Flipped (Chapter 2 – END)

Flipped Part 2/2

Author                         :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Cast

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo

Support Cast

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Oh Sehun
  • Park Gayoung (OC)
  • Song Jinhyuk (OC)
  • Sally Park (OC)

Genre                         :           Romance, Comedy, School-life

Rating                                     :           PG15

Recommended Song   :           HowL ft J (Perhaps Love), G.Na (Kiss Me)

 

Thanks to “Flipped” one of my favorite movie ever which gave me inspiration to write this fanfic. Happy reading and don’t forget to leave your comment.

Flipped

 

~oOo~

 

Yoonjoo’s POV

Dari semua teman-teman sekelasku, satu-satunya orang yang tak bisa kutebak adalah Baekhyun. Sampai belum lama ini, aku pasti akan dengan yakin mengatakan bahwa dia jauh lebih bernilai dari bagian-bagiannya tapi kini aku ragu.

“Halamanmu terlihat indah” sapa Baekhyun tak seperti biasa

Aku menoleh sebentar lalu berbasa-basi “Terima kasih. Ini berkat bantuan kakekmu juga”

“Maafkan perbuatanku itu”

“Perbuatanmu yang mana?” tanyaku lebih lanjut

“Tentang telur-telurmu”

“Aku tak mengerti Baekhyun, kenapa kau tak mengatakannya padaku?”

Apakah dia benar-benar menyesal atau dia hanya asal mengatakannya untuk mengurangi rasa bersalahnya? Lalu kupikir mungkin aku yang menginginkannya lebih bernilai tapi saat kutatap matanya, mata yang menawan itu, untuk pertama kalinya aku yakin bahwa seorang Byun Baekhyun kurang bernilai

~oOo~

Hari minggu adalah hari tenang dirumah kami. Ayahku tidur sampai siang, Ibuku tak memasak sarapan tapi minggu ini aku bangun dengan perasaan aneh. Aku harus melakukan sesuatu untuk hilangkan perasaan campur adukku. Aku tahu darimana timbulnya perasaan ini, semua ini dikarenakan akan ada makan malam tahunan yang diadakan keluarga Byun dan pasti mereka akan mengundang keluargaku. Aku tak terlalu bersemangat untuk makan malam bersama keluarga Byun tapi aku merasa itu sangat penting bagi Ibuku yang sangat akrab dengan bibi Byun.

Keesokan harinya disekolah, aku tak bisa berkonsentrasi.

“Byun Baekhyun menyukaimu”

“Apa?”

Perkataan Gayoung menelusup masuk kedalam telingaku

“Dia suka sekali padamu”

“Apa yang kau bicarakan? Byun Baekhyun tak suka padaku”

“Oh ya? Dikelas Biologi, aku memergokinya sedang menatapmu, katanya karena dirambutmu ada lebah. Itu alasan konyol kan?”

“Mungkin memang ada lebah dirambutku”

“Hey Yoonjoo, kau tahu apa sebutan lebah dalam bahasa inggris?”

“Bee”

“Yes Bee, cara membacanya sama dengan cara mengeja huruf ‘B’ atau Bi dalam bahasa inggris dan kau tahu? Satu-satunya ‘B’ yang tertarik padamu adalah B-A-E-K-H-Y-U-N. Kukatakan padamu, dia tersesat dipulau cin—“

Brakkk…

“Jangan mengkhayal!”

Aku dan Gayoung sama-sama menoleh kearah pemilik tangan yang menggebrak meja kami, tidakkah dia tahu ini perpustakaan?

“Apa kau bilang? Baekhyun suka pada wanita aneh ini?”

Sally Park, lagi-lagi Sally Park

“Hey jaga bicaramu sebelum aku menjahit mulutmu” ancam Gayoung, aku baru hendak menariknya pergi sebelum dia mengeluarkan semua kemarahannya namun Sally segera mengatakan sesuatu yang membuatku merasa sangat sakit hati

“Apa kau tahu kalau Baekhyun selama ini menganggapmu wanita yang punya gangguan mental? Ya mungkin hanya Sehun yang sering mengatakannya dan apa kau yakin Baekhyun tidak berpikiran yang sama melihat dia dan Sehun merupakan teman dalam satu Tim. Baekhyun sudah kembali bergabung bersama Club Baseball dan aku rasa itu artinya dia setuju dengan gagasan Sehun. Kau memang benar-benar wanita aneh yang tidak tahu malu dan berharap terlalu tinggi”

Dan itulah saatnya, keraguanku hilang sudah. Aku yakin aku tak lagi menyukai Byun Baekhyun.

“Hey apa kau benar-benar mau aku menjahit mulut kurang ajarmu itu?”

“Sudahlah Gayoung, tak ada gunanya kita meladeni buaya betina seperti dia”

“Buaya? Apa kau bil—ya ya kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!”

~oOo~

Malam ini waktunya acara itu diadakan. Saat aku berdandan untuk menghadiri makan malam itu, aku mendapati diriku menatap lukisan dari Ayahku dan kembali kesal. Baekhyun tak pernah menjadi temanku, dia tak pernah memihakku untuk pohon itu, dia membuang telurku, dan dia menyebutku mempunyai gangguan mental. Saat Ibuku memanggil untuk berangkat, aku keluar dengan tekad untuk mengatakan bahwa aku tak bisa ke rumah keluarga Byun tapi Ibu terlihat begitu bahagia dan sudah bersusah payah membuat pie dan hal itu membuatku tak mampu mengatakannya. Tapi itu bukan berarti aku harus beramah-tamah dengan Baekhyun.

Paman dan Bibi Byun juga kakek menyambut kami dengan ramah dan disana kulihat Baekhyun sedang berdiri memakai kemeja berwarna biru langit yang bagian lengannya sedikit digulung. Tak ada yang special, hanya saja tanpa harus bergaya macam-macam pun dia sudah terlihat tampan. Oh Han Yoonjoo, kembalikan akal sehatmu.

“Hai”

Aku menanggapi sapaannya dengan senyuman dipaksakan

“Kau terlihat cantik”

Apa ini? Dia memujiku? Untuk mengurangi rasa bersalahnya karena mengataiku cacat mental?

“Aku dengar kau dan Sehun mengataiku punya gangguan mental dan aku tak mau bicara denganmu. Tidak sekarang atau selamanya” ujarku tegas

Aku bangga bisa memimpin, aku merasa kuat dan terkendali. Aku katakan perasaanku pada Baekhyun dan aku bertekad untuk tak bicara dengannya sepanjang malam ini. Diakhir malam itu, aku merasa terbebas, netral. Tak ada letupan perasaan, sisa kemarahan, tak ada debaran, atau apapun. Aku tidur malam itu merasa damai dan aku merasa lega tak lagi peduli pada Byun Baekhyun.

End Yoonjoo’s POV

 

Baekhyun’s POV

Makan malam bersama keluarga Han telah membawa dampak buruk bagiku. Lalu pengumpulan dana tahunan sekolahpun tiba dan aku menemukan masalah baru bagi diriku. Aku adalah si ‘pembawa keranjang’. Untuk menghargai penuh penghinaan menjadi pembawa keranjang, kau harus tahu bahwa yang terpilih akan dilelang didepan dewan sekolah pada wanita-wanita penawar tertinggi. Ya teknisnya kami disajikan bersama keranjang makan siang tapi jangan main-main, ini adalah parade kue daging.

“Itu dia idolaku!”

Belum lagi kegondokkanku hilang karena dijadikan bahan lelang, sekarang Sehun datang untuk merecokiku. Tembak aku sekarang!

“Satu kata saja, kau mati”

“Tidak, aku serius. Dengar, kau takkan percaya ini”

“Apa?”

“2 gadis tercantik disekolah sedang memperebutkanmu”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Sally sudah putus dengan Kris. Dia dan Jisun sedang berperang untuk mendapatkanmu”

“Aku tak peduli”

“Kau sudah gila? Sally mendepak Kris untukmu. Kaulah idolaku”

Meski senang menjadi idola Sehun, rasa takut menjadi pembawa keranjang no. 9 tak kunjung reda dan satu-satunya harapanku adalah tornado besar akan menghancurkan sekolah sebelum acara dimulai walau aku tahu peluangnya kecil sekali.

~oOo~

“Selamat datang di Klub Lelang Jungwoon tahun ini. Sekali lagi kami dengan gembira menghadirkan 20 pria tertampan….”

Bla..bla..bla..aku tak tahu lagi kata sambutan apa yang dikumandangkan kepala sekolahku karena Chen yang tiba-tiba memasuki backstage sambil meneriakkan namaku.

“Baekhyun..Baekhyun..”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Yoonjoo duduk dibangku baris ketiga”

Apa? Apa itu artinya dia juga akan menawar? Apa dia akan menawarku? Tentu saja, siapa lagi yang bisa menarik perhatiannya selain aku?

“Jadi?”

“Jadi dia punya banyak uang”

“Omong kosong”

“Itu benar, aku melihatnya menghitung uangnya didepan loker. Kau..tidak senang?”

“Senang? Untuk apa?”

“Hey mungkin saja dia akan menawarmu”

“Tentu saja, siapa lagi yang bisa membuatnya mabuk kepayang selain aku?”

“Baiklah terserah saja, aku hanya mau bilang jika memang seperti itu, kau tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini dan hati-hati dengan Sehun” bisik Chen dengan sangat pelan namun masih bisa kutangkap

Aku mengangguk lalu kepala sekolah kami mulai memanggil sang pria-pria lelang, menyedihkan sekali sebutannya.

“Dan kini mari kita beri sambutan SMA Jungwoon pada Pembawa Keranjang 2013”

Aku beserta ke19 pria lainnya memasuki panggung dengan membawa keranjang berisi makanan dan disana, dibaris ketiga aku bisa melihat Yoonjoo, apa dia akan benar-benar menawarku?

“Pertama, inilah Park Chanyeol. Chanyeol adalah anggota tim basket dan hobinya adalah mengoleksi perangko dan yo-yo”

Oh hobi macam apa itu? Siapa anak SMA yang masih mengoleksi yo-yo?

“Ingat, jika kalian menawar, kalian tak hanya mendapatkan si tampan Tn. Park tapi juga menikmati roti isi selada ayam dengan saus bawang bombai lezat dan sepotong besar pie ceri”

“Baiklah, siapa yang ingin mulai menawar 50.000 Won?”

Maka lelang pun di mulai, satu persatu pria-pria ini jatuh ketangan wanita pelelang. Hingga jam ditanganku menunjukkan pukul 10.36, seorang pria dengan no.8 maju dan menandakan bahwa waktu lelangku akan semakin dekat.

“No.8 adalah Song Jinhyuk. Jinhyuk adalah anggota club lukis dan ketua club seni”

Ya ya ya dia adalah Jinhyuk teman sekelasku dengan kacamata ala harry potternya dan sekarang hanya kami berdualah yang tersisa. Aku tak tertarik pada hobinya atau isi keranjangnya, aku hanya memikirkan Yoonjoo. Perlu kau ketahui kalau Yoonjoo belum menawar sama sekali, bukankah sudah jelas dia memang menungguku.

“Kita mulai penawaran 50.000 Won?”

“Ada yang bersedia?”

“Tak ada yang menawar?”

Tapi bagaimana kalau dia terlibat perang penawaran bersama Sally dan Jisun lalu kalah? Aku sedang memikirkan kengeriannya saat..

“80.000 Won”

Itu Yoonjoo!!!

“Itu dia 80.000 Won, itu tawaran bagus. Aku dengar 100.000 Won?”

Han Yoonjoo menawar Song Jinhyuk? Kenapa ia menawar Jinhyuk?

“Baiklah 80.000 Won satu kali. 80.000 Won dua kali”

Kenapa ia menawar yang lain dan bukan aku? Kenapa tidak menungguku?

“Terjual pada Han Yoonjoo!”

Pukulan palu yang dilakukan Kim saem benar-benar membuatku terguncang. Kurasa sebentar lagi aku akan mengamuk seperti babon gila.

“Berikutnya adalah pembawa keranjang no.9, Byun Baekhyun”

Aku tahu seharusnya aku maju tapi aku tak mampu bergerak.

“Naiklah Baekhyun, jangan malu-malu”

Akhirnya dengan sisa-sisa kekuatan dan emosi yang menggumpal, aku maju perlahan kedekat podium tempat Kim saem berdiri.

“Baekhyun senang bermain Baseball dan dia merupakan Pitcher utama sekaligus ketua dari Club Baseball Jung—“

“50.000 Won?” oh tidak, bahkan Sally sudah menawarku sebelum Kim saem memulai

“Tunggu sampai aku—“

“100.000!” bagus kali ini Jisun

“Sepertinya lelang sudah dimulai” ujar Kim saem bersemangat, aku hanya menanggapi dengan senyum hambar

“150.000!”

“200.000!”

“250.000!”

“300.000!”

Oh baiklah, berperanglah semau kalian, semakin tinggi kalian menawar maka semakin banyak pula sekolah mendapatkan dana dan mungkin saja beberapa tahun mendatang Jungwoon akan memiliki seluruh AC dan kaca anti peluru disemua ruangannya berkat orang-orang seperti kalian.

“350.000!”

“400.000!”

“500.000 won”

“Astaga, 500.000 won? Apa—baiklah…500.000 satu kali, 500.000 dua kali? Terjual pada Nn. Sally Park seharga 500.000 won! Sebuah rekor lelang”

“Jungwoon akan sangat berterima kasih pada donasi yang begitu besar”

Dan begitulah ceritanya hingga kini aku dan Sally ada dikantin yang khusus dipersiapkan dan dimodifikasi oleh dewan sekolah untuk kami pria yang telah dijual menghabiskan waktu bersama pada pembeli. Jangan memikirkan hal macam-macam karena kami hanya sekedar mengobrol dan makan siang bersama.

Aku disini, makan siang bersama gadis tercantik di sekolah tapi aku merasa sengsara karena kurang dari 20 kaki dariku ada Yoonjoo. Yoonjoo-ku bersama Song Jinhyuk, dia tertawa. Apa yang ia tertawakan? Mengapa ia duduk disana dan tertawa dan terlihat begitu cantik? Ah kurasa akulah yang sekarang mabuk kepayang pada Yoonjoo, apa ini karma?

“Baekhyun, kau baik-baik saja?”

“Apa?”

“Apa yang kau lihat?” tanya Sally penasaran seolah aku harus melaporkan semua yang kulakukan padanya seperti yang dia lakukan barusan. Bayangkan saja dia bercerita panjang lebar tentang semua yang dimiliknya, tentang rumah danau, tentang rumah musim dingin di Hokkaido, tentang spa di Jeju, memangnya aku peduli?

“Tak ada” jawabku asal sambil menjejalkan sepotong kue beras

“Makan siangnya lezat sekali Baekhyun”

“….”

“Baekhyun…kau dengar aku? Ini makan siang yang lezat sekali”

“Bisakah kita tak bicara tentang makanan atau rumah dan sejenisnya?”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Entahlah, pohon? Atau penggerak abadi? Kau tahu tentang itu?”

“Hah? Penggerak apa?”

Aku tak tahu apa yang menghinggapiku, aku seakan kerasukan atau sesuatu.

“Yoonjoo aku ingin bicara denganmu”

“Apa?”

“Ada apa Baekhyun?”

Aku benar-benar sedang kerasukan, sekarang aku sedang memegang kedua bahunya agar dia tak lari kemana-mana.

“Apa yang kau lakukan?”

Dan lalu aku mulai memajukan tubuh dan wajahku, lalu aku tak ingat lagi apa yang terjadi selain rasa itu. Rasa hangat bercampur manis seperti strawberry yang kurasakan dibibirku benar-benar membuatku kehilangan arah hingga sebuah pukulan keras membangunkanku dan membuatku sadar apa yang baru saja kulakukan. Aku, Byun Baekhyun, baru saja mencium Han Yoonjoo didepan banyak orang!

“Kau—“

“Yoonjoo! Yoonjoo!”

“Yoonjoo tunggu, kita bisa bicara?”

“Hey Han Yoonjoo!”

Percuma, kurasa dia benar-benar marah dan tak akan pernah mau melihat wajahku lagi selama sisa 7 bulan waktu kami dimasa SMA.

“Ada apa denganmu?”

Oh tidak lagi, kenapa Oh Sehun selalu datang diwaktu seperti ini?

“Jangan ganggu aku Sehun”

“Kau kencan dengan gadis tercantik di sekolah tapi kau rusak karena Yoonjoo”

“Kau takkan mengerti!”

“Aku sangat tak mengerti! Kita bicara tentang Han Yoonjoo, tetangga mimpi burukmu, gadis aneh sok tahu, gadis yang punga gangguan men—“

“Shut up!”

Bukk..

Habis sudah kesabaranku dan rasakan saja darah segar yang mengalir dari hidungmu itu Oh Sehun.

“Hey! Kau—ada apa denganmu? Kau sedang jatuh cinta?”

“Ya! Aku sedang jatuh cinta, aku tergila-gila pada gadis itu, pada gadis yang menolakmu mentah-mentah hingga membuatmu mendendam dan selalu mencelanya seperti ini. Ku beritahu padamu Oh Sehun, jangan pernah mendendam saat kau ditolak seseorang karena itu membuatmu terlihat menyedihkan”

“Kau—“

“Aku bisa saja mendepakmu dari Klub Baseball tapi tidak kulakukan karena bagaimanapun kita adalah teman atau bisa dibilang pernah jadi teman. Sekarang pulanglah dan obati lukamu” nasehatku sambil menepuk-nepuk pipinya pelan

Gila! Bagaimana bisa dia mencela orang yang disukainya hanya karena ditolak? Ya tentu saja Yoonjoo menolaknya karena hanya aku yang bisa bersama Yoonjoo, kau tahu? Han Yoonjoo itu milikku, dulu, sekarang, dan seterusnya.

~oOo~

Saat aku berjalan pulang membawa piring kosong yang berdentingan di dalam keranjang piknik ku, aku hanya memikirkan Yoonjoo dan aku menyadari Chen benar akan satu hal, aku jatuh cinta, sangat jatuh cinta!

Aku mengetuk pintu rumah Yoonjoo, terus mengetuk hingga berubah jadi gedoran keras tapi tetap saja tak ada yang membukanya untukku. Aku bahkan mulai jadi peneror dengan terus menelpon kerumah atau ponselnya tapi selalu 2 hal yang kudapat, pertama adalah telponku tidak diangkat, kedua adalah bibi Han yang mengangkat dan mengatakan Yoonjoo tak ingin bicara padaku. Tragis sekali. Aku mencoba tidur lebih awal malam itu, tapi aku tak bisa tidur. Aku menatap rumahnya dari jendelaku selama berjam-jam, aku harus mencari cara untuk menunjukkan perasaanku padanya.

End Baekhyun’s POV

 

Author’s POV

Pancaran sinar matahari terik menemani riuh siswa-siswi kelas 3B-2. Kini semua penghuni kelas tersebut tengah berkumpul mendiskusikan sesuatu, semuanya bersemangat tentang tradisi wajib saat duduk dikelas 3 SMA Jungwoon, semuanya tapi tidak dengan Baekhyun, ia sepertinya lebih senang memperhatikan Yoonjoo mengobrol bersama Jinhyuk mengenai lukisan abstrak yang ia sendiri tak tahu letak keindahannya ada dimana hingga membuat gadis itu selalu memamerkan senyum bahagianya. Baekhyun melepas almamaternya karena merasa gerah, bukan gerah karena pancaran sinar matahari tapi gerah karena terbakar api cemburu. Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan sesuatu yang dinamakan ‘cemburu’ dan ia jelas tak menyukainya.

Baekhyun menggulung lengan kemejanya lalu melonggarkan dasinya, apa saja dia lakukan untuk mengusir rasa aneh itu. Kau tahu? Yang ada dibenak Baekhyun sekarang adalah pergi membawa Yoonjoo ke tempat yang hanya ada mereka berdua, tempat dimana dia bisa merasakan manisnya strawberry—

“Oh tidak!” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya karena rupanya pikirannya mulai liar dan mulai berfantasi lagi tentang ‘strawberry’

“Michyeoga!” Ujar Baekhyun pelan sambil mengacak rambutnya yang berwarna kecoklatan itu

“Ya Baekhyun!”

Baekhyun mendongak dan mendapati Chen tengah menatapnya

“Apa?”

“Kau setuju?”

“Apanya?”

“Cepatlah, kau setuju atau tidak, kami memerlukan persetujuanmu sebagai ketua kelas, benarkan teman-teman?”

“Ne!!!!”

“Lakukan, lakukan apa yang kalian mau” Baekhyun menyetujui permintaan Chen bahkan sebelum dia tahu maksudnya apa

“Baiklah, permainan yang akan menjadi memorable kita akan segera dimulai! Gayoung-ah!”

“Ne…”

“Silahkan jelaskan permainan pada semua hadirin”

“Jungwoon memiliki tradisi bahwa setiap kelas 3 menjelang 6 bulan berakhirnya masa sekolah wajib mengadakan sesuatu yang memorable lalu akan dimasukkan dalam jurnal dewan sekolah, bukankah begitu?”

“Ne!!”

“Kali ini kelas kita akan membuat sesuatu yang berbeda dan menantang”

Baekhyun mendongak lagi dan mulai merasakan keanehan pada sepasang kekasih itu –Chen dan Gayoung-, bagaimana bisa sebagai ketua kelas dia begitu gampang menyetujui permintaan temannya tanpa tahu maksudnya terlebih dahulu.

“Hari ini kita akan mengadakan Pocky Game!! Dan yang menang akan mendapat tiket makan juga sejumlah uang hasil dari iuran kelas, bagaimana? Apa ini menarik?”

“YA!!!”

“Tembak aku sekarang!” Pekik Baekhyun “Ya Kim Jongdae! Bagaimana bisa kau mengadakan permainan seperti ini tanpa berkonsultasi dulu denganku?”

“Tadi kau sudah menyetujuinya, bukankah begitu teman-teman?”

“Ne!!”

“Kalian semua—“

“Ayo kita mulai saja, silahkan untuk yang pria ambil kertas ditoples berwarna putih dan untuk wanita ambil kertas ditoples berwarna merah. Nomor yang sama adalah pasangan kalian”

“Hey Baekhyun kau juga harus main” seru Chen

“Tidak, aku tidak mau bermain permainan kony…nyol ini”

Baekhyun yang tadinya tidak berminat sama sekali jadi tertarik karena melihat Yoonjoo juga maju untuk mengambil kertas didalam toples dan siapa tahu dia bisa berpasangan dengan Yoonjoo. Baekhyun maju kedepan dengan semangat lalu saat Yoonjoo melewatinya, dia samar-samar melihat tulisan ‘04’ disana. Ya, Yoonjoo mendapat nomor 4 dan itu berarti dia juga harus mendapat nomor 4 agar bisa berpasangan namun naas saat tangannya baru telurur masuk kedalam toples, dia melihat tulisan dikertas milik Jinhyuk dan itu nomor yang sama dengan Yoonjoo!

Baekhyun memekik dalam hati lalu memutar akal cepat. Sedetik kemudian Baekhyun melayangkan tatapan horornya pada Jinhyuk dan berbisik.

“Hey kawan, tukar kertasmu dengan punyaku atau…”

“Ba..Baiklah..i..ini..”

“Hehehe terima kasih, kau baik sekali, sekarang kembalillah ketempat dudukmu”

Untuk pertama kalinya setelah acara lelang, Baekhyun merasakan bahagia luar biasa.

“Ya, inilah saatnya aku beraksi” batin Baekhyun

Ekor mata Baekhyun melirik ke arah Yoonjoo yang sedang memperhatikan kotak-kotak pepero beraneka rasa diatas meja yang dibawa Gayoung hingga tiba-tiba senyuman merekah diwajahnya jika mengingat apa yang akan terjadi nantinya. Dia akan bermain pepero bersama Yoonjoo, dia akan bisa mencium aroma strawberry yang menguar dari tubuh, rambut, dan semua yang berhubungan dengan Yoonjoo dan hal itu tentu saja membuatnya sangat berterima kasih pada teman-teman sekelasnya yang gila mengadakan hal seperti ini, bermain pepero. Kau tahu? Permainan ini mengharuskan kau mengigit ujung pepero tersebut sedangkan pasanganmu mengigit ujung lainnya hingga pepero tersebut menjadi kecil atau bahkan bisa saja sampai bibir kalian bertemu. Pemenangnya tentu saja pasangan dengan sisa pepero terpendek.

“Hey Chen kau mendapat nomor berapa?” Tanya Baekhyun riang

“Aku? Aku tidak bermain karena aku adalah panitia”

“Baiklah baiklah, aku mendapat nomor 4, kau tahu? EMPAT!” Baekhyun sengaja membesarkan volume suaranya agar Yoonjoo dapat mendengar dan hal itu membuat Yoonjoo pucat seketika

Gadis itu menoleh sebentar kearah Gayoung yang memasang ekspresi “Ini bukan rencanaku”. Belum lagi hilang ketegangan yang menghantui Yoonjoo, Chen sudah memulai permainan tersebut. Yoonjoo sedikit terkejut dan memutar bola mata, mau tak mau ia harus bergabung di antara kerumunan murid yang merupakan teman-teman sekelasnya. Mereka mengelilingi dua buah meja yang sengaja dibuat berhadapan satu sama lain dan yang saat ini tengah diduduki oleh sepasang murid yang tengah mengigit pepero rasa coklat.

Suara teriakan mendominasi kelas diikuti suara keluhan ketika pepero yang hanya bersisa beberapa centi itu terjatuh ke meja menandakan pergantian pasangan. Suasana kembali riuh tapi Yoonjoo seakan tak mendengarkan apa-apa. Ia juga tak melihat ke arah permainan, pusat perhatiannya hanya tertuju pada Baekhyun yang dengan santainya memegang kertas bertuliskan angka yang sama dengan miliknya. Ia benar-benar tak bisa mempercayai ini, kejadian Baekhyun yang menciumnya dikantin saja masih bisa membuatnya panas dingin jika teringat dan sialnya nanti dia harus bertemu pandang dengan pemuda tersebut ketika mengigit sebatang pepero.

“Yoonjoo” Chen memanggil namanya “Han Yoonjoo” suara Gayoung mengulang namanya.

“Yoonjoo-ya…” Tegur Gayoung lembut

“Eo?”

“Kau tidak apa-apa?”

Yoonjoo baru saja akan beralasan dia sakit tapi tidak jadi karena ini namanya tidak setia kawan. Ini adalah momen yang sengaja teman-temannya buat untuk tahun terakhir mereka di SMA.

“Aku….baik-baik saja”

“Benarkah? Sekarang giliranmu”

Yoonjoo hampir pingsan, langkahnya gontai lalu ia akhirnya duduk berhadapan dengan laki-laki itu, laki-laki yang tak memakai almamater dengan lengan kemeja yang digulung, dasi yang longgar, dan rambut acak-acakan itu menatapnya aneh membuat degup jantungnya semakin tak karuan saja.

“Beri aku pepero rasa Strawberry” Titah Baekhyun seperti sedang menirukan Raja-raja dijaman Joseon

“Hey kau Baekhyun, jangan memerin—“

“Ssttt! Beri aku rasa strawberry!” Ulang Baekhyun pada Gayoung yang memprotes keinginannya

Kemudian Chen memberikan sebatang pepero rasa strawberry yang Baekhyun minta. Dengan ragu-ragu Yoonjoo memasukkan ujung pepero tersebut ke dalam mulutnya sedangkan Baekhyun hanya tersenyum tipis berusaha menyembunyikan tawanya yang hampir meledak karena melihat ekspresi takut Yoonjoo. Jantung Yoonjoo serasa hampir melompat keluar ketika Chen berteriak ‘mulai’.

Baekhyun mulai memajukan tubuh dan wajahnya membuat matanya dan Yoonjoo saling beradu pandang. Kilatan mata Baekhyun yang jernih membuat Yoonjoo gugup hingga ia memutuskan untuk menutup mata. Sepersekian detik Yoonjoo menutup mata, dia mulai menyadari nafas tegang teman-temannya dan dia sadar pasti ada yang terjadi. Yoonjoo membuka matanya perlahan lalu mendapati Baekhyun yang begitu dekat dengannya. Sangat dekat. Detik selanjutnya Baekhyun mulai mengigiti ujung pepero itu membuat suara riuh dan tegang mendominasi kembali, namun yang masuk kedalam indera pendengaran Yoonjoo hanya suara gigitan Baekhyun pada pepero tersebut.

Suara desakan dari Chen dan teman-temannya membuat Yoonjoo terpaksa mulai menggigit ujung pepero miliknya walau dia sadar hal itu sama seperti bunuh diri. Mereka terus mendesak Yoonjoo hingga membuat jarak semakin menipis saja dan wajah Baekhyun semakin lebih dekat bahkan nafas pemuda yang memburu itu terasa sangat jelas di setiap pori-pori kulit pipinya. Bukan hanya teman sekelasnya yang gugup akan pemandangan itu tapi dia sendiri juga,  Yoonjoo mengepal tangannya erat, kakinya bergetar hebat, ia sudah tak sanggup, ia memutuskan untuk tak mengigit menggigit lagi dan hanya diam tak peduli ia akan kalah atau menang.

Tepat saat teman-temannya berteriak ‘aaaa!’, Yoonjoo membuka mata dan tahu kalau sudah tak ada pepero yang tersisa, yang kini terjadi adalah Baekhyun yang memiringkan wajah sambil memejamkan mata hingga akhirnya Yoonjoo merasakan sesuatu yang basah dan lembut menyentuh bibirnya perlahan. Yoonjoo terdiam tak berkutik, rasa ini, rasa ini pernah dirasakannya sebelumnya. Sebuah lumatan kecil dan ringan ia rasakan, lumatan itu semakin lama semakin meminta lebih ke dalam mulutnya namun sebelum lebih lama berlanjut, Yoonjoo menemukan akal sehatnya lalu mendorong Baekhyun dan berlari keluar.

“Yak! Byun Baekhyun! Apa yang kau lakukan?!?” Pekik Gayoung

Baekhyun sama sekali tak perduli akan teriakan-teriakan temannya setelah itu karena yang harus dia lakukan adalah mengejar Yoonjoo. Hal ini tak boleh terulang seperti kejadian pada hari lelang, hari ini semuanya harus berakhir.

“Yoonjoo!!” Teriak Baekhyun hingga membuat beberapa siswa-siswi yang berdiri dikoridor memperhatikan mereka berdua

Baekhyun terus memanggil Yoonjoo hingga mereka sampai didekat danau yang terletak disamping lapangan Baseball.

“Tunggu! Aku bisa jelaskan semua ini” Baekhyun menahan tangan Yoonjoo namun gadis itu menolaknya

“Sebentar saja, dengarkan aku sebentar saja!” Suara Baekhyun meninggi

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? 2 kali Baekhyun! 2 kali! Kau begitu senang ketika aku malu? Begitukah?”

“Apa—aku melakukan itu bukan untuk membuatmu malu”

“Lalu apa? Memangnya ada alasan lain seorang Byun Baekhyun menggangguku kalau bukan untuk mempermalukanku?”

“Apa aku sejahat itu didalam pikiranmu?”

Yoonjoo tak menjawab, gadis itu menundukkan kepalanya menahan air mata yang sudah bergumul.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padahal aku sudah tak lagi mengganggumu?”

“Itulah sebabnya! Aku tidak suka kau yang seperti ini dan malah bergaul dengan Jinhyuk, kau sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk Jinhyuk”

“Bukankah seharusnya kau senang? Aku tidak lagi menguntitmu atau mungkin kau merasa hebat saat punya penguntit makadari itu kau tidak rela saat penguntitmu pergi, begitu?”

“Tidak! Aku tidak suka kau bersama laki-laki lain dan mulai mengabaikanku karena aku menyukaimu…itu benar, aku menyukaimu”

“Bagaimana bis—“

“Kau tahu? Selama ini aku selalu menyebutmu penguntit tapi aku tak pernah benar-benar mengusirmu atau menyuruhmu berhenti dan sekarang aku sadar kenapa aku seperti itu, itu karena..karena aku suka saat kau ada disekitarku”

“Kau—“

“Soal pohon itu, oh baiklah aku membenci pohon itu karena saat kau diatas sana, kau bisa duduk berjam-jam dan itu artinya kau akan mengabaikanku berjam-jam pula, lalu telur, aku membuang telur itu bukan karena takut akan bakteri Salmonella tapi aku hanya takut pada gagasan bodoh yang kubuat sendiri. Gagasan tentang jika aku menerima sesuatu darimu, aku akan terkena mantramu, mantra yang bisa membuat aku menyukaimu, waktu itu aku masih terlalu naïf untuk mengakui perasaanku jadi yang kulakukan hanyalah menghindar”

“Baekhyun….”

“Dan soal aku yang menghinamu punya gangguan mental, aku sungguh sungguh minta maaf, aku—“

“Aku tahu” Yoonjoo memotong perkataan Baekhyun

“Aku tahu kau sudah pernah menghajar Sehun karena mengataiku lalu yang kemarin, aku tahu kau tidak menghajarnya karena sedang ada pelatih kalian dan kau bisa dikeluarkan jika melakukan perkelahian tapi kenapa kau tidak memberitahuku saja?”

“Kau benar, aku memang pengecut—“

“Hey hey hey sepertinya taruhanmu berhasil” sebuah suara wanita menginterupsi membuat Baekhyun geram

“Kau sepertinya berhasil membuat gadis aneh ini mempercayaimu dan itu artinya kau menang. Sayang sekali Sehun harus menyerahkan uangnya padamu”

“Hey Sally Park apa yang kau—Yoonjoo! Kau mau kemana? Yoonjoo!”

“Entahlah Baekhyun, aku seperti sudah sulit untuk percaya padamu setelah semua ini ditambah apa yang kau lakukan kemarin dikantin dan sekarang….”

“Aku—“

“Mulai sekarang anggap saja kita tak pernah kenal”

End Author’s POV

 

Yoonjoo’s POV

Aku berlari untuk mengambil tasku, berlari sangat kencang untuk keluar dari sekolah hingga aku merasa paru-paruku akan meledak. Laki-laki itu, Byun Baekhyun, dia bahkan tak mengejarku dan itu menjadikan semuanya jelas kalau dia hanya menjadikanku sebagai bahan taruhan dengan Sehun. Dasar pria kurang ajar! Pria menyebalkan! Kenapa aku suka pada pria seperti itu? Kenapa?

Sesampainya dirumah, aku mengunci kamar rapat dan menangis keras dibalik selimut. Hatiku rasanya perih, bukan hanya karena taruhan, telur, gangguan mental, atau pohon ara tapi juga karena ciuman itu. Ciuman yang kunantikan seumur hidupku, aku memang menginginkannya tapi tidak seperti itu dan bukan begitu caranya, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Baekhyun melakukannya 2 kali? Apa dia menganggap itu adalah hal sepele? Tidakkah dia tahu kalau ciuman sama sekali bukan hal sepele?

Aku terus menangis, mungkin berjam-jam hingga aku merasa oksigen disekitarku habis dan sinar terang diluar sana yang masuk lewat jendelaku mulai berubah menjadi jingga dan aku baru sadar ini sudah pukul 4 sore yang artinya aku sudah menangis dan mengurung diri dalam selimut selama hampir 3 jam lalu tertidur 2 jam sebelum akhirnya sekarang aku terbangun karena mendengar suara-suara ribut dihalaman.

Aku menyibak korden sedikit untuk melihat apa yang terjadi dan kudapati Baekhyun sedang merusak halamanku. Apa yang dilakukannya? Tak perlu waktu lama, aku segera turun untuk mengamuk padanya.

“Ayah, Ibu, kalian lihat apa dilakukan Baekhyun?”

“Yoonjoo tenang, Ayah member ijin padanya”

“Ijin? Ijin untuk apa? Dia menggali lubang”

“Ayah mengijinkannya”

“Tapi kenapa?”

“Ayah mengijinkannya”

Aku menggeleng tak percaya sekaligus tak mengerti akan jawaban Ayahku. Bagaimana bisa dia mengijinkan Baekhyun merusak halamanku? Aku merasa tersiksa melihatnya menggali rumputku, rumput yang kurawat susah payah. Aku melihat dari jendela dan Baekhyun tahu aku ada disana tapi dia tak berhenti sama sekali. Aku baru akan keluar dan mengomelinya sebelum dia akhirnya pergi.

“Dia sudah pergi. Dia pergi begitu saja setelah merusak rum—“

Aku kira dia benar-benar sudah pergi tapi ternyata tidak, dia kembali dengan membawa sebatang, entahlah itu seperti pohon.

“Sebatang pohon? Dia menanam pohon?” ucapku tak percaya

“Apakah itu?….”

Aku tak perlu bertanya, aku tahu dari bentuk daun dan tekstur batangnya. Itu adalah pohon ara. Aku melangkah keluar untuk menghampirinya, entahlah rasa marah yang tadi berjubel didalam hatiku sudah menguar semua, menguar entah kemana. Dia menatapku dengan matanya, mata yang sekali lagi begitu mempesona.

End Yoonjoo’s POV

 

Baekhyun’s POV

Aku benar-benar mau gila, bisa-bisanya Sehun dan Sally berbuat seperti itu padaku tapi tidak, aku tidak akan tumbang lagi karena hal kecil. Aku sudah bertekad akan menyelesaikan masalah ini hari ini juga dan disinilah aku, berkeliling Daegu bersama Chen untuk mencari pohon ara, pohon kesayangan Yoonjoo. Asal kalian tahu, aku sudah mengelilingi Gwangju tapi tak menemukan pohon itu makanya aku sekarang mengelilingi Daegu, jika tak juga menemukannya, mungkin aku akan ke Seoul, Incheon, Bucheon, Bundang, Pyeongtaek, atau mana saja namun rupanya Tuhan masih berpihak padaku karena 5 menit yang lalu aku berhasil mendapatkan pohon ara tersebut dan Yoonjoo-ku, tolong tunggu aku..

~oOo~

Pukul 4 sore kurang 12 menit, aku baru saja menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi pada paman dan bibi Han dan aku bersyukur mereka mengerti situasiku. Aku sekarang sedang berada dihalaman rumah Yoonjoo dengan sebuah cangkul yang nanti akan kugunakan untuk membuat lubang tempat pohon ara itu akan berkembang biak. Tak perlu waktu lama untuk membuat Yoonjoo keluar dari kamarnya karena sekarang dia tengah berdiri dibalik jendela, memandangku dengan ekspresi bingung bercampur marah. Setelah aku selesai membuat lubang, segera kuambil pohon ara yang tadi kubeli lalu menanamnya.

Saat ia keluar, aku membayangkan saat pertama aku melihatnya. Kenapa ada seseorang yang ingin lari dari Han Yoonjoo?

“Kau perlu bantuan?”

“Eo? Y..ya..tentu saja”

“Aku…dengar, yang Sally katakan tadi tidaklah benar”

“Aku tahu”

“Kau tahu? Lalu kenapa kau pergi meninggalkanku?”

“Aku hanya tak ingin mendengar bualan yang lebih aneh dari Sally jadi aku pergi dan kenapa kau tidak mengejarku?”

“Aku ingin memberi pelajaran pada Sehun dulu sebelum akhirnya aku pergi mencari pohon ara ini”

“Kau..apa yang kau lakukan pada Sehun?”

“Hanya sedikit pukulan, tidak akan membuatnya masuk rumah sakit dan hey kenapa kau mengkhawatirkan Sehun?”

“Aku tidak mengkhawatirkan Sehun, aku hanya mengkhawatirkanmu. Kalian ada pertandingan sebentar lagi dan bagaimana kalau kau—“

Chu~ Aku menciumnya, ya gadis ini terlalu cerewet sehingga aku perlu membungkamnya.

“Kau tidak akan menamparku atau lari lagi kan?”

“Baekhyun kau!”

“Kenapa? Kau tidak mau mendapat ciuman dari Pangeran pujaanmu?”

“Kau!”

“Hey..hey..hentikan, kau bisa membuat rambutku yang bau semangka jadi bau tanah”

“Apa kau bilang?”

“Bau semangka, bukankah kau dulu bilang kalau aku bau semangka dan kau saaaaaaaangat suka semangka”

Kulihat ada rona merah muda dipipinya dan hal itu makin membuatnya terlihat seperti strawberry.

“Aku…tidak akan seperti itu lagi. Aku sudah menemukan akal sehatku jadi aku tidak akan menjadi semacam penguntit lagi”

“Jangan berhenti jadi penguntitku sebelum aku menyuruhmu berhenti”

“Apa?”

“Tapi kalau kau memang mau berhenti, baiklah, aku yang akan mulai jadi penguntitmu”

“Kau—“

“Kau tahu Yoonjoo? Aku selalu mencium aroma strawberry jika didekatmu…hahaha”

“BYUN BAEKHYUN!!”

Saat kami disini, menanam pohon bersama dibawah langit yang mulai jingga, aku menyadari bahwa selama ini kami tak pernah mengobrol. Tapi saat ini juga, kami mulai mengobrol dan aku tahu kami akan mengobrol untuk waktu yang lama.

“Yoonjoo aku menyukaimu, aku mencintaimu, dan aku ingin jadi penguntitmu”

“Apa?”

“I’m flipped”

 

END

Thanks to those read my absurd fanfic xD Please leave a comment cuz it’s really mean for me 😀 See ya in my another fanfic *bow

 

Iklan

50 pemikiran pada “Flipped (Chapter 2 – END)

  1. AAAAAAS INI DAEBAK SEKALEH!
    GREGETNYA DAPET,SWEETNYA DAPET,ROMANCENYA DAPET! DUH SUKAAA *maaf capsnya jebol.
    Ih aku dari dulu pingin nonton film-nya gak bisa juga. Gara” nyari link downloadnya mati semua-__-. Keep writing thor!

  2. wah..perjuangan baekhyun g sia2..berakhir bahagia..ff ini udah kaya novel aja..bahasany itu keren bgt..alurny jg pas bgt..pokokny keren..gomawo..

  3. Huaaa.. pas baca judul.a
    “Flipped ? Kok kyk film romance manis flipped si julie baker sma bryce loski itu? ”
    eehh.. ternyata beneran authornya terinspirasi ama film itu…
    kereenn… kan ngegantung tuh film.a,, pas baca ff ini.. hahai.. bener2 dpt feel.a dan suka banget.. jdi kyk sequel film flipped asli.. kkkk~
    daebaak.. two thumbs !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s