At The Night Chrismast

At The Night Christmas

Bg-9EreCQAArYgl

By @titayuu

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Sooji. | Genre : Angst | Length : Oneshot |

Rating : PG-13

~*~

“Hai, kau sedang apa?”

Sooji menekan tombol ‘kirim’ di layar ponselnya setelah menekan beberapa tombol di sana. Matanya masih menatap ponsel itu tanpa berkedip. Hatinya berdegup tak normal meski ia tahu apa yang terjadi ketika pesan itu terkirim. Ia selalu mengirim berbagai pesan ke satu orang ketika sedang merasa kesepian. Harapannya hanya satu ketika pesan-pesan singkat itu terkirim; mendapat sebuah balasan.

Kepala gadis itu menoleh ke kanan—tepat ke arah jendela yang terbuka sedikit—ketika angin musim dingin masuk dari ruas jendela. Musim dingin telah tiba dan itu berarti masa penantian gadis itu sudah berusia satu tahun. Tepat tanggal dua puluh empat desember tahun lalu, Sooji menanti seseorang yang tidak akan pernah menampakkan diri lagi di depannya. Seseorang yang membuatnya menyesal hingga sekarang. Seseorang yang tak akan pernah menjadi nyata untuknya.

Sooji beranjak dari pinggir tempat tidurnya menuju jendela kamar. Tangannya tiba-tiba mengambang di udara ketika hendak menahan udara dingin masuk ke kamarnya. Indra penglihatannya menangkap bayangan masa lalu bersamaan dengan otaknya yang sibuk mencari berkas-berkas di masa itu. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat bayangan dirinya sepuluh tahun lalu dengan seorang lelaki seusianya sedang bermain bola salju di depan rumah. Mereka tertawa bahagia sambil berlari-lari tanpa beban. Semua memori di dalam kepala Sooji sengaja ia lepas tak terkekang.

“Sooji-ya! Rasakan ini!” seorang anak lelaki berkulit gelap melempar bulatan bola salju ke arah Sooji kecil. Anak lelaki itu tertawa ketika melihat lemparannya tepat mengenai sasaran. Dan ia berlari ketika Sooji juga sudah siap mengejar untuk membalas.

“Ya! Kim Jongin! Awas kau!”

Bayangan itu terlihat sangat nyata di kedua mata Sooji yang sudah mulai berair. Gadis itu tak menyangka akan menghabiskan musim dingin tanpa orang itu di tahun ini. Semua kenangan itu membuatnya ingin menghentikan waktu dan membuatnya kembali di masa itu. Masa di mana beban tak pernah menjadi berat seperti sekarang. Masa dimana senyum dan tawa begitu ringan. Dan masa dimana mereka bisa terus bersama.

Namun kini Kim Jongin—anak lelaki yang sudah tumbuh menjadi sosok yang mengaggumkan itu—kini benar-benar meninggalkannya. Sooji ingat bagaimana mereka saling berjanji agar tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Mereka adalah sahabat selamanya, begitulah tanggapan lelaki itu. Mereka tak akan pernah terpisah sampai kapan pun. Kini semua omong kosong itu harus Sooji simpan sendiri.

Tidak, Sooji tidak sedang menyalahkan janji-janji palsu dan perbincangan di masa kecil. Ia sadar benar kalau suatu saat keadaan pasti akan berubah. Mereka akan tumbuh dewasa dan berubah menjadi sosok yang berbeda. Pikiran-pikiran mereka juga akan berkembang luas. Dan Sooji juga tahu kalau kata ‘selamanya’ tidak akan pernah ada. ‘Selamanya’ berarti tidak pernah ada perpihasan. Sedangkan jika tidak ada perpisahan, maka tidak akan ada pertemuan selanjutnya.

Di akhir pertemuan mereka tahun lalu menjadi sebuah mimpi buruk bagi Sooji. Gadis itu tak pernah ingin keluar kamar barang satu menit. Ia tak pernah mau makan jika bukan lelaki itu yang meminta. Tawanya seakan sudah di curi dan tak dapat di kembalikan. Waktu seakan sudah berhenti sampai ia sadar musim dingin sudah berlalu begitu cepat.

Bayangan dan kenangan masa lalu Sooji seakan melebur ketika sebuah suara berhasil berdenting di ponsel gadis itu. Dengan cekatan, gadis itu membuka dan membaca sebuah pesan teks di dalam layar ponselnya. Sebuah harapan yang biasa ia panjatkan kini kembali muncul.

“Suasana sedang kacau, bisakah kau ke sini sekarang?”

~*~

“Ini tidak akan berhasil.”

Wajah lesu Sooji kembali ia benamkan di bawah kedua tangannya ketika telinganya  mendengar suara khas Sehun—seseorang yang sudah mengirim pesan beberapa saat lalu. Ia sudah tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Festival seni akhir tahun yang ada di kampusnya tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah bencana. Beberapa properti tidak tiba tepat waktu karena cuaca yang semakin buruk. Para pengisi acara juga mendadak sakit karena terlalu lelah berlatih.

Segala keputasan dan tanggung jawab memang sedang berada di tangannya. Namun ia tak bisa memutuskan seperti membalikan telapak tangan atau mengedipkan mata. Jika semuanya hancur, nama departemennya akan hancur begitu pula reputasinya. Tiba-tiba segala kemungkinan yang buruk menyerbu otaknya. Seandainya Jongin ada di sini. Seandainya lelaki itu bisa menenangkannya dan memberinya solusi. Jongin bukan seorang pemimpin yang baik, tapi ia tahu cara penyelesaian sebuah masalah.

Mendadak kepala gadis itu pening dan benar-benar tidak bisa berpikir normal. Dengan mata yang sudah basah, Sooji mengambil ponsel di sakunya lalu menekan beberapa nomer di sana.

“Jongin-a! Jongin-a! Kembalilah!” Sooji mulai berteriak pada ponsel yang tak tersambung pada siapapun. Lima orang di ruangan yang sama dengannya sedang menatapnya bingung. Sooji tak peduli, gadis itu masih berteriak dengan mata yang mulai basah. “Jongin-a! Kembalilah! Aku membutuhkan bantuanmu. Aku tidak bisa—“

“Lee Sooji!” Sehun sedikit membentak gadis itu sambil mengambil ponselnya dan menggenggam benda kecil itu erat.  Kedua mata Sooji menerawang ke depan dan tak berani menatap Sehun. “Apa yang kau lakukan? Kau tahu kalau apa yang kau lakukan hanya sia-sia? Kau hanya akan membuang waktu dan kau tidak akan menemukan jalan keluar dengan cara seperti ini.”

Selain Jongin dan kedua orang tuanya, hanya Sehun yang bisa membentak gadis itu. Sehun memang sosok lelaki pendiam, namun ketika ia marah, orang-orang seperti melihat sosok hantu di diri Sehun. Melihat kondisi seperti ini, orang-orang yang hanya menjadi penonton mereka akhirnya menyingkir dan tak ingin ikut campur. Mereka tidak mau menjadi target amukan Sehun selanjutnya.

“Lalu apa yang harus ku lakukan? Berdiam dan merasa tidak pernah tahu? Membiarkan semua kekacauan ini dan lari sejauh-jauhnya?” Sooji sudah tersulut emosi ketika mendengar bentakan Sehun. Ia tidak ingin di salahkan, dan ia tahu kalau itu egois. Ia tak peduli.

“Aku yakin ada cara lain.” Sehun kembali menghembuskan napas sambil menurunkan nada bicaranya. “Sooji-ya, terkadang sesuatu yang sudah kita lepas, gak bisa kita tarik kembali. Kau sudah berusaha selama setahun untuk melupakannya, dan itu hal yang luar biasa bagiku”

“Kau tahu ini tanggal berapa?”

“Aku tahu, tapi kau tidak bisa memakai alasan itu untuk menghindari tanggung jawabmu.”

Suasana tiba-tiba hening ketika Sehun mengakhiri kalimat terakhirnya. Sooji memang sudah terbiasa di berikan tanggung jawab yang besar dan ia selalu bisa mengatasi semua hambatan. Namun entah mengapa kini semua tangung jawab tersebut terasa sangat berat dan tak dapat ia topang sendiri. Ia membutuhkan seseorang yang bisa membagi beban itu. Orang yang sama yang ada di kepalanya sejak dulu.

Sooji masih bergeming di tempat meski Sehun sudah berpamitan padanya. Sehun hanya ingin membuat dirinya tenang dan berpikir jernih untuk sementara. Dan lelaki itu berkata kalau ia juga sedang berusaha mencari solusi meski Sehun tetap akan menuruti semua keputusan akhir Sooji.

Kini gadis itu kembali menghayal. Membayangkan Jongin sedang menari di hadapan cermin di depan mereka. Lelaki itu tersenyum dan menghayati tiap gerakan yang ia ciptakan. Dan semua gerakan itu selalu sukses membuat Sooji tersenyum. Gadis itu kembali membayangkan dirinya menari dengan lelaki itu. Tiap gerakan yang tercipta di seluruh tubuhnya, membuat hatinya lebih tenang. Gerakan mereka terhenti ketika Jongin mulai membisikan sesuatu di telinganya.

Semua akan baik-baik saja.

~*~

Sayup-sayup suara musik natal menggema di seluruh ruangan rumah Sooji. Di jalan, di pusat kota, rumah-rumah penduduk tak kalah menyuarakan hangatnya suasana di hari natal. Selain suara musik tersebut, tak lupa pernak-pernik khas natal bersebaran di setiap sudut kota dan rumah-rumah penduduk. Seharusnya natal adalah saat yang tepat untuk berkumpul dan merasakan kehangatan di tengah hujan salju yang menemani. Seharusnya natal menjadi momen yang membahagiakan. Seharusnya natal adalah momen yang selalu di tunggu setiap tahun.

Namun tidak tahun ini, begitulah menurut Sooji.

Sooji sudah memutar otak untuk menyelesaikan masalah tadi siang. Jika bisa, mungkin saat itu juga ia lari ke luar kota dan tak akan kembali selama beberapa hari. Namun ketika otaknya mendapat titik terang, semuanya seperti adegan dalam pertunjukan sulap—semua masalah langsung lenyap. Ia berhasil menenangkan teman-teman team-nya untuk tetap melanjutkan acara. Mereka akan menggunakan properti yang ada dan memaksimalkannya sehingga tetap bisa di gunakan. Para pengisi acara juga di beri waktu untuk beristirahat sehingga acara tetap bisa berjalan. Semua rencana ia tuangkan dengan lancar dan mendapat respon positif dari teman satu teamnya.

Selesainya masalah tadi siang tidak menghilangkan perasaan lain yang kini sedang menggelayutinya—rindu. Ia tidak bisa terus membenci malam natal. Ia tidak bisa terus menghindar dan menganggap kalau kejadian di tahun lalu tidak pernah terjadi. Ia tidak bisa mengelak fakta bahwa kini Jongin sudah tidak bisa berada di sisinya. Lelaki itu tidak bisa menyanyikan lagu natal di telinganya. Lelaki itu tidak bisa memberikan hadiah terindah untuknya.

Sooji sadar bahwa berada di genangan masa lalu tidaklah merubah apapun.

Gadis itu bergerak dari tempat tidurnya ketika menemukan beberapa lembaran yang berserakan di dekat meja belajarnya. Sooji berderap menuju benda yang berada di penglihatannya dan mengernyit. Jemarinya bergerak mengambil selembar foto dan melihat penampakan foto tersebut. Dalam foto tersebut terlihat wajah ia dan Jongin sedang tersenyum di tengah pohon bunga sakura di sekeliling mereka. Mereka melebarkan senyum yang seakan tak pernah bisa hilang. Tanpa di sadari, senyum Sooji mulai terangkat ketika membalik foto tersebut dan membaca sebuah tulisan di sana.

Musim semi bersama Sooji. Semoga tahun depan kami bisa ke tempat ini lagi.

Sooji mengulang tiap kata di hadapannya hingga membuat kenangan di tahun lalu kembali muncul. Kalimat terakhir dalam foto tersebut seakan sebuah pertanda. Pertanda bahwa mereka tidak akan pernah kembali ke tempat itu bersama-sama lagi.

Kini sebuah kenangan kembali menyerbunya. Kenangan ketika ia sedang menunggu Jongin di pusat kota, tepat di depan sebuah pohon natal yang cukup besar. Saat itu Jongin menyuruhnya menunggu di sana karena lelaki itu akan datang dan membawa hadiah natal untuknya.

Gadis itu terus menunggu hingga waktu yang mereka janjikan sudah terlewat banyak. Ketika ponselnya berdering, Sooji sudah hampir saja memarahi lelaki itu. Namun amarahnya saat itu berganti dengan tubuhnya yang mulai kaku. Hadiah yang seharusnya ia dapat di malam natal itu, berganti menjadi hadiah terburuk yang pernah ia dapatkan.

Bulir air hangat yang berada di pelipisnya sudah mulai berjatuhan kembali. Menangis bukanlah menjadi teman baiknya di kala sendiri. Ia sudah bermusuhan dengan air mata sejak ia meyakinkan diri agar tidak menangisi kenangan itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis meski sekarang janji itu harus ia ingkari.

“Sooji-ya, makan malam sudah siap. Kau tidak ingin melihat teman-temanmu menghabiskan cup cake buatan—“

Kepala gadis itu menengok kearah pintu kamarnya yang sudah terbuka cukup lebar. Di ambang pintu ia bisa melihat sosok gadis yang biasa ia panggil ‘kakak’ sedang menatapnya tanpa suara. Kalimat gadis itu terhenti ketika melihat kondisi Sooji. Sooji mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa khawatir gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?”

Sooji mengangguk dan beranjak menghampiri gadis itu. Sooji masih tidak ingin berbicara dan menjawab semua pertanyaan yang bermunculan di kepala kakaknya dengan anggukan dan senyum. Lengan dingin Sooji mengait di lengan gadis di hadapannya untuk membawanya ke ruang tengah. Sang kakak tak bertanya lagi tentang kondisi Sooji dan langsung menarik adiknya meninggalkan kamar.

Sebelum Sooji menutup pintu kamarnya, gadis itu melihat bayangan Jongin sedang duduk di kursi meja belajarnya sambil tersenyum. Lelaki itu tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Sooji. Sooji balik tersenyum meski ia tahu semua itu hanya delusinya. Setelah pintu di tutup, bayangan Jongin kembali menghilang dan melebur menjadi partikel kecil yang tersebar di penjuru ruang kamar.

END

A/N : Hi saya kembali~! J Kali ini saya kembali bawa ff Jongin lagi. Tadinya ff ini di buat untuk projek di blog pribadi saya, tapi akhirnya gak jadi. Tadinya juga ini terinspirasi dari video Miracle in December, tapi kayaknya melenceng jauh ya? Hahaha

Bagi yang mau main2 di blog saya bisa datang di www.disturbanceme.wordpress.com .

Terima kasih dan di tunggu review dan feedbacknya^^

Cr pict : as tagged.

 

 

 

13 pemikiran pada “At The Night Chrismast

  1. Annyeong authornim. Mau kasih sedikit koreksi, untuk judul mnrtku yg pas itu “at the christmas night” mngkin author-nim ada typo heheh ~ ceritanya simple tp bagus. Akan lebih bagus lagi kalo dijelsin jongin itu kemana muahaha sequel mungkin. Fighting 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s