Seonsaengnim (Chapter 2)

Title: Seonsaengnim

Author: @diantrf

Cast:

Xiao Luhan (Exo) | Park Cheonsa (OC) | Others

Genre: Romance, School-life, Fantasy | Rating: T | Length: Chaptered

0o0

Aku kalah telak dengan kakek tua itu. Sepertinya julukan King of Drama sangat pantas ia sandang. Pasalnya ia, dengan bantuan kakek Xi, kembali memainkan Mini-Dramanya yang berjudul ‘aku akan mati jika kalian tak jadi menikah’. Menyebalkan! Bahkan Chanyeol menertawakanku habis-habisan dalam kamar.

Karena itulah, sudah dua minggu Luhan masuk dalam kehidupanku. Ia mengajar seperti biasa, tidak ada yang aneh. Dan ternyata hidupku tidak seburuk apa yang aku bayangkan selama ini. Seluruh siswa satu sekolah tidak keberatan dengan hubunganku dan Luhan seonsaeng, ya walaupun ada beberapa fansnya yang menatapku sinis.

Tapi beruntunglah aku karena teman sekelasku sepenuhnya mendukungku, meskipun aku kesal karena terus digoda macam-macam dan diberikan mitos-mitos aneh tentang pernikahan. And thanks to Chanyeol untuk selalu ada di sampingku dan menghiburku saat aku mulai dihadapkan pada rasa takutku, tepatnya seminggu yang lalu.

Jadi, saat aku pulang sekolah sendirian pukul lima sore, tiba-tiba aku merasakan dingin yang amat sangat membuatku takut. Dan benar saja, di ujung jalan aku melihat dua orang pemuda yang sepertinya vampire. Tatapan mereka yang tajam menusukku dari jauh, dan senyum mereka yang manis nampak mengerikan bagiku.

Aku ingin berbalik, namun karena rasanya percuma jadi lebih baik aku hadapi saja. Dan saat aku melewati mereka, rasa dingin itu semakin membuatku sakit. Mereka mendekatiku, namun ajaibnya mereka langsung menghilang setelah melihat tanda di leherku.

Ternyata vampire-print yang Luhan berikan padaku itu berfungsi. Tanda itu seperti tato kecil berbentuk sebelah sayap di leher kiriku. Dan tak lama entah dari mana Chanyeol datang dan langsung memelukku. Semenjak saat itu ia selalu menghiburku dengan segala candaannya.

Sekarang hubunganku dan Luhan juga perlahan menjadi baik. Aku sudah mulai membuka diriku padanya. Menceritakan tentang segala cerita hidupku dan meminta solusi padanya saat aku bingung. Jujur, Luhan ternyata pria yang sangat manis dan baik.

Tapi, apakah dengan menjadi istrinya nanti aku akan berubah? Akankah hidupku berubah menjadi berwarna seiring dengan mulai masuknya ia ke dalam hatiku? Entahlah, aku hanya bisa berdoa semoga saja semuanya berjalan baik.

Sekarang memasuki pelajaran Bahasa Inggris, dan Luhan seharusnya sudah masuk kelas sepuluh menit yang lalu. Tak biasanya ia telat, bahkan terkadang masuk kelas lima menit lebih awal. Semakin hari aku bisa merasakan rasa rindu muncul. Jika tidak melihat Luhan sehari saja rasanya aku tidak semangat. Mungkin aku memang mulai menyukainya.

“Permisi. Ketua kelas 11-2 diharap datang ke ruang rapat, mengenai kegiatan sekolah.”

Aku melihat seorang namja yang sedang bicara dengan Chanyeol di depan pintu kelas. Sayup-sayup kudengar ada kata ketua kelas yang disebut-sebut. Chanyeol lalu memberi isyarat padaku untuk maju ke depan menghampirinya.

“Ketua kelas ada rapat.”

Chanyeol menunjuk namja itu. Aku lihat namanya, Oh Sehun. Ah, dia adalah ketua OSIS yang baru menggantikan Jongdae sunbae. Chanyeol meninggalkanku menuju kerumunan yeoja yang sedang bergosip, dan aku berjalan mengikuti Sehun menuju ruang rapat.

“Suatu kehormatan ketua OSIS langsung turun ke lapangan untuk memanggil peserta rapat.”

Gurauku untuk mencairkan suasana. Sehun ikut tertawa pelan, namun pandanganya masih lurus ke depan. Aneh, mengapa aku merasakan sensasi dingin, ya? Atau jangan-jangan.. Bisa juga Sehun itu vampire, melihat pucatnya kulitnya. Sangat putih.

“Luhan seonsaeng yang menyuruhku langsung.”

Ah, ternyata dia yang akan memimpin rapat kegiatan murid tahun ini. Hebat, guru baru namun sudah diberi tugas yang lumayan menyibukkan. Tentu saja, pasti kakek yang menyuruhnya. Mengingat aku adalah ketua kelas dan akan sangat sering mengikuti rapat bersamanya.

Tunggu. Aku jadi curiga dengan Luhan. Mengapa ia menyuruh Sehun? Dan aku hampir yakin jika Sehun itu vampire. Nanti akan aku tanyakan padanya. Kami sudah memasuki ruang rapat, dan terlihat sepertinya hampir seluruh ketua kelas telah berkumpul.

Aku mengambil tempat duduk tepat di hadapan Luhan. Oh iya, aku tak akan memanggil Luhan dengan tambahan seonsaeng apalagi oppa. Aku hanya akan memanggilnya Luhan, kecuali saat jam sekolah dan di depan keluargaku.

Luhan melihat kearahku dan tersenyum. Sekarang aku sudah mulai membalas senyumannya jika ia tersenyum padaku. Biarkan saja rasa suka ini terus berkembang. Luhan duduk di paling kiri kursi dewan rapat, dan Sehun yang mengantarku tadi duduk di sebelahnya.

Pembuka rapat adalah wakil ketua OSIS, Myungsoo. Aku kenal dengannya, karena pernah sekelas dan ia adalah wakilku. Sewaktu kelas sepuluh aku juga menjadi ketua kelas. Myungsoo mulai menjelaskan detail kegiatan siswa tahun ini. Temanya foto dan bunga.

Jadi, setiap tahun akan diadakan acara amal. Dan tahun ini sepertinya foto dan bunga menjadi pilihannya. Setiap murid dan guru wajib berpartisipasi dengan membeli bunga dan berfoto di stand yang telah disiapkan. Nah, uang yang terkumpul akan disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Aku suka bunga. Sepertinya aku akan berpartisipasi dalam acara ini, sebagai pihak penyedia bunga. Aku memiliki taman bunga yang cukup luas di halaman belakang rumah. Seperti padang bunga atau semacamnya. Jangan tanya kenapa bisa ada ladang bunga di rumahku. Rumah keluargaku sangat luas, termasuk juga halamannya.

Tapi aku tak suka berfoto. Entahlah, aku bahkan pernah marah pada Chanyeol selama seminggu karena ia memfotoku tanpa izin. Ah, aku hanya akan ikut kegiatan bunganya saja. Sekarang giliran Luhan yang berbicara. Untunglah mayoritas ketua kelas yang hadir adalah namja. Tentu saja, siapa juga kelas yang cukup sinting untuk memilih yeoja sebagai ketua kelasnya? Hanya kelasku yang tergolong sinting.

Luhan menjelaskan lebih rinci lagi dan bertanya apakah ada perwakilan kelas yang bisa membantu untuk menjadi panitia acara ini. Aku langsung angkat tangan, dan beberapa yang lain juga demikian. Luhan lalu mengambil sebuah kertas dan bertanya apa yang bisa kami bantu masing-masing.

“Park Cheonsa, kelas 11-2. Apa yang bisa kamu bantu?” tanya Luhan, tak lupa dengan senyum manisnya.

“Aku bisa membantu menyiapkan bunganya. Aku punya taman bunga di rumah.”

Luhan hanya mengangguk lalu mulai menanyakan pada orang lain. Mataku tak sengaja menangkap Sehun. Namja itu sedang menulis sesuatu di kertas, yang sepertinya agenda rapat. Lalu aku melihat kearah Myungsoo, dan aku terkejut karena saat ini ia juga tengah menatapku.

Aku langsung mengangkat tanganku dan menyapanya dalam diam, tak lupa tersenyum. Ia balas tersenyum. Dulu Myungsoo diberi julukan Ice Prince, sama seperti Sehun. Bedanya, aku tak mengenal Sehun saat kelas sepuluh jadi aku tak terlalu tahu tentangnya.

Setelah selesai, seluruh peserta rapat dipersilakan keluar kecuali yang tadi telah bersedia membantu. Kini hanya tinggal pengurus OSIS, enam ketua kelas, dan Luhan seonsaeng. Kami lalu duduk melingkar di kursi yang memang khusus untuk diskusi.

Aku ditarik oleh Luhan untuk duduk di sebelahnya. Hampir semua murid memperhatikan kami. Berita pernikahan kami memang telah tersebar, satu sekolah mengetahuinya bahkan kakak kelas dan adik kelas. Luhan benar-benar membuatku malu.

Pintu terketuk dan masuklah tiga orang dengan pakaian sesantai Luhan saat mengajar. Apakah mereka guru baru juga? Mengapa banyak sekali guru baru saat ini? Kakekku benar-benar gila karena mempekerjakan guru muda yang tampan. Iya, mereka bertiga yang baru masuk semuanya tampan. Bukannya konsen belajar, yang ada semua siswi malah fokus memperhatikan wajah tampan gurunya.

Ah, itu mereka. Guru baru yang saya maksud.”

Aku langsung menatap Luhan, untuk meminta penjelasan tentang semuanya. Jujur, aku merasa takut dengan aura dingin di ruangan ini. Apakah mereka bertiga vampire juga? Mengapa sekarang semenjak dekat dengan Luhan hidupku jadi dikelilingi vampire seperti ini?

Annyeong, saya Kim Minseok guru Fisika baru di sekolah ini.”

“Wu Yifan, guru Olahraga dan Seni. Panggil saja Kris seonsaeng.”

Annyeonghaseyo, saya Kim Junmyeon guru Kimia dan Sastra Korea yang baru.”

Untungnya hanya ada delapan yeoja disini, jadi tidak ada yang berteriak-teriak karena melihat guru tampan. Aku masih menatap Luhan, dan ia menoleh padaku. Bukan senyum yang ia tunjukkan padaku, namun tatapan datar seolah ada suatu hal penting yang akan ia ucapkan.

Ah, kalian bertiga silakan bergabung dengan mereka. Aku ada urusan sebentar dengan Cheonsa.”

Murid yang lain memandangku aneh. Ada yang melirik sinis, ada yang menatap menggoda, ada yang datar. Sehun salah satunya. Tatapannya tajam seperti pisau. Tiga guru baru itu menatap Luhan sambil tersenyum, sepertinya mereka melakukan telepati.

Luhan membawaku berjalan cepat menuju taman belakang sekolah. Masih sepi, tentu saja karena jam pelajaran masih berlangsung. Sebenarnya hal apa yang ingin Luhan katakan padaku? Ia melihat sekitar, lalu mengeluarkan sebuah catatan dari saku blazernya. Apa aku bilang, tampilan Luhan lebih mirip anak kuliahan daripada guru.

“Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.”

Wajahnya tenang, namun nada bicaranya tidak menandakan ia baik-baik saja. Aku mengangguk lalu mulai bersiap mendengarkannya. Disaat seperti ini pun ia masih sempat saja untuk menggenggam tanganku. Seserius apapun, Luhan tetaplah Luhan yang gila.

“Apakah ada hubungannya dengan ketakutanku akan hawa dingin yang menusukku tadi?”

Ia membulatkan matanya tak percaya melihatku. Apa? Kenapa ia melihatku seperti itu? Sepertinya ia heran karena aku dapat merasakan hawa vampire, karena yang kutahu bahwa manusia normal tak dapat merasakannya.

“Kau..merasakannya? Bukankah itu sangat sakit?”

Sekarang giliranku yang menatapnya tak percaya. Hawa dingin vampire memang membuatku sakit, bahkan sangat sakit. Namun rasa sakit itu selalu kutahan, apalagi jika dekat dengan Luhan. Bagaimana pun juga Luhan itu vampire dan tak dapat dipungkiri bahwa aku juga merasakan sakit saat dekat dengannya.

Luhan hanya terdiam, sepertinya ia merasa bersalah karena secara tidak langsung ia telah menyakitiku dengan hawa kehadirannya. Aku tersenyum padanya dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari dan aku tak mau membuatnya banyak pikiran.

“Sudahlah, jangan bahas hal itu. Kau ingin bicara apa denganku?”

Seakan ingat sesuatu, Luhan langsung membuka buku catatan kecilnya dan melihat sesuatu disana. Wajahnya seperti menimbang-nimbang antara ingin memberitahuku sesuatu atau tidak. Aku yang kesal karena tak dihiraukan langsung ingin merebut catatan itu, namun tangannya lebih cepat dariku.

“Bisakah bersabar sebentar? Aku bingung mulai dari mana.”

Matanya menatapku tajam, dengan nada bicaranya yang sok galak dan menyebalkan itu. Aku hanya mendengus dan memilih untuk tak mempedulikannya. Sebagai gantinya aku mengalihkan pandanganku sembarang ke segala arah, dan tak sengaja menangkap tubuh seorang pria yang tadi aku lihat di ruang rapat sedang berdiri di samping air mancur.

Deg!

Dadaku sakit, sungguh. Pria itu menatapku biasa saja, namun entah mengapa sekarang aku merasa sesak. Saat aku menunjukkan wajah kesakitanku, pria itu tersenyum lalu pergi entah kemana. Ya Tuhan, ini semakin sakit. Jantungku seakan ditusuk berkali-kali.

“Luhan..Ap-apa..Tiga guru baru yang tadi i-itu..vampire?”

Aku tak kuat lagi, ini benar-benar sakit. Pandanganku mengabur perlahan. Dan hal terakhir yang aku ingat adalah teriakan Luhan sebelum semuanya menjadi gelap.

0o0

Aku membuka mataku perlahan. Sangat berat, sungguh. Aku hampir menyerah untuk kembali menutup mata kalau saja aku tak merasakan sebuah benda lembut menyentuh kedua kelopak mataku. Entah mendapat kekuatan dari mana mataku dapat terbuka dengan agak mudah.

Pemandangan wajah Luhan menyambut mataku. Mungkinkah ia tadi mengecup kedua mataku? Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Rambutnya acak-acakan, mungkin ia terlalu frustasi dengan aku yang tiba-tiba pingsan.

Eh, pingsan? Oh iya, aku pingsan! Aku baru ingat jika aku pingsan karena menahan sakit di dadaku setelah menatap seorang pria dari salah satu guru baru temannya Luhan. Ah, mengingat tatapannya saja sudah membuatku pusing lagi.

“Kamu pingsan selama tiga hari. Apa yang kau lihat waktu itu?”

Apa?! Tiga hari? Sekuat itukah tatapan matanya sampai bisa membuatku pingsan tiga hari seperti orang mati? Siapa dia sebenarnya? Dan siapa sebenarnya ketiga guru baru itu? Aku harus menanyakan hal ini pada Luhan sekarang juga.

“Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu. Siapa sebenarnya ketiga guru baru yang waktu itu berada di ruang rapat?”

Luhan menghela napasnya dalam. Sepertinya ia sudah menduga bahwa ada yang tidak beres denganku. Ia menggenggam jemariku dengan kedua tangannya, menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti apa artinya. Aku hanya diam menunggunya bicara.

“Kamu dalam bahaya, itu saja.”

Aku mengerutkan keningku karena bingung. Aku, dalam bahaya? Ini membingungkan. Semua kejadian belakangan ini yang menimpaku juga membingungkan. Dimulai dari datangnya Luhan, teror vampire di pinggir jalan, dan sekarang guru baru yang membuatku pingsan. Selanjutnya apa lagi?

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu makan dulu agar besok bisa sekolah.”

Ia tersenyum lalu mulai menyuapiku sedikit demi sedikit. Saat ini ia sangat perhatian, entah mengapa membuat hatiku hangat saat bersamanya. Ya walaupun tak dapat dipungkiri rasa sakit akan hawa kehadirannya menusukku. Namun entah mengapa cinta yang ia pancarkan membuat kesakitan itu seakan tak berarti.

Setelah selesai, kami hanya saling terdiam. Luhan sudah fokus dengan buku catatan kecilnya, yang seingatku ia akan membicarakan sesuatu denganku sebelum aku pingsan. Sebenarnya buku catatan itu berisi apa? Aku sangat penasaran akan hal itu mengingat wajah Luhan yang berubah menjadi datar saat membaca buku itu.

“Aku pergi dulu. Akan kupanggilkan Chanyeol untuk menjagamu.”

Luhan tersenyum padaku. Dan ia langsung keluar kamar setelah sebelumnya mencium keningku lembut. Tak selang lama, Chanyeol memasuki kamarku dengan wajah sedikit khawatir. Iya benar, aku sekarang sudah pisah kamar dengan Chanyeol. Padahal sebelumnya aku merasa nyaman bisa sekamar dengan Chanyeol.

“Chan-chan..”

“Jangan banyak bicara. Labih baik kamu istirahat. Aku ada disini menungguimu.”

Aku mengerutkan keningku. Ada apa dengan Chanyeol? Sekali dalam seumur hidupku aku melihat Chanyeol bicara datar dengan wajah serius seperti ini. Ia agak membuatku takut. Dan akhirnya aku menurutinya saja untuk kembali terpejam. Atau lebih tepatnya pura-pura terpejam.

0o0

Hari ini aku sudah boleh masuk sekolah. Acara amal akan berlangsung satu minggu lagi. Ah, aku tak sabar untuk melihat berbagai macam bunga menyegarkan mataku. Aku sangat menyukai bunga, entah kenapa aku pun tak tahu.

Teman-teman di kelas menyambutku dengan antusias. Pasalnya kan aku memang sudah terhitung empat hari tak masuk sekolah, dan kegiatan mengajar Luhan juga otomatis terganggu karena ia selalu pulang lebih awal untuk melihat keadaanku.

Jam pertama hari ini Luhan mengajar Matematika. Dan seperti biasa pula, ia hadir lima menit lebih awal. Kami belajar seperti biasa, namun Luhan terlihat berbeda hari ini. Wajahnya sedikit pucat, namun bukan pucat khas vampire yang aku maksud. Ia seperti orang sakit, atau orang kekurangan darah.

Tunggu! Kekurangan..darah? Apa mungkin ia belum minum darah beberapa hari ini? Luhan sama seperti kakekku, mereka tidak menyerang manusia untuk mendapatkan darah melainkan membelinya dari tempat donor darah. Mereka vampire yang baik kan?

Dan ketika jam pelajaran Luhan berakhir, aku memutuskan untuk ikut keluar dan menemui Luhan. Ia bisa tiba-tiba pingsan jika kelaparan seperti itu.

“Luhan seonsaeng!”

Aku sedikit berlari untuk menyamai langkahnya. Luhan langsung menghentikan langkahnya dan menatapku dengan lembut seperti biasa, hanya saja dengan wajah pucat itu juga. Aku menariknya untuk duduk di bangku terdekat. Kami masih berada di lorong kelas yang sepi karena sekarang masih  masuk jam pelajaran.

“Kapan terakhir kali kau makan?”

“Tadi pagi.”

Aish, maksudku minum darah..”

Luhan membulatkan matanya mendengar pertanyaanku. Wajahnya saat ini sangat lucu, aku hanya cekikikan sendiri melihatnya. Namun selang beberapa detik pandangannya melembut padaku. Ia mengusap rambutku pelan dan tersenyum.

“Kamu perhatian sekali. Seingatku terakhir kali itu tiga minggu yang lalu. Kenapa?”

“Kamu terlihat pucat. Minum saja darahku.”

Ia seperti tersentak hebat saat aku mengatakan hal itu. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung mengeluarkan pisau lipat yang sedaritadi ada di sakuku. Lalu dengan cepat aku menggoreskannya di pergelangan tanganku. Ah, sakit sekali rasanya. Tapi aku tetap tersenyum di hadapan Luhan.

Namun aku menyadari sesuatu. Hawa di sekitarku menjadi sangat dingin. Sangat, dan ini aneh sekali. Luhan yang sepertinya juga menyadari perubahan hawa ini langsung menggendongku dan dengan menggunakan kekuatannya ia berlari menjauh dari lorong sekolah dan membawaku ke taman belakang.

Ia menurunkanku dari gendongannya dan mengambil tanganku yang masih mengeluarkan darah cukup banyak. Lalu Luhan menghisap darahku perlahan, sepertinya ia sangat menahan nafsunya untuk tidak menyakitiku. Setelah darahku sudah tak keluar lagi, ia lalu menutup lukaku dengan kekuatannya. Luhan menarikku untuk duduk di bangku terdekat.

“Lain kali jangan lakukan hal itu lagi. Disini banyak vampire.”

“Ma-maksudmu..”

“Sudah kubilang kan, darahmu itu baunya sangat nikmat. Banyak vampire yang mengincarmu, untuk itulah kakekmu menitipkanmu padaku. Tadi kamu merasakan perubahan hawa itu kan? Hampir saja kau membangkitkan rasa lapar mereka.”

Aku masih tak mengerti dengan yang Luhan katakan. Secara tidak langsung ia bilang bahwa sekolah ini berisi banyak vampire. Aku masih mencerna perkataan Luhan sedikit demi sedikit. Keheningan menyelimuti kami. Udara hari ini sangat sejuk.

“Untuk itulah aku memberimu vampire-printku, agar vampire lain tahu jika kamu sudah ada yang punya. Karena bisa gawat jika mereka semua tiba-tiba datang dalam jumlah banyak dan menyerangmu. Aku tak sanggup membayangkan hal itu.”

Apa lagi ini? Siapa yang Luhan maksud dengan mereka? Apakah sebegitu besarnya para vampire menginginkan darahku? Namun kenapa? Kenapa harus aku?

“Jadi, lain kali jangan ceroboh, ne?”

Ia mengacak rambutku gemas lalu berdiri dan berniat untuk meninggalkanku. Sepertinya ia masih ada jadwal mengajar lagi. Aku hanya tersenyum lalu memandanginya yang sudah mulai berbalik untuk pergi. Namun ia membalikkan badannya lagi menghadapku.

Ah ya, harusnya kamu memberikan darahmu padaku saat malam pertama kita, haha. Terimakasih atas makanannya!”

Ia tersenyum mesum lalu tertawa dan akhirnya benar-benar berjalan meninggalkanku yang masih terdiam. Semanis apapun Luhan ternyata ia memang ditakdirkan untuk menjadi gila.

“Kakek, apakah tak ada vampire yang sedikit lebih waras untukku?”

0o0

Setelah pertemuan terakhir kami tadi pagi, aku belum melihat Luhan lagi hari ini. Sepertinya ia memang sedang sibuk mengajar. Maka dari itu aku hanya membaca buku di perpustakaan sepanjang jam istirahat ini. Perpustakaan memang sepi, tentu saja. Siapa pula yang merelakan waktu istirahat berharganya hanya untuk membaca buku? Pasti hanya aku, haha.

Dan sial. Sekali lagi dalam hari ini aku kembali merasakan hawa dingin menusuk ini lagi. Siapa yang datang kemari? Apakah salah satu dari tiga guru baru itu? Jujur aku tak sanggup jika harus berdekatan dengan mereka bertiga. Dingin itu sangat menusukku.

Semakin dingin. Mungkin siapapun-dia semakin mendekat kearahku. Tapi siapa? Perpustakaan sangat sepi, dan kini aku berada di sudutnya dekat dengan rak buku Fisika. Dan dadaku kembali sakit. Napasku memburu karena sesak. Jangan sampai aku pingsan lagi.

Saat aku berniat bangkit untuk meninggalkan perpustakaan, tubuhku seakan ditarik dengan sangat cepat oleh seseorang sehingga menabrak dinding di belakangku. Kejadian itu sangat cepat, aku bahkan sudah hampir hilang kesadaran. Yang aku tahu saat ini hanyalah terjadi satu hal yang aneh.

Namja di hadapanku ini menciumku. Perlu diulang, menciumku! Ia menahan tubuhku dengan tangannya. Ya Tuhan, siapa lagi ini? Dengan seenaknya saja mencium orang sembarangan. Aku tak dapat melihatnya karena sekarang mataku terpejam, seolah ada kekuatan yang melarangku untuk membuka mata.

Ia melepaskan ciumannya saat kudengar ada suara dehaman seseorang di samping kami. Aku dengan refleks membuka mataku dan kaget dengan pemandangan yang aku dapati saat ini. Minseok seonsaeng menatapku dan namja di hadapanku dengan pandangan menyelidik.

“Berciuman di perpustakaan. Aku tak tahu hukuman apa yang sekolah ini berikan untuk murid seperti kalian. Ke ruang Konseling, sekarang!”

Minseok seonsaeng pergi dari hadapan kami. Dan seolah baru sadar kembali ke dunia nyata, aku dikagetkan dengan namja yang menciumku ini.

“Kau?!”

0o0

“Park Cheonsa, kamu ini ketua kelas bahkan cucu dari kepala sekolah. Oh Sehun, kamu ini ketua OSIS. Hukumannya adalah menjadi panitia inti dan membantuku dalam persiapan acara amal sekolah kita. Saya tak menerima bantahan. Silakan keluar.”

Aku hanya mampu terdiam dan membulatkan mataku. Sejak kapan Luhan jadi guru Konseling? Dan ini sangat memalukan! Seolah aku adalah gadis yang ketahuan tengah berselingkuh dari pacarnya. Tapi kan bukan aku yang ingin berciuman dengan Sehun! Dia yang tiba-tiba dengan aneh menciumku tanpa sebab.

Sehun langsung berdiri, dan setelah membungkuk hormat ia langsung pergi dari ruang Konseling. Namun tidak denganku. Aku masih duduk di hadapan Luhan dan menunggu untuk bicara dengannya agar ia tidak salah paham.

“Luhan seonsaeng..”

“Aku tak menerima bantahan, nona Park. Silakan keluar.”

Rasanya aku ingin menangis. Luhan berbicara dengan nada datar padaku. Dengan terpaksa aku pergi dari ruangan itu tanpa kata-kata lagi. Aku takut Luhan marah padaku dan salah paham. Aku takut kehilangan dia.

Dan aku kembali dikagetkan lagi dengan keberadaan Sehun yang ternyata menungguku di luar ruangan. Ia menarikku untuk duduk di bangku terdekat. Ini benar, aku memang butuh penjelasan darinya tentang maksud dari hal yang ia lakukan padaku.

“Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku melakukan hal itu. Itu untuk melindungimu.”

Aku tersentak kaget. Apa hubungannya menciumku dengan melindungiku? Namun aku tahu jika Sehun tidak berbohong. Tatapan matanya menyiratkan kejujuran. Namun aku bingung dengan hal aneh yang terjadi.

“Kamu merasakan hawa dingin kan tadi? Itu bukan hawa kehadiranku, tapi vampire lain. Aku menyelamatkanmu darinya, dan beruntung Minseok seonsaeng menemukan kita terlebih dahulu. Jangan tanya lebih lanjut lagi, nanti kamu semakin bingung. Dan untuk Luhan seonsaeng.. Kamu tenang saja, ia tak akan marah.”

Untuk pertama kalinya sepanjang aku bersekolah disini, aku melihat Sehun tersenyum seperti itu. Senyum seorang pelindung, sama seperti Chanyeol. Aku hanya mengangguk dan balas tersenyum, lalu Sehun meninggalkanku yang masih duduk dan diam.

Ah, aku seakan teringat sesuatu. Seharian ini aku tak melihat Chanyeol. Kemana dia?

TBC

Maaf pada nunggu lama, hehe. Maaf juga kalo cerianya bikin bingung. Angel sedang pusing, hehe. Makasih buat yang udah suka. Annyeong^^

Iklan

173 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 2)

  1. Kyaaaaaaaa…
    Jgn blg rata2 d seklahan cheinsa itu adalah vampire semuanya, syp yg mw nyerang cheonsa saat di perpustakaan, kriskah atau suhokah???
    Kenapa sehun hrs mencium cheonsa tak tahukah kau betapa cemburunya luhan saat mengetahui hal itu dan mungkin dy menutupi hal itu ajj di sekolah…cheonsa so sweet bgtzz sih tega menyakiti diri sendiri agar luhan bisa minum darahnya dan ngga terlihat lemah lagi..next chapter selanjutnya..

  2. Waa udah bangkit ni cerita mistik nya…..tapi kok aq mkin bngung yaa…
    Hehe….tapi ceritanya min buat aq penasaran nii…..lnjut thor semangt yaa!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s