The Secret Of Time (Chapter 4)

The Secret Of Time [4]

the-secret-of-time1

By @titayuu

Cast : Oh Sehun, Oh Jieun (OC), Jang Jihyun (OC) | Genre : Romance Fantasy |

Length : Chapter | Rating : General

~*~

Sedingin dan sekeras sebuah es, jika terus mendapat sinar matahari yang hangat, maka akan mencair juga. Sehun percaya akan analogi bahwa sifat Jieun yang dingin seperti es, gadis muda itu juga akan mencair. Kemarin Sehun menebus janjinya untuk berjalan-jalan dengan gadis itu. Mereka bermain sepanjang hari di wahana permainan yang ada di Lotte World. Saat itu pula, untuk pertama kali ia melihat sebuah senyum mengembang di wajah Jieun.

Hubungan ayah dan anak mereka semakin membaik hingga sekarang. Jieun sudah menjadi sosok yang lebih manis. Gadis itu sudah jarang mengurung dirinya di kamar. Beberapa kegiatannya di habiskan di ruang tengah—mulai dari mengerjakan tugas, makan, menonton televisi, dan mendengarkan musik. Tak jarang pula Sehun bergabung dan mencoba membantu mengerjakan tugas Jieun. Dan untuk saat ini, Sehun mulai menikmati perannya sebagai seorang ayah.

Nanti malam, Jieun meminta Sehun untuk memasak makanan kesukaannya. Sehun pun berniat berbelanja bahan makanannya meski ia masih tak mengerti tentang cara memasak. Karena takut kehilangan kesempatan bersama Jieun, ia terpaksa menuruti semua permintaan gadis itu dengan mencoba memasak semampunya.

Langkah kaki Sehun berjalan di aspal menuju rumah setelah berbelanja dan menjinjing beberapa kantung besar di kedua tangannya. Namun ketika langkahnya semakin mendekati rumahnya, tiba-tiba tubuhnya berhenti bergerak ketika melihat seorang anak lelaki seusia Jieun berdiri di depan rumahnya. Anak lelaki itu memakai seragam seperti milik Jieun sambil sesekali melongokan kepalanya.

Rasa curiga mulai menyelimuti Sehun kalau saja ingatannya tidak melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian dimana ia menemukan sebuah  foto Jieun dengan seorang anak lelaki. Dan Sehun sepertinya tahu siapa sosok anak lelaki itu.

“Ya! Siapa kau?”

Sehun berderap menuju sosok anak lelaki itu. Lawan bicaranya menengok kearah sumber suara dengan mulut membentuk huruf ‘o’ sambil menggarukan kepala. Persis seperti seorang pencuri yanng sedang tertangkap basah. Ketika langkahnya semakin dekat, anak lelaki itu membungkuk dan memperkenalkan diri. Sedangkan Sehun seakan mematung di tempat ketika memperhatikan wajah itu. Dan kesadaran Sehun seakan sedang melayang entah kemana.

“Selamat siang, paman. Aku Kim Jonghyuk, teman Jieun.” Anak lelaki itu memperkenalkan diri dengan canggung. “Apakah Jieun ada di rumah?”

Kesadaran Sehun seakan sudah kembali ke tubuhnya. Lelaki itu mengerjapkan mata dan kembali menatap Jonghyuk dengan tatapan yang tak akan bisa di mengerti siapapun. Keningnya berkerut, namun mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. “Jieun belum pulang. Ada apa mencarinya? Kau bisa menemuinya di sekolah.”

“Ah, itu—ia menghindariku sejak beberapa hari yang lalu. Aku hanya ingin tahu apa sebabnya.” Ucapnnya sambil tersenyum kaku. “Baiklah, aku pamit dulu, paman.”

“Tunggu!” Sehun berseru cukup kencang setelah Jonghyuk membungkuk dan berjalan membelakangi Sehun. Mengdengar seruan Sehun, anak lelaki itu kembali berbalik. “Ini mungkin terdengar aneh, tapi wajahmu sangat familier di ingatanku. Kalau boleh tahu, siapa ayahmu?”

Jonghyuk menautkan kedua alisnya sebelum menjawab pertanyaan aneh Sehun. Anak lelaki itu sempat terlihat ragu, namun pada akhirnya membuka mulut. “Kim Jongin, ayahku bernama Kim Jongin.”

..

Sehun tak menyangka kalau takdir masih mau berpihak padanya. Sebuah lorong yang gelap yang selalu membuat tidurnya tak nyaman seakan sudah di terangi cahaya terang. Ia berhasil menemukan satu-satunya orang yang dapat membantunya keluar dari masalah yang rumit itu. Ia bertemu dengan sahabat lamanya, Kim Jongin.

Setelah meminta Jonghyuk untuk mengajaknya bertemu dengan Jongin, Sehun merasa antusias. Ia bahkan melupakan barang belanjaan yang hanya di geletakan di depan rumah.

Sehun dan Jongin sudah berteman sejak kecil. Kedua ayah mereka juga saling bersahabat hingga terkadang melakukan penelitian bersama. Sejak usia tujuh tahun, Sehun dan Jongin sempat berjanji dan bercita-cita ingin menjadi sosok seperti ayah mereka. Menurut mereka, pekerjaan yang di lakukan ayah mereka adalah pekerjaan paling keren di dunia.

Namun kepindahan Jongin ke Jepang seakan mengubur janji itu. Sehun sudah tak tertarik dengan dunia ayahnya terlebih ketika kedua orang tuanya bercerai. Seperti anak broken home kebanyakan, Sehun mencoba menarik perhatian kedua orang tuanya dengan melakukan tindakan aneh di sekolah—seperti berkelahi atau membuat keributan.

Ketika mengetahui bahwa Jongin sudah kembali dan dapat bertemu dengannya lagi, ia tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Semua terlalu tiba-tiba untuk dapat di mengerti otaknya.

Setelah menyapa sahabatnya yang sedang berada di sebuah kantor besar, Sehun menceritakan semua masalah pada Jongin. Sama seperti Sehun, ternyata Jongin juga mengubur janji dan mimpinya ketika masa kecil. Jongin sekarang sudah bertransformasi menjadi sosok manager yang sangat keren. Selain tubuhnya yang semakin besar, tak ada yang berubah dari sosok Kim Jongin. Lelaki itu masih mau mendengarkan cerita Sehun yang panjang dan akan mendengarkannya sampai habis tanpa banyak komentar. Namun ketika Sehun sudah berhenti bercerita, lelaki itu akan memberikan saran yang setidaknya bisa membuat dirinya sedikit tenang. Sehun kira lelaki itu akan menertawainya dan menganggapnya sebagai sosok sahabat yang gila. Namun ternyata tidak. Jongin justru mendengar tiap kata yang di ucapkan Sehun dengan seksama.

“Aku juga pernah berada di posisi sepertimu.” Ujar Jongin setelah meneguk secangkir esspresso di hadapannya. Jongin tahu kalau kalimatnya pasti mengundang rasa penasaran dan terkejut Sehun. Bisa di lihat kini wajah lelaki di hadapannya, wajah Sehun menunjukan sebuah tanda tanya. “Tapi tidak seperti kau. Aku pernah meminum ramuan persis seperti yang kau ceritakan ketika masuk ke dalam ruang kerja ayahku, namun aku hanya meminumnya sedikit. Dan tak lama, aku kembali seperti semula.”

“Mengapa itu tak terjadi padaku? Kenapa aku tak langsung kembali seperti semula?”

“Mungkin karena kau meminumnya sampai habis.” Ucapnya datar. Jongin melihat kedua pundak Sehun menurun seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Untuk sekarang Jongin mulai memahami kalau sahabatnya benar-benar butuh bantuan. “Jangan khawatir. Jika kau ingin kembali, kurasa ayahku masih mempunyai ramuan penetralisir.”

“Benarkah? Ayo kita menemui ayahmu!” Tingkat rasa semangat Sehun kembali membuncah. Matanya berbinar seperti sedang menaruh harapan besar pada Jongin.

“Tapi, apa kau yakin akan kembali?”

“iya!” jawabnya mantap.

“Katamu, hubunganmu dengan anakmu sedang dalam masa yang sangat baik. Meski sesungguhnya usiamu masih tujuh belas tahun, namun sepertinya kau menikmati peranmu sebagai seorang ayah.” Jongin mulai berdeham. “Jika kau kembali dan merubah masa lalu, bukankah dia tak akan pernah ada di dunia ini?”

Sehun kembali bersandar ke punggung sofa. Deretan kalimat Jongin sedang berputar di otaknya. Ia tak mungkin bisa langsung memutuskan ketika mengetahui fakta yang di ucapkan Jongin. Ia tak berpikir panjang tentang masalah ini.

“Bagaimana jika aku bunuh diri saja sekarang?”

Jongin tergelak singkat ketika mendengar pertanyaan lelaki itu. ia tahu kalau pertanyaan itu hanya sebuah gurauan karena Sehun sedang frustasi. Jongin menepuk pundak Sehun untuk memberikan semangat. “Pikirkan saja dahulu. Jika sudah memutuskan, aku akan membantu.”

..

To : Jihyun

Aku sangat membutuhkan saranmu. Bisakah kau membantuku? Kurasa sepertinya aku benar-benar frustasi saat ini.

Sehun menghela napas setelah jari-jarinya menari di atas layar ponsel datarnya. Ia berderap menuju rumah dengan kepala yang sudah di penuhi pertanyaan dan kemungkinan bodoh yang sengaja ia buat sendiri. Tanpa ia sadari kemungkinan bodoh itu justru yang membuat perasaannya tak nentu.

Setelah beberapa jam setelah pesan singkat itu terkirim, pesan balasan masih belum mendarat di ponselnya. Namun ketika malam tiba dan Sehun masih belum bisa memejamkan mata, dentingan pesan masuk berbunyi kecil di samping tempat tidurnya.

From : Jiyun

Maafkan aku, tadi siang ponselku tertinggal di rumah. Apa yang terjadi? Kau bisa menemuiku besok.

Sehun menaruh ponselnya kembali tanpa menekan satu pun tombol yang ada di ponselnya. Ia membaringkan kembali tubunya tanpa berniat membalas pesan Jihyun. Jihyun mungkin sangat sibuk dan tak sempat menerima beban yang akan Sehun berikan. Sehun masih mencoba memejamkan mata, namun otaknya tetap tidak bisa di ajak kompromi. Sehun berharap kalau esok mungkin bisa lebih baik. Semoga.

~*~

a/n : hallo~~ saya kembali dengan fanfic ini.. Sebelumnya saya mau terima kasih buat yg udah mau ngikutin ff ini dari awal. Maaf juga kalo postingnya agak lama. Dan tinggal 1 chapter lagi, ff ini akan berakhir.

Ff ini sudah pernah di publish di blog pribadi saya di www.disturbanceme.wordpress.com dan kalau ada yg penasaran dengan lanjutannya bisa langsung meluncur ke sana. Saya tunggu feedbacknya ya!^^

Iklan

10 pemikiran pada “The Secret Of Time (Chapter 4)

  1. wuahh.. sehun di landa galau.. kira2 apa yg bakal di pilih sehun ya..??
    lw pun dia tetap milih tinggal, dia tetap akan kembali lw reaksi obatnya udah habis.. sma kayak yg pernah d alami kai..

    penasaran sama kelanjutannya chingu, izin baca d blog pribadinya ya.. boleh kn.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s