling menyayangi, di tambah lagi momnya tidak pilih kasih dalam menyayangi anak-anaknya.

Sehun kembali menatap jalan di sampingnya, seperti apa nanti hidupnya di Korea? Di tanah kelahirannya sendiri.

“hyung, aku ingin istirahat, bangun aku jika sudah sampai!”

“Sehun-ah?” ia mengernyit saat nama Koreanya kembali di sebut, sepertinya telinganya belum terbiasa dengan itu dan ia harus membiasakan telinganya itu.

“ne?”

“berapa usiamu?”

“mmm, 18 tahun hyung!” jawabnya dengan mata terpejam.

“ahh, ne..”

 

 

***

 

Sore itu langit hampir gelap saat sebuah mini van berbelok memasuki sebuah pekarangan luas yang dipenuhi hamparan rumput hijau dan bunga-bunga berbagai musim serta pepohonan yang rindang.

“Sehun, Sehun-ahh!” Suho menepuk pelan pipinya yang tetidur di sampingnya.

“eung, ya?”

“bangun, kita sudah sampai! Bangunkan yang lain, hyung akan menurunkan koper kalian” ucap Suho dan membuka pintu mobilnya.

Sehun mengucek kedua matanya sebelum berbalik dan memandangi mom dan dongsaengnya yang lain yang masih terlelap.

“mom, kita sudah sampai!” serunya dan menyentuh lengan momnya yang perlahan membuka matanya.

Ia kembli membangunkan Zico dan Zelo, lalu Raisa yang tertidur seperti tidak pernah tertidur selama hidupnya.

“kita sudah sampai ya hyung” suara serak khas bangun tidur dari makhluk kembar terdengar bersamaan di telinganya. “ne” sahutnya. Dan kembali mengguncang tubuh Raisa membangunkannya.

“ck” ia berdecak kesal. Jika sudah seperti ini Raisa akan sangat susah di bangunkan, dengan malas ia beringsut dari duduknya, dengan perlahan ia mengamit kedua lengan saudarinya itu dan sedikit berjongkok meletakkannya di punggungnya.

“hyung, tolong bawakan koperku!” pintanya pada Suho yang masih sibuk menurunkan koper dari bagasinya. Suho mendongak menatapnya dan tersenyum sembari mengangguk menatapnya yang kewalahan menggotong Raisa di punggungnya. Zico, Zelo dan momnya  sudah berjalan duluan dengan koper di tangan masing-masing.

Daniel menatap sekelilingnya, dan berhenti pada bangunan yang berdiri angkuh di hadapannya benar-benar menyita perhatiannya, rumah dengan model jaman Victoria itu berdiri kokoh dengan dua pilar raksasa di depan pintu masuknya, rumah dengan cat berwarna putih elegant itu merupakan rumahnya dulu, namun sepertinya hyungnya itu ‘sedikit’ meronovasinya. Dalam hatinya ia mengagumi selera hyungnya itu. Matanya kemudian menatap sebuah pintu besar di samping kiri rumahnya itu yang diyakininya sebagai bagasi mobil milik hyungnya, ia lalu bertekad akan melihatnya nanti, dalam hatinya menerka-nerka mobil apa yang ada di dalamnya, mengingat selera hyungnya itu begitu tinggi. Ia memperbaiki posisi Raisa saat tubuhnya bergerak tidak nyaman. Perlahan ia melangkah masuk melewati pilar yang berdiri kokoh di hadapannya.

Sekali lagi ia tercengang melihat keadaan dalam rumah yang akan ditinggalinya itu, saat melewati pintu masuk ia di hadapkan pada lorong yang di hiasi poto-poto mereka saat masih kecil serta beberapa hiasan dinding lainnya, setelah melawati lorong itu ia kembali di hadapkan pada sebuah ruangan bulat yang diisi sofa berwarna hitam dan sebuah televise layar datar dengan ukuran jumbo, di sebelah kirinya terdapat akuarium raksasa yang berisi ikan hias yang berwarni-warni lalu di sebelah kanannya terdapat tangga dengan ukiran-ukiran khas yang rumit, pada ujung tangga itu bercabang di lantai dua.

Matanya menatap Zico dan Zelo yang sedang berbaring ada sofa yang meletakkan kopernya begitu saja.

“Sehun-ahh, kamar Sohee ada di atas, berbelok ke kiri, kedua dari ujung, kamarmu di sampingnya, Zico dan Zelo kamar kalian di sebelah sana!” ucap Suho dan menunjuk arah kamar Zico dan Zelo yang berada di sebelah kanan tangga.

“Sehun? Sohee?” ucap sang kembar bersamaan.

“ya, Daniel hyung dan Raisa noona, selama di Korea nama mereka Sehun dan Sohee karena kalian belum memiliki nama Korea juga, hyung akan mempersiapkannya!” ucap Suho tak terbantahkan lagi. Keduanya mengangguk pasrah lalu berjalan menuju kamar masing-masing.

“beristirahatlah yang cukup, besok kalian akan mulai bersekolah!” lagi Suho berucap dengan otoriter.

what? What did you say? School?” seru Zico terkejut. begitu juga Daniel dan Zelo yang terpaku di tempatnya.

“wait!” serunya  setelah mendapat  anggukan dari Suho.

“mom!” rungutnya lagi ada momnya yang duduk di sofa dengan elegant.

yes, listened to your brother, sweetheart!” serunya cuek.

but, mooom!” kali ini Zelo yang bersuara.

“okay, this is my house, so..”

“semua keputusan ada di tanganmukan hyung??” Daniel memotong perkataan Suho dan mendapat anggukan darinya. Ia tau betul bagaimana tabiat hyungnya itu.

“aku bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya bersekolah di sekolah umum dan bersosialisasi dengan orang lain!” gumam Zico pelan. Zelo mengangguk.

“kalian akan terbiasa, percayalah. Sekarang naik ke kamar masing-masing dan beristirahat yang cukup!” ucap Suho dan diakhiri dengan nada perintah yang tidak terbantahkan.

“sometime, I forgot how bossy he is!” ucap Daniel dengan volume suara yang dibuat nyaring.

“yep, he is too bossy!” sahut si kembar dan berjalan menaiki tangga dengan menghentak-hentakkan kakinya.

Sementara Suho hanya tersenyum menatap ketiganya. Lalu ia berbalik menatap momnya yang tengah duduk menyandar pada punggung sofa.

“mom!” ucapnya lirih dan menjatuhkan dirinya duduk di samping momnya.

“good job, honey!” ujar momnya dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.

“apa mereka bisa?” tanyanya ragu dan lebih kepada dirinya sndiri.

“mereka bisa dan harus bisa” sahut momnya.

“aku takut ini akan menyakiti mereka” sahut Suho “mereka tidak terbiasa dengan lingkungan sekolah.”

“mereka akan terbiasa, appamu sendiri yang memintanya” potong momnya.

“ngomong-ngomong soal appa..”

“appamu akan menyusul kemari, sudah sepantasnya appamu itu mengambil cuti dan membiarkan dirimu menggantikan dirinya” ucap momnya lembut. Suho hanya mengangguk mengiyakan.

“Kau tidak terbebanikan?” Tanya momnya.

“bohong jika aku mengatakan tidak, tapi mengingat keluarga besar ini bergantung padaku, maka aku akan melakukan apapun!” sahut Suho pelan dan mendongak menatap momnya yang tersenyum.

“ya, eommamu yang disurga, mom dan saudaramu yang lain akan mendukungmu! Percayalah!” katanya tidak kalah pelan dan menggenggam tangan Suho lembut, menyalurkan kekuatannya dari genggaman tangannya pada Suho. Suho tersenyum dan membalas menggenggam tangan momnya.

 

***

 

(mulai sekarang saya akan ganti Daniel jadi Sehun dan Raisa jadi Sohee)

Dengan perlahan Sehun meletakkan tubuh Sohee di ranjang. Setelah menutupi tubuh Sohee dengan selimut ia duduk di tepi ranjang dengan mata yang mengamati sekelilingnya. Ia menghembuskan nafasnya, bukankah tadi ia sudah mengatakan bahwa selera hyungnya itu sangat tinggi? Ia meralatnya, selera hyungnya itu sangat luar biasa tinggi, saat melihat kamar Sohee. Sesaat ia merasa pusing dan mengantuk yang bercampur menjadi satu, tangannya terulur mengurut keningnya. jet lag, pikirnya. Perlahan ia bangkit hendak berjalan keluar, saat tangan mungil Sohee menahan lengannya.

“mau ke mana?” Tanya Sohee pelan dengan mata setengah terpejam.

“ke kamarku!”

“di sini saja, untuk malam ini saja! Aku..”

“baiklah!” jawab Sehun dan perlahan merangkak naik ke ranjang dan berbaring di samping adiknya itu. Suara sprei yang tersibak terdengar saat Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Sohee yang juga menatapnya dengan mata mengantuk.

“hei, ini bukan tempat asing! Ini rumah kita!” bisiknya pelan.

“ya, tapi tetap saja, kau lupa aku tinggal di sini hanya sampai usiaku satu tahun” sahut Sohee pelan.

“aku tau!” jawab Sehun dan mengendikkan bahunya, tangannya perlahan terulur mengusap puncak kepala adiknya itu.

“aku merasa asing, tapi entahlah ada perasaan lain juga. Bayangan bagaimana ibu meninggalkan kita di sini masih tergambar jelas di kepalaku. Aku hanya..”

“sstt, sudahlah. Tidak usah di pikirkan, tidur saja. Aku ada di sini oke!” ucap Sehun memotong perkataan Sohee. ia tau betul ke mana arah pembicaraan ini jika ia tidak segera mengakhirinya.

Kedua tangannya kembali terulur, melingakar pada pundak mungil adiknya dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Perlahan ia juga terlelap beberapa saat setelah ia mendengar deru nafas yang beraturan dalam dekapannya. Tidak hanya Sohee yang masih selalu terbayang kenangan buruk mereka, dirinya pun selalu terbawa mimpi, mimpi yang membawanya pada sosok ibunya yang perlahan berjalan menjauh meninggalkan mereka tanpa berbalik sedikitpun.

 

 

***

 

somebody, please tell me what is the meaning of this?” raungan Sohee di pagi hari membuat semua orang yang berada di ruang makan menatap padanya.

Ia masih menggunakan pakaiannya yang kemarin, dengan rambut dan muka berantakan bangun tidurnya. Ia terbangun seorang diri di atas ranjang kasur queen sizenya, yang seingatnya semalam ia tidur bersama Sehun. Bukan, bukan hal itu yang membuatnya terkejut dan bukan juga dengan suasana kamarnya, melainkan saat akan berjalan ke kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya, ia tertegun saat matanya dengan sangat jelas menangkap sebuah objek yang tergantung pasrah dan di bungkus dengan plastik bening—seragam sekolah khas musim panas—yang membuat dadanya bergemuruh hebat.

honey, take a shower first then you wear that, and comeback here to enjoy your breakfast with us!” momnya yang pertama kali membuka suara, tangannya menggenggam spatula yag baru saja digunakannya.

but mom..

honey..

Sohee menghela nafasnya dan perlahan berbalik kembali berjalan menuju kamarnya.

Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk, perlahan ia mengenakan seragam yang ia letakkan di atas ranjangnya. Seragam musim panas dengan rok lipit sebatas lutut dengan motif kotak-kotak dan berwarna hijau tosca, kemeja lengan pendek yang dilapisi rompi rajut dengan nametagnya di dada sebelah kanan dan nama sekolah yang trcetak di dada sebelah kirinya serta dasi berbentuk pita yang menghiasi lehernya. Matanya menatap sekeliling mencari keberadaan cermin dan mendengus saat tidak menemukannya di manapun. Ia menggalihkan pandangannya pada pintu besar yang terletak di samping pintu kamar mandinya dan berjalan ke sana. Tangannya terulur menarik pintu dan mengumpat saat ia sadar ternyata pintu tersebut dibuka dengan cara digeser.

Matanya membulat sempurna mendapat ternyata pintu tersebut merupakan lemari wardrobe dengan luas 2×2 meter yang dipenuhi dengan berbagai macam baju dan aksesoris termasuk di dalamnya berupa sepatu tas dan jam tangan. Ia memekik tertahan dan berjanji dalam hati akan memberikan kecupan sayang pada Suho oppanya ia melangkah masuk menyentuh tiap barang dengan ujung jarinya. Dari mana oppanya tau selera dan ukurannya? Ia membatin. Dengan cepat ia menarik sebuah flat shoes dan ransel yang terletak berdampingan. Saat akan berjalan keluar ia menghentikan langkahnya, menatap pada laci kaca yang menampilkan jam tangan dengan warna dan model yang berbeda.

“Suho oppa bahkan tau bagaimana aku menggilai jam tangan Casio Baby-G” gumamnya lalu melangkah keluar dari ruangan wardrobenya.

Sohee duduk di salah satu sudut meja makan dengan roti isi dan segelas susu di hadapannya. Matanya menyalang menatap satu persatu manusia di hadapannya. Sehun yang seperti biasa memasang wajah datar tanpa ekspresinya, lalu Zico dan Zelo yang mengunyah sandwich mereka dengan wajah tertekuk, serta Suho oppanya yang duduk dengan Koran pagi di tanganya di hadapannya terhidang secangkir kopi yang masih mengepul.

“jadi..”

“sekolah! Itu kan yang kau harapkan?” Sehun memotong ucapannya dan menatapnya datar.

“tapi aku..”

“hyung bilang siap tidak siap kita harus melakukannyaa!” kali ini si kembar yang memotong perkataannya. Sohee cemberut lalu beralih menatap oppanya yang sibuk membaca Koran.

“lima belas menit lagi waktu yang tersisa, cepat habiskan sarapan kalian!” seru Suho tanpa mengalihkan perhatiannya dari Koran yang di bacanya.

is he the boss?” Tanya Sohee pada dirinya sendiri.

yes, he is!” sahut Zico dan  kembali mengunyah sandwich. Sohee memutar bola matanya malas. Ia tau betul tabiat dari oppanya itu. Lembut namun tegas, tidak jauh berbeda dari dadnya. Sekali ia mengatakan tidak maka selamanya akan menjadi tidak, tapi dadnya akan luluh jika di bujuk, sementara oppanya itu ia akan tetap pada pendiriannya.

Matanya beralih menatap Sehun yang masih setia memasang wajah dinginnya. Kemeja lengan pendek serta dasi dan celana panjang dengan motif yang sama dengan rok yang ia kekanakan. Matanya menatap nametag yang tertera di dada kananya, Oh Sehun? Dengan cepat ia menunduk menatap nametagnya sendiri. Oh Sohee? apa-apaan? Batinnya.

“aku tunggu di luar!” ujar Suho dan berdiri dari duduknya, suara gesekan kursi kayu dengan lantai terdengar memekikkan saat ia mendorong kursi itu mundur.

listened to your brother, and enjoy your day!” kata momnya lalu mengecup puncak kepala mereka satu persatu.

“mom, bagaimana kalau aku..”

“kalian bisa, kalian harus bisa. Ini tidak buruk!” momnya memotong perkataan Sehun dan perlahan mendorongnya meninggalkan ruang makan diikuti yang lain.

“Sehun!” Suho memanggil Sehun dan dengan cepat melemparkan sesuatu padanya saat Sehun berbalik menatapnya.

Sehun mengerutkan keningnya saat menatap benda yang dilempar Suho padanya. Sebuah kunci? Mobil? Ia mendongak menatap hyungnya itu lalu mengikuti arah anggukan kepala dari hyungnya. Matanya tatkala membulat sempurna saat menatap sebuah mobil sport berwarna kuning dengan garis hitamnya yang kontras.

“a..apa i..itu hyung?” tanyanya tergagap.

“mobil, untukmu, kau sudah delapanbelas tahunkan?” Sehun perlahan mengangguk dan berjalan mendekati McLarren kuning hitam yang terparkir di pekarangan mereka. Tangannya bergetar saat menyentuh kaca mobil tersebut.

“hyung, you are not kidding me right?” tanyanya dan berhambur memeluk hyungnya itu saat ia melihatnya menggeleng mantap. “sekolah yang baik, ne..” Suho di antara tawa renyahnya.

 

***

 

Mclarren kuning itu berbelok memasuki sebuah gerbang kokoh berwarna emas, beberapa siswa yang berseragam menatap kagum tanpa sekalipun mengalihkan perhatian mereka dari mobil sport dengan harga ratusan juta won itu, penasaran akan siapa yang mengendarainya dan menambah list siswa yang mengendarai mobil mewah ke sekolah di sekolah mereka. Mata sang pengendara mengamati sekitarnya, suasana yang sangat asing baginya, namun menjadi pusat perhatian adalah hobinya. Matanya berbalik menatap yeoja yang duduk pada kursi penumpang di sampingnya.

“inikan yang kau nantikan, bersekolah di sekolah umum?” tanyanya sembari mengamati layar mungil di dashboard mobilnya ketika akan memarkirkan mobilnya.

“tidak juga, semua ini masih begitu asing!” sahut sang yeoja. “terlebih lagi. Oh Sohee? oh, shit! He is kinda kidding me!” tambahnya dengan memutar bola matanya malas saat matanya menatap nametagnya.

“well, seperti yang dikatakan mom, nikmati saja!” ucap sang namja acuh, tangannya memutar kunci mematikan mesin mobil.

“menjadi pusat perhatian lalu memasang wajah yang seolah tidak peduli itu sudah menjadi hobbymukan? Makanya kau dengan mudah mengucapkan kata ‘menikmati’!” rungut sang yeoja sembari menyampirkan ranselnya di punggung, tangannya terulur hendak membuka pintu mobil namun terhenti saat namja di sampingnya itu kembali berujar.

“bukankah sekolah di sekolah umum itu juga adalah impianmu?” Sehun tersenyum tipis saat melihat Sohee cemberut menatapnya kesal.

Keduanya dengan bersamaan keluar, suara bantingan pintu mobil terdengar bergantian bersamaan dengan tatapan mengernyit dari siswa yang masih setia memperhatikan mereka.

 

***

 

Seorang namja berjalan setengah berlari dengan tergesa, sekali menabrak beberapa orang yang menghalanginya,  beberapa lengkingan umpatan pun terdengar namun seketika itu juga menghilang tatkala sadar siapa yang menabrak mereka.

Namja berkulit tan itu menyeringai, tangannya mengacak rambutnya yang tampak berantakan namun terlihat keren membingkai wajah tampannya. Seragam yang dikenakannya sengaja tidak dikancingkan bagian atasnya, mempertontonkan dada bidangnya yang menyembul malu-malu, serta ujung baju yang sebagiannya keluar dari celana panjangnya. Berantakan, namun  terlihat sangat keren.

“yaaak, Kim Kai! Mau lari ke mana kau!!” suara berat dari seorang siswa berbadan tinggi yang berlari di belakanganya membuatnya berbalik, sesaat sebuah seringai meremehkan tersirat di bibirnya, namun dengan cepat ia berbalik dan berlari meninggalkan orang yang mengejarnya.

“yak Park Chanyeol! Pelan-pelan saja! Kakiku tidak sepanjang kakimu!” protes seorang namja bertubuh mungil di belakanga namja yang bertubuh tinggi tadi.

“mianhae Kyungsoo-yaa, aku harus mengejarnya, kau berhenti saja kalau lelah!” sahut sang namja bertubuh tinggi dan semakin mempercepat larinya meninggalkan namja bertubuh mungil itu yang tampak kesal.

 

 

***

 

 

Kim jongin. Namja berparas tampan dengan kulit tannya yang bersinar tertimpa cahaya matahari, namja yang akan membuat setiap orang menengokkan kepalanya hanya untuk menatapnya sedang berlari menghindari dari kejaran sang sahabat. Entah alasan apa yang membuatnya menghindari sahabatnya itu yang jelas sahabat yang mengejarnya tak henti-hentinya mengumpati dirinya.

Kakinya berhenti berlari, sekali ia menengokkan kepalanya ke belakang dan kembali menyeringai entah kepada siapa, setelah yakin sahabatnya itu tidak berhasil mengejarnya, tepat di ujung koridor ia berbelok ke kiri.

Dengan tergesa ia membuka salah satu bilik di dalam kamar mandi, ia menjatuhkan dirinya duduk di atas toilet yang kering, menepuk-nepuk pelan dadanya yang sesak akibat berlari. Tiba-tiba terbersit sesuatu yang membuatnya berlari menghindar dari sang sahabat. Dirogohnya saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop dengan logo salah satu rumah sakit terkenal di Seoul. Keringat mengalir deras dari kening ke dagunya, dengan sedikit tangannya bergetar merobek kepala amplop itu dan membuka isinya. Ia memejamkan matanya sesaat, mempersiapkan dirinya dengan segala hal yang akan diketahuinya dari selembar kertas putih tersebut.

Ia menghela nafasnya dalam, dengan perlahan ia menyandarkan kepalanya di dinding tipis pada bilik toilet tempatnya bersembunyi, tangannya mencengkram kuat lembaran kertas tipis tersebut.

“maaf Chanyeol-ahh, Kyungsoo-yaa, kalian tidak boleh mengetahuinya!” gumamnya pelan. Lalu meremas kertas tersebut dan membuangnya ke closet.

 

***

Sohee berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya, kesal. Sehun meninggalkannya tadi dan  menyuruhnya untuk mencari kelasnya sendiri. Hahh, ia bahkan tidak tau dari mana harus memulainya, ruangan 1-D, di mana? Tidak ada seorangpun yang bisa ditanyainya, mengingat bell tanda pelajaran akan di mulai—itu yang diketahuinya dari staf tata usaha yang memberitahukan padanya—telah bunyi sedari tadi.

Ia berbelok ke kiri tanpa tau seseorang juga berjalan dari arah berlawanan.

‘bruukk’

ohh, shit! Im sorry!” serunya reflex menggunakan bahasa inggris. “im so.. “ ia tidak melanjutkan perkataannya saat menyadari bahasa yang digunakannya. “mianhae” ucapnya pelan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia sedikit meringis sebelum mendongak menatap seorang yang ditabraknya yang juga menatapnya dengan bola mata hitam kelamnya. Ia meremas jarinya tanda ketidaknyamanannya akan tatapan yang ditujukan padanya, tidak, ia tidak pernah sekalipun ditatap seperti itu selama hidupnya ia hanya selalu mendapatkan tatapan lembut dan teduh dari saudara, mom dan dadnya.

“maafkan aku, aku tidak sengaja!” cicitnya pelan. Orang itu tidak bergeming dan kemudian Sohee memilih mengartikannya dengan iya, perlahan ia bergeser ke kiri, keningnya bertaut saat mendapati orang yang ditabraknya juga mengikuti langkahnya—sengaja—mengikutinya. Dengan sedikit berani ia kembali mendongak menatap wajahnya dan dengan segera kembali menunduk saat tatapannya kembali bertemu dengan pemilik mata dengan bola mata hitam itu.

“aku benar-benar minta maaf!” gumamnya tidak kalah pelan dari yang tadi.

Hehh. Ia mendengarnya menghela nafas.

“apa kau perlu bantuan?” suara husky yang terdengar begitu merdu di telinganya itu kembali membuat Sohee menatap sang empunya suara. Matanya menatap dalam pada mata itu dan mendapati rekleksi dirinya di sana.

“ne?”

“kubilang apa kau butuh bantuan?”  ia mengulangi perkataannya dan membuat Sohee mengangguk pelan.

“apa?”

“anu..” Sohee melirik nametag yang terpasang di dada kiri namja—ia baru sadar jika orang yang ditabraknya itu adalah namja setelah melihat nametag dan menyadari tidak ada tonjolan di dadanya—itu. “itu..”

“anu itu apa?”

“aku mencari ruangan 1-D, mmm..” Sohee kembali menatap nametag namja itu “Jongin-ssi” lanjutnya setelah yakin pada Hangeul yang di bacanya itu.

Jongin mengernyit mendengarnya saat Sohee menyebutkan namanya, terasa aneh namun ia menyukainya, begitu ringan di telinganya. Mengingat tidak ada satupun yang memanggilnya dengan nama aslinya, baru kali ini seseorang melakukannya dan itu..

“ikuti aku” kata Jongin, ia lalu berbalik memunggungi Sohee. Sohee mengangguk, walaupun Jongin tidak melihatnya. Ia perlahan berjalan mengikuti Jongin di belakang.

 

***

 

Entah sudah keberapa kali Sohee meremas jemarinya, rasa gugup, senang, dan tidak nyaman bercampur menjadi satu ketika ia berdiri di depan ruang kelasnya, ia merasa seluruh mata menatapnya tajam. Ada juga perasaan aneh entah apa, yang jelas ia seolah merasa ada sesuatu yang melilit perutnya, keadaan ini adalah kali pertama baginya, berdiri di depan orang banyak secara langsung. Tanpa sadar ia menggigiti bibir bawahnya, ketika ia mendengar guru yang berdiri di sampingnya menyebutkan namanya dengan lantang.

“jadi Sohee, kau bisa duduk di samping Baekhyun!” Sohee menoleh menatap gurunya tersebut, wajah gurunya itu dengan jelas meneriakkan kata tampan tiada tara, dengan suara yang seolah mendesah ketika berbicara. Sohee menebak kisaran umur sang guru,  awal tigapuluhan mungkin?

“Baekhyun?” tanpa sadar Sohee menggumamkan nama itu dan mengalihkan pandangannya, ia mengernyit mendapati seorang siswa yang manis tersenyum padanya, seorang gadis mungil dengan rambut panjang berwarna ungu gelap dengan  wajah seimut kelinci, matanya menghilang berubah menjadi sebuah garis lurus ketika ia tersenyum. Kembali Sohee merasakan mual.

“nah, Sohee, duduk di tempatmu, kita akan memulai pelajaran kita” ucap sang guru dan mendorong pelan punggung Sohee. dengan perlahan Sohee berjalan menuju tempatnya melewati siswa yang tersenyum padanya, ada juga yang sibuk mengeluarkan buku-buku mereka.

Dadanya berdegup kencang saat ia menjatuhkan dirinya duduk di kursi yang ditujukan padanya, perasaan ini sama ketika ia membuka bungkus kado natal dari dadnya, perasaan was-was akan isi dari hadiah tersebut.

“hai” sapaan dengan volume suara yang sengaja dibuat kecil menyapa telinganya. Ia tersentak dan berbalik menatap sang penyapa.

“hai” sahutnya tidak kalah pelan, bahkan tenggorokan sedikit bergetar saat ia menyahut.

“aku Baekhun, Byun Baekhyun!” ucapnya dengan senyum manis yang terbentuk dibibirnya, matanya kembali menghilang menyisahkan sapuan eyeliner pada lipatan matanya, tangannya pun terulur di hadapan Sohee.

Sohee menatap wajah dan tangan itu bergantian, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan itu.

“aku, Oh Sohee, salam kenal!”

 

 

 

***

 

 

 

13 pemikiran pada “The Raspberry (Chapter 1)

  1. Halo reader baru dan baru nemu ff ini setelah sekian hari ubek ubek wp ini :3 Baekhyun jadi cewek bhaq 😀 ohh ribet juga silsilah keluarganya sehun?tp keren kok lanjut baca yah 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s