What’s Cheonsa Doing Today?

Title: What’s Cheonsa Doing Today?

Author: @diantrf

Cast:

Oh Sehun (Exo) | Park Cheonsa (OC)

Genre: Fluff | Rating: T | Length: Ficlet

Prev:

Innocent Cheonsa

0o0

 

Sekarang hari Sabtu. Saat ini Cheonsa hanya tiduran di ranjangnya sambil memainkan ponselnya, lebih tepatnya bermain Pou. Pou Cheonsa yang berwarna pink dan bermata besar itu sangat ia sayangi. Tanpa sadar, Cheonsa senyum-senyum sendiri melihat Pounya yang tertawa lucu.

Sehun yang kebetulan sedang duduk di depan meja belajar dan memandangi laptopnya hanya bisa geleng kepala melihat tingkah aneh Cheonsa. Namun Sehun lebih memilih untuk mengabaikan gadis itu dan fokus terhadap skripsinya. Sangat menguras tenaga.

Aaa, kyeoptaa..” suara imut Cheonsa akhirnya telak membuat Sehun kesal. Sehun langsung menatap Cheonsa tajam dan menyelidik. 

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Nada bicaranya yang sok galak itu bahkan tak mampu membuat mata Cheonsa berpaling dari Pounya. Sehun hanya melengos di tempat karena diabaikan oleh anak kecil itu. Karena sudah semakin kesal, akhirnya Sehun menyerah untuk istirahat sejenak dan mematikan laptopnya daripada nanti tugasnya malah jadi berantakan.

Ia duduk di ranjang samping Cheonsa, menyandarkan tengkuknya di kepala ranjang lalu memejamkan matanya. Cheonsa bahkan masih asyik sendiri dengan dunianya tanpa menghiraukan Sehun sedikit pun. Ternyata keimutan Pou lebih enak dilihat daripada wajah tampan Sehun yang menyebalkan.

“Kau tidak ada tugas? Atau tidak bermain di luar?”

Sehun sebenarnya penasaran dengan apa yang Cheonsa lihat di ponselnya. Namun gengsi itu terlalu tinggi melekat dalam diri Sehun. Alhasil, pemuda itu hanya bisa menanyakan hal-hal umum untuk pelajar seperti istrinya itu. Ya semacam tugas atau mungkin bermain dengan gadis seumurannya di mall.

Cheonsa dengan singkat, padat, dan jelasnya hanya menggeleng pelan. Sehun menghela napas perlahan. Sehari dalam setiap hari, akhinya Sehun berhasil dibuat kesal dan penasaran oleh Cheonsa. Karena biasanya selalu Sehun yang jahil untuk menggoda Cheonsa.

“Lebih baik kamu memasak sesuatu, daripada hanya tiduran seperti itu.”

Ternyata Sehun belum menyerah juga untuk membuat Cheonsa menghentikan aktifitas rahasianya itu, yang tak lain adalah bermain Pou. Cheonsa akhirnya meletakkan ponselnya di meja nakas samping ranjang dan duduk menghadap Sehun yang masih bersandar di kepala ranjang.

Oppa lapar? Baiklah.”

Dan selanjutnya tanpa berkata apapun lagi, Cheonsa keluar dari kamar mereka dan melangkah menuju dapur untuk membuat makanan. Sehun lagi-lagi hanya melengos melihat kepergian Cheonsa yang amat sangat tenang. Ada apa dengan gadis itu? Biasanya ia seperti boneka berbaterai full yang tak henti-hentinya bergerak dan berceloteh.

Sekitar setengah jam berlalu. Sehun masih saja betah dengan posisi semulanya yaitu menyandar kepala ranjang. Hening. Apartementnya saat ini seperti rumah kosong yang tak berpenghuni. Agak membosankan memang, dan aneh.

Sehun mengacak rambutnya frustasi. Biasanya Cheonsa akan meramaikan suasana entah bagaimanapun caranya. Namun sekarang anak itu lebih hening dari biasanya. Sehun memang menyebalkan. Kemarin saat Cheonsa berisik ia selalu memarahi gadis itu untuk tenang. Namun sekarang saat Cheonsa sedang tenang, malah ia yang frustasi tak jelas.

Sehun menyerah, akhirnya ia memutuskan keluar kamar untuk melihat apa yang tengah Cheonsa lakukan. Mengapa tak ada suara sedikit pun yang ia dengar? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu dengan gadis itu? Pikiran-pikiran negatif mulai menguasai Sehun.

Ia melangkah perlahan keluar kamar. Benar-benar sunyi, tak ada suara sekecil apapun yang terdengar. Sehun berjalan perlahan menuju dapur, dan matanya membulat sempurna melihat Cheonsa sedang meletakkan kepalanya di meja.

Sehun mendekati Cheonsa, memastikan apakah gadis itu tertidur atau pingsan. Dan ternyata Cheonsa hanya tertidur, melihat dari napasnya yang teratur. Terlihat pula sepiring nasi goreng dan dua potong sandwich ikan tergeletak di meja sampingnya.

“Dasar anak kecil.”

Sehun tersenyum kecil lalu memutuskan untuk menggendong Cheonsa ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Setelahnya, Sehun kembali keluar menuju dapur dan memakan masakan Cheonsa. Ada-ada saja gadis itu, masa memasak saja sampai bisa ketiduran seperti itu?

Setelah selesai makan dan membereskan piringnya, Sehun kembali ke kamar dan mendapati Cheonsa yang masih tertidur pulas dengan wajah polosnya yang menggemaskan. Ia mendekati istrinya itu lalu duduk di tepi ranjang.

Sehun mengelus rambut panjang Cheonsa, dan tanpa sadar sebuah senyum manis terukir di bibirnya. Sehun seperti melihat bayi yang sedang tertidur dengan lucunya. Sehun pun memutuskan untuk kembali mengerjakan skripsinya, tak lupa sebelumnya ia mencium kening Cheonsa lembut dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Hey chubby, apakah kamu sudah puas hari ini membuatku penasaran dan frustasi, hm?”

 

0o0

 

Cheonsa terbangun karena dikagetkan oleh sesuatu yang mencubit pipinya dengan sangat semangat. Ia refleks membuka matanya dan menemukan wajah Sehun terpatri di depannya dengan kedua tangan pemuda itu yang tengah mencubit kedua pipi chubbynya.

Ahh, oppa sakit!”

“Siapa suruh kamu tidur seperti orang mati? Cepat bangun dan mandi sebelum malam. Sekarang sudah pukul lima sore.”

Cheonsa mengembungkan pipinya kesal dan menatap Sehun tajam sebelum akhirnya ia menyambar handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Namun bukannya terlihat menyeramkan, justru tatapan tajam Cheonsa terlihat sangat menggemaskan di mata Sehun.

Selagi menunggu Cheonsa mandi, Sehun memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah. Selang lima belas menit, terlihat Cheonsa yang sedang berjalan menuju dapur, mungkin untuk menyiapkan makan malam. Tentunya Sehun tak lupa begitu saja dengan kelakuan aneh Cheonsa yang hari ini sangat tenang.

Walaupun masih menonton televisi, namun mata Sehun kini hanya terfokus pada Cheonsa yang sedang berkutat di dapur. Penasaran benar-benar menggerayangi Sehun saat ini. Ia pun memutuskan untuk berjalan menuju dapur dan berniat menggoda Cheonsa. Siapa tahu gadis itu akan kembali cerewet seperti biasa.

Sehun tiba-tiba memeluk pinggang Cheonsa dari belakang, meletakkan dagunya yang panjang itu di pundak kiri Cheonsa. Namun gadis itu hanya diam dan masih terus melajutkan kegiatannya tanpa mempedulikan bayi besar yang sedang menempel padanya seperti hantu.

Pantang menyerah, Sehun kini malah menciumi leher Cheonsa untuk membuat gadis itu geli dan berteriak. Tapi lagi-lagi nihil. Cheonsa masih fokus pada supnya dan sama sekali tak menganggap Sehun ada. Sungguh miris.

Mungkin ini karma untuk Sehun agar ia bersyukur dengan apa yang ia miliki. Bersyukur atas gadis hiperaktif seperti Cheonsa dan tak akan lagi memarahi Cheonsa yang senang berceloteh dan bergerak kesana-kemari. Karena heningnya Cheonsa saat ini benar-benar membuat Sehun frustasi.

Oppa, makanannya sudah siap.”

Cheonsa melepas pelukan Sehun dan mulai menata sup rumput lautnya dan kimchi yang ia buat. Sehun hanya mampu menghela napas dan memendam rasa penasarannya jauh-jauh. Mereka kini sedang duduk bersebelahan di meja makan dan mulai menyantap makan malam mereka.

Oppa, aaa..”

Cheonsa memecah keheningan dengan menyuapkan sesendok kimchinya untuk Sehun. Sehun memperhatikan apa yang Cheonsa suapkan untuknya. Ternyata lobak. Sehun menaikkan sebelah alisnya menatap Cheonsa.

“Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak menaruh lobak dalam kimchinya?”

“Tapi Sehun oppa kan sangat menyukai lobak..”

“Tapi kalau alergimu kambuh hanya karena tak sengaja memakannya bagaimana?”

Begitulah Cheonsa, selalu lebih mementingkan Sehun daripada dirinya sendiri. Sehun menghela napas lalu memakan lobak itu. Dan suasana kembali hening. Cheonsa menyelesaikan makannya terlebih dahulu, dan setelah mencuci piringnya ia langsung meninggalkan Sehun menuju kamar mereka.

Lagi dan lagi, Sehun mengacak rambutnya frustasi dengan keanehan Cheonsa. Cheonsa yang biasanya menggemaskan dengan segala tingkah kekanakannya kini sudah seperti gadis-gadis dewasa yang sedang merajuk dalam drama Korea.

Sehun bergegas menyelesaikan makannya dan membereskan piringnya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit, dan setelah selesai ia langsung menyusul Cheonsa menuju kamar mereka. Mungkinkah Cheonsa marah padanya karena kasus lobak tadi?

Sehun tersenyum lega melihat Cheonsa yang sedang duduk di depan meja belajarnya, dengan posisi menempelkan pensil di dagunya seperti orang yang sedang berpikir keras. Sehun tertawa kecil melihat keimutan Cheonsa yang seperti itu. Mungkin ia memiliki tugas yang lumayan sulit.

Karena jam masih menunjukkan pukul tujuh, Sehun memutuskan untuk melanjutkan skripsinya untuk beberapa jam kedepan. Ia pun duduk di meja belajar yang berseberangan dengan milik Cheonsa dan mulai membuka laptopnya.

Hampir tiga jam mereka hanyut dalam kegiatan masing-masing tanpa ada suara apapun selain ketikan laptop Sehun dan goresan pensil Cheonsa. Mereka seperti sedang perang dingin, karena tak ada satupun yang memulai pembicaraan.

Sekitar pukul sepuluh, Sehun sudah menyerah dan memutuskan untuk menyudahi tugasnya. Ia melepas kacamata bacanya dan merapikan meja belajarnya. Tak selang lama, Cheonsa pun mendahului Sehun untuk berbaring di ranjang dan menenggelamkan dirinya dalam selimut.

Sehun, lagi-lagi, dengan mirisnya hanya mampu mengelus dada dengan tingkah aneh Cheonsa. Ia langsung menyusul Cheonsa untuk berbaring di ranjang. Cheonsa kini berbaring membelakanginya, membuat Sehun benar-benar berasumsi kalau Cheonsa marah padanya. Tapi marah kenapa? Apa karena lobak tadi? Tapi mengapa Cheonsa hening sejak pagi tadi?

Pemuda itu menyerah untuk kesekian kalinya. Akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya, berharap esok hari Cheonsa akan kembali menjadi gadis cerewet yang menggemaskan.

Tik..Tok..

Bunyi detik itu sudah terdengar selama lima menit. Sehun sudah hampir terlelap jika saja ia tak merasakan ada lengan yang memeluk pinggangnya. Sehun terpaksa membuka matanya kembali dan mendapati Cheonsa memeluknya dan memandangnya dengan tatapan polos.

Oppa, sudah tidur?”

Sehun rasanya ingin mencubit pipi Cheonsa sampai merah. Sudah jelas mata Sehun terbuka namun gadis itu masih bertanya apakah Sehun sudah tidur. Sabar Sehun..sabar..

“Belum.”

Ia hanya menjawab singkat, padat, dan jelas. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa Sehun rindu dengan tatapan polos Cheonsa seperti saat ini. Sehun pun berbaring menghadap Cheonsa dan balas memeluk gadis itu. Ia juga mengelus rambut Cheonsa sayang, dan tatapannya yang biasa datar itu ikut melembut saat menatap Cheonsa.

Oppa, Cheonsa ingin tanya sesuatu.”

Sehun mengerutkan keningnya, pasalnya Cheonsa kini menampakkan wajah bingungnya seperti ia sedang memikirkan suatu hal yang sangat sulit dipecahkan. Sehun hanya mengangguk menandakan jika ia siap ditanya.

“Dari mana asal bayi?”

Oke, Sehun bingung sejadi-jadinya. Ia membulatkan matanya, dan Cheonsa hanya menampakkan wajah polosnya. Untuk apa pula ia menanyakan hal yang tak sepatutnya ditanyakan oleh pelajar SMA sepertinya? Apakah ia ak pernah mempelajari hal itu di sekolah?

“Cheonsa sayang.. Memangnya kamu tak pernah mempelajari hal itu di sekolah?”

Ya Tuhan, wajah Cheonsa kini semakin lucu di mata Sehun. Gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan Sehun. Dan kini Sehun semakin bingung. Jika sudah dipelajari, untuk apa ia bertanya seperti itu pada Sehun?

“Lalu untuk apa bertanya?”

“Karena di buku biologiku tak ada penjelasan tentang bayi Pou.”

Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, Sehun mengerutkan keningnya karena bingung dengan istrinya itu. Dan apalagi itu Pou? Binatang apa itu?

PPou? Apa itu?”

Oppa belum pernah melihat Pou?”

Dan tepat saat Sehun menggeleng, Cheonsa mengambil ponselnya di nakas meja dan mengotak-atiknya sebentar lalu menunjukkan sesuatu pada Sehun. Terlihat jelas di layarnya terdapat sebuah benda pink yang agak bulat (walaupun Sehun tak yakin itu bulat) dengan mata besar yang sangat menggemaskan. Jadi, itu yang namanya Pou?

“La-lalu, apa hubungannya benda pink ini dengan bayi yang kamu tanyakan?”

Cheonsa menghela napasnya pelan. Gadis itu merasa bahwa Sehun adalah orang terbodoh sedunia. Sangat berbanding terbalik dengan fakta bahwa Cheonsa adalah gadis terlewat polos yang pernah Sehun kenal.

Nah, jadi dari pagi tadi Cheonsa bingung. Dari mana asal Pou, dan mengapa Pou begitu menggemaskan. Karena Cheonsa tak pernah melihat eommanya Pou, jadi Cheonsa bertanya pada oppa dari mana asal bayi Pou itu. Di buku biologi Cheonsa tak ada penjelasan tentang Pou.”

Oh Sehun, pria itu sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi selain membulatkan matanya dan membiarkan mulutnya menganga karena terlalu heran. Gadisnya ini apakah sebegitu kelewat polosnya sampai membuat hipotesis sedemikian rupa yang sangat aneh itu?

Dan, apakah karena masalah Pou ini Cheonsa jadi mendiaminya seharian? Hanya karena memikirkan dari mana asal Pou dan Cheonsa tak menghiraukan Sehun sedikit pun? Gadis ini benar-benar keterlaluan!

Namun, Sehun  memendam kegondokannya itu dalam-dalam dan digantikan dengan sebuah senyuman yang sangat manis nan mempesona namun bermakna dendam di dalamnya. Inilah saatnya Sehun balas mengerjai Cheonsa.

Ohh, seperti itu ya. Tapi sayangnya oppa tak tahu dari mana bayi Pou itu. Namun kalau bayi manusia oppa tahu dari mana asalnya.”

Senyum mencurigakan Sehun kini semakin menjadi-jadi. Namun herannya Cheonsa sepertinya tak menyadari hal itu. Cheonsa malah memasang wajah antusias, seolah siap mendengarkan dongeng sebelum tidur karya Oh Sehun yang akan pemuda itu ucapakan sebentar lagi.

“Benarkah? Oppa tahu? Ayo ceritakan!”

“Sungguh, Cheonsa ingin tahu? Baiklah. Jadi, bayi manusia itu berasal dari sini..” ucap Sehun yang kini tengah memegang perut Cheonsa yang terbalut piyama tidur pinknya yang bermotif Hello Kitty.

Cheonsa menundukkan kepalanya untuk melihat perutnya yang dipegang Sehun. Kali ini giliran Cheonsa yang mengerutkan keningnya karena bingung. Entah hal apa lagi yang ia bingungkan.

“Lalu, bagaimana bisa bayinya masuk?”

Skak! Apa yang ada di pikiran Sehun kini terealisasi. Bahwa Cheonsa yang kelewat polos itu akan menanyakan hal ini. Dan yang akan Sehun lakukan setelahnya adalah…

Cup~

Sehun mencium bibir Cheonsa lembut sembari mengusap kepala gadis itu. Sebenarnya Sehun ingin tertawa karena kepolosan Cheonsa yang kali ini bisa ia kerjai. Namun Sehun sudah terlanjur hanyut dalam permainannya sendiri dan menikmati lembutnya bibir gadis imut itu.

Setelah mungkin lima menit, Sehun melepaskan tautannya. Ia melihat wajah Cheonsa yang masih sama dengan waktu pertama kali ia menciumnya. Wajah orang bingung yang sangat menggemaskan. Mata berkilaunya seolah memancarkan pertanyaan ‘apa-yang-terjadi-?’.

Ah sudahlah, kita akhiri saja dongeng sebelum tidurnya. Sekarang Cheonsa tidur, ne?”

Sehun kembali dengan wajah manisnya, dan ia membawa Cheonsa dalam pelukan hangatnya. Sementara yang dipeluk masih terdiam. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Yang jelas Cheonsa mulai memahami sesuatu sekarang.

Bahwa Sehun ternyata lebih manis daripada Pou miliknya.

 

 

 

FIN

 

Huaa HunSa balik hehe. Seneng deh mereka makin unyu aja. Semoga semuanya suka. Annyeong^^

Iklan

183 pemikiran pada “What’s Cheonsa Doing Today?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s