Love Guarantee (Chapter 12 – END)

Love Guarantee (Chapter 12 –FINAL)

love guaranteee

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Hurt/Comfort

Length : Chapter // Status : Completed // Rating : PG-17

Main Casts : Choi Nayoung (OC),  Byun Baekhyun

Support Casts : Do Kyungsoo, Park Kyura (OC), Kim Jongdae

A.N. : Before reading, please check the rating first

Everyone is free to read this because I can’t clarify my reader’s age, right? But I’ve warned you, so if you find something uneasy, no bashing please.

 

===

 

Jongdae mengetuk-ngetukkan jarinya di bangku bawah pohon mapple dekat taman, menunggu seseorang. Ia tak tahu apa yang Nayoung katakan pada Kyura, namun itu pasti sesuatu yang cerdas karena akhirnya gadis itu dengan suka rela mau bertemu dengannya. Tak salah ia meminta bantuan teman barunya itu.

Sudah satu jam lamanya ia duduk dengan perasaan yang tak menentu. Bukan salah Kyura, karena Jongdae-lah yang datang satu jam lebih awal –tak sabar menyambut kedatangannya mungkin. Tak lama kemudian gadis yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Gadis yang tidak ia tunggu hanya dalam jangka waktu satu jam yang lalu, melainkan selama bertahun-tahun.

Senyuman ramah terulas di bibirnya tatkala gadis itu berjalan mendekat. Meski hanya dibalas dengan senyum tipis, namun ia sudah merasakan kebahagiaan yang terlampau tinggi. Lelaki itu menyapanya ramah dan mempersilakannya duduk bersebelahan dengannya. Keheningan tercipta, hanya suara angin dan deru kendaraan yang terdengar. Oh ya, jangan lupakan juga anak-anak kecil yang bermain disekitar sana.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyanya basa-basi.

“Baik. Kau sendiri?”

“Aku merasa luar biasa.”

“Umm… Mengenai waktu itu, aku minta maaf. Harusnya aku tak bersikap seperti itu padamu.” Tanpa menindaklanjuti basa-basi Jongdae, ia langsung masuk ke topik sebenarnya.

“Oh… I-Iya. Aku sudah melupakannya. Ngomong-ngomong, tentang waktu itu… Kau masih butuh penjelasanku?”

“Mungkin… Sedikit. Aku masih tak mengerti mengapa tak ada satupun anggota keluargamu yang memberitahuku tentang masalah sebesar itu. Aku sedikit kecewa mengenai itu.” Ungkapnya jujur.

“Itu karena… Kemungkinanku untuk selamat hanya beberapa persen. Orang tuaku bilang mereka merahasiakan ini dari semua orang, karena tak mau membuat mereka terlalu berharap akan keajaiban.”

“Benarkah? Maafkan aku yang terlalu berprasangka buruk. Aku benar-benar tak tahu mengapa aku jadi seperti itu.”

“Berhentilah minta maaf, ini semua bukan kesalahanmu. Sekarang kau percaya padaku kan?”

“Bukankah sejak dulu aku selalu percaya padamu?” Ucap gadis itu datar dan tanpa menoleh. Meskipun begitu, kalimat itu menimbulkan efek lengkungan manis di bibir lelaki itu.

“Terima kasih.” Katanya sambil menepuk puncak kepala gadis itu seperti dulu. Namun yang ia dapat bukannya sebuah wajah menggemaskan seperti beberapa tahun lalu melainkan tatapan datar.

“Jongdae, apa kau masih mencintaiku?”

“Mengapa bertanya? Tentu saja.”

“Apa kau yakin perasaanmu itu disebut cinta?”

“Aku tak mengerti apa maksudmu.”

“Kau yakin itu bukan hanya sebuah perasaan yang sebentar ada dan sebentar hilang? Suatu perasaan yang hanya bergejolak saat kau bertemu dengan seseorang.”

“Ya. Gejolak perasaanku memang berbeda saat ada kau dan tidak ada kau di sisiku.” Katanya santai membuat Kyura terhenyak.

“Saat kau tak ada, maka perasaanku akan bergejolak mencari-cari dimana kau. Karena aku selalu merindukanmu. Namun jika kau ada, perasaanku selalu bergejolak lebih keras. Sesuatu yang selalu mendorongku untuk mempertahankanmu di sisiku.”

“Maaf.” Satu kata tergelincir dari bibir Kyura. Membuat Jongdae mengernyitkan alisnya. Sudah ia katakan padanya untuk berhenti meminta maaf, namun rupanya tidak diindahkan sama sekali.

“Maaf telah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tidak pantas.”

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu? Kau satu-satunya yang pantas.” Kemudian ia genggam tangan gadis itu.

“Sebelumnya terima kasih atas semuanya. Tapi sekali lagi maaf, aku tak bisa mencintaimu sebagaimana perasaanmu padaku.” Jongdae mengendurkan genggaman tangannya, menanti kelanjutan kalimat itu.

Kyura menghela nafas panjang, mencoba mengurangi beban dalam sistem pernafasannya. “Setelah kau kembali dan bertemu denganku, setelah semua penjelasanmu, setelah semua sifat dewasamu yang kau tunjukkan selama ini, serta kalimat manismu barusan, aku sadar bahwa aku memang menyayangimu. Tapi bukan untuk sebagai kekasih, namun sebagai adik dan kakak.” Kyura memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap Jongdae.

Kenyataannya memang begitu, ia tak mencintai Jongdae melainkan menyayanginya sebagai kakaknya, jadi itu menutup kemungkinan untuk ia kembali pada lelaki itu. Mana peduli ia dengan perkataannya pada Nayoung semalam, karena sebenarnya itu hanya umpan agar Nayoung mau bertemu dengan Baekhyun. Untuk urusan selanjutnya, ia yakin Baekhyun bisa menyelesaikannya sendiri.

Jongdae benar-benar melepas genggaman tangannya, dan itu cukup membuat Kyura tahu bahwa Jongdae sangat kecewa padanya. Namun siapa sangka, disaat ia masih melihat ke arah lain, ia mendengar gelak tawa. Tawa yang sangat renyah dan familiar, milik Jongdae.

“Rupanya uri Kyura sudah dewasa. Akhirnya kau bisa membedakan apa itu cinta dan hanya sekedar menyayangi sebagai saudara.” Ia menepuk kepala Kyura sedangkan Kyura hanya menatap bingung.

“Mungkin dulu kau masih terlalu kecil untuk kujadikan kekasih. Hahaha. Tak apa Kyura adikku.” Sungguh, ucapan Jongdae yang terakhir benar-benar membuat Kyura tersenyum bahagia.

“Jadi kapan kau mengenalkanku pada lelaki beruntung itu, yang berhasil merebut hatimu, dan berhasil membuatmu jatuh cinta.” Lanjutnya masih dengan bulan sabit bertengger tulus di matanya.

Ini bukan mimpi, kan? Kyura sadar, ia tidak tidur, ia berada di dunia nyata. Dan lelaki bernama Jongdae yang tengah tersenyum di hadapannya benar-benar mengatakan itu padanya. Ia telah merelakannya. Bohong besar jika dikatakan Kyura tak menyayanginya, detik ini juga perasaan sayangnya terhadap Jongdae berkembang menjadi jutaan kali lebih besar. Gadis itu tak sanggup mengatakan apapun lagi, perasaan bahagia ini terlalu berbelit untuk ditransformasikan menjadi kata-kata.

Kini tak ada lagi tembok besar yang menghalangi Jongdae dan Kyura. Semua sikap tulusnya telah membuka hati gadis itu untuk menerimanya kembali. Meskipun tidak harus memilikinya, namun inilah yang berhasil ia capai, sebuah titik puncak perjuangannya dalam mendapatkan kepercayaan dari orang yang ia cintai. Dan ia bangga akan hal itu.

Dengan gerakan tiba-tiba Kyura memeluk lelaki di sebelahnya, sangat erat. Lelaki paling baik yang pernah ia temui, yang dengan sabar mau berjuang dan mencintainya. Ia merasa terhormat dapat dicintai oleh lelaki sebaik ini, namun sayangnya lelaki itu tak pantas mendapatkan cinta darinya. Ia akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari Kyura, suatu hari nanti.

 

===

 

Kejadian yang menimpanya belakangan ini benar-benar telah berhasil membuat otak gadis itu berpikir dengan keras dan membuat tubuhnya-pun ikut lelah. Seolah-olah terjadi secepat hembusan angin lalu, tapi nyatanya mampu membuat kehidupannya mengalami jungkir balik. Awalnya ia sempat berfikir setelah pergi maka ia akan terbebas dari semuanya, namun rupanya dugaannya meleset.

Sebentar lagi, dapat dipastikan beberapa menit lagi ia akan bertemu lagi dengan lelaki itu –Baekhyun, lelaki masa lalunya-. Di tempat yang menurutnya paling berkesan dan indah saat mereka menghabiskan waktu bersama beberapa waktu lalu. Pantai. Seharusnya mereka bertemu di dekat danau sekarang, namun moodnya berkata bahwa pantai mungkin jauh lebih tepat karena ia suka pantai dan mataharinya.

Ia duduk sambil merapatkan lututnya di atas pasir putih yang halus, serta meletakkan dagu di atasnya seraya menanti detik demi detik berjalan. Tak lama lagi senja tiba dan jantungnya makin berdegup dengan cepat membayangkan reaksi apa yang nanti akan ia berikan pada lelaki itu.

Sebuah langkah kaki terdengar mendekatinya disertai nafas yang menderu. Ia menoleh dan mendapati seorang Baekhyun yang berdiri tiga meter di belakangnya. Seolah tak mengacuhkannya, ia menghadap kembali ke depan. Baekhyun tanpa berkata-kata langsung memposisikan dirinya untuk duduk di sebelahnya.

Seperti yang sudah ditebak, mereka diliputi oleh suasana canggung. Nayoung masih menunggu perkataan yang harus ia dengarkan, sementara Baekhyun setengah mati melawan rasa gugupnya.

Membutuhkan waktu beberapa detik setelah Baekhyun menormalkan deru nafasnya dan mulai berucap, “Bagaimana kabarmu? Kulihat kau hidup dengan baik.”

“Begitulah.” Jawabnya disertai senyum tipis.

Ucapan singkat Nayoung mendorong Baekhyun untuk segera menghentikan basa-basinya, ia sadar, ini bukanlah acara mendekati seorang gadis. “Eum… Sebenarnya aku sudah pernah mengatakan ini dan aku juga yakin kau sudah mendengar. Tapi tak apa, akan kuceritakan lebih jelas.” Katanya kemudian berdehem, membersihkan tenggorokannya yang serasa tersumbat oleh sesuatu.

“Setelah kau dan….” Benar saja, Baekhyun menceritakan semuanya secara detail dan mendalam. Ia ingin meyakinkan Nayoung bahwa anggapannya selama ini salah. Baekhyun benar-benar masih setia padanya, dan kadar cintanya memang tak pernah berubah.

“Terima kasih. Maaf membuatmu menceritakannya lagi.” Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Nayoung, padahal sejujurnya ia ingin lebih. Ia ingin menanggapi penjelasan Baekhyun dengan lebih pantas (berbicara lebih panjang, misalnya), namun ia tak bisa. Ia tak tahu harus berkata apa.

Baekhyun adalah lelaki yang baik, bertanggung jawab, juga idaman semua wanita yang seharusnya termasuk dirinya, tapi nyatanya perasaannya belum berkehendak lebih. Meskipun dirinya telah mendengar penjelasan yang membuat hati sang pelantun cerita bertambah sakit, namun tetap saja, hatinya tak pernah berubah. Kalau boleh jujur ia memang menyukai Baekhyun, menyukainya sebagai teman.

“Itu sudah tugasku.” Baekhyun menggaruk tengkuknya, merasakan hawa canggung kembali menyelinap disela-sela mereka.

“Sangat indah bukan?” Tanya Nayoung pelan sambil menghadap ke depan, ke arah matahari yang semakin lama semakin menyembunyikan dirinya di bawah garis lurus.

“Ya. Sangat indah. Sama seperti waktu itu.” Keduanya terhanyut dalam pikirannya masing-masing, sama-sama memutar ulang kenangan saat mereka melakukan hal semacam ini.

“Baekyhyun, maaf saat itu aku berbicara kasar padamu.” Sesalnya.

“Ah… I-Itu bukan salahmu, mungkin aku yang terlalu membuatmu emosi hingga melakukannya.”

“Aku menyeramkan eoh?” Tanyanya malu-malu.

“Kalau boleh jujur… Sedikit. Hehe. Oh ya, selama ini kau bersembunyi dimana huh? Aku mencarimu hingga ujung dunia.” Katanya berusaha mencairkan suasana.

“Itu rahasia.” Katanya sambil tersenyum tanpa penekanan. Sebenarnya setiap perkataan mereka sejak tadi juga tanpa ada penekanan. Lembut namun mengandung makna yang dalam. Keduanya seakan sudah bisa memprediksi akhir dari pertemuan ini.

“Eum, aku ingin mengatakan suatu hal.”

“Katakanlah, aku tidak akan marah-marah seperti dulu.” Katanya disela senyuman.

“Haha. Ya, ya, terima kasih. Aku… Ingin bilang… Maaf. Maafkan aku karena selama ini aku seolah memaksamu utuk mencintaiku. Mentang-mentang dulu kau mencintaiku, maka sekarangpun kau harus mencintaiku juga. Aku tidak henti-hentinya melakukan hal agar kau dapat mengingat kembali, dan salah satu alasannya adalah karena aku ingin kau ingat bahwa kau pernah mencintaiku. Bukankah itu hal paling kekanakan yang pernah ada?” Baekhyun tertawa dan tak bisa disembunyikan bahwa matanya juga ikut tertawa, tertawa getir.

“Kau benar, tak ada jaminan perasaan seseorang masih tetap sama seperti sedia kala. Tentu saja waktu akan berkuasa merubah segalanya. Apalagi kau telah mengalami trauma. Bagaimana bisa aku tak menyadarinya sejak dulu. Yang kulakukan malah… Oh, tolong jangan ingatkan aku pernah melakukan tindakan itu. Memalukan, iya kan?”

Nayoung tercekat. Perkataan Baekhyun barusan benar-benar menikam dirinya. Jika dipikir-pikir, dirinya sangatlah jahat pada lelaki itu. Dulu kalau tidak salah, dan ya memang tidak salah, ia pernah berjanji ingin membuat Baekhyun bahagia, namun setelah memberinya harapan, ia malah mencampakkannya.

“Sekarang aku merelakanmu. Aku tak akan mengganggu hidupmu, tak akan mengusikmu, tak akan mengejarmu seperti orang gila, dan aku tak akan memaksa perasaanmu agar sejalan denganku. Yah… Mungkin aku akan menuruti permintaanmu dulu, yaitu berhenti untuk menunggumu. Karena aku tahu jika kau tak mencintaiku, maka kau tidak bisa. Tak ada satupun kekuatan yang berhak mengubah perasaan, kecuali orang itu sendiri.”

Sakit. Sakit sekali mendengar perkataan ini dengan lancar keluar dari bibir Baekhyun. Dadanya terasa sesak dan seperti ada sesuatu yang mendorong emosinya untuk berkoar. Harusnya hanya Baekhyun yang merasakan sakit saat kalimat-kalimat itu akhirnya muncul ke permukaan, namun nyatanya sakit itu juga terjadi pada Nayoung. Seperti virus, kalimat-kalimat itu telah melekat dan menempel dalam dirinya, menyerangnya, dan mengusiknya.

“Terima kasih banyak, karena kau sempat mencintaiku dan menjadi pengisi hatiku untuk beberapa tahun.” Nada kepasrahan berdenyut keras mengiringi lontaran kalimat Baekhyun. Kepalanya menoleh dan secara refleks gadis itupun ikut menoleh. Mereka berhadapan dan mata mereka terkunci satu sama lain. Masih. Lidah Nayoung masih terasa sangat kelu untuk mengucapkan barang satu kata.

Baekhyun mengelus rambut Nayoung lembut dan sebuah lengkungan indah bertengger di bibirnya, ia tersenyum sangat manis meskipun tak bisa dipungkiri jika ia memiliki tatapan yang sendu. Gadis itu, entah mengapa sangat menyukai sentuhan Baekhyun kali ini, sangat nyaman dan dapat ia rasakan sebuah kehangatan menjalar diantaranya. Belum sempat ia menikmati sentuhan itu lebih lama, lelaki itu berkata, “Setelah ini kau mau kemana? Rumahmu masih menunggumu.” Lelaki itu sedikit terkekeh.

“Eum… Akan kupikirkan lagi karena sekarang aku tinggal di tempatku bekerja.” Ungkapnya agak ragu.

“Oh… Baiklah. Tapi suatu saat aku akan melihatmu dari balkon kamarku lagi kan?”

“Ya. Kemudian kita akan menjadi tetangga sekaligus teman yang baik.” Kemudian keduanya tersenyum, menciptakan bulan sabit di bibir maupun di mata.

Perpisahan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan bukan? Seperti halnya setiap kehidupan yang selalu berdampingan dengan kematian, juga awal yang selalu ada akhir. Jangan pernah menyesalinya, karena suatu ciptaan tak mungkin ada yang kekal.

Baekhyun berdiri, berniat untuk pulang saat ini juga karena semakin lama berdiam diri seperti ini bersama gadis yang masih ia cintai, akan membuat mentalnya makin terganggu.

Gadis itu sedikit terkejut karena Baekhyun yang terkesan buru-buru, akhirnya iapun ikut berdiri. Ia menelan salivanya dengan susah payah, berusaha mengeluarkan kata-kata yang membuat tenggorokannya tercekat dan pikirannya kacau. “Baekhyun-ssi, terima kasih untuk semuanya.” Ia balik menatapnya dengan penuh penyesalan. Ia benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas ia masih merasa bersalah pada Baekhyun. Ia tahu, apapun yang ia lakukan tak pernah setimpal dengan segala sesuatu yang Baekhyun lakukan untuknya.

Baekhyun menggeleng sambil tersenyum, ia tatap kedua manik obsidian itu dengan penuh perasaan. Menelusuri mata itu, baru ia sadari ternyata memang ada sedikit perbedaan antara dulu dan sekarang. Pancaran saat ini jauh lebih redup, jauh lebih mati dibandingkan yang dulu, yang selalu cerah mewarnai harinya.

Tak ada yang tahu siapa yang memulai, namun jarak mereka saat ini amatlah dekat. Ada hasrat dari dalam diri lelaki itu untuk memeluknya. Daripada menelan kekecewaan, maka akhirnya iapun menurutinya, memeluk gadis itu dengan sangat erat. Mungkin ini terakhir kalinya ia dapat memeluknya dan rupanya dibalas oleh gadis itu, tak kalah erat karena mungkin ia akan merasa kehilangan sosok lelaki seperti Baekhyun. Cukup lama berada dalam posisi itu hingga Baekhyun lebih dulu mengakhirinya, karena ia tak ingin terlalu berlebihan terlarut dalam perasaannya.

Pandangan mata mereka kembali terkunci, secara lebih intens. Satu pasang mata penuh rasa bersalah juga kekecewaan serta satu pasan mata penuh dengan kepasrahan. Tanpa melalui kata-kata, mereka telah berhasi menciptakan suasana yang manis. Ya, perpisahan yang manis.

Baekhyun hanyalah lelaki biasa. Lelaki yang terlalu biasa dan tak luar biasa, karena ia tak lagi bisa menahan gejolak dari dalam dirinya. Matanya menelusuri setiap inchi wajah gadis itu dan waktu serasa terhenti saat matanya tertuju pada bibir merah muda mungilnya. Secara perlahan ia mendekatkan wajahnya dan menutup matanya. Tak butuh waktu lama bagi bibir mereka untuk bertemu. Gadis itu, tak mengerti kenapa dirinya tak memberontak. Ia sama sekali tak melawan melainkan ikut memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan bibir Baekhyun yang terasa lembut dan hangat. Ia membiarkan Baekhyun mengambil alih semuanya. Memepercayakan apapun kepadanya.

Terasa lembut dan manis, itulah Baekhyun bagi Nayoung dan Nayoung bagi Baekhyun. Sayang sekali ini adalah ciuman perpisahan, tak mungkin keduanya bisa merasakannya lagi.

Sebuah cairan hangat tiba-tiba menetes di pipi Nayoung. Ia sempat berfikir bahwa itu adalah hujan, namun ia keliru. Baekhyun yang selama ini ia kenal sebagai lelaki cerewet dan ceria, kini menunjukkan air mata di depannya, bahkan hingga mengenai wajahnya. Ia metutup matanya lagi, hatinya sakit melihat pemandangan semacam itu. Semakin membuat dirinya merasa bersalah dan tak berguna.

Meskipun diselingi oleh air mata dan gejolak perasaan yang luar biasa, sentuhan Baekhyun di bibirnya sama sekali tak menunjukkan emosi yang meletup-letup, melainkan sangat halus dan memiliki iramanya sendiri. Sebut saja itu nafsu karena bukankah setiap manusia mempunyai nafsu? Jika tidak, maka ia tak mungkin menciumnya bukan? Namun kali ini bukanlah nafsu yang jahat. Baekhyun bisa mengontrolnya, dan ia yakin lelaki itu tak akan menyakitinya. Keyakinan penuh itulah yang menjadi dasar mengapa ia membiarkan lelaki itu melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya muncul tepat di depan mata Nayoung yang tengah tertutup. Cahaya putih yang berkedip dengan amat cepat dan menyilaukan, seperti lampu proyektor yang langsung diarahkan ke depan matanya. Kedipan secara random dan sangat cepat itu berhasil membutakan matanya untuk sejenak, mebuatnya kehilangan penglihatan. Namun ternyata, kilatan cahaya itu membentuk sesuatu yang masih samar untuk ditangkap. Ada yang ingin ditunjukkan oleh cahaya itu.

Nayoung, satu-satunya yang melihat dan mengalaminya merasa terhisap ke dalam dimensi cahaya yang entah berasal dari mana itu. Dirinya terombang ambing diantara ruang dan waktu. Jika saja ia tak memegang dada Baekhyun sebagai tumpuan, dan tangan Baekhyun yang menopang punggungnya, mungkin ia akan jatuh ke tanah.

Disana. Tepat di depan matanya. Sosok laki-laki yang ia kenal, tengah tersenyum padanya dengan senyuman yang sangat indah, seolah memaksanya untuk membalas senyuman itu, serta menarik dirinya untuk mengikuti kemana langkah sang pemilik senyum.

Kekuatan kilatan cahaya itu semakin memperlihatkan kekuatannya, membuatnya semakin dalam terhisap. Setelah ia merasakan bagaimana rasanya terombang-ambing, berputar-putar tak tentu arah, dan ditarik oleh sebuah tangan yang membawanya dengan kecepatan tinggi, akhirnya ia menemukan bahwa dirinya tengah berdiri di sebuah jalan kecil.

Ia menoleh ke kanan dan mendapati Baekhyun berjalan di sebelahnya dengan mengenakan seragam sekolah, lelaki itu menunjukkan sesuatu yang menggelikan di depan wajahnya, sebuah siput beserta lendirnya. Yikes! Kemudian secara mendadak setting berganti menjadi saat ia dan Baekhyun mengerjakan PR bersama di rumahnya, lelaki itu sama sekali tak bisa fokus pada buku melainkan pada muffin buatan ibunya. Tak mau berlama-lama lagi, setting berpindah lagi saat ia dan Baekhyun menertawakan sesuatu di sela-sela kegiatan belajar bersama. Perpindahan setting secara tiba-tiba terus saja terjadi dan menarik dirinya kesana-kemari. Sekarang dirinya dan Baekhyun sedang main bulu tangkis di pinggir lapangan, namun beberapa detik berikutnya ia dan Baekhyun bermain perang bola salju di halaman belakang, kemudian saat Baekhyun memberinya hadiah, ia dan Baekhyun mengambil selca di dalam rumah pohon, ia dan Baekhyun mencuci sepeda bersama, menulis nama mereka di pohon, makan es krim bersama, membuat kue bersama yang harus berakhir dengan saling melempar tepung, memberi makan anjing yang kelaparan di jalan berdua, menjahili tetangga bersama, dihukum nenek Baekhyun bersama, memilih kado untuk teman mereka bersama, naik bus dan duduk bersebelahan, kehujanan di halte bersama, serta kejadian lain yang terlalu cepat hingga menyerupai sebuah kilatan belaka. Semua yang ia lihat di hadapannya hanyalah Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun.

Ada sebuah kekuatan. Sebuah kekuatan sihir atau apalah itu namanya, yang membuat kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat itu dengan mudahnya terekam dalam otaknya sekaligus terpatri dalam hatinya. Sangat mudah. Semua kegiatan itu sederhana, namun sangat berkesan dan mengandung makna yang dalam. Ia tidak dapat menyebutkannya satu-satu secara lisan, namun entah mengapa hatinya merasa tahu segalanya.

Baekhyun tak sadar bahwa ia sudah mencium Nayoung terlalu lama, ia merasa agak berlebihan dan mungkin ini saatnya untuk mengakhiri segalanya. Namun saat kepalanya mundur untuk melepas tautan itu, ia tak menyangka Nayoung akan berjinjit seolah tak akan membiarkan ciuman itu berakhir sekarang. Baekhyun yang merasa aneh akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke posisi semula –mencium gadis itu dengan penuh perasaan. Meskipun ia tahu, semakin lama ia menciumnya, maka semakin sulit pula merelakannya. Tapi itulah resiko yang mau tidak mau harus diterimanya.

Lain Baekhyun lain juga dengan Nayoung. Hingga kini dirinya masih terusik dengan kilatan cahaya misterius itu. Sangat mengganggunya sekaligus membuatnya bertanya-tanya karena setiap cahaya itu muncul, maka dirinya akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dalam waktu yang berbeda, pakaian yang berbeda, namun pelakunya sama, hanya ia dan Baekhyun. Anggap saja cahaya itu telah memberikan kekuatan teleportasi padanya, dan ia mengajak Baekhyun turut serta.

Raganya berada disana –di pantai bersama Baekhyun-, namun jiwanya melayang ke dimensi kemana cahaya itu membawanya. Sekarang ia sudah sampai pada saat ia dan Baekhyun berpelukan di depan rumahnya, saat mereka saling lempar pandang ketika mengerjakan PR di balkon, ketika ia membuatkan kue untuk Baekhyun, bermain kejar-kejaran di pantai, bermain ciprat-cipratan air, dan yang terakhir ia dan Baekhyun berciuman di tepi pantai.

Persis seperti sekarang.

Tepat pada saat itu kedipan cahaya kecil mulai bertransformasi menjadi lebih besar. Semakin membesar, membesar, dan meluas memenuhi pandangannya. Tak cukup sampai disana, cahaya itu masih terus saja berkembang hingga pada akhirnya mencapai ukuran maksimumnya. Secara mengagetkan cahaya itu berhamburan menyerupai sebuah ledakan. Ledakan yang amat besar. Ledakan itu menghantamnya dengan sangat keras, membuatnya terpental dan terombang-ambing lagi di udara namun kali ini jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Kepalanya terasa sakit akibat putaran-putaran itu, sarafnya menegang, dan tubuhnya serasa lumpuh tak mampu menopang apapun.

Baekhyun tak mengerti apa yang terjadi pada gadis ini, karena yang dilakukannya saat ini adalah semakin menekan bibirnya hingga membuat Baekhyun satu langkah mundur ke belakang. Memang ialah yang memulai, namun sungguh bukan ini yang ia inginkan. Pasti ada sesuatu yang salah.

Sekiranya Nayoung harus berterima kasih pada Baekhyun, karena jika lelaki itu tidak segera melepas tautan bibir mereka, maka ia akan terus berputar-putar dan terlempar kesana kemari di dalam ruang dan waktu itu, dan ia bisa saja ia mati disana.

Dengan terputusnya kontak antara mereka, kini jiwanya telah kembali, bertemu dan bergabung dengan raganya yang masih dalam keadaan lemah mengumpulkan kesadaran. Raga seseorang yang sempat memiliki nama Choi Nayoung.

Namun mulai sekarang dan selamanya, panggil dia Han Eunji.

Han Eunji yang selalu tersenyum dan disukai banyak orang karena keramahannya, Eunji yang hidup di tengah-tengah keluarga yang harmonis –meski sekarang hidup sendiri-, dan Eunji yang memiliki kekasih terbaik di seluruh dunia bernama Byun Baekhyun.

Baekhyun agak cemas karena gadis itu terlihat tidak sedang baik-baik saja. Setelah ia melepas ciumannya, kepala gadis itu langsung jatuh kebawah, nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur di pelipisnya, wajahnya pucat, dan hingga saat ini masih dalam kondisi memejamkan mata. Jika saja Baekhyun tidak cekatan memegangi kedua bahunya, maka dikhawatirkan gadis itu akan ambruk ke tanah.

‘Nah kan. Aku terlalu berlebihan.’ Rutuknya dalam hati.

“Nayoung-ssi?” Panggilnya pelan. Namun yang dapat ia dengar hanya deru nafasnya dan gadis di depannya yang saling bertabrakan.

“Nayoung-ssi?” Ulangnya kemudian.

Tiba-tiba gadis itu membuka matanya secara perlahan, “Tolong, jangan panggil aku Nayoung lagi.” Katanya menyerupai bisikan. Baekhyun mengerutkan kening tanda tak mengerti. Dulu ia sendiri yang bilang lebih suka dipanggil Nayoung dibanding Eunji, namun sekarang berubah lagi? Oh, berapa nama yang ia punya? Batinnya.

“Karena namaku Eunji.” Otak Baekhyun masih blank saat gadis itu mengatakannya dan senyum tipis terulas dari bibirnya.

“Tapi dulu kau bilang-“

“Hyun, panggil aku Eunji.” Ia mendongak dan matanya langsung mengincar mata Baekhyun, membuatnya hampir tersedak oleh salivanya sendiri. Satu-satunya orang yang memanggilnya Hyun adalah Eunji –sebelum trauma-. Saat ia jengkel maka ia akan memanggilnya dengan berbagai sebutan seperti Bacon, Gogi, Bebek, dan Hyun. Baekhyun amat membenci panggilan Hyun, maka dari itu Eunji terus melafalkannya untuk menggodanya.

Satu lagi pertanyaan, darimana ia bisa tahu sebutan itu? Padahal ia yakin seratus persen di dalam buku harian tak ada sebutan Hyun tertulis. Kecuali…

“Eunji?” Tangannya bergerak secara perlahan menuju ke titik yang ia inginkan, pipi kiri gadis yang dicintainya. Sebenarnya ia ragu untuk melakukan hal ini, namun ia akan menanti reaksinya.

Beberapa detik berselang namun terasa amat lama bagi Baekhyun, serasa menunggu selama bertahun-tahun. Tangan kiri Eunji mulai menunjukkan kerja syarafnya, mulai bergerak naik ke atas dan terus ke atas lalu berhenti di atas punggung tangan Baekhyun yang masih menempel pada pipinya.

“Jangan terlalu lama, nanti aku kebakaran saking panasnya pipiku.” Ucapnya sambil terkekeh.

SAMA PERSIS!

Tak bisa dibendung lagi, perasaan Baekhyun benar-benar membuncah dan ingin meledak saat ini juga. Eunji telah kembali. Kembali ke dalam kehidupannya, bersedia mengisi hari-harinya, dan tentu saja, akan menjadi bagian hidupnya untuk selamanya.

Tak bisa dipercaya namun ini benar-benar terjadi. Sihir itu bekerja saat Baekhyun –lelaki paling baik di dunia- menyentuhnya dengan sentuhan paling menyenangkan dan menimbulkan sensasi. Haruskah ia mempercayai cerita dongeng tentang ciuman cinta sejati? Siapapun yang mengarang kisah-kisah konyol itu, ia yakin mereka adalah orang-orang hebat.

Tak tahu harus bagaimana lagi, Baekhyun refleks memeluk gadisnya. Gadis yang selama ini ia tunggu kehadirannya untuk mengisi kekosongan hidupnya. Ia sempat meragukan keajaiban, namun ia mengalaminya sendiri. Ia bersumpah setelah ini akan selalu berada di sisinya, menjaganya, melindunginya, tak pernah membiarkan ia pergi kemana-mana. Karena dia adalah Eunji, Han Eunji yang untuk sekarang dan selamanya akan menjadi cinta sejati Byun Baekhyun.

 

———–

 

I love you not because of who you are, but because of who I am when I’m with you.

 

Siapa aku? Bukan siapa-siapa. Tapi saat bersamanya, aku adalah wanita yang kaya raya. Kaya akan cinta, kasih sayang, serta ketulusannya yang tak pernah berhenti mengalir hanya untukku. Ya dia memang agak keras kepala, dia tak akan pernah berhenti sebelum aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, dan kemudian kami akan tertawa bersama.

Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Tapi saat bersamanya, aku adalah wanita paling serakah karena terus meminta kehadiran dan sentuhan hangat darinya. Tak perlu diragukan lagi, dia adalah lelaki paling romantis yang pernah kutemui di dunia ini. Well, dia suka memberiku banyak hal, namun hal yang paling kufavoritkan adalah kehadirannya disini, di sisiku.

Siapa aku? Kubilang aku bukan siapa-siapa. Tapi saat bersamanya, aku adalah wanita yang membuat wanita lain iri, karena aku memiliki kekasih terbaik sepanjang masa. Uhm… Dia itu berisik sekali ya. Dia suka berbicara sekenanya, ngawur, dan terkadang lupa topik apa yang sedang dibahas. Begitulah, dia adalah lelaki yang akan menghiburku sampai kapanpun dengan celotehannya yang kadang kurang bermanfaat. Tapi aku menyukainya! Tak peduli kapanpun dan dimanapun, dia akan selalu menyalakan mood-meter untuk memastikan apakah aku sedang senang atau sedih. Dan dia akan selalu berjaga disana untuk menaikkan tensi mood ku.

Siapa aku? Bukankah sudah kubilang, aku bukan siapa-siapa. Tapi saat bersamanya, aku yang dungu mulai percaya bahwa kekuatan cinta itu sangatlah besar, dan abadi. Ya, seperti janjinya. Menjaga cintanya sejak dulu, kini, dan berani menjaminnya hingga mati. Ia sudah bersumpah bahwa cinta kami tak akan terpisah sampai kapanpun, karena dia sendiri yang memberiku sesuatu hal yang amat besar dan menyertakan sebuah kartu. Aku tidak bohong, itu memang sebuah kartu. Sebuah kartu garansi cinta yang berlaku seumur hidup.

 

 

===END===

 

 

Selesai… ENG ING ENG~~~

Adakah yang kurang puas dengan endingnya? 12 chapter itu pendek ya? Aku kira udah panjang loo, soalnya aku bikinnya pas masih latihan buat ff yang panjang-panjang. Ahihi mau bagaimana lagi lagian aku udah gak punya ide lagi. Udah kepentok disini TT_TT

Dan yang biasnya Baekhyun~ selamat bancaan dalam hati. Yang biasnya Jongdae, gapapa ya, manusia ini baik banget dan patut disayangi. Terus yang biasnya Kyungsoo, maaf ya dia sama sekali gak muncul di dua chapter terakhir. Mau aku suruh apa dia disini? Lagian ini juga buat menebus kesalahanku sama Baekhyun sih, ceritanya kan dia main cast cowok gitu, tapi kok berasa cuma jadi cameo di beberapa chapter ya??

Kalian yang katanya suka kalau Nayoung sama Kyungsoo aja, maaf ya, aku sama sekali gak ada niatan dan gak kepikiran sama sekali buat menyatukan mereka. Jadi tolong dukung saja hubungan Nayoung dan Baekhyun yakk 😀

Oh iya. Makasih banget-bangetan buat kalian yang udah ngikutin ff ini sampe end~~

 

deinda   fauziastuti   icloudsseistable   prenges   ekayeobochen   vanessa anindiati   nesia   Lizzykai  denitamega   26yeolie   Milky Twilight   Kyungsoo27   baeksekyung24   mappleaf  zigly_icha (@ziglyicha1)   sharashara750   leehayoo   april   Hyekkuma   Choi Min Young   liya   nikke_sow   mee-icha   나디라   dianm maulini   Cha Yoon Hee   Ririz XOXO   lisa   JZM   cremebrule678   Choco   BBack_chessemaroo   denitamega   chando   iditoshan   dein   bbuing   cassandras   ananda septiana   bergober aka Kak Berlian   ditha   gamerihyun   babykyungxoxo   Cha Yeon-Ji 120902 ^^   annin-chan   Suharnila   Chika Dhe Cholla   ns58   mariana   exoticnps   yyo82   Byunbaconn   esti fatur   byun21   qiray   100Light   Lusi Nurhafiza   soe amy   Onlycjz   Azmi Onew K-Pop   Erni Astuti   findoetsz   Risbudi Andini   jungnayoon   SyawwJaeger   Tha   rizkyfadilladwi   Kim Ji Soo   annysafebryan25   Fitri

 

Atau masih ada yang belum aku sebutin? Sini protes aja sama aku gapapa hahaha. Tapi aku harap udah ketulis semuannya. Makasih banyak buat dukungan kalian, ff ini gak ada apa-apanya kalau gaada kalian yang sumpah baiiik banget. Aku tau ini gak sebanding sama komen-komen kalian yang sangat awesome dan membuat aku senang, tapi aku nulis ini tulus kok hihihihi. /hayah/

Kemudian para likers yang selalu menyempatkan diri menekan like button aku juga sayang banget sama kalian.. Makasih yaa~~

Oke, sekian dari aku… Kalau ada sesuatu hal yang bikin kalian tersinggung atau kecewa maafkeun saja yah. Sampai jumpaaa~~~

LOVE YOU ALL ❤ ❤ ❤

Iklan

37 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 12 – END)

  1. Authooor tanggung jawab karna udh ngebuat aku gak mau lepas dri ff ini! Aaah suka banget neomu joahae :3 endingnya dapet banget.. 100 jempol! ^^

  2. aigooo happy ending… sempet kepikiran si eunji gak bakal sama byunie hhuhuh nice! tapi kenapa end huhuhu aku jafi sedih… aku malah pengen baca baekhyun side nyya waktu di tinghal nayoung kan di cerita kurang detail tuh.. tapi keseluruhan ff nya bagus kkkk~ waktu nayoung ketemu jongdae aku sempet kepikiran kiraiin ada karakter baru lagi.. aku sih ngarepnya Luhan.. soalnya luhan banget.. tapi ternyata jongdae kkkk~ dunia sempit kkkk~
    kepp writing deh buat author nya kkkk~ hwaiting ∩__∩

  3. wuoaah
    keren banget ceritanya, klo ada kata yg bersrti lebih dari banget aku pake deh,,
    hehe
    makasih ff ny seru,, semangat terus nulis nya 🙂 kamh berbakat 🙂

  4. Halo kak, salam kenal..
    Maaf cuma bisa ninggalin jejak di chapter terakhir, aku suka sama ff ini..
    Itu aja..
    Maaf gak bisa komen banyak..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s