Thorn of Love Part 5 (Only You)

Thorn of Love

Part 5 (Only You)

 Thorn of Love

Author             :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Oh Sehun
  • Byun Heejin

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Choi Yunae
  • Byun Junghwa (OC)
  • Etc..

Genre             :           Romance, Angst

Rating                         :           PG15

Backsound      :           4Men – Only You

#NB : This part is special for flashback story

~oOo~

Heejin menutup rapat pintunya. Tangan kanannya terulur ke dada untuk merasakan dentuman keras di sana, dentuman yang dibuat oleh jantungnya itu terasa tak normal seperti biasa. Kalimat itu terus membayanginya dan membuatnya bingung luar biasa.

“Kita…bukanlah saudara Byun Heejin”

~oOo~

#Flashback

Wanita dengan sepatu berhak 5 cm itu mengetuk 3 kali sebelum masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia membungkukkan badan segera setelah seseorang yang berada di ruangan tersebut melihatnya.

“Ada apa?” Tanya pria yang sedang duduk di balik meja dengan balutan jas rapi dan dasi motif garis

“Ada telpon dari nyonya”

“Bukankah sudah ku bilang untuk menolak semua panggilan?”

“Maaf sajangnim tapi nyonya bilang ini sangat darurat”

“Sambungkan padaku”

“Ne sajangnim”

1 menit kemudian pria yang di panggil sajangnim itu mengangkat telpon dimejanya. Raut wajahnya tak terlihat senang walau yang sedang menelpon tersebut adalah istrinya sendiri. Byun Junghwan, seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang interior & eksterior tersebut menikah dengan seorang wanita bernama Kang Soojin atas dasar perjodohan orang tuanya 2 tahun yang lalu.

“Ada apa? Aku sedang sibuk”

“Aku hamil”

Junghwan membelalakkan mata mendengar pernyataan tersebut, bukan karena dia tidak ingin bertanggung jawab tapi karena hal tersebut terdengar hampir tidak mungkin karena dia sama sekali belum pernah menyentuh Soojin atau dia sudah pernah melakukannya saat pulang dalam keadaan mabuk namun dia tidak mengingatnya, tidak ada orang mabuk yang sadar dengan apa yang dilakukannya bukan?

“Aku akan kembali ke Seoul sekarang” ujar Junghwan mantap

9 months later

9 bulan dilalui Junghwan dengan perasaan bahagia dan perasaan sayangnya pada Soojin yang awalnya tidak ada sama sekali sekarang mulai tumbuh bersamaan dengan lahirnya seorang bayi laki-laki mungil hari ini tepat tanggal 6 Mei 1995. Junghwan memeluk Soojin dengan hangat lalu mencium lembut kening bayi laki-laki tampan yang diberikan nama Byun Baekhyun. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Junghwan merasa bahagia selain saat bersama seseorang bernama ‘Seo Jihee’.

“Junghwan, ke ruanganku sebentar” Seorang pria dengan jas putih dan sudah pasti merupakan seorang dokter itu merupakan sahabat dari Junghwan sejak masa SMA

Junghwan mengikuti sahabatnya yang bernama Lee Jisung tersebut kedalam sebuah ruangan pribadi milik Jisung. Setelah melepas jas putihnya, Jisung menggerakkan tangan memberikan instruksi kepada Junghwan untuk duduk sedangkan dirinya sendiri sedang sibuk mencari sesuatu yang dia simpan didalam laci 2 jam yang lalu.

“Ada apa? Apa ada masalah dengan anakku?”

“Tidak. Dia anak laki-laki yang sehat sekali tapi…..”

“Tapi apa?”

“Lihat ini” Jisung memberikan selembar kertas yang menunjukkan hasil pemeriksaan medis Baekhyun

“Kau menyuruh seorang sarjana arsitektur membaca informasi medis?”

“Tidak usah melihat yang lain, lihat golongan darahnya saja”

“Iya..lalu?”

“Kenapa kau bertanya? Bukankah aneh Baekhyun bergolongan darah O sedangkan kau dan Soojin sama-sama bergolongan darah A”

Junghwan mulai menyadari arah pembicaraan sahabatnya.

“Kau mau bilang dia bukan anakku?”

“Aku tidak mau bilang seperti itu tapi menurut dunia medis adalah tidak mungkin seorang anak bergolongan darah O saat kedua orangtuanya sama-sama bergolongan darah A”

“Bukankah golongan darah bisa berubah? Aku pernah membacanya” Junghwan mulai merasakan bulu kuduknya naik

“Itu memang mungkin tapi perubahan golongan darah bisa terjadi karena menerima donor darah yang terlalu sering dari golongan berbeda atau saat melakukan transplantasi tulang sum-sum dari seseorang yang bergolongan darah berbeda tapi….Baekhyun adalah bayi yang baru lahir 3 jam yang lalu Junghwan, aku memang belum melakukan tes DNA tapi dari golongan darahnya saja sudah membuatku curiga”

Junghwan berdiri lalu mencengkram kuat kerah kemeja Jisung. Wajahnya dipenuhi amarah, rahangnya mengeras, matanya memerah menahan kecurigaan yang timbul karena pernyataan-pernyataan dari Jisung.

“Kau mau bilang istriku selingkuh? Kau mau bilang aku sekarang sedang ditipu oleh Soojin?”

“Aku tidak mau mengatakan ini tapi aku pernah beberapa kali melihat Soojin bersama Jihyuk”

Junghwan memijit kening menahan serangan sakit yang diterima kepalanya secara tiba-tiba karena mendengar nama itu. Choi Jinhyuk adalah sahabatnya sejak masa sekolah menengah pertama, Choi Jinhyuk orang yang dianggapnya sebagai kakak sendiri? Apa benar Jinhyuk punya hubungan special dengan istrinya sendiri? Bagaimana bisa?

“Lakukan Tes DNA tapi jangan sampai Soojin tahu” ujar Junghwan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dengan perasaan campur-aduk

3 Hari kemudian sebuah kabar yang benar-benar tak mengenakan di dengar Junghwan langsung dari mulut Jisung yang menyatakan bahwa Baekhyun memang tidak punya hubungan darah dengannya sama sekali. Hal tersebut membuatnya merasa di dorong paksa kedalam jurang, membuatnya frustasi dan begitu terperamental, membuatnya linglung dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Keputusasaan dan amarah yang menumpuk tersebut mengawali sebuah cerita panjang dimasa depan saat dirinya memutuskan menemui kembali wanita yang dicintainya—Seo Jihee—.

Junghwan pergi menemui Jihee yang tinggal Gwangju dengan perasaan kalut dan dalam kondisi mabuk berat hingga malam itu, terjadilah sesuatu antara mereka yang membuat Jihee hamil 4 minggu kemudian. Junghwan yang memang pada dasarnya mencintai Jihee lebih memilih tinggal disamping Jihee dan menikahinya walau harus dengan sedikit membohongi wanita tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya sudah bercerai dengan Soojin padahal kenyataan yang ada sama sekali tidak.

 

March 10, 2000

Sebuah sandiwara besar yang dilakukan Soojin akhirnya harus terkuak 5 tahun kemudian bersamaan dengan terungkapnya kebohongan yang dilakukan Junghwan hingga membuat Jihee pergi meninggalkannya bersama seorang anak perempuan berumur 4 tahun bernama Byun Heejin.

Soojin masih terus membabi buta, dia masih terus membanting dan membuang semua barang di dekatnya untuk melampiaskan kemarahan. Air matanya terus menetes mengetahui kenyataan bahwa selama 5 tahun ini dirinya di bohongi oleh Junghwan dan selama 5 tahun ini pria tersebut pulang-pergi Gwangju ternyata untuk menemui kekasihnya sekaligus istrinya Seo Jihee.

“Kau! Bagaimana kau bisa menikahi orang lain saat aku masih disini? Aku masih hidup disini Byun Junghwan!!” Soojin terus memukul tubuh Junghwan untuk meluapkan emosinya

“Kau benar-benar pria brengsek! Kau brengsek! Bagaimana bisa kau melakukan semua ini bahkan setelah kita mempunyai anak? Dimana hati nurani mu!!!”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak punya sesuatu untuk kau jelaskan padaku? Apa kau ada bedanya denganku? Apa yang kau lakukan bersama Choi Jinhyuk?!! APA?”

Junghwan mencengkram keras pergelangan tangan Soojin dan membuat wanita itu tersentak karena ucapannya. Raut ketakutan memenuhi wajah Soojin,

“Apa kau heran bagaimana bisa aku mengetahui semua itu? Aku sudah mengetahuinya sejak 5 tahun lalu! Kau tahu betapa kecewanya aku saat mengetahui itu? Aku seperti diserang puluhan butir peluru karena kau tahu betapa aku menyayangi Baekhyun dan mulai menyayangi dirimu? Apa kau tahu?!?”

“Junghwan aku—“

“Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah semua sandiwaramu sudah berakhir Kang Soojin” Junghwan menyentakkan tangan Soojin lalu bersiap pergi sebelum akhirnya Soojin kembali melontarkan kalimat pukulan padanya

“Kau…apa kau tidak pernah berpikir semua kebohongan ini bersumber darimu? Apa kau pernah menatapku sekali saja selama 2 tahun pernikahan kita? Jangankan menyentuh, menatapku saja tidak pernah. Kau seakan bisa mati tiba-tiba jika berada diruangan yang sama denganku untuk waktu yang lama dan setelah semua yang kau lakukan, sekarang kau menyalahkanku?” Soojin tertawa hambar

“Tapi kenapa…kenapa bahkan sahabatku sendiri?” Junghwan menahan air yang hendak menguar dari matanya lalu sebuah suara isakan tangis membuatnya kaget bukan main.

Mata Junghwan terarah pada pintu kamarnya yang sedikit terbuka dan dia bisa melihat dengan jelas ada seorang bocah laki-laki yang menangis disana, anak laki-laki tersebut adalah Baekhyun dan dia mungkin saja menyaksikan pertengkaran antara dirinya dan Soojin karena anak itu tengah menangis keras sambil menyebut-nyebut kata ‘eomma’. Soojin yang juga menyadari kehadiran Baekhyun segera berlari menghampiri anak tersebut. Soojin memeluk lalu mengelus pelan puncak kepala Baekhyun seraya meredam tangis anak itu.

Plakkk… Terdengar suara pukulan keras yang ditimbulkan tangan Soojin karena mengenyahkan tangan Junghwan saat mencoba menyentuh Baekhyun.

“Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu dan lagi…kau tidak perlu berusaha mati-matian untuk menyayangi kami karena kami tak butuh orang sepertimu”

Tepat saat Junghwan membuka mulut hendak membalas ucapan Soojin, matanya dikejutkan dengan sesosok pria yang sangat dikenalnya masuk.

“Choi Jinhyuk…” ucap Junghwan pelan, dia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya

“Aku akan membawa Soojin & Baekhyun bersamaku” Ujar Jinhyuk

“Kau—hyung, kenapa kau?”

“Kau bertanya padaku? Bukankah dulu sudah sering ku katakan kalau aku akan benar-benar merebut Soojin jika kau tidak memperlakukannya dengan baik? Dan kurasa ini saatnya”

“Kalian—“ Junghwan merasa udara disekitarnya lenyap begitu saja, dadanya naik turun menahan amarah

“Kurasa kau sangat senang karena mulai sekarang kau bisa hidup dengan Jihee, nikmatilah hidup kalian dan owh ya, aku dengar kau dan Jihee juga mempunya anak yang setahun lebih muda dari Baekhyun, bukan begitu? Aku harap dia tidak tumbuh sepertimu dan aku harap di masa depan kedua anak ini tidak akan menyerang satu sama lain. Semoga karma tidak menghinggapimu Byun Junghwan”

Entah sejak kapan Soojin tampak seperti penyihir yang merapalkan mantra-mantra kutukan pada Junghwan karena demi apapun yang dikatakan Soojin barusan amat sangat punya tenaga kuat yang mampu menerjang hati Junghwan. Tubuhnya gemetaran dan peluh memenuhi keningnya, matanya sudah tak sanggup membendung air mata terlebih saat Soojin & Jinhyuk berjalan menjauh sambil membawa Baekhyun. Anak itu, anak berumur 5 tahun itu sedang meronta, menangis dan memanggil-manggil dirinya, anak itu meminta pertolongan pada seseorang yang di kiranya sebagai Ayah tapi apa yang bisa dilakukan Junghwan? Junghwan kini hanya berdiri mematung sambil menangis menatap Baekhyun, dadanya terasa sangat nyeri mendengar tangisan anak itu, tak ada suara yang bisa di dengarnya selain suara tangisan memohon anak itu tapi Junghwan hanya berdiri ditempatnya dengan kepala kosong.

~oOo~

4 Years later

Hujan deras masih mengguyur di luar sana. Petir sesekali bersahutan sambil memberikan kilatan-kilatan cahaya yang menghasilkan bunyi menggelegar. Angin yang berhembus lumayan kencang mengiring aroma hujan memasuki sebuah rumah kemudian aroma tersebut menyebar perlahan sampai pada akhirnya memenuhi indera penciuman seorang pria yang tengah duduk bersama seorang wanita dan anak perempuan berumur 8 tahun.

Junghwan masih setia menggenggam tangan Jihee karena setelah sekian lama atau sekitar 4 tahun, dirinya baru bisa membujuk istrinya itu untuk kembali padanya. Seo Jihee bukanlah wanita tak tahu malu, dia adalah wanita berhati lembut dan dia tentu saja menghormati Kang Soojin, hal tersebutlah yang membuatnya mau kembali setelah sekian lama dia pergi dan menjauh dari Junghwan. 4 tahun lalu saat Jinhyuk dan Soojin hendak pergi ke bandara bersama Baekhyun, mobil mereka kecelakaan dan naas hanya Baekhyun-lah yang selamat. Jihee merasa bersalah karena walau dia juga di bohongi Junghwan, dia tetaplah salah satu tokoh penyebab semua kengerian itu terjadi. Baekhyun kehilangan Ibu-nya dan Jihee tak tega jika anak itu harus terus tumbuh tanpa bimbingan seorang Ibu.

Jihee tak berharap Baekhyun akan memanggilnya dengan sebutan ‘Ibu’ karena baginya, melihat Baekhyun bisa tumbuh seperti anak-anak lain saja sudah cukup, hanya hal itu yang bisa di lakukannya untuk Soojin walau dia tahu Soojin pasti sangat membencinya dan Junghwan.

“Aku pulang”

Seorang anak laki-laki berseragam lengkap masuk dengan seorang supir pribadi.

“Baekhyun kemarilah” panggil Junghwan

Baekhyun menuruti perintah Ayahnya sebelum akhirnya tatapannya berubah menjadi aneh saat mendapati 2 orang asing yang sedang duduk bersama Ayahnya.

“Ayah siapa mereka?” tanya Baekhyun langsung

“Oppa! Namaku Heejin, Byun Heejin, aku senang sekali mempunyai seorang kakak” gadis kecil bernama Heejin itu memegang tangan Baekhyun sambil memberikan senyuman hangat namun ternyata Baekhyun tak menyukai hal tersebut

“Kau siapa? Apa maksudmu ‘seorang kakak’?” Tanya Baekhyun dengan suara yang lumayan keras

“Baekhyun!” bentak Junghwan

“Junghwan…jangan terlalu keras padanya, dia masih kecil” tegur Jihee lalu dengan perlahan mendekati Baekhyun dan berjongkok

“Halo sayang, perkenalkan aku bibi Seo Jihee dan ini anakku Byun Heejin. Aku adalah teman Ibumu dan Ayahmu”

“Bukan. Kau bukan, aku pernah mendengar nama itu dari Ibu-ku dan aku tahu bibi adalah orang yang menyebabkan Ibu dan Ayahku bertengkar hebat dulu”

“Baekhyun jaga bicaramu”

“Dan lagi kenapa dia mempunyai marga yang sama denganku? Apa jangan-jangan dia anak bibi bersama Ayahku?”

“Byun Baekhyun!!”

“Aku sudah bukan anak umur 5 tahun lagi Ayah, aku sudah berumur 9 tahun dan aku sudah cukup tahu tentang apa yang terjadi dulu dan bagaimana bisa Ayah membawa mereka kerumah ini? Mereka penyebab Ibu dan Paman meninggal! Aku sampai kapanpun tidak akan sudi tinggal bersama mereka! Aku benci mereka!”

Tepat saat Baekhyun menghilang, terdengar suara isakan yang berasal dari Heejin.

“Ibu..kenapa kakak seperti itu? Kenapa dia berteriak pada kita?”

“Tidak apa-apa sayang, kakakmu hanya lelah karena dia baru pulang sekolah. Kau main dengannya kapan-kapan saja ya”

“Jihee…aku minta maaf, anak itu memang sedikit keras kepala”

“Dia mirip denganmu”

“Apa?”

“Aku tahu dia anak yang baik, dia hanya mencoba melindungi diri dengan bersikap keras dan itu mirip denganmu” ujar Jihee dengan senyum tulus “Kurasa lebih baik aku dan Heejin tidak tinggal disini atau Baekhyun akan benar-benar terganggu”

“Tapi—“

“Aku akan tetap mengawasi Baekhyun tapi tidak dengan tinggal disini, aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman”

“Kau tidak perlu melakukan itu, dia hanya marah sebentar seperti anak-anak pada umumnya”

“Aku tetap pada keputusanku Junghwan”

Jihee memutuskan untuk tetap tinggal terpisah dengan Junghwan & Baekhyun karena perangai anak itu sudah sangat menunjukkan kalau ia tak suka dengan kehadiran Jihee & Heejin jadi akan lebih baik mereka tidak tinggal terpisah agar pertumbuhan Baekhyun tidak terganggu oleh masalah pelik orang dewasa.

Selama hampir 2 tahun Jihee melakukan tugasnya seperti Ibu kebanyakan walau memang apa yang di lakukannya selalu tanpa sepengetahuan Baekhyun seperti fakta bahwa setiap dini hari Jihee akan datang lalu membuat sarapan dan bekal untuk Baekhyun. Hari itu tepat 6 tahun peringatan kematian Kang Soojin, seperti biasa Baekhyun dan Junghwan akan mengadakan upacara di Bucheon tempat Soojin di makamkan. Dalam perjalanan pulang, Junghwan terus membujuk Baekhyun agar mau tinggal bersama Jihee & Heejin. Baekhyun yang saat itu sudah berumur 11 tahun sudah tak lagi berteriak atau merajuk saat Ayahnya kembali mengungkit masalah Jihee, ia lebih memilih diam walau dalam hati benar-benar mengutuk 2 orang yang di anggapnya biang keladi semua masalah dan kesulitan yang di hadapinya.

“Terserah Ayah, aku berpendapat pun Ayah tetap akan bersikeras membawa mereka kesini kan?” Jawab Baekhyun acuh lalu melangkah tegap menuju kamarnya

~oOo~

Baekhyun menggeliat pelan di balik selimut, matanya melirik ke arah jam weker di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya. Pukul 6 lebih 10 menit dan telinga juga hidung nya sudah harus menangkap tanda-tanda kehadiran 2 orang yang paling ingin di hindarinya dalam hidup. Aroma masakan itu terus merasuk ke dalam indera penciuman Baekhyun membuatnya memijat kening pelan. Perlahan kakinya menapaki lantai marmer di kamarnya, ia berjalan sangat pelan menuju kamar mandi, tak bersemangat memikirkan apapun karena ia sendiri sudah sangat sadar hidupnya tak akan sama lagi sejak 2 hari yang lalu tepat saat Jihee & Heejin tinggal satu atap dengannya.

30 menit kemudian Baekhyun akhirnya keluar dari kamar dengan seragam yang sudah rapi. Tepat saat dirinya melintas melewati dapur, sepasang tangan kecil menariknya paksa dan Baekhyun tak perlu menengok untuk tahu siapa pemilik tangan tersebut.

“Oppa ayo kita sarapan” ucap Heejin riang sambil menarik pelan Baekhyun menuju meja makan

“Lepaskan aku” perintah Baekhyun namun tak di gubris sama sekali oleh Heejin “Ku bilang lepaskan aku!” Baekhyun menepis tangannya keras lalu menatap tajam mata Heejin

“Kau…jangan pernah menyebutku ‘oppa’ karena aku bukan kakakmu dan lagi jangan pernah menyentuhku”

“Kenapa? Kenapa oppa tidak pernah mau makan bersama kami? Apa karena ada aku dan Ibuku? Kalau begitu aku dan Ibuku bisa makan di tempat lain asal oppa sarapan”

“Hentikan”

“Atau setidaknya bawa bekal ini untuk oppa makan di sekolah” Heejin menyodorkan kotak berwarna merah marun berhias bunga sakura berisi makanan namun seperti biasa Baekhyun akan selalu menolaknya

“Aku tak akan pernah mau makan apapun yang di buat Ibumu dan jangan pernah coba-coba mengantarkan makanan itu ke kelasku seperti kemarin” Ancam Baekhyun sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Heejin yang membisu di tempat

Baekhyun terus berjalan lurus bahkan saat Jihee & Ayahnya memanggil untuk sarapan, seperti biasa ia akan beralasan takut terlambat, dan saat makan malam, Baekhyun akan beralasan kenyang padahal ia hanya makan sedikit di kantin sekolah. Heejin tahu betul kebiasaan Baekhyun jadi seberapa seringpun Baekhyun mencacinya, ia akan terus melakukan apa yang ia rasa harus lakukan. Heejin terus memasukkan kotak bekal diam-diam ke dalam tas Baekhyun walaupun Heejin tahu Baekhyun pasti akan membuangnya namun Heejin yakin suatu saat entah kapan, Baekhyun akan menerima dia dan Ibunya. Seperti hari lainnya, hari ini Heejin juga sudah memasukkan sesuatu diam-diam ke dalam tas Baekhyun namun yang di masukkannya hari ini bukanlah kotak bekal berisi makanan melainkan hadiah, ya hari ini adalah hari ulang tahun Baekhyun.

Baekhyun membuka tasnya untuk mengambil buku pelajaran saat matanya menangkap kotak berukuran sedang berwarna coklat disana. Tangannya terjulur mengambil kotak tersebut lalu membukanya, sebuah kartu ucapan, saru tangan hangat, juga satu set alat gambar. Tanpa berniat membaca isi kartu ucapan yang di pegangnya, Baekhyun memerintahkan supir pribadinya untuk berhenti sebentar tepat di dekat tong sampah. Tangan Baekhyun telulur keluar lalu dengan sekali lemparan, kotak hadiah beserta isinya itu berpindah tempat ke tong sampah.

“Jalan pak” perintah Baekhyun lagi saat ia sudah selesai dengan kegiatannya

~oOo~

Sore itu pukul 3 lebih 15 menit seharusnya matahari mulai menyingsing ke arah barat sambil membiaskan warna jingga namun sejak siang tadi rupanya matahari memang tak berencana menujukkan dirinya karena sampai sekarang Seoul masih di hujani angin dengan petir yang bersahut-sahutan. Di sebuah kelas sekolah dasar Jungshil tengah terjadi cekcok antara penghuninya dan salah satunya adalah Heejin namun ia bukan pencetus keributan tersebut karena sekarang yang sedang menjadi bahan olok adalah dirinya sendiri.

“Ibu-mu istri simpanan jadi tidak usah berlagak disini, sekarang pinjamkan kalung mu padaku” titah seorang bocah laki-laki dengan perawakan besar pada Heejin

“Ibuku tidak seperti itu”

“Tidak bagaimana? Kakakmu saja malu mengakuimu”

“Kakakku…”

“Apa? Kau mau bilang apa? Kalau memang Ibumu bukan istri simpanan, suruh kakakmu kesini untuk membelamu” timpal anak laki-laki kurus tinggi yang sepertinya teman dari si anak gemuk

Kelas itu sudah sepi karena sekolah sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Hujan deras di luar membuat Heejin harus menunggu lebih lama sampai Ibunya datang menjemputnya dan sialnya, murid lain yang juga menunggu di kelas merupakan murid paling nakal di kelasnya dan sering mengusili bahkan menindas Heejin.

“Berikan kalungmu, aku cuma mau lihat” paksa bocah kurus itu lagi sambil menarik tangan Heejin yang menggenggam erat kalung miliknya

“Lepaskan! Kalian tidak puas selalu merebut bekal ku? Aku tidak mau meminjamkan kalung ku pada kalian”

“Ya anak bodoh!!” bocah dengan perawakan besar itu mendorong tubuh kecil Heejin hingga tersungkur, telapak tangannya memar karena gesekan kalung yang digenggamnya

“Kau ini pelit sekali” kini giliran si bocah kurus yang menoyor kepala Heejin dengan keras hingga gadis kecil itu menangis sambil memanggil-manggil Ibunya

“Apa yang kalian lakukan?” suara itu membuat 2 bocah nakal tersebut terkejut dengan raut wajah ketakutan

Baekhyun disana, dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan datar terarah pada Heejin dan 2 teman sekelasnya bergantian. Baekhyun tak berniat masuk lalu menolong Heejin yang sedang terisak memegang telapak tangannya yang sedang berdarah, ia hanya berdiri tanpa tujuan.

“Oppa…” Panggil Heejin dengan wajah meminta bantuannya, ia masih terus terisak

“Ibumu tidak akan menjemputmu jadi cepat turun ke bawah atau aku akan meninggalkanmu di sini sendirian” Perintah Baekhyun lalu pergi

“Lihat! Baekhyun bahkan tidak perduli padamu”

Heejin memeluk lututnya sambil terus menggeleng-gelengkan kepala, dia sudah biasa di perlakukan buruk oleh Baekhyun tapi entah kenapa kali ini dia merasa tindakan Baekhyun terlampau kelewartan. Baekhyun ke kelasnya hanya untuk menawarkan tumpangan, tidak untuk yang lain, tidak untuk membelanya atau membantunya saat teman kelasnya mengolok-olok ia dan Ibunya.

~oOo~

Jihee masih terus memeluk Heejin yang menangis keras. 10 menit yang lalu supir pribadi mereka menelpon kalau Heejin di sakiti teman-temannya dan tak mau pulang tanpa Ibunya. Sekarang mereka berdua sudah di rumah bersama Junghwan juga, Jihee mengelus telapak tangan Heejin yang berbalut perban sambil terus menenangkan gadis kecil itu sedangkan Junghwan masih sibuk menghubungi teman-teman sekelas Baekhyun lantaran ia belum pulang sejak jam 3 tadi. Supirnya mengatakan Baekhyun tak turun sama sekali hingga ia berinisiatif naik ke atas dan menanyakan pada guru lalu menemukan Heejin yang sedang menangis sendirian di dalam kelas.

Tepat saat Junghwan hendak menghubungi keluarga terakhir di daftar nomor telepon yang di berikan wali kelas Baekhyun, pintu rumah terbuka dan disana berdiri sesosok orang yang di tunggu-tunggu Junghwan. Anak itu basah kuyup, baju beserta sepatunya kotor dan yang lebih parah ada darah segar mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya.

“Astaga Baekhyun” pekik Jihee yang segera berlari menghampiri Baekhyun lalu menyarungkan handuk kering ke tubuh anak itu “Ada apa dengan wajahmu sayang? Kau darimana saja? Kami khawatir”

Baekhyun diam, dia tak menolak sentuhan Jihee seperti biasanya. Matanya terlihat sembab, entah karena pukulan atau karena menangis.

“Kau darimana saja Baekhyun?” sergah Junghwan “Apa kau habis berkelahi? Kenapa diam saja? Jawab Ayah!”

“Junghwan…jangan meneriakinya begitu”

“Biarkan saja, anak ini semakin di biarkan maka semakin kelewatan. Bagaimana bisa dia meninggalkan adiknya di sakiti dan menangis sendirian di sekolah lalu berkelahi di luar?! Kau lihat adikmu terluka lalu menangis seperti itu? Kau lihat Baekhyun!”

Plakkkk..

“Junghwan!!”

Junghwan mendaratkan pukulan di pipi Baekhyun membuat anak itu berlari ke luar lalu Jihee mengejarnya. Hari itu pula yang menjadi hari terakhir Heejin melihat Ibunya karena saat Jihee mengejar Baekhyun sampai ke jalan utama, sebuah truk menghujam tubuh Jihee saat berusaha melindungi Baekhyun dan nyawanya tak tertolong. Hal itu sungguh amat sangat memukul Heejin hingga membuatnya memohon-mohon untuk di kirim ke tempat lain, ia sudah merasa benar-benar tak bisa hidup bersama Baekhyun lagi setelah semua ini, setelah Ibunya pergi untuk selamanya.

#End Flashback

 

~oOo~

Sehun menyentuh lembut pipi Heejin yang pucat. Bibir gadis itu juga terlihat pucat, peluh terus memenuhi dahinya bahkan suhu tubuhnya belum menurun sama sekali. Terhitung sudah sekitar 3 jam Sehun duduk sambil menggenggam erat tangan Heejin. Tadinya ia datang dengan tujuan menjemput Heejin untuk berjalan-jalan bersama namun saat sampai, ia baru tahu gadis itu mendadak demam sejak tadi pagi.

“Kenapa kau tiba-tiba demam? Kemarin malam saat aku mengantarmu, kau baik-baik saja” tanya Sehun walau ia tahu Heejin tak akan menjawabnya

“Kau terlalu misterius Byun Heejin” ujar Sehun lagi sambil mengusap pelan dahi Heejin

Sepasang mata terus memperhatikan gerak-gerik Sehun dari balik celah pintu kamar Heejin yang tak tertutup rapat. Pemilik mata itu terus bolak-balik sejak tadi pagi hanya untuk mengecek keadaan Heejin namun saat Sehun datang, dia merasa sudah tak di butuhkan. Ingin hatinya melakukan apa yang di lakukan Sehun sekarang, menyentuh Heejin penuh sayang, menggenggam erat tangannya, dan membisikkan kalimat-kalimat penenang namun dia urung melakukan itu semua terlebih setelah tatapan mata penolakan yang Heejin lemparkan padanya. Siang tadi, saat Heejin terjaga untuk minum obat, dirinya lah yang mengantar nampan berisi bubur namun jangankan berbicara padanya, Heejin bahkan membuang pandangannya.

“Heejin-ah…”

Baekhyun menoleh cepat saat pekikan itu memenuhi telinganya. Dari celah pintu itu Baekhyun bisa melihat Sehun yang sedikit terlonjak kaget dan ia tahu Heejin pasti sudah bangun. Baekhyun berniat melangkah masuk untuk memastikan keadaan Heejin namun niatnya langsung batal segera setelah ia melihat Sehun melingkarkan tangan erat dipinggang Heejin. Baekhyun tak langsung pergi, ia terus menatap 2 orang yang terlihat sedang berbagi rindu tersebut lalu sedetik kemudian tangannya terangkat memegang dada. Entah kenapa ia merasa sesak dan tak nyaman disana, seperti ada sesuatu yang mengganjal sampai membuatnya susah bernafas lalu ia sadar semua itu karena ia sedang melihat sesuatu yang di sayangnya, sesuatu yang ingin di milikinya sedang ada di tangan orang lain, sedang bersama yang lain, sedang di rangkul orang lain, dan yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa kakinya berteriak-teriak ingin berlari menghentikan yang terjadi namun otaknya tak cukup berani menyetujui dan memproses semua itu karena mungkin ini hanya harapan kosongnya…pupus.

Setelah menimbang cukup lama, Baekhyun memundurkan tubuhnya lalu berjalan menjauh.

“Sunbae..lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas” ujar Heejin dengan suara lemah

“Kau tidak apa-apa? Apa kepalamu sakit? Bagian mana yang sakit? Bukankah seharusnya kau ke rumah sakit?” serbu Sehun

“Tidak perlu, aku cuma demam dan tadi pagi dokter pribadi kami sudah datang memberiku obat dan yang sebenarnya aku tidak suka rumah sakit”

“Aigoo apa kau tahu kalau kau membuat banyak orang khawatir terlebih kakakmu? Dia daritadi bolak-balik untuk mengecek keadaanmu dan aku harus beralasan sakit perut supaya bisa keluar sekolah lebih awal”

Heejin termenung, matanya menatap lurus kearah pintu yang sedikit terbuka. Tak ada siapapun disana namun baru saja Sehun mengatakan kalau Baekhyun terus bolak-balik untuk melihatnya dan berarti apa yang dilihatnya tadi pagi dengan mata samar adalah benar. Dia terus melihat sosok Baekhyun di sampingnya bahkan mungkin tangan hangat yang menggenggamnya sejak pagi tadi adalah benar-benar tangan Baekhyun.

“Heejin..Heejin kau mendengarku?”

“Ah mian sunbae. Apa benar kakakku terus kesini?”

“Apa? Iya…sepertinya begitu karena saat aku datang, dia sedang disini dan bukankah Ayahmu sedang ada di Incheon jadi siapa lagi yang menemanimu sejak pagi kalau bukan dia”

“Kalau begitu dia bolos sekolah hari ini” ucap Heejin lebih pada dirinya sendiri namun anehnya hal itu membuat Sehun mengangkat alis sebelah

“Aku juga—“

“Kau kenapa?”

“Tidak. Lupakan saja”

Sehun menghela nafas. Ia bercerita panjang lebar dan sangat menyedihkan bahwa Heejin hanya mengingat bagian tentang Baekhyun dan mengkhawatirkan Baekhyun yang membolos padahal ia juga melakukan hal yang sama namun Heejin seperti menganggap bagian dimana ia terlibat hanya commercial break atau bumbu tambahan tak penting.

“Aku mau ke kamar mandi, ada dimana?”

“Ada di bawah”

Lihat, Heejin bahkan tidak menawarkan kamar mandi miliknya untuk Sehun dan ini semakin memperjelas kalau gadis tersebut belum benar-benar membuka hati untuknya atau jangan-jangan sudah ada orang lain disana?

“Baiklah, aku akan segera kembali”

“Hmm”

Sehun awalnya berniat keluar kamar Heejin lalu menuju lantai bawah untuk mencuci wajahnya yang mulai terasa panah namun baru 5 langkah menuju tangga, niatnya melenceng jauh saat godaan itu merasuki kepalanya. Pintu kamar Baekhyun yang sedikit terbuka itu membuatnya benar-benar kehilangan arah hingga sekarang kakinya bergerak masuk. Sehun sendiri bingung apa yang hendak ia cari atau lebih tepatnya apa yang ingin ia buktikan dengan masuk ke kamar seseorang seperti ini tanpa izin, sejenak ia merasa sepeti orang yang tak tahu tata krama namun sesuatu yang mendorong di dalam hatinya membuatnya terus melangkah masuk. Sehun mengedarkan pandangan, tak ada yang special dari kamar Baekhyun yang sama saja dengan kamar laki-laki biasanya dan hampir sama dengan kamar miliknya selain meja besar dengan lampu yang memiliki gagang terpasang langsung pada pinggiran meja itu. Sehun tahu meja itu biasa di gunakan seorang arsitektur untuk merancang design dan tentu saja Baekhyun memilikinya karena ia seorang murid arsitektur.

“Apa yang kau lakukan Oh Sehun?” ujar Sehun pada dirinya sendiri sambil memijat kening pelan “Kurasa aku mulai jadi orang yang over protective sekarang, bagaimana bisa aku mencurigai calon kakak iparku sendiri?” tukas Sehun lagi sambil berniat melangkah keluar namun kakinya mendakak kaku saat sesuatu yang tertoreh di atas kertas itu tertangkap matanya

Tangan Sehun terjulur untuk meraih kertas yang setengah bagiannya tertutup buku tebal. Setelah kertas berisi sketsa wajah itu berada di tangannya, ia benar-benar yakin kalau matanya tak salah menilai, sketsa wajah yang masih kasar tersebut adalah wajah Heejin. Entah apa yang merasuki Sehun hingga kini ia membuka laci meja kerja Baekhyun satu persatu. Sehun yakin ia bisa menemukan sesuatu entah apa itu dan benar saja, laci deret ketiga memuat sesuatu yang benar-benar membuat Sehun terbelalak sempurna. Laci tersebut penuh dengan gambar Heejin, entah gambar wajah close up maupun full body dan siapa lagi yang menggambarnya kalau bukan Baekhyun?

Sehun memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia terlalu terkejut untuk mencerna semua ini, semua yang nampak tak normal di matanya ini benar-benar membingungkan. Untuk apa Baekhyun menggambar semua ini? Kenapa Baekhyun selalu terlihat tak suka padanya? Sehun merasa butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dan yang paling mengganggu adalah tentang tatapan Baekhyun untuk Heejin yang ia rasa tak seperti kakak-adik kebanyakan.

Suara derap kaki membuat Sehun terlonjak kaget, tanpa babibu lagi ia melesat keluar kamar sebelum ia tertangkap basah sedang mengobrak-abrik urusan pribadi orang lain. Tepat saat Sehun menghembuskan nafas lega, ia mendapati Junghwan sedang menaiki tangga bersama dengan Baekhyun di belakang.

“Sehun?”

“Annyeong haseyo ahjussi”

“Sejak kapan kau disini hmmm?” ujar Junghwan sambil merangkul pundak Sehun

“Tadi siang”

“Terima kasih karena menjaga Heejin selama aku tidak disini”

“Itu bukan hal yang besar ahjussi dan ngomong-ngomong kapan anda sampai?” Sehun mencoba basa-basi seraya mengusir rasa tegangnya karena lagi-lagi ia sedang di tatap oleh Baekhyun

Pemuda itu, pemuda itu selalu melemparkan tatapan tanpa ekspresi pada Sehun hingga kadang membuat Sehun jengkel karena tak bisa menebak apa yang di pikirkan calon kakak iparnya itu tentangnya.

“Baru saja. Makan malamlah disini, kau mau kan?”

“Tentu saja ahjussi”

“Baiklah, aku akan ke kamar Heejin dulu”

Sepeninggal Junghwan, Sehun tak berani menggerakkan kepalanya karena takut bertemu pandang dengan Baekhyun. Entahlah ia merasa seperti pemuda itu tahu tentang perbuatan memalukan yang baru saja di lakukannya.

“Apa yang kau lihat?” suara itu menyeruak masuk menembus gendang telinga Sehun “Apa yang kau lihat sampai kau berkeringat dingin begitu?” ulang Baekhyun sambil menepuk pelan pundak Sehun

“Tidak ada, memangnya apa yang harus ku lihat?” tantang Sehun

“Kau bertanya? Bukankah kau sudah melihatnya tanpa seizinku?”

“Apa maksudmu?”

“Owh ayolah Oh Sehun, bagaimana kau menjelaskan padaku tentang pintu yang tertutup rapat itu karena sepertinya aku tidak menutup rapat pintuku saat keluar”

“Bukankah terlalu kejam untuk langsung menuduhku saat kau saja masih berasumsi ‘sepertinya’?”

“Ada sesuatu yang ku banggakan tentang diriku, kau tahu apa? Ingatanku”

Sehun tak menjawab dan malah membalas tatapan yang di lontarkan Baekhyun. Dalam hati ia menjerit karena kenapa bisa tatapan Baekhyun selalu membuatnya terintimidasi kapanpun dan di manapun entah saat di lapangan atau saat seperti ini.

“2 hari yang lalu aku mendengar apa yang Ayahmu bicarakan dengan rekan kerjanya dan kau tahu? Hal yang Ayahmu katakan itu membuatku terganggu jadi aku harap kau tidak punya rencana yang sama persis dengan Ayahmu karena kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan menyelesaikannya”

Sehun memutar otak mencari tahu maksud perkataan Baekhyun namun sistem penyimpanan disana seperti tak menemukan apa-apa yang terkait dengan kata kunci milik Baekhyun.

“Dan satu lagi, kau harus mengendalikan rasa penasaranmu Tuan Oh”

“Baekhyun…” Panggil Sehun tepat saat Baekhyun berjalan 2 langkah meninggalkannya “Apa yang kupikirkan tentang gambar-gambar itu sama dengan maksud yang kau tuangkan saat menggambarnya?”

“Apa?”

“Perasaanmu saat menggambar wajahnya, apakah itu jenis perasaan yang sedang kupikirkan sekarang?”

“Sehun..ku dengar kau akan melanjutkan studi di bidang hukum untuk menjadi seorang jaksa dan aku yakin jika kau memiliki keahlian mengamati dan menyimpulkan sesuatu”

Sehun tersenyum miring, dia selalu berhasil di buat kesal oleh Baekhyun, di buat kesal dengan kemampuan Baekhyun bermain kata seperti sekarang.

“Aku punya keyakinan bahwa aku akan menjadi salah satu jaksa yang terbaik”

“Kalau begitu kau tidak perlu jawaban bukan karena aku yakin kau sudah sangat mengerti apa makna gambar-gambar itu”

“Kau—“

“Kenapa kalian ada masih di sini?

Belum sempat Sehun melanjutkan kalimat makian yang ingin ia lontarkan, Junghwan muncul bersama Heejin menghentikkannya secara tidak langsung.

“Ayo kita turun ke bawah, makan malam akan segera siap”

~oOo~

Sehun diam sepanjang makan malam dan sisa malam itu berlanjut cukup lancar kecuali soal ia yang terus sesekali melirik Heejin dan Baekhyun bergantian sampai makan malam tersebut berakhir. Sehun masih tak bisa mengerti bagaimana bisa seorang kakak menyimpan perasaan seperti itu untuk adiknya. Sehun merasa harus melakukan sesuatu sebelum semuanya semakin keruh dan itulah yang di lakukannya selama diam tadi, ia terus memikirkan apakah harus mengatakan apa yang di pikirkan pada Junghwan atau tidak? Dan akhirnya…

“Maaf ahjussi, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sebelum pulang”

Baekhyun dan Heejin sama-sama melemparkan tatapan pada Sehun. Tatapan Heejin tergolong jenis tatapan heran dan sangat berbeda dengan tatapan Baekhyun yang terlihat khawatir juga shock, ia sedang berpikir apakah Sehun akan menjadi benar-benar gila dengan membicarakan apa yang dia lihat tadi pada Ayahnya?

“Tapi tentang apa, sepertinya penting sekali?”

Sehun menarik nafas pelan sebelum akhirnya menjawab “Tentang saya dan Heejin”

To be continue……….

Semoga flashback di atas sudah cukup menjelaskan tentang masa lalu duo Byun dan sudah cukup membuat rasa penasaran readers sekalian puas. Seperti biasa komen selalu ditunggu ^^

Iklan

51 pemikiran pada “Thorn of Love Part 5 (Only You)

  1. ceritanya bagus bgt thor, idenya ga biasa, bahasany teratur, mknanya nyampe n karakter tokohnya kuat.
    aku baru nemu ff ini n langsg baca dari awal. tp stu yg mau ak ksh tau golongan dari O it mungkin terjadi dari orang tua gol darah A-A. soalnya klo ibu n ayahny A heterozigot itu artinya gol darah mereka AOxAO jd anak mrk mungkin memiliki gol darah O. sy mahasiswa kedokteran jd udh belajar ttg ini, klo ga percaya bisa searching ato baca buku ttg golongan darah. yg ga mungkin menghasilkan gol darah O it klo org tuanya A-AB. but overall I like this story ♥♥♥

  2. ralat typo td darah O ga bisa di hasilkan hanya dari orgtua bergolongan AB-AB. atau golongn drah lain tapi homogizot.

  3. astaga ini ff keren, flashbacknya bikin mulut ber’oh ria.. merinding bacanya.. sehun nakal nih masuk-masuk kamar baekhyun, ketahuan kan jadinya baekhyun ada persaan sma heejin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s