Still Like-A-Child Cheonsa

Title: Still Like-A-Child Cheonsa

 

Author: @diantrf

 

Cast:

Oh Sehun (Exo) | Park Cheonsa (OC)

 

Genre: Fluff | Rating: PG-13 | Lenght: Oneshot

 

Prev:

Innocent Cheonsa | What’s Cheonsa Doing Today?

 

0o0

 

Sehun diam-diam sedang membuat segelas susu putih hangat untuk Cheonsa. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, namun istrinya itu belum tidur dengan alasan ada ulangan Bahasa Inggris besok dan ia harus belajar. Sehun yang tadinya sudah sangat mengantuk jadi tidak tega membiarkan Cheonsa terjaga sendirian dan akhirnya ia memutuskan membuat susu untuk Cheonsa.

Ia langsung memasuki kamar dan tersenyum melihat Cheonsa yang sedang duduk di depan meja belajarnya. Cheonsa dengan piyama tidurnya dan poni yang diikat serta tak lupa gadis itu memakai ikat kepala penyemangat belajar. Sehun terkekeh sendiri melihat kelucuan Cheonsa. Ia terlihat menggemaskan dan manis.

 

Segeralah dihampirinya Cheonsa. Sehun mengambil kursi dan duduk di samping Cheonsa. Cheonsa yang sedang sangat fokus belajar bahkan tak menyadari keberadaan Sehun. Pemuda itu, dengan otaknya yang sudah di-setting untuk kejahilan kini malah menarik ikatan poni Cheonsa, yang menyebabkan Cheonsa kaget dengan ekspresi yang menggemaskan.

 

 

Oppaa!

 

“Minum dulu susunya.”

 

 

Sehun, tak seperti biasanya ia berbuat manis seperti itu. Bibirnya melengkungkan senyum tulus yang terlihat manis. Cheonsa hanya mengembungkan pipinya lalu mengambil gelas susu itu dan meminumnya perlahan. Sehun mengelus kepala Cheonsa dengan sayang.

 

Cheonsa meletakkan gelas susunya yang tinggal berisi setengah lalu mulai kembali terfokus pada bukunya. Sehun hanya memperhatikan Cheonsa yang sedang menulis materi-materi penting di bukunya. Tulisan gadis itu sangat rapi dan lucu. Buku catatan Cheonsa lebih terlihat seperti buku gambar, berwarna dan cantik. Itu karena Cheonsa selalu memberi tanda-tanda lucu agar ia mudah menghafal materinya.

 

 

Aaaa oppa, Cheonsa pusing..”

 

 

Gadis itu langsung menundukkan kepalanya di meja. Cheonsa frustasi. Rambut panjangnya jatuh begitu saja di samping tubuhnya, membuat ia terkesan horor dan semakin mengenaskan. Sehun jadi geli sendiri, antara kasihan dan lucu melihat tingkah Cheonsa.

 

Sehun memegang pundak Cheonsa untuk membuat gadis itu terduduk kembali. Mata Cheonsa terlihat sangat ingin dipejamkan. Sehun kasihan juga melihatnya. Akhirnya ia mengambil pensil yang sedaritadi Cheonsa pegang dan mulai memahami materi yang tertera disana.

 

 

“Bukankah kamu pintar Bahasa Inggris? Mengapa materi mudah seperti ini tidak bisa?”

 

“Cheonsa hanya bingung, oppa.”

 

“Bagian mana yang membuatmu bingung? Oppa akan jelaskan.”

 

 

Dan akhirnya mereka terjaga semalaman dengan kegiatan belajar-mengajar dadakan itu. Berterimakasihlah atas Sehun yang kebetulan menguasai bahasa asing itu. Cheonsa yang mendengarkan penjelasan Sehun hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

 

Setelah selesai bicara, Sehun langsung melihat jam dinding dan agak terkejut karena jarumnya telah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia lalu menoleh ke sampingnya. Ya Tuhan, gadis itu malah tertidur dengan pulasnya dengan posisi kepala di meja dengan tumpuan tangannya.

 

Sehun hanya geleng kepala melihat gadisnya itu. Ia lalu menggendong Cheonsa dan membaringkannya perlahan di ranjang mereka. Setelahnya, Sehun membereskan buku-buku Cheonsa dan menghabiskan susu yang tinggal separuh itu.

 

Lalu Sehun pun berbaring di samping Cheonsa, memeluk gadis kesayangannya dengan erat. Sebenarnya mata Sehun sangat ingin terpejam, namun entah kenapa ia masih ingin melihat wajah Cheonsa yang damai dan manis seperti sekarang ini. Sehun mengusap pipi Cheonsa, merasa ingin mencubitnya karena terlalu gemas.

 

 

“Cheonsa, cepatlah dewasa dan menjadi semakin cantik. Jangan nakal dan kekanakan lagi. Jangan suka membantah kata-kata oppa. Oppa sayang kamu, jadilah gadis manis untukku. Saranghae.”

 

 

Begitulah kiranya Sehun tiap malam. Ia akan selalu bermonolog dan mendoakan Cheonsa agar kedepannya Cheonsa bisa menjadi perempuan manis yang penurut. Sehun sudah seperti ayah yang selalu mendoakan sang anak dalam tidurnya. Sehun sangat menyayangi dan mencintai Cheonsa, gadis kecil manis kesayangannya.

 

Monolog Sehun diakhiri dengan sebuah kecupan manis di kening Cheonsa. Pelukannya semakin erat dan akhirnya matanya berhasil juga terpejam. Menyisakan keheningan malam yang menyelimuti mereka.

 

0o0

 

Suatu keajaiban, Sehun bangun lebih dahulu daripada Cheonsa. Saat membuka matanya, ia dihadiahi pemandangan indah pagi hari yaitu wajah Cheonsa yang masih lelap tertidur. Baru pukul enam pagi, Sehun akan membiarkan Cheonsa tidur lebih lama lagi.

 

Sehun mencium kening Cheonsa dan setelahnya beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan. Biasanya Cheonsa yang akan memasak, namun Sehun kasihan karena Cheonsa baru tidur larut malam. Alhasil, kini Sehun tengah berkutat dengan segala peralatan masak dan bahan makanan di dapur. Untunglah Sehun tipe laki-laki yang bisa memasak.

 

 

Nasi gorengnya telah siap. Sehun membalikkan badan berniat untuk mengambil piring, namun ia dikejutkan dengan kehadiran misterius Cheonsa yang telah duduk di meja makan lengkap dengan seragam dan tasnya. Apakah Sehun yang memasak terlalu lama, atau memang gadis ini memiliki sisi horor tersendiri?

 

 

Wah, oppa memasak. Hehe, terimakasih.”

 

 

Cheonsa tertawa kecil dengan sangat lucu. Dengan wajah manis dan rambut yang dikepang separuh, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Sehun hanya bisa tersenyum melihat gadis manis di depannya. Ia pun menuangkan nasinya di piring dan mulai membuat susu untuknya dan Cheonsa.

 

Sehun meletakkan dua gelas susu di meja. Ia jadi terkekeh sendiri melihat Cheonsa makan. Namun sepertinya ada yang aneh dengan istrinya. Wajahnya yang berkulit susu itu terlihat agak bersemu merah, dan sepertinya agak pucat. Sehun mengerutkan keningnya.

 

 

Sepuluh menit mereka diselimuti keheningan. Hanya dentingan sendok dengan piring yang menemani mereka. Cheonsa selesai makan duluan, lalu ia meminum susunya separuh gelas dan membawa piring kotornya untuk ia cuci.

 

Setelah semuanya selesai, Cheonsa langsung mengambil tasnya dan berjalan kearah Sehun lalu mencium pipinya. Baru saja Cheonsa hendak melangkah menuju pintu keluar, ia ditahan dengan suara Sehun.

 

 

“Kenapa pagi sekali berangkatnya?”

 

“Cheonsa ingin belajar dulu di sekolah.”

 

 

Cheonsa tersenyum lalu mulai memakai sepatunya dalam diam. Tentunya Sehun tak akan membiarkannya begitu saja. Setelah gadis itu berdiri hendak membuka pintu, Sehun langsung menarik tangannya dan membuat Cheonsa yang tingginya hanya sebatas leher Sehun berbalik dan berdiri tepat menghadapnya.

 

 

“Tidak ingin oppa antar?”

 

 

Gadis manis itu hanya menggeleng. Sehun mengangguk mengerti dan hanya bisa mencium kening Cheonsa. Namun, terasa ada yang aneh dengan gadisnya. Suhu tubuh Cheonsa panas. Pipinya bahkan semakin bersemu merah. Apakah Cheonsa..

 

 

“Cheonsa, kamu sakit?”

 

Annyeong, oppa!”

 

 

Cheonsa langsung menghilang di balik pintu. Sehun hanya mampu terdiam. Suhu tubuh gadis itu sangat panas dan wajahnya pucat. Ia jadi agak khawatir takut terjadi apa-apa dengan Cheonsa. Namun segera ia tepis pikiran-pikiran aneh itu. Sehun hanya bisa berdoa semoga Cheonsa sehat dan bisa menghadapi ulangannya.

 

0o0

 

Jam kuliah terakhir Sehun hari ini baru saja berakhir. Sekarang masih pukul satu siang, ia berniat untuk mampir sebentar di cafe langganannya untuk membeli kopi untuknya dan juga cake untuk Cheonsa. Sehun langsung memasuki mobilnya dan mengendarainya menuju tempat tujuan.

 

Setelah sampai, Sehun langsung memesan dan menunggu di meja yang terletak di dekat jendela. Pikirannya masih mengkhawatirkan tentang Cheonsa. Apakah gadisnya itu sehat dan bisa melewati ulangannya? Pelayan datang dan membawakan pesanan Sehun. Ia pun langsung keluar dan kembali mengendarai mobilnya menuju apartemen.

 

Sehun merasakan ada bunyi getaran dari dashboard mobilnya. Nomor ponsel Cheonsa tertera disana. Ada apa dengan gadis itu? Tak biasanya ia menelpon Sehun. Dan sekarang bukankah masih jam pelajaran? Pikiran-pikiran aneh menguasai Sehun saat ini. Ia menepikan mobilnya sebentar dan mengangkat telepon itu.

 

 

“Yeoboseyo, Oh Sehun? Tolong jemput Cheonsa di sekolah, ia pingsan.

 

 

Suara laki-laki di seberang sana membuat Sehun semakin panik. Siapa itu? Dan..Cheonsa pingsan? Bahkan Sehun belum sempat menjawab apa-apa dan malah memilih untuk memacu lebih cepat mobilnya menuju sekolah Cheonsa. Ia sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.

 

Setelah memarkirkan mobilnya, Sehun langsung berlari membelah halaman sekolah serta lapangannya yang sangat luas. Dan tiba-tiba Sehun berhenti sejenak. Bodoh, bahkan ia tak tahu lokasi Cheonsa sekarang dimana. Namun ia lebih memilih untuk menetapkan tujuannya ke ruang kesehatan. Cheonsa pingsan, pasti ia sedang terbaring disana.

 

Sehun hafal seluk-beluk sekolah itu karena ia dulu juga bersekolah disana. Ia masih terus berlari menuju ruang kesehatan. Saat hampir sampai, ia menghentikan larinya dan mengatur napasnya di depan pintu. Setelah kembali normal, ia mengetuk pintu itu dan membukanya perlahan.

 

Terlihat seorang pria yang berdiri membelakanginya. Mungkin orang itu yang menelpon Sehun tadi dengan ponsel milik Cheonsa. Orang itu menyadari keberadaan seseorang di belakangnya. Ia membalikkan badannya dan tersenyum saat melihat Sehun. Siapa pria itu?

 

 

“Oh Sehun, benar?”

 

Ne, saya..”

 

“Suami Cheonsa. Saya tahu.”

 

 

Sehun membulatkan matanya. Siapa pria ini? Mengapa bisa tahu jika Sehun adalah suami Cheonsa? Lalu bagaimana dengan nasib mereka jika ada orang di lingkungan sekolah yang mengetahui kenyataan itu?

 

 

“Mungkin kamu bingung. Saya Kim Jongwon, salah satu guru Cheonsa. Tadi ia pingsan setelah mengikuti ulangan Bahasa Inggris di kelas saya. Langsung saja saya bawa ia kesini dan menelponmu. Kebetulan Cheonsa sangat dekat dengan saya, jadi saya tahu jika ia sudah menikah dan memiliki suami.”

 

 

Guru itu tersenyum hingga matanya menyipit. Sepertinya ia guru baru, karena terlihat masih muda dan Sehun tak mengingat memiliki guru seperti dia. Jongwon pamit meninggalkan mereka berdua dalam ruang kesehatan. Sehun memegang kening Cheonsa, sangat panas.

 

Sehun langsung menggendong Cheonsa, membawanya keluar ruang kesehatan dan akan langsung pulang untuk merawatnya di rumah. Untung saja sekarang masih memasuki jam pelajaran sehingga tak ada murid dan guru yang melihat mereka.

 

Ia membaringkan Cheonsa di jok belakang mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Sehun panik, sangat. Namun ia mencoba untuk santai. Bukan sekali ini saja kan Cheonsa demam? Sehun pastinya sudah tahu harus berbuat apa.

 

 

Saat sampai, Sehun menggendong Cheonsa dari parkiran menuju apartemennya di lantai tiga. Sebenarnya Sehun bingung, kenapa tubuh Cheonsa ringan sekali. Apa akhir-akhir ini ia kurang makan? Karena terakhir kali Sehun ingat gadis ini lumayan berat.

 

Langsung saja Sehun baringkan tubuh Cheonsa di ranjang mereka. Ia mengambil air dingin dan handuk untuk mengompres kening Cheonsa. Setelah berkutat selama sepuluh menit, akhirnya Sehun bisa sedikit bernapas lega. Ia memutuskan untuk mandi lalu setelahnya membuat makanan. Semoga Cheonsa cepat bangun agar ia bisa makan dan minum obat.

 

0o0

 

Sehun hanya mampu terdiam dengan mulut menganga. Di depannya saat ini, Cheonsa tengah memakan makan malamnya dengan sangat sangat sangat lahap. Bahkan pipi chubby itu kini terlihat semakin mengembung akibat makanan yang terlalu banyak di mulutnya.

 

Apakah orang yang baru sembuh dari demam makannya sebanyak ini? Cheonsa yang sadar karena diperhatikan Sehun hanya tersenyum lucu sampai matanya menyipit dan pipinya naik, sangat menggemaskan. Sehun hanya tertawa kecil melihatnya dan memutuskan untuk memulai makannya.

 

Mereka makan dalam diam selama sepuluh menit. Sebenarnya tidak sepenuhnya diam, karena Cheonsa selalu sibuk menyuapi Sehun yang menurutnya terlalu sedikit makan. Cheonsa ingin Sehun hidup dengan baik dan makan dengan baik juga. Gadis itu sangat menyayangi suaminya.

 

 

Karena tak ingin Cheonsa kelelahan lagi dan berakhir dengan Sehun yang terjaga semalaman karena merawat Cheonsa, ia memutuskan agar ia saja yang membereskan semua alat makan dan Cheonsa hanya duduk manis sambil memakan cake yang tadi siang sempat Sehun beli.

 

Cheonsa terkekeh pelan melihat Sehun yang tengah sibuk mencuci piring. Ide jahil tiba-tiba muncul di benak Cheonsa. Jangan tanya mengapa gadis polos sepertinya bisa berbuat jahil, tentu saja ini semua karena ajaran suami tercintanya sang raja jahil seantero Seoul.

 

Gadis itu melangkah pelan dan berdiri di samping Sehun tanpa menimbulkan suara apapun. Sehun bahkan terlalu fokus mencuci dan tak menyadari pergerakan diam-diam gadis manisnya.

 

 

Oppa!”

 

 

Sehun menoleh dan bingo! Cake cokelat itu dengan manisnya menempel di bibir hingga hidung Sehun, membuat Cheonsa tertawa sampai terduduk di lantai karena terlalu senang. Sehun tersenyum, senang sekali melihat Cheonsa seceria itu. Dan tentunya ia tak mau kalah jahil.

 

 

“Dasar gadis nakal ya, sini kamu!”

 

Aaaaa kabur!”

 

 

Dan akhirnya mereka main kejar-kejaran, dimeriahkan dengan suara tawa Cheonsa dan suara sok galak Sehun yang terus-menerus meneriaki gadis nakal kesayangannya itu. Cheonsa yang lebih muda darinya memang masih bisa berlari sangat cepat dan sangat lincah menghindari Sehun.

 

 

Huh..hah.. Oppa menyerah, kita damai saja, ne?”

 

 

Cheonsa tersenyum sumringah mengetahui bahwa dirinya menang melawan iblis tampan Oh Sehun. Ia mendekat kearah Sehun, namun masih waspada takut-takut Sehun akan menerkamnya detik itu juga.

 

 

“Kau yakin, oppa?”

 

Ne, oppa lelah. Dan oppa masih harus mencuci piringnya. Cheonsa lanjutkan makan kuenya, oke?”

 

 

Gadis itu mengangguk dan kini ia kembali duduk di meja makan sambil memakan sisa cake-nya. Sehun berkata jujur bahwa ia akan melanjutkan kegiatan mencucinya. Namun bibir pria itu menyimpulkan sebuah senyuman. Senyuman balas dendam.

 

 

Cheonsa sayang, sebaiknya kamu berhati-hati..

 

0o0

 

Besok tanggal merah. Sekarang masih pukul tujuh dan Cheonsa belum ingin tidur. Gadis itu hanya duduk di sofa ruang tengah dan menonton drama kesukaannya. Drama yang menceritakan tentang pria tampan namun mesum yang sangat menyukai seorang gadis manis.

 

Pernahkah kalian mendengar atau melihat kisah seperti itu? Ini hanya perasaan saja atau film itu sangat cocok menggambarkan tentang Sehun dan Cheonsa? Oh Sehun sang iblis tampan jahil nan mesum yang sangat mencintai gadis manis dan polos seperti Cheonsa. Entahlah, namanya juga cerita fiksi. Semua serba kebetulan.

 

 

Sehun baru saja selesai mandi dan tadi langsung ke dapur untuk membuat cokelat hangat untuk dirinya sendiri dan Cheonsa. Sehun duduk di samping Cheonsa, dan langsung memutar bola matanya malas melihat drama picisan yang Cheonsa tonton. Ia sangat benci cerita romance seperti itu.

 

Namun, salahkan pengalihan fokus Sehun dari televisi menuju Cheonsa di sampingnya. Penampilan gadis ini agak berbeda. Biasanya ia mengenakan piyama tidur dengan berbagai motif lucu dan menggemaskan seperti anak kecil. Namun sekarang…

 

 

Glek! Sehun sedikit menelan ludahnya.

 

 

Cheonsa hanya mengenakan hotpants yang memperlihatkan kaki jenjangnya dan kaus putih polos yang lumayan mencetak lekuk tubuhnya. Dengan rambut blonde panjangnya yang diikat ekor kuda.. Astaga, mengapa Sehun memikirkan hal yang tidak-tidak?

 

Cheonsa boleh saja masih berumur tujuh belas tahun dengan sifat kelewat polos dan sangat menggemaskan. Namun tetap saja tubuhnya yang lumayan tinggi untuk ukuran anak gadis seusianya dan tubuhnya yang sudah berbentuk itu membuat Sehun mulai sedikit khilaf.

 

 

‘Jangan Sehun.. Ia masih kecil..’

 

 

Sungguh malang nasib Sehun yang harus terus merapalkan kata-kata menyebalkan itu. Cheonsa masih kecil, ingat itu. Dan ia bisa dimarahi habis-habisan oleh eomma-nya jika ketahuan meng-apa-apakan Cheonsa. Sehun masih terlalu muda untuk dijadikan ‘Sehun panggang’ atau ‘Sehun rica-rica’ oleh eomma-nya dan eomma Cheonsa. Memikirkannya saja sudah membuat Sehun bergidik ngeri.

 

 

“Cheonsa, mau main sama oppa?”

 

 

Lagi-lagi, nada manis itu lolos dari bibir Sehun. Cheonsa yang tadinya fokus dengan filmnya kini memandang Sehun sambil mengerutkan keningnya.

 

 

“Main apa?”

 

 

Sehun terkekeh sendiri. Ini seperti deja vu. Saat hari pertama mereka menikah Sehun juga pernah bertanya hal ini pada Cheonsa dan gadis itu menjawab dengan kalimat yang sama. Yang pada akhirnya membuat Sehun hampir saja khilaf jika ia tidak diganggu oleh bel rumah yang berbunyi akibat eomma-nya.

 

 

“Batu-gunting-kertas?”

 

 

Cheonsa mengangguk antusias dan kini mereka duduk di sofa berhadapan dengan kaki menyilang. Sehun terlihat tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai jahil? Cheonsa, sepertinya kamu dalam bahaya untuk yang kesekian kalinya.

 

 

“Oke, peraturannya adalah.. Yang kalah harus mencium yang menang, bagaimana?”

 

 

Sehun menaik-turunkan kedua alisnya, membuat ia terlihat seperti ahjussi mesum yang menawari seorang gadis manis untuk jalan-jalan bersama. You know what I mean with ‘walking together’.

 

 

“Oke! Aku tak akan kalah dari Sehun oppa!”

 

 

Ronde pertama. Sehun memulai pemanasannya dengan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sedangkan Cheonsa merenggangkan tangannya ke atas. Mereka sudah seperti akan bermain tinju atau hal sejenisnya. Dasar pasangan yang sama-sama otaknya tidak beres. Terlalu polos dan terlalu mesum.

 

 

“Batu, gunting, kertas!”

 

Cheonsa=Kertas >< Sehun=Gunting

 

Yahaha, Cheonsa kalah!”

 

Aish!”

 

 

Cup~

 

 

Satu kecupan manis berhasil mendarat di pipi kanan Sehun. Pria itu tersenyum sumringah. Malam ini rasanya akan menjadi salah satu malam yang sangat membahagiakan dalam hidupnya. Sementara Cheonsa kini tengah mengembungkan pipinya karena kesal.

 

 

Ronde kedua >>  “Batu, gunting, kertas!”

 

Cheonsa kalah~

 

 

Satu kecupan lagi berhasil mendarat di pipi kiri Sehun. Dan ronde ketiga serta selanjutnya lagi-lagi dimenangkan oleh Sehun. Cheonsa terus bergantian menciumi pipi Sehun yang kiri dan kanan, membuat gadis itu kesal sendiri. Sehun hanya terkikik geli melihat wajah kesal Cheonsa yang menggemaskan.

 

Dan sepertinya ini sudah ronde ke-sebelas. Cheonsa bertekad kalau kali ini ia kalah maka ia akan benar-benar ngambek dan menjauhi Sehun. Titik!

 

 

“Batu, gunting, kertas!”

 

Cheonsa=Kertas >< Sehun=Batu

 

Yeay! Cheonsa menang!”

 

 

Cheonsa kini tengah kegirangan sendiri dengan kemenangan perdananya itu. Ia meloncat-loncat seperti kelinci paskah yang sedang menyembunyikan telur. Namun disisi lain, kita dapat melihat Sehun yang menyeringai jahil dengan tatapan tampan menggodanya. Sehun adalah neraka dalam bentuk ketampanan.

 

 

“Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu tiba.” ucap Sehun akhirnya.

 

 

Langsunglah Sehun bangkit dari duduknya dan meraih pinggang Cheonsa yang masih dengan senangnya lompat-lompatan di lantai. Cheonsa yang dapat serangan dadakan itu tak dapat melakukan apapun selain terdiam dan mengikuti kemana arus Oh Sehun membawanya.

 

Sehun menautkan bibir mereka, menciumnya dengan lembut. Cheonsa refleks memejamkan matanya, yang memang sebenarnya telah ingin dipejamkan sedaritadi karena mengantuk. Dan mereka, lagi-lagi, hanyut dalam kebersamaan dan ruang cinta mereka sendiri.

 

 

Bingung? Karena ada satu point penting dalam permainan itu. ‘Yang kalah harus mencium yang menang’. Dan tepat sasaran, Sehun kalah dan ia harus mencium Cheonsa. Atau dengan kata lain, ia dengan senang hati akan mencium Cheonsa.

 

 

Entah kapan dan bagaimana caranya, kini Sehun dan Cheonsa sudah berbaring di ranjang mereka dengan keadaan bibir mereka yang masih tertaut dan lengan Sehun yang masih setia di pinggang Cheonsa. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas Sehun tahu sampai mana batasannya dimana ia akan berhenti.

 

 

Nice dream, Cheonsa.”

 

 

Cheonsa masih kecil, dan Sehun akan selalu ingat hal itu.

 

 

 

FIN

 

 

Pertama-tama izinkan Angel ketawa evil dulu, HAHAHA *ketawabarengBaekhyun*.  Sehun makin kesini makin bandel banget, apalagi Cheonsanya ikut ketularan bandel juga. FF yang ini kayaknya lebih panjang dari yang kemaren. Karena ini series jadi kalo ada adegan yang bikin bingung silakan baca yang prev.storynya dulu. Akhir kata, Angel mengucapkan terimakasih buat readers yang udah mau baca, apalagi yang meninggalkan jejak. Angel jadi merasa ga sia-sia nulisnya ngetiknya. Tunggu terus kisah-kisah lucu HunSa couple. Annyeong^^

167 pemikiran pada “Still Like-A-Child Cheonsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s