Thorn of Love (Chapter 2)

Thorn of Love

Part 2 (Rose Without Thorn)

 

 

Author             :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

 

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Byun Heejin

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Choi Yunae
  • Byun Junghwa (OC)
  • Etc..

 

Genre             :           Romance, Angst

 

Rating                         :           PG13

 

Backsound      :           K.Will – Dream *must listen, highly recommended .-.

 

Thorn of Love (2)

~oOo~

Author’s POV

Baekhyun membuang muka kesembarang penjuru yang penting matanya tidak lagi menangkap sosok itu. Kepalanya masih mengingat jelas memori-memori menyakitkan yang dialaminya, yang membuatnya jadi seperti ini, memori-memori itu lah pencetus rasa tak sukanya pada sosok Heejin, belum lagi ditambah satu kenyataan yang amat miris yang membuat rasa benci itu makin tumbuh sumbur. Baekhyun bukan tak bisa melawan rasa benci itu, dia hanya tidak ingin melawannya, dia memang ingin membenci adiknya – Byun Heejin-.

“Heejin, sudah pastikan tidak ada yang tertinggal?”

“Ne saem”

“Baiklah, berikan aku pelukan. Ibu pasti akan merindukanmu Heejin sayang. Kau baik-baik lah, kau harus dengar nasehat Ayah dan Oppa-mu”

“Ne saem”

“Pergilah sekarang daripada kalian kemalaman dijalan”

“Aku pergi saem. Aku janji akan kesini saat liburan nanti, sampai jumpa”

“Baiklah, hati-hati”

Heejin dan Baekhyun membungkukkan badan lalu perlahan menjauh dari bangunan yang berwarna dominan biru itu. Heejin mengekor dibelakang Baekhyun, ada sekitar jarak 3 langkah diantara mereka. Sesekali Heejin tersenyum tipis seraya memperhatikan Baekhyun dari belakang, Baekhyun bukan lagi anak berumur 11 tahun seperti diingatannya. Tentu saja karena hari itu sudah berlalu 7 tahun yang lalu.

Baekhyun terus berjalan tegap dan cepat tanpa menoleh kebelakang sama sekali. Dalam hati Baekhyun menjerit karena kenapa hanya suara langkah kaki Heejin saja membuatnya begitu terganggu? Dan lagi mulai 2 jam kedepan mereka akan tinggal bersama seperti dulu. Baekhyun masih begitu ingat suara Heejin kecil yang begitu berisik dan mengganggu, Heejin tidak pernah berhenti mengucapkan kata ‘oppa’ pada Baekhyun dan itu membuat telinga Baekhyun serasa disengat puluhan lebah.

“Kau pendiam sekali” ucap Baekhyun sarkastik lalu berhenti tepat didepan mobilnya

Heejin diam sambil menunduk dalam. Baekhyun dan Heejin terpisah 3 langkah, tak terlalu dekat namun cukup membuat hati Baekhyun berdenyut merasakan sesuatu yang tertahan. Baekhyun melangkah perlahan mendekati adiknya tersebut.

“Kopermu..”

“Ne?”

“Berikan kopermu” ulang Baekhyun masih sambil menatap tajam kearah Heejin namun Heejin sama sekali tak berani membalas tatapan Baekhyun.

Sejak bertemu diawal tadi, Heejin selalu lebih dulu memalingkan pandangan. Ini sungguh berbanding terbalik dengan dulu. Dulu Heejin-lah yang selalu memandang Baekhyun tanpa lelah, dulu Heejin-lah yang aktif mendekati Baekhyun, dulu Heejin-lah yang aktif membuka pembicaraan, tapi sekarang? Ya, sekarang Baekhyun-lah yang betah memandang Heejin namun dengan tatapan menekan.

“Kau tidak perlu tegang seperti itu berhadapan dengan kakakmu sendiri” Baekhyun terus menggoda Heejin yang mulai gemetaran

“Maafkan aku”

“Mwo?”

“Maaf karena aku melanggar janjiku sendiri” suara Heejin sangat pelan tapi masih bisa ditangkap jelas oleh indera pendengar Baekhyun

“Lalu kenapa kau menyetujuinya?” Baekhyun melipat tangan didada lalu memajukan badannya dan berbicara tepat didepan Heejin

“Untuk Ayah”

“ooo..aku mengerti. Tapi, asal kau tahu saja, aku datang kesini bukan karena mauku dan bukan juga berarti aku sudah melupakan apa yang terjadi dulu” Kali ini Baekhyun berbicara tepat ditelinga Heejin

Tangan Heejin gemetaran hebat, peluh mulai nampak didahinya, deru jantungnya tak beraturan dan semakin tak beraturan saat kedua tangan Baekhyun mencengkram bahunya kuat.

“Apa kau menyayangiku?”

Heejin baru menyadari betapa menakutkannya wajah Baekhyun sekarang, sejak dulu memang sudah menakutkan tapi yang ini jauh lebih menakutkan ditambah lagi dengan suara Baekhyun yang dingin dan lumayan berat itu melontarkan kalimat-kalimat desakan padanya.

“Kemana Heejin yang sopan dan taat aturan? Bukankah kau harus menjawab saat ada yang bertanya padamu?”

“Aku—“

“Aku tanya apa kau menyayangiku? Apa kau menyayangi kakakmu ini?” cengkraman tangan Baekhyun semakin kuat, kini rahangnya-pun ikutan mengeras

“Oppa, kau menyakitiku” ucap Heejin pelan

Baekhyun sama sekali tak merespon dan terus mendesak, dalam hatinya dia sedang tertawa melihat ekspresi takut Heejin. Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihat raut ketakutan Heejin.

“Kau tidak bisa mengatakannya? Bukankah dulu kau sangat sering mengatakan kalau kau menyayangiku? Kenapa sekarang tidak bisa? Apa perlu kusegarkan ingatanmu? Karena mungkin kau lupa…”

“Tanpa kukatakanpun oppa pasti sudah tahu. Tak ada anggota keluarga yang tak menyayangi anggota keluarga lainnya”

“Benarkah? Kalau kau memang menyayangiku, bertingkah baiklah selama 6 bulan ini, jangan membuatku repot, kau tentu tidak mau kan merepotkan kakak yang sangat kau cintai ini Heejin-ah?”

Baekhyun mengakhiri permainannya dengan tatapan datar dan dingin.

~oOo~

2 Days Later

Heejin mematut diri didepan cermin. Tangannya kembali membetulkan letak dasi dan jasnya. Hari ini dia akan mulai bersekolah di Junsang International Academy, itu artinya waktunya bertemu dengan Baekhyun semakin lama, entah dia harus bahagia atau sedih dengan kenyataan itu namun yang pasti dia tak akan sebahagia dulu jika melihat Baekhyun, dia bukanlah gadis kecil yang polos, dia sudah tahu kalau kakaknya itu memang benar-benar membencinya sampai ketulang sumsum. Meski begitu, Heejin tak pernah mencoba melakukan hal yang sama terhadap Baekhyun, dia memang sudah tak seperti dulu yang selalu berkata ‘Heejin menyayangi Baekhyun oppa’ tapi dia masih menyayangi Baekhyun seperti dulu walau ada beberapa luka ciptaan Baekhyun yang meninggalkan bekas.

Suara klakson mobil membuat Heejin terkesiap, dia tahu maksud suara klakson tersebut. Heejin mengambil tas lalu segera menghampiri mobil yang berteriak-teriak memanggilnya. Didalamnya sudah ada seseorang yang duduk dibalik kemudi.

“Kenapa kau suka sekali duduk dibelakang? Aku bukan supirmu” ujar Baekhyun yang duduk dibalik kemudi, pelan namun sarat akan sindiran

Heejin menutup kembali pintu mobil lalu membuka pintu bagian depan. Porsche putih tersebut melaju pada kecepatan normal segera setelah Heejin memasang seatbelt-nya.

“Berhenti disini”

“Wae?” Baekhyun masih focus memandang kedepan

“Aku akan naik transportasi umum”

“Wae?”

“Aku tahu pasti rasanya tidak nyaman duduk bersebelahan dengan orang yang sangat kau benci”

Kalimat tersebut masuk kedalam telinga Baekhyun dan membuat laki-laki itu membanting kemudi dengan kasar. Heejin sedikit terkejut dan merasa bersalah dengan apa yang tadi dikatakannya. Entahlah sekarang Baekhyun seperti sedang menahan amarah dan itu membuat Heejin bingung. Bukankah benar kalau Baekhyun membencinya? Baekhyun sendiri yang mengatakannya selama ini dan bukankah seharusnya Baekhyun senang karena Heejin memperdulikan privasi dan kenyamanannya.

“Aku akan turun disini setiap hari” ujar Heejin sambil melepas sabuk pengaman, Baekhyun tak merespon

Kini prosche putih tersebut sudah tak tertangkap pandangan mata Heejin. Tangan Heejin memegang erat tas ranselnya, dalam hatinya merutuki apa yang barusan dia katakan. Dia ingin hubungannya dan Baekhyun membaik namun kenapa dia mengatakan hal-hal seperti tadi? Heejin menghentakkan kakinya pelan lalu berjalan menyebrang menuju halte bus yang ada diseberang jalan tempatnya berdiri namun sebuah motor menghantam tubuhnya lumayan keras hinggi dia tersungkur, telapak tangan beserta lututnya sukses memoles jalanan aspal dan menorehkan warna merah segar disana. Heejin memekik tertahan, dia mengigit bibir merasakan sensasi sakit ditubuhnya.

“Maafkan aku! Aku sungguh—“ pengendara motor tersebut turun lalu menghampiri Heejin

“Astaga! Lututmu!” pekiknya sesaat setelah membuka helm yang menutup wajah dan kepalanya

Laki-laki tersebut terlihat berumur tak jauh dari Heejin, tubuhnya tinggi namun tak terlalu berisi, wajah tampan dengan rahang yang tegas serta jangan lewatkan warna rambut kecoklatannya yang sedikit berkilau karena pancaran sinar matahari pagi yang tak terlalu menyengat itu. Ya, wanita manapun pasti akan bilang laki-laki ini sangat tampan tapi Heejin tidak perduli dengan itu, yang dia perdulikan adalah lututnya yang malang juga waktu yang terus berjalan dan kemungkinan dia akan terlambat dihari pertama sebagai murid baru, betapa memalukannya itu.

Heejin mendongak kaget saat laki-laki dengan name tag ‘Oh Sehun’ itu memegang kakinya, baru saja Heejin hendak menepis tangan Sehun yang tak sopan itu, tangan Heejin terhenti tatkala melihat apa yang Sehun lakukan. Laki-laki itu menggunakan sapu tangan miliknya untuk menutup luka dilutut Heejin lalu mengikatnya tak terlalu kencang dengan dasi miliknya.

“Aku akan mengantarmu ke RS” ujar Sehun sambil membantu Heejin berdiri

“Tidak per—“

Sehun berlari sedikit untuk mengambil helm yang telah dia buang sembarangan dan sekarang dia terlihat berbicara dengan seseorang diponselnya. Heejin melirik kakinya, ada darah yang menetes disana walaupun tidak banyak.

“Ayo” Sehun menarik lengan Heejin tanpa meminta izin lalu menyetop sebuah taxi

~oOo~

Byun Junghwan bersama seorang rekan kerjanya baru saja terlihat keluar dari salah satu ruang VIP Seoul Hospital. Mereka berdua berjalan santai sambil mengobrol namun saat dikoridor terakhir hendak menaiki lift, kedua pria tersebut meneriakkan hal berbeda dalam waktu yang sama.

“Sehun!”

“Heejin!”

Byun Junghwan dan Oh Jaesuk berpandangan heran sepersekian detik lalu menghampiri sepasang anak remaja memakai seragam sekolah yang tengah berdiri didepan ruang ICU itu.

“Sayang apa yang kau lakukan disini?” serang Junghwan langsung pada Heejin

“Appa aku—“

“Jeongmal mianhamnida ahjussi, ini salah saya karena tidak hati-hati mengendarai motor sampai membuatnya terluka makadari itu saya mengantarnya kesini” Sehun menundukkan kepalanya dalam-dalam

“Oh Sehun! Bagaimana kau bisa seceroboh itu?” kali ini giliran Jaesuk yang bersuara dengan nada lumayan tinggi sambil memukul pelan pundak putra-nya

“Junghwan aku sungguh minta maaf atas apa yang dilakukan anakku” Jaesuk membungkukkan badannya berkali

“Tidak apa-apa, lainkali hati-hati lah” ujar Junghwan sambil tersenyum kecil lalu menepuk pundak Sehun pelan

“Sehun” Jaesuk menggerakkan kepalanya member isyarat pada Sehun untuk memperkenalkan diri

“Annyeong haseyo ahjussi, Oh Sehun imnida”

“Annyeong haseyo, Byun Heejin imnida”

Sehun mendongak menatap pemilik suara lembut itu dan menyebut dirinya bodoh karena kenapa dia baru sadar sekarang bahwa gadis yang ditabraknya tadi adalah seorang gadis cantik. Ini bukan pertama kalinya Sehun melihat gadis cantik namun ada sesuatu yang beda dari gadis bernama Heejin didepannya ini. Kulit putih pucat, rambut hitam panjang yang sedikit bergelombang, bibir kecil berwarna softpink, dan menurut Sehun yang paling menarik adalah bola matanya yang berwarna hitam pekat itu.

Plakk.. pukulan ringan yang mendarat dipunggungnya menyadarkan Sehun dari fantasi yang mulai berlarian kemana-mana.

“Kalau begitu kami pergi dulu. Kita bertemu besok dikantor” ujar Junghwan lalu segera berlalu pergi bersama Heejin

“Kau anak nakal! Kali ini Ayah akan benar-benar menyita motormu!”

“Ne? Appa jangan begitu….”

Kita tinggalkan saja Ayah dan Anak yang sedang berdebat ringan itu. Masih ditempat yang sama, Junghwan sedang berjalan beriringan bersama putrinya sambil terus mengobrol.

“Bukankah kau bersama Baekhyun? Bagaimana bisa sampai terjadi hal seperti ini?”

“Itu, mobil oppa tiba-tiba mogok lalu dia menyetop sebuah taxi untukku tapi aku turun ditengah jalan karena ingin menyusul oppa lagi lalu tak sengaja tertabrak”

“Begitukah?”

Heejin mengangguk.

“Kalau begitu hari ini tidak usah masuk sekolah saja. Nanti Appa yang akan menghubungi pihak sekolah”

“Anio Appa, ini baru lewat 45 menit, kurasa mereka masih akan mengizinkanku masuk”

“Baiklah. Akan Appa antar”

~oOo~

“Jin-ah” Suara pelan seorang perempuan membuat Heejin menghentikan kegiatan menulisnya

Didepannya berdiri seseorang yang seumuran dengannya dan merupakan teman sebangkunya. Choi Yunae, itulah yang tertulis pada name tag-nya. Gadis dengan rambut panjang berwarna coklat gelap yang dikonde asal-asalan itu tersenyum pada Heejin.

“Tinggalkan sejenak buku-buku itu, mereka tidak akan kabur kemana-mana. Sekarang ayo kita makan”

Yunae menarik Heejin pelan menuju kantin Junsang International Academy. Agak ramai tapi memang bukankah begitu suasana kantin pada jam istirahat? Yunae memencarkan mata seperti sedang melakukan analisa.

“Aman”

“Apa?” Heejin menatap heran Yunae

“Anio. Ayo kita duduk disana, kau mau pesan apa? Aku yang akan traktir”

“Apa? Jangan begitu..”

“Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai tanda selamat datang”

“Bagaimana kalau kau bayar makananku dan aku bayar makananmu?” tawar Heejin

Yunae memanyunkan bibirnya, gadis ini memang sedikit keras kepala dan susah ditolak.

“Tidak! Aku bilang aku yang akan mentraktirmu, kau mau makan apa?”

“Baiklah, aku makan apa saja yang kau pesankan”

“Ok, wait a minute”

Heejin memutar kepala kesegala penjuru kantin seperti sedang mencari seseorang, ya dia sedang mencari Baekhyun. Heejin hampir menghembuskan nafas kecewa saat sepasang matanya tak menemukan sosok pria dingin itu namun siapa sangka saat mata Heejin kembali mengarah pada pintu masuk kantin diujung sana, dia disana, dia sedang berjalan pelan bersama beberapa temannya sambil sesekali tertawa. Seulas senyum tertarik dibibir Heejin, untuk pertama kalinya dia melihat Baekhyun tertawa dan hal itu adalah hal yang langka baginya tapi sayang hal itu tak berlangsung lama karena Heejin kembali menundukkan pandangannya saat tiba-tiba mata Baekhyun juga memandangnya. Heejin membetulkan letak duduknya hingga sebuah suara yang cukup nyaring menyebut namanya, itu suara Yunae.

Heejin menoleh kearah meja pesanan, Yunae disana sedang melambaikan tangan menyuruhnya datang. Tanpa babibu lagi Heejin berdiri untuk menyusul Yunae tapi dia baru ingat kalau lututnya terluka dan itu membuatnya tak bisa berlari.

“Ah maaf, bagaimana bisa aku lupa lututmu terluka”

“Tidak apa-apa, kau pasti kesulitan membawa makanan ini sendirian”

“Aku bis—“

“Choi Yunae!”

Suara agak cempreng milik seorang pria menggema memenuhi kepala Yunae dan membuat gadis itu berkomat-kamit tak jelas.

“Halo nona Choi!” suara itu lagi tapi kali ini sudah sangat jelas siapa pemiliknya

Seorang pria berkacamata dengan tindik kecil ditelingan serta rambut agak ikal berwarna coklat terang itu memamerkan deretan putih giginya membuat Yunae serasa hendak menjejalkan sepatu kedalam sana.

“Pergilah kau Dinosaurus gila atau aku akan menjejalkan sambal ini padamu” ancam Yunae galak

“wow wow wow kau tidak sopan sekali, aku ini seniormu Choi Yunae!” balas pria itu masih dengan senyum lebarnya

“Kau—“

“Dan oh siapa ini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kau murid baru dikelas babon betina ini?”

Seorang pria yang tengah duduk disudut kiri kantin menoleh pelan kearah 2 wanita dan 1 pria didepan meja pesanan. Bukan pandangan yang lama, hanya beberapa detik lalu matanya kembali berfokus pada 2 orang teman yang sedang duduk bersamanya.

“Ya kenapa kau mau berteman dengan babon seperti dia? Oh ya kenalkan namaku Kim Jongdae, tapi kau bisa memanggilku Chen” Pria yang menyebut Yunae dengan sebutan babon itu ternyata bernama Chen.

Heejin hendak mengulurkan tangan membalas perkenalan Chen namun segara digagalkan oleh Yunae yang sedari tadi sudah menahan emosi.

“Jangan menyentuhnya Heejin-ah, dia itu membawa virus”

“Aigoo…kau jahat sekali menyebarkan fitnah seperti itu. Baiklah..” Chen memasukkan tangannya kedalam saku celana lalu pandangannya kembali pada Heejin

“Dan senang bertemu denganmu nona Byun Heejin-ssi, tolong jangan dengarkan ucapan bab—wow lututmu kenapa?” pada dasarnya Chen memang pria dengan suara nyaring hingga kadang suaranya terdengar berlebihan seperti sekarang saat dia melihat lutut Heejin yang diperban

Pekikan Chen berhasil membuat seseorang yang tadi memperhatikan mereka dari kejauhan beranjak cepat dari tempat duduk lalu berlari seperti orang-orang yang sedang dievakuasi dari tempat ledakan bom. Pria itu menarik lengan Heejin hingga mereka berhadapan lalu detik berikutnya Heejin merasakan seseorang menyentuh lutut dan betisnya secara bersamaan, orang itu adalah orang yang sama yang menarik lengannya dengan kuat dan orang itu adalah Baekhyun. Gila memang karena hampir seluruh isi kantin memperhatikan apa yang dilakukan Baekhyun begitu juga dengan Chen dan Yunae.

“Kenapa dengan lututmu?” tanya Baekhyun tak terlalu keras sambil menengadah keatas menatap Heejin yang tengah berdiri didepannya

Heejin mundur 2 langkah membuat tangan Baekhyun yang memegang kakinya terlepas.

“Tadi pagi aku tidak sengaja tertabrak motor”

“Apa kau bodoh?”

“wow wow wow tunggu dulu, ada apa ini? Kalian kenal?” Chen berhasil menginterupsi keadaan dengan berdiri ditengah-tengah Heejin dan Baekhyun

“Dia….adikku” ucap Baekhyun setengah hati

“Adik? Wah kau tidak pernah bilang padaku kau punya adik”

“Kau tidak pernah tanya”

Heejin memelintir roknya, dugaannya benar, Baekhyun tak akan mungkin menceritakan dirinya pada orang lain sedangkan Heejin? Dia selalu menceritakan pada teman-temannya di Woosung tentang Baekhyun, tentang betapa dia senang memiliki saudara laki-laki yang pasti akan melindunginya.

“Kalau begitu Heejin akan duduk bersama kita disana”

“Andwae!” pekik Yunae

“Waeyo? Baekhyun kakaknya, kenapa tidak boleh?” Chen berteriak senang dalam hati, Heejin duduk bersama mereka dan itu berarti Yunae juga akan duduk disana karena Chen tahu Yunae buka tipe orang yang akan meninggalkan temannya sendirian.

“Ayo Heejin” baru saja Chen hendak menuntun Heejin menuju meja tempat Baekhyun cs duduk, tangan Yunae menahan bahu pria itu

“Kau kan laki-laki, bawa makanan itu” Yunae melengos bersama Heejin

“Bukankah kau tadi yang akan pesan makanan untuk kita? Cepat pesan, aku lapar” kali ini Baekhyun juga melengos pergi membuat Chen menganga sempurna

“YA! Bagaimana aku membawa semua makanan ini?”

~oOo~

Yunae masih mengomel tidak jelas saat hendak duduk, Heejin melirik lalu tersenyum

“Kalian pasti akrab” celetuk Heejin yang berhasil membuat Yunae menunda bokongnya mendarat disalah satu kursi

“Akrab bagaimana? Aku bahkan tidak pernah bermimpi kenal dengan Dinosaurus gila itu” rutuk Yunae “Jangan membahas dia, ayo duduk”

“Tunggu!” suara nyaring Chen bergema lagi membuat 3 pria yang merupakan temannya menutup telinga

“Heejin duduk disini ya” dengan sesuka hati Chen memegang pundak Heejin lalu mendudukkan gadis tersebut dibangku ujung tepat disebelah Baekhyun

Yunae menjerit dalam hati, kini tersisa 2 bangku dibagian tengah dan ujung yang berhadapan dengan Baekhyun dan Heejin.

“Kurang ajar, namja gila ini pasti sengaja” pekik Yunae dalam hati, dia serasa ingin menangis sekarang tapi hal itu benar-benar tidak keren

Dengan hati berat dan gundah gulana, Yunae mendaratkan bokongnya dibangku bagian tengah dan yah sudah pasti bangku ujung yang tersisa diduduki oleh Chen.

“Ya mana makanannya?” sergah seorang pria jangkung yang duduk disamping Baekhyun

“Sabarlah Park Dobi, bibi Jung akan mengantarkan makanannya kesini”

“Bagaimana bisa kau menyuruh bibi Jung membawa makanan itu kesini? Kau tidak kasian? Dia sudah tua, cepat sana kau yang ambil!” kali ini pria dengan mata bulat sempurna yang duduk didepan Park Dobi atau yang benar adalah Park Chanyeol gantian mengomel pada Chen

Chen melirik temannya itu dengan tatapan melas tapi sepertinya sama sekali tak mempan

“Tidak usah menatapku begitu, cepat sana ambil makanannya, ppali!”

“Ishh kau cerewet melebihi wanita Do Kyungsoo”

“Yak!”

Yunae memijit keningnya, bagaimana bisa dia duduk ditengah 2 namja dan yang lebih parah lagi namja disebelah kanan-nya adalah namja gila bernama Chen.

“Owh ya, kau teman Yunae?” sapa Kyungsoo pada Heejin

“Dia temanku dan dia adik Baekhyun”

“Mwo?” pekik Chanyeol dan Kyungsoo bersamaan

“Hey man, kau tidak pernah cerita kalau punya adik. Minggir minggir” Chanyeol mendorong mundur tubuh Baekhyun agar dia bisa melihat Heejin yang duduk diujung sana

“Namaku Park Chanyeol”

“Byun Heejin imnida”

“Aku Kyungsoo, tapi kau bisa memanggilku DO”

“Ne sunbaenim”

“Hey Baekhyun, kita tukar tempat duduk” Chanyeol yang hyperaktif dalam segala hal dengan seenaknya menarik Baekhyun berdiri untuk menukar tempat duduk dengannya

“Tidak perlu memanggil sunbaenim, panggil saja aku oppa dan Heejin-ah kau cantik sekali, apa kau sudah punya pacar?” ujar Chanyeol dengan gummy smile-nya yang khas hingga dihadiahi toyoran bersamaan dari D.O dan Baekhyun

Meja berbentuk persegi panjang dengan 6 bangku yang saling berhadapan itu ramai, biasanya hanya ada 4 orang yang duduk disana namun kali ini ada 2 orang wanita yang mengisi kekosongan dimeja tersebut. Mereka makan sambil mengobrol, Chen & Chanyeol yang merupakan pembicara aktif selalu bisa menemukan bahan bicara, Baekhyun & DO hanya menimpali, Yunae sesekali tersenyum kecut lalu memutar bola mata karena tentu saja Chen tidak akan melewatkan waktu untuk menggodanya, sedangkan Heejin hanya jadi pendengar yang sesekali tersenyum.

“Tapi Heejin-ah, kau tidak mirip sama sekali dengan Baekhyun” celetuk Chanyeol dan berhasil membuat Baekhyun berhenti menyuapkan kimbab kedalam mulutnya

“Ya Dobi, bagaimana bisa kau menyuruh saudara laki-laki & perempuan berwajah identik? Kalau begitu ceritanya hanya ada 2 kemungkinan, Heejin yang wajahnya seperti namja atau Baekhyun yang berwajah seperti yeoja”

“Oho! Chen kau berubah jenius sekarang dan lagi wajah Baekhyun memang sudah seperti yeoja kok—aww!” Chanyeol memekik keras merasakan kakinya seperti dijatuhi batu besar

“Tapi kurasa tak ada perempuan dengan tenaga sebesar itu” lanjut Chanyeol sambil melirik kesal kearah Baekhyun

~oOo~

Angin bertiup kencang malam itu. Jam dinding yang terus bergerak mengarahkan jarumnya kearah pukul 1 lebih 5 menit. Tepat 2 menit datangnya angin kencang itu, butiran air jatuh dengan kuota besar, semakin lama semakin deras, tiupan kencang angin yang menemani hujan tersebut menggoyangkan horden putih yang terpasang di 3 buah jendela kaca besar bergerak liar dan menimbulkan bunyi menyeramkan. Di kamar dengan penerangan temaram itu seorang pria sedang tidur namun sama sekali tak terlihat pulas, peluh memenuhi keningnya, sepertinya sebuah mimpi buruk tengah menenggelamkannya entah dimana. Tangan pria itu mencengkram erat selimutnya, matanya masih menutup rapat, nafas yang keluar dari mulutnya terdengar tak beraturan, hal itu terus terjadi hingga akhirnya pria tersebut memekik dan terbangun.

“Andwae!!”

Dada Baekhyun naik turun, matanya berpencar menatap setiap sudut kamarnya, dia tidak sedang mencari sesuatu, dia hanya mencoba mengusir bayang-bayang mimpi buruknya. Baekhyun mengusap wajahnya yang penuh keringat lalu beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Semua ruangan dirumahnya sama saja, sepi. Baekhyun membuka kulkas lalu meneguk segelas air putih ditangannya, matanya melirik kearah pintu sebuah ruangan dilantai 2. Kilasan kejadian-kejadian masa lalu merasuki otaknya, berganti cepat seperti film yang ditekan tombol fast-forward-nya, memori-memori itu membuat tatapan Baekhyun meneduh dan melembut, wajah tegang dan ketakutan yang semula bersarang sudah menguar entah kemana tapi sepersekian detik kemudian kilasan kejadian lain berhasil menginterupsi dan berjejal masuk kedalam otak Baekhyun membuat pria itu memejamkan mata merasakan sensasi sakit disana, matanya terbuka dan kembali menatap pintu itu tapi tatapannya kali ini sungguh berbeda dengan yang sebelumnya. Tatapan dingin bercampur benci bercampur nanar bercampur sedih bercampur kehampaan bercampur—

“Baekhyun kau sedang apa?”

Baekhyun membalikkan badan cepat dan menemukan sosok Ayahnya disana tengah menatapnya penuh heran.

“Tidak ada, aku hanya turun untuk minum”

“Begitu? Cepatlah naik dan segera tidur lagi kalau sudah selesai”

“Appa…”

“Iya?”

“Bagaimana dengan permintaanku?”

Junghwan melepas kacamata lalu menatap putranya itu. Dia berjalan dan menyentuh puncak kepala Baekhyun dengan lembut.

“Appa masih ingat dan Appa tidak akan melanggar janji. Tidurlah”

Nyeri, hati Baekhyun terasa begitu ngilu dan nyeri. Permintaan itu bukanlah berasal dari hatinya, itu adalah sebuah permintaan yang berasal dari otaknya yang masih rasional. Entah besok, lusa, segera atau nanti yang pasti Baekhyun tak tahu kapan, dia yakin otaknya akan sama irasional-nya dengan hatinya jadi selagi organ dikepalanya itu masih berpikir rasional, dia akan melakukan apa saja untuk mencegah hal gila yang mungkin suatu saat akan dilakukan anggota tubuhnya tanpa sadar walau sebenarnya itu berarti dia harus siap menerima konsekuensi benda yang berdetak didalam tubuhnya itu akan merasakan sakit dan nyeri melebihi yang dia rasakan sekarang. Semua tidak apa asal bukan dia yang merasakan sakitnya, itulah yang Baekhyun tanamkan diotaknya.

To Be Continue…..

 

Karena yang part 1 kemarin kayanya terlalu pendek jadi part 2 ini agak saya panjangin. So what do you think? Semoga gak bosen ya karena ini baru part 2 loh dan jangan bosen juga ngasih komen =))

Iklan

35 pemikiran pada “Thorn of Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s