Thorn of Love (Chapter 4) (Autumn Desire)

Thorn of Love

Thorn of Love Part 4 (Autumn Desire)

Author             :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Byun Heejin

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Choi Yunae
  • Byun Junghwa (OC)
  • Etc..

Genre             :           Romance, Angst

Rating                         :           PG15

Backsound      :           4Men – Thorn Love

~oOo~

Author’s POV

Heejin mencoret-coret bukunya dengan gambar-gambar abstrak. Pikirannya kalut, hatinya diselimuti kekhawatiran, bagaimana bisa tadi pagi Ayahnya begitu tenang padahal Baekhyun belum pulang sama sekali hingga sekarang. Ya memang Ayahnya sudah tahu kemana Baekhyun tapi bukankah seharusnya dia tetap khawatir karena hari ini adalah peringatan kematian Ibu mereka dan Baekhyun sedang sendirian dirumah musim dingin mereka

didaerah Bucheon, tidakkah Ayahnya khawatir Baekhyun akan melakukan tindakan gila seperti bunuh diri misalnya..

“Ahh apa yang kau pikirkan?!” Heejin merutuki imajinasinya yang sudah terlalu jauh

“Apa? Jadi menurutmu keputusanku menerima kencan Chen itu salah?”

Heejin mendongak dan mendapati Yunae menatapnya penuh heran. Bodohnya dia bisa lupa bahwa tadi dia sedang mendengarkan Yunae bercerita tentang apa yang terjadi kemarin sore antara dirinya dan Chen.

“Tidak tidak, aku salah bicara”

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Tidak, aku hanya sedang pusing dengan pelajaran”

“Benarkah? Kalau begitu ayo gantian, ceritakan kemarin sore kau dan Sehun pergi kemana?”

Heejin tak bisa menolak permintaan Yunae lalu mulai bercerita seadanya namun Yunae memang orang yang sangat penasaran hingga cerita yang diharap Heejin bisa singkat menjadi sangat panjang.

Bel kemenangan membaur bersama warna jingga membakar semangat siswa-siswi Junsang untuk segera mengistirahatkan tubuh mereka dirumah. Disudut ruangan kelas 11B terlihat Heejin yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Gadis itu sedang berbicara dengan Sehun dan sedang menjelaskan panjang lebar pada Sehun kenapa dirinya menyuruh Sehun untuk tak menjemputnya. Agak lama untuk bicara dengan Sehun karena Sehun memang tipikal pria yang keras tapi untungnya pengorbanan Heejin yang rela membuat telinganya sedikit panas karena terlalu lama menempel pada perangkat elektronik segi empat itu tak sia-sia. Heejin memasukkan buku-bukunya dengan cepat lalu menyusul Chen & Yunae yang sudah menunggu didepan pintu.

Pengeras suara yang memberitahukan bahwa 5 menit lagi kereta menuju Bucheon akan berangkat membuat Heejin melepas nafas lega. Kurang lebih 30 menit lagi pikiran gilanya akan terjawab dan dia berharap pikirannya sama sekali tidak terbukti benar. Baekhyun memang susah dimengerti tapi dia tidak cukup bodoh untuk mengakhiri hidup begitu saja. Heejin memeluk kotak makanan 3 susun dipangkuannya. Makanan untuk Baekhyun yang mungkin selama hampir 2 hari hanya makan mie instan ditemani secangkir kopi yang membuat terjaga sepanjang malam dan memberi lingkar hitam mengerikan diseluruh matanya.

Heejin memberikan beberapa lembar uang pada supir taxi yang mengantarnya hingga kedepan sebuah bangunan bernuansa serba putih. Dipagar pelindung bangunan tersebut bertuliskan ‘Rumah Keluarga Byun’, ya dirinya tidak salah alamat dan memang benar inilah rumahnya.

“Sedang apa kau disini?”

Heejin terkesiap saat suara teguran itu tiba-tiba menerobos masuk indera pendengarnya. Sesosok pria memakai jeans hitam dengan kaos putih dipadu kemeja kotak-kotak berwarna merah tengah menatapnya heran. Dalam hati Heejin merasa lega bayangan gilanya tak terbukti benar, Baekhyun masih hidup dan tidak ada lingkar hitam mengerikan sama sekali dimatanya.

“Kau mendengarku?”

“Ne, aku kesini untuk menjenguk oppa”

“Aku tidak sedang di RS” Baekhyun melangkah untuk membuka pintu gerbang

“Kenapa oppa tidak ikut upacara dirumah bersama Ayah?” tanya Heejin takut-takut

“Ayah tidak memberitahumu kalau upacara utama dilaksanakan dirumah pemakaman dekat makam Ibuku?”

Heejin memukul pelan kepalanya, bagaimana dia bisa lupa kalau Ibu Baekhyun dimakamkan di Bucheon, ani, bukan Ibu Baekhyun tapi Ibu mereka.

“Masuklah sebelum ada anjing liar menyerangmu”

Heejin berlari pelan mengekori Baekhyun. Dia tahu apa yang diucapkan Baekhyun tadi hanya lelucon tapi tidak bisakah kakaknya itu membuat lelucon yang tidak terlalu terdengar mengerikan seperti tadi? Memangnya ada anjing liar disekitar sini?

Mata Heejin membulat melihat keadaan ruang utama dan dapur rumah berukuran sedang yang dimasukinya. Amat sangat berantakan seakan baru saja terjadi serangan gerombolan monyet dirumah tersebut. Dan yang lebih mengerikan lagi, ditempat sampah hanya dipenuhi dengan bungkus mie juga kaleng bir yang menandakan penghuni rumah tersebut hanya makan kedua makanan tak sehat tersebut. Heejin melirik tangan Baekhyun yang menjinjing kantong belanja berisi bir lalu merebutnya cepat saat Baekhyun baru saja merogoh hendak mengambil sekaleng bir yang tadi dibelinya.

“Jangan minum lagi, ini bisa membuat kesehatanmu memburuk dan mungkin kau akan mati diusia muda” omel Heejin seraya membuang bir-bir tersebut kedalam tempat sampah

“Hey itu dibeli dengan uang”

“Aku tahu, tapi 5 kaleng bir tidaklah seberapa dibanding kesehatanmu”

Dahi Baekhyun berkerut samar, ini pertama kalinya Heejin berbicara seolah mereka begitu dekat dan tidak kikuk seperti biasanya.

“Aku membawa makanan yang dimasakkan bibi Kim. Ayo makan” Heejin menarik lengan Baekhyun membawa namja tersebut duduk dibalik meja makan

“Dan oh ya, aku juga membawakan buku pelajaran milik Chen sunbae agar oppa bisa menyalinnya”

Mulut Baekhyun terkunci rapat, ada sebuah senyuman tipis dibibirnya, matanya masih enggan lepas dari gerak gerik Heejin. Dia suka, dia suka melihat ekspresi khawatir diwajah gadis ini, dia suka mendengar suara omelan gadis ini yang mengkhawatirkan dirinya.

“Silahkan dimakan” Senyum Heejin yang sengaja dilemparkan kearahnya membuat Baekhyun kembali menetralkan pikirannya

Matanya menangkap 3 jenis makanan disana. Ada Kimbab, Rice Balls, dan sepotong besar Strawberry Cheese Cake.

“Benarkah Bibi Kim yang memasak semua ini?” pancing Baekhyun

“N..Ne”

“Kurasa Bibi Kim sudah bertambah tua saja, bagaimana dia bisa lupa kalau aku tidak suka onigiri dan alergi pada buah strawberry”

“Ne? Benarkah? Aku tidak tahu sama sekali soal itu”

Baekhyun menaikkan alisnya menuntut penjelasan maksud dari kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Heejin.

“Maaf, sebenarnya aku yang membuat makanan ini, Bibi Kim tidak tahu kalau aku mau kesini. Kalau begitu biar aku saja yang makan”

“Tidak. Bagaimana bisa kau mau mengambil yang sudah kau berikan?”

“Tapi tadi alergi—“

“Aku bohong, hanya ingin memancingmu berkata jujur. Lagipula untuk apa kau berbohong segala?”

“Karena kalau oppa tahu aku yang membuat makanan itu, oppa pasti tidak mau memakannya”

Kalimat yang mencelos dari mulut Heejin tersebut membuat Baekhyun merasa sedikit ditarik paksa ke masa lalu dimana kelakuan buruk Baekhyun kecil yang membuat Heejin berkata demikian. Mereka berdua makan dalam diam hingga malam tiba dan waktunya mata terlelap.

Butiran air turun ramai-ramai membuat suara gaduh diluar sana dipadu dengan dentuman keras suara guntur dan angin kencang yang menusuk kulit, kilat terus menyambar hingga serangan kelima membuat listrik rumah musim dingin milik keluarga Byun itu padam karena korsleting. Heejin yang baru saja menarik selimut hendak beranjak tidur terlonjak kaget turun dari ranjang sambil memeluk bantal. Gadis itu meringkuk disamping nakas, kedua tangannya menutup rapat telinga, matanya terpejam, bibir dan tubuhnya gemetaran. Angin ribut, hujan deras, dan kegelapan selalu bisa menariknya kembali pada kejadian dimalam Ibunya pergi untuk selamanya. Suara tangisan pelan mulai keluar dari mulut Heejin namun suara hujan diluar sana membalut suara tangis pelannya.

“Heejin” sebuah tangan menyentuh pelan pundak Heejin hingga gadis tersebut benar-benar mengeluarkan tangisannya

“Ada apa?” tanya Baekhyun khawatir sambil memegang pipi Heejin yang memerah

Heejin tak menjawab dan masih larut dalam tangisan membuat Baekhyun bingung setengah mati namun saat sebuah kata melenguh dari mulut gadis itu, Baekhyun akhirnya mengerti alasan Heejin begitu ketakutan sekarang. Tangan Baekhyun terulur menarik tubuh Heejin kedalam pelukannya, Baekhyun memeluk Heejin erat sambil mengusap rambut gadis itu dan melontarkan kalimat-kalimat penenang. Hati Baekhyun merasa perih, bagaimanapun dia adalah salah satu pelakon utama peristiwa malam itu.

~oOo~

Sinar matahari yang cukup terang pagi hari itu berhasil menembus lapisan kaca hingga korden lalu tepat mengenai sepasang kelopak mata yang masih terkatup rapat. Perlu waktu sekitar 1 menit untuk membuat mata tersebut menyadari siang mulai menyingsing, tangannya menyentuh pelan tepat pada bagian sang mentari juga menyentuhnya. Beberapa detik kemudian sepasang mata dengan kornea berwarna hitam itu terbuka perlahan-lahan sambil mengerjap, matanya melirik sedikit keatas, jam weker itu menunjukkan pukul 6 lewat 42 menit. Sebenarnya bukan hanya sinar matahari itu yang mengganggu tidurnya tapi juga denting jam dikamar tersebut tapi dirinya terlalu lelah untuk menghiraukan semua itu karena matanya terasa begitu berat. Sebuah erangan pelan meluncur dari bibirnya, badannya ikut menggeliat didalam selimut dan saat itu pula dia baru sadar dirinya tak sendiri, ada seseorang dibelakangnya dalam posisi memeluk erat pinggangnya.

“AAAA!!!” Teriak Heejin segera setelah menyadari ketidakwajaran yang dia rasakan

Sesuatu terjatuh dan menghasilkan bunyi dentuman keras diiringi erangan seseorang. Heejin menoleh kebelakang dan mendapati Baekhyun tengah memejamkan mata, tangan kanannya mengelus bagian belakang kepala yang baru saja terantuk pinggiran meja. Heejin bergegas menghampiri Baekhyun karena dirinya lah yang baru saja membuat pria itu terjatuh dari ranjang hingga membentur meja, bersyukur tak terjadi insiden mengerikan seperti di drama yang biasa dia tonton.

“Apa yang kau pikirkan eo?” keluh Baekhyun

“Maaf oppa, aku kira kau adalah pencuri atau semacamnya. Aku kaget sekali ada orang disampingku. Tunggu disini, aku ambilkan kompres”

Tanpa menunggu balasan Baekhyun, Heejin berlari keluar kamar menuju dapur untuk mengambil es dan kain tapi saat hendak naik lagi, dia melihat Baekhyun yang turun membawa 2 buah mantel—mantel milik Baekhyun dan milik Heejin—.

“Kemarikan itu” Baekhyun mengambil baskom kecil berisi air es dan kain lalu menyodorkan mantel milik Heejin

“Kita akan kembali ke Seoul sekarang?”

“Ani, kita kembali nanti jam 8. Aku tidak bisa menyetir saat kepalaku terasa berputar-putar begini” Balas Baekhyun dengan sedikit nada sindiran membuat Heejin mengedikan bahu ringan

“Hey ayo ikut aku”

“Kemana?”

“Ikut lah dan kau akan tahu”

Sudah sekitar 2 menit Heejin mengikuti Baekhyun namun nampaknya mereka belum sampai ditujuan. Baekhyun masih berjalan tanpa menoleh kebelakang, jaraknya berada 5 langkah dari Heejin. Jalan kecil yang dihiasi ilalang dan dandelion tersebut ternyata menuntun mereka kesebuah danau buatan yang nampak tak begitu terurus. Heejin masih berdiri dibelakang Baekhyun dengan jarak 5 langkah, matanya menunggu apa yang akan dilakukan Baekhyun selanjutnya tapi pria itu masih berdiri tegap tanpa sepatah katapun hingga 5 menit kemudian. Heejin mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa diperhatikannya karena memperhatikan Baekhyun itu terasa melelahkan, dia tak pernah bisa menebak apa yang dipikirkan dan apa yang akan dilakukan laki-laki tersebut.

“Kau tidak suka?”

Heejin kembali meluruskan pandangannya saat suara tersebut menggema diantara tingginya ilalang bersama suara kumbang dan serangga pagi hari. Baekhyun tengah menatapnya dengan..entahlah kali ini Heejin harus berpikir keras untuk mengartikan pandangan tersebut. Bukan pandangan sinis, benci, meremehkan, marah, atau datar seperti biasa tapi pandangan itu seakan meminta pada Heejin.

“Aku suka. Tempat ini bagus dan sangat damai” Jawab Heejin sambil menggosok pelan lengannya yang terasa dingin karena hembusan angin yang berhasil menembus lapisan mantel hitamnya

“Kemarilah, kenapa kau berdiri jauh sekali?”

Lagi, Heejin lagi-lagi dibuat bertanya akan nada bicara Baekhyun barusan. Ada apa dengan kakaknya pagi ini? Apa Baekhyun mabuk? Tidak mungkin karena dia sendiri yang membuang kaleng-kaleng bir tersebut kedalam tempat sampah sebelum menuang semua isinya ke wastafel. Heejin menggeleng pelan mengenyahkan semua kecurigaan lalu berjalan perlahan menghampiri Baekhyun.

“Kau lihat perahu disana?” Tangan Baekhyun menunjuk kearah diseberang danau tempat sebuah benda yang terlihat seperti perahu setengah jadi berada

“Hmmm”

“Ayah dulu berjanji menyelesaikan perahu itu sebelum umurku 5 tahun tapi sampai sekarang masih seperti itu…”

Heejin memperhatikan raut wajah Baekhyun yang berubah sendu

“Maaf, ini semua karena aku dan Ib—“

“Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia lupa pada janjinya. Mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak janji yang dia lupakan”

“Bukankah oppa berada dikelas Arsitektur?” Tanya Heejin pelan

“Eo…wae?”

“Kalau begitu kenapa tidak kau selesaikan sendiri perahu itu. Aku yakin kau bisa”

“Kau mau membantuku?”

Heejin melebarkan matanya, baru kali ini Baekhyun meminta bantuannya “Aku?” ulang Heejin sambil menunjuk dirinya sendiri

“Emmm” Balas Baekhyun, tangannya terulur mengacak pelan rambut Heejin membuat warna merah muda menghiasi pipi gadis tersebut

“Itu..kenapa oppa tidur dikamarku?” Heejin berusaha mengalihkan rasa aneh yang menjalari tubuhnya

“Kau yang memintaku”

“HAH?”

“Tidak, aku bercanda. Mana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti tadi malam”

Belum selesai keterkejutan Heejin atas perlakuan Baekhyun yang tiba-tiba menyentuh puncak kepalanya, dia kembali dibuat kaget saat merasakan sesuatu menyelip diantara telinga kiri dan rambutnya. Sebuah dandelion terselip disana dan Baekhyun-lah yang melakukannya.

“Aku akan mengajukan pertanyaan padamu dan jawablah dengan jujur”

Heejin mengangguk, mulutnya terlalu terasa berat untuk terbuka.

“Kau menyetujui perjodohan itu untuk Ayah atau karena kau memang menyukai laki-laki itu?”

“Namanya Sehun, Oh Sehun”

“Terserahlah, jawab saja”

“Sebenarnya—sebenarnya awalnya untuk Ayah tapi aku baru tahu sesuatu”

“Apa?”

“Ayah sama sekali tidak merencanakan perjodohan itu”

“Apa maksudmu?”

“Sehun yang meminta perjodohan itu. Paman Oh dan Ayah adalah teman kerja”

“Kau..sudah kenal dengan Sehun sebelumnya?”

“Tidak. Aku kenal dengannya karena dia adalah orang yang tidak sengaja menabrakku pada hari pertama masuk sekolah dan saat kami di RS, kami bertemu Ayah dan Paman Oh”

“Bagaimana bisa kau tahu kalau Sehun yang meminta Ayahnya mengatur perjodohan kalian?”

“Kemarin malam Sehun yang memberitahuku dan dia bilang dia melakukannya kare—Aaa!”

Heejin mengerang saat merasakan cengkraman kuat pada kedua bahunya. Baekhyun tengah mendaratkan kedua tangannya padu bahu Heejin sambil menatap gadis tersebut serius dan dalam juga sebagai perintah untuk Heejin agar tidak melanjutkan kalimatnya karena demi apapun Baekhyun tak ingin mendengar kelanjutan kalimat bodoh itu.

“Oppa kau menyakitiku”

“Aku tidak perduli dengan apa yang Sehun rasakan, sekarang bagaimana dengan perasaanmu sendiri?”

“Aku—“

Heejin berhenti sejenak, dia menangkap aura aneh pada Baekhyun. Laki-laki itu terlalu aneh pagi ini karena biasanya Baekhyun adalah orang yang paling tidak mau tahu dengan semua yang berhubungan dengan Heejin tapi pagi ini Baekhyun berubah menjadi orang yang seperti paling ingin tahu.

“Aku—perasaanku pada Sehun masih biasa saja”

“Mworago? Masih?” Baekhyun melepas cengkramannya lalu memamerkan senyum miring

“Apa itu berarti kau sedang berusaha membuat perasaan yang tidak biasa untuk Sehun?” lanjut Baekhyun membuat Heejin menatapnya tak percaya

“Ada apa denganmu pagi ini?”

“Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau lah yang paling tahu kenapa aku seperti ini”

“Apa maksudmu?”

“Kau, kau adalah orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku. Hidupku dan semua yang ada disekitarku baik-baik saja sebelumnya tapi saat kau datang, semua jadi tidak masuk akal dan salah”

“Rupanya kau masih seperti dulu. Aku salah menilai kalau kau sudah berubah”

Heejin berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Baekhyun tapi laki-laki tersebut seperti tak akan melepaskan Heejin sebelum dia selesai mengutarakan semuanya. Tangan kanan Baekhyun menarik lengan kiri Heejin dan dalam sekali sentakan gadis tersebut kembali berdiri menghadapnya.

“Kenapa kau melakukan semua ini?!” Pekik Baekhyun

“Tidak cukupkah permintaan maafku dengan menjauh dan bersembunyi di Woosung selama 7 tahun, apalagi yang kau mau aku lakukan?”

“Aku tidak sedang membahas itu sekarang Byun Heejin!” Rahang Baekhyun mengeras

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa sekarang kau pergi dengan laki-laki lain? Apa kau lupa pada janjimu? Pada perkataan yang sering kau katakan dulu? Apa kau lupa?!?!”

Hati Heejin terasa mencelos, bukan hanya karena suara Baekhyun yang begitu nyaring dan tajam tapi juga karena mata laki-laki itu mulai memerah dan dipenuhi genangan air.

“Kau sedang melantur”

“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Apa jangan-jangan kau memang lupa? Perlu aku mengingatkanmu? Dulu kau selalu bilang tidak akan meninggalkanku sendirian, dulu kau selalu bilang akan ada disampingku kapanpun, dulu kau selalu bilang menyayangiku…apa itu semua hanya lelucon yang kau buat?”

“Kau tahu itu semua nyata, aku memang menyayangimu lalu apa hubungannya dengan semua ini?” Heejin merasa mulai sedikit pening

“Lalu kenapa kau mau membuka hatimu untuk laki-laki lain kalau memang benar ada aku disana”

“Oppa…”

“Waeyo? Kau mau seperti Ibuku juga yang meninggalkanku sendiri? Kau mau seperti Ayah yang berjanji banyak hal tapi lalu melupakannya? Katakan kau mau jadi yang mana hmm?”

“Oppa…..yang kau pikirkan sekarang salah. Aku memang menyayangimu tapi dalam artian sebagai adik, jangan menempatkan dirimu dalam posisi yang sama seperti Sehun. Itu adalah kesalahan besar”

“Sudah terlanjur, kau pikir aku tidak berusaha membuang perasaan itu? Aku sudah berusaha tapi semua sudah terlanjur dan ini semua salahmu, bukankah sudah kukatakan untuk tidak menunjukkan wajah selama aku masih disini, lalu kenapa kau kembali? Kenapa?!?!”

Heejin menyentakkan tangan Baekhyun yang sedari tadi mencengkram tangannya lalu memijit kening pelan.

“Kau tahu? Jika ini merupakan salah satu rencanamu untuk membuangku jauh-jauh maka jangan khawatir, aku akan pergi selamanya jika memang kau begitu tidak sukanya melihatku. Dan satu lagi, permainanmu ini sudah keterlaluan dan ini sama sekali tidak lucu”

“Tentu saja ini tidak lucu karena ini bukan permainan seperti yang kau pikirkan”

Heejin merasa rohnya dicabut paksa dari raganya saat merasakan benda itu menyentuh bibirnya. Sensasi yang dia rasakan begitu kuat hingga membuatnya seperti terjatuh kedalam lubang dalam bersamaan dengan jutaan kelopak bunga yang beterbangan. Baekhyun menarik tubuh Heejin untuk memperdalam ciumannya hingga kini bukan hanya bibir mereka yang menyatu rapat tapi juga tubuh mereka. Sebuah pukulan telak dirasakan Heejin saat bayangan Ibu dan Ayahnya berkelebat membuatnya sadar hal yang sedang terjadi sekarang adalah kesalahan besar.

Plakkk…

Heejin menatap telapak tangan dan pipi Baekhyun bergantian sebelum buliran air mata jatuh dan kakinya bergerak secepat mungkin keluar dari tempat itu dan menjauhi pria itu.

~oOo~

3 hari berlalu sejak kejadian dipinggir danau tersebut tak membuat Heejin kembali seperti sedia kala. Kini dia merasa berat jika jam sekolah berakhir dan harus kembali kerumah. Susah payah selama 3 hari ini dia menjauhi Baekhyun karena sungguh kejadian itu masih sering berkelebat didalam pikirannya. Selama 3 hari itu pula dia harus rela makan siang sendirian karena seperti biasa Yunae akan mengajaknya makan siang satu meja bersama Chen dan itu berarti juga satu meja bersama Baekhyun. Heejin pikir dia sudah tidak akan bisa melihat wajah laki-laki itu lagi sejak insiden dipinggir danau.

“Heejin-ah ayo kita pergi”

Heejin mengangkat kepalanya dan mendapati Yunae sedang sibuk dengan jaket baseball kebesaran yang sepertinya bukan miliknya.

“Maaf aku sepertinya tidak ikut” ucap Heejin pelan

“Apa?” Yunae masih sibuk memasang jaketnya

Heejin menghela nafas berat, jujur tak enak rasanya terus menolak ajakan Yunae

“Aku tidak bisa ikut, kurasa aku akan langsung pulang saja”

“Mwo? Tidak lagi. Ada apa denganmu sebenarnya? Apa kau sedang sakit?”

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin belajar lebih sering karena sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas”

“Eiii itu alasan murahan. Kau bukankah siswi bodoh dan apa menurutmu aku semudah itu ditipu? Kau seperti ini sejak 3 hari lalu, sebelum itu kau tidak begini. Dengar Byun Yoonjoo, kita memang belum lama berteman tapi sedikit banyak aku sudah tahu bagaimana sifatmu dan makadari itu jika kau punya sesuatu yang membuat pikiran dan hatimu terasa berat, kau bisa bercerita padaku dan mungkin aku bisa membantu”

Heejin tersenyum tulus, tangannya terulur menyentuh tangan Yunae “Aku tidak apa-apa. Benar, hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Aku sedang tidak ingin….”

“Tidak ingin apa?”

“Aku—“

“Ah aku tahu! Kau pasti tidak mau menonton pertandingan ini karena kau bimbang”

“Ne?”

“Kau bimbang mau mendukung Baekhyun sunbae atau Sehun, bukankah begitu? Dan lagi kau malu kan mau mendukung Sehun karena dia merupakan ketua team sekolah lain”

Heejin mendesah lega, Yunae rupanya berpikiran hal lain tapi benar juga, hari ini Team Baseball Junsang dan Shinhwa yang berlomba dan bagaimana dia bisa lupa Sehun adalah pitcher sekaligus ketua Team Baseball Shinhwa. Padahal kemarin Sehun baru saja memberitahunya untuk harus datang.

“Hei tidak usah memasang wajah susah begitu. Kau dukunglah Sehun karena aku yakin sudah banyak anak wanita dari sekolah kita yang akan mendukung kakakmu jadi kajja!!”

~oOo~

Langit senja mulai bersinar. Terlihat 5 orang dengan seragam sama sedang berjalan keluar stadion baseball milik Junsang International Academy. 3 dari 5 orang tersebut adalah laki-laki dan mereka berjalan sejajar dengan 2 orang perempuan disamping mereka. Seorang perempuan yang berada dibarisan ujung itu berjalan sambil menatap sepatunya dan sepasang mata masih sesekali memperhatikan gerak-geriknya.

“Annyeong Haseyo” Sapa seseorang dengan seragam berbeda dari yang mereka berlima pakai

“Kau….” Chen menunjuk orang tersebut dengan wajah heran

“Aku kesini bukan karena masalah pertandingan tapi untuk yang lain”

“aaaaaaaaa” Chen, D.O, dan Yunae berujar panjang sambil melirik nakal kearah Heejin sedangkan seseorang diujung berlawanan sedang bermuka muram seakan ada kumpulan awan hitam diatas kepalanya

“Heejin-ah kajj—“

“Kalian tidak buruk” celetuk Baekhyun yang membuat Sehun membatalkan niatnya menarik tangan Heejin

“Maaf?”

“Kau dan timmu tidak buruk tapi kurasa kalian masih perlu latihan” Ulang Baekhyun dengan kalimat yang semakin diperjelas

Sehun mulai merasakan keanehan disetiap kalimat Baekhyun “Nasehatmu akan kulaksanakan kakak ipar tapi lainkali aku tidak akan bermain mudah hanya karena kau kakak dari Heejin”

“Hey kenapa dengan kalian berdua?” D.O memperhatikan Baekhyun dan Sehun yang bertatapan sengit

“Kakak ipar? Kau—“

“Sehun-ah kajja” Heejin menarik lengan Sehun sebelum Baekhyun mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya

“Kami permisi” ucap Sehun sebelum menggandeng tangan Heejin menjauh dan membawa gadis itu pergi bersama dengan motor besarnya

Tersisa 4 orang yang sedang berdiri mematung, 3 orang yang merupakan Chen, Yunae, juga D.O sedang menatap kearah Baekhyun.

“Ya! Ada apa dengan ekspresimu itu?” Tegur D.O sambil memukul pelan pundak Baekhyun

“Kau seperti pria yang ditinggal pacar selingkuh” celetuk Chen yang malah membuat suasana semakin kikuk

Pletak…

“Hey Do Kyungsoo!” pekik Chen tak terima karena rasa sakit yang didapatnya

“Baekhyun-ah, adikmu hanya pergi bersama Sehun bukan dengan anggota yakuza dan Sehun adalah calon suaminya bukan? Jadi kau tidak perlu menekuk wajah begitu” ujar D.O tak memperdulikan Chen yang sedang kesal padanya

“Jangan menyebut istilah itu didepanku” balas Baekhyun sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan D.O, Chen, dan Yunae yang keheranan

Motor itu terparkir ditempat biasa, tempat yang seperti disediakan pemilik café tersebut untuk pemilik motor besar berwarna merah itu. Pemiliknya sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan, mereka berdua sedang menikmati secangkir carebian nut dan sepotong cheese cake. Sudah sekitar 10 menit mereka duduk berhadapan tapi mata mereka belum sekalipun bertemu dan tidak ada percakapan yang terjadi selama selang waktu itu. Sehun terus mengamati wajah Heejin dan tak bisa menebak apa yang gadis itu rasakan sekarang.

“Kau sakit?” Sehun menyentuh kening Heejin dan tak merasakan suhu panas atau hangat disana yang berarti gadis itu baik-baik saja

“Tidak, apa aku terlihat seperti orang sakit?”

“Iya, kau diam saja daritadi dan kemarin saat aku menelponmu, kau terdengar buru-buru hendak mematikan dan kau menolak ajakan kencanku, apa jangan-jangan karena kakakmu?”

Heejin mengepal tangan menahan rasa gugup, apa jangan-jangan Sehun bisa merasakan perasaan Baekhyun untuknya?

“Kurasa kau benar-benar takut pada kakakmu dan harus kuakui kakakmu bukan hanya menakutkan saat dilapangan tapi juga dalam kehidupan biasa” Sehun menegak habis seluruh carebian nut miliknya yang tersisa sepertiga

“Dia memang sudah seperti itu sejak dulu”

“Benarkah? Kalau begitu menurutmu apa yang harus kulakukan agar akrab dengannya? Dimasa depan dia akan jadi kakak iparku jadi kurasa kami harus mulai akrab. Bukankah begitu?”

Heejin tak mampu membuka mulut atau sekedar mengangguk. Harapan Sehun terasa jauh dari pandangan Heejin karena sepertinya Baekhyun bukan akan mempermudah mereka berdua tapi justru sebaliknya. Melihat kejadian 3 hari lalu yang dia alami, Heejin tahu Baekhyun mempunyai sesuatu yang disembunyikan dan direncanankannya, hal tersebut tentu saja membuat Heejin ketar-ketir karena Baekhyun berdiam diri saja sudah membuatnya takut apalagi jika Baekhyun bersikap seperti saat itu.

“Kajja”

“Hmm?”

“Aku antar pulang”

~oOo~

Langit Seoul dihiasi bintang, angin sepoi berhembus pelan seperti alunan music klasik yang bisa membuat siapapun yang mendengar jadi terantuk. Sebuah motor merah menembus kesunyian jalan disebuah komplek perumahan lalu berhenti didepan sebuah rumah bernomor 26. Pengendara motor tersebut turun lalu melepas helmnya dan mengamati seseorang yang tadi duduk diboncengannya. Orang tersebut terlihat linglung dengan hanya berdiri mematung tanpa niat melepas helm dan masuk kerumah. Sebuah tepukan pelan akhirnya mengusir kesunyian yang membingkai.

“Masuklah” Ucap Sehun lembut yang dibalas anggukan

“Hey…”

“Iya?”

“Helm, apa kau mau menyimpannya dikamarmu?” Ujar Sehun dengan senyuman tertahan

“Ah mian, ini..dan terima kasih sudah mengantarku pulang. Selamat malam”

“Heejin-ah…”

“Ne?”

Chu~ Udara hangat yang merupakan hembusan nafas Sehun menyapa pipi Heejin lembut. Ciuman 10 detik yang diberikan Sehun tampaknya membuat Heejin benar-benar shock, gadis itu bahkan masih membelalakan mata setelah Sehun menarik bibirnya, rona merah memenuhi wajah Heejin membuat Sehun tertawa pelan lalu mengacak rambut Heejin. Diatas sana, dibalik sebuah jendela yang terletak dilantai 2, seseorang tengah menjadi penonton kejadian tersebut dan ekspresinya tak terlihat senang dengan adegan romantis itu. Pemuda dengan kemeja biru langit yang dibalut sweater putih itu menghembuskan nafas berat, matanya memandang pilu, wajahnya penuh dengan raut kecewa dan marah, kakinya hendak berlari keluar menghentikkan adegan tersebut tapi akal sehatnya masih mampu menyadarkan bahwa dia adalah pihak yang tak punya hak apa-apa dalam cerita tersebut.

“Sepertinya kau memang belum pernah tersentuh sedikitpun” Gurau Sehun

Hati Heejin mencelos karena kenyataan yang berkata lain. Tautan tangan, pelukan, bahkan ciuman itu, Baekhyun-lah orang yang selalu menjadi yang pertama.

“Besok akan kujemput jam 7”

“Hah? Jam 7? Kita mau apa?”

“Kencan, kau sudah menolakku sekali jadi aku tidak menerima penolakan lagi. Sekarang masuklah dan tidur sebelum aku menciummu lagi”

“Ba..Baiklah. Hati-hati dijalan”

Kaki itu akhirnya melangkah bersamaan dengan deru knalpot yang mulai menghilang. Langkah memburu itu akhirnya bertemu dengan sepasang kaki lain yang melangkah gontai, mata mereka saling bertemu pandang hingga salah satunya memilih membuang pandangan kearah lain membangun atmospir kikuk disana.

“Aku naik keatas dulu” Heejin memilih menghindar lalu membungkukkan badan sopan

“Kau darimana?” Tanya Baekhyun tepat saat Heejin menginjak anak tangga ke-4 menuju kamarnya

“Aku pergi bersama Seh—“

“Jangan pergi bersamanya lagi” Baekhyun membalikkan tubuh memandang Heejin yang berdiri memunggunginya

“Jangan pergi bersamanya atau bersama laki-laki manapun”

“Oppa…”

“Aku merasa sesak melihatnya, aku tidak suka melihatnya, aku benci melihatnya”

“Oppa…”

“Bukankah dulu kau bilang kau akan selalu ada untukku, hanya untukku, apa kau lupa janjimu?”

“Yang kumaksud bukan seperti yang kau bayangkan”

“Sudah terlambat Byun Heejin, aku sudah terlanjur salah mengartikan”

Heejin mengepal tangan erat, entah kenapa dia merasa sedih melihat ekspresi serta cara Baekhyun berbicara serta tatapan yang dilemparkan Baekhyun padanya.

“Ini salahmu, aku sudah mencoba menjauhkanmu agar perasaan ini tidak tumbuh subur lalu apa? Kau kembali kesini sebelum aku sempat menjauh dan melarikan diri. Bukankah dulu kukatakan agar jauh-jauh dariku? Kenapa kau kembali? Kenapa kau kembali dan membuatku seperti ini Byun Heejin?”

“Oppa jangan begini, kau tahu semua ini salah. Aku ini adik—“

“Kau bukan adikku! Bukan! Kenapa kau tidak menanyakan pada Ayah tentang kenapa dia meninggalkan Ibuku dan menikahi Ibumu? Kenapa tidak kau tanyakan agar kau berhenti mengatakan kita adalah saudara!”

“Oppa, kenapa kau jadi seperti ini?”

“Menurutmu kenapa?”

“Aku tidak mau membahas hal ini, aku naik duluan”

“Kau benar-benar tidak penasaran dengan yang kukatakan tadi? Apa kau pikir kita benar-benar mempunyai Ayah yang sama?”

Heejin menatap Baekhyun, laki-laki itu tidak terlihat seperti sedang bergurau. Wajah dan tatapan seriusnya bahkan seperti sanggup melubangi apa saja yang ditatapnya.

“Kita…bukanlah saudara Byun Heejin”

To be continue…

Terima kasih buat readers yang selalu setia membaca kelanjutan FF aneh ini dan terima kasih banyak yang selalu rajin memberikan komentar. Tolong jangan bosan-bosan karena ini masih panjang (?) xD. Well see ya in the next chap =))

Iklan

41 pemikiran pada “Thorn of Love (Chapter 4) (Autumn Desire)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s