Thorn of Love (Chapter 3)

Thorn of Love

Part 3 (Forbidden Ones)

 Thorn of Love

#NB : Maaf karena keteledoran saya waktu mengirim sampai part 4 dipost duluan daripada part 3. Gomen ne admin, gomen ne minna-san *bow

 

Author             :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Byun Heejin

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Choi Yunae
  • Byun Junghwa (OC)
  • Etc..

Genre             :           Romance, Angst

Rating                         :           PG15

Backsound      :           S.M. The Ballad (Yesung) – Blind

 

~oOo~

Author’s POV

Sudah sejak 2 minggu yang lalu musim gugur dimulai, musim dimana angin bertiup lebih sering karena mereka mempunyai tugas menjatuhkan serta menerbangkan dedaunan yang mulai menguning atau berubah jingga. Sudah tepat 5 hari pula Heejin kembali kerumah asalnya, dia bukan lagi gadis penghuni Woosung-sebuah yayasan tempatnya tinggal dan bersekolah sejak Sekolah Dasar hingga semester kedua ditahun kedua masa SMA. Tak ada yang berarti selama 5 hari itu, semua sama, begitu pula dengan Baekhyun. Pikiran Heejin tentang Baekhyun yang berubah 100% salah, namja itu masih dikelilingi tembok besar yang kedap akan suara Heejin, namja itu masih memandangnya dengan tatapan yang sulit didefinisikan, namja itu masih..masih..masih.. membencinya seperti itu.

Srekkkk…Suara horden yang ditarik membuat Heejin menggeliat pelan dibalik selimut tebalnya. Heejin meraih alarm yang terletak dinakas lalu terkesiap bangun tatkala mengetahui bahwa sudah pukul 8 pagi. Ini pertama kalinya dia bangun begitu siang.

“Selamat pagi nona muda” sapa seorang wanita tua yang suaranya sudah tak asing ditelinga Heejin

“Selamat pagi bibi Kim. Maaf aku bangun terlambat”

“Tidak apa-apa, inikan hari minggu”

Ya, hari ini adalah hari minggu diminggu ke 4 bulan September tepatnya tanggal 29 September 2013. Heejin bergerak hendak meraih selimut dan merapikan tempat tidurnya tapi sebuah tangan hangat menghentikannya.

“Biar bibi yang merapikannya, nona muda mandi saja lalu turun sarapan, tuan besar sudah menunggu dibawah”

Heejin mengangguk sembari memamerkan senyum hangat “Terima kasih bibi”

Jam dinding berbentuk bundar dengan warna dominan hitam yang dihiasi kilauan batu marmer itu berdenting teratur, pukul 08.30, Heejin melirik kearah tangga, orang yang ditunggunya, lebih tepatnya orang yang dia dan Ayahnya tunggu belum juga muncul. Dimeja berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu berwarna coklat mengkilap dengan lapisan kaca diatasnya, telah tersaji menu sarapan, ada 4 kursi yang berada dibalik meja tersebut. Heejin duduk dikursi favoritnya dimana dulu dia biasa duduk tapi ada yang berbeda, kursi disampingnya sudah tak seperti dulu, kursi disampingnya sekarang selalu kosong karena disitulah biasa Ibu-nya duduk dan Ibu-nya meninggal saat dia berumur 10 tahun. Kejadian memilukan itu masih terekam jelas diotaknya, momen-momen disaat dia berteriak histeris menyaksikan Ibu-nya bersimbah darah dan berakhir tidur selamanya.

Heejin memejamkan mata berusaha mengusir kenangan buruk itu, hanya sekitar 10 detik matanya terpejam hingga kembali terbuka karena bunyi langkah kaki yang mendekat. Baekhyun datang seperti biasa, dengan wajah tanpa ekspresi juga mulut yang terkunci rapat. Heejin tahu benar Baekhyun hanya akan berbicara ketika ditanya Ayah mereka atau Baekhyun hanya bicara pada teman-temannya, Baekhyun mungkin akan membuka permbicaraan duluan tapi yang pasti bukan pada Heejin.

“Sebelum kita sarapan, ada yang ingin Ayah bicarakan” Junghwan meletakkan koran yang dibacanya

“Ini mengenai kalian berdua” lanjut Junghwan, Heejin sempat melirik sebentar kearah Baekhyun tapi tidak sebaliknya, namja itu masih asik menundukkan kepala menatap sandwich didepannya

“Baekhyun, Ayah sudah mencarikan beberapa Universitas di Jerman yang pasti cocok untukmu, katakan yang mana pilihanmu lalu akan kita bicarakan. Setelah itu Ayah akan mengurus segalanya untukmu”

Heejin tertegun, Baekhyun akan melanjutkan kuliah ke Jerman? Kenapa harus begitu jauh? Tentu saja agar tidak bertemu dengannya lagi, orang mana yang mau bertatap muka dengan seseorang yang dibencinya setiap hari. Sekarang Heejin baru paham maksud perkataan Baekhyun saat mereka pertama kali bertemu setelah hampir 7 tahun lamanya, Heejin hanya perlu menutup rapat mulutnya selama 6 bulan karena 6 bulan kedepan dimulai dari hari itu adalah bulan Februari, tepatnya hari dimana siswa kelas 12 akan lulus dan menjadi hari terakhir mereka bertemu, mungkin.

“Dan Heejin…”

“Ne Appa”

“Malam ini kau mau menemani Appa makan malam?”

Kali ini yang bereaksi adalah Baekhyun, matanya menatap pria berumur 40’an itu dengan guratan tak percaya, bukan karena dia iri karena hanya Heejin yang diajak Ayahnya tapi karena Baekhyun tahu tipikal makan malam apa yang dimaksud Ayahnya. Ya makan malam dimana 2 keluarga akan bertemu dengan membawa anak mereka masing-masing untuk dikenalkan. Baekhyun mengalihkan pandangannya pada seseorang diseberang sana, orang itu tak terlihat menampakkan reaksi aneh, tentu saja karena Heejin begitu polos, dia pasti hanya berpikir makan malam seperti yang mereka lakukan dirumah.

Baekhyun terus memperhatikan Heejin seperti serigala yang sedang mengintai mangsanya. Akhirnya mata mereka bertemu tapi Heejin segera memutus pandangan mereka.

“Kenapa hanya kita berdua Appa?”

“Ayah sudah sering makan malam seperti ini bersama Baekhyun dan kakakmu itu selalu mengacaukannya. Ayah harap kau tidak meniru sifatnya” ujar Junghwan dengan tawa ringan

Heejin melirik Baekhyun yang masih setia memperhatikannya, kini namja itu sedang memamerkan senyum miring padanya.

“Maaf Ayah tidak bisa menemani kalian sarapan, ada urusan kantor. Heejin sayang, nanti sore akan ada yang mengantarkan baju untukmu, pakai untuk makan malam yang Ayah bicarakan. Ayah pergi dulu”

Byun Junghwan pergi meninggalkan sandwich-nya yang masih utuh, hanya espresso saja yang terlihat sudah disentuhnya. Bunyi decitan pelan kursi yang didorong kebelakang membuat mata Heejin yang awalnya memperhatikan sosok Ayahnya yang sudah menghilang berbalik kedepan dan mendapati Baekhyun beranjak dari kursinya. Heejin menggenggam erat gelasnya yang berisi susu, dia akan sarapan sendirian lagi hari ini.

Saat tangan Heejin bergerak hendak meletakkan gelas susunya, hatinya mencelos merasakan ada orang yang berdiri dibelakangnya. Bukan saja hanya karena kaget tapi juga karena Heejin tahu orang itu adalah Baekhyun. Kedua tangan Baekhyun kini bertumpu rapi dikanan dan kiri tubuh Heejin, entah apa yang sedang direncanakan kakaknya itu hingga kini Baekhyun mensejajarkan wajahnya tepat disamping Heejin dan membuat gadis itu tak berani menoleh seinci pun. Tubuh mereka dipisahkan oleh sandaran kursi yang tengah diduduki Heejin namun Heejin bisa menangkap dengan jelas suara nafas teratur milik Baekhyun.

“Sebagai kakak, aku akan memberitahu sesuatu padamu Byun Heejin”

Heejin menahan nafas, tangannya makin mencengkram keras gelas susunya. Dia benar-benar tegang sekarang, Baekhyun benar-benar membuatnya seperti pencuri yang tertangkap basah dan terkepung polisi.

“Jika nanti malam kau merasakan sesuatu yang tidak kau suka, aku sarankan kau segera pergi dari tempat itu. Kalau kau mengulur waktu sedikit saja, maka kau akan terjebak…” Baekhyun menggantung kalimatnya membuat Heejin benar-benar menahan nafas

“Selamanya” Baekhyun membisikkan kata tersebut tepat ditelinga Heejin lalu tangan kanannya menggenggam tangan kanan Heejin yang sedang memegang gelas

Heejin menatap tangannya yang tengah bergerak atas kendali tangan Baekhyun, pria itu mengangkat tangan Heejin hingga gelas berisi susu tersebut mencapai mulutnya, dia meneguk isi gelas tersebut dengan mata yang terarah pada Heejin.

“Ingat apa yang kukatakan barusan Heejin dan…terima kasih atas susunya” Baekhyun mengakhiri aksinya dengan menepuk pelan 2 kali bahu Heejin

Baekhyun gila, dia benar-benar berubah jadi sosok yang lebih menakutkan ketimbang dulu –batin Heejin-

~oOo~

Langit mulai gelap pertanda malam segera tiba. Dibalik meja penuh kertas, jangka, pensil, serta peralatan lainnya, terlihat Baekhyun yang sedang menatap bimbang layar ponsel ditangannya. Ada 2 pesan masuk dari orang berbeda namun dengan isi yang sama, pesan dari Chen dan Chanyeol itu sama-sama memberitahukan pada Baekhyun agar jangan terlambat malam ini ketempat biasa mereka bermain billiard. Baekhyun belum pikun, dia masih ingat jelas kalau malam ini dia dan 2 temannya itu akan bermain billiard dengan taruhan tapi melihat kondisinya sekarang, Baekhyun yakin dia akan membuat mereka bertiga kalah karena tidak mungkin bisa berkonsentrasi disaat kepalanya dipenuhi dengan hal lain.

“Sial!” umpat Baekhyun sambil mengacak rambutnya

 

Send Multiple To : Chen & Chanyeol

Maaf aku tidak bisa datang, sedang ada urusan. Minta DO untuk menggantikanku.

 

Baekhyun mengetuk-ngetukan jarinya berharap pikiran jernihnya akan kembali. Sekarang sudah pukul 7 lebih 10 menit, dia sudah menghabiskan waktu hampir sejam duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Kurang lebih 20 menit lagi dia harus mengantarkan seseorang kesuatu tempat. Tanpa sadar kaki Baekhyun melangkah pelan keluar kamar-nya menuju sebuah kamar yang berjarak sekitar 10 meter, saat sampai didepan kamar tersebut, tangan Baekhyun terulur dan memutar knop pintu perlahan. Sebuah pemandangan didalam kamar tersebut berhasil membuat kornea mata Baekhyun melebar dan membuat jantungnya berdetak tak karuan. Heejin sedang berdiri didepan cermin dengan posisi membelakangi Baekhyun, gadis itu sedang berusaha menaikkan retsleting gaunnya, leher dan punggung putihnya terekspos hingga bagian pinggang dan sebuah kain hitam dengan pengait terpasang dibagian tengah tubuh Heejin. Tak perlu menjadi seorang wanita untuk mengetahui benda apa itu. Logika Baekhyun akhirnya bekerja sehingga dengan cepat tangannya kembali menutup pintu namun naas menibulkan sebuah suara yang sudah pasti menyadarkan seseorang didalam kamar tersebut bahwa baru saja ada yang membuka pintu tersebut.

Baekhyun memegang dadanya yang berdenyut kuat, aliran darahnya benar-benar menggila, dia, bagaimana dia bisa begitu bodoh membuka kamar orang lain tanpa permisi? Bukankah tujuan awalnya hanya untuk mengecek apa orang itu sudah bersiap-siap atau belum, kenapa dia tidak mengetuk pintu saja dan menunggu orang itu membukakan pintu? Kenapa tangannya bergerak lancang? Kenapa..kenapa..kenapa matanya harus menangkap pemandangan itu?

Baekhyun memukul kepalanya untuk mengenyahkan scene yang baru saja terjadi itu tapi sayang sepertinya otak Baekhyun melakukan scan yang terlalu sempurna hingga scene tersebut masih saja berkelebatan didalam pikirannya.

“Oppa”

Sebuah suara menyentakkan Baekhyun kembali ke dunia nyata. Baekhyun membalikkan badan dan mendapati sosok Heejin berdiri didepan pintunya, sosok yang tengah memakai dress diatas lutut berwarna nude bercampur putih itu membuat mata Baekhyun tak bisa berhenti menatap dari atas ke bawah. Bukan desain atau ornament dress itu yang membuat Baekhyun seperti orang terhipnotis tapi justru karena orang yang memakainya. Lengan, leher, tengkuk, kaki, semuanya tak tertutup, hanya tubuh bagian tengah yang dimulai dari dada hingga 20 cm diatas lutut yang dibalut gaun tersebut.

“Terlalu banyak yang terekspos” ucap Baekhyun tanpa sadar

“Apa?”

“Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Dan maaf aku tadi tidak mengetuk pintu dulu”

“Aku yang minta maaf karena membuat Oppa menunggu, sebentar lagi aku akan selesai”

“Lanjutkanlah” Baekhyun berlalu meninggalkan Heejin tapi 3 langkah kemudian Baekhyun berhenti

“Jangan mengikat atau menggelung rambutmu. Biarkan terurai agar leher dan tengkukmu tertutup” ujar Baekhyun tanpa membalikkan tubuhnya

~oOo~

Baekhyun menyetir dengan kecepatan normal atau bahkan terkesan terlalu pelan untuk gayanya. Matanya menatap lurus kearah jalanan kota Seoul yang ramai tapi tidak dengan pikirannya, sedari mobil putih miliknya meninggalkan rumah, pikiran Baekhyun sudah melayang entah kemana. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang terlebih lagi karena seseorang yang sekarang duduk disebelahnya. Heejin asik memandang keluar dan tak menyadari Baekhyun yang sudah beberapa kali melirik padanya.

“Sial! Kenapa aku tidak bisa lupa yang terjadi tadi? Aku harus mengalihkan pikiranku” rutuk Baekhyun dalam hati

“Oppa…”

Baru saja Baekhyun memutar otak mencari pengalihan akan pikiran liarnya, suara wanita itu memecah hening menembus indera pendengarannya.

“Wae?”

“Aku…tidak mengerti apa yang kau katakan tadi pagi”

Baekhyun tersenyum miring “Kau tidak mengerti? Apa kata-kataku terlalu sulit dicerna?”

Heejin tak menjawab dan sepertinya tak perlu menjawab karena Baekhyun langsung melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.

“Bagaimana kalau kukatakan seperti ini, 2 keluarga saling bertemu dengan membawa anak mereka masing-masing. Ayah membawamu, teman Ayah membawa anaknya dan aku yakin anak dari teman Ayah adalah seorang laki-laki. Menurutmu, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Mata Heejin membulat sempurna, dia merutuki kebodohannya. Kenapa dia harus begitu lamban untuk mengerti maksud Ayahnya. Jika memang hanya makan malam biasa bukankah Baekhyun juga akan diikut sertakan? Kenapa hanya dirinya? Seharusnya dari hal itu saja Heejin sudah bisa mengerti tapi kenapa?

“Dari ekspresimu sekarang, aku yakin kau sudah mengerti apa yang kumaksud. Kita sudah sampai”

Heejin menoleh kearah jendela mobil disampingnya. Sebuah restoran Perancis mewah, ini tempatnya, dia sudah tiba, lalu bagaimana?

“Kau tidak turun?”

“Aku akan turun sekarang” tangan Heejin terulur untuk membuka sabuk pengaman yang dipakainya

“Heejin”

“Ne?” Heejin menoleh, tangannya terhenti dari kegiatan awal

1 detik 5 detik 10 detik, Baekhyun hanya menatap Heejin tanpa membuka mulut untuk melanjutkan sesuatu.

“Kenapa oppa memanggilku tadi?”

Baekhyun tak menjawab dan justru memajukan badannya, Heejin memundurkan badan dengan cepat hingga menimbulkan bunyi dentuman kecil akibat punggungnya yang menghantam sandaran kursi.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau harus benar-benar memikirkan apa yang kukatakan tadi pagi” peringat Baekhyun tepat ditelinga Heejin, terlalu dekat hingga beberapa helai rambut gadis tersebut bergerak akibat hembusan nafas Baekhyun

“Aku—“

“Turunlah” ucapan itu disertai dengan bunyi klik pertanda gasper ditubuh Heejin sudah terlepas dan tentu saja tangan Baekhyun-lah yang melakukannya.

Dari ekor mata-nya, Baekhyun tahu Heejin sudah tak lagi disampingnya bahkan suara derap kaki Heejin-pun sudah tak terdengar pertanda gadis itu sudah jauh disana atau mungkin sudah masuk kedalam restaurant. Baekhyun memukul kemudinya dengan keras hingga menghasilkan bunyi dentuman lumayan keras, mulutnya tertutup rapat tapi rahangnya mengeras.

~oOo~

Baekhyun berjalan dengan kecepatan normal. Telinganya tertutup oleh sepasang earphone tapi hal itu tidak membuatnya tuli akan suara seseorang yang sedari tadi mengikutinya. Suara yang sedang memohon itu sungguh tak asing ditelinga Baekhyun.

“Byun Baekhyun!”

Baekhyun menghentikkan langkahnya lalu melempar tatapan mengerikan kearah Chen yang sedari tadi mengekorinya dan baru saja meneriakkan namanya dengan lengkap.

“Ayolah Baekhyun, kita kan teman, kau harus membantuku. Lagipula—“

“Tidak” potong Baekhyun cepat

“Wae? Waeyo? Kau hanya perlu ke kelas 11B dengan alasan menjemput Heejin jadi aku juga ada alasan kesana”

“Kenapa kau tidak jujur saja kalau kau menyukainya?”

“Mwo? Kau tidak lihat betapa anti Yunae padaku? Kalau aku tiba-tiba bilang suka padanya, kurasa dia akan melempar penghapus papan tulis kewajahku atau lebih parah dia akan melempar meja dan kursi” Chen memanyunkan bibir, matanya menatap melas kearah Baekhyun

“Ekspresimu jelek sekali”

“Mwoya?!?!”

Chen berlari mengikuti Baekhyun yang sudah berjalan didepan menuju kelas 11B. Sedangkan didalam kelas yang dimaksud yaitu kelas 11B terlihat Heejin yang sedang membersihkan jendela dan Yunae yang sedang menghapus papan tulis. Getaran ringan disaku jas Heejin membuat gadis itu menghentikkan tangannya yang sedang mengelap seluruh bagian kaca jendela. Dahi Heejin berkerut samar melihat tulisan diponselnya ‘private number’.

“Yeoboseyo?” ucap Heejin pelan

“Heejin-ah kau sudah pulang?” kerutan didahi Heejin semakin dalam saat mendengar suara diujung sana merupakan suara seorang pria

“Maaf ini siapa?”

“Kau tidak kenal suaraku? Ahh benar, tadi malam kan kau hanya menunduk dan sepertinya tidak benar-benar masuk kedalam obrolan. Aku Sehun”

“Sehun? Oh Sehun?”

“Tentu saja, memangnya ada berapa Sehun yang kau kenal?”

“Tidak, bukan begitu, hanya saja darimana oppa dapat nomer ponselku?”

“Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan nomer ponsel tunangan sendiri, bukankah begitu?”

Heejin mengunci mulut rapat, bingung harus menanggapi perkataan Sehun

“Halo? Heejin? Kau masih disana?”

“Ah ne”

“Kenapa diam saja?”

“Tidak apa-apa”

“Kalau begitu aku akan menjemputmu sekarang”

“Sehun oppa—“

Tuttttt…..

“Eii jadi siapa Oh Sehun ini?” Yunae menyenggol pelan pundak Heejin dengan maksud menggoda

“Dia…”

“Siapa? Pacarmu? Kapan kenalnya? Seperti apa dia?”

“Bukan itu, dia—“

Cklek

Suara pintu terbuka itu membuat Heejin dan Yunae menoleh. Ternyata Baekhyun.

“Kau sudah selesai piket?” tanya Baekhyun pelan

“Belum, sebentar lagi”

“Hi!”

“Ishhh sedang apa kau disini alien jelek?”

“Wae? Aku hanya menemani Baekhyun. Apa kau pikir aku kesini untukmu? Tolong jangan bermimpi disore hari nona Choi”

“Mwo? Yak Kim Jongdae kau—“

Teriakan ponsel Heejin memotong omelan Yunae yang juga sontak membuat Baekhyun dan Chen menatap kearah Heejin yang terlonjak kaget karena ponsel yang baru dimasukkannya kedalam saku kembali berdering oleh ulah orang yang sama.

“Aku sudah didepan gerbang sekolahmu”

Heejin membelalakkan mata lalu melirik kearah gerbang depan melalui jendela kelasnya yang berada dilantai 3. Sesosok namja dengan motor besar tengah berdiri disana sambil berlalu-lalang dan itulah Sehun. Heejin menggigit bibirnya lalu berbalik kearah Baekhyun yang tengah menatapnya datar.

“Maaf sunbae, aku akan pulang bersama oppa-ku” ucap Heejin cukup pelan namun masih bisa ditangkap oleh telinga Yunae hingga membuat gadis hyper tersebut berteriak tanpa control

“Itu Sehun? Mana dia? Mana?” Yunae memburu kearah jendela didepan Heejin

“Itukah dia? Namja berambut coklat dengan seragam Shinhwa? Jinjja? Shinhwa International High School? Uwah daebak Heejin-ah!!” Yunae terus berkoar tanpa tahu keadaan disekitarnya mulai aneh

Baekhyun masih berdiri mematung diambang pintu, tangan kanannya meremas kuat tas ransel hitam yang disampirkan pada sebelah pundaknya tatkala nama itu meluncur bebas dari mulut Yunae. Mata Baekhyun memandang lantai marmer ruang kelas 11B, sedetik kemudian tangan kirinya mengeratkan topi baseball bertuliskan ‘JS’ yang tadi dipasangnya secara sembarangan.

“Yunae, aku kesini hanya untuk membantu Chen. Dia ingin mengajakmu pulang” Baekhyun membalikkan tubuh lalu berjalan menjauh meninggalkan Chen yang gelagapan

Heejin menatap Baekhyun yang mulai samar dari penglihatannya, entahlah dia harus merasa biasa atau merasa bersalah pada kakak-nya itu. Mungkinkah Baekhyun memang ingin mengajaknya pulang bersama atau hanya membantu Chen seperti yang dia katakan sebelum pergi tadi. Tidak ada yang tahu, hanya Baekhyun sendiri yang tahu.

“Heejin-ah”

Heejin terkesiap pelan saat Chen menepuk pundaknya

“Ne sunbaenim”

“Itu pacarmu? Kelihatannya dia sudah menunggu, biarkan aku yang menggantikan piketmu” Chen merebut kain ditangan Heejin

“Kalau begitu kau piketlah sendiri, aku akan turun bersama Heejin” tukas Yunae sambil meletakkan penghapus papan dengan kasar

“Hei mana bisa kau seperti itu?” ucap Chen tak terima

Heejin menahan tangan Yunae yang hendak meraih tas dilacinya lalu berbisik pelan

“Kasian Chen sunbae, dia sepertinya sangat menyukaimu, tetaplah disini”

“Mwo?”

“Sampai jumpa besok Yunae-ya. Sunbaenim aku permisi dulu” Heejin melesat pergi meninggalkan 2 manusia itu didalam keadaan kikuk

~oOo~

Angin sore berhembus teratur meniup dedaunan berwarna jingga yang mulai rapuh. Cuaca sore itu sungguh nyaman namun entah mengapa masih tak mampu membuat hati gadis pemilik bola mata hitam pekat tersebut menikmati aroma musim gugur sore. Sepasang mata hitamnya terus melihat lalu lintas manusia ditrotoar dari balik dinding kaca besar sebuah café tempatnya berada. Sudah hampir 5 kali gadis tersebut menghembuskan nafas pelan lalu menatap secangkir latte dihadapannya.

“Kau sakit?”

Heejin terkesiap saat pipinya merasakan hawa hangat dari tangan seseorang. Pikirannya kembali kealam sadar dan sekarang matanya tengah menangkap wajah khawatir Sehun, tangan pria itu baru saja mengusap pipinya lembut membuat sensasi aneh. Belum ada pria yang menyentuh kulitnya selain Ayahnya.

“Tidak apa-apa sunbaenim. Maaf aku memang bukan teman mengobrol yang baik” Heejin memundurkan tubuh memberi jarak pipinya dan tangan Sehun

Sehun tersenyum ringan “Kau pernah membuat kopi sebelumnya?”

“Kopi? Hanya kopi instan”

“Kau mau belajar membuat latte seperti ini?”

“Hmmm, sepertinya sangat menarik tapi tidak tahu harus belajar pada siapa”

“Ayo ikut aku” Sehun menarik pelan tangan Heejin

“Kita mau kemana?”

“Belajar menjadi barista”

Sebuah bangunan bergaya klasik eropa dengan tulisan ‘Aster Café’ didaerah Hongdae membuat Heejin menggaruk kepalanya pelan. Untuk apa Sehun membawanya ke café? Bukankah tadi juga mereka sedang ada dicafe?

“Ayo masuk” Sehun menggenggam erat tangan Heejin, gadis itu berusaha melepas tangannya namun Sehun memang tak berniat melepas tautan mereka

“Hyung!” sapa Sehun pada seseorang berkemeja putih lengkap dengan celemek hitam dibalik meja bartender

Pria dengan rambut blonde tersebut menoleh lalu mengangkat tangan menanggapi sapaan Sehun. Senyumnya yang ramah dan manis semakin dalam saat tahu Sehun tak datang sendiri seperti biasanya.

“Hyung bolehkah?” Sehun menaikkan sebelah alisnya member kode

“Wow Oh Sehun, setidaknya perkenalkan dulu siapa yang kau bawa”

“Ah mianhamnida, Byun Heejin imnida” Heejin mengambil kesempatan perkenalan diri untuk melepas tangannya dari cengkraman Sehun

“Heejin? Ah jadi ini yang—“

“Hyung!”

“Yang apa?” Heejin menatap bingung kearah Sehun

“Tidak ada, orang ini memang suka bicara melantur”

“Hahaha maaf, Xi Luhan imnida” pria berambut blonde yang wajahnya sekilas mirip dengan Sehun tersebut bernama Luhan

“Masuklah” Luhan menggerakkan kepalanya kearah pintu kayu kecil diujung

“Kajja”

“Kita mau apa?” tanya Heejin pelan

“Bukankah tadi sudah kubilang”

“Apa tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, dulu saat pertama kali aku belajar meracik kopi, aku membuat kekacauan besar jadi kurasa tidak masalah untuk kekacauan lainnya”

“Apa kalian dekat? Dia sangat mirip denganmu sunbaenim”

Sehun tersenyum, setidaknya sekarang Heejin sudah lebih sering mengeluarkan suaranya dan lebih sering mengajukan pertanyaan yang membuat Sehun merasa gadis itu mulai ingin mengenalnya.

“Dia anak dari bibiku. Ayahnya orang Cina dan ya kami dekat karena kami sama-sama anak tunggal yang kesepian”

Heejin tertawa pelan mendengar Sehun memakai kata kesepian. Luhan memasang senyum memperhatikan gerak gerik 2 orang tersebut, baru kali ini dia melihat Sehun tersenyum tulus seperti itu dan melihat kenyataan bahwa Sehun sudah begitu semangat menceritakan Heejin pada dirinya membuat Luhan yakin benar bahwa adik sepupunya tersebut benar-benar menyukai gadis bermarga Byun itu.

Sehun melepas jasnya lalu menggulung lengan kemejanya hingga siku sedangkan Heejin disamping juga sibuk menggulung lengan kemeja putih miliknya. Sehun memperhatikan Heejin yang begitu hati-hati menggulung lengan kemeja agar tak ada kerutan disana, wajah serius Heejin membuat Sehun sesaat tenggelam dalam fantasinya hingga tak sadar tangannya telah terjulur untuk menyibakkan rambut Heejin kebelakang telinga. Gadis tersebut menoleh kearah Sehun namun laki-laki itu masih enggan melepas sentuhannya bahkan kini kedua tangan Sehun memegang bahu Heejin membuat tubuh mereka berhadapan dan mata mereka bertemu. Tak berhenti sampai disitu, Heejin kembali dibuat menahan nafas saat tiba-tiba kedua tangan Sehun terjulur kebelakang tubuhnya untuk mengikat celemek yang masih belum terpasang sempurna. Posisi mereka terlalu dekat seperti orang yang sedang berpelukan.

“Dimana tali rambutmu?” Tanya Sehun setelah celemek Heejin terpasang rapi

“Aku…sepertinya lupa membawa” Tangan Heejin merogoh saku jasnya yang tersampir tapi tak menemukan benda tersebut

“Berbaliklah” perintah Sehun

“Ne?”

“Kau suka sekali membuatku mengulang 2 kali” Dengan sekali gerakan Sehun membuat tubuh Heejin membelakanginya

Tangan Sehun dengan cekatan mengumpulkan rambut Heejin menjadi satu lalu mengikatnya dengan sapu tangan putih miliknya.

~oOo~

Heejin mengedarkan pandangan keseluruh penjuru. Tidak ada tanda-tanda orang lain. Arloji ditangannya menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit. Dirumah ini hanya ada 4 orang, Dia sendiri, Ayahnya, Bibi Kim, dan Baekhyun. Ayahnya baru akan pulang pukul 9 malam, itupun jika tidak ada pekerjaan yang memaksa untuk lembur dan Baekhyun, dimana orang itu? Sudah sejak kemarin malam dia belum melihat Baekhyun, tidak, tadi sore disekolah dia melihat Baekhyun tapi hanya sebentar.

“Bibi Kim, dimana oppaku?” tanya Heejin saat melintasi dapur dan melihat wanita tua tersebut sedang sibuk membuat hidangan makan malam

“Tuan muda belum pulang sejak sore tadi, dia pulang sebentar berganti baju lalu keluar lagi”

“Bibi tidak tahu kemana perginya?”

“Biasanya tuan muda pergi ketempat billiard bersama temannya”

“Ah begitu…”

“Nona, tadi bibi sudah menyiapkan hanbok untuk besok, silahkan dicoba”

“Hanbok? Untuk besok?”

“Besok hari peringatan kematian Nyonya Kang”

Heejin mengangguk samar mendengar nama itu, kakinya melangkah perlahan kelantai atas. Saat melintas didepan kamar Baekhyun, Heejin berhenti sejenak lalu menatap pintu kamar tersebut.

“Sepertinya lebih baik kalau besok aku tidak ikut, itu lebih baik untukmu”

Heejin melanjutkan langkahnya, didalam kamar hingga pukul 11 malam, dirinya terus melamun memandang foto seseorang didalam figura diatas nakasnya. Foto wanita dengan rambut sebahu itu adalah Ibunya. Heejin memandangi foto Ibunya dalam diam, didalam kepalanya sudah cukup ribut dan penuh oleh berbagai hal mulai dari rasa hampa yang begitu terasa dirumah ini, acara makan malam sendirian, Baekhyun dan Ayahnya yang belum juga pulang padahal sudah pukul 11 malam, hingga Sehun yang melontarkan kalimat yang membuatnya kebingungan sendiri.

Mungkin ini terdengar aneh tapi ini bukanlah perjodohan. Aku sendiri yang meminta Ayahku untuk mengatur semua ini. Kau mungkin merasa keberatan dengan ini tapi bisakah kau bertahan? Bertahan sebentar untuk memberiku kesempatan membuat semuanya menjadi masuk akal hingga suatu saat kau mau menerimaku? Jika saat itu tiba tapi kau juga tidak bisa merasakan apa yang kurasakan, aku akan menerima apapun keputusanmu….Untuk sekarang, biarkan aku yang menjadi pengendali -(Sehun)-

To be continue…….

 

Hayoloh? Hayo? X)) Semoga masih ada yang setia menunggu kelanjutan FF ini #eaaaaa

37 pemikiran pada “Thorn of Love (Chapter 3)

  1. Heejin menatap tangannya yang tengah
    bergerak atas kendali tangan Baekhyun,
    pria itu mengangkat tangan Heejin hingga
    gelas berisi susu tersebut mencapai
    mulutnya, dia meneguk isi gelas tersebut
    dengan mata yang terarah pada Heejin.

    Omggg kalimatt diatass buat aku baperrrrrrrrr,, baekhyunnnn omggg,, aku sampeeee ketawaaa2 gajeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s