Painkiller

Painkiller

 [EXO FF] - Painkiller

 

Author             : @ridhoach

Main cast        : Kim Jong Dae a.k.a CHEN (EXO-M)

Genre              : Sad, Angst, Tragedy, Hurt.

Rating              : Mungkin… NC-17

Length             : Ficlet

——

Fanfic ini terinspirasi dari MVnya “T-ARA, THE SEEYA, 5Dolls, SPEED – 진통제 (Painkiller)”. Jadi apabila ada kesamaan jalan cerita, mohon dimaklumi.

UNTUK SILENT READER SANGAT DIHARAMKAN UNTUK MEMBACA FANFIC INI!!!!!

So, Leggo and don’t forget to leave your comment after you read this fanfic. Thankseu.

—–

I need a painkiller

 Help me take my pain away…

(T-ARA, THE SEEYA, 5Dolls, SPEED – 진통제)

—–

Author’s POV

Seorang lelaki tampak berjalan tertatih. Langkahnya begitu lemah. Ia melangkahkan kakinya dengan perasaan enggan sambil sesekali menyeret tas koper yang ia bawa. Wajahnya tirus. Begitu lemah, lelaki itu memasuki sebuah kamar apartemen yang tak terlalu besar di hadapannya.

“Aku pulang”, ujar sang lelaki saat ia membuka pintu.

Hening. Tak ada sahutan yang menyambut untuk kedatangan sang lelaki itu. Hanya bunyi semilir angin yang sayu terdengar terselip di antara bunyi derap kaki milik sang pemuda itu sendiri. Lelaki itu, Kim Jong Dae, menyapu setiap penjuru ruangan yang ada di hadapannya dengan tatapan enggan. Tak ada luapan ekspresi yang tergambar di wajahnya saat ini. Dia hanya menatap sendu setiap benda yang ada di sana.

Satu persatu, secara perlahan, Jongdae membuka setiap kain putih yang menutup setiap benda yang ada di dalam kamar apartemennya. Dari putih, selembar kain polos itu sudah mulai berubah warna menjadi kecoklatan. Terlalu banyak debu yang menempel di kain itu. entah, sudah berapa lama apartemen ini ditinggalkan dalam kondisi seperti ini oleh sang pemiliknya, Jongdae dan kekasihnya.

“Kau masih malas untuk membersihkan kamar ini ya, rupanya”, komentar Jongdae pada debu yang menempel pada jemarinya.

Jemarinya terus menjalari tiap debu yang melekat disana. Tanpa pernah peduli betapa kotor jarinya saat ini, ia terus menelusuri tiap lekuk debu yang ada di sana. Sejenak, sebaris air mata mengalir dengan pelan dari kedua ujung matanya. Sungguh, bukan hal seperti ini yang diharapkan Jongdae saat ini. Bukan tumpukan debu yang akan mendidihkan air di pelupuk matanya. Bukan. Jongdae hanya ingin sedikit tawa yang dilantunkan oleh dia, kekasihnya.

 

Pandangan Jongdae jatuh pada sebingkai foto yang terpajang rapi di atas sebuah rak. Dalam foto itu, Jongdae tampak bersama seorang gadis berkulit tan berambut ikal sebahu. Sang gadis, merangkul lengan Jongdae dengan manja. Keduanya tersenyum. Tertawa lebar pada kebodohan Jongdae yang asik menangis. Meraungi foto kecil yang sama sekali tak merespon apapun pada tangisannya.

Jongdae menangis. Tangisnya lepas di dalam ruang yang sempit itu. Suara paraunya menyuarakan jeritan pilu yang terus bergema. Mendesah di dalam hatinya. Matanya bersuara, meneriakkan pedih yang bersemayam di dalam hatinya selama ini. Pedih pilu yang selama ini ia pendam ia keluarkan sehebat – hebatnya saat ini. Jongdae beraharap, dengan semua teriakan yang ia keluarkan saat ini dapat setidaknya mengembalikan kembali puing hatinya yang sudah berserak, terhambur dan tak terurus. Walaupun ia tahu, lubang itu terus tetap ada. Walaupun ia tahu, luka – luka itu akan terus bernanah. Tapi ia terus berteriak. Mengeluarkan segala gundah yang ia pendam sendiri.

“Argh!”, erang Jongdae di sela – sela luapan emosinya.

Jongdae memegang erat dadanya. Ada pedih yang menusuk begitu dalam. Sama dengan kepalanya. Keduanya terasa begiu sakit dan terus menusuk – nusuk. Tangannya menggapai sebuah botol obat kecil yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Obat penenang. Itulah yang tertulis pada bagian depan botol tersebut. Jongdae mengeluarkan 4 butir tablet yang ada di dalamnya. Ia lalu meminumnya, seluruhnya. Jongdae berharap obat itu dapat menenangkan kegundahan yang tengah merajai tubuh dan pikirannya saat ini. Walaupun ia tahu, itu percuma.

Kondisi Jongdae sudah bisa dibilang cukup baik saat ini. Obat penenang itu memang masih bisa bekerja untuk meredakan emosinya sekarang. Walaupun sesaat, ia sudah dapat mengembalikan seluruh pedih lukanya kembali tenggelam di sana, jauh di dalam hatinya. Ia kembali dengan kegiatan yang sebelumnya ia lakukan. Melepas seluruh kain putih yang ada di kamar apartemen tersebut.

“Ah, aku lapar. Kau juga kan?”, tanya Jongdae tiba – tiba.

Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menggiring gema suara Jongdae di kamar apartemen itu.

“Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, kau tunggu ya. Aku akan segera kembali”, ujar Jongdae kembali bermonolog ria.

Entah, tak ada yang mengerti apa yang membuat Jongdae menjadi seperti ini. Bahkan Jongdae sendiri tak mengerti pada siapa ia berbicara, untuk siapa ia hidup dan alasan apa yang menahannya untuk tetap bertahan sampai saat ini. Ia tak mengerti. Yang ia lakukan hanyalah menjalani kehidupannya yang seperti biasa. Walaupun tanpa ia sadari, tak ada lagi yang biasa dalam hidupnya saat ini. Semua sudah berbeda. Jauh berbeda dari yang biasanya. Sampai – sampai ia tak mengerti perubahan itu. Ia sudah gila.

—–

1 jam dihabiskan secara percuma oleh Jongdae di dapur apartemennya. Memasak segalam macam makanan yang mungkin, ia sendiri belum tentu bisa memakannya. Ia hanya memasak semua makanan yang disukai olehnya, kekasihnya.

Jongdae lalu menyusun segala macam makanan yang telah ia masak dengan sempurna itu diatas meja makan berlapis selembar taplak meja berwarna putih bersih. Ia menyusunnya dengan sangat rapi lalu menaruh 2 piring dengan sepasang garpu dan sendok di masing – masing sisi meja makan itu. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di salah satu sisi meja makan tersebut. Wajahnya tersenyum penuh seri, menatap pada kursi kosong yang ada di hadapannya.

“Makanlah, jangan malu”, ujar Jongdae dengan seulas senyum simpul.

Tak ada sahutan. Tak ada balasan atas tindakan yang dilakukan oleh Jongdae. Seisi ruangan bergeming, menampikkan suara berat yang bergema di dinding ruangan. Jongdae masih tetap menatap intens kursi kayu yang ada di hadapannya, matanya menatap lekat pada sosok yang sudah tak ada lagi ada di sana. Menatap sesosok bayangan semu yang bahkan tak pernah memasuki ruangan ini sedari tadi. Jongdae tetap mematung, menatap nanar kursi yang biasanya dipenuhi oleh aroma lavender milik perempuan itu, kekasihnya.

Setitik air mata terlihat menggantung dari sudut mata Jongdae. Miris, bagaimana mungkin seorang Jongdae yang selalu bersikap dewasa dan tegar akan terlihat sangat menyedihkan seperti ini – memelas penuh perasaan pada kursi di hadapannya. Tak pernah ada seorang pun yang akan membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi. Tak pernah.

Tangan Jongdae mengepal. Emosinya memburu. Untaian aliran air mata terus membanjiri matanya, semakin deras dan semakin hebat. Dia mulai menggila.

“ARGHHH!!!”, teriak Jongdae penuh emosi.

Tangannya mulai beraksi. Membanting dan melempar penuh emosi seluruh benda yang ada di hadapannya ke sembarang arah.

Trang!!

Sebuah piring meluncur dengan pasti, menuju lantai marmer yang dingin di ruang itu. Jongdae menggila. Ia melempar, menghambur dan membanting setiap benda yang ada di hadapannya. Piring, gelas, mangkuk dan lainnya. Ia lampiaskan semua emosi yang ada bergejolak di dalam tubuhnya saat ini. Ia keluarkan semuanya, tanpa ada batasan.

“ARGHHHHH!!!!”, erang Jongdae di sela isak tangisnya yang mulai terlihat memburuk.

Tak cukup sampai di situ, dia mulai menendang meja, kursi dan beberapa gelas yang terletak di lantai yang tak jauh darinya. Emosinya memuncak. Dia mengamuk dengan sehebat – hebatnya. Tak ada lagi yang ingin ia pendam di dalam hatinya sendiri. Ia ingin melepaskan semua beban, perih, luka, dendam, dan air mata yang selama ini telah ia tumpuk dalam – dalam jauh di dasar hatinya. Air matanya semakin deras menjuntai dari kedua pelupuk matanya, membanjiri wajahnya dan meninggalkan jejak air mata yang semakin lama – semakin deras. Tangannya tak pernah berhenti beraksi. Ia meraih sebuah foto yang terbingkai rapi di atas meja kecil. Foto manis milik ia dan kekasihny. Ia tatap nanar foto itu sejenak. Lalu ia lemparkan dengan sekuat tenaga ke dinding di hdapannya.

“ARGHHHHHH~~!!!!!!”.

Jongdae beranjak menuju sebuah cermin besar yang terletak tepat di tengah – tengah kamar apartemennya. Dia melihat refleksi dirinya yang terpantul sangat jelas pada cermin itu. Sangat jelas. Sesosok laki – laki yang cukup berantakan. Tubuhnya yang kurus nan pucat. Wajah yang sayu. Jangan lupakan sederet bekas luka yang juga menghiasi sekujur tubuhnya. Mulai dari bekas goresan silet di pergelangan tangan, kulit wajahnya, tangan sampai dadanya. Rambut blondnya yang urakan menyempurnakan kondisi Jongdae yang sangat berantakan saat ini.

Jongdae menatap nanar siluetnya pada cermin itu.

“Siapa kamu? Kau bukan aku kan?”, Jongdae bermonolog pada dirinya sendiri.

“Kim Jongdae yang ku tau bukan lelaki menyedihkan sepertimu. Kamu siapa, huh? Kembalikan Jongdae yang dulu, aku tak ingin terus seperti ini”, suara Jongdae meninggi diiringi aliran airmata yang semakin deras.

Tak ada jawaban pasti yang dikeluarkan oleh sosok di dalam cermin itu. Sosok itu hanya menatap Jongdae dalam diam.

Tangan Jongdae mengepal. Dadanya berdenyut. Ada sakit dan pedih di dalam sana. Mengiris – iris dan bermain pada permukaan hatinya. Kepalanya semakin terasa panas. Ada emosi yang ingin ia muntahkan saat ini. Emosi tanpa sebab dan tanpa tujuan. Hanya sebuah ego yang terlalu tinggi.

Prang!!

Jongdae meninju cermin di hadapannya dengan sekuat tenaga. Sosoknya yang menyedihkan pada cermin seketika menghilang bersama pecahan kaca yang terpental ke tubuhnya sendiri dan juga lantai di sekelilingnya. Aliran darah mengalir dari kulit jari tangannya. Menetes dengan pelan. Mengganti air mata yang kini sudah mengering di wajah Jongdae.

“Urg!”.

Jongdae mengerang. Tangan kanannya memegang dengan erat dadanya. Sakit. Ada sakit yang samar – samar terasa dan semakin lama semakin nyata. Nafasnya memburu. Ia menggigit bibir bawahnya, guna mengurangi rasa sakit yang saat ini ia rasakan. Tangan kirinya mulai sibuk, mencari botol obat di dekat tempatnya berada. Ia mengeluarkan empat, tidak 5 butir obat penenang sekaligus dan meminumnya. Ia berharap semuanya sirna. Walaupun sekali lagi, ia tau. Ini semua terasa sia – sia.

—–

Keadaan kamar apartemen itu sudah tak berbentuk lagi. Banyak pecahan kaca yang berhambur di setiap lantai. Kursi yang sudah tak lagi utuh tergeletak di sudut kamar. Dindingnya kini tak lagi berwarna putih bersih. Kotor terkena noda kotoran dari segala macam makanan yang telah di lempar tak tentu arah oleh pemilik kamar, Jongdae. Sedangkan sang pemilik kamar sendiri tengah meringkuk di pojok kanan kamar dengan tubuh menggigil. Giginya bergemeletuk. Wajahnya memucat dengan bekas air mata yang mengering di bawah kedua matanya. Tubuhnya menggigil. Bibir pucatnya sedari tadi terus mengerang, mengeluarkan erangan kesakitan.

Dalam keadaan yang menyedihkan itu, Jongdae memeluk erat sebuah toples kaca yang berisi sebuah benda. Ia terus memeluknya erat, mengabaikan rasa sakit yang kini ia rasakan. Toples kaca yang berisi air dan sebuah jantung. Jantung manusia yang masih segar. Toples berisi jantung itu terus ia dekap, seolah – olah itu adalah raga dari kekasihnya yang sudah tiada.

“ARGH!!”

Jongdae berteriak kesakitan. Jantungnya kembali berdenyut dengan sangat hebat di dalam sana. Menghantarkan kesakitan dan luka yang semakin terasa nyata untuk Jongdae. Ia terus meringis. Toples yang ia peluk sedari tadi pun lolos dan berbentur dengan lantai apartemen. Toples itu pecah seketika. Mengeluarkan isinya yang masih mengeluarkan aroma anyir, jantung kekasihnya. Ia mengambil jantung itu dan mengenggamnya erat. Jantung yang ia curi sesaat setelah ia tau bahwa kekasihnya sudah tiada. Ia tak mau menghapus sosok kekasihnya dari dalam hidupnya. Dan dengan jantung itu ia berharap, sekalipun kekasihnya telah tiada dia akan tetap bisa merasakan denyut keberadaannya. Walaupun ia sendiri tau, itu semua sia – sia.

Kesadaran Jongdae mulai menipis. Nafasnya yang sedari tadi tersengal – sengal mulai terasa ringan. Sakit di jantungnya perlahan mulai hilang. Semuanya terasa seperti biasa, seiring dengan mata Jongdae yang menutup perlahan diiringi sebuah tangisan. Tangannya terus menggenggam erat jantung itu. Dan akhirnya, sosok Jongdae benar – benar hilang. Sosoknya terduduk tak bernyawa di sudut kamar.

Seiring kematian Jongdae, semilir angin perlahan masuk dan berhembus dengan pelan di dalam kamar itu. Menghadirkan sensasi dingin yang menyeramkan. Dan perlahan jantung yang di genggam oleh tangan Jongdae mulai bergerak. Ia… berdetak.

 

 

­-END-

Dimohon dengan sangat untuk memberikan sebuah saran atau kritik mengenai ficlet ini karena akan sangat membantu untuk diri author pribadi. Silent reader? Semoga *ini disensor*. Amin.

 

Anw, thank you ^^

81 thoughts on “Painkiller

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s