The Raspberry (chapter 3: Unpredictible)

2014-04-13-22-51-39_deco

The Raspberry (chapter 3: Unpredictible)

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan(gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                     Zelo BAP

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-15

 

Author note:         WARNING!!! DI FF INI BEBERAPA MEMBER MENGALAMI PERUBAHAN GENDER!! Bagi yang gasuka saya ga mempermasalahkan kok kalo ga mau baca. Well,saya hanya ngingatin dan saya juga terlalu mencintai beberapa official couple sehingga gamake cast oc ato idol girl lain buat ngepairing-in mereka..

Well, enjoy it..:)

 

 

“hei Sehun?”

“hmm?”

“kau sedang apa?” Sohee yang sedari tadi diacuhkan oleh Sehun memilih mendekati Sehun yang tengah duduk di meja belajarnya, sedari tadi Sohee hanya berbaring di ranjang king size milik Sehun

tanpa dihiraukan sama sekali oleh sang pemilik. Matanya pun terasa sakit akibat terlalu lama menatap poster Miranda Kerr yang hanya mengenakan bikini dengan ukuran jumbo yang terpajang di langit-langit kamar Sehun, tepat di atas ranjangnya.

“nope, hanya mengerjakan tugasku, kenapa?” Sehun menyahut tanpa melirik Sohee yang berdiri di belakanganya.

“tugas apa? Sedari tadi kau hanya mencorat-coret tidak jelas pada bukumu!!” ucap Sohee sembari menyandarkan dagunya pada pundak Sehun, matanya menatap datar pada buku di hadapan Sehun.

Sehun berbalik menatap wajah Sohee dari samping “ra-ha-si-a!”

“akkhhhhhh” jeritan Sehun terdengar ketika Sohee dengan gemasnya menggigit pipinya hingga meninggalkan bekas.

“hahaha rasakan!’ seru Sohee girang dan menjauh dari Sehun, Sehun dengan sigap menangkap lengannya menariknya mendekat.

what are you doing? Its hurt! Ok, take this! Sehun’s revenge!” seru Sehun. Tangannya menangkap tubuh Sohee dan menghempaskannya ke ranjang.

tickling attack!!!!” Sehun berteriak sebelum mengelitik Sohee, tanpa sedikitpun memberi kesempatan bagi Sohee untuk lepas dari cengkramannya.

“no, Sehun, hahahhaa, nooo.. noo, tickling attack. Huuuffttt, ahahahhaa..” Sehun tidak menghiraukan teriakan sang adik dan terus mengelitik pinggangnya.

“Sehuuuun, pliss, sthaaapp! Hahah, what are you? A kid?” maki Sohee dan lagi-lagi Sehun tidak memperdulikannya.

Zico dan Zelo yang bergegas datang karena mendengar teriakan Sohee hanya berdiri di ambang pintu dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua saudara mereka yang bertingkah seperti anak kecil.

what are you looking at? Come here and help me!” pekik Sohee pada kedua adiknya, masih berusaha melepaskan diri dari pembalasan Sehun, yang menatapnya malas.

“Zico, Zelo! You’re moron! Comeback here!” teriaknya lagi saat melihat keduanya berlalu dari tempatnya, tanpa memperdulikan teriakannya.

***

Suho sedang memeriksa berkas terakhir yang di berikan pada sekretarisnya ketika ponselnya berbunyi memecah keheningan di antara ruangan kantornya yang luas. Sebenarnya jam kerja sudah berakhir sedari tadi, sekretarisnya bahkan sudah meminta izin pulang padanya, sementara dirinya ingin menyelesaikan suluruhnya hari ini, ia bukan tipe orang yang akan menumpuk pekerjaan, jika ia bisa menyelasaikannya hari ini, maka ia akan menyelesaikannya tidak menundanya untuk keesokan harinya.

“yeboseyo?” sapanya.

“…”

“ah, ne”

 Setelah menutup telepon ia melirik jam digital yang terletak di meja kerjanya, pantas saja momnya menelpon memintanya segera pulang, karena semua menunggunya untuk makan malam. Ia kembali membaca berkas di tangannya, meletakkannya di kembali di meja lalu menyambar jasnya dan berjalan meninggalkan mejanya.

Suho berdiri menunggu pintu lift di hadapanya terbuka,  pikirannya melayang pada kontrak perusahaannya dengan Choi corporation akan segera berakhir, ia menghela nafasnya pelan, sedikit memikirkan penawaran apa yang akan ia berikan pada Choi corporation untuk memperpanjang kontrak, ia sedikit terkejut ketika dua lengan melingkar di pinggangnya namun perlahan sebuah senyum terkembang di bibirnya.

“Yixing?” ucap Suho lembut, tanpa menolehpun ia tau bahwa itu adalah kekasihnya, ia tau dari aroma tubuhnya yang menguar.

“hmm”

“ada apa?” Tanya Suho tangannya, mengusap lembut lengan Yixing yang melingkar pada pinggangnya.

“ani, aku hanya merindukanmu, kau sibuk akhir-akhir ini” sahut Yixing. Suho bisa merasakan kepalanya menggeleng di balik punggungnya. ia kemudian memutar tubuhnya menatap kekasihnya itu yang masih setia melingkarkan lengannya pada pinggangnya.

“ne, akhir-akhir ini…” Suho tidak melanjutkan perkataanya saat Yixing mendongak mengecup ringan bibirnya.

“aku tau” kata Yixing dan tersenyum lembut padanya.

“hei, kau pucat! Kau sakit?” Tanya Suho lembut ketika tangannya mengenyahkan beberapa helai anak rambut yang jatuh di keningnya.

Yixing menggeleng pelan, “hanya lelah, akhir-akhir ini aku memang sering mengalaminya” sahutnya pelan.

“kalau begitu, kau harus cukup istirahat” lirih Suho pelan sebelum menekankan bibirnya pada bibir tipis kekasihnya. Memejamkan matanya meresapi kecupan-kecupan kecil yang di berikan Yixing padanya.

Suho dan Yixing, keduanya di pertemukan sudah sejak lama di tahun pertama mereka di universitas, Yixing yang kala itu adalah mahasiswa transfer dari China sedikit kesulitan dalam membaca hanguel dan dengan lapang dada Suho membantunya. Dipertemukan secara tidak sengaja keduanya mempercayai bahwa semua itu adalah takdir dan memutuskan untuk bersama hingga saat ini. Suho masih ingat dengan jelas bagaimana tatapan polos Yixing tiap kali ia menatapnya, bagaimana Yixing mengangguk malu-malu ketika ia menerima pernyataan cintanya, bagaimana manisnya ciuman pertamanya dengan Yixing, bagaimana lembutnya belain tangan Yixing di wajahnya, bagaimana.. Rasa percaya akan satu sama lain membuat hubungan keduanya bertahan hingga sekarang, bahkan ketika Suho di angkat menjadi presdir di perusahaan tempat Yixing bekerja yang notabenenya adalah perusahan appanya Suho. Hubungan mereka tidak goyah. Hubungan yang memang didasari atas cinta dan kepercayaan akan sangat kuat walau diterpa apapun.

“Joonmyun?”

“ya?”

“bagaimana dengan adik-adikmu?’ Tanya Yixing, jemarinya dengan bebas bermain pada jemari Suho yang menggenggam tangannya lembut.

“mereka baik saja. Kau ingin bertemu mereka?” sahut Suho lembut.

“bolehkah?”

“tentu saja, sepertinya mereka merindukan kakak ipar mereka”

Seharusnya ia senang mendengarnya tapi Yixing tidak begitu focus pada apa yang dikatakan Suho, tangannya terulur memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya ketika ia merasakan pusing yang teramat.

“hei, gwenchana?” Suho melepaskan genggamannya dan mencengkram lembut kedua bahu Yixing. Yixing menggeleng pelan, sebelum dirinya kehilangan kesadaran dan ambruk ke dalam dekapan Suho yang panik.

***

Suho berjalan dengan gontai keluar dari ruangan dr.Park, pundaknya merosot, pikirannya campur aduk. Dan tak henti-hentinya ia melirik kalender pada ponselnya. Di satu sisi ia cemas akan kesehatan kekasihnya, tapi di satu sisi ia.. entah ia harus bersikap bagaimana.

“delapa minggu..” gumamnya pelan. Ia menarik dan menghela nafasnya pelan. Tadi, setelah Yixing pingsan dalam dekapannya, ia panik dan dengan cepat membawanya pada klinik yang terletak tidak jauh dari kantornya, ia bisa bernafas lega ketika dokter mengatakan bahwa Yixing benar hanya kelelahan dan lagi..

Tangannya terulur menarik knop pintu di hadapannya, ia tersenyum tipis melihat Yixing yang tengah duduk bersandar pada ranjang klinik dan menggunakan bantal sebagai penyangga di punggungnya. ia tersenyum lembut ketika Yixing menatapnya dengan tatapan bertanya.

“bagaimana?” Tanya Yixing pelan.

“benar, kau hanya kelelahan!” ucap Suho lembut dan memilih duduk di sisi ranjang Yixing berhadapan dengan kekasihnya.

“lalu?” Yixing memiringkan kepalanya menatap Suho meminta jawaban.

Suho dengan sekali hentak menariknya ke dalam dekapannya, mengusap pelan punggung kekasihnya itu. Mengumpulkan semua kekuatan yang ia miliki, menarik nafasnya dalam, sebelum membuka mulutnya mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.

“Yixing, kita menikah!”

“a.. apa? Apa yang kau bicarakan?”

“kita menikah, menikah denganku!”

“a.. aku, aku tidak mengerti!” Yixing mendorong tubuh Suho menjauh kemudian menatap dalam tepat di mata kekasihnya itu mencari kilatan bercanda di sana, namun hanya tatapan mata serius yang ia dapatkan.

“delapan minggu Yixing, kau hamil delapan minggu dan kau tidak menyadarinya..” lirih Suho pelan. Yixing menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya menatap Suho tidak percaya, entah bagaimana ia harus besikap. Tiba-tiba semua puzzle ingatannya menjadi satu, ketika ia selalu mual di pagi hari, ketika bulan lalu ia tidak mendapatkan periodenya, ketika semua makanan menjadi tidak enak di lidahnya, ketika ia selalu merasa cepat lelah, jadi semua itu karena.

“pulau Jeju” gumam Yixing pelan.

“ya… semuanya berawal di sana” sahut Suho dengan sebuah senyum di bibirnya, ia ingat apa yang terjadi dengannya dan Yixing ketika mereka menyelasaikan proyek di sana, ketika itu..

“eottohke?” lirih Yixing pelan, tangannya dengan lembut menyentuh perutnya.

“kita menikah Yixing, kita menikah, membesarkan anak itu berdua!” kata Suho lembut dan kembali membawa Yixing ke dalam dekapannya. Yixing terdiam, menikah dan membesarkan anak mereka adalah impiannya, tapi bagaimana dengan karir yang selama ini susah payah ia bangun? Bagaimana dengan mimpi-mimpinya yang belum terwujud?

“semuanya akan baik-baik saja selama kita bersama” ujar Suho seolah mengerti jalan pikiran Yixing. Dan perlahan Yixing mengangguk dalam diam di dalam dekapannya. Ya, semuanya akan baik-baik saja jika ia bersama Suho.

***

“Sohee?”

“ya?””

“kelas tambahan, kau mengikuti program apa?” Tanya Baekhyun dan menghentikan langkahnya, keduanya tengah berjalan di koridor kelas mereka, bell tanda pelajaran akan dimulai baru saja berbunyi dan keduanya kembali ke kelas setelah menghabiskan makan siang mereka.

“kelas tambahan?” ulang Sohee, pikirannya melayang pada pamplet yang diberikan padanya di awal masuk sekolah “seingatku. Aku mengambil kelas seni” tambahnya dan memiringkan kepalanya menatap Baekhyun.

“aiisshh, aku mengambil kelas tata boga!” seru Baekhyun sedikit kesal.

“kita berpisah?” Tanya Sohee.

“tentu saja, selama dua jam! Bagaimana ini? Aku bisa merindukanmu!” ucap Baekhyun berlebihan membuat Sohee tersenyum dan memeluknya sekilas.

“hanya dua jam, kau tau!” ujar Sohee di sela senyumannya.

“Baekhyun-ahh!” suara berat seorang namja tinggi menginterupsi keduanya. Keduanya berbalik menatap sang pemanggil, senyum lebar terkembang di bibir Baekhyun melihat Chanyeol berlari kecil mendekat pada mereka.

“yeollie!” pekik Baekhyun semangat. “apa yang kau lakukan di sini?”

“kelas tambahan!” sahut Chanyeol, alisnya bertaut saat menyadari keberadaan Sohee.

“ahh, yeollie, kenalkan ini Sohee, temanku!” Baekhyun memperkenalkan Sohee padanya, “Sohee, ini Chanyeol” seru Baekhyun semangat. Keduanya mengulurkan tangan masing-masing dan saling melemparkan senyum ketika keduanya menyebutkan nama masing-masing.

“kajja!” Chanyeol tiba-tiba mnarik tangan Baekhyun “kami duluan Sohee-yaa” ucap Cahnyeol sebelum meninggalkan Sohee yang tersenyum menatap mereka. Baekhyun memandangnya dengan sorot mata menyesal namun Sohee tetap tersenyum, memakluminya.

***

Sohee menyangga dagunya dengan salah satu tangannya yang bertumpu pada meja, matanya menatap pada jendela di samping mejanya. Kebetulan sekali ia mendapatkan tempat duduk paling pojok berdampingan dengan jendela. Ia menghela nafasnya, sebelum melirik pada perkament music berwarna kuning usang di mejanya. Tema kali ini adalah musik, pembimbing mereka—yang sebelumnya membagikan perkament itu—meminta pada mereka untuk membuatkan nada dan menulisnya dalam barisan pada kertas perkament tersebut secara random. Ia sudah menyelesaikan miliknya sedari tadi dan merasa bosan karena tidak ada Baekhyun yang menemaninya bercerita ataupun hanya sekedar mengoceh sesuatu yang tidak begitu penting. Dialihkannya pandangannya ke depan kelas, menatap guru pembimbing mereka. Namanya Kim Taeyeon, dan mereka memanggilnya miss. Tae, ia yang memintanya sendiri. Yeoja yang menurutnya seusia dengan Suho oppanya itu juga sedang sibuk menulis entah apa pada kertas di mejanya, Sohee lalu beralih menatap sekelilingnya, beberapa patung hasil pahatan yang ditaruh di sudut ruangan, lemari kayu berisi alat-alat lukis, kanvas-kanvas dengan berbagai ukiran di atasnya yang masih meninggalkan bau cat minyak yang menyengat serta beberapa sketsa yang menggantung pada dinding ruangan. Tapi bukan semua hal itu yang menarik perhatiannya, melainkan grand piano berwarna hitam yang terpajang arrogant yang terletak di samping kanan miss. Tae dan mengingatkanya pada grand pianonya dulu saat ia di London yang berwarna putih elegant.

Ia tersenyum, membayangkan jemarinya bermain di atas tuts piano tersebut, memainkan nada-nada yang baru saja ia buat tadi. Matanya melirik pada perkament di atas meja, seketika ia teringat miss. Jean, guru pianonya saat di London ia menghela nafasnya, keputusan orang tuanya untuk kembali ke Korea sebenarnya sedikit mengguncang jiwanya, ia menghabiskan seluruh hidupnya di London dirinya sudah terbiasa dengan suasana kehidupan di London, ia hanya tidak begitu mampu untuk kembali membiasakan diri dengan kehidupan di Korea, terlalu banyak hal yang sulit yang ia pun..

‘brak’

Pintu ruangan terbuka dengan kasar membuat semua mata termasuk milik Sohee menoleh, seorang namja dengan seragam berantakan masuk ke ruangan dengan seringai tipis di wajahnya. Sohee tertegun sesaat, ketika tatapan mereka bertemu, namun tidak lama hingga sang pemilik mata berwarna hitam kelam itu memutus kontak itu, dan berbalik menatap sang guru pembimbing dengan senyum yang akan meluluhkan hati wanita manapun. Kembali Sohee berbalik menatap pada pemandangan di balik jendela, berusaha untuk tidak peduli.

“kau terlambat tuan Kim” ucap miss. Tae sedikit dingin, namun hanya di tanggapi dengan cengiran khas miliknya.

“aku harus menyelesaikan panggilan alam miss!” jawabnya kalem, masih dengan cengiran tengil di wajahnya.

Miss Tae, memejamkan matanya sesaat menahan emosinya “kau tau sudah berapa kali kau terlambat dan alasan yang kau buat selalu sama, kreatiflah sedikit! “ katanya mengakhiri perdebatannya dengan siswanya itu, tanganya terulur memberikan selembar perkament padanya dan mengisyaratkan agar duduk pada tempat di manapun ia sukai.

Jongin tersenyum tipis pada guru pembimbingnya, tangannya menerima kertas perkament yang di sodorkan padanya, dengan santai ia berjalan meninggalkan meja guru mencari kursi kosong yang bisa ditempatinya. Matanya tertuju pada satu meja yang terletak pada pojok ruangan, tidak bukan meja itu yang menarik perhatian melainkan seorang yang duduk di sana dengan menatap pada jendela di sampingnya. Kembali ia tersenyum tipis sebelum melangkah ringan.

Sohee tersentak saat merasakan seorang manjatuhkan diri duduk pada kursi kosong di sampingnya. Seketika itu juga matanya bertemu dengan sang pemilik bola mata hitam kelam itu, mendapati rerfleksi dirinya di sana. Sohee tersenyum kecil dan mengucapkan kata ‘hai’ tanpa suara dan mendapat anggukan kecil sebagai jawaban darinya.

Tanpa sadar Sohee menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat, entah mengapa. Rasanya teramat sesak, sesak yang membahagiakan? Entahlah iapun tidak mengerti. Ditambah lagi, aroma tubuh dari namja disampingnya yang menguar menghujam indra penciumannya, aroma pekat laut biru yang misterius dan bercampur dengan aroma segar rerumputan yang basah sehabis hujan yang menenangkan, perlahan Sohee meliriknya dengan sudut matanya, namja itu yang telah menolong dan ditolongnya, Kim Jongin.

Sohee masih meliriknya dan mengernyit saat Jongin hanya menatap kosong pada perkament di hadapannya.

“aku tau kalau aku sangat tampan, berhentilah menatapku seperti itu” ujar Jongin tiba-tiba dan menoleh menatap Sohee yang terkejut, kemudian menunduk pada perkamentnya yang telah d penuhi oleh not-not ciptaannya.

Sohee menggeleng pelan “ani… hanya saja…” Sohee tidak melanjutkan perkataannya kemudian meringis kecil merutuki kebodohannya.

“hmm?” Jongin bergumam dan menatap kepala Sohee yang tertunduk. “hanya saja?” ulang Jongin.

“wangimu… aku…”

Jongin refleks menarik ujung bajunya dan menghirup arom tubuhnya sendiri, tidak ada yang salah dari wangi tubuhnya.

“antara laut dan rerumputan, kau tau…” masih dengan kepala yang tertunduk, lagi-lagi Sohee meringis mendengar perkataannya sendiri.

“hei, kau tau! Ada etika di mana ketika sedang berbicara pada orang lain kita harus menyimaknya dengan menatap wajah orang itu” kata Jongin lembut.

Sohee tersentak dan mengadah menatap Jongin yang juga menatapnya geli.

“nah, sekarang jelaskan padaku, apa hubungan antara wangiku, laut dan rerumputan..” Jongin memeringkan kepalanya memandang Sohee meminta penjelasan. Entahlah, ia juga tidak tau ada apa dengan dirinya. Ini adalah kali pertamanya seorang yeoja berbicara mengenai aroma tubuhnya, kebanyakan atau bahkan seluruh yeoja yang mendekatinya berbicara tentang betapa tampan dirinya, betapa mahalnya mobilnya dan sebagainya yang membuatnya mual. Tapi kali ini…

“kau tau, wangimu seperti aroma pekat laut yang bercampur dengan aroma rerumputan basah sehabis hujan, misterius namun menenangkan..” lirih Sohee pelan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri saat ia melihat Jongin yang terbengong menatapnya takjub.

“oh, begitukah menurutmu?” sahut Jongin mencoba untuk tidak peduli, tapi ia bertaruh di dalam hatinya seperti ada seseorang yang menebar confetti berwarna-warni di sana.

“ya, dan aku selalu menyukai hujan… hujan yang menyebabkan rerumputan menjadi basah” tambah Sohee, membuat Jongin kembali menatapnya heran.

“ah, sudahlah! Lupakan!” seru Sohee.

Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Menciptakan keheningan di antara kasak-kusuk ruangan mereka. Ada banyak kata yang terwakili melalu tatapan mata mereka tapi keduanya memilih mengartikannya dalam pikiran masing-masing

“kau sudah menyelesaikannya?” Tanya Jongin tiba-tiba memecah keheningan.

“apa?” Tanya Sohee.

“itu” Jongin menunjuk pada perkament milik Sohee yang terabaikan di hadapannya. Sohee mengangguk kecil dan menyodorkannya pada Jongin.

“In Love?” gumam Jongin membaca judul dari deretan nada yang terukir di sana. “kau membuat ini?” tambahnya dan mendapat anggukan dari Sohee.

“secara random, entahlah aku juga tidak begitu yakin bagaimana nada yang tercipta dari not-not itu” jawab Sohee dan mengendikkan bahunya.

“kau mau mencobanya?” Tanya Jongin tiba-tiba. Sohee tersentak menatap Jongin dengan alis terangkat.

“kau bisa bermain pianokan?” Sohee mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jongin.

“kuharap hasilnya tidak mengecewakan” ujar Jongin sebelum mengangkat tangannya meminta perhatian dari miss Tae yang menatapnya heran

***

Luhan berkali-kali menghembuskan nafasnya kesal. Matanya lurus menatap pada—Sehun—namja dengan rambut berwarna pirang platina di hadapannya.

“apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Sehun tidak terima.

Luhan kembali menghela nafasnya “aku sudah mencontohkannya padamu puluhan kali, tapi kau dengan bodohnya tetap tidak bisa menghafal gerakan yang terbilang cukup mudah itu?”

“hei, jangan meremehkanku! Tubuhku hanya belum terbiasa!” sahut Sehun tidak terima.

“terserah apa katamu saja!” seru Luhan kemudian menjatuhkan dirinya duduk pada lantai dingin ruangan latihan.

Sehun berjalan menghampirinya dan menjatuhkan dirinya duduk di samping Luhan yang tengah memijat kakinya. Tangannya terulur menjangkau botol minuman di hadapan tubuh Luhan dan menenggaknya.

“kau tau, ini memang sedikit memalukan” Sehun berkata setelah menghabiskan air di botolnya.

“apanya?” Tanya Luhan acuh.

“menari…” Sehun menelan ludahnya kasar “maksudku, aku yang mengajakmu untuk menari bersama  tapi aku yang tidak bisa melakukannya” tambah Sehun saat Luhan menatapnya dengan memicingkan mata.

Luhan menghembuskan nafasnya “ya, dan dengan bodohnya aku mempercayaimu” lirih luhan.

“memepercayaiku?” ulang Sehun dengan alis terangkat menatap Luhan meminta penjelasan.

“ya, mempercayaimu! aku memiliki sesuatu yang ingin kucapai… dan untuk menuju ke sana, aku tidak hanya membutuhkan sebuah dukungan, tapi juga seseorang yang bersedia mengulurkan tangannya, menawarkan diri untuk menemaniku ke sana, seseorang yang kupercaya” jelas Luhan dan menatap kosong dinding di hadapannya. Ia juga tidak tau mengapa dirinya berkata seperti itu, semuanya mengalir begitu saja. Iya juga tidak tau mengapa ia percaya begitu saja pada Sehun yang baru ditemuinya, ia hanya merasa nyaman. Tidak ada alasan selain rasa nyaman yang ditawarkan Sehun padanya.

“well, lupakan ucapanku tadi” seru Luhan dan bangkit dari duduknya.

Tapi dengan sigap Sehun menahannya, menarik tangannya agar kembali duduk di sampingnya, mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Luhan yang mengerjapkan matanya. Berusaha mencari kebenaran dari kata-kata luhan.

“you don’t even know me..” ucap Sehun lembut membuat Luhan memejamkan matanya sesaat ketika helaan nafas Sehun menyapu wajahnya. “how could you put your trust in me?” tanya Sehun dengan suara serak yang tertahan.

Luhan mengangkat tangannya, menangkupkannya pada kedua pipi Sehun, menyatukan keningnya pada Sehun dan menatap dalam pada kedua bola mata bening itu. “I don’t know, there is no reason. And suddenly ‘POOFF’ I belive in you..”

Sehun tersenyum samar sebelum mengangkat tangannya membelai pipi kiri Luhan lembut. “benarkah?” dan Luhan mengangguk pelan. Matanya menyapu menatap tiap inchi wajah luhan, wajah yang cantik tanpa sedikitpun polesan make up di sana. Matanya yang kecil, hidungnya, dan bibirnya yang berwarna pink alami itu, serta perasaan ingin melindungi, rasa yang berbeda kepada Sohee, adiknya. Perasaan ingin melindungi yang ia rasakan ini berbeda. Ia tidak bisa menjelaskannya, sama dengan debaran jantungnya yang menggila, serta desiran aneh di dadanya, ia bingung tepatnya ia tidak tau harus bersikap bagaimana, seperti ada sesuatu yang meledak-ledak di dalam, tapi ia tidak tau bagaimana melepaskannya. Tanpa sadar Sehun menelan ludahnya kasar. Haruskah? Batinnya. Hati dan pikirannya memberontak, saling berdebat.

“Luhan”

“hmm?”

“kau percaya cinta pada pandangan pertama?”

Luhan mengangguk pelan.

“aku tidak”

Dan Luhan menatapnya heran seolah bertanya kenapa.

“ya, tapi setelah bertemu denganmu, aku.. kurasa aku jatuh cinta padamu…” lirih Sehun pelan, sebelum menyatukan bibirnya pada milik Luhan, membunuh satu-satunya jarak di antara mereka, mengikuti hatinya dan mengacuhkan pikirannya. Merasakan kelegaan saat sesuatu yang meledak-ledak dalam dirinya berhasil mengeluarkan diri. Rasa yang berbeda yang ia rasakan pada Sohee serta Miranda Kerr sang idola. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya ketika ia merasakan pergerakan lembut dari bibir luhan, Luhan membalas ciumannya…

***

Taehyung dan Daehyun mengikuti arah pandang Zico dan Zelo dengan mata berbinar dan perlahan mengernyit saat menyadari ketika dua orang di hadapan mereka—yang telah mereka klaim sebagai milik mereka itu—menatap pada seorang yeoja yang duduk seorang diri dengan membaca buku di mejanya. Membuat keduanya saling lirik penuh arti.

“kalian sedang apa?” Tanya mereka bersamaan dan sontak membuat kedua orang yang duduk di hadapannya itu menoleh dengan wajah terkejut.

“a..ani…” jawab Zico tergagap. Sementara Zelo mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

“benarkah?” Tanya Taehyung dengan mengerlingkan matanya. Keduanya mengangguk mantap.

“namanya Sohee!” ucap Daehyun membuat mata mereka membulat.. demi segala yang kudus, bukan hanya garis wajah namanya pun sama dengan noona tercinta mereka.

“benarkah?” Tanya keduanya bersamaan.

“hmm, Yoon Sohee” ulang Daehyun.

“ah, Yoon Sohee” ulang Zico.

“kenapa? Jangan bilang kalian menyukainya?” Tanya Taehyung dan menatap kedua orang di hadapannya itu.

Keduanya meringis, mereka pun tidak yakin, mereka hanya tertarik padanya karena wajahnya, ah tidak namanya pun sama dengan nama noona mereka,

“kalau begitu kalian harus berusaha, dia sedikit susah untuk didekati” ujar Taehyung dan mencomot sandwich yang terletak di hadapan Zico.

“dan harus kalian tau, Yoon Sohee di sekolah ini hanya satu..” ucapan Daehyun membuat keduanya kembali meringis. Tentu saja, Yoon Sohee itu hanya satu dan ia bukan barang yng mereka bisa bagi berdua.

“dia, mengingatkanku pada seseorang” ucap Zelo.

“siapa?” Tanya Taehyung dengan mulut penuh sandwich.

“noonaku!” sahut Zelo dan membuat Taehyung tersedak makanannnya.

“noonamu?” ulang Daehyun, Zelo mengangguk sementara Zico menepuk pelan punggung Taehyung.

“jangan bilang kalian tertarik padanya hanya karena alasan itu?” Tanya Daehyun mengambil alih tugas Taehyung yang masih sibuk terbatuk kecil. Keduanya mengangguk ringan.

“alasan konyol” sahut Taehyung setelah mengakhiri penderitaannya.

“kalian tau, selama hidupku aku hanya dikelilingi oleh dua wanita saja…”

“ralat, tiga… jangan lupakan Yixing noona” sela Zelo. Zico memutar bola matanya dan memambahkan “wajar saja jika aku begitu terobsesi pada noona dan momku” kata Zico pelan matanya tidak lepas menatap pada sosok Yoon Sohee yang tengah memperbaiki letak kacamata bacanya yang melorot.

Taehyung dan Daehyun mengangguk mengerti, tiba-tiba saja mereka teringat noona mereka. Walaupun noonanya itu begitu cerewet, mereka tetap menyayanginya. Hahh, kenapa aku tiba-tiba merindukan Baekhyun noona.. keduanya membatin.

***

Haloooo, bertemu lagi dengan sayaaaa… huhuhuh, full of lovey dovey yahh? Semakin gaje aja nih ff. Walaupun saya nyadar kalo kadar keromantisannya masih amat sangat kurang. Gapernah di romantisin soalnya saya, hanya membaca beberapa adegan romantic di ff yang saya baca buat jadi referensi.. hohohohohoho…

Oh yah. MINTA MAAF BANGET BUAT YANG CHAPTER DUA KEMARIN, SAYA SALAH KASIH MASUK POSTER… HUHUHUHU.. harusnyakan itu untuk cerita yang satunya.. gegara itu saya sempat ngerasa gagal sama chap 2 kemarin. Eh, kalo kalian pengen denger lagu yang diciptain sohee, coba kalian buka yutub terus ketik ‘july-in love’ di kotak search, kemudian dengrkan deh tuh lagu, anggap ajja lagunya itu… okee. Ughh, semakin rempong yahh.. hahahah

Well, itu ajja sihh.. thanks udah mau baca..

 

XOXO

Iklan

7 pemikiran pada “The Raspberry (chapter 3: Unpredictible)

  1. Wah.. hahha nemu ff ini dan stalker ampe sini…bagus banget suka banget juga sama bagian hunhan and chanbaek haha author ga pernah di romantisin? Sama saya juga *apa sih-_-*
    Okeh keep writting… ^^

  2. woaaahh… daebaaakk d^_^b ini makin keren, seriusan ! V-_-
    walaupun kata-katanya kebanyakan, tapi ngebacanya gak ngebosenin .
    epep ini emang Jjang dah (y)
    lanjut ya chinggu~ keep writing ! Fighting ! q^_^p ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s