Unexpected You (Chapter 1)

unexpected-you

Judul :  Unexpected You (Chapter 1) | Author  : vanillaritrin | Genre : Romance, Fluff, School-Life, Slice of Life, Angst, AU, Crack | Length : Twoshot | Rating : PG-15 | Main Cast : Lu Han, Yoo Yejung (OC/You) | Support Cast : Cho Kyuhyun, Go Miyeon (OC), Yoo Yeji (OC), and the others | Poster : Diajeng Dea @ diajengdea23.wordpress.com

Background Song (Recommended) :

Apink – Fairytale Love

Disclaimer : The plot is mine so take with full credit if you wanna share it 😀 Murni ideku ditambah inspirasi dari drama favorit keduaku sepanjang masa ‘School 2013’.

Warning : Banyak narasi. Ada sedikit (banget) part yang menunjukkan sesuatu yang agak gitu~ Ngga detail. Cuma sedikit warning aja 😀

Note : Ada yang kangen sama aku?/ Ngga, pergi sana/  Haha mian mian. Buat yang nungguin Camouflage, selingannya ini deh :D. Aku tau rasanya beteee banget nungguin fanfic gantung makanya biar ngga bosen aku kirim twoshot. Kayanya chap 11 Camouflage agak lama nih hehe. Maaf kalau ngga sebagus Camouflage hiks ini nulisnya ngebuuut jadi harap maklum yaa 😀 Special present for Limeu & Linzy sayang @HY_yoorin93, maaf ngga pake nama Yoorin lagi/ udah keseringan/ kkkkk. Semoga mimpimu tentang Lu Han menginspirasiku lagi, Rin. Hehe^^ Disini nanti ada kata ‘dipan’ yeah aku gatau sebutannya apa tapi kalo kalian nonton School 2013 itu tempat Oh Jungho biasa kongkow – kongkow haha ohya kalo misal komennya dikit berarti aku lanjut di wp aku yaa XD Sekalian kemaren ada yang nanya wp aku di Camouflage hehe vanillaritrin.wordpress.com okee don’t forget to RCL! ^^ ❤

 

 

~~~~~

 

 

Seseorang yang terlalu banyak memberi.

Seseorang yang lupa bagaimana rasanya menerima.

Seseorang yang paling banyak menghancurkan diri sendiri.

 

 

~~~~~

 

Seorang gadis dengan papan nama bertuliskan Yoo Yejung menaiki anak tangga dengan setengah hati. Fisik luarnya sangat berketerbalikan dengan keadaan kalut dalam kepalanya. Dia masih tetap tenang tanpa berusaha menunjukkan ekspresi apapun. Sekalipun kepiluan itu sudah menjadi teman baiknya. Sekalipun keterbatasan itu sudah menjadi hal yang lumrah untuknya layaknya mentari yang terbit di timur setiap pagi.

Dia menghela nafas panjang ketika akhirnya satu – satunya akses menuju atap berhasil ditemukan. Dia mendorong pintu besi itu kemudian melesat ke tempat dimana dia biasa menghindar, dimana dia biasa menyembunyikan diri. Seperti menangis di kala hujan atau berjalan di tengah malam. Dia lebih suka seperti itu. Dia lebih suka tak terlihat.

Angin di penghujung musim semi menyapanya begitu dia melangkah. Meniupkan sedikit lara yang membebani pundaknya, membawa aroma khas musim semi bersamanya. Membiarkannya agak terbebas dari tekanan yang biasa hadir menghidupi hari – harinya walau untuk sementara.

Dia merasa begitu damai saat mengarahkan pandangannya ke atas, ke tengah awan yang berarak. Langit biru yang jernih selalu setia menjadi penopang keberadaan benda itu. Bahkan awanpun mempunyai teman untuk berbagi keluh kesah. Jika menangis, tetesannya akan menjadi hujan yang membasahi bumi. Jika bahagia, dengan sukarela dia membiarkan sinar matahari menembusnya.

Dia menyeka air yang tanpa disadari meluncur mulus di pipinya. Terlalu lelah, dia terlalu lelah untuk menangis. Namun, saat dia kembali sendiri seperti ini dia lemah. Dia merasa tak berdaya dan tak ada satupun yang melihatnya dalam kondisi ini. Dia hanya tidak ingin orang lain melihatnya menangis.

Terlalu banyak hal yang dia tangisi. Seakan itu semua belum cukup, beberapa hari lalu sebuah kejadian menambah rentetan masalah yang menimpanya. Kejadian yang membuatnya membulatkan tekad untuk melakukan ini.

 

 

~~~~~

 

 

Hari itu dia pulang dari sekolah setelah senja. Itu bukan merupakan hal yang asing baginya karena dia memang menyengajakan diri untuk pulang agak larut, setelah sang surya terbenam tepatnya. Semua itu bukan dilakukannya tanpa alasan. Dia juga memerintahkan adiknya-Yeji-untuk melakukan hal yang sama. Bukan apa – apa, ini hanya… Untuk kebaikan bersama.

Karena dia sudah tahu-atau mungkin hafal-tentang apa yang akan terjadi sesampainya dia di rumah. Pemandangannya setiap hari tak akan jauh berbeda. Baru beberapa detik melewati pagar, dia mendengar suara ayahnya yang menggeram. Disusul oleh suara barang pecah belah yang beradu dengan lantai. Lalu terdengar suara ibunya yang merintih, memohon maaf, dan memelas agar ayahnya menghentikan semua itu.

Hari itu rumahnya tampak berbeda. Tidak ada sisa beling yang tertinggal, tidak ada suara – suara yang mengganggu tetangga, tidak ada barang – barang yang rusak. Di satu sisi, dia merasa janggal-karena hal itu sudah sangat sering terjadi dan hampir menjadi kebiasaan-namun dia juga merasa lega. Setiap malam dia selalu mendoakan agar ayahnya berubah menjadi lebih baik, memperlakukan seluruh anggota keluarganya dengan baik. Itu saja sudah cukup baginya. Meski di luar itu semua, dia tahu ada tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh ayahnya.

Ibunya bekerja sangat keras. terlalu keras bahkan. Beliau mengambil apapun pekerjaan tambahan yang sekiranya sanggup beliau kerjakan meski hasil yang didapatnya tidak seberapa. Beliau hanya berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dan menopang rumah tangga dari penghasilannya. Namun, beliau selalu memberitahu kedua puterinya bahwa ayah adalah orang yang baik dan mereka tidak boleh membenci ayah mereka. Ayah hanya seseorang yang salah menapaki jalan dan jalan yang dipilihnya adalah jalan buntu yang tak pernah mengenal kata ‘kembali’.

Dia benci melihat ibunya bekerja terlalu keras. Dia benci melihat tangan ibunya yang mulai kasar. Dia benci melihat ayahnya tidak menggerakkan ototnya untuk berusaha lalu dengan kekuasaan yang dimiliki ayahnya memukul ibunya. Dia benci karena tidak bisa melakukan apapun dan hanya dapat memandanginya dari kejauhan seraya membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak pecah.

Hanya beberapa sekelebat ingatan bahagia sewaktu kecil yang dapat dia kenang. Dia dan Yeji hanya berjarak dua tahun, mereka dibawa ke taman bermain bersama ibunya juga. Mereka bermain bianglala sampai bosan. Kemudian beberapa teman ayah menghampiri mereka dan memuji kecantikan Yeji. Semua orang selalu membandingkannya dan adiknya.

Dia tidak keberatan dan memang merasa bahwa itulah faktanya. Yeji memang menawan dan dilahirkan dengan berjuta kelebihan dalam dirinya. Bukan hanya tentang penampilan luar namun bakatnya dalam segala hal benar – benar membuatnya iri. Dia dapat menggambar dengan spektakuler, dia dapat menghafal kosakata bahasa asing di atas rata – rata, dan dia dapat menirukan tarian dalam waktu singkat-yang artinya kemampuan menyerapnya sangat luar biasa.

Sedangkan dia?

Huh, hanya Yoo Yejung yang payah. Yang harus belajar berulang – ulang untuk menggambar, menghafal kosakata, dan menari. Semua yang dia inginkan ada dalam diri Yeji. Dia tidak memungkiri kenyataan bahwa adiknya dianugerahi banyak sekali kelebihan. Di saat yang sama dia juga tidak jarang menertawai nasibnya.

Ibunya selalu mengingatkannya untuk bersyukur kala dia mengungkapkan isi hatinya tentang Yeji. Benar, dia bersyukur. Dia sangat bersyukur. Bahkan terlahir di keluarga seperti ini, punya ayah, ibu, dan seorang adik perempuan seperti ini diapun bersyukur.

Dia masih ingat bagaimana ayahnya selalu memuji Yeji, mengagumi Yeji, dan merindukan Yeji bila anak bungsunya itu belum pulang. Sedang dia bukan anak yang senang berlama – lama di sekolah sehingga lebih memilih untuk menghabiskan waktu santainya di rumah dan mungkin itu yang membuat ayah dan ibunya jarang merindukannya. Karena dia tidak pernah absen di depan mata mereka.

Pada kenyataannya, dia tidak bisa marah apalagi benci pada Yeji. Dia sangat menyayanginya lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Yeji menerima begitu banyak cinta dari sekitarnya. Dan dia tidak peduli. Dia akan terus memberikan cintanya pada Yeji hingga nanti gadis itu sadar betapa besar cinta yang diberikannya.

Dia menyadari bahwa orang yang dicintai mungkin tidak membalas perasaannya sebesar dirinya. Tidak apa baginya. Dia hanya ingin separuh jiwanya bahagia walau harus mengorbankan dirinya sendiri. Walau harus mendengar ayahnya menjadikan Yeji contoh untuknya. Dia bosan, dia pengang, dan dia muak. Bukan pada adiknya tapi pada ayahnya.

Bisakah ayahnya melihatnya? Melihat betapa besar pengorbanan yang dilakukannya? Dia rela bekerja paruh waktu di tengah kesibukannya belajar dan mengejar prestasi. Baiklah, Yeji adalah bintang kelas. Dia tidak boleh bekerja karena harus mempertahankan prestasinya. Juga, dia lebih besar dari Yeji. Dia harus menjaga dan melindungi Yeji. Kalau kesadaran untuk membantu keluarga belum datang dari Yeji, tidak apa dan memang hal itu sepantasnya dilakukan oleh seorang kakak.

Untuk mengalah dan dikalahkan.

Sudah lama sekali dia tidak beristirahat dengan tenang di kamarnya. Dia sudah lupa kapan terakhir kali menginjakkan kaki di ruangannya itu. Baru beberapa menit dia memasuki alam mimpi, suara – suara gaduh yang berasal dari kamar orang tuanya seolah mengiris telinganya. Dia berpura – pura acuh, sekali ini saja. Dia ingin egois. Dia ingin berangkat ke sekolah dari rumahnya seperti anak – anak pada umumnya. Dia ingin dibuatkan sarapan dan berpamitan pada orang tua dengan layak seperti anak – anak lain. Dia sangat menginginkan kehidupan normal seperti itu. Sangat ingin hingga keinginan itu serasa mencabik lehernya sendiri.

Suara yang memekakkan indera pendengaran itu kembali membahana. Dia menutup telinganya dengan bantal, berusaha menyingkirkan jeritan – jeritan dalam hatinya. Air mata yang sedari tadi tertahan perlahan meleleh. Setetes, dua tetes, tiga tetes, dan semakin deras seiring dengan suara ibunya yang mengisyaratkan perlawanan.

Lagi dan lagi dia mendengar suara hantaman tulang ke dinding yang kokoh. Mungkin besok dia akan meminta ibunya mengecek keadaan tulangnya ke rumah sakit. Ah, tapi dia belum menerima gaji besok.

Bodoh!

Dia merutuki dirinya yang masih tak bergeming. Tak ada yang dapat dia lakukan. Serapat apa bantal yang menutupi telinganya? Tidak benar – benar rapat sampai dia harus mendengar suara ayahnya yang mengerang keras.

Dia bangkit-mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya berkeliaran mencari ponsel. Setelah berhasil menemukan nama adiknya, dia segera menekan tombol hijau. Dia berbicara dalam volume serendah mungkin. Entahlah ayahnya tahu atau tidak keberadaannya di kamar. Semoga saja tidak.

“Yeji-ya, kau pulang ke rumah Miyeon, ya? Pergilah kesana sekarang, jangan mampir ke tempat lain. Kumohon jangan membantah kali ini. Aku tutup.” Dalam satu tarikan nafas Yejung mengucapkan deretan kata itu.

Dia beranjak dari tempatnya sesudah sebelumnya memakai jaket tebal dan menaikkan tudung hoodie untuk menutupi rambutnya.

 

 

~~~~~

 

 

Yejung tidak menghiraukan tatapan tajam orang – orang yang berlalu lalang karena dia berjalan terburu – buru. Tidak ada yang dikejarnya. Dia hanya ingin cepat sampai di rumah itu. Rumah dimana seseorang yang selalu menenangkannya tinggal. Rumah yang selalu menjadi tempat pelariannya di saat genting seperti itu.

Pelarian? Cih~ Dia memang pengecut.

Yejung membiarkan tudung hoodie yang menutupi kepalanya jatuh saat dari kejauhan rumah atap itu melambaikan tangan ke arahnya. Dia bergegas menaiki tangga yang menuntunnya sampai di lantai dua. Rintik hujan perlahan jatuh ke tanah lalu menguap dan menimbulkan hawa dingin di sekitarnya.

Yejung menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu. Air hujan yang turun semakin saling mengejar dan bagian belakang tubuhnya seolah mati suri karena syaraf – syarafnya sudah membeku. Dia menggigil dan tangannya agak gemetar kala terangkat dan bergesekan dengan daun pintu.

Oppa, Oppa!” Panggilnya. Namun, suara hujan semakin mendominasi sehingga seseorang di dalam sana pasti tak mendengarnya. Yejung mengeraskan suaranya sampai akhirnya berteriak menyebut nama lelaki itu.

Yejung membalikkan tubuhnya-bersandar ke pintu. Dia melihat awan menangis malam ini. Dia hanya terus dan terus memandanginya seraya mengabaikan hal – hal yang menerornya sampai kesini. Hal – hal itu membelokkan jalan pikirannya dan menguras habis energi yang tersisa di tubuhnya. Hal – hal yang sempat tak sengaja dilihatnya melalui pantulan bayangan ayah dan ibunya sebelum dia pergi dari rumah.

Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat-mencoba mengenyahkan pikiran – pikiran buruk yang menghantuinya beberapa detik lalu. Yang terpenting sekarang adalah dia sudah tidak berada di rumah. Sungguh, dia ingin sekali pergi dari rumah itu sejak lama. Tapi jika dia pergi, siapa yang akan menjaga ibunya? Siapa yang akan menjamin ibunya akan baik – baik saja? Lalu bagaimana dengan Yeji? Apa dia tega kabur dengan Yeji sementara ibunya menderita?

Dia menyeringai.

Ada atau tak ada aku sepertinya sama saja. Ayah hampir setiap hari melakukan kekerasan pada ibu, Sergahnya dalam hati. Yejungpun segera menarik dirinya ke alam nyata. Kemudian dia membalikkan setengah badannya-mengintip kira – kira seseorang di dalamnya benar – benar ada atau tidak. Rasanya pintu rumah itu selalu terbuka untuknya. Mungkin dia lebih baik menunggu di dalam saja. Tubuhnya benar – benar sudah kuyup sekarang.

Tangannya menjalar ke sekitar pot bunga yang dipajang di dekat pintu. Setelah mengira – ngira selama sepersekian detik, Yejung menemukan kuncinya. Dia langsung memasukkan kunci ke dalam lubangnya sambil menahan dinginnya udara malam dan hujan. Berkali – kali dia gagal menjejalkannya ke lubang karena tangannya yang sudah bergetar hebat. Kini sungai kecil yang mengalir dari sudut matanya tersamar oleh air hujan yang membasahi wajahnya.

Yejung telah melalui fase kesulitan itu. Dia sudah berada di rumah atap yang hangat. Setahun belakangan, rumah ini selalu disinggahinya. Bersama seseorang yang selalu memberikan tempat untuknya menangis, menenangkan diri, memberinya dekapan hangat yang mengusir keinginan gilanya hingga pada akhirnya kembali kuat menghadapi hari – hari buruknya lagi.

Hari – hari buruk? Betapa tak bersyukurnya.

Kadang di saat dia merasa harinya benar – benar baik, pemandangan itu selalu merusak hari bahagianya. Hampir setiap hari dia jalani dengan wajah muram karena dia tahu pada setiap akhir hari pasti dia akan menyaksikan sesuatu yang kelam lagi.

Selama setahun selalu berada di rumah ini setiap dia membutuhkan pertolongan dan bercerita tanpa henti pada sosok yang dapat membimbingnya. Setahun rasanya sudah cukup baginya. Haruskah dia egois? Haruskah dia pergi dari rumah itu dan tinggal dengan lelaki itu di rumah ini? Bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan Yeji?

Sial. Lagi – lagi pikiran tentang dua orang paling berharga di hidupnya itu mengganggunya. Dia tak akan pernah bisa lepas dan keluar dari masalah ini jika terus mempertimbangkan kedua orang itu. Tapi dia tidak mungkin membiarkannya. Dia tidak seperti Yeji yang acuh dan terkadang egois-atau mungkin pemikiran adiknya itu memang belum sampai tahap itu, entahlah. Mungkin lain kali dia akan mengajarinya.

Sayangnya, dia bukan orang seperti itu. Sayangnya, dia adalah seorang pemikir dan mudah merasa iba pada orang lain. Sayangnya.

Yejung menghembuskan nafasnya panjang. Dia berinisiatif untuk menghampiri kamar lelaki itu. Tapi bagaimana jika dia terjebak disana nantinya? Biasanya mereka hanya duduk di depan televisi, bercengkerama untuk mengurangi kegelisahannya dan lelaki itu dengan setia mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Lelaki itu selalu memperhatikan caranya berbicara, caranya berjalan, caranya makan… Semua itu membuatnya terlalu munafik jika dia mengingkari perasaannya. Tentu, dia mencintainya.

Tapi dia membutuhkan lelaki itu sekarang. Setidaknya, lelaki itu harus mendengarkan penuturannya terlebih dahulu. Dia harus menangis sekencang – kencangnya dulu.

“Kyuhyun Oppa.” Dia berucap pelan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Tak kunjung ada sahutan. Lama – lama dia bisa mati berdiri disana. Ditambah lagi kondisinya yang basah kuyup. Dia pasti mati beku.

Pada akhirnya dia membiarkan tangannya memutar kenop pintu lalu mengintip sedikit ke dalam. Yejung melihat sekilas lelaki bernama Kyuhyun itu sedang tidur. Kyuhyun sangat lucu saat tidur. Diapun melebarkan pintu untuk masuk dan mengamati lelaki itu dari jarak yang lebih dekat.

Salah. Pilihannya salah.

Sungguh Yejung tidak siap dengan semua ini. Dia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Pemandangan yang dilihatnya benar – benar membuatnya mematung.

Disana Kyuhyun tidak sendiri. Di sampingnya ada seorang wanita yang memakai piyama asal. Kyuhyun sendiri memakai kaos yang sudah kusut dan tidak beraturan. Setengah badan bagian atas mereka tidak ditutupi selimut. Yejung tidak berani membayangkan apa setengah badan lagi tidak memakai apapun atau bagaimana, yang jelas hanya itu yang dapat dilihatnya.

Suara pintu yang berderit agak mengganggu tidur sang wanita. Sang wanita kemudian membuka matanya perlahan dan berjengit kaget mendapati Yejung di ambang pintu. Dia lalu menarik selimutnya untuk menutupi piyamanya yang berantakan.

Ranjang yang bergoyang membangunkan Kyuhyun dari tidurnya yang lelap. Dia mengucek matanya sekilas sebelum tertegun memandangi Yejung yang begitu kuyup dan kacau. Mata gadis itu merah dan bengkak ditambah telapak tangannya yang menyilang menutup mulut. Mungkin jika gadis itu tidak membekap mulutnya dia akan berteriak.

“Yejung-ah.” Kyuhyun-yang masih dalam keterkejutan-menaikkan selimutnya.

Yejung menjatuhkan tangannya lunglai. Sekujur tubuhnya lemas. Mungkin dia tak akan sanggup ke rumah Miyeon setelah ini. Entahlah dia harus pergi kemana yang pasti dia tak mungkin bisa berjalan jauh.

Yejung mengumpulkan suaranya yang sempat hilang beberapa menit lalu. Dia menggigit bibir bawahnya-menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata,”Apa kau Nam Hanseul?”

Wanita itu tampak bingung sesaat kemudian menggeleng lemah. Yejung tertawa pahit. Sungguh sial dirinya ini.

“Selama ini wanita yang dekat denganmu bukannya bernama Nam Hanseul?” Yejung menghujani Kyuhyun dengan tatapan menuduh.”Lalu siapa dia? Siapa lagi?” Yejung menahan emosi yang bergejolak di dadanya dengan melebarkan kelopak matanya.

Suara petir di luar terdengar menggelegar-menyentak siapapun yang melawannya. Wanita itu menutup tubuhnya sepenuhnya dengan selimut. Tinggallah Kyuhyun dan Yejung yang menyelesaikan ini. Oh, tidak. Sepertinya ini tak akan selesai sampai sini.

“Yejung-ah-,”

“Kenapa kau lakukan ini padaku, Oppa? Aku sangat mempercayaimu.” Yejung menyela kalimat Kyuhyun.

“Dengarkan aku, kumo-“

“Aku mendengarkan.” Yejung menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Dia menunggu. Alasan apa yang akan Kyuhyun utarakan dan akan dia balas dengan cepat. Amarahnya sudah sangat memuncak.

Tidak ada jawaban. Kyuhyun hanya meminta waktu untuk berpikir. Mengulur – ulur segalanya agar Yejung tidak berpikir seperti kenyataan.

“Tidak ada? Baiklah, aku pergi. Maaf aku mengganggu. Silahkan lanjutkan kegiatan kalian.” Yejung mundur perlahan lalu sempat berhenti beberapa saat. Dia masih menanti kelanjutan ucapan Kyuhyun. Tapi sampai dia merapatkan kembali pintu-yang seharusnya tidak usah dia buka itu-dia tidak mendengar apapun. Hanya sebuah desahan kecil dari bibir Kyuhyun yang menandakan betapa lemahnya lelaki itu.

 

 

~~~~~

 

 

Disanalah dia. Berdiri di atas dinding pembatas balkon sekolah. Satu persatu wajah orang yang dicintai dihadirkannya kembali di depan mata. Mengenang mereka untuk yang terakhir kali. Keputusannya sudah bulat. Biarlah dia egois kali ini. Mungkin keegoisannya dapat menyadarkan betapa berharganya dia sebenarnya untuk mereka. Untuk mereka yang selalu mengabaikannya, melupakannya, mengacuhkannya juga… mengkhianatinya.

Mungkin semua orang yang dia cintai akan menyadari pengorbanan macam apa yang sudah dilakukannya selama ini dan betapa mereka telah menyia – nyiakannya. Mungkin ini akan menjadi titik balik mereka.

Ayah dan ibu, aku mencintai kalian. Lebih dari apapun di dunia ini. Meskipun kalian mungkin tidak sebesar itu mencintaiku tapi aku akan tetap mencintai kalian sampai kapanpun. Ibu, bertahanlah untuk kehidupan yang keras ini. Maaf aku tidak bisa menemanimu sampai akhir.

Yeji-ya, jaga dirimu baik – baik. Kau harus menjaga ibu juga mulai sekarang. Mulailah berpikir tentang orang lain, berpikir untuk orang lain. Kau tidak hidup sendirian di dunia ini. Dengan semua ini, kau akan belajar lebih mandiri.

            Kyuhyun Oppa…

Yejung tak menemukan kata – kata perpisahan yang tepat untuk lelaki itu. Sekalipun kata – kata itu hanya terucap dalam hati namun dia tetap tidak bisa. Bayangan wajah lelaki itu dan segala kenangan mereka dibutakan oleh bayangan lain. Bayangan terakhir kali dia menemukan lelaki itu sedang tidur bersama seorang wanita.

Ah, sudahlah. Cukup untuk perpisahannya. Sebenarnya faktor terpenting atas keinginan ini memang kejadian terakhir itu. Karena sesungguhnya dia masih bisa melewati semua ini bila lelaki itu ada di sampingnya, mengisi kekosongan jiwanya yang haus kasih sayang, dan menyemangatinya kala sudah tak ada lagi yang bisa dia perjuangkan. Dia benar – benar membutuhkan semua itu apalagi di saat keadaan keluarganya yang memprihatinkan dari segi manapun.

Aku mencintai kalian semua.

TAP

Tubuh Yejung hampir terhuyung ke depan saat angin berhembus pelan. Balkon ini memang tak terhalangi apapun sehingga udara akan dengan sangat bebas bergerak disini. Sedikit lagi saja angin itu lebih kencang, dia tidak perlu terjun untuk sampai ke bawah sana. Atau dia coba saja cara itu?

Yejung memejamkan kedua matanya rapat – rapat. Dia merasakan angin yang bertiup semakin kencang menembus permukaan kulitnya. Ini adalah senja terakhir yang akan dilihatnya. Semoga setelah ini semua akan lebih baik. Semoga semua akan lebih indah tanpanya.

Ini tidak akan sakit, Dia meyakinkan dirinya. Setelah dia mati, dia tak akan merasakan sakit bukan?

TAP

TAP

TAP

Ujung sepatunya sudah tak menyentuh dinding lagi. Sebentar lagi dia akan melayang di udara lalu jatuh. Baiklah, terima kasih Tuhan sudah mengizinkanku hidup.

Sebentar lagi.

“Melompatlah!”

Suara aneh itu menginterupsi kegiatan Yejung. Gadis itu membuka matanya perlahan. Angin musim semi memainkan rambutnya sewaktu matanya sudah terbuka sempurna. Diapun menoleh-mencari sumber suara itu.

“Kau terlalu banyak berpikir.” Tambah pemilik suara itu. Seorang lelaki. Dia membaringkan tubuhnya di atas dipan kayu sembari meletakkan satu tangannya di dahi-menghalangi pancaran matahari sore yang hangat secara langsung ke matanya. Dia sama sekali tidak sedang memandang Yejung. Dia bahkan menutup kedua matanya.

Lelaki itu memakai seragam yang sama dengannya dan sukses membuat Yejung menghentikan aktivitasnya. Yejungpun membalikkan tubuhnya yang membelakangi lelaki itu-meminta pertanggungjawaban atas aksinya barusan.

Seakan dapat melihat perubahan posisi Yejung, diapun melanjutkan,“Aku hanya memperingatkan. Keinginan itu mungkin datang berkali – kali lebih sering daripada mimpi burukmu tapi keberanian itu hanya datang sekali. Kau tahu maksudku, kan? Keberanian untuk melompat.”

Yejung mengernyitkan dahi-menerka kemana arah pembicaraan orang di hadapannya.

“Jadi kalau mau melompat sebaiknya kau cepat. Sebelum keberanian itu lenyap.” Dia secara tiba – tiba membuka mata lalu merubah posisinya menjadi duduk. Dia menyambar tasnya kemudian melengang menuju pintu besi tanpa melirik Yejung sedikitpun.

Yejung berdecak kecil. Sejak kapan orang itu tidur di atas dipan? Sejak kapan dia ada disana? Ah, sudahlah. Dia harus fokus untuk melakukan ini sekali lagi. Lelaki itu benar – benar mengganggu.

Dia harus melakukannya dengan cepat dan benar.

Yejung kembali memusatkan perhatiannya. Dia mengukur kira – kira seberapa jauh dia akan jatuh nantinya. Glek! Dia menelan ludahnya sendiri. Dia segera membangunkan kesadarannya-kembali pada niat awal. Perlahan dia memejamkan matanya kemudian melangkah sedikit. Saat itu juga dia merasa tubuhnya terhempas namun berat badannya masih sanggup menopangnya. Jika dia kehilangan keseimbangan sedikit saja, dia pasti sudah terjungkal ke bawah.

Kenapa harus takut kehilangan keseimbangan? Bukankah itu yang diharapkannya? Bukankah itu yang harus terjadi agar dia jatuh?

Aish! Lelaki itu benar – benar! Umpat Yejung.

Yejung mengambil satu langkah ke belakang ketika angin kembali menerpa wajahnya-meniup pelan rambutnya. Di saat bersamaan sebuah ransel cokelat tiba – tiba melayang di hadapannya. Waktu terasa melambat. Dia bagai tersihir memperhatikan bagaimana tas itu melayang di udara selama beberapa saat hingga akhirnya menimbulkan bunyi bedebam sewaktu mendarat.

Yejung meneguk ludahnya yang terasa pahit. Dia bahkan tak mengerjap memandangi bagaimana tas itu jatuh.

“Lihat?” Suara itu lagi. Yejung menoleh ke samping kirinya dan sudah menemukan lelaki itu agak menunduk-meratapi takdir tasnya.”Kau kira itu akan cepat padahal prosesnya sangat lama. Kau akan melayang dulu di udara dalam waktu yang tak bisa kau jabarkan.”

Mata Yejung menyipit menanggapi ucapan lelaki itu.

“Berat tasku tidak sampai satu kilo. Berapa beratmu?” Dia masih tak kunjung mengalihkan tatapan dari tas malangnya. Seandainya mata mereka bertemu, hal pertama yang akan Yejung lakukan adalah mencekiknya.

“Mungkin sekitar empat puluh kilo. Lalu kira – kira berapa lama kau akan melayang di udara? Membiarkan udara membelai kulitmu dan menikmati proses kau jatuh. Hingga pada saat kau tidak siap untuk jatuh, kau harus jatuh. Bagaimana menjelaskannya, ya?” Lelaki itu mengangkat kepalanya namun belum melakukan kontak mata dengan Yejung.

“Berapa koefisien udara? Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk jatuh? Bagaimana dengan gaya gesek? Berapa tinggi gedung ini? Lagipula ini musim semi. Kurasa pemilihan waktumu sangat tepat. Kepalamu akan langsung membentur tanah tanpa dilapisi apapun. Ah, benar – benar. Kau harus mengikuti pelajaran fisika dulu sebelum melakukan ini.” Dia menepuk – nepukkan kedua tangannya-seolah membersihkan karena keduanya baru saja terkena kotoran. Dia mengendikan kedua bahu sekilas kemudian melewati Yejung yang masih-sangat-jengkel.

Untuk apa mengikuti pelajaran fisika sebelum bunuh diri? Apa pedulinya? Kenapa mau mati saja dia harus berpikir? Kenapa sebelum mati dia masih harus memikirkan berapa lama dia akan melewati proses itu? Kenapa mau mati harus repot memikirkan semua itu? Yejung pasti sudah gila. Tidak, orang itulah yang gila.

YA! Memangnya kau sudah pernah jatuh? Belum kan? Untuk apa mengatakan semua itu seperti kau sudah merasakannya?!” Yejung berteriak lantang. Dia sudah tidak dapat menolerir lelaki aneh ini lagi.

Teriakan Yejung berhasil membuat langkahnya terhenti. Dia memutar tubuhnya kembali dan menyisakan jarak tiga meter dari gadis itu.

Baru kali ini Yejung dapat melihatnya dengan jelas. Di bawah cahaya senja yang memantul di warna kulitnya. Demi Tuhan, dia luar biasa tampan. Pahatan rahangnya begitu sempurna. Bentuk mata, hidung, dan bibirnya sangat proporsional. Dia rasa dia tidak perlu bertemu malaikat lagi.

“Kalau aku bilang sudah kau akan percaya?”

Yejung koreksi. Malaikat maut.

“Lalu kenapa kau masih disini?! Itu artinya kau tidak turun! Kau takut, huh?” Yejung menatapnya sinis. Rasanya dia ingin mengoyak lehernya saja sekarang.

Dia menimbang – nimbang. Selang beberapa detik dia menjawab,”Bukan. Tadi sudah kukatakan mengenai keberanian itu kan? Itu hanya datang sekali dan jika kau tak memanfaatkannya dengan baik maka itu akan hilang dengan sendirinya sekalipun dorongannya sangat kuat. Saat kau berdiri disana,” Lelaki itu menunjuk tepi dinding dengan dagu,”Kau pasti rasanya ingin melompat saja kan? Tapi keberanian itu tidak muncul karena kau tidak langsung mengambilnya di kesempatan pertama.”

Yejung mendengus kasar. Bukankah itu sama saja dengan mengatakan takut secara tidak langsung? Kelebihan apa yang orang ini miliki hingga dirinya terhipnotis? Dia bahkan sempat takut saat melihat ke bawah.

“Kalau mau mencoba lagi silahkan. Aku tidak mau jadi saksi bila kau benar – benar mati…,” Dia menggantungkan kalimatnya sembari melirik papan nama Yejung,”Yoo Yejung.”

Di saat Yejung masih tercengang, lelaki itu berlalu begitu saja-meninggalkan Yejung yang masih setengah sadar.

 

 

~~~~~

 

 

“Namanya Lu Han.” Miyeon berbisik di telinga Yejung-membawanya kembali ke alam sadar. Yejung menyenggol lengan Miyeon pelan dengan wajah ditekuk. Miyeon terkekeh sambil menyantap kembali makan siangnya.

“Dari tadi aku bicara kau dengar tidak?” Tanya Miyeon di sela – sela kegiatannya. Dia melempar tatapan menusuk-menduga bahwa pikiran Yejung tidak ada di kantin bersama raganya.

“Dengar.” Yejung menyahut malas. Dia tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari lelaki aneh yang menurut Miyeon bernama Luhan. Lelaki itu sedang mengambil makanannya dan kini matanya menjelajahi ruangan besar ini-mencari tempat kosong untuk menghabiskan makanannya.

“Apa yang kukatakan?” Miyeon memicingkan matanya.

“Kau baru diberikan apartemen kecil lalu mengundangku dan Yeji untuk merayakannya. Aku dan Yeji boleh kesana kapanpun yang kami mau asal memberitahumu dulu karena kau hanya tinggal disana sesekali. Nanti ketika kau sudah kuliah baru kau akan sepenuhnya tinggal disana.” Yejung meringkas racauan Miyeon yang panjang lebar itu ke dalam beberapa kalimat.

“Hebat! Kau sepertinya berbakat menjadi penulis!” Miyeon mengacungkan kedua jempolnya ke udara. Yejung tertawa kecil melihat sahabatnya bertingkah seperti itu. Miyeon memang selalu begitu.

Di lain pihak, Luhan baru mendapat tempat duduk. Dia melahap dan menikmati makanannya hingga menangkap sepasang mata yang sedang memandanginya dengan tatapan yang begitu nyata menguncinya-tidak membiarkan bola matanya berlari kesana kemari. Dia menjatuhkan wajahnya dan menyembunyikan senyumnya di atas nasi.

Dia pernah hampir melakukan hal yang sama setahun lalu. Saat orang – orang baru memasuki SMA dan merasakan indahnya masa ini, dia justru ingin mengakhiri hidupnya. Saat hal itu belum terpikirkan oleh orang lain, dia sudah memikirkannya lebih dulu.

Saat dia hampir melayang di udara, sepasang lengan kecil tiba – tiba melingkar di pinggangnya. Diapun tak bergerak untuk beberapa saat. Dia hanya diam dan terus diam hingga lengan itu melonggar-memberinya kesempatan untuk berbalik. Gadis itu sudah berlinang air mata saat Luhan berhadapan dengannya. Dia lalu merengkuh tubuh mungilnya. Serta merta tangis gadis itu mereda.

Gadis itu memintanya agar tidak melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Karena permintaan gadis itu, dia dengan enggan menyetujuinya. Karena permintaan gadis itu, dia harus merana seumur hidup, dipenjarakan oleh janji yang dibuatnya sendiri. Karena permintaan gadis itu, dia tidak bisa membiarkan orang lain melakukannya juga.

Gadis itu, Ahn Haekyung.

Yaaaa~ Aku tidak bertanya apapun tentang dia. Jangan menggodaku terus!” Yejung setengah berteriak dan sontak membuat beberapa pasang mata menyerbunya dengan tatapan ‘diam-atau-mati-kau’. Tapi terima kasih karena suaranya yang sangat nyaring dan berisik itu membuyarkan pikiran Luhan.

Ingatan tentang kejadian beberapa saat lalu berputar kembali di benaknya. Dia sedang beristirahat di dipan kayu yang terletak di atap sekolah-tempatnya biasa kabur bila malas mengikuti pelajaran. Dia mulai melepaskan satu persatu pikiran yang mengganjal untuk terlelap. Baru beberapa menit dia memasuki alam bawah sadar, terdengar suara pintu yang terbuka disusul langkah seseorang. Dia memfokuskan pandangannya tapi gadis itu memunggunginya. Gadis itu terlihat beberapa kali menarik nafas dalam. Kemudian, kakinya mulai naik ke dinding pembatas.

Luhan terperanjat. Dia terus mengawasi gadis itu dari kejauhan sambil menimbang – nimbang untuk menahannya atau tidak. Sudah pasti seseorang yang berniat bunuh diri sedang terlilit masalah dan berpikir mungkin itu jalan keluar terbaik. Dia rasa semua orang pasti pernah memikirkannya.

Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi. Aku takut. Aku takut kehilangan dirimu.

Sepenggal memori itu hadir kembali menghantui dirinya. Benar, gadis itu harus disadarkan. Ada orang yang peduli padanya. Pasti masih ada. Bahwa jalan keluar bukanlah seperti ini. Ini sama saja lari dalam masalah namun bedanya dia tak akan bisa kembali. Tak ada yang bisa memutar waktu, bukan?

Luhan hanya ingin mengajaknya bicara, mengalihkan perhatiannya dari fokus agar dia tidak berani lagi mencobanya. Tapi ketika Luhan sampai di depan pintu besi, gadis bernama Yoo Yejung itu memantapkan hatinya kembali untuk melompat. Tidak ada pilihan lain. Dia melempar tasnya dengan kasar dan mengorbankannya jatuh bersama beberapa benda di dalamnya. Dia akhirnya mengancam Yejung secara tidak langsung agar keinginan itu tidak timbul lagi.

Hatinya remuk untuk yang kesekian kalinya. Susah payah dia berusaha menjadikan bagian itu utuh lagi namun dia justru kembali mengingatnya hari ini. Dia mengibaskan tangannya di udara-mencoba menepis pikiran itu. Ketika dia sudah kembali pada kesadaran, dilihatnya Yejung mendahului temannya masuk ke kelas. Luhan menajamkan pandangannya menuju papan nama gadis yang sekarang duduk sendiri itu. Go Miyeon. Dia akan mengingat baik – baik nama itu.

 

 

~~~~~

 

 

“Yejung-a.”

Yejung yang sedang mengaduk – aduk isi tasnya menghentikan langkahnya. Seluruh syarafnya membeku seperti hari itu. Suara itu lagi. Suara yang setia mendengarkan kisahnya setiap hari. Suara yang mungkin letih dengan topik yang dia ceritakan setiap hari. Suara yang begitu menentramkan batinnya kala terpuruk.

Tapi itu dulu.

“Ada apa?” Yejung membalas dengan dingin. Kyuhyun mendekatkan dirinya dengan Yejung.

“Aku hanya mau minta maaf atas kejadian itu. Aku benar – benar minta maaf.” Yejungpun mencelos ketika akhirnya kata maaf terlontar dari laki – laki itu. Lelaki itu tidak menyangkal tentang apa yang diperbuatnya dan itu semua sudah cukup sebagai bukti. Tapi Yejung tahu bahwa meminta maaf bukan hal yang mudah. Butuh keinginan yang kuat dan keberanian untuk menampakkan kembali wajahnya. Sesungguhnya hanya itu yang Yejung ingin dengar. Kyuhyun sudah menyadari kesalahannya dan itu sudah cukup baginya.

“Kau pantas untuk tidak memaafkanku. Aku menerimanya.” Timpalnya lagi karena tak kunjung mendapat respon dari Yejung. Yejung menggelengkan kepalanya perlahan. Sayangnya, dia bukan orang seperti itu. Dia bukan orang yang lemah tapi dia juga tidak bisa melihat orang lain selemah itu di hadapannya terlebih Cho Kyuhyun.

Luka di hatinya memang belum mengering namun bukan berarti Yejung akan luluh. Diapun tidak mengetahui sejak kapan benteng pertahanannya terbangun. Yang dia tahu hanyalah dia tidak ingin tersesat lagi dalam cintanya pada Kyuhyun. Dia tahu ambang batas perasaannya. Dia sudah sangat jatuh dan terpukul saat itu hingga untuk bangkit lagi rasanya sulit sekali.

Pada saat bersamaan, naasnya Luhan menjejakkan kakinya di dekat pagar sekolah. Dia memutar tubuhnya ke kiri dan kanan-meregangkan ototnya setelah seharian berkutat dengan pelajaran. Tidak sengaja dia melihat pemandangan tak biasa beberapa meter di depannya. Namun, dia merasa itu bukan urusannya. Dia berusaha mengabaikannya dan berjalan ke arah gadis itu-Yoo Yejung-berdiri. Di hadapannya, seorang pria yang memakai kaos dibalut jaket jins serta celana hitam berdiri dengan tegap. Pria itu membelakangi arah Luhan berjalan sehingga Luhan hanya dapat melihat ekspresi gadis di depan pria itu.

“Aku memaafkanmu, Oppa. Hanya saja-,” Yejung menggigit bibir bawahnya. Dia mengambil jeda cukup lama-menyusun kata – kata di benaknya menjadi lebih halus,”Kita sudah tidak ada hubungan lagi, kan? Maksudku kita sudah putus sejak itu.” Dia hanya ingin memastikan. Dia menatap Kyuhyun dengan yakin tanpa memedulikan tatapan sengit orang – orang karena mereka mempersempit jalan.

Luhan mencuri pandang ke arah Yejung beberapa saat ketika melewatinya. Rupanya gadis itu punya masalah dengan kekasihnya. Hal yang wajar bagi remaja untuk mudah putus asa jika berkaitan dengan masalah hati.

Kyuhyun menggumam sejenak,”Aku paham.”

Kyuhyun terlihat menyesal. Sorot matanya memancarkan kepedihan yang mendalam. Yejung masih pandai membaca Kyuhyun sekalipun pria itu kini menundukkan kepalanya.

“Kalau begitu, aku pamit. Hiduplah dengan baik, Oppa. Kalau nanti kau menikah jangan lupa undang aku, ya? Annyeong.” Yejung terlihat enggan berlama – lama. Kyuhyun hanya tersenyum kecut sedangkan Yejung memaksakan senyumnya. Mungkin ini pertemuan mereka yang terakhir. Yejung membungkuk singkat sebelum akhirnya menghilang diantara kerumunan siswa yang memadati trotoar. Sedangkan di tempatnya, Kyuhyun merasakan matanya semakin berat.

 

 

TBC

15 pemikiran pada “Unexpected You (Chapter 1)

  1. Hah! Kak Hyeri, Lusi datang kak dan tanggung jawab ini udah nyesek setengah mati coba;;;_______;;;

    Beneran ini ff bagus banget, feel oh feel, kakak mengiris hatiku. Dan ehm, baru dibahas ya tadi masalah itu XD

    Bahasanya kakak, diksinya kakak, gaya penulisan, weh perfect kak! Dan yaampun kakak nulis dengan berlimpah feel untuk pembaca huhu. Eh tapi tadi aku nemuin ini ‘ ini hanya… Untuk kebaikan bersama.’ Itu, untuknya kepencet shift kali ya :/ atau emang gede? Entah XD

    Kasian banget ya si yejung, berasa hidupnya dihinggapi onggokan masalah gitu:(
    Jadi yeji itu, diperhatiin tp nggak peduli gitu kak? Atau memang dia kebanyakan perhatian sampe ngga nyadar?
    Dan yeji akhirnya gimana?

    Dan lagu recomendednya, ah kakak sehati ah sama aku, aku jg seneng banget sama suara eunji disitu ((salahfokus))
    Pokoknya bagus banget deh kak, kalo kakak keluarin part 2 aku di tag di twitter yaaaa:*

    Warmhug
    Another “Lu” in this world
    Lucy{}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s