The Raspberry (Chapter 2)

The Raspberry (chapter 2: unexpected)

PhotoGrid_1391954298059 (1)

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan (gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                     Zelo (BAP)

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-15

 

Author note: enjoy it.. 

 

 

Berkali-kali Sehun berdecak kesal, hari pertamanya di sekolah dengan suasana dan orang asing benar-benar membuatnya mual. Oh, jangan anggap dirinya lemah, tapi salahkan saja orangtuanya yang sedari kecil hanya memberikan homescholling padanya, bukannya bersekolah di sekolah umum seperti orang lain.

“hei, Sehun!” suara berat seorang namja yang duduk di belakangnya menginterupsinya dari pikirannya. Sehun dengan malas—namun berusaha untuk tidak memperlihatkannya—berbalik menatap sang pemilik suara. Namanya Park Chanyeol, tadi baru saja ia mengajak Sehun berkenalan setelah ia duduk di bangkunya setelah sang guru memerintahkanya duduk pada bangku kosong di pojok sebelah kiri.

“hmm?”

“apa benar kau dari London?” tanyanya dengan berbisik, berusaha memelankan suaranya, tapi percuma karena suaranya memang terdengar sangat berat dengan alamiah.

Sehun memutar bola matanya kesal, “tidak, aku lahir di Korea, tapi sepanjang hidupku aku menghabiskannya di London!” ia melihat Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya.

“apa kau tidak mengalami jetlag?” seorang lagi yang duduk di samping Chanyeol, seorang namja dengan mata bulatnya yang mengingatkan Sehun pada burung hantu yang selalu ia lihat di acara National Geogrhapic Channel.

“kurasa ya, tapi tidak begitu buruk!” sahut Sehun dan tersenyum tipis padanya. “ngomong-ngomong..” Sehun melirik pada bangku kosong disampingnya, “siapa yang duduk bersamaku di sini?” tanyanya penasaran, namun terdengar lebih kepada basa-basi.

“ah, dia? Namanya Kai, entah ia ke mana sebentar lagi mungkin ia akan muncul!” jawab Kyungsoo, tangannya membalikkan lembaran buku paketnya. Sehun mengangguk pelan dan memilih berhenti berbicara ketika matanya menangkap sang guru yang tengah menulis di papan tulis beberapa deret kalimat yag tidak asing lagi baginya, bahasa sehari-harinya selama di London.

Matanya beralih pada sosok yang baru saja memasuki ruangan, seoarng namja dengan perawakan nyaris sama dengan dirinya namun lebih berisi di banding dengannya serta kulitnya yang terlihat kontras dengan miliknya. Ia terus mengamatinya dan perlahan tersenyum kecil saat ia melihatnya sedang tersenyum dengan sangat menawannya pada sang guru yang sedang menatapnya garang, Sehun berpikir apakan ia di persilahkan masuk atau tidak dan memilih tidak. Rahangnya nayaris jatuh saat sang guru mengizinkannya masuk, orang itu berkali-kali membungkuk dan mengucapkan kata terimakasih, namun menurut Sehun terlalu banyak nada membantah di sana. Ia melirik sekitarnya, beberapa tamak sebuk pad bukunya dan tidak begitu memperhatikan adegan—yang menurut Sehun itu konyol—yang sepertinya sudah terbisa menyaksikannya.

“bagaimana bisa..”

“Kai itu  cucu dari pemilik yayasan sekolah ini” suara berat Chanyeol memotong pertanyaannya. Dan Sehun benar-benar yakin rahangnya jatuh sekarang.

Matanya terus menatap Kai yang tengah berjalan ke arahnya menatapnya dengan tatapan heran.

“hei, Kai!” sapa Chanyeol dna mendapat serngai darinya.

“Kai, ini Sehun, ia baru pindah kemari!” Kyungsoo memperkenalkan Sehun padanya. Sehun melihat Kai tersenyum padanya ia hanya membalasnya dengan senyum tipis. Kai berdehem pelan, namun membuat Sehun mengerti sehingga menggeser sedikit tubuhnya memberi ruang yang cukup bagi Kai untuk lewat duduk di bangkunya.

“Kai ini Sehun, Sehun ini Kai” kali ini suara berat Chanyeol yang terdengar membuat keduanya mengulurkan tangan masing-masing.

“kalian yang duduk di pojok sana, berenti berbicara dan konsentrasilah pada pelajaran!” teguran sang guru berhasil membuat mereka bungkam. Tapi tidak bagi Sehun, ia menyalang menatap sekelilingnya dengan tajam, pelajaran English, ia terlalu tidak peduli, toh itu sudah menjadi makanan sehari-harinya selama ia di London.

 

***

 

Suasana kantin cukup ramai saat ini, seluruh siswa dari tahun pertama hingga tahun ketiga berkumpul di sana untuk menikmati makan siang mereka, beberapa duduk saling bergerombol sesuai kelompok masing-masing. Dua orang yeoja sedang mengantri mengambil makan siangnya. Yeoja yang satu sibuk mengamati sekelilingnya dengan perasaan takjub sementara yang satu lagi sibuk mengoceh tanpa peduli pada sekitarnya.

“hei Sohee, kau lama di London kan? Apa kau akan baik-baik saja dengan makanan Korea?” tanya Baekhyun—gadis yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh.

“hmm. Momku selalu mencekoki kami dengan makanan Korea saat kami masih di London!” sahut yeoja dengan rambut berwarna milk tea  chocolate itu. Ketika tiba giliran antrian mereka, Sohee menatap pada nampan berisi makan siangnya, tidak buruk! Batinnya.

“ayo!” ajak Baekhyun sembari mengamit lengan Sohee yang kesusahan memegang nampan makanannya.

Keduanya duduk pada kursi yang memang di khususkan untuk dua orang saja, duduk saling berdampingan dan menikmati makan siang masing-masing tanpa suara.

Sohee mengalihkan pandanganya dari nampan makannya yang baru setengah ia nikmati menatap sekelilingnya, rasanya sedikit aneh ketika ia makan di tempat ramai seperti ini, ia merasa seolah semua mata menatap padanya tapi kenyataannya tidak, ia sedikit risih karenanya, ia kemudian menglihkan pandangannya pada Baekhyun yang sudah menghabiskan makannya dan meletakkan sumpitnya di samping nampan. Ia tampak terkejut dan senang mengenal Baekhyun, Baekhyun memiliki banyak kejutan, Baekhyun yang terlihat lemah itu namun sangat mengusai hipkido olahraga beladiri dan menurutnya sangat cerewat serta yangpaling  membuatnya senang ialah ia dan Baekhyun sama-sama menyukai buah strawberry dan sama-sama mengoleksi jam tangan casio baby-G.

Entah megapa suasana hening ketika empat orang namja memasuki area kantin membuat seluruh perhatian beralih pada mereka tak terkeculi Sohee yang nyaris menumpahkan minuman di tangannya saat matanya menatap seorang dari mereka, sosok yang begitu ia kenali. Seorang dari mereka dengan tubuh paling tinggi di antara mereka menatap ke arahnya dengan senyum yang mengerikan menurut Sohee dan melambai padanya, tidak tepatnya pada seorang yang duduk di sampingnya, Baekhyun yang juga melambai dengan senyum manis terpatri di bibirnya.

“kau lihat dia? Dia Chanyeol” ucap Baekhyun kemudian meneguk minumannya. “kurasa aku harus memberitahukanmu beberapa murid yang paling berpengaruh di sini, gunanya yah agar kau tau saja” tambahnya lalu menatap Sohee yang mengerutkan alisnya tidak mengerti, murid berpengaruh? Ia sama sekali tidak mengerti.

“kau lihat yang di sana?” Tanya Baekhyun sembari menunjuk pada meja yang berada di salah satu sudut kantin, Sohee mengangguk saat matanya melihat dua orang namja dengan perawakan yang lumayan tinggi tengah menikmati makan siang mereka, yang satu dengan rambut pirangnya yang sangat mencolok mata dan yang satu lagi juga namja dengan wajah yang menurutnya seperti kucing? Dengan rambut berwarna jet black.

“kau lihatkan? Ulang Baekhyun, Sohee mengangguk. “yang pirang itu, namanya Kris, dia adalah presiden siswa di sekolah ini dan yang duduk di sampingnya adalah Tao, tangan kanan Kris” Sohee kembali menganggukkan kepalanya.

“keempat orang yang baru saja masuk tadi itu, yang bersama Chanyeol itu Kyungsoo” jelas Baekhyun. Sohee memperhatikan namja dengan mata bulat menggemaskan tersebut. “dia sudah punya pacar, namanya Hyejin, anak kelas sebelah tapi aku akan memperkenalkanmu dengannya, dia juga teman baikku” Baekhyun menambahkan.

“mmm, lalu yang membelakangi kita itu, yang kulitnya sedikit cokelat itu, Kai, ia cucu dari pemilik sekolah ini. Sebenarnya masih ada satu lagi, Chen tapi entah dia ke mana. Dan yang satu itu…” Baekhyun menajamkan menatanya menatap pungung namja dengan rambut pirang platina tersebut. “molla, mungkin ia murid baru” bingo tebakan tepat Baekhyun, Sohee membatin.

Sohee mendengarkan dengan seksama, sesekali tersenyum tipis pada teman barunya tersebut,. Dalam hati ia berjanji akan menceritakan tentangnnya pada momnya atau mungkin memperkenalkannya?

 

***

 

“hei, membaca apa?” Tanya Sehun pada Kyungsoo dan Chanyeol yang sibuk membenamkan wajah mereka pada sebuah buku. Kyungsoo dengan cepat mengangkat buku tersebut memperlihatkan sampulnya pada Sehun dan mendapat anggukan dari Sehun tanda ia mengerti, sebuah majalah otomotif.

“kalian menyukai itu?” tanyanya lagi. Dan kembali mendapat anggukan dari keduanya.

“terutama dia” sahut Chanyeol dagunya menunjuk pada Kai yang tengah menikmati music dari earphonenya.

“eh, berapa usiamu Sehun-ahh?” kali ini Kyungsoo yang bertanya dengan memiringkan kepalanya menatap Sehun.

“delapan belas tahun, kurasa” sahut Sehun

“usia yang legal untuk mengendarai mobil kau bisa?” Tanya Chanyeol antusias. Sehun mengangguk, pikirannya melayang pada Mclarren kuning hitamnya yang terparkir manis di pekarang sekolah sedang menunggunya.

Setelah hening beberapa saat dengan kesibukan masing-masing, Sehun angkat bicara hal tidak begitu penting.

“kurasa, aku butuh ke toilet!” seru Sehun dengan seringai lebarnya dan ketiga pasang mata menatapnya dengan tatapan malas.

 

***

 

Sehun berjalan dengan sedikit bersenandung ketika ia keluar dari toilet, tangannya mengibas-ibasan seragamnya yang tampak kusut, bell tanda istirahat berakhir telah berbunyi sedari tadi, tetapi ia memilih untuk menghabiskan beberapa sisa waktunya di toilet untuk sekedar memandangi wajahnya pada cermin besar di atas wastafel bukan tanpa alasan ia melakukannya, jika ia kembali ke kelas sebelum bell berbunyi murid pasti masih akan berdiri di luar kelas dan ia sedikit risih jika dirinya dipandangi dengan seksama, seperti tadi ketika ia keluar dari kelasnya menuju toilet. Ia berbelok ke kiri dan memaki kecil saat jalan di hadapannya bercabang menjadi dua dan memutuskan untuk memilih jalur sebelah kanan.

Ia melangkah perlahan melewati ruang-ruang kelas yang sepi, sesekali matanya melirik pada pintu-pintu kelas yanag tidak tertutup rapat masih dengan bersenandung ria ia menatap jam di pergelangan tangannya dan saat ia akan berbelok menuju kelasnya, telinganya samar-samar mendengar alunan music lembut karya sang Maestro Beethoven, Fur Elise. Mengacuhkan kelasnya yang mungkin telah dimulai sedari tadi, ia perlahan berjalan mendekati sumber suara. Entah apa yang membawanya, tapi sepertinya hatinyalah yang membawanya melakukannya, Fur Elise, music lembut itu yang selalu diputarkan ibunya setiap ia akan tidur dulu, lagu pertama yang dikuasai oleh Sohee ketika belajar bermain piano. Langkahnya berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat, ia yakin dari sinilah asal alunan musik itu karena alunan lembut music itu semakin terdengar jelas olehnya. Perlahan ia mengulurkan lehernya menatap ke dalam ruangan yang luas dan lengang, di setiap dindingnya berdiri cermin yang memperlihatkan segala sisi dari ruangan itu. Dan perhatiannya tertuju pada sosok yang tengah menari dengan anggun di hadapannya seirama denagn music lembut yang mengalun melalui speaker ukuran sedang yang menggantung pada langit-langit. Sehun tertegun menatapnya, rambut pirang sebahunya ia biarkan terurai, rompi seragamnya ia lepas dan hanya mengenakan kemeja tipis dan dasinya yang sengaja di longgarkan. Tidak lama hingga tatapan mereka bertemu, yeoja itu menatap Sehun dari balik cermin kemudian membulatkan matanya ketika mengetahui seseorang mengintipnya, dengan cepat ia mengambil rompi seragamnya kemudian mengenakannya. Suasana canggung tercipta, sampai akhirnya Sehun memutuskan untuk menggumamkan kata maaf kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.

 

 

***

 

 

Di salah satu ruangan kantor yang cukup besar seorang namja usia pertengahan duapuluh tengah sibuk membaca berkas yang disodorkan sekretaris padanya tadi, alisnya beberapa kali berkerut ketika menemukan beberapa hal yang tidak sesuai. Ia mengulurkan tangannya menjangkau ponselnya yang tergeletak di meja ketika benda itu bergetar.

“yeoboseyo?” sapanya.

Setelah pembicaraan singkat dengan sang penelpon namja itu dengan cepat bangkit dari duduknya, menyambar jasnya dan berjalan meninggalkan kursi kebesarannya menuju satu-satunya akses keluar dari ruangan tersebut.

Dengan tergesa ia berjalan keluar, mengacuhkan sekretarisnya yang menatap heran padanya.

“Joonmyun!” seseorang memanggilnya membuatnya berhenti melangkah sejenak dan berbalik mendapati seorang yeoja yang menjabat sebagai wakil direktur di perusahaannya tengah berjalan kearahnya.

“ya Yixing?” sahutnya lembut.

“aku perlu bicara padamu sedikit mengenai..”

“tahan dulu, ada urusan penting yang..”

“tapi ini juga penting Kim Joonmyun!” yeoja itu memotong perkataannya dengan kesal. “apalagi yang lebih penting dari ini?” tambahnya dengan berjalan mendekat padanya.

“adikku, ia..” Yixing menghela nafasnya, ia mengerti jika menyangkut masalah keluarganya, Joonmyun akan  mengesampingkan segala hal, baginya tidak ada hal yang lebih penting dibandingkan keluarganya, alasan mengapa ia begitu mencintai namja itu.

Joonmyun mendekat padanya lalu menunduk mengecup keningnya sekilas. “adikku membutuhkan aku harus pergi” ucapnya lembut dan menggenggam tangan Yixing, meremasnya lembut.

Yixing mengangguk “ya, kurasa kita bisa menundanya dulu” sahutnya dan kemudian tersenyum padanya menampilkan sebuah cerukan di pipinya yang membuatnya terlihat semakin manis.

“Hyurin, tunda segala jadwal hari ini” perintah Joonmyun pada sekretarisnya yang dengan sigap mengangguk setelah sebelumnya terbengong menyaksikan drama romantic di hadapannya.

Yixing terdiam di tempatnya menyaksikan punggung kekasihnya yang sekaligus presdir di tempatnya bekerja itu menjauh dan melambai padanya sebelum menghilang di balik pintu lift.

“kalian benar-benar tercipta untuk saling melengkapi” Yixing hanya tersenyum menanggapi ucapan sang sekretaris kemudian sedikit membungkuk padanya lalu berlalu menuju ruangannya.

 

 

***

 

 

Suho memfokuskan seluruh pandangannya pada sang adik yang tengah berbaring di ranjang uks sekolahnya, di hidungnya terselip kapas dengan darah yang sedikit merembes. Tadi setelah mendapat telepon dari pihak sekolah bahwa Zico—adiknya—terluka dengan tergesa ia meninggalkan kantornya sepanjang perjalanan ia merutuki dirinya jika saja benar-benar terjadi hal yang menyakiti adiknya dan setelah ia berbincang pada dokter yang menjaga uks barulah ia sedikit bernafas lega.  Ia menghela nafasya berat sebelum melangkah mendekat pada Zico yang berbincang dengan Zelo yang duduk di sisi ranjangnya yang lain.

“apa kata dokternya?” Tanya Zelo saat menyadari kehadiran hyungnya.

“tidak ada, dia hanya bilang tubuhmu hanya burusaha menyesuaikan dengan kondisi di Seoul” jawab Suho. Sebenarnya hampir saja ia melupakan fakta walaupun Zico yang sedikit lebih tua dari Zelo, tapi dialah yang berdaya tahan tubuh lemah, sehingga ia harus lebih mengawasinya.

“sebenarnya, apa yang terjadi?” Tanya Suho setelah sekian lama diam.

Suara lain menyahut “kami tidak tau, kami sedang bermain basket, lalu aku mengoper bola padanya, ia berhasil menangkapnya tapi tiba-tiba hidungnya berdarah” Suho memiringkan kepalanya menatap pada dua orang yang asing baginya berada di ruang ini bersamanya, gilanya ia baru menyadarinya bahwa ada orang lain selain mereka.

“ah, hyung, dia Taehyung dan Daehyun” kali ini Zico angkat bicara dengan seringai lebar pada bibirnya, ia tampak lucu dengan hidungnya yang disumpal kapas, Suho bahkan nyaris tergelak.

“teman kalian?” Tanya Suho.

“tentu saja! Tadi kami sudah makan bersama dan bermain basket besama!” sahut suara lain  dan membuat Suho menatapnya.

“aku Taehyung” “dan aku Daehyun!” sahut mereka bergantian.

“kami Byun bersaudara!” tambah mereka bersamaan dan membuat Suho tersenyum lebar.

“kalau begitu kami adalah Oh bersaudara!” Zico dan Zelo mengikuti tingkah temannya itu dan Suho semakin melebarkan senyumnya.

“kalian..”

“ne, hyung mereka kembar sama sepeti kami” Zelo memotong perkataan Suho dan tersenym lebar. Suho mengangguk mengerti, mengerti akan perasaan kedua adiknya yang ia rasa seperti baru saja menemukan harta karun saat tau bahwa ternyata ada yang seperti mereka di tempat lain.

Suho melirik jam di pergelangan tangannya sekilas “tidak ada pelajaran lagi kan? Mau pulang?” tawarnya dan mendapat anggukan ragu dari kedua adiknya, sekilas bahkan ia melihat ada sorot kekecewan di mata adiknya.

“Taehyung dan Daehyun kalian mau ikut?”

“tentu saja” jawab keduanya denga cepat.

“tapi aku harus menelpon noonaku dulu agar ia memberitahukanya pada eomma kami!” tambah Daehyun. Suho mengerti dan mengulurkan ponselnya pada Daehyun dan mendapat sambutan yang berlebihan dari keduanya.

 

***

 

“jadi, murid yang mengendarai Mclarren kuning itu, kau?” Chen—yang baru saja bergabung—bertanya dengan memiringkan kepalanya menatap Sehun yang sedang membaca majalah otomotif milik Kyungsoo.

“hei, aku bertanya padamu!” seru Chen dan menarik majalah yang di baca Sehun.

“yak Kim Jongdae! Kau bahkan belum berkenalan dengannya!” protes Kyungsoo yang jengah melihat tingkah serempangan temannya.

“upss, aku Kim Jongdae, by the way! Tapi aku lebih suka dipanggil Chen” ucap Chen dan mengulurkan tangannya di hadapn Sehun yang menatapnya tanpa ekspresi.

Sehun menatap lama tangan itu, sebelum memilih menyambutnya, “Sehun” ucapnya.

“jadi, benar kau menggunkan Mclareen kuning itu?” Chen mengulang pertanyaannya. Dan Sehun mengangguk.

“bagaimana bisa?” Chen masih tidak percaya, Sehun mengendikkan bahunya kemudian merogoh saku celananya dan melemparkan kunci mobilnya pada Chen yang dengan sigap menangkapnya, binar kagum tergambar jelas di matanya.

“hei, kau lihat? Ternyata memang dia” seru Chen semangat, tangannya yang bebas menepuk pundak Kai yang masih sibuk dengan music di earhonenya, Jongin hanya menatapnya malas.

“hei, Sehun-ahh kau sudah pernah mencobanya dalam balapan?” suara Chanyeol terdengar setelah cukup lama diam.

Sehun menggeleng “hyung baru memberinya padaku tadi pagi” sahut Sehun polos. Ketiganya melongo tidak percaya akan perkataan Sehun.

“kalau begitu, kau harus merayakannya! Kau tau maksudku!” seru Chanyeol dan menaik turunkan kedua alisnya. Ketiga temannnya tersenyum penuh arti padanya, sementara Sehun mengernyitkan keningnya tidak mengerti.

“aku tau track yang aman bagi pemula!” ujar Kyungsoo tiba-tiba.

“janga bilang..”

“tentu saja, aku akan meminta izin hyungku agar membukanya untuk kita!” potong Kyungsoo dan mendapat jempol dari ketiga temannya.

“kau lihatkan mobil berwarn putih yang terparkir di samping mobilmu?” Tanya Chanyeol tiba-tiba. Sehun mengangguk, ingatannya tidak begitu buruk untuk melupakan Skyline putih elegant yang terparkir di samping mobilnya yang tampak mencolok dengan lampu LED yang akan sangat mencolok lagi jika digunakan di malam hari.

“itu milikku, dan Genesis hitam yang terparkir di sampingnya lagi itu milik Kyungsoo, dan yang di sampingnya lagi, Audi R10 itu milik Kai” jelas Chanyeol dan mendapat cengiran lebar dari Kyungsoo dan Kai.

Keempatnya kembali sibuk membicarakn otomotif dan Sehun memilih memandang sekitar ruang kelasnya, tiba-tiba terbersit tentang yeoja yang tadi dilihatnya sedang menari, ia menoleh pada ketiga temannya yang masih sibuk berbicara berniat untuk bertanya tapi sbelum ia membuka mulutnya guru mereka untuk pelajaran selanjutnya telah memasuki ruangan dengan senyuman lelah di wajahnya.

 

 

***

 

 

Sehun berdiri dengan bersedekap di ambang pintu ruang kelas Sohee, matanya tak lepas dari sosok Sohee yang tengah mengemasi barangnya yang tergeletak di mejanya. Beberapa tatapan tajam yang ditujukan padanya tidak dihiraukannya dan lebih memilih terus focus pada Sohee yang kini tengah berjalan ke arahnya.

“bagaimana harimu?” tanya Sehun ketika mereka mulai berjalan meninggalkan ruang kelas.

“yeah, tidak buruk” jawab Sohee. tangannya dengan bebas melingkar pada lengan Sehun, berpegangan kuat. Beberapa murid yang berpapasan dengan mereka menatap meraka dengan tatapan bertanya. Keduanya memilih mengacuhkan tatapan itu dan terus berjalan menuju parkiran.

“kulihat kau sudah memiliki teman” ucap Sohee ketika ia telah duduk pada kursi mobil dan memasang sabuk pengamannya.

Sehun yang tengah menarik sabuk pengamannya, berhenti sejanak dan perlahan mengangguk. “kau?” tanyanya balik.

Sohee tersenyum “yah, namanya Baekhyun, terlalu banyak persamaan dari kami dan itu membuatku sangat senang” jawab Sohee senang. Sehun kembali tersenyum padanya sebelum menyalakan mesin mobilnya, sebelum benar-benar meninggalkan parkiran matanya melirik deratan mobil mewah di samping mobilnya, bibirnya perlahan tersenyum penuh makna.

Sesampainya di rumah, Sehun dan Sohee tanpa mengganti seragam mereka berhambur naik menuju kamar kedua adiknya setelah momnya memberitahu bahwa Zico mengalami sedikit kecelakaan. Tanpa sadar Sohee mendesa pelan dan mengusap dadanya ketika matanya melihat Zico yang sibuk memencet joy sticknya. Sehun bahka merilekskan pundaknya yang tegang ketika mendengar berita itu. Keduanya perlahan berjalan mendekati Zico yang terlihat sangat baik-baik saja.

“apa yang terjadi?” Tanya Sehun datar. Zico menoleh sedikit kaget pada keduanya.

“tidak ada, hanya kecelakann kecil” sahut Zico cuek dan kembali sibuk dengan joysticknya.

“sekecil apapun itu tetap saja sebuah kecelakaan. Apa ada yang luka?” Tanya Sohee sedikit dingin.

“dia hanya mimisan hyung, noona! Dokter bilang tubuhnya hanya berusaha menyesuaikan dengan suasana di Seoul” kali ini Zelo yang bersuara. Keduanya menghela nafas pelan. Dan berbalik menatap Zelo setelah mendengar kekehan yang tampak asing bagi keduanya, keduanya tertegun mendapati dua orang namja seumuran adiknya tengah tersenyum lebar pada mereka.

“ah, hyung noona, dia Taehyun dan Daehyun!” seru Zelo seolah mengerti tatapan kedua kakanya yang dihujamkan pada temannya itu.

“Taehyung? Daehyun?” Sehun mengulangi menyebutkan nama itu dan mendapat aggukan dari keduanya. “oh,” gumam Sehun dan mengangguk.

“dia Daehyun, dan dia Taehyung!” keduanya memperkenalkan satu sama lain. Sohee menatap mereka dalam, mencoba mencerna beberapa hal di kepalanya, Taehyung Daehyun, entah mengapa ia merasa familiar dengan garis wajah itu dan mata yang menghilang ketika mereka tersenyum. Mengingatkannya pada seorang “Baekhyun? Byun Baekhyun?” gumam Sohee refleks, semua mata menatap padanya.

“Byun Baekhyun? Heii noona, dari mana kau mengenal noona kami?” Tanya Taehyun dan Daehyun bersamaan. Sohee tersenyum penuh arti, dunia memang sempit, batinnya

“wahhh, dunia memang sempit yah!” seru keduanya kemudian bertos ria. Sohee hanya tersenyum menanggapinya

Taehyung dan Daehyun pulang ketika hari menjelang malam. Zico dan Zelo mati-matian meminta mereka tinggal untuk makan malam, namun mereka menolak dengan halus, alasannya eomma mereka sudah mengomel. Momnya hanya tersenyum melihat tingkah anak dan temannya itu setelah berpamitan dengan sedikit heboh, mereka masuk ke dalam mobil jemputan mereka dan meninggalkan rumah Sohee masih dengan heboh.

“hyuuung, cepatlah pulang aku lapar!” teriak Sehun pada Suho di ponselnya. Setelah momnya mengultimatum bahwa mereka tidak akan makan malam jika kakak tertua mereka itu belum pulang.

 

***

 

Berkali-kali Sohee melirik pada ponsel di tangannya, sudah hampir sepuluh menit ia menunggu Baekhyun di parkiran sekolah dan bel tanda pelajaran akan di mulai sisa lima menit lagi akan berbunyi. Ia berdecak kesal, tadi Baekhyun menghubunginya agar menunggu dirinya di sekolah, sementara ia—Baekhyun—masih dalam perjalanan menuju ke sekolah saat itu mobil Sehun yang dinaiki Sohee sudah berbelok masuk ke halaman sekolah. Sohee bersandar pada mobil Sehun, memejamkan matanya sejenak setelah memutuskan akan menunggu beberapa menit lagi. Sebuah deruman mobil dari samping mobil Sehun terdengar membuatnya menegakkan tubuhnya untuk sekedar melongokkan kepala melihat apakah itu Baekhyun atau bukan, ia lalu mendesah ketika mendapati sebuah Audi R10 berusaha parkir di samping Mclarren Sehun.

Seorang namja perlahan membuka pintu mobil tersebut, seragam yang dikenakannya sedikit berantakan, kancing teratas kemejanya tidak terkait, ujung bajunya menyembul keluar dari dalam celana Kain yang ia kenakannya, rambutnya yang berwarn hitam itu jatuh menutupi dahinya tampak berantakan namun begitu memesona, Sohee meliriknya sekilas namun tidak memfokuskan seluruh perhatiannya pada namja itu.

Kai—namja itu—berjalan perlahan menjauhi mobinya, ketika ia merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Oh tidak, jangan di sini! Kumohon! Ia membatin pelan. Tangannya terangkat memegang kepalanya dan meremas rambutnya kuat. Ia memejamkan matanya, berusaha mengenyahkan sakit itu di kepalanya. Sampai akhirnya ia frustasi dan mengerang tertahan.

“aaarrrggggghhh!” tubuhnya ambruk berjongkok dilantai. Dengan kedua tangan yang masih mencengkram rambutnya. Rahangnya terkatup kuat, menandakan betapa ia bersikeras menahan rasa sakit yang timbul di kepalanya itu.

“hei, are you okay?” sebuah suara lembut mengalun di teling Kai, ia merasa seseorang berjongkok di hadapannya dan memperhatikannya dengan seksama. Kai menggeleng pelan dengan susah payah iya membuka sedikit matanya menatap orang itu, ia terkejut, tapi rasa sakit di kepalanya mendominasi segalanya.

“tapi kau terlihat butuh bantuan! Tunggu di sini!” serunya. Saat akan bangkit berdiri, tangan Kai terulur mencengkram pergelangannya. Menahan agar tidak pergi. Kai tidak butuh bantuan, ia hanya membutuhkan sandaran. Perlahan orang itu kembali berjongkok di hadapan Kai dan menarik kepala Kai agar bersandar pada pundaknya, Kai tertegun sesaat, namun ketika rasa sakit itu kembali menyerangnya, ia membenamkan kepalanya pada pundak mungil itu. Dan dengan ragu, tangan orang itu mengusap punggung Kai lembut menenangkannya.

“hei, anggap saja ini ucapan terima kasihku atas bantuanmu yang kemarin” samar Kai masih bisa mendengar perkataan orang itu.

Butuh waktu lima belas menit bagi Kai untuk menenangkan dirinya, hingga kahirnya ia merasa sanggup untuk mengangkat kepalanya. Ia tertegun ketika mendapat bola mata bening menatap khawatir.

“gomawo” ucap Kai pelan dan mendapat anggukan darinya. Jongin beralih menatap nametag orang tersebut. Oh Sohee? batinnya, entahlah tapi ia merasa sedikit familiar..

“kau yang menolongku kemarin untuk mencari ruangan 1D” sebuah memor terputar di kepalanya dan mengangguk tanda bahwa ia mengingat.

“kau sudah tidak apa? Aku pergi sekarang ne” seru Sohee dan berdiri dari tempatnya, merapikan sedikit seragamnya yang kusut kemudian berlalu dari hadapan Kai. Namun baru beberapa langkah ia berbalik “kau harus sarapan, sepertinya itu semua karena kau belum sarapan” ujarnya kemudian melanjutkan langkahnya. Jongin terpaku di tempatnya sejenak dan sebuah senyuman lembut tersirat di bibirnya.

 

 

***

 

 

Seorang yeoja berambut soft brown tengah meliukkan tubuhnya mengikuti irama lembut music klasik, tubuhnya mengikuti bergerak dengan anggun. Peluh membanjiri wajahnya, beberapa bahkan mengalir melewati pelipis dan dagunya. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan pantulan dirinya sendiri dari balik cermin besar dari ruang latihan tari.

Namun gerakannya berhenti seketika saat music yang menjadi acuannya terhenti mendadak, tepatnya seseorang sengaja mencabut ipod miliknya yang terhubung langsung dengan speaker.

“apa yang..” seruanya tatkala berhenti saat menyadari seorang namja tinggi berdiri tidak jauh di belakangnya, ekspresinya mendadak datar, tubuhnya menegang dan tanpa sadar ia mengatupkan rahangnya kuat.

“jadi kau membolos dan memilih berlatih tarian konyolmu itu di sini?” Tanya sang namja pirang dengan dinginnya. Perlahan ia berjalan mendekati yeoja itu yang membuang mukanya enggan menatap sang namja.

“bukan urusanmu!” sahutnya tidak kalah dingin.

“berhenti! Kau harus berhenti! Kau tidak akan pernah bisa..”

“begitulah dirimu, Kris! Begitulah kau! Kau selalu meragukanku!” teriak sang yeoja frustasi, dengan berani ia mengangkat wajahnya mendongak namja—Kris—itu.

“aku tidak meragukan kemampuanmu Xi Luhan! Aku tau kau mampu! Tapi tidak, kau tidak akan bisa!” Kris beteriak kasar padanya, tangannya mencengkram kuat kedua bahu mungil Luhan.

“kau tau aku bisa! Kau tau itu Kris” lirih Luhan pelan. Airmatanya mengumpul di pelupuknya matanya dan perlahan mengalir melewati pipinya membentuk aliran anak sungai.

Kris menggeleng pelan “kau tidak akan pernah bisa, sampi kapanpun” Kris bergumam pelan sebelum berbalik meninggalkan Luhan yang ambruk di lantai tidak mampu menahan tubuhnya, isakannya perlahan terdengar menjadi sebuah tangisan yang mengayat hati. Sementara Kris, hanya berjalan meninggalkan Luhan tanpa berbalik sedikitpun.

Sehun berdiri bersedekap di balik pintu ruangan tersebut, ia mendengar semuanya tapi ia sama sekali tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan kedua orang itu. Ia menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dalam hati ia menimbang apakah ia akan masuk atau tetap bediri di tempatnya, lagipula ini bukan urusannya. Sehun terlonjak kaget saat seorang namja keluar dari ruangan tersebut dengan cepat menghilang dari pandangan Sehun.

Sehun kembali menghela nafasnya sebelum memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut. Perlahan ia berjalan ke tengah ruangan, matanya terfokus pada seorang yeoja yang tengah berlutut di lantai dengan kepala menunduk, tangisannya terdengar tertahan dan menyakitan membuat Sehun berjongkok di hadapannya, perlahan kepala yeoja itu mendongak menatap Sehun kemudian matanya membulat menyadari kehadiran Sehun yang tersenyum tipis padanya.

“si..siapa kau?” Tanya Luhan. Sehun hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya di depan wajah Luhan.

“mau menari denganku? Kau pasti bisa..”

 

 

***

 

Lohaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, datang lagi saya.. gimana? Kurang greget yah?? Ahahahha. Gitulah pokoknya. Btw, saya bingung loh mau ngasih genre apa k ff ini, hahaha.

Thx udAH baca.XOXO

Iklan

18 pemikiran pada “The Raspberry (Chapter 2)

  1. Kai sakit apa Sebenernya??ya ampun ada taehyung juga 😀 btw sebenernya kurang suka luhan jadi yeoja lbh sukb dipasangin sama yg oc sh,but aku suka ffnya lanjutt baca yah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s