Dillema (Prolog)

 DILLEMA

cov2 copy

 

Author             :           Sapphire22

Title                 :           DILEMMA

Cast                 :           Oh Sehun, Seo Hana (OC), Park Chanyeol, Jung Yuri (OC)

Genre              :           Romance, drama, friendship

 

 

DILEMMA-Prolog

 

Harapan-Kesucian

Gadis kecil itu terbangun dari tidur malamnya. Ia menatap jam dinding bergambar Hello Kitty-nya sambil menguap dan menggosok kedua matanya. Tak seharusnya gadis itu terbangun pada pukul 3 pagi seperti ini. Namun suara dengan nada tinggi dua orang yang berasal dari kamar sebelah memaksa gadis itu untuk menahan sebentar kantuknya. Ia berandai-andai kakak perempuannya sedang dimarahi oleh ayahnya lagi.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya dan mulai beranjak dari tempat tidurnya. Ia beranjak dari tempatnya tidur tanpa lupa meraih boneka teddy bear cokelat yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Ia memeluk teddy bear itu dengan erat lalu berjalan dengan sempoyongan menuju pintu kamar. Ia meraih kenop pintu yang tingginya setara dengannya. Saat ia menarik kenop itu ke bawah dengan kedua tangannya, gadis itu bisa mendengar teriakan seorang wanita yang sangat kencang. Ia tersentak ketika mendengar lagi sahutan seorang pria lalu sebuah hentakan yang sangat keras.

Gadis kecil itu berpikir sejenak. Apakah yang sedang oemma dan appa-nya lakukan ditengah malam seperti ini.

Gadis itu keluar dari kamar, mengeratkan genggamannya pada boneka teddy bear miliknya. Langkahnya terhenti di depan pintu sebuah kamar. Teriakan dua orang itu semakin menerjang gendang telinga gadis itu.

Suara itu semakin kencang dan semakin nyata.

Dua orang yang sedang berhadapan dan menyahut satu sama lain tampak tidak menyadari pintu kamar terbuka. Mereka tetap meneriaki satu dengan yang lain. Gadis kecil itu menatap kedua orang tuanya dengan ketakutan. Tidak pernah ia melihat keadaan yang sangat kejam seperti ini.

Ia tidak melihat senyuman appa-nya yang selalu ia dapat ketika bangun dipagi hari. Yang tampak sekarang adalah senyum yang di kikir habis oleh teriakan keras yang menerjang telinga gadis itu. Mata indah eomma-nya pun tak ada. Hanya ada sorot mata benci yang terpancar ketika memandang laki-laki yang sedang meneriakinya.

Bukan. Ini bukan seperti potret keluarga yang selalu ia gambar. Kedua orang itu adalah sosok berbeda. Tak ada lagi rasa kasih sayang yang terpancar dari keduanya. Tak ada lagi rasa kasih sayang dan kepercayaan yang terpancar dan kedua orang tuanya.

Gadis kecil itu memeluk boneka teddy bear-nya erat. Rambut panjangnya menimpa kepala boneka itu. Gadis kecil itu melangkah mundur dan berlari menuju kamarnya. Di depan pintu kamar ia menghentikan langkahnya. Ia menundukan kepalanya dan menyentuh dagunya pada boneka teddy bear yang sedari tadi ia peluk.

Ia takut. Dan akhirnya… air mata itu mulai membasahi wajah putih gadis itu. Ia menangis tanpa bersuara, tak seperti biasanya.

***

Cinta-Hasrat

Gadis itu bertanya-tanya, mengapa semua orang berpakaian hitam. Ditatapnya, Appa dan Oemma-nya, mereka juga memakai pakaian hitam. Mengapa hitam?

Bukankah suasana akan menjadi lebih ceria jikala menggunakan pakaian berwarna kuning? Atau pink, warna kesukaannya. Ia menatap hanbok hitam yang dipakainya. Ah, ternyata dirinya juga memakai warna hitam. Ia heran mengapa tadi tidak berontak ketika oemma memakaikan baju ini. Biasanya ia akan berteriak atau langsung kabur karena hitam bukan warna favoritnya. Namun kali ini lain cerita.

Tiba-tiba seseorang memanggil gadis itu. Suara wanita tua menghentikannya dari imajinasinya. Ia mendongkan kepalanya. Wanita itu membelai rambut hitam pekat gadis itu dan tersenyum.

“ Ayuk, ikut halmeoni. Kamu sudah cukup lama berdiri.” Tanpa menunggu apa-apa lagi, Gadis itu segera mengikuti halmeoni-nya pergi dari tempatnya sedari tadi berpijak. Ia menggenggam erat tangan halmeoni-nya, melangkah menuju deretan kursi yang terletak di pinggir ruangan.

Gadis itu duduk dengan manis, berdampingan dengan halmeoni. Ia menoleh dan menggerakan tangan halmeoni-nya. “ Halmeoni, apakah Sulli sudah bersama haraboeji sekarang?”

Halmeoni tersenyum, “ Iya, sayangku. Sulli sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang.”

Gadis cilik itu mengangguk mengerti. Ia menoleh ke arah appa dan oemma-nya berada, di depan sebuah karangan bunga bertingkat berwarna-warni. Di tengah-tengah karangan bunga itu, terdapat sebuah pigura foto berwarna hitam. Wajah yang terpampang di foto itu sangat mirip dengan dirinya. Yang membedakan hanyalah rambut hitam gadis di foto itu, sedangkan gadis cilik yang sedang duduk itu berambut cokelat tua. Mata dan senyuman nya tidak bisa dibedakan.

Gadis yang ada di foto itu adalah saudara kembarnya. Saudara kembar yang ia lepaskan genggamannya. Gadis itu tersenyum.

***

11 tahun kemudian

***

Ruang kerja itu terasa dingin dan dua laki-laki yang menghadap satu sama lain saling mengatupkan bibirnya. Pria berumur pertengahan 50 tahun yang duduk di atas arm chair seperti kursi kebesaran sibuk menggerakan jemarinya, fokus dengan dokumen-dokumen penting yang bertumpuk di meja.

Deheman pria itu memecah keheningan antara dirinya dan orang yang berdiri dihadapannya. Ia meletakan ballpoint Mont Blanc hitam yang terukir sebuah inisial.

O.J.H

Setelah itu ia memundurkan kursinya dan menatap laki-laki itu. “ Sedang apa kau disini?” ucap pria tua bernama Oh Jin Hyuk.

“ Instruksi ku sudah cukup jelas bukan? Pulang ke Seoul.” Tambah Oh Jinhyuk.

“ Aku tidak akan pulang.” Balas laki-laki itu. Ia mengepalkan tangan, menahan amarahnya. Bagaimana tidak kesal, pria tua itu tiba-tiba saja menyuruhnya kembali ke Korea Selatan.

BRAK!!

Suara pukulan pada meja menggelegar, mendominasi ruangan tersebut. Oh Jinhyuk bangkit dari posisi duduknya sembari mengunci tatapannya pada laki-laki itu, anaknya.

“ ANAK SIALAN! SAMPAI KAPAN KAU AKAN MEMBANTAH?!” ucap Jinhyuk penuh dengan amarah. Anak laki-laki nya yang satu ini tidak pernah menuruti perintahnya. “ Apa yang kamu telah lakukan sangat membuat malu! Apa yang akan dikatakan orang jika mereka tahu pewaris perusahaan terbesar di Korea Selatan dikeluarkan dari sekolahnya di Amerika karena tindakan sok jagoan nya!”

Jinhyuk menyentuh keningnya, kepalanya sangat pusing, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan putra nya yang satu ini. Satu anak laki-laki saja dapat membuat masalah serumit ini.

“ Kamu punya satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa kamu layak mewarisi perusahaan ini suatu saat nanti. Kembali ke Seoul. Buatlah reputasi dan prestasi cemerlang di sekolah kamu yang baru.” Ucap Jinhyuk.

“ Sekarang keluar.”

Tanpa menunggu apa-apa lagi, anak laki-laki itu langsung membalikan badannya dan berjalan menuju pintu. Tak lupa ia membanting dengan keras hingga suaranya memekakan telinga.

Jinhyuk menghela nafas sembari memejamkan kedua matanya, kakinya terasa begitu lemas sehingga ia langsung duduk kembali. Ia berharap anaknya tidak memasukan ucapan penuh amarahnya ke dalam hati. Jinhyuk tidak tahu harus melakukan apa lagi pada anak itu selain membuat keputusan memulangkannya ke Korea Selatan.

“ Oh Sehun, sudahi pemberontakanmu.”

 

***

 

Chanyeol menghentikan langkahnya ketika sesuatu menarik perhatiannya. Ia mendekat pada jendela kelas 12-A dan kembali menatap apa yang menarik perhatiannya. Ya, mungkin yang akan selalu membuatnya tertarik karena yeoja itu seperti pusat dari gravitasi baginya.

Gadis itu tengah bertopang dagu dengan tangan kanannya di atas meja. Tatapannya terfokus pada sebuah buku yang ada di atas meja. Sebuah pemandangan yang selalu ingin Chanyeol abadikan.

Mungkin memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun jika sudah menyangkut gadis itu… semuanya terasa sempurna. Gadis itu bagaikan malaikat yang menyempurnakan hari-harinya.

Chanyeol langsung bersembunyi dibalik tembok sebelah jendela ketika melihat gadis itu mulai bergerak dan menutup buku yang dibacanya. Ia langsung berlari meninggalkan koridor dan keluar dari gerbang sekolah. Chanyeol menghentikan langkahnya tepat di sebelah gerbang dan menyandarkan punggungnya.

“ Hei.”

Gadis itu menghentikan langkahnya dengan terkejut. Ia berbalik dan mendapati Chanyeol yang sedang berjalan mendekatinya. Yuri langsung mengangguk dan tersenyum. “ Aigoo! Park Chanyeol!”

“ Uhm… kamu akan pulang? Apa aku boleh ikut berjalan denganmu?” ucap Chanyeol hati-hati. Di dalam hatinya ia sangat gugup menanti jawaban. Tolong jawab iya….

Yeoja itu mengangguk dengan tidak yakin namun langsung tersenyum. “ Boleh. Kajja.”

Chanyeol langsung menghela nafas lega. Ia langsung berjalan di samping kiri yeoja itu. Sungguh ia merasa sangat gugup berada di sebelahnya. Karena saat itu juga adalah pertama kalinya sejak dua bulan yang lalu Chanyeol menyatakan perasaannya padanya yang berakhir dengan Chanyeol yang harus berlapang dada.

“ Kulihat tadi kamu membaca sebuah buku. Buku apa itu?” tanya Chanyeol sembari tetap berjalan di sebelah yeoja itu.

Yeojaitu menaikan sebelah alis matanya lalu tersenyum penuh arti. Ah, ternyata lagi-lagi Chanyeol diam-diam memperhatikannya.“ Kamu tadi diam-diam mengintip, Chanyeol-ah?”

“ A-ah, aniyo. Tadi melihat sekilas ketika jalan dikoridor. Hanya sekilas.” ucap Chanyeol menyangkal ucapan yeoja itu. Ah! Kenapa dirinya begitu bodoh menanyakan hal itu! Tak seharusnya ia mengucapkannya.

Yeoja itu mengangguk mengerti dengan ucapan Chanyeol. “ Outstanding the TOEFL.”

“ Bukunya mengenai ujian TOEFL.” Jawabnya. Ia menoleh pelan ke arah Chanyeol, mencoba melihat responnya.

“ Oo… memangnya ada rencana apa?” tanya Chanyeol dengan penuh tanda tanya.

Ia tersenyum. “ Setelah lulus dari sekolah ini aku akan pindah ke Amerika, Chanyeol-ah. Aku harus memperbagus bahasa inggris-ku.”

DEG. Seakan sesuatu menghantam dada Chanyeol, ia memelankan langkahnya yang terasa begitu berat. Yeoja itu tidak sadar akan sikap Chanyeol yang aneh, ia tetap bercerita dengan gembira. “ Aku akan mendaftar kuliah di universitas seni disana. Mungkin akan lama tinggal di sana. Jadi dari sekarang aku harus belajar bahasanya. Aigoo… bahasa inggris ternyata sangat susah! Makanya tadi aku membaca buku itu sampai lupa waktu. Chanyeol-ah, apa kamu mau belajar bersama? Kamu tahu bukan  betapa pentingnya mempelajari bahasa inggris itu. Mungkin akan lebih gampang kalau—“

“ Chanyeol?” yeoja itu menghentikan ucapannya ketika tak kunjung mendapat balasan dari Chanyeol. Ia menoleh ke Chanyeol.

Chanyeol tengah menatap lurus ke jalan yang ada di depannya. Ia tersadar dari lamunannya ketika gadis itu menepuk bahunya. “ Tentu,”

“ Aku akan belajar bersamamu.” Ucap Chanyeol lalu tersenyum.

***

Author : Hii semua 😀 Akhirnya aku nulis fanfiction lagi, aku dulu pernah ngirim cerita oneshot disini judulnya Up High. Ini akan jadi FF berchapter pertama aku jadi mohon komen kalian, butuh masukan dari kalian semua untuk ngembangin cerita ini. Semoga kalian suka! Yehet~

-Sapphire22

 

 

 

5 pemikiran pada “Dillema (Prolog)

  1. kasian chanyeol.. 😦

    ceritanya bagus chingu..
    nextnya jangan lama2 ya, penasaran sama kelanjutannya.. keep writing n fighting ya.. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s