2 Reasons (Chapter 2)

2 REASONS

(Chapter 2)

Camera 360

Tittle : 2 Reasons

Rating : 17+

Lenght : Chapter 2 of 7

Genre : Romance, Friendship, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV

Main Cast : Park Chanyeol & Wu Yifan/Kris (EXO), Kang Raera (OC), Park Chorong (A Pink).

Support Cast : Baekhyun & Jongdae (Exo), Kang Raehyun (OC) etc.

 

SUMMARY : Chanyeol merasa malu dan sial karena dari kelas 2 SMP ia dipaksa bertunangan dengan gadis yang tidak ia kenal, Kang Raera. Gadis Es Batu, itulah julukan chanyeol untuk gadis itu. Pertunangan yang terasa konyol karena mereka hanya bertemu setiap malam natal sebab jarak rumah mereka yang terbentang cukup jauh. Chanyeol merasa gadis itu membuatnya frustasi bahkan ketika mereka sudah tidak lagi LDR (Long Distance Relationship) dan kuliah di universitas yang sama semua semakin kacau karena Kris, Senior di universitas Chanyeol dengan terang-terangan mendekati gadis Es Batu-nya.

 

*

 

Chapter 2 (See you again ‘Gadis Es’ & Kris The Disaster)

 

“Hai Park chanyeol, lama tidak berjumpa. Aku merindukanmu” sapa raera sambil tersenyum kecil dan hangat.

 

“Oh hai” balas chanyeol singkat lalu ia menghampiri oemmanya.

“Ini kimchi dari eommanya jongdae” chanyeol menyerahkan kimchi yang ia pegang ke eommanya, lalu ia tersenyum sopan dan berbungkuk pada kedua orang tua raera. “Aku mau ke kamar dulu” ucap chanyeol kemudian.

 

Eomma: “Kau tidak ingin makan siang bersama?”

“Tadi aku sudah makan dirumah jongdae”

“Kau tidak ingin makan lagi?”

“Tidak, aku sudah kenyang”

“Kau tidak mau menemani raera?”

“A…aku, aku lelah”

“Kalau begitu istirahatlah”

“Ne eomma”

 

Raehyun yang melihat tingkah chanyeol mendengus sebal.

‘Aissh apa-apaan orang itu? Tidak sopan!’ Rutuknya dalam hati.

 

Chanyeol menutup pintu kamarnya lalu ia terdiam. Ia termenung dengan apa yang ia rasakan, saat melihat raera tadi entah kenapa ia merasa marah dengan gadis itu. Memang Lega rasanya bisa bertemu gadis itu lagi, karena sempat terpikir olehnya bahwa ia tidak akan bertemunya lagi (seperti yang disumpahi hyejin) tapi disaat bersamaan ia tidak dapat menutupi bahwa ia marah dengan raera. Alasannya? Diapun juga tidak yakin.

 

Chanyeol membuka jendelanya, angin musim semi yang segar menyentuh wajahnya dan sedikit membuat rambutnya yang sudah agak panjang berantakan.

 

~Jam 7 malam~

 

Chanyeol turun dari tempat tidurnya, ia bercermin sebentar lalu keluar kamar menuju meja makan.

Saat tiba di meja makan ia hanya melihat appa dan eommanya, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan eommanya.

 

Kedua orang tuanya tersenyum lalu mulai melahap makanannya masing-masing.

 

“Keluarga Kang sudah pulang?” Tanya chanyeol mencoba setenang mungkin.

“Iya, mereka hanya sebentar disini. Tadi mereka mampir hanya untuk memberi tahu alamat rumah baru mereka”

“Ouhh” chanyeol agak kecewa.

“Perlu kau ketahui bahwa Raera dan raehyun akan masuk ke universitas yang sama denganmu. Oh ya chanyeol-ah, apa besok kau bisa antar raera ke toko buku? Ia ingin membeli buku dan peralatan tulis”

“Mwo? Kenapa harus aku? Suruh saja raehyun yang mengantarnya” ujar chanyeol, sebenarnya ia ingin tapi rasa gengsinya membuatnya sulit mengatakan iya.

 

“Kalau dia bisa, eomma tidak akan minta bantuanmu! Kaki raehyun sedang cedera, jadi dia tidak bisa menyetir. Kalau kau tidak mau, yasudah tidak apa-apa!” jawab eomma ketus.

“Eh..ba..baiklah kalau eomma memaksa! kapan dan dimana?”

“Kalau kau tidak ikhlas lebih baik tidak usah”

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan melakukannya!”

“Baiklah kalau kau memaksa! karena kamu belum tahu rumah baru mereka jadi besok kalian janjian di depan taman saja jam 11” ucap eomma membalikkan perkataan chanyeol yang sempurna membuat wajah chanyeol merah padam.

 

Chanyeol appa yang melihat mereka hanya menggeleng maklum.

‘Dasar..ibu dan anak sama saja’ pikirnya.

 

~Ke esokan harinya, di taman jam 11~

 

Chanyeol terlebih dahulu sampai di taman, ia bersandar di pagar taman lalu melihat jam tangannya.

 

“Bukankah seharusnya dia sudah sampai? Apa dia Tersesat?” Gumam chanyeol.

 

“Chagiya~” panggil seorang gadis manja.

 

Chanyeol mendongak dan melihat seorang gadis yang ia kenal tengah tersenyum padanya.

 

‘Astaga! Aku lupa padanya’ batin chanyeol.

 

“Oppa, neo gwenchana? Kenapa terkejut sekali melihatku?”

“Jiyeon-ah, mari kita akhiri saja” seru chanyeol tiba-tiba yang sempurna membuat mata jiyeon membulat tak percaya.

“Mwo? Kau ingin kita putus? Maksudmu kau ingin mencampakkanku?” Tanya jiyeon tidak terima.

“Maaf, bukan maksudku begitu” ucap chanyeol merasa bersalah.

 

Jiyeon menampar pipi kanan chanyeol.

“Kau kira aku menyukaimu, hah?? Banyak pria yang mengemis cinta padaku! Lagipula Aku sudah bosan denganmu!” Ketus jiyeon sembari pergi dari hadapan chanyeol.

 

“Auuh” chanyeol mengelus pipinya yang terasa perih.

‘Gadis yang menakutkan’ batin chanyeol.

 

Chanyeol memalingkan pandangannya, ia begitu terkejut saat melihat raera berdiri tak jauh darinya.

 

Raera yang melihat chanyeol menangkap sosoknya, sedikit berbungkuk yang dibalas tundukan kepala dari chanyeol. Perasaan chanyeol campur aduk takut kalau raera menyaksikan kejadian barusan.

 

“Kau sudah lama disana?” Tanya chanyeol tidak enak.

“Lumayan”

“Apa kau melihatnya?”

“Semuanya” jawab raera sambil mengangguk.

“Tolong jangan salah paham, tadi itu..”

“Kita akan pergi ke arah mana?”  Potong raera.

“Ahh.. ke..arah sana” chanyeol menunjuk jalan sebelah kiri.

 

~Toko buku~

 

Raera sedang sibuk memilih buku iptek, chanyeol hanya mengikuti langkah gadis itu menulusuri setiap lorong buku. Sedari tadi mereka tidak banyak bicara. Karena chanyeol tipe orang yang suka tertawa dan bicara jadi ia tidak suka rasa canggung yang menghinggapi dirinya kini. Setiap chanyeol ingin memulai pembicaraan ia selalu bingung mau bicara apa.

 

“Hmm..bagaimana keadaan raehyun? Kudengar ia cedera” tanya mencoba mencairkan suasana.

“Dia baik, hanya tinggal pemulihan saja” jawab raera sambil membolak balik buku.

“Oh syukurlah, memang apa penyebab ia cidera?”

“Basket” jawab raera singkat.

“Ouhh.. mmm.. oh ya beberapa hari lagi semester baru akan dimulai. Kau masuk ke kampus tempatku, kan?” Tanya chanyeol, ia menatap jari tangan raera yang ditutupi sarung tangan, ia bertanya dalam hati apa dibalik sarung tangan itu ia masih menyematkan cincin pertunangan mereka.

“Orang tua kita yang merekomendasikan sekaligus yang mengatur semuanya”

“Jadi kau, aku, dan raehyun akan belajar di universitas yang sama. Hari senin Kau dan raehyun akan naik apa ke kampus?”

“Raehyun tidak pergi, kata dokter sampai minggu depan ia tidak boleh kemana-mana”

“Oh jadi kau akan berangkat sendiri ke kampus?”

“Wae? Kau mau mengantarku?”

“Tidak!! Kau percaya diri sekali!” Seru chanyeol lantang.

“Biasa saja jawabnya, aku tidak tuli” protes raera datar.

“Hehehe maaf, oh iya kenapa kau bertanya begitu? Kau ingin diantar olehku?”

 

Raera menoleh ke arah chanyeol memangkas jarak di antara mereka, ia memandang chanyeol beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan membuat chanyeol salah tingkah, kemudian ia mengangguk.

“Aku mau” jawab raera.

 

“Ehemm..” chanyeol mengambil nafas dalam yang canggung lalu berdehem “baiklah kalau kau memaksa, nanti kau ku jemput dirumahmu lalu kita berangkat bersama ke kampus. Tapi karena aku belum tahu rumahmu berarti hari ini aku harus mengantarmu pulang sampai rumah terlebih dahulu, bukan begitu?”

 

Raera sedikit kesulitan mencerna ucapan chanyeol yang menurutnya kurang efektif ‘aku memaksa?’ Tanya raera dalam hati, ia hanya mengangguk tidak yakin ke arah chanyeol yang membuat pria di hadapannya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.

 

“Baiklah, ayo cepat bayar ke kasir sehabis itu aku akan mengantarmu pulang” ajak chanyeol antusias sambil menarik lengan raera, raera menghentikan langkahnya yang membuat chanyeol heran.

 

“Wae?” Tanya chanyeol.

“Sebelum pulang Belikan aku es krim dulu”

Chanyeol tersenyum mendengar permintaan gadis dihadapannya.

“Joha, kajja!”

 

~Beberapa hari kemudian~

 

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah raera, segera ia keluar dari mobil lalu menekan beberapa kali bell rumah raera.

 

Pintu rumah raera terbuka, chanyeol melihat namja setinggi dirinya, kulit namja itu lebih putih darinya dan micingan mata dingin namja itu yang membuatnya sedikit bergidik ngeri.

 

“Mau apa kau?” Tanya namja itu yang tak lain adalah raehyun.

 

Chanyeol menelan ludah, ia melihat pergelangan kaki raehyun yang di gips.

“Hi raehyun, aku ingin menjemput raera ke kampus Karena  hari ini hari pertama dia”

“Jadi kau menjemputnya hanya karena ini hari pertamanya?”

“Bu..bukan itu maksudku he..he..he” chanyeol tertawa gugup “Bagaimana kakimu? Kau harus cepat pulih biar bisa cepat-cepat masuk kuliah”

“Iya agar kau tidak perlu mengantar raera lagi, kan? Tenang saja! Beberapa hari lagi gips-ku dilepas jadi kau tidak perlu khawatir!” Prasangka raehyun.

Chanyeol menggeleng cepat.

 

Raera menghampiri kedua namja yang berdiri di pintu rumahnya itu. Dengan cepat ia mencium pipi kanan raehyun yang membuat pria itu agak tersentak.

“Yak!!” Protes raehyun.

“Aku pergi dulu” salam raera ke raehyun sambil menarik lengan chanyeol keluar rumah, chanyeol melambai dan tersenyum kaku ke arah raehyun yang dibalas decakkan olehnya.

“Hati-hati kau!!” Ujar raehyun terdengar tidak lembut sama sekali.

 

Chanyeol melihat lengannya yang dituntun raera, lalu ia mendapatkan sesuatu yang melingkar manis dijari raera. Chanyeol tersenyum lebar.

‘Cincin pertunangan kami’ pikir chanyeol senang sekaligus lega.

 

Di dalam perjalanan ke kampus, raera hanya diam yang membuat suasana di mobil dingin dan sepi, membuat chanyeol sedikit geram dengan gadis disampingnya ini.

 

‘Tidak bisakah kau bertingkah manis seperti gadis normal lainnya?’ Batin chanyeol.

 

“Raera, apa kau ingat saat kau bilang bahwa kau merindukanku?” Tanya chanyeol.

“Dihari kepindahan keluarga kami? Saat kau baru sampai rumahmu?” Tanya raera memastikan.

“Ne! Apa kau serius mengatakannya? Kau benar merindukanku?”

“Memang itu yang kurasakan. Apakah ada yang aneh dari perkataanku?”

“Oh tidak tidak”

“Sudah 3 setengah tahun kita tidak bertemu, bukankah wajar saat kita bertemu aku bilang kalau aku merindukanmu?”

“Ahhh..kau benar sekali hehehe” seru chanyeol kaku “tapi kenapa kalau aku yang pikirkan itu hal yang luar biasa ya?” Gumam chanyeol.

“Jadi, apa kau juga merindukanku?” Tanya raera yang sedang memandang ke luar jendela.

 

Chanyeol sempat ragu untuk menjawabnya padahal dalam hati ia meneriaki ‘IYA’ tapi entah apa yang membuat bibirnya terasa kelu untuk menjawab jujur, karena raera merasa tidak ada jawaban jadi ia beralih memandang orang yang ia tanya untuk menunggu jawaban.

 

Raera tersenyum hambar “sepertinya tidak” ia kembali memandang ke luar jendela melihat orang-orang yang berlalu lalang.

 

Mereka sampai dikampus, bangunan besar yang terlihat kokoh dengan halaman yang luas terpampang jelas dipandangan mereka. Chanyeol sempat melihat ekspresi raera yang kagum dengan kemegahan kampusnya, chanyeol hanya tersenyum.

 

“Kita sampai!” Pekik chanyeol saat sudah memarkirkan mobilnya, dari kaca mobil ia dapat melihat baekhyun dan jongdae yang sedang menunggunya.

 

Raera membuka pintu mobil lalu keluar yang diikuti chanyeol.

 

Baekhyun dan jongdae yang melihat seorang wanita keluar dari mobil sahabatnya hanya dapat diam sambil memandangi gadis tersebut.

 

“Annyeong” sapa chanyeol pada kedua sahabatnya, yang ditanggapi anggukan oleh baekhyun dan cengiran oleh jongdae.

“Park chanyeol, terima kasih banyak” ucap raera membungkuk sambil lalu.

“Kenapa ia pergi? Dia kan belum tahu lingkungan kampus ini” Tanya chanyeol pada dirinya.

Baekhyun: “Jadi dia yang namanya Kang raera?”

Chanyeol mengangguk.

“Wah ternyata dia sangat cantik” ujar jongdae kagum.

“Memang dia cantik, emang aku belum bilang ya?”

“Kau hanya bilang cantik, padahal dia kan sangat cantik” jawab jongdae yang disambut jitakan dari chanyeol.

“Kau benar dia gadis yang dingin” ucap baekhyun sambil memegang bahu chanyeol.

Jongdae: “Kenapa dia pergi? Dia kan mahasiswi baru, bukankah seharusnya dia minta bantuanmu?”

“Entahlah, mungkin dia tidak mau merepotkanku”

“Wah ternyata dia orang yang mandiri ya” ujar Jongdae.

“Jongdae-ah, berhenti mengaguminya!” Protes baekhyun.

 

*

 

“Kumohon… terimalah kue ini, aku membuatnya tulus untukmu” mohon seorang gadis dengan air mata yang sudah penuh dipelupuk matanya.

“Tidak” jawab orang yang dituju dengan tatapan dingin.

“Kau boleh menolakku…ta..tapi setidaknya kau terima pemberianku ini” ucap gadis itu, air matanya menetes membanjiri pipinya. “Kalau kau tidak mau menerima ini..aku…aku akan sangat terpukul” tiba-tiba suara tangis pecah dari gadis itu.

 

“Kris-ah, sudah terima saja. Kau tidak kasihan dengan dia” bisik luhan persis ditelinga kris.

Kris menggeleng “aku tidak minat”

 

Luhan menyenggol orang disamping kirinya.

“Sehun-ah, bujuk kris untuk menerima kue gadis itu, soalnya kalau tidak diterima bisa-bisa gadis ini tidak akan membiarkan kita pergi. Aku lapar ingin ke kantin” ucap luhan pelan.

 

Sehun hanya memandang gadis di depan mereka datar, dapat dilihat dari pandangannya ia memandang rendah gadis itu. Sehun menggeleng pelan.

“Tidak ada gunanya memaksa kris hyung untuk melakukan sesuatu hal yang tidak ingin dilakukannya” jawab sehun tenang.

“Aissh jinjja, terkutuklah para wanita yang tidak tahu malu seperti dia” gumam luhan.

 

“Minggir!” Perintah kris.

Gadis itu menggeleng “kumohon terimalah..”

 

Tiba-tiba ada tiga orang mahasiswi yang lewat. Salah satu dari mereka menghampiri kris dan yang lain.

“Yak!! Pria tidak punya rasa kemanusiaan! Apa salahnya untuk menerima kuenya, hah?!” Bentak gadis itu yang tidak ditanggapi oleh 3 sekawan yang ia maksud. “Ayo cepat bangun suli-ssi, jangan hiraukan pria sampah seperti dia!!”

 

Kris menatap gadis yang memakinya itu lalu ia tersenyum mengejek.

“Jung Hyosung! Itukan namamu?” Tanya kris dingin.

 

Gadis yang ditanya itu sempat terkejut.

“Ne! Wae?” Ucap gadis bernama hyosung itu menantang tapi terlihat jelas bahwa gadis itu agak gugup.

“Walau aku sampah, tapi kau menyukaiku kan? Gadis munafik yang terus menerus menggangguku dengan hadiah hadiah sampahmu itu, kau kira aku tidak tahu kalau itu kau?! Berlagak jual mahal cih..”

 

Hyosung tercekat mendengar pernyataan kris, tiba tiba air mata ingin terjun dari pelupuknya, ia berlari pergi lalu kedua temannya mengejarnya sambil menyerukan nama gadis itu.

 

“Terimalah”

Suli memberikan kuenya ke kris tapi tidak kris tanggapi hingga ia mendorong kue itu ke tangan kris agar ia mau menerimanya.

“Tidak mau!” Kris menepis kue itu hingga terlempar yang ternyata jatuh tepat di sepatu raera yang sedang kebetulan lewat.

 

Raera menghentikan langkahnya lalu memandang sepatunya yang sudah penuh dengan cream.

 

Suli yang melihat kuenya sudah hancur hanya bisa menangis, lalu ia pergi dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.

 

Kris, luhan dan sehun menatap raera yang sedang membungkuk mengelap sepatunya yang lengket karena kue. Lalu raera kembali tegap, ia mengelap tangannya lalu melempar tissue yang sudah kotor itu ke tong sampah yang tak jauh darinya. Raera mengalihkan pandangannya ke 3 sekawan yang menatapnya penuh selidik.

 

“Kenapa? Kau juga ingin memakiku karena memperlakukan yeoja seperti tadi?” Tanya kris ketus.

 

Raera sempat menyaksikan apa yang terjadi, tapi ia tidak mengerti apa yang dimaksud kris.

“Itu hakmu untuk menolak mereka” jawab raera sambil lalu tapi baru beberapa langkah ia berhenti.

 

“Apa? Kau ingin aku meminta maaf dan bertanggung jawab atas sepatumu?” Tanya kris lagi to the point.

“Kalian tahu ruang dosen dimana?” Tanya raera mengabaikan kris.

“Disana!” Sehun menunjuk ke kanan.

“Di lantai 2, pojok kanan di antara perpustakaan dan Lab” ucap luhan menambahkan.

 

Raera terlihat berpikir kemudian ia mengucapkan terimakasih sambil meninggalkan 3 sekawan itu.

 

“Siapa dia?” Tanya luhan pada kedua manusia disamping kanan kirinya walaupun ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

“Sepertinya dia orang baru” sahut sehun.

 

*

 

setelah jam kuliah mereka selesai, Chanyeol, baekhyun, dan jongdae menelusuri jalan menuju tempat parkir. Tiba-tiba didepan mereka lewat kris, luhan dan sehun yang sedang di ikuti beberapa gadis.

 

“Tsk.. coba lihat mereka! Setiap saat diikuti para gadis cantik. Mereka membuatku iri saja” jongdae menghela nafas kasar.

“Kemana perginya pesonamu, chanyeol-ah? Dulu di SMA kita begitu populer, tapi sekarang? Dilirik saja tidak pernah” sungut baekhyun.

“Kenapa kalian menyalahkanku? Lagipula apa enaknya menjadi mereka?”

“Kau tahu?? Melihat mereka mengingatkanku pada masa kejayaan kita di SMA” ujar baekhyun dengan tampang tidak enak dilihat.

 

“Memang siapa mereka?” Tanya seseorang yang membuat mereka terkejut, mereka semua menoleh ke asal suara tersebut.

“Ahh… raera-ssi, oh iya kita belum berkenalan secara resmi perkenalkan aku Kim Jongdae dan ini..” jongdae membiarkan baekhyun melanjutkan perkataannya.

“Aku Byun baekhyun” ucap baekhyun sambil mengangkat tangan kanannya.

Raera tersenyum ramah.

 

“Jadi kau ingin tahu siapa mereka? Mereka itu namja paling populer sekaligus tertampan di kampus ini, kami memanggil mereka trio kejam karena mereka sangat tidak berperasaan terhadap fans mereka” jelas jongdae bersemangat.

“Jadi mereka artis?” Tanya Raera.

“Bukan! Hanya saja mereka itu sangat di idolakan di kampus ini karena mereka itu tampan dan kaya. Yang paling tinggi dan wajahnya tampan itu namanya kris, dia senior kita. Sedangkan yang ditengah yang terlihat agak cantik dia Xi Luhan dia juga senior kita, nah yang terakhir itu Oh sehun! Dia namja jenius, umurnya 2 tahun lebih muda daripada kita tapi karena dia lompat kelas jadi dia seangkatan dengan kita. Dan kau jangan tertipu dengan tampang tanpa dosa mereka, mereka itu sangat tidak berperasaan dalam memperlakukan gadis yang tidak mereka sukai” jelas jongdae.

“Kau tahu banyak tentang mereka?” Tanya raera tenang.

“Tentu saja, dikampus ini siapa yang tidak kenal mereka” jawab jongdae.

“Kenapa? apa kau menyukai mereka, raera-ssi?” Selidik baekhyun.

 

Chanyeol sangat tidak nyaman dengan pertanyaan baekhyun, wajahnya langsung berubah agak kesal.

 

“Kenapa aku harus menyukai mereka?” Tanya raera balik bertanya dengan tanpa ekspresi membuat baekhyun dan jongdae heran.

“Tentu saja tidak!” Seru chanyeol “Orang seperti mereka tidak pantas disukai, kalau kau menyukai mereka itu hanya akan membuatmu patah hati” sambung chanyeol tidak nyaman.

“Aissh..kau tidak sadar, berapa banyak yeoja yang sudah kau campakkan dan kau buat sakit hathmmmp..” chanyeol membekap mulut baekhyun.

 

“Bukankah tidak nyaman membicarakan masalah itu di depan yeoja?” Bisik chanyeol tepat di telinga baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk lalu chanyeol lepaskan tangannya.

 

“Raera, ayo kita pulang!” Ajak chanyeol.

 

~Beberapa hari kemudian~

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya raehyun yang yang sedang fokus dengan kemudinya.

 

Raera yang memang sedang melamun mengalihkan pandangannya ke raehyun.

“Tidak ada”

 

“Kau bohong! Jelas-jelas ada yang sedang kau fikirkan! Apa kau sedang memikirkan Park Chanyeol itu? Kau kecewa karena hari ini tidak berangkat bersamanya?”

“Apa begitu ketara?” Tanya raera jujur dengan tenang.

“Aissh..jinjja, kau ini benar-benar gadis yang aneh. Seumur hidupmu kau hanya menyukainya tapi kau tidak pernah memberitahu dia tentang perasaanmu”

 

Raehyun menarik napas kasar.

“Kau bahkan dengan bodohnya menerima perjanjian untuk memperbolehkan kalian menjalin hubungan dengan orang lain selama masa pertunangan. Noe Micheoso?! Kau tahu itu hanya menguntungkan dia, dan seharusnya kau tahu kalau dia bukan seorang pria yang baik! Tampak jelas kalau dia menganggap perjodohan ini main-main!”

 

Raera memegang kepalanya yang terasa pusing mendengar omelan raehyun.

 

“Jawab aku! Apa kau ingin seumur hidupku hanya mengkhawatirkanmu?!” Tanya raehyun lagi emosi.

 

“Kang Raehyun, kau tahu seperti apa jawabanku” jawab raera dengan senyum tipis.

 

“Aisshh” Raehyun hanya mendengus pasrah.

 

-Di kampus-

 

Raera dan raehyun berjalan berdampingan, ini adalah hari pertama raehyun kuliah setelah gips kakinya dilepas. Mereka melihat lapangan basket yang disana ada beberapa mahasiswa sedang main.

 

“Ingat kata dokter kau harus lebih memperhatikan kakimu” ucap raera seakan tahu apa yang sedang dipikirkan raehyun.

“Aku tahu”

 

“Raera-raehyun?!” Panggil seseorang yang yang membuat kakak beradik itu menoleh.

“Kau??” Sungut raehyun tak senang.

“Selamat pagi Park chanyeol, Jongdae, dan baekhyun” sapa raera.

“Pagi, bagaimana kakimu raehyun?” Tanya chanyeol mencoba akrab ia memamerkan senyumannya.

“Kau punya mata kan?!” Jawab raehyun ketus yang membuat chanyeol ciut “raera, aku duluan” ujar raehyun seraya pergi.

 

“Aissh..pria yang menyebalkan!” Ujar baekhyun “Oh maaf raera” baekhyun tidak enak.

Raera: “Tidak apa-apa”

Jongdae: “Sepertinya kepribadiannya berbeda sekali denganmu”

“Memang” balas raera, ia beralih menatap chanyeol “jangan difikirkan”

“Tidak apa-apa” jawab chanyeol.

 

 

-Perpustakaan-

 

“Ahhh bosan sekali, tidak bisakah kita ketempat lain? Disini seperti penjara! Tidak boleh berisik, tidak boleh tertawa, tidak boleh makan dan minum” Ujar luhan.

“Sebentar hyung, sebentar lagi” jawab sehun yang masih berkutat dengan bukunya.

“Aisssh anak ini! Kenapa tidak kau beli saja buku itu? Atau meminjamnya saja dan baca dirumah”

“Buku ini sudah tidak diproduksi hyung, dan aku malas meminjamnya karena itu artinya aku harus mencantumkan nomor ponselku di kartu peminjam perpus”

“Tsk kau tahu? mungkin saat keluargaku jatuh miskin aku akan menggadaikan nomor ponsel kalian agar aku dapat uang!”

“Apa nomor telepon kami bisa menghasilkan uang?” Tanya sehun polos.

 

PAGG!

Jitakan luhan berhasil mendarat mulus di kepala sehun.

“Auugh” ringis sehun.

 

Sreeet..

Kris beranjak dari kursinya.

 

“Mau kemana kau?” Tanya luhan.

Kris: “Mau ketoilet”

“Ya aku ikut!” pungkas luhan beranjak dari kursinya.

“Hyung~ jangan tinggalkan aku..” rengek sehun.

“Geez, bocah ini” luhan kembali duduk sambil memanyunkan bibirnya.

 

*

 

Kris menatap pantulan dirinya di cermin, ia membasuh wajahnya beberapa kali dengan air keran, setelah itu ia mengambil tisu dan mengelap wajahnya sampai kering.

 

Ia keluar dari toilet lalu merasakan hembusan angin yang menggelitik wajahnya. Angin yang berasal dari tangga darurat yang setengah terbuka. Karena ia malas kembali ke perpustakaan yang sumpek akhirnya putuskan untuk mengikuti asal angin tersebut. Kris membuka pintu tangga darurat dan naik ke atas, saat sudah melewati beberapa lantai ia mendapati pintu atap yang terbuka.

 

Kris keluar atap, ia melihat awan yang mendung dan keadaan langit yang sudah gelap akibat tertutup awan.

 

‘Sepertinya akan turun hujan’ pikir kris.

 

Ia menoleh ke sisi kiri atap dan mendapati seorang gadis sedang duduk di pegangan batas gedung.

 

“Gadis itu?” Gumam kris.

 

Kris melihat raera yang sedang memakai headset, gadis itu memakai bando yang menarik semua poninya kebelakang sehingga wajahnya dapat terlihat jelas. Raera terlihat sangat damai saat memejamkan matanya mendengarkan musik dan merasakan angin yang menerpa wajah dan rambutnya.

 

Kris tersenyum kecil saat melihat di tangan kanan dan kiri raera terdapat ice cream cone vanila yang cukup tinggi berbentuk monas. Raera melahap eskrimnya secara bergantian.

 

“Udara sedingin ini kau makan es krim?” Tanya kris, ia berdiri disamping raera yang membuat raera agak terkejut.

 

Raera melepas headsetnya lalu menatap kris aneh.

“Kau bilang apa?” Tanya raera yang mendengar kris samar.

 

Kris menggeleng.

“Hmm! Lupakan”

 

Raera beralih memandang kedepan, ia melahap es krimnya lagi.

Kris sempat heran melihat tingkah raera yang begitu tenang padanya.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya kris mencoba membuka pertanyaan.

“Tidak ada alasan yang pasti” jawab raera.

 

Kris tersenyum kecil.

“Berbeda denganmu, aku kesini mencari ketenangan” ucap kris berusaha terkesan keren.

 

Raera menatap kris lalu ia mengangguk.

“Aku mengerti” raera melangkahkan kakinya untuk pergi tapi kris menahannya.

 

“Kenapa pergi?” Tanya kris bingung.

“Kau bilang mencari ketenangan. Bukankah itu artinya kau tidak ingin ada siapapun?”

“Keinginanku berubah” raut wajah kris berubah, ia memajukan wajahnya lalu mengangkat tangan raera dan dengan sempurna mulutnya mendapati es krim vanila yang ditangan raera, ia menjilatnya singkat.

 

“Kau ingin ice creamku?” Tanya raera tenang tapi tersirat kebingungan.

“Ne”

“Ambillah” suguh raera.

“Gomawo” kris mengambil es krim itu lalu menjilatinya.

 

Kris: “Kau orang baru ya?”

Raera mengangguk.

“Pantas saja kau tidak mengenalku”

“Aku memang tidak berniat mengenal siapapun disini” jawab raera tenang.

“Apa maksudmu?” kris heran.

Raera hanya menggeleng.

“Jadi kau selalu kesini?”

“Tidak, ini kali pertama aku ke atap kampus” jawab raera.

“Apa kau berniat kesini lagi?”

“Sepertinya tidak”

“Wae?” Kris memandang raera.

 

Tes..tes..tesss..

Air hujan mulai mengguyur tubuh mereka.

 

“Hujan?” Raera menengadahkan tangan menangkap setiap tetes hujan yang jatuh tepat di telapak tangannya.

Raera sudah mau lari kembali ke dalam gedung tapi tangannya kembali dijegal kris.

“Siapa namamu?”

“Kang Raera” jawab raera sambil melepaskan tangan kris lalu ia berlari ke tangga darurat. Kris yang melihat sosok raera sudah hilang di balik pintu darurat juga ikut menghambur masuk, saat dia kembali ke koridor kampusnya ia sudah tidak menemukan sosok raera.

“Aissh.. tadi dia bilang siapa namanya??”

 

*

 

“Aigoo, kenapa kau basah begini? Kau habis mandi di toilet?” Racau luhan yang melihat kris kembali.

“Jangan konyol” jawab kris sembari duduk.

“Kau kehujanan, hah? Dimana?”

“Kenapa kau lama sekali, hyung?” Sehun ikut-ikut menginterogasi kris.

 

~2 hari kemudian~

 

Seperti biasa, hari-hari yang dialami trio kejam selalu saja diwarnai oleh aksi para pengagum mereka. Sebenarnya mereka juga bingung dengan tingkah para gadis ini yang tidak bisa menahan pesona dari mereka. Sikap terburukpun tak jarang mereka perbuat, tapi tetap saja para yeoja ini tidak ada malunya, begitulah pikir luhan yang setiap harinya masih mau mengumpulkan beberapa hadiah yang ia terima. Dari ke 3 namja ini, luhan lah yang paling mendingan hatinya, walaupun tak jarang ia mengumpat dalam hati menyumpahi para yeoja itu.

 

“Baik-baik! tunggu sebentar biar aku pilih dulu. Hemm, baiklah aku akan terima hadiah yang itu, itu dan yang itu! Selebihnya tidak akan kuterima” ujar luhan yang membuat yeoja riuh.

 

Kris dan sehun hanya diam sambil sesekali menarik napas sebal.

 

“Hyung~ kaset PS4 yang itu boleh juga” bisik sehun ketelinga luhan.

“Yasudah kau ambil saja, semua hadiah ini kan memang untuk kita” jawab luhan acuh.

“Ahh tidak mau, kau saja yang ambilkan untukku, jebal~”

“Arggh, terus saja sok jaga image! Aku terus kan yang jadi korban” sungut luhan “Hei kau gadis Kaset game!! Sini hadiahmu kuterima!” Ujar luhan yang seketika membuat gadis itu teriak karena senang.

 

Kris menguap bosan sambil sesekali menggaruk tengkuknya. Tapi tiba-tiba ada yang menarik indra penglihatannya, ia melihat gadis yang waktu itu bertemu dengannya di atap.

 

Raera jalan dengan tenang dan seperti biasa dengan wajah datar yang terbilang dingin melewati kris cs dan segerombolan yeoja yang berisik itu. Raera hanya lewat tanpa menoleh sedikitpun, kris menatap kepergian raera yang terlihat seperti ke arah kantin.

 

“Ayo ke kantin, aku lapar!” Ajak kris tiba-tiba.

“Hyung, tadi saat aku ajak kesana kau bilang sudah kenyang. Kenapa sekarang..?” Sehun menggantung kata-katanya.

“Aku laparnya sekarang bukan tadi!” Jawab kris sambil menarik tangan sehun dan sehunpun tidak lupa menarik tangan luhan, para yeoja bergumam kecewa karena mereka pergi.

 

Kris menerawang seluruh penjuru kantin yang saat itu lumayan ramai.

 

“Ah bangku disitu kosong!” Pungkas luhan.

 

Sehun dan kris mengikuti luhan untuk duduk ditempat pilihannya. Tak jarang mereka mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang melihat mereka. Mereka duduk dengan santai.

 

“Kris, ada apa? Kau mencari sesuatu? Atau seseorang?” Luhan penasaran melihat tingkah kris yang tidak biasa.

“Hyungdeul, kalian ingin pesan apa?” Tanya sehun.

“Yang seperti biasa saja” jawab kris.

 

Sehun memberi isyarat ke penjual makanan langganan mereka yang langsung disambut anggukan.

 

“Eh itu kan gadis yang waktu itu!” Ujar sehun kemudian, kris dan luhan langsung mengikuti arah pandangan sehun.

 

Luhan: “Oh yang bertanya ruang dosen itu ya? Kau masih ingat saja, sehun-ah”

“Tentu saja aku ingat, sekali lihat saja aku tahu kalau dia berbeda dari yeoja-yeoja di kampus ini” sehun meregangkan ototnya “huaah..dia adalah tipe idealku, hyung”

“Kau tidak cocok dengan dia!” Jawab kris ketus.

“Wae?” Tanya sehun tidak terima.

“Sepertinya dia juga tipe idealku, kalian lihatkan tampangku yang imut dan menggemaskan ini? Wanitaku harus seperti dia, cantik,tenang dan..” luhan menggantung kata-katanya “Mysterius. Agar saling melengkapi, iya tidak?” Serobot luhan.

“Tidak!” Jawab sehun dan kris kompak.

Luhan hanya tertawa melihat kedua sahabatnya itu.

“Tsk, bercandamu tidak lucu” protes kris.

 

Lalu mereka melihat raera yang sedang membawa nampan makanannya duduk bergabung bersama 3 pria, bisa dilihat 3 pria itu agak kaget saat melihat raera duduk dihadapan mereka.

 

“Siapa 3 namja yang bersamanya?” Kris penasaran.

“Penting kita tahu siapa mereka?” Balas sehun sekenanya.

“Ah paling namja terbelakang yang tidak populer” jawab luhan merendahkan.

Kris hanya melirik tajam raera dan 3 orang yang sedang bersamanya itu.

 

Uhuuuk, chanyeol tersedak saat raera duduk dihadapannya.

“Annyeong, raera-ssi” sapa jongdae.

“Annyeong”

“Kau tidak makan dengan saudaramu?” Tanya baekhyun yang mulutnya masih penuh dengan makanan.

“Dia bawa bekal” jawab raera singkat.

 

Kini baekhyun yang tersedak karena menahan tawa. Jongdae yang duduk dihadapan baekhyun langsung memberinya minum, karena raera disamping baekhyun ia mengelus pundak baekhyun agar baekhyun merasa lebih baik. Saat tangan raera menyentuh punggungnya, baekhyun tersentak dan terpaku beberapa saat karena ini kali pertama seorang yeoja memperlakukannya demikian selain eommanya. Tidak ada yang sadar kalau saat itu wajah chanyeol sudah panas dan nafasnya berderu tidak stabil menahan emosi.

 

“Wah raera-ssi, cincinmu sangat bagus” seru jongdae kemudian saat melihat cincin pertunangan raera dan chanyeol.

 

Raera memandangi cincinnya kemudian tersenyum.

“Terimakasih”

“Cincinmu…hmm sepertinya aku pernah lihat, tapi dimana ya? Aku lupa hehe” jongdae cengengesan.

 

Chanyeol menelan ludah lalu dia meneguk air mineralnya.

 

Tiba-tiba baekhyun menatap chanyeol penuh selidik seakan ia mengingat sesuatu dan ia sedang memastikannya.

Chanyeol yang menyadari ditatap baekhyun langsung tersedak air mineral yang ia minum. Dengan cepat raera memegang bahu chanyeol.

 

“Kau baik-baik saja?” Tanya raera.

“Gwenchana” jawab chanyeol sambil menepis tangan raera karena mengingat tangan itu habis mengelus pundak sahabatnya.

 

*

 

“Kau kenapa?” Tanya raera yang sedari tadi meyadari ada sesuatu yang aneh dari chanyeol semenjak makan di kantin.

 

Chanyeol menghentikan langkahnya yang lalu diikuti raera.

“Raera-ah, Ayo berkencan!” Ujar chanyeol tiba-tiba.

 

TBC

14 pemikiran pada “2 Reasons (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s