Story Of The First Love And Endless Love (Chapter 5 – END)

 Story Of The First Love And Endless Love (Chapter 5 – END)

Story_of_The_First_Love_and_Endless_Love_[Chapter_5-End]

 

Title                       : Story of The First love and The Endless love

Author                  : Dhini Joo

Length                  : Chapter 5 [End]

Genre                   : Family, School Life, Sad (maybe)

Main Cast           : Bae Suzy, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Park Jiyeon

Other Cast          : Suzy oemma, Jiyeon appa, Etc.

Disclaimer          : This is my story, don’t bash, don’t plagiat and happy reading.

 

Story of The First Love and The Endless Love—[Chapter 5-End]

 

(Before part 4)

 

“Baekhyun-ah…? Baekhyun-ah..” Suzy mencoba menyadarkan Baekhyun.

 

Tapi Baekhyun tetap tidak sadar. Suzy pun hendak berdiri dan memanggil bantuan tapi pada saat ia berdiri Chanyeol berdiri di hadapannya.

 

“Chanyeol-ah, palli. Bawa Baekhyun..” Suzy terdengar panik. Chanyeol hanya diam dan menatap Baekhyun dan Suzy secara bergantian.

 

“MWOYA… PALLI…” teriak Suzy yang makin panic karena Chanyeol masih tetap beridri.

 

 

Chanyeol akhirnya pun membantu Suzy untuk membawa Baekhyun. Suzy lalu berlari duluan untuk meminta izin keluar sekolah untuk membawa Baekhyun ke rumah sakit. Awalnya guru-guru menolak karena menurut mereka itu bisa diatasi di UKS. Suzy pun memohon dengan berlutut.

 

“ssaem, jebalyo… ini bukan penyakit biasa..” Suzy berlutut di ruang guru. Guru-guru pun menyetujuinya.

 

Suzy lalu berlari keluar dengan panik. Jiyeon yang melihat Suzy merasa aneh.

 

“mwoya..? Suzy aniya..?” kata Hyomin.

 

Jiyeon pun berlari mengikuti Suzy.

 

“Jiyeon-ah, oediga..?” teriak Eunjung karena Jiyeon langsung pergi begitu saja.

 

Suzy sedah keluar pagar dan ia melihat Baekhyun sudah ada di dalam taksi.

 

“kau pergi dengannya, aku akan menyusul menggunakan motor..” kata Chanyeol, Suzy mengangguk.

 

Taksinya pun berangkat. Chanyeol melihat taksi itu berjalan dengan cepat lalu ia menuju kearah parkiran untuk menambil motornya tapi ia dihadang oleh Jiyeon.

 

“apa yang terjadi..?” Tanya Jiyeon.

 

“Baekhyun pingsan, mian aku harus pergi sekarang..” Chanyeol langsung menuju ke parkiran dengan berjalan cepat.

 

Jiyeon masih berdiri mematung.

 

“Baekhyun..? gurunya Suzy..?” gumam Jiyeon sendiri.

 

Chanyeol memakai helm full facenya lalu menaiki motornya tapi pada saat ia melihat ke kaca pion ia melihat seseorang yang duduk dibelakangnya. Chanyeol pun membuka kaca helmnya dan melihat kea rah belakang.

 

“Jiyeon..? apa yang kau lakukan..?” Tanya Chanyeol bingung.

 

“aku ikut”

 

Chanyeol masih menatap Jiyeon bingung.

 

“mwo..? palli, bukankah kau buru-buru..?” kata Jiyeon.

 

“oe..? oe ne…” Chanyeol lalu memberikan helm kepada Jiyeon.

 

***

 

Suzy dan Chanyeol sedang duduk dikursi tunggu. Sedangkan Jiyeon berdiri bersandar di dinding sambil melihat Suzy yang duduk di hadapannya.

 

‘sebenarnya apa hubungannya dengan Baekhyun..? mereka berpacaran..?’ batin Jiyeon.

 

Suzy lalu menyentuh bahunya dan ia melihat darah di bahunya. Ternyata yang membuat bahu Suzy basah bukan air mata tapi darah Baekhyun.

 

Lalu dokter keluar dari UGD. Chanyeol dan Suzy pun langsung berdiri begitu juga dengan Jiyeon.

 

“apa kau sudah membujuknya..? penyakitnya sudah semakin parah” kata dokter itu kepada Suzy.

 

Suzy hanya diam menatap dokter itu. Sedangkan Chanyeol bingung dengan apa yang dimaksud dokter.

 

“penyakit..?”

 

“tolong segera kau bujuk dia. Sekarang hanya dengan kemoterapi nyawanya bisa selamat, kalau begitu aku permisi dulu..” dokter itu pun meninggalkan mereka. Chanyeol dan Jiyeon pun terlihat terkejut.

 

Chanyeol lalu merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Suzy.

 

“penyakit apa..? kenapa harus di kemoterapi?” Tanya Chanyeol seakan memaksa.

 

Suzy lalu terduduk lemas di kursi tunggu, tatapannya kosong. Suzy tidak bisa berkata apa-apa lagi.

 

“jawab aku!!” kata Chanyeol yang membentak Suzy dengan suara yang keras.

 

Suzy lalu mendongak ke atas melihat Chanyeol.

 

“kanker otak..” jawab Suzy tegas.

 

“m…mw…mwo..?” Chanyeol tampak sangat terkejut sampai ia sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Jiyeon memegang bibirnya tanda ia sangat terkejut.

 

“kanker otak..?” Jiyeon seakan tak percaya.

 

Chanyeol pun menyenderkan belakang kepalanya ke tembok. Mereka bertiga diam dan tidak ada yang berbicara.

 

“apakah orang tuannya tahu..?” Tanya Chanyeol melihat Suzy.

 

“molla, nado molla..” kata Suzy yang masih menatap lantai.

 

Chanyeol lalu berdiri tegak.

 

“aku akan kerumahnya, akan kuberi tahu orang tuanya..” Chanyeol pergi. Suzy dan jiyeon masih diam.

 

“ini tidak bisa..” Suzy bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke ruangan Baekhyun. Sedangkan Jiyeon hanya melihat Suzy.

 

Suzy masuk dan berjalan pelan menuju keranjang Baekhyun. Suzy berdiri disamping ranjang Baekhyun. Suzy melihat Baekhyun yang sedang tertidur dengan selang oksigen di hidungnya. Tiba-tiba Baekhyun membuka matanya secara perlahan lalu ia melihat Suzy disampingnya.

 

“Suzy-ah..” desah Baekhyun pelan.

 

“babo…” air matanya mulai membasahi pipi Suzy lagi.

 

Baekhyun melihat Suzy dengan aneh.

 

“wae uro..?” Tanya Baekhyun.

 

“neo babo..” Suzy makin menitikkan air matanya dengan deras.

 

“neo wae geure…?” Tanya Baekhyun dengan nada sedikit kesal.

 

“neo jinjja babo…” tangisan Suzy pecah.

 

Baekhyun lalu tersenyum. Ia tersenyum karena bingung kenapa Suzy menagis dan mengatakannya bodoh.

 

“naega wae babo..?” Baekhyun tersenyum tipis.

 

Suzy masih menangis. Suzy menangis sambil melihat Baekhyun.

 

“neo, kau harus cepat kemoterapi..” kata Suzy yang tersedu-sedu.

 

Ekspresi Baekhyun menjadi berubah. Baekhyun sedikit shock.

 

“n..neo ara..?”

 

“geure nan ara, kalu begitu kau harus kemoterapi..” kata Suzy yang seperti memohon sambil tetap menangis.

 

“eotteokhae ara..?” Tanya Baekhyun yang masih penasaran.

 

“apa itu penting.? Kau harus segera kemoterapi..” Suzy seperti marah kepada Baekhyun.

 

Baekhyun lalu melepaskan selang oksigen yang berada dihidungnya dan berusaha untuk duduk diranjangnya.

 

“apa yang kau lakukan..?” kata Suzy.

 

“aku tidak mau kemoterapi..” kata Baekhyun menatap Suzy.

 

“wae..?”

 

“aku tidak mau terlihat jelek di depan wanita yang ku sukai..” kata Baekhyun tersenyum.

 

“hei, apa itu penting..? neo jinjja babo..” Suzy yang kesal terhadap Baekhyun.

 

“aku tetap tidak mau, nanti pada saat kemoterapi pasti rambut ku rontok. Aku pasti akan terlihat jelek, nanti tidak ada yang memuji ku tampan lagi” kata Baekhyun.

 

Air mata Suzy semakin deras mengalir karena Baekhyun berkata seperti itu. Lalu Suzy mendengus sambil menatap baekhyun dalam.

 

“isseo..” kata Suzy yakin.

 

“mwoga isseo..?”

 

“ada orang yang mengatakan kau tampan..” kata Suzy dengannada yang sedikit serak akibat tangisannya.

 

“nugu..? oemma..? oemma baegu..”

 

“na, Bae Suzy..” jawab Suzy tanpa ragu sambil tetap menatap Baekhyun.

 

Baekhyun membulatkan matanya menatap Suzy.

 

“mwo..? jigeum mworagu..?” Baekhyun yang masih tak mengerti.

 

“nan neo joahae..”

 

“mwo..?”

 

“na, Bae Suzy. Byun Baekhyun joahae..” Suzy mempertegas sambil berusaha tersenyum dan menghentikan tangisnya.

 

“kau tersenyum..? kau bisa tersenyum..?” Baekhyun mencoba menggoda Suzy.

 

Suzy langsung menatapnya tajam.

 

Pintu kamar Baekhyun lalu terbuka.

 

“Baekhyun-ah…” seorang ahjumma yang di pastikan Suzy bahwa itu adalah oemma Baekhyun.

 

“oemma..? kenapa kau bisa disini..?” Baekhyun terlihat bingung melihat oemma-nya.

 

“neo jinjja, kenapa kau tidak bilang kalau kau menderita penyakit mengerikan seperti ini..” oemma Baekhyun langsung memeluk anaknya sambil menangis.

 

Baekhyun masih terkejut. Ia bingung mengapa oemma-nya bisa tahu.

 

“kau ini kenapa..? aigoo, anakku…” oemma Baekhyun mengelus wajah Baekhyun sambil terus menangis dengan berat.

 

Suzy lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, ia tidak ingin menganggu oemma Baekhyun yang pasti ingin berbicara pada anaknya.

 

“oem…ma..” Baekhyun memegang tangan oemmanya yang sedang menyentuh pipinya lembut.

 

“aigoo… anakku…” oemma-nya memeluk kembali Baekhyun sambil terus menangis. Oemmanya lalu meneglus lembut punggung Baekhyun.

 

“uljima…” Baekhyun melepaskan pelukan oemmanya lalu menghapus air mata oemma-nya. Tapi, Baekhyun malah mengeluarkan air matanya.

 

“oemma, uljima. Nan kwaenchana…” Baekhyun mencoba tersenyum tapi air mata tetap mengalir di pipinya yang dingin.

 

“mwoga kwaenchana… hidupmu sekarang menjadi taruhannya..” oemma Baekhyun kembali memeluk Baekhyun.

 

Baekhyun pun memeluk oemmanya dengan erat dengan air mata yang terus mengalir.

 

***

 

“kau memberi tahu oemma-nya.?” Tanya Suzy pada saat keluar yang langsung melihat Chanyeol di hadapannya.

 

“ne, wae. Apa aku salah..?”

 

“ani, jarrhanda..” Suzy berjalan hendak meninggalkan Chanyeol. Tapi Chanyeol memanggilnya.

 

“Suzy..” Suzy pun berbalik.

 

“ada yang ingin ku bicarakan denganmu..”

 

***

 

Chanyeol dan Suzy sedang duduk bersampingan di kursi tunggu.

 

“apa yang ingin kaubicarakan.?” Suzy ketus.

 

“aku bingung harus memulai dari mana…”

 

“aku tidak punya banyak waktu, palli haeba..” kata Suzy.

 

Chanyeol lalu mengubah posisinya agar bisa menatap Suzy. Suzy pun melihat Chanyeol.

 

“aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan Baekhyun tadi dibawah pohon” Suzy membelalakkan matanya. Ia diam mematung tak tau harus merespon apa yang dikatakan Chanyeol.

 

 

[Flashback On >>]

 

Chanyeol sedang menuju ke gudak belakang sekolah karena ia diperintahkan untuk membawa meja beserta kursi untuk anak baru yang akan datang. Chanyeol berjalan sambil membawa meja dan kursinya

bersamaan. Tapi, Chanyeol melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di bawah pohon. Chanyeol pun mempercepat jalannya untuk membawa meja itu.

 

Setelah itu ia kembali dan mencoba mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

 

“kwaenchana, ceritakan saja padaku..”

 

“appa-ku menjualku dan oemma-ku…”

 

Chanyeol membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya rapat agar tak terdengar suaranya karena kaget.

 

‘menjual..? dia dan oemmanya..?’ batin Chanyeol.

 

Chanyeol pun mencoba menenagkan dirinya agar tak ketahuan oleh Suzy dan Baekhyun.

 

“aku bukan lagi yeoja yang suci, aku sudah kotor. Sebenarnya aku marasa tidak enak hati dengan Chanyeol, dia mencintaiku dengan tulus. Tapi, dia berhak mendapatkan yeoja yang lebih baik dari pada aku. Namja seperti Chanyeol tidak pantas bersamaku, terlalu berharga bagiku”

 

Ekspresi Chanyeol langsung berubah. Entah apa yang ia rasakan ketika mendengar Suzy mengucapkan itu.

 

“Sekarang kau pasti menjauhiku, aku tahu. Ini bukan yang pertama kali. Gumawo sudah mau mendengarnya..”

 

[Flashback Off <<]

 

 

“mianhe, selama ini aku berfikir buruk tentangmu..” kata Chanyeo seperti merasa bersalah.

 

Suzy masih diam dan menatap lantai dengan tatapan yang kosong.

 

“jinjja mianhe, aku tidak tahu kalu kau pernah….” Chanyeol merasa berat mengucapkannya.

 

Suzy lalu menatap Chanyeol sambil memegang tangan Chanyeol.

 

“ani, aku yang salah. Mianhe, aku telah mempermainkan hatimu. Sebenarnya dari dulu aku ingin mengatakan maaf terhadapmu tapi aku tidak bisa, jinjja mianhe..” Suzy menitikkan air matanya karena merasa bersalah.

 

“ayo kita mencobanya sekali…” perkataan Chanyeol dipotong Suzy.

 

“ani, kau bisa mendapatkan yang lebih baik. Aku tidak pantas untukmu, kau terlalu sempurna untuk yeoja kotor seperti ku. Jiyeon, dia pantas untukmu. Dia sangat mencintaimu, dia rela melakukan apa saja untuk bersamamu” kata Suzy mencoba meyakinkan.

 

“tapi, aku tidak..” lagi-lagi perkataan Chanyeol dipotong oleh Suzy.

 

“ara, kau mencobalah untuk mencintainya. Dia tulus kepadamu..”

 

Chanyeol pun diam dan hanya menatap Suzy.

 

Tiba-tiba Jiyeon datang sambil membawa 2 minuman. Chanyeol dan Suzy pun serempak berdiri.

 

“dari mana kau..?” Tanya Chanyeol yang sebenarnya sedikit kaget karena Jiyeon muncul secara tiba-tiba.

 

“membeli minuman, ini untukmu..” Jiyeon memberikan minuman kepada Chanyeol. Chanyeol menerimanya lalu ia memberikannya kepada Suzy.

 

“hei, aku membelikannya untukmu..” Jiyeon terlihat kesal karena Chanyeol memberikan minumannya kepada Suzy.

 

Chanyeol lalu menatap Suzy.

 

“kwaenchana, aku tidak haus..” Suzy lalu memutuskan untuk pergi.

 

***

 

Suzy masih duduk di kursi tunggu rumah sakit. Chanyeol sudah pulang mengantar Jiyeon. Suzy lalu menghidupkan handphone-nya yang sedari tadi mati dan ia melihat ada beberapa panggilan dari appa Jiyeon. Suzy melihat sudah pukul 22.15, setelah ia melihat jam ia kembali mematikan handphone-nya. Suzy lalu memutuskan untuk masuk ke kamar Baekhyun. Suzy melihat oemma Baekhyun sedang tidur di sofa. Dan Baekhyun masih duduk di ranjangnya sambil membaca sebuah buku. Baekhyun lalu melihat ke arah depan. Baekhyun sedikit terkejut karena Suzy ternyata masih di rumah sakit.

 

“hei, kau kenapa masih disini..? bukankah besok kau harus ke sekolah..?” Tanya Baekhyun.

 

Suzy masih berjalan lalu berhenti dan berdiri di samping ranjang Baekhyun.

 

“aku tidak akan pulang sampai kau mau kemoterapi..” kata Suzy.

 

Baekhyun mengambil nafas panjang.

 

“Jiyeon pasti mengerti kalau kau rambutmu rontok karena masa pengobatan..” kata Suzy.

 

Baekhyun tampak berfikir sambil tetap menatap Suzy.

 

“apa kau akan tetap mengatakan aku tampan..?”

 

“ne.. aku akan mengatakannya setiap hari” Suzy tegas dan yakin.

 

“bagaimana aku bisa percaya bahwa selama ini saja kau tidak pernah mengatakannya..” kata Baekhyun.

 

“aish, jinjjanika..” Suzy dengan sedikit kesal.

 

“baiklah, aku akan kemoterapi. Awas saja kalau kau tidak mengatakannya…” anacam Baekhyun.

 

Suzy pun bisa tersenyum.

 

“tapi, apa benar kau menyukaiku..?” Tanya Baekhyun lagi.

 

Senyum Suzy pun langsung hilang. Wajahnya menjadi seperti salah tingkah.

 

“ne..” jawabnya lemas.

 

“bagaimana bisa..? sejak kapan..?”

 

“pada saat kau menahan tangan appa-ku yang ingin menamparku..”

 

Baekhyun mencoba mengingat-ngingat kejadian itu.

 

“kapan itu..? oh pada saat aku mengantarmu waktu itu.. bukankah itu sudah lama..? selama itukah kau menyukaiku..”

 

“kau orang pertama yang menepis pukulan yang ditujukan kepadaku. Selama ini aku selalu di pukuli, dihina, di cemoh tapi tidak pernah dilindungi. Kau orang pertama yang berusaha melindungiku..” cerita Suzy dengan penuh perasaan.

 

Baekhyun pun mendengarkannya dengan penuh perasaan sambil menatap Suzy yang bercerita.

 

“ternyata kau sudah berubah…” Baekhyun tersenyum.

 

Suzy menatapnya dengan kebingungan.

 

“kau ternyata bisa bicara panjang juga..” kata Baekhyun yang membuat Suzy merasa tergoda.

 

“apa maksudmu..?”

 

“selama ini kau berbicara dengan tatapan matamu yang mengerikan itu..” Baekhyun mencoba menirukan tatapan mata Suzy.

 

“aku hanya berbicara seperti ini kepada orang yang sudah mengenalku luar dan dalam..” kata Suzy.

 

“jinjja..? siapa orang itu..? nan baegu..”

 

“eobsseo, aku hanya berbicara seperti ini denganmu” jawab Suzy singkat.

 

“jinjja..? wah, selama ini berarti kau menutup mulutmu rapat-rapat”

 

***

 

Jiyeon turun dari motor Chanyeol.

 

“gumawo, hati-hati..” Jiyeon melambaikan tangannya sambil tersenyum lalu langsung membuka pintu pagar.

 

“Jiyeon..” panggil Chanyeol. Jiyeon lalu berbalik melihatChanyeol.

 

“wae..?” Chanyeol lalu turun dari motornya dan melepaskan helm full facenya lalu menghampiri Jiyeon yang masih berdiri tepat dip agar rumahnya.

 

“bisakah kau membantuku..?” Tanya Chanyeol.

 

“tentu, mwo..?” Jiyeon tersenyum.

 

“bantu aku mencintaimu…”

 

“MWO…?” Jiyeon terkejut yang membuat Chanyeol juga terkejut.

 

“ah kamchagiya, kenapa kau harus berteriak..?” Chanyeol memegang dada sebelah kirinya.

 

“ani, kau bilang apa tadi..?” Jiyeon merasa tidak percaya.

 

“bisakah kau membantuku untuk mencintaimu..?” Chanyeol mengulang pertanyaannya.

 

“apa kau serius..? tentu saja aku mau..” Jiyeon tersenyum bahagia.

 

“baiklah, aku pulang dulu..” Chanyeol kembali memakai helm full facenya lalu menaiki motornya.

 

Jiyeon tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Tapi, Chanyeol kembali melihat ke arah Jiyeon dan membuka kaca helmnya.

 

“Suzy yang memberi tahuku kalau kau menyukaiku, jadi berterima kasihlah kepada Suzy” Chanyeol langsung menancap gas motornya.

 

“Suzy..? wae Suzy..?” Jiyeon yang masih bingung pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.

 

“Jiyeon darimana saja kau jam segini baru pulang..? Suzy dimana..?” Tanya appa Jiyeon yang sedari tadi sedang menunggu kedua putrinya.

 

“ah, itu…” Jiyeon terlihat bingung harus menjawab apa.

 

“apa..? dimana Suzy.?” Appa Jiyeon dengan tegas.

 

“em.. aku dan Suzy tadi berada di rumah sakit. Teman kami sedang di rawat” kata Jiyeon.

 

“lalu kenapa handphone Suzy mati..?”

 

 

“em…handphonenya tadi… baterainya habis, iya baterainya habis makanya aku pulang untuk memberi tahu appa bahwa mungkin saja Suzy tidur di rumah sakit..” kata Jiyeon yang membuat alasan.

 

Appa Jiyeon menatap penuh kecurigaan.

 

“ah itu, namjachingu-nya yang sedang sakit makanya ia harus menjaganya..” tambah Jiyeon.

 

“apakah itu benar..?” appa mencoba meyakinkan.

 

“ne, jinjjayo..”

 

“baiklah, kau tidurlah..”

 

***

 

Dua hari kemudian. Hari pertama bagi Baekhyun untuk menjalani kemoterapi. Baekhyun memasuki ruang kemoterapi dengan diantar oleh Suzy, Chanyeol dan oemma-nya.

 

“hei, senyumlah sedikit..” kata Baekhyun yang tidur diranjang hendak memasuki ruang kemoterapi.

 

“Baekhyun-ah, berusahalah. Kau harus kuat..” pesan oemma Baekhyun sambil memegangi tangan anaknya.

 

Baekhyun lalu tersenyum.

 

“tentu saja. Hei, kalian berdua harus jaga oemma-ku..” kata Baekhyun seperti mengajak bercanda.

 

“ne, makanya kau harus berjuang..” kata Chanyeol.

 

“apa adalagi yang ingin diucapkan? Pasien harus segera masuk” pesan dokter.

 

“Suzy, apa tidak ada yang ingin kau katakan..? kau belum mengatakan apa-apa..?” kata Chanyeol sambil melihat Suzy yang berdiri di sampingnya.

 

“eobsseo, kembalilah dengan sehat baru aku mengatakannya..” kata Suzy datar yang lalu pergi meninggalkan Baekhyun.

 

Baekhyun hanya menatap Suzy yang berjalan membelakanginya. Baekhyun lalu dibawa masuk oleh para medis. Suzy ternyata duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari ruangan kemotera[I Baekhyun.

 

“Suzy-ah, aku bersama oemma Baekhyun akan pulang untuk membawa beberapa baju Baekhyun jadi kau sendiri disini, tak apa kan..?” kata Chanyeol.

 

“kwaenchana, pergilah..” Chanyeol lalu pergi bersama oemma Baekhyun.

 

Suzy duduk diam, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa. Sesekali ia mendengar suara teriakan kesakitan yang ia yakini adalah suara Baekhyun. Setiap mendengar teriakan Baekhyun Suzy merasa bahwa ia yang sedang di kemoterapi, rasanya sangat sakit.

 

‘ya tuhan, tolonglah Baekhyun. Tolong sembuhkanlah dia dan biarkanlah ia hidup damai bersama oemmanya yang sangat ia cintai. Biarkan dia merasakan hidup normal, jangan biarkan ia merasa kesakitan. Aku mohon ya tuhan..’ batin Suzy yang berdoa untuk Baekhyun.

 

Jiyeon datang sambil membawa bungkusan yang sepertinya adalah makanan.

 

“ini..” Suzy mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.

 

Suzy melihat dengan bingung.

 

“kau tidak mengambilnya..? palli..” Jiyeon yang mulai merasa kesal.

 

Suzy pun mengambil bungkusan itu. Jiyeon lalu duduk disamping Suzy.

 

“makanlah, aku tidak tahu apa yang kau suka. Kalau tidak suka kau boleh membuangnya..” kata Jiyeon yang terkesan dingin.

 

Suzy lalu membuka bungkus makanan yang diberikan Jiyeon. Ternyata isinya adalah hamburger. Suzy hanya menatap hamburgernya lalu memasukkannya lagi ke dalam bungkusan. Jiyeon yang melihat itu pun berkata

 

“jika…” perkataan Jiyeon langsung dipotong Suzy.

 

“aku akan memakannya nanti..” kata Suzy yang tetap melihat kearah depan.

 

Jiyeon lalu tampak berfikir. Jiyeon tampak ingin mengatakan sesuatu tapi ia seperti ragu-ragu.

 

“hei, apa kau yang mengatakan kepada Chanyeol kalau aku menyukai Chanyeol..? Tanya Jiyeon sedikit malu.

 

Suzy melihat kearah Jiyeon.

 

“wae..? kau marah..? bukankah Chanyeol memang sudah tahu tentang itu sebelumnya?” Tanya Suzy yang terkesan tak perduli.

 

“aish, aku hanya ingin mengatakan terima kasih..” Jiyeon terlihat kesal mengatakannya secara cepat.

 

“gumawo..? kau berterima kasih kepadaku..?” kata Suzy yang tak percaya.

 

“mw…mwo..? aniyo..” Jiyeon berusaha mengelak.

 

Suzy lalu membuka bungkusan itu lagi lalu memakan hamburgernya.

 

“gumawo, ini sangat enak.” Kata Suzy melihat kearah Jiyeon.

 

Jiyeon lalu tersenyum. Suzy pun melanjutkan memakannya.

 

“ayo kita….” Jiyeon mengulurkan tangannya tapi Jiyeon merasa malu untuk melanjutkan kata-katanya.

 

“baiklah…” Suzy membalas jabatan tangan jiyeon. Suzy dan Jiyeon lalu tersenyum.

 

***

 

Malam harinya setelah Baekhyun di kemoterapi. Baekhyun sedang berbaring di ranjangnya. Suzy yang duduk di samping ranjang Baekhyun pun hanya menatap Baekhyun.

 

“anak gadis, apa kau tidak pulang..?” panggil oemma Baekhyun kepada Suzy.

 

“sebentar lagi..” Suzy tersenyum.

 

 

“baiklah, aku akan keluar sebentar. Tolong kau jaga Baekhyun sebentar.” Suzy menganggukkan kepalanya.

 

Tiba-tiba Baekhyun membuka matanya.

 

“apakah oemma-ku sudah pergi..?” Baekhyun melirik kearah pintu.

 

“ah kamchagiya….” Suzy yang sedari tadi melihat kearah oemma Baekhyun keluar kamar dibuat terkejut karena Baekhyun.

 

“jadi, dari tadi kau sadar..?” Tanya Suzy bingung.

 

“ne..” jawab Baekhyun singkat.

 

“lalu mengapa seolah kau tertidur..?”

 

“kalau aku sadar oemma-ku pasti sangat cerewet, dia sangat mengkhawatirkanku..”

 

“bukankah itu bagus..?”

 

“sudahlah. Hei, aku benar-benar penasaran tentang kau menyukaiku..? apa kau benar-benar menyukaiku..?” Baekhyun yang masih tak percaya.

 

“hei, aku tidak suka mengulang perkataanku..” kata Suzy yang mulai terlihat kesal.

 

“wah, bagaimana kau bisa menyukaiku karena hal yang kecil seperti itu… tapi, apa aku cinta pertamamu..?” Baekhyun yang sangat penasaran.

 

“ne, kau cinta pertamaku.. Jiyeon..?” jawab Suzy yakin menatap Baekhyun.

 

“ne..? oe, dia cinta pertamaku juga. Oh ya, tadi pada saat aku masuk ke ruang kemoterapi kau bilang akan mengatakan sesuatu, apa itu..?”

 

“sebenarnya ada dua hal yang ingin kukatakan..”

 

“mwonde..?”

 

“yang pertama kau tetap tampan..” kata Suzy tersenyum. Baekhyun pun tersenyum mendengarnya.

 

”yang kedua, suwoneul marhaebwa..”

 

“mwo..?”

 

“iya, cepat katakan permintaanmu..”

 

“jinjja..? apa saja..?”

 

“ne, apa saja asal tidak mengeluarkan uang yang banyak..”

 

“aku sudah bilang aku bukan namja yang mata duitan..”

 

“geurom mwo..?”

 

Baekhyun tampak berfikir keras. Baekhyun memikirnya dengan sangat hati-hati.

 

“kau harus mendapatkan nilai 100 pada ulangan bulanan bahasa inggris bulan ini” kata Baekhyun yang terlihat sangat exited.

 

“mwo..? bagaimana aku bisa..?” Suzy terlihat tidak percaya diri.

 

“kau harus bisa, itu permintaanku..”

 

Suzy tampak berfikir keras. Bagaimana ia bisa mendapat 100 pada mata pelajaran bahasa inggris. Selama ini nilai tertinggi yang pernah ia dapatkan untuk bahasa inggris adalah 65. Mungkin untuk mata pelajaran matematika itu sangat mungkin tapi tidak untuk bahasa inggris.

 

“tapi, kenapa kau tiba-tiba menanyakan keinginanku..?”

 

“karena kau namja yang kusukai, aku tidak tahu harus berbuat apa karena kau yang pertama”

 

Baekhyun mulai mengerti kenapa Suzy seperti itu.

 

***

 

Ini sudah minggu ketiga Baekhyun menjalani kemoterapi. Rambutnya sudah mulai rontok. Baekhyun sudah memakai penutup kepala. Dan setiap hari pula Baekhyun ditemani teman-temannya,Chanyeol, Suzy, dan Jiyeon. Seperti biasa Suzy menunggu Baekhyun tersadar setelah menjalani kemoterapi.

 

“kau masih dan tetap tampan..” Suzy mengatakan itu setelah Baekhyun tersadar.

 

Baekhyun menarik nafas panjang.

 

“jinjja..? walaupun rambutku sudah tidak ada..?” Baekhyun terlihat lesu.

 

Suzy lalu memegang tangan Baekhyun.

 

“oe, kau tetap tampan. Aku yakin Jiyeon juga berfikiran yang sama” Suzy mencoba untuk menyemangati Baekhyun.

 

Baekhyun hanya menatap Suzy dengan penuh perasaan.

 

“Suzy-ah, bolehkah aku meminta sebuah permintaan lagi..?”

 

Suzy tampak berfikir sambil tetap menatap Baekhyun.

 

“baiklah, mwo..?”

 

“aku ingin makan ice cream yang hari itu kita makan di bawah pohon..” pinta Baekhyun.

 

“ice cream..?” Suzy lalu melihat kearah handphone-nya dan ia melihat baru pukul 20.10.

 

“geure, aku akan membelikannya..”

 

***

 

Suzy membawa ice cream-nya. Ia ingin masuk ke kamar Baekhyun tapi terlihat dokter baru keluar dari kamar Baekhyun. Suzy pun menyapa dokter itu dan inginmasuk tapi dipanggil oleh dokter itu.

 

“permisi, apa itu..?” Tanya dokter itu karena melihat bungkusan yang dibawa oleh Suzy.

 

“oe..? ice cream. Baekhyun ingin memakannya” kata Suzy.

 

“oh Baekhyun tidak boleh memakannya, dia masih dalam masa-masa pengobatan ia tidak boleh memakan ice cream” jelas dokter itu.

 

Suzy terlihat bingun harus bagaimana.

 

“tapi, dia sangat ingin memakannya. Biarkanlah dia makan untuk kali ini saja..” pinta Suzy.

 

“tetap tidak boleh, itu akan berpengaruh dengan kondisinya. Suster, ambil ice creamnya” Suzter itu pun berusaha untuk mengambil ice creamnya.

 

“tapi..” Suzy memberikannya dengan berat.

 

Ternyata Baekhyun melihat itu melalui kaca yang berada di pintu kamarnya. Baekhyun terlihat lesu. Suzy pun masuk tanpa membawa ice cream itu.

 

“mian, aku tidak bisa membawanya..” Suzy menghampiri Baekhyun dengan lesu.

 

“kwaenchana..” Baekhyun memaksakan senyumannya.

 

 

“kau harus cepat sembuh, nanti akan ku belikan ice cream yang banyak” Suzy mencoba menyemangati Baekhyun.

 

“em, bagaimana kalau aku meminta satu permintaan lagi..?” Tanya Baekhyun seperti memohon.

 

“aish, ddo mwoya..? kenapa sangat banyak permintaanmu..” Suzy terlihat kesal.

 

“mengapa kau marah..?”

 

“ani, aku tidak marah. Aku hanya tidak sabar mendengar permintaanmu..” Suzy terlihat menyembunyikan kekesalannya.

 

“aku tidak akan mengatakannya sekarang, aku akan meletakkannya di laci itu..” Baekhyun menunjuk laci yang berada di samping ranjangnya.

 

Suzy menganggukkan kepalanya berkali-kali tapi pelan tanda mengerti.

 

“oh ya, apa kau sudah belajar untuk ulangan minggu depan..?”

 

Suzy menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafanya berat.

 

“aku sedang berusaha..” Suzy terlihat tidak percaya diri.

 

“kau pasti bisa..”

 

“tadi dokter mengatakan apa..?”

 

Baekhyun terlihat berfikir.

 

“ah, kemoterapi bagus dan aka nada harapan jika aku meneruskannya..” kata Baekhyun.

 

Senyman Suzy langsung mengembang mendengar apa yang dikatakan Baekhyun.

 

“jinjja..? kau akan sembuh bukan..?” Suzy tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

 

“tentu saja..” Baekhyun mencoba meyakinkan Suzy.

 

***

 

Minggu ini yang dinantikan dan juga ditakutkan oleh para murid yang bersekolah di sekolah Jiyeon dan Suzy. Minggu ini adalah minggu untuk ulangan bulanan. Suzy sangat menakuti pada saat ulangan bahasa inggris. Ulangan bahasa inggris diadakan di hari terakhir minggu ulangan. Selama seminggu itu pula Suzy tidak bertemu dengan Baekhyun. Baekhyun melarang Suzy untuk menjenguknya dengan alasan ia harus belajar. Sebenarnya Suzy merasa tidak enak karena ia sudah lama tidak melihat Baekhyun.

 

Hari yang ditunggu Suzy pun tiba. Hari ini ia akan mengikuti ulangan bahasa inggris. Dan hari ini juga Baekhyun akan menjalani kemoterapi. Sebelum ujian Suzy berdoa.

 

‘ya tuhan, tolonglah bantu aku untuk melewati ujian ini dengan mudah. Dan tolonglah selalu beri kemudahan untuk Baekhyun menjalani kemoterapinya’ batin Suzy.

 

Setelah selesai ujian Suzy pun merasa takut dengan hasil yang akan ia dapatkan. Ternyata semua hasil ulangan akan keluar pada hari senin. Suzy pun menuju ke ruang guru. Suzy memohon kepada Jang ssaem selaku guru bahasa inggris.

 

“ssaem, bisakah kau memriksa hasil ulangan ku sekarang..?” Suzy berdiri di depan meja Jang ssaem.

 

“tidak bisa, aku ada keperluan..” Jang ssaem memasukkan barang-baranya kedalam tasnya.

 

“ssaem, jebal ssaem..” Suzy memohon-mohon kepada jang ssaem.

 

Jang ssaem tetap tak perduli dan tetap ingin pergi.

 

“ssaem, akan kulakukan apapun. Aku sangat perlu nilai itu sekarang..” Suzy berlutut di depan Jang ssaem.

 

Jang ssaem melihat Suzy yang sudah berlutut di depannya.

 

“baiklah..” Suzy pun mendongak ketasa dan melihat Jang ssaem dengan penuh harapan.

 

***

 

Suzy sedang menyikat seluruh closet yang berada di toilet yeoja dan juga toilet namja. Terkadang Suzy mengelap keringat yang bercucuran dari wajahnya. Setelah selesai Suzy langsung berlari menuju ke ruang guru dan menuju ke meja Jang ssaem. Tapi Suzy tak melihat Jang ssaem ia hanya melihat kertas ulangan bahasa inggrisnya. Dan ternyata Suzy mendapat nilai 100. Suzy terlihat sangat bahagia. Suzy tersenyum lebar, ia tidak pernah merasakan sebahagia ini.

 

Suzy lalu berlari ke kelasnya untuk mengambil tasnya. Suzy lalu membuka handphone-nya. Ia melihat ada 14 panggilan tak terjawab dari Chanyeol dan 11 panggilan tak terjawab dari Jiyeon. Dan ada beberapa pesan suara. Suzy tak perduli pun langsung berlari ke luar sekolah lalu mencari taksi untuk segera ke rumah sakit.

 

Setelah sampai Suzy langsung berlari dengan senyuman yang merekah di bibirnya sedari tadi. Suzy sangat bersemangat untuk memberi tahu Baekhyun tentang hasil ulangannya. Suzy menunggu di depan pintu lift tapi pintu lift tak kunjung terbuka. Suzy pun berlari kearah tangga darurat. Suzy sama sekali tak sabar. Suzy berlari menaiki setiap anak tangga yang ia naiki. Tiba-tiba karena Suzy kurang berhati-hati ia tersandung anak tangga. Suzy meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kaki kirinya. Tapi Suzy tetap terus berlari.

 

Suzy lalu membuka pintu kamar Baekhyun dengan cepat.

 

“Baekhyun-ah..” Suzy memanggil Baekhyun dengan semangat tepat saat ia membuka pintu kamar Baekhyun.

 

Suzy menjadi bingung karena sangat banyak orang yang berada dikamar Baekhyun. Semua mata tertuju kepada Suzy yang masuk dengan terburu-buru. Suzy berjalan dengan sedikit pincang karena kakinya tadi mendekati ranjang Baekhyun sambil mengatur nafasnya.

 

“Suzy-ah, kau harus sabar..” kata Chanyeol.

 

Ekspresi Suzy berubah seperti takut. Beberapa orang suster bergeser dari samping ranjang Baekhyun agar Suzy bisa berdiri disamping ranjang Baekhyun. Suzy lalu menatap oemma Baekhyun yang menangis yang berada di sebelah kiri ranjang Baekhyun. Suzy menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.

 

“Baekhyun-ah…” panggil Suzy pelan melihat wajah Baekhyun yang sudah pucat.

 

“Suzy-ah..” panggil Jiyeon yang tak tega melihat Suzy.

 

“Baekhyun-ah wae geure..? palli ireona, disini banyak orang..” Suzy mulai menitikkan airmatanya sambil memegang wajah Baekhyun yang ternyata sudah dingin.

 

“hei, aku mendapat nilai 100 pada ulangan bahasa inggris. Kau harus bangun dan melihatnya..” air mata Suzy sudah membasahi seluruh wajahnya.

 

Oemma Baekhyun yang melihat tindakan Suzy pun semakin deras mengeluarkan airmatanya.

 

“dokter, kenapa Baekhyun tidak bangun..?” Tanya Suzy kepada dokter sambil tetap mengeluarkan air matanya.

 

“mianhe, dia sudah pergi..” dokter mengatakannya dengan berat.

 

Suzy lalu menatap Baekhyun lagi. Suzy berusaha untuk menghentikan air mata yang keluar dari matanya.

 

“geure..? kau sudah pergi..? secepat itu..? kau belum melihat hasil ulanganku, bukankah kau akan melihatnya..” Suzy yang sudah berusaha menghentikan air matanya tapi air matanya makin banyak keluar.

 

“Baekhyun-ah, pergilah dengan tenang..” oemma Baekhyun mencium kening Baekhyun untuk terakhir kalinya.

 

***

 

Di pemakaman Baekhyun. Oemma Baekhyun terlihat sangat sedih kehilangan putra semata wayangnya. Oemma Baekhyun terus menangis sambil memeluk nisan Baekhyun. Chanyeol dan Jiyeon pun tak kuasa menahan air matanya. Chanyeol memeluk Jiyeon berusaha untuk menenangkan Jiyeon.

 

Sedangkan Suzy, sejak di pemakaman Suzy sama sekali tidak menitikkan air matanya. Suzy hanya menatap makam Baekhyun dengan tatapan kehilangan.

 

“Suzy-ah, ayo kita pulang..” ajak Jiyeon. Sedangkan Chanyeol sudah membawa oemma Baekhyun ke mobil.

 

“kalian duluan saja, aku akan pulang menggunakan taksi”

 

“baiklah..” Jiyeon pun meninggalkan Suzy sendirian.

 

Suzy lalu duduk disamping makam Baekhyun. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas dari baju melayat yang ia pakai.

 

“Baekhyun-ah, kau sudah liatkan hasil ulanganku. Aku mendapatkan nilai 100..” Suzy memperlihatkan kertas itu ke nisan Baekhyun.

 

 

“kau akan memberikan apa untukku..? lagipula kenapa kau pergi begitu cepat, aku juga belum membelikanmu ice cream..” Suzy tetap tersenyum menatap nisan Baekhyun.

 

“babo, neo babo, neo jinjja babo. Kau bahkan tidak mengucapkan ucapan selamat tinggal untukku..”

 

Suzy lalu berdiri hendak meninggalkan makam Baekhyun.

 

“aku pergi dulu, aku ingin makan ice cream..” Suzy lalu pergi sambil tersenyum.

 

Di dalam taksi Suzy hanya menatap keluar jendela taksi. Suzy menatap keluar dengan tatapan yang kosong. Lau Suzy mengambil kertas ulangannya dan menatapnya dengan penuh arti. Tiba-tiba sebuah tetesan air membasahi kertas itu. Itu adalah air mata Suzy. Suzy menangis. Semakin lama tangisannya semakin menjadi-jadi. Suzy menangis dengan kesedihan yang sangat dalam. Tangisan yang ia tahan sejak pemakaman tadi pun terbalaskan sekarang. Air matanya terus mengelir dan Suzy pun tidak berusaha untuk menutup mulutnya lagi, ia tidak peduli dengan suara erangannya disertai dengan tangisan yang sangat keras. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, Suzy mencoba mencerna pikirannya dengan berusaha untuk berhenti menagis. Lalu ia menghapus air matanya dengan cepat.

 

“pak tolong ke rumah sakit ‘Y’ dulu..” kata Suzy. Supir taksi itu pun menganggukan kepalnya tanda mengerti.

 

***

 

Setelah sampai di rumah sakit Suzy langsung berlari. Walaupun Suzy masih merasa kesakitan di kaki kirinya akibat ia jatuh kemarin, Suzy berusaha menahannya. Orang-orang di rumah sakit heran melihat Suzy yang masih memakai hanbok serba hitam. Ternyata Suzy berlari ke kamar rawat Baekhyun. Suzy langsung membukanya dengan cepat. Semua orang yang berada dalam ruangan itu pun sontak melihat kearah Suzy.

 

“oe, anyeong haseyo.. maaf, bolehkan aku mencaro sesuatu..?” Tanya Suzy seperti dikejar waktu.

 

“maaf anda siapa..?” Tanya keluarga sang pasien.

 

“aku keluarga dari pasien yang dirawat disini, ada sesuatu yang tertinggal. Bolehkah aku memeriksanya..? jebal..” Suzy memohon.

 

Pasien itu dan menatap keluarganya dan mengangguk.

 

“ne, silahkan..”

 

“kamsahamida..” Suzy menundukkan kepalanya.

 

Suzy langsung membuka laci yang berada di samping ranjang pasien itu. Suzy mengobrak-abrik isi laci tersebut hingga Suzy melihat sebuah kotak dengan bertuliskan ‘Permintaan Terakhir’. Suzy pun mengambilnya.

 

“kamsahamida, aku sudah menemukannya..” Suzy menundukkan kepalanya lagi lalu tersenyum meninggalkan ruangan itu.

 

Suzy berjalan di koridor rumah sakit sambil memandangi kotak tersebut.

 

Suzy pulang kerumahnya. Suzy langsung disambut Jiyeon.

 

“Suzy-ah, ayo kita makan dulu..”

 

“kwaenchana, aku akan tidur dulu..” jiyeon pun mengerti dan tak mengucapkan sepatah kata lagi.

 

Setelah membuka pintu kamarnya ia segera duduk di meja belajarnya. Lalu Suzy membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sebuah flashdish. Suzy memandangi flasdish itu dengan sedikit bingung. Suzy lalu menyalakan laptopnya dan hendak mengetahui isi dari flasdish tersebut.

 

Suzy memasukkan flasdisnya lalu ia melihat satu file. Tanpa basa basi Suzy langsung membukanya.Suzy membelalakkan matanya ketika melihat Baekhyun di file tersebut yang sepertinya adalah sebuah video.

 

“anyeong, Suzy..” sapa Baekhyun dengan senyum yang ramah.

 

Suzy diam dan memerhatikan video itu dengan seksama.

 

“kau suzy kan..?entah megapa aku tidak yakin kau menemukan kotak itu..” Baekhyun tampak ragu.

 

“hei, aku sudah menemukannya..” Suzy tampak menahan kesedihannya.

 

“sebelumnya, aku meminta kau untuk tidak menangis saat melihat video ini..”

 

“mungkin pada saat melihat video ini aku sudah tidak ada di dunia ini. mian, aku tidak memberi tahumu tentang kondisiku sebenarnya. Sebenarnya, pada saat dokter datang pada malam itu, dia mengatakan bahwa kemoterapiku tidak terlalu berpengaruh untuk kesembuhanku.” Baekhyun tampak tersenyum tipis.

 

“babo, kau bilang kau tidak suka berbohong..” Suzy menintikkan air matanya.

 

“mian, aku harus berbohong. ah matta,apa kau mendapat nilai 100 pada ulangan bahasa inggris..?”

 

“aku mendapatkannya..” jawab Suzy.

 

“kau pasti mendapatkannya, aku sudah yakin kau pasti mendapatkannya. Ah, sayang sekali aku tidak bisa melihatnya” Baekhyun terlihat putus asa.

 

“itulah mengapa kau sangat bodoh, kau bahkan tidak bisa menunggu sampai aku datang…” Suzy memanyunkan mulutnya seraya tetap menangis.

 

“sekarang kau pasti mengatakan ku bodoh. Tapi, gumawo sudah mendapatkan nilai 100. Aku sangat senang, berarti pengajaranku selama ini tidak sia-sia..” Baekhyun tersenyum.

 

Suzy menatapnya sambil menghapus air matanya dan berusaha menahan air matanya yang tetap tidak mau berhenti keluar.

 

“aku juga berterima kasih karena kau sudah menjadi cinta terakhirku..”

 

Suzy membelalakkan matanya tanda tidak mengerti.

 

“kau pasti bertanya-tanya tentang apa maksudku. sebenarnya aku takut terlihat jelek di depanmu, bukan di hadapan Jiyeon. Kau selalu mengira bahwa aku masih menyukai Jiyeon, padahal aku sudah tidak menyukai Jiyeon karena menurutku tidak ada kesempatan buatku dihatinya. Mian, aku tidak mengucapkannya kepadamu. Aku tidak tahu harus mengucapkannya bagaimana”

 

“kau menyukaiku..? sejak kapan..?” Suzy tampak masih tidak mengerti.

 

“ne, nan neo joahae. Nan Byun Baekhyun, Bae Suzy joahae..” Baekhyun tersenyum dan terlihat meniru cara Suzy saat mengatakan Suzy menyukainya.

 

Suzy melihatnya seakan tak percaya.

 

“kau pasti bertanya kapan aku mulai menyukaimu..? aku mulai menyukaimu itu…em… aku tidak ingat intinya aku menyukaimu. Gumawo sudah menjadi cinta terakhirku… tapi, aku meminta maaf karena aku tidak bisa menjadi cinta terakhirmu. Kau carilah namja yang lebih baik dariku, tapi, jangan melebihi ketampananku..”

 

Suzy tersenyum geli.

 

“hei, kau tidak menangiskan..?  aku curiga padamu”

 

“anigodeun…” jawab Suzy langsung.

 

Baekhyun lalu terlihat mengambil nafas panjang. Baekhyun lalu memegang kepalanya kuat. Suzy membuka matanya lebar-lebar melihat Baekhyun.

 

”Suzy-ah, permintaan terakhirku a..da..lah…” Baekhyun memegangi kepalnya dan berusaha untuk tetap berbicara.

 

Suzy kembali menangis. Suzy tak tega melihat itu semua. Baekhyun berusaha untuk meredam sementara rasa sakit itu.

 

“berusahalah bersikap baik di depan semua orang dan mulailah mencari teman, aku tahu temanmu cuman aku bukan..? ubahlah sikap kasarmu, berusahalah untuk ramah kepada setiap orang. Ingat aku akan mengawasimu dari surga. Awas ,kalau kau tidak merubah sikapmu aku akan memohon kepada tuhan untuk menghukummu..” Baekhyun berusaha untuk bercanda untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya.

 

Baekhyun tiba-tiba memegang kepalanya dengan kuat lalu memuntahkan sesuatu dari mulutnya.

 

“Baekhyun-ah…” panggil Suzy yang terlihat khawatir.

 

“ul…ji..ma..” Baekhyun tersenyum pahit.

 

Tiba-tiba video itu berakhir. Suzy menatap kelayar laptopnya dengan tatapan yang kosong. Air mata Suzy mulai mengalir lagi untuk kesekian kalinnya. Lama kelamaan tangisannya pecah. Tangisan Suzy yang selama menonton video itu tertahan mulai terlampiaskan sekarang. Tangisan Suzy semakin kencang.

 

“wae..? kenapa kau lakukan itu padaku..? kenapa harus kau..? kenapa harus kau yang aku cintai..? kenapa aku harus bertemu denganmu jika harus berakhir seperti ini..? babo, aku sangat bodoh..” gumam Suzy yang membuat airmatanya semakin deras. Sesekali ia memukul dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit.

 

–The End—

Gimana end-nya? Mengecewakan? Tidak bagus? Please leave your comment, kritik dan saran sangat diperlukan untuk memperbaiki ff selanjutnya.. mohon dikritik bila ada yang kurang agar author bisa menulis yang lebih baik nantinya.

42 pemikiran pada “Story Of The First Love And Endless Love (Chapter 5 – END)

  1. Ntah sudah keberapa kali gue nangis gr2 baca ff ini 😭 kenapa setiap gue nemu ff baekhyun pasti baekhyunya penyakitan 😭 huaa baekhyuniee

Tinggalkan Balasan ke Nana kim Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s