Happy Birthday to Us

tumblr_mki03sNRsK1s2aqg9o1_4001

Title                 :           Happy Birthday to Us

 

Cast                  :           Kim Jongin

                                    Do Kyungsoo

 

Author                         :           @abel_laniel

 

Rating              :           General

 

Genre               :           Life, Brothership

 

Length             :           Oneshot

 

Disclaimer        :           They’re not mine but the story is real from my imagination~and DO NOT PLAGIARIZE. Hargai hasil karya orang lain.

 

Summary          :          Jongin memang tak seberuntung Sehun. Ia tak sekeren Tao ataupun sehebat Jongdae.

 

Baginya, ia adalah definisi dari kata biasa.

A/N      :           Halo, ini pertama kalinya saya kirim ff di sini, jadi mohon kritik dan sarannya. m(_ _)m

FF ini juga pernah di publish di www.yourtinkerbell.wordpress.com ~

 

Happy Reading 🙂

 

 

***********

 

“Ya, Jongin! Apa kau bermain bola lagi?”

“Memang kenapa?”

“Apa kau tahu betapa susahnya mencuci sepatumu?!”

Dan dengan itu ceramah pagi dari Kyungsoo resmi dimulai.

Seperti biasa, Jongin hanya memutar bola matanya bosan. Ia masih tetap fokus pada komik yang dibacanya, tak ambil pusing dengan suara Kyungsoo yang menggema sampai ke seluruh penjuru rumah.

Inilah kehidupan mereka. Setiap hari terisi oleh pertengkaran konyol yang menjengkelkan. Biasanya Kyungsoo tak akan berhenti mengoceh sampai Jongin mau menggerakkan tubuh malasnya dan membantu pekerjaan rumah yang tak bisa ia tangani, seperti memperbaiki keran air misalnya. Dan Jongin selalu duduk santai di ruang tamu, membaca komik sampai tertidur

Pernah terbesit dalam pikiran Jongin sebuah pertanyaan yang, Well, sedikit keterlaluan.

 

Mengapa kehidupannya seperti ini?

Jongin bukanlah anak orang kaya seperti Oh Sehun, teman sekelasnya yang gemar berganti warna rambut. Ia tak seatletis Zitao, sang ketua klub bela diri yang memiliki kantung mata setebal panda. Ia juga tak memiliki suara setinggi dan semerdu Jongdae, murid kebanggaan tim paduan suara yang sangat senang memberi makan bebek di kebun belakang sekolah.

Dan sebodoh kedengarannya, Jongin ingin menjadi mereka. Ia tak ingin menjadi anak yang dikenal dengan tinta merah berbentuk angka 30 di lembar ulangan matematikanya. Ia tak ingin dikenal sebagai anak yang tak pernah mengganti tasnya sejak kelas 5 SD.

Dan yang lebih penting, ia tak ingin menjadi Jongin yang malang. Yang selalu dianggap kecil.

Seperti hari ini, contohnya. Ia berdiri di depan gedung sekolah sambil menyandarkan bahunya pada salah satu tiang penyangga. Dengan jengkel Jongin menatap ujung sepatu kets putih yang ia kenakan.

Awan hitam masih menurunkan rintik hujan saat ia melihat sebuah mobil Porche berwarna hitam memasuki halaman parkir sekolah. Dan tanpa berfikir 2 kali pun Jongin tahu itu adalah mobil Junmyeon, kakak Sehun yang namanya selalu tercetak di majalah dengan judul ‘Pebisnis Muda yang Sukses’.

 

Lalu beberapa menit kemudian datang sebuah motor sport berwarna merah mengkilap. Motor itu berhenti sekitar 1 meter dari tempat Jongin berdiri. Itu adalah motor milik Kris, kakak Zitao yang juga atlet basket nasional.

Dan kini Jongin harus menelan rasa irinya bulat-bulat saat melihat Minseok — kakak Jongdae yang menjadi asisten dosen di Seoul University— datang dengan sebuah payung transparan di tangan kiri sementara tangan kanannya terlalu penuh dengan buku tebal.

Laki-laki itu sempat tersenyum sekilas pada Jongin ketika ia melewatinya, memperlihatkan eyesmile yang tersembunyi di balik kacamata ber-frame tebal yang selalu ia kenakan.

Hujan masih belum berhenti dan Jongin masih menatap kosong ke arah beberapa anak yang sudah mengembangkan payungnya, bersiap pulang setelah selama 7 jam lebih memutar otak di sekolah.

Anak laki-laki berkulit Tan itu kesal. Ia hanya ingin pulang dan membaca komik One Piece volume 238 yang sudah ia baca beribu-ribu kali hingga tertidur di sofa ruang tamu yang keras.

Jongin baru saja akan berjalan menembus hujan saat sebuah roda sepeda berhenti tepat di depan sepatunya. Ia melihat ke atas dan mendapati Kyungsoo — dengan rambut dan seragam putih yang basah — menatap jengkel ke arahnya.

“Kenapa hyung ada di sini?”

Ingin rasanya Kyungsoo memukul Jongin dengan payung yang ia bawa mengingat betapa kurang ajar pertanyaan adiknya itu. Namun karena Kyungsoo sedang diburu waktu, ia hanya mendengus kesal.

“Kau melupakan payung lipatmu di meja makan dan kebetulan aku harus berbelanja beberapa bahan makanan di supermarket. Saat aku pulang, aku melihatmu sedang berdiri di sini, menggigil seperti kucing yang kedinginan. Sekarang bisakah kita pulang agar aku tak bernasib sama denganmu?”

Jongin mengangguk malas. Namun sedetik kemudian keningnya berkerut.

Kyungsoo memakai sepeda berwarna merah muda yang cat-nya sudah sedikit mengelupas. Lalu di keranjang depan ada sebuah kertas belanja besar. Beberapa selada segar yang terbungkus plastik transparan menyembul dari dalam.

Itu adalah sepeda lamanya. Sepeda yang mereka beli dari hasil tabungan saat mereka baru pertama kali pindah ke Seoul. Orang tua mereka hanyalah petani Jagung yang lahannya bahkan tak bisa dijadikan area untuk bermain petak umpet. Mereka harus berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Bahkan hingga mereka sampai di titik terberat sekalipun.

 

*******************************

Jongin mengayuh sepedanya agak kencang sementara di jok belakang Kyungsoo sedang berusaha mati-matian mempertahankan payung merah muda yang sama sekali tak bisa membuat mereka kering. Seragam depan Jongin bahkan sudah melekat di tubuhnya, seolah menyatu dengan kulit.

Salahkan Kyungsoo yang sudah membuatnya seperti ini.

“Kau ingin kita berdua jatuh terbanting?! Tubuhku ini lebih kecil dari tubuhmu jadi kau yang harus membawa sepeda ini!”

Dan mereka berdebat sekitar 10 menit di depan sekolah Jongin dengan seorang satpam yang berdiri di samping pintu gerbang, memperhatikan mereka sambil sesekali menguap lebar.

Kyungsoo menang. Jonginlah yang harus mengalah.

 

****************

 

“Tadi siang Junmyeon hyung yang menjemput, jadi aku tak sempat mengembalikan jaket Sehun.”

“Junmyeon? Pengusaha itu?”

“Iya. Junmyeon hyung menjemput Sehun dengan mobil. Keren sekali.”

“Oh.”

Jongin menempelkan kepalanya ke meja. Ia terus memperhatikan sosok Kyungsoo yang tengah sibuk mencuci piring.

Selalu begini. Kakaknya itu tidak pernah peka.

“Aku akan pulang larut hari ini. Ada seseorang yang memesan 120 cupcake untuk pesta pernikahannya besok. Jangan lupa kunci pintunya dan belajar sebelum tidur.” Ujar Kyungsoo sambil berjalan ke ruang tamu, mengambil sepasang sepatu di rak dan memakainya dengan cepat.

Namun sebelum membuka pintu, Kyungsoo terdiam sesaat. Membiarkan Jongin melayangkan tatapan bingung ke arah punggungnya.

“Jongin, bisakah kau ke café pukul 10 malam nanti? I-itu … itu jika kau bisa. Ya sudah, aku pergi.”

Dan dengan itu pintu rumah mereka tertutup, meninggalkan Jongin dengan segudang tanda tanya yang berputar di kepalanya.

 

*****************************

 

Tepat pukul 10 malam.

Jongin masih terjaga di kamarnya. Setelah memanaskan otaknya dengan rumus-rumus, anak laki-laki itu berbaring di ranjang. Sebagian dirinya sudah hampir terlelap saat suara Kyungsoo kembali terngiang di kepalanya.

“Jongin, bisakah kau ke café pukul 10 malam nanti?”

 

Awalnya ia ingin bersikap tak peduli, seperti biasanya. Namun entah kenapa ia malah beranjak dari kamarnya, berjalan ke luar dari rumah dan mendapati sepeda merah muda itu tersandar di tembok.

Kyungsoo tak menggunakannya. Mungkin kakak laki-lakinya itu memilih untuk menaiki bus. Atau bisa juga ia dengan bodohnya memilih berjalan sejauh 2 kilometer menuju tempat kerjanya. Jongin tak pernah bisa menebak isi kepala Kyungsoo, dan seharusnya ia tak peduli.

Tapi ketika ia merasa udara dingin bertiup dengan kencang. Jongin tahu satu hal

Ia harus menjemput Kyungsoo dan mengantarkan sweater tebal padanya.

 

 

*********************

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam saat ia sampai di depan café tempat Kyungsoo bekerja. Jongin menyandarkan sepedanya di depan bangunan itu dan melesat masuk ke dalam.

“Jongin!”

Lay menghampirinya. Seperti biasa, meskipun sedang tersenyum lebar wajah laki-laki itu tetap tampak seperti orang yang mengantuk.

“Yo. Lay-hyung.” Jongin membalas sapaan Lay seadanya.

 

“Kyungsoo agak sibuk di dapur. Mungkin ia akan sedikit lama. Kau duduklah dulu.” Ujar Lay sebelum ia kembali membersihkan kaca.

Jongin mengangguk dan mulai menyandarkan tubuhnya pada salah satu bangku di sudut ruangan. Ia menatap kosong ke luar jendela, mengamati para pejalan kaki yang masih tampak hilir-mudik di trotoar yang licin.

Kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantoran yang baru pulang kerja dan beberapa diantaranya adalah pasangan kekasih yang mungkin hanya ingin menghabiskan malam musim dingin berdua.

Betapa menyenangkannya jika ia juga bisa memiliki kehidupan seperti itu. Kehidupan yang terlihat mustahil dibalik hingar-bingar kota yang tak pernah redup

Kyungsoo tidak bekerja di kantor. Kakaknya tidak memakai dasi dan sepatu yang mengkilap. Ia tidak memiliki kendaraan pribadi, kecuali sebuah sepeda berwarna merah muda yang cat-nya bahkan sudah pudar. Alih-alih berkutat dengan komputer dan dokumen presentasi lainnya, Kyungsoo jauh lebih lihai memegang spatula dan mixer.

 

Jongin masih ingat kejadian 1 tahun yang lalu, saat kakaknya memutuskan untuk keluar dari sekolah dan memilih bekerja di café milik orang tua Baekhyun — temannya. Saat itu tabungan mereka habis untuk membayar sewa rumah dan buku pelajaran. Uang yang dikirimkan orang tua mereka juga tak banyak membantu karena saat itu harga Jagung turun drastis.

Kyungsoo, sebagai anak tertua, harus mengambil keputusan yang tepat.

Meski itu harus mengorbankan cita-citanya sendiri.

“Kita sudah kehabisan uang. Nilai-nilaiku juga tidak terlalu bagus. Aku bisa memasak dan kau selalu bilang masakanku sangat enak. Dengan begini tak akan ada yang dirugikan.”

Jongin tahu Kyungsoo berbohong. Nilai-nilainya begitu baik hingga ia hampir mendapatkan beasiswa. Namun keadaan ini begitu mendesak dan tiba-tiba.

Jadi daripada keduanya terhenti di tengah jalan, salah satu diantara mereka memilih mundur dan membiarkan yang lainnya tetap berjalan.

Kehidupan tidak akan pernah habis direnungkan jika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

 

Itu adalah kata-kata Ayahnya yang tertuang dalam surat saat Kyungsoo memberitahukan keputusannya pada orang tua mereka. Tentu saja mereka kecewa.

Namun Jongin tak mengetahuinya.

Ia tak ingin mengetahuinya.

 

Karena jika ia mengerti, maka ia akan menyadari bahwa Kyungsoo lah yang paling dikecewakan oleh pilihannya sendiri.

 

*****************

 

20 menit berlalu dan Jongin masih belum bergeming dari posisinya semula. Berkali-kali Kyungsoo mengintip dari celah kecil di pintu dapur sebelum akhirnya kembali sibuk menatacupcake yang sudah dihias sedemikian rupa.

 

“Sudahlah. Biar aku yang melanjutkan. Kau hampiri Jongin saja dulu. Kasihan anak itu sudah menunggu lama.” Ujar Lay sambil menyodorkan sebuah cupcake pada Kyungsoo.

 

Awalnya Kyungsoo hanya terdiam. Ia merasa malu, gugup dan tak percaya diri. Tapi malam ini ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengatakan apa yang ada di pikirannya selama ini

Jadi dengan sedikit ragu, ia menerima cupcake itu dan berjalan keluar dari dapur.

 

Ya. Ia akan mengatakannya.

 

***************

 

Suara gemericik hujan terdengar begitu samar di telinga Jongin. Pemuda itu sudah hampir terlelap saat sebuah tepukan halus mendarat di pundaknya. Berfikir bahwa mungkin Kyungsoo sudah selesai dengan pekerjaannya, ia terlonjak dan bersiap menyerahkansweater tebal saat sebuah cupcake terjulur ke arahnya

 

Cupcake itu begitu sederhana. Hanya sebuah cupcake cokelat yang terbalut oleh creammerah muda. Yang menarik perhatian Jongin adalah sebuah lilin yang menyala di atasnya.

 

Itu terlihat seperti kue ulang tahun berukuran super-mini.

“Selamat ulang tahun, Jongin-a.”

Jongin terbelalak. Dengan gugup ia berusaha mengingat tanggal hari ini.

14 Januari.

“Aku tahu aku bukan kakak terbaik yang bisa kau harapkan. Aku tidak seperti Junmyeon yang kaya raya. Aku tak setampan Kris atau sepintar Minseok. Aku tak bisa membelikanmu apa saja yang kau inginkan. Aku tak bisa meredam rasa irimu saat semester yang lalu teman-temanmu memakai sepatu baru. Aku selalu mengoceh tentang nilaimu yang sangat buruk— tidak, tidak. Aku mengoceh tentang segala hal.

Meski kau tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu kau ingin aku menjemputmu dengan motor atau mobil seperti Junmyeon dan Kris. Bukan dengan sepeda lusuh yang hampir berakhir di tempat pembuangan sampah 5 bulan lalu. Hei, aku tidak sengaja! Aku berniat menjualnya tapi tidak ada yang mau membeli. Aku begitu frustasi dan melemparnya begitu saja. Itu sungguh diluar kendali.

Dan, ah ya! Kau selalu mengeluh tentang bagaimana tubuhku beraroma bawang goreng setiap kali pulang ke rumah. Padahal aku bersumpah aku tidak hanya memegang bawang selama di dapur, namun entah mengapa hidungmu hanya mencium aroma itu.”

Kyungsoo terdiam sesaat, sadar bahwa ia berbicara sedikit agak melenceng dari topik yang sebenarnya. Ia pun mulai menarik nafas dalam-dalam dan kembali menghembuskannya sebelum angkat bicara,

“Untuk itu, untuk hal apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Aku belum cukup hebat untuk menjadi sosok yang harus kau ikuti. Aku bahkan tak bisa mempersiapkan kue ulang tahun yang semestinya. Tapi aku membutuhkanmu untuk selalu berjalan di sampingku, melewati masa-masa seperti ini sebagai kakak-adik yang kompak sampai suatu hari kita berdua memiliki kehidupan masing-masing.”

Laki-laki itu mengakhiri kalimat terakhirnya dalam satu tarikan nafas. Ia menatap penuh harap pada Jongin, yang kini terlihat begitu kaku tanpa ekspresi.

Mungkinkah Kyungsoo terlalu berlebihan?

“Dengar, aku mengerti jika . . .”

“Maaf.”

Jongin memotong kalimat Kyungsoo dengan suara yang bergetar. Dalam hati ia bersyukur bahwa beberapa lampu café sudah dimatikan sehingga Kyungsoo tak melihat air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Kapan terakhir kali ia menangis di depan kakaknya?

Jongin sendiri tidak ingat.

“Maaf karena aku juga tidak pernah berusaha untuk mengerti. Aku hanya . . . aku hanya takut kecewa. Tapi aku tak bisa selamanya menolak kenyataan dan membebankan semua ini pada pundakmu, hyung. Aku harus menjadi dewasa. Cepat atau lambat. Suka atau tidak suka.”

 

Seulas senyum merekah di bibir Kyungsoo.

“Tapi, hyung, walaupun kupikir kata-katamu sangat bagus, ada satu kalimat yang terdengar salah.” Lanjut Jongin.

 

“Apa?”

Anak laki-laki yang lebih muda itu tertawa pelan. Ia mengangkat kedua tangannya dan menangkup tangan Kyungsoo yang masih memegang cupcake.

 

“Selamat ulang tahun untuk kita, hyung.”

Mata Kyungsoo membulat.

“Kemarin lusa kita tidak sempat merayakannya. Lagipula berbagi kue ulang tahun dengan kakak sendiri juga tidak ada salahnya.”

Kyungsoo tertawa. Matanya yang besar kini membentuk bulan sabit.

Dan Jongin baru sadar bahwa eyesmile Kyungsoo adalah yang terbaik di dunia.

 

Untuk apa ia mengharapkan hal lain yang jelas-jelas mustahil saat apa yang ia butuhkan sudah berada tepat di depan mata?

Mereka mungkin tidak seberuntung orang lain. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki apapun untuk disyukuri. Orang lain boleh saja memiliki semua yang Jongin inginkan.

Tapi Jongin memiliki Kyungsoo. Itu sudah lebih dari cukup.

 

 

END

 

32 pemikiran pada “Happy Birthday to Us

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s