Thorn of Love (Chapter 1)

Thorn of Love

Part 1 (That Time…)

 

Author             :           Yoon94 / Oriza Mayleni

 

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Byun Heejin

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Choi Yunae
  • Byun Junghwa (OC)
  • Etc..

 

Genre             :           Romance, Angst

 

Rating                         :           PG13

 

Length             :           Chapters

 

Backsound      :           K.Will – Dream (Music Box Ver.) *must listen, highly recommended .-.

 

Ide pokok cerita pure from my complicated mind (?), terilhami saat disuatu malam muter lagu lama favorit EXILE – The Road #eaaaaa dipadukan dg lagu S.M. The Ballad Chinese ver. dan jadilah FF aneh bin ajaib ini xD well be a good readers OK! Happy reading~~
Yang gak punya lagu K.Will – Dream versi music box, bisa download dulu dilink dibwh : http://www.youtube.com/watch?v=inbwgWhnG9g

Monggo~~~ ^^

Thorn of Love (1)

~oOo~

 

I miss you, how long has it been since I last saw you?

That time, when I let go of your hand, I sighed, alone, regretting letting you leave…

Author’s POV

“Maaf, kartu ini tidak bisa digunakan” ucap seorang wanita berumur sekitar 30’an dari balik meja kasir

Diseberang meja berbahan marmer mengkilap tersebut berdiri seorang laki-laki muda dengan seragam sekolah yang tak begitu rapi, dasi yang terpasang dilehernya sedikit longgar, kemeja putihnya terlihat menjuntai keluar, rambutnya yang berwarna hitam pekat itu pun terlihat sedikit tak beraturan namun penampilan kacau laki-laki tersebut tak serta merta membuat orang memandangnya dengan sebelah mata karena dari seragam sekolah yang dia pakai saja, orang pasti sudah tahu dia berasal dari keluarga menengah keatas. Sebuah name tag bertuliskan ‘Byun Baekhyun’ terpasang rapi diatas lambang berbentuk mahkota berwarna gold dan merah marun dengan huruf ‘J’ ditengahnya, Junsang International Academy, itulah nama sekolah dimana nama Baekhyun terdaftar sebagai salah 1 siswa tingkat akhir.

Baekhyun membuang nafas berat seraya mengambil sebuah kartu kredit lagi dari dompetnya lalu menyerahkan pada kasir wanita tadi. Hanya selang beberapa detik, kasir tersebut kembali memasang ekspresi yang sama seperti sebelumnya.

“Maaf tuan, kartu ini juga diblokir”

“Sial!” Umpat Baekhyun pelan sambil menatap jengkel 4 platinum credit card miliknya yang tergeletak diatas meja.

“Tunggu sebentar” Ucap Baekhyun pada si kasir, tanpa perlu menunggu jawaban kasir tersebut, Baekhyun membalikan badan lalu menekan kombinasi angka di ponselnya yang segera menghubungkannya pada seseorang diujung sana

“Chen kau dimana?”

“Ya ya ya…bisakah setidaknya kau mengatakan halo atau apa?”

Baekhyun tersenyum kecut mendengar perkataan salah satu sahabatnya yang bernama asli Kim Jongdae itu diujung sana.

“Baiklah, Halo! Jongdae-ssi kau sekarang ada dimana?”

“Aigoo kau manis sekali menanyakan keberadaanku..hahaha”

“Ya! Aku sedang terburu-buru, cepat datang ke Verameat Restaurant diblok 3 jalan XXX Gangnam, aku tunggu”

Tuttttt…Baekhyun menekan tombol merah diponselnya tanpa ampun dan melakukan aktifitas baru yaitu menunggu dan menunggu. Selang 10 menit, suara lonceng khas menggema direstoran elit tersebut yang berarti seseorang baru saja membuka pintu kaca mengkilat milik restoran Italia itu. Seorang laki-laki dengan rambut ikal kecoklatan dan berseragam persis seperti milik Baekhyun memasuki restoran dengan tergesa-gesa. Matanya berpencar lalu berhenti pada sosok Baekhyun yang tengah menatapnya heran.

“Ya! Kau—“ belum lagi Chen menyelesaikan omelannya, gerakan kepala Baekhyun yang mengarah pada sesuatu diatas meja menghentikan aksi mulutnya.

Chen merogoh kantong mengambil dompet lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada seorang wanita yang tak tahu siapa namanya namun Chen tahu pasti kepada wanita itulah dia harus menyerahkan uangnya.

“Terima kasih atas kedatangan anda tuan. Silahkan datang lagi”

Kalimat yang meluncur dari pegawai restoran membuat Baekhyun lega bukan main.

“Maaf aku memanggilmu kesini tiba-tiba dan owh ya aku akan mengganti uangmu”

“Ini bukan masalah uang, kau tahu? Aku kira kau tiba-tiba dirampok atau pingsan karena telponmu mati begitu saja” keluar sudah semua unek-unek dihati Chen

Kalau saja Chen tidak ingat laki-laki ini adalah teman baiknya, tak tahu apa yang sudah dilakukan Chen sejak tadi.

“Maaf, situasiku sedang darurat karena aku harus menahan malu hanya untuk sepiring ratatouille dan kartu kredit laknat”

Baekhyun dan Chen menghentikan langkah mereka saat sudah berada diluar. Semilir angin sore menerpa wajah keduanya yang memiliki ekspresi sangat berbeda. Chen menatap nanar kearah Baekhyun sambil melipat tangan didada, mulutnya bergerak-gerak namun sama sekali tak meluncurkan satu kata-pun sedangkan yang diperhatikan masih fokus meredam emosi dan menetralkan wajahnya yang merah padam.

“Benarkan yang kubilang” Chen berujar masih dengan menatap Baekhyun iba

“Mwo?”

“Ayahmu tidak akan memberikan kemudahan kali ini…kurasa”

Baekhyun memutar bola mata sambil menghembuskan nafas berat

“Aku—“

“Ya! Ya! Ya! Itu seperti mobilmu…”

Baekhyun baru hendak marah karena Chen memotong ucapannya namun kata ‘mobilmu’ membuat kepalanya ikut menoleh kearah telunjuk tangan Chen dan wala! Mata Baekhyun membulat sempurna melihat Porsche Boxster putih miliknya sedang bersama mobil Derek. Tanpa perlu perintah, kedua orang itu berlari cepat.

“Ada apa ini?” tanya Baekhyun langsung

“Apa anda tuan Byun Baekhyun?”

“Iya. Kenapa kalian menderek mobilku?”

“Maaf, kami hanya menjalankan perintah dari tuan Byun Junghwan. Kami permisi”

Baekhyun membatu ditempat. Kartu kredit, mobil, lalu nanti apalagi? Sekarang dia benar-benar miris.

“WOW!  Ayahmu memang luar biasa”

“Antar aku pulang…”

~oOo~

Seorang pria berumur sekitar 40 tahun lebih melirik arloji berwarna perak ditangannya. Jarum arloji tersebut menunjukkan pukul 3 sore lebih 25 menit. Hatinya tiba-tiba merasa lebih berat dari sebelumnya, matanya merah dan berair, ekspresi wajahnya yang sulit dijabarkan itu memberikan kesan dia sedang mengalami suatu masalah pelik. Tanpa diduga, sebulir air mata akhirnya jatuh, pria tersebut mengusap pelan pipinya lalu berjalan menghampiri seorang gadis yang tengah asik dengan kaktus-kaktus yang berjejer rapi didalam sebuah rumah taman. Tangan tua pria tersebut menyentuh puncak kepala gadis tadi dengan lembut dan hati-hati. Gadis tersebut menoleh lalu memberikan senyuman hangat, bahkan lebih hangat dari sinar matahari disore itu.

“Ayah harus kembali ke Seoul sekarang. Besok Ayah akan menjemputmu”

Gadis tersebut diam lalu menundukkan kepalanya, kedua tangannya saling bertautan dan mengepal keras.

“Ada apa Heejin sayang? Kau tidak mau pulang?”

“Apa..aku tidak bisa tetap disini saja?”

Heejin, gadis berumur 17 tahun dengan rambut panjangnya yang hitam lurus, kulit putih pucat, bibir yang berwarna pink pucat, serta kornea mata yang sehitam arang itu bersuara sangat pelan. Kepalanya masih menunduk.

“Kenapa? Kau tidak mau tinggal bersama Ayah? Dan lagi apa kau tidak mau bertemu oppa-mu?”

Heejin diam. Ya, dia memang seorang gadis yang sangat pendiam, lebih-lebih jika mendengar kata ‘oppa’.

“Heejin….sudah sejak kelas 5 SD kau disini, sudah hampir 7 tahun kau meninggalkan kami dan tidak pernah pulang. Kali ini Ayah mohon pulanglah, sekolah umum di Seoul tidak kalah bagus dari sekolah asrama Woosung ini, Ayah janji akan mencarikanmu sekolah yang terbaik, Ayah janji kejadian 8 tahun lalu tidak akan terulang. Jadi Ayah mohon…”

“Apa semuanya sudah berbeda?” Heejin mengangkat kepala lalu menatap Ayahnya yang langsung mengangguk yakin

“Baiklah”

“Terima kasih sayang”

Heejin memejamkan mata merasakan hangat pelukan Ayahnya.

“Berkemaslah dan tidur cepat malam ini”

Heejin mengangguk lalu melepas pelukan Ayahnya.

“Pulanglah appa, hari sudah mau gelap”

“Arraseo. Appa pergi dulu, sampai jumpa besok”

Byun Junghwan mengecup lembut kening putrinya lalu berjalan pergi dengan langkah berat. Saat sudah sampai didalam mobil Audi A6 hitam miliknya, mata Junghwan kembali berair melihat amplop coklat dikursi penumpang bagian depan tepat disebelahnya. Tangannya yang mulai keriput mengusap pelan wajahnya yang penuh raut khawatir, sedih, dan takut. Junghwan menarik nafas pelan menstabilkan emosinya, dia sadar dirinya terlalu tua untuk menangis tersedu-sedu, tak ingin semakin larut dalam suasana yang membuat hatinya berkecamuk, Junghwan segera menyalakan mesin dan melesat menuju Seoul.

2 jam perjalanan dari Woosung – Seoul atau sebaliknya sudah biasa dilakukan Junghwan. Kakinya melangkah perlahan memasuki sebuah rumah mewah tak terlalu besar yang merupakan miliknya.

“Baekhyun sudah pulang?” tanya Junghwan kepada seorang wanita tua yang merupakan pembantu rumah tangga sejak 20 tahun lalu.

“Sudah tuan, sudah sejak sejam yang lalu”

“Baiklah, terima kasih”

Junghwan menaiki tangga perlahan menuju kamar putranya. Diketuknya 3 kali pintu kamar itu namun tak ada reaksi dari sang empunya sehingga membuat Junghwan memutar knop hingga pintu terbuka dan terlihatlah seorang laki-laki dengan kemeja putih sedang sibuk dimejanya. Sepasang earphone menutup telinga Baekhyun dan membuatnya tak menyadari suara ketukan juga langkah kaki Ayahnya. Junghwan menyentuh pundak Baekhyun pelan membuat laki-laki itu berbalik cepat karena sedikit kaget.

“Ayah” ujar Baekhyun dingin sambil melepaskan accessories ditelinganya

“Selesai belajar, datanglah keruangan Ayah. Ada yang ingin Ayah bicarakan”

“Sekarang aja, aku sedang tidak sibuk dan kebetulan ada yang ingin aku tanyakan” Baekhyun memasukkan kertas putih besar berisi desain mentah kedalam laci mejanya lalu kembali berdiri tegap menghadap Ayahnya yang kini duduk dipinggiran ranjang.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Junghwan membuka suara duluan

“Kenapa Ayah memblokir kartu kreditku? Kenapa mobilku disita?”

“Ayah rasa kau tahu jawabannya Baekhyun. Ayah sudah memperingatkanmu untuk menjauhi balap liar itu bukan? Bagaimana kalau suatu saat polisi datang dan—“

“Aku tidak akan menyebut nama Ayah”

“Apa?” Junghwan menatap bingung kearah Baekhyun yang masih menundukkan pandangannya

“Jika suatu saat aku tertangkap, aku tidak akan menyebut nama Ayah, jangan khawatir tentang nama Ayah yang akan tercemar”

“Baekhyun!” bentak Junghwan sambil beranjak dari duduknya lalu berdiri tepat dihadapan putranya itu

“Kenapa kau seperti ini? Ayah memberikan hidup berkecukupan untukmu, tapi kenapa sifat keras kepalamu tidak pernah hilang? Ayah hanya memintamu berhenti berkutat didunia tak berguna itu dan ini bukan soal Ayah takut akan nama yang tercemar, tidak bisakah kau paham kalau Ayah hanya mengkhawatirkanmu? Kau sudah besar Byun Baekhyun! Kau sudah 18 tahun! Kau sudah tahu mana yang bagus dan buruk makadari itu buanglah sifat brandalmu itu!”

“Maaf Ayah, aku tidak bisa”

“Apa katamu?”

Junghwan menatap tajam Baekhyun, dadanya bergemuruh, nafasnya sesak, tangannya hendak bergerak namun nurani-nya sebagai seorang Ayah dan rasa sayangnya berhasil menghalau tindak kasarnya.

“Apa Ayah tahu betapa aku suka mendengar suara keras yang ditimbulkan knalpot-knalpot itu? Apa Ayah tahu betapa aku suka deruan dan teriakan diarea balap itu? Suara-suara itu mengisi kepalaku, membuat kepalaku penuh, dan hal itu tak bisa kurasakan dirumah ini, rumah hampa dan selalu diam ini”

Junghwan tertohok mendengar kalimat yang meluncur bebas dari mulut Baekhyun. Selama 18 tahun, baru kali ini Baekhyun dengan terang-terangan mengutarakan kesepian yang dirasakannya. Junghwan sudah paham betul betapa kesepiannya Baekhyun. Ibunya meninggal saat dia berumur 7 tahun. Dirinya terlalu sibuk bekerja dan dirumah ini tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua dan seorang pengurus rumah, hal tersebut membuat Baekhyun kekurangan perhatian hingga tak heran kini dia tumbuh menjadi laki-laki dingin dan agak brandal yang sering menghabiskan waktu ditempat balap liar, billiard, atau pub hingga malam. Junghwan merasa gagal, Junghwan tahu semua ini salah, semua memang sudah salah dari awal dan Junghwan tahu betul dialah pembuat kesalahan itu.

“Maafkan Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan tapi hal itu tidak seharusnya kau jadikan alasan. Kau bisa mengikuti kegiatan lain yang lebih positif daripada balapan dengan anak-anak brandal itu”

Baekhyun memalingkan wajah, rahangnya mengeras, sudah terlalu sering dia mendengar permintaan maaf itu dan itu membosankan.

“Ayah akan mengembalikan mobil dan kartu kreditmu tapi kau harus melakukan sesuatu untuk Ayah”

“Besok, kau harus menjemput adikmu. Dia akan tinggal bersama kita dan akan masuk kesekolah yang sama denganmu”

~oOo~

Langit jingga terpampang indah memberikan siluet orange keberbagai penjuru bangunan Junsang International Academy. Angin bertiup pelan dan teratur. Siapapun yang diliputi keadaan alam seperti tadi pasti akan merasa tenang dan damai namun tidak dengan seseorang yang sedang duduk dipojok kelas itu. Matanya menatap lurus kearah jendela, tatapannya kosong, tangannya masih setia bersembunyi didalam saku celana. Suasana kelas sudah sangat sepi sejak 1 jam yang lalu, suara denting jam dinding terus mengusik pikirannya yang sibuk berkutat dengan sesuatu. Dan akhirnya setelah duduk diam sendiri selama satu jam lebih, Baekhyun beranjak dengan menenteng tas lalu berjalan keluar kelas sambil menekan kombinasi angka diponselnya yang segera menghubungkannya pada seseorang diujung sana.

“Ayah..aku akan menjemput Heejin sekarang”

~oOo~

Baekhyun turun dari mobil porschenya yang baru saja kembali sambil menatap ke sekeliling bangunan bertuliskan Woosung Girls Dormitory. Kakinya mulai melangkah, terdengar bunyi renyah akibat dari daun yang hancur terlindas oleh sepatunya. Bunyi renyah tersebut beradu dengan suara angin dan suara burung membuat Baekhyun sedikit merasakan keanehan. Tempat ini sangat tenang, bahkan terlampau tenang, bagaimana bisa dia betah disini selama 7 tahun? –batin Baekhyun-

Baru 10 langkah, Baekhyun sudah menangkap seorang wanita yang berdiri didepan pintu asrama sambil tersenyum ramah padanya. Mau tak mau Baekhyun balas tersenyum lalu segera membungkukkan badannya.

“Apa kau Baekhyun?” tanya wanita berwajah kalem itu dengan nada lembut

“Ne. Byun Baekhyun imnida, saya kesini untuk menjemput Byun Heejin”

Wanita tersebut kembali tersenyum lalu pada saat yang bersamaan terdengar suara langkah kaki seseorang dari dalam, itu adalah Heejin. Baekhyun terpaku saat matanya bertemu dengan mata hitam milik Heejin. Sudah berapa lama mereka tak bertemu? Sudah sangat lama hingga membuat Baekhyun sedikit lupa akan wajah adiknya itu, yang diingat Baekhyun hanyalah wajah milik Heejin saat masih berumur 9 tahun namun Baekhyun tak pernah lupa akan 1 hal, dia tak akan lupa betapa dalamnya tatapan mata hitam Heejin dan dia tentu saja tak akan lupa betapa dia membenci pemilik mata itu.

Baekhyun membuang muka kesembarang penjuru yang penting matanya tidak lagi menangkap sosok itu. Kepalanya masih mengingat jelas memori-memori menyakitkan yang dialaminya, yang membuatnya jadi seperti ini, memori-memori itulah pencetus rasa tak sukanya pada sosok Heejin, belum lagi ditambah satu kenyataan yang amat miris yang membuat rasa benci itu makin tumbuh sumbur. Baekhyun bukan tak bisa melawan rasa benci itu, dia hanya tidak ingin melawannya, dia memang ingin membenci adiknya – Byun Heejin-.
I want to ask how the weather is over there.

 The feelings of sorrow, hidden concern, have already been revealed through tears…

 

To Be Continued……

 

How is it? Leave your comment =)) Suggest and Critic are mostly welcome, feel free to comment but use polite language. Thx.

 

 

Iklan

39 pemikiran pada “Thorn of Love (Chapter 1)

  1. Can I simply just say what a comfort to discover an individual who actually knows what they are discussing on the internet.

    You definitely realize how to bring an issue to light and
    make it important. More people should look at this and understand this side of your
    story. I was surprised that you aren’t more popular given that you certainly possess
    the gift.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s