Love Guarantee (Chapter 10)

love guaranteee

Love Guarantee (Chapter 10)

Author: RahmTalks

Genre  : Romance, Hurt/Comfort

Length: Chapter // Rating : PG-15

Casts : Choi Nayoung (OC), Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Kyura (OC)

===

“Kalian pikir aku lelaki macam apa? Mana mungkin aku berani dan aku juga tak mau melakukan itu padanya.” Tandas Baekhyun. Ia menceritakan semuanya kepada kedua teman dekatnya.

“Lalu siapa? Kau tahu?” Tanya Kyura.

“Kekasihnya. Eh. Bukan aku tentunya karena aku hanya penyandang status, tidak sama dengan lelaki yang dicintainya. Sama spertiku, ia tertekan dengan perjodohan ini dan mungkin pada saat itu ia sedang mencapai titik frustasi yang amat tinggi hingga melakukan hal sebodoh ini.”

“Lalu perjodohan kalian?” 

Flashback

Sujin dan Baekhyun sedang berada di balkon kamar Baekhyun sementara orang tua mereka membicarakan pernikahan mereka di bawah.

Sejak kedatangannya, ia tak pernah mau menatap sosok Baekhyun dan hingga saat ini masih saja sama –hanya diam dan memandangi jalanan- . Entah sudah berapa kalimat yang Baekhyun lontarkan sejak setengah jam yang lalu –hanya berupa cerita- , namun tak satu katapun keluar dari bibir gadis itu untuk menanggapinya. Dua tahun mengenalnya, membuat Baekhyun sedikit banyak mengerti tentang gadis itu, dan saat ini ia terlihat seperti kehilangan semangat hidup.

Tiba-tiba Baekhyun menggenggam tangan Sujin, membuat si pemilik tangan merasa tersentak. Ia menatap tangannya –yang kini ada tangan orang lain di atasnya- sekilas dan memandang lagi ke jalanan.

“Jadi kau masih pada pendirianmu?” Tanya Baekhyun karena yang terakhir ia menanyakan satu hal.

Sujin tetap bungkam dan menarik tangannya dari genggaman Baekhyun. Ia dapat membaca dari gerak-geriknya bahwa saat ini Sujin sedang merasa tak nyaman berada di tempat itu. Bersamanya. Mungkin, ia masih merasa bersalah? Pikir Baekhyun.

Sejujurnya ia memang marah, bahkan sangat marah pada Sujin. Namun di depan gadis ini ia berusaha mengontrol emosinya dan mengatakan per kalimat dengan halus agar semua berjalan seperti yang ia rancang. Dirinya sangat paham, bukan keinginan Sujin –bahkan siapapun- berada dalam situasi ini. Situasi disaat kau harus memilih kebahagiaan dirimu, orang yang kau cintai, dan orang lain yang tak tahu apa-apa. Bukankah yang terakhir terdengar begitu aneh dan… Jahat? Kau tak bisa memilih dua atau tiga, hanya satu, dan mengorbankan yang lainnya. Atau kau bisa tidak memilih satupun dan menyesal seumur hidup.

“Kita sama-sama tahu, dua tahun ini terlewat begitu saja dengan sia-sia. Waktu yang… Kata orang-orang sangat berharga bagai uang, terbuang begitu saja bersama tawa dan senyum palsu kita. Tidakkah kau pikir ini sedikit… Melelahkan? Maksudku, dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk membina suatu hal yang semu. Aku sedikit terkejut saat menyadari kita bisa bertahan selama itu. Kita yang terlalu memaksakan, atau terlalu naif untuk menyadari? Karena hal ‘ini’ terpaksa kita jalani dan sudah menjadi kebiasaan.” Baekhyun terkekeh pelan di akhir kalimat. Kekehan yang menciptakan lengkungan di bibirnya rupanya mewakili perasaan dalam dirinya. Pahit.

“Maafkan aku, aku yang menyeretmu dalam keadaan yang sangat memuakkan ini. Aku benar-benar minta maaf.” Tepat pada saat itu air mata Sujin tumpah dan isakan kecil terdengar oleh Baekhyun.

Apa yang membuatnya menangis, ia sendiri kurang tahu. Mungkin ucapannya membuat gadis itu sepenuhnya ingat bahwa ini bukan sepenuhnya salahnya. Ini bermula dari Baekhyun. Ya, dirinya adalah sumber masalah.

Baekhyun memutar Sujin dan membuatnya berhadapan dengan dirinya, detik berikutnya ia hapus dengan lembut air mata itu menggunakan jarinya.

“Mianhae. Hatiku benar-benar tertutup bagi semua orang kecuali dia. Kurasa aku tak mampu membuatmu bahagia jika kita benar-benar menikah kelak. Aku… Benar-benar tak bisa.” Baekhyun menghela nafas berat.

“Tapi aku bisa mengusahakan kebahagiaanmu jika kau melakukan seperti apa yang kukatakan.” Lanjutnya.

“A…Aku takut.” Suara Sujin bergetar.

“Kau tak perlu takut, aku akan selalu berada di pihakmu. Jika semua orang meninggalkanmu, akulah yang akan membelamu.” Ia meletakkan tangannya di atas bahu gadis itu.

“Dengarlah, hati kita tak mungkin bisa disatukan karena sudah terlanjur terkunci pada orang lain. Aku hanya tak mau masa depanmu berlalu dengan suram Jin-ah. Kau sudah terlalu menderita karena aku, orang yang baru kau kenal dua tahun yang lalu karena sesuatu yang direncanakan. Aku bukan siapa-siapa melainkan orang yang membuat waktumu terbuang percuma. Jadi berilah aku kesempatan untuk memperbaikinya.”

“Tak apa jika kau tak mau, karena kau sama sekali tak ada hubungannya. Harusnya aku yang meminta maaf karena telah menyebar kebohongan ini.”

“Kau tidak berencana untuk membesarkan anakmu sendirian kan?” Baekhyun sedikit menaikkan nadanya, menatap gadis itu penuh rasa khawatir.

“Dengar, apa kau tak merasa kasihan pada ayah bayi dalam kandunganmu ini? Lalu reputasi keluarga yang kita juga turut andil dalam menjaganya.” Lanjut Baekhyun, membuat Sujin sedikit terusik.

Ia menjawab dengan suara bergetar karena menahan air matanya. “Jika aku mengatakan yang sejujurnya, mereka akan membunuhnya. Aku—“

“Kau belum tahu apa yang akan terjadi, kau bukan Tuhan maupun peramal. Kau harus mencobanya.” Baekhyun tersenyum simpul.

“Kau tak tahu bagaimana orang tuaku yang sebenarnya. Mereka amat membencinya, dan itu berarti–”

“Aku tahu. Aku tahu bagaimana sifat orang tuamu. Dapat kulihat dengan jelas melalui perjodohan bodoh ini. Juga orang tuaku…” Baekhyun mengelus pipi Sujin, menghapus air matanya lagi.

“Tak ada yang perlu ditakutkan. Jika mereka melakukan suatu hal, maka aku yang bertanggung jawab. Ini satu-satunya kesempatan kita. Yakinlah pada ucapanku, ini akan berhasil.” Lalu ia menepuk pelan kepala gadis itu.

“Tapi…”

“Orang tua mana yang tak ingin anaknya bahagia? Kau hanya harus membuktikannya. Ini tak akan semengerikan seperti yang kau bayangkan. Aku jaminannya.” Baekhyun mendesah dan melanjutkan kata-katanya, “Sujin tolonglah, inilah cara agar kau bisa bahagia dengan orang yang kau cintai. Aku yakin kau sangat menginginkannya, iya kan? Mungkin kemungkinan berhasil memang tak seratus persen, namun kita masih punya harapan bukan?”

Baekhyun menatap mata gadis itu, menanamkan kepercayaan padanya. “Katakan sejujurnya.” Dalam waktu yang tak lama, senyum terulas dari bibir Baekhyun tatkala Sujin mengangguk padanya, meski dengan pandangan ragu.

Keduanya segera turun untuk menemui kedua orang tuanya. Seperti rencana semula, awalnya Sujin mengaku tentang siapa yang melakukan itu padanya. Orang tuanya marah, sangat marah hingga akhirnya Baekhyun turut buka suara untuk membela Sujin. Ia bahkan memohon agar mereka memaafkan Sujin dan kekasihnya.

Orang tua Baekhyun baru mengetahui jika Sujin memiliki kekasih lain dan di pagi itu pula mereka baru tahu bahwa Baekhyun telah menemukan Eunji. Maka dari itulah kini mereka berada dalam kebimbangan. Mereka meminta Sujin dan Baekhyun keluar sejenak, meninggalkan empat orang tua itu membicarakan hal yang memusingkan mereka.

Cukup lama mereka menunggu hingga keduanya dipanggil oleh appa Baekhyun.

“Kami sudah membicarakannya, duduklah.” Kata eomma Baekhyun sambil memijit keningnya. Baekhyun melirik sekilas pada orang tua Sujin yang kini memandang ke arah lain. Tatapan mereka… Entahlah, dia sendiri tak bisa menjelaskan.

“Kami minta maaf, kami tak tahu kalau selama ini kalian merasa tertekan. Terutama kau, Sujin. Harusnya kami tak pernah melakukan ini padamu hanya karena masalah Baekhyun sendiri. Kami pikir akan sangat mudah bagi anak muda seperti kalian untuk jatuh cinta, dan kami baru sadar sekarang bahwa itu tak semudah kelihatannya.” Tutur eomma Baekhyun membuat Sujin dan Baekhyun sedikit lega.

“Kenapa kalian tak mengatakan sejak awal? Kalian memendamnya sendiri tanpa kami ketahui, dan saat terjadi hal seperti ini barulah kita dibuat bingung.”

“Apa dengan mengatakannya, kalian akan berhenti? Tidak kan?” Tanya Baekhyun melirik tajam pada orang tuanya.

“Kau tahu kami melakukannya demi dirimu sendiri!” Tegas eomma Baekhyun membuat anaknya terdiam.

“Aku… Aku bisa sendiri.” Gumam Baekhyun kemudian.

“Kau amat keras kepala Byun Baekhyun. Kami adalah orang tuamu dan sebelum kau bekerja dan menikah, kami masih memiliki tanggung jawab atas kehidupanmu.”

“Sudahlah. Tak ada yang perlu diperdebatkan. Untuk saat ini sudah sepantasnya kita melakukan apa yang harus kita lakukan. Bagaimana Dongho?” Tutur appa Baekhyun menghadap relasi bisnisnya.

Appa Sujin berdehem, “Maaf atas semua masalah ini. Dan untuk kau Sujin, kami akan menghargai keputusanmu. Tapi jangan pernah buat kami kecewa karena telah mempercayaimu.” Sujin berkedip dua kali dan langsung mendongak saking terkejutnya.

“Wooh. Jinjja? Itu berarti…” Baekhyun menggantungkan kalimatnya.

Appa Sujin menatap mereka bergantian, “Ya, perjodohan ini…”

End of Flashback

“Batal.”

Kyura dan Kyungsoo yang awalnya mendengarkan dengan wajah serius kini segera berganti menjadi wajah ceria dan bertepuk tangan.

Untuk apa bertepuk tangan? Ya itu urusan mereka.

“Hei hei! Memangnya aku habis melakukan pertunjukan sirkus?” Baekhyun meminta kedua temannya untuk tenang sambil memasang wajah datar.

“Baguslah. Berarti orang tuanya tidak akan benar-benar membunuh lelaki itu kan? Mereka mengharuskan dia yang bertanggung jawab kan? Mereka mau menerimanya kan? Iya kan?” Tanya Kyura berbekal satu hembusan nafas.

“Harusnya memang begitu.” Jawab Baekhyun santai.

“Kurasa ia juga perlu melakukannya di depan Nayoung.” Usul Kyungsoo yang ditanggapi dengan anggukan Kyura.

“Mungkin… Mungkin tidak perlu.” Balas Baekhyun lemas. Berbanding terbalik dengan ekspresi yang beberapa detik lalu ia tunjukkan.

“Wae?!” Teriak keduanya bersamaan.

Secara refleks Baekhyun menutup telinganya, kemudian duduk dengan tegap. Kyungsoo dan Kyura mengikutinya karena mereka pikir ini pembicaraan yang serius. “Melalui perkataannya kemarin, kurasa ia membenciku bukan karena itu. Tapi karena ia tahu aku punya kekasih dan malah mendekatinya. Ia pikir aku ingin mempermainkan perasaan wanita. Ah… Kenapa kalian sangat rumit?” Baekhyun menghadap Kyura dengan pandangan kesal.

“Kenapa marah kepadaku?” Gumam Kyura sambil mengerucutkan bibir.

“Kalau begitu katakan saja sesungguhnya.”

“Sudah, dan dia malah marah-marah.”

“Aish Byun Baekhyun-ssi, saat itu ia sedang dikuasai emosi. Sekuat apapun kau berteriak untuk menjelaskan, hanya akan terpental kembali ke udara. Jadi kau harus menjelaskannya saat ia sudah tenang.” Jelas Kyura.

“Oooh. Begitu ya. Tapi…”

“Ya?”

“Bagaimana jika ia tetap membenciku? Jika kalian ikut mendengar kata-katanya kemarin pasti… Ah, datar dan dingin tapi amat menusuk.”

Kyura dan Kyungsoo saling menatap dengan pandangan heran. Baekhyun yang ada di hadapan mereka saat ini bukanlah Baekhyun yang mereka kenal.

“Hei! Kau kerasukan apa? Mengapa kau jadi seperti ini!” Kyungsoo memukul bahu Baekhyun.

“Tch! Kurasa ada benarnya jika ia tidak mempercayaimu. Cintamu benar-benar patut dipertanyakan.” Sindir Kyura.

“Apa kau bilang? Sebenarnya kau berpihak pada siapa, huh?” Baekhyun tak terima.

“Lihatlah dirimu! Jika kau benar-benar mencintainya, tentunya kau tak akan menyerah semudah ini. Kau pasti akan berusaha bagaimanapun caranya, because love needs struggle.” Tegas Kyura di bagian akhir.

“Masa lalu adalah masa lalu. Aku hanya masa lalunya dan kini namaku tidak berada di tempat spesial lagi.”

“Bukan dia, tapi kau. Kau sendirilah yang harus menempatkan dirimu pada tempat spesial di hatinya. Singkatnya, buat dia mencintaimu.” Lanjut Kyura.

“Itu tidak mungkin.” Sanggah Baekhyun disertai senyum simpulnya.

“Bagaimana kau tahu? Kau kan kekasihnya, dulu.” Kyura bersikukuh.

“Sampai sekarang, setelah semua yang kami lakukan akhir-akhir ini, ia bilang ia tak tertarik padaku.” Kata Baekhyun lalu menjilat bibir bawahnya.

Kyura menghela nafas, “Baek, dicintai oleh seseorang memang menyenangkan, namun mencintai seseorang dengan tulus, adalah suatu kebahagiaan yang abadi. Tidak peduli sekeras apapun kau mencoba dan berapa banyak ia menolak, cintailah orang yang kau cintai dengan tulus dan sepenuh hatimu. Kejarlah dia, dan perjuangkan cintamu.” Hampir saja Baekhyun melontarkan kata-kata untuk membalas namun kini ia hanya termenung. Kyura benar, tak seharusnya ia menyerah begitu cepat.

“Mungkin… Mungkin kau benar.” Ia menatap dua orang itu secara bergantian, kemudian memegang bahu gadis itu. “Gomawo. Aku berjanji akan membuat nasihatmu ini tidak hanya menjadi angin lalu. Aku akan berusaha melakukannya. Kau sangat baik.” Senyuman Baekhyun kini kembali, disusul oleh Kyura dan Kyungsoo. Mereka ikut bahagia akhirnya sahabatnya bisa bangkit lagi.

“Bukankah aku beruntung, dikelilingi teman-teman yang baik seperti kalian.” Baekhyun merangkul pundak kedua sahabatnya. Kemudian ketiganya tertawa lepas.

“Ciyee… Kalian berdua belum cerita padaku tentang love line kalian!” Dan kini Byun Baekhyun kembali ke sosok awal, pengganggu, usil, dan cerewet. Namun Kyura dan Kyungsoo menyukainya karena itulah Baekhyun sahabat mereka.

===

Sejak Kyungsoo pulang dan Kyura ikut mampir ke rumahnya, Nayoung tak henti-hentinya keluar masuk kamar. Alasannya beragam. Entah ingin ke kamar mandi, mengambil makanan, membuat teh, sampai mengembalikan majalah ke tempat semula. Hingga ia merasa lelah sendiri dan membiarkan tubuhnya duduk di sofa depan TV.

Ia tak tahu apa sebabnya ia melakukan hal bodoh ini, dan di saat bersamaan ia merasa seperti orang linglung.

Bukannya apa, ia hanya merasa penasaran tentang apa yang dilakukan Kyungsoo dan Kyura, karena keduanya terlihat begitu senang dan… Lebih dekat? Apa yang mereka bicarakan? Apa yang lucu hingga tertawa seperti itu? Pertanyaan itu terus berputar di otaknya dan membuatnya ingin bergabung diantara keduanya. Namun ia lihat keduanya seperti telah menciptakan dunia mereka sendiri dimana tak ada celah bagi siapapun untuk memasukinya.

Cukup lama pertanyaan itu menyusup di otaknya hingga kini otaknya malah bekerja untuk mengembangkan pertanyaan. Mengapa ia ingin tahu urusan mereka? Sejak kapan ia mulai suka mengurusi urusan orang lain? Kenapa ia jadi bertingkah aneh? Lalu mengapa sekarang ia lebih memilih duduk menonton drama yang tidak ia ketahui awal ceritanya, daripada jalan-jalan atau tiduran?

Dan yang terpenting, mengapa otaknya bisa menciptakan berbagai pertanyaan itu?

Ia sedikit menggelengkan kepala karena hal yang mengganggu itu. Kemudian ia fokus pada TV yang kini dalam kekuasaannya. Namun tetap saja, suara Kyungsoo dan Kyura tetap bisa ditangkap oleh telinganya. Sangat mengganggu. Batinnya.

Kemudian ia keraskan volume namun saat hampir mendekati maksimal, ia pelankan lagi. Memangnya ini rumah siapa, dan itu TV siapa? Ia mulai gemas dan bingung apa yang harus dilakukan hingga remote itu menjadi sasaran untuk digigitinya.

Matanya menoleh ke samping rumah dimana mereka duduk dan membicarakan suatu hal yang tak ia ketahui. Ekor matanya tak sengaja melihat siluet Kyungsoo sedang menepuk kepala Kyura. Tak tahu dorongan dari mana, ia juga ingin merasakan hal yang sama.

Ia berkedip dua kali ketika melihat Kyura mendorong bahu Kyungsoo hingga hampir terjatuh. Keduanya tertawa namun Kyungsoo tak tinggal diam, ia membalas mendorongnya meski tak sekeras yang Kyura lakukan. Itu persis seperti…

Seperti dirinya dan Baekhyun saat mereka duduk-duduk di pantai untuk beristirahat sejenak. Setelah lelah berlarian di pesisir mereka mengistirahatkan kaki di sebuah bangku. Namun rupanya itu tak setenang yang diharapkan, Baekhyun terus menggodanya dan aksi menjahilipun tak bisa terelakkan.

Nayoung tak sadar, bibirnya membentuk sedikit lengkungan saat teringat hal itu. Akan tetapi dua detik kemudian wajahnya berubah menjadi tegang dan geram. Lagi-lagi ia membayangkan wajah orang yang membuatnya kecewa.

Dan mengenai hal itu… Sebenarnya sampai sekarang ia masih memikirkan kalimat terakhir Baekhyun yang merupakan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang membuat nafasnya tercekat dan organ lain serasa tak bertulang.

Apa ia benar-benar menyukainya? Jika tidak, lalu mengapa ia memilih untuk tidak menjawab?

Nayoung menggeleng dan menyangkal pemikirannya barusan. Ia ingat benar bahwa ia menjawab perkataan Baekhyun. Tapi sepertinya itu bukanlah sebuah jawaban yang diharapkan, karena sejatinya itu memang bukan jawaban. Melainkan hanya sebuah pernyataan sebagai syarat untuk melepaskan diri.

Melepaskan diri? Ya, itu tidak salah. Pertanyaan yang saat itu dilontarkan Baekhyun seperti telah mengikat dirinya. Menahannya bergerak bahkan hanya untuk satu inchi saja.

Kembali lagi ke pertannyaan itu. Jika ia mengulangi posisi yang sama, maka apa yang akan dikatakannya? Ia tak mampu membayangkan karena ia tak tahu jawabannya. Maksudnya, ia tak tahu harus mengatakan apa di hadapan Baekhyun.

Jadi kesimpulannya, itu benar? Ia menyukainya?

Bagaimana bisa?!

Ia menggigit bibir atasnya dan kemudian menggerakkan matanya ke bawah –memasang ekspresi serius.

‘Mungkin karena ia baik.’ Batinnya.

Tunggu! Hanya itu? Apakah cukup dengan menjadi orang baik, bisa mendapatkan hati seorang Nayoung? Oh tunggu, rupanya ia masih melanjutkannya.

‘Dan aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku merasa… Ada yang melindungi.’

Nah itulah jawabannya. Dialah orang yang pertama kali menolongnya disaat ia hampir mati kala itu. Ia juga  bersedia menampungnya di rumahnya, berperilaku cukup baik padanya –meskipun kadang menjengkelkan-, dan mau menjadi temannya.

Ia merasa amat berhutang budi pada namja itu, dan perasaan itu entah sejak kapan mulai berkembang menjadi perasaan suka. Perasaan itu tumbuh dengan seenaknya dan tahu-tahu ia menemukan dirinya tak begitu suka jika melihat Kyungsoo dekat dengan yeoja lain.

Kekanakan? Sangat. Ia akui ia memang sangat kekanakan. Maka jangan salahkan jika ia mudah menangis.

Suara Kyungsoo yang berteriak kesakitan karena dijambak Kyura membuat Nayoung sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Sejak tadi ia tak sadar bahwa kepalanya menghadap ke punggung mereka berdua. Melihat adegan kekerasan itu mulai mereda ia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, lalu fokus menghadap layar TV lagi.

Baru dua detik mencoba berkonsentrasi, matanya melirik lagi ke dua sosok yang kini saling mendekatkan kepala. Dilihatnya Kyura membisikkan sesuatu pada Kyungsoo, dan atmosfer disana berubah menjadi tegang.

Ia sedikit memiringkan kepala dan mengernyitkan alis karena atmosfer itu sampai ke tempatnya. Sekarang mereka berbicara dengan volume yang sangat kecil –menyerupai bisikan- dan kepala didekatkan. Seolah tak boleh ada yang tahu kecuali mereka.

Atmosfer itu terus mengelilinginya, dan bukanya makin penasaran seperti tadi, ia malah ingin segera meninggalkan tempat itu karena merasakan ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Diraihnya remote dan mematikan TV, kemudian dengan sedikit mengendap-endap ia melangkah menuju kamar.

Pada waktu yang bersamaan Kyungsoo sudah berdiri di ambang pintu dan memanggilnya.

“Ada apa?” Tanyanya tak semangat. Bukannya jawaban yang didapat, malah sebuah lambaian tangan agar Nayoung mendekat ke arahnya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” Selanjutnya Kyungsoo diam, masih dengan posisi sama bertengger di ambang pintu.

“Apa?” Perasaannya makin tak enak.

“Eum…” Kyungsoo menggaruk kepalanya yang Nayoung yakini itu sama sekali tidak gatal. Terlihat dengan sangat jelas bahwa saat ini lelaki itu merasa… gugup?

Sangat gugup. Namja itu benar-benar merasa tak enak mengatakan ini. Kenapa harus dia yang melakukannya? Ia menoleh dan melirik ke arah Kyura yang memandangnya dengan tatapan yang ia tak tahu apa maknanya.

‘Tch! Kenapa aku merasa akan terlahir sebagai orang jahat!’ Desah Kyungsoo dalam hati.

“Ya?” Kini ia mendapat desakan dari Nayoung.

Jika perkataan Baekhyun bisa dipertanggung jawabkan, maka pernyataan yang akan dilontarkan saat ini tentu akan melukai Nayoung. Akan tetapi seperti yang tadi ia bicarakan bersama Kyura, lebih baik ia mengatakannya sekarang sebelum gadis itu menaruh harapan yang lebih padanya.

Tiba-tiba dirinya merasa malu karena tahu Nayoung rupanya menyukainya dan kini mereka saling berhadapan. Tapi dengan segera ia singkirkan pikiran itu. Karena itu belum tentu benar. Baekhyun tidak pernah mengatakan bahwa itu keluar langsung dari mulut Nayoung.

Nayoung menunggu namun tak ada kata apapun yang diucapkan namja itu hingga ia bosan dan berbalik.

“Chankaman! Kau mau kemana?”

“Aku sangat lelah. Apa yang ingin kau katakan?” Katanya bohong.

“Aish! Tunggu disini sebentar sampai…” ‘Sampai hitungan ke sejuta.’ Kalimat terakhir tentu tak akan pernah ia ucapkan sampai kapanpun dan pada siapapun.

Nayoung mengernyitkan dahi melihat gerakgerik aneh pada namja itu. Di sisi lain, Kyura yang hanya menjadi penonton setia merasa jengkel. Ia mendecak dan akhirnya ia putuskan untuk mengambil alih posisi Kyungsoo. Dengan segera ia berdiri dan berdiri di samping Kyungsoo.

‘Mianhae, bukannya aku ingin menyakitimu tapi aku hanya tak mau ini semakin berlanjut. Kau sudah memiliki orang lain yang sangat mencintaimu dan masih mengharapkanmu.’ Batin Kyura disela nafas beratnya. Dirinya perempuan, begitu pula dengan Nayoung. Jika ia berada di posisi Nayoung saat ini, tentu ia akan merasa hancur.

“Nayoung, dia hanya ingin bilang bahwa sekarang kami telah berpcaran. Bagaimana menurutmu?” Dengan senyum ceria ia mengatakannya. Ia harus belajar untuk tega saat ini juga.

Tak ada reaksi. Hanya ekspresi blank yang terlihat pada wajah putih Nayoung. Kyura dan Kyungsoo saling menatap, sama-sama menunggu reaksinya.

“Nayoung?? Kau masih disana?” Kyura menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Nayoung.

“Ah.. Iya.” Jawabnya pelan.

“Bagaimana menurutmu? Kami cocok kan?” Ucap Kyura berusaha santai dan melebarkan senyumnya.

“Ah.. Iya. Selamat ya, kalian cocok.” Katanya diiringi senyuman yang dipaksakan.

“Baguslah.” Kyura bertepuk tangan ceria.

“Sudah? Hanya itu? Tak ada kejutan lain?” Kyura mengangguk dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa setelah ini adakan makan-makan. Arraseo?” Yang kemudian dibalas dengan anggukan penuh semangat dari Kyura.

Kemudian ia berjalan dengan santai menuju kamarnya –lebih tepatnya berusaha santai. Ia membuka jendela dan menghirup udara luar sebanyak-banyaknya. Ia mengedipkan matanya berulang-ulang agar air mata yang sudah ia tahan tak berhasil keluar. Dan iapun berhasil melakukannya.

Ia memegang bingkai jendela dan menjulurkan kepalanya keluar, melihat langit yang sebentar lagi berubah warna karena senja. Ia merenung, dirinya memang bukan siapa-siapa di hati Kyungsoo dibanding Kyura teman kecilnya. Melihat kenyataan itu, dirinya tak bisa menyalahkan siapapun atas kehancuran hatinya saat ini.

Gadis itu mentertawakan kebodohan dirinya sendiri. Memangnya siapa dia? Hanya seorang gadis yang tiba-tiba datang dan mengemis belas kasihan pada namja itu, dan kemudian diam-diam menaruh perasaan padanya. Pantaskah ia berharap perasaan itu akan terbalas?

Seharusnya ia tak melakukannya. Harusnya ia sudah merasa cukup dan amat bersyukur karena ada yang bersedia menerima dan menjadi temannya. Maka dari itu ia tak boleh serakah dengan meminta lebih.

Kemudian apabila ditelusuri lebih dalam, mungkin dirinya hanyalah pengusik kehidupan namja itu. Ya, itulah yang ada di pikirannya saat ini.

Tak sengaja matanya melihat sepasang burung yang hinggap di pagar belakang rumah Kyungsoo. Burung itu berkicau dengan nyaringnya sebelum akhirnya terbang bersama. Sangat manis untuk dilihat.

‘Setidaknya ia telah mendapatkan gadis yang pantas, jadi tak ada yang perlu dipikirkan terlalu keras. Hubungan mereka akan berakhir bahagia karena keduanya orang yang sangat baik.’ Batinnya.

===

“Kukira kau tak bisa lebih kejam dari barusan.” Sindir Kyungsoo yang agak menyesali kalimat Kyura, apalagi ekspresinya.

“Wae? Kau tak suka? Aku tak punya pilihan lain. Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama bila berada di posisiku.” Balas Kyura tak terima. Kyungsoo tak tahu bahwa tadi Kyura mengatakannya dengan penuh rasa bersalah –karena mungkin Kyura berbakat dalam dunia acting. Namun gadis itu tak akan mau mengakuinya. Cukup ia, Tuhan, dan malaikat yang tahu. Biar Kyungsoo menganggapnya seperti apa ia tak peduli. Jika ia benar-benar mencintainya tentu ia akan menerima apa adanya bukan?

Tetapi ia berjanji, tak akan pernah menunjukkan sisi jahat itu lagi didepannya.

“Tapi kalian sesama yeoja… Aish. Bukankah kau pernah bilang jika perasaan kalian sangat sensitive.”

“Kenapa kau berbalik berpihak padanya?!”

“Bukannya begitu, kurasa akan lebih baik jika kau mengatakan dengan pilihan kata yang sekiranya tidak langsung membuatnya terkejut seperti tadi. Lelaki saja merasa sakit bila berada di posisinya.” Kata Kyungsoo dengan nada tenang agar emosi Kyura tak makin memuncak.

“Lalu bagaimana kalimat yang kau sebut tepat? Kenapa kau tak melakukannya sendiri! Kau tak berani mengatakan apapun setelah berdiri seratus abad disana.”

“Aku hanya sedang dalam perjalanan memikirkan kalimat yang tepat… Aaahh.. Sudahlah, sebaiknya jangan membahas hal ini lagi.” Kyungsoo melirik Kyura yang kini menyilangkan tangan di depan dadanya dan mengernyitkan alis.

Lelaki itu menepuk bahu gadis di sampingnya, kemudian mengunci matanya dengan tatapannya, “Sejujurnya aku senang dengan apa yang kau lakukan. Karena itu membuktikan besarnya perasaanmu padaku. Dan untuk barusan, aku hanya menyayangkan caramu. Jangan marah, ne? Kita bahkan belum genap seminggu berpacaran.” Kyungsoo tersenyum, agak lama. Dan pada akhirnya Kyura ikut tersenyum meskipun tipis.

“Tidak bisa lebih lebar?” Kyungsoo menyentuh ujung bibir Kyura dan menariknya ke atas, membentuk senyuman yang lebih lebar. “Nah begini lebih baik.” Katanya sambil menepuk puncak kepala sang gadis.

Langit senja semakin menunjukkan kehadirannya dan kekuatannya. Tak heran, kehadiran semburat orange itu memang tak pernah bertahan lama. Tidak begitu penting. Karena ia hanya penghubung antara langit biru nan cerah, dengan kelamnya langit malam yang memberikan kekaguman melalui taburan benda bersinarnya.

Meski hanya sebentar, namun dirinya merupakan penentu sebagian besar sebuah ciptaan untuk berganti aktivitas. Penentu kapan orang harus mulai beristirahat dan berhenti bekerja, kapan seisi rumah pulang dari kegiatannya masing-masing dan berkumpul menjadi satu keluarga, serta kapan seseorang harus berpisah dengan orang lain. Karena langit gelap identik dengan hal yang tak ramah pada kehidupan di bumi.

“Kau mau apa? Akan kubuatkan.” Saat ini Kyungsoo duduk di kursi dapur sedangkan Kyura menge-check isi lemari.

“Kau mau memasak?”

“Ani. Hanya minuman.” Ia berkata dengan polos sambil mengeluarkan gula dan mengambil panci di rak.

Apakah ini hanya perasaan Kyungsoo atau apa ia juga belum paham, namun ia seperti melihat ada kekhawatiran pada wajah Kyura. Ia menghampirinya dan berdiri di belakangnya yang saat ini sedang merebus air, “Tenanglah, ia akan segera pergi dari sini. Lagipula kau kan sudah mengatakan hal daebak itu.” Katanya sambil memegang kedua bahu Kyura dan menyandarkan kepalanya disana.

Pada awalnya Nayoung hanya ingin mengambil minum karena sungguh, kejadian tadi membuat tenggorokannya kering. Dan semula ia memang tak berniat untuk melihat pemandangan menyesakkan itu. Tapi tak mengapa, ia bisa pura-pura buta.

Namun untuk yang terakhir ia tak bisa, ia tak bisa pura-pura tuli pada apa yang ia dengar karena itu langsung menyerang hatinya.

‘Tenang saja, aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu.’

===

“Nayoung?” Sudah kesekian kalinya Kyungsoo mengetuk pintu kamar Nayoung namun belum juga ada jawaban. Pagi sudah terlewat sejak tadi namun gadis itu tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sementara di sisi lain Kyungsoo sudah terburu-buru untuk berangkat ke universitas, namun ia ingat harus mengatakan suatu hal pada Nayoung.

Sekali lagi ia mengetuk pintu itu dan karena sudah tak sabar akhirnya ia memutar kenopnya.

“Eh? Tidak dikunci?” Gumamnya. Kyungsoo terkejut mendapati apa yang kini ia lihat. Alisnya mengernyit dan pandangan ia edarkan ke segala penjuru kamar.

“Dia pergi kemana?” Ia memanggil manggil namanya bahkan hingga keluar rumah. Namun seperti yang ia takutkan, tak ada yang menyahut. Hanya bibi-bibi tetangga yang malah memandangnya aneh.

Ia masuk lagi ke kamar itu dan membuka isi lemari. Kosong.

Dengan panik ia mencari nama Baekhyun di kontaknya. “Apa Nayoung sudah pulang ke rumahnya?”

“Kapan?”

“Aku kan bertanya. Saat ini ia pergi membawa barang-barangnya.”

“What?! Kemana perginya?!” Teriak Baekhyun membuat Kyungsoo secara refleks menjauhkan benda pipih itu.

“Mana aku tahu. Di rumahnya tidak ada?”

“Rumah itu masih kosong dan kuncinya kubawa.”

“Kau tidak bercanda kan? Kurasa di suudah lama pergi, sebelum aku bangun.”

“Aish! Jinjja. Baiklah gomawo.” Baekhyun mengakhiri panggilannya dan tanpa pikir panjang mempercepat laju mobilnya.

===

-To be Continued

===

Thank’s for your support~~ I love you~~~ ❤ ❤ ❤

20 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 10)

  1. duh ya tuh tbc mengganggu saja hahahaa..

    yes satu masalh trselsaikan, akhir nya kedua orang tua baek ngebatalin pernikahan yg slama 2 thn direncanakan hihiii

    eh tapi.tapi masih banyak pula masalah di dpan sana menanti baekiee *duuhh ya yg sabar ye baek *pukpukpuk

    waduuhh cobaan berat nih untuk kyungsoo kyura *aaaaaa rintangan besar ini mah.. *konflik pun mulai memanas ~daebak lah di chapt ini heheee 😀 *pertahankan yee cinta kalian ampe akhir nya nikah ekekeee

    aiisshhh tuh kan bener tebakan aku nayoung demen ama kyungsooo *aaaaaa andwae, pelis thor jangan ampe nayoung lbih dalan jatuh cinta ama kyungsoo *emang si sungguh menyakitkan bgi nayoung klo kyungsoo brpcran ama kyura.. tapi kan tapi tapi tapi aaaaaahhhhh kyungsoo udah lma bingits menyukai kyura, aiisshhh sungguh rumit hahahaa mian thor alay 😀 ekekee
    semoga baek nemuin nayoung trus ngjlasin smua nya klo dia btal kawin *eh hahaaa trus masalah trselesaikan..

    #siiipp lah thor di chapt ini bener.bener ye jalan crita nya.. fyuuuhhh ngelap keringet wkwk 😀 ditunggu chapt slanjut nya jgn ampe telat ngepos lagi yee thor *eh hihii maap nyepam 😀 #keep writing

    *note ~ aku ingin mereka smua happy ending thor ama pasangan masing.masing hihiii *mian thor banyak banget ekeke 😀

  2. Next Thorr… Thorr si nayoung lagi Nyuci dirumah aku thor.. :v Ngomong – ngomong Itu TBC bisa di bakar ga thorr? Ganggu banget.. Oh ♈ά thor jangan lupa siapin uang tebusan sebesar 2.000 Rupiah thor :v jika author Maυ̲̣̥…….. Nayoung kembali.. Dan jangan Bawa tentara

  3. Thor..
    Author kan baik, murh hati, rajin menabung
    Tolong dong buat si nayoung yg awalnya suka ama kyungsoo jdi suka ama baekhyun
    Ya ya ya 🙂
    Pelan2 aja.. Bikin greget juga gapapa..
    Asal nnti nayoung ama baekhyun ya jeballllllllll
    Kasihan baekhyunnya
    Mian ga komen di chap 9
    Aku brusan bca chp 9 ama 10 lgsg
    Jdi sekalian komen disini ajaaa
    Moga author bca komen aku yaa .. *apa ini*
    Nayoung pindah kemna 😦
    Ubah nayoung biar ga slh paham ama baekhyun lgi plisss
    Hwaitinggggggg!!!!!!!!!!!!!
    ‘-‘)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s