My Adorable Ghostgirl (Chapter 2)

adfdhgk

Title: My Adorable Ghostgirl

Main Cast:  Oh Se Hun (EXO-K), Yoon Cheon Sa (OC)

Supported Cast: Luhan (EXO-M), Park Chan Yeol (EXO-K)

Author: Ahra storyline

Rating: PG-16

Genre: Romance, Fantasy

Length:  Multi Chapter

Disclaimer: All the cast belongs to the God, their agency and family. Author just borrow them except for the OC. The OC is mine. This idea is pure mine and it comes from my mind and please Don’t bash it. Typos everywhere, good readers and comments are welcoming 😉

OST (Just For Fun J):  J. Rabbit – Talkin’ bout love & Ailee – Evening Sky

 

“You mayn’t to appear in front of the other people, but you may to appear in front of me”

Chapter 2

Author POV

“Mworago? “ Sehun kembali mempertegas pertanyaannya dan Cheon sa hanya mengangguk kecil. Tak lama kemudian, Sehun tergelak.

Cheon sa memandangi Sehun dengan bingung. Mengapa namja ini tertawa? Batin Cheon sa. Ia memandang Sehun dengan raut wajah penuh dengan tanda tanya dan akhirnya Sehun mengerti akan hal itu.

“mwo? Kau bingung mengapa aku tertawa?” Ekspresi wajah Sehun berubah seketika. Tatapan nya yang datar menjurus pada kedua bola mata bening milik Cheon sa. Cheon sa mengangguk.

“Apa kau sedang bercanda, eoh?”  kata-kata yang keluar dari mulut Sehun terdengar begitu dingin. Cheon sa menggeleng.

“aniyo. Aku tidak bercanda.” Jawab Cheon sa.

“sudahlah, jangan bicara omong kosong, sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum aku membawamu ke rumah sakit jiwa dan kembalilah pada orang tuamu” Sehun berniat untuk melangkahkan kakinya pergi dari hadapan gadis itu dan membukakan pintu apartemen untuknya. Namun, langkah Sehun terhenti saat yeoja itu mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu misterius.

Jangnan aniyeyo”  raut wajah Cheon sa berubah, begitupula dengan nada suaranya yang terdengar begitu dingin. Tatapan nya begitu tajam dan kosong. Cheon sa memandang tajam punggung Sehun. Namja itu membalikkan badannya dan menatap Cheon sa dengan bingung.

“mwo?”

“kubilang aku tidak bercanda. Mau kubuktikan?” tantang Cheon sa. Sebenarnya, Cheon sa merasa ragu untuk membuktikan hal itu pada namja bernama Oh Se Hun ini. namun, itu adalah satu-satunya cara baginya agar Sehun percaya padanya.

“Geurae. Silahkan saja” ujar Sehun sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia kembali duduk di samping Cheon sa dan memperhatikan yeoja itu dengan seksama. menunggu apa yang akan dibuktikan yeoja itu.

“apa yang akan kau buktikan?” tanya Sehun.

“sesuatu yang tidak bisa kaupercaya, mungkin” jawabnya singkat. Sebuah kalimat singkat yang berhasil membuat ribuan question mark  muncul di dalam kepala Sehun.

“ah jinjja? Apakah itu akan membuatku terkejut?” tanya Sehun.  Cheon sa menganggukkan kepalanya dengan singkat.

“mungkin, kau lihat saja nanti” ujar Cheon sa.  Cheon sa mulai menegakkan posisi duduknya dan ia menatap kedua mata Sehun sejenak dan akhirnya Cheon sa memejamkan kedua matanya dan sedetik kemudian sosok yeoja itu menghilang dari hadapan Sehun. Ia menghilang layaknya kabut dan hal itu lantas membuat Sehun membelalakan kedua matanya.

y-ya! Dimana kau?” Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemennya. Kosong. Hanya terdengar suara desiran angin halus yang menerpa gorden jendelanya dan bunyi jarum jam yang memenuhi kesunyian di apartemen Sehun.

ya! Jangan bercanda! Keluar kau!” teriak Sehun. Tak lama kemudian, ia merasakan hawa dingin yang terasa begitu asing di belakang punggungnya. Sehun bahkan dapat merasakan adanya kehadiran seseorang di belakang punggungnya.

“sudah kubilang aku tidak bercanda” Cheon sa mendekatkan wajahnya pada sehun dan berbisik di dekat telinga Sehun. Ia berdiri di belakang punggung Sehun dan lantas hal itu membuat Sehun tersentak kaget dan membalikkan badannya. Kini ia sudah berhadapan dengan Cheon sa.

“bagaimana.. kau bisa..” Sehun berkali-kali memperhatikan yeoja itu dari atas kepala hingga ujung kaki. Berharap menemukan sesuatu yang bisa membuatnya menghilang seperti asap. Nihil. Yeoja itu layaknya seorang yeoja biasa. Namun, Sehun menyadari ada yang berbeda dari yeoja ini.

“kau masih tidak percaya padaku?”  Cheon sa  melemparkan senyum simpul pada Sehun yang sedari tadi hanya memandangnya takut.

“ siapa kau sebenarnya?” tanya sehun dengan sangat hati-hati.

“aku Yoon Cheon Sa. Yeoja yang kau temui di koridor UGD dan pasien dari hyungmu” jelas Cheon sa. Ia mengembangkan senyumnya pada Sehun yang sedari tadi berusaha menepis rasa takutnya.

“jadi kau benar..”

“eoh, kau sudah tahu jawabannya bukan?”

“lalu, apa tujuanmu kemari? Kau ingin mengganggu hidupku? ”  Sehun mengubah posisi duduknya dan semakin menjauh dari Cheon sa saat yeoja itu duduk tepat di sampingnya.

“ani” jawabnya.

“lalu?”

“izinkan aku tinggal di apartemen mu untuk sementara waktu” ujar Cheon sa to the point.

“mwo? Ya! Untuk apa kau tinggal disini? Kau itu hantu dan aku manusia. Kau tahu bagaimana rasanya jika aku tinggal dengan seorang hantu? Dan juga, dunia kita sudah berbeda,”  jelas Sehun. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa hal bodoh dan tidak logis itu bisa keluar dari mulut yeoja hantu ini.

ya! Aku belum meninggal! Mungkin,” tatapan mata Cheon sa berubah drastis. Nampak jelas raut wajahnya berubah sedih dan di kedua matanya nampak jelas genangan air mata yang siap meluncur kapan saja.

Cheon sa menundukkan wajahnya. Ia terlalu takut untuk mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kejadian yang sangat mungkin merenggut nyawanya. Kejadian yang bahkan tak mungkin bisa dilupakannya seumur hidupnya.

“apa maksudmu?” tanya Sehun. Ia berusaha untuk menepis rasa takutnya pada gadis dihadapannya ini.

“beberapa jam yang lalu, aku mengalami kecelakaan dan aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Yang kutahu, saat aku terbangun aku sudah berada di tengah jalan raya dan aku melihat tubuhku dibawa bersama mobil ambulans, dan aku tidak tahu apa aku masih hidup atau mugkin.. sudah mati” jawab Cheon sa dengan lirih. Ia menggenggam ujung dressnya. Berusaha menahan air mata yang membendung di matanya.

“kau punya orang tua, bukan? Pulanglah ke rumahmu dan tinggal disana”  ujar Sehun menyarankan. Cheon sa menggelengkan kepalanya dengan lemah saat mendengarkan saran Sehun.

“aku tidak ingin menangis karena melihat keadaan orang tuaku. Aku tidak tahu apakah mereka sudah tahu keadaaan ku yang sekarang atau tidak. dan jika mereka sudah tahu keadaan ku sekarang, aku tak kuat melihat orang tua ku menangis. Kumohon, Sehun-ssi” air mata Cheon sa mulai menitik. Dan Sehun sama sekali tak bisa melihat air mata seorang yeoja.

ya! Untuk apa kau menangis? Apa hantu juga bisa menangis?”

“kumohon, Sehun-ssi, kau satu-satunya yang bisa menolongku saat ini” Cheon sa meraih kedua tangan Sehun dan menggenggamnya. Sensasi berbeda  dari yeoja ini benar benar dapat dirasakan Sehun. Sehun bahkan bisa merasakan tangan cheon sa yang begitu dingin.

“b-baiklah. Kau boleh tinggal disini” Sehun menarik tangannya kembali dan melepaskan genggaman tangan Cheon sa.

“j-jinjjayo, sehun-ssi?”  kedua mata Cheon sa membulat sempurna saat ia mendengarkan kalimat terakhir yang diucapkan Sehun.

“apa kata-kataku tadi masih kurang jelas?” Sehun berdiri dari sofa dan bermaksud untuk masuk ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat Cheon sa tiba-tiba saja memeluknya.

“gomawo, sehun-ssi! Aku tahu kau memang orang baik. Jinjja gomawo!” Cheon sa melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Sehun dan tersenyum bahagia di dalam pelukannya. Sementara Sehun, ia hanya terpaku pada tempatnya. Tubuhnya menegang saat yeoja hantu itu tiba-tiba saja berdiri dan memeluknya.

Sesuatu yang berbeda jelas dirasakan oleh Sehun. Tubuh mungil cheon sa terasa begitu dingin dan lembut. Nafas yang berhembus darinya pun terasa begitu dingin di tubuh Sehun. Sehun tak habis pikir mengapa ia bisa memeluk seorang yeoja hantu bernama Cheon sa ini.

“lepaskan aku!” ujar Sehun dengan dingin. Cheon sa melepaskan pelukannya dan membiarkan namja itu melangkah masuk menuju kamarnya.

Sehun’s POV

Aku terduduk di atas tempat tidurku dan kedua mataku terpaku menatap pintu kamarku. Yang aku sadari kali ini adalah, di balik pintu kamarku, kini ada seseorang atau sesuatu yang tinggal di sana. Sesuatu yang bahkan baru pertama kali kujumpai sepanjang hidupku. Sesuatu yang bahkan hingga detik ini masih begitu sulit untuk bisa kupercaya.

Gadis bernama Cheon sa itu datang dengan tiba-tiba, memintaku mengizinkannya tinggal di apartemenku dan ia akhirnya berhasil meruntuhkan pendirianku. Satu hal yang bahkan masih begitu tidak bisa diterima oleh akal sehatku bahwa ia mengakui dirinya sebagai arwah dari gadis yang menjadi pasien Luhan hyung.

Aku terduduk di kamarku dan aku kembali memikirkan hal yang telah ku lakukan. Dengan gampangnya aku membiarkan seorang gadis hantu tinggal di apartemenku. Bersamaku. aku bahkan baru bertemu dengan gadis itu hari ini. dan aku langsung percaya bahwa yeoja itu tidak berbahaya.

“aneh sekali” gumamku. Jujur, aku adalah tipe seseorang yang selalu berpikir logis. Aku tidak akan pernah mempercayai segala hal yang bahkan tak bisa dipahami oleh akal sehatku. Aku selalu membutuhkan sebuah bukti dan alasan, oleh karena itu aku sama sekali tidak mempercayai takhayul, peri, dan bahkan hantu. Dan hadirnya Cheon sa saat ini adalah sesuatu yang benar-benar membuatku bingung. Terlebih saat aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saat gadis itu menghilang dari hadapanku dan muncul tepat di belakang tubuhku.

Gadis itu benar-benar berhasil meruntuhkan pendirianku.

“apa aku begitu bodoh hingga membiarkannya tinggal di sini?” aku merutuki diriku sendiri yang dengan begitu mudahnya membiarkan yeoja itu tinggal disini. Bersamaku dan di dalam duniaku.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidurku yang empuk dan nyaman dan menatap langit-langit kamarku yang bercat putih gading. Dan tiba-tiba saja, bayangan wajah noona ku muncul disana.

Setelah kulihat-lihat, Cheon sa begitu mirip dengan Se Young noona. Se Young noona adalah kakak perempuan ku yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan. Tepat di saat hari wisuda ku saat masih di Junior High School. Di saat seharusnya kami merayakan kebahagiaanku atas kelulusan ku dengan nilai tertinggi di sekolah, hari itu pula aku harus menangis saat menyadari bahwa noona ku satu-satunya harus pergi meninggalkan ku lebih dulu.

Dan yang kulihat dari Cheon sa adalah senyumnya yang begitu mirip dengan Se Young Noona, tatapan matanya dan juga wajahnya yang sekilas begitu mirip dengan noona.

“mengapa saat melihatnya aku seperti melihatmu, noona?” gumam ku.  Aku meletakkan tangan kanan ku di atas dahiku dan berusaha memejamkan mataku. Aku memilih untuk tidur daripada terus menerus memikirkan gadis bernama Cheon sa itu.

Belum lama aku memejamkan mataku, kasurku bergetar dan aku melirik ke samping kananku. Sebuah SMS masuk ke Smartphone ku dan dengan sigap aku segera mengambilnya.

‘ Sehun-ah, Chan yeol baru saja datang dari Italy hari ini dan besok kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambutnya, kau mau ikut, sehunnie?’ sebuah sms dengan nama yang tertera cukup jelas di atasnya, Byun Baek Hyun.

Dengan malas, aku mengetik layar smartphone ku dan segera mengirim pesan yang telah selesai kuketik.

‘shireo. Aku tidak ikut’ ujarku di dalam SMS itu. Cukup singkat, namun cukup tegas dan jelas untuk menerangkan bahwa aku sama sekali tidak berniat untuk menyambut namja bernama Park Chan Yeol itu.

Tak lama kemudian, smartphone ku kembali bergetar dan SMS dari Baek Hyun kembali datang.

ya! Kenapa kau sama sekali tak berubah? Kalian masih bertengkar?’ tanya Baek hyun di dalam SMS itu.

Aku segera mengetik balasan untuk Baekhyun dan berharap setelah aku membalas SMS ini, ia akan mengerti dan berhenti mengirimiku SMS.

‘aku membencinya dari dulu hingga sekarang dan tidak akan pernah berubah. Jangan pernah mengajak ku atau membicarakan sesuatu yang berhubungan dengannya kalau kau tidak ingin kubenci sepertinya, ara?’ aku mengetikkan kalimat itu di atas layar smartphone ku dengan emosi yang begitu besar di dalam diriku dan berusaha ku redam sebisa mungkin. Seandainya aku sudah tidak punya hati, mungkin sejak dulu aku sudah membunuh namja itu.

Namja bernama Park Chan Yeol itu adalah seseorang yang sudah kunobatkan sebagai musuh abadiku. Aku membencinya dan hal itu tidak akan pernah berubah hingga sekarang. Ia selalu berusaha membuatku terjatuh hingga ia yang akan berdiri di atasku. Ia akan selalu berusaha mencelakakanku demi membuat dirinya yang terselamatkan. Ia akan selalu merebut apapun yang akan menjadi milikku dan bahkan sesuatu yang sudah menjadi milikku agar menjadi miliknya. Itulah sosok Park Chan Yeol.

Dan mengapa teman-temanku bisa mengenalnya dengan baik dan bahan mereka juga bersikap baik pada Park Chan Yeol? Sialnya semua teman-teman ku adalah teman Park Chan Yeol. Dan sedari dulu pula mereka mengetahui perselisihanku dan mereka berusaha untuk membuat kami berbaikan. Namun, hal itu musahil. Sangat mustahil.

‘arasseo’ jawab baekhyun di dalam pesan singkat itu.

Dan saat itu pula aku melemparkan smratphone ku ke samping tempat tidurku dan menarik selimut tebalku hingga sebatas dagu dan membiarkan kedua mataku terpejam.

Author POV

Sehun terbangun. Ia menatap jam digital di meja yang ada disamping tempat tidurnya yang menunjukkan pukul 2 malam.

Sehun sesekali menguap dan ia memutuskan untuk minum segelas air. Ia lalu menuju dapur tanpa berusaha menyalakan lampu.

Sehun berjalan menuju dapur dan ia segera membuka kulkasnya dan mengambil segelas air minum dan segera meneguknya. Ia kembali meletakkan gelasnya di atas meja.

“Sehun-ssi?” suara yeoja itu tiba-tiba mengejutkan Sehun dan dengan cekatan Sehun segera menyalakan lampu dapurnya dan kini Sehun benar-benar dapat melihat Cheon sa berdiri di hadapannya.

“ya!! Kamjjakiya! Kau mengejutkanku, eoh!” bentak sehun. Untuk pertama kalinya ia membentak seorang hantu sepanjang hidupnya.

“ah mian, aku mengejutkanmu. Aku hanya ingin memastikan apa itu kau” ujar Cheon sa.

“ya! Tapi tetap saja, kau memanggil namaku tengah malam seperti ini dan yang memanggilku adalah seorang gadis hantu seperti mu. Kau pikir aku tidak merinding?” ujar Sehun dengan berusaha meredam emosinya.

“mianhae, aku janji aku tidak akan mengejutkan mu lagi”  Ujar cheon sa sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“ sudahlah, lebih baik kau tidur saja. Kau tahu? Apartemenku sekarang benar-benar terasa seperti apartemen berhantu. Aku terbangun karena mendengar suara derakan gorden itu. Aish jinjja,” ujar Sehun

“aku tidak akan pernah bisa tidur , Sehun-ssi”

“wae?” tanya Sehun.

“karena, aku arwah dan arwah tidak akan tidur” jelas Cheon sa.

“oh begitukah? Baiklah, aku akan tidur dan kau jangan ribut, ara?”

“ne, arasseo” jawab Cheon sa. Sementara itu, Sehun berjalan menuju kamarnya dan kembali menutup pintu kamarnya.

“aku tidak bisa tidur nyenyak karena gadis hantu itu” omel sehun. Ia beranjak ke tempat tidurnya dan menarik selimutnya hingga k bawah dagunya. Pandangannya terpaku pada jendela kamarnya. Terlihat jelas di balkon dikamarnya, tanaman potnya bergerak-gerak karena angin yang bertiup kencang malam itu.

“diluar pasti sangat dingin, untung saja kamarku pakai penghangat ruangan” gumam sehun. Ia lalu teringat seseorang yang mungkin tengah kedinginan di luar sana. Ia teringat Cheon sa yang tengah tertidur di ruang tengah di apartemennya. Ruang tengah itu tidak memakai penghangat ruangan dan mungkin saja yeoja hantu itu tengah kedinginan.

“apa dia tidak kedinginan? Dia hanya memakai dress putih itu,” tanpa sehun sadari, ada sedikit rasa kekhawatiran pada Cheon sa. Bagaimanapun juga ia perempuan, tentunya ia pasti tidak tahan dengan hawa dingin.

“tapi dia kan hantu, tidak mungkin hantu kedinginan. Ah sudahlah, kenapa aku memikirkannya? Aku harus tidur” Sehun lalu memejamkan matanya dan berusaha mengabaikan segala perasaan khawatirnya pada gadis hantu itu.

Cheon sa mencoba memejamkan matanya namun ia sama sekali tak merasakan kantuk. Mungkin inilah susahnya menjadi seorang arwah, saat semua orang tengah tertidur, cheon sa harus terjaga hingga pagi dan pagi berikutnya.

Cheon sa merebahkan dirinya di atas sofa empuk di ruang tengah. Pandangannya terpaku pada langit-langit apartement itu. Pandangan cheon sa menerawang.

Bagaimana keadaannya di rumah sakit sekarang ini, apakah ia telah menghancurkan rencana pertunangannya dengan namja itu dan apakah kedua orang tuanya kini tengah menangis karenanya, itu semua adalah hal yang ingin cheon sa ketahui. Tanpa ia sadari, air matanya kembali terjatuh.

Ia pun bingung, ternyata seorang arwah juga bisa menangis dan menitikkan ar mata. Ia sudah tidak ingat berapa kali ia menangis hari ini. yang pasti hari ini ia benar-benar merasa sangat buruk.

Cheon sa duduk di sofa dan memutuskan untuk melihat keadaannya di rumah sakit. Ia lalu memejamkan matanya dan dalam sekejap, ia sudah berada di kamar inap nya dirumah sakit.

Nampak jelas eomma dan appa nya tengah tertidur. Appa nya tertidur di atas sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidur cheon sa sedangkan eommanya tengah tertidur di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan cheon sa. Terlihat jelas di wajah kedua orang tuanya bekas aliran air mata dan cheon sa yakin bahwa eomma dan appanya sudah menangis seharian ini.

Cheon sa mengambil sebuah selimut yang ada di dalam tas besar di lantai dan menyelimuti appa nya yang tertidur di atas sofa. Ia lalu mendekati eomma nya dan mengusap wajah eomma nya yang nampak begitu sedih. Cheon sa masih bisa merasakan air mata dari eomma nya. Saat itu puls cheon sa merasa bahwa sebentar lagi ia akan menangis.

Cheon sa berusaha menahan tangisnya. Ia sudah terlalu lelah menangis hari ini. ia lalu mengalihkan pandangannya pada dirinya sendiri yang tengah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan memakai baju rumah sakit. Cheon sa semakin merasa miris saat ia melihat dirinya yang begitu menyedihkan. Kepalanya diperban dengan perban putih besar, wajahnya nampak begitu pucat dan ia memakai respirator yang membantunya bernafas. Ia pun melihat electrocardiogram yang terus menerus menunjukkan adanya detak dan garis kehidupan disana. Cheon sa tersenyum sesaat, setidaknya ia masih mempunyai harapan untuk terus hidup. Setidaknya. Selama alat itu masih mengeluarkan bunyi dan garis zigzag yang menunjukkan bahwa ia masih hidup.

“eomma, appa.” Cheon sa berusaha  tersenyum disaat ia benar-benar merasa harus menangis.

“eomma, appa, kalian harus tetap menjaga kesehatan kalian, jangan lupa makan dan beristirahatlah yang cukup. Jangan terlalu sibuk menjagaku, aku tidak apa-apa, dan appa, jangan pikirkan perusahaan dulu. Appa harus beristirahat banyak setelah lama menjagaku. Dan eomma, eomma jangan menangis lagi, karena sejauh apapun aku pergi dari kalian, aku masih bisa mendengar tangisan kalian, eomma, appa” Cheon sa akhirnya jatuh dalam tangisannya. Ia sama sekali tak bisa menahan emosinya kali itu. Ia membiarkan matanya membengkak akibat menangis terlalu banyak, toh tidak akan ada orang yang bisa melihat keadaannya yang sesungguhnya. Tidak ada kecuali seorang namja bernama Oh Se Hun.

“eomma, appa aku harus pergi. Dan aku akan kembali lagi. Dan kau harus segera sadar dan sembuh, cheon sa-ya” ujar cheon sa. Cheon sa memejamkan matanya dan dalam sekejap ia kembali berada di ruangan tengah apartemen milik Sehun.

Ia terduduk di atas sofa diruang tengah itu dan masih menangis sesengukan. Ia tak tahu bagaimana caranya agar menghentikan tangisnya itu. Ia sama sekali tak bisa menghentikannya.

“ya! Waeyo? Ini baru jam 4 dan kau sudah membangunkanku dengan suara tangis mu?” Sehun tiba-tiba keluar dengan tampang yang begitu kacau. Terlihat jelas bahwa ia tak bisa tidur dengan nyenyak.

Sehun terbangun karena ia mendengar suara cheon sa yang tengah menangis. Dan saat ia keluar dari kamarnya, ia mendapati cheon sa yang tengah menangis dan terlihat jelas air mata yang terus menerus mengalir di matanya.

Sehun menyalakan lampu di ruang tengah dan berjalan mendekati cheon sa yang terisak di sofa. Sehun lalu duduk di sampingnya dan menatap cheon sa.

“memangnya ada apa? Kenapa kau menangis lagi, eoh?” tanya Sehun.

Cheon sa menatap Sehun dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya. Dan Sehun yang melihat hal itu lagi-lagi menghela nafas.

“berhentilah menangis,”  ujar Sehun. Bukan tangis yang mereda yang didapatkan Sehun melainkan tangis Cheon sa yang semakin meledak.

“sehun-ssi..” cheon sa menyebut nama Sehun dalam tangisnya. Kali ini Sehun sama sekali tak bisa menahan emosinya. Ia menatap Cheon sa dan menyentuh wajah yeoja itu dengan kedua tangannya. Sehun mengusapkan jarinya untuk menghapus air mata Cheon sa. Air mata itu terasa begitu dingin begitupula dengan wajah cheon sa.

“Uljima” ujar Sehun, “kau tahu? Kau semakin menakutkan saat kau menangis” lanjutnya.

“mian” ujar Cheon sa sambil berusaha meredakan tangisnya. Ia menyeka air matanya dan menatap sehun dengan seksama, “sebaiknya kau cepat tidur, maaf aku mengganggu waktu tidurmu, Sehun-ssi” ujarnya.

“ baiklah” Sehun beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan ia juga bergegas mengambil selimutnya dan menariknya hingga sebatas dagu. Yang ia perlukan saat ini hanyalah istirahat yang cukup karena besok hari adalah hari yang cukup berat baginya. Hari dimana ia harus menjalani rutinitas sebagai seorang pelajar, dan pula, mau atau tidak, ia harus bertemu dengan namja menyebalkan itu, Park Chan Yeol.

Sehun menyetir mobilnya dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat di jalan raya. Ia menyetel musik kesukaannya, Overdose di dalam mobilnya. Namun, nada-nada dari lagu itu sama sekali tak membuatnya berhenti memikirkan Cheon sa yang tadi pagi begitu bersikeras untuk mengikutinya hingga ke sekolah.

#flashback on.

“Sehun-ssi, kau mau kemana?” tanya Cheon sa yang sedari tadi sibuk memperhatikan Sehun yang berusaha dengan keras untuk mengeratkan dasinya.

“kau tidak lihat? Aku akan ke sekolah” jawabnya singkat.

“ah jinjja? Kalau begitu, aku boleh ikut?” tanyanya polos.

“ani” jawab Sehun singkat tanpa berusaha menatap Cheon sa.

“ah wae?” Cheon sa mengerutkan keningnya dengan kecewa. Namun, ia tak igin menyerah begitu saja.  Cheon sa ingin terus menerus membujuk Sehun hingga namja itu mengizinkannya.

“apa kau perlu alasan?” Sehun menolehkan kepalanya pada Cheon sa dan menatap yeoja itu. Cheon sa menatap Sehun dengan pandangan memelas yang begitu menggemaskan.

“tentu saja. Memangnya kenapa kau tidak memperbolehkan ku ikut dengan mu? Aku tidak akan mengganggu. Aku janji, sehun-ssi!” Cheon sa mengacungkan jari kelingkingnya ke udara. Dan Sehun mengabaikannya.

“aku tidak ingin kau merusak hariku” jawab Sehun.

“kan aku sudah mengatakannya kalau aku tidak akanmelakukan hal-hal aneh. Aku hanya ingin mengikutimu tanpa bicara. Itu saja. Memangnya tidak boleh?” Tegas Cheon sa.

“shireo!” tegas Sehun.

“Sehun-ssi!”

“baiklah, aku akan memberikanmu dua pilihan” Sehun menghela nafasnya dan akhirnya ia tahu bagaimana caranya untuk membuat gadis ini bungkam dan berhenti merengek seperti ini.

“pilihan.. apa?” tanya Cheon sa.

“kau tidak boleh mengikutiku tapi kau boleh tinggal disini, dan pilihan kedua kau boleh mengikutiku tapi kau tidak boleh tinggal disini. Di apartemen ini. jadi, apa pilihanmu?” tanya Sehun.

“sehun-ssi, jadi jika aku mengikutimu kemanapun kau pergi, itu artinya kau tidak akan mengizinkan ku tinggal di apartemen ini lagi?”

“benar” jawab Sehun.

“baiklah, aku akan tinggal dirumah” Cheon sa menundukkan wajahnya dan menghela nafasnya dengan berat. Sementara itu, Sehun sudah selesai dengan seragamnya dan ia bergegas mengambil ransel serta kunci mobilnya yang terletak di atas meja ruang tengah. Tanpa pikir panjang, ia segera keluar dari apartemennya tanpa sepatah kata apapun.

#flashback end.

Sehun berusaha kembali memusatkan perhatiannya pada jalan raya yang ada di hadapannya. Tinggal beberapa ratus meter lagi, ia akan sampai di sekolahnya, Jungwon High School.

Sehun sudah samai di depan gerbang sekolahnya dan ia segera melajukan mobilnya ke tempat parkir mobil untuk siswa.

Baru saja Sehu mematikan mesin mobilnya, Sehun mendengar seseorang memanggil namanya. Begitu dekat dan suara itu bahkan terdengar begitu familiar akhir-akhir ini.

“Sehun-ssi” suara itu menyapanya. Memanggil namanya. Secara spontan, Sehun menolehkan kepalanya ke arah belakangnya dan seketika itu pula ia dibuat terkejut oleh kehadiran Cheon sa di jok belakang mobilnya. Cheon sa tersenyum sumringah dan polos layaknya anak kecil.

ya!  Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku?!” Cheon sa memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan namja itu.

“Sehun-ssi, kau tahu? Apartemenmu sangat membosankan. Tak ada komik, novel atau apapun yang bisa menghiburku. Jadi, aku memutuskan untuk mengikutimu ke sekolah” ujarnya dengan wajah yang begitu innocent dan tanpa dosa.

“kalau begitu keluar saja dari apartemenku, kau bilang apartemen ku membosankan bukan?” ujar Sehun.

“a-aniyo. Bukan itu maksudku. Aku tidak punya pilihan lain, sehun-ssi” ujarnya.

“cepat pulang!” pertintah Sehun.

“Shireo!” tukasnya.

“apa kau mau kuusir dari apartemenku? Eoh?” ancam Sehun. Namun, gertakan Sehun rupanya tidak erpengaruh apa-apa baginya.

“dan apa kau mau setelah kau mengusirku kau akan selalu kuhantui dan kupermalukan? Eoh?” ancam Cheon sa. Akhirnya Sehun mengalah pada yeoja ini. ia memikirkan kemungkinan terbesar jika ia akan dipermalukan habis-habisan oleh Cheon sa. Tepat dihadapan seluruh teman-temannya. Dan apalagi di hadapan Park Chan Yeol.

“baiklah, tapi kau ingat satu hal, jangan mempermalukan ku dan jangan mengajakku berbicara, kau paham?”  Sehun menekankan setiap kata di dalam kalimatnya. Sementara Cheon sa sibuk dengan kedua jempolnya yang diacungkannya di hadapan wajah Sehun, menandakan bahwa ia benar-benar paham dengan segala peringatan Sehun.

“ne, arasseo!” jawabnya.

Sehun melepaskan safety belt  nya dan keluar dari mobilnya. Tentu saja Cheon sa tak perlu membuka pintu mobil karena ia bisa menembus benda apapun sesuka hatinya, ia bahkan bisa mengendelaikan dirinya agar bisa bersentuhan dengan benda-benda padat dan bahkan dengan manusia.

“ingat janjimu tadi” Sehun kembali memperingatkan Cheon sa untuk yang terakhir kalinya dan untuk yang kesekian kalinya pula Cheon sa mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya.

Sehun dan Cheon sa berjalan di koridor sekolah yang masih sepi dikarenakan banyak siswa yang masih belum datang. Hanya ada beberapa siswa yang nampak sibuk berkutat dengan loker mereka .

Sehun berjalan menuju lokernya dan membuka pintunya. Saat itu pula Cheon sa dibuat terkejut saat melihat begitu banyaknya buku-buku matematika yang bahkan ketebalannya bisa mencapai 5 cm.

“kau punya buku-buku setebal ini? kau membaca semuanya? Daebak! “ puji Cheon sa. Sementara itu, Sehun hanya menoleh pada Cheon sa dan terdiam saat menatapnya.

“waeyo?”

“kau ingat janjimu?”

“ah ne, maafkan aku” ujar Cheon sa sambil kembali menundukkan wajahnya.

Sehun mengambil beberapa buku matematika yang diperlukannya dan kembali menutup pintunya. Tepat disaat itu pula seseorang tengah berdiri di sampingnya. Dengan senyum palsu dari seseorang yang sudah lama menghilang dari hadapan Sehun.

“lama tidak berjumpa, Oh Se Hun” ujarnya. Namja itu mengembangkan senyum palsu untuk Sehun. Seorang namja bernama Park Chan Yeol yang sialnya kembali hadir ke dalam kehidupan Sehun.

Sehun hanya terdiam menatap Chan yeol dengan tatapan membunuh padanya. Disisi lain, Cheon sa hanya bisa terpaku pada sosok yang tengah berdiri tak jauh darinya dan Sehun. Cheon sa terdiam begitu lama memandangi namja itu. Ia merasakan matanya mulai memanas. Kedua matanya mulai berusaha memaksanya untuk menangis. Mulutnya begitu memaksanya untuk menyebut nama namja itu. Namun, satu yang ia sadari. Sehebat apapun tangisannya, senyaring apapun Cheon sa memanggil namanya, namja itu tidak akan pernah bisa mendengarnya dan menyadari keberadaannya.

“Park Chan Yeol?” gumam Cheon sa.

 

 

Author’s Notes:

Miaaanhaaaeee buat semua readers tercinta.. maaf udah bikin kalian karatan dan lumutan nugguin chapter 2 ini. author lagi sibuk-sibuknya sama yang namanya magang sama tugas yang bertumpuk, jadi susah mau ngebagi waktu buat nyelesain ff ini dan syukurnya ff ini masih bisa di post di tengah kesibukan author, maaf ya readerss..

Bagaimana Chapter 2 nya? Masih jelek?  Ini udah author panjangin loh, trus juga disini udah mulai ketahuan kan siapa yang bakalan jadi cast yang ngebikin konflik? Dan ini baru awal, konfliknya juga belum keliatan banget, author ngusahain banget buat bikin alurnya gak kecepetan, juga gak kelambatan.

Oiya, thanksss gomawooo banget buat kalian yang udah mau baca ff pertama dari author. Author selalu baca komen kalian berulang-ulang kalo author lagi buntu ide dan itu ampuh banget. Thnksss banget , Author sungguh terharu #gajeabaikan

Oiya, author mau ngasih tambahan, ini twitter author, @Faradinaa. kalau mau chat sama author ya kalau mau di follow monggo, kalau enggak ya yo wes, ntar kalau readers follow, insya allah ntar author follback kok.  J, followback is my style #laxyhyungstyle #abaikan

Yaudah ini kayaknya author’s note nya lebih panjang dari ff nya deh. Sekali lagi.. jeongmal kamsahamidaaa 😀

 

 

 

Iklan

52 pemikiran pada “My Adorable Ghostgirl (Chapter 2)

  1. Uwahhh….. ya ampun. Chan yeol bagi kehidupannya si cheonsa tu spanya???
    Part yg ini kependekan thor, jdi… rsanya krg gmana gtu. Trs… msh bngk typonya ya walau gk sbrapa bnyk sih. Gk pp thor q bca klanjutannya.

  2. Wah, chanyeol ada hubungan apa sma cheonsa smpi cheonsa tau chan?
    Menurut ku ffnya makin bgus kok, ceritanya keren 🙂
    Hwaiting ^_^

  3. Wawwwwwww….sehun baik bgt dah ahh udh izinin cheonsa tinggal serumah dengannya…
    Jgn tlalu benci sm cheonsa sehun bsa2 kau nnt mlah jatuh hati lho sm hantu gadis cantik itu..kenapa cheonsa matanya memanas liat yeollie?? Apakah cheonsa sm yeollie pny hubungan di masa lalu??

  4. Apa yg direbut Chanyoel dri Sehun,,yg mmbuat Sehun gk bsa maafin Chanyeol??? Cintakah???
    Sprtinya Cheonsa pnya hbngan dgn Chanyeol???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s