BSCC, Rainy (Chapter 2)

BSCC

BSCC (C2)

 

Chapter 2, Rainy

Main Cast        :  Byun Baek Hyun (EXO)

Choi Bo Ryung (OC)

Jeon Rinjani (OC-IndoKorsel)

Cast                 : Kim Him Chan (B.A.P)

Jeon Jeong Guk (BTS)

Mark Tuan (GOT7)

Song Ji Eun (SECRET)

Other               : OCs, Jeon Hyo Sung (SECRET) and Kim Seok Jin (BTS)

Rating              : T/G

Genre              : Slice of Live, Romance, Family, Friendship, Comedy (?)

Length             : Chapter

Author             : Evilyoung (@yorinjase)

Warming : Ini hanya sebuah cerita, tidak menyangkut sifat dan tempat kejadian. Typos? Maklumi, namanya juga manusia. Author juga manusia, punya typos punya khilaf.

-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-

Boryung’s POV

“Bagaimana konsernya? Daebak?” tanya seorang namja. Wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas. Suaranya pun tidak terdengar. Tapi, aku tahu, itulah yang dia katakan. Aku mengangguk dan tersenyum bahagia merespon pertanyaannya.

“Jeongmal daebak! Permainan biolanya sangat mengagumkan! Aaah! Seharusnya tadi aku berfoto dengan Vanessa Mae!” ujarku

“Kau juga bermain biola dengan sangat baik.”

“Hah?”

“Omong tentang Vanessa Mae, dia jadi pemain ski, kan? Tapi, dia tidak kehilangan bakatnya.” Namja itu menatap ke depan dan terus berjalan di sampingku.

“Ne! Dia jadi bintang tamu yang paling ditunggu-tunggu! Dia benar-benar luar biasa!” Aku berbicara dengan sangat semangat. Tanpa sadar, tangan itu menggenggam lembut tangan kananku. Sambil tersenyum, bibir itu mengeluarkan kata-kata yang membuatku tercengang, “setelah wisuda, aku akan menikahimu.”

“M.. Mwoya?” kagetku. Tiba-tiba saja, langit kota Seoul merintikkan butiran-butiran air. Dengan cepat namja itu menarikku dan membawaku pergi untuk berteduh. Ketika kami berlari, aku melihat seorang ahjussi yang tergesa-gesa menyeberang jalan yang saat itu memang sangat kosong dan lampu jalan untuk menyeberang tetap merah. Tanpa dia ketahui, sebuah amplop cokelat terjatuh di tengah zebracross.

“Ah, kamu duluan saja. Aku ada perlu.” Ucapku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Kamu mau kemana, Boryung? Hey!”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku berlari menuju amplop yang tergeletak begitu saja. Aku mengambilnya. Amplop itu hampir basah kuyup akibat hujan. Ketika aku berjalan menuju seberang jalan, suara begitu bising telah mengganggu telingaku. Dan.. benda yang melaju begitu cepat sudah mengacaukan kesadaranku.

“Boryung! Boryung! Choi Boryung! Sadarlah!”

“Boryung! Hey! Apa kau mendengarku? Ais, yeoja ini.”

Kubuka kedua mataku. Ruangan ini… aku… di BSCC?

“BOORYUUUUNNGG!!” teriak seorang namja tepat di telingaku. Tanpa basa basi, kucubit kedua pipi namja di sampingku itu dengan kekuatan penuh dan tanpa ampun.

“Byun Baek Hyun! Apa kau tau gendang telingaku bisa rusak hanya karena mendengar suaramu itu? Dasar pabo! Telingaku sakit! Pabo! Pabo! Pabo!” gerutuku

“Ya.. ya… aku…. Tau… appo!”

“Kalau kamu tau, kenapa masih teriak di telingaku, pabo!”

“Karena kau tertidur dan tidak bangun-bangun saat aku memanggilmu dengan suara yang biasa saja. Makanya aku teriak.”

“Kenapa kamu tidak membangunkanku dengan cara yang lain? Pabooo!!!”

“Bo.. Boryung-ah, sudahlah…” ucap Jieun-eonni sambil memegang tanganku. Aku segera melepas cubitanku dan membuang muka dari Baekhyun.

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau melakukannya lagi.” Kataku

“Siapa juga yang mau minta maaf?” celetuk Baekhyun

Namja ini…

“Baekhyun-ah, pipimu merah sekali. Cepat pergi ke dapur dan segera dikompres dengan es. Aku takut pipimu jadi bengkak.” Perintah Jieun-eonni

“Gamsa, noona.” Sahut Baekhyun yang sudah berjalan menuju dapur sambil memegangi kedua pipinya, “Oh ya, Boryung.”

Aku tau, Baekhyun berhenti melangkah dan memandangku. Tapi aku tidak mempedulikannya.

“Kenapa kamu menangis, saat mencubit pipiku?” tanyanya dengan dingin.

Aku segera menyentuh kedua pipiku. Basah. Aku? Menangis? Kenapa?

“Apa teriakanku sangat menyaring sampai telingamu sakit dan akhirnya kau menangis?’ tanyanya lagi

“A-ani! Sudah, urusi saja dirimu sendiri!” seruku seraya menghapus air mataku. Aku tau, namja itu tidak puas dengan jawabanku. Dia melanjutkan langkahnya.

Aku memandang ke langit di luar kaca BSCC. Gelap dan tidak ada yang bersinar di sana. Hanya terlihat air hujan yang jatuh dan disinari oleh lampu-lampu jalan. Tiba-tiba, bahu kananku terasa hangat. Langsung ku palingkan pandanganku.

“Jieun-eonni.” Ucapku setelah melihat yeoja cantik itu. Dia tersenyum dan segera duduk di hadapanku. Dengan tatapan yang lembut, dia bertanya, “Boryung, apa benar dulu kamu pernah mengalami kecelakaan?”. Aku tersentak kaget, “Bagaimana bisa eonni tahu?”

“Eommamu pernah bilang padaku.” jawabnya, “awalnya aku tidak penasaran dengan hal itu. Tapi, semakin aku memperhatikan tingkah lakumu pada Baekhyun, rasanya kamu sangat akrab dengannya. Makanya, aku sekarang ingin bertanya padamu. Apa kamu ingat kejadian sebelum kamu kecelakaan?”

“Kenapa tiba-tiba eonni bertanya tentang itu?”

“Aku hanya penasaran.”

“Lalu, apa hubungannya dengan namja menyebalkan itu?”

“Kalau kamu bisa mengingat kejadian sebelum kamu kecelakaan, aku akan menyimpulkan suatu hal.”

“Menyimpulkan… apa?”

“Yak, mana bisa aku bilang sekarang, Boryung-ah. This secret.”

Aku memanyunkan bibirku. Tapi karena aku tertarik, aku mulai mengingat-ingat. Sebelum kejadian kecelakaan itu… sebelum kecelakaan… aku… aku… tunggu… kepalaku berdenyut.

“Kepalaku sakit” gumamku

Author’s POV

“Hallo.”

“Hallo nak, gimana kabarmu?”

“Sehat, yah. Ayah gimana?”

“Ayah juga sehat.”

“Ibu gimana kabarnya, yah?”

“Sehat juga, nak.”

“Oh, syukurlah.”

“Kabar paman Himchan gimana, nak? Baik?”

“Sangat sangat baik, yah.”

“Bagaimana rasanya tinggal di sana? Bisa makan makanan daerah sana?”

“Biasa aja, yah. Enakan di rumah. Makanannya juga banyak yang nggak bisa aku makan. Paling hanya mie. Makanya, paman Himchan buatin aku makanan yang cocok untuk orang Indonesia.”

“Hahahahaha.. kasihan dong paman Himchan-nya. Seharusnya kamu yang masak biar tahu apa yang mau kamu makan, nak. Kamu kan sudah gadis, belajarlah memasak. Masa, anak gadis tidak pandai memasak.”

“Yaa, kalau itu sih aku bisa. Tapi masak untuk aku sendiri karena enak untukku sendiri.”

“Woh, gimana nanti kalau kamu punya suami? Nggak mau makan dia.”

“Masih lama untuk berpikir kesana, Ayaaaaah.”

“Berapa umur kamu sekarang? 16? 5 tahun lagi juga kamu menikah. Nah, gimana tuh?”

“Ayah~! Aku menikah kalau aku sudah selesai kuliah terus dapet kerja. Ini aja aku belum selesai sekolah. Hiatus 1 tahun pula, gara-gara memperlancar bahasa Korea.”

“Iya, iya. Ayah sudah dulu ya telponnya. Dari Indonesia ke sana bayarnya mahal. Jangan lupa makan. Yang benar belajarnya. Jangan nyusahin paman Himchan, ya. Kasihan dia. Jangan lupa beribadah. Doakan kami disini. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Kalau ada apa-apa, hubungi Ayah, ya nak.”

“Iya, yah. Ayah juga ya.”

“Iya, nak. Ya sudah. Hati-hati ya, nak.”

“Iya Ayah.”

Rin pun menaruh handphonenya di samping bantalnya.  Dia memandangi langit-langit kamarnya yang bercat putih. Tatapannya susah diartikan dengan kata-kata. Namun, ekspresinya menerangkan bahwa dia sangat rindu keluarganya.

“Ayah, kapan aku bisa pulang?”

Boryung’s POV

“Eonni…” panggilku pelan

“Ne?” sahut Jieun-eonni yang sudah berpuluh-puluh menit menungguku untuk bicara

“Mianhaeyo…” ucapku terhenti sambil memegangi kepalaku yang sudah sakit luar biasa. Aku rasa, keringat sudah mengalir dari kepalaku.

“Gwenchana, Boryung-ah. Tidak usah memaksakan diri. Aku tahu itu bukan hal yang mudah. Mungkin saja kamu bisa menemukan petunjuk jika kamu bertanya pada eommamu atau Baekhyun atau orang-orang di sekitarmu. Ah, atau aku yang melakukannya?”

“A-ani! Aku saja yang melakukannya!” bantahku

“Eoh?”

“Ah, hujannya sudah berhenti. Lebih baik eonni segera pulang. Oh ya, eonni pulang bersama Youngjae. Dia membawa motornya hari ini.”

“Ne. Kamu juga ya. Sampai rumah segera istirahat. Aku takut kamu kenapa-napa seletah berjuang mengingat-ingat.”

“Siap, eonni!”

“Eonni duluan, ne.”

“Ok!”

Jieun-eonni pun bangkit dari duduknya dan tersenyum padaku. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Aku rasa dia mengikuti saranku. Tak berapa lama, aku kembali mengingat-ingat. Namun semakin aku mencoba mengingatnya, semakin sakit kepalaku.

“Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadia sebelum kecelakaan?”

.

.

.

.

“Tulis namaku dengan benar, Agassi.”

“Aku tidak peduli dengan hal itu.”

“Baju yang kau pakai itu terbalik!”

“Apa yang kau lakukan dengan gambarku?!”

Chapter 3, J & R Interaction

5 pemikiran pada “BSCC, Rainy (Chapter 2)

  1. Next Thorr.. Jadi si Boryung itu kecelakaan thor? ohok.. Jadi Dimasa lalunya apa Hubunga si Boryung sama Baekhyun?
    Next, and Keep Writing 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s