Falling Slowly (Chapter 2)

Ereq2 (2)

Tittle                : falling slowly

Author             ; @fransiskavidya

Cast                 : Choi YoungMin (OC), Lee SungMin (SJ), Oh Sehun(EXO)

Support cast    : Choi YoungMi (OC), Exo members, SJ members.

Genre              : family, romance, dll

Length             : chaptered

Rating             : PG-13

Disclaimer       :

Choi YoungMin adalah milik @ahyaSMl, EXO + SJ member adalah milik Tuhan YME. Jalan certa ini fiksi dan murni berasal dari otak author yang agak dan memang somplak.

Summary         :

Choi YoungMin, seorang gadis yatim piatu yang tinggal bersama 2 sahabatnya. Ia diculik saat berumur 5 tahun dan terpisah dari keluarga kandungnya. Ia dirawat oleh keluarga Choi sampai berumur 19 tahun. Siapa yang tahu kalau ia adalah anggota keluarga dari Jaringan Mafia terbesar di Korea?

A/N     : annyeong, saya author baru disini.. sebelumnya gomawo buat admin yang udah publish FF ini. Sehun dimasukkin sebagai Cast itu diluar rencana dan baru keluar di Chapt ~ tunggu aja yaa buat yang pengen baca Part Sehunnya. Oh iya, tinggalkan jejak yaa~ Comment itu berguna buat ngembangin FF ini juga~ gamsahamnida…

Happy Reading~

Last chapter :

Sementara itu, Siwon baru saja sampai di dorm.

“Hyung-ah! Sungmin Hyung!” katanya sambil masuk.

“ya! Kau masuk tanpa permisi dulu eoh?” omel Kangin sambil bertolak pinggang.

“oh, mianhamndida.. annyeonghaseyo.,,” kata Siwon sambil membungkuk 90derajat.

“SungMin Hyung sudah berangkat kuliah.” Kata Ryeowook sambil membawa nampan berisi makanan ke atas meja makan.

“heo? Bukankah hari ini hari Sabtu?” tanya siwon pada yang lain. Member yang lain langsung memandang KyuHyun, yang hanya bisa nyengir.

[Chapter 2]

-SungMin POV-

“kenapa gerbangnya terkunci?” tanyaku bingung.

Rrr.. rrr..

“yeoboseyo?” kataku menjawab telepon itu.

“Hyung! mianhaeyo!!” terdengar suara KyuHyun.

“eh?”

“sekarang hari sabtu Hyung!” kata Kyu.

“Mwo?! Yaa! Neo… ” tanyaku kaget.

“mianhae Hyung!! ya! Kembalikan!” kata kyu. Sepertinya seseorang merebut ponselnya.

“Kyu?” tanyaku.

“Hyung. ini aku.” Terdengar suara berat Siwon.

“oh? Siwon-ah? Wae?” tanyaku.

“pulanglah, ada yang ingin kubicarakan.” Katanya.

 Lalu aku melihat seorang gadis berlari ke arah gerbang dengan panik.

“Aku terlambat! Aish ! ini gara-gara mereka berdua tidak mau bangun!” umpat gadis itu sambil berlari. “tolong buka gerbangnya~” katanya sambil mendorong-dorong gerbang. Aku hanya tersenyum melihatnya. Kelakuannya persis YoungMi.

“kita akan bicara nanti.” Kataku pada Siwon di telepon yang sejak tadi terus mengoceh tentang sesuatu dan sama sekali tak kudengarkan.

“Ya! Ya! Hyung! chankanman!” kata Siwon. Kemudian aku menutup teleponnya.

Aku mengemudikan mobilku mendekatinya, lalu menekan klakson. “YoungMin-ssi!” panggilku padanya. Ia terlihat terkejut ketika melihatku.

“apa sunbaenim juga terlambat?” tanyanya padaku.

“hari ini hari sabtu.” Kataku padanya.

“eoh? Ah.. jinjja! Kenapa mereka tidak mengingatkanku?” umpatnya sambil menghentakkan kakinya. Kemudian ia menoleh padaku. “kurasa Sunbaenim juga mengira hari ini ada kelas.”

“eoh?” tanyaku kaget.

Ia menunjuk ke arah ransel yang kuletakkan begitu saja di kursi penumpang di sampingku.

“kalau begitu, lebih baik aku pulang dulu. Sampai ketemu lagi sunbae..” katanya sambil membungkuk padaku. Lalu mulai berjalan ke arah halte bus. Tapi kemudian ia melewatinya begitu saja.

Mau kemana dia?

Tanpa sadar, aku mengikutinya. Kemudian kembali membunyikan klakson.

“ada apa Sunbaenim?” tanyanya padaku.

“kau melewati halte busnya begitu saja.” Kataku padanya.

“oh.. em.. kurasa.. aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar.” Katanya sambil memandang sekelilingnya.

“kalau begitu.. naiklah.” Kataku sambil mengedikkan kepalaku.

“ne?” tanyanya.

“aku juga ingin berjalan-jalan.” Kataku.

Kemudian ia memandangku curiga.

“aku takut pada fansmu sunbaenim.” Katanya.

Aku tertawa mendengar penuturannya “sekalian kuantar pulang. takkan ada pumpkins yang tahu.” Kataku.

Ia terlihat bimbang, kemudian mengangguk ragu. “baik.. permisi.” Katanya sambil masuk dan duduk di kursi penumpang di sampingku. Ranselku kulemparkan begitu saja ke jok belakang.

Kemudian aku kembali mengemudikan mobilku.

“kau ingin kemana?” tanyaku padanya.

“aku ingin pergi ke taman dekat rumahku. Sunbaenim bisa mengantarkanku ke sana saja, lalu sunbaenim bisa pulang.” katanya padaku. Kentara sekali ia sungkan.

“tak usah sungkan begitu YoungMin-ssi.” Kataku santai.

“tapi Sunbaenim juga memanggilku dengan akhiran –ssi.” Katanya padaku.

“baiklah, kalau begitu YoungMin-ah.” Kataku padanya. Ia tersenyum sekilas.

Aku merasakan atmosfer canggung antara kami mulai memudar sedikit demi sedikit. Ia memiliki aura yang sama dengan YoungMi. Aku merasa seperti sedang bersama dengan YoungMi-ku.

“sudah sampai.” Kataku.

“gamsahamnida sunbae..” katanya padaku sambil membungkuk. Saat ia membungkuk, sebuah liontin tergantung keluar dari bajunya. Sebuah liontin berbentuk bulan.

“liontin itu..” gumamku tanpa sadar.

“ini? Liontin yang cantik kan?” katanya padaku.

 Aku mengangguk. “dari mana kau mendapatkannya?”

-YoungMin POV-

“liontin itu..” gumam SungMin Sunbaenim.

“ini? Liontin yang cantik kan?” kataku padanya. Ia mengangguk. “dari mana kau mendapatkannya?”

“entahlah. Sepertinya aku memilikinya sejak kecil. Namaku terukir dibaliknya soalnya. Setidaknya begitulah kata orang tua angkatku.” Kataku. Entah ada dorongan apa aku menceritakan ini pada SungMin Sunbaenim.

“kau anak angkat?” tanyanya.

“ne.. aku anak angkat.” Kataku.

Rrr…. ponsel Sungmin Sunbaenim bergetar. Sepertinya ada telepon.

“Gamsahamnida tumpangannya sunbaenim.” Kataku sambil membungkuk sekali lagi, lalu membuka pintu dan berjalan ke taman. Kalau aku sedang bosan, biasanya aku pasti kesini hanya untuk berjalan-jalan atau membeli es krim langgananku.

Aku duduk di salah satu bangku faforitku di bawah pohon maple. Sekarang sudah mulai memasuki musim gugur dan daun-daun sudah mulai berwarna kecokelatan. Aku sangat menyukai pemandangan ini.

“agassi, bolehkah aku ikut duduk disini?” tanya seorang ahjummonim padaku.

“oh? Ne.. silakan.” Kataku sambil mempersilakan ia duduk disampingku.

“ini taman yang sangat indah~~” kata Ahjummonim itu.

“apa ahjummonim baru pertama kali kemari?” tanyaku. Ahjummonim itu mengangguk.

“ne. Aku sering lewat sini, tapi jarang sekali masuk ke taman ini. Aku sering lihat kau sedang duduk disini,” kata Ajumma itu.

“ah jinjjayo ahjummonim?” kataku. Ahjummonim itu mengangguk.

“ah.. kau ini gadis yang baik. Boleh kutau namamu agassi?” Kata ahjummonim itu.

“Choi YoungMin imnida.” Jawabku. Sekilas, ahjummonim itu tampak kaget. “Ahjummonim? Gwaenchannayo?” tanyaku.

“ah.. gwaenchanna. Kau hanya mengingatkanku pada putriku.” Kata ahjummonim itu.

“jinjjayo Ahjummonim? Apa dia mirip denganku?” tanyaku pada Ahjummonim itu.

“ne. Kau mirip sekali dengan putriku. Wajah kalian persis sekali.” Kata ahjummonim itu. wajahnya terlihat sendu.

 “memangnya aku mirip putri ahjummonim yang mana?” tanyaku agak sedikit penasaran. Jujur saja, saat ahjummonim ini ada disampingku, aku merasakan sedikit perasaan nostalgia. Rasanya seperti bertemu dengan orang yang sudah sangat lama tidak kau temui.

“kedua putriku kembar identik sayangku.” Kata ahjummonim itu. “dan namamu persis dengan nama putri bungsuku.”

“memangnya ada apa dengan putri putri ahjummonim?” tanyaku penasaran. Kenapa aku sepenasaran ini pada ahjummonim yang baru kukenal beberapa menit ini?

“kedua putri cantikku sudah meninggalkanku.” Katanya sedikit terisak.

“oh… Mianhaeyo ahjummonim,, apa aku membuatmu sedih?” tanyaku khawatir sambil memeluknya. “Mianhaeyo..”

“Gwaenchanna sayang.” Kata Ahjummonim itu.

-SungMin POV-

“Hyung! ppali pulang!!” kata suara Siwon di telepon.

“yak! Aku sedang di jalan! Jangan terus mengerecokiku Siwon-ah!” kataku.

“Hyung.. ini berita penting!” kata Siwon tidak sabar.

“tentang Mi kan? Aku sudah tau semuanya!” kataku.

“Mwo? Dari mana?” tanya Siwon bingung.

“kau ingin tahu? Berhentilah meneleponku! Aku sedang menyetir.” Kataku, lalu aku menutup teleponnya.

Tak berapa lama kemudian, aku sudah sampai di dorm. Aku memarkirkan mobilku kemudian masuk ke dorm.

“Hyung! lama sekali!” keluh Siwon.

“silakan mulai. Kudengarkan.” Kataku.

Kemudian Siwon menjelaskan persis seperti yang YoungMi jelaskan padaku semalam. Semua member mendengarkan dengan seksama.

“jadi, bagaimana cara kita membuktikan kalau YoungMin-ssi itu adikmu?” tanya EunHyuk.

“uri Youngmin memiliki pasangan liontin ini.” Kata Siwon sambil menunjukkan sebuah kalung dengan liontin bintang yang sangat kukenal. Liontin yang tak pernah dilepaskan oleh YoungMi.

“kalian lihat di tengahnya ada lubang berbentuk bulan sabit? Nah pasangan liontin ini bisa dimasukkan ke dalam lubang ini.” Jelas Siwon. “dan dibelakangnya terukir nama “Choi YoungMin”. Selain itu, di dalam berlian ini terdapat lambang keluargaku.”

Yang lain mengangguk mengerti. Tapi hatiku mencelos. Liontin berbentuk bulan sabit kecil dengan hiasan berlian dan ukiran nama ‘Choi YoungMin’ dibelakangnya.. baru saja kulihat kurang dari 1 jam yang lalu.

“YoungMin.. YoungMin memiliki kalung itu.” gagapku karena kelewat semangat.

“mwo?” tanya Siwon.

“YoungMin.. dia Yeodongsaengmu Siwon-ah! Aku melihatnya.. aku melihatnya mengenakan liontin yang mirip sekali dengan yang kau deskripsikan.” Kataku.

“hah? Kapan? Bukankah kalian baru bertemu kemarin?” tanya EunHyuk.

“ani.. tadi aku bertemu dengannya. Aku melihat kalung itu.” kataku menjelaskan.

“yang jadi masalah sekarang, bagaimana kalau YoungMin tidak percaya kau adalah Oppanya?” kata Kyu. Kami semua kembali terdiam berpikir.

-YoungMin POV-

“aku pulang.” kataku lemas begitu sampai rumah.

“selamat datang!” jawab 2 orang dari ruang keluarga.

“ya!! Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau sekarang hari sabtu?” protesku pada JiHyun dan Eunsung yang malah santai-santai.

“kami sedang tidur Young. Kan kami sudah bilang kami tidak ada jadwal kuliah.” Kata JiHyun padaku. Aku hanya merengut menatap mereka berdua.

“ya sudah.” Kataku, lalu aku masuk ke kamarku dan menaruh ranselku, lalu duduk di depan meja belajarku, tempat aku menaruh foto keluarga angkatku. Eomma.. Abeoji.. nan jeongmal bogoshipoyo…

Aku masih penasaran dengan ahjummonim yang kutemui di taman tadi. Rasanya.. rasanya aku pernah bertemu dengannya. Ada perasaan rindu yang aneh. Padahal aku yakin tadi siang adalah pertama kali aku bertemu dengannya.

Sejak eomma dan Abeoji meninggal setahun yang lalu, aku sering merasa iri pada JiHyun dan Eunsung yang orangtuanya masih hidup dan bisa berinteraksi dengan mereka. biasanya orangtua Eunsung dan JiHyun akan kemari sekitar sebulan sekali untuk menjenguk putri mereka.

Mereka sering merayakan Chuseok, natal, dan tahun baru bersamaku disini. Tapi rasanya aku malah menyusahkan mereka. waktu eomma dan abeoji masih ada, kami merayakan masing-masing, dan kadang bersama sama. Tapi sekarang…

Sejak saat itu, kadang terbersit di pikiranku untuk mencari orang tua kandungku.

Tapi bagaimana caranya?

Aku bahkan tidak tahu keluargaku masih mencariku atau tidak setelah lebih dari 14 tahun aku menghilang. Atau mungkin saja mereka sudah meninggal juga.

Kadang aku terpikir untuk mencari keluargaku menggunakan kalung yang tergantung dileherku saat ini. Tapi apa hanya aku yang memiliki kalung seperti ini? Mungkin saja ada ratusan atau ribuan kalung seperti ini di korea.

-skip time-

-keesokan harinya-

“Young-ah! Sekarang hari minggu!” kata Jihyun mengingatkanku begitu aku mengambil handukku untuk mandi.

“aku tahu.” Jawabku pendek.

“ya.. Young, kau masih marah ya gara-gara kemarin?” tanya Eunsung padaku.

“ani, justru aku berterima kasih. Gara-gara kalian aku jadi bertemu seorang ahjummonim yang baik.” Kataku.

“ya sudah, baguslah.” Kata Jihyun sambil kembali melanjutkan aktivitasnya.

“lalu sekarang kau mau kemana jam segini sudah mandi? biasanya kau malas mandi kalau hari minggu.” Kata Eunsung padaku.

“ya! Enak saja! Aku ini rajin mandi tau!” kataku sambil masuk ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera berpakaian dan kembali ke taman itu lagi. Kemarin aku sudah janjian lagi untuk bertemu dengan ahjummonim itu. aku kembali duduk di bangku tempatku biasa duduk.

Tak berapa lama, ahjummonim itu datang dan menyapaku.

“YoungMin-ssi.” Panggilnya padaku.

“annyeong haseyo ahjummonim.” Kataku sambil membungkuk padanya.

“haha, tidak perlu formal begitu.” Katanya sambil duduk disampingu.

“kalau begitu ahjummonim juga tidak usah memanggilku dengan formal.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

“geurae, geurae~ YoungMin-ah.” Katanya padaku.

Aku tersenyum mendengarnya memanggil namaku. Rasanya seperti eomma memanggilku.

“kenapa kau tersenyum begitu?” tanyanya padaku.

“ah, ani.. hanya saja, saat ahjumma memanggilku, rasanya seperti eommaku sendiri yang memanggilku.” Kataku sambil tersenyum malu.

“memangnya ada apa dengan eomma-mu?” tanya ahjumma padaku.

“eomma dan abeojiku sudah pergi ke surga..” kataku sambil memaksakan diriku tersenyum.

Tanpa kusangka, ahjumma menyentuh pipiku. “kalau kau tak ingin tersenyum, jangan paksakan..”

“gamsahamnida ahjumma. Nan gwaenchanna.” Kataku sambil tersenyum dan memegang tangannya. “bisakah tetap seperti ini sebentar saja?”

Ahjumma mengangguk sambil tersenyum padakku. Aku memejamkan mataku, menikmati sentuhanya, mirip sekali dengan sentuhan eomma kandungku.. aku sangat mengingatnya, meskipun sudah lebih dari 15 tahun sejak aku terakhir kali merasakannya.

Tak terasa setetes ari mata mengalir dari ujung mataku. Ahjumma segera memelukku.

“jadi sekarang kau hidup sendirian?” tanya ahjumma itu.

“ani ahjumma. Aku tinggal bersama teman-temanku.” Jawabku. Setelah menangis tadi, aku menceritakan semua masa laluku pada ahjumma tanpa sadar.

“lalu orangtua kandungmu dimana?” tanya ahjumma.

“mollayo ahjumma..” kataku sambil menunduk.

“apa kau tidak pernah mencari mereka?”

“aniyo. Karena kupikir orangtuaku yang sekarang saja sudah cukup bagiku. Tapi sejak setahun lalu, aku sering berpikir apa aku harus mencari mereka atau tidak. Aku takut malah mengganggu kehidupan orangtua kandungku nantinya.” Jawabku jujur.

Ahjumma itu mengangguk mengerti. “kenapa ada kebetulan seperti ini ya?”

“ne?”

“ahjumma memiliki sepasang putri kembar identik, sayangku. Ahjumma menamakan mereka YoungMi dan YoungMin. Yang bungsu, namanya persis namamu.” Ahjumma itu mulai bercerita padaku. Matanya mulai menerawang, seperti orang yang sedang bernostalgia.

“keduanya sudah meninggalkanku. Youngmi, mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan 2 tahun yang lalu. Dan YoungMin, saat berumur 5 tahun, diculik dan suamiku bilang dia sudah meninggal.” Kata ahjumma itu. air mata mulai mengalir di pipinya.

Lalu ia menoleh padaku. “cerita YoungMin mirip sekali denganmu kan YoungMin-ah?” katanya padaku.

“ne.” Jawabku.

Rrr… tiba-tiba ponsel ahjumma itu berdering.

“ne, Siwon-ah?”

“….”

“eomma di taman, sayangku.”

“…”

“ara. Eomma pulang sekarang.”

“YoungMin-ah..” panggil ahjumma.

“ne? Ahjumma harus pulang kan? Gwanehcanna.” Kataku sambil tersenyum pada Ahjumma.

“jinjja? Kalau begitu sampai ketemu besok.” Kata Ahjumma.

“besok?” tanyaku.

“ne. Kalau kau ada waktu,” kata ahjumma.

“tentu Ahjumma. Aku bisa, siang hari sebelum kerja sambilan.” Kataku.

-Skip Time-

-Still YoungMin POV-

Entah kenapa hari ini aku lelah sekali. Begitu pulang, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur dan hampir menutup mataku. Tapi JiHyun dan Eunsung menggangguku.

“Young-ah! Kau darimana saja?” tanya Jihyun sambil masuk ke kamarku.

“aku dari taman.” Jawabku.

“seharian?” tanya Eunsung.

“aniya! Aku mampir ke toko buku dulu.” Jawabku. “sudah keluarlah, aku ingin tidur!” kataku pada mereka.

“mandi dan ganti dulu bajumu. Kau pasti bablas tidur sampai besok pagi.” Kata Eunsung padaku.

“Shireo.” Gumamku malas.

“Ya! Choi YoungMin!” panggil JiHyun sambil menarikku bangun.

“arasseo arasseo.” Kataku sambil bangun, lalu mengambil handukku dan masuk ke kamar mandi.

Setelah mandi, entah kenapa bukannya semakin segar—biasanya setelah mandi rasa kantuk kita hilang kan?—aku malah makin mengantuk. Akhirnya, setelah selesai mengeringkan rambutku, aku segera menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Dan sesegera iu juga jatuh tertidur.

Aku berada di sebuah taman yang indah. Suasana ini, seperti suasana musim semi yang hangat. Bunga bermekaran, pepohon dan semak-semak yang menghijau, ditambah angin berhembus lembut dan matahari bersinar lembut. Taman ini terlihat seperti taman yang biasa kudatangi, tapi saat musim semi.

Anehnya, sekarang aku memakai dress putih selutut dan flatshoes senada. Kalungku, masih tetap tergantung di leherku seperti biasanya.

“Min-ah…” panggil seseorang dari arah belakangku. Aku tidak pernah dipanggil Min, tapi rasanya aku sudah sangat terbiasa dipanggil Min.

Aku berbalik. Seketika itu juga aku merasa seperti memandang diriku sendiri di cermin. “nuguya?”

“nan Choi YoungMi-yeyo” katanya sambil menghampiriku.

“Choi YoungMi?” tanyaku. Rasanya aku familiar dengan nama itu. seperti sering sekali mendengarnya. Kemudian aku melihat sebuah kalung tergantung di lehernya. Kalung dengan liontin bintang.

“kalung itu milikmu?” tanyanya saat sudah berada di depanku.

Aku mengangguk.

“bisa kau lepaskan sebentar?” katanya sambil melepas kalungnya sendiri. Entah apa yang membuatku melakukan ini. Aku melepas kalungku dan memberikannya padanya tanpa keraguan.

“untuk apa?” tanyaku.

“kau akan lihat sebentar lagi.” Katanya. Ia mengamati kalungku dengan sangat teliti, lalu terhenti di bagian belakang kalungku.

“sejak kapan kau memilikinya?” tanya gadis itu lagi.

“entah… aku tidak ingat. Mungkin sejak kecil?” jawabku. Kenapa aku menjawab pertanyaannya tanpa curiga sedikitpun? Padahal pertanyaannya sedikit penyinggung privasiku.

Kemudian ia memasukkan liontin kalungku ke dalam lubang yang ada di liontinya. Kami berdua sama sama terbelalak.

“Min-ah..” panggilnya sambil menangis. Lalu ia memelukku erat.

“eh?” aku hanya bisa kaget melihatnya tiba-tiba menangis dan memelukku. “nugunde?” tanyaku sambil mengelus punggugnya.

Saat itu juga, sepertinya ingatanku yang sepertinya sudah kulupakan seperti terputar balik di benakku. Seperti potongan film yang pernah hilang dan ditemukan kembali. Dalam semua potongan film itu terdapat wajah yang sama persis denganku. Selalu bersamaku kemanapun. Selain itu ada sesosok namja yang sepertinya beberapa tahun lebih tua dariku. Mereka selalu memanggilku dengan nama yang sama.

“Min-ah!”

“Min-ah..”

“Miiin!!”

“Choi YoungMin!”

Dan kemudian, aku melihat pondok penuh api.. merah.. warna merah menyala yang mengerikan.

Kepalaku mulai terasa sakit, sebenarnya ingatan siapa yang ada di kepalaku saat ini?

“ayo kita duduk.” ajak gadis di depanku sekarang. Ia menuntunku ke sebuah kursi yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.

“kau sudah ingat?” tanya gadis itu.

“tadi itu.. tadi itu ingatan siapa?” tanyaku pada gadis itu.

“tadi itu ingatanmu saat berumur sebelum 5 tahun. Dan yang terakhir, ingatan yang kau buang jauh-jauh.” Jawab gadis itu.

Aku kembali teringat kobaran api yang ada di sekelilingku saat itu. “jadi… kau YoungMi? Mi eonni?” tanyaku.

Ia mengangguk. “aku saudara kembarmu.”

Aku memeluknya. Rasa rindu yang sejak dulu selalu ada di hatiku kini terobati. Sejak dulu, selalu ada siluet tidak jelas di ingatanku. dan aku sangat merindukannya. “nan jeongmal bogoshipeoyo.. tapi kenapa aku bisa melupakannmu?”

“karena kau ingin membuang jauh-jauh ingatanmu di gubuk itu. para penculik itu meninggalkanmu dan membakar gubuk itu. sejak dulu kau sangat takut ditinggal sendirian.” jawab YoungMi. “dan akhirnya kau kehilangan semua ingatanmu saat kepalamu tertimpa balok kayu.”

Ah, aku ingat.. saat berusaha minta tolong pada siapapun yang bisa mendengar, pondok itu mulai roboh dan sesuatu yang berat menimpaku.

“kau ingat siwon Oppa, Appa, Juga eomma?” tanyanya padaku.

Aku menggeleng lemas. “semuanya tidak jelas. Yang jelas di dalam kepalaku hanya kau saja. Meskipun aku bisa mendengar mereka semua memanggilku Min.. wajah mereka tidak jelas..” Jawabku.

“sayang sekali. Oh iya, ini kukembalikan.” Katanya sambil mengembalikan kalungku yang sejak tadi masih digenggamnya.

“gomawo..” kataku sambil kembali memakainya.

“Min-ah~” panggilnya.

“ne?” jawabku.

“aniya… hanya saja aku rindu memanggilmu seperti ini.” Jawabnya.

“ini mimpi.. bagaimana kalau kita bertemu di dunia nyata?” tanyaku padanya. Ia tersenyum penuh arti padaku.

“sayangnya tidak bisa..” jawabnya.

“andwae… kau bercanda.” Kataku. Hanya dengan melihat matanya saja aku sudah tahu artinya.

“mianhae.. aku pergi tanpa sempat mengucapkan apapun padamu.” Katanya.

“eonni.. andwae..” air mataku mulai merebak. Saudara yang baru saja kutemukan ternyata sudah meninggal? Aku tak ingin mempercayainya.

“Mianhae Min-ah..” katanya sambil memelukku. Kalau dihitung hitung, sampai saat ini kami sudah berpelukan 3 kali.

“apa ini berarti aku sudah mati juga?” tanyaku padanya saat kami saling melepaskan diri (lagi).

Ia menggeleng sambil menghapus air matanya. “ani. Kenapa pertanyaanmu mirip pertanyaan SungMin Oppa?”

“Sungmin Oppa? Apa dia Uri Oppa?” tanyaku padanya.

“ani. Hehe~ dia calon namjachinguku.” Katanya.

“oh? Chukkae~” kataku sambil tersenyum padanya.

“chukkae apanya?” katanya sebal.

“eoh? Mian..” kataku.

 “gwaenchanna.” Katanya.

Deeng~~

Tiba tiba terdengar suara jam entah dari mana. Tiba-tiba Mi eonni berdiri.

“kau mau kemana?” tanyaku.

“waktuku sudah habis, nae dongsaeng~” katanya sambil mencubit pipiku.

“yak! Eonni~” ringisku.

“haha, sudah lama aku tidak mendengarmu memanggilku Eonni sambil marah marah.” Katanya sambil tersenyum.

“apa eonni sudah mau pergi?” tanyaku padanya. Ia mengangguk.

“mianhae Min-ah.” Katanya. “tapi tenang saja, aku akan mengunjungimu lagi.”

“bagaimana caranya?”

“tentu saja kembali masuk ke mimpimu seperti ini. Lebih mudah memasuki mimpimu daripada mimpi orang lain.” Katanya. “aku akan masuk ke mimpimu saat kau membutuhkanku.”

“eonni~” panggilku.

“Young! Young-ah!! Wae irae?” kata seseorang sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Eung?” tanyaku bingung. “wae?”

“kenapa kau mengigau terus sejak tadi? Kau tidak enak badan?” tanya Eunsung padaku dengan JiHyun dibelakangnya.

“aniya.. aku hanya bermimpi.” Elakku.

“ya sudah, tidur lagi sana! Ini masih jam 3 pagi dan kau sudah membangunkan kami.” Kata JiHyun setengah menggerutu.

“haha.. mian..” kataku.

Lalu Eunsung dan JiHyun keluar dari kamarku.

Di balik selimutku, aku tidak langsung tertidur lagi. Mimpi tadi, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Jadi, aku bisa mencari keluargaku dengan kalung ini? Eonni, nan jeongmal bogoshipda~~

-keesokan harinya-

“YoungMin-ssi!” panggil SungMin Sunbaenim.

“ye, Sunbaenim? Waeyo?” jawabku.

“apa kau ada waktu hari ini?” tanyanya padaku.

“animnida. Saya ada janji siang ini dan nanti sore saya part time.” Jawabku jujur. “sunbaenim ada perlu apa dengan saya?”

“oh, ya sudah kalau kau tidak ada waktu. Aku hanya ingin bertanya darimana kau mendapat kalung itu. aku ingin membeli yang mirip untuk yeojachinguku.”

“aku tidak dimana membelinya sunbaenim, aku sudah memilikinya sejak kecil. Kalau begitu, aku permisi duluan. Ada mata kuliah lagi setelah ini.” Kataku.

Entah kenapa, aku merasa ‘SungMin Oppa’ yang dimaksud Mi eonni adalah SungMin Sunbaenim.

-YoungMin POV End-

-SiWon POV-

@Choi Family House

“eomma. Apa eomma ada waktu hari ini?” tanyaku pada eomma.

“ada, tapi lewat sore hari.” Jawab Eomma. “eomma ada janji siang ini.”

“oh, iya.. kalau kuperhatikan, akhir-akhir ini eomma senang sekali pergi ke taman. Ada apa?” tanyaku pada eomma sambil duduk di sofa di sampingnya.

“Siwon-ah…” panggil eomma tiba-tiba.

“ne Eomma?”

“bagaimana kalau adikmu masih hidup?” tanya eomma dengan pandangan menerawang.

“kenapa eomma berpikir seperti itu?” tanyaku sok tenang, padahal di dalam hatiku aku sangat bersemangat. Apa eomma masih belum menyerah mencari Min?

“eomma bertemu seorang gadis yang sangat mirip dengan adikmu Siwon-ah. Dia sangat cantik, dan sangat sopan. Dan ceritanya mirip sekali dengan cerita adik bungsumu. Wajahnya persis dengan YoungMi.” Kata Eomma sambil menoleh padaku penuh arti.

Selama ini, Eomma selalu mencari YoungMin. Setiap kali bertemu seseorang bernama Youngmin atau Choi YoungMin, eomma selalu memintaku atau Appa menyelidiki orang itu.

“Eomma ingin aku menyelidiki gadis itu?” tanyaku pada eomma. “kalau seandainya gadis itu bukan uri YoungMin seperti sebelumnya, gwaenchanna?”

Eomma mengangguk. “Siwon-ah.. eomma merasa.. gadis itulah yang selama ini kita cari.. uri YoungMin… eomma merasakan suatu ikatan dengannya Siwon-ah…”

Yah, akhirnya.. saatnya membuat pengakuan pada eomma tentang dugaanku.

“Eomma, kurasa aku sudah menemukan Uri YoungMin.”

“Jinjjayo?” tanya eomma penuh harap. “tapi apakah YoungMin yang kita maksud sama?”

“mungkin. Chankanman, aku punya fotonya eomma.” Kataku sambil mengeluarkan ponselku. Lalu menunjukkan foto yang kemarin diambil Sungmin Hyung diam-diam.

“ne, itu YoungMin yang eomma bicarakan. Eomma akan bertemu dengannya siang ini.” Kata Eomma.

“tapi yang jadi masalah adalah, bagaimana kita meyakinkannya kalau dia adalah anggota keluarga kita?” tanya eomma kemudian.

Aku tersenyum pada eomma. “maukah eomma membantuku?”

Eomma mengangguk.

“caranya mudah eomma. Eomma hanya perlu menunjukkan kalung ini pada YoungMin dan menanyakan apakah ia punya pasangannya.” Kataku pada Eomma sambil mengeluarkan liontin Mi dari sakuku dan meletakkannya di tangan eomma.

“kau yakin ini akan berhasil?” tanya Eomma.

Aku mengangguk pasti.

-YoungMin POV-

Setelah kuliah selesai, aku segera melangkah ke taman. Aku sedikit terlambat, ini gara-gara Seo Kyosunim. Begitu sampai, aku lega karena sepertinya aku sampai lebih dulu dari ahjummonim.

“YoungMin-ah..” panggil seseorang saat aku baru saja duduk di kursi yang biasa.

“ah, annyeonghaseyo ahjummonim.” Kataku sambil tersenyum padanya.

Setelah itu kami mengobrol selama beberapa saat.

“YoungMin-ah..” panggil ahjummonim.

“ne?” tanyaku. Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bintang dari dalam tas tangannya. Mirip seperti kalung milik Mi Eonni.

“kau lihat? Yeoppeo ne? Ini kalung milik putri ahjumma yang pertama.” Katanya. “sebenarnya kalung ini ada pasangannya. Kalung dengan liontin berbentuk bulan.”

Aku terbelalak. bulan?

“2 kalung ini bisa disatukan. Kau lihat lubang di tengahnya? Kalung bulan itu bisa dimasukkan ke dalam sini.” kata ahjummonim lagi.

Aku mengeluarkan kalung yang kupakai dan melepaskannya. Lalu menunjukkannya pada ahjummonim. Ia terlihat sangat kaget.

“bolehkah.. bolehkah aku melihatnya?” tanya ahjummonim, airmatanya mulai merebak.

Aku memberikan kalungku pada ahjummonim. Seperti yang dilakukan Mi eonni semalam, ia memasukkan liontinku kedalam liontin bintang itu. kedua liontin itu menyatu. Di belakangnya, ukiran namaku dan Mi eonni tertulis berdampingan.

“Min-ah…” panggil ahjummonim padaku. Airmatanya mulai mengalir. Kemudian ia memelukku.

Seperti semalam, kilasan ingatanku mulai muncul satu persatu. Wajah ahjummonim ada di semua kilasan itu. saat sarapan, mengantarku dan Mi eonni tidur, mengantarku sekolah.. sentuhan yang sangat kurindukan, suara yang sempat kulupakan.. semuanya terungkap siang ini.

“eomma? Eomma…” panggilku.

“Choi Youngmin.. naeui ttal … Min…”

“Eomma, charaetda~~” kata seseorang bersuara bass. Kami berdua menoleh kearah orang itu. rasanya aku pernah melihatnya entah di suatu tempat.

“Siwon-ah…”

Siwon?

“Min-ah..” panggil orang yang dipanggil Siwon itu.

Sama seperti tadi, kilasan balik kembali berputar di otakku. Seorang namja yang lebih tua dariku. Siwon Oppa. Kemudian kilasan beberapa hari yang lalu muncul di otakku. Ia duduk bersama SungMin sunbaenim dan Lee sajangnim di TLJ.

“Oppa?” tanyaku. “Siwon Oppa? Uri Oppa~”

“nae dongsaeng~” katanya sambil membuka tangannya lebar-lebar. Aku menghampirinya dan memeluknya erat. Yaa, perasaan ini.. aku ingat, hangat dan nyaman.

“woah, kau sudah besar ne?” katanya.

“Oppa!” sungutku sambil memukul dada bidangnya. Ia hanya cengengesan.

“oh, itu dia yang ditunggu-tunggu datang.” Kata Siwon Oppa sambil menunjuk satu titik di belakan eomma, pintu masuk taman. Disana sebuah mobil sedan hitam metalic berhenti.

Seorang pria paruh baya dalam stelan jas resmi turun dari mobil itu dan masuk ke taman.

 “yeobo..” kata eomma.

 “Siwon-ah..?” tanyanya saat sudah berada di dekat kami. Lalu matanya menangkapku dan seketika terdiam. Masih dalam rangkulan Siwon Oppa, aku balas menatapnya.

“YoungMi?” tanyanya padaku.

“Jega YoungMi aniyeyo.” Jawabku. “jeo ireumeun Choi YoungMin ieyo.”

Pria paruh baya itu menatapku dalam. “Choi YoungMin?”

Kemudian Siwon Oppa menoleh pada eomma yang masih memegang kalungku. Ia menghampiri pria paruh baya itu dan menunjukkan sepasang liontin yang masih menyatu ditangannya.

“jadi, gadis itu uri YoungMin?” tanyanya pada istrinya.

Aku hanya terdiam memandanginya. Dia appa-ku? Tapi aku tak bisa mengingatnya sama sekali.

“YoungMin-ah? Min-ah?” panggilnya padaku. Tidak seperti saat Siwon oppa dan Eomma memanggilku, tidak ada reaksi sedikitpun dari otakku. Tak ada kilasan balik.. tak ada apapun. Jadi aku hanya memandanginya dalam diam.

“Min-ah, dia uri Appa.” Kata Siwon Oppa padaku.

Aku masih tetap diam.

“YoungMin-ah, ini appa… apa kau tidak bisa mengingat Appa?” tanya pria paruh baya itu padaku. Aku menggeleng. Kulihat eomma dan Siwon Oppa berpandangan cemas.

Kemudian Siwon Oppa menggiringku mendekati pria paruh baya itu—yang matanya terlihat seperti sudah berkaca-kaca.

“Appa sering berangkat pagi sekali, dan pulang sangat larut.” Kata Siwon Oppa padaku. “tapi pasti ada sedikit kenangan tentang appa yang tersisa di otakmu Min-ah.”

Kemudian pria itu memelukku dalam. “Min-ah Mianhae~” katanya padaku sambil memelukku.

Ah.. pelukan ini.. mirip seperti milik Siwon Oppa… hangat, lembut, dan nyaman. Aku ingat sekarang.. memang tidak ada kilasan apapun seperti saat aku mengingat Mi eonni, Eomma, dan Siwon Oppa. Tapi aku mengingat sentuhannya saat aku sedang tidur.

“Appa..” jawabku sambil balik memeluk Appa. Bisa kurasakan Siwon Oppa dan Eomma berpandangan senang.

“ini kamarmu dulu chagiya~” kata eomma padaku.

Aku memandangi kamarku. Sekarang aku sudah berada di kediaman keluarga Choi—yang diluar dugaanku—ternyata sangat-sangat besar.

Kamarku, juga sangat besar. Dan anehnya seluruhnya berwarna pink. Bukan pink yang nge-jreng pastinya, tapi soft pink. Dan sampai sekarang aku masih menyukai warna ini. Kesannya lembut.

Ada sebuah tempat tidur ukuran single dengan seprai berwarna soft pink dan putih. Meja belajar kecil, Lemari, dan tumpukan mainan di salah satu sudut.

“apa aku dulu sekamar dengan Mi eonni?” tanyaku.

“kau mengingatnya?” tanya eomma takjub padaku. Aku hanya mengangguk. Aku tidak bisa berkata kalau Mi eonni muncul di mimpiku kan?

“jadi, apa kau mau tinggal bersama kami lagi disini?” tanya eomma padaku.

Aku terdiam seketika. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan rumahku yang sekarang. Lagipula disana banyak sekali kenangan yang tidak ingin kulupakan. aku juga masih ingin tinggal bersama teman temanku saja.

Tapi aku juga ingin tinggal bersama keluarga kandungku..

Eoteokhae??

“aku.. aku..”

Triiing~

“oh,, mianhae, aku harus menjawabnya eomma.” Kataku.

“Yeoboseyo..”

“Yaak !! Choi YoungMin !! eodiga?!” terdengar suara panik Eunsung.

“wae? Wae? Wae?” tanyaku kaget.

“sekarang sudah jam berapa? Kau tidak akan part time? Lee sajangnim sudah mencarimu sejak tadi!” katanya. “Yakk! JiHyun-ah..”

“Yakk! Choi YoungMin eodiga? Kami berdua diinterogasi oleh Sajangnim sejak tadi!” sekarang ganti suara JiHyun yang terdengar dengan nada super dingin.

“mianhae.. bisakah kalian bilang pada Lee Sajangnim kalau aku agak terlambat?” tanyaku pada mereka.

“kami meneleponmu didepan Lee Sajangnim Pabo!” jawab JiHyun.

“eoh?” aku kaget.

Tiba-tiba Siwon Oppa mengambil Ponselku.

“berikan pada Lee HyukJae.” Katanya.

Kemudian… [note: buat dialog yang Cuma titik titik itu silakan bayangin sendiri apa kata EunHyuk ne~]

“Yakk! Hyung! jangan meneror nae dongsaeng!”

“…”

“ne, dia memang uri YoungMin! Wae? Kau keberatan?”

“…”

“heoh? Shireo!”

“…”

“ayolah Hyung! ini hari pertama keluarga kami berkumpul dan kau menyuruhnya bekerja?”

“…”

“kau memang tidak berperikemanusiaan Hyung!”

“…”

“geurae~ aku akan mentraktirmu makan malam.”

“…”

“Mwo? Shireo! Disana mahal sekali!”

“…”

“kau bilang aku orang kaya? Sekarang aku tidak minta uang pada orang tuaku lagi!”

“…”

“ayolah~ jebalyo Hyung biarkan Min libur sehari saja~”

“…”

“geurae, geurae. Aku akan membawanya kesana sekarang. Setelah itu uri min harus mendapat libur arachi?”

“Oppa.. apa yang kau katakan pada Lee Sajangnim?” tanyaku pada Oppa setelah ia mengembalikan ponselku.

“si monyet Hyung itu menyuruhku membawamu ke TLJ sekarang. Kajja.” Kata Oppa sambil menarik tanganku.

“Eomma, Appa, kami ke TLJ sebentar.” Kata Siwon Oppa.

-YoungMin POV End-

“kau yakin?” tanya seorang pria paruh baya pada seseorang yang jauh lebih tinggi dan muda darinya.

“ye, sajangnim. Saya melihatnya sendiri. Yeoja itu memiliki kalung Choi YoungMin.”

“apa yang dilakukan anak buahku waktu itu?” gerutu pria paruh baya itu lagi.

“menurut yang saya dengar, sajangnim, gadis itu diselamatkan oleh orangtua angkatnya saat ia terkurung di gubuk yang terbakar di pinggir Seoul.” Jelas namja yang lebih muda.

“aku memang bisa mengandalkanmu. Charhaetda~” kata ‘sajangnim’ pada namja didepannya sambil menepuk pundaknya bangga.

“orang itu, sudah membuat putriku terbunuh. Aku akan membalasnya.”

“tapi bukankah anda sudah membunuh salah satu putrinya? Beberapa tahun  yang lalu?”

“untuk kasus itu, aku tidak sengaja. Dan itu belum cukup.”

“jadi, tugas saya selanjutnya?”

“kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari kematian?”

Namja yang lebih muda menggeleng.

“siksaan. Siksaan yang bisa membuatmu gila karenanya.” Jawab si pria paruh baya. “ia, harus merasakan penderitaanku. Melihat putri terakhirnya mati didepan matanya sendiri.”

“jadi, apa yang harus saya lakukan?”

“bunuh yeoja itu, dengan perlahan. Itu akan sama dengan penderitaanku selama ini.” Kata pria paruh baya itu sambil tersenyum licik.

6 pemikiran pada “Falling Slowly (Chapter 2)

  1. pantas aja td baca chapter 3 rada bingung.. ternyata saya belum baca chapter yg ini..hehe

    sedih banget chapter ini chingu, mewek d buatnya.. 😥
    kasihan min, lama terpisah dr keluarganya.. terus ndx sempat ketemu sm mi d alam nyata, hanya lewat mimpi saja.. 😥

    ternyata kyuhyun d mana pun tetap jahil ya.. -,- *tepok jidat*

    itu sebenarnya siapa sih yg mau balas dendam sama keluarga choi..??hmm :/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s