Phobia (Chapter 11)

Phobia 

(Chapter 11)

phobia1288

Title: Phobia (Chapter 11)

Author: Kim Ria

Genre: Romance(?),School life,Friendship

 Length: Multi Chapter

Ratting: 13+

Main Cast: Jung Ga In | Woon Jin Ah | EXO (K&M) | Oh Yoo Hyun |Choi | Ginggo

 

Gain membuka matanya perlahan, ia mngusap-usap matanya lalu bangun dari tidurnya. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangannya. Ia tercengang saat melihat korden jendela kamarnya sudah terbuka sangat lebar dan pintu kamarnya juga terbuka. Ia memiringkan kepalanya karena ia sudah tahu satu fakta, bahwa ia tak akan terkurung selamanya seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Walaupun senang karena bibi Choi tak menguncinya tetap saja ia tak akan melangkahkan kakinya keluar kamar sebelum pikirannya sudah lebih tenang.

Gain memutuskan untuk kembali membuat dirinya sebagai putri tidur, ia kembali berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya yang sangat besar itu. Ada satu alasan besar ia memilih untuk melanjutkan tidurnya, yaitu untuk melupakan sejenak masalahnya itu.

Bibi Choi mengintip keadaan Gain dari balik pintu kamar Gain, ia hanya memandang Gain dengan cemas. Lalu melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Gain, saat melihat Gain kembali tenggelam ke dalam selimutnya.

(Pukul 13.25)

Tap..Tap..Tap..

Gain melangkahkan kakinya menuruni tangga, setelah berpikir 20 kali. Ia memilih untuk keluar dari sarangnya, karena sudah jenuh di dalam kamarnya tanpa melakukan apa-apa kecuali memikirkan bagaimana keluar dari masalahnya itu. Saat Gain berjalan pelayannya terus menanyainya ia pergi kemana, namun Gain tak membalas apapun dan beruntungnya tak ada bibi Choi saat itu. Ia bisa aman dari sejuta pertanyaan dan pergi dengan tenang.

–***–

(Di luar)

Walaupun ada banyak  masalah, Gain berusaha setenang mungkin menghadapinya. Ia menikmati jalan-jalan siang ini. Matahari terik, langit biru dan cuacanya yang cerah sangat mendukung jiwanya untuk menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Memang jiwanya sudah sanggup sedikit tenang tapi, pandangannya tetap kosong saat tengah berjalan-jalan.

Perjalanan Gain terhenti saat melihat Yoohyun tengah berjalan-jalan juga dengan naik di atas anjing besar di bawah Yoohyun. Itu sangat jelas jika tubuh Yoohyun benar-benar kecil dan menggemaskan. Gain tersenyum kecil dan memutuskan untuk menghampirinya setelah ia membeli lollipon untuk namja kecil itu.

Setelah membeli lollipop, Gain mendekati Yoohyun yang sedang duduk di bangku taman yanga da di depan toko kue, sedangkan anjing besarnya tengah tidur di samping Yoohyun.

“Annyeong…” sapa Gain sambil duduk di samping kanan Yoohyun. Mendengar ada yang berbicara, Yoohyun langsung menoleh dan bibirnya tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang.

“Gain noona!” pekik Yoohyun sambil merambat kepangkuan Gain. “Wua..Lollipop…” kata Yoohyun takjub saat melihat 2 lollipop di tangan Gain. Tanpa mengulur waktu, Gain langsung memberikan 1 lollipop ke tangan Yoohyun.”Gomawo..” ucap Yoohyun senang, ia langsung menjilat lollipopnya itu. Gain yang melihat Yoohyun sibuk dengan lollipopnya, ia ikut menikmati lollipopnya sendiri. Sehun. Jika Yoohyun disini. Apa ada Sehun? Pikir Gain sambil menatap Yoohyun.

Mengingat nama Sehun, membuat Gain menjadi dihantui oleh masalahnya sendiri lagi. Gain langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, Ani, ani, ani…Disini aku ingin membuat hatiku tenang bukannya menambah-nambahinya…… batin Gain.

Melihat Gain yang menggeleng-gelengkan kepalanya tak jelas, Yoohyun membuka mulutnya.

“Noona kenapa?”tanya Yoohyun. Gain langsung berhenti menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah Yoohyun sambil menahan rasa malunya karena ia tak menyadari jika tingkahnya di perhatikan oleh Yoohyun.

“Mmm..Ani..” jawab Gain sambil tersenyum tipis.Yoohyun mengernyitkan dahinya, ia mengangkat sedikit tubuhnya agar kepalanya bisa sejajar dengan Gain.Yoohyun menggigit lollipopnya dan menjaganya agar tak terjatuh dari mulutnya lalu, kedua jari telunjuk Yoohyun menarik bibir Gain agar terlihat tersenyum lebih lebar.

“Ah, noona itu lebih cantik jika tersenyum lebar…” kata Yoohyun sambil meringis dan menunjukkan deretan gigi kecilnya.Gain tercengang dengan perlakuan Yoohyun, kali ini ia sangat senang karena masih ada cahaya kecil yang masih bersinar di tengah kegelapannya itu, Oh Yoohyun. Jika saja jika ia benar-benar adikku yang aku lihat setiap hari, dan menjadi penghapus semua masalah yang sudah terlanjur kucoret di hatiku..Pasti aku akan menjadi manusia paling beruntung. batin Gain.

“Noona, kenapa noona disini? Tidak sekolah?” tanya Yoohyun kemudian. Gain membulatkan matanya dan menelan ludahnya.

“Aku, sekolah hanya pulang lebih awal…. Aku hanya ingin menenangkan diri saja Yoohyun…” jawab Gain sambil tersenyum. Yoohyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Noona! Ayo kita jalan-jalan dengan Ginggo!” ajak Yoohyun sambil turun dari pangkuan Gain. Yoohyun menarik-narik tali Ginggo agar Ginggo bangun, setelah bangun anjing itu turun dan agak menunduk agar Yoohyun naik di atasnya. Seperti tadi, Yoohyun berada di atas Ginggo. “Kajja noona, ini talinya..” kata Yoohyun sambil menyerahkan tali anjingnya pada Gain. Gain mengangguk lalu menerima tali itu dan merekapun berjalan-jalan dengan 1 teman baru, Ginggo. “Ginggo, kajja,kajja,kajja…” kata Yoohyun sambil menepuk-nepuk tubuh besar anjingnya itu.

(Taman)

Yoohyun terus berlari sambil menjilati lollipop besarnya yang tak kunjung habis itu sambil bermain kerjar-kejaran dengan Ginggo. Sementara Gain hanya duduk di bawah pohon, ia duduk sambil menekuk kedua lututnya dan memeluknya.

“Katakan padaku! Apa hubunganmu dengan Gain!” “Argh! Bisakah kau bicarakan ini baik-baik?!! Dan apa hak mu bertanya seperti itu eo? Kau hanya mencari masalah jika sikapmu seperti ini!!” “Hey, dengar aku. Sepertinya dia menyukaimu sedangkan kau sama sekali tak membalasnya.. Apa yang akan kau lakukan jika dia seperti itu?” Dan kau juga harus perlu tahu sesuatu jika aku akan lebih sakit jika melihat kau seperti ini.”  Gain menggeleng-gelengkan kepalanya saat ingatan itu mulai mngehantui pikirannya kembali. Andwae…Andwae… Gain memegangi kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Apa kau menyayangiku?” “Lalu, diantaran semua siapa yang paling berharga dan kau sayangi selain eomma, appamu dan JinA?” …Andwae, andwae, andwae!!!!  Gain masih memegangi kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya, namun kini ia seperti orang depresi. Karena ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak jelas.

“Dan namja ini…Juga membantuku untuk menyiapkan semua ini untukmu, dan…Sebagian besar usahanya, bukan usahaku.” “Di…Dddd..Dii…Dia.. Mmm..Llll..Lu….Luhan…..” PLAK!!! Andwae…..Andwae.. “Hiiks..Hiks..Hiks..Hiks…Hiks..Kkkau..Kkau…Nappeun namja!!!!  Kkk…Kau..Hiks..Sama sekali tak memikirkan perasaan…Hiks..Hiks..Orang lain..Hiks..Hiks..Orang macam apa kau ini eo?!!! Hiks..Hiks..Hiks..Apa kau tahu bagaimana rasanya di bentak sahabat terdekat padahal aku sudah susah payah memberinya hadiah terbaikku??Hiks..Hiks..Hiks..Apa kau tahu rasanya benar-benar bersalah pada orang lain karena tak dapat membalas perasaannya padahal ia begitu tulus???Hiks..Hiks..Hiks..Apa kau tahu rasanya, saat orang yang kau percayai pergi begitu saja dan tidak memberi kesempatan untuk berbicara, menjawab pertanyaannya??!!!Hiks..Hiks..Apa kau tahu itu eo?!!! Hiks..Hiks..Hiks..Hiks…” Andwae… Hiks..Hiks.. Andwae…. Gain menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menahan dengan sekuat tenaga untuk membendung air matanya. Dan ia langsung mengusap matanya saat matanya terasa benar-benar perih. Saat mendengar suara Yoohyun dan Ginggo mulai mendekat, Gain langsung mengatur posisi duduknya dan membuat wajahnya terlihat senormal mungkin, dan tak lupa memberikan senyuman hangatnya saat Yoohyun menghampirinya.

 

–***–

(Rumah Sehun)

“Guk!Guk!Guk!”

“Hyung!!” panggil Yoohyun dengan keras. Sehun yang asyik mendengarkan lagu lewat i-Pod di halaman rumah, tak membalas apapun sapaan adiknya itu.Ginggo berjalan mendekati Sehun, setelah sampai barulah Yoohyun turun. “Hyung… Aku diberi lollipop enak ini, lalu tadi bermain juga di taman kota dan juga Ginggo…. Seru sekali hyung!” cerita Yoohyun. Sehun mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan cerita Yoohyun tadi.

“Ya, bisakah kau bcara dengan benar? Siapa yang kau maksud itu eo?” tanya Sehun sambil medekatkan wajahnya pada Yoohyun lalu jari telunjuk mendorong kepala Yoohyun.

“Mmm..Slurp, slurp.. Itu..Slurp..Gain noona…”jawab Yoohyun santai dan masih sibuk dengan urusan lollipopnya. “Satu lagi hyung.. Slurp..Slurp, Gain noona mengatakan jika ia tengah menenangkan diri, habis aku gemas melihat Gain noona  melamun dan menggeleng-gelengkan kepala tak jelas…Slurp!Lalu aku tanya lagi, apakah Gain noona berangkat sekolah atau tidak…Slurp,slurp, slurp.. Gain noona menjawab jika ia berangkat sekolah tapi ia bilang ia tengah sembunyi karena ingin sendirian….Slurp! Aku tak begitu mengerti dengan apa yang di jawab Gain noona…Slurp,slurp..” lanjut Yoohyun.

“Kenapa kau bertanya jika sekolah atau tidak padanya?”selidik Sehun.

“Karena Gain noona bisa keluyuran saat  Sehun hyung belum pulang sekolah…Dan..Slurp,slurp,slurp..Wuaah.. enak sekali!!”

“Ya! Jawab yang benar!” ucap Sehun yang kesal dengan Yoohyun yang terus bicara tanpa menyudahi menjilat lollipopnya.

“Mmhh..Slurp, slurp! Dan wajah Gain noona terlihat sangat sedih saat aku bertanya kenapa melamun, lalu mimiknya agak aneh saat menjawab tentang sekolah itu hyung!” lanjut Yoohyun. Setelah ucapan Yoohyun selesai, seperti ada batu besar yang tepat jatuh di kepalanya. Gain? Bersama Yoohyun???Aishh.. Kenapa aku iri?Dan, menenangkan diri?Apa Gain sters memikirkan cara untuk meminta maaf untuk dengan Baekhyun eo? Sebegitu besarkah ia merasa bersalah?  pikir Sehun. Sehun menjauhkan wajahnya lalu pegi masuk ke dalam rumahnya membiarkan Yoohyun sibuk dengan lollipopnya dan Ginggo yang sibuk menggaruk tubuhnya.

–***–

( Keesokan harinya, Hwangdoong High School)

“PRRITT!!!”  suara wasit meniupkan peliutnya dengan lantang.Semua pemainpun berhenti di tempatnya suasana hening sesaat. Namun beberapa detik kemudian menjadi riuh. Sorak para penonton dan pemain menggema di lapangan tersebut. Seluruh pemain kelas 11 saling merangkul dan meloncat-loncat kegirangan.

Ya, pertandingan sepak bola antara kelas 11 dan 12 yang kedua kalinya. Akhirnya mendapatkan hasil. Dengan kelas 11 yang mendapat skor tertinggi yaitu, 3-1. Perlahan rangkulan mereka merenggang, lalu mereka saling berjabat tangan.

“Haahh…Kali ini…Haah..Haah…Aku benar-benar merasa menjadi pemain..Haaah..Sepak bola saat bertanding dengan kelas…Haaah…Haah..12…” kata Luhan sambil mengusap keringatnya yang ada di daerah lehernya dengan handuk kecil.

“Hahahaha…Ne, kau benar.” timpal Baekhyun lalu meneguk air mineralnya.

“Ya! Kemenangan melawan kelas 12 harus di rayakan.Apa kalian punya pendapat eo?” tanya Chanyeol tiba-tiba datang sambil merangkul Baekhyun dan Luhan.

“Eung? Pesta?” ulang Baekhyun sambil menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol menganggukkan kepalanya. “Hmm… Geurae sepertinya menyenangkan.Lebih menyenangkan jika pesta ini semua kelas 11 datang.. Wuahh…Aku tak bisa bayangkan bagaimana ramainya.”kata Baekhyun yang diikuti oleh anggukan kepala Luhan dan Chanyeol.

“Eii… Apa kita punya uang untuk membuat pesta eo?”tanya Luhan kemudain. Chanyeol dan Baekhyun terdiam menerungkan perkataan Luhan tadi.

“Eeeung….. Kau benar, ya Chanyeol! Apa kau punya uang banyak?” tanya Baekhyun. Chanyeol hanya meringis.

“Hehehe… Ani…” jawab Chanyeol tanpa berdosa. Baekhyun dan Luhan menatap Chanyeol kesal, karena mau mendengarkan ide bodohnya itu. Dengan kompaknya, Luhan dan Baekhyun menjitak kepala Chanyeol. Lalu berlalu begitu saja meninggalkan Chanyeol. Sementara Chanyeol yang masih mengusap-usap kepalanya yang mendapat jitakan keras tak menyadari hilangnya Baekhyun dan Luhan. Ia baru menyadari saat mengangkat kepalanya. “Mwo?! Ya!! Kalian..Aish… Kemana mereka?? Ya!! Baekhyun!!!Luhan!!!!”

–***–

(Perpustakaan)

JinA membaaca buku dengan sampul yang besar agar bisa menutup wajahnya.Ia juga membaca buku besar itu di pojok perpustakaan yang paling belakang dan duduk di bawah. Jika bertanya apa yang tengah JinA lakukan, jawabannya adalah menghindar. Ya, ia tengah menghindar dari Suho yang terus memintanya untuk mengikuti perlomabaan tennis.

Tap…Tap…Tap..

Suara langkahan kaki mendekat. JinA sontak menjadi merinding dan menghentikan aktifitas membacanya, jika itu benar Suho ia akan mati. Karena sudah tak mendapat kesempatan untuk berlari lagi. Yang bisa lakukan hanya memperdalam kepalanya ke dalam buku sambil berdoa agar sebuah keajaiban datang padanya.

Tap..Tap..Tap..

Suara langkah kaki itu menjadi tambah keras, dan terus mendekat.Ya tuhan..Jebal, orang ini bukan Suho..Jebal..Jebal..Jebal.. batin JinA.

Tap…Tap…. ……..Tap.Tap.Tap.Tap.

JinA mengangkat kepalanya dan mengangkat satu alisnya karena merasa aneh dengan suara langkahan kakinya. Awalnya suara itu menjadi lebih keras lalu berhenti, dan ada suara langkahan kaki lagi yang sepertinya tengah berlari mendekat.

“Wae? Ada 2 orang?” gumam JinA. JinA mencoba memberanikan diri utntuk mendekati suara tersebut. Ingin mencari tahu siapa orang itu dan apa yang sedang mereka bicarakan.

“Hhhh..Haahh…Sehun, apa kau…Haah… Lihat JinA?” tanya Suho. Sehun menggeleng.

“Apa kau tak lihat eo? Aku baru saja selesai bermain sepak bola lalu kemari. Memang ada apa?” tanya Sehun balik. Suho menepuk jidatnya.

“Aigoo…Aku mencarinya untuk memintanya untuk mengikuti lomba tennis….Haah..Geurae aku akan cari yang lain. Gomawi Sehun…” ucap Suho pasrah. Lalu ia membalikkan badannya dan berlari kecil keluar pepustakaan. Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan akhirnya menemukan yeoja yang tengah menguping. JinA mengangkat kepalanya lalu menyengir kuda. JinA bangkit dan menggaruk-garuk kepalanya kikuk.

“Hehehe…Gomawo telah menyelematkan aku….” ucap JinA. Sehun hanya menganggukan kepalanya malas, karena orang yang ia cari tak ketemu. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan JinA. JinA yang tak percaya jika Sehun malah pergi hanya menatapnya bingung. “Wae? Lalu ia kemari untuk apa? Ia sama sekali tak memegang buku??”pikir JinA. Ia memiringkan kepalanya lalu mengangkat bahunya, tanda ia tak mengerti.

–***–

Sehun terus berjalan mengelilingi sekolah, di setiap sudutnya ia selalu memeriksanya. Kepalanya terus ia garuk karena mulai cemas dengan orang yang ia cari tak kunjung ketemu.Ada 1 dorongan yang membuatnya sangat mencemaskan Gain.Sudah 2 hari ia tak masuk sekolah dan sama sekali tak bertemu dengannya dan juga saat ingat bahwa Yohhyun bertemu dengan Gain dan bercerita padanya panjang lebar. Hatiku semakin tak tenang jika memikirnya…Aku jadi cemas jika ia terlalu memikirkan masalahnya itu…Aigoo….Apa kau bersembunyi sekarang eo?Apa kau benar-benar berangkat??  Pikir Sehun.

Setelah 10 menit lebih mencari, Sehun mulai lelah dan memutuskan untuk beristirahat di tempat paling dekat dengan tempatnya sekarang,yaitu bangku taman yang ada di dekat gerbang sekolah. Kenapa tak ada? Apa dia bohong? Yoohyun bilang mimiknya menjadi anehkan? Aissh…. Kenapa aku terus memikirnya seperti ini…. keluh Sehun sambil mengacak-acak rambutnya.

Trriingg…

Ponsel Sehun berbunyi, Sehun langsung membuka ponselnya dan membaca pesannya.Ia mengernyitkan dahinya saat melihat jika yang memberi pesannya adalah eommanya. Sehun, sekolah Yoohyun libur. Eomma juga kebetulan ada janji dengan teman lama eomma, Yoohyun bosan di rumah jadi nanti eomma akan mengantarkannya ke sekolahmu… Tak apakan? Sehun menepuk jidatnya.

“Aigoo…Yoohyun…Aisshh…..”

–***–

(Rumah Gain)

Gain bertopang dagu di jendela besar yang ada di kamarnya. Ia menatap bosan pemandangan yang sama 2 hari terakhir ini yang  ada di luar jendela kamarnya, hanya terdengar hembusan nafas panjang saja yang keluar dari mulut Gain.

Pikirannya kini seperti benang kusut yang tidak bisa di perbaiki lagi untuk menjahit. Ia selalu kepikiran masalahnya sendiri, dan mengecap pikirannya menjadi beban hidup terberatnya. Rasa kecewa, kesal , penasaran, bersalah bercampur menjadi satu. Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku mmebuang rasa kesalku dan memperbaiki hubunganku dengan mereka semua??? Bagaimana?? Aku tak tahan sendirian..Aku butuh mereka…Hhh..Aku benar-benar bodoh…. batin Gain.

Ceklek!  Kreek…….

Tiba-tiba pintu kamar Gain terbuka, sontak Gain langsung menoleh dan melihat siapa yang datang. Bibi Choi keluar dari balik pintu, ia membawa nampan yang di atasnya ada semangkuk sereal dan segelas susu. Bibi melemparkan senyumnya kearah Gain, sedangkan Gain hanya menatap bibi Choi dengan bingung. Gain menggeser tempat duduknya untuk memberikan tempat untuk bibi Choi.

“Nona…Bibi bawakanmu sarapan, nona makan ya?” pinta bibi Choi. Gain menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya, ia masih takut menatap bibi Choi yang menjadi korban amukannya kemarin malam. “Wae? Kenapa tak mau? Dan, kenapa nona membolos?Ini sudah hari kedua nona membolos…” tanya bibi Choi lagi.Gain hanya diam sama sekali tak menjawab pertanyaan bibi Choi. Sementara bibi Choi, masih belum menyerah untuk menanyai Gain. “Apa…Nona punya masalah?” Gain menganggukan kepalanya dengan lemas. Bibi Choi terdiam dan memandang Gain dan tersenyum lembut. Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan seorang ibu, bibi Choi membelai rambut Gain.

“Jika masalah nona bersangkutan dengan teman nona, sebisa mungkin bersikap biasa ne? Seolah tak ada masalah, jika merasa bersalah meminta maaflah sesuai cara nona. Lakukanlah dengan cara terbaik nona sendiri.Tetap lakukan hal yang sama secara terus menerus atau lebih baik dari sebelumnya, jika teman nona itu masih marah dengan nona ne?Coba saran bibi ini digunakan jika nona benar-benar ingin berdamai dengan teman nona..” saran bibi Choi.Bibi Choi tersenyum lembut melihat Gain. Bibi bangkit dari duduknya dan melangkah ke ambang pintu kamar Gain. “Jangan lupa makan sarapanmu nona…” ucap bibi Choi lalu menutup pintu kamar Gain. Gain mengangkat kepalanya dan menatap mangkuk sereal dan segelas susu itu dengan malas.

“Hhhhh….Bukankah masalahku ini tak masuk akal?” gumam Gain.”Apa aku harus melakukan saran eomma? Apakah berhasil?Bersikap dan meminta maaf? Apa aku bisa?”ucap Gain sambil terus menancapkan pandangannya pada sarapannya itu.Setelah diam seperkian detik kemudian, ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang terus berbunyi itu.

–***–

(Di luar)

Gain memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodienya, sesekali ia berjalan sambil menendang-nendangkan batu kecil yang ada di depan kakinya. Pikirannya tak habis-habis memikirkan solusi dari masalahnya sendiri. Terlebih masalah itu melibatkan orang-orang terdekatnya.

“Hhh….. Ah, ice cream!” Gain tersenyum lebar, karena secara tidak sadari ia sudah berjalan sampai di depan kedai ice cream kesayangannya. Hanya yang berbeda, tak biasanya kedai ice cream kecil ini punya pelanggan yang memakai mobil hitam mewah yang terpakir di depan kedai ini.

Saat kaki-kaki Gain memasuki kedai itu tiba-tiba saja ada yang menarik-narik celana jeansnya. Gain menurunkan pandangannya dan ia melihat namja kecil yang tengah memakan ice cream coklat dan daerah bibirnya penuh dengan sisa coklat yang menempel di sana. Gain berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan namja kecil ini. Gain meraih saku celananya yang seingatnya ada saputangan di dalam sana.

“Ya, Yoohyun. Kenapa berantakan sekali??” tanya Gain sambil mengusap lembut daerah bibir Yoohyun. Sedangkan Yoohyun, ia memajukan tubuhnya agar Gain bisa membersihkan mulutnya itu.”Datang dengan siapa?” tanya Gain. Yoohyun yang masih menikmati ice cream coklatnya dengan polosnya menunjuk wanita yang sedang ada di meja kasir.

“Eomma.” Jawab Yoohyun dengan polos. Gain membulatkan matanya, Eomma?! Aigoo….Apa aku bertemu dengan Iii..Ibbbu….Ibu Sehun?? Kejut Gain. Gain secara refleks langsung berdiri saat nyonya Oh atau lebih tepatnya ibu Sehun berjalan ke arahnya, lebih tepatnya dia dan Yoohyun.Dengan sopan Gain memberi salam sambil membungkukkan tubuhnya. Nyonya Oh juga membalas sapaan hormat Gain.

“Ah, apa ini Gain. Yoohyun?” tanya nyonya Oh sambil memandang anaknya yang terus makan ice cream dengan lahap.

“Mm!” Yoohyun menganggukan kepalanya. Sementara Gain hanya membalas dengan seyuman canggung. Rasa malu dan gugup perlahan menyelimuti rapat hatinya.

“Sepertinya kau anak baik, kau juga cantik dan manis. Sehun juga pernah menceritakanmu saat kau di tempat penitipan anak dan mengenai tentang novelmu yang terkenal itu….. “ Gain hanya bisa diam mematung dan membiarkan pipinya memerah karena menahan malunya. “Haha, kau juga pandai mendekati anak kecil. Berapa umurmu?” tanya nyonya Oh.

“Euum..16 tahun..Te..Ter..Terima kasih atas pujiannya..” kata Gain sambil membukukkan tubuhnya lagi.

“Aigoo..Rupanya masih muda sekali kau juga pemalu ne? Kau terlalu formal sekali, jika terus membungkukkan tubuhmu. Ah ne, kenapa tidak berangkat ke sekolah?” tanya nyonya Oh lagi.

DEG!

Gain memutar otaknya dengan keras untuk mencari alasan yang tepat dan logis untuk menjawab pertanyaan dari nyonya Oh, dan akhirnya ia menjawab,

“Ah itu..Karena…Karena, hari ini aku tidak mengikuti pertandingan apapun.” Jawab Gain sambil tersenyum semanis mungkin menyembunyikan kebohongannya itu.Nyonya Oh tersenyum karena mengerti dengan jawaban Gain. Nyonya Oh mendekati Gain dan mengusap lembut rambut Gain sesaat lalu menatap gadis kecil ini.

“Kau anak sangat baik, semoga kita bisa bertemu kembali anak manis…. Yoohyun, kajja. Kita masuk mobil.” Kata nyonya Oh lalu tersenyum, Gain membalas senyum nyonya Oh dan menatap nyonya Oh dengan Yoohyun sampai mereka masuk ke mobil.

Setelah mobil hitam itu sudah jauh, Gain menghela nafasnya panjang sambil mengusap-usap dadanya. Aigoo…. Rasanya jantungku mau copot…. Kenapa bisa-bisa bertemu dengan ibu Sehun di saat seperti ini?….Hhhhh…. batin Gain.

–***–

(Hwangdoong High School)

“Hyung!!!!!!!”

Sehun yang tertidur di bangku taman dekat gerbang sekolah langsung membuka matanya dan menegaakkan tubuhnya. Ia mengusap-usap matanya dan mulai memfokuskan penglihatannya ke arah gerbang sekolah. Akhirnya setan kecil ini datang…. batin Sehun.

“Hyung!!” Yoohyun langsung memeluk Sehun dengan sangat erat. Di tengah-tengah ia memeluk Sehun, dengan sengaja Yoohyun mengusap noda ice creamnya di pakaian sepak bola Sehun itu.

“Ya! Kau mengotori baju berharga ini!!” kata Sehun sambil melepas tangan Yoohyun dan mendorong kecil Yoohyun agar menjauh darinya. Sehun mengalihkan pandangannya pada ibunya yang berdiri di samping mobilnya yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sehun melambaikan tangannya dan membalas senyumannya. Setelah Sehun melambaikan tangannya, nyonya Oh langsung masuk ke dalam mobilnya dan menancapkan gasnya dan pergi dari tempatnya tadi.

“Ya… Tadi aku bertemu Gain noona… “ kata Yoohyun sambil bersusah payah untuk naik ke atas bangku taman dan menata posisi duduknya.Sehun langsung menoleh ke arah Yoohyun dan membulatkan matanya.

“Benarkah?? Dimm..Dimana kau bertemu??App..App..Apakah dia bertemu dengan eomma????” tanya Sehun dengan gelagapan karena ia pasti akan sangat malu jika eomma bertemu dengan gadis berharganya itu.

“Mm..Kedai ice cream… Eomma memuji-muji Gain noona.Ah ne! Tadi Gain noona membersihkan mulutku! Hehehe…” kata Yoohyun sambil menunjuk bibirnya. Sehun hanya diam menatap adiknya itu, entah ada angin apa yang melewatinya tapi yang ia rasakan hatinya berkata padanya bahwa secepat mungkin ia harus bertemu dengan Gain dan meminta maaf padanya.Sudah kuduga dia bohong, kenapa aku semakin cemas dengannya eo? Dan kenapa aku menjadi bersalah saat meninggalkannya begitu saja saat aku di rumahnya..?Apa aku benar-benar perlu minta maaf eung?? Aigoo…. Pikir Sehun. “Hyung…..” Sehun langsung tersadar dari lamunannnya.

“Wae? Kau kemari mau apa eo?” tanya Sehun sambil bangkit. Yoohyun langsung mengikuti Sehun dan meraih tangan besar kakakknya. Dan menjawab pertanyaan Sehun dengan mengangkat bahunya dengan lemas. Sehun yang mendapati adik kecilnya yang biasanya cerewet menjadi merasa aneh. “Wae? Kau sakit?” tanya Sehun. Yoohyun mengangkat kepalanya.

“Ani…Aku hanya ingin bermain dengan Gain noona….Ternyata malah bertemunya tadi. tidak disini.. Jadi, tidak bisa bermain lama….Huuhh…”

Aissh…Kenapa anak ini eo? Hanya Gain saja di dalam pikirannya… Sama sepertiku saja….  Eee??….. Aissh! Batin Sehun yang kesal sendiri dengan dirinya.

Suasana sunyi perlahan menyelimuti kakak beradik ini, hanya angin semilir dan daun yang telah mengering berjatuhan dari pohonnya yang menemani mereka. Merasa tak nyaman, Sehun menghentikan langkahnya dan berjongkok di hadapan Yoohyun. Lalu memasang senyum khasnya itu.

“Ya, kau mau bermain dengan teman-temanku? Kau pasti suka, jika tak mau kita ke ruang musik..Kau mau kan?” tawar Sehun. Yoohyun tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Wua… Aku mau!!! Kajja,kajja,kajja! Kajja hyung!!” Yoohyun menarik-narik lengan Sehun dengan manja, sementara Sehun, ia bernafas lega akhirnya adiknya kembali normal dan tidak pendiam.

–***–

“Slurpp….” Baekhyun menyedot minuman milkshakenya sambil berjalan mengelilingi sekolah. Agar tak bosan, ia sambili dengan bersenandung kecil.Menyanyikan lagu dari girls band pujaaannya itu. Ia menatap langit biru sambil tersenyum kecil. “Hmm..Bukankah ini langit yang cerah? ” gumam Baekhyun, dan tak sengaja memorinya memutarkan adegan-adegan sebelumnya yang membuat Baekhyun tersenyum tak jelas lalu wajahnya menjadi sangat menakutkan karena tak menyukai kejadian hal itu,

“Uggghh.. Kau ini minta di apakan eoh?! Kau minta di cium eoh?!” “Terserah kau pasti tak ak..”  “Lihat, aku tak main-main! Jika kau kembali mengelak kau ben…Aaa..??”

“Mmpphh…”Baekhyun tersenyum-tersenyum sendiri saat mengingat jika ia mencium Gain dan juga di saat mereka bertengkar yang sesungguhnya,

“Baekhyun.. Aku tahu sesuatu darimu walaupun kau sama sekali tak mengatakannya…” “Aku sangat mengerti jika kau tak memaafkan aku…Kau tahu, aku sering membaca novel bergenre romance. Banyak sekali cerita yang memuat adegan seperti ini. Dan itu membuatku tahu betul, jika kau sangat sakit…..Dan kau juga harus perlu tahu sesuatu jika aku. Jika aku, akan lebih sakit jika melihat kau seperti ini. Sudah cukup masalahku dengan JinA…Aku tak mau masalah ini kembali melibatkan perasaanku lagi….Kumohon..Ak..Aa..Aku akan melakukan apapun untukmu…Aku berjanji, asal kau akan memaafkanku…”

 Sicca? Apa kau lebih sakit? Apa kau sakit jika hatiku juga tersakiti? Apa artinya ini kau menyayangiku? Sungguh menyayangiku??  Pikir Baekhyun.  Ia menjambak-jambakkan rambutnya dengan tangan kirinya dengan kasar lalu tangan kanannya membantingkan kasar minuman milkshakenya. Ia kembali mengangkatkan kepalanya dan menatap langit. Bagiamana ini? Apa yang harus kulakukan?? Aku menjadi khawatir padanya…..Bagaimana ini? Aku juga masih..Sangat sayang padanya, tak peduli ia menganggapku teman biasa atau apa…Tapi, aku benar-benar menyayanginya….Aku tak bisa jika saling diam dengannya seperti ini terus….Bagaimana ini?

“Bagaimana ini..?? Apa aku harus seperti ini terus?Menjauhinya seperti dulu sebelum masalah tadi malam??Aku rindu padanya..Bagaimana pun juga, dia itu  adikku…”

Baekhyun langsung mencari sumber suara itu, karena ia tahu betul pemilik suara itu. Dengan hati-hati Baekhyun duduk di bawah semak-semak dan mendengarkan dengan intens, apa yang sedang mereka bicarakan.

–***–

***Next(?)

[[Buat para readers, Minta bantuannya buat ngasih kritik sama saran,. Hehehe^^ maaf kalo banyak typo di sini.. Dan ceritanya makin gak jelas.. Hehehe, #peace! (‘-‘v 😀 ]]

Nb: Saya butuh sekali komentar kalian… Karena ini membantu untuk tahu apakah para readers ini suka atau tidak dengan ff pertama saya ini…Jika komentar sedikit, saya gak mau lanjut…. Gomawo.. J buat yang minta GaHun moment dan JiHan-nya diperbanyak, kayaknya belum bisa. Karena ini udah jadi alur tetap deh.. :3 mianhae, tapi saya coba sebaik mungkin di chap selanjutnya… 😀

Buat Syawwjaeger yang udah nanya di chap 8… yang sukses buat bingung, -_-

  1. kenapa jinA nya kok kisah cintanya nggak di ceritakan juga? Gain nya disukai sama banyak cowo perasaan :v greget thor ntar jadi poliandri dong/? *ditabok author*
    Aku jadi curiga jinA itu yuri/? Ocidak O.O
    Wwkkwk :v

=) JinA di ceritakan kisah cintanya? Disini yang diceritakan Gain, bukan JinA… :3 JinA gak yuri kok, 😀

  1. Kan katanya gain jijik tuh sama adegan ciuman, kenapa pas pipinya di cium, emosinya malah turun? Rada bingung tuh :v

=)Ingat kalimat ini, ‘bibir Baekhyun tersa lembut saat mendarat di pipinya. Gain menggeleng-gelngkan kepalanya saat mulai tersadar’ nah merasa jijiknya, waktu ia sadar kan? :3 dan karena terpesona (eh?)+jijik kayaknya gk mungkin kalo di bikin emosinya naik.. hihi.. maaf kalo gk suka ._.v

3. Kenapa gain bisa phobia sama petir? Aku masih tetep kepo dari chapter awal :v wkwk

=) Hehehe oke deh, aku usahaiin ada penjelasannya… Kalo gk bisa di chap selanjutnya, ya kapan-kapan #gebukin orang sekampung

Kalo banyak yang baca ini, nanti di lanjutin tentang phobianya itu. Mungkin di phobia II?? Tunggu ajalah.. 😉

Mian baru jawab… L

WARNING!!!

___________________________________________________________

Bocoran, mungkin chap selanjutnya, adalah chap terakhir ff saya. (chap 12) dan akan lebih panjang dari chap 10 dan 11… kira-kira jika di MS Word ada 16 halaman… Jadi siapkan mata segar (?) tunggu ne?! Jadi mohon kesetiaan redaers…

___________________________________________________________

Kira-kira capek gk sih kalo baca sepanjang itu? Tahan gk? Apa masih setia baca ff ini? saya belum bikin blog, karena takut gak ada yang baca… X_X kira-kira kalo saya bikin, readers mau baca gk? Mau dipromosin gk ya? …. Hahaha.. bercanda :p TOLONG JAWAB NE?!! GK JAWAB, GK LANJUT

Iklan

13 pemikiran pada “Phobia (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s