2 Reasons (Chapter 1)

Camera 360

Tittle : 2 Reasons

Rating : 15+

Lenght : Chapter 1 of 7

Genre : Romance, Friendship, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV

Main Cast : Park Chanyeol & Wu Yifan/Kris (EXO), Kang Raera (OC), Park Chorong (A Pink).

Support Cast : Baekhyun & Jongdae (Exo), Kang Raehyun (OC) etc.

 

SUMMARY : Chanyeol merasa malu dan sial karena dari kelas 2 SMP ia dipaksa bertunangan dengan gadis yang tidak ia kenal, Kang Raera. Gadis Es Batu, itulah julukan chanyeol untuk gadis itu. Pertunangan yang terasa konyol karena mereka hanya bertemu setiap malam natal sebab jarak rumah mereka yang terbentang cukup jauh. Chanyeol merasa gadis itu membuatnya frustasi bahkan ketika mereka sudah tidak lagi LDR (Long Distance Relationship) dan kuliah di universitas yang sama semua semakin kacau karena Kris, Senior di universitas Chanyeol dengan terang-terangan mendekati gadis Es Batu-nya.

Note : FF ini juga dikirim ke IFK, Happy Reading šŸ™‚

*

 

CHAPTER 1 (Gadis Es dan 365 hari)

 

“Yak! Coba lihat rambutmu yang bergaya dora itu! Kaki pendek! Dan apa itu di dahimu? ihh.. Biang keringat! Kau ini bukan gadis yang cantik dan tidak imut sama sekali! eh..” chanyeol tampak berpikir “mungkin kau memang agak imut, tapi tetap saja kau sangat jelek saat menangis! kau ini manusia dari planet mana hah? Masa takut dengan anak anjing yang lucu seperti tadi?” Chanyeol menyeka keringat di dahinya sendiri karena kepanasan.

 

“Sudah jangan menangis” kini nada suaranya ia pelankan. “Atau kau kutinggal!” Ancam chanyeol.

 

Gadis kecil yang sebaya dengannya itu berhenti menangis.

 

“Bagus..bagus, gadis pintar. Baiklah siapa namamu tadi? Aku lupa, Mengapa daritadi kau diam saja sih?”

 

“Apa kau bisu?” Tanya chanyeol lagi dengan polos, gadis kecil itu masih saja memandanginya.

 

“Kau….tidak….bisa….bicara??” Tanya chanyeol sambil membuat isyarat tangan yang asal.

“Kau sedang apa?” Akhirnya gadis kecil itu membuka suara.

 

Chanyeol merasa sangat konyol, di dalam hati ia merutukki oemma dan appanya yang menyuruhnya untuk mengajak main anak dari teman mereka ini, ‘gadis bertampang dora yang aneh’ pikirnya.

“Aish Jadi kau bisa bicara?!”

 

Gadis kecil itu hanya mengangguk.

Chanyeol: “kau sungguh…aneh..?”

Chanyeol menunggu reaksi dari lawan bicaranya tetapi yang ia ajak bicara hanya diam saja.

 

“Yasudah ayo kita pulang!” ajak chanyeol.

“Aku mau es krim” ucap gadis kecil itu akhirnya.

 

Chanyeol menghentikan langkahnya Lalu menatap gadis itu.

“Tsk, aku tidak punya uang” jawabnya acuh, ia kembali melangkahkan kakinya tetapi tangan mungil gadis itu menarik pelan ujung bajunya.

“Aku mau es krim”

 

Chanyeol menghela napas.

“Kau ini sangat merepotkan, baiklah ayo kita beli!”

 

Gadis itu tersenyum manis kepada chanyeol, chanyeol yang melihat gadis itu tersenyum sedemikian imut padanya malah bergidik.

‘Menyeramkan’ pikirnya.

 

“Ayo kaki pendek!” Panggil chanyeol asal.

 

~4 TAHUN KEMUDIAN~

 

“Mwo??” Tanya chanyeol setengah berteriak “tapi oemma, kami masih kelas 2 SMP! Tidakkah kalian pikir ini sangat tidak masuk akal?!” Lanjut chanyeol, ia mencoba mengatur kembali napasnya.

 

“Kami hanya ingin kalian bertunangan, tidak langsung menikah. Apa salahnya dengan bertunangan? Ini kemauan almarhum kakekmu sebelum meninggal” jelas chanyeol oemma tenang.

 

‘Bicara sih muda, bagaimana bisa tiba-tiba mereka menjodohkanku dengan seorang gadis yang belum pernah aku kenal seumur hidupku. Gila’ batin chanyeol.

 

“Sekarang jaman modern, apa kata teman-temanku kalau mereka tahu aku dijodohkan? Apalagi aku tidak kenal sama sekali” chanyeol menatap gadis dihadapannya dan beralih ke kedua orang tua gadis itu, ia merasa dilirik tajam oleh seorang laki-laki sebayanya yang kalau tidak salah adalah saudara laki-laki gadis yang ingin di jodohkan dengannya “Maaf bukan maksudku menyinggung, tapi ini sangat penting karena menyangkut hidup dan matiku” jelas chanyeol.

 

“Chanyeol, kau terlalu kampungan karena menganggap suatu perjodohan adalah hal yang tidak modern. Siapa bilang kau tidak kenal? Dulu saat kau masih kelas 4 SD kalian pernah bertemu sekali” ucap oemma santai.

 

“Aku?? Kampungan??? sekali bertemu? 4 tahun lalu? Apa efek sekali pertemuan? Apalagi waktu itu aku masih kecil, dan aku sudah tidak ingat sama sekali” cerca chanyeol frustasi.

 

‘Rupanya saja aku tidak ingat dulu ia seperti apa, kapan kami bertemu dan situasi yang bagaimana’ Pikir chanyeol jengkel.

“Oh iya Satu lagi! Aku sama sekali tidak kampungan, dilihat dari sisi manapun aku keren. Hmm maaf siapa tadi namamu?” Chanyeol bertanya pada gadis dihadapannya yang menatapnya dengan datar, tentu saja chanyeol berpikir dari sikap gadis ini yang begitu dingin menanggapi perjodohan mereka, bahwa gadis ini sama dengannya, tidak setuju.

 

“Kang Raera”

“Baik raera-ssi, karena aku seorang laki-laki sejati, maka perjodohan ini tergantung padamu saja. Aku akan menerima apapun keputusanmu”

Dalam hati ia sudah tahu apa jawaban gadis berambut di bawah bahu dan kulit putih sepucat salju itu adalah ‘Tidak setuju’.

 

“Aku menerima perjodohan ini dengan senang hati” jawab gadis itu lugas.

 

Chanyeol masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, tiba-tiba perutnya terasa tidak enak.

 

Orang tua kedua belah pihak tersenyum senang sekaligus lega.

 

“Akhirnya kita dapat menjalankan wasiat kakekmu, tenang saja kalian menikah setelah kalian lulus sarjana S1” ucap appa enteng yang pastinya terdengar berat bagi chanyeol.

 

Chanyeol menelan ludah dengan berat.

 

“Chanyeol-ah, ajak raera jalan-jalan sekaligus untuk saling mengenal satu sama lain” pinta oemmanya.

“Mau jalan-jalan kemana? Sekarang sudah malam dan sekarang malam natal yang sangat dingin” balas chanyeol.

“Kau jangan cengeng begitu, kau ini pria! masa hanya karena udara dingin kau tidak berani keluar?!”

 

Karena merasa dilecehkan dengan ucapan oemmanya chanyeol langsung bangun dari meja makan.

“Siapa yang cengeng? aku tidak takut dengan dingin atau apapun. Kajja raera-ssi, dan sebaiknya kau membawa mantel”

Lalu chanyeol berbungkuk dalam kepada kedua orang tua raera karena ia merasa tidak enak dengan tingkahnya yang terbilang tidak sopan dan kekanak-anakkan dalam menanggapi perjodohan ini.

 

“Maaf atas ketidak nyamanan yang paman dan bibi rasakan karena perilakuku”

“Tidak apa-apa, itu reaksi yang normal” ucap raera oemma santai.

 

Raera juga beranjak dari kursinya.

 

“Tunggu!” Panggil oemma, ia memberikan sesuatu ke tangan chanyeol “itu cincin pertunangan kalian, pakailah”

 

“Mwo? Oemma~ kenapa harus pakai cincin segala?” Rengek Chanyeol.

Oemma : “Kau ini bodoh atau apa sih chanyeol-ah? Yang namanya tunangan itu harus ada cincin, dan kau tau artinya cincin itu apa? Sebagai ikatan!”

 

Lagi-lagi chanyeol merasa dilecehkan dengan kata-kata oemmanya.

‘Sabar Park chanyeol, sabar.. orang sabar tampangnya tampan’ batinnya menenangkan diri.

 

Dengan kasar chanyeol mengambil cincin itu dan memakaikannya di tangan raera, ia mengambil cincin miliknya dan hendak memakai cincin itu sendiri tapi tangan mungil raera menghentikannya, ia mengambil cincin chanyeol lalu dengan hati-hati memakaikannya di jari chanyeol yang membuatnya sedikit tertegun entah kenapa ia merasakan suasana yang sakral layaknya bertunangan sungguhan.

 

‘Tunggu..tapi inikan memang tunangan sungguhan’ pikir chanyeol mengoreksi, ia menggeleng kecil.

 

“Sudahlah ayo kita pergi” ajak chanyeol.

 

~Di taman~

 

“Eheem.. kau! Siapa namamu tadi?”

Chanyeol sebenarnya ingat siapa nama gadis ini tapi ia hanya basa basi saja, karena daritadi salah satu di antara mereka tidak ada yang angkat bicara.

 

“Kang raera” ucap gadis itu singkat dan sangat jelas tentunya.

“Baiklah raera-ssi, apa kau menyukaiku?”

 

Raera menoleh ke arah chanyeol.

 

“Kau..menerima perjodohan ini apa karena…kau suka padaku?” Tanya chanyeol lagi yang membuatnya salah tingkah, dia berpikir pertanyaan yang ia ajukan membuat kesan bahwa ia terlalu narsis.

 

“Kau mengajukan pertanyaan retorik, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, kau tahu?” Jawab raera tenang.

 

Chanyeol menghela napas canggung.

“Ba..baiklah, anggaplah itu artinya kau tidak menyukaiku. Lalu kenapa kau mau dijodohkan denganku? Kau tahukan artinya dijodohkan itu apa? Suatu kegiatan dengan modus pernikahan”

 

Chanyeol menelan ludah karena membayangkan kalau ia menikah dengan yeoja disampingnya ini.

 

“Tentu aku tahu” jawab raera menatap lurus kedepan.

 

‘Apakah hati gadis ini terbuat dari batu?’ Batin chanyeol.

 

“Lalu kenapa kau terima?”

“Aku mau es krim”

“Mwo? Kau menerima perjodohan ni karen…” chanyeol menghentikan kata-katanya karena melihat jari raera menunjuk penjual es krim “Ouh.. Kau mau es krim itu?”

 

Raera hanya mengangguk.

 

“Apa kau gila? Udara dingin begini kau mau es krim?”

Lagi lagi raera mengangguk.

“Maaf aku tidak bawa uang” dusta chanyeol.

“Aku mau es krim”

“Lebih baik kau makan saja salju di sekelilingmu, sama saja kan!”

“Tidak sama, tidak ada rasanya” balas raera terdengar serius yang membuat chanyeol berpikir aneh tentang gadis ini.

 

‘Sebenarnya gadis ini berasal dari planet mana hah? Dia sungguh aneh, aku tidak bisa membayangkan bahwa aku akan menikah dengannya, aku harap malam ini adalah mimpi’

 

“Ba..baiklah ayo kita beli”

“Cepat!” Raera memegang lengan chanyeol agar ia mempercepat langkahnya. Ketika telapak tangan gadis itu menyentuh kulit chanyeol rasa dingin seakan menyeruak ke sekujur tubuh chanyeol.

 

‘Tangan Orang ini dingin sekali, apa dia bukan manusia? Apa dia seorang vampire?’ Pikir chanyeol.

 

“A..apa kau sakit, raera-ssi?” Tanya chanyeol hati-hati.

“Tidak”

“Tapi kenapa tanganmu dingin sekali?”

“Oh ini” raera melepaskan genggamannya dari lengan chanyeol lalu memandang telapak tangannya “telapak tanganku memang sudah seperti ini sejak lahir, sensitif akan suhu udara jadi suhu tanganku bisa lebih dingin dari suhu udara yang ku rasakan” raera berjalan di depan chanyeol.

 

“Memangnya ada ya yang seperti itu?” Gumam chanyeol lebih kepada dirinya sendiri, ia menyamai langkahnya dengan raera.

 

“Coba ku lihat tanganmu” raera memegang tangan chanyeol lalu mengaitkan tangan mereka berdua layaknya sepasang kekasih, chanyeol sedikit terlonjak menerima perlakuan raera “tanganmu sangat hangat, berbeda sekali dengan punyaku. Tapi bukankah memang itu fungsinya tuhan menciptakan setiap makhluk berpasangan? untuk saling menutupi kekurangan masing-masing”

 

Chanyeol agak terkejut dengan perlakuan dan ucapan raera kali ini, tapi yang membuat ia tidak habis pikir adalah ekspresi yeoja ini yang dengan tanpa beban seperti apa yang ia lakukan dan ia katakan adalah hal yang biasa dan bukan apa apa.

 

‘Sepertinya aku tahu sekarang. Hatinya bukan terbuat dari batu, tetapi dari es’ pikir chanyeol.

 

Raera: “Es krim vanila 2”

“Ne, mohon tunggu sebentar” ucap ahjussi penjual es krim ramah.

Chanyeol: “Tidak-tidak, aku tidak mau”

“Dua duanya memang untukku” jawab raera santai.

“Ohh..” chanyeol salah tingkah.

“Ini es krimnya, terima kasih”

 

Mereka kembali berjalan beriringan menelusuri taman.

 

Chanyeol: “Laki-laki yang tadi duduk disebelahmu di meja makan, apa dia kakakmu?”

“Bukan, dia adikku umur kami berjarak 2 jam”

“Mwo? Jadi maksudmu kalian saudara kembar?”

Raera mengangguk.

“Hah pantas saja kalian sangat mirip, tapi kelihatannya dia orang yang menyeramkan, tadi dia menatapku tajam sekali seakan akan dia sangat menbenciku” curhat chanyeol.

“Dia memang tidak menyukaimu”

“Be..benarkah, kenapa?”

“Kalau kau diposisi dia, dan menyaksikan tigkahmu tadi ketika di meja makan saat menanggapi perjodohan ini apa kau akan menyukainya?”

“Kau benar juga, Siapa namanya?”

“Kang Raehyun”

“Ouh..”

“Kau tidak perlu khawatir, dia hanya terlalu menyayangiku”

 

Saat mendengar pernyataan raera, chanyeol sama sekali tidak merasa bahwa gadis ini terlalu percaya diri, tapi ia mengerti bahkan tersirat kagum karena raera terkesan sangat mengenal saudara kembarannya itu. Mungkin karena ketenangan yang dimiliki gadis ini yang membuat chanyeol nyaman disampingnya.

 

Chanyeol dan raera melihat penjual kembang gula yang sedang melayani beberapa pembeli pasangan remaja SMA.

 

“Jangan bilang kau juga ingin dibelikan kembang gula layaknya pasangan di drama- drama norak yang di TV-TV” Semprot chanyeol.

 

“Sebenarnya aku sama sekali tidak kepikiran untuk membeli itu, tapi karena kau sudah membahasnya aku jadi menginginkannya. Belikan untukku”

“Ah tidak mau”

Raera mengangguk mengerti lalu ia kembali melangkahkan kakinya.

“Eitts tunggu-tunggu-tunggu, aku akan belikan untukmu” ucap chanyeol kemudian.

 

Chanyeol berlari kecil menghampiri penjual kembang gula, tidak sampai satu menit ia kembali.

 

“Ini”

Raera sedikit menundukkan kepalanya tanda terimakasih.

 

“Hmm raera-ssi..?” panggil chanyeol kemudian di tengah langkah mereka pulang kerumah.

“Hmm?”

“Begini.. aku kan masih muda, ma..maksudku kita ini masih muda kan? Bahkan aku saja belum lama ini mengalami pubertas” chanyeol merutukki dirinya yang begitu bodoh karena mengucapkan hal memalukan itu.

“Apa maksudmu?”

“Jadi begini..aku punya satu permintaan?” Chanyeol melihat raera yang masih menunggu dengan sabar apa yang ingin ia katakan, lalu ia lanjutkan “kau tahu kan bahwa kita akan menikah setelah lulus sarjana nanti, jadi sebelum hal itu terjadi aku ingin kita berdua bebas dalam menjalin hubungan apapun dan menyukai siapapun”

 

Tidak perlu waktu lama bagi raera untuk memutuskan.

“Bukan masalah untukku”

“Benarkah? Ahhhh terimakasih raera-ssi, kau sungguh pengertian. Lega rasanya sudah mengatakannya”

 

~Ke esokkan harinya~

 

“Chanyeol-ah~ Yak ireona!!” Panggil chanyeol oemma sambil menggedor pintu kamar chanyeol kasar.

 

Chanyeol yang masih mengantuk mengacak rambutnya frustasi.

“Ada apa sih oemma pagi-pagi sudah teriak-teriak? Hoaaaam dia pasti sedang datang bulan” gumam chanyeol beranjak dari kasurnya lalu ia membuka pintu.

 

Klek

“Oemma, hari ini hari natal tidak bisakah aku tidur dengan damai?” Rengek chanyeol.

“Kau boleh tidur selama apapun yang kau mau! Tapi kau harus pamit dulu dengan raera dan keluarganya, mereka mau pulang karena harus ke rumah neneknya”

“Mereka sudah mau pulang??” Chanyeol sedikit terkejut, ia melirik jam dinding di kamarnya.

“Baru jam stengah 8 pagi” gumam chanyeol.

 

Chanyeol mengikuti langkah oemmanya turun ke lantai bawah, di ruang tamu ia melihat appanya bersama raera dan juga keluarganya yang terlihat sudah siap untuk angkat kaki dari rumahnya.

 

Oemma dan appanya berpamitan dengan kedua orang tua raera, oemmanya terlihat menitikkan air mata.

 

Mata chanyeol menangkap sosok raera yang sedang memasukkan susu kotak ke tas punggung raehyun. Chanyeol baru sadar bahwa wajah raera sangat cantik saat diterpa cahaya pagi matahari. Dalam hati ia bertanya kenapa semalam ia tidak menyadari dibalik sosok dingin dan kulit putih sepucat salju itu terdapat sosok gadis yang cantik. Saat raera menoleh kearahnya chanyeol agak terkejut dan langsung memalingkan wajahnya.

 

“Chanyeol-ah, ucapkan selamat tinggal pada raera” perintah oemma.

 

Chanyeol hanya terdiam disamping oemmanya, raera menghampiri chanyeol terlebih dahulu lalu ia memandangi chanyeol dengan ekspresi serius membuat chanyeol bingung.

 

“Ini untukmu” raera memberikan sebuah kotak berukuran sedang berwarna pink, chanyeol mengalihkan pandangannya ke kotak itu penuh tanya.

“Ini cokelat!” Jawab raera seakan tahu apa yang dibenak chanyeol “Sampai jumpa 365 hari lagi, park chanyeol” raera mengembangkan senyumnya yang terkesan hangat bagi chanyeol.

 

Chanyeol yang disenyumi hanya diam saja terpaku tidak tahu harus menanggapi apa.

 

“Baiklah kami pergi, terimakasih atas jamuannya” salam raera appa.

“Hati-hati” ucap orang tua chanyeol.

 

Kedua orang tua raera terlebih dahulu pergi, lalu di ikuti raera, raehyun membungkuk di hadapan si empunya rumah lalu ia pergi setengah berlari ke arah raera. Di luar rumah aroma salju dan hawa dingin yang lembab menerpa wajah raehyun, ia menyamai langkah kakinya dengan raera.

 

“Jadi orang itu yang kau sukai semenjak 4 tahun lalu? Haaah apa yang khusus darinya?” Ejek raehyun

 

Raera yang mendengar itu reflek menoleh ke saudara kembarnya, matanya sedikit membulat saat mendengar raehyun mengatakannya tapi setelah itu ia tersenyum kecil dengan tenang.

 

Raehyun mendengus sebal.

“Kau payah!”

 

~Satu tahun kemudian~

 

“Uljima~ sudah jangan menangis” seru chanyeol.

“Ta..tapi aku masih sangat menyukaimu, kenapa kau tega sekali memutuskan hubunganmu denganku?” Rengek gadis dihadapan chanyeol yang tak lain adalah kekasihnya.

“Sebelum aku menerimamu aku sudah bilang syarat menjadi pacarku adalah siap kapanpun mengakhiri hubungan”

“Aku tahu..tapi.. aku tidak siap. Aku masih menyukaimu, bahkan selama pacaran kau belum pernah memelukku”

“MinAh-ah, Kita masih 3 SMP jalan kita masih panjang. Carilah yang lebih baik untukmu daripadaku”

“A..aku..”

“Maaf karena aku harus akhiri hubungan kita”

“Ta..tapi.. kenapa?

 

Chanyeol tersenyum, lalu memegang lengan gadis dihadapannya dengan hangat.

“Karena gadisku akan segera kembali” chanyeol langsung beranjak meninggalkan yeoja yang telah menjadi mantan kekasihnya itu, chanyeol sedikit melambai seiring sosoknya menghilang dari gadis yang terpaku akan ucapan dan tingkahnya.

 

“Dasar namja aneh!”

 

~Rumah~

 

“Aku pulang~” chanyeol menggantung mantelnya lalu berlari ke dapur, ia tersenyum melihat oemmanya yang sedang berkutat dengan kue yang sedang ia hias.

“Wah.. oemma masak banyak sekali, mmm..” chanyeol menghirup aroma kue yang sedang dihias oemmanya “aromanya sedap sekali, pasti enak!” Seru chanyeol bersemangat.

“Tentu saja, malam ini kita kan kedatangan tamu special”

“Benarkah? Siapa?” Tanya chanyeol pura-pura tidak tahu.

“Nanti kau juga akan tahu”

 

Chanyeol mengangguk-angguk seakan mengerti, ia melipat lengan sweaternya sampai siku.

“Biar aku bantu” tawar chanyeol semangat.

 

Oemmanya sangat senang melihat tingkah anak semata wayangnya itu begitu antusias.

 

Dalam hati chanyeol menyerukan sebuah nama ‘Kang raera’ mereka akan bertemu lagi.

 

~Kamar chanyeol~

Sudah jam 7 malam tapi belum ada tanda tanda bahwa raera dan keluarganya sudah datang. Chanyeol memilih pakaian yang menurutnya sesuai, kemudian ia merogoh kedalam kerah bajunya, ia menemukan sebuah kalung dengan bandul sebuah cincin, cincin pertunangannya. Ia tersenyum memandang cincin itu.

 

“Chanyeol-ah~ cepat turun! Keluarga kang sudah datang!” Panggil oemma dari bawah.

 

Chanyeol mengambil napas dalam-dalam.

“Baiklah, aku baik baik saja! Bukankah aku sudah menantikan saat ini” chanyeol menepuk nepuk kedua pipinya.

 

Chanyeol turun kebawah. Ia melihat semua orang sudah berkumpul dimeja makan sambil bersenda gurau, ia menemukan sosok gadis yang selama ini ia ingin temui sedang duduk membelakanginya.

 

“Chanyeol, ayo duduk. Duduklah disamping raera” ucap oemmanya saat melihat chanyeol. Chanyeol melangkah pelan lalu duduk dengan tenang.

 

Ia sama sekali tidak berani menoleh ke orang disampingnya, ia sangat gugup. Raera-pun masih duduk tenang menghabisi makan malamnya tanpa menghiraukan keberadaan chanyeol disisinya.

 

Makan malam sudah selesai, para orang tua menyuruh chanyeol dan raera ke ruang keluarga untuk berbincang berdua. Saat chanyeol dan raera beranjak dari kursi mereka, raehyun juga ikut bangun dari kursinya sampai oemmanya meliriknya tajam menyuruh ia duduk kembali, raehyun mendengus kesal dan kembali duduk dengan cemberut.

 

Chanyeol duduk di lantai beralasan karpet wol tebal di dekat perapian lalu raera duduk di sebelahnya.

 

“Apa kabarmu?” Tanya raera memulai pembicaraan.

“Seperti yang kau lihat, aku baik baik saja. Kau sendiri?”

Raera sedikit menggeleng.

“Belakangan ini aku sering terkena flu” raera mengaitkan kedua tangannya di antara lututnya.

 

Wajah Chanyeol memerah melihat jari tangan raera yang masih memakai cincin pertunangan mereka, entah perasaan senang-lega-malu yang ia rasakan.

 

Raera mengambil sesuatu dari tasnya yang di dekat sofa.

“Ini hadiah natal dariku” raera menyuguhkan kardus persegi empat yang lebar dan pipih dengan dihiasi pita disisi kanan atas.

“Terimakasih, boleh kubuka?”

“Ya” jawab raera sambil memandang lurus ke perapian.

 

Chanyeol membuka tutup hadiahnya, ia menemukan sweater rajut tangan.

“Ini untukku? Ah…maksudku… apa ini kau sendiri yang membuatnya untukku?”

“Tidak, aku membelinya di toko dekat sekolahku” jawab raera jujur.

 

Semburat kekecewaan terpampang diraut wajah Chanyeol.

“Ouuh, omong omong terimakasih”

“Apa tidak ada hadiah untukku?” Tanya raera.

“Ma..maaf, aku tidak kepikiran”

“Tahun kemarin kau juga tidak memberiku hadiah. Natal selanjutnya kau harus memberiku hadiah!”

“Hmm jangan terlalu berharap, kalau aku ingat ya?” Goda chanyeol.

“Kau kejam sekali” balas raera datar.

“Memang kau mau apa? Apa kau suka aksesoris? Atau kau mau makanan? Pakaian? Buku?”

“Kalau darimu, apapun itu pasti aku suka” jawab raera tenang sedangkan orang yang dituju jadi tidak karuan.

 

‘Bukankah dia bermaksud bilang suka padaku secara tidak langsung?’ pikir chanyeol.

 

Raera: “Kita bertemu setiap setahun sekali, dan itupun hanya semalaman saja karena besoknya aku harus pergi kerumah sanak keluargaku yang lain. Apa kau merasa baik baik saja dengan itu?”

 

“Apa maksudmu?” Tanya chanyeol heran.

“Apa kau tidak merasa perjodohan ini konyol? Pada umumnya pasangan yang dijodohkan saling mendekatkan diri dengan saling mengenal satu sama lain, Berkencan, dan berkomunikasi. Tapi kita malah hanya bertemu dan berkomunikasi setiap 1 tahun sekali di malam natal”

“Ya aku memang merasa ini konyol” chanyeol tersenyum membuat raera heran “tapi disitulah bagian kesenangannya, apa kau tidak merasakan sensasi yang menggelitik saat memikirkannya? Hahaha”

 

Raera mengernyit.

‘Menggelitik? Apa maksudnya?’ Pikirnya.

 

“Jadi 365 hari lagi?” tanya chanyeol tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke raera.

 

Raera hanya bingung memandang chanyeol.

 

Chanyeol: “kita bisa bertemu lagi”

“Oh Ne”

“Sungguh Hari yang banyak” ucap chanyeol tersenyum sambil meregangkan kedua tangannya. “Saat hari itu tiba kau harus berdandan yang cantik, bagaimanapun aku ini kan calon suamimu. Jadi kau harus membuatku menyukaimu, arrata!?”

 

Raera hanya tersenyum menanggapi ucapan chanyeol.

 

~Satu tahun kemudian~

 

Chanyeol memakai sweater pemberian raera tahun lalu, ia lalu mengambil cincinnya yang ia jadikan bandul kalung, dengan cepat ia pakai cincin itu di jarinya, tidak lupa ia mengambil hadiah natal untuk raera di laci.Hadiah yang ia janjikan pikirnya.

 

“Bagaimana rupanya nanti? Apa dia banyak berubah? Apa dia akan terpesona denganku? Karena bagaimanapun aku semakin tampan, bukan?” Gumam chanyeol pada pantulan dirinya di cermin.

 

Drrrt..drrrt…

 

Chanyeol mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru saja ia terima. Ia mengernyit saat membacanya.

 

From: Hyejin

 

Tega sekalu kau! Malam natal yang seharusnya indah untukku kau hancurkan begitu saja! Aku tidak terima dengan alasanmu memutuskanku! siapa maksudmu gadismu yang telah kembali itu??? Kusumpahi kau tidak akan pernah bertemu dengannya selamanya! Aku benci padamu namja bodoh, Aneh, kutu, jelek, tiang listrik tidak berperasaan, katrok!!!!!”

 

Chanyeol tersenyum lalu menekan reply.

 

To: Hyejin

 

Maafkan aku, kuharap kita masih bisa berteman šŸ™‚

 

Setelah pesan itu terkirim, chanyeol memasukkan ponselnya di saku. Ia menuruni tangga dengan bersenandung kecil.

 

Ia menyapa oemma dan appanya lalu duduk dimeja makan, ia melirik jam tangannya.

 

‘Bukankah mereka seharusnya sudah sampai?’ Tanya chanyeol dalam hati.

 

Kriiing..kriiing…kriiing.

 

Chanyeol oemma beranjak lalu mengangkat telepon rumah yang berdering.

 

“Yeoboseyo, kediaman keluarga Park”

 

Chanyeol oemma mengangguk-angguk sambil mendengarkan si penelepon.

“Ahh benarkah? Astaga sayang sekali, memang benar terjadi badai. Hmmm mau bagaimana lagi? Yasudah tidak apa-apa”

 

Chanyeol oemma menghentikan sebentar aktifitas percakapannya lewat telepon lalu beralih pada suami dan anaknya.

“Mereka tidak jadi datang, penerbangannya di batalkan karena badai” Setelah mengucapkan itu chanyeol oemma kembali menempelkan telinganya di pesawat telepon.

 

Chanyeol mengepalkan tangannya.

 

“Ohh..iya tunggu. Chanyeol-ah, raera mau bicara denganmu” oemma menyodorkan pesawat telepon ke chanyeol.

 

Chanyeol beranjak dari kursinya lalu dengan ekspresi yang tidak enak dilihat ia berkata “Bilang padanya aku sibuk” chanyeol dengan cepat menaiki tangga dan menuju kamarnya, tidak lama kemudian terdengar dentuman keras, chanyeol menutup pintu kamarnya dengan kasar.

 

“Ada apa dengan anak itu?” Chanyeol appa heran.

 

~Setahun kemudian~

 

#On The phone

 

“Mwo? Lagi..? Yakk Park Chanyeol! Sebenarnya ada apa denganmu dan malam natal? Kenapa dihari ini kau selalu mencampakkan kekasihmu? Ingat! Sudah 3 kali berturut-turut kau melakukannya! Kita sudah kelas 2 SMA, setidaknya kau berpikiran dewasa sedikit, melakukan suatu hal itu harus dipikir dan ada alasannya!” sembur seseorang diseberang sana.

“Baekhyun-ah, aku sedang malas membahasnya” chanyeol mendengus malas.

“Kau tahu aku dan jongdae berusaha keras untuk mendapatkan pacar untuk di ajak kencan dimalam ini, kau yang sudah punya malah disia-siakan” omel baekhyun.

“Sudah kubilang kalian tidak cocok punya pacar, kalian lebih baik single dan tetap menjadi sahabatku”

“Yak! Kau kira kami ingin terus terusan jomblo?Jangan mentang-mentang tampangku pas pasan dan tampang jongdae tidak tampan jadi kau bilang begitu! Kami juga ingin punya pacar, kau saja gonta ganti terus” jawab baekhyun menggebu-gebu tidak terima.

“Aku kan sudah bilang kalau aku hanya ingin tahu saja, dan mencari pengalaman”

“Tsk, alasan macam apa itu?? Kau orang yang benar-benar keterlaluan, aku sangat mengenalmu tapi untuk hal yang satu ini aku masih tidak mengerti” racau baekhyun

“Ayolah~ aku kan sudah bilang, untuk menjadi bersih kita harus kotor dulu. Aku mungkin sekarang memang terus ganti-ganti yeoja dan tidak pernah serius dengan hubunganku tapi itu semua adalah proses untuk menjadi pria yang hanya setia kepada 1 wanita saja. Bukankah lebih baik menjadi buruk sekarang daripada dikemudian hari?” Balas chanyeol bijak.

“Ahh sudahlah, aku tetap tidak mengerti jalan pikiranmu yang satu ini”

 

“Chanyeol-ah~ keluarga Kang sudah datang, ayo cepat turun!!” Panggil oemma dari ruang tamu.

 

“Maaf baekhyun-ah, tamuku sudah datang nanti kita sambung lagi”

 

Klik

Sambungan terputus.

 

Chanyeol menuju ruang tamu, ia melihat oemma appanya sedang bercengkeramah dengan orang tua raera, ia tersenyum dan mendekat. Ia berbungkuk dan memberi salam kepada orang tua raera, lalu ia tampak bingung karena baru menyadari bahwa raera dan raehyun tidak terlihat, ia celingukkan seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.

 

“Apa kau mencari raera, chanyeol?” Tanya raera oemma.

 

Chanyeol sedikit terkejut karena ditanya oleh raera oemma seperti itu.

“Ahh..tidak kok” chanyeol tersenyum canggung.

 

Raera appa memegang pundak kanan chanyeol lalu tersenyum.

“Maaf chanyeol-ah, kali ini kami hanya datang berdua saja. Raera sedang sakit dan raehyun menjaganya dirumah” jelasnya.

“Oh begitu ya.. hehe tidak apa-apa paman, baiklah aku permisi dulu, ada yang harus ku kerjakan” salam chanyeol pada para orang tua yang sedang memandanginya dengan tatapan menyesal.

 

Chanyeol naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya dan ia bersandar dipintu lalu menyiku pintu kamarnya dengan keras.

“Dasar pembohong! Dia bilang 365 hari, tapi ini sudah 2 tahun dan dia tidak datang lagi, jadi aku harus menunggu 365 hari lagi? Hah haha..” chanyeol tertawa pahit mengejek dirinya.

 

Chanyeol mengambil kalung yang berbandul cincin pertunangannya, ia lepas kalung itu dari lehernya lalu ia lempar cincin itu ke tepi tempat tidur.

 

“Haha kurasa ini memang perjodohan yang konyol”

 

~Satu tahun kemudian~

 

“Tumben sekali kau mengajak kami jalan jalan di malam natal begini” ucap baekhyun sambil memasukkan tangannya ke dalam kantung mantelnya.

“Haah kau benar! sebenarnya ada apa, chanyeol-ah? Apa terjadi sesuatu? Kelihatannya seperti ada masalah” timpal jongdae sambil menggosokkan kedua telapak tangannya “dingin..” gumamnya.

“Memangnya harus ada alasan untuk mengajak sahabat pergi?” Tanya chanyeol sambil merangkul kedua sahabatnya “lagipula kita ini kan sama-sama free and Single” lanjutnya.

“Ahh kau benar, kau kan baru mengakhiri hubunganmu dengan anak kelas 1 itu, kan?” jawab jongdae polos.

Baekhyun:”Aissh chanyeol-ah, makanya jangan main terima saja setiap gadis yang mengutarakan perasaannya padamu! Oh iya apa kau lupa bahwa dari seminggu yang lalu kau sudah berkowar kalau hari ini ada janji acara keluarga dan tidak bisa diganggu gugat? Lalu kenapa tiba tiba kau mengajak kami keluar? Pakai alasan emergency segala”

“Tamuku tidak jadi datang, kedatangan mereka di undur 6 bulan lagi”

Jongdae: “Maksudmu tamu yang setiap tahun berkunjung kerumahmu? Yang rumahnya di luar kota itu kan?”

“Iya, teman kedua orang tuaku yang pernah kuceritakan pada kalian”

“Sepertinya mereka tamu yang penting sekali” simpul jongdae.

“Menurutmu begitu?” Tanya chanyeol tenang tapi tersenyum pahit.

“Semua orang dapat menyimpulkan hal yang sama hanya dari melihatmu menanggapinya” jawab jongdae.

“Kenapa harus diundur 6 bulan?” Tanya baekhyun tiba-tiba.

“Mereka ingin pindah kesini, dan anak mereka juga akan kuliah disini tapi tunggu sampai kerjaan Kang ahjussi selesai dulu” jawab chanyeol mengingat apa yang barusan oemmanya beri tahu dirumah.

Baekhyun: “Ouhh yang kau bilang saudara kembar itu ya? Mereka sebaya dengan kita kan?”

“Iya”

“Aku jadi penasaran dengan mereka” ucap jongdae “Apalagi dengan si Gadis es batu”

“Yakk! Jangan sembarangan memanggilnya seperti itu!” komplain chanyeol.

“Bukankah kau sendiri yang menyebutnya begitu?” timpal baekhyun membela jongdae.

“Oh iya hehe” chanyeol tertawa tapi kemudian ekspresinya berubah mendung “Hmm…tapi aku saja sudah 3 tahun tidak bertemu dia”

 

Baekhyun dan jongdae hanya saling berpandangan.

 

~6 Bulan kemudian~

 

“Oemma aku pulang~ aku membawa kimchi dari ibunya jong..” ucapan chanyeol terpotong begitu saja.

 

‘Sulit bernapas’ batinnya, karena dihadapannya kini ia melihat raera sekaligus keluarganya sedang mengobrol dengan oemma dan appa diruang tamu.

 

Mereka semua langsung menoleh ketika mendengar suara chanyeol yang terdengar berat, atmosphere disekitar mereka jadi berbeda.

 

Raera menghampiri chanyeol secara perlahan tapi pasti, chanyeol yang melihat seseorang yang selama ini ingin ia temui hanya bisa diam terpaku. Rambut sebahu itu sekarang sudah menyentuh pinggangnya yang ramping, wajahnya yang putih pucat sekarang terlihat segar, tubuhnya yang mungil sekarang menjadi tinggi dan terlihat proposional, lekuk wajahnya yang cantik sekarang lebih terlihat jelas.

 

“Hai Park chanyeol, lama tidak berjumpa. Aku merindukanmu” sapa raera sambil tersenyum kecil dan hangat.

 

TBC

13 pemikiran pada “2 Reasons (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s