The Secret of Time (Chapter 1)

The secret of time..

The secret of time

By @titayuu

Cast : Oh Sehun, Oh Jieun (OC), Jang Jihyun (OC) | Genre : Romance Fantasy |

Length : Chapter | Rating : General

~*~

Mesin waktu hanya bisa di ciptakan jika kecepatan mesin itu bisa melebihi dari kecepatan cahaya, begitulah yang pernah di katakan oleh guru seorang lelaki berusia tujuh belas tahun bernama Oh Sehun. Lelaki itu masih tidak mengerti cara kerja mesin waktu karena sesungguhnya ia benci hal itu. Jika ia membicarakan masalah mesin waktu dengan ayahnya, ia mungkin akan menghabiskan waktu seminggu atau puluhan tahun untuk mendengar analisa ayahnya. Ayahnya menghabiskan setengah kehidupannya hanya untuk meneliti sesuatu yang masih susah untuk di nyatakan kebenarannya. Namun kini Sehun tak menyangka kalau sesuatu yang berhubungan dengan mesin waktu benar-benar terjadi padanya.

Sehun terbangun di temani sinar matahari yang sudah meninggi di jendela kamarnya. Ketika matanya terbuka, otaknya seakan sudah di tabrak oleh truk kontainer seberat ratusan ton. Langit-langit kamar adalah hal pertama yang ia lihat di pagi itu. Kemudian pandangannya beralih pada setiap sudut kamarnya. Keningnya berkerut menandakan adanya sesuatu yang aneh pada kamar itu. Ia tak mengenal kamar itu. Ia tak bisa menemukan gambaran kamar itu di kepalanya.

Kamar itu tak terlalu besar dengan nuansa warna biru tertera di temboknya. Tepat di depan tempat tidur besarnya, terdapat lemari pakaian yang tak terlalu besar, beralih ke kanan terdapat meja rias yang sudah kosong, dan beberapa pakaian tergeletak di bawahnya. Sehun menggerakan seluruh anggota tubuhnya dan melakukan sedikit peregangan. Ia merasa seperti sudah melakukan perjalanan yang panjang. Ketika langkahnya mendekati cermin yang berada di meja rias, wajah kebingungan semerta-merta menyerbunya. Ia seperti melihat dirinya yang lain. Rahangnya semakin tegas, kulitnya sudah tidak putih pucat seperti sebelumnya, tumbuh beberapa bulu tipis di sekitar wajahnya, beberapa otot di tubuhnya juga seakan membuat tubuhnya lebih berat. Tubuhnya bukanlah tubuh sesungguhnya. Maksudnya, tubuh yang ia lihat adalah dia. Namun tidak terlihat seperti saat sebelum ia memejamkan mata.

Sehun berderap kearah kalender yang berada diatas nakas dekat tempat tidurnya. Kedua mata Sehun membelalak seakan ingin lepas dari kelopaknya ketika menyusuri sebuah angka di sana. Sebuah angka 2014 tertera cukup besar di atas deretan angka yang berada di kalender. Ia menelan ludah sambil melihat ke luar jendela.

“Appa!”

Belum sempat ia menganalisa dan menenangkan pikiran yang sedang kacau, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakan sosok gadis berusia tiga belas tahun yang sedang menatapnya seperti seorang tersangka pembunuhan. Jika pengendalian lelaki itu tidak baik, mungkin ia akan mencerca berbagai pertanyaan dan emosinya pada gadis itu tanpa berpikir panjang. Meski dalam kebingungan yang akut, ia mencoba untuk tenang sambil menebak-nebak siapa gadis kecil di hadapannya. Meski sebenarnya ia benci menebak.

“Aku butuh uang jajan!” anak gadis itu menjulurkan tangannya di ambang pintu.

“Apa aku ayahmu?” Sehun akhirnya berani mengutarakan kalimat yang memenuhi otaknya. Kalimat yang terdengar aneh, memang. Tapi sebuah rasa penasaran sudah  tak dapat di bendung lagi. “Siapa namamu? Jika aku ayahmu, lalu dimana ibumu? Dan dimana aku?”

Gadis itu terkekeh selikas sambil menatap Sehun dengan tatapan meremehkan sekaligus jengkel. “Appa sedang mengidap amnesia? Appa dan eomma sudah bercerai dari dua minggu lalu. Sudah jangan bercanda, berikan saja uang jajannya.”

Sehun mulai kelabakan. Lelaki itu merogoh kedua saku celananya namun tak menemukan apapun selain uang kertas bertuliskan lima ribu won. Uang kertas yang sudah jauh berbeda dengan uang yang sebelumnya ia pegang. Tanpa menunggu lama, lelaki itu memberikan uang itu kepada gadis di hadapannya.

“Appa adalah seorang dokter, apa hanya ini yang appa punya?” gadis itu semakin jengkel. “Kalau begini, lebih baik aku tinggal bersama eomma.”

Emosi Sehun hampir mencapai ubun-ubun. Belum selesai masalah yang satu, timbul masalah yang lain. Otaknya seakan ingin pecah saat itu juga. Jika bisa, ingin rasanya ia pergi dari tempat itu saat ini juga. Gadis di hadapannya benar-benar tidak tahu terima kasih. Jika saja gadis itu tak memanggilnya ‘appa’, ia bisa langsung menghajar anak itu. Namun ia tak bisa. Satu-satunya sumber informasi terdekat berada pada gadis itu. Jika ia melakukannya, keadaan pasti akan bertambah buruk. Bisa saja ia akan di laporkan atas tuduhan penganiayaan terhadap anak di bawah umur. Dan itu akan membuatnya semakin lama tinggal di tempat asing ini.

“Sudahlah, aku berangkat! Aku akan meminta uang pada eomma saja.” Gadis itu kemudian berderap menjauh sambil tetap memegang uang yang di berikan Sehun.

Sehun masih terdiam sambil menatap punggung gadis itu sekilas sebelum akhirnya berlari dan mengejarnya. Ia butuh informasi tambahan untuk menyempurnakan puzzle yang membuatnya bingung. Tepat sebelum gadis itu menutup pintu luar, Sehun sudah menangkap lengannya.

“Beritahu namamu dan siapa eomma mu. Dimana ia tinggal?” Kata Sehun dengan napas yang masih tersengal. Sehun menatap gadis itu dengan tulus. “Tolonglah.”

“Aku Oh Jieun. Dan eomma ku bernama Kim Haeyeon. Dia tinggal di apartemen dekat Dongdaemun. Sudah puas?” Setelah mengatakan kalimat itu, ia pergi tanpa lagi mempedulikan ekspresi Sehun yang sudah tidak bisa di tebak lagi.

Kim Haeyeon. Sehun mengulang nama itu. Sebuah nama yang begitu asing di telinganya. Ia tak mengharapkan nama itu. Ada nama lain yang sesungguhnya ia harapkan. Nama yang sejak lama mengisi otaknya.

..

Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia tak pernah merasa kebingungan seperti sekarang. Ia masih tidak bisa percaya kalau mesin waktu benar-benar ada, namun harus ia akui fakta bahwa  sekarang ia memang berada di dimensi waktu yang berbeda. Ia berada di tahun 2014, tepat dua puluh lima tahun setelah ia memejamkan mata. Tepat saat sebelum ia meminum sebotol air berwarna seperti soda dari lemari es di rumah ayahnya. Ah, sekarang yang hanya perlu ia lakukan adalah menemui ayahnya, lalu meminta ramuan yang lain. Dan voila, Sehun kembali normal di dimensi asalnya.

Setelah membersihkan diri sebentar, Sehun berangkat dari rumah menuju rumah lama ayahnya. Ia tak tahu apakah rumah itu masih ada, yang jelas ia akan tetap mencari ayahnya lalu meminta pentralisir kekacauan ini. Meski sesungguhnya ia tak tahu jalan mana yang harus ia lalui terlebih dahulu. Semuanya sudah berbeda sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Gedung-gedung pencakar langit seakan sudah mendominasi kota. Beberapa bangunan yang terkenal di masanya, sudah di ganti dengan bangunan yang lebih modern. Bahkan teknologi sudah berkembang cepat. Pager sudah tergantikan dengan ponsel pintar, spanduk sponsor di ganti dengan banyak layar LCD besar, bahkan model pakaian sudah sangat berbeda.

Masa depan memang terlihat menyenangkan dan semuanya serba mudah karena teknologi, tapi Sehun tiba-tiba merindukan masa lalunya ketika ia belum tiba di dimensi ini. Ia merindukan masa di mana teknologi ini belum berkuasa.

Lelaki itu tiba-tiba berhenti di pinggir sungai Han. Ia berdiri diantara orang-orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya. Musim panas sedang melanda siang ini, dan semua orang berjalan dan mengeluarkan pakaian musim panas mereka. Ia masih tidak bisa memandang kagum pada penataan kota di masa ini. Seoul seakan sudah berubah menjadi sosok yang berbeda, sama sepertinya.

“Oh Sehun!”

Seseorang memanggil namanya. Lelaki itu berputar untuk mencari sumber suara itu hingga kini pandangannya terfokus pada seorang wanita menggunakan kaus hitam dan celana jins hitam sambil melambaikan tangan kearahnya. Mata Sehun masih tak dapat berkedip ketika wanita itu mulai berlari kecil untuk sampai di tempatnya. Sehun ingat wajah itu. Wajah yang terlalu familier dan sudah mengisi masa-masa terindahnya saat usia mereka tujuh belas tahun.

“Hai!” Wanita itu berseru dengan senyum yang mengembang.

“Apa kau Jang Jihyun?” Sehun melontarkan pertanyaan yang membuat wanita itu tertawa kecil. Ia tahu mungkin itu pertanyaan bodoh, namun ia tak pernah peduli. Ia tak pernah suka menebak-nebak. Meski ia yakin tebakannya kali ini benar.

“Ada apa denganmu? Kau tak lupa namaku? Kita baru saja bertemu seminggu lalu.” Ia masih tersenyum kecil sambil menyenggol lengan Sehun dengan sikunya. Sehun berharap kalau wanita itu tak merasakan keanehan pada dirinya. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak ke rumah sakit?”

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku baru saja ingin ke studio untuk projek baru.” Ia tersenyum tanpa beban. Senyum yang masih Sehun suka sampai sekarang.

Jihyun tak pernah berubah. Tubuhnya masih kurus dan kecil, suaranya masih indah seperti dulu, cara berjalannya, cara bicaranya, serta gaya berpakaiannya, tak ada yang berubah. Sehun masih tak mengerti mengapa di masa ini ia tak bisa mendapatkan wanita itu. Entah karena dia yang terlalu bodoh, atau memang Jihyun tak menyukainya sejak dulu.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kau sedang dalam masalah.” Jihyun memiringkan kepalanya untuk menatap Sehun yang masih mematung di tempat dengan tatapan kosong kearahnya. Jihyun mengira Sehun sedang dilanda stres akibat perceraiannya, meski sesungguhnya lelaki itu sedang memikirkan Jihyun.

“Ah,” Sehun mulai membuka suara. Kesadarannya akhirnya kembali penuh ketika ia teringat sesuatu. “apa kau masih mengingat ayahku? Profesor Oh Jae Yoon. Dimana ia tinggal sekarang? Apa kau tahu?”

Jihyun mengatupkan bibirnya seketika mendengar pertanyaan Sehun. Kedua alis wanita itu saling bertautan seakan sedang memikirkan sesuatu. Sehun tak tahu apa yang sedang di pikirkan Jihyun, tapi kedua daun telinganya seakan berdengung setelah Jihyun mengucapkan sesuatu. “Apa yang sedang terjadi padamu? Ayahmu sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.”

~*~

A/N : huwaaaahh akhirnya saya bisa bikin ff berchapter!! Hehe bagi yang sudah pernah berkunjung di blog saya, mungkin sudah familiar dengan ff ini. Karena saya terlalu antusias saat menulis ff ini, akhrinya saya memutuskan untuk posting di blog ini juga. Beberapa chapter setelahnya pernah di publish di http://www.disturbanceme.wordpress.com . Terima kasih^^

Iklan

21 pemikiran pada “The Secret of Time (Chapter 1)

  1. Nemu ff ini tp lgsng di chap 5, penasaran krna maennya difantasy kayaknya seru dan okesip aku sukaa ceritanyaaa
    Aku lanjut baaca yaa author-nim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s