Hate or Love (Chapter 5)

Title : Hate or Love (Chapter 5)

Author : starLinn (@StellaW_)

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

 HoL

YEY, akhirnya selesai juga chapter kali ini. Maaf ya kalo semakin gaje dan semakin hancur. Satu lagi, maaf chapter kali ini agak pendek. Tapi tenang aja author yang baik nan kece ini akan memperpanjang chapter selanjutnya /tebar posona bareng D.O/. Jadi teruslah menanti chapter selanjutnya ya! Typo bertebaran di mana-mana, harap dimaklumkan. Oiyaa, thank you atas comment kalian di chapter sebelumnya. Maaf author ga bisa bales satu-satu, hehe. Teruslah tinggalkan jejak readers, karena jejak readers memberi semangat untuk author/?

Selamat membaca~~

PYONGG!!!

******

“Hanna…”

“Dul….”

“SET!” Sehun membukan pintu kamar Hagun dan tak ada seorangpun di sana.

“Yoon Hagun?” Sehun masuk lebih dalam ke kamar Hagun.

“Kau di mana, eoh?” ucap Sehun tapi sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar ini.

“Aishh, kemana dia?” Sehun mengacak rambutnya dan wajahnya tampak kuatir.

Chapter 5

Sehun Pov

“Aishh, kemana dia?” aku mengacak rambutku, kemana gadis mengerikan itu pergi? Kalau aku menemukannya, akan kupastikan dia menyesal pergi tanpaku. Dengan cepat aku keluar kamar Hagun, mengambil tas, dan berangkat ke sekolah.

@Class

BRAKK!!

“YOON HAGUN!” teriakku saat masuk ke dalam kelas. Sekejap seisi kelas langsung menatapku penuh kebingungan.

“Di mana dia?” lanjutku.

“Seingatku dia pergi ke kantin.” Jawab seseorang yang tak kukenal, aku tak perduli dengan orang-orang di sekolah ini. Ya, kecuali yeoja itu. Aku akui, ini memang aneh. Aku ingin berada di sekeliling yeoja itu, aku ingin menjaganya. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju kantin, lihat saja kau Yoon Hagun.

Normal Pov

Sehun menginjakan kakinya ke dalam kantin, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin untuk mencari sosok yang ia kuatirkan.

“Itu dia!” ucap Sehun pelan dan berlari menuju meja yang berada di pojok kantin, dia mengerutkan dahinya melihat Hagun bersama orang lain dan itu namja. Namja dengan kulit yang sedikit gelap, wajahnya familiar, pikirnya.

“Cepat ikut aku!” suruh Sehun sambil menarik tangan Hagun saat sampai di pojok kantin, ya tempat Hagun duduk menikmati santapan paginya. Sehun tidak memperdulikan tatapan tajam namja yang bersama Hagun.

“Lepaskan! Aku tak mau, makananku belum habis.” Tolak Hagun sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.

“Ikut aku baru kulepaskan.” Sehun kembali menarik tangan Hagun dan kali ini ada tangan yang menghalangnya.

“Hey, namja jadi-jadian lepaskan Hagun.” Ucap namja yang bersama Hagun dan dia adalah Jongin.

“Mworago? Namja jadi-jadian?”

“Ne, seenaknya menarik dan memaksa seorang yeoja. Itu bukannya seperti namja jadi-jadian?”

BUGH!

“YA! JONGIN-ah!” Hagun terkejut melihat Jongin dipukul oleh Sehun. Dan dia jauh lebih terkejut lagi karena Jongin membalas pukulan Sehun, dan terjadi perkelahian di antara mereka berdua. Sampai seorang guru datang, meleraikan mereka berdua, dan membawa mereka ke kantor guru. Dan sialnya Hagun harus menjadi saksi kejadian yang menurutnya bodoh ini.

“Kenapa kalian bisa berkelahi? Jawab saya!!!” tanya Hyorin seongsanim. Dia terkenal sebagai guru yang paling tegas di sekolah ini.

“Ini salahku seongsanim.” Jawab Hagun sambil menundukan kepalanya. Sehun dan Jongin terkejut dan memandang ke arah Hagun.

“Ani seongsanim, ini salahku.” Ucap Sehun. Hyorin memandang Sehun dan Hagun bergantian.

“Kalau bicara yang benar, jangan seperti ini!!” tiba-tiba Jongin berdiri,

“Semua ini adalah salahku, bukan salah Hagun ataupun namja itu.” Kali ini giliran Jongin. Sedetik kemudian Sehun juga bangkit berdiri dan memegang tangan Hagun yang awalnya duduk di sampingnya.

“Kalau begitu kami berdua keluar, dia sudah mengaku bukan?” Sehun mengeratkan pegangannya dan menarik Hagun keluar dari kantor Hyorin.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kita keluar dan meninggalkan Jongin sendiri, eoh?” tanya Hagun saat tangannya di tarik Sehun.

“Dia sudah mengakui kalau dirinya yang salah. Jadi tak ada gunanya kita berada di sana.” Jawab Sehun.

“Ta-tapi…”

“Lebih baik kau diam.” Suruh Sehun sambil menatap tajam mata Hagun, tatapan itu sukses membuat Hagun bungkam.

Sedangkan di sisi Jongin…

“Maafkan saya seong, tadi saya hanya sedikit mengganggu orang itu. Tapi dia malah memu-“

“Hentikan! Seongsanim tak mau mendengar apapun lagi. Sepulang sekolah nanti, kau harus membersihkan toilet yang ada di sekolah ini.”

“Y-yee?”

“Kau keberatan? Baiklah hukumanmu akan diperberat.”

“Ani! Saya tak keberatan.” Ucap Jongin cepat.

“Sudah kembali ke kelasmu dan berlajar yang benar. Jangan membuat masalah lagi. Kau mengerti?”

“Ne, seongsanim.” Jongin membungkukan sedikit badannya dan keluar dari ruangan Hyorin. Sepanjang jalan menuju kelasnya, Jongin merutuki Sehun.

‘Aku tak akan tinggal diam..’ batin Jongin.

**********

“SUDAH!! HENTIKAN!!” teriak seorang yeoja yang tampak frustasi, kalau bukan Hagun, siapa lagi? Dia merasa kehidupannya menjadi kacau balau, masalah kecil bisa menjadi besar karena dua orang. Mereka, sehun dan kai sekarang berebutan tempat duduk. Memang awalnya itu tempat Jongin, tapi Sekarang itu adalah milik Sehun. Yaa, itu menurut Sehun, secara kemarin Luhan yang menyuruhnya duduk di sebelah Hagun.

“Baek-ah! Boleh aku pindah ke sampingmu?” tanya Hagun pada Baekhyun. Teman yang duduk di belakangnya.

“Eoh? Tentu saja, semenjak Chanyeol pindah sekolah, aku tidak memiliki teman sebangku.” Jawab Baekhyun yang malah curhat. Hagun merapikan semua barang bawaannya dan pindah ke bangku sebelah Baekhyun.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sehun pada Hagun sedangkan Jongin hanya diam.

“Pindah, lebih baik kalian duduk berdua.”

“MWO??” ucap Sehun dan Jongin bersamaan

“Wae? Bukannya itu keinginan kalian? Duduk di barisan itu?”

“Bukan itu maksudku.” Sehun menahan ucapannya, Dasom Seongsanim sudah masuk kelas. Dengan berat hati Sehun dan Jongin duduk bersebelahan. Sedangkan Hagun duduk di belakang Sehun, di samping Baekhyun. Sesekali Hagun tersenyum melihat kelakuan dua namja yang ada di depannya. Saling menatap, membuang muka, dan lainnya. Sungguh pemandangan bodoh sekaligus menyenangkan untuk dilihat.

“Baiklah, sekarang saya akan memanggil kalian satu per satu untuk mengambil nomor undian. Kali ini, kalian akan membuat tugas dalam kelompok-“

“YEYY!!” belum selesai Dasom bicara, semua murid sudah bersorak. Ya menurut mereka bekerja dalam kelompok jauh lebih mudah dan menyenangkan.

“YA! Dengarkan saya dulu! Aishhh, setiap kelompok berisi tiga orang, dan tugasnya adalah membuat satu cerita pendek. Kumpulkan saat pelajaran saya minggu depan. Mengerti semua??” ucap Dasom.

“Ne seongsanim!” balas semua murid bersamaan. Satu per satu semua muridpun maju, mulai dari barisan paling depan sampai ke belakang.

“Baiklah, sekarang bergabung dengan-“

“AHH! ANDWAE!!” jerit Hagun memutuskan ucapan Dasom. Dasom hanya menghela nafasnya dan memandang Hagun.

“Waeyo?” tanya Dasom.

“Aku tak mau sekelompok dengan mereka berdua!” jawab Hagun sambil menunjuk Sehun dan Jongin bergantian.

“Memangnya kenapa?”

“Aku hanya tidak mau, seongsanim”

“Alasan tidak diterima. Sudah bergabunglah dengan kelompok masing-masing dan mulai memikirkan cerita apa yang akan kalian buat. SEKARANG!!” ucap Dasom dan diakhiri bentakan yang membuat semua murid bergerak.

“Gun-ah, duduklah di sini.” Suruh Sehun sambil menepuk setengah dari tempat duduknya.

“Andwae! Di sini saja, lebih aman” Jongin menepuk pahanya.

“Mwo? Dasar namja gila, mana mau dia duduk di sana. Tempatku lebih terjamin.” Ucap Sehun

“Apa maksudmu, eoh?”

“Kau mau cari gara-gara lagi rupanya?”

“Yaa, aku mohon hentikan..” ucap Hagun lemas.

“Mi..mianhae” sesal Sehun dan Jongin bersamaan.

“Hahh, aku tak akan duduk di tempat yang kalian sediakan. Dan aku tak mau memikirkan soal cerita itu hari ini. Silahkan kalian berdua yang memikirkannya terlebih dahulu, aku ingin tidur.” Ucap Hagun lalu mengambil posisi untuk memulai mimpinya. Sehun dan Jongin saling menatap dan langsung membuang muka.

‘Cih.. aku tak mau berbicara dengan manusia hitam seperti dia.’ Batin Sehun.

‘Lebih baik aku dihukum seongsanim, dari pada berbicara dengan makhluk itu.’ Batin Jongin.

********

“Kau, cepatlah bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan pergi ke rumah Jongin.” Suruh Sehun saat melewati Hagun yang memainkan ponselnya di ruang keluarga.

“Hmm, arrayo..” balas Hagun tanpa mengubah posisinya. Posisinya cukup ekstrim untuk seorang yeoja, tubuhnya tiduran di karpet dan kakinya di atas sofa. *bisa bayanginkan yaa? ‘-‘*

“Matamu bisa rusak babo.” Ucap Sehun lagi.

“Hmmm…”

“Aishh, tak ada pilihan lain” Sehun mendekati Hagun dan menggendongnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!” suruh Hagun sambil berontak. Sehun tetap menggendong Hagun sampai ke kamarnya, dia menidurkan Hagun di ranjang dan mendekati wajahnya. Hagun kembali merasakan panas di seluruh tubuhnya, tapi kenapa tubuhnya malah membeku? Sulit sekali untuk digerakan. Sehun mulai merasakan nafas Hagun, begitupun sebaliknya. Semakin dekat dan..

“Gun-ah!” panggil seseorang dari pintu kamar Hagun.

To Be Continue~

15 pemikiran pada “Hate or Love (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s