Flipped (Chapter 1)

Flipped Part 1/2

 Flipped

 

Author                         :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Cast

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo

Support Cast

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Oh Sehun
  • Park Gayoung (OC)
  • Song Jinhyuk (OC)
  • Sally Park (OC)

Genre                         :           Romance, Comedy, School-life

Rating                                     :           PG15

Recommended Song   :           HowL ft J (Perhaps Love), G.Na (Kiss Me)

 

Thanks to “Flipped” one of my favorite movie ever which gave me inspiration to write this fanfic. Happy reading and don’t forget to leave your comment.

 

#Tadinya mau dibikin oneshoot tapi kepanjangan kayanya ‘-‘

 

 

~oOo~

Baekhyun’s POV

Apa kalian pernah mempunyai seorang Secret Admirer? Atau lebih tepatnya penguntit? Apa kalian tahu bagaimana rasanya memiliki seorang penguntit setia selama bertahun-tahun dan lebih parahnya lagi dia merupakan tetanggamu? Aku tahu karena aku memiliki seseorang semacam itu. Entahlah dia seakan tergila-gila padaku dan aku amat sangat tak menyukainya karena itu sangat sangat mengganggu. Dulu saat statusku masih merupakan anak kecil yang selalu berlindung dibalik tubuh Ibuku, aku tak pernah lupa berdoa sebelum tidur, berharap akan ada UFO yang mendarat disebelah rumahku lalu pergi membawaku dan keluargaku pergi jauh, kemana saja asal gadis itu tak bisa menampakkan batang hidungnya lagi. Tapi semakin bertambahnya umurku, aku tahu permintaan itu sangat konyol dan kekanak-kanakan jadi aku berhenti melakukan ritual tersebut sejak masuk kesekolah menengah pertama hingga sekarang aku duduk dibangku kelas 2 SMA.

Semua diawali dimusim panas 8 tahun lalu tepatnya pada tahun 2004 saat aku duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar. Kami sekeluarga pindah dari Bucheon ke Gwangju dan saat hampir sampai dirumah baru, saat itulah aku melihat gadis aneh itu. Bayangkan saja dia sedang duduk dihalamannya dengan tangan dan celana yang kotor penuh dengan tanah lalu sedetik kemudian dia menunjukkan senyum anehnya padaku. Tepat pada saat itu aku tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Bayangkan saja, dia tiba-tiba menghampiriku dan Ayahku yang sedang menurunkan barang lalu menawarkan bantuan seolah badannya yang kurus dan kecil itu bisa mengangkat kardus-kardus kami yang penuh dengan barang.

Ayahku terlihat suka pada anak aneh tersebut tapi aku sama sekali tak suka dia berkeliaran disekitarku jadi dengan sekuat tenaga aku mencoba mengusirnya dengan berbagai alasan namun tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa gadis ini tak tahu basa basi, benar-benar tak tahu. Langkah terakhir adalah aku pergi saja dan lagi dia mengikutiku, tak ada yang bisa menghentikannya. Aku baru akan berlari untuk menghindarinya saat hal teraneh terjadi. Aku tak percaya, aku bergandengan tangan dengan gadis aneh itu. Bagaimana aku bisa terlibat masalah ini? Akhirnya, kulakukan satu-satunya hal jantan diusia 10 tahun.

Tapi ternyata masalahku jauh dari kata selesai. Begitu aku masuk kekelas, aku baru menyadari ternyata gadis itu! gadis itu ada dikelas yang sama denganku dan dengan bodohnya dia meneriakkan namaku lalu memelukku hingga aku merasa seperti ada digenggaman seekor beruang liar! dan jelaslah sudah sekolah bukan perlindunganku. Aku diolok oleh teman-temanku, aku diolok seumur hidupku.

Tahun pertamaku dikota ini menjadi bencana dan 4 tahun berikutnya tak membaik pula tapi akhirnya, saat aku duduk dibangku kelas 3 SMP, aku bertindak. Aku membuat rencana.

“Sally! Sally tunggu!”

“Hi Baekhyun”

Aku mengajak kencan Sally Park.

“Aku hanya ingin menanyakan apakah kau ingin pergi ke pesta dansa kelulusan bersamaku?”

“Tentu saja, dengan senang hati”

Untuk memahami kehebatan rencanaku, kau harus pahami bahwa Han Yoonjoo, ya itulah nama gadis aneh itu, dia membenci Sally dan aku tak tahu apa alasannya karena Sally baik dan ramah, dan rambutnya lebat tidak seperti si gadis aneh dengan rambut tipis panjang yang tergerai hampir mirip sadako itu.

Idenya adalah Sally akan makan siang bersamaku lalu kami berdua akan menjadi pasangan dansa dipesta kelulusan, mungkin berjalan-jalan bersama, dan semoga Han Yoonjoo benci padaku. Segalanya mulai berhasil perlahan sampai orang yang kukira sahabatku, Oh Sehun juga tertarik pada Sally. Kesetiaan dikalahkan oleh hasrat dan Sehun si pengkhianat memberitahu Sally tentang rencanaku. Sally tak menerimanya dengan baik dan menghadiahiku sebuah tamparan penuh kasih sayang yang rasanya sungguh berdenyut tak enak. Yoonjoo mendengar gosipnya lalu tak lama kemudian dia mulai menguntitku lagi tapi kali ini lebih parah. Dia mulai mengendusku, sungguh mengendusku. Apa yang dilakukan gadis aneh itu sebenarnya?!? Penghiburanku satu-satunya adalah tahun berikutnya akan berbeda. SMA, sekolah yang lebih besar dan mungkin kami dikelas yang terpisah, dan akhirnya semuanya berakhir. Seiring berjalan waktu, masa SMA benar-benar berbeda dan kurasa gadis aneh itu mulai menemukan kembali akal sehatnya.

 

“Baekhyun!” suara Ibuku memecah hening dipagi hari dan menyadarkan lamunanku

Ini sungguh berbahaya, bagaimana bisa aku memikirkan sesuatu yang berhubungan denga gadis aneh itu selama hampir setengah jam? Akal sehatku sepertinya mulai rusak seperti gadis itu. Kusandang tas ransel berwarna hitam bercampur merah yang tergeletak diranjang lalu turun untuk sarapan.

Saat sampai diruang makan, kulihat Kakek dan Ayahku sudah nyaman dengan kopi dan korannya. Kakekku tinggal bersama kami sejak setahun lalu, dia tidak terlalu suka bicara sepertinya karena aku ingat aku tak pernah bicara lebih dari 5 menit dengannya. Kakekku lebih suka memandang langit entah siang atau malam dari balkon kamarnya dilantai 2 yang bersebelahan dengan kamarku.

“Selamat pagi Baekhyun”

“Pagi kakek”

“Ceritakan padaku tentang temanmu Han Yoonjoo”

Aku hampir saja tersedak susu yang baru saja kuteguk saat mendengar kakekku berkata seperti itu. Oh jangan bilang kalau dirumah ini bertambah lagi orang yang menyukai gadis aneh itu, sudah cukup Ibu dan Ayahku saja, tidak lagi!

“Yoonjoo…itu, dia bukan temanku”

“Kenapa begitu?”

“Kakek ingin tahu apa?”

Sedetik kemudian Ayah dan Kakekku bersamaan menunjukkan sebuah halaman dikoran yang memuat tentang HAN YOONJOO! Gadis aneh itu ada dikoran! Han Yoonjoo tidak muncul dikoran karena menjadi Einstein kelas 11. Tidak, dia muncul dikoran karena menolak untuk turun dari atas pohon ara. Han Yoonjoo dan pohon ara konyol itu. Dia selalu mengira itu adalah berkah Tuhan didunia ini. Dulu hingga sekarang dia kadang masih terus mengajakku memanjat pohon itu bersamanya, membuatku kembali teringat masa kelas 5 dimana teman-temanku selalu berteriak “Baekhyun and Yoonjoo sit in the tree”, kenapa tak menyuruhku makan kacang seumur hidupku saja?

“Kenapa dia bukan temanmu, Baekhyun?”

“Kakek harus mengenal Yoonjoo”

“Kakek ingin mengenalnya”

“Kenapa?” dahiku berkerut sempurna

“Gadis itu berhati sekeras baja. Bagaimana kalau kau mengundangnya ke rumah?”

“Hati sekeras baja?” Kakekku mengangguk yakin

“Dia hanya keras kepala dan suka memaksa”

“Benarkah itu?” kali ini Ayahku yang bersuara

“Dia menguntitku sejak kelas 4 SD”

“Gadis seperti itu jarang ada di tempat lain” oh tidak! bahkan Ibuku juga mulai berargumen dan baiklah, sudah jelas kalau aku tak punya komplotan sama sekali

“Mereka yang tidak mempunyai tentangga seperti Han Yoonjoo sangat beruntung”

“Baekhyun, jangan jadi kasar begitu. Yoonjoo dan keluarganya sangat baik pada kita, dan Ibu juga menyukai mereka”

“Ya…tidak ada masalah pada Bibi dan Paman Han tapi Yoonjoo, dia jelas punya gangguan mental”

“Baekhyun..”

“Baiklah aku sudah selesai makan. Ayah, Ibu, Kakek, aku berangkat dulu”

Lagi, aku harus pergi kesekolah dengan perasaan gondok karena obrolan pagi tentang Han Yoonjoo. Belum lagi gondokku hilang, mataku sudah menangkap kumpulan banyak orang yang mengerubungi pohon harta karun milik Yoonjoo dan tentu saja karena gadis itu masih setia diatas sana tanpa mau turun. Yoonjoo sangat panik karena pengelola taman perumahan ingin menebang pohonnya, aku tak mengerti kenapa dahan-dahan aneh itu begitu penting untuk Yoonjoo.

“Baekhyun!”

Oh tidak, dia melihatku! Seharusnya tadi aku tak usah memperhatikannya, apa peduliku jika pohon itu mau ditebang atau tidak.

“Baekhyun, ayolah naik bersamaku. Mereka tidak akan menebangnya jika ada orang disini”

Oh no….sekarang orang-orang juga mulai menatapku aneh. Apa yang mereka harapkan? Apa mereka mau aku memanjat kesana lalu duduk bersama gadis aneh itu? Absolutely not! Never!  That’s a stupid idea. Kuambil handphone dan earphone yang ada dalam saku jasku lalu kusumpalkan ketelinga untuk meredam suara memohon Yoonjoo, membuat telingaku sakit mendengarnya.

“Baekhyun, aku mohon”

Aku merasa kasihan padanya tapi aku tak mau membolos sekolah demi dirinya.

Tomorrow morning

Yoonjoo tak ada didekat pohon itu hari ini, ya tentu saja karena pohon keramatnya itu sudah habis tingga tanggul. Dia kesekolah tapi kau tak pernah tahu, kuyakinkan diriku bahwa seharusnya aku merasa lega. Maksudku, bukankah itu yang selalu kuharapkan? Tapi aku tetap merasa bersalah padanya. Aku ingin minta maaf padanya tapi kupikir “Tidak, bukan itu yang kuinginkan” karena Han Yoonjoo akan berpikir kalau aku merindukannya.

End Baekhyun’s POV

 

Yoonjoo’s POV

Hari pertama aku berkenalan dengan Byun Baekhyun, aku tergila-gila. Matanya, ada sesuatu pada matanya yang mempesona itu. Keluarganya baru pindah kedaerah kami dan aku kesana untuk menolong mereka. Aku baru masuk vannya sebentar lalu Ayahnya menyuruhnya membantu Ibunya, aku tahu dia tak mau pergi jadi kukejar dia untuk memastikan kami bisa bermain bersama sebelum dia terjebak didalam. Lalu tiba-tiba, ia menggandeng tanganku dan menatap mataku, jantungku berhenti berdetak, apa maknanya? Apakah ini akan jadi ciuman pertamaku, tapi lalu Ibunya keluar dan dia begitu malu hingga pipinya merona.

Aku tidur malam itu memikirkan bakal ciumanku, maksduku, dia pasti suka padaku tapi terlalu malu menunjukkannya. Ibuku bilang pria memang begitu jadi kuputuskan untuk menolongnya. Aku mati-matian mendekatinya, aku menempel dan mengikutinya kemana saja, aku memberinya banyak kesempatan untuk mengatasi rasa malunya. Namun aku merasa kalau aku terlalu berlebihan hingga saat memasuki masa sekolah menengah pertama, aku mulai mengendalikan diriku lalu Sally Park muncul.

Sally Park tak lain adalah gadis penggoda yang cengeng, tukang gossip, dan penelikung, rambutnya saja yang indah, tanpa otak. Dia bergandengan tangan dengan Baekhyun, Baekhyun-ku! Seseorang yang berjalan-jalan dengan ciuman pertamaku. Solusiku adalah mengabaikannya. Aku tahu pria sekaliber Baekhyun akhirnya akan tahu sendiri gadis dangkal seperti Sally Park. Perlu waktu seminggu, mereka putus saat jam istirahat. Karena Baekhyun sudah keluar dari cengkraman iblis Sally, dia mulai lebih baik padaku. Dia begitu pemalu dan manis, dan rambutnya harum semangka. Aku tak pernah bosan menciumnya. Sepanjang tahun itu aku diam-diam menghirup semangka dan membayangkan apakah aku akan mendapatkan ciumanku tapi hingga kini kami duduk dibangku kelas 2 SMA, Baekhyun masih belum berani menunjukkan rasa sukanya.

Siang ini seperti biasa aku akan memandangi Ayahku yang sedang melukis dihalaman belakang. Ayahku benar-benar suka melukis dan sepertinya hal tersebut menurun padaku karena disekolah, aku berada dikelas Art.

“Aku mengerti kenapa Ayah senang kemari”

“Kau bisa jelaskan pada Ibumu?”

Aku suka melihat Ayahku melukis dan aku senang mengobrol dengannya saat ia melukis karena aku jadi belajar banyak tentang Ayahku dengan cara itu. Dia menceritakan semua hal seperti bagaimana ia mendapatkan pekerjaan pertamanya dan keinginannya untuk bisa melihatku menjadi pelukis terkenal.

“Ada apa antara kau dan Baekhyun?”

“Apa maksud Ayah? Tak ada apa-apa”

“Baiklah. Ayah yang salah”

“Kenapa Ayah berpikir begitu?”

“Tak ada alasan, hanya saja kau selalu membicarakan tentang dia”

“Benarkah?”

“Iya”

“Entahlah. Kurasa ada sesuatu di matanya atau mungkin senyumannya”

“Tapi bagaimana dengan dirinya?”

“Apa?”

“Kau harus melihatnya secara utuh”

“Apa maksudnya?”

“Sebuah lukisan lebih dari sekedar kumpulan obyek-obyeknya. Sapi jika sendirian hanyalah seekor sapi, sebuah padang rumput hanyalah berisi rumput dan bunga, dan matahari yang mengintip dibalik pohon hanyalah sinar yang menerpa tapi jika digabungkan semuanya, hasilnya ajaib”

Aku tak mengerti apa maknanya hingga keesokan siangnya aku berada diatas pohon ara itu. Aku menyelamatkan sebuah layang-layang. Tersangkut jauh tinggi lebih dari yang pernah kupanjat dan makin tinggi aku panjat, makin aku kagum akan pemandangannya. Aku mulai menyadari betapa menyenangkannya harum udara seperti sinar matahari dan rumput liar. Aku tak bisa berhenti mengirup, mengisi paru-paruku dengan aroma termanis yang pernah kukenal. Mulai saat itu, tempat itu menjadi pangkalanku. Aku bisa duduk berjam-jam menatap dunia. Kadang matahari terbenam berwarna ungu dan merah jambu dan kadang jingga terang hingga membakar awan diufuk. Saat matahari terbenam itulah yang dimaksud Ayahku bahwa keutuhan lebih penting dari bagian-bagiannya. Kadang aku bangun lebih pagi untuk menatap matahari terbit.

Pagi ini, aku sedang mencatat dalam hati bagaimana sinar mentari menembus awan agar aku bisa bercerita pada Ayahku. Lalu aku mendengar suara-suara dibawah.

“Permisi…permisi..kau tak bisa parkir disana karena ini adalah taman perumahan” ujarku

“Hei, sedang apa kau diatas sana? Kau tak boleh memanjat pohon itu, kami akan menebangnya”

“Pohon ini?”

“Iya. Sekarang turunlah”

“Tapi siapa yang menyuruhmu untuk menebangnya?”

“Pemiliknya”

“Kenapa?” aku benar-benar tak habis pikir kenapa mereka mau menebang pohon yang sama sekali tak mengganggu ini

“Dia akan membangun rumah dan pohon ini menghalanginya jadi turunlah nak, kami harus bekerja”

“Kau tak boleh menebangnya. Pokoknya tak boleh!”

“Dengar nak, aku akan menelepon polisi. Kau memasuki dan menghalangi kemajuan kontrak pekerjaan. Kalau kau tak turun, kami akan tebang pohon ini bersamamu”

“Silahkan. Tebanglah pohon ini, aku tak mau turun! Aku tak akan turun!”

Hampir seharian aku bersikeras diatas pohon ini, aku benar-benar tak ingin pohon ini ditebang karena entahlah, aku bisa merasakan suatu perasaan senang yang sulit digambarkan jika aku sedang berada diatas sini. Kulihat banyak wartawan dan jurnalis dibawah sana, mungkin saja setelah ini aku akan dikenal sebagai gadis berumur 18 tahun yang gila hanya karena pohon tapi aku tak perduli.

Perutku lapar tapi aku benar-benar tak ingin beranjak dari pohon karena sedetik saja aku pergi, pada kontraktor itu pasti akan menebang pohonku hingga keesokkan paginya sekitar pukul 7, aku melihat Baekhyun. Dia berdiri didepan rumahnya sambil melihat kearahku, ya mungkin saja dia berniat membantuku atau berpihak padaku tapi itu hanya khayalanku saja karena setelah aku berteriak-teriak meminta bantuannya, dia sama sekali tak perduli. Baekhyun menutup telinganya lalu berjalan pergi. Yang terjadi setelah itu hanya samar-samar kuingat. Sepertinya seluruh kota datang ke sana hingga Ayahku datang lagi membujukku dan aku turun dengan suka rela karena semakin kupikir, tindakanku benar-benar bodoh dan kekanakan.

Aku menangis selama 2 minggu penuh. Tentu, aku tetap kesekolah dan berusaha semampuku tapi tak ada lagi yang penting bagiku.

“Yoonjoo…”

“Ne sonsengnim”

“Kau tahu jawabannya?”

“Emm…Van Gogh”

“Ibu yakin itu sebuah jawaban tapi Ibu menanyakan tentang jajaran genjang”

Seluruh kelas menertawaiku kecuali sahabat baikku Park Gayoung. Entah kenapa jajaran genjang dan segitiga sama kaki tak terasa penting. Sekarang aku selalu pulang melalui jalan yang agak jauh agar tak perlu melewati tanggul pohon yang dulu pernah menjadi pohon ara terindah di dunia. Tapi apapun yang kulakukan, aku tak henti memikirkannya.

“Kau baik-baik saja?” Tegur Ayahku sambil masuk membawa sesuatu

Aku mengangguk pelan lalu berbohong sedikit “Ya, itu hanyalah sebatang pohon”

“Tidak, itu bukan hanya sebatang pohon”

Ayahku menunjukkan apa yang dibawanya dan ternyata itu adalah sebuah lukisan. Lukisan pohonku, pohon ara yang sangat kusuka.

“Ayah tak ingin kau melupakan perasaanmu saat kau diatas pohon”

“Terima kasih Ayah”

Pohon itulah yang kulihat pertama kali setiap pagi dan yang terakhir kulihat saat aku akan tidur dan begitu aku bisa melihatnya tanpa menangis, aku melihat lebih dari sekedar pohon dan maknanya bagiku. Aku menyadari hari dimana pandanganku pada hal-hal disekitarku mulai berubah dan aku berpikir, masihkah aku merasakan yang sama pada Baekhyun? Entahlah, jawabannya mungkin ada pada masa dimulainya kami sebagai siswa tahun ke-3 atau tahun terakhir di Jungwoon High School.

End Yoonjoo’s POV

 

Author’s POV

Bulan Februari merupakan bulan dimana anak-anak sekolah memasuki kelas baru atau mungkin sekolah baru. Seperti itu juga yang terjadi di Jungwoon High School, ada siswa-siswi baru yang duduk dikelas 1 berarti ada siswa-siswi kelas 3 yang baru saja lulus. Didepan papan pengumuman, terlihat gerombolan siswa-siswi yang tak sabar melihat dikelas mana mereka ditempatkan tahun ini dan siapa saja yang akan menjadi teman sekelas mereka.

Diujung papan pengumuman itu, Yoonjoo berdiri sambil memandangi sepatunya tanpa niat berdesakkan masuk karena Gayoung sahabatnya sudah didepan papan pengumuman dan tak perlu waktu lama karena Gayoung punya scanning mata yang sangat hebat.

“Kita berada dikelas Art 3B-2”

“Baiklah, ayo kita kesana”

“Tunggu, kau tidak bertanya padaku siapa yang akan jadi teman kelas kita?”

Yoonjoo menggeleng sambil tersenyum “Tidak perlu, siapapun teman kita sama saja kan?”

“Tapi…ada Baekhyun”

“Aku sudah tidak perduli lagi” jawab Yoonjoo sambil berlalu

“Kenapa? Kenapa begitu? Bukankah kau sudah mengaguminya sejak lama? Kau tidak senang akhirnya sekelas lagi bersamanya?”

“Aku terlalu lelah mengikutinya dan kurasa aku sudah membuatnya merasa tidak nyaman selama ini”

“Begitu?”

“Hmmm. Ayo cepat, kita harus mendapat tempat duduk yang strategis”

Yoonjoo menarik tangan Gayoung menuju ruangan yang akan menjadi kelasnya selama setahun kedepan dan akan menjadi ruangan terakhir tempatnya belajar dimasa SMA.

Tepat pada saat Yoonjoo dan Gayoung memasuki kelas, matanya melihat sesosok pemuda yang dulu menjadi favoritnya, Byun Baekhyun, ini adalah pertama kalinya mereka menjadi teman sekelas setelah yang terakhir saat dikelas 3 SMP. Yoonjoo mengalihkan pandangan saat Baekhyun menoleh kearahnya, matanya menangkap 2 bangku kosong yang bisa menjadi tempatnya dan Gayoung duduk namun naas seseorang tiba-tiba menarik Gayoung untuk bersamanya. Orang itu adalah Kim Jongdae atau biasa disebut Chen, laki-laki itu sudah menyukai Gayoung sejak tingkat pertama dan laki-laki itu merupakan teman Baekhyun selain Sehun tapi sifat Chen dan Sehun sangat berbeda. Chen merupakan pria yang ramah dan baik hati tidak seperti Sehun yang dingin dan ketus yang selalu memandang Yoonjoo sebelah mata atau mungkin bisa dibilang Sehun hampir mirip dengan Baekhyun yang tak pernah menganggap Yoonjoo ada.

“Hey kau! Jangan menarikku sesuka hatimu” Gayoung mencoba melepaskan cengkraman tangan Chen

Yoonjoo yang melihat hanya tersenyum lalu mengambil tindakan lain yaitu duduk dikursi yang sampingnya sudah terisi agar Gayoung tidak bisa duduk bersamanya karena mungkin hanya hal itu yang bisa dilakukannya untuk membantu Chen.

“Maaf, boleh aku duduk disini?”

Pemuda itu, pemuda dengan mata bulat besar dan bola mata bersih yang dibingkai dengan kacamata harry potter itu menatap Yoonjoo heran.

“Kau…mau duduk disebelahku?” tanyanya ragu

“Hmmm, tidak boleh?”

“Tidak..hanya saja—“

“Kau Song Jinhyuk bukan?”

“Ba..bagaimana kau tahu namaku?”

“Kita sama-sama dikelas lukis tapi berbeda shift. Aku ada dishift malam dan saat jam berganti, aku sering melihatmu keluar, Park saem juga sering bercerita kalau kau sangat hebat melukis sketsa wajah”

“Jadi kau juga ada dikelas lukis? Benar?”

“Hmmm”

“Baiklah silahkan duduk, dengan senang hati aku menerimamu”

“Eo?”

“Em maksudku, aku sangat senang bisa mempunyai teman sebangku sepertimu tapi siapa namamu?”

“Han Yoonjoo”

Tautan tangan itu membuat seseorang disana merasakan hal aneh. Seperti ada perasaan marah atau cemburu menjalari dirinya tapi dengan cepat dia mengusir semuanya karena dia terus memberikan sugesti bahwa dirinya tidak akan mungkin menyukai gadis aneh yang selalu menjadi penguntitnya.

~oOo~

Baekhyun terus meninggikan volume musiknya hingga suara Chen menegurnya dengan keras.

“Kau mau merusak telingamu? Kenapa memutar musik dengan volume sekeras itu? Aku bahkan bisa mendengar dengan jelas suara yang keluar dari earphonemu”

Baekhyun mendengus, sekeras apapun suara musiknya masih tetap tidak bisa meredam suara-suara mengganggu yang datang dari meja seberang tempat 2 orang dengan hobi yang sama sedang mengobrol akrab. Sesekali Baekhyun melirik kearah 2 orang itu, tidak, Baekhyun sebenarnya hanya melirik si wanita, bagaimana bisa wanita itu tersenyum seperti itu? Apa yang dikatakan si pria hingga bisa membuatnya tertawa bahagia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus memenuhi kepala Baekhyun hingga terasa mau meledak.

“Kau cemburu?” celetuk Chen berhasil membuat Baekhyun melemparkan tatapan horornya

“Kenapa? Kenapa kau melihatku begitu? Ini salahmu, kau selalu mengabaikan wanita sebaik Yoonjoo dan sekarang lihatlah dia diambil orang” gurau Chen yang benar-benar berhasil membuat Baekhyun mendidih

Laki-laki itu membanting buku yang sedang dipegangnya lalu memasukkan dengan kasar ponsel dan earphonya kedalam saku. Kakinya melangkah cepat keluar kelas, kemana saja asal tak melihat Yoonjoo. Sepanjang jalan Baekhyun terus berspekulasi tentang apa yang terjadi pada dirinya seperti bahwa dia tidak pernah cemburu padan Yoonjoo si gadis aneh dan tidak akan pernah, rasa marah yang tadi timbul bukanlah cemburu melainkan hanya rasa terganggu karena Yoonjoo dan Jinhyuk terlalu berisik dikelas dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi membaca buku.

End Author’s POV

 

Baekhyun’s POV

Hari ini adalah hari pertama sebagai senior tertinggi di SMA. Hari ini juga yang akan mengawali hari-hari bahagia dimasa depan, tak ada senior yang harus kuhormati dan tak ada lagi gadis pengganggu karena setelah insiden pohon itu, dia benar-benar menjauh dan kurasa kali ini akal sehatnya benar-benar kembali. Aku dan Chen sahabatku kembali berada disatu kelas dan aku baru tahu kalau Yoonjoo juga akan berada dikelas yang sama saat sedetik yang lalu dia memasuki kelas ini bersama temannya. Aku berani taruhan dia akan menduduki kursi didepan atau belakangku atau bahkan kursi kosong disampingku tapi rupanya aku salah, dia malah memilih duduk disamping si cupu Song Jinhyuk, ya tentu saja karena pikiran mereka sejalan, sama-sama aneh. Ternyata Yoonjoo masih terus menghindariku seperti dulu, itu bagus karena aku tak harus merasa terganggu karenanya tapi caranya mengabaikanku selalu mengingatkanku bahwa aku jahat. Jujur aku lebih suka saat dia menggangguku daripada saat dia marah padaku. Tidak! Lupakan apa yang baru saja kukatakan! Kurasa aku mulai terpengaruh mantranya lagi.

Biarkan saja gadis aneh itu berkumpul bersama Jinhyuk yang juga sama anehnya, jika diperhatikan, mereka adalah pasangan serasi. Bukankah begitu?

Sekarang pukul 10 dan sialnya aku masih tak bisa berkonsentrasi sejak pagi karena pasangan aneh itu. Mereka terlalu berisik, apa mereka mau pamer kemesraan pada semua orang?

“Kau cemburu?”

Aku menoleh kesamping kearah pemilik suara itu. Apa dia ingin mati mengatakan hal semacam itu padaku? Cemburu? Hahahah never!

“Kenapa? Kenapa kau melihatku begitu? Ini salahmu, kau selalu mengabaikan wanita sebaik Yoonjoo dan sekarang lihatlah dia diambil orang”

Ingin rasanya aku menjejalkan buku kedalam mulutnya kalau saja aku tak ingat dia teman baikku. Lebih baik aku mencari udara segara diluar, terlalu lama disini membuat tekanan darahku naik.

“Aku? Cemburu? Haha lucu sekali, aku marah karena mereka terlalu berisik. Apa mereka kira kelas adalah tempat berpacaran? Kenapa—“

“Baekhyun!”

Kutolehkan kepala mencari siapa orang yang memanggil namaku dengan begitu keras dan ternyata orang itu adalah di pengkhianat Oh Sehun.

“Kau mau bergabung dengan tim baseball?”

“Kenapa? Kau kehilangan kemampuanmu?”

“Hey..kau masih marah karena yang dulu?”

Lihatlah cara bicaranya, apa dia bilang? Karena yang dulu? Caranya berbicara mengatakan seolah-olah apa yang dia katakana dulu saat kelas 1 adalah hal biasa. Bagaimana bisa hal itu jadi hal biasa untukku? Dia menghina Yoonjoo didepan mata ku dan mengata-ngatai Yoonjoo sebagai gadis cacat mental, bagaimana bisa aku menerimanya dengan baik? Tidak aku tidak sedang perhatian pada Yoonjoo, aku hanya tidak suka melihat orang lain dihina.

“Aku masih menyayangkan kau keluar dari Tim hanya karena wanita itu”

“Apa?”

“Begini Baekhyun, kurasa aku harus mengingatkanmu untuk tak lebih tenggelam lagi dalam guna-guna wanita itu karena aku mulai merasa kau punya perhatian khusus untuknya”

“Kau—“

“Datanglah ketempat latihan kalau kau memang tidak punya perasaan khusus untuknya. Sampai jumpa”

Aku tak ingat lagi apa yang kulakukan setelah itu. Aku hanya ingat aku datang kelapangan dan bergabung lagi bersama Tim Baseball Junsang, hal itu kulakukan bukan hanya untuk menujukkan kalau aku benar-benar tidak tertarik pada Yoonjoo tapi juga untuk memenuhi kesenanganku karena aku memang sangat suka pada Baseball.

Saat pulang latihan, keadaan semakin aneh. Kakekku, dia disana, didepan rumah keluarga Han. Dia dan Yoonjoo sedang membabat rumput bersama. Apa kini mereka semakin akrab saja? Aku tertarik untuk melihat kesana dan makin kulihat, aku semakin gusar. Kakekku sudah bicara lebih banyak pada Yoonjoo dalam 1 jam daripada bicara padaku selama ia tinggal bersama kami. Aku yakin tak pernah melihatnya tertawa dan apa menariknya Han Yoonjoo?

~oOo~

Tok..tok..tok..

3 kali ketukan membuatku meletakkan buku yang sedang kubaca lalu menoleh kearah pintu. Ternyata kakekku.

“Yoonjoo menceritakan pada kakek tentang telurnya”

Apa? Gadis itu menceritakan insiden telur yang sudah terjadi 2 tahun lalu? Aku tahu saat itu aku memang keterlaluan tapi apakah dia harus menyimpan dendam selama itu?

“Kau tahu Baekhyun? Sifat seseorang terbentuk diusia muda. Kakek tak ingin melihatmu terperosok terlalu dalam”

“Bagimana?

“Ini mengenai kejujuran nak. Kadang rasa kurang nyaman di awal dapat menghindarkan rasa sakit”

Insiden telur, insiden itu terjadi saat kelas 1 SMA dimana Yoonjoo mengadakan percobaan mengenai penetasan ayam dan berhasil. Dia menetaskan 6 ayam dan memeliharanya hingga suatu hari dia mulai memberikan telur-telur yang ayamnya hasilkan padaku. Aku bukannya tak sopan dengan membuang semua telur itu, aku hanya takut terkena bakteri salmonella atau yang lebih kutakutkan adalah dia sudah memantra-mantrai telur itu tapi sekarang aku sadar pikiran itu adalah pikiran terbodoh yang pernah kupunya namun soal dendam, Han Yoonjoo adalah ratunya dan terbukti sekarang dengan dia menceritakan hal tersebut pada kakekku jadi kurasa aku harus benar-benar menyelesaikan masalah telur tersebut.

Sepanjang minggu aku mencoba mendekatinya disekolah dan dia selalu menemukan cara untuk menghindariku dan saat ia berada dihalamannya, kakek selalu ada bersamanya. Akhirnya hari ini, hari sabtu tanggal 5 April, aku melihat peluangku. Kakek, Ibu, dan Ayahku harus pergi ke Seoul untuk memeriksakan kesehatan kakekku secara rutin.

“Halamanmu terlihat indah” sapaku

Yoonjoo hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus menyiram bunga-bunga ditamannya

“Terima kasih. Ini berkat bantuan kakekmu juga”

Hening cukup lama sebelum akhirnya aku berani mengutarakan maksudku menyapanya

“Maafkan perbuatanku itu”

“Perbuatanmu yang mana?”

“Tentang telur-telurmu”

Yoonjoo mematikan selang airnya lalu berdiam beberapa detik sebelum akhirnya membalikkan badan menatapku “Aku tak mengerti Baekhyun, kenapa kau tak mengatakannya padaku?”

“Entahlah. Tindakanku itu konyol dan tidak baik”

“Mungkin itu demi yang terbaik. Maksudku lihat, aku belajar banyak dari kakekmu, dia hebat. Kau beruntung, aku sudah tak punya kakek-nenek lagi. Aku merasa kasihan padanya, dia merindukan nenekmu. Kau percaya? Katanya aku mengingatkan dirinya pada nenekmu”

“Apa?”

“Aku tahu. Itu katanya tapi maksudnya baik, mengenai semangat nenekmu”

“Ya. Yah semoga berhasil dengan rumputnya, aku yakin hasilnya pasti indah”

“Terima kasih”

“Sampai bertemu lagi”

“Kurasa begitu”

Sementara aku tak terlalu mengharapkan Yoonjoo menerima maafku, setidaknya masalah telur akhirnya berakhir. Pertama kali selama hampir 3 tahun aku bisa menikmati variety yang sangat terkenal di Korea “Running Man”.

“Baekhyun, mau menemani kakek jalan-jalan?”

Aku mengangguk semangat, ya tak ada yang lebih baik untuk menjernihkan pikiran selain berjalan-jalan santai sambil menghirup udara malam yang tenang. Aku dan kakekku berjalan disekitar perumahan hingga ia berhenti didekat tanggul pohon ara.

“Ini tempat pohon itu dulu berada, kan?”

“Ne”

“Pasti pemandangannya indah sekali”

Aku menoleh memperhatikan wajah kakekku, entahlah semakin lama aku lihat dia semakin memiliki pemikiran yang sama dengan Yoonjoo, apakah itu berarti aku juga harus mencap kakekku aneh? Tidak, itu hal yang kurang ajar dan ia adalah kakekku yang berarti jika ia aneh maka aku juga aneh.

“Dia gadis yang unik. Sebagian orang bagaikan kain polos, satin, atau kain yang mengkilap tapi sesekali, ada seseorang yang berwarna-warni dan saat kau menemukannya, tak ada yang bisa menandinginya”

Malam ini benar-benar tak seperti malam sebelum-sebelumnya. Hingga pukul 12.45 aku belum juga bisa jatuh tertidur. Polos, mengkilap, warna-warni, apa maksudnya? Han Yoonjoo bagiku biasa saja, sampai saat ini dan caranya membicarakan seperti apa rasanya berada di atas pohon saat berada jauh di atas bumi, tersapu angin, siapa anak SMA yang bicara seperti itu? Perasaan aneh ini mulai membuatku mual dan aku tak menyukainya. Aku terpeleset bung! dan ini saatnya mencari pegangan.

~oOo~

Pagi yang cerah, suara burung berkicauan, suara kompor dan penggorengan beradu, semua sama seperti pagi-pagi sebelumnya tapi tunggu, kurasa ada sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang memutar musik, apakah ini tidak terlalu pagi untuk memutar musik? Dan apa ini? Siapa yang tengah memutar lagu milik Howl beserta J berjudul Perhaps Love pagi-pagi begini? Dan setelah pandangan mataku tak lagi buram, semua rohku sudah kembali, aku baru sadar tak ada orang yang memutar lagu itu, dan aku tahu itu hanyalah khayalanku. Tidak! Aku sepertinya mulai gila! Untuk apa aku memikirkan lagu yang mempunyai arti semacam itu? Gila, ini gila! Lebih baik aku segera mandi lalu mengisi perutku agar otakku ini tak kemasukan hal-hal aneh.

Tepat pukul 7.30, aku sudah duduk dibalik meja dengan semangkuk sereal beserta segelas orange jus. Aku makan dengan tenang dan lahap sebelum akhirnya Ibuku mengucapkan sesuatu yang membuat bola mataku serasa ingin melompat keluar.

“Hari ini adalah tanggal 6 April dan seperti tahun-tahun sebelumnya, 4 hari lagi tepat pada tanggal 10, kita akan mengadakan makan malam dengan keluarga Han untuk memperingati hari pertama keluarga kita pindah kemari”

Makan malam resmi bersama keluarga Han? Baiklah ini bukan makan malam pertama kami tapi entahlah aku merasa ini akan jadi makan malam yang berbeda. Dan bertemu Yoonjoo disekolah makin membuatku tak nyaman. Aku menemukan diriku menatapnya dikelas, menatap rambutnya yang terurai dibahunya dan hey…sejak kapan rambutnya yang dulu begitu tipis jadi begitu indah dan lebat seperti sekarang? Karena terlalu serius menatap Yoonjoo, aku bahkan tak sadar Park Gayoung sedang memperhatikanku dan menangkap basah diriku yang sedang menatap sahabatnya, jika aku tak segera bertindak, gosipnya akan segera menyebar.

“Ada lebah dirambutnya. Lihat! Lebahnya pergi”

“Tak ada lebah disini”

“Sudah terbang ke jendela”

Aku meyakinkan diriku bahwa aku sudah lolos dari bahaya. Aku harus menyingkirkan Yoonjoo dari pikiranku dan konsentrasi pada hal-hal penting seperti belajar tapi kelemahanku melemahkanku. Hidupku kini bagaikan ladang ranjau.

~oOo~

Matahari hari ini cukup terik namun tidak menyurutkan semangatku untuk terus melemparkan bola-bola pada anggota baru Club Baseball, ya aku adalah Byun Baekhyun, Pitcher paling handal milik Jungwoon atau mungkin milik Gwangju dan Bucheon. Sudah kewajibanku sebagai ketua Tim untuk melatih anggota-anggota muda ini. Mereka—

“Hey Baekhyun aku minta air minummu”

“Baiklah”

Sehun, seperti biasa dia akan selalu menginterupsiku dengan hal-hal kecil dan kali ini hanya karena minum. Tunggu..apa dia bilang? Minum? Bukankah botol minumanku ada didalam tas dan apa itu artinya dia sudah membuka tasku? Matilah kau Byun Baekhyun!

“Wow! Baekhyun apa ini?”

Berakhirlah sudah! Aku segera berlari menghampiri Sehun yang sedang memegang koran berisi artikel mengenai Yoonjoo yang tidak mau turun dari pohon yang dia temukan didalam tasku lalu segera merebutnya.

“Ini bukan seperti yang kau pikir”

Sehun menatapku aneh

“Baiklah, ini seperti yang kau pikirkan tapi aku bisa menjelaskannya”

Sekarang dia menatapku dengan mata yang disipitkan dan alis yang naik sebelah

“Baiklah, aku tak bisa menjelaskan. Kita bisa bicarakan nanti saja?”

“Wow wow wow Baekhyun, tidak, ini hal yang tidak bisa ditunda-tunda. Apa kau gila? Han Yoonjoo? Kau membencinya”

“Itulah anehnya. Kurasa aku tak membencinya, aku tak bisa berhenti memikirkannya”

“Kau sudah parah bung, kau tak tertolong”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Singkirkan perasaan itu, itu bukan perasaanmu yang sebenarnya”

“Bukan?”

“Kau merasa bersalah karena telur-telur itu”

“Ya dan aku menghina hobinya”

“Tepat! Hobinya bergaul dengan cat, kuas, tanah liat, dan sejenisnya itu memang aneh dan itu seharusnya menyadarkanmu”

“Tentang apa?”

“Tentang Yoonjoo”

“Apa maksudmu?”

“Dia adalah gadis aneh yang punya gangguan mental, dia menguntitmu sejak lama dan apa menurutmu ada gadis normal seperti itu?”

Aku tak percaya itu, aku tak percaya Sehun mengatakan hal itu lagi. Aku ingin mengamuk padanya seperti dulu dan mengatakan bahwa ia tak mengenal Yoonjoo seperti aku tapi yang keluar dari mulutku malah sebaliknya..

“Oh..benar”

“Ya tentu saja”

“Benar, kita bicara lagi nanti, aku harus masuk kelas sekarang”

Aku melamun sepanjang jalan menuju kelas sebelum akhirnya sebuah tepukan keras mengembalikanku kedunia nyata.

“Kau belum ganti baju? Sebentar lagi Kim saem akan masuk dan jangan berharap dia mengijinkamu masuk dengan seragam baseball penuh keringat itu”

“Ya ya aku tahu. Aku baru saja akan berjalan ketoilet”

“Ada apa denganmu?”

“Apa maksudmu? Aku baik-baik saja”

“Tunggu, aku ini Kim Jongdae, kita berteman hampir 3 tahun dan aku cukup tahu ekspresi wajahmu sekarang menunjukkan kau tidak sedang baik-baik saja kawan”

Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan itu pada Chen

“Apa menurutmu seseorang yang suka melukis dan berkutat dengan tanah liat itu aneh?”

“Apa maksudmu? Kau kenal Leonardo DaVinci? Van Gogh? Atau Picasso? Mereka orang terkenal dan mereka adalah pelukis. Apa yang kau pikirkan dengan bertanya seperti itu”

“Lalu bagaimana dengan seseorang yang menjadi penguntit?”

“Tunggu…aku sepertinya mengerti arah pembicaraanmu. Apa kau sedang membicarakan Yoonjoo? Dengar Byun Baekhyun, aku tak mengerti kenapa kau selalu berpikir seperti itu mengenai Yoonjoo dan kau tahu kalau kau semakin mirip Sehun yang mengatakan Yoonjoo punya gangguan mental atas dasar cintanya yang ditolak”

“Cinta ditolak?”

“Iya, kau tidak tahukan? Apa yang kau tahu? Kau hanya korban dari pengaruh buruk Sehun. Kuberi tahu satu hal, Sehun sudah menyukai Yoonjoo sejak lama tapi dia ditolak saat menyatakan cinta pada saat kelas 8, itulah yang menjadikannya benci pada Yoonjoo”

“Kau..siapa yang memberitahumu?”

“Gayoung. Dengar kawan, yang perlu kau jauhi itu bukan Yoonjoo tapi Sehun, jelas-jelas dia mencoba membuatmu benci pada Yoonjoo dan kurasa kau harus mulai menggunakan hati dan pikiranmu, jangan hanya menggunakan akalmu karena kulihat hatimu sudah menjerit-jerit tak tahan..hahahahah”

“Yak! Kim Jongdae apa maksudmu?”

Chen benar-benar sukses melenyapkan semua sugesti buruk yang dijejalkan Sehun padaku dan usai sekolah aku seharusnya pergi berlatih tapi aku tak bisa berada disekitar Sehun lagi. Dia sudah melanggar batas dan yang berdiri bersamanya diluar batas itu adalah Sally Park. Aku tak perduli apa pendapat mereka. Aku menyukai Yoonjoo dan malam ini aku akan mulai menunjukkan perhatianku padanya karena malam ini kami akan mengadakan makan malam bersama.

~oOo~

Aku ingin tampil tampan untuk Yoonjoo tapi aku tak ingin membuatnya berpikir aku ingin tampan untuknya, kau tahu ada batasannya, batas yang sangat tipis.

“Baekhyun! Mereka datang, turunlah”

“Aku datang!”

Seperti biasa Ayah dan Ibuku akan menyambut mereka dan seperti biasa pula Bibi Han akan membawa pie buatannya sendiri dan harus kuakui pie yang ia buat sangat enak. Setelah para tetua masuk kedalam, kulihat peluangku untuk menyapa Yoonjoo.

“Hai”

Yoonjoo hanya menanggapiku dengan sedikit senyuman, hanya sedikit!

“Kau terlihat cantik”

Awalnya kukira akan mendapat ucapan seperti “Terima kasih” karena telah memujinya tapi ternyata apa yang dia katakan jauh sekali dari harapanku.

“Aku dengar kau dan Sehun mengataiku punya gangguan mental dan aku tak mau bicara denganmu. Tidak sekarang atau selamanya”

Setelah mengatakan hal yang kejam itu, Yoonjoo bergabung bersama Ayahku, Kakekku, dan Ayahnya untuk membicarakan penggerak abadi. Penggerak abadi? Aku disini, merana sendirian dan mereka membicarakan penggerak abadi? Dan bagaimana Yoonjoo mengetahui itu semua?

“Ayo semuanya, makan malam sudah siap” teriak Ibuku

“Yoonjoo, boleh aku bicara denganmu?”

“Apa?”

“Perkataan Sehun itu salah dan aku tahu itu”

“Kau tahu itu salah saat ia mengatakannya?”

“Ya, aku ingin meninjunya tapi kami sedang dilapangan dan banyak anggota baru club disana”

“Jadi kau malah sependapat dengannya lalu tertawa?”

“Itu…”

“Kalau begitu itu menjadikanmu seorang pengecut”

Aku merasa seperti didorong paksa kesebuah jurang penuh dengan harimau lapar. Aku harus duduk didepan Yoonjoo sepanjang makan malam dan sisa malam itu berlanjut cukup lancar kecuali soal Yoonjoo yang mendiamkanku sepanjang malam bahkan tak menatapku sama sekali sampai ia akan pulang.

“Maaf aku begitu marah saat kami datang tadi. Kurasa semua menikmati makan malamnya. Ibumu baik sekali mau mengadakan makan malam seperti ini setiap tahun dan selalu mengundang kami. Sampai nanti”

Permintaan maafnya justru menjadikan keadaan semakin buruk karena aku tahu aku tak dimaafkan. Itu bagai aku tak cukup penting untuk kau jadikan sasaran dendam. Yoonjoo menyebutku pengecut, ini terasa seperti Yoonjoo sudah keluar dari hidupku atau lebih tepatnya aku yang ditendang dari kehidupannya.

 

To be continue…….

39 pemikiran pada “Flipped (Chapter 1)

  1. Annyeong, aku readers baru.Fitri imnida.walaupun agak telat comentnya, tapi rasanya benar2 rugi kalo gk coment..sumpah eonni ff ini benar2 alur yg udah aku tggu sejak lama, bahasanya kalo dilihat benar2 bukan bahasa yg mudah. salut buat eonni yg buat bahasanya nyampe bget dijantung. aku bahkan harus gigit bantal buat meredam teriakan gemes..sumpah aku gemes banget ama ni ff..pokoknya 2 thumbs untuk eonni, keep writing:-D

  2. Anneyong…new readers chibi chan imnida…aku baru buka blog ini..hmm…heee…baguss sekali ff nya…jempol..hanya saja bagiku nama dan cara penulisannya kurang matching…gaya penulisan ff ini sering aku lht di novel novel terjemahan barat…tapi aku temukan nama nama korea..baik kebiasaan maupun settnya jg..tapi tak mengapalah…hihihi…aku mau lanjut part selanjutnya…^o^

  3. beda benci sama cinta itu tipis..jd jgn berusaha membenci seseorang..bisa2 rasa cinta yg malah muncul dan berkembang..itu makna yg aku dpt dr part ini..bagus bgt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s