Stuck (Chapter 3)

Title       : Stuck (Chapter 3)

Author  : Hye Kim

Genre   : Romance, Comedy

Length  : Multichapter

Rate       : PG-15

Main cast:

  • Kim Hyemin
  • Oh Sehun (EXO)

Other cast:

  • EXO member
  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Other cast.

Disclaimer: Other cast and the plot of story are mine. Pure from my mind. NO plagiarism.

Summary: You are mine. And I’m yours, from the first time we meet each other. Note it. Don’t you dare to leave me.

****

[PREVIEW]

Sehun POV

Aku menatap Hyemin sekali lagi, sebelum aku beranjak menuju pintu. “Tidurlah yang nyenyak, Nona Kim.”

Aku membuka pintu kamar hotel Hyemin—yang sengaja kupesan untuk gadis bawel itu.

“Sehun­-a, apa yang kau lakukan di sini—di kamar Hyemin?”

****

Author POV

Lay berjalan menuju kamarnya—bersama Suho—yang berada di antara kamar Hyemin—gadis yang menjadi asisten Sehun, entah asisten untuk apa bagi Lay—dan kamar Baekhyun- Chanyeol. Dapat dilihatnya pintu kamar Hyemin terbuka. Ia hendak menyapa gadis itu, namun ia terhenti dan bingung melihat seorang lelaki keluar dari kamar Hyemin.

“Sehun-a, apa yang kau lakukan di sini—di kamar Hyemin?” Sehun membeku. Aku tak melakukan apa-apa. Kau pikir apa yang akan aku lakukan pada gadis bawel itu?

Sehun tersenyum jahil pada Lay. “Tidak, hyung. Tadi aku hanya ingin mengajak gadis itu keluar, tetapi ia malah tertidur sekarang. Dia sudah terlelap hanya dalam hitungan detik, loh, hyung!” Entah kenapa, Sehun mengatakan hal aneh—bagi Lay. Sehun mengatakannya seperti ia telah melihat pohon tumbuh di kawah gunung berapi. Sangat kekanakan.

“Cih, bocah aneh!” Lay menjitak Sehun yang hanya terkekeh.

“Aku tidak aneh!” teriak Sehun, kekanakkan. Lay menjitak Sehun—lebih kencang. “Sakit, Hyung!” rintih Sehun, kesal. Lay hanya terkekeh, dan kembali menyiksa Sehun dengan jitakannya.

Ya! Zhang Yixing! Sakit!”Lay sudah berlari menuju kamarnya setelah Suho membukanya sebelum Sehun menghajarnya—membalasnya. Sehun menggedor kamar Suho-Lay itu. “HYUNG! Buka pintunya!”

Tak berapa lama setelah aksi Sehun menyiksa pintu kamar Suho-Lay, Suho—akhirnya—membuka pintunya,menunjukkan wajah bodohnya—yang dibuat-buat—pada Sehun. “Eo, Sehun-a. Wae? Wajahmu jelek sekali,” ejek Suho sembari berusaha menutup pintu kamarnya langsung setelah melihat bayangan asap keluar dari telinga dan hidung Sehun itu*-_-*.

Hyung! Kalian jahat sekali!” Sehun masih berusaha mendorong pintu kamar Suho. Namun, usahanya sia-sia karena Lay membantu Suho untuk tidak membiarkan Sehun masuk ke dalam kamar mereka, dan akhirnya pintu itu tertutup.

Sehun menggerutu pada pintu kamar Suho-Lay. Ia menyilangkan tangannya di dada, berjalan menuju kamarnya dan Luhan.

Hyung, buka pintunya!”

Beberapa detik kemudian, Luhan membukakan pintunya dengan wajah setengah tidurnya. “Eo, Sehun-a! Kau kenapa?” Luhan berjalan mengikuti Sehun yang tampak merajuk itu. Sehun berdecak. Pertanyaan Luhan hampir—atau mungkin sama dengan pertanyaan Suho tadi.

“Tidak! Aku mau tidur!”

Sehun melompat ke kasur di sebelah Luhan dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dan berjalan menuju mimpi yang entah indah atau tidak. *:D*

Luhan hanya menggeleng melihat kelakuan magnaenya itu. “Dasar aneh!”

Sehun membuka selimut yang menutupi kepalanya. “Jangan sebut aku aneh! Aku tidak aneh!” teriak Sehun galak. Luhan tersentak, mengeluskan dadanya akibat teriakan Sehun yang hampir membuatnya terkena serangan jantung mendadak.

“Ya, baiklah! Tapi, tidak usah teriak seperti itu! Kau mau membuatku mati konyol karena teriakanmu itu?” sahut Luhan, tak kalah keras.

Sehun mengabaikan Luhan, dan kembali ke perjalanannya menuju alam mimpi.

****

Hyemin terbangun dari tidurnya, lalu bangkit menuju jendela kamarnya, menikmati pemandangan Beijing pada pagi buta ini. Entah kenapa ia merasa lapar sekali, padahal ia makan banyak sekali semalam. Bagaimana tidak? Ia kira restoran hotel ini akan menyajikan makanan Cina—yang tidak terlalu ia suka itu, tetapi restoran hotel ini menyajikan masakan khas Italia!

Bagaimana Hyemin tidak menganga lebar—sebelum sempat ditegur Sehun—melihat makanan kesukaannya semua itu. Pizza, spaghetti, dan lain sebagainya. Semuanya adalah makanan favoritnya!

Dan ia heran kenapa ia malah merasa seperti tidak makan seminggu dengan keadaan perutnya yang telah menerima jumlah makanan yang sangat besar itu semalam.

Hyemin menghela nafas. Mungkin saja makanannya itu telah menguap saat ia tertidur. Hah. Memikirnya saja sudah membuatnya pusing. “Sepertinya aku harus bertanya pada si botak nanti!”

Gadis dengan tinggi sekitar 166—atau lebih—itu berjalan menghampiri ponselnya yang terletak di samping kasurnya. Ia melihat layar ponselnya. Mendengus. Wallpaper ponselnya itu terdapat wajah Sehun yang aneh—menggelikan bagi Hyemin.

Ponsel Hyemin bergetar, menampilkan sebuah pesan yang baru saja sampai. Hyemin tersenyum melihat siapa pengirimnya.

From: Woobin Oppa

Ya, kau tidak merindukanku, ya? Sejak kemarin adik kecilku ini bahkan tak mengabariku sama sekali. Kau pasti selalu bermesraan dengan Sehun, ‘kan? XD Makanya kau melupakanku? Dasar adik nakal. Lihat saja, aku akan menghukummu :p

Your Lovely Broo~

Hyemin menaikkan alisnya. Kakaknya ini sepertinya menyukai Sehun. Sebenarnya apa yang ada di otak Woobin sampai-sampai yang ia pikirkan adalah mengejeknya dengan Sehun? Hyemin mendengus sebal.

To: Woobin Oppa

Merindukanmu? Sepertinya tidak~ aku tidak bermesraan dengan Sehun!! Kenapa oppa senang sekali mengejekku, huh? Menyebalkan!! Menghukumku? Aku tidak takut, Tuan Kim!!

Hyemin Kim

Sent.

Baru semenit dia mengirim pesan pada kakaknya itu, ponselnya berdering. Ia memajukan bibirnya disaat ia tahu siapa yang meneleponnya—yang ia kira kakaknya. Dengan malas, Hyemin mengangkat panggilan pagi hari yang menyebalkan—baginya.

Wae? Pagi-pagi sudah menggangguku saja!” seru Hyemin sembari pura-pura menguap. Namun, sepertinya lawan bicaranya itu tak mudah tertipu olehnya.

Kim Hyemin, jangan coba-coba kau menipuku! Kau tidak bisa menipu seorang Oh Sehun! Dan apa katamu tadi? Mengganggumu? Hey nona, aku meneleponmu untuk segera mandi dan turun ke bawah bersamaku.” Oh Sehun. Lelaki menyebalkan itu memang sangat menyebalkan sekali!

Yaa! Ini masih pagi sekali! Lihat jam! Ini masih jam enam dan kau sudah menyuruhku untuk mandi? Hellooo! Air masih dingin jam segin—“

Bodoh, kau kira ini kontrakan? Ini hotel bintang lima, Bodoh! Kau bisa menggunakan air panas! Jangan mencoba untuk membodohiku, menipuku, dan mencari alasan, Kim Hyemin!

Hyemin terdiam, menyengir—yang sangat Sehun benci dengan cengiran tak bersalah itu. “Oh iya, ya, aku lupa! Sepertinya aku tertular penyakit pikun akutmu, Oh Sehun.”

“MWORAGO? PIKUN AKUT? KIM HYEMIN KAU BENAR-BENAR!” Hyemin menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Oh Sehun, volume suaramu bisa dikecilkan sedikit? Gendang telingaku bisa pecah jika kau berteriak seperti itu,” ujar Hyemin polos—wajah yang dapat membuat Sehun luluh sekaligus sebal seketika.

Kau lebih sering berteriak, Kim Hyemin.

“Tapi aku tak sekeras teriakanmu, Tuan Oh!” sahut Hyemin sebal. Hyemin menggerutu sebal tanpa suara.

Jangan menggerutu untuk hal yang tidak jelas, Nona Kim.” Hyemin bergidik pelan. Sehun sepertinya mempunyai cenayang khusus.

Jangan memikirkan hal yang tidak jelas, Hyemin-a. Wajah bodohmu sudah terbayang di otakku.”

Hyemin bergidik geli—lagi. “Oh Sehun! Kau mempunyai ilmu hitam, ya? Kenapa kau bisa membayangkan wajah bodohku? Kenapa kau tahu aku mem—“

Jadi, benar, ya, kau sedang memikirkan hal yang tidak jelas? Kim Hyemin, kau bertanya kenapa aku mengetahui wajah bodohmu itu? Dasar gadis aneh! Aku selalu melihat wajah bodohmu setiap hari!” Dan Hyemin dengar bahwa Sehun tengah terkekeh pelan.

Aniya! Oh Sehun, kau menyebalkan! Aku tidak bodoh! Ya—walaupun aku sedikit bodoh di pelajaran si botak, hehe.” Hyemin mengelus tengkuknya. Ia mengakui, bahwa ia sangat bodoh di pelajaran—yang entah pelajaran apa itu.

Kau memang bodoh, Kim Hyemin. Bahkan terlihat dari wajahmu itu.” Sehun tertawa sangat keras.

YAAAAA—“ TUT……TUT

“DASAR NAMJA MENYEBALKAN! MUSNAHLAH KAU!”

Hyemin melemparkan ponsel miliknya ke kasur—untungnya. Hyemin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk, yah, apalagi selain mandi.

****

Sehun POV

Aku tergelak di atas kasurku. Hahaha. Gadis bawel itu pasti sedang menampakkan wajah bodohnya dan memajukan bibir cherrynya itu. Bibir?

Seketika aku terdiam, mengingat kejadian di kamar Hyemin kemarin siang. Di mana aku hampir—dengan bodohnya—mencium gadis itu, Hyemin. Asal kalian tahu saja, saat itu entah kenapa aku ter—TIDAK! Jika hyungdeul terkena virus Hyemin, aku terkena virus si Hitam itu! Kim Hyemin, tolong sebarkan virusmu agar aku tak terkena virus si Hitam-,- Tapi sepertinya aku telah terinfeksi oleh virus keduanya.

“Kau tadi tertawa keras sekali. Dan sekarang kau sudah diam dengan wajah anehmu. Kau kerasukan jin apa?” Luhan hyung tiba-tiba saja muncul dengan handuk yang meliiti kepalanya.

“Aku tidak aneh!”

Okay, terserah padamu saja. Kau tertawa kenapa, hah? Sepertinya lucu sekali sampai tertawa seperti itu,” ujar Luhan hyung, mengeringkan rambutnya yang basah.

Aniya! Kau tahu, hyung? Kim Hyemin..Kim Hyemin… Haha!” Aku kembali tertawa, membayangkan gadis bawel itu. Luhan menghampiriku dan menjitakku pelan—tak sekencang lelaki Cina bernama Zhang Yixing itu.

“Kau gila? Astaga, Oh Sehun! Badanmu panas sekali!” Luhan hyung menyentuh dahiku. Aku menepis tangannya—segera.

Hyung! Aku tidak sakit!” Luhan hanya menyengir tak jelas.

I know, Oh Sehun.”

Aku mendengus sebal. Kenapa akhir-akhir ini orang-orang di sekelilingku sering sekali mengataiku—terlebih Hyemin?

Aku melangkahkan kakiku dan bersiap untuk mandi.

****

“Oh Sehun! Lihat ada kedai es krim! Ayo ke sana!” Hyemin menarik-narik tanganku. Namun, aku hanya diam di tempat, berdecak.

“Kim Hyemin, kau hobi sekali, sih, makan es krim! Kau tak bosan?” gerutuku kesal. Aku tak habis pikir dengan gadis ini. Apa es krim senikmat itu hingga ia sangat menyukainya? Well, es krim memang sangat lezat, dan aku juga sangat menyukainya. Namun, aku tak berlebihan sepertinya.

Hyemin menatapku dengan tatapan memohonnya—yang terlihat imut. “Oh ayolah, Oh Sehun! Kau juga kalau melihat kedai bubble tea selalu langsung membelinya! Aku tak memintamu membelikanku, aku hanya minta kau menemaniku ke sana. Ya? Temani aku, please.” Ia menggosok-gosokkan tangannya, memohon padaku. Perkataan dia ada benarnya.

Aku menghela nafas. “Kau tidak takut sakit flu?” Gadis itu menggeleng. “Aku ini sudah kebal dengan flu!”

Aku mengacak rambutnya—gemas. “Dasar! Baiklah, ayo!”

Gadis itu berjalan cepat sembari menarikku. “Kim Hyemin, kedai es krim itu tidak akan pindah tempat! Pelan-pelan jalannya!”

Namun, gadis bermarga Kim itu malah menghiraukanku. Sesampainya di kedai es krim, dengan riangnya dia memesan es krim—dan bodohnya—dia menggunakan bahasa Korea sehingga pelayan kedai itu hanya menatapnya bingung.

Aku menjitaknya. “Ya! Kim Hyemin bodoh! Dia tidak bisa berbahasa Korea! Kau duduklah di sana, aku yang akan memesannya!” Aku mendorong tubuhnya pelan. Dan seperti biasa, gadis itu menampakkan wajah merajuknya.

Ia berjalan meninggalkanku dengan menghentak-hentakkan kakinya—lucu. Aku tertawa pelan melihat gadis itu.

“Tuan, kau ingin memesan apa?” aku mengalihkan pandanganku pada si pelayan kedai.

“Ah ya, aku ingin memesan dua cup es krim rasa chocolate,” ujarku, tersenyum.

“Tadi itu kekasihmu, ya? Kalian pasangan yang lucu,” ujar si pelayan sembari memberikan struk padaku. Aku mengambil struknya, dan tersenyum kaku. Aku menatap Hyemin. Gadis itu masih dengan wajah merajuknya. Aku tersenyum melihatnya.

“Ah, benarkah? Apa kami terlihat—sangat jelas—seperti sepasang kekasih?” Pelayan itu mengangguk. “Iya. Lihat kekasihmu itu, sepertinya dia tengah merajuk. Ini es krim kalian. Terima kasih.”

Aku mengambil es krim milikku dengan gadis yang tengah merajuk itu dan menghampirinya. Hyemin menatapku garang.

“Ini es krimmu.” Hyemin tak kunjung meraih es krimnya. Dengan segera, kutaruh es krimnya di atas meja kedai ini.

Ya, kau kenapa?”

Ia menggeleng, menikmati es krimnya—yang entah sejak kapan sudah di tangannya.

“Kim Hyemin,” panggilku pelan. Aku mendesah. Bagaimana tidak? Hyemin memakan es krimnya terburu-buru dengan wajah menyeramkan—nan imut—seperti ingin memburu mangsanya segera.

Gadis itu mengabaikannya. “Kim Hye—“

“Cepat habiskan saja es krimmu, Oh Sehun,” potong Hyemin, dingin. Namun, sepertinya wajah dinginnya itu tak seperti wajah orang yang benar-benar dingin.-.

“Baiklah.”

Tak lama setelah itu, Hyemin beranjak dari kedai dan meninggalkanku. Aku meninggalkan kedai dan—dengan sedikit tidak rela—aku juga meninggalkan es krimku yang tinggal sedikit.

“Tunggu aku!” aku berlari menghampirinya yang sudah agak jauh dariku. Saat sudah dekat, kuraih tangannya dan membalikkan tubuhnya hingga ia menatapku. Namun sayang, gadis ini tak mau menatapku.

Aku, jujur saja, tak suka melihatnya diam. Melihat gadis ini diam, terlihat sangat aneh. Walaupun aku sedikit risih dengan kelakuannya yang berlebihan dan bawel ini, tapi aku mulai terbiasa dengan itu.

“Kim Hyemin, lihat aku,” ujarku pelan.

Sirheo!”

Aku memegang bahunya. “Katakan padaku apa yang membuatku seperti ini.”

Dan akhirnya, gadis ini mau menatapku. “Aku tak suka disebut bodoh!”

Jadi hanya karena aku menyebutnya bodoh dia merajuk seperti dilarang untuk menikah? Astaga mengingat itu, aku teringat dengan Kyuhyun hyung yang mengintrogasi Hyemin seperti melarang anaknya untuk menikah *-_-*

Aku tertawa. “Jadi, kau marah hanya karena ini?”

Ia mendengus kesal. “Apa yang kau maksud ini? Aku tak suka disebut bodoh!” sahutnya, dengan wajah merajuknya lagi.

Aku mendekatkan wajahku padanya. “Kau bisa marah, Kim Hyemin?”

Hyemin menatapku, dan sedetik kemudian memalingkan wajahnya dariku dengan wajah merona. “T-Tentu saja bisa!”

Aku berniat menggodanya. “Benarkah? Hyemin-a, bukankah aku pernah bilang kalau wajah meronamu itu jelek? Jika kau marah, wajahmu pasti tidak akan merona, Nona Kim.”

Hyemin mendorong tubuhku, meninggalkanku. Baru saja ia berjalan tiga langkah, ia berbalik, menatapku dengan kesal.

“Kau ingin melihatku, ya?”

Hyemin menatapku sinis. “Es krim tadi harganya berapa? Aku akan menggantinya! Kau percaya diri sekali, cih!”

Aku berjalan mendekatinya, meraih tangannya dan menggenggamnya. “Oh Se—“

“Es krim tadi tak usah diganti. Sudah, ayolah kita kembali ke hotel!”

Aku menatapnya dari samping. Tatapan gadis itu lurus ke depan, sama sekali tidak mau menatapku. Dan entah kenapa, hatiku terasa sakit. Yah, walaupun ini kesalahanku dia merajuk.

“Kim Hyemin.”

Dia menoleh. “Kau memang tidak bodoh. Tapi, aku senang melihat wajahmu saat aku mengataimu bodoh. Ani, sebenarnya kau tidak bodoh maksudku, tapi kau terlihat sangat polos sekali. Aku ingin melihat wajahmu itu. Apa tidak boleh?”

****

Hyemin POV

Aku menatap layar TV dengan bosan. Bayangkan saja, aku ditinggalkan di hotel selama tiga jam oleh Sehun dan teman seperjuangannya. Dan selama tiga jam ini pula, aku telah menunggu mereka.

Biasanya jika bosan aku pasti sudah mengutak-atik tak jelas dengan ponselku. Tetapi, aku sedang tidak mood untuk fangirling. Selain itu, kedua ponselku itu entah kenapa baterainya habis disaat yang bersamaan. Ini semua karena Oh Sehun menyebalkan itu sepertinya.

Lelaki menyebalkan itu mengambil ponselku yang Samsung dan memaksaku untuk memberitahu kode ponselku. Dengan terpaksa, aku memberitahu kodeku—setelah diancam olehnya dengan ancaman yang aneh. Kalian tahu apa ancamannya?

Aku akan menciummu jika kau membantahku.

Dan mendengar ancamannya itu, aku hanya diam tak berkutik. Dasar Oh Sehun sialan. Dan akhirnya—dengan terpaksa— aku memberikan ponselku padanya. Tak peduli—sebenarnya aku takut—jika ponselku akan entah dihancurkan, dilihat-lihat isi ponselku—walaupun tidak ada yang aneh di dalam ponselku—ataupun mungkin ia akan menjual ponselku? Haha. Tapi kemungkinan terakhir itu tidak mungkin terjadi.

Oh Sehun. Tentu saja. Ayahnya seorang pimpinan perusahaan besar, dia tidak mungkin menjual ponselku hanya karena ia membutuhkan uang melihat ayahya yang kaya itu*-_-*.

Mendadak aku berinisiatif untuk menelepon Kris oppa. Aku beranjak menuju ponselku yang sedang dicharge berada.

“Hello? Hyemin-a, what happen, dear? Something’s wrong?” tanya Kris oppa di seberang sana dengan nada khawatir.

Nope, Oppa, just wanna call you. Oppa, rekaman acara music itu masih lama?”

Kudengar ia terkekeh pelan. ”Do you miss me, right? Kami sedang beres-beres kok. Sebentar lagi kembali ke hotel. Kau bosan, ya?

Eo, aku bosan sekali!”

Dasar! Tunggu sebentar, Gadis kecilku, okay? WaiYA! Sehun­-a!

Aku menjauhkan ponselku, mendengar teriakan Kris oppa. Sehun? Astaga namja itu benar-benar.

Kim Hyemin, kau menelepon Kris hyung, tetapi kau tidak meneleponku, hah? Kau ini asistenku, bukan asisten Kris! Kau—Hyung, sakit! Sudahlah, cepat kemasi barang-barangmu sekarang. Malam ini kita akan langsung terbang ke Jepang, arasseo?

Sambungan telepon mati. Sehun. Lihat saja kau! Kau akan mendapatkan pembalasannya nanti—saat waktunya tiba.

Dan apa katanya? Ke Jepang? JEPANG? Dengan segera, aku meraih koperku yang tak jauh dariku dan merapikan barang-barangku—semangat.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Kris oppa.

OPPA! Ada ap—“

Kalau aku yang telepon pasti kau tidak akan berteriak dengan semangat seperti itu, ‘kan? Hah. Kau sedang apa?

“Oh Sehun, kau benar-benar terkena penyakit pikun akut, ya? Aku sedang merapikan barangku, seperti yang kau katakan sebelumnya.”

Pikun? Aku tidak pikun. Aku ingat. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau merapikan barang-barangmu. Itu saja.

“Begitukah? Sehun, ketika kembali ke Korea, kita ke rumah sakit, okay?” Aku tersenyum jahil—tanpa diketahui oleh Oh Sehun.

Untuk apa? Kau sakit?” tanyanya dengan nada –khawatir?

Aku terkekeh tanpa suara. “Bukan aku yang sakit, tapi kau. Aku ingin memastikan bahwa kau benar-benar tidak terkena penyakit pikun akut!”

“Ya! KAU BEN—

Aku memutuskan sambungan teleponnya. Hahahaha. Kena kau, Oh Sehun.

Aku menaruh ponselku kembali, dan segera membereskan barang-barangku. Dapat kudengar ponselku bordering selama beberapa kali. Dan dapat kupastikan yang meneleponku itu tak lain dan tak bukan manusia yang tengah mengalami pikun akut itu. Yah, Oh Sehun. Siapa lagi kalau bukan dia.

Aku hanya tertawa. Namun, tertawaku meluntur begitu saja.

Oh Sehun bisa melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya padaku. Dan seketika aku ingat ancamannya tadi siang.

TIDAK MUNGKIN!

****

Tokyo, Japan

Aku menatap pemandangan kota Tokyo pada malam hari dari dalam van. Malam yang indah. Namun, keadaan saat ini tak seindah malam di Tokyo.

Aku benar-benar sedang tak mood untuk melakukan hal-hal yang biasa kulakukan. Entah kenapa. Mungkin saja karena kejadian sebelum kami berangkat menuju bandara di Beijing. Lebih tepatnya di hotel saat member EXO kembali dari rekaman itu.

Dan benar saja apa yang kupikirkan waktu itu, Sehun menyebalkan itu hampir membalaskan dendamnya padaku kalau saja Chanyeol oppa melihatnya masuk ke kamarku.

****

FLASHBACK

Author POV

Hotel in Beijing, about 5 PM CST

Sehun segera turun dari van sesampainya di hotel. Ia berjalan cepat ke dalam lobi hotel dan segera masuk pada elevator yang kebetulan sedang terbuka. Anggota yang lainnya hanya mengerutkan dahi mereka melihat tingkah aneh magnae mereka itu dan juga wajahnya yang lebih terlihat seperti seseorang yang ingin bunuh diri atau semacamnya.

“Sehun, tidak apa-apa,’kan?” tanya Chen pada Tao, yang berada tepat di sampingnya. Tao hanya mengangkat bahunya, tak tahu.

Kris mendekati Chen, dan berkata sembari tersenyum, “Sepertinya dia marah pada Hyemin karena Hyemin hanya meneleponku sedangkan gadis itu tidak meneleponnya.”

Suho tersenyum mendengarnya. “Bukankah kalian berpikir bahwa Sehun menyukai Hyemin? Menurutku sih, dia menyukai Hyemin.”

Anggota yang lain mengangguk setuju, berbeda dengan Luhan. Lelaki berwajah imut itu sepertinya mengingat sesuatu. Mengingat apa yang Sehun alami setahun lalu, lebih tepatnya saat musim dingin.

“Lu-geo, ayo kita naik ke atas!” seru Minseok pada Luhan, membuyarkan lamunan Luhan. “Eo, kajja!”

Kembali ke Sehun.

Sehun keluar dari elevator dan menuju sebuah kamar yang tak jauh dari elevator. Sesampainya di depan kamar itu, Sehun—dengan sadisnya—mengetuk atau lebih tepatnya menggedor kamar Hyemin—dengan wajah dingin sekaligus kesalnya.

“KIM HYEMIN, CEPAT BUKA PINTUNYA!” teriak Sehun, kesal.

Untungnya satu lorong hotel ini berisi kamar-kamar para staff SM. Sehingga tidak ada yang dapat menegurnya.

Hingga dua menit berlalu, kamar Hyemin masih tertutup rapat.

Sehun memikirkan kemungkinan-kemungkinan Hyemin tidak membukakan pintunya. Apakah Hyemin tertidur? Tidak mungkin jika gadis itu tertidur. Bagaimana jika dia sengaja tidak membukakan pintunya? Sehun menjadi kesal memikirkannya.

Atau bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis bawel itu?

Sehun mendadak panik, di balik wajah dinginnya itu. Disaat Sehun berbalik meninggalkan kamar Hyemin, ia mendengar suara parau Hyemin.

“Oh Sehun, ada apa?” Hyemin menatap Sehun dengan wajah bangun tidurnya. Sehun yang sedang kesal pada Hyemin, mendadak kekesalan itu hilang saat melihat wajah Hyemin yang terlihat menggemaskan bagi Sehun.

Namun, Sehun masih ingin membalaskan dendamnya pada Hyemin akibat tak meneleponnya tadi, malah menelepon Kris.

Sehun menatap Hyemin sadis—acting. “Kau..kenapa hanya menelepon Kris?”

Wajah Hyemin yang awalnya setengah sadar, menjadi wajah full energy—normal. “Kenapa? Aku kan—“

“Menyukai Kris hyung? Begitu?” Sehun, perlahan berjalan mendekati Hyemin dengan senyum miringnya—juga wajah dinginnya serta tatapan tajamnya.

“T-tidak! Aku, kau tahu bukan kalau aku—“

“Kalau kau apa, Hyemin-a?” entah kenapa, Sehun mengatakannya dengan nada menggoda Hyemin.

Sehun sudah berada di dalam kamar Hyemin. Dan pintu sudah tertutup.

“Oh Sehun, kau ingin melakukan apa?” tanya Hyemin polos, sembari mendorong tubuh Sehun yang sudah berjarak sangat dekat dengannya.

“Kim Hyemin, menurutmu aku akan melakukan apa, eum?” Sehun menaikkan satu alisnya dengan tatapan menggodanya.

“Kim Hyemin, aku akan menghukummu.”

Hyemin mengerjapkan matanya. “Menghukumku? Karena apa?”

“Bukankah kau sudah mengetahuinya, Nona Kim?”

Hyemin terdiam. Dan sedetik kemudian, punggungnya menabrak tembok di belakangnya.

Mati aku, batin Hyemin.

Sehun mengurung Hyemin dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya pada wajah polos Hyemin.

“Oh Sehun,” lirih Hyemin saat menyadari wajahnya hanya berada beberapa senti di depannya.

Sehun menyentuh pinggang Hyemin dengan tangan kanannya, mendorong Hyemin mendekat. Hampir Sehun menyentuh bibir Hyemin, ia mendengar teriakan Chanyeol dari luar kamar. Dan untuk kedua kalinya, ia gagal mencium seorang Kim Hyemin yang entah kenapa itu terjadi tanpa sadar.

“OH SEHUN, APA YANG KAU LAKUKAN? CEPAT KELUAR!” Dan dengan sadisnya—lebih sadis dari Sehun, Chanyeol menggedor pintu kamar Hyemin.

Sehun mendesah pelan. “Chanyeol benar-benar mengganggu kita saja. Hah.”

Hyemin hanya menganga dengan perkataan Sehun. Kita dia bilang? Dasar namja mesum.

Sehun melangkah menuju pintu dengan sebelumnya tersenyum dingin pada Hyemin—membuat gadis itu sedikit takut dan berdebar-debar di saat bersamaan.

“OH SEHUN KAU!”

END OF FLASHBACK

****

Hyemin POV

Aku menatap ke arah lelaki yang sangat menyebalkan di sampingku. Sangat menyebalkan! Ia melarangku ini-itu sejak dari hotel. Lelaki itu bahkan melarang duduk di samping Kris, bahkan seluruh member yang lain. Sebenarnya ada apa dengan lelaki ini?

Mungkin, yah, aku memang asistennya, tapi kenapa aku tak boleh menelepon Kris? Bukankah aku bebas menelepon siapa aja—sesukaku?

Apa mungkin dia…..cemburu? Kim Hyemin, sadarlah! Ia tak mungkin cemburu pada Kris karena kau hanya menelepon Kris dibanding dengan meneleponnya.

Lelaki bermarga Oh ini semakin aku dekat dengannya, dia semakin menyebalkan. Dia bahkan bukan ayahku!

Tiba-tiba ponselku berdering.

Kyuhyun Oppa.

Aku tersenyum, mengangkat panggilan dari Kyuhyun yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, dan juga idolaku.

Eo, Oppa! Wae?”

Kau sudah berada di Jepang, kah?”

“Eum, Kyuhyun oppa sudah sampai juga?” aku menoleh ke arah Sehun yang—tadinya memejamkan matanya—sekarang tengah menatapku tajam. Aku membeku.

Ya, aku sudah di hotel sejak sore tadi. Kau sudah makan?

“Kim Hyemin, itu namja itu, ‘kan?” tanya Sehun datar, mengambil ponselku dan mematikan ponselku. Aku hendak protes, tetapi tatapan tajamnya memberhentikanku untuk melakukannya.

“Kau—“

Wae ddo?” seruku dengan suara merajukku. Aku tak habis pikir dengan lelaki ini. Sebenarnya mau dia apa?

Hening. Sehun hanya diam, tak menanggapi ucapanku barusan.

“Oh Sehun,” rengekku pelan, menyentuh tangan kanan miliknya, menarik-nariknya pelan. Sehun menoleh, menatapku dingin. Bukannya merasa takut dengan tatapan dinginnya, justru aku merasakan wajahku memanas karena wajah namja ini berada tepat di depan wajahku.

Entah aku bodoh atau apa, tubuhku tak bisa bergerak selama sepersekian detik—lebih. Sehun menatapku dalam diam. Tatapan dinginnya berubah menjadi tatapan hangat miliknya. Tangannya menyentuh puncak kepalaku, mengacak rambutku pelan.

“Sudahlah, lupakan saja. Okay?” Lelaki ini tersenyum lembut ke arahku, aku ikut tersenyum. “Eum,” ujarku.

Aku mengedarkan ke luar jendela. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 waktu Jepang, namun masih banyak sekali orang-orang, terlebih pemuda-pemudi yang masih berkeliaran di pusat kota. Pandanganku terhenti di sebuah toko bernuansa merah muda yang berada tepat di sampingku—karena keadaan van sedang berhenti akibat lampu lalu lintas.

Aku melirik ke arah lampu lalu lintas itu. Lampu akan berganti hijau dalam waktu 90 detik lagi. 90 detik.

Aku menoleh pada Sehun. “Oh Sehun,” panggilku dengan wajah memohonku yang mungkin tidak akan terlihat oleh lelaki ini. Namun, sepertinya ia melihatnya karena aku dapat mendengar helaan nafasnya—hal yang ia lakukan jika aku memohon padanya selama seminggu ini.

Eum, wae?”

Aku menunjuk toko pink itu, sesekali melirik lampu lalu lintas. 49 detik.

“Apa? Hello Kitty?” Aku mengangguk semangat.

“Aku ingin ke sana, Oh Sehun. Boleh, ya? Eum?” aku mengepalkan kedua tanganku, mengeluarkan puppy eyesku.

25 detik.

Ia terdiam. Hingga akhirnya ia menghela nafas—lagi.

“Baiklah.” Sehun berbicara pada manager dan ia mengizinkan kami untuk turun sebentar.

Setelah lampu lalu lintas berganti menjadi hijau, van berhenti di tempat yang tidak jauh dari toko. Aku dengan semangat langsung turun dari van, diikuti oleh Sehun.

“Hyemin, Sehun, kalian mau ke mana?” tanya Baekhyun oppa sembari mengucek matanya, saat melihatku dan Sehun turun.

“Aku ingin menemani Hyemin sebentar, Hyung. Kau mau ikut?” Baekhyun mengangguk, lalu ikut turun dari van. Kulihat anggota yang lain masih dalam keadaan terlelap. Sementara van lainnya yang membawa anggota lain, berhenti di depan van kami. Kulihat Tao dan Yixing oppa juga ikut turun dan berjalan bersama kami.

“Kau mau ke mana, Hyemin-a?” tanya Baekhyun, masih dengan wajah setengah tidurnya. Aku menunjuk toko Hello Kitty yang berada tak jauh dari tempat kami berjalan.

Hello Kitty?” ucap Baekhyun, Tao, dan Yixing oppa bersamaan. Aku hanya mengangguk riang, lalu berjalan cepat menuju toko itu.

Sehun menahan tanganku. “Pelan-pelan saja. Toko itu buka 24 jam, tenang saja. Lagipula toko itu takkan lari, kecuali ia takut padamu.” Sehun tersenyum jahil padaku. Aku memukul dadanya dan berusaha melepaskan genggaman tangannya. “Menyebalkan!”

“Kalian ini sepertinya cocok sekali jika menjadi sepasang kekasih,” goda Baekhyun dengan senyum jahilnya. Aku menatapnya tajam, lalu merengek. “Baekhyun oppa!”

Aku melirik Sehun. Lelaki itu membuang wajahnya dan menampakkan wajah dinginnya. Lelaki aneh. Dia menoleh padaku, menatapku tajam, lalu membuang muka lagi. Aku tak menghiraukannya, berlalu dengan cepat menuju toko Hello Kitty itu.

Sesampainya di toko itu, aku melompat riang, mengelilingi toko itu. Kulihat Sehun sedang duduk di dekat meja kasir sembari mendengarkan lagu melalui earphonenya. Wajahnya tak terlalu kelihatan karena tertutup topinya.

Sedangkan Tao, Yixing, dan Baekhyun oppa sedang melihat-lihat boneka dan sebagainya.

Setelah berkeliling-keliling, aku menemukan dua pasang sepatu yang menarik perhatianku. Sepatu Hello Kitty berwarna pink dan yang satunya berwarna ungu bercampur dengan pink. Aku berjalan menuju Sehun yang sedang terduduk itu sembari membawa dua pasang sepatu bergambar Hello Kitty itu. Aku ingin memintai pendapat dari Sehun, mana sepatu yang cocok untukku.

“Oh Sehun,” panggilku, lalu duduk di sampingnya. Lelaki itu tak menghiraukanku. Mungkin karena earphonenya. Aku melambaikan tanganku di depan wajahnya.

Ia melepas sebelah earphonenya. ”Kenapa?”

“Kau tidak merasakan aku saat aku duduk di sampingmu?” Ia hanya menggeleng. Aku menggembungkan pipiku. Ia tersenyum, mencubit pipi sebelah kananku.

“Kena—kau ingin membeli keduanya?” Sehun menunjuk sepatu-sepatu itu. Aku menggeleng. “Menurutmu mana yang bagus,ani¸yang cocok untukku?”

Sehun terlihat berpikir. Ia menaruh jari telunjuknya di dagunya. “Kalau kau lebih suka yang mana?”

Aku menghela nafas. “Aku suka keduanya, tapi aku tak boleh sekarah, bukan? Jadi, aku ingin pendapatmu.” Aku tersenyum padanya.

“Aku suka keduanya, tapi lebih suka yang pink. Lebih terlihat cute.” Aku berdiri. “Benarkah? Gomawo, Oh Sehun!” Aku berlari meninggalkan Sehun dan berjalan menuju kasir, meminta ukuran yang pas untuk kakiku—kebetulan pekerja di toko ini dapat berbahasa Inggris—dan membayarnya.

Saat sedang menunggu sepatuku dating, pandanganku terhenti pada sebuah boneka Hello Kitty yang besar. Aku mendekati boneka itu. Lucu. Boneka ini sangat lucu dan menggemaskan. Aku melihat harga yang terdapat di tangan boneka tersebut.

Aku membulatkan mataku. Harga boneka ini seharga 200.000 Won! Mahal sekali.

Tiba-tiba saja seorang lelaki mengambil boneka itu. “Kau mau boneka ini?”

****

Author POV

Sehun hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan gadis bawel itu. Gadis itu bagaikan manusia setengah robot yang energinya tak pernah habis—oh, ia melupakan bahwa gadis itu akan kehilangan pancaran energy itu saat menangis atau merajuk.

Mengingat ketika Hyemin nangis, hati Sehun kembali terasa nyeri. Entah kenapa, ia merasakan dadanya—lebih tepatnya hatinya—saat melihat Hyemin nangis kala itu. Sehun menatap Hyemin sendu. Gadis itu tengah berjalan mendekati sebuah boneka yang berukuran besar.

Sehun berjalan menghampiri Hyemin. Dapat dilihatnya Hyemin menyentuh boneka itu dan menjerit tertahan saat melihat harganya. Bagaimana tidak? Harga yang cukup mahal hanya untuk sebuah boneka seperti itu. Walaupun, yah, boneka itu sangat lucu.

Sehun melirik ke atas boneka tersebut. Sehun mendengus. Pantas saja boneka itu sangat mahal. Limited edition, there are only 5 items available. Edisi terbatas, hanya ada 5 boneka yang diproduksi di toko ini.

Sehun meraih boneka tersebut setelah berjalan mendekat—lebih dekat—pada Hyemin. Gadis itu menoleh padanya.

“Kau mau boneka ini?” Hyemin mengangguk, berharap Sehun akan membelikannya. Namun, Sehun tersenyum miring, melunturkan senyum di wajah Hyemin. “Ini edisi terbatas, ya? Wah, tinggal satu lagi! Sepertinya sepupuku yang masih balita itu akan senang jika aku membelikannya.”

Sehun berjalan menuju kasir, membayar boneka tersebut. Lelaki itu tersenyum penuh arti pada Hyemin yang tengah berjalan ke arah kasir juga.

Sehun tak sengaja menangkap sebuah kotak yang menarik perhatiannya. Ia tersenyum dan meminta pekerja toko itu untuk membungkuskannya dan memberikan kartu kreditnya.

Ia melirik Hyemin yang hanya terdiam. “Hyemin-a, kau kenapa?” tanya Sehun dengan wajah pura-pura bodohnya. Gadis itu menggeleng pelan, mengeluarkan dompetnya, dan memberikan kartu kreditnya juga.

Oh, tidak. Gadis ini telah kehilangan energinya. Energimu akan kembali, Nona Kim.

Sehun menggoda Hyemin. “Kau itu orang kaya, tapi tetap saja bekerja, ya.” Sehun menyikut Hyemin, tersenyum jahil. Hyemin hanye meliriknya sekilas. “Aku ini bukan tipe anak yang suka menghamburkan uang orang tuanya. Walaupun ayahku yang kaya raya, dia tetap saja melarangku membelikan—kau sudah tahu bukan?”

Sehun terdiam. Hyemin berjalan keluar toko setelah menerima kantung belanja berisi sebuah kotak—yang entah isinya apa, menyusul hyung-hyungnya yang entah sejak kapan sudah membayar belanjaan mereka.

Setelah mendapatkan belanjaannya, Sehun berjalan menuju Hyemin dan yang lainnya di depan toko. Lay menaikkan alisnya saat melihat Sehun memeluk sebuah boneka yang sangat besar. “Kau membeli boneka untukmu?”

“Sejak kapan kau suka boneka, huh?” Tao mendelik ke arah Sehun, heran.

Sehun hanya tersenyum miring. “Tentu saja aku membelinya bukan untukku.”

“Lalu untuk siapa?” tanya Lay, Baekhyun, dan Tao bersamaan. Hyemin melihatnya hanya tersenyum, gemas.

“Menurut kalian untuk siapa?”

Mereka tampak berpikir keras.

“Itu untuk sepupunya Sehun yang masih balita, kata Sehun tadi,” ujar Hyemin, sukses membuat ketiga lelaki di hadapannya melongo menatapnya. “Apa katamu, Hyemin? Sepupunya yang masih balita? Ya, Oh Sehun, sejak kapan kau—“

Sehun membekap mulut Tao dengan sebelah tangannya, menatapnya tajam.

Hyemin yang melihatnya hanya menatap mereka bingung. “Oppadeul, ayo kita kembali ke van!” Hyemin menarik tangan Lay dan Baekhyun, namun Sehun menarik tangan Hyemin. Wajahnya memancarkan wajah tidak sukanya.

Gadis itu teringat sesuatu. Lelaki menyebalkan ini kan melarangnya dekat-dekat dengan member lain di waktu tertentu. Dan saat ini apakah masuk ke dalam ‘waktu tertentu’ tersebut?

****

Hyemin dan Sehun turun secara bersamaan dari van. Hyemin merenggangkan tubuhnya. Gadis itu berjalan menuju lobi hotel, setelah membawa barang-barangnya. Dapat ia lihat Kyuhyun tengah duduk di lobi dengan wajah khawatir.

“Kyuhyun oppa!” Kyuhyun menoleh, berdiri, dan menghampiri gadis itu lalu memeluknya.

Sehun yang melihatnya, mendengus, menatap Kyuhyun—yang juga sedang menatapnya—dingin. Sehun tersenyum miring ke arah Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun hanya menatapnya datar—sembari mengeratkan pelukannya pada Hyemin.

Sehun berdecak—tidak suka. Lelaki berperawakan tinggi itu berjalan melalui Hyemin dan Kyuhyun yang masih berpelukan. Sehun, melihat itu, benar-benar membuatnya merasakan sakit di dadanya.

Hyemin yang melihat wajah dingin yang dipancarkan Sehun—bahkan lelaki itu tak menyapa atau sekedar mengajaknya naik bersama.

“Oh Sehun!”

Langkah Sehun terhenti. Ia diam di tempatnya—dalam hati kecilnya ia ingin menoleh dan menarik gadis itu ke dekapannya, namun sial otaknya sedang tidak bekerja dengan baik.

Hingga tak berapa lama, Sehun kembali melangkah dan masuk ke dalam elevator. Dari dalam elevator, Sehun menatap Hyemin dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Oh Se—“

Kyuhyun melepaskan pelukan Hyemin, menatap gadis kecil—baginya—yang tengah menatap pintu elevator dengan tatapan kosong. Lelaki maniak game ini menghela nafas.

“Hyemin-a.”

Hyemin mengerjapkan matanya, menatap Kyuhyun, tersenyum—dipaksakan. “Eo, Oppa?”

“Kenapa kau mematikan ponselmu?” Kyuhyun menatap tajam Hyemin. Ia berpikir bahwa mungkin saja Sehun yang mematikan ponsel Hyemin.

Hyemin terdiam. Tidak mungkin, ‘kan, kalau Hyemin mengatakan kalau Sehun yang mematikan ponselnya. Gadis itu tampak berpikir keras dengan wajah bodoh—menurut Sehun.

“Apa Sehun yang melakukannya?” Wajah Hyemin menegang. Ia sedikit tergagap. “B-Bukan Sehun, Oppa! Tadi ponselku habis baterainya, hehe.”

Kyuhyun mengacak rambut Hyemin, gemas. “Lalu, ke mana ponselmu yang satunya?”

Ponsel satunya?

Hyemin menepuk dahinya. Ponsel Samsung miliknya ada pada Sehun. Lelaki itu mengambil ponselnya saat mereka baru saja tiba di Tokyo tanpa alasan yang jelas.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun penasaran.

Hyemin menyengir. “Tadi Sehun mengambil ponselku saat di bandara.”

Kyuhyun mendengus, lalu melirik barang-barang Hyemin dan mengangkatnya. “Ayo kita naik! Kau terlihat lelah sekali, Hyemin-a,” ujar Kyuhyun, menarik tangan Hyemin dengan sebelah tangannya. Hyemin hanya mengangguk.

Hyemin menatap tangannya yang digenggam Kyuhyun. Mendadak, ia merindukan genggaman tangan Sehun yang hangat, yang membuatnya merasa nyaman.

Oh Sehun, kau kenapa?

****

Sehun meletakkan boneka Hello Kitty serta kotaknya itu di atas kasurnya malam ini—dengan kesal. Ia benar-benar tak suka jika Hyemin bersama dengan Kyuhyun. Ia lebih memilih Hyemin bersama Kris daripada Kyuhyun. Setidaknya Sehun tahu Kris hanya menganggap Hyemin sebagai adiknya.

Sedangkan Kyuhyun? Ia yakin lelaki itu menyimpan perasaan pada Hyemin, melihat dari sikap protectivenya Kyuhyun. Jika dilihat-lihat, sikap Sehun mirip dengan Kyuhyun. Seperti tak suka Hyemin dekat dengan lelaki manapun.

Sehun mengacak rambutnya frustasi.

Kenapa Sehun begitu kesal melihat mereka? Hyemin juga seorang gadis. Dan ia berhak dekat dengan siapapun, bukan? Tetapi kenapa Sehun merasakan dadanya sangat nyeri?

Jujur, Sehun belum pernah merasakan hal seperti ini. Ia belum pernah merasakan hal yang berbau—cinta.

Luhan, yang melihat kelakuan Sehun, menatap tajam roommatenya itu.

“Oh Sehun, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Sehun mendongak, menatap Luhan, bingung.

“Katakanlah, Hyung. Aku ingin tidur.”

Luhan menghela nafas dalam. “Kim Hyemin, diakah gadis itu?”

Sehun menatap Luhan, tak mengerti. Tidak, sebenarnya ia sepenuhnya mengerti dengan apa yang akan Luhan katakan.

“Gadis itu? Gadis yang mana maksudmu, Hyung?”

Luhan mengambil ponsel Sehun yang tergeletak di atas kasur. Sehun hendak mengambil ponselnya itu, namun Luhan menepis tangan Sehun kasar. Lelaki berwajah imut ini mengutak-atik ponsel milik Sehun, mencari sesuatu.

Setelah menemukannya, Luhan menunjukkan sebuah foto pada Sehun. Foto itu menampakkan dirinya tengah berselca ria dengan seorang gadis. Sehun membulatkan matanya.

“Gadis ini adalah gadis yang secara tak sengaja kau temui musim dingin lalu, bukan? Kau sudah melupakannya kah? Tentu saja kau tak mungkin melupakannya, ‘kan?”

Sehun, tentu saja tidak melupakan kejadian itu. Kejadian yang kelihatannya sangat tidak spesial bagi siapapun, kejadian yang biasa saja, tidak meninggalkan kesan apapun bagi setiap orang. Namun, kejadian itu sangat berarti bagi Sehun.

Kejadian yang mampu membuatnya tersenyum lebar berbulan-bulan, namun menyisakan penyesalan yang membuatnya harus merutuki kebodohannya saat itu.

Gadis itu, tentu saja Kim Hyemin, telah membuat kehidupan Oh Sehun berubah dalam sebuah kejadian yang tidak berarti bagi siapapun, namun berkesan bagi keduanya.

FLASHBACK

Sungai Han, Seoul, Desember 2012

Sehun menutupi setengah wajahnya dengan masker putih miliknya serta menggunakan kacamata hitam, dan tak lupa topi capnya. Ia berjalan di sepanjang Sungai Han dengan tenang. Sesekali ia menoleh ke belakang, untuk mengetahui apakah ada seorang penguntit yang mengikutinya atau tidak. Juga untuk melihat apakah ada tanda-tanda si Hitam sudah selesai dengan ‘acaranya’ di toilet atau belum.

Lelaki itu mengeluarkan iPodnya, memasangkan headphone pada kepalanya.

“Si Hitam lama sekali,” gumam Sehun, melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu lima sore. Ia menghela nafas, menyebabkan nafasnya mengepul putih karena musim dingin ini.

Ia mengedarkan pandangannya di sekeliling Sungai Han. Pandangan matanya terhenti di satu titik. Terhenti pada seorang gadis yang tengah terduduk sendirian di kursi taman. Gadis itu hanya mengenakan sweater yang tak terlalu tebal—menurut pandangan Sehun.

“Astaga, apa gadis itu masih waras? Kenapa ia hanya menggunakan sweater di cuaca yang sedingin ini?”

Tanpa diperintah, kaki Sehun berjalan menghampiri gadis itu. Sehun menatap gadis itu dari samping. Wajah gadis itu sedikit tertutup akibat poni rambutnya yang berwarna cokelat itu. Sehun duduk di samping gadis itu, dan menyapanya.

“Hai.”

Gadis itu menoleh, tersenyum ke arah Sehun—yang sudah melepaskan masker dan kacamata hitamnya. Seketika jantung Sehun seperti mati rasa saat melihat senyuman gadis itu.

“Hai, Ahjussi,” ujar gadis itu dengan wajah polos, membuat Sehun membelalakkan matanya tak percaya. “Hey, apa aku terlihat setua itu? Aku bahkan belum menginjak usia kepala 2,” ujar Sehun tak terima.

Gadis itu menatapnya dengan wajah lugunya. “Benarkah? Aku kira kau sudah berumur kepala 3.” Gadis itu menyengir tak bersalah.

Hening. Sehun berdeham pelan. “Agasshi, kau tidak kedinginan dengan hanya menggunakan sweater seperti ini? Kau tidak menggunakan mantelmu?”

Gadis itu menggeleng, tersenyum—senyum yang menurut Sehun terlihat sangat imut. “Aku lupa membawa mantelku. Aku bahkan lupa jika Korea sedang musim dingin saat aku sampai kemarin.”

Sehun mendelik. “Memangnya kau habis pergi ke mana?”

“Aku baru kembali ke Korea setelah menetap di luar negeri bersama orang tuaku. Hah, aku ini memang pelupa, yah. Padahal pengurus rumahku saat itu menanyakan padaku apa aku sudah membawa mantel atau tidak. Aku bingung, untuk apa mantel itu. Sehingga karena aku sudah telat, aku hanya mengangguk. Bodoh, ya aku?” ujar gadis itu panjang lebar, sembari tertawa pelan. Sehun tersenyum.

“Kau benar-benar tidak kedinginan?” tanya Sehun sedikit khawatir karena melihat gadis itu menggigil pelan. Gadis itu menggeleng. “Sebenarnya kedinginan. Aku ingin pulang, tapi sahabatku belum sampai di sini juga.”

Sehun melepaskan mantel yang merupakan mantel kesayangannya. Lalu, Sehun memasangkan mantelnya pada tubuh gadis itu. Gadis itu terbelalak.

“Ah, tidak usah. Aku bisa menahan dinginnya kok!” seru gadis itu riang. Sehun menggeleng. “Tidak apa-apa, aku tak merasa kedinginan kok. Aku sudah terbiasa dengan dingin.”

Gadis itu tersenyum—lagi. Senyum yang dapat membuat Sehun mulai merasakan dingin dan hangat disaat yang bersamaan. “Gomapseumnida.”

Sehun mengangguk.

Beberapa waktu kemudian, Sehun mengeluarkan ponselnya. Entah ide gila dari mana, ia malah meminta berselca pada gadis itu.

Gadis itu tertawa renyah. “Aku ini bahkan bukan seorang idola, kenapa kau meminta foto denganku?” Sehun tersenyum kaku. Sebenarnya di sini yang seorang idola itu aku, apa dia tak tahu siapa aku, ya?

“Apa tidak boleh? Aku ingin berfoto denganmu karena kau, eum, imut?” Gadis itu terkekeh pelan mendengar ucapan Sehun.

“Imut dari mana?”

Sehun memposisikan ponselnya di depan wajah mereka berdua yang sangat dekat. Dapat terlihat wajah keduanya merona.

One, two, three….Kimchi!”

Sehun tersenyum melihat hasil foto mereka. “Tuhkan kau imut,” ujar Sehun sembari mengarahkan ponselnya pada mereka berdua—lagi.

“Lagi?” tanya gadis itu, dibalas dengan anggukkan Sehun.

Entah setan dari mana, Sehun menempelkan bibirnya di pipi sebelah kiri gadis itu, sembari membidik mereka.

Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Matanya mengerjapkan matanya tak percaya.

“Maafkan aku, Agasshi, aku tak sengaja.” Bodoh! Sehun merutuki dirinya yang sangat bodoh itu tadi. Ia mengira gadis itu akan berteriak sekencang-kencang akibat perlakuan Sehun tadi. Namun, kenyataanya gadis itu hanya tersenyum.

“Ah, it’s okay,” ujar gadis itu.

Tak berapa lama kemudian, Kai, orang Sehun tunggu sejak tadi muncul dengan wajah tak bersalahnya. “Sehun-a, maafkan aku. Perutku sakit sekali tadi. Kajj—siapa dia?” tanya Kai sembari menunjuk gadis yang berada di samping Sehun.

Sehun menatap Kai tajam. “Agasshi, kalau begitu, aku pergi dulu. Maaf sekali lagi atas kejadian tadi. Geureom. Ayo, Kai-ya!”

Sehun menarik tangan Kai, menjauhi tempat di mana gadis itu berada.

Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Jadi, orang yang mencium pipinya itu…EXO SEHUN? Boyband rookie yang baru-baru ini debut? EXO yang telah menjadi idola baru baginya sejak mereka debut? Apa ia buta atau terlalu bodoh sampai tak menyadari bahwa lelaki itu Sehun?

                Gadis itu menatap mantel yang ia gunakan sekarang. Lalu, bergegas mengejar Sehun. “Sehun-ssi, mantelmu….”

Sehun menoleh pada gadis itu, tersenyum lembut. “Ambil saja untukmu. Pakai saja, okay? Lain kali kau harus mengenakan mantel jika ingin berpergian. Kalau begitu, aku duluan.”

Sehun berjalan meninggalkan gadis itu. Entah kenapa, ia takut tidak akan bertemu gadis itu lagi. Namun, ia dapat merasakan bahwa ia akan bertemu dengan gadis itu—lagi. Ia yakin, ia pasti akan bertemu dengannya.

Gadis itu berbalik ke arah tempat duduknya tadi. Ia tersenyum. Aku dicium oleh Sehun? Jeritnya dalam hati.

Lamunan gadis itu terhenti saat seorang gadis lainnya memanggilnya. “Kim Hyemin! Sudah lama sekali kita tak bertemu!”

Hyemin, gadis itu, menoleh dan menyambut pelukan hangat sahabat yang ia tunggu sejak tadi.

“Eunji-ya, aku merindukanmu, sangat!” seru Hyemin, mengeratkan pelukannya pada Shin Eunji.

“Aku juga, Hyemin­-a!”

Eunji melepaskan pelukannya. Ia menatap Hyemin dengan ekspresi heboh. “Kau tahu? Tadi ada yang melihat Sehun dan Kai, loh!”

Hyemin terdiam. Teringat dengan kejadian kecil yang baru saja terjadi. Ia berfoto bersama Sehun—karena lelaki itu yang memintanya. Dan bodohnya, harusnya ia meminta foto itu pada Sehun dan menunjukkan pada Eunji bahwa ia berfoto bersama Sehun tadi.

“Hyemin­-a? Ada Sehun sama Kai. Sehun! Dia biasmu, bukan?” Hyemin merutuki kebodohannya. Ia bahkan tak sadar bahwa lelaki tadi adalah anggota favoritnya.

Hyemin menatap Eunji. “Ayo kita cari mereka!”

Namun, tanpa mereka ketahui, kedua lelaki itu telah pergi dari Sungai Han. Sehun memandangi pusat Kota Seoul yang terlihat elegan dengan tatapan menerawang.

Sehun bodoh.

Ia memaki dirinya. Merutuki dua kebodohan yang telah ia lakukan hari ini. Satu, ia mencium gadis itu sembarangan. Dan kedua, ia bahkan lupa menanyai nomor teleponnya atau juga sekedar menanyakan nama gadis itu.

Sehun mengambil ponselnya dari kantung celananya. Lelaki itu menatap fotonya bersama gadis itu, Hyemin.

“Sehun, siapa gadis itu?”

Sehun menoleh. Lelaki itu tersenyum lemah.

“Gadis itu adalah gadis yang telah membuatku melakukan hal bodoh dan juga……merasakan hal yang baru pertama kali kurasakan.”

Kai menaikkan alisnya, tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kai-ya, jika jantungmu terasa seperti mati rasa, kau tahu apa alasannya itu?”

Kai tampak berpikir, lalu menggerakkan bahunya, tak tahu. “Mungkin itu tanda-tanda sedang jatuh cinta. Yah, kau sedang jatuh cinta, ya?”

Sehun hanya tersenyum kaku. Entah kenapa, ia tak mau menerima keadaan bahwa ia—mungkin—sedang mengalami sebuah hal yang disebut cinta. Ia merasa, belum saatnya ia merasakan itu sebelum ia sukses.

“Aku…tidak tahu. Lihat saja nanti, apakah aku jatuh cinta atau tidak.”

END OF FLASHBACK

****

Sehun terdiam mendengar ucapan Luhan. Benar saja dengan apa yang ia rasakan waktu itu. Ia pasti bertemu dengan gadis itu, Kim Hyemin. Bahkan ia tak menyangka akan sedekat ini dengan gadis itu.

“Kau masih ingat, ‘kan?” tanya Luhan, menatap tajam Sehun yang sedang sibuk dengan pikirannya. Sehun menatap Luhan, perlahan lelaki itu mengangguk. “Tentu saja, aku tak mungkin melupakannya sampai aku bertemu dengannya seminggu yang lalu.”

Luhan tersenyum. “Sudah kuduga. Awalnya, aku merasa pernah melihat Hyemin, tetapi aku rasa aku tak pernah bertemu dengannya. Sepulang dari rekaman tadi siang, aku baru menyadari siapa Hyemin.”

Sehun tersenyum lemah. “Aku juga merasakan seperti itu saat bertemu dengannya di dorm. Dan aku teringat dengan mantel yang ia kenakan. Mantel itu mantel kesayanganku, namun aku memberikannya pada seorang gadis bodoh yang pelupa itu.” Sehun terkekeh pelan.

Kim Hyemin, gadis itu memang benar-benar bodoh dan lugu. Bagaimana ia sampai lupa membawa mantel? Setidaknya ia harus mengingat musim-musim di Korea.

Luhan menatap Sehun yang sedang tersenyum sendiri. Ia lantas tertawa.

“Kau masih menyukainya, ‘kan?” Sehun mendongak, menatap Luhan dengan tatapan antara suka tak suka dengan pertanyaan Luhan.

“Memangnya siapa yang mengatakan jika aku pernah menyukainya?”

Luhan menaikkan satu alisnya. “Cih, sok jual mahal! Kalau kau menyukainya, bilang saja! Sejak kejadian itu, tidakkah kau sadar kalau kau sering menatap ponselmu sembari tersenyum seperti idiot, bahkan sebelum kita memulai latihan, kau selalu melakukan hal itu seperti itu adalah minuman isotonik khusus milikmu.”

Sehun membuang mukanya. Jujur, Sehun mengakui apa yang Luhan katakan. Ia selalu melakukannya disaat ia jenuh—tanpa sadar. Tapi sekali lagi, ia tak merasa—atau mungkin tak mau mengakui atau tidak peduli—bahwa ia telah jatuh dalam pesona—atau lebih tepatnya kebodohan alami gadis itu.

Bahkan sampai sekarang, ia sangat menikmati wajah bodoh gadis yang ia temui tahun lalu ini dalam seminggu lebih ini.

“Oh Sehun, jujurlah pada perasaanmu sendiri. Jangan sampai gadis bermarga Kim itu direbut lelaki lain.” Luhan menepuk pundak Sehun, beranjak menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan dirinya.

Hyung, aku tak menyukainya. Aku—“

“Itu masalahmu sendiri, Sehun-a. Saranku, jika kau menyukainya, jangan membuang waktumu itu menjadi hal yang dapat kau sesali. Itu saja. Sudahlah, aku ingin mandi dulu!”

Sehun menatap boneka Hello Kitty yang berada tepat di sampingnya. Ia meraih boneka itu dan kotak yang berada di samping boneka itu, kemudian beranjak dari kasur. Ia mendekati pintu kamar mandi, mengetuknya pelan.

Hyung, aku ingin keluar sebentar, ya. Jangan tidur dulu, nanti tidak ada yang membukakan pintunya untukku, okay?”

Sehun berjalan meninggalkan kamar hotelnya, sembari mebawa kedua barang yang ia beli tadi. Ia tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada di pikirannya, yang terpenting menyelesaikan apa-yang-telah-ia-lakukan.

****

Hyemin POV

Aku menjatuhkan tubuhku pada kasur yang akan menaungiku untuk tidur dengan nyaman malam ini hingga lusa atau tiga hari. Aku menatap kakiku yang terdapat sepatu yang baru saja kubeli tadi—iseng-iseng kupasang mengangkat kakiku tinggi-tinggi. Rencananya, nanti aku akan berbelanja lagi di toko itu, hehe. Karena sudah malam, aku lelah mencari barang mana saja yang kusuka tadi.

Hah. Aku menghela nafas. Harusnya aku langsung membeli saja boneka itu. Gara-gara Oh Sehun! Benar apa katanya, mungkin ayahku juga kaya, tapi aku merasa sayang untuk mengeluarkan uangku hanya untuk sebuah boneka. Tapi sepertinya ayah tidak masalah jika aku membeli boneka yang harganya ratusan juta asalkan aku tidak membelikan barang-barang berbau kpop.

Aku mengambil ponselku. Oh iya, aku lupa jika ponselku yang satunya ada pada Sehun.

Aku berniat untuk menelepon kakakku—iseng. Sepertinya dia sudah tidur, but siapa yang tahu jika ia sudah tertidur atau tidak, bukan?

“Halo, siapa ini?” dapat kudengar kakakku ini tengah menguap. Dan dari nadanya, ia terdengar kesal akibat gangguan tengah malamnya.

Oppa tak suka aku menelepon, ya? Kalau begitu, aku tutu—“

HYEMIN-A! Tidak kok, aku senang jika adik kecilku menelepon. Maaf, oppa baru saja bangun akibat gang—maksudku teleponmu,” kekeh Woobin oppa. Dasar menyebalkan! Tapi benar, sih, jika aku ini mengganggunya selarut ini.

“Maaf, Oppa. Kalau begitu, tidur saja lagi. Aku hanya merindukan oppaku tersayang,” ujarku manja. Woobin oppa terkekeh.

Apakah Sehun mengajarimu untuk menggombal, Kim Hyemin? Haha. Aku juga merindukanmu, Sayang.

Aku memajukan bibirku. “Kenapa Sehun terus? Oppa menyukainya, ya?”

Woobin oppa tergelak. “OPPA!”

Dasar anak kecil! Tentu saja aku menyukainya, tapi bukan menyukainya sebagai lelaki, tapi menyukainya karena kalian tampak serasi! Kau pikir kakakmu ini gay, ya?”

“KIM WOOBIN, KAU MENYEBALKAN!” Lelaki yang kuteriaki ini hanya tertawa dengan keras.

“Sudahlah, aku mau tidur. Selamat tidur, Oppa!”

Baiklah, Selamat tidur juga calon Mrs. Oh!”

Aku menatap geram ponselku. Ingin sekali kubanting ponselku pada kepala seorang Kim Hyunjoong itu.

Aku menutupi wajahku dengan bantal. Serasi dengan Sehun? Astaga, lelaki bernama Hyunjoong itu memang gila.

Baru saja aku akan merajut mimpiku, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku melirik jam yang ada di meja samping kasurku.

Pukul 02.45 dini hari.

Apakah itu hantu?

Aku berjalan layaknya seorang mata-mata kelas Lohan(?). Sesampainya di pintu, aku melirik ke laur kamar melalui kaca pembesar kecil yang terdapat di pintu. Nihil. Tidak ada siapapun di luar.

Aku berbalik menuju kasurku sampai aku menyadari ada sesuatu di depan kamarku. Perlahan tapi pasti, aku membuka pintu kamar hotelku.

****

Author POV

Perlahan tapi pasti, Hyemin membukanya pintu kamarnya.

Matanya terbelalak melihat apa yang ada di depan kamarnya. Boneka Hello Kitty yang sangat ingin dia beli, sebuah kotak—yang mirip dengan kotak sepatu yang ia beli tadi, dan ponselnya yang dipegang Sehun sejak tadi. Ia menengok ke kanan-kiri, namun matanya tak dapat mendeteksi keberadaan Oh Sehun—kemungkinan si pelaku yang menaruh benda-benda ini.

Hyemin membawa masuk semua benda itu ke dalam kamarnya. Ia memeluk erat boneka itu dengan sayang. “Akhirnya kau menjadi milikku, baby!”

Ia melirik ke arah kotak itu, membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat sepatu yang Sehun berikan padanya. Kotak ini benar-benar kotak sepatu. Ia meraih sepatu itu tak percaya. Sepatu ini adalah sepatu yang yang menarik perhatiannya selain sepatu pink tadi. Sepatu yang tak jadi ia beli karena ia tak mau serakah—dan juga karena Sehun lebih suka yang pink.

Sepatu ungu pink ini diberikan oleh Sehun untuknya.

Hyemin melihat secarik kertas bercorak Hello Kitty di dalam kotak itu. Perlahan, gadis itu membuka dan membacanya.

Kim Hyemin, kulihat tadi kau terlihat sangat menginginkan boneka ini, bukan? Aku berbohong jika ini untuk sepupuku. Karena kenyataannya, aku tak memiliki sepupu yang masih balita 😀

Dan sepatu ini, ambillah. Kita memang tak boleh serakah, tapi sesekali kita boleh melakukannya, ‘kan? Oh ya, ponselmu aku kembalikan. Tak ada hal-hal yang dapat kuejekkan padamu, jadi kukembalikan.

Hyemin, ini hadiahku untukmu. Ambil saja, okay?

– Oh Se Hoon –

Hyemin meraih ponselnya, dan mengetik sebuah pesan untuk Sehun.

To: Oh Sehun Yang Tampan

Oh Sehun, terima kasih atas hadiahmu!! THANK YOU VERY MUCH, Tuan OH! 😀

Hyemin Kim.

TBC

Haloooooo! Author Hye kembali~ hehehehe

Thanks yak, untuk readers yang dengan setianya menunggu kedatangan ffku yang ga jelas ini. Gimana? Kejadian musim dingin Sehun dan Hyemin kurang seru ya? Mengecewakan atau menyenangkan? 😀 dan terima kasih untuk commentnya, guys~ Love yaa ❤ ohya, jangan lupa RCL yahh~ papay! Sampai jumpa di chap selanjutnya yaa ❤ XD dan maaf jika typo masih bertebaran XD ㅋㅋㅋㅋ

36 pemikiran pada “Stuck (Chapter 3)

  1. Wow! Makin seru nih…
    Mereka udah mulai saling suka >w<!
    Woobin juga udah sehuju hyemin ama sehun.. Kkk~
    Panggilannya sehun ke kai sadis amat? Kejadian sehun-hyemin di musin dingun bagus ko' thor!
    Next! Keep writing!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s