The Secret of time [Chapter 3]

the-secret-of-time1

The Secret of time [3]

By @titayuu

Cast : Oh Sehun, Oh Jieun (OC), Jang Jihyun (OC) | Genre : Romance Fantasy |

Length : Chapter | Rating : General

~*~

Menjadi orang dewasa tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan. Menjadi orang dewasa hampir sama seperti mengerjakan rumus matematika yang rumit dalam waktu satu menit. Perlu perjalanan yang cukup panjang dalam menjejaki tiap anak tangga menuju puncak kedewasaan. Dan Sehun tak pernah merasakan menjejaki tangga-tangga itu hingga akhirnya ia langsung tiba di atas tanpa pernah tahu keadaan sebelumnya. Ada banyak hal yang sudah ia lewati.

Tak terasa libur cuti kerjanya sudah berlangsung hampir seminggu. Masa liburannya ia habiskan untuk belajar semua dari awal. Setiap hari ia habiskan membaca buku-buku kesehatan yang bisa membuatnya muntah sehabis membacanya. Atau terkadang ia juga pergi ke perpustakaan untuk membaca buku lain. Sehun tak pernah merasa kesulitan dalam menerima informasi dan belajar. Beberapa kali, peringkat pertama pernah ia dapat ketika duduk di bangku sekolah. Di balik kesibukannya dalam belajar, belakangan ini lelaki itu juga terus memutar otak untuk bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Namun tetap saja, ia bukan ayahnya. Sehun juga tak pernah bisa menjadi seperti ayahnya.

Belakangan ini, sebenarnya Sehun berpikir untuk mengubah masa depannya. Ia ingin mengubah profesinya menjadi apa yang ia inginkan. Namun semuanya harus ia pendam lagi karena satu hal; ia selalu takut untuk memulai. Hanya penyesalan yang kini terus menghantuinya tiap ia memejamkan mata.

Sudah hampir seminggu ia berada di tempat asing ini. Ia mencoba menjadi sosok yang normal tanpa pernah ada yang menyadari kalau dia berubah. Ia mencoba menjadi sosok ayah yang mencintai anaknya meski Jieun sama sekali tidak mau menerima tiap perhatian yang ia berikan. Sehun belajar membuatkan bekal untuk Jieun, namun gadis itu selalu melongos pergi setelah menerima uang jajannya tanpa sekalipun berniat membawa bekal yang sudah ia buat. Tidak, kini Sehun tak pernah merasa keberatan dengan sikap gadis itu. Semua yang ia dapat sekarang adalah bukti dari kesalahannya sendiri.

Seharusnya mengurus anak gadis yang pendiam dan cuek seperti Jieun tidaklah sulit. Jieun seperti sosoknya ketika masih remaja. Ketika pulang sekolah, gadis itu akan mengurung diri di kamar sambil memasang musik dengan suara kencang. Jika perutnya merasa kosong, ia baru akan keluar kamar untuk mengisi perutnya, lalu kembali untuk melanjutkan aktivitasnya lagi. Jieun bukanlah sosok yang mudah terbuka dan akan menceritakan apapun padanya. Jika sedang marah, sedih, senang, gadis itu hanya memasang ekspresi yang sama.

Namun kemarin, tepat di sebuah sore yang dingin, gadis itu pulang terlambat dan hujan sedang melanda kota sejak siang. Sehun merasa ada sesuatu yang tak beres terjadi pada anak gadisnya. Ketika lelaki itu hendak keluar dan mencari Jieun, gadis itu tiba-tiba muncul di hadapannya dengan tubuh yang basah. Jieun menunduk tanpa ingin menatap Sehun, lalu berjalan melewatinya. Arah tatapan Sehun tak lepas dari punggung lemas Jieun. Sebuah perasaan was-was entah mengapa sedang menghinggapinya saat itu.

Sehun sempat meminta bantuan dan saran dari Jihyun. Wanita itu menyarankan agar ia memberi perhatian lebih pada Jieun. Mengetuk pintu kamar Jieun, memberikannya susu hangat, dan mengajaknya bicara adalah satu-satunya cara agar Sehun mengetahui apa yang sedang terjadi. Semua begitu sulit hingga ia tak bisa melakukannya. Sehun menyerah ketika ketukan tangannya di pintu tak di acuhkan oleh Jieun.

“Semuanya memang salahmu.” Suara Jihyun kembali memenuhi gendang telinganya ketika Sehun bercerita tentang keadaannya dan Jieun. Jihyun menyalahkan Sehun mentah-mentah tanpa nada menuduh. “Dulu kau terlalu cuek padanya. Mungkin saja dia juga sedang marah padamu.”

“Ya, kau benar.” Sehun mengangguk sambil mengapit ponselnya dengan pundak ketika sedang menyiapkan makan malam untuknya dan Jieun. Akhir-akhir ini Jihyun seakan menjadi mentornya dalam hal mengurus anak. Dan ia beruntung kalau wanita itu tak keberatan. “ia masih tak mau bicara padaku. Bagaimana jika kau ke sini dan bicara padanya? Bicara antara wanita dengan wanita. Mungkin dengan begitu ia mau mendengarkanmu.”

Sehun mendengar suara kekehan Jihyun dari balik sambungan telepon mereka. Kegiatannya terhenti sejenak dan mulai tersenyum tiba-tiba ketika ia membayangkan wanita itu tertawa manis. Namun senyum itu tak berlangsung lama ketika Jihyun mulai berbicara kembali.

“Tidak bisa, aku sudah ada janji dengan Tao. Mungkin lain kali?”

Tepat. Seharusnya ia sudah menduga jawaban wanita itu. Sehun menghela napas dan benar-benar menghentikan kegiatannya ketika mendengar sebuah nama keluar dari mulut Jihyun. Lelaki itu mengambil salah satu kursi terdekat di pantri rumahnya, lalu mencoba mendengarkan kalimat Jihyun selanjutnya dengan malas.

Tao adalah salah satu orang yang tak pernah ia harapkan muncul lagi di kehidupannya. Sejak dulu Sehun tak pernah suka dengan lelaki itu. Mereka hanya akan menghabiskan waktu dengan bertengkar ketika berpapasan di jalan atau ketika Tao memulai sebuah ulah yang membuat Sehun jengkel. Dan terkadang Tao juga yang membuatnya harus mendengar ceramah guru bahkan ibunya. Seperti tokoh kartun Tom and Jerry—semua orang di sekolah menyebut mereka demikian.

Ketika ia mengetahui fakta bahwa lelaki brengsek itu menikah dengan Jihyun, semua rasa penyesalan terus menyerbunya tanpa henti. Dan segudang pertanyaan muncul secara perlahan di kepalanya. Bagaimana bisa Jihyun dan Tao menikah? Apakah ini semua karena ia yang pengecut? Apakah Jihyun justru benar-benar menyukai lelaki itu?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali, hanya kemungkinan-kemungkinan tak pasti yang ia kelola sendiri tanpa bukti yang jelas.

“Sehun-a, kau masih di sana?”

“Hmm ya,” Sehun kembali di tarik dalam dunia nyata ketika suara indah milik Jihyun memasuki rongga telinganya. “sampai mana kita tadi?”

“Kau harus lebih dekat dengan Jieun. Sesekali pergilah berjalan-jalan dan menikmati dunia luar. Kau sedang cuti, kan?”

“Baiklah.”

Kata terakhir Sehun keluar setelah menghembuskan napas berat. Sehun memainkan garpu dan potongan buah apel di atas piring di hadapannya. Kini tak ada lagi topik yang ingin mereka bicarakan, namun tak ada dari mereka yang berniat memutuskan sambungan tersebut. Entah kenapa Sehun menyukai keheningan ini. Ia suka mendengar napas samar Jihyun melalui sambungan telepon itu.

“hmm Sehun-a,” Jihyun mulai membuka pembicangan lagi setelah semenit terdiam. “Kau baik-baik saja, kan? Maksudku, kau seperti berbeda sejak pertemuan waktu itu.”

Keadaan yang membuatku berbeda, Sehun berbicara dalam hati. Lelaki itu mencoba tersenyum meski ia tahu kalau senyum palsunya tak akan bisa di lihat Jihyun. Sebagian dirinya mengatakan kalau ia harus bisa mengungkapkan semuanya. Namun sebagian lagi melarangnya mentah-mentah.

“Aku akan menceritakan—Oh, Jieun-a!” Baru saja Sehun ingin mengungkapkan beban yang selama ini berada di pundaknya, tiba-tiba matanya menangkap sosok Jieun yang sedang menuruni anak tangga dengan wajah pucat. Sehun beralih sebentar pada ponselnya sebelum menghampiri Jieun. “Jihyun-a, nanti aku telpon lagi.”

Jieun tak mempedulikan panggilan Sehun. Gadis itu mengambil mantel, lalu berderap menuju pintu keluar meski kini pintu tersebut sudah di hadang oleh tubuh besar milik Sehun. Kepala Jieun terangkat sedikit, hingga membuat Sehun semakin jelas menatap mata gadis itu.

“Mau kemana?”

“Minggir.”

“Ini sudah malam dan kau tidak makan seharian ini.” Sehun menatap tajam kearah Jieun yang kini mulai menunduk kembali. “Mau kemana?”

Jieun masih bergeming dan menutup mulutnya rapat. Gadis itu berusaha menyingkirkan Sehun dari hadapannya. Namun Sehun justru membuat Jieun semakin tersudut. Kedua tangan Sehun menyentuh pundak kanan dan kirinya. Membuat emosi Jieun semakin meningkat. Gadis itu memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap marah pada Sehun.

“Urusi urusanmu sendiri!”

“Tidak bisa. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Minggir! Aku ingin keluar!” Jieun kembali menggeser tubuh besar Sehun sekuat tenaganya meski hasilnya nihil. Napas gadis itu mulai menderu, dan emosinya memuncak. Gadis itu mulai berteriak. “MINGGIR! KAU PIKIR KAU SIAPA?!”

“AKU AYAHMU DAN AKU BERHAK TAHU APA YANG SEDANG TERJADI!” Nada suara Sehun naik lebih tinggi dari sebelumnya, bahkan hampir berteriak. Napasnya juga sedikit tersengal karena susah payah menahan emosi. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat Jieun terdiam sambil mengeluarkan bulir air mata di kedua matanya. Setitik rasa bersalah hinggap di tubuhnya meski ia mencoba menghalaunya. “Kau tahu, akhir-akhir ini semua perhatianku hanya tersita untukmu. Aku ayahmu, dan kau bisa menceritakan apa yang terjadi padaku.”

Jieun masih terdiam di tempat. Kepalan tangan gadis itu terlepas dan memperlihatkan sebuah gumpalan foto kusut yang jatuh ke lantai. Kedua mata lelaki itu fokus pada benda yang terjatuh itu, lalu mengambilnya.

Kedua matanya menangkap gambar wajah Jieun menggunakan seragam sekolah dengan seorang lelaki di sampingnya. Wajah Jieun terlihat biasa tanpa ada senyum yang terbingkai di sana. Namun yang membuat jantung Sehun kembali berdegup kencang ketika menemukan wajah Jieun di coret dengan tinta merah dengan lambang ‘x’ besar. Di bawah wajah Jieun tertulis kalimat ‘gadis jalang’.

Kedua mata Sehun kembali pada Jieun yang masih bergeming dan menangis sesenggukan. Untuk sesaat ia mengerti semuanya. Ia mengerti atas semua yang terjadi pada anaknya. Sehun belum pernah berada pada posisi seperti sekarang, namun ia merasa sebuah rasa sakit tiba-tiba menghantamnya. Rasanya terasa sakit seperti di iris menggunakan pisau ketika melihat gadis itu menangis di hadapannya. Tangan lelaki itu terangkat dan menyentuh rambut kasar Jieun. Tak lama kemudian lelaki itu menarik tubuh Jieun dalam dekapannya. Erat, dalam, dan lebih hangat, itulah yang mereka rasakan sekarang. Sehun mencoba menghilangkan rasa sakit itu meski hanya sesaat.

..

“Kau mau ini?”

Sehun mengangkat sepotong kimbab yang di apit oleh sumpit di tangannya kearah Jieun. Gadis itu menggeneg kepala namun tatapan matanya masih menatap kearah makanan yang ada di hadapannya. Gadis itu tidak sedang memperhatikan makanan yang Sehun beli di rumah makan di dekat rumah, tapi gadis itu sedang menerawang dan memikirkan sesuatu. Untuk saat ini Sehun berharap bisa membaca apa yang sedang di pikirkan gadis itu.

Badai memang sudah berlalu, tapi rintik hujan masih membasahi suasana di antara mereka. Sehun sengaja menyita kunci kamar Jieun agar membuat gadis itu mau mendengarkannya dan duduk di hadapannya. Dan sekarang lelaki itu berhasil membuat Jieun duduk di hadapannya meski ia tak tahu pikirannya sedang terbang kemana. Meski Jieun masih belum mau membuka mulut untuk sekedar menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’.

Sehun menaruh peralatan makannya di atas meja setelah menghembuskan napas berat. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menatap Jieun pasrah. Di saat-saat seperti ini, biasanya ibu Sehun akan mengomeli dengan berbagai kalimat yang tak pernah bisa masuk kedalam otaknya. Ibunya akan memarahinya habis-habisan ketika ia melakukan sesuatu yang menyulitkannya atau bahkan mempermalukannya. Namun ketika mengetahui kalau anaknya terlibat sebagai korban bullying, ia tak mengerti lagi. Ia sama sekali tak mengerti harus berbuat apa.

“Jika kau masih tidak ingin menyentuh makananmu, aku tak akan memberikan kunci kamarmu sampai kapanpun.” Sehun mulai membuka pembicaraan dengan sebuah kalimat peringatan. “Aku tak akan memaksamu untuk bicara, jadi makanlah.”

Jieun mulai mengangkat tangannya dan mengambil sumpit yang berada di samping mangkuk nasinya. Gadis itu mengambil sebuah kimchi dan Japchae, lalu memasukan makanan itu kedalam mulutnya. Gadis itu masih terdiam meski mulutnya masih mengunyah makanan dengan pelan. Sehun memperhatikan dengan menyunggingkan sebuah senyum. Ia sama sekali tak menyangka kalau caranya bisa berhasil.

Di tengah keheningan yang menginvasi kebersamaan mereka selama beberapa menit, tiba-tiba Sehun mendapat sebuah ide. Sebenarnya bukan murni ide yang berasal dari kepalanya melainkan ide dari Jihyun beberapa saat lalu. Dengan ide itu, ia harap dapat lebih dekat dengan gadis di hadapannya.

“Besok kau libur, kan?” Sehun memajukan posisi duduknya dan melihat Jieun mengangguk kecil. “Bagaimana kalau besok kita pergi berlibur? Aku sedang cuti sekarang. Jika cutiku sudah habis, kita mungkin tak mendapatkan waktu bersama. Kau mau pergi kemana? Pulai Nami? Lotte World?”

“Appa,”

“Ya?”

“Kau sedang sakit.” Jieun mulai bersuara dengan mulut penuh nasi dan lauk. Kedua mata gadis itu tak lepas mengikuti gerak-gerik Sehun yang terlihat aneh di matanya.

“Apa yang kau bicarakan? Aku sehat-sehat saja. Ya, memang belakangan ini kepalaku sedikit pusing.” Sangkal Sehun dengan gugup. Lelaki itu kembali tersenyum, sambil mengalihkan topik itu. “Oh ya, Bagaimana tawaranku barusan?”

Jieun tak menjawab. Gadis itu kini mengalihkan padangannya kembali pada makanan di atas meja. Gadis itu seakan tidak ingin membahas topik awal sebelum kalimatnya benar-benar di tanggapi oleh Sehun. Sehun benar-benar tak mengerti perubahan mood Jieun. Jieun akan berbicara secara tiba-tiba dan membahas topik yang berbeda, dan itu membuat semuanya semakin rumit.

“Jieun-a, jika kau mendapat perlakuan buruk dari teman-temanmu, sesekali kau boleh melawan.” Ujar Sehun. Lelaki itu kembali membahas topik utama mereka yang kini memang sedang menyerbu otaknya. “Aku tak bisa melakukan apapun untuk menolongmu. Hanya dirimu sendiri yang bisa menolongmu. Semua hanya terserah padamu, kau ingin mereka terus memperlakukanmu dengan buruk dan kau melawan agar mereka berhenti, atau sebaliknya. Melawan memang tak akan menyelesaikan masalah, namun jika kau diam terus, mereka mungkin akan terus mengganggumu.”

“Aku sudah menghabiskan makananku, berikan kuncinya.” Jieun menjulurkan tangannya kearah Sehun setelah sempat terdiam sejenak. Di balik sifat cuek gadis itu, Sehun tahu kalau Jieun menyimak perkataannya. Ia tahu kalau Jieun pasti menyimpan kalimatnya di otaknya.

Setelah merogoh kunci kamar Jieun di saku celananya, Sehun menaruh kunci tersebut di atas telapak tangannya.

Dan setelah menerima barang yang ia pinta, Jieun kembali membuka suara. “Lotte World sepertinya menarik. Sudah lama aku tidak ke sana.”

Belum sempat Sehun menangkap lengan Jieun dan memeluknya lagi, gadis itu sudah berlari menuju tangga. Sehun memperhatikan langkah Jieun yang terkesan lebih ringan. Kedua sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyum. Ia tak menyangka kalau perasaannya ketika melihat Jieun hampir sama seperti saat ia sedang jatuh cinta. Jika saja ia tak tahu fakta bahwa Jieun adalah anaknya, mungkin saja sekarang Sehun sudah jatuh cinta padanya.

~*~

a/n : Hai~! Terima kasih buat yang sudah menunggu chapter di ff ini. Udah deh, gak bisa ngomong apa2 lagi. Semoga kalian suka^^

Iklan

12 pemikiran pada “The Secret of time [Chapter 3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s