Cynicalace (Chapter 7)

image

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

 

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Annyeong~ cukup fast update ga?

Nyahahahaha *kebiasaan siapa ya?* Btw..

Ada yang nungguin ff eni kagak? Dan kemarin authors baru merayakan 1st aniv wp pribadi lhoo *info gak penting* yang gaje(?) kayaknya ke OOC-an authors disini udh mulai keliatan yee~

Ah, btw.. Bagi yg blm liat dn pnsrn gmn rupanya dress yg dipake rein sama ilhae di pesta.. Bisa lihat dipost di wp authors kkk #plak.

Oke, mari kita langsung saja ke cerita… Ga bosen-bosennya author ngucapin makasih banyak buat para readers yg masih setia nungguin FF iniii~ bagi yg udah comment maupun yg silent reader yg jumlahnya ternyata banyak juga… Gomawoyooo #deepbow

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa comment di chapter ini yahh~ soalnya smkin bnyk komentar authors makin semangat nulis lanjutannya..

Semoga chapter ini KaiHae dan ReYeol tidak smkin absurd sajaaaa… BYEOOOM!

HAPPY READINGGGGG~

 

Eh, btw Mini Album ‘Overdose’  udah keluar yee? SENANG SEKALI RASANYAAAA!

___

 

-:Chanyeol’s PoV:-

Aku merasakan tubuhnya menegang saat keluar dari ball room, aku melepas jas luarku dan menyampirkannya di bahunya yang terbuka karena gaunnya, sebelum mengenggam tangannya erat. Jung Rein, wajahnya benar-benar pucat sekarang dan itu berhasil membuat hatiku sangat sakit karenanya. Lalu dia terlihat, memegangi perutnya. Dia mengerang beberapa kali, sebelum langkahnya benar-benar berhenti.

“Rein-ah, kau tidak bisa muntah disini.” Ujarku panik, dan segera mengangkatnya ke pelukanku. Menggendongnya dan berlari menuju villa Kyungsoo yang sebenarnya tidak jauh namun aku tidak bisa mencapainya dengan mudah kali ini.

Rein terus-terusan mengerang dalam gendonganku. “Chanyeol-ah… kenapa kau menciumku~” Di sela-sela erangannya, dia mulai berceloteh. Namun celotehannya berhasil membuatku mengingat kejadian tadi, dan kedua pipiku memanas karenanya.

“Tapi tidak, apa-apa. Aku menyukainya. He he he.” Lanjutnya dengan nada cengengesan yang membingungkan.

“NE?!” Aku terantuk dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terjatuh karena Rein juga akan terjatuh di gendonganku.

Oh, dia sedang mabuk dan bicara melantur saja, Park Chanyeol.

Tapi bukannya, orang mabuk itu benar- benar jujur dan mengatakan isi hatinya tanpa beban apapun?

Jika benar, berarti dia senang jika aku menciumnya?

Oh lebih baik, kau fokuskan saja langkahmu dan antarkan Rein dengan selama sampai toilet!

Ya, kurang lebih begitulah pergumulan dalam diriku.

“Rein-ah, kau tidak boleh mengucapkan hal yang aneh ketika sedang mabuk, ne?” Aku tersenyum saat mengatakannya, semua karena nada bicaraku. Aku terlihat seperti appa nya sekarang.

“Memangnya aku mengatakan apa, hahhh?” dia terdiam sesaat dan aku penasaran akan alasannya, lalu, “Chaanyeoool! Aku mau muntahhh!” OH!

“YA! YA! JUNG REIN TAHAN!” Aku sudah masuk ke villa, untungnya villa ini memiliki system lampu sensorik. Karena aku tidak perlu repot repot menyalakan lampu dengan saklar, karena ketika aku masuk ke dalam villa, lampu-lampu langsung menyala sendiri dengan terangnya.

Sekarang, toilet!

“CHANYEOOOOOL!” Rein kembali merengek-rengek dalam gendonganku. Astaga, ini pertama kalinya melihat yeoja ini seperti ini. Dan harus kuakui kalau ini… menarik.

Aku tidak bisa menemukan toilet! Toilet di lantai satu itu sebenarnya di mana?!

Aku berteriak panik dalam diriku, sementara Rein sudah mengeluarkan suara-suara bahwa isi perutnya sepertinya sudah berada di ujung lidahnya. Dan baiklah! Maaf Kyungsoo, sepertinya aku harus membiarkan yeoja ini muntah di wastafel dapurmu! Karena itu yang terdekat dari sini!

Aku langsung berbelok ke kanan, dan langsung menurunkan Rein di depan wastafel.

Dan… HOEKKKKK!

Segala macam bau-bauan yang memualkan mengudara di udara. Aku mencoba menahan diriku, dan memegangi rambut Rein yang dibiarkan tergerai malam ini.

Proses ini berlalu lebih dari 5 menit. Lalu ketika Rein berhenti, ia langsung menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kepalaku pusing, Chanyeol-ah~~ Tenggorokanku, sakit.”

Aku ingat jika madu bisa membantu orang yang mabuk. “Rein-ah, tunggu disini sebentar. Aku akan mencari madu dan air hangat.”

Aku meninggalkan Rein dan segera bergerak ke arah kulkas untuk mencari madu. Dan terima kasih Tuhan, karena aku menemukannya. Lalu sekarang air panas. Astaga aku harus merebusnya lebih dulu.

“Air.. air.. aku tidak suka madu. Terlalu manis..” Aku melirik ke arah suara dan menemukan Rein telah terduduk di lantai marmer sambil bersandar pada wastafel

Aku segera mengambil 3 botol air mineral dari dalam kulkas dan bergegas berjongkok untuk memberikan air untuk Rein. Sepertinya aku bahkan melupakan menutup pintu kulkas. Baiklah, Chanyeol. Tarik napas, aku tahu kau panik.

Rein langsung meneguk botol air mineral, dia menghabiskan 2 botol sekaligus.

“Sudah lebih baik? Ayo. Aku akan mengendongmu ke kamarmu dan membiarkanmu beristirahat.” Aku mengulurkan tanganku padanya.

Tapi bukannya menyahut ucapanku, Rein malah menatapku dengan tatapan yang sulit terbaca dan itu membuatku bingung. “Chanyeol, sebenarnya kenapa kau mempermalukanku saat itu? Apakah kau membenciku?”

Dan seketika dunia terasa lebih berat, semua karena pertanyaannya.

Jadi selama ini dia menganggap bahwa aku membencinya?

Aku mendudukan diriku di sebelahnya dan menghela napasku, mungkin terasa aneh mengungkapkan perasaan pada orang yang sedang mabuk. Namun aku juga sudah lelah untuk menanggungnya sendiri.

Perasaan ini makin hari makin membesar, dan aku bukan hanya menyukai Rein seperti 3 tahun lalu. Aku sudah mencintainya.

“Aku tidak pernah membencimu, Rein. Sekalipun.” Ungkapku jujur.

Tapi aku mendengar Rein terisak entah untuk alasan apa, dan aku harus menahan diriku untuk tidak memeluknya karena hanya itulah yang ingin kulakukan sekarang.

“Rein-ah, mianhae. Tolong jangan menangis. Jebal.” Aku menatap matanya dan menangkup kedua pipinya. Melihatnya menangis, membuat hatiku seakan tertindih sesuatu yang sangat berat dan besar.

“Chanyeol, aku tidak mengerti dirimu. Tapi aku lebih tidak mengerti diriku sendiri. Aku ingin menjauhimu karena kejadian itu, tapi kau terus menerus hadir dalam hidupku. Tidakkah kau tahu jika aku menjadi orang lain ketika bersamamu?” Banyak sekali emosi yang terpancar dari wajahnya. Aku ingin mencoba membacanya. Tapi aku tidak bisa, karena emosi itu terlalu ambigu. Aku tidak bisa mengartikan emosi itu dengan benar, entah dia marah, kecewa, sakit hati, atau apa?

Lalu kedua tangannya terangkat dan mulai memukuli dadaku. Dan aku hanya bisa menatapnya dalam kepedihan yang amat dalam. Semua karena, aku tahu bahwa aku sendirilah yang membuatnya seperti ini.

Karena tingkah kekanakanku di usia 19 tahun.

“CHANYEOL! Kau tahu kan, kalau kau itu jahat! Kau mempermainkanku tanpa alasan yang jelas. Tapi aku juga tidak mengerti mengapa aku sangat kecewa padamu saat itu! TAPI AKU TAHU KALAU AKU SANGAT MEMBENCIMU!” dia masih terus memukuli dadaku. Mungkin tenaga yang ia keluarkan tidak bisa menyakitiku secara fisik, tapi sesungguhnya hatiku telah tersakiti. Bukan karenanya, Rein sama sekali tidak bersalah padaku. Melainkan karena diriku sendiri.

“Aku bisa keluar dari hidupmu, jika kau menginginkannya, Jung Rein.” Aku  melepaskan kedua tanganku dari pipinya dan menatap matanya dengan perasaan tulus.

Tangisan Rein telah berhenti, ia kini malah menatapku sedih. “Tapi aku akan lebih membencimu kalau kau melakukan hal itu! Aku mungkin gila, tapi aku menginginkan dirimu saat ini. Aku tidak tahu tentang hari kemarin, atau hari esok. Tapi hari ini, saat ini. Aku menginginkanmu.”

Aku membelalakan mataku, Rein…apakah dia menginginkanku karena dia, menyukaiku?

“Kau menyukaiku?” Sebelum keberanianku hilang,  aku menanyakan hal ini dengan perasaan ragu.

“ITU YANG AKU TIDAK MENGERTI!” tapi Rein malah berteriak histeris. “Tolong katakan padaku, sebenarnya aku ini membencimu atau menyukaimu? Aku tidak tahu jawabannya, Park Chanyeol!”

Aku tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya dan menenangkannya. Aku hanya merasa bahagia sekarang. Hanya bahagia. Mungkin Rein tidak menyadari arti dari perkataannya, tapi aku mengetahui sesuatu.

Bahwa harapanku masih belum pudar. Rein memberikanku kesempatan sekali lagi, dan aku tidak akan pernah mau menyia-nyiakannya lagi. Dan awal dari segalanya hanya tiga kata ini.

“Aku yang menyukaimu.” Rein terlihat terkejut namun di akhir dia masih tersenyum karena kata-kataku.

“Aku berjanji akan mengatakannya sekali lagi saat kau dalam keadaan sadar 100% agar kau mengerti dengan jelas. Tapi aku benar-benar menyukaimu, Jung Rein.”

Aku merasa gugup, padahal aku mengungkapkan perasaanku pada seorang yang tengah mabuk. Tapi aku tetap merasa gugup, apalagi ketika Rein hanya menatapku lembut dan tersenyum.

“Ya! Neo! Park Chanyeol! Kau harus menyukaiku seumur hidupmu! Itu untuk menebus dosamu di masa lalu.. hehehe.” Aku mengecup keningnya dan aku melihatnya menutup matanya.

Lalu dia kembali berceloteh tentang banyak hal, “Hyunnie oppaaaa… bogoshippooooo… sekarang namja menyebalkan ini telah kukutuk. Kutukan untuk menyukai Rein seumur hidupnyaaa.. hahahahaha.”

Aku mengerutkan kening, “Ya! Siapa itu Hyunnie oppa? Bukan Sehun kan? Kau tidak boleh menyebut dan melihat namja lain. Katanya kau menyukaiku!”

Rein memelototiku dan itu membuatku sangat gemas, “HEH BODOH! Kan aku bilangnya aku juga bingung apa aku membencimu atau menyukaimu. Masalahnya yah.. aigoo Park Chanyeol itu idiot! Hehehe.” Dia tertawa sendiri sebelum melanjutkan. “Aku memiliki seribu alasan untuk membencimu, tapi aku tidak punya satupun alasan untuk menyukaimu…”

Rein memutar- mutar jari telunjuknya di udara lalu mendaratkannya di keningku. “Lagipula Hyunnie oppa itu oppaku bodoh! Tapi dia sudah pergi meninggalkankuuuu… ahhh… sedihnyaaa…”

Aku terhenyak, kurasa aku tahu segala sesuatu tentang Rein. Tapi aku tidak pernah mengetahui bahwa Rein memiliki oppa. Oppa disini itu oppa kandung, atau oppa yang lain?

Tapi tidak mau memusingkan hal itu, aku malah berniat untuk menjahilinya sekarang. “Hyunnie oppamu itu, apakah lebih tampan dariku?”

Rein menggeleng cepat. “Kalian tidak ada yang tampan. Yang tampan itu Oh Sehun! Temanku yang paling kusukaiiiii~”

“Kau menyukainya?” aku sedikit tersinggung, karena ucapan ambigu yeoja ini. oh wait, disini aku yang keliru. Tentu saja, ucapannya ambigu. Toh, dia itu sedang mabuk.

“Hmmm…. Sebagai manusia..” Rein terlihat menimbang- nimbang. “Aku jauuuuuuuh lebih menyukai Sehun dibandingkan dirimu, Park Chanyeol!”

“Kalau sebagai namja?” Aku sengaja memancing Rein.

Rein terkekeh sebelum menjawab, “Namja yah? Kalau sebagai namja aku lebih suka Hyunnie oppa!”

Aku merutuki bahwa percuma saja melanjutkan perbincangan ini. karena semuanya jadi terlihat membingungkan dan tidak nyambung. Yah, semua karena Rein sedang mabuk. Tapi dia menemukan diri Rein yang lain hari ini, yang terlihat lebih manja dan imut. Tentu saja, Rein tidak akan menunjukan sisi ini ketika dia sadar.

“Eh, Chanyeol. Jujur yah, kau terlihat tampan dengan kacamata. Rambutmu jangan diponi, lebih bagus kalau ditata ke atas seperti hari ini. Ternyata punggungmu itu lebar yah.. kau juga tampan sekali dengan jas. Ternyata kau itu tampan.”

Aku tidak bisa menghentikan diriku dari perasaan berbunga-bunga sekarang.

ASTAGA, REIN MEMUJIKU!

“Ah, aku terlalu banyak bicaraaaaa.” Dia menutup mulutnya dengan gerakan imut. Ingin sekali aku mencubit pipinya. Rein, kalau saja setiap hari kau bertingkah seperti ini. Mungkin saja aku sudah gila sekarang!

Aku tersenyum lebar, aku masih mau meladeninya tapi seseorang sepertinya sudah pulang karena lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Aku bisa melihatnya dari sini walau terhalang counter dapur yang cukup tinggi.

“Rein-ah, seseorang telah kembali ayo akan kuantar kau ke kamarmu. Kau butuh tidur sekarang.” Aku mencoba bangkit berdiri dari posisiku dan mengulurkan tanganku untuk Rein.

Dia meraih tanganku, dan kukira dia akan ikut bangkit berdiri. Tapi  dia malah menarikku untuk kembali terduduk.. dan menyentuh wajahku. Lalu… menciumku.

Aku perlu mengerjap beberapa kali untuk memulihkan kekagetanku, namun bukannya melepaskan diri. Aku malah menariknya lebih dekat, menutup mataku dan yah… menciumnya.

Sial, ini pasti karena naluri!

 

-:Author’s PoV:-

Kyungah hanya bisa menganga dan membelalakan matanya selebar mungkin. Lalu menaruh tangannya di mulutnya untuk mencegahnya dari teriakan histeris. Tanpa menimbulkan gerakan yang menganggu, dia berbalik dan kembali ke ruang tamu.

“Kau tidak jadi minum?” Oppanya menatapnya bingung, Kyungah bilang dia akan ke dapur untuk mengambil air mineral di kulkas. Tapi mengapa ia kembali dengan mata berbinar dan wajah sepenuhnya memerah seperti itu.

“Kau sakit, Kyungah-ya?” Kai mulai menghawatirkan Kyungah karena wajahnya begitu memerah.

“Oppadeul…. Chanyeol oppa…” Kyungah masih mencoba menahan dirinya untuk tidak histeris. Tapi dia akan gagal beberapa saat lagi.

“CHANYEOL OPPA DAN REIN EONNI, BERCIUMAN DI DAPUR! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Kai, Ilhae, dan Kyungsoo. Tiga orang dewasa di ruangan itu hanya bisa melotot dan membuka mulutnya selebar mungkin.

Kata Chanyeol, Rein, dan berciuman cukup menjadi lampu merah bagi Ilhae.

“Be…benarkah?” Kyungah menganggukkan kepalanya kali ini ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ilhae langsung ingin berlari menuju dapur dan melihat sendiri kejadiannya. Tapi langkahnya tertahan.

“Le..lepaskan aku!” sontak Ilhae menarik pergelangan tangannya.

“Tidak.” Kai berkata dingin.

“Wae?! Kau itu menyebalkan sekali.” Tantang Ilhae.

Kai melepaskan genggamannya, “Apakah kau tidak pernah meminta maaf seumur hidupmu?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Kai.”

Kai mensejajarkan matanya dengan level mata Ilhae, “Kau baru saja menabrak dan berkata tidak sopan padaku.” Tatapnya tajam.

Ilhae merasa tidak memiliki waktu untuk hal tersebut, “Simpan saja untuk lain kali.”

“Ilhae!” Kyungsoo membulatkan matanya ke dalam keadaan maksimum melihat yeoja yang baru saja membuat kerusuhan kecil tersebut berlalu meninggalkan keadaan yang tidak mengenakkan di ruang depan.

Begitu mencapai dapur Ilhae mengerjapkan matanya melihat pemandangan yang biasanya hanya ia lihat di drama-drama begitu sampai dapur. Sebenarnya jiwa romantis seorang Ilhae bisa saja keluar, tapi kenyataan kalau Rein sedang mabuk menghantam kepalanya.

“Park Chanyeol!”

Seakan berada dalam keadaan hidup dan mati jantung Ilhae berpacu mengirimkan adrenalin ke seluruh tubuhnya. Dan dengan kekuatan adrenalin tersebut Ilhae dapat memisahkan Rein dan Chanyeol.

“Ah~ Hae-ya~ kau sudah pulang wae? Kudengar kau berpasangan dengan Kai~ ” Rein kembali berceloteh.

“Rein, ayo ke kamar.” Ilhae berusaha membantu Rein berdiri.

“Aniyo… aku masih ingin bersama Yeollie~”

Ilhae langsung membulatkan matanya tidak percaya, sejak kapan Rein memiliki panggilan lucu untuk Chanyeol? Oh yang benar saja. Sahabatnya ini sedang mempermalukan dirinya sendiri.

“Kkaja!!” Ilhae kali ini berhasil menarik Rein berdiri dan untungnya yeoja itu sudah tidak membantah lagi.

Susah payah Ilhae memapah Rein, “Park Chanyeol….” desisnya, “Jangan pernah kau kecewakan Rein, arraseo?”

Chanyeol hanya membisu membiarkan Ilhae menyeret Rein. Sudah jelas ia mengerti arti kalimat tersebut, sekiranya ia juga sudah belajar dari masa lalu. Dan malam ini hanyalah untuk dirinya jika memang Rein tidak mengingat apapun sesudahnya.

 

-:Rein’s PoV:-

Aku membuka mataku perlahan, sinar matahari pagi menusuk mataku dan membuatku mengerjap beberapa kali untuk mencoba membiasakan mataku.

Kucoba mengangkat tubuhku, dan aku terhempas lagi karena kepalaku yang amat berat.

Oh.. Apa yang terjadi padaku?

Dan jika aku tidak salah, ini adalah kamar. Bagaimana aku bisa sampai di sini?

Tiba-tiba aku melihat siluet orang berjalan ke arahku. Itu Ilhae. Menatapku sinis. Wae?

“Ilhae-ya, apa yang terjadi denganku? Dan apa yang terjadi denganmu? Wajahmu ada apa?” Aku baru menyadarinya bahwa wajah Ilhae berubah aneh.

“Oh waeyo? Jjinja! Yeoja ini bagaimana kau bisa membuat alcohol menjadi pepsi!” Ilhae menatapku dalam-dalam dan dapat aku lihat kantung matanya yang menghitam dan raut wajahnya yang kelelahan.

“Ya… Aku mabuk… Dan mengacaukan segalanya….” Suaraku terdengar khawatir, tapi sebenarnya dalam diriku bukan sekedar kekhawatiran saja yang mengusik ketenangan hidupku. Tapi juga ketakutan, kepanikan, kegelisahan, dan teman-temannya.

Aku ingat, terakhir aku mabuk sekitar setahun yang lalu. Aku menjumpai diriku berakhir di kantor polisi, Ilhae harus menjemputku keesokan paginya.

Dan menurut kepolisian, aku melakukan hal gila dengan menendang-nendang box telepon umum dan bernyanyi seperti orang gila sepanjang jalan sebelum berakhir pingsan di taman bermain anak-anak. Sejak saat itu, Ilhae tidak pernah membiarkanku mengonsumsi apapun yang mengandung alkohol.

Tunggu, mengingat hal gila.

“Hal gila apa yang kulakukan kali ini?!” Suaraku tercekat, dan aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah kulakukan tadi malam. Mungkinkah aku melempar sepatuku ke muka Suyeon?

Tapi yang sepenuhnya kuingat tentang tadi malam. Hanya wajah.. Park Chanyeol.

Andwae! Firasatku benar-benar tidak baik akan hal ini.

“Gwaenchana. Yang bisa kupastikan adalah, kau tidak melakukan hal bodoh di tempat umun Rein-ah. Setidaknya di vila ini dan aku berhasil menyeretmu.” Ilhae menepuk pundakku tapi tetap saja aku tidak menemukan ketenangan apapun akan hal ini.

Aku sudah ingin bertanya lagi….

“Rein-ah. Karena kau sudah sadar dan sehat sepenuhnya…” Ilhae memandangku lagi membuatku tegang.

“.. Aku ingin tidur.”

Melihat keadaan Ilhae yang lelah aku menganggukkan kepalaku. Tapi ada apa dengannya?

“Eoh. Aku akan mandi saja.” Aku mencoba mengangkat tubuhku dari kasur dan mencoba melangkah di lantai yang dingin. Bukan hanya kepalaku, tubuhku juga kini terasa berat. Aku baru tersadar jika aku tidur memakai baju tidurku. Ilhae pasti telah membantuku membuka gaun merepotkan itu. Dan aku bersyukur karena dia sangat mempedulikanku.

Sebelum benar-benar mencapai kamar mandi, aku mendengar Ilhae berkata sesuatu, “Jangan sekali-kali kau minum alkohol lagi, Rein-ah..”

Dari caranya berbicara, aku bisa mendapati bahwa aku benar-benar melakukan sesuatu yang salah tadi malam. Dan aku hanya bisa merasa bersalah.

“Mianhae…”

Di dalam bath tub, aku berpikir keras. Memikirkan apa yang sebenarnya kulakukan tadi malam. Kesalahan apa yang kulakukan? Tapi sejauh apapun aku mencoba mengingat atau menebak. Aku hanya bisa stuck di wajah Chanyeol. Aku harus buru-buru mencari namja itu dan menanyakan apakah aku memuntahi jasnya tadi malam, atau aku menendang-nendang kakinya sampai dia tidak bisa berjalan hari ini. Atau apapun.

Aku memakai sembarang baju yang kuambil asal di dalam koper. Berakhir dengan celana 3/4 berwarna putih dan atasan T-Shirt dengan tulisan besar  ‘Are u kidding me?’ di bagian depan.

Aku melihat sekilas ke arah kasur, di mana Ilhae telah terlelap. Namun sepertinya ia tidak bisa tidur nyenyak karena banyaknya kerutan di dahinya.

Setelah menanyakan apa yang terjadi padaku tadi malam, aku berjanji akan menanyakan juga tentang Ilhae.

Aku membuka pintu kamar dan menemukan lorong yang kosong. Kenapa rumah ini sepi sekali? Lantas aku buru-buru melangkahkan kakiku ke arah tangga dan menuruninya, ketika kulihat ruang tamu juga sama sepinya dengan lorong tadi. Tidak ada siapapun.

Kembali melangkah, kini destinasiku adalah halaman belakang. Dan aku bisa bernafas lega ketika menemukan Sehun kini tengah terduduk santai di kursi panjang. Namun raut mukanya sangat muram – tidak seperti biasanya, dia terlihat seperti menahan kekesalannya.

“Sehun-ah.” Dia baru menyadari keberadaanku saat aku memanggilnya, dan dia langsung mengubah mimik wajahnya.

“Rei, bagaimana keadaanmu?”

Aku mendekatinya dan duduk di kursi panjang lainnya. “Lebih baik.”

Sehun mengangguk dan melempar tatapannya kembali ke pemandangan alam yang sangat indah yang bisa dilihat dari halaman belakang Villa Kyungsoo ini.

“Ke mana perginya orang-orang, kenapa rumah ini sepi sekali?” Inilah yang menganggu pikiranku sedari tadi.

“Oh, Kyungsoo mengajak mereka semua untuk mengunjungi kebunnya.” Jawab Sehun santai.

“Lalu kenapa kau tidak ikut?”

Sehun terkekeh, dan aku tahu pertanyaanku sudah terjawab.

“Benar, kau malas. Sudah pasti.”

“Kau mengenalku dengan baik, Rei.”

Aku terdiam sesaat sebelum ragu apakah aku harus menanyakan apa yang terjadi padaku tadi malam pada Sehun. Tapi karena aku tidak menemukan sumber lain yang bisa ditanyai kali ini. Aku memulai pertanyaanku dengan basa basi.

“Bagaimana pesta tadi malam menurutmu, Hun?”

Tubuhnya terlihat menegang, dan hal itu sangat kentara. “Aku dikelilingi yeoja-yeoja yang berisik dan tidak kukenal sehingga aku tidak bisa mencarimu di ball. Dan itu menganggu.”

“Itu semua pasti karena kau tampan, huh.” Ujarku jahil, tapi wajahnya masih saja menunjukkan ekspresi kesal.

“Rei, aku tidak pernah tahu kau sebegitu payahnya dengan alkohol.” Dia melirikku dan menatapku dengan pandangan menusuk. Dan aku merasakan tubuhku bergetar karena khawatir.

“Apa aku melakukan sesuatu padamu?”

Sehun mendengus, dan kini aku benar-benar ketakutan. “Apakah tidak ada petunjuk tentang apa yang kau lakukan, di benakmu, Rei? Aku yakin kau tidak menemukanku di dalam sana.” Ujarnya dingin, dan aku merasa bahwa inilah pertama kalinya aku melihat Sehun yang seperti ini. Dia selalu hangat dan ramah padaku.

“Tapi bagaimanapun, itu bukan kesalahanmu.” Dia melirikku lagi dan menatapku dengan pandangan berbeda, kini lebih menghangat. Aku skakmat dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“Jika kau menanyakannya pada Chanyeol, kau pasti menemukan jawabannya.” Lalu dia meninggalkanku begitu saja dan masuk ke dalam .

Jadi benar, pasti ada hubungannya dengan Park Chanyeol….

 

-:Ilhae’s PoV:-

Dalam hentakan singkat aku membuka mataku. Tidurku tidak nyenyak, ugh! Aku berguling ke sisi kananku sehingga aku sampai pada tepian tempat tidur. Malas-malasan aku meraih ponselku dan melihat jam yang tertera di layar, baru pukul 12 siang. Yang artinya aku hanya sempat tidur 2 jam sejak Rein sadarkan diri. Aku sebenarnya masih butuh tidur mengingat semalaman aku tidak bisa tidur karena Rein. Yeoja itu masih tidak mau diam sampai pukul 2 pagi dan selanjutnya ia tertidur layaknya orang mati. Seharusnya aku sudah bisa tidur setelah beberapa menit kemudian, tapi aku masih tetap saja tidak bisa terlelap.

Sekali lagi aku berguling dan mendaratkan kakiku di lantai, dengan kecepatan normalku bangun dari tempat tidur aku berdiri – hanya untuk merasakan seluruh tubuhku yang seperti mau remuk. Yeah, betapa merepotkannya kemarin.

Air hangat, itulah yang kubutuhkan untuk melemaskan tubuh. Aku berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan shower air panas membiarkan air hangat mengguyur tubuhku.

Setelah selesai dengan ritual mandiku, dengan hanya berlilitkan handuk aku keluar dan langsung berlutut di depan koperku. Menyadari kalau tubuhku sedang drop aku memakai sweater lengan panjang berwarna biru tua dan celana training panjang. Setelah memastikan diriku layak untuk dilihat dari depan cermin aku mengambil kacamataku yang terasing dari meja rias – aku selalu lebih suka memakai kontak lens daripada kacamata.

Mataku langsung bertatapan dengan Kyungsoo, “Hei.” Aku menyapanya.

“Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo menatapku serius.

Aku menganggukkan kepalaku pasti. Tentu saja aku baik-baik saja.

“Kau yakin?” Kyungsoo tetap menatapku seakan-akan aku ini pasien rumah sakit dengan penyakit parah.

“Benar… Memang kenapa Soo-ya?”

Kyungsoo terlihat ragu-ragu tapi akhirnya mulutnya terbuka juga, “Semalam, kau bersitegang dengan Kai.”

“Ah itu! Tenang saja aku 100 persen baik-baik saja.” Dengan senyum lebar aku menepuk-nepuk pundak Kyungsoo.

Kyungsoo menatapku – sekali lagi. Otomatis aku menggembungkan pipiku karena ia tidak percaya akan kata-kataku.

“Ayolah Soo-ya, aku baik-baik saja! Sehat, kuat, ceria, hyper, berisik seperti biasanya!”

Dan…

Kruyuk~

Astaga, kenapa perutku harus berulah sekarang! Aku malu sekali melihat wajah Kyungsoo kali ini, wajahnya sudah tidak menatap serius lagi ke arahku digantikan sudut bibirnya yang mulai terangkat.

“Baiklah aku percaya. Sekarang ayo kumasakkan sesuatu untukmu. Kau tidak mungkin bisa menjadi dirimu yang ceria jika belum makan.”

Rasa maluku langsung lenyap begitu mendengar kata memasak dari Kyungsoo.

“Jjinja?”

“Tentu saja. Apa yang kau mau?” Tanyanya.

“Ehmm…. Jjangmyeon!” Mataku langsung berbinar.

“Kau ini, kenapa kau memilih jjangmyeon yang bisa kau beli dengan mudah di restoran-restoran?”

“Hmm, karena seingatku Kyungsoo kecil berbakat dalam bidang memasak – kau selalu mendapat nilai A dulu dalam pelajaran tata boga. Aku ingin merasakan jjangmyeon buatan Kyungsoo yang sudah dewasa. Hehehe”

Aku langsung mendorong Kyungsoo untuk turun dan memasak untukku. Tentu saja aku masih tahu diri dan membantunya sebagai pengantar bahan-bahan, seperti kebiasaan ketika membantu orang memasak – aku memang hanya berguna seperti itu sejauh ini.

 

-:Author’s PoV:-

“Ah~ mashita~ gomawo makanannya Soo-ya!” selesai makan dan mencuci piring Ilhae langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan Kyungsoo yang mengikuti tidak lama kemudian.

“Seperti biasanya.” Kyungsoo terkekeh dan Ilhae hanya berpura-pura untuk mempoutkan bibirnya.

Keheningan menyelimuti, tapi jujur saja Ilhae merasa nyaman. Ia bisa menikmati kenyamanan sofa dan cerahnya musim dingin – setidaknya tidak ada badai. Ia juga tidak terburu-buru waktu, dengan santai ia menghela dan menghirup nafasnya.

Di sisi lain Kyungsoo menatap wajah Ilhae yang berhiaskan senyum tipis. Walaupun Kyungsoo tahu kalau Ilhae adalah pribadi yang ceria, kuat, dan keras kepala. Ia juga tahu bahwa seorang Ilhae bisa menjadi lemah layaknya seorang putri, bertolak belakang dengan karakter wonder womannya – atau kuli bisa disebut. Itu membuatnya khawatir, terkadang ia merasa memiliki dua adik perempuan.

Kyungsoo masih mengingat masa-masa elementary schoolnya bersama Ilhae. Yeoja itu adalah yeoja yang pertama kali mengajaknya bertengkar hanya karena ia secara tidak langsung menempati tempat duduk incaran yeoja itu. Ia masih ingat tatapan sinis yang selalu ia dapatkan ketika mereka bertatapan. Juga bagaimana yeoja itu tiba-tiba bisa menjadi temannya karena yeoja itu kagum akan keterampilannya – saat itu juga phone strap sederhana Ilhae dibuat.

Yeoja itu tidak akan menangis oleh luka, terjatuh, atau hal keras seperti cemoohan – yeoja itu malah tertawa dan bersikap ringan.

‘Aku sudah terbiasa terluka karena kecerobohanku jadi aku hanya tertawa saja.’ Ujar Ilhae padanya ketika ia bertanya setelah 5 kali melihat yeoja itu tertawa ketika jatuh, lecet, memar, dan menjadi pusat perhatian karena kecerobohannya.

Yeoja itu lebih memilih menangis ketika ia jengkel tidak bisa mengerjakan soal pecahan dan menjadi yang tersisa sendirian di kelas. Atau saat ia sudah berusaha mati-matian namun tidak sesuai keinginannya, sekali ia pernah harus menepuk-nepuk punggung Ilhae hanya untuk meyakinkannya kalau rata-rata matematikanya tidak akan merah – mengingat banyaknya nilai merah yang didapatkan yeoja itu disamping kenyataan kalau Ilhae menghabiskan setengah waktu istirahatnya di rumah untuk belajar. Ilhae kecil juga akan menangis ketika sedang panik kehilangan barang atau ketika ibunya telat menjemput.

Yeoja itu lebih lemah ketika berhadapan dengan rasa panik, jengkel, dan frustasi.

Dan Kyungsoo memiliki firasat tidak enak karena kecelakaan pepero kemarin siang.

“Oh, kenapa Ilhae eonni tertidur di sini?” Kyungsoo melirik ke arah Kyungah yang baru saja datang dari arah pintu masuk.

“Dari mana kau?” Kyungsoo bertanya kepada Kyungah sembari melirik ke arah Ilhae yang memang benar tertidur.

“Mengembalikan kotak makeup. Wae oppa?”

Kyungsoo beranjak dari sofa, “Ikut oppa ke dapur, biarkan Ilhae beristirahat di sofa.”

Kyungah menuruti oppanya dan mengikutinya ke dapur. Melirik sekitar, tersadarlah Kyungah bahwa villa itu masih saja sepi. Setelah pulang dari kebun sejam yang lalu. Dia hanya menemukan Sehun di rumah, lalu dia hanya melihat Ilhae eonni yang sedang tertidur di kamar – tandanya Rein eonni sedang tidak berada di rumah, dan dia tidak tahu kemana perginya Rein eonni. “Ke mana orang-orang, oppa?”

“Aku tidak melihat Rein hari ini, Kai sedang tertidur di kamarnya, Baekhyun dan Chen sedang berada di kolam-”

“Mwo? Mereka berdua tidak gila? Sekarang kan musim dingin dan mereka berenang?” Kyungah memotong penjelasan Kyungsoo.

“Kolam uap.” Jelas Kyungsoo cepat.

“Eoh.” Dan Kyungah hanya bisa tersenyum malu karena memotong ucapan oppanya.

“Dan oppa tidak melihat Chanyeol dan Sehun.”

Kyungah mengangguk-angguk, dia berencana untuk mencari Rein eonni setelah ini.

Kyungsoo dan Kyungah sampai di dapur, namun bukannya memulai memasak. Kyungsoo malah berbalik dan menatap adiknya dengan tatapan ‘coba jelaskan semuanya’.

“Waeyo oppa?” Rupanya yeoja itu merasa ada yang salah dengan tatapan oppanya.

“Apa kau tidak berpikir ada yang aneh, maksudku bagaimana caranya Rein bisa berpasangan dengan Chanyeol dan Ilhae dengan Kai tadi malam? Baiklah jika kau mau mengatakan jodoh ataupun kebetulan, tapi oppa rasa kebetulan pun tidak akan seperti ini.”

Kyungah mengerti kemana arah pembicaraan ini akan berujung. Dia menelan salivanya dan menatap oppanya dengan tatapan pura-pura tidak mengerti. “Apa maksudmu oppa?”

Do Kyungsoo hanya menghela napas panjang, merasa kesal karena adiknya pura- pura tidak tahu. “Kalau begitu, pertama-tama jelaskan pada oppa kemana perginya kau tadi malam?”

“Oppa kita kan bertemu ketika oppa menyuruhku pamit kepada Suyeon eonni.” Kyungah mencoba berkelit, tapi ketika oppanya mengatakan “Sebelum itu.” Dia kembali memutar otaknya untuk mencari sebuah jawaban yang memastikan.

Sepertinya Kyungah tidak menyadari bahwa oppanya sangat mengenal adiknya dengan baik, karena Kyungsoo yakin kejadian semalam semuanya berawal dari yeodongsaengnya ini. “Kau tidak bisa berbohong pada oppa, Kyungah.”

Kyungah seperti terjebak dalam kotak, dan mau tidak mau dia menunduk dan berkata dengan malu. “Aku hanya mau menyatukan mereka kok, oppa.”

“Jelaskan pada oppa semua yang kau lakukan tadi malam!” Tuntut Kyungsoo dan Kyungah memulai penjelasannya dari Suyeon eonni yang hendak bertindak licik dan penjelasannya berakhir pada dirinya yang berada di bawah meja dan menukar kotak.

“Lalu, bagaimana caranya lampu bisa dua kali mati? Kau menjelaskan bahwa Suyeon mengajak kerja sama 2 orang waitress untuk membantunya.”

“Ah! Waitress yang bertugas di bawah meja aku sogok dengan makanan banyak dan aku.. Menguncinya di ruang staff. Lalu waitress yang mematikan lampu aku sogok dengan foto Chanyeol oppa yang aku curi di dompetnya, sepertinya dia ngefans sama Chanyeol oppa. Agar mereka berdua bisa membantuku.”

Kyungsoo – sebagai oppa, hanya bisa menganga lebar. Dia tidak pernah menyangka bahwa adiknya sekriminal ini!

“Do Kyungah! Siapa yang mengajarimu bertindak kriminal seperti ini!!!!” Geram Kyungsoo, dia hendak menjitak kepala adiknya. Namun Kyungah berkelit dan buru-buru menambahkan.

“Ini demi kebaikan kok oppa!”

“Kebaikanmu! Oppa yakin kedua waitress itu akan dimarahi bahkan bisa dipecat Suyeon tadi malam!” Ah, masuk akal juga.

Tapi tentu saja Kyungah selalu memastikan segala sesuatu terjadi dengan benar. “Suyeon eonni tidak mungkin bisa bertemu Janghye dan Miryeon eonni lagi. Karena aku sudah mengirim mereka ke Seoul. Rupanya mereka senang-senang saja dengan perubahan tempat kerja ini, oppa. Apalagi setelah memastikan kenaikan gaji di tempat baru mereka.”

“Mereka bekerja di mana memangnya?”

“Rumah kita!”

“HAAAAAHHH?!”

 

-:Rein’s PoV:-

Setelah perbincangan dengan Sehun beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan untuk meninggalkan villa – tentu saja aku sudah mengganti pakaianku dengan sesuatu yang lebih hangat dan berjalan-jalan sebentar. Sendiri.

Sayangnya, aku baru menyadari bahwa sebentar ku itu hampir memakan waktu 2 jam lebih. Oh, salahkan saja pemandangan alam yang sangat indah disini.

Sekarang aku bahkan membaringkan tubuhku di padang rumput luas yang ternyata letaknya cukup jauh dari villa. Sedikit pun, aku tidak merasa takut jika rambut atau bagian belakang pakaianku akan kotor.

Aku menyukai saat-saat di mana aku hanya bisa mendengar suara angin dan helaan napasku. Menenangkanku dan aku bisa merasa kedamaian terus menerus menyusup ke dalam diriku.

Kubuka mataku perlahan dan membiasakan diri dengan sorotan matahari musim dingin yang walau tidak terik tapi cukup menyilaukan. Aku benar- benar bersyukur karena Jeju tidak begitu dingin di musim dingin, seperti di Seoul. Dan hari ini, sepertinya salju tidak turun. Sehingga rerumputan yang sudah kering di padang ini, tidak harus tertutup benda putih bernama salju.

Aku baru hendak menutup mataku lagi namun sesuatu menahanku, aku merasakan ada suara-suara seperti langkah seseorang yang berjalan ke arahku. Kubangkitkan tubuhku dan melirik ke arah suara dan benar saja, siluet tubuh tinggi dan tegap kini tengah menatapku aneh.

Lalu ketika bola matanya menyudahi kegiatannya yang memandang pakaianku dia menjatuhkan pandangannya tepat pada kedua mataku. Dan aku bersumpah bahwa ada sesuatu yang berdebam di jantungku, dan memaksa benda itu untuk bekerja lebih keras.

“Kalau kau tidak lupa, kau memakai hoodie berwarna putih, Jung Rein.” Orang itu mengomentariku dan aku langsung menarik mataku darinya dan menatap hoodie putih yang kukenakan.

“Hmm.. Memangnya kenapa?” Aku kembali mengangkat kepalaku.

Dia tersenyum kecil, “Kau tidak khawatir hoodie putihmu itu akan berakhir dengan bercak kotor di bagian belakangnya?”

Aku menggeleng cuek, “Biarkan sajalah… Untuk apa kau datang kesini?”

Namja itu, Park Chanyeol berjalan lebih dekat ke arahku. Sekarang jarak antaraku dan dirinya hanya sekitar 2 langkah orang dewasa.

“Aku ingin melihatmu. Aku bahkan mencarimu ke mana-mana sepulang dari kegiatan bersama Kyungsoo.”

Aku tidak mengalihkan perhatianku dari ucapannya. Bagian ‘Aku ingin melihatmu’. Kata- kata itu terus membayang di benakku dan itu berhasil membuatku makin tidak nyaman bersamanya. Bukan karena dirinya, tapi karena diriku. Aku yang jadi berdebar hanya karena mendengar namja ini ingin melihatku.

Apa yang salah denganku?!

“Hey, Jung Rein?” Sepertinya aku terdiam cukup lama sampai ia memanggilku dengan nada ‘Kau masih disini?’

“Ah. Ne?” Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.

“Apakah kau tidak bosan berada di tempat ini lebih dari setengah jam?” Chanyeol mempertanyakan sesuatu yang membuat keningku berkerut dalam.

“Kau-”

“Eoh. Aku memperhatikanmu sejak setengah jam yang lalu. Kupikir kau tertidur, tapi kau terus tersenyum sambil memejamkan mata. Dan pada akhirnya kau membuka matamu dengan ekspresi senang. Jadi menurut asumsiku, kau tidak tertidur selama berada disini.”

Aku membuka mulutku lebar-lebar dan menatapnya bagaikan dia adalah seorang maniak yang memperhatikan seseorang dalam diam selama setengah jam penuh.

“Apapun yang kau pikirkan tentangku sekarang, aku akan mencoba meluruskannya. Aku hanya ingin menjagamu saja kok. Bagaimana jika tiba-tiba ada harimau yang bersiap memangsamu ketika kau menutup mata dan terbaring seperti itu?”

Oh. Seharusnya aku ingat kalau Park Chanyeol itu tidak waras.

“Kau tidak akan bisa menemukan seekor harimau di padang terbuka seperti ini, bodoh.” Ujarku malas.

Namun Chanyeol hanya mengangkat bahunya acuh, “Kan bisa saja.”

“Terserah padamu saja. Aku akan kembali ke villa, kau merusak ketenananganku.” Aku mencoba menjaga suaraku agar terdengar malas. Mencoba menutupi kemungkinan dia bisa membaca pikiranku yang detik ini kurang waras karena aku merasa bahwa aku senang dia datang ke tempat ini.

Aku hendak berbalik dan meninggalkannya, namun suara Chanyeol kembali menahanku.

“Rein.”

Aku menatap matanya dan menunggu kelanjutan kalimatnya. “Apakah kau mau menyisihkan waktumu untukku?” Suaranya terdengar ragu. Aku mengerutkan kening dan menatapnya bingung. Kuharap dia mengerti maksud tatapanku yang menunggunya melanjutkan kalimatnya. Tapi ia tetap terdiam dan menatapku gugup.

Dengan nada bingung, akhirnya aku bertanya. “Menyisihkan waktuku untukmu? Maksudmu?”

Chanyeol mengambil napas panjang dan dengan intonasi terburu-buru dia mengucapkan keinginannya yang membuat duniaku seakan terhenti.

“Maukah kau berkencan denganku?”

To Be Continue…

 

23 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s