We Are EXO! (Chapter 5)

Title                 : We Are EXO!

Author             : Elisa Hutami

Main cast      :  Kim Yoo Jung  a.k.a Dara

Oh Sehun a.k.a Sehun

Xi Luhan a.k.a Luhan

Support Cast :  Yoo Young Jae a.k.a Young Jae

Genre              : School life, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Mystery

Length            : Chapter

Rating             : PG-15

Disclaimer      : Original

 

Summary         : Planet bumi yang sudah sangat lama dihuni manusia ini ternyata mempunyai banyak rahasia yang mungkin tidak akan masuk di akal manusia biasa. Salah satunya adalah sebuah pohon yang diberi nama pohon kehidupan yang kini sudah mulai mengering karena suatu alasan, dan ke-12 member EXO diperintahkan untuk tinggal di dunia manusia dengan tugas untuk mencari “sesuatu” yang bisa mengembalikan kesuburan pohon kehidupan. Namun ternyata tugas ini sangat sulit bagi mereka, karena selama di dunia manusia mereka harus bertingkah sewajarnya manusia, dan mereka juga harus pergi ke sekolah yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan, serta memiliki keluarga baru di bumi. Bagaimana cerita selengkapnya? Pantengin terus We Are EXO!

Baca Juga      :
            5st We Are EXO !

Lampu yang menyala menambah keterangan sebuah lorong yang memang sudah cukup terang karena sang raja siang masih ada di puncaknya.  Suasana lorong itu lumayan sepi, namun tetap saja masih sedikit terdengar suara hewan dari balik pintu kamar-kamar yang ada di lorong itu, karena tidak heran memang rumah sakit itu adalah rumah sakit hewan.

 

Kursi besi panjang berjejer di setiap depan pintu yang ada di lorong itu, tidak lupa juga sebuah tempat sampah yang lumayan besar ada di ujung kanan dan kiri lorong itu sebelum ada belokkan. Pemanas ruangan dan sebuah layar monitor juga terdapat di lorong itu, memberikan kesan nyaman untuk setiap orang yang duduk di sana.

 

Dua orang namja sedang duduk bersebelahan di sebuah kursi besi panjang yang terletak di dekat pintu masuk sebuah ruangan yang berada paling ujung. Mereka berseragam sekolah lengkap dan mereka juga membawa tas sekolah mereka dipunggung mereka masing-masing.

 

Salah satu namja yang duduk disana menelan ludahnya, lalu perlahan namun pasti dia membuka mulutnya “Kau… Luhan.. hyung?” namja itu menatap ke arah seorang namja yang sedang duduk disampingnya dengan rasa tidak percaya.

 

Namja yang dipanggil Luhan itu tersenyum miring “Emh..” dia menganggukkan kepala “akhirnya kau bisa mengingatku.. Thehun” namja yang bernama Luhan itu kembali tersenyum.

 

Deg! jantung namja yang ternyata Sehun itu berdetak kencang “Thehun? Jadi.. dia benar-benar Luhan hyung? hanya Luhan hyung yang memanggilku dengan sebutan Thehun, yah… apa dia benar-benar Luhan hyung? Xi Luhan hyung? Luhan hyung.. hyungku?” tanya Sehun dalam hatinya.

 

Sehun menarik napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri “Beri aku bukti!” kata Sehun mantap.

 

Luhan tersenyum “Bukti apa yang harus aku berikan? Thehun..”

 

“Apapun! yang penting itu bisa membuatku yakin kalau kau adalah Luhan hyung!” jawab Sehun yang sebenarnya dia sudah yakin bahwa orang yang ada di depannya adalah Luhan, karena memang wajahnya sangat mirip dan sikapnyapun mirip, tapi tetap saja dia takut Luhan yang ada di depannya hanyalah seorang mutan yang merubah wajahnya, karena memang mutan juga memiliki kekuatan untuk merubah wajah mereka, dan masih banyak lagi rahasia-rahasia para mutan.

 

Luhan meletakkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis ke depan dagunya, ketiga jari itu dia sentuhkan ke dagunya secara bergantian dan cepat “Kalau begitu..” Luhan terlihat berpikir “Thehun.. kau masih ingat saat aku pertama kali menamparmu? Yah.. saat itu benar-benar hebat! Setelah aku menamparmu, kau langsung mendapatkan misi pertamamu, apalagi misi itu khusus leader tujukan padamu, kau ingat kan? wah.. saat itu kau benar-benar beruntung” puji Luhan jujur.

 

Air mata memenuhi mata Sehun langsung “Luhan hyung! hanya dia yang ada di depan dorm saat itu sebelum si teleportes datang, dan dia memang menamparku, aku tidak bisa merasakan kehadiran makhluk lain saat itu, Luhan hyung.. dia memang benar-benar Luhan hyung” pikir Sehun dalam hati yang membuat air mata memenuhi matanya.

 

“Thehun?” tanya Luhan yang melihat Sehun terdiam.

 

Sehun memandang Luhan pura-pura marah  “Yah..! kenapa kau tidak bilang dari awal hyung? Aish.. cenca!” bentak Sehun mencoba menghentikan dirinya untuk menangis, ia mengangkat kepalanya agar air matanya tidak terjatuh.

 

Luhan memandangi Sehun dalam “Mianhae.. Thehun.. yah! Kau menangis?” Luhan menepuk pundak Sehun untuk beberapa kali.

 

Wajah Sehun sedikit memerang, begitupun matanya.

 

“Wahahaha.. ternyata kau masih cengeng seperti dulu” evil Luhanpun muncul, suasana berubah menjadi sedikit ceria saat ini.

 

Deg! Sehun merasa sangat terhina, dia segera memandang ke arah Luhan dengan mata sipitnya yang tajam.

 

Luhanpun memandangi Sehun dengan mulutnya yang terbuka lebar karena masih tertawa memandangi ekspresi Sehun dengan mata yang sedikit merah.

 

*Grep*

 

Sebuah pelukan hangat membuat Luhan berhenti tertawa.

 

“Thehun?” tanya Luhan lirih karena dia bingung dengan Sehun sekarang.

 

Sehun memeluk Luhan semakin erat dengan posisi duduknya di samping Luhan “Hyung.. aku benar-benar.. bahagia..”

 

Luhan yang kebingungan hanya bisa berkedip cepat dan bertahan di pelukan yang sedikit membuatnya sesak napas karena Sehun memeluk terlalu erat “Wae?” tanya Luhan polos.

 

Sehun melepaskan pelukannya, matanya terlihat sedikit merah dan juga berair “Gomawo.. karena kau datang hari ini hyung, aku benar-benar.. bahagia” Sehun tersenyum pada Luhan.

 

Luhan memiringkan kepalanya sambil memandangi Sehun heran “Thehun kau..”

 

Sehun memutar-mutarkan bola matanya, mencoba membuat agar air matanya tidak jatuh supaya dia tidak diketawai lagi oleh Luhan.

 

Luhan menatap Sehun dalam, lalu Luhan memegangi kedua pundak Sehun dari samping “Yah.. jika kau ingin menangis maka menangislah! jika kau ingin tertawa maka tertawalah! jangan menahan emosimu hanya karena kau takut ditertawakan olehku” saran Luhan yang sepertinya bisa membaca pikiran Sehun.

 

Sehunpun perlahan-lahan menangis “Heh.. heh..” dia menangis sekeras yang ia bisa, dan untungnya saat itu tidak ada siapapun di lorong itu, jadi Sehun sedikit tidak malu, tapi suara anjing menggonggong terdengar semakin kencang di lorong itu, mungkin anjing itu mengira ada temannya yang memanggil (?).

 

“Guk! Guk! Guk!” begitulah kedengarannya.

 

Luhan menepuk-nepuk pundak Sehun lagi, mencoba menenangkannya.

 

Sampai sekitar 5 menit kemudian Sehun berhenti menangis, tangannya ia gunakkan untuk menghapus air matanya “Luhan hyung gomawo..”

 

Luhan memiringkan kepalanya sedikit “Yah! Kenapa kau jadi sering bilang gomawo sekarang? Apa kau telah mengalami sesuatu? Hoh? Benarkan?” tanya Luhan penasaran.

 

Sehun mengangguk “Emh.. banyak.. banyak sekali hal yang membuatku semakin dewasa sekarang hyung” Sehun tersenyum tanpa menunjukkan giginya.

 

Luhan meletakkan tangannya di depan perutnya lalu tatapannya ia lempar ke depan, sehingga untuk saat ini Luhan dan Sehun tidak saling bertatapan “Aku juga.. setelah tinggal ditempat manusia ini aku jadi bisa merasakan emosi yang sebenarnya, begitu menyenangkan yah?” Luhan kembali memandang Sehun “apa kau kira Master punya tujuan tertentu dibalik semua ini?”

 

Sehun berpikir keras “Mungkin iya.. mungkin juga tidak” jawab Sehun polos.

 

“Yah! Aku serius aiissh cenca!” Luhan kembali memandang ke depan.

 

Sehun memandangi Luhan “Luhan hyung..”

 

“Mwo?” Luhan terlihat kesal.

 

“Peluk aku sekali lagi” Sehun memasang wajah malaikatnya.

 

“Mwo?!” Luhan tidak percaya dengan permintaan Sehun.

 

Tapi tetap saja si Luhan yang memang seorang hyung yang tidak bisa menolak permintaan dongshaengnya itu terlebih lagi dia juga sebenarnya sangat kangen kepada Sehun yang sudah lama tidak bertemu dengannya, maka Luhan memperbolehkan Sehun memeluknya lagi, lagian.. tidak ada siapa-siapa lagi disana.

 

 

Sehun melingkarkan tangannya ke leher Luhan, Luhan membiarkan tangannya tetap di depan perutnya. Kepala mereka berdua saling mereka letakkan ke bahu orang yang mereka peluk, mata mereka terpejam dan napas mereka halus. Dan ternyata diam-diam mereka berdua tersenyum senang.

 

Tiba-tiba ada dua orang perawat lewat di depan Sehun dan Luhan “Yah yah yah.. lihatlah mereka, namja yang maho tidak tahu tempat!” kata salah satu perawat blak-blakan dengan nada bicaranya yang bisa dibilang bukanlah nada orang yang sedang berbisik.

 

Luhan mengabaikan cibiran perawat itu, dan tetap memeluk Sehun.

 

“Mwo? Tapi aku kira orang yang sedang duduk dan dipeluk itu seorang yeoja, apa aku salah? Dia terlihat cantik, bahkan dari samping dan belakang” jujur perawat yang satunya blak-blakan juga.

 

Luhan kini tidak bisa menahan kesabarannya lagi karena dia merasa benar-beanr tersindir sekarang. Luhan membuka matanya, lalu melepaskan tangan Sehun yang melingkar ke lehernya.

 

Sehun menatap Luhan bingung “Hyung?” tanya Sehun heran.

 

“Minggir Thehun!” Luhan membentangkan tangannya untuk mendorong Sehun tetap duduk sedangkan dirinya berdiri, lalu Luhan mendekati kedua perawat yang sedang berjalan lambat itu.

 

“Yah..! apa yang kalian bicarakan tadi hah?” Luhan terlihat marah “siapa yang kalian bilang yeoja tadi hah? aku 100% namja, ara?” Luhan memelototi kedua perawat itu bergantian.

 

“Ma.. mana mungkin.. kau bahkan sangat cantik, lebih cantik dari member TTS! Apalagi saat kau memejamkan matamu..” kata perawat yang tadi mengatakan kalau Luhan itu seorang yeoja.

 

Luhan memutar bola matanya “Oh ayolah.. kenapa setiap orang yang baru bertemu denganku selalu membandingkanku dengan TTS, sebenarnya TTS itu apasih? Merk makanan?” pikir Luhan dalam hati dengan kepolosannya “kalian ingin buktinya hah? Apa kalian benar-benar ingin melihatnya?!” Luhan meninggikan nada bicaranya.

 

Kedua perawat memandangi Luhan bingung sekaligus penasaran.

 

Luhan tersenyum miring “Aku yakin kalian akan menyesali perkataan tadi..” Luhan memamerkan evil facenya yang lalu dia memegangi celananya.

 

“Yah no pabo?? Yah.. sebaiknya kita pergi sekarang kajja!” perawat itu menarik tangan perawat yang ada di sampingnya lalu segera pergi.

 

Sehun mendekati Luhan “Luhan hyung mowe? Kenapa kau ingin membuka celanamu didepan manusia seperti mereka?” tanya Sehun polos.

 

*Pletak*

 

Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Sehun yang bundar.

 

“Mwo? Yah.. mana mukin aku melakukan hal serendah itu, Pabo!”

 

Sehun mengelus-elus kepalanya “Yah hyung! Aish… jitakanmu ituloh.. aish” Sehun masih mengelus-elus kepalanya “lalu? Kau tadi akan apa hyung?” Sehun kepo.

 

Luhan memandang Sehun polos “Aku hanya akan mengambil kartu pelajar di celana kok, aku akan menunjukkan kepada mereka kalau jenis kelamin di kartuku itu seorang namja” jawab Luhan jujur.

 

“Ooohhhhh…..” Sehun ber-oh panjang “lalu apa maksudmu mereka akan menyesali perkataan mereka tadi hyung?”

 

“Ya.. tentu saja kalau mereka sudah tahu aku seorang namja, itu artinya mereka salah tebak dan akan menyesal kan?”

 

“Cuman itu? Ohhh…” Sehun ber-oh ria lagi, namun tidak sepanjang yang tadi.

 

Luhan merasa miris “Yah kau ingin aku jitak lagi hoh?” Luhan mengepalkan tangannya di samping telinga.

 

Sehun sedikit menekuk lutut “Ampun hyung! Yang tadi aja masih kerasa, ampun!” mohon Sehun dengan kedua tangannya yang terbuka.

 

“Baiklah, aku akan mengampunimu untuk hari ini karena kita baru bertemu, hehehe” Luhan berpikir “yah Thehun, kau tahu TTS?” sungguh perubahan topik yang sangat drastis, jadi teringat Dara?

 

Sehun memandang langit-langit “TTS.. aku seperti pernah mendengarnya..” Sehun berpikir keras, kalau saja ini kartun pasti kepala Sehun sudah mengeluarkan asap “Ah! Aku ingat!”

 

Luhan memandangi Sehun penasaran

 

“Itu nama fans clubku hyung! Teman-Teman Sehun! Iya iya itu kepanjangannya!” pikir Sehun mengarang saat itu juga.

 

Luhan terlihat sedang mencerna kata-kata Sehun.

 

“Kalau Luhan hyung percaya dia pasti benar-benar ndeso di sini, masa TTS saja tidak tahu.. hehehe, TTS itukan girl band yang sudah Go International, membernya cantik-cantik lagi hehehe.. pria sejati pasti kenal mereka” batin Sehun.

 

 

“Oh jadi TTS itu nama fans clubmu..” kata Luhan polos dengan wajah polosnya.

 

*Gubrak!*

 

Sehun pingsan ditempat.

 

“Yah Thehun! Thehun!” Luhan menggoyang-goyangkan badan Sehun yang tergeletak di atas lantai, mencoba untuk menyadarkan Sehun namun tidak juga berhasil dan memang tidak akan berhasil.

 

* * *

 

Siang hari di kamar rawat Dara, yang sebenarnya adalah kamar rawat hewan berbadan besar seperti manusia…

 

Suhu dikamar rawat sangat hangat, udara juga terasa sangat segar karena tidak ada polusi. Sehun merasa sangat nyaman berada dalam posisinya sekarang, terlebih lagi dia merasa empuk di kepalanya, tidak lupa juga seluruh badannya, dan dia juga merasa selimut lembut membalut tubuhnya “Ah.. benar-benar nyaman” pikir Sehun dalam hati “Emh.. apa kamarku sehangat ini? Dan apa bantalku setinggi ini?” tanya Sehun karena keadaannya tidak seperti di dalam kamarnya.

 

“Yah kau kira dia sudah bangun?” Sehun mendengar suara berat seorang namja yang membuat Sehun langsung berpikir “Luhan hyung?!”

 

“Ada yang tidak beres nih” pikir Sehun dalam hati.

 

“Aku kira oppa sudah bangun” kata lembut seorang yeoja yang suaranya sudah sangat tidak asing lagi bagi Sehun, Dara.

 

Sehun langsung terbangun dari tempat tidur, matanya terbuka cepat “Yah dimana aku?” tanya Sehun setelah melihat ruangan yang ia kira kamarnya namun langsung membuat dia berpikir dia salah setelah melihat banyak poster hewan terpasang di dinding kamar.

 

Dara yang ternyata berdiri si samping tempat tidur Sehun memutar bola matanya.

 

“Selamat! Kau sudah ada di kamar rawat hewan!” kata Luhan yang tiba-tiba muncul dari bawah tempat tidur, kini Luhan berdiri tepat di depan Sehun *Luhan langsung ngumpet begitu Dara bilang Sehun udah bangun ceritanya*

 

Sehun menaikkan alisnya “Mwoya? Luhan hyung kau disini?”

 

“Aku juga disini oppa!” kata Dara kesal karena merasa dikacangin.

 

Sehun tersenyum lalu menoleh ke arah Dara “Oh, aku tahu kau disitu” kata Sehun dengan senyum palsunya.

 

Dara memutar bola matanya.

 

“Yah! Kau sudah diperban? Bagaimana tadi?” kata-kata Sehun terhenti “ah itu tidak penting, jadi kita sudah boleh pulang sekarang?” tanya Sehun yang melihat Dara sudah memakai perban coklat rapi.

 

Dara memanyunkan bibirnya “Yah oppa! Seharusnya kita sudah boleh pulang 3 jam yang lalu!” Dara meninggikan nada bicaranya “tapi karena kau pingsan aku jadi harus menunggumu sampai bangun!” Dara memanyunkan bibirnya lagi.

 

“Mwo? Jadi aku pingsan selama 3 jam?”

 

“Kau enak tiduran disitu, sedangkan kami menunggumu bangun aisshhh cenca!” keluh Luhan.

 

Sehun menoleh ke arah Luhan “Muehehe.. jadi kau juga menungguku bangun Luhan hyung? Kenapa kau tidak pulang saja?”

 

Luhan menatap Dara sinis “Maunya sih begitu.. tapi karena ada seorang yeoja yang dompetnya ketinggalan di mobilnya” Luhan menatap Sehun “dan seorang namja yang aku yakin tidak membawa uang lebih untuk membayar biaya rumah sakit” Luhan tersenyum “aku jadi tidak jadi pulang”

 

Sehun menatap Luhan “Moahaha.. Luhan hyung gomawo!”

 

“Kajja oppa kita pulang!” Dara memegangi tangan Sehun “aku tidak mau lama-lama tinggal di rumah sakit hewan ini”

 

*Awh! The twinkle.. twinkle.. The twinkle.. twinkle..*

 

Sehun dan Luhan menatap ke saku rok Dara. Begitupun Dara, lalu Dara segera melepaskan tangannya dari Sehun kemudian dia gunakkan tangannya untuk mengambil smartphonenya.

 

Dara melihat ke layar “Chanyeol?” tanya Dara lirih setelah mengetahui bahwa Chanyeollah yang telah meneleponnya.

 

“Siapa dia?” tanya Sehun tidak suka “namja?”

 

“Namjachingumu menelepon?” tanya Luhan yang langsung membuat Sehun semakin marah.

 

“Yah! kau punya namjachingu?! Sejak kapan hah?! Siapa dia?!” bentak Sehun.

 

Dara menatap Sehun heran “Yah oppa.. kau percaya dengan omongan namja itu dari pada aku? Yah.. yang menelepon itu ketua kelas ganas yang jadi anggota OSIS kayak oppa loh..” kata Dara menjelaskan.

 

“Oh.. chanyeol, yasudah angkat sanah, keluar rumah sakit aja ya biar sinyalnya full” Sehun tersenyum begitu mengetahui yang menelepon adalah sahabatnya, Chanyeol.

 

Dara memutar bola matanya “Tadilah marah ada telepon, sekarang malah suruh keluar rumah sakit buat ngejawab telepon, maunya apa?” batin Dara miris.

 

Dara segera berjalan meninggalkan Luhan dan Sehun yang masih ada di kamar rawat. Tidak butuh waktu lama untuk Dara sampai di depan rumah sakit, setelah sampai Dara lalu duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih yang sudah disediakan rumah sakit di halaman depan.

 

Dara menarik napas panjang, lalu mengangkat teleponnya “Yeoboseo?”

 

“Pabo! Kenapa lama sekali kau angkat?!” bentak Chanyeol langsung setelah Dara mengangkat teleponnya, Dara menjauhkan smartphone dari telinganya untuk sesaat.

 

“Jangan meneleponku jika kau hanya ingin membentak padaku!!!” bentak Dara tidak mau kalah yang membuat orang-orang yang sedang berjalan di depan rumah sakit menatap Dara sinis, namun ya.. Dara tidak menyadarinya.

 

“Yah! kenapa kau tidak sekolah?!” tanya Chanyeol dengan nada yang masih membentak.

 

Dara berpikir “Kenapa aku harus memberitahukannya padamu? Yah.. aku bebas untuk tidak sekolah, ara?!” bentak Dara juga yang tidak mau kalah.

 

“Tapi setidaknya harus ada pemberitahuan pabo! Kau ingin besok dihukum hah?”

 

“Yah.. kalau aku dihukum juga aku ini yang dihukum, kau tidak ada hubungannya ketua ganas! Memangnya kau siapa hah?!” Dara mulai terbawa emosi.

 

Hening untuk beberapa saat.

 

“Datanglah ke sekolah pada jam malam jika kau tidak ingin dihukum, dan semoga kau sudah sembuh saat itu”

 

*Tutt tutt tutt..*

 

Chanyeol memutus telepon, Dara bernafas lega “Aish Chanyeol ini.. aish.. membuat kepalaku semakin sakit” Dara berpikir “tadi Chanyeol sepertinya bilang semoga aku sudah sembuh saat itu, apa maksudnya ya?”

 

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

 

“Yah! Apa dia tahu aku telah mengalami kecelakaan? Ah cenca? Apa semua temanku sudah tahu aku kecelakaan? Ah matilah aku.. wajahku pasti akan terpajang di majalah dan website sekolah bulan ini kalau Chanyeol memberitahukannya pada club majalah, aiishh cenca!”

 

Badan Dara langsung lemas, lalu dia menatap layar smartphonenya lagi “Mwoya? 16 missed call dan 5 sms, dari siapa yah?” Dara kepo.

 

Dara membuka smsnya satu persatu.

 

From : Kyung Soo ( 07.10 )

Dara kau baik-baik saja? Aku melihat mobil ferrarimu rusak parah di pinggir jalan saat aku pergi ke sekolah, itu mobilmu kan? dimana kau sekarang? Kabari aku ya J aku sangat mencemaskanmu sekarang.

 

Dara terharu “Kyung Soo, ah.. kau benar-benar teman yang baik”

 

From : Revi ( 07.30 )

 

Yah Dara! Mentang-mentang hari ini ulangan matematika kau jadi tidak berangkat, curang! Kalau aku tahu, aku juga akan tidak berangkat!

 

“Mwoya? Ulangan matematika? Kenapa aku bisa lupa? Ah.. ternyata semua bencana pasti ada hikmahnya yah? Aku jadi tidak ikut ulangan hehehe” Dara tersenyum lebar.

 

From : Baekhyun Oppa ( 07.50 )

 

Aku sms Sehun tapi gagal, yah.. apa kalian baik-baik saja sekarang? Sehun tidak berangkat hari ini.

 

“Ternyata Sehun oppa punya teman yang waras juga yah? Hehehe, ngomong-ngomong tumben baekhi oppa waras” tanya Dara.

 

From : Kai Oppa ( 09.00 )

 

Dara Daebbak! Mobilmu jadi trending topic di Yahoo!

 

Dara mengangkat alisnya “Mwoya si pangeran online ini? Mm.. yahoo?” Dara berpikir “jika di yahoo aku sudah jadi trending topic, terus bagaimana di sekolahku nanti? Aiisshhh cenca! Aku tidak mau terkenal!!!” jerit Dara yang membuat burung-burung kecil terbang dari pohon yang dekat dengan kursi yang Dara duduki.

 

From : Chanyeol ( 11.35 )

 

Datang ke sekolah pada jam malam jika kau tidak ingin besok dihukum!

 

“Mwoya? Ketua ganas ini benar-benar tukang paksa.. aissh.. kenapa orang menyebalkan seperti dia harus jadi ketua kelas dan jadi wakil OSIS?” Dara mengecek missed callnya “mwoya? Semuanya Chanyeol?” tanya Dara heran melihat 16 missed call dan semuanya tertulis Chanyeol “yah.. ketua ganas ini benar-benar tlaten” pikir Dara kagum “tapi kapan dia telepon yah?”

 

Dara memasukkan smartphonenya ke saku roknya “Nanti aku pinjam hp namja baby face sajalah, sekarang aku tidak sedang punya bonus sms gratis, hehehe” Dara menarik napas panjang lalu berdiri.

 

*Tin.. tin.. tin..*

 

Dara menengokkan wajahnya ke arah tlakson mobil.

 

“Oppa!” Dara segera berjalan ke mobil ungu yang berada tidak jauh di depannya.

 

Tidak butuh waktu lama untuk Dara sudah sampai di mobil itu.

 

“Oppa sudah mau pulang?” tanya Dara dari samping jendela mobil yang di dalamnya ada Luhan yang sedang memegangi setir, dan Sehun yang sedang duduk di depan Dara.

 

“Oh, masuklah!” perintah Sehun singkat.

 

Dara segera masuk ke mobil ferrari ungu milik Luhan, Dara duduk di belakang sedangkan Luhan dan Sehun duduk di depan.

 

Mobilpun dijalankan.

 

* * *

Di perjalanan.

 

“Luhan boleh aku pinjam hpmu?” tanya Dara pada Luhan.

 

Luhan mengangkat alisnya, pandangannya masih tetap fokus ke depan “Yah! Siapa yang kau panggil Luhan, anak kecil?”

 

“Mwo? Anak kecil kau bilang?” Dara mengangkat alisnya.

 

Sehun menoleh ke belakang “Luhan hyung itu lebih tua dariku, kau harus menghormatinya”

 

“Ah mian oppa, aku hanya.. tertipu oleh wajah baby face Luhan, eh maksudku.. Luhan oppa? Dia terlihat seumuranku soalnya, hehehe”

 

Sehun mengangkat alisnya “Ja.. jangan panggil dia oppa, panggil sunbae saja!” saran Sehun yang tak rela ada orang yang baru dikenal Dara namun langsung dipanggil oppa oleh Dara, Sehun lalu kembali menghadap ke depan.

 

“Jadi.. mana hpnya Luhan …sunbae?” Dara menyodorkan tangannya ke depan.

 

Luhan memutar bola matanya, dia gunakkan tangan kirinya untuk mengambil hp lalu dia sodorkan ke belakang tanpa ia lihat.

 

Dara segerah meraih hp merk SAMSUNG berwarna putih itu “Jadi ini hpnya Luhan? Lumayan..” batin Dara.

 

Dara segera membuka lockscreen hp itu.

 

 

 

“Woah.. Luhan kau terlihat manly sekali di foto ini, eh maksudku Luhan sunbae” kata Dara setelah melihat wallpaper hp Luhan.

 

“Tentu saja! Aku itu memang manly tahu! Kau saja yang tidak sadar-sadar”

 

“Emh, iyakan sajalah” lalu Dara mengetik sms.

 

For : Kyung Soo

 

Kyung sooya.. aku ingin curhat! Banyak yang terjadi hari ini L tapi tidak lewat hp. Oh Dara.

 

For : Revi

Pabo! Aku habis kecelakaan jadi tidak sekolah, tapi sebenarnya aku tidak tahu akan ulangan matematika hari ini loh, hehehe. Oh Dara.

 

For : Baekhyun Oppa

 

Sehun oppa dan aku habis kecelakaan, tapi kami baik-baik saja sekarang. Oh Dara.

 

For : Kai Oppa

 

 

Wow! Sebentar lagi aku akan jadi artis nih oppa! Oh Dara.

 

“Sms Chanyeol aku balas tidak yah?” pikir Dara keras “ah tidak usahlah.. lagian pasti nanti dia akan memarahiku seperti tadi” gumam Dara lirih.

 

“Ini hpnya” Dara menyodorkan hp ke depan, tangan Luhan terjulur ke hp itu.

 

Dara memperhatikan seragam sekolah yang dipakai Luhan “Seragam itu.. aku seperti pernah melihatnya deh, dimana yah?” Dara berpikir keras “oiya! Itu seragam Wu High School! Uhuk!” Dara tersedak, padahal saat itu dia tidak sedang minum “kau.. kau murid Wu High School?!” Dara menatap Luhan dengan tatapan tidak percaya.

 

“Wae? Kau baru sadar?” Luhan masih fokus menyetir.

 

“Yah..! kau benar-benar sekolah disana? Wah.. bodohnya aku baru menyadari seragam itu!”

 

“Wu High School?” tanya Sehun pada Dara.

 

Dara menghadap Sehun “Iya oppa, SMA terfavorite sebelum SMA kita, SMA itu sangat besar… sekali, dan semua fasilitasnya lengkap, murid-muridnya juga terpilih” *bla bla bla* Dara mulai mengoceh panjang.

 

“Tidak beda jauh kok dari sekolah kita” bela Sehun.

 

Luhan tidak perduli dengan omongan Sehun dan Dara, dia tetap fokus menyetir.

 

Sehun memandangi pemandangan dari balik jendela mobil “Yah Luhan hyung.. ini bukan jalan ke rumahku” Sehun cemas.

 

Luhan memandang ke arah Sehun sebentar “Ah.. aku harus ke sekolah dulu sebentar, mian.. setelah itu aku akan mengantar kalian pulang”

 

“Yah! Kenapa tiba-tiba kau harus ke sekolah?!” tanya Dara nyambung-nyambung tidak terima.

 

“Ada yang ingin bertemu kau Thehun” perkataan Luhan tadi sukses membuat Sehun sedikit gelisah.

 

“Bertemu oppa? Murid Wu High Schoolkah?” Dara memandangi Sehun penasaran.

 

“Mwo? Siapa yang ingin bertemu denganku? Aku bahkan tidak punya teman atau kenalan siapapun di Wu High School, Luhan hyung.. apa yang kau rencanakan?” tanya Sehun dalam hati sambil melihat ke arah Luhan yang ternyata sedang tersenyum.

 

“Ah.. kita sudah sampai, lihat! Itu sekolahku!” Luhan menunjuk ke arah Wu High School yang ada di depannya, lalu dia berhentikan mobilnya di depan gerbang.

 

“Woah..! ternyata sekolah ini lebih bagus dari yang ada di internet! Bahkan bagian depannya saja sudah seperti hotel, ne oppa?” Dara yang setengah berdiri itu memandangi Sehun yang kepalanya saat ini ada di samping kepalanya.

 

“Ah biasa saja, bagusan Kim High School” kata Sehun datar membela sekolahnya.

 

“Luhan… sunbae..! kau beruntung sekali sekolah disini” kata Dara kagum.

 

“Yah! Sekolah inilah yang beruntung aku masuk ke sekolah ini, ara?” bantah Luhan.

 

*Tok.. tok.. tok..*

 

Seorang ajhussie berpakaian satpam mengetok jendela mobil Luhan.

 

“Yah! Jam berapa sekarang? Cepat turun! Akan ku beri hukuman kau!” ancam satpam itu.

 

Sehun dan Dara ngeri mendengar perkataan satpam itu “Untung satpam di sekolahku tidak sekejam itu” pikir Sehun “untunglah waktu itu aku dimasukkan ke sekolahku yang sekarang, apa yang akan terjadi kalau aku masuk ke sekolah ini?” pikir Dara.

 

Luhan hanya memutar bola matanya “Yah Thehun, Dara, mau aku tunjukan hal yang menarik?” Luhan memandang Dara dan Sehun bergantian.

 

Dara menganggukkan kepalanya penasaran. Sehun hanya menatap Luhan datar “Kali ini apa lagi hyung” gumam Sehun lirih.

 

Kaca jendela langsung terbuka, memperlihatkan wajah seorang ajhussie berumur 40 tahunan yang kini melotot ke wajah Luhan.

 

Luhan hanya membalas pelototan ajhussie itu dengan senyuman baby facenya “Apa.. ada masalah?” Luhan masih tetap tersenyum.

 

“Ah..” Ajhussie itu terlihat gelagapan, lalu membungkukkan tubuhnya pada Luhan “Chwesong hamnida!” ajhussie itu kembali berdiri tegak “akan saya bukakan gerbangnya segera” ajhussie itu langsung membukakan gerbang dan mempersilahkan Luhan masuk dengan ramahnya.

 

“Ottoke? Mengejutkan bukan?” Luhan memandangi Sehun dan Dara yang sedang menatap Luhan penuh arti.

 

“Yah daebak! Kau hanya tersenyum dan satpam itu langsung mempersilahkan masuk, daebak!” Dara lalu bertepuk tangan.

 

Sehun yang tadi kagum kini merubah ekspreseinya menjadi datar kembali “Lain kali aku harus tersenyum pada ajhussie itu, pasti dia juga akan membuka gerbang, yah.. kuncinya adalah tersenyum!” pikir Sehun dalam hati yang sebenarnya salah pengertian.

 

“Hehehe.. akukan murid kebanggaan sekolah ini” Luhan membentuk huruf V dengan jarinya.

 

Saat gerbang sudah dibuka total, merekapun masuk ke dalam Wu High School.

 

* * *

 

Sehun, Dara, dan Luhan sedang berjalan bersebelahan di sebuah lorong yang menghubungkan antara kelas yang satu dengan yang lainnya. Di lorong itu hanya terdapat mereka bertiga karena murid yang lain sedang pelajaran, dan para seonsangnim juga sedang mengajar.

 

Dara memandangi dinding-dinding lorong yang banyak terpasang papan persegi panjang berisi kertas dengan tulisan tangan“Mwoya? Setiap papan pasti punya artikel tentangmu Luhan sunbae, apa kau benar-benar terkenal disini?” kata Dara tidak percaya.

 

Luhan memutar bola matanya “Setelah melihat semua ini, apa kau masih mempertanyakannya hah? Jelas saja aku sangat terkenal! lihatlah.. bahkan satpam saja patuh padaku kan? kau tahu kenapa?”

 

“Karena.. kau jadi donatur terbesar di sekolah ini?” tanya Dara tidak heran karena melihat sosok Luhan yang sepertinya adalah keturunan istana.

 

“Sebenarnya itu juga termasuk, tapi…” Luhan mendekatkan mulutnya ke telinga Dara “tapi karena satpam itu salah satu fansku, hehehe”

 

Sehun memutar bola matanya “Luhan hyung, dari dulu kau selalu saja pamer, kau seperti Suneo di manga Doraemon tahu!”

 

Luhan menatap Sehun yang sedang berdiri di samping Dara “Biar saja, dari pada kau.. yah, apa yang bisa kau pamerkan? Seberapa banyak jumlah DVD dewasamu?” sindir Luhan yang begitu mengenal sosok Sehun.

 

“Hahaha..” Dara tertawa lepas di lorong yang sunyi itu.

 

Wajah Sehun memerah karena malu “Y..yah!” bentak Sehun.

 

“Ahahaha.. wajahmu lucu sekali kalau malu Thehunya..” Luhan mengelus kepala Sehun.

 

Sehun tertunduk dengan wajah yang semakin merahnya “Ge.. geumanhae.. hyung” kata Sehun malu-malu.

 

Dara memandangi kelakuan kedua namja itu aneh, lalu tiba-tiba perut Dara terasa sakit “Luhan sunbae.. dimana toiletnya?”

 

Luhan menghentikan kegiatan mengelus kepala Sehun, lalu Luhan menatap Dara “Kau mau apa?”

 

“Yah kau masih bertanya? Mungkinkah aku ke toilet untuk makan? Yah sunbae.. cepat beritahu aku” mohon Dara.

 

“Kalau sedang butuh kau lancar memanggilku sunbae, ah.. dari sini kau lurus ke sana lalu belok kiri, larilah ke ruangan paling pojok di sana, dekat dengan kelas 3-6 itu toilet yeoja”

 

“Ah…” Dara memegangi roknya “gomawo sunbae..” lalu dia pergi meninggalkan Sehun dan Luhan di lorong kelas.

 

Sehun  memandangi Dara dari belakang, begitupun Luhan.

 

Setelah sosok Dara menghilang dari lorong yang lumayan panjang itu, Luhan langsung memandangi Sehun dari samping “Thehun tarrawa!”

 

 

Luhan memegangi pergelangan tangan Sehun lalu menariknya untuk berlari bersama ke arah yang berlawanan dengan Dara tadi.

 

“Yah!” bentak Sehun lagsung ketika dia hampir jatuh karena tangannya tiba-tiba ditarik untuk berlari “odiya?” tanya Sehun yang kini sudah beradaptasi untuk berlari.

 

“Kita akan ke ruang olahraga, ada yang ingin menemuimu disana” jawab Luhan masih sambil berlari.

 

Sehun menaikkan alis kirinya “Mwo? Siapa sebenarnya yang ingin menemuiku hyung?” tanya Sehun penasaran.

 

“Kau akan tahu nanti” Luhan masih fokus berlari melewati lorong-lorong kelas yang sepi karena saat itu sedang jam pelajaran.

 

Sehun hanya memasrahkan tangannya yang ditarik oleh Luhan yang bisa dibilang sangat jago berlari itu “Mungkinkah Luhan hyung atlet lari di sini? Ah.. maldandwae!” pikir Sehun dalam hati.

 

Saat mereka sudah sampai di ruangan olahraga.

 

Luhan melepaskan tangan Sehun tepat di depan pintu ruangan.

 

Sehun membungkukkan badannya, meletakkan kedua tangannya di lutut dengan napasnya yang terengah-engah.

 

 

Luhan menatap Sehun kebawah “Yah.. kita hanya berlari tidak lebih dari 15 menit, kau sudah kelelahan?” Luhan mengece Sehun.

 

Sehun lalu kembali berdiri, dan napasnya sudah teratur kini “Hyung..” Sehun menatap datar Luhan “kau ingin membunuhku yah?” Sehun menaikkan kedua alisnya, membuatnya sedikit menakutkan.

 

“Hahahaha” Luhan tertawa lepas “yah.. mana mungkin berlari kurang dari 15 menit akan membunuhmu? Pabo!” tangan kanan Luhan menonjok dada Sehun pelan “kau tidak boleh lemah seperti manusia, kau itu bukan manusia” Luhan mengakhiri kata-katanya dengan senyuman miringnya.

 

Sehun berpikir keras “Benar juga! Kenapa aku bisa selelah ini ya?” pikirnya dalam hati.

 

“Sudahlah jangan berpikir! Masuklah, mereka sudah menunggu” Luhan membukakan pintu ruang olahraga.

 

“Mereka? Apa yang ingin menemuiku lebih dari seorang?” pikir Sehun dalam hati.

 

 

 

Sehun berjalan masuk ke dalam ruangan “Woah!” Sehun terkesan dengan ruangan olahraga itu yang 2B1R yaitu Besar, Bersih, dan Rapi. Lantai lapangan basketnya juga seperti baru dicat, warnanya masih bagus dan begitu mengkilap jika terkena cahaya lampu dari atas. Meja tenis juga tersusun rapi, pokoknya sangat wow!.

 

Luhan menutup pintu lalu berdiri di samping Sehun “Terkesan?” Luhan menarik napas “apa di sekolahmu tidak ada yang seperti ini?”

 

Tatapan Sehun kembali datar, lalu dia menatap wajah Luhan “Hyung.. kau ingin aku tiup dengan anginku ke got sekolahmu? Yah.. jangan mengece sekolahku!”

 

“Hahaha..” Luhan tertawa lepas lagi “yah.. aku tidak bermaksud seperti itu” Luhan menatap Sehun, Sehun masih menatap Luhan datar “ah.. ayo kita ke ujung sana! Mereka pasti sudah menunggu kita”

 

Luhan berjalan ke ujung kanan ruangan, melewati lapangan basket yang sangat luas. Sehun hanya mengikutinya tanpa berkata apapun.

 

Luhan menghentikan langkahnya, Sehun juga berhenti di belakang Luhan.

 

“Mwoya? Kenapa kau malah berhenti di depan tembok hyung?” Sehun menatap Luhan aneh dari belakang “sebenarnya siapa yang ingin menemuiku?”

 

Luhan tidak menjawab.

 

Keadaan hening untuk beberapa saat..

 

Tangan kanan Luhan terangkat menekuk 90 derajat ke depan, napasnya teratur, dan matanya fokus menghadap ke dinding yang ada didepannya. Luhan benar-benar sedang berkonsentrasi saat ini, lalu tiba-tiba.

 

 

“Hyung! Temboknya terbelah!” kata Sehun langsung yang melihat dinding di depannya saling terdorong ke sisi menjauhi hadapan Luhan. Sampai akhirnya menyisakan bolongan besar tepat di depan Luhan.

 

Luhan membuang napas, lalu berbalik ke belakang “Kajja!” ajak Luhan yang lalu melangkah sampai kini dia persis di bolongan besar.

 

Sehun tetap diam di tempat, menatap Luhan dengan tatapan tajamnya “Hyung.. kau.. kau telah menggunakan EXO Power! Maka kau..” Sehun seperti akan menangis saat itu membayangkan jika Luhan akan bertemu dengan mutan, dan mungkin dia akan segera diserang oleh mutan saat ini juga, karena dia telah menggunakkan EXO Powernya.

 

 

Luhan menatap Sehun dalam-dalam, lalu tawanya pecah “Hahaha” Luhan memegangi perutnya “kau membuatku tertawa terus Thehun.. ahahaha.. ekspresimu itu loh”

 

Sehun menatap Luhan mantap “Hyung! Kau sadar apa yang telah kau lakukan, kan?”

 

Luhan berhenti tertawa “Kau kira aku sedang mabuk? Tentu saja aku sadar sekarang” Luhan menarik napas “masuklah, aku akan menjelaskannya di dalam, mereka sudah lama menunggumu”

 

Sehun berjalan ke ruangan di balik dinding yang ternyata membuatnya kagum lagi “Woah!” katanya tanpa bersuara.

 

Ruangan itu memang tidak terlalu luas, hanya berukuran seperti sebuah kamar tidur biasa. Namun di ruangan itu penuh dengan barang-barang antik bergaya Eropa, catnya berwarna hijau gelap yang membuat kamar itu terlihat begitu mewah.

 

Luhan berkosentrasi untuk mengembalikan keadaan dinding kembali seperti semula, lalu hanya dalam beberapa detik saja dinding sudah kembali seperti semula, tidak ada bolongan disana.

 

Sehun memandangi Luhan yang kini sedang berjalan melewatinya, Luhan duduk di sebuah kursi yang ada di kamar itu.

 

 

“Ehem..ehem..” Luhan mengetes suara “Thehun, welcome to our dorm!” kata Luhan dengan nada bicara yang dibuat keren.

 

Sehun menaikkan alisnya karena suara Luhan tadi malah terdengar seperti suara seorang yeoja.

 

“Oh Sehun selamat datang, wah.. kau tambah tinggi sekarang” kata seorang namja yang lalu berdiri di samping Luhan.

 

Sehun memandangi namja itu “Siapa dia? Apa aku mengenalnya?” tanya Sehun dalam hati.

 

 

“Sehun kau haus?” kata seorang namja berkemeja putih yang sontak membuat Sehun memandanginya, namja itu duduk bersebelahan dengan seorang namja lagi yang sama-sama sedang meminum wisky.

 

“Apa kau masih tidak suka wisky, Sehun?” tanya seorang namja yang memakai rompi gelap.

 

Sehun memandangi namja itu heran “Bagaimana dia tahu aku tidak suka wisky?” tanya Sehun dalam hati.

 

 

Pandangan Sehun kini tertuju ke pojok ruangan, disana sedang berdiri seorang namja memakai baju biru tua.

 

“Sehun! senang bertemu denganmu lagi, kau baik-baik saja kan?” tanya namja itu setelah melihat Sehun memandanginya.

 

Deg! jantung Sehun langsung berdetak kencang, Sehun memandangi ke-5 namja yang ada di ruangan itu secara bergantian, tangannya mengepal kencang kemudian wajahnya tertunduk.

 

Sehun mengatur napas panjang, mencoba untuk memantapkan hatinya, lalu menaikkan kepalanya “Mu.. mungkinkah.. kalian.. member EXO?”

 

* * *

 

 

Dara kini sedang mencuci tangannya di dalam toilet wanita, wajahnya memandangi ke cermin besar yang ada di depannya sekarang “Mungkin sebentar lagi akan datang, ah.. karena itu perutku sakit sekali!” keluh Dara yang masih memandangi cermin.

 

*breng!*

 

Pintu toilet dibuka dengan sangat keras sehingga suara yang terdengarpun keras. Lalu seorang yeoja dan namja masuk ke dalam toilet itu, Dara memandangi mereka dari cermin.

 

“Yah.. lepas! Lepaskan aku pabo!” kata seorang yeoja yang kedua tangannya di pegangi erat oleh namja itu.

 

“Kau pikir aku akan melepaskanmu hah? Setelah apa yang kau lakukan? Kau kira aku akan mengampunimu hah?!” bentak namja berbadan tinggi yang sedang memegangi tangan yeoja itu kasar.

 

Dara menutup kran, dia memandangi namja itu dengan tajam untuk beberapa saat. Deg! tatapannya dengan tatapan namja itu bertemu di cermin.

 

“Yah! Kenapa kau masih disini? Cepat keluar!” bentak namja itu yang masih memandangi Dara lewat cermin.

 

Dara memutar bola matanya lalu berjalan ke pintu masuk sekaligus pintu keluar toilet.

 

“Jeball.. geumanhae.. jeball..” mohon yeoja itu kepada si namja.

 

Hal ini sontak membuat Dara mengurungkan niatnya untuk membuka pintu toilet, Dara berbalik badan lalu menghampiri yeoja dan namja itu yang kini sedang berada di depan cermin.

 

“Mian tapi.. ini toilet yeoja, namja dilarang masuk!” kata Dara pada namja itu.

 

Namja itu melepas pegangannya pada yeojanya “Kau cari masalah hah?” namja itu menatap Dara tajam.

 

“Mian tapi, peraturan adalah peraturan” Dara memantapkan bicaranya.

 

Namja itu memutar bola matanya, kemudian berdiri menghadap Dara, pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, namun kemudian namja itu mengayunkan tangannya ke wajah Dara untuk memukulnya.

 

*Pluk..!*

 

Dara berhasil menangkis serangan tangan namja itu, secepat kilat, Dara langsung memplintir tangan namja itu dan membuat namja itu membelakangi Dara dengan kedua tangannya yang masih dipegang Dara kencang.

 

“Minta maaflah pada yeoja itu, maka aku akan melepaskanmu!”

 

“Cuwih!” namja itu meludah ke samping.

 

Dara menatap tidak percaya “Yah namja ini cenca..!”

 

Saat itu pegangan Dara sedikit melonggar, lalu namja itu menendang ke belakang dan ternyata mengenai purut Dara persis, yang lalu membuat Dara termundur sambil memegangi perutnya.

 

Dara terjatuh di atas lantai, tangannya memegangi perutnya karena sakit “Aish.. perutku aish..” rintih Dara kesakitan, tahu kan kalo yeoja mau PMS itu sakit perutnya kayak apa? Lebih-lebih kalau perutnya ditendang, uh! Sakit banget pasti.

 

Namja itu berbalik badan “Yah.. lihatlah yeoja yang sok ingin jadi pahlawan ini..” namja itu berjongkok tepat di depan Dara, namja itu mengangkat dagu Dara “kau cantik juga.. lebih cantik dari yeoja murahan yang sedang menangis disana” namja itu memandangi yeojanya sesaat.

 

Dara mengepalkan tangannya “Cuih!” dia meludah tepat di depan wajah namja itu.

 

Namja itu sontak berdiri dan membersihkan ludah Dara dengan tangannya “Yah.. kau cenca! Semua yeoja pasti menyebalkan! kau kira setelah kau seperti ini aku akan memaafkanmu?” namja itu memandang ke sekitar “tidak akan!”

 

Yeoja yang dibela oleh Dara tiba-tiba saja berlari meninggalkan toilet “Mwoya? Aku sedang membelanya, dia malah mencuri kesempatan dan kabur? Yah..! aish yeoja itu cenca! Ah.. perutku sakit lagi, ah!!” jerit Dara dalam hati.

 

Namja itu membiarkan yeojanya pergi “Yah lihatlah.. orang yang kau bela malah pergi” namja itu memandang ke arah Dara dengan senyuman miringnya.

 

Dara tidak mengindahkan perkataan namja itu, dia kini malah terus memegangi perutnya “Ah sakit!” batinnya dalam hati.

 

“Tapi tidak apalah, kau terlihat lumayan cantik” tiba-tiba namja itu mendekati Dara lalu memegangi kedua tangan Dara.

 

Dara memandangi namja itu tidak percaya “Yah apa yang akan kau lakukan?!” Dara terlihat gelagatan melihat wajah namja itu yang semakin lama semakin mendekat.

 

“Aku akan memberikan sebuah hukuman yang pantas untukmu” kata namja itu yang lalu tersenyum dan kini jarak wajah Dara dan namja itu mungkin hanya 5cm.

 

Dara tidak kehilangan pikiran, dia segera menekuk kakinya, lalu mengarahkan ujung kakinya ke bagian sensitive namja itu.

 

“Ah!” rintih namja itu langsung yang kemudian menjauhkan wajahnya dari Dara.

 

Dara mencuri kesempatan emas, dia lalu berdiri dan berlari secepat yang ia bisa ke arah pintu.

 

*Grep!*

 

Bahu kanan Dara ditarik ke belakang begitu Dara sudah memegangi gagang pintu.

 

“Ha!” kata Dara kaget.

 

Badan Dara ditarik ke samping tembok dengan cepat.

 

*Bruk!*

 

Begitulah bunyinya ketika punggung Dara bertemu dengan tembok.

 

“Yah apa yang kau..” kata-kata Dara langsung terhenti melihat mata namja itu yang mungkin hanya berjarak 10 cm dari matanya.

 

Namja itu menyenderkan kedua tangannya di samping kepala Dara, mencegah Dara jika dia ingin kabur “Kau telah melakukan kesalahan, kau harus dihukum!” kata namja itu yang lalu memejamkan matanya dan perlahan namun pasti wajahnya didekatkan ke wajah Dara.

 

Dara gelagatan, tidak ada celah baginya untuk kabur “Kya! Sehun oppa Luhan sunbae tolong aku! Kumohon siapapun tolong aku! Aku tidak mau melakukan first kissku untuk orang yang tidak aku cintai, Oppa tolong! Ah cenca siapapun tolong datanglah kemari dengan cepat, selamatkanlah first kissku! Jeball!!!“ jerit Dara dalam hati dengan cepat.

 

Entah mengapa, tiba-tiba saja Dara teringat dengan seorang namja yang memiliki kemampuan teleportation, yang pernah dia temui di atap sekolah, dan seorang namja yang datang tengah malam ke kamarnya “Yoo Young Jae! Tolong aku! Young jae!” jerit Dara yang tidak dia pendam dalam hatinya.

 

*Bhusss…*

 

Abu hitam langsung memenuhi seisi toilet untuk beberapa detik, lalu kemudian menghilang dan menyisakan seorang namja berpakaian seragam Wu High School lengkap.

 

Namja yang akan mencium Dara itu lalu menghentikan tindakannya dan segera menjauhkan wajahnya dari Dara begitu dia merasakan kehadiran orang lain di toilet itu. Namja berbadan tinggi itu kini memandangi seorang namja yang baru saja hadir di toilet yeoja itu.

 

Dara juga memandangi sosok namja yang tiba-tiba hadir itu “Yah.. dia benar-benar datang” kata Dara kagum.

 

Namja yang baru datang itu memandangi Dara “Oh Dara, kau memanggilku?” tanya namja yang sudah jelas adalah Yoo Young Jae yang diakhiri oleh senyuman tipisnya.

 

= TBC Chapter 6 =

10 pemikiran pada “We Are EXO! (Chapter 5)

  1. CHAPTER INI NGAKAK MAKSIMAL. Keren banget deh youngjae kalau teleport kali yaa*-* kai astaga ngakakkk, yang lain nanya dara baik baik aja dia malah muji gara gara mobilnya masih yahoo wakks keep writing! Next!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s