Revenge Of The Psychopat (Chapter 5)

Revenge Of The Psychopat

 (Chapter 5)

Author                         : Nurfadeer @nurfa_chan

Genre                          : Psychology, Gender Bender,Angst, Romance, Death Fic.

Main Cast                    : Xi Luhan, Wu Fan

Supporting cast           : Member EXO, Yuri (Girl Generation)

Rate                             : NC-21

Length                         : Multichapter

WARNING

FF ini berisikan kekerasan, adegan diatas 17 tahun yang dijelaskan secara detail, dan beberapa hal yang tidak patut dicontoh lainnya.

FF ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjelekkan salah satu member EXO.

Author ngingetin lagi, tolong baca warning ini sebelum membaca FFnya. Lebih detail dimana adegan 17 tahun ke atas, author letakkan dichapter 2, 3 dan 5. Bagi yang tidak suka, belum cukup umur (termasuk author) bisa langsung tekan back.

Ingat! Dichapter ini ada adegan diatas 17 tahun keatas.

Jika ada kesamaan ide, harap maklum. Mohon Kritik dan saran. 😀

Happy reading!

 

Previous chapter

Keduanya berhenti di depan pintu besi besar. Cahaya lilin di belakang menjadi latar belakang betapa ruangan itu sangatlah gelap. Perlahan Kris memasukkan kunci ke lubangnya, memutar kenop pintu dan sesuatu dari sana menyergap tubuh Luhan yang nyaris beku. Saking takjubnya, Luhan sampai mengerjapkan matanya beberapa kali.

Chapter 5

Ruangan itu bernuansa putih. Dengan sesuatu yang belum jelas ada apa di dalamnya, Luhan berpikir itu adalah kulkas raksasa dengan pintu besar dan berderit saat terbuka. Tepat di samping pintu sebelah kanan−dari penerangan remang yang ada−ia menyipitkan mata dan melihat alat pengukur suhu yang menyatakan bahwa suhu ruangan itu minus 10 derajat. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya sendiri ditangan Kris.

Kris menoleh padanya sekilas, menariknya cepat dan merapatkan ke tubuhnya yang hanya memakai boxer. Refleks, Luhan terkesiap dan hampir beringsut mundur. Di situasi seperti ini, Luhan tetap merasakan sesuatu yang buruk, entah kenapa. Padahal ia sendiri hanya mampu menundukkan kepala. Tidak ingin mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah bersliweran karena penasaran.

Saat keduanya−tiga dengan kantong mayat Suho−masuk ke dalam, Luhan langsung menoleh pada Kris.

“Untuk apa kita kesini?” tanya Luhan. Menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan bernuansa putih itu. Bongkahan es besar berjejer di kanan kirinya. Selapis es itu terlihat putih pekat bukan lagi transparan seperti umumnya. Mungkin bukan hanya warnanya yang pekat, tapi bongkahan es itu seperti membungkus sesuatu.

“Meletakkan laki-laki ini di sini.” Kris melempar kantong plastik ditangannya. Sambil berjongkok, ia melepaskan pelukannya pada Luhan sekaligus membuka kantong plastik itu. Bau busuk memang belum menguap keluar. Hanya bau anyir khas darah yang masih membuat Luhan tak percaya bahwa potongan tubuh Suho sedang diletakkan di kiri tempatnya berdiri. Luhan melompat ke kanan selangkah.

Kalau Suho diletakkan di sini, apa mungkin korban Kris yang lainnya berada di sini juga?

“Kau lihat itu?” Kris menunjuk bongkahan es dimana lapisannya tidak terlalu pekat−berpikir mayat itu pastilah baru diawetkan baru-baru ini. Luhan menyipitkan matanya dan berjalan mendekat.

Seperti potongan tubuh seseorang. Seseorang yang tidak asing. Luhan berjengit ngeri.

“Dia… dia manusia.” Ia tergagap. “Kau membekukan mayat-mayat ini? Semua ini?” Luhan bertanya tidak sabar.

“Hmmm,” Kris menyeringai. “Tapi bukan itu yang ku maksud. Coba lihat siapa orang itu!”

Luhan menyentuhkan jari-jarinya ke lapisan es. Kekagumannya tadi berubah total menjadi ketakutan yang lagi-lagi membuat bulu roman berdiri. Ketika matanya menangkap satu ciri mencolok pemilik tubuh dalam bongkahan es itu, ia memekik keras. Tubuhnya limbung dan terhuyung ke belakang.

Kris dengan cepat menangkap sikunya. “Kau tidak lupa dengannya, kan? Katakan sesuatu Luhan, pasti dia sangat ingin mendengar suaramu.”

Mata Luhan membelalak ke arah Kris. Menghujaminya dengan pandangan menusuk.

Dengan tenang Kris melepas siku Luhan dan melipat tangannya di depan dada. “Jangan melihatku seperti itu. Kalau kau ingin menerkamku di sini, mungkin dia akan sangat sedih melihat pacarnya bercinta di depan matanya sendiri. Orang yang sudah mati itu harusnya…”

PLAK

Tamparan keras mendarat mulus di rahang keras Kris. Kris menggelarkan tawanya sebelum mendecih disisinya.

PLAK

Kembali sebuah tamparan melayang. Kali ini Kris yang melakukannya. Membuat tubuh mungil Luhan terdorong ke lantai.

Selama beberapa saat keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu pun Luhan yang memegangi pipinya. Sama sekali tak merintih walaupun dari bibirnya meneteskan darah. Ia sendiri tidak menyangka kalau ia sudah terbiasa dengan rasa darah sekarang. Kris pernah berbuat yang lebih dari ini hanya dengan cumbuannya yang ganas. Atau yang lebih parah, lidahnya pernah digigit hingga indra pengecap itu terus meneteskan darah. Membuatnya hanya makan melalui selang infus. Sampai separah itukah? Tentu saja. Kalau Kris mau, Kris bisa membunuh Luhan hanya dengan satu taring giginya.

“Awas! Kau menghalangiku.”

Kris berjalan melewatinya yang terdiam menatap lantai. Kakinya mengayun memecah balok es dimana tubuh Kai berada di dalamnya. Setelahnya ia menyeret bongkahan tubuh kaku itu terus ke depan, bermaksud membawanya keluar ruangan.

Keadaan mayat Kai tak lebih baik. Matanya yang kosong melompong nampak menyeramkan saat menatapnya−atau tak mengarah kemana pun. Darah kering menempel dikaosnya yang sama saat terakhir kali ia melihatnya dalam keadaan hidup.

Luhan merasakan nafasnya sudah tersengal hanya dengan melihat Kris melakukan itu. Pikirannya getir dan semua kenangan bersama Kai beputar dalam satu waktu. Pintalan film kusut itu membuatnya tersendat dan membisu di lantai. Dia tidak melakukan apa pun. Belum.

“Kris,” pangggilnya, sementara ia sendiri tidak yakin suara serak itu keluar atau tidak. “Kau mau membawanya kemana, huh?”

Kris memutar lehernya. “Ini?” Kris melirik Kai dari ekor matanya. “Membakarnya. Kenapa?”

Luhan seperti menelan pil pahit sebesar batu, yang entah kenapa bisa tertelan seluruhnya. Membuatnya tersedak dan kesulitan bernafas.

“Haha. Kau tidak mungkin melakukannya, kan?” tawa kecutnya masih terdengar getir.

Sebaiknya jangan. Tolong.

“Aku akan melakukannya. Kau membuang-buang waktuku saja.”

Kris sama sekali tak berniat menoleh ke balakang lagi, sambil menyeret tubuh kaku Kai, ia berjalan keluar.

Luhan bagai terpaku ditempatnya duduk. Memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan selain menangis. Hampir beberapa menit ia menghabiskan waktunya dalam kesenyapan sebelum akhirnya melesat menyusul Kris.

“KRIIS! JANGAN!”

Karena kaget atau itu memang disengaja, tangan Kris melepaskan kaitannya dari kerah baju Kai dan membuatnya jatuh diperapian. Dengan memasang wajah polos, ia berbalik.

“Ops maaf. Kau membuatku kaget. Jadi…”

BRAK

Luhan berlutut. Mengangkat tangannya ke udara seolah sedang meraih tubuh Kai dalam tungku perapian itu. Perapian yang sama seperti umumnya. Dikelilingi lampu hias dan ia baru sadar ruangan ini seperti dekorasi saat natal. Bedanya tidak ada pohon natal dan santa yang bisa mengabulkan doanya saat ini. Setidaknya kenapa kalau Kai sudah mati, apa ia memang tidak pantas untuk dikuburkan dengan layak?

Luhan memejamkan mata.

TES!

TES! TES!

Kris menatap Luhan dari tempatnya berdiri. Air mata selalu jatuh turun melewati dagunya, menarik semua perasaannya yang ia sendiri tidak ingin tahu. Ia mendesah panjang, mengaitkan ibu jarinya di boxernya.

“Ahh! Merepotkan,” Kris menggeram. “Kau masih saja menangisi orang mati. Memang apa yang kau harapkan darinya. Kalau dimasukkan peti mati, di kubur dalam tanah, takutnya dimakan belatung. Jadi, bukankah aku terlalu baik hati dengan mengawetkannya agar kau masih bisa melihatnya sekali lagi?” Kris berjongkok, menghembuskan nafasnya di belakang telinga Luhan. “Dan membakarnya adalah cara tercepat membuatnya sampai di Neraka. Haha.”

“Hah!” Luhan menarik sudut bibirnya. “Kau gila, Kris! Aku tidak tahu kau itu kenapa. Tapi kalau dia ada di Neraka, bukankah aku juga harus menyusulnya, sekarang?” tarikan sudut bibir itu berubah menjadi seringai.

Kris mendadak panik. Terlihat dari wajah tegasnya yang berkerut karena tegang. “Apa maksudmu?”

“Lihat ini!” Luhan maju sembari menunjuk kobaran api yang menimbulkan bebunyian seperti kayu retak. “Aku akan ke sana.”

Asap hitam membumbung tinggi. Melahap Kai hingga menjadi semacam makanan penutup yang sebentar lagi kelihatan tulangnya. Ibarat sop iga, api itu menyesap dan menyeruput sumsumnya sampai habis.

Tap… Tap… Tap….

Langkah panjangnya bergaung di ruangan. Kris berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengamati sambil menyeringai. Luhan terus melangkah… tap… tap… satu langkah lagi dan…

Gagal! Sial!

“Tidak semudah itu, sayang,” Kris menarik sikunya lagi. Sama seperti saat Luhan mencoba melakukan bunuh diri dengan cara pertama. Tidak berhasil. Ia harus kembali mengotak-atik memorinya dan menggaris bawahi, ditambah lagi cetakannya harus tebal dengan huruf-hurufnya yang ditulis alenia semua, bahwa Kris tidak akan membiarkannya mati dengan mudah. Mungkin Kris memang tidak akan membuatnya mati sampai kapan pun. Entah bagaimana.

Tangan Kris mengayun dan seperti meraih sesuatu. Rambutnya.

“Aww!!” Luhan refleks memegangi rambutnya yang tertarik. “Kris, lepaskan!”

Tak ada jawaban. Hanya helaan nafas panjang dan tarikan pada rambutnya yang diberikan Kris. Menyeretnya kembali ke dalam kulkas raksasa.

Brak!

Kris mendorongnya hingga tersungkur ke lantai. Luhan mengamatinya jelas, betapa Kris tersenyum tipis tadi sambil tangannya meraih kenop pintu. Instingnya mengatakan kalau Kris akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

BLAM!

“Ya Kris!” suara bedebam pintu masih memenuhi telinga Luhan. “Buka pintunya, Kris!” Dok… dok.. dok…. Luhan menggedor-gedor pintu besi di depannya. “Kris, kau tidak serius meninggalkanku di sini, kan?” Luhan menoleh ke belakang cepat. Hanya ada dirinya dan mayat-mayat itu.

Kegalauannya tadi entah menguap kemana. Ia sendiri tidak terlalu peduli sekarang. Dingin menyergapnya, menggigit kulitnya yang selalu berpakaian tak layak. Usahanya menggedor pintu tadi hanya sia-sia. Walau dari dalam, ia dapat mendengar langkah Kris yang pergi menjauh. Ia menarik tubuhnya ke bawah, memeluk lutut dan kembali menangis. Sungguh ia tidak ingin melihat apa pun yang mungkin ada di depannya. Kalau ia pernah menonton film horor di siaran televisi−yang bahkan saat hantunya muncul, ia akan menutupi wajahnya di balik bantal−ia mungkin akan melihatnya sendiri sekarang. Langsung.

.

.

.

Kris kecil dengan bola ditangannya berjalan terseok-seok menuju rumah. Dari kecil, ia sudah terlihat mencolok dari yang lain. Tinggi tubuhnya sudah di atas anak seumurannya. Ia laki-laki kecil yang manis, tak peduli tubuhnya penuh lumpur sekalipun.

Kris kecil berhenti di depan pintu rumahnya. Senja melengkung di tembok, sisanya terpantul melalui kaca spion mobil yang tidak pernah dilihatnya.

“Eomma! Eomma!” Kris kecil mendobrak pintu. Bibir mungilnya yang melengkung penuh keceriaan menganga kecil. “EOMMA!” ia berteriak kencang, melihat ibunya yang ditindih seorang laki-laki bertubuh besar di sofa.

Dua orang itu bangkit. Menutupi masing-masing tubuhnya yang sudah bertelanjang dada. Keduanya nampak saling tercengang.

“Kris sayang, ke kamar mandi dulu, ya! Nanti eomma akan menyusul ke sana,” elak ibunya, mulai memasukkan lubang kerah baju ke kepalanya sendiri.

“Eomma… paman ini, siapa?”

Ibunya tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya. “Kita bicara nanti ya sayang. Sekarang, Kris mandi dulu. Baru nanti dikenalin sama papa.”

“Papa?” kening Kris kecil berkerut. Tapi seketika raut wajahnya berubah berbinar-binar. “Kris, mau punya papa baru?”

Tangan ibunya terulur, menyentuh kepala Kris dan mengelus surainya lembut. “Hmmm. Kris mandi dulu, ya. Kris mau dimandiin eomma atau mau mandi sendiri?”

Bibir Kris mengerucut. “Mandi sendiri, dong. Kris, kan sudah besar!” Kris kecil memamerkan sederetan gigi putihnya dan meloncat-loncat kecil menuju kamarnya. Ibunya mengamatinya dari jauh. Syukurlah anak laki-lakinya itu belum mengerti apa yang akan dilakukannya.

“Dia anak yang manis. Sama seperti eommanya.”

Ibu Kris menoleh pada laki-laki itu. Ia mengangguk.

Dimulai sejak awal tahun pernikahan itu dilakukan, keluarga kecil Kris terlihat harmonis. Ayah tiri Kris sudah seperti ayah kandungnya. Ia memanjakan Kris dengan menuruti apa pun yang dimintanya. Terkadang ayah dan ibunya saling berselisih paham agar tak terlalu memanjakan Kris.

Pernah suatu hari, Kris dibelikan mainan yang harganya membludak jauh dari harga iklan. Ibunya yang baru mengepaki beberapa pakaian dalam koper, keluar dengan marah-marah.

“Jangan terlalu dituruti, pa. Bisa-bisa dia minta dibeliin yang aneh-aneh lagi.”

“Sudahlah! Ini, kan tidak seberapa. Benar, kan Kris?” ayah Kris membenamkan hidungnya di helaian rambut Kris yang masih basah karena selesai mandi. Sehelai handuk masih melekat dipinggangnya. Sambil menerima mainan dari tangan ayahnya, ia mengangguk. Tiba-tiba ia merasa risih dengan perlakuan ayahnya itu. Aneh, tapi mungkin itu hanya perasaannya. Atau segala kemungkinan mungkin ada.

“Aku ke kamar dulu,” pamitnya.

Kris memasang telinganya, bersiap mendengar ocehan ibunya yang akan diberondongkan pada ayah tirinya itu. Tapi perkiraannya meleset.

“Aku akan ke rumah nenek Kris hari ini. Mungkin besok baru pulang. Aku titip dia, ya. Aku sudah menyiapkan makan siang dan makan malam di kulkas. Kau hanya tinggal menghangatkannya lagi. Kalian tidak apa-apa, kan?”

“Hah?” ayah Kris berdecak. “Kau masih menganggapku ayah tiri yang bakal menyiksa anak dari istrinya? Ck, sudahlah! Kau bisa percaya padaku. Kita akan baik-baik saja berdua.”

Sampai entah dimana pembicaraan itu berlanjut, Kris sudah menutup pintu kamarnya.

Puncak ke tidak nyamanan Kris dimulai hari itu, saat makan malam tengah berlangsung. Sifat ayahnya yang kelewat lembut membuatnya bergidik. Apa memang sikap seorang ayah kepada anaknya memang begini? Mengelus bibirnya setiap sebutir nasi tidak sengaja tertempel didagunya. Kris memang tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya yang sudah mati.

Kris mulai tidak tahan.

“Aku bisa membersihkannya sendiri, pa. Papa makan saja!”

“Aku tahu, sayang.” Ayah Kris menopang dagunya dimeja sambil mengamati Kris. “Kau memang lebih menarik dibanding eommamu.”

Kris tercenung dikursinya. Tidak jadi menyuap nasinya yang sudah di depan mulut.

“Ini memang seperti membeli satu paket dengan dua hadiah. Kau dan eommamu, haha!”

Ayahnya menggeser kursinya ke belakang. Berjalan mendekatinya yang berada di sebrang. Kris terpaksa meletakkan kembali sendoknya ke piring. Untuk melihat apa yang dilakukan ayah tirinya di belakang punggungnya, ia menoleh.

“Apa yang kau lakukan, huh?” Kris merasakan lidah ayahnya berada di tengkuk. Sembari kedua tangan itu mencekal tangan Kris dan mengikatnya dengan tali yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya.

“Kita pelan-pelan saja Kris. Tidak apa-apa. Kau pasti akan menikmatinya nanti!”

Kris menggeliatkan tangannya yang diikat dipunggung kursi. “Lepaskan, pa. Kris mohon!”

“Sudah lama aku menunggu saat seperti ini, haha. Kau tahu, kau memang anak yang kucari selama ini. Aku sudah tidak sabar mencicipimu, manis. Haha!” sementara Kris mendengarkan ocehan ayahnya itu, tanpa sadar celananya sudah turun ke bawah, sebatas betis. Begitu juga ayahnya.

BRAK

Ayahnya menibannya di lantai. Mulai menciumi wajahnya yang putih dan menjalarkan sentuhannya ke bagian bawah tubuhnya. Kris kecil merasakan sesuatu yang aneh. Teriakan minta tolong darinya teredam suara desahan.

“Engh… ah! Ahh! Hh!”

Ayahnya memaju mundurkan batangnya dalam tubuh bagian belakang Kris. Air matanya menggelontor turun, menyamai hujan dengan kilat yang menyambar di luar. Sendi-sendi dalam tubuhnya bagai rontok. Ia menyamakan dirinya sendiri seperti kotoran yang sangat-sangat susah dihapus.

Setelah menyelesaikan nafsu binatangnya, ayahnya bangkit berdiri.

BRAK

Ayahnya menginjak punggungnya. Sakit. Sakit sekali. Tapi ia mengigit bibirnya, ini semua tak sesakit saat batang besar memasukinya telak. Kris dibiarkan dilantai, angin menyambutnya dari luar saat seorang wanita cantik bermata sekelam malam membuka pintu. Sesilau lampu yang menyadarkannya bahwa ibunya pun akan merasakan sesuatu yang buruk.

Ibunya berlari, menerjang tubuh telanjangnya. “Kris!” ibunya mengguncang bahunya. “Kris, kau kenapa, sayang?” suara ibunya melengking menembus telinganya. Mulutnya bergerak, tapi kosong. “Apa yang dia lakukan padamu?” nada suaranya naik satu oktaf. “Apa dia yang melakukannya padamu?” Kris hanya mampu mengangguk.

Pertengkaran, pertumpahan darah. Akhirnya keluarga itu hancur. Kedua orang tuanya mati. Dengan darah segar mengalir di bawah kakinya, Kris mengambil sebuah gunting, mendekatkan kearah batang ayahnya.

KRAK

Putus.

.

.

.

“Hah! Hh! Heh!” Kris terduduk di ranjangnya. Keringat masih menggantung di alisnya yang tebal. Lagi-lagi rekaman dalam mimpi yang sama membuatnya muak.

Ia lalu bangkit berdiri, menyibak gorden emas di sisi jendela. Bulan tengah menggantung penuh di langit, seolah menyadarkannya waktu sudah berlalu jauh. Jantungnya berpacu cepat, secepat langkahnya menggebrak pintu dan berlari di lorong panjang menuju suatu tempat.

Tempat dimana Luhan dikurung.

“LUHAAN!!” suara Kris melengking begitu pintu besi di depannya terbuka. Tak hanya dingin yang menyambutnya seketika, tapi sebujur tubuh seorang yang dicarinya tengah menekuk. Tubuhnya hampir kaku saat ia berjongkok dan menyentuh bahunya.

Tak ada gerakan. Tak ada suara yang mengiringi kegemetaran Kris. Senyap dan sunyi yang membuat tangannya bergetar ketakutan. Tangannya bergerak diantara leher dan bawah lutut Luhan, mengangkat tubuhnya yang sedingin es. Dengan sekali gerakan membanting pintu, ia berlari di lorong panjang menuju kamarnya.

“Bodoh!” umpatnya. Kembali ia meletakkan tubuh Luhan ke ranjang berukuran besar di kamar lantai bawah, menepuk pipinya lembut. “Luhan! Luhan bangun! Luhan! Ya, Luhan!” Kris menjulurkan tangannya, meletakkan satu jari di bawah hidung.

Masih bernafas.

Dengan sigap seperti pelari maraton, ia kembali menyusuri lorong panjang. Dengan serampangan karena panik ia mengambil cerek dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu seperti orang linglung, ia kembali ke kamarnya dan menggeledah lemari. Mengambil beberapa lembar selimut yang terlipat rapi di dalam.

“Luhan, bangunlah!” sambil menarik satu persatu kain yang dipakai Luhan sampai terlepas, ia langsung menyusun satu persatu lembaran selimut menutupi tubuh Luhan.

“Engh…” Luhan mengerang pendek. Mengingatkan Kris kalau ia masih hidup, seperti yang memang diharapkannya.

“Luhan!”

Luhan mengerjapkan matanya, merasakan pening yang merambat dikepala. Berdenyut-denyut dan membuatnya menutup mata lagi. Bibir birunya bergerak-gerak, wajah pucatnya tengah ditatap Kris yang berada di sampingnya. Ia menggeliat pelan, mendesah kecil lagi.

“Tunggu sebentar!” intrupsi Kris. Sampai tak ada bosannya Kris menimbulkan suara berderap di lorong panjang lantai bawah apartemennya. Kali ini ia kembali dengan sebaskom penuh air hangat di tangan. Kemudian ia meletakkannya di samping ranjang.

Kris melingkarkan selimut ditubuh Luhan, memandunya untuk bangun. “Letakkan kakimu di sini.” Kris meletakkan dua telapak kaki Luhan ke dalam baskom berisi air hangat. Sementara ia mulai naik ke atas ranjang dan memeluk Luhan dari belakang.

“Kau tidak apa-apa?”

Tidak. Luhan merasa sama seperti kepiting rebus yang sebelumnya harus diawetkan dalam es. Badannya terus menggigil. Ia membutuhkan yang lebih dari sebaskom air dan lembaran selimut. Mungkin seperti pelukan yang diterimanya dari Kris.

Ia menggeleng. “Kriiiis… dingin.”

“Hmmm. Kau akan baik-baik saja. Sebentar lagi badanmu akan hangat.” Kris menggosok dua telapak tangannya sendiri dan meletakkannya di kedua pipi pucat Luhan. Mengulanginya hingga dua kali saat ia tiba-tiba merasakan punggung Luhan yang menekan dadanya. Ia merasakan sesuatu yang mengalir ke tubuhnya. Perasaan hangat yang menjalar ke bagian tubuh bawahnya. Ia menarik kedua telapak tangannya sendiri. Memikirkan ide yang ia ragukan untuk menanyakannya atau tidak.

“Kris…” panggil Luhan parau. Suaranya pecah, menusuk telinga Kris.

Kris menghela nafas panjang. “Boleh aku melakukannya?”

“Hmmm?” Luhan memutar lehernya. Dan bibirnya langsung dikunci ciuman panas Kris. “Mmmph…”

Selang beberapa saat, sambil menarik nafas ke paru-paru, tanpa sadar tangannya berada di atas punggung tangan Kris. Luhan terdiam dan mencoba melirik Kris. Mata itu tengah menatapnya tajam. Bukan pandangan menusuk tapi sesuatu yang lembut dan mencoba memasuki dirinya hanya melalui tatapan mata. Setengah ragu, akhirnya ia mengangguk.

“Mmmph….” Bibir Kris kembali mengulum bibirnya. Pelan, terkesan hati-hati.

Luhan merasa sesuatu yang hangat menyusup masuk ke dalam selimut, membelai lembut perut ratanya. Rasanya seperti kupu-kupu mulai bergerak-gerak dalam perut, membuat tubuhnya tegang seketika. Fokus Luhan terpecah lagi saat merasakan ciuman Kris yang semakin dalam dari belakang.

“Ahh! Hh!”

Wajah Kris begitu dekat dengannya, menatapnya seakan mata itu ingin menyambarnya agar keluar dari rasa malu akibat wajahnya yang memerah. Kris menarik semua selimut yang membungkus tubuhnya dan melemparnya di lantai. Lalu kembali tangan itu bergerak di bawah ketiaknya, mengangkat tubuhnya dan membalikkannya ke belakang−persis menghadap Kris. Pahanya ditarik ke belakang sampai tubuhnya menempel lekat dengan tubuh laki-laki itu.

Gerakan tiba-tiba Kris di lehernya membuatnya tersentak. Dan reflek punggungnya melengkung ke depan saat Kris menjilati permukaan kulit dadanya. Sambil ia merasakan tangan Kris yang lain membelai rambut panjang yang menutupi punggungnya. Lembut dan hangat.

“Engh…”

“Mmph…”

Persis saat Luhan merasakan banyak sensasi dalam sekali waktu, tangan Kris yang satu tengah meremas salah satu dadanya. Dan mulutnya melahap benda kenyal itu sampai setengah masuk ke dalam mulut. Luhan tak bisa menahan rasa geli yang terus menjalar. Permukaan tubuhnya sudah licin oleh keringat yang membanjir. Bedanya, keringat itu tidak lagi dingin.

“Hh! Ahh!”

“Eh! Sssh!”

“Kri-Kris…” tangan Luhan menarik kepala Kris, menenggelamkannya lebih dalam di belahan dadanya.

“Berdiri sebentar!” kata Kris tiba-tiba.

“Heh?” Luhan gelagapan. “Ah, ya-ya. Sebentar.”

Kris langsung bangkit berdiri. Bersiap menarik boxer yang dipakainya ke bawah. Jantung Luhan dua kali berdebar lebih cepat saat batang kejantanan itu berdiri tegak melawan gravitasi. Tepat beberapa senti di depan mata. Ia mengusir bayangan batang itu jika mungkin saja Kris akan memintanya mengulum benda itu sama seperti sebelumnya, hingga tulang pipinya keram.

Tapi Kris secepat kilat menyambarnya ke kasur. Menindihnya dan mulai mengangkat satu pahanya. Gerakannya begitu cepat, tetap berhati-hati. Mungkin ia sangat ingin membantu menghangatkan tubuh Luhan−yang sebenarnya sudah kelewat dari hangat.

Batang itu bergerak dimulut kewanitaan Luhan. Seperti biasa merupakan ancang-ancang baginya untuk memasuki tubuh itu.

“Engh…” Luhan menahan erangannya dengan memiringkan kepala.

“Tahan sebentar.”

PLAK

Suara yang baru saja keluar menandakan dua benda itu telah menyatu lekat. Kris menahan gerakannya, menunggu Luhan untuk menyesuaikan diri.

Luhan memejamkan mata. “Kau bisa mela…”

PLAK

Sebelum Luhan menyelesaikan ucapannya, Kris sedetik lebih cepat menghentakkan batangnya terus melesak ke dalam. Tubuh di bawahnya langsung menggeliat.

“Ungh…”

Kris kembali menghentakkan batangnya dalam tempo cepat dan menggebu-gebu. Telinganya terus mendengarkan betapa merdu suara desahan Luhan tepat ditelinganya.

“Ahh! Umh… ah! Ah! Hh!”

Luhan mempererat cengkeramannya di serpai. Matanya sempat melirik sebuah bantal melayang karena posisi kepalanya yang tidak lagi di atasnya. Sudah berpindah sejauh beberapa senti dari tempatnya semula.

“Kri-Kris! Su-sudahhh! Mmh! Hh! Ah! Ah!”

Kris terus mempercepat gerakannya. Bola matanya terpejam disela-sela desisannya yang tertahan. Kalau dilihat dari caranya menahan desisan itu, ia sendiri sedang mempertahankan gengsinya agar tidak mendesah kenikmatan. Karena itu pertama kalinya Luhan dengan rela disentuh olehnya. Ia tidak menyangka kebodohannya akan berakhir seperti ini.

“Ssssh…”

Decitan ranjang semakin terdengar. Gerakan keduanya−yang lebih didominasi Kris terlihat sangat gila dan liar. Sampai dititik terakhir, Kris melesakkan jauh-jauh batang kejantanannya ke dalam rahim Luhan.

“Ah! Ah! Aaahhhh!”

Desahan panjang itu menutup percintaan mereka malam ini. Dengan peluh yang membasahi tubuh masing-masing.

Kris bertumpu di kedua sisi tubuh Luhan dengan tangannya. Sangat pelan ia melepas persatuan mereka, membiarkan cairan pekat mengalir di selangkangan Luhan.

Kris berdiri dan berjalan ke bawah ranjang. Mengambil selimut yang terbengkalai dan bantal yang terlempar, kembali menyelimuti tubuh polos Luhan.

“Tidurlah!” katanya.

“Kri-Kris…”

“Hmm?”

“Masih dingin.”

Luhan merutuki dirinya sendiri karena sempat melihat seringai Kris tadi. “Jadi?” benarkan, Kris akan memancingnya mengatakan apa yang tidak ingin ia ucapkan.

Setengah ragu, sambil menarik nafas dan menghembuskannya pelan, ia mengangguk. “Maksudku, aku ingin tambah selimut lagi.”

Kris melongo di tempat. Sempat tak percaya apa yang barusan ia dengar. Gilirannya menghembuskan nafas kesal. “Aku akan mengambil selimut lagi.”

“Eh?” entah kenapa nada suara Luhan terdengar menyesal mengatakan itu. Oh, ayolah! Biasanya Kris akan mengerti maksudnya.

Melihatnya dari sisi ranjang, Kris sudah tahu persis apa yang diinginkan Luhan. Akhirnya ia naik ke atas tubuh itu, menyingkap selimutnya dan meletakkan tubuhnya di tubuh kecil Luhan.

“Be-berat.”

“Kau ingin hangat atau tidak?”

Akhirnya, semalaman penuh Kris berusaha menahan berat tubuhnya agar tidak menindih Luhan yang berada di bawahnya. Sementara itu disisi lain ia harus berusaha menghangatkan Luhan dengan dekapannya. Ah, pasti keesokan harinya tubuhnya akan keram dan mati rasa.

TBC

Note

Oke, author mau menyumbangkan uneg-uneg author disini.

Ada yang gak paham sama isinya? Author juga. Tapi pas kejadian Kris flashback itu bisa baca ulang prolognya biar ngerti. Dan menurut author ini chapter teraneh yang author buat. Otak author udah buntu, beneran!

Waktu nulis nama “Kris” hati author nyesek, author nangis, dan terpaksa nyeka ingus. Author pengen berhenti nulis sementara buat nenangin hati author sendiri. Tapi berhubung author udah nulis sampai chapter 7, jadi author kirim saja nih chapter.

Semuanya tahu kalau tanggal 15 seperti bencana buat EXO-fans terutama fansnya Kris. Dan itu satu hari sebelum author ulang tahun( gak penting juga ya reader tahu) dan isu mengenai keluarnya Kris dari EXO sukses jadi kado terburuk sepanjang hidup author. Buat EXO, tetaplah kuat apa pun yang terjadi.

Jadi, kalau ada yang minta berhentiin ff berjudul di atas, oke, author bakal berhenti ngirim (padahal author susah payah masukin cast baru, lho). Kalau memungkinkan lagi author bakal jungkir balikin alurnya dan ganti cast. Mian kalau author banyak bacot dibanding isi ffnya.

Author mau nangis dipelukan suami author, Luhanie oppaaa….

Ngilang! *bow*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

56 pemikiran pada “Revenge Of The Psychopat (Chapter 5)

  1. Anyeong Kak jangan berhenti nulis ya aqu suka ff ini, mian kak aku langsung baca part ini, kak cara mendapatkan pw gimana??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s