Heir & Heiress Side Story : Fortune (Less)

Fortune(less)

HEIR & HEIRESS SIDE STORY3 POSTER

RATING: PG-13 | GENRE: ROMANCE, FLUFF| LENGTH: ONESHOT| AUTHOR : beautywolf (@beautywolfff)| CAST: LUHAN (EXO-M), HWANG MIRAE (OC)

Summary:

Who says that your bad luck can’t turn into a big luck?

***

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com ^^

“Part of the story: “HEIR&HEIRESS” Bisa dibaca terpisah

((tapi lebih baik kalau baca yang sebelumnya juga:p))

*

Laki-laki dengan piercing perak di telinganya itu sudah menguap untuk yang ketiga kalinya sore ini. Ia benar-benar bosan. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain mengutak-atik ponsel yang kini berada di dalam genggamannya. Berkali-kali ia merutuk dalam hati, ini semua gara-gara Sehun.

Seharusnya hari ini jadwal Luhan bermain playstation bersama sepupu dekatnya itu karena mereka sudah saling berjanji seminggu yang lalu, tetapi entah mengapa ia tiba-tiba membatalkan janjinya.

“Maafkan aku, hyung! Aku sedang sibuk. First date!” Suara dari seberang itu terdengar excited. Luhan bahkan bisa membayangkan ekspresi wajahnya yang datar itu berubah menjadi berbinar-binar.

“Yah! Dimana kau sekarang?”

Di…depan sebuah toko buku.” Kemudian ia melanjutkan dengan sedikit terburu-buru. “Sebentar, nah. Aku sudah menemukannya. Aku duluan, hyung. Bye!”

Lalu sambungan telepon diputus begitu saja.

First date, huh? Luhan menyeringai kecut. Bocah Sehun sekarang sudah besar rupanya. Padahal dulu dia sering sekali meminta-mintaku untuk membelikannya es krim sampai menangis. Mengingat kejadian masa lalu, Luhan hanya tertawa kecil. Dan, kurasa yeah, mungkin Haera anak yang baik, mereka cocok.

 

Um, tunggu.

Lalu, bagaimana dengan dirinya?

 

Mendengar perkataan dari kepalanya sendiri, mau tak mau ia kembali menelungkupkan wajahnya di meja. (Oke, Luhan baru sadar bahwa ia tertawa sendirian saat mengingat Sehun tadi—orang-orang pasti berpikir dia orang yang aneh. Ia mulai tidak sehat). Sampai saat ini ia masih sendiri, sementara adik sepupunya itu bahkan sepertinya sudah mempunyai orang yang ia sukai.

Otaknya berpikir cepat. Ia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke kasir untuk membayar segelas cookies and cream yang ia pesan tadi. Ia bosan. Sudah berapa kali ia mengatakan kata itu? Bosan, bosan, bosan.

Daripada membusuk disini, lebih baik ia pulang untuk tidur.

 

“OH!”

Saat hendak berbalik, Luhan tanpa sengaja menabrak seorang pelayan yang mengenakan apron berwarna hijau. Gelas di nampannya jatuh, pecah berserakan di lantai kayu. Gadis pelayan itu meringis sedih memandangi sisa gelas kaca yang sudah hancur berkeping-keping.

Ini sudah gelas ketiga yang ia pecahkan di kafe ini.

 

“Maaf!” Luhan dengan sigap membungkuk meminta maaf. Ia merasa bersalah karena bukan perempuan itu yang menabraknya, tetapi dirinya. Luhan segera mendekatkan tubuhnya ke perempuan itu. Harum aroma mint yang kuat sudah menguar bebas dari dirinya. “Apa kau baik-baik saja?” Sekali lagi ia bertanya, memastikan. Nada suaranya terdengar khawatir.

Perempuan itu mengangguk pelan. Ia segera mencepol rambut panjangnya ke belakang dengan asal-asalan dan berjongkok untuk membersihkan pecahan-pecahan gelas kaca itu memakai tangan. Untung hari ini kafe sedang sepi, hanya ada satu-dua orang yang duduk diam menikmati kopinya di pojok kafe tanpa memperdulikan insiden ini.
“Apa kau sudah gila?” Luhan berseru dengan sedikit terkejut saat melihat perempuan itu berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca tanpa memakai sarung tangan, ia akan membahayakan tangannya sendiri. Maka dari itu,Luhan segera ikut berjongkok dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu erat-erat. Menghentikannya dari kegiatan yang sedang ia lakukan.

“Apa-apaan…” Perempuan itu menengadahkan kepalanya, kaget. Ia tak menyangka laki-laki di hadapannya itu sudah berani berseru padanya.  Ini semua karena ulahmu, bodoh! Kau yang menabrakku. Keluhnya dalam hati. Ia balik menatap tajam kedua mata milik seseorang yang berada di hadapannya itu.

“Lebih baik anda singkirkan tangan anda dari pecahan gelas ini, Tuan.”

Sedingin apapun suaranya, laki-laki di hadapannya ini tidak akan memperdulikannya.

 

“Ada apa?” Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh besar yang mengenakan kemeja putih dan dasi merah datang tergopoh-gopoh ke tempat pecahnya gelas. Mulutnya menganga sebentar sebelum akhirnya ia mendesis ke arah gadis pelayan itu.

“Hwang Mirae! Ini sudah gelas ketiga yang kau pecahkan!” Laki-laki itu nada suaranya terdengar marah. Ia segera menarik perempuan bernama Mirae itu untuk berdiri.  “Kau benar-benar ceroboh. Seharusnya sedari kemarin kau sudah kupec—“

Perempuan itu hanya diam, meskipun raut wajahnya terlihat takut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Maaf.” Luhan menyela kalimat laki-laki yang sepertinya menjadi bos di kafe ini. Laki-laki itu menghentikan ucapannya dan berpaling ke arah Luhan.

“Ah, maafkan kami, Tuan. Anak ini memang baru saja bekerja seminggu yang lalu, jadi ia masih ceroboh seperti ini..”

“Bukan itu.” Luhan kembali memotong. “Aku yang menabraknya. Bukan dia. Maafkan aku.” Ia menambahkan dengan membungkukkan badannya sopan. “Biar aku yang membersihkan bekasnya…”

“Tidak.” Perempuan itu yang kini membuka mulutnya untuk menghentikan kalimat Luhan.

Luhan balas menatapnya heran.

“Aku saja.” Perempuan itu menjawab datar. “Maafkan aku, Kwanghee-oppa.” Ia segera melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki berkemeja putih itu dan lari ke belakang. Entah, mungkin untuk mengambil sapu.

Luhan mendesah berat.

 

Sebagai seorang laki-laki, ia harus menebus kesalahannya. Harus.

 

Maka saat itu juga ia kembali memesan orange juice—sebagai ganti gelas yang ia pecahkan. Dan ia segera mendudukkan tubuhnya kembali di kursi kafe lengang ini. Sendirian. Tertahan karena ulahnya sendiri.

 

***

 

Untuk yang kesekian kalinya, Luhan melihat Mirae di kafe ini. Namun sekarang gadis itu sudah berdiri di depan mesin kasir dan menjadi kasir tetap, tidak lagi menjadi pelayan. Mungkin bosnya takut ia akan memecahkan gelas keempat. (Dan mungkin sayang juga untuk memecatnya—toh, ia cantik.)

“Selamat datang.” Ia menyapa lembut. Luhan tersenyum lebar memandang Mirae dari kejauhan, sementara gadis cantik itu hanya melengos melihat pengunjung yang datang ternyata Luhan.

“Dia lagi, dia lagi.” Gumamnya pelan. Laki-laki itu yang hampir membuatnya dikeluarkan dari kafe ini. Mirae tidak mau berurusan lagi dengannya. Ia seperti kesialan yang terus menerus menghantui hidup Mirae akhir-akhir ini. Kemarin saat ia datang, Mirae terpeleset kulit pisang yang tertinggal di dapur. Tiga hari sebelumnya juga sama, laki-laki itu datang—dan pada saat yang bersamaan, Mirae terkena semburan bos besarnya karena terlambat mengantarkan pesanan. Padahal itu kan bukan salahnya.

Jadi salahkah ia menjauhi laki-laki itu? Semua kejadian buruk yang ia dapatkan selalu datang bersamaan dengan laki-laki berambut cokelat itu. Ia tidak mau hari ini harus terpeleset atau diceramahi lagi, jadi lebih baik ia diam.

“Mirae, antarkan ini padanya.” Kwanghee menunjuk ke arah Luhan yang baru saja Mirae pikirkan tadi. Mirae kembali berteriak dalam hati.

Sekarang apa lagi?

Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Dengan berat, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil nampan dari tangan Kwanghee. Sebelum mengantarkan pesanan itu, ia berdoa, berkomat-kamit dalam hati.

Semoga tidak akan ada apa-apa.

Laki-laki berambut cokelat itu sedang sibuk menekan-nekan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Mirae tidak tahu (dan tidak peduli) dengan apa yang sedang Luhan lihat atau dengar. Yang ia mau sekarang adalah menjauh sejauh-jauhnya dari lelaki berbau mint itu.

Baru saja ia meletakkan gelas pesanannya di meja, Luhan sudah mendongak dan menatapnya dengan senyum berterimakasih.

Dengan kikuk, Mirae membalas dengan anggukan kecil. Setelah selesai meletakkan semua makanan, ia segera berbalik. Tetapi sebuah suara menghentikannya.

“Tunggu.”

Mirae tahu kesialannya hari ini baru saja dimulai.

“Ya?” Ia memberanikan diri untuk berbalik. Ia siap menghadapi apapun kesialan yang akan diciptakan laki-laki ini lagi untuknya.

“Maaf, uh, tetapi ini bukan pesananku.” Ia berkata ramah meskipun wajahnya agak terlihat sedikit bingung. “Mungkin maksudmu, meja di belakangku?” jempolnya menunjuk kursi di balik punggungnya. Suara tawa kecil keluar dari mulutnya.

Ya Tuhan.

Pertama,  Mirae benar-benar malu sekali. Ia tidak terlalu memperhatikan bosnya menunjuk, jadi ia mengira orang inilah yang dimaksud oleh Kwanghee. Ia segera mengalihkan pandangan ke orang di meja belakang Luhan. Raut wajahnya orang itu terlihat kesal. Ia menunjuk-nunjuk makanan di meja Luhan dan menunjuk mejanya sendiri. Seperti mengatakan: Kau benar-benar bodoh, itu pesananku tahu! Oke, ini memang kesalahan Mirae sendiri.

Tetapi, ia benar. Kesialan mungkin memang berasal dari laki-laki yang sedang duduk memandangnya dengan mimik yang seperti hendak mengejeknya.

 

Oh ya. Kedua, tawa laki-laki berambut cokelat ini ternyata benar-benar indah.

 

Mirae berusaha membuyarkan pikiran anehnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali dan segera mengambil makanan yang salah ia antar itu dan berbalik pergi tanpa mengucapkan kata maaf.

Luhan menatap heran perempuan di depannya itu.  Tingkahnya benar-benar aneh. Sedaritadi ia seperti sibuk dalam pikirannya sendiri, sesekali ia menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ia pikirkan. Tetapi Luhan menemukan hiburannya sendiri.

Perempuan itu lucu sekali.

 

***

 

“Apa kau ingat pertemuan kita pertama kali?” Luhan tersenyum memandangi gadis cantik di depannya. Mirae yang mendengar pertanyaan suaminya itu hanya tertawa. Baginya itu sudah lama sekali.

“Saat itu kita masih sangat muda. Maafkan aku, dulu aku menganggapmu sebagai tanda kesialan.”

“Hey, hey. Sampai sekarang pun kita masih muda, sayang.” Luhan mengedipkan matanya. Mendengar kalimat Luhan, Mirae mau tidak mau mengulaskan senyum kecil di bibirnya. Tangan Luhan bergerak menyisir rambut Mirae perlahan. Suaranya dibuat sepelan mungkin agar anak mereka yang sedang berada di dalam ranjang bayi tidak terbangun. “Huh. Padahal aku kan, salah satu dari sekian banyak keberuntunganmu.”

“Kau masih saja percaya diri.” Mirae terkekeh. Luhan menyeringai lebar. Ia semakin mempererat dekapannya pada Mirae.

“Kalau tidak percaya diri, aku tidak akan mendapatkanmu.” Luhan terdiam sebentar. “Aku bahkan masih mengingat jelas ekspresimu saat itu.”

“Kau menggelikan.” Mirae mendorong sedikit dada Luhan. “Tunggu, ini sesak sekali, jangan memelukku terlalu erat seperti itu! Aku tidak bisa bernapas!”

 

***

 

Ini sudah kali ke-entahlah ia lupa- Luhan bertemu dengan Mirae, dan Mirae masih saja menghindarinya. Luhan yang penasaran, saat membayar di meja kasir, ia segera mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Mirae.

“Hei, Hwang Mirae.”

Mirae tidak merespon.

“Jadi totalnya lima puluh ribu won—“

“Mirae!”

“Ya?” Mirae kini memandang kedua manik mata Luhan dengan berani.  Laki-laki itu bahkan kini memanggil namanya saja.

“Mengapa kau menghindariku terus?”

“Maksudmu apa, Tuan?” Mirae berusaha bertanya dengan sopan. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang. Meskipun dalam hati ia ingin segera kabur. Kau ingat kan? Dia tanda kesialan! Mungkin setelah ini ban motornya kembali kempes di tengah jalan atau apalah—karena memang itulah yang terjadi padanya setelah dua minggu yang lalu Luhan datang dan berbicara tidak penting padanya.

“Apa kau menyukaiku?” Luhan bertanya tanpa basa-basi.

Mirae yang awalnya tenang, sekejap saja ia terbatuk-batuk seperti orang yang tersedak sesuatu. Tanda Kesialan!—Otaknya segera memberi sinyal bahaya. Ia tidak menyangka begitu beraninya orang ini bertanya pertanyaan bodoh seperti itu padanya. Ekspresinya melukiskan keterkejutan yang amat sangat.

“Hah?”

“Yah, yang kutahu, perempuan merasa gugup jika berada di dekat orang yang ia sukai.  Jadi mereka sedikit menghindari laki-laki yang ia sukai, dan kau…bertingkah sama.” Luhan menjelaskan dengan nada suara yang terdengar amat santai.

“Tuan, apa kau baik-baik saja?” Mirae bertanya dengan sedikit ragu. “Kurasa kau agak sedikit tidak sehat…”

“Aku benar kan?” Luhan bertanya lagi untuk memastikan. Ia memperlihatkan deretan gigi putihnya dan membentuk senyuman lebar. “Tidak apa-apa, Mirae. Kau cantik. Jadi lebih baik kau jujur.”

“Apa kau serius bertanya seperti itu, Luhan?” (Mirae baru mengetahui nama laki-laki itu Luhan setelah pembicaraan mereka dua minggu kemarin—yang menyebabkan bannya kempes di tengah jalan.

Perlu kau ketahui, dialah yang memperkenalkan dirinya sendiri tanpa Mirae bertanya. Penting? Tidak.)

“Kau benar-benar…Minggirlah, ada orang yang hendak membayar juga.” Mirae memijat pelipisnya, ia mulai merasa pusing.

“Lalu mengapa kau menghindariku?” Luhan tetap gigih bertanya.

“Bukan urusanmu.” Mirae berkata ketus. “Jadi sekarang, minggirlah.”

“Tidak mau.” Luhan menggeleng. “Aku butuh penjelas—“

“Apa itu penting?”  Mirae memotong. Ia benar-benar sudah gemas. Luhan masih saja menatapnya dengan tatapan siap menunggu. Orang yang antri di belakang Luhan dan hendak membayar sudah memandangi mereka berdua dengan pandangan kesal.

Mirae menghela napas berat, Luhan tidak akan berhenti. “Bergeserlah ke kiri. Aku akan menceritakan alasanku padamu tapi kumohon minggirlah dulu.”

“Kau berjanji?” Luhan mengernyitkan alisnya. Meminta kepastian. Mirae menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menjawab dengan anggukan pasrah.

 

Akhirnya, Luhan menurut.

 

Setelah itu ia tahu alasan Mirae menghindarinya dari penjelasannya yang panjang lebar tanpa terputus.

Dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain tertawa.

 

“Bagimu ini lucu?” Mirae memandangi Luhan dengan tatapan tidak percaya. “Kau menyebabkan berbagai kesialan padaku.”

“Bukan aku.” Luhan tergelak. “Mungkin Tuhan sedang menunjukkan jalannya sendiri untuk membuatmu memperhatikan aku.”

“Hah?” Lagi-lagi yang bisa Mirae lakukan hanyalah melongo heran. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar aneh. Sangat aneh.

“Iya, tentu saja.” Luhan menjentikkan jarinya. “Jelas kau akan memperhatikanku, berdoa agar aku tidak mendekat dan cepat pulang…Memperhatikan gerak-gerikku dengan takut…”

Sial, tapi ia benar.

“Aku berjanji kali ini tidak ada kesialan lagi.” Luhan kembali tersenyum. “Jadi, ayo ikut aku. Waktu kerjamu sudah habis kan?”

“Kemana?” Mirae bertanya bingung. Sebentar, sebentar. Ia sedang menenangkan debaran jantungnya yang mulai bergerak cepat. Oke, ini agak sedikit menyeramkan. Ia merasa dirinya sendiri mulai menjadi aneh, sama seperti Luhan.

“Ikut saja.” Luhan menarik tangan Mirae dan membawanya keluar. Mirae terkesiap saat jemari tangan Luhan menyentuh pergelangan tangannya. Jujur, sensasinya lumayan menyenangkan.

Sebelum Luhan beranjak meninggalkan kafe, ia berteriak kencang.

“Kwanghee-ssi, aku pinjam Mirae-mu dulu ya!”

Lalu sepersekian detik kemudian, pintu kafe tertutup lembut—membuat lonceng tanda masuknya pengunjung berbunyi pelan.

 

***

 

“Apa kau tahu?”

Luhan menatap wajah Mirae sambil menunggu kalimat selanjutnya dari istrinya itu.

“Mungkin aku sudah menyukaimu sejak kau pertama menarik tanganku itu.” Mirae menatapnya dalam-dalam. Luhan mengangguk paham. Lalu dengan sedikit malu-malu ia menyahut.

“Kalau aku, mungkin sejak kau menabrakku untuk pertama kali itu.”

“Kejadian gelas pecah?” Mirae terbelalak. “Itu kan sudah lama sekali.”

“Iya.” Tawa Luhan pecah seketika. “Mungkin aku jatuh cinta pandangan pertama padamu dan ekspresi wajahmu yang benar-benar pasrah saat  Kwanghee-hyung memarahimu.” 

“Cheesy Luhan. Jatuh cinta pada pandangan pertama, hm?” Terdengar sedikit nada mengejek dalam suaranya. “Dan…uh iya, kau benar. Aku agak sedikit takut saat itu. Bahkan Kwanghee-oppa mengancam akan memecatku.” Mirae mengingat-ingat. “Lucu sekali, padahal dia kakakku sendiri.”

“Biarkan saja. Cheesy-Luhan dan cheesy-Mirae. Bukannya itu terdengar cocok?” Luhan tertawa. “Apa kau tidak sadar kau juga sering menggombal, nona? Tenang saja, kalau tidak ada kejadian gelas pecah itu, kita tidak akan bersama seperti ini dan mempunyai Lami.” Ia berkata lembut. “Sssh aku lupa. Dia sedang tidur. Sebaiknya kita memperkecil volume suara kita.”

“Kau yang sedari tadi berisik, Luhan.” Mirae memandang suaminya itu dengan datar.

“Maafkan aku.” Luhan menggumam kecil. Seulas senyum masih bertahan sempurna menghiasi bibirnya.

 

***

 

“Jadi, Mirae…”

“Ya?” Mirae yang sedang sibuk menjilat es krimnya tidak terlalu memperdulikan panggilan Luhan. Baru tadi sore laki-laki itu menariknya dengan paksa dan kini perjalanan mereka berakhir di taman bermain. Jam digital yang terpasang di tengah-tengah taman bermain itu menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit.

“Sekarang…” Luhan terlihat gugup.

“Ada apa?” Mirae bertanya dengan tidak sabar. Kali ini ia memandang wajah Luhan dengan tatapan bertanya-tanya. “Oh, apa kau mau meminta maaf karena kau sudah memberikanku kesialan yang bertubi-tubi..”

“Bisa jadi.” Luhan menjawab cepat. “Aku minta maaf untuk itu juga.”

Mirae memandangnya dengan bingung.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau tidak mungkin akan mengatakan itu kan?”

Luhan terdiam. Duh, perutnya tiba-tiba sakit.

 

Kemudian ia mengingat perkataan ayahnya.

Laki-laki harus berani! Buktikan kau gentleman sejati, Luhan.

 

Luhan menarik napas dalam-dalam sebelum ia mengatakan sederet kalimat yang memalukan itu.

“Mirae, uh, bolehkah aku…meminta nomor teleponmu?”

 

Seketika itu juga, Mirae terdiam kaku.

“Bukan begitu maksudku…mungkin…aku akan membutuhkannya nanti…Hei, mengapa wajahmu seperti itu?!”

 

Sepersekian detik kemudian, tawanya pecah.

 

***

 

“Stop Mirae. Itu memalukan—”

“Hei, hei! Apa kau masih mau melanjutkan? Ya! Mirae! Stop sampai disitu saja!”

 

FIN

 

Hello everyone! Hehe. We’re backkkk!:)

This story is one of sidestorie(s) from HEIR&HEIRESS! You guys still remember about Lulu and his gf, Mirae right? The couple who broke our Haera’s heart, and here it is! Special for u who want to know “KENAPA TIBA-TIBA LULU PUNYA PACAR?!??!!” hahaha.

I hope you enjoyed it and….

maybe wants to drop some comments? :p (the long one is BETTER for me anyway. I love long comment(s)) hehe saranghe our lovely readers. thanks for all of the supports!<3

*STORY ABOUT HAERA AND SEHUN IS ON THE WAY, FELLAS!!!

 

10 pemikiran pada “Heir & Heiress Side Story : Fortune (Less)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s