Phobia (Chapter 9)

Title: Phobia (Chapter 9)

Author: Kim Ria

Genre: Romance(?),School life,Friendship

 Length: Multi Chapter

Ratting: 13+

Main Cast: Jung Ga In | Woon Jin Ah | EXO (K&M)

new-picture-24

 

Gain menatap dirinya di cermin. Ia tersenyum sebagai sentuhan akhir kesempurnaan penampilannya. Gain melihat ke arah kalender yang tertempel rapih di dinding kamarnya. Dan hari ini adalah hari besar sahabat terbaiknya, ya ulang tahun JinA. Gain menatap koak kecil yang akan menjadi hadiah untuk JinA dengan senang.Ia membuka pintu kamarnya dan berlari keluar.

–***–

(Rumah JinA)

Bagaimana?Bagaimana?Apa Gain ingat dengan hari ulang tahunku yang akan datang besok? Jika ingat.. Bagaimana aku menanggapinya?? Jika lupa…Itu tidak mungkin.. Ahh..

“JinA. Kau bukan anak kecil. Jangan pernah memainkan makanan!” ucap ibu tegas. JinA hanya memandang ibunya menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya.

“Aku sudah kenyang, aku berangkat dulu

eomma.. Appa..” pamit JinA sambil menngendong tasnya.

“Ya~ Nanti kau akan ikut pertandingan tenniskan? Apa tidak apa kau hanya makan 3 suap?” tanya ibu cemas.

“Tenang eomma, aku akan segera sarapan nanti.” jawab JinA sambil tersenyum.JinA kembali melangkahkan kakinya, ibu dan ayah JinA saling berpandangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

JinA langsung masuk ke mobil pribadinya tanpa suara dan membuat sopirnya terkejut dengan kedatangannya.

“Aigoo, nona. Kenapa tidak bilang jika berangkat sepagi ini?” tanya sopir JinA sambil menyalakan mesin. JinA hanya diam tidak menjawab pertanyaan sopirnya, ia bertopang dagu dan melihat ke luar jendela. “Hhhh… Apa nona sedang ada masalah dengan nyonya dan tuan Woon?” tanya sopir JinA sambil fokus mengemudi.

“Ani.”jawab JinA datar. Eiii, aku harus cari cara untuk menghindar Gain? Hhhh…Luhan, apa kau sejahat itu?Aggghhh….JinA mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa masalah sepele ini bisa berat sekali eoh?! Yaiisshhh… batin JinA. Sopirnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak majikannya ini.

–***–

(Hwangdoong High School)

Gain berjalan memasuki halaman sekolah dengan begitu bersemangat.Ia bernyanyi-nyanyi kecil.Menyanyikan bagaimana senangnya karena besok ulang tahun kakak tercintanya, ya cukup kekanak-kanakan.

“Annyeonghaseyo Gain! Kau sepertinya semangat sekali?” tiba-tiba Luhan datang dan menyapa hangat Gain.Gain berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Luhan, ia menyengir kuda.

“Hihi.. Annyeonghaseyo Luhan… Aku memang selalu bersemangat.. Hihihi..” jawab Gain. Luhan tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Gain dengan gemas.

“Ya, nanti pertandingan sepak bolanya di ulang kembali dengan kelas 12. Kau mau lihat lagikan?” tanya Luhan. Gain terdiam lalu menjawab pertanyaan dengan mengangkat bahunya.

Tap..Tap..Tap..Tap..Tap..

Derap langkah yang begitu keras dan cepat melewati Gain dan Luhan membuat ada angin sejuk mengenai wajah mereka. Gain membelakkan matanya dan mulutnya agak terbuka ia menunjuk orang yang baru saja melewatinya. Tanpa berkata Gain segera berlari menyusulnya tanpa mengatakan ‘aku pergi dulu’ dengan Luhan.

Luhan hanya menatap Gain pergi menyusul dengan JinA dengan canggung.Entah kenapa saat melihat mereka dan salah satu mereka menghindar, membuat Luhan jadi merasa bersalah dengan JinA karena telah mengancamnya.Tapi, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur bukan? Dan kalimat kasar itu, keluar bagitu saja.Karena saat itu, ia benar-benar marah dan tak bisa mengontrol emosinya saat itu.

–***–

Gain terus berlari menyamakan langkahnya dengan JinA.Dan saat jaraknya sudah sangat dekat, Gain menggapai tangan kanan JinA dan menggenggamnya dengan kasar.

“Haahh..Haah… Eonni, kenapa kau…Haaah..Akhir-akhir ini menghindar dariku?..Haah..Haah… Apa aku berbuat salah padamu?…Haah…” tanya Gain sambil mengatur nafasnya. JinA hanya diam dan tidak berbalik badan, ia sama sekali tidak ada niat untuk menatap mata Gain. “Eonni…” Gain kini memanggilnya lembut. JinA menunduk, ia melepas genggaman Gain dengan kasar. Ia berbalik badan dan mencoba memberikan tatapan tak suka dengan Gain, lalu pergi meninggalkan Gain. Gain hanya menatap JinA dengan bingung. “Wae? Apa salahku?”

JinA menghentikan langkahnya, ia berbalik memastikan jika Gain tak mengikutinya. JinA bersandar di dinding dan memegangi lututnya sambil mengatur nafasnya yang tak teratur.Perlahan ia jatuh terduduk. Tak lama kemudian ada uluran tangan di depannya.

“Kenapa masih disini JinA? Pertandingan tennis 25 menit lagi.” Tanya Suho sambil membantu JinA berdiri. “Kau tak apa? Kau terlihat lelah.Habis berlari?” tanya Suho lagi.

“Mm, ne. Aku habis berlari. Tennis 25 menit lagi yah? Oke, aku akan segera ke sana. Gomawo Suho.” ucap JinA sambil membersihkan roknya dan kembali berlari ke kamar mandi untuk menggangti pakaiannya.

–***–

Gain membaca buku di bawah pohon yang ada di dekat lapangan tennis. Buku yang kemarin belum sempat ia selesaikan. Dan sesekali ia menyeruput susu kotaknya.

“Huaah.. Bosan..” ucap Gain sambil merebahkan tubuhnya ke atas rerumputan hijau itu. Ia mencoba menikmati setiap angin yang melewatinya dan sinar matahari hangat. Benar-benar seperti ada di surga dunia. Ketenangan itu seketika lenyap saat mc yang ada di pertandingan tennis menyebutkan nama peserta pertama.

“Ini dia pemain yeoja kebanggaan kelas 11…. Woon JinAh!!!!” Gain langsung bangkit dan memasukkan bukunya ke dalam tasnya. Secepat mungkin Gain beralri ke arah lapangan tennis untuk menonton JinA bertanding, dan memberi semangat. Siapa tahu, jika ia melakukan itu JinA akan memaafkannya dan berubah menjadi JinA yang dulu lagi.

Gain duduk dan berdesak-desakkan dengan penonton yang lain, demi bisa melihat JinA lebih dekat. Dan tentu saja Gian mendapat omelan panjang karena menyerobot tempat duduknya. Tapi, ia mengacuhkannya dan tersenyum lebar saat melihat JinA bertanding.Dan saking semangatnya, sampai-sampai ia

“JINA EONNIE!!! SEMANGAT NE!!!KAU PASTI MENANG!!!!” Gain berteriak keras dan membuat JinA menoleh sesaat ke arahnya lalu kembali fokus pada pertandingannya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak tersenyum kepada Gain.

“Haaah…Haahh..” JinA mengatur nafasnya, jantungnya berdetak sangat cepat dan rasanya seperti ingin lepas. Perutnya juga terasa sangat sakit, dan pandangannya mulai rabun.”Aigoo.. Kenapa kepalaku pusi…”

Belum sempat menangkis bola dan menyelesaikan kalimatnya, ia sudah jatuh. Dan membuat semua yang ada di lapangan tennis bingung dan berlari berhamburan ke arah JinA. Termasuk Gain, ia yang paling khawatir saat itu. Gain dengan lembut meletakkan kepala JnA di pangkuannya dan menepuk-nepuk pipi JinA.

“Ayo bangun JinA eonni… Bangun,bangun,bangun…Hiks.. Eonni, bangun..” ucap Gain sambil terisak.

“Sebaiknya bawa saja ke ruang kesehatan. Biar aku bantu!” kata seseorang yeoja ke arah Gain. Gain mengangguk sambil mengusap air matanya. Yeoja itu mengajak 3 temannya dan mengisyaratkan untuk membantu Gain membawa JinA ke ruang kesehatan.Eonni, kenapa eonni bisa pingsan seperti ini? pikir Gain.

–***–

(Ruang Kesehatan)

Gain duduk di samping ranjang JinA. Gain menatap JinA dengan cemas, air matanya juga masih keluar. Gain melihat ke arah jam tangannya. Sudah 20 menit Gain duduk di sini, dan 20 menit lebih JinA masih belum sadar. Gain menatap JinA dengan cemas, tangannya mencoba meraih wajah JinA dan mengusapnya lembut.

Ada keajaiban atau memang sebuah kebetulan, saat Gain menyentuhkan jari-jarinya ke pipi JinA, mata JinA mulai bergerak. Gain langsung menarik tangannya dan mengusap air matanya yang sempat jatuh karena cemas dengan JinA yang tak kunjung bangun.

“HH..Uhh… …Eo?” JinA begitu terejut mendapat Gain ada di sampingnya, ia langsung bangkit dan menjaga jarak dengan Gain. Bagaimana ini???? JinA terdiam menatap Gain yang tengah memasang senyum tulusnya itu.Ia berpikir keras agar Gain bisa pergi dan tidak perlu menunggunya, apalagi jika hal ini dilihat Luhan itu adalah hal sangat buruk baginya.

“…Kkkau!!!Kumohon..PERGI DARI SINI!!! Akk..AKU TAK INGIN MELIHATMU!! PERGI GAIN!! JANGAN TEMUI AKU!!” Seru JinA sambil mendorong pelan tubuh Gain, JinA mencoba menahan air matanya.Gain yang tak percaya dengan perlakuan JinA itu hanya bisa mematung menatap JinA dengan sangat kesal.Karena usahanya selama JinA di ruang kesehatan tak di sambut dengan baik.Dan tatapan kesal itu runtuh saat air matanya mulai berlinang.

Keadaan ruangan yang sepi, dan hanya berisi 2 orang yang saling bertatap.Dan bukan tatapan romantis atau apa, tapi kesal. Itu yang dirasakan Gain, sedangkan JinA. Ia memang menatap Gain dengan kesal namun hatinya benar-benar runtuh dan remuk karena telah mengatakan yang harusnya tak ia katakan.

“Dengar aku eonni!..Hiks..Akkh..Aku tak mengerti..Hiks..Denganmu yang sekarang!..Hiks..Hiks..Kau benar-benar jahat!!Hiks..Hiks..Jika kau ingin aku tak kembali padamu,..Aku tak akan menolaknya..Hiks..Hiks..Kau sudah keterlaluan..Hiks..Kau sudah cukup menyiksa tubuhku saat di depan rumahmu dan hatiku sekarang…AKU BENCI!!”

Gain melempar kadonya yang susah payah ia buat untuk JinA dengan kasar ke arah JinA. Gain mengatur nafasnya dan masih menatap JinA lalu berlari keluar dari ruang kesehatan sambil menangis.

JinA mengalihkan pandangannya ke kotak berwarna coklat tua dengan pita berwarna pink.2 warna kesukaannya.Tangannya bergerak meraih kotak itu, dan membuka pitanya terlebih dahulu dan membuka kotaknya. Di dalamnya ada seuntai kalung perak dengan bandul berbentuk hati dan di bandul itu terukir tulisan ‘LOVE’ , dan di baliknya ‘JG’ yang artinya ‘Jung Gain’.JinA tersenyum kecil menatap kalung itu. Lalu masih ada lagi isinya, kumpulan foto dirinya dan Gain. Foto saat pertama kali JinA berkunjung ke rumah Gain dan tepatnya saat di rumah kaca itu.Dimana awal ia menjadi seorang eonni dari Gain.

JinA memperhatikan satu per satu foto itu sambil tersenyum dengan menggigit bibirnya karena menahan tangisnya.Ia perhatikan foto itu sambil mengusap-usap foto itu di bagian Gain.Air matanya yang mulai turun dengan deras membasahi foto itu.Membasahi gambar Gain yang tengah tersenyum manis.

Dan JinA membulatkan matanya saat ada kertas putih di bagian paling bawah. Saat di balik, ternyata ada tulisan yang tertera di sana, sebuah kartu ucapan.

#Happy JinA Day ^^

Aku memberikan ini agar eonni senang dan tak melupakanku… Akhir-akhir ini kau menghindariku, tapi aku percaya jika masih ada kesempatan makanya aku memberikanmu ini. Semoga sehat selalu,aku sayang padamu eonni… Tolong jangan hindaru aku lagi.. :’) #Gain

Walaupun itu bukan foto, JinA masih tidak bisa menahan tangisnya saat membacanya. Hatinya kini seperti rusak tak tahu apa yang ia rasakan, diantara bahagia dan senang karena Gain masih mau mengingatnya namun rasa kecewa dan khawatirnya lebih besar karena ia bertengkar dengan Gain. Dan Gain menangis karena ia membentaknya.JinA menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggenggam surat itu yang telah basah dengan air matanya itu.JinA terus menangis, ia kini merasakan dirinya sebagai hamba tuhan yang sangat kotor.

–***–

Gain berlari keluar dari ruang kesehatan sambil menutupi wajahnya yang tengah menangis.Dan tentu saja ia berlari sambil menabrak orang-orang yang ia lewati, sampai ia menabrak,

BUUK!!

Gain mengangkat wajahnya dengan takut-takut. Gain membulatkan matanya saat ia melihat Sehun, tak terkecuali Sehun. Ia juga tak kalah terkejut saat mendapati yeoja yang menabraknya sambil menangis adalah Gain.

“Ada apa? Kenap…” belum selesai bertanya, Gain kembali menangis lebih kencang.Melihat siswa lain yang memperhatikan mereka dengan heran.Sehun langsung merangkul Gain lalu mengajaknya pergi dari sini, ketempat lebih sepi agar mereka tidak di perhatikan lagi.

–***–

(Taman belakang sekolah)

Gain masih menutup wajahnya yang air matanya tak kunjung berhenti.Sehun menatap Gain lalu menghembuskan nafasnya panjang. Sehun memegang bahu Gain dan memutarkan posisi duduk Gain agar bisa berhadapan dengannya. Lalu ia menurunkan tangan Gain yang menutupi wajahnya sendiri.

“Ya,ya,ya.. Kau hentikan tangisanmu itu eo? Aku tak suka melihat yeoja cengeng.Kau harus ikuti kata-kataku. Kau bilang, jika aku ini oppamu.Jadi, turuti apa kataku.” Ucap Sehun sambil memegang dagu Gain dan ibu jarinya mengusap air mata Gain.Gain mengangkat wajahnya dan menatap Sehun.”Uljima..” ucap Sehun sambil tersenyum. Pipi Gain merona sesaat, saat Sehun tersenyum sangat manis. Dan berhasil membuat hatinya lebih tenang.

Gain menyingkirkan tangan Sehun dan mengusap sendiri air matanya. Lalu ia tersenyum semanis mungkin ke arah Sehun walaupun matanya sembab.Sehun tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Gain.Gain tertawa kecil dan tawanya diikuti Sehun yang ikut tertawa.

Tap..Tap..Tap..

“Hahaha….” Mendengar suara tawa, Baekhyun menghentikan langkahnya dan mencoba melihat siapa yang tertawa. Baekhyun mendelikkan matanya, karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Hatinya kini digambarkan seperti bangunan kokoh berlantai 10 yang tiba-tiba saja runtuh menjadi kepingan-kepingan saja. Dia patah hati.

“Sudah kuduga, pasti mereka pacaran..” gumam Baekhyun. Baekhyun menundukkan pandangannya dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia kembali melnagkahkan kakinya dengan lebih keras.

–***–

“Nah, jika kau tersenyum itu lebih baik….Sekarang ceritakan padaku kenapa kau menangis.” Pinta Sehun. Gain langsung menggulung rapat senyuman lebarnya tadi, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku tak mau mengingatnya lagi, yang jelas aku benci dengan JinA eonni.” jawab Gain sambil mengalihkan pandangannya dari Sehun kearah lain.Sehun mengernyitkan dahinya. Kini muncul tanda tanya yang sangat besar di kepalanya, ada apa diantara mereka? Kenapa Gain begitu kesal? Sebenarnya masalah mereka itu apa ? Pikir Sehun.

–**–

Baekhyun berjalan dengan langkah yang besar, dirinya sangat kesal saat melihat Gain bisa dekat dengan namja lain yang sebelumnya Gain tak mengenalnya sebelum dirinya.Jika ia namjachingunya, pasti ia akan menghampirinya dan menghajar Sehun. Tapi apa daya? Dia hanya sebatas teman yang mencintai Gain dan sama sekali tak terbalas perasaannya.Baekhyun menghentikan langkahnya dan mengangkat kepalanya menatap langit biru yang indah. Semilir angin mulai menemani kesendiriannya.

“Hhh.. Jika ada harapan, jika memang Gain bukan mimpiku yang terwujud..Bisakah kau melakukan sesuatu untukku untuk meghapus semua rasa sakit ini?” gumam Baekhyun.Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar ada langkahan kaki.Ia mendapati yeoja tengah memegang kotak coklat dengan pita pink dan berjalan menunduk.Ia berjalan sangat pelan sekali, rambutnya juga berantakan.”Mwo? Bukankah itu JinA?”

Baekhyun langsung menghampirinya saat melihat keadaannya yang begitu jauh dari biasanya yang ia lihat. Baekhyun berdehem agar JinA mau menoleh dan berhenti melangkah.Dan benar saja, JinA menghentikan langkahnya dan mengangkat kepalanya.Ia menatap Baekhyun datar.

Kini mereka hanya saling menatap tanpa ada yang berkata, karena sudah tidak tahan dengan keadaan itu.JinA memilih kembali melangkahkan kakinya.Melihat JinA yang melangkah pergi, secara refleks ia mencekal tangan JinA. Memang JinA menghentikan langkahnya, tapi ia sama sekali tak membalikkan tubuhnya untuk menatap Baekhyun.

“Tunggu, aku ingin bertanya sesuatu padamu..” kata Baekhyun sambil melonggarkan genggamannya.

“Apa?” tanya JinA dingin.

“Kau.. Bersikap aneh, apa kau seperti ini ada sesuatu dengan Gain? Saat tempo hari, aku terakhir kali berbicara denganmu. Kau juga menghindar.. Ada apa?” tanya Baekhyun.

DEG!

JinA kini tengah tercengang dengan pertanyaan Baekhyun.Bagaimana ia bisa bertanya seperti itu?? Pikirnya. Sedangkan Baekhyun masih setia menunggu jawaban JinA. Tidak ambil pusing masalah ini, JinA menjawab pertanyaan Baekhyun dengan singkat.

“Ne, aku ada masalah dengannya..Tolong jangan bahas lagi.” jawab JinA sambil melangkah pergi meninggalkan Baekhyun. Baekhyun menatap JinA heran, kini ia semakin penasaran dengan masalah JinA. Ia berpikir jika mereka bertengkar merebutkan Sehun? Tapi sepertinya itu sangat mustahil.Lalu apa?

–***–

JinA memegang kepala dan menjambak rambutnya. Kini kepalanya telah penuh dengan pikiran yang sama dari sebelumnya. Dan serasa akan meledak saat Baekhyun mulai masuk dalam pikirannya saat ini.Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana aku melewati semuanya eo?!!Ugh! batin JinA.

Duk!Duk!Duk!

Suara bola basket tengah di dribble.JinA menoleh untuk siapa yang tengah memainkan bola basket.Luhan, ia tengah bermain basket sendirian.JinA menatap namja itu dengan tatapan tajam, tatapan seperti ingin membunuh.Tanpa ada rasa ragu maupun takut untuk menghadapinya, yang ada kini hanya emosi saja yang mengisi hatinya saat melihat Luhan. Dengan langkah besar, JinA berjalan mendatangi Luhan.

“Luhan!!” panggil JinA setengah berteriak.Luhan yang akan men-shoot bola basketnya langsung menjatuhkan bola basketnya dan berbalik badan.

“Wae? Apa yang kau mau?” tanya Luhan dingin sambil terus memainkan bola basketnya. JinA mendelikkan matanya karena tidak di sambut baik oleh Luhan. Ia mengepalkan tangan kirinya dengan kuat.

“..Ya!!!! Dengarkan aku Luhan!!! Kau itu namja terjahat yang pernah kutemui!!!! Kau membuat hidupku sangat hancur sekarang!!!..Hiks..Hiks…Tak bisakah kau memutuskan ancamanmu ini?…Hiks..Hiks..Hiks..Kau sangat egois!!!” teriak JinA sambil melempar kotak hadiahnya ke arah Luhan. “Hiks..Hiks..Hiks..Hiks…Kau tahu?..Kini aku dan Gain benar0benar tak akan bertemu seperti yang kau inginkan…Hiks..Dia benar-benar pergi dariku..Hiks..Hiks..Dan yang terburuk, suasana ini tak seperti yang kau inginkan… Hiks..Hiks..Kau inginkan aku tak bersama Gain agar kau bisa bersama Gain…Tapi sekarang,” JinA menggantungkan kalimatnya dan membuat Luhan terbawa suasana JinA yang kini amat sedih sekaligus penasaran dengan pernyataan JinA selanjutnya.

“Hiks..Gain itu lebih memilih namja lain….Hiks..Hiks..dan dia,”

“Sehun.Aku tahu itu..Jangan bilang jika aku tak pernah memperhatikannya…Aku gagal aku tahu itu.”celutuk Luhan. JinA mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan amat kesal. Ia mendekati Luhan dan memukul-mukul keras dadanya.

“Ya!! Kenapa..Hiks..Hiks..Kau tak bilang sebelumnya?? …Hiks..Hiks..Hiks…Kau..Benar-benar.. Nappeun!! Hiks..Hiks..Kau tak memikirkan perasaanku..Hiks..Hiks..” kata JinA sambil berhenti memukuli Luhan dan menutup wajahnya karena menangis.Dasar bodoh..Jika ia bilang, aku tak perlu mengusirnyakan??? Jika terlanjur..Aku harus bagaimana?? Pikir JinA.

Luhan menjadi tidak enak melihat JinA menangis seperti ini.Apalagi ia menangis karena kesalahannya sendiri.Luhan mencoba memikirkan kembali perkataan JinA tadi, Tak akan..Melihat lagi?Ia bermusuhan karena aku mengancam itu? Kukira JinA tak akan memikirkan hal ini…Tapi kenapa begini?Dan Gain…Akan bersama Sehun?…Ya tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?? Batin Luhan. Luhan mengalihkan pandangannya ke arah kotak itu.

Ia menundukkan tubuhnya dan meraih kotak itu. Dan membuka untuk melihat isinya. Sebuah kalung, kumpulan foto dan sepucuk surat. Luhan membulatkan matanya saat membaca isi surat itu, apalagi di salah satu kalimat di surat itu tintanya telah luntur dan sedikit basah. Mwo? Apa dia menangis saat membaca ini? Luhan kembali menatap JinA.Entah ada rasa apa di hatinya, tapi tubuhnya bergerak sendiri untuk mendekap JinA. Luhan memeluk lebuh JinA sambil mengusap-uspa rambutnya.Tepat saat Luhan melakukan itu, rasanya sangat berbeda saat ia bersama dengan Gain.

Jika ia mencoba dekat dengan Gain, jantungnya memang berdegup cepat dan ada kesenangan tersendiri saat melihat wajahnya dan memikirkan sejuta kelebihannya. Tapi sekarang, jantungnya seperti ingin copot dan hatinya meleleh saat mendekap JinA seperti ini.Ada rasa ingin melindungi sekarang ,tidak seperti sebelumnya.Apa ini yang namanya jatuh cinta? Lalu Gain..? Apa benar aku hanya mengaguminya saja?? Pikir Luhan karena bingung dengan perasaannya sendiri.

Eo? Kenapa ia memelukku? Apa yang ia pikirkan?? Pikir JinA. JinA juga tak mengerti kenapa di dalam hatinya dan tubuhnya seperti tak bisa bergerak saat di dalam dekapan Luhan, dan ia sama sekali tak memberontak.Hm? Waeyo?

Luhan melonggarkan dekapannya dan menarik nafas panjang.

“Mmm.. JinA, aku..M..Mianhae, jika saja aku membalas semua perbuatanku ini dengan membantumu untuk mengembalikkan hubunganmu dengan Gain..? Apa kau menerima permintaan maafku?”tanya Luhan.JinA mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya.

“Ne, kau..Hiks..Harus membayar semuanya..Hiks..Berjanjilah kepadaku..Hiks..Hiks..Dan jika kau berubah pikiran..Hiks..Hiks..Kau harus cepat-cepat mengatakannya..Hiks..Aku tak mau kejadian ini terulang lagi…” kata JinA sambil menunjukkan jari kelingkingnya.Luhan mengangguk smabil tersenyum, ia mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking JinA sambil tersenyum lebar dan menunjukkan deretan giginya. JinA terkejut saat mendapat senyuman seperti itu dari Luhan, ia akui jika Luhan memang tampan. JinA membalas senyuman Luhan.

Angin semilir yang melewati mereka seolah menjadi peluit dimulainya pertemanan baik diantara mereka.Pertanda akan adanya pelangi yang akan muncul di hati mereka masing-masing.

 

–***–

***Next(?)

[[Buat para readers, Minta bantuannya buat ngasih kritik sama saran,. Hehehe^^ maaf kalo banyak typo di sini.. Dan ceritanya makin gak jelas.. Hehehe, #peace! (‘-‘v 😀 ]]

 

Nb: Mungkin reader nggak ngeh dan agak aneh ya waktu baca, kenapa jalan ceritanya jadi gini? Saya butuh sekali komentar kalian… Karena ini membantu untuk tahu apakah para readers ini suka atau tidak dengan ff pertama saya ini…Jika komentar sedikit, saya gak mau lanjut…. Gomawo.. J

 

‘GOMAWOYO, buat komentar kalian yang suka couple GaHun 😀 😀 Hehehe…

Dan buat para readers yang setia nungguin…. Saya ucapankan.. JEONGMAL GOMAWO! TT^TT karena disini saya juga menunggu komentar para readers dan munculnya ff ini di blog exoff super keren ini, B) 

17 pemikiran pada “Phobia (Chapter 9)

  1. T,T Aku ikut nangis pas baca pertengkarannya JinA sama Gain… aaa GaHun!!! ><
    Luhan.. aku bingung sama kamu 😐
    Next thorr, agak cepet yaa hwehehe :3

  2. kyaaa !! jjinjja daebak jjang (y) woaahh.. Gain udah sama Sehun, JinA sama Luhan, trus Baek sama siapa dong ? nan molla… doain yg terbaik aja deh (?) Kkkk~ ^_^
    okehh, lanjut.. aku suka banget LuJin couple disini..
    lanjut ya chingguu~ Keep Writing and Fighting ! q^_^p

Tinggalkan Balasan ke Astylulu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s