Cheonsa Wants to Get Diet

Title: Cheonsa Wants To Get Diet

Author: @diantrf

Cast:

Oh Sehun (Exo) | Park Cheonsa (OC) | Others

Genre: Fluff | Rating: T | Length: Oneshot

Prev:

Innocent Cheonsa | What’s Cheonsa Doing Today? | Still Like-A-Child Cheonsa

0o0

Sabtu pagi yang cerah. Sehun sedang memasak sarapan di dapur dengan tenang. Ia dengan santainya mengaduk telur dalam pan dan sesekali menaruh sedikit garam disana. Udara hari ini sangat sejuk, membuat perasaan hatinya sedikit tenang di tengah kestresannya akan deadline skripsinya.

Apartemennya terasa sepi. Sepi? Kemana Cheonsa? Apakah gadis manis itu masih terlelap layaknya putri tidur dalam dongeng? Oh, tentu tidak. Tadi pagi Sehun dengan penuh cinta membangunkan Cheonsa dengan cara mencubit pipinya sampai merah seperti tomat. Sungguh kejam. 

Cheonsa sedang berkebun di halaman. Bingung bagaimana bisa ada halaman di apartemen? Lebih tepatnya hanya sebuah taman kecil yang Sehun buat untuk Cheonsa, karena gadis itu sangat menyukai bunga dan tanaman sejenisnya.

Dunia sepertinya terbalik pagi ini. Sehun layaknya ibu rumah tangga yang memasak sedangkan Cheonsa seperti tukang kebun yang mengurusi bunga. Biarkanlah, mereka memang aneh.

Sehun kini sedang menata meja makan. Ia tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya selama dua puluh menit itu. Baru saja Sehun hendak menuju taman untuk memanggil Cheonsa, gadis itu telah terlebih dahulu datang dengan..

Astaga, Cheonsa terlihat seperti korban gempa. Penampilannya sangat mengenaskan. Piyamanya penuh dengan tanah dan sedikit basah oleh air. Rambut panjangnya acak-acakan. Dan yang paling membuat Sehun ingin tertawa saat ini adalah, ekspresi lucu khas Cheonsa ketika ia sedang kesal. Menggemaskan!

Huaaa oppa kejam pada Cheonsa!”

Cheonsa berteriak kesal dengan pipi chubby-nya yang mengembung. Mata bulat berkilaunya menatap Sehun tajam, namun malah terlihat berkali lipat menggemaskan. Ia menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Tak tahan, akhirnya tawa Sehun pecah saat itu juga.

“Sehun oppa!”

Hahaha..maaf. Lebih baik kamu membersihkan dirimu dulu.”

Sehun sudah dapat mengontrol tawanya. Ia menghampiri Cheonsa dan mengacak rambutnya, dan tak lupa mencuri satu kecupan singkat di bibir cherry gadisnya. Lalu Cheonsa berjalan menuju kamar mandi, masih sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.

Kembali dilanjutkannya menata meja makan. Sehun duduk tenang dengan segelas vanilla-latte sambil menunggu Cheonsa. Tak lama, gadis itu datang dengan kaus pink polos dan celana training hitam. Sehun terkekeh pelan. Cheonsa mengingatkannya dengan benda bulat lucu yang berwarna pink.

“Sepertinya kamu sekarang semakin mirip dengan Pou. Pipi bulat itu dengan baju pink lalu-“

“Sehun oppa!”

Hahahaha..”

Oke fix, Cheonsa semakin kesal sekarang. Sepanjang sarapan pun Cheonsa masih mendiami Sehun. Bukannya merasa bersalah, Sehun justru semakin ingin membuat Cheonsa bertambah kesal. Gadis itu akan terlihat semakin menggemaskan saat kesal.

Namun belum sempat Sehun menjalankan satu ide jahilnya yang lain, Cheonsa telah terlebih dahulu pergi meninggalkannya menuju kamar. Sehun mengangakan mulutnya. Apakah candaannya kali ini keterlaluan? Jangan sampai Cheonsa marah padanya!

Aaaaaa oppaa!”

Teriakan Cheonsa dari kamar membuat Sehun dengan cepat menghampirinya. Apa yang terjadi dengan Cheonsa? Apakah gadis itu terjatuh di kamar mandi? Atau ia melihat kecoa? Oke, kesampingkan masalah kecoa itu. Sehun menemukan Cheonsa tergeletak tak berdaya di lantai samping meja rias. Apa yang terjadi?

“Cheonsa, kamu kenapa?! Ayo beritahu oppa!”

Aaaa oppaa, berat Cheonsa naik! Huaaa..”

Cheonsa merajuk seperti anak kecil, namun berbanding terbalik dengan Sehun. Pria itu malah menarik Cheonsa agar berdiri menghadapnya. Sehun menyuruh Cheonsa untuk naik ke alat timbangan sekali lagi. Tertera angka 53 kilogram disana.

Sehun menaikkan sebelah alisnya. Ia menilik tubuh Cheonsa dari atas sampai bawah. Memang benar, sepertinya tubuh gadisnya itu agak berisi sekarang. Dan tentunya pipinya semakin terlihat chubby. Namun Sehun sepertinya tidak masalah karena hal itu justru membuat Cheonsa terlihat menggemaskan.

Jujur saja, Sehun tak suka dengan gadis yang terlalu kurus. Itu membuatnya seperti orang yang kurang sehat. Dan gadis dengan pipi chubby seperti Cheonsa yang justru Sehun sukai. Sehun tersenyum lalu dengan tiba-tiba menggendong tubuh Cheonsa dan membaringkannya perlahan di ranjang.

Cheonsa yang tidak tahu apa-apa hanya diam diperlakukan seperti itu. Sehun berbaring di samping Cheonsa, memeluk pinggangnya dan menatap Cheonsa intens. Cheonsa hanya menatap Sehun dengan tatapan polosnya yang terlihat bingung.

“Berapa tinggimu?”

“168 cm.”

“Kurasa 53 kilogram bukanlah berat yang aneh untuk gadis tinggi sepertimu.”

“Tapi, oppa..”

Gadis itu memang memiliki tinggi badan yang lumayan untuk ukuran yeoja enam belas tahun. Dan Sehun bukanlah tipe pria yang banyak menuntut. Justru ia suka dengan tubuh Cheonsa yang seperti sekarang, membuatnya sangat nyaman untuk dipeluk, hahaha.

Sehun memeluk Cheonsa erat dan mengelus rambutnya sayang. Mengungkit masalah berat badan memang hal yang sangat sensitif bagi para gadis, dan Sehun mengerti itu. Daripada Cheonsa terus-menerus membuatnya pusing dengan masalah ini lebih baik Sehun mengambil tindakan secepatnya.

“Baiklah, besok kan hari Minggu. Bagaimana jika kita olahraga?”

Cheonsa membulatkan matanya tak percaya. Wajah polosnya itu benar-benar terlihat menggemaskan saat ini. Apakah Sehun serius dengan perkataannya? Cheonsa mengangguk dengan riang dan memeluk Sehun erat. Sehun memang suami termanis yang Cheonsa miliki.

“Ayo kita sarapan.”

Sehun bangkit dari tidurnya dan menggendong Cheonsa menuju dapur. Bukankah mereka pasangan yang menggemaskan dan manis? Sehun sang ice prince itu dapat berubah hanya dengan sedikit sihir cinta dari seorang gadis polos bernama Park Cheonsa. Dunia memang berjalan sesuai rotasinya.

0o0

Setelah perdebatan masalah berat badan tadi pagi, siang ini Sehun dan Cheonsa terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Cheonsa dengan setumpuk tugas sekolahnya dan Sehun tentunya sibuk dengan skripsinya. Tak ada suara sama sekali semenjak dua jam yang lalu. Mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

Sampai bel apartemen mereka berbunyi dengan nyaring, membuat Sehun mengalah dan langsung beranjak untuk membuka pintu. Agak lama Sehun belum kembali, sampai akhirnya Cheonsa mendengar ketukan pelan di pintu kamar.

Nampak seorang pria berwajah manis yang tengah memegang boneka beruang cokelat ukuran besar sedang tersenyum menatap Cheonsa. Mata gadis itu langsung berbinar dan berlari menghampirinya begitu tahu siapa yang berkunjung hari ini.

“Luhan oppa!”

Cheonsa langsung memeluk Luhan, membuat pria manis itu terkekeh dengan tingkah menggemaskan gadis di pelukannya. Tak lama, datanglah Sehun bersama seorang pria lagi yang sedang ikut tertawa melihat tingkah menggemaskan Cheonsa.

“Sehun, kuharap kau masih cukup waras untuk tidak memukul hyung-mu sendiri karena dia akan memonopoli Cheonsa untuk hari ini, hahaha.”

Siapa lagi orang yang bisa berkata menyebalkan seperti itu jika bukan Junmyeon? Yap, Junmyeon datang untuk membantu Sehun melalukan survei terhadap materi skripsinya. Dan karena Sehun tak tega membiarkan Cheonsa sendirian di rumah, akhirnya ia memutuskan untuk menelepon kakak sepupunya, Luhan, yang memang kebetulan adalah teman Junmyeon juga untuk menjaga Cheonsa hari ini.

Sehun langsung menatap tajam Junmyeon saat mendengar kata ‘memonopoli Cheonsa’. Ada sedikit perasaan cemburu di hatinya. Tapi untuk apa pula cemburu? Luhan hyung-nya bahkan sudah berumur setengah abad lebih dan memiliki pemikiran dewasa. Oke, Sehun berlebihan jika menganggap Luhan akan merebut Cheonsa darinya. Efek dari kelelahan sehingga dia berpikiran aneh sekarang ini.

“Sehun, hyung-mu satu itu membuatku pegal hanya karena menunggui ia yang bingung memilih warna beruang yang cocok untuk Cheonsa.”

Hey, aku kan hanya ingin memberikan hadiah yang terbaik untuk adik iparku yang manis ini atas prestasinya.”

Itu benar, Luhan memberikan hadiah boneka karena saat pergantian semester kemarin Luhan sudah berjanji pada Cheonsa akan memberikannya hadiah jika ia berhasil meraih peringkat satu. Dan ternyata gadis pintar itu mampu memenuhi syaratnya.

“Luhan oppa, gomawo.”

Ya ampun, senyum gadis itu sangat menggemaskan saat ini. Seakan mampu membuat bunga bermekaran hanya dalam waktu tiga detik dan membuat daun berguguran seketika itu juga. Pengandaian yang berlebihan, namun memang begitulah kenyataannya. Senyum manis itu terlalu menggemaskan untuk tak membuat orang lain ikut tersenyum saat melihatnya.

“Baiklah, rencana kita hari ini adalah Sehun yang akan mengerjakan skripsinya bersama Junmyeon di dorm dengan mahasiswa yang lain. Sedangkan aku dan Cheonsa akan kencan seharian disini, bagaimana?”

Luhan menaik-turunkan alisnya dengan wajah yang menyebalkan. Junmyeon terkekeh sendiri mendengar ucapan asal Luhan, berbanding terbalik dengan Sehun yang kini tengah menatap wajah manis Luhan dengan tatapan tajamnya. Luhan yang diperhatikan seperti itu justru tertawa mengetahui bahwa adiknya itu cemburu padanya.

“Oke, sebaiknya kita segera bergegas. Ayo, Sehun.”

Annyeong!”

Dan akhirnya Sehun dan Junmyeon pergi, meninggalkan Luhan bersama Cheonsa yang kini sedang asyik memeluk boneka barunya. Luhan hanya tersenyum melihat adik iparnya yang sangat manis itu. Oke, apa yang akan mereka lakukan sekarang?

“Bagaimana jika kita menonton film? Oppa sudah bawa banyak kaset video.”

Cheonsa mengangguk lalu mereka langsung berjalan menuju ruang tengah. Setelah menyiapkan berbagai macam camilan, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film bergenre comedy-romance. Dan seharian itu adalah waktunya Cheonsa bersantai melepas lelahnya sehabis mengerjakan tugas sekolahnya.

0o0

Sehun dan Junmyeon kembali ke apartemen Sehun pada pukul sepuluh malam. Sangat larut mengingat betapa kerja kerasnya mereka seharian ini. Sehun sudah terlihat sangat lelah, terbukti dari nampaknya kantung matanya yang sedikit menghitam. Sehun benar-benar dilanda stres.

Sepi dan keheningan menyambut kedatangan mereka. Kemana Luhan dan Cheonsa? Sehun langsung berjalan menuju kamar dengan Junmyeon yang mengekor di belakangnya. Saat Sehun membuka pintu, terlihatlah Cheonsa yang telah tertidur berbalut selimut dengan Luhan yang duduk di sampingnya sambil mengelus rambut Cheonsa.

Sehun menghampiri mereka perlahan, mengambil salah satu kursi belajarnya dan ikut duduk di samping Luhan. Luhan nampak tersenyum memperhatikan wajah imut Cheonsa yang tertidur seperti bayi. Ya, wajah itulah yang selalu membuat Sehun terpesona di setiap malamnya.

“Kau sangat beruntung memiliki malaikat manis ini sebagai pendamping hidupmu. Jaga ia dengan baik. Aku tahu belakangan ini kau sedang sangat stres dengan tugasmu itu, tapi tolong untuk tetap memperhatikan Cheonsa. Ia masih anak-anak, Hun..”

Pria itu hanya terdiam mendengar nasihat kakaknya. Sehun juga sebenarnya takut kehilangan kontrol saat ia kelelahan seperti sekarang ini. Ia takut tanpa sadar akan membentak Cheonsa karena tingkah hiperaktif gadisnya yang terkadang menyebalkan itu.

“Dan jika kau merasa kesulitan untuk menjaganya seperti sekarang ini, kau bisa meminta bantuanku untuk menjaganya. Aku dan Junmyeon akan selalu membantumu.”

Luhan tersenyum manis menghadap Sehun. Ia masih tak menyangka adik sepupunya yang dulu kekanakan dapat berubah drastis menjadi pria dingin pendiam, dan sekarang justru kembali berubah manjadi sosok suami bertanggung jawab yang sangat menyayangi istrinya. Luhan sangat kagum dengan perubahan adik yang ia sayangi itu.

Sehun terdiam. Ia merasa sekarang inilah saat-saat baginya untuk berusaha lebih giat lagi. Berusaha menjadi suami yang baik, adik yang baik, anak yang baik, dan tentunya teman yang baik bagi semua orang yang ia sayangi. Sehun yang tersenyum saat ini persis seperti Sehun belasan tahun yang lalu, Sehun kecil yang selalu Luhan sayangi.

“Baiklah, aku dan Junmyeon pulang dulu. Selamat istirahat.”

Dan Luhan segera bangkit lalu berjalan keluar kamar bersama Junmyeon, meninggalkan Sehun yang masih setia duduk dan memandangi wajah malaikat manisnya yang tengah terlelap. Entah mengapa rasa lelahnya sedikit menguap melihat wajah polos di hadapannya.

Akhirnya Sehun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Rasanya ia ingin cepat-cepat membersihkan dirinya lalu segera tidur dan memeluk tubuh gadisnya yang hangat. Merilekskan otaknya yang sudah hampir pecah itu akibat tugasnya yang belum selesai.

0o0

Mentari di hari Minggu ini nampak sedikit redup. Sehun terbangun oleh sapaan lembut angin di kulit lehernya yang terasa cukup menusuk. Ia membuka matanya perlahan dan masih mendapati mata terpejam Cheonsa dalam pelukannya.

Apakah ada yang Sehun lupakan hari ini? Ah ya, tentu saja ada! Sehun sudah berjanji pada Cheonsa akan menemaninya lari pagi. Namun mengapa gadis imut itu masih terlelap dalam tidurnya? Sepertinya Sehun harus mengambil tindakan sebelum matahari semakin meninggi.

Chubby, bangun..”

Segala macam usaha terus Sehun lakukan, dari mulai mencubit pipinya, mengelitik perutnya, mencubit hidungnya, namun gadis itu sama sekali tak berminat untuk segera menampakkan bulatan hijaunya yang tersembunyi kelopak matanya itu.

Dan entah untuk yang kesekian kalinya, Sehun mencubit pipi Cheonsa dengan sangat semangat yang membuat gads itu mengerang pelan karena kesakitan. Akhirnya mata gadis itu terbuka, menampakkan wajah polosnya yang kini menatap Sehun bingung.

Hey, apa kau lupa janji kita?”

Cheonsa masih terus menatap Sehun dalam diam. Beberapa kali gadis itu mengedipkan matanya lucu, membuat Sehun semakin gemas dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Cheonsa. Sehun menaikkan satu alisnya, menunggu Cheonsa mengatakan sesuatu sebagai ucapan pertamanya di hari ini.

“Dimana Lulu?”

Sehun mengerutkan keningnya karena bingung. Lulu? Siapa lagi itu? Apakah itu sejenis game Pou milik Cheonsa? Cheonsa refleks bangkit dari tidurnya tanpa mempedulikan Sehun yang kebingungan. Dan ia terhenti tepat di depan sofa kamarnya. Terlihatlah boneka cokelat yang kemarin Luhan berikan padanya.

Oppa, kenapa oppa tega membiarkan Lulu tidur di sofa?”

Oh tidak, Sehun pagi ini terlihat sangat jelek dengan rambut acak-acakannya dan mulutnya yang menganga lebar itu. Ia benar-benar tak menyangka dengan jalan pikiran Cheonsa yang terkadang tak bisa ditebak. Gadis manis itu segera menggendong boneka super besarnya itu dan membawanya naik ke ranjang.

Nah Lulu, ayo kita tidur lagi!”

Gadis itu tersenyum sangat menggemaskan dengan matanya yang menyipit. Sehun, lagi-lagi, masih terdiam dengan apa yang baru saja ia lihat. Bahkan gadis itu mengabaikannya hanya karena sebuah boneka tak bernyawa itu. Oke Park Cheonsa, kau benar-benar sudah keterlaluan!

Sehun tanpa aba-aba langsung bangkit dari tidurnya dan segera menggendong Cheonsa menuju pintu kamar mandi. Sehun menurunkan Cheonsa dan menatap gadis itu tajam. Sepertinya Sehun benar-benar kesal karena tak dihiraukan hanya karena sebuah boneka konyol itu. Sehun cemburu terhadap benda mati, sungguh ironi yang kejam.

Oppa hanya akan mengatakan ini satu kali, jadi dengarkan baik-baik-“

Pria tinggi itu masih terus menatap Cheonsa lekat. Berbanding terbalik dengan gadis manis di depannya yang justru memandangnya dengan tatapan polosnya yang menandakan bahwa ia bingung.

“Apa kau masih ingat dengan acara lari pagi kita, hm? Jika dalam hitungan ketiga kamu tak segera mandi, maka oppa yang akan memandikanmu. Mengerti?!”

Ia berbisik perlahan di telinga Cheonsa, membuat gadis itu diam membeku. Sepertinya pagi ini Sehun berubah menjadi iblis tampan seperti dalam film yang pernah Cheonsa tonton bersama Junmyeon.

“Satu..”

Gadis itu masih diam dan memandang Sehun dengan tatapan polosnya. Sesungguhnya Sehun sangat ingin mencubit pipi gadis itu saat ini. Namun ia masih harus mempertahankan akting galaknya agar Cheonsa menurut.

“Dua..”

Sehun dengan tiba-tiba menempelkan keningnya di kening Cheonsa yang tertutup poni itu. Ia menyeringai tipis. Sepertinya pagi ini akan menjadi pagi yang menyenangkan untuknya.

“Ti..”

Aaaa oppa pervert!”

Cheonsa langsung masuk kamar mandi dan membanting pintunya, membuat Sehun sontak tertawa melihat reaksi menggemaskan Cheonsa. Namun entah mengapa Sehun langsung terdiam. Tadi apa yang Cheonsa katakan? Pervert? Dari mana gadis itu mengetahuinya? Pasti sudah ada orang yang meracuni otaknya!

“Pasti ajaran Luhan hyung!”

Akhirnya Sehun memutuskan untuk membuat sarapan. Sepertinya salad adalah menu yang tepat mengingat Cheonsa akan memulai program dietnya hari ini. Sehun pun langsung berjalan santai menuju dapur, meninggalkan Cheonsa yang masih berada dalam kamar mandi.

0o0

Cheonsa benar-benar membulatkan matanya lebar-lebar melihat piring yang ada di depannya. Berkali-kali matanya itu berkedip lucu karena terlalu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya halusinasi, mungkin itu yang ada di pikirannya saat ini. Namun sayang sekali Cheonsa, ini semua adalah kenyataan.

Berbanding terbalik dengan Sehun yang kini memandang Cheonsa dengan tatapan manisnya, merasa hasil kerjanya yang sangat memuaskan itu. Sehun menopangkan dagunya dengan tangannya, menatap wajah Cheonsa yang sangat menggemaskan saat ini.

“Ayo dimakan, sayang..”

Oppa, Cheonsa kan manusia bukan kambing.”

“Siapa bilang kamu kambing?”

Gadis manis itu masih terus meratapi piring yang berisi makanan antah-berantah buatan Sehun. Sungguh suami yang sangat kejam. Belum puas tadi sudah mengerjainya, dan sekarang lagi-lagi Sehun mengerjainya? Cheonsa mulai memikirkan untuk tinggal kembali dengan eomma-nya dan mengadu pada eomma Sehun agar suaminya itu dijadikan Sehun Rica-rica saja.

Oke, sebenarnya makanan antah-berantah itu adalah salad sayur buatan Sehun yang pernah ia pelajari dari eomma-nya. Namun karena Sehun terlalu bersemangat mencampurkan mayonaise dan telurnya, alhasil salad itu terlihat sangat sangat sangat mengerikan di mata Cheonsa.

“Siapa yang kemarin ingin diet, ya? Kalau begitu kita batalkan saja la-“

Oppaa.. Baiklah.”

Akhirnya dengan perasaan yang sangat terpaksa, Cheonsa mulai memakan salad itu. Ia semakin gondok karena Sehun ternyata tak ikut memakan salad melainkan hanya memakan sandwich. Sepanjang sarapan itu Cheonsa terus mengembungkan pipinya karena kesal. Ia terus-menerus memakan saladnya agar cepat habis dan bebas dari penyiksaan pagi hari ala Oh Sehun itu.

Hebat. Hanya dalam kurun waktu tujuh menit salad itu habis tak bersisa. Namun lihatlah wajah Cheonsa saat ini yang seperti ingin muntah itu. Semengerikan itukah salad buatan Sehun? Entahlah, hanya Cheonsa yang tahu rasa mengerikan apa dibalik sayuran itu.

Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sehun ternyata sudah bersiap dengan celana training putih dan kaus lengan panjangnya yang berwarna hitam polos. Tak lupa jaket biru muda yang membalut tubuhnya karena udara pagi ini lumayan dingin.

Cheonsa juga rupanya sudah siap dengan celana training hitamnya dan kaus pink berlengan pendek yang dibalut jaket pink-nya. Sehun kembali terkekeh melihat penampilan Cheonsa. Gadis ini benar-benar mirip sekali dengan Pou miliknya sendiri.

Kajja, Pou!”

Sehun refleks menutup mulutnya yang tiba-tiba berucap menyebalkan itu, membuat Cheonsa menatap Sehun tajam dan langsung duduk sambil memeluk sandaran kursi. Rupanya Cheonsa sudah mencapai batas kegondokannya akibat kejahilan Sehun.

Ehm, maksudku..eumm.. Chubby jangan marah..”

Sehun dengan imutnya menunjukkan aegyo-nya sambil menusuk-nusuk pipi Cheonsa dengan telunjuknya. Sehun, kau benar-benar membuat Cheonsa naik darah hari ini. Mungkin sebentar lagi Cheonsa akan benar-benar merengek untuk kembali tinggal dengan eomma-nya.

Cheonsa masih tak bergeming dari posisinya. Kalau begini lebih baik ia minta ditemani Luhan oppa yang manis itu dan kencan berdua dengannya seharian ketimbang bersama suaminya yang menyebalkan itu. Akhirnya Cheonsa mengeluarkan ponselnya dan men-dial nomer seseorang. Sehun yang melihat itu hanya bisa mengerutkan alisnya.

Yeoboseyo, Luhan oppa. Bisakah oppa menemaniku lari pagi- Aaaaaa oppaa!”

Tubuh gadis itu berhasil melayang dalam gendongan Sehun. Cheonsa refleks mematikan sambungan teleponnya dan mengalungkan kedua lengannya di leher Sehun. Tatapan mereka bertemu. Terlihat dengan jelas sinar cemburu yang membara dari mata Sehun, dan Cheonsa terlalu polos untuk menyadari hal itu.

Sehun lalu mendudukkan Cheonsa di lantai depan pintu, mengambil sepatu pink Cheonsa dan mulai memakaikannya di kaki Cheonsa. Sehun hanya diam sambil terus menyimpul tali sepatu itu sampai rapi. Setelahnya, ia pun ikut memakai sepatunya sendiri dalam diam. Cheonsa yang tidak mengerti hanya diam saja melihat kelakuan Sehun.

Langsung saja jemari Sehun meraih milik Cheonsa dan mereka keluar apartemen. Setelah agak jauh, barulah Sehun mulai berlari, meninggalkan Cheonsa yang sedaritadi melamun. Saat sadar, Cheonsa langsung berteriak kesal dan mencoba menyusul Sehun.

Namun memang sial, langkah Sehun terlalu besar untuk ia imbangi. Sehun sepertinya memang dilanda cemburu tingkat akut. Akhirnya Cheonsa memutuskan untuk lari kecil saja dan tak mempedulikan Sehun. Ia sangat menikmati udara segar pagi ini, walaupun dinginnya lumayan menusuk.

Sehun yang kuasai cemburu kini mulai mereda dan memelankan larinya. Ia menoleh ke belakang, dan nihil. Kemana Cheonsa? Sehun jadi panik sendiri. Siapa suruh kau meninggalkan Cheonsa tadi?

Akhirnya Sehun memutuskan untuk duduk di bangku terdekat dan menunggu Cheonsa lewat. Tapi gadis itu tak kunjung muncul juga padahal sudah lewat dari setengah jam. Apa gadis itu tersesat? Oh, tentu saja tidak. Gadis itu selalu melewati jalan ini tiap berangkat ke sekolah. Atau jangan-jangan Cheonsa melewati jalan lain?

Sehun berdiri dan berlari kearah sebaliknya, mungkin Cheonsa belum terlalu jauh dari daerah ini. Ia terus berlari sambil menelisikkan matanya ke sekitar. Tak ada tanda-tanda keberadaan gadis manis dengan rambut blonde yang diikat satu dan jaket pink-nya. Sehun mulai panik. Apakah gadis itu diculik?

Jam di pergelangan tangan Sehun menunjukkan pukul sembilan. Sudah dua jam ia berkeliling dan tetap tak menemukan keberadaan Cheonsa. Tanpa melihat sekitar lagi, Sehun langsung duduk di bangku taman terdekat. Ia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya. Ia lelah, sangat.

“Puppy, Sehun oppa sangat menyebalkan, kau tahu? Ia meninggalkanku dan sekarang aku sendirian disini. Ah, berdua denganmu lebih tepatnya.”

Sehun mendengar suara manis Cheonsa di sekitarnya. Ia membuka matanya dan berbalik melihat orang di belakang kursinya. Ternyata itu memang benar Cheonsa yang sedang duduk bersama seekor anak anjing berwarna putih yang gadis itu temui di jalan tadi.

“Cheonsa?”

Yang dipanggil refleks menoleh dan membulatkan matanya mendapati Sehun dengan keringat yang memenuhi wajahnya. Cheonsa langsung berdiri dan dengan brutalnya memukul lengan Sehun. Ia kesal, tentu saja.

Oppa kejam- Aaaaa lepas!”

Sehun, lagi-lagi, dengan santainya menggendong Cheonsa. Ia lalu berlari kecil menuju apartemen mereka, tak mempedulikan tatapan dari orang-orang yang mereka lewati. Jika seperti ini justru bukan Cheonsa yang berolahraga melainkan Sehun. Bayangkan saja, Sehun berlari sambil menggendong tubuh Cheonsa. Pasti melelahkan.

Setelah sampai di apartemen, Sehun langsung masuk ke dalam lift. Cheonsa dalam gendongannya kini sudah resmi menjadi Pou karena pipi chubby-nya yang terus mengembung sedaritadi karena kesal. Sehun langsung berjalan masuk dan mengunci pintu.

Ia berjalan santai menuju kamar mereka, dan dengan kesal menaruh tubuh Cheonsa di ranjang dengan tidak elitnya. Sehun melepas sepatu milik Cheonsa dan miliknya juga lalu melemparnya ke sembarang arah. Dan dengan tiba-tiba menindih tubuh Cheonsa yang kini membulatkan matanya. Apa yang akan Sehun lakukan?

“Nona manis, kamu hari ini benar-benar membuat oppa kesal. Kurasa berat badanku langsung turun lima kilo karena berlari sambil menggendongmu tadi.”

Sehun menatap Cheonsa tajam, ia ingin sekali mencubit pipi gadisnya sampai merah sebagai hukumannya. Minggu pagi yang seharusnya ia habiskan dengan tidur di ranjang empuknya kini malah jadi berantakan dengan acara lari pagi yang menyebalkan itu.

“Sekarang oppa berikan dua pilihan. Kau ingin push-up sebanyak seratus kali, atau lebih baik kita olahraga di ranjang saja?”

Cheonsa menatap Sehun bingung. Jika push-up seratus kali pastilah Cheonsa langsung mati detik itu juga. Oke, itu berlebihan. Dan jika, apa tadi? Olahraga di ranjang? Jenis olahraga macam apa itu?

“Memangnya bisa olahraga di ranjang ya, oppa?”

Jujur, Sehun ingin tertawa detik itu juga. Gadis ini sangat manis bahkan dalam keadaan seperti ini. Sehun menempelkan keningnya dengan kening Cheonsa yang tertutup poni. Cheonsa dengan mata bulatnya hanya mampu menatap balik Sehun dalam diam. Gadis itu masih belum mengerti dengan kalimat ambigu yang Sehun ucapkan.

“Tentu saja, sayang.”

Sehun bangkit lalu mengambil sesuatu di laci nakas. Sebuah peluit dan stopwatch. Ia menyeringai tipis lalu kembali mendekat kearah Cheonsa yang masih terbaring diam di ranjang.

“Oke, sekarang kamu mau push-up di lantai atau di ranjang?”

Jadi..yang dimaksud Sehun olahraga di ranjang itu adalah push-up di ranjang? Oke, mulai sekarang kita tak boleh terlalu berprasangka buruk pada Sehun.

Oppaa..”

“Mau push-up atau oppa cium?”

Cheonsa kaget dengan ancaman Sehun itu. Sampai sekarang pun Cheonsa belum mengerti bagaimana prosedur berciuman yang benar karena selama ini ia hanya diam dan tak membalas jika Sehun menciumnya.

Gadis manis itu lebih memilih turun ke lantai dan mulai memasang posisi push-up-nya. Sehun malah duduk di kursi sambil terus menghitung dengan santainya. Ia memang suami yang kejam.

Dan begitulah seterusnya. Cheonsa mulai memikirkan sebaiknya lain kali jika ia ingin diet lagi tak usah memberitahu Sehun. Ternyata Sehun mempunyai sisi kejamnya tersendiri. Dan Cheonsa mulai memikirkan partner yang tepat untuknya lain kali. Apakah Luhan oppa, atau Junmyeon oppa?

FIN

Hey, disela-sela padatnya jadwal akhirnya kita bisa ketemu HunSa lagi. Cheonsa mau diet aja kayaknya ribet banget ya ampe Sehunnya gitu wkwk. Gimana, ini fluff ga ceritanya?

I’ll give you a hint! Mengingat banyaknya yang minta kisah mereka sebelum nikah, Angel bakalan bikinin kalian cerita itu yeay! Angel butuh saran untuk satu peran namja yang bakalan rebutan Cheonsa sama Sehun, boleh member Exo atau yang lain juga satu orang aja. Dan Angel kiranya butuh beberapa nama gadis buat jadi other castnya. Nanti ada pacarnya Luhan dan sahabatnya Junmyeon. Ada yang minat berperan?

Buat yang minat tinggal mention aja nama castnya di kolom komentar. Angel milihnya dari yang komennya paling lucu dan bermakna, asiik wkwk. Dan nanti buat yang ga kepilih jangan bersedih yaa hehe. Ditunggu partisipasinya^^

Iklan

162 pemikiran pada “Cheonsa Wants to Get Diet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s