My Pervert Devil (Chapter 3)

Title : My Pervert Devil

Author : AngevilBoo

Main Cast :

Oh Se Hoon (EXO)
Kim HyunRa (OCs)

Other Casts : Xi Luhan, Kris Wu, OCs, Etc

Length : Chaptered

Rating : PG17 or Mature

Credit Poster : Haruru98 (cafeposterart.wordpress.com)

Disclaimer : I don’t own anything beside Story and OC. This is pure my Imagination. If there are similarities, it’s not intentional and I apologize. Casts belongs to God and their Parents. Thank You^^

angevilboo-my-pervert-devil

—*–*—

Seorang namja tampan berjalan keluar dari pintu lobi di Incheon Airport. Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 2 jam. Ia melangkahkan kaki panjangnya sambil tersenyum. Tepat saat sudah berada di luar, sinar matahari langsung menyambutnya.

Namja itu merentangkan kedua tangannya, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia sungguh merindukan ini. Sudah lama sekali ia tak merasakan sejuknya angin kota Seoul.

Kris-Namja itu, terus tersenyum dibalik kaca mata hitamnya. Kemudian tangannya beralih menelusup ke dalam kantung celananya. Mengambil sebuah benda tipis dari sana, lalu mengeluarkannya. Sebuah foto. Kini terlihatlah figura 2 sosok gadis cantik tengah tersenyum manis disana.

Sejak di berada di pesawat, Kris menghabiskan waktunya dengan melihat foto yang sudah mulai lusuh itu. Ia merasa tenang melihat wajah polos kedua gadis itu. Mirip. Bagaikan saudara kembar. Mungkin wajah gadis yang berada disebelah kiri lebih terlihat dewasa, sedangkan gadis satunya lagi memiliki pipi tirus dan kulit yang lebih pucat. Wajahnya juga terlihat lebih lugu.

Kris tersenyum memandangnya, hingga kini matanya beralih pada sebuah tulisan di bawah foto itu.

    &  

 

Kedua sosok yang begitu ia rindukan. Mata namja itu kini kembali beralih pada gadis berambut agak pirang. Tatapannya melembut, sarat akan kesedihan.

“Hime, Aku merindukanmu.”

***

Mobil Bugatti Veyron berwarna hitam itu berjalan memasuki kawasan Mansion Oh. Sang pengemudi yang terkesan ugal-ugalan mengendarainya, memarkirkannya sembarangan. Lalu setelahnya ia keluar dari sana dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah itu. Para pelayan yang sudah berada didepan pintu utama, langsung menunduk menyambutnya.

Sehun berjalan dengan langkah angkuh seperti biasanya. Dia bahkan tak menoleh ataupun memperdulikan para pelayan itu. Wajahnya dingin dan datar. Jika bukan terpaksa, ia juga tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya dirumah ini lagi.

Hingga seorang lelaki yang begitu dikenalnya menghampirinya. Sehun mengernyitkan alisnya bingung, Apa yang dilakukannya disini?

“Paman Jun, Apa yang kau lakukan disini?”

Lelaki itu tersenyum, sementara Sehun yang terus menatapnya heran dan datar. Lelaki yang ia panggil Paman Jun itupun menepuk bahunya pelan,

“Sudah lama sekali aku tak melihatmu, Sehun-ah. Kau semakin tampan saja, seperti Ayah mu dulu.”

Sehun menggeram sedikit tidak suka, “Jangan samakan aku dengan Pria tua itu!” ujarnya dingin sambil menyingkirkan tangan pamannya itu. Lelaki itu hanya tersenyum kecil dan mengangguk.

“Kau tidak berubah.”

Sehun menatap datar pamannya itu, dalam hati ia masih bingung melihat kehadiran lelaki itu dirumahnya. Lelaki itupun yang merasa dilirik aneh segera menjelaskan,

“Seharusnya kau lebih memperhatikan sekelilingmu, Oh Sehun. Aku sudah berada disini sejak 2 hari yang lalu, kau tahu.”

Sehun menaikkan sebelah alisnya sebelum kembali ke ekspresinya semula. Untuk apa aku memperdulikan sekelilingku? Tanpa buang-buang waktu, Pria itu melangkah pergi begitu saja, tanpa hormat dan permisi. Sungguh tidak sopan melakukan hal itu pada orang yang 15 tahun lebih tua darimu, Oh Sehun!

“Ayahmu sudah menunggumu di ruangannya!” teriak Paman Jun dari belakang, yang tak mendapati balasan apapun dari Sehun.

Lelaki itu tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya melihat sifat keponakan tampannya itu. Tersirat kesinisan dari ekor matanya yang melirik punggung lebar yang mulai menjauh itu.

.

Sehun menatap pintu besar berwarna hitam didepannya dingin. Kakinya mendadak berhenti saat berniat melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Rasanya ia ingin sekali memutar arahnya dan berbalik pergi.

Perasaan pria itu mendadak tak enak. Seiring dengan tatapannya yang menajam dan alis yang bertaut . Ia menghela nafasnya berat terlebih dahulu. Sungguh, ia sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki tua yang disebut sebagai Ayahnya itu. Tapi tidak ada pilihan lain, atau semuanya akan berantakan.

Tangan Sehun beralih menyentuh ganggang pintu itu lalu membukanya. Pria yang tengah memakai kemeja biru tua dengan lengan yang dilipat sampai siku itupun masuk. Dan kini tampaklah pemandangan yang begitu menjijikan baginya.

Ayahnya itu kini tengah bercumbu mesra dengan seorang wanita-yang entah darimana, diatas meja. Benar-benar menjijikkan. Tak salah jika Pria itu membenci Ayahnya sendiri.

Mendengar suara pintu terbuka, kedua makhluk yang tengah bermesraan itupun refleks berhenti dan langsung menoleh. Kini terlihatlah seorang Pria tampan sedang menatap mereka tajam dengan pandangan siap membunuh. Wanita itu langsung turun dari meja, dan seakan mengerti ia langsung permisi dari hadapan kedua namja itu.

Sehun menatap wanita itu dengan penuh rasa jijik dan kebencian saat berjalan melewatinya. Hingga kini tersisa dirinya dan Ayahnya itu.

Lelaki tua itupun langsung berbalik menghadap putra bungsunya itu. Ia sedikit tersenyum miring. “Kau datang rupanya.”

Sehun masih menatap Ayahnya itu dengan penuh kebencian. Melihat pemandangan tadi membuat sebekas luka dihatinya kembali terbuka. Luka masa lalu, dan salah satu alasan mengapa ia begitu membenci Ayahnya.

“Jika bukan terpaksa, aku tidak akan pernah mau.”

Lelaki tua menyeringai mendengar jawaban begitu dingin dari putranya itu. Sehun mengepalkan tangannya.

“Cepat katakan kenapa kau memanggilku!”

Sehun mendesis tajam, ia berusaha keras menahan emosinya. Selagi lelaki tua itu hanya terdiam memandangi anaknya. “Well, Aku hanya ingin kau bertemu dengan seseorang.”

Sehun mengerutkan keningnya sedikit, hingga suara pintu terbukapun terdengar. Pria itu dengan perlahan menoleh kebelakang. Sedikit terkejut kemudian kembali berekspresi tajam melihat sosok yang telah lama tak dilihatnya. Hyung nya.

Xi Luhan.

Luhan adalah Hyung tiri Sehun. Mereka terlahir dengan Ayah yang sama, tetapi Ibu yang berbeda. Luhan lebih tua 3 tahun dari Sehun. Ia berasal dari China dan tinggal di Manhattan selama beberapa tahun untuk bersekolah. Tapi kini sepertinya ia sudah memilih kembali ke Seoul. Ayah Sehun- Oh Taejun, memang hanya memiliki 2 orang putra dari kedua istrinya yang kini sama-sama telah tiada.

Luhan melangkah masuk, namja itu berjalan kearah Sehun lalu melewatinya. Selagi Sehun yang hanya menatapnya datar dan menyambutnya tanpa ekspresi.

Luhan tersenyum kecil pada dongsaengnya itu, sebelum berbalik menatap Ayahnya. Luhan tak seperti Sehun yang menaruh dendam pada Ayahnya sendiri. Namja itu memang juga tak menyukai Ayahnya, tapi tak sebesar rasa benci Sehun.

“Welcome Home, Son!” sambut Lelaki tua itu pada putra sulungnya. Luhan tersenyum, namja itu hanya terdiam dan sedikit melirik kearah Sehun yang terlihat tak berminat sama sekali. Ayahnya itu menepuk pundak Luhan pelan.

“Kau tak ingin menyambut kakakmu, Sehun?”

Kini Luhan menolehkan kepalanya sepenuhnya kearah Adiknya itu. Ia masih berekspresi datar. Sehun yang mulai merasa risih dipandangi oleh kedua lelaki dihadapannya itu pun menggeram kecil.

“Berhentilah bermain-main. Aku tak punya banyak waktu,” ujarnya kesal. Ia sedikit menatap Luhan yang juga tengah menatapnya. Ini aneh, pertemuan pertama mereka setelah 3 tahun harus berakhir dengan suasana menegangkan seperti ini.

Lelaki tua itu menghela nafasnya sejenak, ia pun memilih untuk menghentikan aura menakutkan diruangan ini. Ini bukanlah hal yang mudah baginya untuk dapat berkumpul secara utuh bersama dengan kedua putranya. Ini merupakan sesuatu yang langka bagi mereka. Ia tidak boleh merusaknya.

“Baiklah, karena kalian berdua sudah disini sekarang, aku akan memulai pembicaraan intinya.”

Luhan beralih untuk berdiri disebelah Sehun yang sedari tadi diam dan tak beranjak sesentipun dari tempatnya. Sedangkan lelaki tua itu kini sudah duduk dikursi kerjanya, dan sekarang tepat berhadapan dengan kedua Putranya itu.

“Seperti yang kalian tahu, mengenai warisan itu..”

Rahang Sehun mulai mengeras, ia tidak suka pembicaraan ini. Sementara Luhan yang terus diam menantikan kelanjutan ucapan Ayahnya itu, walaupun sebenarnya ia sudah mengetahuinya. Tapi ia harus tetap bersikap biasa, jika tak ingin rencananya berantakan.

“Kau sudah mengetahui syaratnya kan, Luhan?”

Luhan mengangguk singkat, “Iya, Ayah. Aku sudah tahu.”

“Kalian hanya bisa mendapatkannya jika sudah memiliki ikatan. Akan lebih baik lagi jika itu sebuah Pernikahan. Tapi.. sebenarnya itu terserah pada kalian.”

Luhan memutar otaknya, ia memikirkan sebuah rencana baru. Hingga smirk pria itupun keluar, ia tidak boleh kalah lagi kali ini.

“Ikatan? Apakah.. itu berlaku untuk siapapun?”

Lelaki tua itu mengernyitkan alisnya, berbeda dengan Sehun yang mendadak kaku. Rahang pria itu semakin mengeras. Kepalanya langsung bekerja memikirkan ucapan Hyung nya itu.

“Maksudku, aku boleh memilih gadis manapun untuk diriku, bukan?”

Luhan melirik Sehun dari sudut matanya, ia dapat melihat raut tegang diwajah tampan milik adiknya itu. Tangan pria itu mengepal. Luhan tersenyum miring melihatnya.

Ayahnya pun mengangguk, “Hm. Aku tidak melarang hal itu.”

“Bahkan jika dia berstatuskan milik orang lain?” Lelaki tua itu mengangkat sebelah alisnya, sebelum tersenyum miring menanggapi ucapan putra sulungnya itu.

“Itu terserah padamu. Jika kau berhasil merebutnya, kenapa tidak? Aku tak perduli dengan status gadis itu. Yang aku perdulikan hanya ikatan kalian!”

Luhan mengangguk pelan sambil terus mengeluarkan smirk nya. Sehun? Pria itu benar-benar sedang menahan gejolak hebat dalam dirinya. Tatapannya kosong dan begitu tajam, berbeda dengan tangannya yang mengepal kuat disebelah tubuhnya. Apa sebenarnya yang dimaksud Pria ini?

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Luhan?”

Luhan menggeleng sejenak, “Tidak, itu saja.” Namja itu kembali menoleh sedikit, dan melihat Sehun yang sedari tadi hanya terdiam kaku.

“Baiklah, kurasa semuanya sudah jelas. Kalian bisa pergi sekarang, karena aku masih ada urusan,” ucap Lelaki tua itu pada mereka. Sehun dengan cepat berbalik dan segera keluar dari ruangan terkutuk itu. Luhan menatap tingkah laku adiknya itu sejenak, sebelum beralih menatap Ayahnya itu dan menundukkan kepalanya sopan untuk permisi.

Tidak akan kubiarkan kau menang kali ini, Oh Sehun.

***

Hyunra merasakan cahaya memaksa masuk menuju matanya. Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali berusaha menetralisir sinar lampu yang masuk bagai tusukan ringan. Setelah berhasil, kini ia dapat melihat sekelilingnya. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah kamar yang sangat asing dengan cat berwarna merah maroon yang luas.

Ia berusaha mengingat apa saja yang terjadi. Hingga otaknya menangkap satu ingatan yang mungkin terjadi beberapa jam yang lalu. Yaitu saat Sehun menggendongnya, lalu pria itu mencium paksa bibirnya. Wajah gadis itu memerah seketika, Pria itu merebut ciuman pertama dan keduanya.

Hingga tiba-tiba kepalanya terasa nyeri dan pandangannya memburam. Nafasnya sesak. Ciuman yang lembut itu berakhir dengan tidak manusiawi. Ia tak sadarkan diri dan jatuh pingsan dalam gendongan Pria itu. Sungguh memalukan.

Kini ia kembali terjebak di sebuah kamar yang bahkan lebih asing. Dan parahnya ia sama sekali tak tahu dimana dirinya sekarang. Sehun membawanya kemana. Gadis itu merutuki dirinya yang pingsan disaat yang tidak tepat. Tapi tak sadarkan diri itu bukanlah pilihannya. Siapa yang tidak lemas jika tidak bernafas selama lebih dari 3 menit.

Bagaimana bisa ia kabur jika ia bahkan tak tahu dimana dirinya? Hyunra sangat jarang keluar rumah. Dan sekarang mungkin saja Sehun membawanya keluar kota atau negeri. Tidak ada yang tidak mungkin bagi pria itu. Pria yang baru dikenalnya sehari yang lalu. Tragis sekali.

Mata gadis itu beralih mencari benda penunjuk waktu, hingga ia menemukannya. Jarum jam itu menujukkan pukul 7 malam. Apakah aku pingsan selama 3 jam? Kepalanya benar-benar terasa berat. Hingga tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Menampilkan figure seorang Ahjumma yang kini masuk sambil membawa nampan. Hyunra menatap ahjumma itu dengan pandangan polosnya.

“Malam, Nona. Syukurlah anda sudah sadar.”

“Hm, memangnya aku pingsan sudah berapa lama?” tanya gadis itu sambil mengusap keningnya pelan, dan mengacak rambutnya berantakan.

“Nona tak sadarkan diri selama seharian.”

“M-Mwo? Seharian?”

Ahjumma itu mengangguk sambil tersenyum melihat ekspresi terkejut gadis manis dihadapannya. “Ne, nona pingsan sejak kemarin sore.”

Hyunra melongo, pantas saja kepalanya pusing sekali. Aku tak pernah pingsan selama itu, Daebak.

“Nona, Ini saya bawakan makan malam. Nona pingsan karena tak makan seharian, bukan? Karena itu sekarang Nona harus memakannya.”

Hyunra berpikir sejenak. Aku tidak pingsan karena hal itu, tapi.. aku memang lapar. Matanya pun kini beralih untuk melirik makanan yang dibawa oleh Ahjumma itu. Terakhir ia makan adalah saat-saat siang terakhirnya bersama sang Ayah. Sebelum Ayahnya itupun menjualnya. Dan semua ini terjadi. Deg. Jika dihitung, ia sudah tidak makan selama 2 hari.

“Gamsahamnida, Ahjumma…”

“Seulki. Nona bisa memanggil saya Seulki.”

“Ba-baiklah. Gamsahamnida Seulki Ahjumma. Anda bisa meletakkannya di atas meja.”

Ahjumma itu tersenyum lalu menggeleng kecil. “Tidak, Nona. Tuan Sehun memerintahkan saya untuk memastikan Nona memakan sesuatu. Jadi saya harus tetap berada disini untuk memastikan Nona benar-benar memakannya.”

Hyunra terdiam, sebelum menghela nafas pelan. “Baiklah.”

Seulki ahjumma pun menyerahkan napan berisi makanan itu padanya. Hyunra sendiri tak dapat membohongi betapa laparnya ia, hingga gadis itu langsung memakannya, membuat Seulki ahjumma tersenyum melihat cara gadis itu makan seperti anak kecil kelaparan.

Hingga setelah selesai, Seulki ahjumma kembali mengambil napan itu sementara Hyunra membungkukkan kepalanya berterimakasih.

“Seulki Ahjumma, bolehkah aku bertanya?”

“Tentu saja, nona.”

“Hm.. Apakah Ahjumma tahu sekarang aku berada dimana?”

Seulki ahjumma pun terdiam sejenak, sebelum berpikir untuk menjawab. Ia menatap gadis yang kini tengah menantikan jawabannya dengan tak sabar. “Maafkan saya Nona. Tapi Tuan Sehun melarang saya mengatakannya.”

“A-Apa? Kenapa?” tanya Hyunra yang kini terdengar sedih. Raut gadis itu yang tadinya terlihat tak sabar berubah menjadi sayu seketika.

“Maaf, Nona. Tapi ini perintah dan saya tidak berani membantah Tuan Sehun.”

Gadis itu menghela nafasnya berat. Ia menundukkan wajahnya sedih. Seulki Ahjumma pun yang melihat itu menjadi tak tega tapi jika ia memberitahunya, ia takut gadis inilah yang akan mendapat balasan dari Sehun dan bukannya dirinya.

Hyunra pun mulai mengangkat kepalanya perlahan, “Lalu dimana Pria itu sekarang?”

“Tuan Sehun sedang keluar. Sekarang Nona hanya berdua dengan saya di Rumah ini, jadi nona tidak perlu takut.”

“Ya, Terima kasih,” balasnya lirih. Gadis itu tersenyum kecil sejenak sebelum kembali menundukkan kepalanya.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Nona.”

Seulki Ahjumma pun berlalu dari pandangan Hyunra. Gadis itu hanya bisa menghela nafas dengan begitu berat sekarang. Ini sungguh menyesakkan.

Hyunra kembali melirik jam di dinding. Sekarang sudah pukul 7 malam lewat. Biasanya jam segini ia sudah tertidur, tapi sekarang malah sebaliknya. Bagaimana bisa ia kembali tertidur saat baru saja terbangun? Huh, Gadis itu merasa kepanasan, gerah. Mungkin mandi dapat menyegarkannya sejenak dan membuatnya dapat kembali mengantuk.

Hyunra melangkahkan kakinya bangkit dari kasur. Ia melirik kamar ini, ternyata lebih luas dari dugaannya. Mata gadis itupun berhasil menangkap pintu kamar mandi. Ia pun dengan perlahan berjalan kearah pintu itu. Tapi baru beberapa langkah, gadis itu berhenti. Teringat bahwa ia tak memiliki baju apapun dirumah ini.

Sehun menggendongnya bahkan sebelum ia sempat mengemasi barang-barangnya. Lagipula memangnya apa yang harus ia kemasi? Gadis itu memijat pelipisnya pelan, berpikir apa yang harus ia lakukan. Hingga matanya melirik sebuah lemari hitam besar di pojok kamar. Otaknya pun berpikir, Mungkin ada beberapa helai pakaian yang bisa kukenakan.

Ia berjalan menuju lemari itu, membukanya perlahan. Hingga terlihatlah tumpukan pakaian rapi dan berbagai baju yang disangkutkan didalamnya. Hyunra tersenyum. Tanpa pikir panjang, ia mencari sebuah baju yang bisa dikenakannya. Hingga sebuah piyama berwarna putih menyapa penglihatan gadis itu. Piyama itu memang terlihat kebesaran, tapi setidaknya masih lebih baik dari pakaian yang lainnya. Diambilnya piyama itu dan berbalik, kembali berjalan menuju kamar mandi.

Kuharap ini membantu.

***

Disinilah Sehun sekarang, terduduk dilantai menghadap sebuah figura cukup besar yang tersangkut didinding. Sebuah foto seorang wanita yang tengah tersenyum manis bersama anak lelakinya. Pria itu memandang foto itu lembut dengan mata elangnya. Membuatnya damai dan tenang.

Omma,” ucapnya dengan nada yang terkesan rapuh.

Sehun selalu seperti ini, jika sedang dalam mood yang tidal baik, ia pasti memilih duduk terdiam memandang foto Ibunya. Seakan waktu terasa berhenti, dan bumi tak berotasi. Ia betah berjam-jam hanya untuk duduk diam bagai orang bisu dan terus fokus memandang sosok itu.

Melihat wajah Ibunya yang tengah tersenyum itu sungguh menenangkannya. Ia begitu merindukannya. Merindukan sosok Ibu yang selalu menemaninya, menenangkannya, menyemangatinya. Semuanya. Ibu adalah segalanya bagi seorang Oh Sehun. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.

Ia bahkan belum sepenuhnya merasakan arti kasih sayang Ibu yang sesungguhnya. Tapi Tuhan sudah memanggilnya duluan. Saat itu usia Sehun masih 8 tahun. Ini sungguh tidak adil. Ibunya yang begitu ia cintai pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sehun yang bahkan saat itu tak bisa sehari saja berpisah dengan Ibu nya kini harus rela ditinggal untuk selamanya.

Itu sungguh menghancurkan hatinya. Ditambah lagi dengan ketidak wajaran kematian Ibu nya. Sosok Ibu yang begitu penyabar menghadapi hidupnya. Penderitaan karena ulah Ayah nya. Sehun sungguh membencinya. Karenanya Ibu pergi.

Semua itu mengubahnya. Mengubah hidup seorang Oh Sehun. Ia berubah menjadi Pria berandalan dan pemberontak terhadap Ayah nya sendiri. Ingin sekali rasanya Sehun pergi dari sini, tanpa siapapun. Tanpa Ayahnya. Tapi Pria itu tak bisa pergi begitu saja. Lelaki tua itu terus mempersulitnya, membuatnya seakan bergantung pada Ayahnya itu.

Nafas Sehun terengah-engah, pria itu kembali mengingat masa lalunya yang kelam. Bukan hanya itu saja, Sehun memiliki begitu banyak kenangan pahit dimasa lalu. Yang membuatnya kini benar-benar berubah menjadi sosok Iblis yang tak punya hati.

Tangan pria itupun beralih menyapu halus tempat tidur besar dibelakangnya. Menyingkap selimut yang tertata rapi itu sedikit hingga jarinya bersentuhan dengan sebuah benda. Ia mengambilnya.

Kembali sebuah foto yang kini lebih mirip dengan polaroid itu dihadapannya. Tangan Sehun menggenggam foto seorang gadis cantik itu dengan begitu kuat. Ia menatapnya penuh dengan sarat kebencian dan.. kerinduan?

Alasan lain yang semakin mengubah dirinya menjadi makhluk tanpa rasa kasihan. Membekukan hatinya seakan takkan pernah bisa mencair lagi.

Rahang Sehun mengeras seiring dengan tangannya yang meremas foto itu terlalu kuat hingga kini tak berbentuk lagi. Pria itu menarik nafasnya dan menyandarkan kepalanya pada tempat tidur dibelakangnya. Tatapannya kosong. Wajah Sehun pun kini memucat. Ia menggenggam dadanya dengan tangan kanannya, meremasnya pelan.

“Kau yang merusakku, Noona! Kau yang mengajarkanku menjadi seperti ini. Kaulah alasan mengapa aku melakukan semua ini!”

Pria itu memejamkan matanya, masih sambil meremas dadanya yang terasa bedenyut nyeri. Hingga sebuah suara menyadarkannya,

“Kau sakit?”

Sehun segera membuka matanya, menoleh kan kepalanya ke kanan. Kini terlihat sosok Namja imut tengah berdiri menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya. Sehun menegakkan tubuhnya.

“Apa kau tak punya sopan santun saat masuk kekamar orang lain?” tanyanya dingin. Luhan mengedikkan bahunya acuh dan berjalan mengelilingi kamar luas milik Sehun. Selagi Pria itu menatapnya dingin dan tajam.

“Aku sudah mengetuk pintu, tapi kau tak menyahutnya,” jawab Luhan enteng. Kini ia berhenti didepan figura besar dikamar itu. Menatap sosok wanita dalam foto itu.

Sehun memperhatikan Luhan yang berdiri diam menatap foto Ibunya itu. Ia merasa tak suka dan kesal saat seseorang mengganggu privacy nya. Sekalipun itu Hyung nya.

“Aku penasaran…” ucap Luhan masih sambil menatap foto itu.

“Jadi.. kau benar-benar berminat dengan warisan itu, heh?”

Hening.

“Hingga kau benar-benar memenuhi syaratnya,” lanjut Luhan santai. Namja itu memasukkan satu tangannya kedalam kantung celananya.

“Berhentilah bersikap munafik. Aku tahu kau juga tertarik dengan hal itu,” balas Sehun dingin. Tangan pria itu mulai mengepal. Luhan tersenyum kecil, kemudian dengan perlahan menolehkan kepalanya. Membalas tatapan tajam Sehun.

“Hm.. Ya, tapi sebenarnya aku lebih berminat akan sesuatu..”

Luhan memiringkan kepalanya memandang Sehun. Dalam hati, namja tampan itu tertawa setan melihat ekspresi Sehun yang kini menegang dan kaku. Tatapan pria itu semakin menusuk.

“Apa maksudmu?”

“Kupikir kau tahu apa itu.”

Deg. Sehun sudah menduga hal ini. Ia sudah memikirkannya sedari tadi.

“Tidak,” jawab Sehun tegas. Luhan menaikkan sebelah alisnya.

“Kenapa tidak?”

“Kubilang tidak, maka tidak!”

Luhan menghela nafasnya sejenak. “Kau menyukainya?”

Sehun terdiam, bibirnya mendadak kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Selagi matanya yang terus menatap tajam kearah Hyung nya itu.

“Apa kau menyukai gadis itu, Oh Sehun?” tanya Luhan memancing pria itu.

Sehun segera memutar otaknya, Ia tak bisa diam seperti ini. Hingga akhirnya berucap, “Itu bukan urusanmu, Luhan!”

“Benarkah?”

“Aku menyukainya atau tidak, dia tetap milikku!”

Luhan kembali menghela nafasnya sejenak. Kini dua pria berwajah tampan itu tengah saling berhadapan dan menatap tajam satu sama lain. “Aku meragukannya.”

“Itu terserah padamu. Tapi Ayah memberikannya untukku, dan bukannya untukmu!”

“Tidakkah kau berpikir bahwa kau terlalu tamak, Oh Sehun?”

Rahang Sehun mulai mengeras, Pria itu semakin mengepalkan tangannya kuat. “Apa maksudmu?”

“Apa yang kau inginkan? Warisan atau Gadis itu?”

Sehun menatap Luhan sedikit terkejut. Sampai sekarang Pria itu memang tak tahu apa yang benar-benar diinginkannya.

“Kau bahkan tak tahu apa yang kau inginkan, heh?”

Luhan pun maju selangkah, “Seharusnya kau sadar, kau tak lebih dari seorang Pria yang hidup dimasa lalunya. Pria yang tak bisa menatap masa depannya,” ujar Luhan datar.

Sehun semakin mengepalkan tangannya kuat, emosi Pria itu mulai memuncak.

“Kau tidak tahu apapun tentangku, Xi Luhan!” balas Sehun tajam. Luhan menaikkan sebelah alisnya.

“Tentu saja aku tahu. Aku Hyungmu! Kau hanyalah Pria yang sakit hati pada cinta pertamanya. Bahkan hidup dengan bayang-bayangnya!”

Habis sudah kesabaran Sehun. Ia tidak pernah suka jika seseorang menyangkut perihal masa lalunya. Adalah suatu hal terlarang bagi Pria itu saat seseorang mengungkit masa lalunya. Bahkan Kai pun tak pernah berani menanyakannya.

Rahang Sehun benar-benar mengeras sekarang. Tangan pria itu terkepal kuat, hingga urat-urat nadinya menyembul keluar.

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” desis Sehun dingin. Terdengar jelas bahwa Pria itu tengah berusaha keras menahan emosinya. Luhan tersenyum miring.

“Gadis itu.”

Luhan semakin melangkah maju tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Sehun. Sementara Pria itu menunggu kelanjutan ucapan Hyung nya itu.

“Lepaskan dia! Lepaskan gadis itu, Oh Sehun!”

Sehun mengerutkan keningnya, “Lalu setelah itu membiarkanmu memilikinya begitu? Jangan bermimpi, Luhan!”

“Kau tidak menyukainya!”

“Aku tidak perduli!”

“Tapi, Aku perduli!” Suara Luhan pun kini terdengar mulai memberat, menandakan ia pun mulai terpancing. Bocah ini sungguh Egois!

“Itu bukan urusanku!”

Luhan mulai mengepalkan tangannya. Kini Sehun lah yang terlihat mulai memojokkannya, terlihat dari raut wajah Pria itu yang mulai tenang. Kau salah jika menantangku, Hyung.

Sehun menyeringai melihat ekspresi Luhan sekarang. “Cihh. Bukankah kau sama saja denganku, heh? Kau tak mengenalnya, tapi ingin memilikinya!”

“Aku hanya tidak tega dengannya. Ia pantas mendapatkan yang lebih baik darimu!”

“Dan kau pikir itu dirimu, hah?”

“Setidaknya aku bukanlah Pria rapuh yang melampiaskan nafsunya pada gadis yang berbeda setiap harinya!” Sialan.

“Diam!”

“Sadarlah, Oh Sehun! Dia bukan gadis masa lalumu!”

Sehun mengacak rambutnya kasar sebelum berteriak, “Kubilang, DIAM!”

“Sampai kapan kau hidup dengan bayang-bayang masa lalumu, hah? Gadis itu tidak tahu apa-apa!”

“HENTIKAN, XI LUHAN! APA MAUMU, HAH?!”

“LEPASKAN DIA!” bentak Luhan pada adiknya itu. Kedua Pria itu kini benar-benar larut dalam emosi mereka masing-masing. Nafas mereka terengah-engah dan memenuhi ruangan yang hening sejenak.

Awalnya Luhan tidak berniat sama sekali untuk merebut Gadis itu dari Sehun. Bahkan hingga sekarang. Ia memang mendengar kabar mengenai Ayah nya yang membeli seorang gadis. Rasa heranpun menghampirinya, karena sekalipun Ayah nya itu sering bermain dengan para wanita, tapi ia tak pernah sampai membelinya. Rasa kasihan terhadap gadis itu sempat muncul dibenaknya, tapi namja itu segera melupakannya.

Hingga ia mengetahui persyaratan dari Ayahnya itu. Luhan tak dapat berbohong bahwa ia juga menginginkan warisan itu. Itu haknya. Warisan ibunya. Walaupun tak seberapa dengan milik Sehun. Tapi kini seperti haknya itu disita, ia harus melunasi hutangnya terlebih dahulu. Dengan kata lain mencari pasangan.

Luhan bukanlah tipe Namja seperti Ayah nya ataupun Sehun. Ia adalah orang yang tertutup dan ambisius. Ia jarang bergaul apalagi dengan makhluk bernama Wanita. Dan tentu saja syarat itu merupakan hal cukup sulit baginya, walau sebenarnya ia bisa mendapatkan gadis manapun yang ia inginkan. Tapi sekarang, tak ada gadis yang ingin ia dekati melebihi gadis itu.

Luhan pun akhirnya memutuskan kembali ke Seoul setelah 3 tahun. Sebenarnya itu bukanlah keinginannya, ia memutuskan hal itu juga karena permintaan dari pamannya. Paman yang merupakan keluarga terdekatnya melebihi Ayahnya sendiri. Selama ini Luhan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di Seoul dari pamannya tersebut. Termasuk berita Ayahnya yang membeli seorang Gadis.

Gadis itu ternyata ada sangkut pautnya dengan syarat dari Ayahnya itu. Luhan tak memungkiri bahwa ia mulai tertarik. Kembali mendapat informasi dari pamannya mengenai gadis itu. Hingga kabar bahwa ia diberikan kepada Sehun, membuatnya sedikit tidak rela. Kenapa selalu Sehun? Dan tentu saja itu membuat Pria itu mudah memenuhi persyaratannya.

Luhan kembali mencoba untuk tak perduli, walau rasa tak enak dan tak rela terus menghantuinya. Ia memang tak mengetahui apapun tentang gadis itu, yang Luhan tahu hanyalah bahwa Gadis itu masih berusia 18 tahun, ia masih begitu lugu. Itu membuatnya khawatir dengan mengetahui watak Sehun yang sesungguhnya. Ia adalah Pria yang posesif & terkesan kasar. Tidak pedulian dan tak ada rasa kasihan. Ditambah lagi dengan kabar Sehun yang sering bergonta-ganti gadis setiap harinya.

Hingga pamannya menelponnya dan menyuruhnya untuk segera pulang. Mendengar perlakuan Sehun terhadap gadis itu membuatnya kesal. Dan lagi, Calon Istri? Luhan sangat menjamin bahwa Sehun takkan pernah mau melakukan ikatan yang disebut dengan Pernikahan. Ia tak pernah serius melakukan suatu hubungan. Ia hanya memainkan sesuatu sampai puas, lalu setelah itu membuangnya.

Luhan memang tidak mengenal gadis itu. Bahkan namapun ia tak tahu. Namja itu baru sekali melihat wajah nya dan itupun melalui sebuah foto. Wajah cantik yang begitu polos. Dadanya bergejolak. Benar yang dikatakan Sehun, bahwa dengan melihatnya saja membuat ia ingin memilikinya.

Tapi rasa memiliki Luhan tak seperti Sehun. Ia masih bisa merelakannya jika saja Sehun memang serius dengan gadis itu. Tapi mendengar apa saja yang dikatakan Adiknya itu membuatnya berpikir dua kali. Mengetahui Sehun yang terus hidup dengan bayangan gadis masa lalunya membuat Luhan muak. Sehun hanya menggunakan Gadis itu sebagai pelariannya. Gadis itu tidak bersalah apa-apa, Oh Sehun!

Sudah cukup ia mengalah selama ini. Sehun sudah mendapatkan segalanya semaunya sejak kecil. Ia tidak akan membiarkan Pria itu menang untuk kali ini.

Nafas Sehun sudah lebih teratur sekarang, tapi ia masih terus menatap Luhan tajam dan mengepalkan tangannya menahan emosi.

“Tidak akan,” jawab Sehun tegas pada Hyungnya itu. Memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara mereka. Luhan menarik nafasnya kasar, rahang namja itu mengeras.

“Sebenarnya apa arti gadis itu bagimu, hah? Sebegitu pentingnya kah ia?” tanya Luhan penuh dengan sarat emosi. Sehun menatapnya datar, dan tanpa pikir panjang segera menjawab,

Dia hanya gadis biasa yang tak berarti apa-apa.

Luhan benar-benar kesal sekarang. Sungguh ia ingin sekali melayangkan kepalan tangannya pada wajah dongsaengnya itu.

“Lalu kenapa kau tak mau melepaskannya?! Kau hanya menyiksanya, Oh Sehun!”

Sifat Iblis Sehun pun kembali, ia benar-benar tak menggunakan hatinya saat ini. “Aku tidak perduli!”

“Kau memang Iblis!”

Sehun mengeluarkan smirknya pada Luhan. Ia berjalan perlahan menuju Hyung nya itu.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku seorang Malaikat!”

Kini Sehun berdiri tepat dihadapan Luhan, Ia menatap Hyungnya itu tajam sebelum berbisik tegas.

“Dengar, tak perduli bagaimana perasaanmu terhadap Gadis itu. Dan tak perduli apa arti Gadis itu bagiku. Dia tetap milikku!”

Lalu Pria itu berlalu keluar dari kamarnya sendiri, sambil menutup pintu dengan cukup keras. Meninggalkan Luhan yang masih larut dengan emosinya. Rahang Namja itu mengeras, hingga urat-urat lehernya pun terlihat jelas. Sebelum akhirnya ia menghela nafasnya berat.

Luhan memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing, ia mendongakkan kepalanya, kembali memandang figura besar di dinding itu. Walaupun itu bukanlah Ibu kandungnya, tapi wanita itu memberikan Luhan kesan yang baik semasa hidupnya. Ia mengingat saat Sehun yang dulu begitu berbeda dengan yang sekarang.

Namja itu menatap kosong kedepan dengan masih berdiri diam. Setelah cukup lama, raut wajahnya mulai berubah serius. Dengan tarikan nafas, ia sudah memutuskan.

“Aku harus menolongnya!”

***

Hyunra menghela nafasnya berulang kali. Ia kini tengah berjalan mengelilingi rumah mewah yang tak dikenalnya itu. Merasa bosan terus-terusan berada di kamar sejak kemarin. Ia kesepian.

Sebelumnya gadis itu sudah meminta izin pada Seulki Ahjumma untuk keluar kamar, lalu melompat kegirangan ketika diperbolehkan dengan syarat ia harus berjanji untuk tidak melarikan diri, dan gadis itupun menyetujuinya. Hingga Seulki Ahjumma permisi untuk keluar sebentar membeli sesuatu. Meninggalkan Hyunra sendirian dirumah.

Dan beginilah sekarang, Hyunra berjalan mengelilingi rumah mewah itu. Menjelajahi ruangan-ruangan disana. Mulut gadis itu tak berhenti berdecak kagum. Ia belum pernah menjelajahi rumah sebesar ini. Bahkan kamar mandinya saja jauh lebih besar dari kamarku.

Gadis itu berjalan dengan sedikit kesusahan. Piyama yang ia kenakan ternyata jauh lebih besar dari dugaannya. Ia harus melipat bagian celana itu berulang kali, tapi tetap saja hampir terjatuh setiap kali melangkah. Hingga gadis itu berjalan sambil menyentuh dinding.

Kini Hyunra beralih untuk mengitari lantai bawah. Dengan begitu hati-hati, ia melangkahkan kakinya agar tak terpeleset. Kenapa tangganya banyak sekali? Hingga akhirnya tersenyum senang saat menuruni anak tangga terakhir.

Tiba-tiba matanya menangkap objek sebuah pintu berdaun dua besar. Pintu utama. Terlintas dipikirannya untuk mencoba kabur dari rumah ini. Tapi ia tidak tahu dimana dirinya sekarang. Gadis itu terlihat ragu, melihat tak ada siapapun dirumah ini. Tak ada Sehun. Ini kesempatan langka, Kim Hyunra. Tapi kemana ia harus pergi jika berhasil kabur nanti?

Setengah hatinya benar-benar menyuruhnya untuk segera melarikan diri. Itu impiannya. Tapi setengahnya lagi mengelaknya. Otak gadis itupun berperang sekarang.

Tapi, aku sudah berjanji pada Seulki Ahjumma. Jika aku kabur, berarti aku melanggarnya. Ia pasti kecewa.

Lalu bagaimana dengan Sehun? Bagaimana kalau nanti Pria itu marah? Dia bilang aku tidak boleh kabur tanpa seizinnya. Dia pasti marah.

Hyunra mengusap rambut panjangnya gusar. Tangan mungilnya tertutup oleh panjangnya lengan piyama itu. Dengan helaan nafas yang berat dan sedikit tidak rela, ia mengalihkan pandangannya dari pintu itu. Berusaha menyenangkan hatinya dengan terus berpikir, Mungkin besok aku bisa kabur. Sungguh pemikiran yang lugu.

Kini matanya beralih melihat jendela besar diruang tamu yang menampilkan pemandangan diluar. Hari hujan. Begitu deras. Gadis itupun melongo, “Hujan?”

Hingga suara petir terdengar, membuat Hyunra refleks menutup kedua telinganya.

“Huwa, Hujannya lebat sekali! Bagaimana dengan Seulki Ahjumma?” tanyanya sedikit panik pada diri sendiri.

“Ia pasti kehujanan. Aku akan menunggunya.”

Gadis itu berjalan menuju sofa besar disana. Ia langsung duduk manis sambil menghadap kearah jendela. Gelap sekali dan menakutkan. Lama ia terduduk, hingga perlahan matanya mulai menyayu. Hujan tak kunjung mereda dan tetap lebat.

Hingga suara pintu terbukapun terdengar. Membuat mata Hyunra kembali terbuka. Ia mengira jika itu adalah Seulki Ahjumma, hingga tanpa pikir panjang, Gadis itu dengan antusias berbalik untuk menyambutnya dan menanyakan keadaannya.

“Ahjumma, Apa kau ba…”

Deg.

Sehun yang baru masuk segera mengalihkan matanya menuju suara yang menyambut pendengarannya. Lalu mendapati sosok Gadis bertubuh kurus yang tenggelam dengan piyama super kebesarannya. Wajah itu. Wajah pucat yang memenuhi otaknya selama akhir-akhir ini. Tatapan pria itupun menajam.

Hyunra sendiri langsung berdiri kaku saat melihat seseorang yang tidak ia nantikan saat ini. Gadis itu terkejut. “Se-Sehun.”

Itu untuk pertama kalinya Sehun mendengar namanya keluar dari bibir mungil gadis cantik itu. Suara lembut yang jernih. Tapi sarat akan ketakutan tetap terdengar. Dan Pria itu tidak perduli. Bahkan dengan keadaannya saat ini.

Sehun masuk kerumah dengan tubuh yang basah kuyup. Ia memarkirkan mobilnya dengan jarak yang cukup jauh dari pintu utama, dan tanpa perduli serta nekat menerobos hujan deras. Moodnya benar-benar sedang tak bagus hari ini. Ditambah dengan pertengkarannya dengan Hyung nya tadi. Sifat Iblisnya muncul. Membuatnya kini melakukan apapun tanpa berpikir dan tak menggunakan hati.

Dan kini melihat sosok Hyunra yang merupakan pokok pertengkarannya dengan Luhan, langsung muncul dihadapannya saat ini, membuat hatinya berdesir. Otaknya tak dapat memikirkan apapun lagi selain gadis itu. Gejolak yang selalu muncul setiap kali melihatnya pun timbul.

Hyunra yang tadinya berniat untuk melarikan dirinya ke kamar saat melihat Pria itu datang, lalu mengunci pintunya kini malah terkejut melihat keadaan Sehun. Rambut pria itu berantakan dan basah. Wajahnya pucat, dan ia sedikit merinding melihat Sehun yang terus menatap tajam kearahnya. Baju kemeja pria itu basah kuyup, hingga membentuk tubuh atletisnya.

“Sehun-ssi, Apa kau kehujanan? Bajumu basah,” ujar gadis itu polos sambil menatap tubuh tinggi Pria itu.

Sehun sendiri tetap memilih diam. Suara hujan deras diluarpun semakin terdengar. Mengiringi langkah Sehun yang mulai berjalan kearah gadis itu. Dada pria itu terasa sesak. Emosinya sedang tak terkendali saat ini. Membuat nafasnya terengah-engah dan memenuhi ruangan. Bahkan Hyunra mungkin dapat mendengarnya. Ia terus menghujani Gadis itu dengan tatapan buasnya.

“Se..Sehun-ssi,” bisik gadis itu panik. Ia mulai melangkah mundur menghindari Sehun. Dari raut wajahnya yang mengeras, sekarang Hyunra baru menyadari bahwa Pria itu sedang dalam Mood yang tidak baik. Sangat tidak baik. Dan ini menakutinya. Alarm dalam tubuh gadis itu pun berdering keras, mengingatinya untuk segera menyelamatkan diri.

Oh tidak. Ini tidak baik.

 

-TBC-

Anyeong~~

Hihi.. Oke, pertama saya jelasin cast barunya satu-satu dulu ya. Disini Luhan, besoknya Kris, besoknya lagi muncul cast baru lainnya^^ Dan juga Mian kalo FF ini semakin mengecewakan, ngebosenin, mengesalkan, dan lainnya. Genre Marriage Life nya Coming Soon, okeh?~

Dan juga next chapternya, saya akan memulai penyiksaannya(?)-___-V Yuhuu~ Maafkan saya, Baby(?)^^ Hihi.. Maksudnya konfliknya! Itupun kalo masih ada yang mau baca 😀 Tenang, masing-masing dapat bagian kok. Saya kan adil 🙂

Dan lagi, di chapter ini HunRa moment nya sedikit. Soalnya saya ada kejutan, dan ini rahasia-____-V Juga FF ini bukan NC. Maafkan saya~ saya nggak pande buat begituan. Saya cuma bisa buat adegan Kissing aja(?) 🙂 Klo pun ada NC, pling cuma di skip~ Tapi mungkin next chapternya ada…(sensor)

Trus juga saya mau curhat.__. Jadi gini, saya nggak maksa kok untuk koment, tapi jujur saya sedih ngeliat koment nya nyusut dari yg di Chap 1 ke Chap 2. Saya nggak mau maksa Readers untuk koment, tapi sayanya nyesek :’) Pokoknya saya nggak mau maksa untuk koment(?)! Asalkan ada yg suka aja udh cukup kok^^ Makasih banget yg masih mau baca FF ini 🙂

WP pribadi : Kyohaerinhoonra.wp.com (Saya lagi rombak blog, jadi untuk next chapter yg mungkin di publish disana, harap ditunggu sebentar ya^^)

Tertanda,

Luhan beserta Istri

 

 

Iklan

440 pemikiran pada “My Pervert Devil (Chapter 3)

  1. Woahh darurat! Gawat! Wah capt.4 diproteksi yah? Min?? Emm ADUH GMANA CRANYA TAU PW NYA? Min? Alamat EMAIL min apa? Eum min tau kan maksudku? Errr di tunggumin blesannya.. Hehe

Tinggalkan Balasan ke nyonyapark Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s