My Adorable Ghostgirl (Chapter 3)

 My Adorable Ghostgirl

my adorable ghostgirl

Title: My Adorable Ghostgirl

Main Cast:  Oh Se Hun (EXO-K), Yoon Cheon Sa (OC)

Supported Cast: Luhan (EXO-M), Park Chan Yeol (EXO-K)

Author: Ahra storyline

Rating: PG-16

Genre: Romance, Fantasy

Length:  Multi Chapter

Disclaimer: All the cast belongs to the God, their agency and family. Author just borrow them except for the OC. The OC is mine. This idea is pure mine and it comes from my mind and please Don’t bash it. Typos everywhere, good readers and comments are welcoming 😉

OST (Just For Fun J):  J. Rabbit – Talkin’ bout love & Ailee – Evening Sky

“ i ‘ll be the one and only one person who realize your existence’

 

Chapter 3.

Author POV.

“Park Chan Yeol?” itulah kata-kata yang selalu berputar-putar di dalam kepala Cheon sa saat ia melihat sosok namja itu. Setelah sekian lama ia tak melihatnya, kini ia bisa kembali melihat sosok Chan yeol. Sosok seseorang yang bahkan sudah menemaninya hingga separuh perjalanan hidupnya.

Di sisi lain, Sehun hanya terdiam dan memandang tajam Chan yeol yang berdiri tepat di hadapannya. Namja itu menepuk pundak Sehun dan saat itu pula Sehun segera menepis tangan Chan yeol.

“lama tak berjumpa, Sehun-ah, kuharap kau tak banyak berubah” ujar Chan yeol dengan senyum palsu yang terpampang jelas di wajahnya.

“sama sekali tidak, Park Chan Yeol” ujar Sehun dingin, “Aku tidak akan pernah berubah menjadi Sehun yang bisa kau kalahkan” lanjutnya.

“jinjja? ah.. kau tidak ingin menyambut kedatangan ku?  Seperti inikah sikapmu terhadap temanmu?” ujar Chan yeol sambil menekankan kata temanmu  dalam perkataannya.

“sejak kapan kau temanku? Lagipula, aku lebih bersyukur kalau kau selamanya tidak muncul lagi di hadapanku”  ujar Sehun, “kudengar kau baru saja mengakhiri hubungan mu dengan Shin Eun Seol. kenapa? Bukankah kau sudah bersusah payah merebutnya dariku, eoh?” lanjutnya.

“sejak kapan aku merebutnya darimu? Ia yang datang sendiri padaku” jawab Chan yeol. Nampak jelas emosi mereka berdua semakin terpancing. Sementara Cheon sa yang sedari tadi bersama mereka, ia hanya diam dan sibuk memperhatikan sosok namja yang begitu dirindukannya selama bertahun-tahun ini. Park Chan Yeol.

“benarkah? Kalau begitu, selamat datang kembali, Park Chan Yeol” Sehun berniat untuk berlalu dari hadapan namja itu setelah mengucapkan kata selamat datang itu dengan nada yang dingin dan sama sekali tidak bersahabat. Namun, langkahnya terhenti saat Chan yeol mengatakan sesuatu yang berhasil membuatnya terdiam.

“Kudengar kau akan bertunangan, apakah itu benar?” tanyanya. Sehun membalikkan badannya dan memasang tampang datar pada Chan yeol.

“memang benar, lalu kenapa? Kau ingin merebut calon tunangan ku dariku?” tanya Sehun.  Chan yeol tersenyum kecil. Senyum yang sebenarnya lebih terkesan meremehkan dan merendahkan.

“mungkin, kita lihat saja nanti” ujarnya.

“kau yakin bisa merebutnya dariku?”

“seseorang sepertimu sangat mudah untuk dikalahkan, sehun-ah, dan kupikir itu adalah hal yang tak seberapa  bagiku” jawabnya.

“benarkah? Aku takut, Chan yeol-ah” ucap Sehun dengan nada takut yang dibuat-buat. Setelah itupun ia segera melanjutkan langkahnya yang terhenti menuju kelas dan membiarkan namja itu terdiam di tempatnya dan menatap punggung Sehun yang semakin menjauh dari pandangan matanya.

Cheon sa berjalan mengikuti Sehun. Namun kedua matanya tak pernah lepas dari Chan yeol. Satu hal yang begitu disesalinya, namja itu kembali datang ke hadapannya saat ia tak bisa menemuinya saat ini.

“kau datang di saat yang tidak tepat, Chan yeol-ah” gumam Cheon sa.

Cheon sa duduk dalam diam sepanjang pelajaran. Ia duduk di kursi yang tepat berada di samping Sehun. Kebetulan kursi itu kosong dan Cheon sa memilih untuk duduk disana. Sebelumnya, banyak yeoja lain yang berusaha untuk duduk di kursi kosong di samping Sehun. Namun, sehun melarang semua yeoja itu untuk duduk di sampingnya karena tempat duduk itu sudah di duduki oleh orang lain. tepatnya seseorang yang tak bisa dilihat oleh orang biasa.

Cheon sa menopang dagunya dengan kedua tangannya. Kedua matanya memandang tajam papan tulis yang dipenuhi dengan coretan-coretan rumus. Namun sebenarnya tatapan Cheon sa hanyalah sebatas tatapan yang kosong. Pikirannya melayang ke sebuah memori yang bahkan begitu ingin diulangnya lagi.

#flashback on.

“Chan yeol-ah, lihat! Aku bisa membuat gambar ini! bagus sekali bukan?” seorang gadis kecil berambut panjang tengah memegang sebuah ranting kecil yang digunakannya untuk menggambar di atas pasir pantai. Ia tersenyum senang. Wajahnya begitu sumringah terlebih saat ia melihat hasil gambarannya telah selesai.

“ini gambar apa?” seorang namja kecil menghampirinya. Namja itu adalah Park Chan Yeol kecil. Sosok seorang pria kecil yang begitu berarti di hidup seorang Cheon sa kecil.

“itu adalah Chan yeol dan ini adalah Cheon sa. Ini gambar saat kita sudah beranjak dewasa nanti. Bagaimana menurutmu? Apakah gambarku bagus?” tanya gadis kecil bernama Cheon sa itu.

“ini sangat bagus Cheon sa-ya, kuharap, kita bisa selalu bersama seperti gambarmu ini” ujarnya diiringi oleh anggukan kepala oleh Cheon sa.

#flashback off.

Cheon sa menghela nafasnya dengan berat dan memutuskan untuk kembali ke kenyataan. Meskipun ia terlampau bahagia karena namja itu telah kembali dan muncul dihadapannya, kebahagiaan itu lenyap seketika saat ia menyadari satu hal.

Namja itu datang di saat yang sangat tidak tepat.

Seandainya Cheon sa bisa menemuinya dalam keadaan yang sehat, Cheon sa akan megatakan padanya bahwa ia mencintai Park Chan Yeol. Seandainya Cheon sa bisa memeluk Chan yeol saat ini juga, Cheon sa akan mengatakan padanya bahwa ia benar-benar merindukannya. Jika Cheon sa bisa meraih tangannya dan menggenggamnya erat, Cheon sa akan selalu berkata agar tidak pergi dan menghilang lagi dari hidupnya.

Seandainya. Dan Seandainya adalah sebuah kata yang paling sulit untuk terjadi. Sebuah kata yang hanya menggambarkan sebuah pengharapan, dan penyesalan.

Dan kini pandangan Cheon sa hanya terpaku pada sebuah titik. Pandangannya hanya terkunci pada sosok Chan yeol yang duduk di kursi yang tak begitu jauh dari nya.

Cheon sa akhirnya menolehkan kepalanya ke samping kirinya dan ia mendapati Sehun yang tengah sibuk mencatat berbagai rumus matematika yang begitu panjang dan rumitnya di dalam buku catatannya. Terlihat jelas bahwa namja itu begitu berkonsentrasi dengan pelajarannya.

Cheon sa memperhatikan wajah namja itu dengan seksama. dan saat itu pula Cheon sa baru saja menyadari bahwa namja di sampingnya ini begitu tampan. Kedua matanya yang bening dan tajam, alis matanya yang terlihat tebal, hidung nya yang manung, rahangnya yang berbentuk V tegas dan semakin membuatnya begitu sempurna, postur tubuhnya yang tinggi dan bentuk tubuhnya yang begitu proporsional untuk ukuran seorang namja, ditambah lagi dengan bibir tipisnya yang sanggup membuat Cheon sa menahan nafasnya.

Menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, Sehun akhirnya melirik Cheon sa dan menatapnya dengan tatapan yang begitu intens dan tajam, seolah-olah menuntut jawaban padanya.

Cheon sa balik menatap kedua mata Sehun. Sehun meraih notes kecilnya dan menuliskan sesuatu di sana. Ia lalu menyerahkan kertas itu pada Cheon sa.

‘ada apa? Kenapa memperhatikanku seperti itu?’ tulis Sehun di dalam notesnya.

“ani. Aku tidak memperhatikanmu. Sudah, lanjutkan saja belajarmu. Aku akan diam” ujar Cheon sa. Ia tak peduli senyaring apa suaranya saat ia berbicara karena tak akan ada orang yang bisa mendengarnya terkecuali Sehun.

Sehun dan Cheon sa sudah sampai di rumah satu jam yang lalu, tepatnya pada jam 8 malam lalu.  Cheon sa pun akhirnya menepati janjinya. Ia tak berbicara banyak saat mengikuti Sehun di sekolahnya.

Sehun mengambil tempat duduk di samping Cheon sa. Mereka kini tengah berada di ruang tengah sambil menonton acara tv yang menurut Sehun cukup menarik. Tak lama kemudian, Cheon sa memulai pembicaraan.

“apa kau sudah lama mengenal Park Chan Yeol?” pertanyaan Cheon sa sukses membuat Sehun berhenti menyesap cokelat panasnya. Ia meletakkan mug nya di atas meja dan menoleh pada Cheon sa.

“aku tak ingin membahasnya” jawab Sehun singkat dan kembali memusatkan perhatiannya pada layar tv di depannya.

“wae? Apa kalian.. bermusuhan?”  tanya Cheon sa hati-hati.

“apa yang kau lihat tadi pagi masih kurang jelas?” tanyanya.

“ah jadi begitu, maaf jika aku membuatmu marah karena menanyakan hal itu” Cheon sa menundukkan wajahnya dan lebih memilih untuk diam.

“apa kau mengenal Park Chan Yeol?” kali ini Sehun yang bertanya pada Cheon sa. Cheon sa menoleh.

“aku sudah sangat lama mengenalnya. Ia sudah bersama dengan ku selama separuh usia ku” jawab Cheon sa dengan tatapan menerawang.

“begitukah?”

“eoh. Ah, Sehun-ssi, apa benar kau akan bertunangan? Dengan siapa? Apa dia siswa di sekolahmu juga?” tanya Cheon sa bertubi-tubi tanpa menyadari tatapan mata Sehun yang sedari tadi menatapnya tajam.

“apa aku perlu menceritakan semua hal pribadiku padamu?”

“ah, ani. Mianhae” lagi-lagi Cheon sa menundukkan wajahnya. Kebiasaannya saat ia merasa bahwa ia melakukan kesalahan.

“ya, benar. Aku akan bertunangan. Tapi pertunangan itu ditunda karena calon tunanganku mengalami kecelakaan” jelasnya singkat.

“jinjja? Bagaimana keadaannya?” tanya Cheon sa.

“ia koma” jawab Sehun tanpa berusaha menatap Cheon sa lagi.

“kenapa kita punya permasalahan yang sama, Oh Sehun?” Cheon sa merasa bingung dengan kehidupan Sehun yang kurang lebih begitu mirip dengannya.

“maksudmu?”

“sebenarnya, aku juga akan bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak ku kenal. Selama bertahun-tahun aku memendam perasaan ku pada Park Chan Yeol dan berharap ia kembali sehingga aku bisa bersamanya. tapi, semua harapanku hilang begitu saja saat eomma dan appa ku memaksaku untuk bertunangan. Dan seperti inilah aku.  Aku berusaha kabur dari pertunangan ku dan mengalami kecelakaan hingga aku koma” terang Cheon sa panjang lebar tanpa diminta oleh Sehun. Dan Sehun hanya membiarkan Cheon sa menceritakan sepenggal kisah kehidupannya.

“jadi, kau menyukai Park Chan Yeol?”

“ne”

“sebaiknya kau jauhi dia” ujar Sehun dan perkataannya langsung membuat Cheon sa membulatkan kedua matanya.

ya! Wae?  Aku sudah menyukainya sejak lama, mana mungkin aku berhenti mencintainya seperti itu saja” tukas Cheon sa.

“dia itu bukan namja baik-baik. Dia hanya memainkan perasaan yeoja. Dia sangat tidak cocok untukmu” Sehun membalikkan badannya hingga ia berhadapan dengan Cheon sa. Terlihat jelas wajah Cheon sa menunjukkan ketidaksukaannya atas saran dari Sehun yang menurutnya sangat tidak masuk akal.

“kau tahu dari mana kalau ia seperti itu, eoh?”

“aku sudah mengenalnya dari dulu” balas Sehun.

“aku sudah mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya. Kami sudah bersama bahkan sejak kami lahir. Ia selalu ada untukku dan ia tak pernah meninggalkanku, lalu kenapa kau seenaknya saja berkata kalau ia bukan namja yang baik-baik dan menyuruhku untuk berhenti menyukainya, eoh?”  Emosi Cheon sa meluap. Ia pikir kalau sebentar lagi air matanya akan terjatuh begitu saja. Ia sangat tidak suka jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan seseorang yang ia sukai. Termasuk Park Chan Yeol.

“lalu kenapa selama tiga tahun terakhir ini ia menghilang? Bukankah ia pergi ke Italy? Dan baru sekarang ia kembali muncul ke hadapanmu. Bukankah itu sama saja dengan meninggalkanmu?” bantah Sehun. Ia mulai berpikir jika sekarang emosinya mulai tersulut. Ia sangat sensitive jika ada orang lain membicarakan segala hal tentang Park Chan Yeol. Termasuk kali ini.

“dia bukan menghilang. Dia hanya pergi untuk sementara” kilah Cheon sa tak kalah sengit.

“mungkin dia baik dihadapanmu, tapi kau tahu? Dia hanya seperti serigala berbulu domba. Kau ingin terperangkap di dalam jebakannya? Kau mungkin akan bahagia bersamanya untuk beberapa saat, tapi setelahnya kau akan dicampakkan. Aku memperingatkanmu Cheon sa-ya, ini untuk kebaikanmu juga”  terang Sehun. Berharap bahwa yang didapatnya adalah anggukan kepala dari Cheon sa tanda bahwa ia mengerti sepenuhnya apa yang ia bicarakan sejak tadi,nyatanya yang Sehun dapati adalah wajah Cheon sa yang terlihat tidak suka dengan segala ucapan Sehun tentang Park Chan Yeol. Terlihat jelas kedua matanya memerah dan air mata sudah membendung di pelupuk matanya.

“memangnya kau siapa sehingga berani memperingatkanku seperti itu? Apa kau oppa ku, kekasihku atau tunanganku? Kau tidak berhak memperingatkan ku seperti itu”  air mata Cheon sa terjatuh dari matanya. Ia sesengukan. Ia menatap kedua mata Sehun dengan tatapan benci, “dan aku benci seseorang seperti mu, Oh Se Hun” Cheon sa beranjak dari sofa dan berjalan menjauh dari Sehun yang masih terdiam di tempatnya.

Sudah berhari-hari lamanya Cheon sa dan Sehun tidak saling berbicara. Tidak ada yang berusaha menegur satu sama lain. dan selama beberapa hari tu pula, Sehun merasakan ada sesuatu yang hilang.

Seringkali Sehun terbangun di pagi hari dan ia hanya mendapati punggung Cheon sa di balkon apartemennya. Yeoja itu terlihat sedang menelungkupkan wajahnya pada kedua lututnya. Sehun pun sama sekali tidak melihat wajahnya selama beberapa hari ini.

Dan jujur saja, Selama berhari-hari Sehun tidak melihat wajah yeoja itu, Sehun pikir ia merindukannya.

Jauh di dalam hati Sehun, ia merasa menyesal telah mengatakan hal yang buruk tentang Chan yeol yang ternyata membuat Cheon sa membencinya. Namun, hal itu ia lakukan demi kebaikan Cheon sa.

Selama berhari-hari itu pula Cheon sa hanya sibuk berkutat di balkon Sehun yang dingin dan menatap kosong pemandangan Seoul yang gemerlap di depan matanya. Begitupula dengan hari ini. Cheon sa terduduk di balkon apartemen Sehun sambil memeluk kedua lututnya. Ia menopangkan dagunya pada kedua lutunya sambil sesekali menitikkan air mata. Masih teringat jelas perkataan Sehun yang menjelek-jelekkan Chan yeol beberapa hari yang lalu. Dan Cheon sa benar-benar membenci hal itu.

“memang dia siapa bisa memperingatkanku untuk menjauhi Chan yeol?” geram Cheon sa. Ia masih teramat kesal dengan perkataan Sehun yang menjelek-jelekkan Chan yeol beberapa hari yang lalu.

Sempat terlintas di dalam pikiran Cheon sa ahwa ia akan mencoba untuk mencari tempat tinggal Chan yeol dan tinggal bersamanya, melihat wajahnya setiap hari, mendengar suaranya yang begitu Cheon sa rindukan dan melihat senyum seorang Chan yeol yang sudah menghilang dari hidupnya selama bertahun-tahun. Cheon sa tersenyum saat memikirkan hal itu.

Cheon sa menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri dari duduknya dan kembali memasuki apartemen Sehun.

Dan dalam sekejap mata, Cheon sa sudah berada di dalam kamar Sehun dan Cheon sa mendapati Sehun yang tengah sibuk membaca buku di atas tempat tidurnya.

“wae?” tanyanya singkat tanpa berusaha menoleh atau sekedar menatap wajah Cheon sa.

“aku ingin mengatakan sesuatu, sehun-ah” ujar Cheon sa.

“mwoya?”

“terima kasih untuk semuanya, Oh Se Hun. Maaf sudah merepotkanmu,” ujar Cheon sa datar. Sehun menatap wajah Cheon sa sembari mengernyitkan dahinya dengan bingung.

“apa maksudmu? Kau bicara apa, eoh?” Sehun menutup buku bacaannya dan meletakkannya disamping tubuhnya. Ia mencoba memperhatikan Cheon sa yang erlihat ingin berbicara serius kali ini.

“kupikir aku akan pergi dari apartemenmu, aku akan pergi ke tempat Chan yeol dan tinggal disana” ujar Cheon sa anpa berbasa-basi lagi.

“mwo? Untuk apa kau tinggal disana?” terdengar jelas nada ketidaksukaan dari ucapan sehun pada Cheon sa saat ia mendengar perkataan Cheon sa bahwa ia akan tinggal dengan Chan yel. Dan jujur saja, Sehun merasa tidak rela jika itu terjadi.

“aku merindukannya dan aku ingin berada didekatnya” jawab Cheon sa singkat.

“meskipun ia tidak menyadari keberadaanmu di dekatnya, eoh?” lanjut Sehun. Perkataan sehun itu lalu langsung membuat Cheon sa terdiam. Satu hal lagi yang mengusiknya. Meskipun ia sudah berada sangat dekat dengan Chan yeol, namja itu tidak akan pernah bisa menyadari keberadaannya.

Fakta menyakitkan itu seakan-akan menjadi tamparan keras bagi Cheon sa. Matanya mulai memanas dan ia merasa air mata akan segera keluar dari amatanya. Namun, Cheon sa berusaha untuk tidak membiarkan air matanya terjatuh begitu saja.

“eo, aku akan selalu berada di dekatnya meskipun ia tidak menyadari keberadaanku” jawab Cheon sa dengan nada bicara yang terdengar yakin meskipun jauh di dalam hatinya ada sedikit keraguan atas kata-katanya.

“itu bagus. Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kau tahu? Aku sangat menantikan saat-saat ini. dan jika kau ingin tinggal bersama Chan yeol, itu bukan urusanku dan aku tidak peduli” ujar Sehun.

“maaf atas segalanya, Oh Se Hun. Dan terima kasih. Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi” ujar Cheon sa.  Tepat setelah ia mengatakan hal itu, Cheon sa menghilang dari hadapan Sehun layaknya kabut.

Kini Sehun terdiam memandangi udara kosong di depan matanya. Beberapa deik yang lalu yeoja itu masih berdiri di hadapannya dan sekarang ia sudah menghilang dari pandangan Sehun. Dan Sehun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. ia merasa senang, sedih dan tidak rela. Ia senang karena akhirnya yeoja hanu itu akhirnya tidak berada di dekatnya lagi dan mengusiknya. Ia merasa sedih karena di dalam apartemen itu hanya ia yang tersisa. Tidak ada lagi sosok Cheon sa yang selama ini ada di dekatnya. Dan ia merasa tidak rela saat ia mengetahui bahwa Cheon sa pergi meninggalkan aparemennya dan berniat untuk tinggal bersama Chan yeol.

“untuk apa aku peduli? Itu bukan urusanku” Sehun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan menyalakan televisinya.

Sehun menghempaskan tubuhnya pada sofa empuknya dan ia berusaha untuk memfokuskan kedua matanya pada layar televisi. Dan rupanya ia tidak berhasil. Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan ia sama sekali tidak mendapati sosok Cheon sa lagi.

“ani. Aku tidak berharap ia kembali kesini. Aniyo” Ujar Sehun pada dirinya sendiri. ia berdebat dengan hatinya sendiri  dan rupanya ia berusaha untuk berkilah.

Sehun menatap kursi sofa yang tengah ia duduki. Ia kembali teringat Cheon sa yang biasanya selalu tidur di atas sofa yang tengah diduduki Sehun. Sehun kembali mengalihkan pandangannya pada balkon apartemennya. Dan Sehun kembali teringat akan Cheon sa yang selalu berada di sana saat ia merasa sedih dan perlu sendiri. setiap sudut di rumah iu seakan-akan selalu membuat Sehun memikirkan Cheon sa.

“mwoya? Aku merindukannya? Tidak mungkin” kilah Sehun. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha membantah apa yang dikatakan hati kecilnya.

“aku tidak merindukannya. Sama sekali” tegas Sehun pada dirinya sendiri.

Ponsel Sehun bergetar dan rupanya sebuah SMS masuk. Dari Eomma.

‘Sehun-ah, minggu depan kau harus menjenguk tunanganmu di rumah sakit. Eomma tidak mau tahu apakah jadwal kuliahmu sedang padat atau tidak, eomma dan appa juga akan kesana’ begitulah isi pesan eomma Sehun yang masuk ke dalam inbox Sehun. Sehun menghela nafasnya dan ia segera membalas SMS dari eommanya.

‘ne, eomma’ jawabnya singkat.

Sehun melemparkan sembarang Smartphonenya dan ia kembali berusaha memusatkan perhatian pada acara tv dihadapannya.

“mungkin sudah saatnya aku menjenguk yeoja itu” gumam Sehun.

Cheon sa sampai di sebuah rumah bergaya victoria yang bertuliskan marga ‘Park’ pada tembok pagarnya. Cheon sa berharap bahwa Chan yeol masih tinggal di rumah ini. Cheon sa berusaha meyakinkan dirinya dan tanpa perlu membuka pagarnya, Cheon sa bisa langsung masuk ke halaman rumah itu dengan menembus pagar besi rumah Chanyeol.

Cheon sa memperhatikan sekelilingnya. Keadaan rumah Chan yeol sama sekali idak berubah. Ayunan kayu berwarna cokelat hazel itu masih terliha kokoh di samping taman. Ia sering bermain ayunan itu dengan Chan yeol dulu dan kenangan itu tidak akan pernah terlupakan oleh Cheon sa.

Cheon sa tersenyum. Ia lalu memasuki rumah Chan yeol yang terlihat mewah dan suasana masa lalu segera menyambutnya begitu ia memasuki ruang tamu di rumah itu. Tak ada yang berubah sama sekali dan hal itu membuat Cheon sa merasa seperti berada di masa lalu. Disaat ia dan Chan yeol sering bermain bersama dan menghabiskan waktu libur bersama.

Cheon sa menjelajahi isi rumah itu dengan kedua matanya. Setiap sudut rumah itu seakan-akan kembali mengingatkannya tentang masa lalunya bersama Chan yeol. Dan itu adalah hal yang paling ingin diulang Cheon sa dalam hidupnya.

Cheon sa menaiki tangga menuju kamar Chan yeol. Dan ia berharap bahwa ia bisa menemukan Chan yeol disana.

Cheon sa memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali. Cheon sa lalu melangkahkan kakinya dan menembus pintu kamar Chan yeol.

Kedua mata Cheon sa tertuju pada seorang namja yang tengah sibuk memainkan gitar accoustic di atas tempat tidurnya. Sesekali ia tersenyum saat mendengar nada-nada indah keluar dari gitar cokelatnya.

Cheon sa tersenyum saat itu juga. Ingin rasanya Cheon sa berlari dan memeluk erat namja itu. Ingin rasanya Cheon sa mengatakan bahwa ia merindukan namja itu. Tapi, satu kenyataan pahit harus diterima Cheon sa. Sedekat apapun ia dengan Chan yeol, namja itu tidak akan menyadari keberadaannya.

“aku merindukanmu, Chan yeol-ah”

To Be Continued

Annyeong chingudeul, chapter 3 udah rilis. Alurnya terlalu lambat atau terlalu cepet? Menurut readers gimana? Haha maklum, author masih pemula dan ini juga ff pertama yang author beraniin buat di post ke sini. Jadi author masih amatirr banget dalam dunia per-ff-an.

Cluenya, di chapter 4 ntar udah mulai keliatan masalahnya, konfliknya juga, trus ntar Sehun tahu sesuatu juga lho. Hehe. Sekian clue dari saya ya..:D

Oh iya, sekali lagi, makasiiih banget buat readers yang selalu setia nungguin ff ini ampe karatan, lumutan, tumbuh jenggot, dll. J Author selaluuu ngebaca komen-komen kalian yang semuanya berharga banget buat author. Jujur, setelah author baca komen kalian, author ngerasa dapet inspirasi dan itu ampuh banget, readers. Sekali lagi, gomawoo banget J

Thanks readerss…. i’ll be the best for you all, guys. Jeongmal kamsahamnidaaa J

 

Iklan

54 pemikiran pada “My Adorable Ghostgirl (Chapter 3)

  1. Yah, kok cheonsa suka chan? Pdhal sehun kyknya dh mulai ska cheonsa
    Keren thor ffnya, ak lanjut baca chap brikutnya y, hwaiting ^_^

  2. Oh my god, jdi cheonsa itu sbnrnya dlu ska sm yeollie tapi krn yeollie pergi ke paris dy jdi dijodohin sm sehu…sehun kau akan menyesal membiarkan cheonsa pergi ke tmpt yeollie, dy itu tunanganmu sehun…

  3. Jd Chanyeol adlh tmn msallu skligus cinta prtama Choensa,,, trnyata bnr,,Sehun jg Chanyeol prnah brebut cwe dmsalalu,,,
    ada2 aja klakuan anak mudah gkgkgkkg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s