The Diabolical Bad Boy

The Diabolical Bad Boy

the diabolical bad boy

Author: Mingi Kumiko

Cast: Wu Yi Fan (Kris), Kwon Min Ah

Genre: Suspense, angst, romance.

Length: Oneshot

Rating: PG-17

.

.

Aiiih, ke mana lagi aku harus mencarinya?” gerutu Mina di siang yang terik dengan suasana hati yang gusar ketika tengah mencari pick gitar kesayangannya.

 

Pick gitar memang bukan barang yang sangat penting untuknya, namun yang dimiliki Mina adalah sebuah pick gitar milik Lee Jong Hoon –guitarist band pujannya– yang ia dapatkan ketika menghadiri fanmeeting FT. Island beberapa waktu yang lalu.

 

Ia mulai lesu, kakinya lemas dan tak kuat menumpu berat badannya. Jadi ia putuskan berbalik dan kembali ke kelas. Saat ia berbalik, tak sengaja ia menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh dengan posisi pantat duluan.

“Dasar ceroboh!” cerca yang ditabrak. Mina mendongak, dan ia dapati seorang Kris tengah berdiri di depannya sambil merangkul seorang gadis.

“Ma… maafkan aku,” ucap Mina sambil membungku-bungkukkan badan dan bergegas lari untuk menghindari orang yang ia tabrak barusan.

 

Namanya Kris. Tampan, jantan, tenar, dan tentu saja, playboy. Perawakan dan sifat yang sangat lumrah untuk dimiliki oleh seorang keturunan keluarga terpandang, bukan?

 

***

“Sudah ketemu pick gitarnya?” tanya Yuna, teman yang sedang bersama Mina.

“Bukannya ketemu pick gitar, malah ketemu Kris yang sedang mesra-mesraan dengan cewek barunya, huh!!” gerutu Mina.

“Baru lagi ya? Hahaha, nggak kaget sih…”

“Kok mau ya dengan lelaki sebrengsek Kris? Kalau aku jadi dia, pasti kutolak!”

“Delusi… Memangnya Kris mau denganmu? Hahaha…”

“Ya sih, aku juga bersyukur kalau Kris tak kan mau denganku. Sudahlah, untuk apa kita membahas ini? Tidak penting!”

“Bukankah kau yang memulainya, Mina-ya?”

.

.

Malam pun tiba dan Mina masih saja berkutat dengan kesibukannya mencari pick gitar ‘keramat’ itu tanpa seorang pun rekan yang menemaninya.

Kumohon, Dewi Fortuna… Limpahkan keberuntungan padaku kali ini saja. batin Mina dengan keresahan hatinya.

 

Mendadak saja Mina mendengar derap langkah yang perlahan mendekatinya. Mina mulai merinding dan ketakutan. Dengan gerakan ragu ia berusaha menengok ke belakang, namun tiba-tiba sudah ada yang membekapnya.

 

Aroma tajam yang menyesakkan dada dan membuat nafas tercekat,

Perlahan-lahan, semuanya mendadak terasa gelap.

 

***

Mina mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat ke atas. Ia dapati dirinya dalam keadaan berbaring di kasur yang besar dan terlihat langit-langit berwarna putih. Ini bukan kamarnya, itulah yang pertama kali ia pikirkan.

Lalu, di mana aku sekarang?

 

Ia mulai bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk menyandar di kasur. Saat menengok ke bawah, lagi-lagi ia dapati hal yang mengejutkan.

“AAAAHHH!!” jerit Mina saking paniknya. Bagaimana tidak, kancing bajunya telah terbuka dan bra yang ia kenakan bisa dengan jelas terlihat. Nafasnya tercekat dan hampir menangis.

Siapa yang tega melakukan ini padaku? batin Mina sambil menutup kembali kancing bajunya sambil meneteskan linangan air mata.

 

“Sudah bangun rupanya?” celetuk seseorang yang tiba-tiba terdengar, Mina terkesiap, dan ia pun menoleh.

 

Kini Mina mendapati Kris telah yang ada di hadapannya. Tidak bisa dielak lagi, Kris lah yang tega melakukan ini padanya.

“Kau… Kau yang melakukan semua ini, huh? Apa saja, apa saja yang sudah kau lihat?!” Mina segera menarik selimut, waspada kalau-kalau sebentar lagi Kris akan berbuat yang aneh-aneh padanya.

“Karena aku seorang lelaki normal, kuyakin kau sudah tahu sendiri jawabannya. Bukankah begitu?” jawab Kris dan membuat Mina bingung.

 

Kris semakin mendekat, perlahan-lahan Mina pun mundur dan coba untuk menjauhi Kris. “Tolong, jangan dekat-dekat…” Mina memohon, namun sama sekali tak digubris olehnya.

“Jangan takut, sayang…” Kris mencolek dagu Mina, kemudian membelai lembut pipinya. Dengan gerakan cepat Mina menepis tangan Kris dari wajahnya.

“Apa maumu sebenarnya?! Cari lah wanita lain, yang lebih cantik dariku masih banyak!”

Hmmm, sayangnya… kau sudah cukup cantik dan memenuhi seleraku,”

 

Mina pun turun dari kasur, mencoba untuk lari dan pergi dari Kris. Namun Kris tak kalah sigap untuk melangkah dan menghalangi niat Mina untuk kabur. Ia cengkram tangan Mina dengan sangat kuat dan ia tarik lagi tubuhnya untuk kembali terduduk di atas kasur.

 

Ia baringkan tubuh gadis berambut gelombang itu di kasurnya. Sekarang malah ia menindih dan bertumpu pada tubuh kecil Mina. “Aku mohon, hentikan…” pinta Mina dengan tatapan sendunya. Kris hanya membalas dengan seringaian kejam.

Hmmm, oke… Kau mau kulepaskan?” tanya Kris dan hanya dibalas anggukan polos oleh Mina.

“Akan kuajukan satu syarat. Kalau kau mau menurutinya, aku janji akan mengantarmu pulang.” ucap Kris.

“Apa itu?” Mina penasaran.

“Kau temani aku ke pesta ulang tahun sainganku… sekarang juga!”

“Sa… Sainganmu?” Mina terbata-bata mengulangi kata paling menonjol dari kalimat yang Kris ucapkan.

“Ya, lelaki sialan yang menyuruhku membawa pasangan ketika datang ke pestanya.”

“Bukankah tadi kau bersama seorang gadis? Kenapa bukan dia saja yang kau ajak?”

She is not my style.”

 

Terdengar mudah untuk Mina, jadi tanpa pikir panjang, ia pun mengangguk tanda setuju. “Bagus, kalau begitu, sekarang kau cepat mandi dan akan kusiapkan bajunya.”

“Saat aku mandi, kau akan keluar dari kamar ini, ‘kan?” tanya Mina sedikit ragu.

“Tentu saja!”

 

Selesai mandi, Mina pun beranjak kembali ke kasur dan ia dapati sebuah pakaian yang telah disiapkan Kris untuknya. Ia mulai memakai baju itu,

WHAT THE HELL!!!” umpat Mina untuk atasan yang saat ini ia kenakan. Pakaian itu sangat pendek dan membuat perut dan pahanya ter-expose. Ditambah lagi, roknya sangat ketat.

 

“Sudah selesai?” Kris tiba-tiba muncul dari balik pintu. “Kau gila, huh? Membiarkan seorang gadis memakai baju semini ini di malam hari? Bodoh!” omel Mina.

Waaah, kau cantik sekali!” puji Kris.

YA! JAWAB AKU!” bentak Mina.

“Apa? Kau cantik kok kalau berpakaian seperti ini…”

“Ibuku bisa malu kalau punya anak berpakaian seperti ini!”

“Kalau beliau tidak tahu, kujamin tidak akan malu. Ayo berangkat!” Kris menarik tangan Mina secara paksa.

 

Di mobil, Mina hanya diam dan tak berhenti mengerucutkan bibirnya.

“Heh, aku tidak mau tahu ya… Pokoknya saat di acara kau harus tersenyum. Malu tahu bawa cewek bermuka muram!” celoteh Kris. “Ya…” balas Mina datar.

 

Sesampainya di tempat acara diselenggarakan, Mina pun turun dengan membuka sendiri pintunya. “Hey! Kenapa kau buka pintunya sendiri? Memalukan!” omel Kris.

“Bodo amat!” sahut Mina acuh tak acuh.

Saat berjalan, tangan Kris menggeladik dan berusaha untuk meraih tangan Mina. Ia selipkan kelima ruas jarinya pada sela-sela jari Mina. Yang digandeng pun segera mendongak, mengingat tinggi badannya jauh berbeda dengan Kris. Sebelum bicara, terlebih dahulu ia lemparkan pandangan tajam pada Kris.

“Jangan protes, atau kau tak akan kulepaskan.” ucap Kris. Mendengar ucapan yang sangat tegas dan terkesan kejam tersebut, Mina yang semula ingin marah sejadi-jadinya mendadak tak berkutik.

 

Setelah diizinkan masuk oleh resepsionis, mereka pun segera menuju ke dalam. Ketika masuk, dilihat lah suasana pesta yang sangat mewah dan ramai.

Yang punya pesta ini konglomerat ya? batin Mina terkagum-kagum dengan kemeriahan pesta tersebut.

“Mau minum?” tawar Kris pada Mina.

“Tidak. Cepat lakukan apa yang ingin kau lakukan dan segera pulang!” jawab Mina ketus.

“Kalau aku maunya berlama-lama di sini, bagaimana?”

“Jangan, dong! Tolonglah, aku tahu kau kaya dan bebas melakukan apapun. Tapi aku mohon jangan seenaknya sendiri padaku, cause I’m not your toy!” tukas Mina.

“Bawel! Ya sudah kalau tidak mau, kau tunggu sini. Aku harus bicara dengan yang mengadakan pesta.”

 

Sudah sekitar setengah jam lamanya Mina menunggui Kris untuk kembali, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Nampaknya ini adalah kesempatan yang bagus, Mina bisa kabur dan segera pulang. Ia pun berlari meninggalkan pesta yang ramai itu dengan berlari sekuat tenaga.

 

“HEY, GADIS SIALAN, KEMBALI KAU!” terdengar Kris yang memekik dan tentu saja tertuju kepada Mina. “Mampus, ternyata dia mengejarku!” Ia terperanjat kaget tatkala tahu Kris yang makin dekat dan siap menangkapnya.

 

Lari kali ini dirasa Mina jauh lebih melelahkan. Jelas saja, tak ada yang namanya nyaman jika seorang wanita berlari dengan menggunakan wedges.

Panik adalah musuh, kerahkan seluruh tenagamu, dan terus berlari. Kau bisa, Kwon Mina! Mina menyemangati dirinya sendiri untuk tak berhenti berlari.

 

“Hey, jangan lari!” terdengar teriakan Kris yang masih mengejar Mina. Dengan nekat, Mina menghentikan larinya sebentar untuk melepas wedges yang sedari tadi mempersulit larinya. Sesekali ia menengok ke belakang, memeriksa seberapa dekat jaraknya dengan Kris. Lagi-lagi ia mengambil langkah nekat, ia lemparkan sepatu wadges –yang tentu saja– berukuran besar dan berat itu ke arah Kris, bahkan kalau bisa tepat mengenai wajahnya hingga Kris tak mengejarnya lagi.

 

Setelah dirasa Kris sudah jauh dan tak mampu lagi menjangkaunya, Mina pun memutuskan untuk beristirahat di halte. Dingin menelusup membuat kulitnya agak merinding.

“Siapa saja… tak ada kah yang bisa menolongku?” rengek Mina sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

 

Titt!! Titt!!

Terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan dua kali, seakan memberi isyarat pada Mina untuk mendongak dan melihat mobil itu. Ia perhatikan lamat-lamat mobil yang tadi membunyikan klakson itu.

“Mina, itu Mina, ‘kan?” panggil si pengendara mobil.

“Ya, ini Mina. Siapa di sana?” balas Mina yang tak dapat mengetahui dengan jelas siapa seseorang yang ada di mobil karena remangnya cahaya malam. Tapi kalau diteliti melalui suara, sepertinya itu bukan Kris.

“Daehyun desu! Hahaha…” jawab lelaki yang ada di dalam mobil itu. Ia pun membuka pintu mobilnya, kemudian menghampiri Mina.

 

Ya! Kenapa matamu sembab begitu? Apa yang baru saja terjadi?” heran Daehyun.

“Ceritanya panjang, Dae…” jawab Mina sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Kau sendirian? Bagaimana kalau kuantar pulang saja?” tawar Daehyun.

“Benarkah? Tolong antar aku pulang, ya?”

 

Mina menceritakan semua yang terjadi pada perjalanannya pulang bersama Daehyun, dan sesekali air matanya mengalir dari pelupuk mata.

Aigo… Jadi, semua ini ulah bajingan keparat itu?” cerca Daehyun yang tak terima karena Kris telah memperlakukan Mina –yang notabennya adalah kawannya sejak sekolah dasar– dengan semena-mena.

“Aku tak mengerti, kenapa ia setega ini padaku, hiks…”

“Maaf ya aku tak bisa membantu apa-apa, yang bisa kulakukan hanya berdo’a agar tak terjadi sesuatu yang buruk padamu.”

“Baiklah. Hmmm, Daehyun-ah, kau punya jaket tidak? Jika pulang dengan pakaian seperti ini, pasti ibuku akan marah besar.”

“Ya, aku paham. Pakai saja jaketku, besok jangan lupa dikembalikan ya!”

“Iya, mana mungkin aku mau mencuri jaketmu yang bau ini!”

“Dasar Kwon Min Ah, sudah pinjam, masih saja mencela!”

“Hehehe, aku cuma bercanda, Dae… Terima kasih juga sudah menolongku. Kalau saja tak ada kau, mungkin aku sudah ditemukan oleh Kris sialan itu,”

“Nggak masalah…”

 

***

Siang ini, Mina berencana menemui Daehyun untuk mengembalikan jaket yang kemarin malam ia pinjam. Ia berjalan menyusuri lorong kampusnya, tiba-tiba saja ia melihat Kris dari kejauhan. Sedikit kurang jelas memang, tapi Mina bisa tahu siluet dan perawakan yang seperti itu sangat menggambarkan seorang Kris.

Mampus! Sepertinya aku harus berbalik dan pergi, nih! batin Mina. Ia pun memutar langkah dan kembali menuju kelasnya agar terhindar dari Kris.

 

Hap! Hap! Hap!

Tiba-tiba terdengar sesuatu yang menimpali derap langkah Mina. Ia pun menoleh karena penasaran, dan tiba-tiba…

“HUUUAAA!” pekik Mina karena terkejut melihat Kris sudah ada di hadapannya.

“Hai, manis… Kita ketemu lagi,” goda Kris sambil mencolek dagu Mina.

“Apa’an sih?!” omel Mina.

“Masih ingat yang kemarin? Kau berhutang padaku, tahu!”

“Tidak, itu bukan keinginanku, itu tidak ada hubungannya denganku! Sudah, aku tidak mau bicara denganmu!” oceh Mina dan kemudian ia mempercepat langkahnya agar bisa lebih cepat menghindari Kris.

 

Kris mengikuti langkah cepat Mina dengan berjalan santai. Jelas saja, kakinya yang panjang memudahkan Kris untuk menggapai langkah Mina.

“Jangan memaksakan diri, kau tak kan bisa lari dariku…” kata Kris, namun tak digubris sama sekali oleh Mina. Tiba-tiba saja cengkraman yang kuat dirasakan Mina tepat di pergelangan tangannya, siapa lagi yang akan melakukan itu kalau bukan Kris?

“Lepaskan!” Mina membuat pemberontakan. Tak peduli sekeras apapun Mina mencoba melepaskan genggamannya, Kris tetap bersi kukuh tak mau melepaskannya. Yang ada, Kris malah mempererat cengkramannya dan menyeret paksa Mina.

“Aku mau dibawa ke mana?!” panik Mina.

 

Sampailah mereka di locker room, Kris mendorong dengan keras tubuh Mina hingga kepalanya berbenturan dengan pintu loker.

Awww, sakit!” ucap Mina sambil mengelus-elus kepalanya.

 

Kris mengambil langkah maju dan mempersempit jarak antara dirinya dan Mina. “Tolong, menjauh lah dariku…” Mina yang sudah benar-benar ketakutan itu memelankan nada bicaranya, berharap Kris akan mendengar dan menurutinya.

“Asal kau tahu, aku adalah seorang lelaki yang akan marah jika tak menerima ciuman sebelum perpisahan.” cetus Kris, kemudian dengan gerakan cepat ia raih bibir atas Mina dengan sela di antara kedua bagian bibirnya.

 

Mina mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkejut. Saat ia hendak mendorong tubuh Kris untuk menghentikan ciuman itu, terlebih dulu Kris mencengkram kembali kedua tangan Mina. Terus saja Kris lumati bibir yang tipis itu dengan penuh gairah. Kemudian tangan Kris mulai menggeladik dan merambah ke area dada Mina dan menggrayanginya.

Namun sebelum Kris bertindak lebih lagi, Mina pun menendang Kris hingga tersungkur. Ia mengusap dengan kasar bibirnya yang telah terkotori bibir Kris, “Bodoh! Bodoh! Kau lelaki yang bodoh!” cerca Mina.

“Kau yang bodoh! Kau yang membuatku marah dengan perkataan busukmu itu!”

“Perkataan busuk apa?!”

 

Kris pun bangkit, “Kau kan yang bilang aku lelaki paling brengsek sekampus kemarin siang? Mangkannya, kalau bicara itu dijaga!”

PLAK!

Tamparan yang menyisakan bekas merah itu pun diterima Kris, “Haruskah kau membalasku dengan cara sekejam ini?” air mata Mina perlahan turun, namun dengan cepat ia seka.

“Lalu, apa peduliku?! Yang penting aku puas!” ucap Kris dan kemudian pergi begitu saja dari hadapan Mina.

 

Mina bersimpuh, menangis sendu dengan isakan pilu. Rasanya ingin menyesal, namun tak ia temukan alasan untuk disesali. Kris yang menyadari hal itu pun berbalik, menatap nanar Mina,

Hmmm, tidak perlu terlalu khawatir, kemarin malam itu… aku tak benar-benar melakukan itu padamu. Aku cuma membuka kancingnya,” jelas Kris dan kemudian pergi.

 

– END –

 

 

18 pemikiran pada “The Diabolical Bad Boy

  1. Keren thor … Tapi ngomong” akhirnya, mina gak jadian sm kris ??
    Buat sequelnya dong thor , yayayaya??? *puppyeyes*
    Kl bisa dibuatin sequelnya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s