Phobia (Chapter 12 – END)

Phobia

(Chapter 12 -END)

phobia1288

Title: Phobia (Chapter 12)-Final

Author: Kim Ria

Genre: Romance(?),School life,Friendship

 Length: Multi Chapter

Ratting: 13+

Main Cast: Jung Ga In | Woon Jin Ah | EXO (K&M) | Oh Yoo Hyun |Choi | Bam Guk |

HeonMi | Gongwu

Sebelum baca, saya mau memberi 1 bocoran buat para readers… Di chap terakhir ini, (FF pertama) akan ada cast utama baru. Jadi ada 2 pilihan. Ending gantung (gak jelas) atau lanjut di season 2. Tergantung minat readers ^^ gomawo buat yg udah baca dari chap 1-12.. dan yg komen dan gk jdi readers yang diem aja…

 

 

(Halaman Sekolah)

JinA dan Luhan duduk di bawah pohon meaple besar yang ada di halaman sekolah.Dan Luhan hanya bisa diam memikirkan jawaban dari pertanyaan JinA.

“Hhhh… Aku juga tak tahu… Tapi aku juga berhutang padanya, dan juga kau…”gumam Luhan. JinA menepuk pundak Luhan.

“Ya, disini kita mencari jalan keluar eo! Bukan mengeluh hal yang sama sepanjang waktu.” Omel JinA yang kesal dengan Luhan selalu mengungkit-ngungkit yang lalu. JinA menghembuskan nafasnya panjang lalu menatap ke atas. “Dengar…Yang harus kita lakukan adalah berdamai dengan Gain.Maksudku kita semua yang terlibat dalam masalahnya,yang Gain teriakkan saat ia sedang marah itu.. Kira-kira cara apa yang tepat?” tanya JinA sambil menoleh ke arah Luhan. Luhan sendiri hanya bisa diam dan memikirkan cara yang tepat, sesuai dengan ide JinA itu.

Mwo? Luhan, JinA juga…? Lalu di tambah aku kan? Aigoo…Pasti Gain sangat sedihkan? Apa aku lebih baik bergabung dengan mereka? Toh, jika ide JinA berhasil semua akan kembali seperti semula…..Geurae, jangan ragu lagi Byun Baek Hyun!  Pikir Baekhyun membuat keputusa. Ia langsung bangkit dari tempat bersembunyi dan berjalan mengendap-endap ke arah Luhan dan JinA.

“Ya!! Kalian pacaran!!” seru Baekhyun dari belakang JinA dan Luhan.

Sontak JinA dan Luhan langsung menjaga jarak duduk mereka dan menoleh ke arah Baekhyun.

“Ya!! Tarik ucapanmu itu eo?! Kau tak punya bukti apa-apa!” timpal Luhan yang tak terima dengan ucapan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya tertawa dan duduk di samping Luhan.

“Hahaha…Mian,mianhae aku hanya bercanda.Ah, aku suka dengan idemu JinA.” JinA yang dari tadi diam langsung menatap Baekhyun tak percaya.

“Mwo? Kau dari tadi menguping?” tanya JinA sambil menunjuk Baekhyun. Baekhyun hanya menyengir lalu menganggukan kepalanya.”Memangnya kau terlibat dalam hal ini eo?” tanya JinA yang bingung dengan Baekhyun tiba-tiba datang diantara dirinya dan Luhan.

“Ne.. Jadi kita harus apa?” Baekhyun berbalik bertanya.

”Ahh.. Molla….Bisakah kau yang sekarang berpikir?” tanya JinA sambil bersandar ke pohon besar itu.Setelah pertanyaan itu muncul dari bibir JinA, Luhan dan Baekhyun hanya bisa terdiam dan mencari jawaban dari pertanyaan JinA tadi. Luhan menjentikkan jarinya, lalu menoleh ke arah 2 temannya itu. Spontan, JinA dan Baekhyun lnagsung menoleh saat Luhan menjetikkan jarinya.

“Kita adakan saja pesta kemenangan kita itu, seperti yang di usulkan Chanyeol!” kata Luhan dengan bersemangat. Namun reaksi Baekhyun dan JinA bukan ikut tersenyum tetapi memandang Luhan dengan aneh dan mengernyitkan kedua alisnya itu.

“Apa? Kenapa omonganmu itu tak nyambung eo? Ya! Jangan alihkan pembicaraan kita Luhan!” kata Baekhyun sambil menjitak kepala Luhan.

“Mmhh..Ini bukan lelucon yang kalian pikirkan, coba pikirkan baik-baik…Jika ada acara itu pasti ada kesempatan kita untuk bertemu Gain di banding mencarinya terlebih datang ke rumahnya.Di kesempatan kali ini kita bisa meminta maaf secara bergantian dan seolah kita bertemu Gain dengan kebetulan.Jika dengan pesta pasti akan lebih mendukung suasananya bukan? Bukankah ini bagus?”

“Omo, kau ini pikun? Bukankah Chanyeol tak punya uang untuk mengadakan acara seperti itu?….Hhhh..Dasar.” timpal Baekhyun sambil menepuk jidatnya.

“Karena itu kita butuh Sehun.” Baekhyun dan Luhan langsung menoleh ke arah JinA.Dan tatapan mereka seolah meminta penjelasan dari perkataan JinA tadi. JinA tersenyum lembut ke arah mereka, seolah ia paling bijak di antara mereka. “Apa tidak bisa berpikir lebih jauh eung? Jika kita meminta Sehun untuk menjadikan rumahnya sebagai pesat dengan ide Luhan, pasti Sehun mau, apalagi jika ini tentang Gain pasti iya akan menggiyakan ajakan kita.Dia pasti akan melaukan apapun untuk Gain kan? Apalagi orang tuanya sangat baik. Rumahnyakan sangat besar.” Jelas JinA. Luhan dan Baekhyun menganggukan kepalanya dengan polos.H, melakukan apapun untuknya? Bisakah aku yang melakukannya bukan Sehun…Ahhh… Aigoo, kenapa sifat ini muncul lagi?!!! Batin Baekhyun. Setelah terdiam beberapa detik,  Baekhyun menepukkan tangannya untuk memecah suasana.

“Geurae, tunggu apalagi? Kita harus berbicara dengan Sehun, setelah itu kita berunding dengan anak lain mengenai pesta ini.Dan…Kau JinA kau yang bertugas untuk membujuk Gain, kau kuberi kesempatan pertama di antara kita semua untuk meminta maaf eo? Bagaimana?” usul Baekhyun yang disambut oleh anggukan kepala Luhan dan JinA. Merekapun bangkit dan bergegas mencari Sehun untuk membicarakan hal ini baik-baik. Mereka mencari Sehun dengan berpencar, agar bisa menyingkat waktu mereka.

–***–

(Kelas musik)

Sehun mentupi telinganya dengan kedua tangannya yang besar, lantaran mendengar musik yang sama sekali tak ada nadanya itu. Dan ia terpaksa duduk di dekat si penyanyi itu karena tak ia terjatuh.

Yoohyun terus saja memainkan piano yang sangat besar dari ukuran tubuhnya dengan bersemangat, ia juga menyanyi-nyanyi tidak jelas. Dan itu sudah dipastikan akan membuat siapa saja yang mendengar akan lelah.Yoohyun yang sudah lelah karena memainkan piano dan bernyanyi tak jelas, jatuh ke tubuh Sehun yang besar itu.

“Hhaah…Haah..Hyung, aku lelah…Haah…Haah..”keluh Yoohyun sambil menata posisi duduknya yang kini ada di pangkuan kakaknya itu.

“Eo? Akhirnya selesai juga…telingaku sakit mendengarnya, apa kau mau tidur?” tanya Sehun. Yoohyun mengangguk sambil menguap lebar.”Geurae, hyung akan disini sampai kau bangun…Tidur yang nyenyak ne?” ucap Sehun lembut, ia mengecup kening Yoohyun seusai kecupan singkat itu, Yoohyun tersenyum kecil dalam keadaan memejamkan matanya lalu Sehun menepuk-nepuk tubuh Yoohyun dengan lembut agar tertidur.Seperti yang ia lihat ketika ibunya sedang menidurkan adik kecilnya itu.

Sementara di luar kelas musik, Baekhyun tengah celingukan mencari Sehun dan ia tersenyum kecil saat melihat ada Sehun di dalam kelas musik melalui jendela pintu. Baekhyun mulai meraih knop pintu lalu membukanya denga hati-hati.Baekhyun berlari kecil kearah Sehun lalu menepuk bahu Sehun.

Sehun langsung menoleh dan mengisyaratkan Baekhyun untuk tidak berisik.

“A,oh..Mianhae, mm..Sehun aku..”

“Apa?” tanya Sehun dingin. Melihat Baekhyun, Sehun menjadi ingat saat Gain mengejar Baekhyun lalu selalu memikirkan Baekhyun yang takmemberikan kesempatan untuk Gain, dan mengucapkan jika Gain juga sangat sayang pada Baekhyun, dan Sehun benci itu.

“Aku ingin meminta bantuanmu, masalah Gain dan pesta perayaan kemenangan kelas kita…. Kita bisa berbicara baik-baik.” Kata Baekhyun dengan hati-hati. Karena melihat wajah tajam Sehun membuatnya sedikit takut.

Sehun menghembuskan nafasnya.Ei..Apa aku harus percaya dengannya? Tapi…Sepertinya ia tak main-main dengan ini. pikir Sehun.

“Terserah, kau katakan saja aku akan dengarkan.”

“Tapi setelah mendengar ini kau harus menjawab diantara setuju dan tidak eo..Arraseo?” Sehun menganggukkan kepalanya tanda menyetujui perkataan Baekhyun. Baekhyunpun tersenyum tipis dan menjelaskan semuanya dengan Sehun tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Setelah penjelasannya selesai Baekhyun langsung merangkul Sehun.

“Bagaimana? Tenang saja, semuanya tidak di serahkan padamu begitu saja… Pasti yang lain akan membantu.Aku mohon bantuanmu Sehun..” Kata Baekhyun. Sehun menatap Baekhyun tak yakin.

“Hhh..Sebenarnya aku juga sedang ada sesuatu dengan Gain..Tapi..Geurae, aku mau. Apapun itu, jika itu yang terbaik untuk Gain…” kata Sehun sambil tersenyum tipis. Baekhyun tercengang mendengar jawaban Sehun, Sebenarnya masalahnya dengan Gain ini apa?..Ah sudah lah ini tak penting…Dan apa rasa sayangmu dan aku untuk Gain..Sama atau berbeda eo?……. Wuah..Ingat, aku sudah di tolak..Sadar Baekhyun. Batin Baekhyun, Baekhyun tertawa renyah untuk menutupi pikirannya itu.

“Kalau begitu, kita temui yang lain untuk membicarakan ini…Dan bawa juga adik kecil ini…” kata Baekhyun dan sama sekali tak ingin membahas masalah Sehun dengan Gain itu karena pasti akan membuatnya semakin membelit, Baekhyun mengusap-usap hidung mungil Yoohyun lalu berjalan sambil mengisyaratkan Sehun untuk mengikutinya.

–***–

(Kelas 11)

Perlahan siswa kelas 11 masuk ke dalam kelas secara bergantian, mereka semua datang saat Suho mengumumkan lewat radio sekolah agar seluruh kelas 11 berkumpul di kelas.Ya, mereka semua berkumpul untuk merundingkan pesta kemenangan kelas mereka itu di rumah Sehun.

“Geurae..Semuanya tenang, kita akan mulai!” ucap Kris yang tengah berdiri di depan kelas dengan di dampingi Suho dan juga 5 siswa lain yang sangat penting dalam ide aneh ini. Chanyeol, Baekhyun, JinA, Luhan dan si pemilik tempat perayaan, Sehun.

“Ehm! Ada yang punya ide tema untuk pesta perayaan ini?” tanya Kris. Para siswa terdiam karena sibuk memikirkan pertanyaan Suho.

“Ah Suho! Aku tahu!” Chanyeol mengangkat tangannya sambil menghadap ke arah Suho yang ada tepat di sebelah kanannya. Suho menatapnya dan menggunakan sorot matanya sebagai isyarat jika ia mengatakan ‘silahkan’. “Sepak bola? Kita akan buat semuanya memakai kaus sepak bola, bukankah ini perayaan karena kemenangan kelas kita di sepak bola?” kata Chanyeol. Suho mengernyitkan dahinya lalu memukul kepala Chanyeol dengan gulungan kertas yang tengah ia pegang.

“Ya! Itu tak pantas dengan yeoja!” kata Suho yang di sertai anggukan kepala siswa yang lain. Suho melihat kearah depan kembali dan mengulang pertanyaannya, “Ada yang lain?” Bamguk mengangkat tangannya lalu Suho mempersilahkannya untuk berdiri dan mengularkan pendapatnya.

“Mm.. Kita buat saja seperti pesta pada umumnya, tidak usah menggunakan tema yang menyulitkan dalam pakaiannya. Ehm! Jika bisa kita buat pesta dengan outdoor dengan masakannya yang dimasak di atas kompor panggang dan camilan kecil kue kering adan marshmellow. Seperti daging bakar? Atau barbeque? Atau yang lain, buat pesta yang santai. Lalu dengan acara kembang api. Pasti itu sangat menyennagkan bukan?” saran Bamguk, setelah kalimatnya selesai semuanya bertepuk tangan dan bersorak. Dan ada juga yang berseru,

“Yehey, Bamguk kau hebat!”  Di tengah-tengah sorakan itu, datanglah pak Hwang beserta namja tinggi dengan warna kulit gelap. Semua siswa langsung terdiam dan matanya tertuju pada pak Hwang dan namja itu. Pak Hwang langusng masuk lalu di belakang diikuti oleh namja tinggi itu.

“Ehm! Maaf telah menganggu… Disini bapak hanya mengantarkan siswa baru ini, dia bernama Kim Jong In… Eum.. Bapak duluan ne? Sedang banyak urusan.. Silahkan kalian berkenalan dengan Jongin sendiri.” Kata pak Hwang dengan buru-buru, sebelum pergi pak Hwang menepuk-nepuk bahu Jongin.

Semua pandangan itu lalu berhenti dan kembali ramai lagi dengan sorakan-sorakan tidak jelas, namun sorakan itu langsung berhenti saat Kris dengan kasarnya mendebrak meja. Setelah kelas kembali tenang Suho langsung mengambil alih dan melanjutkan rapat yang tertunda oleh kedatangan Jongin.

“Geurae, kita semua setuju..Bagaimana Sehun? Kau ada tempat untuk pesta seperti ini kan?” tanya Suho sambil menoleh ke arah Sehun, sementara Chanyeol memundurkan posisi berdirinya agar Suho bisa melihat Sehun.

“Ne, aku juga ada kompor panggangnya dan kembang apinya, kalian tinggal datang dan membawa bahan makanannya saja.” Jawab Sehun. Suho menganggukan kepalanya tanda mengerti, lalu menuliskan sesuatu pada kertasnya itu.

Baekhyun berjalan mendekati Jongin, ia berdiri di belakang Jongin lalu membisikkan sesuatu ke telinga siswa baru itu.

“Ssst.. Kau ingat aku? Byun Baekhyun?” Jongin menolehkan kepalanya, dan matanya membulat saat melihat Baekhyun berdiri di belakangnya sambil tersenyum melambaikan tangannya. Lalu Jongin menganggukkan kepalanya. “Lalu apa kau ingat denga…..”

“Geurae, sepertinya kita sampai disini.. Kita akan adakan nanti malam. Pakailah pakaian yang sopan, dan bawalah makanan yang seperti dibilang Bamguk.“ kata Suho yang diikuti oleh anggukan kepala siswa yang lain.Baekhyun menepukkan bahu Jongin lalu pergi meninggalkannya. Setelah rapat kecil ini selesai, semuanya keluar kelasdengan yang keluar terakhir adalah Suho dan Jongin.

“Kim Jong In?” Jongin menganggukan kepalanya. “Kau berasal dari sekolah mana?” tanya Suho lagi.

“China.” Jawab Jongin pendek. Merasa janggal dengan jawaban Jongin, Suho kembali menanyakan lagi.

“China? Apa kau orang China? Kenapa namau Kim Jong In?” tanya Suho bertubi. Jongin tertawa kecil.

“Aku orang korea hanya, 4 tahun yang lalu aku mulai belajar di China. Mengikuti ayahku yang bekerja disana. Dan tahun ini ayahku kembali lagi kesini untuk mengurus keperluan yang lain. Aku tidak begitu tahu hal itu, tapi beliau bilang ini sangat penting.” Suho hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Oke Jongin, sepertinya kau harus tahu namaku. Aku Suho, nanti malam kelas kami akan mengadakan pesta. Sebaiknya kau harus datang.” Kata Suho sambil merangkul Jongin yang lebih tinggi darinya.

“Pesta? Aku idak tahu tempatnya. Bisakah nanti malam kita bertemu di suatu tempat? Lalu kita berangkat bersama..Mm..Mempermudah keadaan.” Usul Jongin. Suho menganggukkan kepalanya mengerti, lalu Suho memberikan nomor ponselnya kepada Jongin agar bisa berkomunikasi.

–***–

Baekhyun memasukkan kedua tangannya kedalam kedua saku celananya. Ditatapnya namja tinggi putih berparas tampan ini yang tengah menggendong namja kecil di depannya. Dirinya menatap Sehun sambil menimbang-nimbang, Kenapa aku penasaran sekali dengan masalahnya dengan Gain eo? Apa aku harus tanya dengannya?  Pikir Baekhyun.Dan akhirnya ia memutuskan untuk bertanya daripada pikirannya ini menghantuinya terus.

Baekhyun mendekati Sehun dan menepuk bahunya pelan. Sehun menoleh kearah Baekhyun lalu menanyakan apa yang Baekhyun inginkan itu,

“Wae?”

“Mmm.. Apa..Eee..” Baekhyun menatap Sehun dengan tak yakin, melihat tatapan tajam Sehun mmebuatnya sedikit takut untuk menanyakannya. “Mm…Ak..Aish… Lupakan..” Baekhyun meneyrah. Sehun menatap Baekhyun sambil mengernyitkan dahinya, ia menghentikan langkahnya dan berjalan ke depan Baekhyun agar mereka bisa berhadapan.

“Wae? Apa yang kau tanyakan tentang Gain? Kau terlihat resah sekali.”kata Sehun yang menjadi penasaran juga dengan Baekhyun. Baekhyun mengangkat kedua alisnya, Cepat sekali ia berpikirnya?? Batin Baekhyun. “Apakah aku benar? Apa kau mencemaskan Gain?? Aku benar?” Sehun kembali menghujani Baekhyun dengan tebakannya itu. Baekhyun mengusap-usap leher bagian belakangnya dan menelan ludahnya, ia mengangguk kecil. “Hah, kalian kompak.” Kata Sehun dengan dingin, lalu berbalik dan berjalan mendahului Baekhyun. Baekhyun membuka mulutnya, dan menunjuk Sehun saat ia sudah jauh darinya.

“Aish..Ya, kenapa dia pergi?” gumam Baekhyun.

Sehun memilih meninggalkan Baekhyun, berkat tingkah Baekhyun tadi dan mimik wajah Gain dengan Baekhyun tak jauh berbeda.. Ia menjadi teringat bagaimana Gain menanyakan padanya untuk berbaikan dengan Baekhyun dan bagaimana ia meninggalkan Gain dengan kasarnya. Perasaan bersalah kembali muncul di hatinya, dan sedikit rasa cemburu melihat Baekhyun yang resah memikirkan Gain dan juga kemarin malam saat Gain yang resah memikirkan Baekhyun membuatnya menjadi pesimis. Sebenarnya Gain menganggapku apa jika begitu mengkhawatirkan namja itu eoh? Bukankah ia yang meminta sendiri kepadaku untuk menjadi kakaknya?? Menyebalkan. Pikir Sehun.

–***–

(Rumah Gain)

Gain membenarkan posisi duduknya berkali-kali saat tengah membaca di perpustakaan miliknya itu.Saat bosan, ia akan membiarkan bukunya terbukan dan ia berbaring. Kembali membaca dan terus seperti itu, ia tak akan pernah diam jika sudah membaca di rumahnya sendiri tak seperti saat di sekolah.

“Hhhh…. Bosan sekali…..” keluh Gain sambil merentangkan tangannya saat tengah berbaring di karpet beludru yang ada di ruang perpustakaan miliknya.

Tok..Tok..Tok..Tok..

Gain bangkit dari tidurnya itu dan menoleh ke arah pintu yang tengah di ketuk itu. Ia menarik nafasnya dan bersiap untuk berbicara dengan setengah berteriak.

“Nugu?”

“HeonMi nona…”

“Aaa..Ada apa?”

“Nona Woon menunggu di luar..Nona akan menemuinyakan?”

Gain terdiam sejenak, JinA? Ada disini? Ada apa? Pikirnya. Gain melnagkahkan kakinya kearah ambang pintu perpustakaannya.Tangannya meraih gangang pintu dan menariknya kebawah agar pintu itu terbuka.

“JinA eonnie? Dimana?” ulang Gain.

“Saya sudah mempersilahkannya duduk di ruang tamu… Nona Woon mengatakan, bahwa ia punya keperluan penting dengan nona.” Jawab pelayan Gain yang bernama HeonMi itu dengan bahasa yang formal.”Sebaiknya nona menemuinya…Sepertinya sangat penting…” lanjut HeonMi lalu tersenyum lembut. Gain mengalihkan pandangannya dari HeonMi ke bawah dan menatap kedua kakinya. Apa aku harus menemuinya? Bagaimana jika ia datang hanya memakiku kenapa aku menampar Luhan dan kenapa tak masuk sekolah..Oh, pasti ini menjadi waktu yang panjang….Bagaimana jika dia…

“Jika masalah nona bersangkutan dengan teman nona, sebisa mungkin bersikap biasa ne? Seolah tak ada masalah, jika merasa bersalah meminta maaflah sesuai cara nona. Lakukanlah dengan cara terbaik nona sendiri.Tetap lakukan hal yang sama secara terus menerus atau lebih baik dari sebelumnya, jika teman nona itu masih marah dengan nona ne?Coba saran bibi ini digunakan jika nona benar-benar ingin berdamai dengan teman nona..”

Bibi Choi… Apa kau yakin?? Pikir Gain. Ia tersenyum kecil lalu mengangkat kepalanya.

“Geurae, aku akan menemuinya…Gomawo HeonMi.” Kata Gain sambil membungkukkan badannya untuk menghormati orang yang lebih tua 4 tahun darinya itu. Lalu pergi menemui JinA.

 

(Ruang Tamu)

Saat Gain sampai di ruang tamu. Awalnya langkahan kakinya penuh dengan keyakinan, namu perlahan keyakinan itu memudar saat ia semakin dekat dengan JinA. Hatinya juga tak henti-henti menyuarakan padanya untuk terus maju dan menyelesaikan masalahnya itu.

Kini dirinya tepat di belakang JinA. Ia menelan ludahnya perlahan dan mencoba untuk menghapus rasa gugupnya itu. Tangan kanannya dengan agak bergetar meraih ke pundak JinA. Dan saat tangannya di atas pundak JinA, Gain langusung menariknya kembali. Bagaimana aku memulainya?? Pikir Gain.

“Gain?” panggil JinA sambil menoleh ke arah Gain. Lamunan Gain terbuyar mendengar panggilan JinA. Gain dengan takut-takut menatap mata JinA. Ia masih menatap mata JinA tanpa mengatakan apapun, ia masih berpikir keras bagaimana cara ia untuk..Meminta maaf?

Melihat Gain yang hanya mematung tidak jelas, JinA bangkit dari tempatnya dan menarik lengan Gain dan menyeretnya keluar. Gain sendiri hanya bisa menurut dan bibirnya sama sekali tak bisa terbuka hanya matanya yang membulat sempurna saat dirinya di seret JinA. Omo, kenapa JinA menyeret seperti ini? Apa ia marah ? Jika tidak marah kenapa kasar sekali? Pikir Gain dalam hati.

 

(Di Luar)

Tap..Tap..Tap..

Gain mengikuti langkah JinA di belakang gadis itu. Gain masih menutup rapat bibirnya. Ia takut jika hal yang tidak diinginkan terjadi.Aigoo Kenapa susah sekali untuk mengatakan maaf??! Batin Gain. Gain menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali melewati mulutnya dengan perlahan, Geurae..Aku akan coba… batin Gain. Ia membuka mulutnya namun mengatup kembali saat suara JinA keluar.

“Gain, Aku..Aku.. Mm..Mianhae, telah membuat hatimu sakit…. Jika saja waktu berputar kembali dan kembali dimana saat masalah konyol ini terjadi, aku berjanji akan menjadi eonnimu yang baik….Mm..Ahh…”

Gain terdiam mencerna kalimat JinA itu di setiap katanya, ya kalimat itu mirip dengan yang ingin Gain lontarkan pada JinA.JinA menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.

JinA menyembunyikan kedua tangannya di balik tubuhnya lalu tersenyum ke arah Gain. Perlahan tangan kanan JinA keluar dari persembunyiannya dan mengulurkannya kehadapan Gain. Gain mengangkat kepalanya dan menatap JinA tak mengerti, ia berpikir haruskah ia berjabat tangan? Setelah berpikir puluhan kali, tangan kanan Gain akhirnya menerima tangan JinA. Namun Gain sama sekali tak menarik bibirnya untuk tersenyum, entahlah rasanya berat sekali rasa takutnya jika JinA akan marah juga masih ada di pikirannya.

“Gain, kajja kita ke taman…Untuk jalan-jalan.” Ajak JinA lalu kembali mengggenggam tangan Gain lalu menariknya. “Ah ne, nanti malam kau datang ke rumah Sehun ne? Kelas 11 akan mengadakan pesta di rumah Sehun..Dan tadi ada teman baru di kelas kita.” Gain hanya diam dan membiarkan JinA melanjutkan kalimatnya. “Dia namja, dan jika tidak salah…..Mmm.. Kim..Kim..Kim Jong..Ah ne, Kim Jong In.” Lanjut JinA. Gain memutar bola matanya, mendengar nama itu rasanya telinganya menjadi terasa aneh. Jika pernah mendengar ia tidak tahu mendengarnya kapan dan dimana, jika tidak pernah mendengar nama itu…..Rasanya sangat aneh. Jongin? Kim Jong In? Nugu? Batin Gain.Hhh.. Molla, aku malas mengingat-ingat hal-hal yang lalu…

 

(Taman)

JinA menikmati ice creamnya sambil menatap Gain dengan heran. Biasanya jika sudah di taman lalu menikmati ice cream coklat, Gain akan sangat riang. Tapi sekarang ia hanya menggenggam ice cream itu dan membiarkannya perlahan-lahan meleleh.

“Gain? Ada masalah?” tanya JinA. Gain mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepalanya. JinA menghembuskan nafasnya lalu mengalihkan pandagannya ke arah bunga-bunga yang ada di taman. “Apa kau masih memikirkan masalah-masalahmu itu? “ tebak JinA. Gain menganggukkan pelan kepalanya.

“Ne.. Akk..Aku..Aku takut untuk mengatakan maaf kepada eonnie, dan yang lain..Rasanya aku sangat bersalah jika aku marah pada mereka semua… Aku bingung bagaimana caranya agar tidak gugup.” Kata Gain akhirnya membuka suaranya.

“Eii….Itu..Buang rasa gugupmu itu. Buat seolah kau tak ada masalah, llau bicara baik-baik. Jika sulit ajak mengobrol dengan topik yang lain, sampai waktu yang tepat. Arrachi?” Gain mengernyitkan dahinya, Cara JinA maupun bibi Choi membuatku bingung saja… Sulit sekali mempraktikannya….Aigoo… batin Gain. “Hhh… Kau sulit mempraktikannya? Kau malu? “ tanya JinA. Gain mengangggukkan kepalanya. JinA menepuk jidatnya dengan tangan kirinya, Susah sekali jika mengajarkan Gain hal seperti ini. batinnya.

“Guk!Guk!Guk!”

Terdengar suara gonggongan anjing dan suara itu sangat dekat dengan tempat Gain dan JinA. Tentu saja membuat kedua yeoja ini menolehkan kepalanya, JinA tersenyum lebar melihatnya sementara Gain. Ia terkejut dan hanya bisa menundukkan kepalanya.

“Annyeong, sedang jalan-jalan? Siapa ini?” sapa JinA sambil mengusap-usap kepala anjing besar yang dibawa oleh Luhan. Luhan menyengir, ia berjongkok lalu menepuk-nepuk tubuh anjingnya itu.

“Gongwu. Dia kerenkan? Dengan tubuh yang besar?” tanya Luhan sambil menoleh ke arah JinA. JinA berhenti mengusap kepala Gongwu dan memundurkan kepalanya.

“Ei, apa aku harus menjawab?” tanya JinA balik. Luhan hanya tertawa lalu mengalihkan pandangannya pada yeoja yang ada disamping JinA, Gain. Melihat Gain yang hanya menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan sama sekali tak memperlihatkan wajahnya itu membuatnya tergerak untuk mendekatinya. JinA menggeser tempat duduknya agar Luhan bisa duduk di dekat Gain juga. JinA memegang pundak Luhan lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Luhan. “Kajja Luhan, ini giliranmu….” bisik JinA sambil memundurkan kepalanya. Luhan melihat ke arah JinA dan tatapan itu bermakna ‘bagaimana aku melakukannya?’ “Gunakan sendiri caramu.” Jawab JinA sambil tersenyum tulus. JinA… Tersenyumlah lagi kepadaku…..Aish…Kenapa aku memikirkan yang tidak-tidak eo? Batin Luhan.Luhan lalu tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

Tangan Luhan hendak meraih pundak Gain namun berhenti saat Gain bangkit dari tempatnya dan berdiri sambil terus menutup wajahnya. Dari situlah ada 1 hal yang janggal dari Gain, bahunya terlihat naik-turun.Mungkinkah ia menangis?

Gain membalikkan badannya sambil membuka tangannya, dan benar saja terlihat di daerah pipinya basah dan pelupuk matanya juga berlinang. Gain membungkukkan badannya di hadapan Luhan dan JinA.Sementara JinA dan Luhan saling berpandangan tak mengerti.

“Hiks..Hiiks..Eonnie… Luhan..Hiks..Mianhae…Telah membuat kalian semua susah karenaku…Hiks..Hiks..Mmm..Mmmii..Hiks..Hiks..Mmmian…Mianhae…Hiks.. Telah menamparku waktu lalu…Hiks..Hiks..Hiks..Kumohon maafkan aku…Hiks..Hiks.. Aku akan laukan apapun…Hiks..Hiks..Hiks.. Aku sayang kalian semua….Mianhae..Hiks..Hiks..Hiks…” kata Gain sambil membungkuk dan mengeluarkan air matanya. JinA dan Luhan tentunya tercengang, mereka tersenyum lembut menatap Gain yang menangis dan membungkuk di hadapan mereka. JinA bangkit dari duduknya lalu memeluk Gain lalu mengusap-usap kepala Gain serta membelai rambut Gain.

“Hhh..Ne..Pasti Gain…Kau adikku yang manis…… Aku juga sayang padamu. Kau tak perlu melakukan apapun, menjadi dirimu adalah yang terbaik dari apapun darimu Gain…” kata JinA di tengah pelukannya. Gain menganggukkan kepalanya dan tentu saja sambil terus mendengar. JinA melirik ke arah Luhan yang sedari tadi memperhatikan mereka, JinA tersenyum kecil. “Bagitu juga dengan Luhan…Kau tak perlu sampai menangis seperti ini…” lanjut JinA. JinA mengangkat wajah mungil Gain. JinA mengusap air mata Gain dengan tangannya. “Kau tak boleh cengeng.” Kata JinA sambil tersenyum.

Gain memberanikan dirinya untuk menatap JinA lalu tersenyum tipis.Lalu Luhan, ia hanya meperhatikan mereka dengan perasaan haru. Terlebih saat melihat saling berjauhan, dan kini sangat dekat pasti masa itu dulu membuat mereka benar-benar tersiksa. Luhan menarik sudut bibirnya dan tersenyum melihatnya, matanya tersa perih saat itu.

“Ooo ani, aku namja aku tak akan menangis…” gumam Luhan sambil mengusap-usap matanya.

“Guk!Guk!Guk!” Luhan mengalihkan pandangannya pada Gongwu lalu tertawa kecil.Ia mengusap-usap kepala Gongwu dengan gemas.

“Apa kau bicara padaku? Apa kau mengatakan padaku jika ‘itu tak mungkin?’ Apa kau berpikir aku akan menangis eo? ”

“Guk!”  Gongwu kembali menggong.

–***–

(Malamnya)

Gain berjalan keluar rumahnya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Malam ini benar-benar malam yang sangat dingin, awan yang ada di langit sana menutup bulan yang menjadi sinar pada malam hari. Sungguh menyeramkan.Gain menggosok-gosokkan telapak tangannya sambil meniup-niupnya.

“Wuuhh…Dingin sekali…..” gumam Gain lalu kembali memeluk dirinya yang tengah menggigil kedinginan.

Tap..Tap..Tap…Tap..

Gain mengentikan langkahnya saat mendengar langkahan kaki mendekat.

Tap..Tap..Tap..

Suaranya semakin keras, dan ini membuatnya benar-benar penasaran.Gain membalikkan tubuhnya,mulutnya membentuk huruf ‘o’ lalu matanya membulat sempurna dan kedua alisnya terangkat keatas tengah tak percaya.Gain langsung membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan lebih cepat.

Sementara Baekhyun yang tadi tengah melempar senyumnya langsung berteraik dan berlari menyusul Gain,

“Ya!!!” Saat jaraknya sudah tak jauh, Baekhyun mencekal tangan Gain. Sementara Gain sendiri hanya diam dan tak melakukan perlawanan apapun karena ia tahupasti itu percuma.Gain hanya bisa pasrah, Apa dia akan marah? Apa Baekhyun akan marah? Ia berteriak sangat keras tadi….pikir Gain. “Ya, kenapa giliran kau yang diam seperti ini? Aku kesini untuk memaafkanmu….Apa kau sekarang yang kesal denganku?” tanya Baekhyun.Gain menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Lalu.. Jika tidak, kenapa kau berlari seperti buronan?” tanya Baekhyun lagi.

“Eeeemm..Itu..Akk..Aku, aku takut.” Jawab Gain terbata. Baekhyun meemiringkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya, ia melonggarkan genggaman tangannya pada Gain.

“Takut?” ulang Baekhyun.

“Ennn…Ne, aku takut jika kau marah denganku..” jawab Gain. Baekhyun tersenyum kecil, ia berjalan mendekati Gain. Dan kini ada di samping Gain persis. Baekhyun merangkul Gain lalu menoleh kearah Gain dengan senyuman khasnya itu. Gain sendiri menundukkan kepalanya dan menahan malunya saat ada wajah namja yang sangat dekat dengannya dan mengamati wajahnya sambil tersenyum. Itu membuatnya menjadi sangat gugup sekarang.

“Gwaechana, aku tidak akan marah denganmu. Aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi. Ok?” kata Baekhyun sambil mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan Gain. Gain mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap mata Gain yang sangat dekat dengan wajahnya saat ini.Lalu Gain emnganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Mm. Gomawo Baekhyun.” Ucap Gain sambil memperlebar senyumannya hingga matanya tak terlihat hanya terlihat lengkungan mata tersenyum yang sangat manis. Baekhyun membulatkan matanya sambil mengatup mulutnya, MM..Manis sekali…… batin Baekhyun.

Baekhyun menggelnegkan kepalanya lalu menjauhkan wajahnya dari Gain, agar ia tidak salah tingkah dengan senyuman manis Gain tadi. Ia melepas rangkulannya dari Gain lalu menggaruk-garuk kepalanya.

“Mmm..Eeee..Aaa..Ah, kau membawa bahan makanan untuk nanti?”tanya Baekhyun dengan nada sedikit terbata karena menutupi rasa malunya.

“Eo? Bahan makanan? Memang kita akan masak juga?” tanya Gain dengan polosnya.”Kenapa JinA eonnie tak mengatakannya padaku? Apa itu wajib, Baekhyun?” tanya Gain lagi.Baekhyun mengangkat bahunya.

“Molla, tenang saja. Suho dan Kris pasti tak akan memarahimu.D” Jawab Baekhyun sambil menepuk-nepuk kepala Gain. Gain mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Hhmm, memang ini pesta apa ne? Kenapa membawa bahan makanan?? Pikir Gain.”Dan mungkin Sehun punya banyak bahan makanan kan?” lanjut Baekhyun.

DEG!

Gain menolehkan pada Baekhyun, ia baru ingat jika pestanya di rumah Sehun. Mati kau Gain.

“Oh! Busnya sudah datang, kajja palli!!!” seru Baekhyun sambil menunjuk busnya, saat melihat ada bus yang berhenti di halte bus yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Baekhyun langsung menarik lengan Gain dan berlari menuju bus itu sambil berteriak, “Tunggu!!!!”

–***–

(Rumah Sehun)

Gain mematung saat sampai di depan gerbang rumah Sehun. Dan sama sekali tak mau bergerak walaupun Baekhyun terus menariknya, Gain pasti menolak ajakan Baekhyun.

“Waeyo?! Kajja masuk… Sebelum kita terlambat…” kata Baekhyun yang mulai kewalahan menunggu Gain untuk segera masuk. Gain menggelnegkan kepalanya dan bersikeras untuk tidak mau masuk ke rumah Sehun.

“Aku tak mau mas…”

Gluduk..Gluduk…Gluduk..

Gain dan Baekhyun dengan kompak menatap ke atas melihat langit yang lebih gelap dari yang sebelumnya. Dan keadaan ini Baekhyun memanfaatkan waktu itu dengan menarik Gain, dan itu sangat mudah. Dan Gain sama sekali tak menolak karena ia sudah masuk ke dalam halaman rumah Sehun.

Saat berjalan Gain hanya menundukkan kepalanya dan menuruti Baekhyun yang menariknya ke tempat pesta berada. Dan hanya mendengarkan Baekhyun yang menyapa yang lain saat melewati mereka. Jika Baekhyun ditanya apa dengan Gain yang terus menunduk, ia aka menjawab

“Moola, mungkin dia sedikit sakit…Annyeong.” dan kata-kata terus diulangnya yang pasti membuat Gain lelah mendengarnya.

Dan suasana berubah saat semua anak sudah berkumpul di taman belakang rumah Sehun, Gain dapat mendengarnya dengan suara yang sangat berisik. Entah itu yang berteriak, mengobrol atau berteriak tidak jelas. Baekhyun menghentikan langkahnya lalu menyikut lengan Gain.

“Ya, ini pesta kelas kita. Kenapa kau gugup sekali?” tanya Baekhyun yang risih dengan sikap Gain yang terus menundukkan kepalanya, sepertinya penyakit malunya mulai kambuh lagi. Gain mencoba menahan rasa gugupnya itu dengan mendongakkan kepalanya ia menatap Gain lalu menyengir.

“Ah..Hehe, mian… Aku akan mencari tempat yang lebih tenang..” kata Gain sambil berbalik dan melangkahkan kakinya. Baekhyun menatap punggung Gain dengan tatapan heran.

“Ya, bukankah orang datang ke pesta untuk bersenang-senang? Kenapa ia tidak? Sebegitu besarkah rasa gugupmu atau…Ah, ia dia sedang ada masalah dengan Sehun….. Memang apa eo?”

–***–

Inilah tempat Gain sekarang, sisi lain dari taman belakang Sehun yang sangat luas. Disini lebih tenang dari disana. Bukannya malas dengan pesta, tapi Gain hanya takut saat datang ke rumah namja, apalagi itu Sehun yang dekat dengannya namun sedang ada masalah kecil diantara mereka. Mmebuat Gain tisih dengan keadaan ini.

Gain duduk di bangku taman yang ada di dekat lampu taman yang tidak terlalu jauh dari tempat pesta kecil itu diadakan.Gain meraih saku jaket tebalnya yang sama sekali tidak dilepas dari tubuhnya saat ini. Setelah mendapatkan buku bacaan kecilnya, ia membukanya. Namun kembali menutupnya.

“Ah, ini bukan tempat dengan cahaya yang cukup terang untuk membaca…” runtuk Gain dengan suara yang  kecil.

“Kalau begitu kenapa kemari?” Gain mengagkat sedikit kepalanya keran terkejut. Ia menolehkan kepalanya dengan ceat ke seumber suara itu. Sehun. Gain menelan ludahnya lantaran tak percaya dengan makhluk yang ada di hadapannya. Ia semakin takut saat tatapan Sehun sangat tajam. Aku pasti sudah mati…

“Ya, kau belum menjawab pertanyaanku tempo lalu. Kau berhutang padaku.” Kata Sehun sambil mendekatkan posisi duduknya dengan Gain. Gain mengerjapkan matanya, Ah iya.Tapi bagaimana aku mengatakannya? Aku juga bersalah dnegannyakan?  Batin Gain. Gain menundukkan kepalanya dan memainkan kesepuluh jarinya. Sehun mengehembuskan nafasnya lalu menoleh kearah Gain sambil tersenyum tipis. “Gwaechana.. Aku tidak terlalu penasaran sekarang….” ucap Sehun. Mendengar ucapan Sehun tadi, Gain langsung mengangkat kepalanya.

“Ann..Ani..Ak..Aku sudah punya jawabannya Oppa. Jadi kau tak perlu kesal lagi denganku…Mianhae ne? Aku berjanji akan menjawabnya sekarang.” Elak Gain. Sehun tercengang dengan pernyataan Gain, mendengarnya membuatnya Sehun menggebu-nggebu ingin mengetahui hal itu.”Itu..Eee.. Mmm.. Orangnya ada di sampingku sekarang…..”  jawab Gain sambil menahan rasa malunya. Mendengar jawaban Gain, membuat pipi Sehun menjadi merona.Apa tandanya ia juga menyukaiku? Pikir Sehun.

Gain memainkann kakinya ke depan lalu kebelakang, sambil menatap kedepan. Agar rasa malunya sedikit menurun. Namun rasa itu hilang saat petir menyambar.

GLEGARR…

Jika ada petir menyambar dan ada Gain, pasti semua sudah tahu yang akan terjadi. Ya, Gain memeluk Sehun dengan sangat erat, dan keringat perlahan keluar dari dahinya dan deta jangtungnya berdegup lebih cepat. Sehun tentu menerimanya dengan senang hati, karena ia sangat suka jika Gain takut seperti ini. Bukan senang diatas penderitaan, karena disaat sepertinya beruntungnya Sehun ada di dekat Gain dan tentu saja hanya dia yang akan Gain peluk. Ditengah-tengah itu, Sehun membelai lembut rambut Gain sambil mencium puncak kepala Gain. Yang membuat rongga hidungnya penuh dengan aroma wangi rambut Gain yang lembut.

Hhh.. Jika aku ditakdirkan dengan yeoja ini. Aku akan terus disamping untuk menjaganya dan tak akan membiarkan orang lain yang menjadi boneka Gain yang akan ia peluk. Karena aku satu-satunya boleh… Gain pasti akan menjadi milikku… Selamanya…

–***–

“Jongin!” panggil Suho. Jongin yang tengah menikmati memasak barbeque dengan yang lain, langsung berhenti dam mengahampiri Suho. “Bisakah kau mencari Gain? Baekhyun bilang ada di sekitar sana….” kata Suho sambil menunjuk sisi lain dari taman belakang ini. Jongin mengikuti jari telunjuk Suho, lalu menganggukkan kepalanya.

Tanpa berbicara sedikitpun, Jongin langsung berlari ke tempat sesuai dengan yang ditunjuk Suho tadi. Saat ia melihat ada yeoja yang tengah duduk dengan namja di sampingnya yang mungkin itu bernama Gain dan Sehun yang dibicarakan yang lain tadi.

GLEGARR!!

Jongin langsung menatap keatas melihat petir yang tadi menyambar.Dan pandangannya langsung turun saat mendengar jeritan yeoja yang bernama Gain itu. Jongin membulatkan matanya dan mulutnya terbuka dan jari telunjuk kanannya menunjuk Gian yag tengah memeluk Sehun.

Aaa..Aaa.. Itu…Apa dia Jung Ga In? Gain kecil yang phobia dengan petir itu??? Apa benar itu dia?!! Dia lebih cantik dari yang kubayangkan…Apa dia masih mengingatku?

–***–

END?

 

 

 

Cerita asli buatan saya, Kim Ria .kemiripan cerita? Cast? Alur? Saya tidak tahu. Tapi ini ORIGINAL bukan plagiat. Inspirasi phobia sendiri dari pengalaman menyeramkan saya sama petir waktu kecil dulu.Lalu saya buat berbeda dengan genre romance(mungkin romantis?).

TERIMA KASIH, atas semua komen yang dibuat Readers… Saya sangat senang, ^^ semogabisa ketemu lagi di karya selanjutnya, Tenang ada phobia akan ada lanjutannya di season ke-2 tapi itu tergantung sama readers… Tolong untuk doanya ya..? Hahaha.. ^^ sampai bertemu di ff selanjutnya.. -gomawo-

++Petunjuk jika phobianya dilanjutkan di season berikutnya++

= cerita dibalik phobia Gain, (dimulai dari masa childhood (?) )

=behind storynya (Love story) *kalo sempet tapi ya? :3 #keroyokin langsung -_-

Iklan

29 pemikiran pada “Phobia (Chapter 12 – END)

  1. Yah~ ngegantung~
    season 2 thor!!!!
    Pokonya harus ada season 2!!!
    *maksa*
    *rumah sakit apa kuburan???*
    *bawa2 golok*
    *sok ngamcem*

    Thor2 konfliknya lebih greget lagi dong…
    Ini kurang greget gitu..
    Sama jgn lupa klo mau di publish di cek ulang ya~
    masih ada typo walaupun gk sebanyak yg chapter 1
    *ngomong ape lu*
    ya pokoknya critanya bagus kok

    keep fighting,writing thor!!!

  2. Endnya ngantung, tpi ada season 2nya (yeay!!) Gimana tuh nasibnya gain? Aku dah baca season 2nya bru 2 chapter, jadi thor jan lama2 yah chapter 3nya. Hehe…

  3. Woahhh bener2 keren. Aku tau lnjutanx sudah ada inikan sdh terlmbat nantilah aku baca lg cuma gak sopan masuk masuk gak nyapa n tinggalin jejak. Sudah dulu annyeong!!!

  4. Season 2 nya mana nih,,,??? kok gak ada??,,
    Annyeong thor^^ readers baru, ffnya bagus banget thor 😀 tapi kok season 2 nya gak ada??
    Mian thor cuman comment di chapter terakhir XD

  5. jongin muncul di akhir² kkk~
    endingnya cukup bagus sebenernya tapi jongin nya muncul jadiii kayaknya ini belum bisa dibilang ending deh thor wkwkw ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s