Second Hearts (Chapter 2)

Second Hearts

 

Title                 : Second Hearts – Complicated (Chapter 2)

Author            : KimYongIn

Main cast         :

Byun Baekhyun

Shin In Jung (OC)

Park Chanyeol

Kim Hee Kyung (OC)

Genre              : Romance

Happy reading^^

In Jung’s Aparterment

08.20 am JST

Author POV

Terlihat seorang wanita dan pria tengah duduk besama disebuah café yang menyediakan banyak makanan manis disana. Mereka berdua bermesraan layaknya sepasang kekasih pada umumnya. In Jung-wanita itu- tersenyum ketika Baekhyun -kekasihnya menyuapkan satu sendok besar ice cream coklat dan menerimanya dengan senang hati. Kemudian In Jung akan tertawa ketika melihat sisa-sisa ice cream yang menempel disekitar mulut Baekhyun.

Tapi ketika In Jung ingin menyuapkan ice cream miliknya kepada Baekhyun, pria itu tiba-tiba saja menghilang, membuat In Jung langsung diserang perasaan panik. Wanita itu melihat kearah kanan dan kiri tapi tidak ada siapa-siapa disana, selain dirinya. In Jung berusaha memanggil nama Baekhyun tetapi tidak ada jawaban dari pria itu.

In Jung mulai merasakan gemetar di seluruh bagian ditubuhnya lalu bangkit dari duduknya sedari tadi, bermaksud segera keluar dari tempat itu. Ketika berada diluarpun, dia tidak melihat ada kehidupan disana. Hanya ada dia seorang, tapi dia tidak peduli yang dia inginkan hanya menemukan dimana kekasihnya berada.

Wanita itu berlari menelurusi kota masih dengan menyebut nama Baekhyun. Dia berteriak seperti wanita gila tanpa tahu arah tujuannya saat itu. In Jung dapat merasakan air matanya mulai menetes. Dia tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan atau muka cantiknya yang terlihat sangat buruk sekarang. Dadanya bergemuruh, detak-detak jantungnya membuat In Jung merasa sesak dan dia merasakan ketakutan hebat mulai menyerang dirinya.

Akhirnya dia bisa menarik nafas ketika dilihatnya seseorang yang dicarinya sejak tadi berdiri disana, disamping air mancur yang berada ditaman kota. In Jung dengan segera berlari kearah Baekhyun. Hingga dia sudah berada didepan lelaki itu In Jung langsung mendekap erat tubuh Baekhyun.

“Kau kemana saja. Kenapa kau pergi dengan tiba-tiba? Aku takut, sangat takut Baekhyun-ah. Jangan pernah kau meninggalkan aku lagi!” kata In Jung sambil sesegukan karena air matanya yang masih mengalir, ia semakin mendekap erat tubuh Baekhyun.

Pria itu melepaskan pelukan dari wanitanya, menatap lekat-lekat wajah cantik yang sekarang telah basah dengan air mata. Dengan perlahan Baekhyun menggerakkan ibu jarinya dan menghapus sisa-sisa air mata di pipi wanita itu. Baekhyun kemudian tersenyum kecil.

Secara perlahan Baekhyun mendekatkan wajahnya dan segera menghapus jarak diantara mereka berdua. Mendaratkan sebuah ciuman manis di atas bibir merah In Jung, melumat dengan sangat lembut. Tidak ada nafsu sedikitpun dalam ciuman itu yang ada hanya perasaan ingin memberi. In Jung pun membalas setiap lumatan-lumatan yang diberikan oleh Baekhyun. Dan ciuman yang berlangsung singkat tersebut berakhir dengan  sebuah kecupan terakhir dari pria itu.

In Jung membuka matanya dan menatap langsung ke mata Baekhyun. Gadis itu kemudian mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah kesedihan di mata pria itu dan seketika membuat dada In Jung perih. Dalam hati wanita itu berteriak tidak terima kenapa harus diberi tatapan seperti ini.

Ia mengangkat sebelah tangannya bermaksud untuk memegang pipi Baekhyun. Tapi pria itu lebih dulu mundur selangkah yang membuat In Jung terhenyak. Setiap kaki In Jung melangkah maka gerakan Baekhyun akan mundur. In Jung kembali meneteskan air matanya masih menatap lekat kearah Baekhyun. Dadanya sungguh sesak bahkan untuk bernafas saja sangat menyakitkan.

“Mianhae…” kata Baekhyun akhirnya dan membalikkan tubuhnya berjalan membelakangi In Jung. Semakin lama sosok Baekhyun seperti menghilang dari penglihatannya. Ia kemudian berusaha menghapus jejak air matanya dan berlari mengejar Baekhyun.

Lagi. Dia tidak menemukan Baekhyun dimanapun. Hal tersebut seperti membuat In Jung semakin gila, dia meremas rambutnya frustasi sambil melihat kesana kemari.

“Baekhyuuunn-aahhh”

“Byun Baekhyuuunnn” teriak In Jung untuk kesekian kalinya. Tapi seperti sebelumnya tidak ada jawaban dari siapapun. Sakit didadanya semakin menjadi, perasaannya sungguh kacau. Dia tidak pernah berfikir kalo Baekhyun akan tega meninggalkannya sendirian seperti ini. Semakin lama teriakan In Jung semakin melemah, dia sudah tidak kuat untuk berteriak dan berlari lagi. Akhirnya In Jung duduk melorot ditengah jalan.

Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, dan sesak didadanya pun tidak berkurang sedikitpun. Sakit, sungguh sangat sakit ketika seseorang yang dia cintai pergi tanpa penjelasan apapun. Dia kembali menangis tapi sekarang lebih keras seperti seorang anak kecil yang ditinggal pergi ibunya. Tapi In Jung terlihat lebih menyedihkan dari seorang anak kecil.

“BYUN BAEKHYUUUNNN………………”

&&&

In Jung tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Menarik nafas dalam-dalam karena dia seperti merasakan sesak didadanya. Peluh-peluh pun mulai bercucuran di sekitar pelipis gadis itu. Dia kemudian bangkit berusaha untuk duduk, masih dengan degupan dadanya yang membuat gadis itu sendiripun tidak mengerti. Dia bermaksud untuk membenarkan rambutnya, tapi terhenti ketika merasakan pipinya yang basah dan semakin membuat hati In Jung mencelos. Dengan cepat dia menghapus sisa-sisa air matanya itu.

Mata gadis itu beralih kearah jam dinding yang ada dikamarnya kemudian mendengus karena melihat dimana jarum pendek itu berada. In Jung lalu menendang asal selimut yang dia gunakan dan berjalan menuju kamar mandi diluar kamarnya.

Setelah berada dikamar mandi, dia terlebih dulu melihat pantulan wajahnya dicermin. In Jung meringis ketika melihat betapa berantakanya dirinya sekarang, mata yang masih sedikit berair dan lipatan mata yang berada dibawah matanya.

In Jung memutar kran air secara perlahan dan langsung membersihkan mukanya. Dia kembali menatap wajahnya dicermin sambil mengingat kembali hal apa yang membuatnya terbangun sepagi ini dengan sedikit ‘heart attack’ dihatinya.

Ini adalah mimpi buruk pertamanya dengan Baekhyun. Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah bermimpi hal sebegitu menyedihkannya seperti ini, sampai membuatnya merasa sesak saat terbangun. In Jung berpikir apakah sebegitu takutnya dia kehilangan seorang Byun Baekhyun. Dan tiba-tiba hatinya merasa nyeri ketika memikirkan hal itu. Dia tidak akan sanggup membayangkan hidupnya tanpa pria itu, sudah cukup mereka sekarang terpisah jauh karena jarak.

Gadis itu kemudian berjalan menuju dapurnya untuk mengambil segelas air yang mungkin akan menenangkan hatinya. In Jung berpikir lagi apakah ini dampak karena dia sangat merindukan pria itu dan selalu memikirkannya terus menerus sampai-sampai bermimpi seperti ini. Terakhir kali pria itu menelponnya pada saat hari kelulusannya dua hari yang lalu, dan saat ini tidak ada satupun tanda-tanda Baekhyun akan menghubungi lagi, entah itu sebuah pesan atau telpon.

In Jung mendengus lagi dan meminum air digelasnya, dia mungkin hanya sedikit berlebihan. Toh menurutnya Baekhyun tidak akan mungkin meninggalkannya sedangkan dua hari yang lalu pria itu terdengar sangat merindukannya.

Ya, Baekhyun tidak akan pernah meninggalkannya. Karena pria itu tau bahwa In Jung tidak akan mampu hidup tanpa dirinya.

&&&

Byun Corp

01.00 pm KST

Pria itu duduk dengan gelisah di kursi kerjanya. Membuka lembar demi lembar semua berkas yang ada dimejanya tanpa tahu isi yang tertulis disana. Sesekali matanya menatap pada pintu masuk yang ada didepan, tepatnya disebelah kanan. Berharap seseorang yang dia inginkan mengetok pintu itu dan masuk kedalam ruangannya. Tapi hal yang dia harapkan tidak terjadi juga hingga sekarang.

Baekhyun mengacak rambutnya frustasi, tidak sampai enam jam wanita itu muncul dihadapannya dan sudah mampu membuat Baekhyun tidak bisa berfikir jernih saat ini. Perasaannya menjadi campur aduk, entah dia harus senang atau sedih ketika melihat sosok gadis itu.

Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sejenak membaca semua berkas membosankan itu dan memutar kursinya menghadap jendela besar di sebelah kirinya yang langsung berhadapan pada pemandangan kota Seoul. Dia dapat melihat semuanya dari sini, dari orang-orang pejalan kaki hingga mereka yang sedang menunggu dilampu merah.

Tapi semua pemandangan itu tidak cukup untuk membuat dia mengalihkan apa yang sedang dia pikirkan. Dia hanya sedang memikirkan satu orang wanita yang membuat hatinya menjadi kacau seperti sekarang, Kim Hee Kyung.

Gadis itu adalah teman semasa Baekhyun masih duduk dibangku SMA. Tidak bukan teman, mereka hanya mengenal satu sama lain dan mereka pernah berbicarapun mungkin bisa dihitung dengan jari. Baekhyun pun tidak terlalu yakin apakah gadis itu masih mengenalnya atau tidak.

Dia adalah seorang primadona -dulu disekolahnya itu. Semua para lelaki menyukainya. Siapa yang tidak menyukai gadis cantik seperti dia, bukan saja cantik tapi dia mempunyai pribadi yang pintar, sangat baik, juga ramah pada siapa saja. Tidak terkecuali Baekhyun, pria itu juga menyukainya tapi Baekhyun tidak pernah menunjukkannya rasa sukanya seperti para teman-temannya. Dia hanya melihat wanita itu dari jauh. Dia, Byun Baekhyun menyukai Kim Hee Kyung secara diam-diam.

Pria itu menarik nafasnya berat. Dia memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Dia tidak mengerti dengan keadaannya sekarang, dia merasa sangat…. kacau.

Perasaan itu terus tumbuh hingga ia sudah menginjak akhir masa sekolah. Tapi Baekhyun tidak pernah mengatakan perasaannya kepada Hee Kyung, dengan alasan yang sangat sederhana.

Baekhyun tidak siap untuk di tolak.

Ketidakpercayaan diri Baekhyun itulah yang membuat dia memilih untuk memendam perasaannya. Hingga dia harus menahan sedih dihatinya karena wanita itu harus melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda dengannya.

Sejak memasuki semester baru dia tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu, walau terkadang teman-temannya pernah membicarakannya tapi Baekhyun mencoba untuk tidak memperdulikannya.

Tapi hatinya berkata lain, dia masih sering memikirkan gadis itu. Walaupun banyak gadis cantik di kampusnya, juga banyak yang mencoba untuk mendekatinya. Tapi Baekhyun tidak pernah berminat dengan mereka, di hati Baekhyun hanya ada  seorang gadis yang bernama Hee Kyung. Dia menunggu gadis itu.

Sampai seorang gadis aneh mencoba mendekatinya. Seorang gadis bodoh yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkannya. Gadis yang setiap hari mengganggunya dengan cara kekanak-kanakan. Gadis yang perlahan-lahan memasuki relung hatinya dan seorang gadis yang mampu membuat Baekhyun sedikit demi sedikit melupakan Hee Kyung didalam hatinya. Gadis yang merubah semua kehidupan Baekhyun. Gadis yang sudah menjadi kekasihnya lima tahun belakangan ini, Shin In Jung.

Baekhyun tersentak kaget dari lamunannya ketika dia mengingat nama gadisnya. Dengan cepat Baekhyun mencari-cari letak ponselnya dimeja. Tapi tidak ada apa-apa disana. Baekhyun kemudian merogoh kantung celananya tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan ponselnya tersebut.

“Shit!” umpat Baekhyun pelan ketika dia baru menyadari sedari tadi dia tidak membawa ponsel. Pantes saja tidak ada suara berisik sama sekali, pikir Baekhyun.

Tok.. Tok.. Tok..

Tiba-tiba Baekhyun harus dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Tanpa perintah kepala Baekhyun langsung terangkat dengan sangat cepat. Dia tanpa sadar melupakan niatnya untuk menelpon kekasihnya dan mengacuhkan telponnya yang tertinggal. Degup jantungnya kembali berdetak tidak beraturan, berharap Hee Kyung-lah yang mengetuk pintu itu.

Baekhyun kemudian mempersilahkan orang itu untuk masuk dan harus menelan rasa kecewa ketika mendapati bahwa orang yang mengetuk pintu itu adalah sekertarisnya.

Myungsoo masuk dengan cengiran wajah seperti biasanya, sama sekali tidak menyadari kekecewaan yang dirasakan oleh Baekhyun yang terlihat menatap Myungsoo dengan wajah yang sangat datar. Terkadang seorang Kim Myungsoo benar-benar tidak peka.

“Baekhyun-ah, sudah saatnya untuk makan siang” kata Myungsoo ketika dia sudah berada didepan meja Baekhyun. Memperhatikan bosnya yang kemudian melihat jam yang melingkar ditangannya.

“Arraseo, kau tunggu saja diluar aku akan menyusul” kata Baekhyun yang membuat pria didepannya itu segera membungkuk dan berbalik keluar ruangan. Baekhyun kemudian merapikan kertas dan berkas yang berserakan diatas meja, menyusunnya dalam satu tumpukkan dan berdiri sambil menggunakan jas yang sedari tadi bertengger manis dikursinya.

Pria itu kemudian menyusul Myungsoo yang sudah menunggunya diluar ruangan. Mereka seperti biasa berjalan berdampingan. Ketika sudah berada didekat lift, mata Baekhyun dengan hati-hati menoleh kedalam ruangan yang ditempati kedua Assisten barunya sekarang. Tapi tidak ada seorangpun disana, dan Baekhyun baru ingat bahwa ini adalah jam istirahat.

Mereka sudah berada didepan lift sekarang, dan seperti biasa Myungsoo akan menekan tombol untuk turun kebawah. Sambil menunggu sesekali Myungsoo akan bertanya sesuatu kepada Baekhyun yang hanya akan dijawab singkat oleh pria itu.

Tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Menampakkan dua orang yang berada didalam lift. Baekhyun mengeraskan rahangnya ketika dia melihat dua orang itu tertawa dan berhenti ketika melihat Baekhyun dan Myungsoo.

Jongin dan Hee Kyung langsung saja membungkuk ketika melihat bos mereka berdua berada dihadapan mereka. Mata Hee Kyung kemudian bertabrakan dengan tatapan datar milik Baekhyun yang seketika membuat gadis itu menjadi gugup.

Mereka kemudian keluar dari lift dan mempersilahkan Myungsoo dan Baekhyun untuk masuk. Jongin dan Hee Kyung baru kembali keruangan mereka ketika pintu lift sudah tertutup.

Myungsoo dan Baekhyun sekarang sudah berada didalam mobil untuk mengantarkan mereka berdua menuju tempat makan yang mereka inginkan. Myungsoo melirik Baekhyun yang berada disebelahnya  bersender memejamkan mata. Sejak berada didalam lift tadi aura Baekhyun sudah sangat aneh, mood lelaki itu sepertinya sedang buruk untuk sekedar diajak untuk mengobrol. Yang ada dipikiran Myungsoo adalah Baekhyun pasti kelelahan karena pekerjaan-pekerjaan yang sangat banyak itu.

Baekhyun merasa sekarang kepalanya ingin pecah. Dia sungguh pusing memikirkan perasaannya saat ini. Hatinya sangat panas ketika melihat wanita itu tertawa dengan lelaki lain. Dia sangat ingin menjauhkan Jongin dari hadapannya saat itu juga. Tapi dia tahu dia tidak mungkin bisa melakukannya.

Hatinya kembali merasakan nyeri ketika tiba-tiba teringat sosok gadis lain. Dengan bodohnya dia melupakan kekasihnya. Baekhyun merasa sangat bersalah sekarang. Dia tidak seharusnya begini, Hee Kyung adalah masa lalunya dan gadis yang berada bersamanya sekarang adalah Shin In Jung. Dia tidak boleh memikirkan gadis lain selain In Jung.

Baiklah, ini baru hari pertama gadis itu bekerja disini. Dia pasti akan melupakannya begitu saja seiring berjalannya waktu. Ya, Baekhyun akan bertahan untuk sementara waktu.

&&&

Bakery & Coffee Shop

01.00 pm JST

Gadis itu sedang duduk sambil mendudukan kepalanya membaca sebuah buku besar yang terbuka lebar itu dengan kacamata besar kotaknya. Tidak tidak, dia tidak membacanya tapi hanya melihat saja kearah  buku itu. Gadis itu sedang melamun.

Ini sudah hampir seminggu sejak tragedi mimpi buruknya. Walaupun dia tidak pernah mengalami mimpi seperti itu lagi tapi tetap saja dia masih terganggu. Dia terus memikirkan penyebab kenapa mimpi itu hadir. Apakah sudah saatnya dia untuk pulang? Tapi makin sering dia berpikir semakin dia merasa yakin bahwa sekarang memang waktunya dia untuk pulang. Dia merasa tidak baik membiarkan Baekhyun menunggu terlalu lama. Semua urusannya di Jepang pun sepertinya sudah dia selesaikan.

Dia kemudian menyesap moccacinonya yang sedari tadi dia biarkan diatas meja dan menatap kearah ponsel yang juga berada disana. In Jung mendesah kecil ketika tidak ada satupun pesan dari Baekhyun sejak terakhir kali pria itu menelponnya pada saat kelulusan. Dia semakin merasa harus segera pulang ke Seoul sekarang.

Merasa bosan In Jung mengalihkan perhatiannya keluar jendela besar yang berada disamping kanannya dan melihat suasana musim semi diawal bulan April. Dimanapun tempatnya berada dia akan memilih meja yang berdekat dengan jendela, entahlah dia sangat menyukai ketika melihat pemanangan memalui jendela besar itu. Satu kesukaan yang dimilikinya dan juga dimiliki Baekhyun.

Matanya yang sedari tadi asyik melihat pejalan kaki yang ramai seketika berhenti ketika melihat sosok pria tinggi jangkung diseberang jalan sana. Tingginya yang memang diatas rata-rata membuat In Jung begitu mudah untuk mengenalinya. Lelaki itu menggunakan sebuah cap yang bertulisan ‘NY’, kamera yang menggantung dileher lelaki itu dan tas punggung. Dia hanya menggunakan setelan jeans dan kaos berwarna coklat juga jaket berwarna hitam yang diikat pinggangnya, yang membuat pria itu masih saja terlihat tampan.

Park Chanyeol sedang menunggu lampu hijau berubah menjadi lampu merah untuk berjalan keseberang sana bersama dengan orang-orang lainnya. Dia sedang berjalan-jalan karena merasa bosan di apartementnya dan memilih untuk kembali menggunakan kameranya untuk memotret semua yang ada di kota Tokyo ini.

Ia mengangkat kameranya dan mulai membidikan lensanya kearah orang-orang yang sedang berlalu lalang dihadapannya. Kemudian tanpa sadar mata Chanyeol terangkat melihat sebuah café yang berada diseberang sana. Dia melihat seorang gadis juga sedang menatapnya dan tidak lama kemudian gadis itu melambaikan tangannya kearah Chanyeol.

Pria itu kemudian melihat kearah atas dan melihat bahwa lampu sudah berubah menjadi merah. Tanpa menunggu lama Chanyeol langsung melangkahkan kakinya menuju gadis itu berada, dengan senyum tipis tentunya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu sekarang. Apakah ini pertanda baik untuk Park Chanyeol?

Suara lonceng berbunyi ketika Chanyeol memasuki café itu dan langsung disambut dengan bau roti yang sangat khas. Dia berjalan menuju tempat gadis itu berada, yang sekarang juga tengah melihat kepadanya. Mata gadis itu terus menatapnya hingga Chanyeol sudah duduk dihadapannya.

“Wah, kebetulan sekali kita bertemu disini” kata In Jung ketika Chanyeol baru saja melepaskan tasnya dan meletakkannya di kursi sebelah.

“Kau sedang apa?” lanjut In Jung bertanya dan masih memperhatikan gerak gerik pria didepannya. Dia begitu terkejut ketika melihat lelaki itu di ujung jalan sana yang sekarang sudah berada dihadapannya ini. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat pesta kelulusan.

“eoh, hanya sedang bosan dan bermaksud untuk berjalan-jalan” jawab Chanyeol sambil memperhatikan penampilan gadis itu. Kacamata besarnya serta rambut hitam lebatnya di gulung keatas semakin menarik perhatian Chanyeol. Gadis itu tidak benar-benar menggulung rambutnya karena Chanyeol dapat melihat anak rambut yang keluar dari ikatannya. Dari sini Chanyeol juga dapat melihat 3 tindik di telinga kanan dan 4 tindik ditelinga kiri gadis itu.

Satu kata itu terlintas begitu saja dipikiran Chanyeol. Dia hanya bisa menatap intens wanita yang sedang memanggil pelayan itu. Lalu menawarkan banyak pilihan menu yang mungkin akan dipesan oleh Chanyeol. Pria itu hanya mengangguk ketika gadis itu menawarkannya sebuah Cappucino panas dan roti mocca yang dengan semangatnya gadis itu mengatakan bahwa itu sangat enak.

Tanpa Chanyeol bertanya, dia sudah tau bahwa mungkin café ini adalah salah satu tempat kesukaan gadis ini. In Jung sangat menyukai semua hal yang berbau kopi. Dan jika bila tidak ada jenis kopi atau semacamnya dimenu, dia akan memilih yang ada rasa coklat. Chanyeol sangat mengetahui hal itu, gadis itu tidak pernah berubah.

“Kau sendiri sedang apa?” tanya Chanyeol ketika pelayan itu sudah pergi. Gadis itu tidak langsung menjawab tapi dia menyempatkan diri sebentar melihat kearah ponsel di atas meja yang juga diikuti oleh Chanyeol.

“Ah, aku sama sepertimu sedang bosan” jawab In Jung setelah berhenti menatap ponselnya. Dia kemudian menyesap moccanino nya yang tinggal setengah.

“Apakah kau sedang menunggu seseorang?”

“Aniyaa, kau sendiri?”

“Tidak, aku juga tidak sedang menunggu siapa-siapa” jawab Chanyeol. Tidak lama setelah itu seorang pelayang datang membawakan pesanan Chanyeol, atau pesanan In Jung untuk Chanyeol.

Chanyeol lalu menyesal capuccinonya, dan memang benar apa kata In Jung minuman ini sangat enak saat diminum musim semi seperti sekarang. Pria itu meletakkan kembali gelasnya dan berdehem pelan.

Mereka akhirnya hanya saling diam, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. In Jung yang hanya memainkan ponselnya dan Chanyeol melihat-lihat hasil gambar dikameranya. Karena merasa bosan akhirnya Chanyeol meletakkan kembali kameranya dan memperhatikan In Jung yang masih asyik memainkan ponsel berwarna putih itu.

“Kau yakin tidak sedang menunggu seseorang?” tanya Chanyeol yang mulai tidak tahan dengan tingkah gadis itu. In Jung yang ditanya mengangguk dan meletakkan kembali ponselnya dimeja.

In Jung sebenarnya hanya membuka asal semua folder yang ada di ponselnya, karena dia tidak tahu harus bertanya apa lagi pada pria didepannya itu. Pria itu terlihat tidak mempunyai minat untuk mengajaknya berbicara dan malah asyik bermain dengan kameranya.

“Kau mau menemaniku berjalan-jalan?” tanya Chanyeol yang langsung membuat wanita didepannya sekarang tengah tersenyum lebar.

“Baiklah, kebetulan aku lagi tidak ada kerjaan. Dan aku memang sedang butuh teman untuk berjalan-jalan. Kau tau selama di Tokyo aku sangat jarang untuk berpergian, ini mungkin saat tepat karena sebentar lagi aku akan pulang ke Seoul” kata In Jung bersemangat sambil memasukkan buku dan ponselnya yang ada diatas meja kedalam tasnya. Dan tiba-tiba saja sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam menatap ajaib wanita didepannya ini.

In Jung yang sudah berjalan mendekati ambang pintu itu pun berbalik ketika tidak ada respon apapun dari Chanyeol. Gadis itu mengerutkan wajahnya ketika melihat pria itu masih duduk disana masih dengan menatapnya.

“Palliii~” Kata In Jung dengan tangan terangkat menyuruh Chanyeol segera mengikutinya. Pria itu dengan cepat mengeluarkan uang 1000 yen kemudian meletakkannya di meja dan menggunakan kembali tas ranselnya, tak lupa dia menggantungkan kameranya di lehernya sambil mengikuti gadis yang sudah berada di luar café itu dengan wajah senang tertahan.

&&&

Rooftop – Byun Corp

01.00 pm KST

Wanita itu tengah asyik menikmati pemandangan dari atas bangunan tinggi ini. Merentangkan tangannya dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajah dan menerbangkan rambut indahnya. Sekarang adalah jam makan siang, wanita itu yakin bahwa kantin kantor pasti penuh. Dan dengan bodohnya temannya yang bernama Jongin meninggalkannya sendiri karena pria itu berkata, ia sedang mengajak karyawan lain untuk makan bersama. Hee Kyung sudah tau karyawan itu pasti seorang wanita.

Ini sudah seminggu sejak ia bekerja ditempat ini. Walaupun dia baru bekerja disini tapi sudah banyak yang harus dia urus dengan Jongin. Dan dia harus pasrah dengan semua pekerjaan itu karena perusahaan ini sedang melakukan proyek baru, pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Semua pekerjaan ini menjadi sangat melelahkan karena dia menjadi jarang bertemu dengan pria itu, ya dia Byun Baekhyun.

Pria itu pastilah sangat sibuk dibandingkan dirinya. Ia selalu memperhatikan pria itu, dari wajahnya yang lelah hingga lingkaran hitam dibawah matanya. Meski hanya sekilas ketika pria itu –lebih tepatnya Myungsoo menyapanya saat ingin keluar bertemu atau rapat dengan pembisnis lain.

Memikirkan pria itu semakin membuat ia merindukannya. Pria yang tidak pernah melihat kepadanya sekalipun, ketika banyak pria lain yang berdatangan. Entah sejak kapan Hee Kyung telah menyukai Baekhyun. Dia sendiri tidak sadar kapan perasaan itu tumbuh. Dia dan pria itu sangat jarang untuk berbicara ketika masih bersekolah dulu. Hee Kyung bisa menghitung dengan jari seberapa banyak mereka berinteraksi.

Dia tidak pernah mendengar kabar pria itu lagi ketika dia sudah memasuki masa menjadi mahasiswa. Dan Hee Kyung sangat terkejut ketika bertemu lagi dengan pria itu dan mengetahui dia akan sering bertemu karena Baekhyun adalah CEO dari perusahaan tempat dia bekerja sekarang.

Ini seperti dejavu bagi Hee Kyung. Perasaannya menjadi lepas kendali setiap kali berpapasan dengan pria itu. Walaupun pria itu tidak berubah sama sekali, tidak berminat kepadanya.

Hee Kyung menarik nafas panjang sebelum memutuskan berbalik bermaksud untuk kembali kedalam ruangannya. Tetapi langkah wanita itu terhenti ketika melihat sosok pria berdiri di depan pintu yang akan membawanya masuk kedalam gedung. Pria yang baru saja dia pikirkan.

Pria itu terlihat sedang menelpon dan Hee Kyung dapat mendengar nama Myungsoo terucap. Ketika Baekhyun mengangkat wajahnya, mata mereka berdua bertemu. Wanita itu sebenarnya sangat ingin langsung melangkahkan kakinya untuk masuk gedung. Tapi dia tetap diam pada posisinya.

Tidak lama kemudian Baekhyun memutuskan sambungannya dengan sekertarisnya itu. Mereka berdua akhirnya saling menatap satu sama lain. Cukup lama mereka berada diposisi itu. Dan sepertinya Hee Kyung tersadar terlebih dahulu karena selanjutnya dia membungkuk dan memberi salam dan dibalas senyum tipis oleh Baekhyun. Hanya senyum tipis yang sangat singkat tapi efeknya sangat hebat untuk Hee Kyung..

“Sedang apa disini? Kau tidak beristirahat untuk makan siang?” kata Baekhyun sambil melangkah mendekat dan berhenti disamping wanita itu. Sebenarnya tadi Baekhyun tidak sengaja kesini. Kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sangat lelah dengan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Langkah kakinya membawanya begitu saja kemari. Dia tidak menyangka sama sekali akan bertemu wanita ini disini. Entahlah, tapi Baekhyun merasa ini seperti kesempatan untuknya, untuk berbicara dengan Hee Kyung.

“Nde? Ah, saya hanya iseng kesini tuan” kata Hee Kyung kikuk. Dia sebenarnya tidak terlalu mengharapkan Baekhyun akan mengajaknya mengobrol karena itu akan semakin membuat debaran didadanya semakin keras. Tapi dia juga sangat senang ketika pria itu memulai pembicaraan dengannya.

“Mau menemaniku untuk mengobrol?” tawar Baekhyun sambil melangkah kekursi panjang lengkap dengan mejanya, didekat taman diatas kantor itu. Perasaan Baekhyun tidak kalah gugupnya dengan Hee Kyung. Bibirnya bergemetar ketika mengajak Hee Kyung untuk berbicara. Hatinya berontak, tapi logikanya memaksanya untuk jauh bertindak terhadap Hee Kyung.

Hee Kyung yang tidak paham dengan situasi ini masih tetap berdiri dengan diam. Wajahnya menunjukkan ekspresi bodoh tidak mengerti. Tetapi tetap mengikuti Baekhyun duduk didepan pria itu.

“Kau masih mengingatku, bukan?” tanya Baekhyun memulai pembicaraan ketika  sedari tadi mereka hanya duduk tanpa ada suara.

“Nde, tuan. Mana mungkin saya melupakan teman sekolah saya dulu”

“Baguslah kalau begitu. Dan bisakah kau tidak usah memanggilku tuan. Aku merasa sangat tua jika kau panggil seperti itu”

&&&

Shibuya street

03.15 pm JST

Pria itu mengikuti wanita tersebut dari belakang. Melihat tingkah wanita itu dengan diam. Mereka sekarang berada ditempat yang dipenuhi oleh banyak wisatawan baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Sedari tadi mereka hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas. Sebenarnya juga pria itu sangat ingin berjalan berdampingan dengan wanita itu, tapi dia terlalu canggung.

Terakhir kali dia bertemu dengan wanita ini ketika dipesta kelulusan dengan kejadian dimana dia berani mengajak wanita itu untuk berdansa tiba-tiba. Chanyeol-pria itu masih sangat ingat bagaimana rasanya saat tangannya menyentuh tangan wanita itu. Dan dia masih merasakan efek degupan jantungnya hingga sekarang.

Bagi seorang Chanyeol, berada disisi wanita itu sudah membuatnya sangat senang. Sudah terlalu lama untuk Chanyeol menyimpan perasaan ini pada wanita itu, Shin In Jung. Chanyeol tidak akan mengatakan bahwa dia tidak ingin memiliki wanitanya. Dia bukan seorang yang munafik. Dia sangat menginginkan In Jung menjadi miliknya seutuhnya. Tapi dia tahu itu tidak mungkin terjadi karena Chanyeol mengetahui bahwa wanitanya sudah memiliki seorang kekasih.

Mengingat itu Chanyeol kembali harus mengeluarkan senyum pahit. Chanyeol sangat tahu semua tentang wanita itu, semua.

“Park Chanyeol, kenapa kau memilih Tokyo untuk melanjutkan pendidikanmu?”

Pria itu refleks mengangkat kepalanya ketika mendengar suara yang bertanya padanya. Dia baru sadar bahwa In Jung melangkahkan kakinya dengan lamban untuk menyeimbangi langkah Chanyeol yang berada dibelakangnya.

“Tidak ada alasan khusus. Hanya iseng saja” kata Chanyeol menjawab pertanyaan In Jung yang kemudian menolehkan kepalanya kepada Chanyeol.

“Wah, daebak. Keberuntungan selalu berada kepada orang-orang yang tidak berminat. Kau tau, aku harus belajar mati-matian untuk bisa diterima di universitas itu.” ucap In Jung dan kembali melanjutkan langkah kakinya kemudian memulai untuk mengoceh.

Chanyeol sangat menyukai ketika wanita itu berbicara, dan itu seperti candu tersendiri baginya. Karena suara wanita itu tidak seperti wanita pada umumnya yang terkesan lembut, In Jung tipe wanita yang akan berbicara dengan blak-blakan tanpa basa-basi. Wanita itu tidak akan pernah berhenti berbicara ketika menceritakan tentang dirinya dan dia akan seperti itu ketika dia merasa nyaman dengan seseorang.

Dan dia berbohong tentang tidak mempunyai alasan khusus kenapa dia memilih Tokyo untuk melanjutkan pendidikannya, tentu saja. Chanyeol tidak mungkin mengaku bahwa In Jung-lah alasan kenapa dia memilih Tokyo dari semua tempat yang ada didunia ini.

Bukan In Jung saja yang mati-matian untuk bisa masuk ke universitas itu, ia pun juga harus berjuang agar bisa diterima. Dan Chanyeol menjadi pusing ketika dia harus mengingat semua buku-buku panduan masuk universitas itu.

Semua kenangan itu tiba-tiba membuat pria itu harus kembali disadarkan dengan status wanita itu. Ketika pertama kali Chanyeol mengetahuinya, dia langsung merasakan sedih yang amat dalam, penyesalan itu terus bermunculan dihatinya. Dia terus menyalahkan dirinya yang selalu terlambat untuk bisa mendapatkan In Jung. Dia juga menyesali tindakan bodohnya yang tidak langsung menyatakan perasaannya dulu ketika masih bersekolah bersama.

Itulah kenapa sebabnya 2 tahun ini ketika sudah di universitas yang sama, Chanyeol tidak terlalu merespon kehadiran wanita itu. Dia bermaksud untuk melupakannya, walaupun dia harus bertahan dengan pilihannya sendiri untuk tetap melanjutkan kuliahnya di Tokyo.

Tapi perasaan tidak bisa untuk dibohongi. Semakin sering dia berusaha melupakan maka semakin dalam perasaan itu akan hadir. Tanpa berfikir panjang, Chanyeol mengambil kesimpulan sendiri, bahwa kesempatan itu masih ada.

You never know if you never try. 

Dan kesempatan itu akan dia gunakan dari sekarang. Dia akan membuat wanita itu berpaling padanya. Dia egois, memang benar. Tidak ada manusia yang tidak egois didunia ini, dan Chanyeol salah satunya.

“Chanyeol-sshi, aku mau kesana”

Chanyeol yang sedari melamun akhirnya tersadar. Matanya beralih melihat kemana arah telunjuk wanita itu tertuju. Seketika Chanyeol mendengus ketika melihat arah pandang wanita itu. Ia ingin ketempat patung Hachiko yang berada diseberang sana. Pria itu kemudian menoleh kembali kepada wanita yang juga sedang menatap kearahnya.

“Wae?” tanya Chanyeol ketika wanita itu hanya terus menatapnya tanpa suara dan tidak langsung melangkahkan kakinya ketempat yang dia inginkan. Dan seketika Chanyeol mengingat sesuatu.

“Kau masih tidak berani menyeberang jalan sendiri?” sindir Chanyeol dengan wajah datarnya.

Pria itu kemudian mendesah ketika melihat wanita itu mengangguk. Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berjalan mendahului In Jung.

“Ikuti aku” kata Chanyeol yang sudah berdiri dipinggir jalan, diikuti In Jung yang berada di belakangnya.

Jarak mereka berdiri dengan tempat patung tidaklah terlalu jauh, walaupun sesekali ada mobil yang berlalu didepan mereka dan tentu saja juga banyak pejalan kaki seperti mereka. Tapi tetap saja In Jung merasa sangat takut ketika melihat ada sebuah mobil melintas didepannya.

“Shin In Jung, bagaimana bisa kau menyeberang jalan tanpa dibantu oleh seseorang, eoh?”

“Aku akan berjalan ketika ada lampu merah dan tentu saja di jalan zebra”

“Wah, apa yang kau maksud walaupun lampu merah itu berada diujung kau akan tetap kesana untuk menyeberang”

“Yah, aku rasa begitu” kata In Jung sambil mengikuti Chanyeol yang sudah mulai menyeberang jalan. Oh, tangan In Jung mulai berkeringat sekarang. Menyeberang jalan adalah hal yang paling dia takuti kedua setelah kegelapan. Dengan berani In Jung menarik ujung jaket Chanyeol dengan hati-hati.

Chanyeol yang merasa ujung jaketnya sedang ditarikpun kemudian menoleh kebelakang dan melihat bahwa tangan wanita itu lah yang sedang memegang ujung jaketnya.

Dengan perlahan Chanyeol menggerakan tangannya meraih tangan itu dengan lembut, dan menggenggamnya erat. Pria itu dapat merasakan keringat  dingin ditelapak tangan wanitanya.

In Jung secara refleks membalas genggaman tangan Chanyeol. Dia memang memerlukan pegangan sekarang dan dengan senang hati Chanyeol memberikannya. Dia merasa seperti dilindungi walaupun hanya dengan tangannya yang digenggam. Dia merasa sangat aman sekarang.

&&&

“Park Chanyeol”

“hmm”

“Park Chanyeol-sshi”

“hmm?”

“Chanyeol-ah~~~”

Chanyeol yang seperti biasa sibuk dengan kameranya langsung menolehkan wajahnya menatap wanita itu ketika dia mendengar sapaan darinya. Dia sedikit terkejut ketika mendengar kembali sapaan informal itu dari In Jung.

“Ngg, tidak apa-apa kan aku memanggilmu seperti itu. Maksudku, dulu kita tidak pernah berbicara formal satu sama lain dan sekarang aku harus memanggilmu dengan sapaan –sshi itu membuatku agak aneh. Ngg, kau juga harusnya memanggil aku dengan In Jung-ah. Tapi… Ah sudahlah lupakan” kata In Jung sambil cemberut. Dia menjadi sebal ketika dia tidak bisa menyampaikan apa maksud perkataannya. Dia sungguh merasa tidak nyaman untuk berlaku formal terhadap Chanyeol. Lagian kan mereka memang sudah berteman sejak dulu.

Chanyeol tersenyum ketika melihat wajah cemberut wanita disebelahnya yang sekarang sudah menyilangkan tangan ke dada. Dia sangat paham apa yang diinginkan wanitanya, tapi dia membiarkan wanita itu menjelaskannya terlebih dahulu dan tentu saja melihat wajah cemberut In Jung adalah hiburan tersendiri untuk Chanyeol.

“Arraseo, In Jung-ah~~” kata Chanyeol yang membuat In Jung jadi tesenyum lebar. Chanyeol yang melihatnya itu pun juga ikut tersenyum.

Mereka sekarang tengah berada dikeramaian dekat patung Hachiko. Patung seorang Anjing yang menjadi sejarah dikota Tokyo tersebut.

Kalian pasti mengetahui ceritanya bukan. Cerita seorang anjing yang sangat setia dengan majikannya yang  merupakan seorang professor, ia mengajar disalah satu kampus terkenal di Tokyo pada jaman dahulu. Anjing itu selalu mengantar si Professor ketika berangkat bekerja dan akan menjemputnya ketika sore tiba. Tapi tiba-tiba si Professor meninggal mendadak terkena serangan jantung ketika sedang mengajar dikelas. Hachiko yang tidak tahu apa-apa itu pun tetap menunggu sang Professor  hingga sekitar 8 tahun.

Itulah yang diceritakan In Jung kepada Chanyeol dengan sangat bersemangat. Sebenarnya Chanyeol sudah tahu cerita tentang anjing yang bernama Hachiko itu. Tapi dia tetap mendengarkan wanita itu bercerita sambil terus memperhatikan setiap ekspresi wanitanya. Dia tertawa pelan ketika mendengar kisah wanita itu yang mengatakan bahwa ia menangis tersedu-sedu saat menonton filmnya. Dan terus menangis walaupun sudah menonton film itu berkali-kali.

Setelah In Jung puas berada ditempat itu, akhirnya In Jung bermaksud untuk mengajak Chanyeol ketempat lain. Dan In Jung memilih untuk berjalan-jalan sambil mungkin akan membeli beberapa barang ditoko-toko yang berdampingan disekitar jalan itu.

In Jung kemudian berjalan di atas trotoar yang ada dipinggir jalan. Dengan sesekali menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Dia berjalan berdampingan dengan Chanyeol yang masih berada dibawah. Sesekal pria itu melirik kearah In Jung memastikan wanitanya tidak ceroboh dengan jatuh tiba-tiba.

“Kenapa tidak sama juga?” gerutu In Jung malas. Dan dia langsung melompat kebawah jalan kesamping Chanyeol dan mulai mengikuti langkah panjang pria itu.

“Waeyo?”

“Tinggi kita tetap tidak sama.” Kata In Jung yang membuat Chanyeol mengerutkan alisnya tidak mengerti.

“Walaupun aku sudah berjalan sedikit diatasmu. Tetap saja aku tidak jauh tinggi dari telingamu.” Lanjut wanita itu sambil mendengus tidak suka.

Memang benar ketika In Jung berada diatas tadi tingginya hanya sebatas telinga Chanyeol dan itu membuat wanita itu menjadi kesal. Saat mereka berdampingan saja tinggi In Jung tidak lebih dari dada Chanyeol. Mungkin In Jung harus mengikuti saran dari Naomi untuk mulai menyukai menggunakan heels. Sekarang saja dia hanya memakai boots. Tapi In Jung tidak lah begitu pendek, tingginya ideal sebagaimana tinggi wanita lainnya. Hanya saja sekarang dia sedang berjalan dengan pria yang tidak tepat.

Chanyeol yang mendengar itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Menurutnya itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal, dia tidak habis pikir kenapa wanita itu selalu melakukan hal yang mengejutkannya. Hanya untuk menyeimbangkan tinggi badannya dengan Chanyeol wanita itu dengan sengaja berjalan diatas trotoar.

In Jung yang mendengar tawa Chanyeol menjadi terdiam. Sudah lama dia tidak mendengar suara tawa Chanyeol, dan dia baru ingat bahwa pria itu mempunyai suara yang berat dan juga… seksi.

Tidak butuh waktu yang lama untuk In Jung bisa membuat Chanyeol menjadi lebih akrab dengannya. Walaupun dia tidak tahu, Chanyeol akan tetap merasa nyaman berada didekat wanita itu tanpa In Jung berusahapun.

Mereka akhirnya berjalan berdampingan sambil sesekali memasuki toko-toko souvernir disekitar jalan Shibuya. Orang-orang yang melihat mereka akan mengira mereka adalah pasangan kekasih yang bahagia. Mereka berdua membuat banyak orang iri.

&&&

Byun Corp

06.00 pm KST

Baekhyun masuk kedalam mobilnya yang berwarna hitam itu, dia sedang berada diparkiran mobil di perusahaannya. Ia melonggarkan sedikit ikatan dasinya dan mulai menstarter mobil miliknya itu.

Baru sekitar tiga hari ini Baekhyun menyetir sendiri kekantor. Biasanya dia akan dijemput supirnya dan sekertarisnya, Myungsoo. Tapi dia merasa kasihan kepada pria itu karena harus pagi-pagi berangkat dari rumahnya dan harus segera menjemput Baekhyun.

Ia menyenderkan kepalanya sebentar sambil memejamkan matanya. Hari ini sungguh melelahkan seperti hari-hari sebelumnya. Dia sangat membutuhkan istirahat. Semua pekerjaan ini sangat menyita semua waktu dan energinya.

Tapi tiba-tiba pria itu mengeluarkan senyum manisnya. Semua kelelahannya tiba-tiba saja menguap ketika mengingat wajah wanita itu. Wanita yang dia temui dengan tidak sengaja diatas taman atap kantor tadi.

Walaupun mereka memulai pembicaraan dengan sangat canggung, tetapi pada akhirnya mereka berbicara sangat banyak sampai-sampai melupakan waktu istirahat mereka yang sudah selesai.

Hee Kyung seperti menariknya lebih dalam lagi. Wanita itu seperti selalu bisa menguasai suasana. Pembicaraan basa basi tadi terlihat menyenangkan karena wanita itu selalu bisa menjawab dengan jawaban yang menakjubkan. Siapapun yang berbicara dengannya pastilah tidak akan bosan dan itu yang dirasakan oleh Baekhyun. Itu adalah kali pertama mereka berbicara berdua sejak terakhir kali dulu sewaktu SMA –yang pria itu sendiri tidak ingat kapan. Mereka berdua seperti sahabat lama yang kembali bertemu.

Dia sudah berusaha untuk menghindari wanita itu. Tapi dia tidak dapat berbohong ketika merasakan desiran aneh ketika berpapasan dengan wanita itu, dan perasaan cemburu ketika melihat wanita itu terlihat akrab dengan lelaki lain. Sekeras apapun Baekhyun menekan perasaannya, tapi dia tetap tidak akan bisa.

Baekhyun mulai menginjak pedal gas mobilnya. Berbelok keluar parkiran menuju halaman depan gedung itu. Matanya yang sedang fokus menyetir teralihkan ketika dia sudah berada dijalan dan melihat wanita itu didepan sana. Sepertinya Hee Kyung tengah menunggu kedatangan bus.

Pria itu dengan senyumnya membelokkan setirnya dan berhenti didepan posisi wanita itu. Membuka salah satu jendela mobilnya dan menyuruh wanita yang terlihat sedikit kaget itu untuk masuk kedalam mobilnya. Baekhyun bermaksud mengantarkan Hee Kyung untuk pulang.

Wanita itu masih diam ditempatnya. Dia bingung untuk menerima atau menolak tawaran dari pria itu. Tapi ketika pria itu menyuruhnya lagi dengan nada memerintah dan tidak dapat dilawan, akhirnya Hee Kyung memutuskan untuk masuk kedalam mobil pria itu, membiarkan Baekhyun mengantarnya pulang untuk pertama kali.

Baekhyun tau ini salah, dia seharusnya tidak boleh berbuat terlalu jauh mendekati Hee Kyung. Dia tidak memikirkan dampaknya kelak. Dampak yang sangat besar untuk mereka semua termasuk wanita yang sekarang menjadi kekasihnya. Dia juga tidak memikirkan perbuatannya ini akan menjebaknya dalam sebuah pilihan yang sangat berat. Sekarang yang dia pikirkan hanyalah ego-nya yang menginginkan dirinya untuk lebih dekat dengan Hee Kyung. Dia melupakan segalanya ketika berada didekat wanita itu dan melupakan kekasihnya sendiri, Shin In Jung.

&&&

Ginza

07.45 pm JST

“Kau yakin ingin makan disini?”

Chanyeol mengangkat wajahnya yang sedang membaca buku menu menatap wanita dihadapannya sekarang, menatapnya datar tanpa minat. Kemudian pria itu mengangguk malas dan kembali membaca setiap menu yang ada. Ini adalah kesekian kali wanita itu bertanya pada Chanyeol apakah pria itu yakin untuk makan ditempat ini.

Wanita itu juga mengikuti pria didepannya kembali membaca buku menu. Dia ragu untuk memilih menu apa untuk makan malamnya sekarang. Tidak ada harga sama sekali dalam daftar tersebut. Tapi dia sedang lapar, sangat lapar. Dia hanya memakan roti tadi siang.

Berjalan-jalan dengan Chanyeol hari ini sangat menguras energinya. Mereka berdua sekarang tengah berada disebuah restaurant yang berada di Ginza. Kalian tau tempat apa itu.

Ginza adalah salah satu tempat yang masuk daftar ‘tempat shopping termahal didunia’.

Ketika kalian mengetahui fakta itu. apa yang kalian pikirkan? Tentu saja uang. Dan hal itu juga yang ada dipikirkan In Jung ketika Chanyeol mengajaknya ketempat ini. Pria itu mengatakan dia ingin membelikan beberapa barang untuk Ibu dan juga kakak perempuannya yang ada di Seoul sebagai oleh-oleh dari Jepang. Karena itu In Jung tidak bisa menolaknya jadilah dia mengikuti Chanyeol ketempat ini.

Selama mengikuti Chanyeol berbelanja, sesekali In Jung juga melihat-lihat gaun, tas maupun sepatu baik itu heels atau boots yang terpajang dietalase toko. In Jung juga sempat melirik beberapa aksesoris lainnya. Tapi ketika dia melihat semua price tag itu, In Jung seperti terkena serangan jantung mendadak. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa harga satu kaos baju saja bisa mencapai $200.

In Jung kembali was-was ketika Chanyeol mengajaknya untuk makan malam. Dan benar saja, pria itu mengajaknya ketempat ini yang dari luar saja terlihat sangat mewah berinterior klasik elegant. In Jung sangat yakin bahwa makanan disini sudah pasti mahal.

“Chanyeol-ah, aku sepertinya memesan air putih saja.” Kata In Jung sambil menutup buku menunya. Dia tidak yakin akan bisa membayar semua makanannya nanti. Dia tidak mungkin terang-terangan meminta Chanyeol untuk membayar semua makananya. Dan dia lebih memilih untuk tidak makan.

Pria itu menatap In Jung dengan tatapan tanpa ekspresi dan kemudian menyenderkan tubuhnya kesenderan kursi. Melipat kedua tangannya dan menyilangkan kedua kakinya. In Jung yang ditatap pun membalas dengan tatapan polos, dia berharap Chanyeol bisa mengerti dengan keadaan dirinya sekarang dan juga keuangannya.

Tangan pria itu terangkat memanggil pelayan. Tidak lama pelayan itu datang menghampiri mereka dengan tangan yang sudah siap mencatat pesanan mereka berdua.

“Tolong berikan kami semua makanan terbaik kalian…” kata Chanyeol memesan yang membuat In Jung dan pelayan itu mengerutkan dahinya. Chanyeol melirik In Jung sebentar sebelum melanjutkan pesanannya.

“Dan aku ingin minuman Moccacino dan Cappucino. Oh iya jangan lupa siap kan air putih juga” kata Chanyeol sambil mendorong buku menu kearah pelayan itu. Dengan sigap pelayan itu mengambil buku tersebut dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Chanyeol memandang remeh kepada In Jung. Dan wanita itu paham dengan arti tatapan mata Chanyeol. In Jung kemudian mengikuti gerakan Chanyeol yang melipat kedua tangannya dan menyilangkan kedua kakinya. Wanita itu mendengus sebentar.

“Cih, daebak. Aku lupa bahwa kau sangat kaya raya.”

“Tentu saja, untuk apa aku mengajakmu kesini jika aku tidak mempunyai uang.”

“Dasar pria sombong.”

Chanyeol tidak menjawab perkataan terakhir dari In Jung. Pria itu sekarang malah asyik bermain dengan ponselnya. In Jung kembali mendengus melihat pria itu yang mengacuhkannya dan dengan kasar dia juga mengambil ponselnya di dalam tas.

In Jung langsung terdiam ketika menatap ponsel itu. Wajah kesalnya berubah dengan wajah sedih tertahan. Dia hampir melupakan keberadaan ponsel itu seharian ini.

Dia menekan tombol tengah benda berwarna putih itu dan benda itu menampilkan sebuah gambar seorang lelaki yang tengah tertidur dengan sangat pulas. In Jung tersenyum dan menggeser layar ponselnya lagi dan sekarang tampaklah gambar dirinya yang sedang tersenyum meunjukkan gigi-gigi putihnya dan seorang lelaki yang juga menunjukkan ekspresi yang sama.

In Jung kemudian membuka folder message dan mendesah pelan karena masih tidak ada satupun pesan dari lelaki itu. In Jung bukannya tidak mau menelpon atau memberi pesan terlebih dahulu kepada Baekhyun. Tapi dia takut akan mengganggu semua pekerjaan lelaki itu. In Jung sangat tahu bahwa Baekhyun pasti sangat lelah dan dia tidak ingin menambah bebannya dengan bersikap manja.

Wanita itu tidak sadar sedari tadi pria didepannya tengah memperhatikannya. Tanpa bertanyapun Chanyeol sudah tahu alasan kenapa wanita itu menjadi sedih.

Tidak lama kemudian perhatian In Jung teralihkan ketika seorang datang membawakan minuman yang mereka pesan disusul dengan datangnya banyak makanan yang langsung memenuhi meja yang ditempat Chanyeol dan In Jung.

In Jung secara refleks langsung meletakkan ponselnya lagi kedalam tas dan melupakan kegalauan yang tadi sempat menyerangnya. Matanya berbinar-binar menatap semua makanan yang ada diatas meja. Cacing-cacing didalam perutnya sudah berdemo ingin secepatnya diberi asupan makanan.

“Selamat makan~~” kata In Jung yang memulai mengambil semua makanan yang dia mau dan meletakkannya diatas piring. Memakannya dengan lahap dan terkadang terbatuk, dia sungguh sangat lapar.

Chanyeol menatap wanita itu dengan senyum. Apapun yang dilakukan In Jung selalu bisa membuat Chanyeol merasa senang berada didekat wanita itu. Dia merasa bersyukur karena wanita itu dengan sangat cepat melupakan kesedihannya beberapa menit yang lalu. Chanyeol mulai menggerakkan sumpitnya dan mulai makan dengan suasana hati yang baik.

Mereka makan dengan diam. In Jung sangat menikmati semua makanan yang dia makan sedangkan Chanyeol sangat menikmati ekspresi wanita yang berada didepannya.

&&&

“Hujan” kata Chanyeol menghentikan langkah wanita yang berada dibelakangnya. Kepala wanita itu kemudian terjulur untuk melihat apa yang dikatakan pria itu. Hujan itu tidak terlalu lebat memang tapi sanggup untuk membuat mereka basah kuyup nanti kalau mereka nekat untuk masih berjalan menuju halte bus terdekat.

Setelah selesai makan, Chanyeol langsung mengajak In Jung untuk pulang. Jam sudah menunjukkan hampir sepuluh malam. Dan pria itu merasa sepertinya sudah cukup untuk mereka hari ini berjalan-jalan. Meski sebenarnya Chanyeol merasa tidak rela melepas kebersamaan mereka, jadi dia memutuskan untuk mengantar wanita itu pulang.

Pria itu menoleh ketika In Jung menyenggol tangannya dan memberikan sebuah payung transparan kepadanya.

“Cih, kebetulan sekali kau membawa payung” kata Chanyeol dan langsung membuka payung yang lumayan besar itu, cukup untuk mereka berdua. In Jung kemudian mengoyangkan telunjuknya kekanan dan kekiri meralat perkataan Chanyeol.

“Tidak ada yang kebetulan didunia ini. Aku sudah tau kalau hari ini akan hujan, makanya aku membawa payung” Jelas In Jung sambil merapatkan tubuhnya ketubuh Chanyeol. Gerakan tiba-tiba itu membuat Chanyeol menjadi gugup, dengan jarak sedekat ini baik In Jung maupun Chanyeol dapat mencium harum tubuh masing-masing diantara mereka. Dengan cepat Chanyeol menyembunyikan kegugupannya dan berjalan perlahan menuju halte terdekat.

In Jung membentangkan tangannya untuk merasakan air yang jatuh ketika mereka sudah berada dihalte bis. Hujan semakin lama semakin deras. In Jung memajukan bibirnya bosan. Dia tidak begitu suka dengan hujan.

Lengket, basah dan harus membuat semua orang menunggu.

In Jung hanya menyukai bau setelah hujan, menurutnya baunya itu sangat menyejukkan hati. In Jung tidak mengerti mengapa banyak orang yang menyukai hujan. Naomi saja selalu mengomel ketika dia sudah berkata begitu.

Dia melirik kebelakang dan melihat pria itu sedang duduk dengan tenang. Mungkinkah Chanyeol juga menyukai hujan?

Tiba-tiba In Jung mengingat sesuatu dan berlanjut dengan ia mencari sesuatu dalam tasnya. Dia mengingat barang yang dia belikan tadi di Shibuya untuk pria itu.

“Chanyeol-ah~ Apakah kau masih menyukai one piece” kata In jung dan duduk disamping pria itu.

“Hmm”

“Igeo” kata In Jung sambil memberikan sebuah gantungan kecil dengan boneka salah satu tokoh pemeran serial animasi one piece, Cooper.

“Mwoya?” tanya Chanyeol sambil menerima benda itu dari In Jung.

“Ani, tadi ketika di Shibuya aku melihat gantungan itu. Dan aku ingat kau dulu menyukai One Piece jadi aku belikan saja itu untukmu.”

“Walaupun harganya tidak sebanding dengan harga makanan yang telah kau bayar. Tapi, maksudku kau harus menyimpannya dengan baik.” Lanjut In Jung dan berdiri karena dia mulai merasa malu kepada pria itu. Tidak lama setelah itu sebuah bus datang dan sudah berada didepan mereka, dengan cepat In Jung langsung masuk meninggalkan Chanyeol yang tersenyum lebar menatap In Jung dan benda itu secara bergantian.

&&&

Wanita itu tertidur dengan sangat pulasnya. Sesekali kepalanya membentur kaca bus, tapi tetap tidak membuat wanita itu terbangun. Kejadian itu seperti sebuah hiburan tersendiri untuk seorang Park Chanyeol. Dengan wajah tak berdosa, dia mengabadikan kejadian itu dengan kamera ponselnya.

Wanita itu sepertinya sangat kelelahan. Terbukti ketika tidak sampai sepuluh menit mereka berada di dalam bus -yang hanya ditempati mereka berdua dan 5 orang lainnya- wanita itu sudah tertidur.

Dengan perasaan senang, Chanyeol melihat lagi hasil gambar diponselnya. Kemudian pria itu mengambil gantungan yang diberikan wanita itu, dikantong celananya.

Pria itu tersenyum, sangat manis. Dia tidak menyangka kalau wanita itu masih mengingat kesukaannya. Tidak menyangka bahwa dia akan memberikan benda ini kepadanya. Tanpa wanita itu suruhpun, pria itu pasti akan menyimpan benda itu baik-baik.

Dia sungguh mencintai In Jung. Sampai terkadang memikirkannya saja membuat nafasnya sesak. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan cinta yang membuatnya sebahagia ini dan cinta yang sekaligus membuatnya sangat menderita.

Bukannya dia tidak mencoba untuk mencari wanita lain. Sudah banyak yang dia kencani tapi tidak bisa membuat dia berpaling dari wanita disampingnya itu. Dia sungguh ingin memiliki In Jung seutuhnya.

Pria itu menggeser tubuhnya menghadap In Jung. Dengan hati-hati dia membelai wajah wanita itu. Menjauhkan helaian rambut yang menutup wajah cantiknya. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya menghapus jarak diantara mereka berdua. Kemudian menyapu permukaan bibir mungil itu dengan bibirnya. Menyesap dengan pelan dan merasakan betapa manisnya bibir wanita itu. Dia dapat merasakan degup jantungnya sendiri yang berdetak sangat cepat.

“Saranghae Shin In Jung”

&&&

Hee Kyung Apartement

07.30 am KST

Wanita itu terlihat terburu-buru memakan rotinya. Terlihat sebuah ponsel menempel ditelinga kiri wanita itu. Tidak lama kemudian dia sudah berada didepan pintu apartemennya, sedang berusaha untuk menggunakan heels kantornya.

“Iya, sebentar lagi aku akan kebawah” kata Hee Kyung kemudian mematikan sambungan telpon itu dan bersiap untuk segera turun.

Didalam lift Hee Kyung masih sempat membenarkan letak rambutnya. Dia tersenyum senang ketika melihat pantulan dirinya didalam lift. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan pria itu.

Hee Kyung tidak tau pastinya kapan, dia menjadi sangat dekat dengan Baekhyun. Yang dia tahu akhir-akhir ini dia jadi sering terlihat berdua dengan pria itu. Tidak dikantor tentu saja.

Pria itu akan mengantar dan menjemputnya untuk pergi bersama. Baekhyun bilang bahwa apartement mereka searah dan lebih menghemat biaya untuk Hee Kyung ketimbang wanita itu harus menaik bus setiap harinya. Terkadang mereka juga akan pergi bersama untuk sekedar makan malam, yang diisi pembicaraan seputar pekerjaan mereka. Walaupun begitu hati Hee Kyung sangatlah senang.

Wanita itu sudah sampai dibawah dan sudah dapat melihat mobil pria itu dipinggir sana. Dengan sedikit agak berlari dia mendatangi Baekhyun yang sedang berada didalam mobil.

“Menunggu lama?” tanya Hee Kyung ketika dia sudah masuk kedalam mobil Baekhyun. Sekilas dia memperhatikan penampilan pria itu. Dan benar saja seorang Baekhyun terlihat tampan dan menawan seperti biasanya.

“Lumayan” kata Baekhyun yang mulai menjalankan mesin mobilnya dan mulai bergabung dengan mobil-mobil lainnya dijalan.

Tidak butuh lama untuk mereka berdua tenggelam dalam sebuah pembicaraan. Baekhyun akan tertawa menanggapi setiap candaan dari wanita disebelahnya. Dan akan tersenyum ketika mendengar kisah-kisah lain dari Hee Kyung. Perasaan Baekhyun sangat sulit untuk dijabarkan sekarang. Didalam hati kecilnya dia sangat menginginkan momen ini terus berlanjut untuk selamanya.

Tidak terasa mereka berdua sudah berada didekat kantor. Baekhyun menurunkan Hee Kyung tidak jauh dari gedung itu. Dia tidak ingin semua karyawannya gempar karena melihat dirinya berdua dengan Assistennya sendiri.

“Gomawo” ucap Hee Kyung dan bermaksud membuka pintu mobil. Tapi gerakan tangannya harus berhenti ketika mendengar pria itu memanggilnya.

“Hee Kyung-sshi”

“Ne?”

“Apakah kau sibuk malam ini?” tanya Baekhyun sambil melihat kepada wanita disampingnya. Hee Kyung menggeleng tidak mengerti.

“Bagaimana kalau kita makan bersama. Aku dengar ada restaurant baru didekat stasiun kereta” ucap Baekhyun lagi yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, menyembunyikan kegugupannya. Dia tidak melihat senyum manis yang terlukis dibibir wanita disampingnya.

“Arraseo” kata Hee Kyung akhirnya, membuat pria disebelahnya menoleh lagi kepadanya dan tersenyum tipis.

“Aku akan mengirimmu pesan nanti” kata Baekhyun tersenyum.

Wanita itu menangguk tanda mengerti dan keluar dari mobil. Dia tidak langsung pergi begitu saja masuk kedalam kantornya tapi dia berbalik sebentar sekedar memastikan pria itu terlebih dahulu pergi.  Setelah dia melihat mobil itu sudah memasuki pelataran kantor barulah ia berjalan mengikuti dari belakang. Kegiatannya dikantor belum dimulai tapi dia sudah tidak sabar untuk segera pulang. Dia berharap semoga malam ini sangat menyenangkan.

&&&

Haneda Airport

10.10 am JST

Chanyeol menatap jengah dua orang yang tengah berpelukan erat itu. Di tambah lagi dengan tangisan-tangisan yang membuat telinganya menjadi sakit. Tidak kah mereka berdua berpikir kalo mereka sekarang berada ditengah banyak keramaian. Mereka berpelukan seperti mereka tidak akan pernah bertemu lagi nanti.

“In Jung-chan, kau jangan melupakan aku. Kau harus rajin mengirimku sebuah email atau apapun itu. Kau harus sering me-mention aku ditwitter dan harus sering mengupload sebuah foto di instagram agar aku tau kabarmu disana. Huaa, aku tidak menyangka kau akan meninggalkanku secepat ini” kata Naomi dramatis dan langung memeluk In Jung lagi.

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Pesawat mereka berdua akan lepas landas beberapa menit lagi. Tapi dia merasa tidak tega untuk menggangu acara pisah kenang diantara dua sahabat ini.

“Baiklah Naomi-chan aku akan sering melakukannya. Kau juga jangan melupakan aku. Walaupun kita baru berteman dua tahun tapi aku seperti mengenalmu sejak lama.” Kata In Jung tak kalah dramatis sambil terus menitikan air matanya.

Akhirnya acara menyedihkan itu berakhir ketika nama mereka berdua telah dipanggil untuk segera memasuki pesawat. Chanyeol bernafas lega setelah itu. Dan berjalan terlebihdahulu meninggalkan In Jung setelah dia memegang pundak wanita itu.

In Jung yang sadar akhirnya berpamitan untuk terakhir kalinya kepada Naomi. Dia sungguh sangat sedih harus meninggalkan Tokyo dan juga sahabatnya itu. Dia melambaikan tangan membalas lambaian Naomi dan segera menyusul Chanyeol yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.

Hari ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu karena akhirnya dia akan pulang ketempat asalnya, Seoul. Dia tidak sabar untuk segera tiba disana. Dia sengaja tidak memberi tahu Baekhyun sebagai kejutan. Dia penasaran bagaimana ekspresi pria itu ketika melihatnya sudah pulang.

In Jung menyeimbangi langkah Chanyeol. Tetapi pria itu tidak juga memperlambat langkah kakinya, membuat In Jung menjadi sebal karena dia harus berlari mengejar langkah pria itu.

Didalam hati In Jung sudah tidak sabar untuk menginjakkan kakinya di Seoul nanti. Penderitaan Long Distance Relationship pun akan berakhir segera. Tanpa tahu bahwa penderitaan yang sebenarnya akan segera dimulai.

“Aku pulang Baekhyun-ah. Aku pulang”

TBC

 

Huaa akhirnya chapter dua udah selesaaiiiiiii~~~

Asli lah ini lama banget semenjak chapter satu di publish T.T

Maafkan aku yang terlambat mengerjakan ff ini /bow/ pekerjaan aku sangat menumpuk hiks dan minggu depan aku udah UTS L /abaikan/

Maaf lagi kalo chapter dua ngga lebih bagus dari chapter satu L

Disini aku menulis banyak kisah tentang In Jung-Chanyeol ya? Soalnya aku ngga ada feel masa buat bikin Hee Kyung-Baekhyun moment T_T

Oh iya terimakasih buat kaka atau adik sekalian yang udah memberi komentar kalian di chapter satu. Dan aku senang banget ternyata banyak yang suka sama ff aku yg absurd ini^^

Yasudah mungkin sampai ini aja komentar dari aku.

Kritik dan saran yang membangun (?) sangat aku harapkan untuk lebih memotivasi aku mengerjakan ff ini dengan lebih baik lagi /halah/

Terimakasih^^

Note : aku udah berusaha mengedit ulang ff ini, tapi maafkan jika masih banyak typo yang bertebaran. Hahaha /ketawaevil/

Oh iya sebenarnya ff ini udh aku kirim seminggu yang lalu, tapi kayanya ngga terkirim deh ._.

Jadi kalau misalnya lama dipost kalian bisa liat di wp aku ya : magicoftherainbow.wordpress.com hehe

Aku biasanya ngepost tiap weekend^^

Iklan

8 pemikiran pada “Second Hearts (Chapter 2)

  1. huwaaaaaaaa ini kayak sama sama selingkuh eehh lebih tepatnya baek yang selingkuh 😀
    penasaran thorrr next yaaa 🙂

  2. iiih …. sumpah baekhyun nyebelin banget,
    jahat banget !!!
    in jung dapet chaenyol aja deh !!! kasian ….
    ditunggu next chapternya ya thor

  3. Bagus banget , serius !!!
    Aku penasaran banget kelanjutannya. Oh yah, tolong bertitahu aku kelanjutannya yah !!! Aku mohon,,, tolong yah … :):):)
    Makasih 🙂

    We are one, EXO !!
    We are one, Shiners !!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s