Cynicalace (Chapter 8)

image

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

ANNYEONG!

Cukup cepatkah apdet chapter 8 ini? Huahahaha author NadyKJI akan memastikan kalian semua suka sama ReYeol episode ini, dan buat yang nanyain KaiHae… bentar yaaa~ kita beri kesempatan dulu pada uri ReYeol buat eksis wkkwkwkwk. Nanti KaiHae muncul lagi pelan-pelan *ketawa minta ditampar*.

Juga spesial thanks buat NadyKJI yang ga biasanya bikin part ReYeol – karena ini bagiannya Hyuuga Ace sih, tapi di chapter ini udah bikin edisi kencan ReYeol di awal part yang menurut author Hyuuga Ace sweet banget kyakk kyakk (?). Hehehe walo akhirnya kembali diserahkan pada Hyuuga Ace karena kebelet pengen nulis adegan pantai #loh *spoiler*

Semoga feelnya dapet yahh~

Sekali lagi, dan hampir di setiap chater authors selalu ngucapin makasih banyak buat yang udah jadi pembaca setia Cynicalace. Jangan lupa tinggalin komen di chapter ini juga yah?

By the way, ada yang nanya Cynicalace tamatnya masih lama ga? Nah. Authors juga gatau jawabannya apaan #LAH. Pokoknya maish jauh dari kata tamat *hebring kkkk*. Jadi dinikmati aja yahhhhh… hehehe…

Juga(?) Ohohohoohohooh walau authors kagak balesin comment satu-satu, authors membaca comment-comment kalian lho! Wwkkw sayang authors kagak bisa bales comment karena tidak pernah ketemu muka lagi kec pas ngambil album overdose. Itu juga cuman 15 menit (-_-)

Note: Author manyun photobooknya gak OT12…

Sekian dulu bawelan authors~

RCL juseyo~ EXO SARANGHAJA~

___

-:Author’s PoV:-

Ilhae baru saja selesai mencuci selada dan berniat untuk mencari angin segar di luar villa ketika ia berpapasan dengan Ok Taekyeon. Matanya sudah menatap awas ke arah namja tersebut.

“Ah! Ilhae!” Sapanya dan segera mendekatkan tubuhnya ke arah di mana Ilhae berdiri.

“Taekyeon-ssi. Annyeong.” Kikuk, Ilhae hanya menyapa namja itu seadanya dan bergerak selangkah mundur. “Kau mau mencari siapa?”

Taekyeon tersenyum senang ketika ia menyebutkan. “Dirimu.”

Berbanding terbalik dengan Ilhae yang mulai merasa tidak senang akan jawaban itu. “Ada apa?”

Taekyeon mulai merasa gelisah dan sedikit panik ketika yeoja yang sangat disukainya itu menatapnya lurus dan datar. Tapi dia adalah gentleman yang harus mengatakan hal ini dengan benar.

Semalam, ia melihat acara pepero kiss itu dengan hati panas. Dia yakin bahwa Ilhae tidak memiliki hubungan apapun dengan namja yang menjadi pasangan peperonya. Tapi entah untuk alasan apa. Taekyeon merasa gelisah akan keberadaan namja itu yang bisa jadi menjadi penghalangnya untuk mendapatkan cinta Ilhae.

“Kau tidak memiliki hubungan khusus dengan seseorang bernama Kim Jongin atau Kai, kan?” Ilhae hanya bisa mengerutkan keningnya akan pertanyaan absurd ini, bahkan sebagain dirinya sudah melongo di dalam sana.

“Memangnya ada apa?” Jawabnya datar.

“Dia terlihat bukan namja baik-baik. Sebenarnya kau tidak perlu dekat-dekat dengannya.”

Whoa… whoa…. Ilhae mendengus dalam hatinya. Moodnya tidak begitu baik saat ini, dan walaupun Ilhae tidak menyukai perilaku Kai tapi ia tidak begitu senang ketika mendengar orang lain mengatakan Kai bukan namja baik-baik. Well, namja itu totally annoying, tapi kenapa bahkan Taekyeon harus berkomentar?

“Apa maksudmu?!” Seharusnya ini adalah kalimatnya, tapi bukan ia yang mengucapkannya melainkan tokoh utama dalam pembicaraannya dengan Taekyeon yang muncul di balik punggung tegap namja itu. Ilhae yang setengah kesal karena kalimatnya diambil orang memalingkan wajahnya sedangkan Taekyeon yang menyadari ada sosok lain di antaranya dan Ilhae berbalik dan bertatapan dengan sosok itu – Kai. Sepertinya namja ini baru saja bangun tidur karena mukanya kusut dengan tatanan rambut yang acak-acakan.

“Aku hanya memperingatinya.” Geram Taekyeon.

Ilhae mulai merasakan aura tidak enak terpancar dari kedua namja di hadapannya. Tidakkah eksistensi dirinya masih ada di sini? Ini harus diluruskan.

“Taekyeon itu bukan urusanmu aku mau dekat dengan siapapun.”

Taekyeon mengalihkan perhatiannya dari wajah Kai dan segera menghadap Ilhae dengan wajah penuh tanda tanya.

Ilhae merasa awkward dengan keadaan yang terjadi memutuskan untuk membubarkan lingkaran tersebut. “Bisakah kau pergi sekarang?”

Taekyeon baru saja merasa ada sebuah kampak besar yang tertancap di hatinya. Ia baru saja diusir.

Dengan harga diri yang tercabik-cabik ia mulai melangkahkan kakinya ke sisi luar tempat ini. Namun sebelum benar-benar menghilang dari tempat itu ia mendengus. “Ilhae-ya. Peringatanku tidak bercanda.”

Kai dia menyeringai mendengar hal itu. “Siapa dia?! Menyebalkan sekali. Dia yang seharusnya perlu diberi peringatan karena terlihat lebih ‘tidak baik-baik’ dari padaku. Sepertinya kau harus menjaga jarak dari namja itu.”

Ilhae, entah apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin karena perasaannya yang kacau balau karena perlakuan Kai padanya malam kemarin. Atau mungkin memang karena moodnya yang sedang tidak baik. Yang pasti, dia sakit kepala ketika mendengar suara Kai. Apakah ia harus diperlakukan seperti ini adalah yang baik dan ini adalah yang tidak baik. Ish! Ia sepenuhnya bukan anak kecil.

“Kau. Itu juga bukan urusanmu, dan bukankah kau bertemu denganku sekarang untuk mengurusi urusan permintaan maaf itu? Kukatakan simpan saja untuk lain waktu. Sekarang sudah lain waktu.” Ilhae memandang ke jalan yang tadinya dilewati Taekyeon.

Kai tersentak, dan langsung mengarahkan pandangannya lurus ke arah bola mata Ilhae. “Ilhae…”

“Jangan mencampuri sesuatu yang bukan menjadi bagianmu, Kai.” Itu hanya gumaman pelan dari mulut Ilhae, namun menjadi duri tajam bagi hati dan harga diri seorang namja.

“Aku tidak mencampuri apapun. Aku hanya berkata-kata! Dan kau benar aku memang menuntut kata maaf darimu,”

Ilhae terhenyak ketika mendengar bentakan yang lolos begitu saja dari mulut namja bernama Kim Jongin itu.

“Kau, membentakku?! Lalu aku harus minta maaf padamu? Aku tidak akan mengucapkannya.” Merasa tidak terima, Ilhae balas membentak namja itu memandangnya dengan mata melotot.

Selama ini Ilhae dan Kai selalu bertengkar dan saling membentak satu sama lain. Tapi kali ini berbeda. Karena sarat emosi dan perasaan mengganjal yang masing-masing pihak dapati hadir di antara mereka.

“Kai! Kau, wajahmu, suaramu, caramu memandangku tidak pernah membuatku menyukaimu! Kau yang selalu memandangku rendah dan meremehkanku. Membuatku muak!” Ilhae mengucapkannya dalam satu rantai nafasnya.

Kai perlu mengambil napas untuk dapat mencerna omongan yeoja itu, “Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Geum Ilhae?”

“Aku?” Ilhae tersenyum miring. “Sebelumnya aku selalu menahan perasaan ini. Tapi setelah kejadian kemarin. Aku tidak bisa menahannya lagi, Kai. Ah, kali ini kau menyebutkan namaku dengan benar.”

Kai mencoba mengingat-ingat tentang kejadian kemarin dan dia rasa tidak ada kejadian yang membuat Ilhae pantas bertingkah laku seperti ini kepadanya.

Sementara di sisi lain, memori di ruang tamu antara dirinya dan Kai dan di dalam kamarnya ketika ia menangis. Kekanakan memang. Tapi ia tidak tahu alasan di balik mengapa ia merasa sakit ketika melihat Kai dan matanya yang melihat namja tersebut terlihat bingung,

“Kai perilakumu membuatku… Kau tidak perlu menolongku, berdebat denganku, dan menghiraukanku lagi. Ketika aku hampir terjatuh seperti di ruang tamu kemarin, sebaiknya kau abaikan saja aku. Biarkan saja aku terjatuh. Kau tahu rasanya ditertawakan? Itu sangat memalukan.” Oh! Sekarang Ilhae bahkan mengerti rasa sakit yang selama ini dihadapi Rein ketika bertemu dengan Chanyeol.

Kai. Dia tertawa miris. Jadi itu alasannya. “Ilhae. Tidakkah pernah terlintas di benakmu walau hanya sedetik. Bahwa kau itu sangat kekanakan? Baiklah terserah kau saja. Jika kau ingin seperti itu akan kulakukan. Aku tidak akan pernah mempedulikanmu lagi, apapun alasannya Geum Ilhae…” Kai memiringkan kepalanya sejenak. “… Dan soal caraku memanggil namamu… Kau tidak perlu menghawatirkan hal itu di lagi. Karena kurasa kita tidak akan berinteraksi lebih banyak di masa depan.”

Kai dengan hati yang dongkol dan marah hanya bisa mendengus di akhir kalimatnya dan berjalan melewati Ilhae yang terlihat terbungkam.

Sudah cukup, semua yang selama ini dia lakukan untuk Ilhae tidak pernah disambut baik oleh yeoja itu.

Sekarang Kai mengerti.

Sementara di sisi lain, Ilhae masih bergeming di tempatnya. Dia frustasi. Ya, frustasi. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Dia belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Perasaan di mana ia merasa bahwa kehadiran seorang namja bisa menjungkir balikan kehidupannya. Emosinya, dan seorang Ilhae – dengan egonya – tidak menerima hal itu.

Dia tidak mau perasaan asing mendominasi dirinya. Dia tidak mau dirinya menjadi labil.. hanya karena seorang Kai.

Kai yang seharusnya hanya menjadi teman kerja Rein dan juga teman dari teman dekatnya, Kyungsoo. Tidak lebih.

Kai yang seharusnya tidak berarti apa-apa baginya.

-:Chanyeol’s PoV:-

Tanganku dengan cepat menggeser berbagai baju dari rak pajangan, memilih-milih salah satu diantaranya. Baju-baju kulihat sebenarnya bagus dengan modelnya yang casual, tapi aku belum menemukan yang cocok untuk Rein – yap Rein.

Setelah kata-kata kramat keluar dari bibirku tanpa pikir panjang aku langsung menarik yeoja yang tengah shock menuju toko baju. Tentu saja untuk mengajaknya kencan sebelum ia dapat menolak.

Syukurlah ketika pulang dari kebun aku menemukan toko baju ini. Tokonya tidak aneh-aneh – bangunan minimalis, baju-baju yang dijualnya juga keren.

Juga cocok untuk mencarikan baju bersih untuk Rein yang bertaburan salju plus sedikit tanah, catatan: yeoja itu merebahkan dirinya di spot yang tidak bersalju.

“Ya! Untuk apa kita ke sini! Dan bukankah ini toko baju laki-laki?” Rein tiba-tiba mengalihkan perhatianku, dapat kulihat matanya menyisir seluruh isi toko.

Aku tersenyum lebar mendengar penuturan tersebut, “Ehehe, tenanglah di sini masih menjual pakaian wanita, dan…”

Aku menggantungkan kalimatku dan kembali memilih-milih sebentar….

“Igo! Baju-baju di sini sesuai dengan selera bajumu pastinya. Casual.” Aku memberikannya satu set baju dan mendorongnya menuju ruang ganti. Tentu saja Rein sempat memberontak, tetapi begitu salah satu pramuniaga yang berjaga dekat ruang ganti menawarkan untuk membantunya ia bungkam.

Setelahnya aku kembali melihat-lihat beberapa baju lagi dan mengambil beberapa, jaga-jaga jika baju yang kupilihkan tadi tidak cocok.

Dan benar saja, begitu Rein keluar ia seperti tenggelam, mungkin jeans putih yang dikenakannya cocok-cocok saja. Yang menjadi masalahnya longcoat berwarna abu-abu itu menenggelamkan tubuh mungilnya.

“Jangan tertawa!” Ia mendelik ke arahku membuatku benar-benar menahan tawaku. Jujur saja ia lucu sekali terlihat sangat mungil.

“Ehehe, cobalah semuanya.” Aku berjalan mendekatinya dan menyerahkan satu tumpuk baju.

“Micheosseo?!” Rein mendelik menatap tumpukan baju yang baru aku berikan padanya.

“Tenanglah, ini tidak seberapa dengan tumpukan gaun waktu itu. Hanya 3 pasang.” Aku menepuk-nepuk puncak kepalanya sebelum yeoja itu masuk kembali ke arah ruang ganti, dengan kilat?

Bersiul pelan aku berjalan menghampiri tempat duduk yang diperuntukkan untuk para pencoba sepatu dan menunggu Rein.

Untungnya Rein muncul tidak berselang lama dengan salah satu baju yang kupilihkan untuknya telah terpasang rapih di tubuhnya. Kali ini bajunya melekat pas tapi melihat warna ungu di sana aku memutuskan bahwa warna itu tidak cocok untuk Rein. Kemudian seperti seorang boss aku menggelengkan kepalaku mengirim kembali Rein menuju ruang ganti. Mengamati wajahnya yang mulai kesal kepadaku, aku berjanji setelah ini akan membelikannya sesuatu yang enak seperti makanan, karena menurut pengalaman Rein akan mudah luluh dengan hal semacam itu.

Berselang beberapa menit, Rein kembali keluar dengan leging dan sweater panjang berwarna pink. Dengan berat hati, walaupun aku sedikit menyukainya, Rein tidak menyukai warna pink, jadi aku mengalah.

Aku sudah beranjak ingin mencari baju lain.. Tapi untung saja Rein keluar kali ini dengan baju yang benar-benar cocok dengannya. Jeans putih, dengan sweater berwarna hijau sederhana – yang kalau tidak salah kuingat mirip dengan warna seragam kerja cafenya – aku pernah satu dua kali berkunjung ke Paulo’s hanya saja aku tidak mendapatkan pelayanan dari Rein. Sepatu bootnya yang berwarna hitam juga tidak membuat kekurangan apapun.

“Yeppo!” Tanpa bisa mencegahnya kata-kata itu lolos dari lidahku. Dan Rein yang langsung memalingkan wajahnya cukup membuatku ingin memeluknya, tapi kali ini cukup dengan menggenggam tangannya, “Kkaja.”

Sesaat aku merasa tubuhnya menegang dan hendak menarik lagi tangannya yang tengah kugenggam. Namun aku sama sekali tidak rela melepaskan tangannya, sehingga membuatku menggenggam tangan itu lebih erat lagi.

-:Author’s PoV:-

“Chocolate ice cream.”

Chanyeol menatap Rein yang baru saja menunjuk-nunjuk ice cream favouritenya dari kaca etalase. Ekspresi Rein yang berubah bahagia begitu mengetahui tujuan mereka adalah toko ice cream membuat Chanyeol amat sangat senang dapat membuat yeoja disampingnya tersenyum.

Rein yang menyadari tatapan dari Chanyeol menoleh, “Apa yang kau pesan? Jangan menatapku seperti itu, kau menyeramkan.”

Mendengar Chanyeol terkekeh dan Rein sudah ingin berjalan mundur satu per satu kalau saja bukan ice cream yang menahannya – atau mungkin setelah ice creamnya ada di tangan ia bisa kabur? Sejujurnya, pemikiran itu sangat menggoda bagi Rein. Tapi mengingat sudah banyak dosanya pada namja itu ia mengurungkan niatnya.

“Hmmm, kalau begitu bagaimana dengan vanilla? Kau juga suka vanilla bukan?” Chanyeol menatap yeoja bermarga Jung itu dengan senyum lebar yang membuat Rein ingin benar-benar pergi saat itu juga.

“Apa urusannya denganku? Pesanlah yang kau suka Chanyeol.”

“Geurae, tapi akan lebih bagus jika aku membeli rasa yang kau juga suka kan? Sehingga kau dapat makan rasa vanilla juga, aku dengan senang hati memberikan setengah ice creamku untukmu.”

Jawaban Chanyeol yang sangat manis tersebut langsung membuat Rein merasakan detakan jantungnya sedikit dipercepat. Sialnya kenapa pula Chanyeol mengetahui rasa ice cream kesukaannya?

“Gezz, sesukamulah.” Rein yang tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri langsung berbalik menuju meja dengan ice cream coklat yang baru saja diserahkan oleh pegawai toko.

Chanyeol terkekeh untuk yang kesekian kalinya mengamati Rein yang salah tingkah.

“Vanilla ice cream.” Ia tersenyum ke arah pegawai toko. Sambil menunggu pegawai itu untuk meracik ice creamnya Chanyeol memusatkan pandangannya pada Rein yang sedang menikmati ice cream coklatnya dengan lahap. Ia bahkan dapat melihat ice cream yang mengotori sudut bibir Rein.

Pada detik ketika ice creamnya siap, Chanyeol langsung membayar, “Eung, bolehkah aku meminta tissue?”

Chanyeol mengambil tissue yang dimintanya dan langsung berjalan menghampiri meja. Sesampainya di meja ia duduk tepat di hadapan Rein.

“Rein-ah.”

Mendengar namanya dipanggil Rein mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol. Lalu detik berikutnya ia melihat tangan namja jangkung itu mengulur ke arahnya dan mengusap sudut bibirnya.

Itulah yang langsung mendera Rein begitu menerima perlakuan Chanyeol. Apa-apaan dengan namja bermarga Park itu hari ini?

“Makanmu belepotan Rein-ah.”

Sial untuk Rein. “Y..ya… kenapa kau tidak berikan saja tissuenya padaku langsung…”

“Kenapa? Aku senang bisa membantumu. Kau tahu, sekarang kau terlihat sangat manis Jung Rein.”

Pemandangan Chanyeol yang menatapnya langsung sembari menjilat ice creamnya cukup membuat Rein merasakan kalau dirinya sudah tidak waras. Dia tampan… ANI! JUNG REIN SADARLAH!

Berbeda dengan pergumulan di dalam batinya untung saja Rein masih dapat mengontrol ekspresinya. “Lupakan.”

***

“Rein… ireona…”

“Eung…” Rein yang ternganggu dari tidurnya mengerjapkan makan dan menggeliat. “Eodi?” setelah memastikan ia dapat membuka matanya, ia mengintip dari jendela bus yang telah memakan waktu perjalanan sekitar 2 jam itu.

“Seongeup Folk Village.” Chanyeol menjawabnya.

Seketika wajah Rein membulat lebar, folk village adalah salah satu kesukaannya. Ia sudah sering mencari-cari tahu di internet tentang folk village yang ada di Korea, bahkan ia sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa yang dekat dari Seoul, dan sekarang ia berada di Seongeup Folk Village yang sempat menarik perhatiannya di internet.

“Kkaja!” tanpa dapat menyembunyikan keantusiasannya Rein setengah melompat berdiri dan berjalan keluar dari bus. Chanyeol mengikuti Rein yang berjalan menuju belokan lalu berjalan lurus sekitar 2 meter dan mereka sudah tiba di tempat destinasi mereka.

“Woah daebak…” Rein menatap gerbang yang berada di depannya.

Tanpa berkata apapun lagi mereka berdua berjalan masuk, begitu memasuki lokasi hanya sedikit orang yang ikut berkunjung sehingga mereka berdua sangat leluasa untuk berjalan-jalan. Chanyeol yang pada dasarnya tidak begitu mengerti dengan desa tempat mereka berada ia hanya melihat-lihat, ia hanya mengajak Rein kemari karena ia mengetahui yeoja di sampingnya ini sangat menyukai hal yang berbau-bau kebudayaan dan sejarah.

“Kau tau Chanyeol, di sini terdapat sekitar 3.000 rumah beratap jerami dengan dindingnya yang terbuat dari batu dan tanah liat.” Rein mengeluarkan ponselnya untuk memfoto keadaan sekitarnya.

Chanyeol tersenyum menatap binar mata Rein. “Ehehe, kau tahu banyak. Lalu apakah kau tahu ini apa?” Chanyeol berhenti di depan rumah dengan 3 buah kayu yang disusun bertahap.

“Tentu saja. Jika hanya satu kayu yang terpasang itu artinya pemilik rumah ini akan kembali sebentar lagi, jika 2 pemilik rumah ini akan pergi sepanjang hari. Dan seperti yang kau lihat sekarang 3 kayu yang terpasang menandakan kalau pemilik rumah ini sedang berpergian jauh.”

Rein langsung menjelaskan panjang lebar tanpa cela. Chanyeol yang baru saja mengalami – mendengarkan Rein berbicara panjang lebar padanya merasa sangat senang.

“Kau cocok sekali untuk menjadi tour guide Rein-ah.”

“Mungkin saja. Aku juga agak tertarik dengan bidang itu. Kau tahu, aku bisa jalan-jalan sambil berkerja. Kelihatannya menyenangkan.”

Chanyeol menatap Rein sejenak dengan rasa gemas yang menjadi-jadi. Yeoja di sampingnya ini memang tidak pernah ragu-ragu untuk mengatakan apa maksudnya – Chanyeol tahu sekali maksud kalimat Rein. Yeoja itu ingin menjadi tour guide agar bisa jalan-jalan gratis.

“Kau itu polos sekali ya.” Chanyeol berkomentar sembari menyamai langkahnya dengan Rein yang setegah berlari.

“Oah! Ini tembok batu yang dibuat dari batu lava hitam.” Rein lagsung menghampiri tembok hitam yang berada di depannya tidak mendengarkan perkataan Chanyeol. Otaknya sudah terahlihkan dengan salah satu daya tarik dari Seongeup Folk Village.

“Memang apa yang membuat tembok ini spesial?” Chanyeol mengikuti jejak Rein menempelkan tangannya ke permukaan batu hitam yang dingin.

“Aku juga sebenarnya tidak tahu, tapi mendengar nama lava, kupikir orang-orang harus pergi ke gunung yang masih aktif untuk mengambil batu ini.”

“Ahahaha.” Meledaklah tawa Park Chanyeol mendengar jawaban Rein.

“YA! Untuk apa kau tertawa!” Rein tidak menerima tiba-tiba ditertawakan oleh Chanyeol, mengingat hubungan mereka yang tidak didasari dengan pertemanan yang baik.

“Alasanmu itu lucu.”

“CK! Jangan membuat moodku hancur. Sekarang foto aku bersama tembok ini. Tembok ini keren.” Rein menyodorkan ponselnya pada Chanyeol.

Chanyeol menerima ponsel Rein tapi ia ternganggu dengan kata ‘bersama’ yang digunakan yeoja itu. “Kau menganggap tembok ini orang dan ingin berfoto dengannya?”

Satu kata yang terbentuk di otak Rein, orang ini memang bodoh atau bagaimana? Tidak mungkin ia menganggap benda mati ini adalah hidup.

“Kenapa kau tidak berfoto bersamaku saja?” Lanjut Chanyeol yang langsung membuat Rein melotot.

“Kau gila ya? Sirreo! Ppali foto aku dengan tembok ini!”

Rein mendorong Chanyeol untuk membuat namja tinggi itu mengambil gambarnya, dan Chanyeol bisa melihat sosok Rein yang merentangkan tangannya dari layar ponsel yeoja itu.

“Hana, dul, set!” Chanyeol mengomandokan di susul dengan bunyik ‘clik’.

Rein yang sudah selesai berfoto dengan tembok hitam itu menghampiri Chanyeol dan mengambil ponselnya dari tangan namja itu. Ia langsung melihat hasil tangkapan gambar yang ternyata sangat bagus.

Sekali lagi Rein berjalan sembari melihat-lihat gambar yang diambilnya sedangkan Chanyeol hanya berjalan di samping yeoja itu. Tapi begitu melihat betapa lucunya wajah Rein yang berjalan sembari mengoprek ponselnya Chanyeol tergoda untuk mengabadikan sosok itu. Perlahan Chanyeol mengambil ponselnya dan mengambil gambar Rein.

Suara ‘clik’ yang terdengar tidak jauh dari telinga Rein membuat yeoja itu meloleh dan menangkap basah kamera ponsel Chanyeol yang mengarah kepadanya.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” Rein yang pada dasarnya tidak begitu suka difoto jika ia memang tidak ingin langsung mengamuk. Ia sungguh tidak percaya diri jika seseorang mengambil gambarnya ketika ia sedang tidak sadar, apalagi mengingat yeoja bernama Geum Ilhae yang suka sekali mengambil foto hina dirinya.

“Mengambil gambar. Tapi tenang saja itu bukan dirimu kok.” Chanyeol segera menarik ponselnya menjauh dan berusaha lari dari Rein yang sudah berubah ganas dengan mengincar ponselnya. Tentu saja Chanyeol tahu tentang Rein yang tidak suka difoto tanpa seijinnya – tapi ia selalu tergoda untuk melakukannya dan ia tidak akan membiarkan Rein merampas ponselnya yang memang memiliki folder tersendiri untuk foto yeoja itu yang ia ambil diam-diam.

“Bohong! Lalu kenapa kau menghindar dariku?” Rein menyipitkan matanya.

“Karena walaupun kau memang manis, wajahmu sekarang itu sudah seperti ingin menggulitiku hidup-hidup.”

Rein menatap Chanyeol dan masih berusaha untuk meraih ponsel yang terlampau jauh dari jangkauannya karena tinggi Chanyeol yang memang di atas rata-rata itu masih menyaingi yeoja raksasa bernama Rein. “Karena kau mencurigakan kau tahu!”

“Rein-ah, kumohon berhentilah atau kau tidak manis lagi.”

Rein memberengut. “Aku tidak perlu dianggap manis olehmu Park Chanyeol!”

“Sayang sekali, padahal aku menganggapmu manis Jung Rein.” Chanyeol mengedipkan matanya.

Melainkan merasa ternganggu Rein malah membeku seketika – tersihir dengan kedipan namja di hadapannya itu. Baru pertama kali ia berinteraksi dengan Chanyeol sedekat ini dan melihat berbagai ekspresi yang dapat muncul dari wajah yang dulu sangat dihindarinya itu membuat beberapa detakan tidak wajar di dalam dirinya.

Namun seorang Jung Rein tidak akan dengan mudahnya terlena. “Heol! Kau membuatku ingin muntah.”

Chanyeol yang sangat jelas menyadari kalau Rein sempat membeku beberapa detik hanya terkekeh dan puas akan hal yang baru saja ia perbuat.

“Wae?” Rein yang merasa ternganggu dengan senyum lebar yang terlukis di wajah Chanyeol selama sisa perjalanan mereka, akhirnya berkata.

“Aku tidak melakukan apapun Rein, kenapa?” Chanyeol yang tidak merasa melakukan apapun mengedikkan bahunya dan menemukan objek foto, dan langsung mengambil gambar tanpa memperdulikan Rein yang sedang merenung.

Benar juga… namja itu tidak melakukan apapun, tapi kenapa aku merasa ternganggu hanya dengan melihatnya tersenyum? AISH! REIN SETELAH INI MENJAUHLAH DARI NAMJA INI SEBELUM KAU MENJADI GILA, batin Rein dalam pergumulannya.

Setelah berhasil menata pikirannya Rein memperhatikan objek foto dari seorang Chanyeol. Matanya melihat patung batu dan berkat banyak mencari informasi ia dapat mengindentifikasikan benda itu. “Hareubang.”

“Ne, kau benar. Apakah kau tahu kalau kau memegang hidungnya maka kau akan mendapatkan peruntungan bagus?”

“Ck, dari mana kau mendapatkan informasi tersebut?”

Chanyeol mengedikkan bahunya. “Kalau tidak salah aku menontonnya di tv.”

“Babo! Artinya bukan itu! Kalau wanita yang memegangnya maka ia akan dikarunai anak laki-laki, atau bayi yang cantik.” Rein berkacak pinggang.

Lalu Chanyeol berbalik dengan senyum. “Kalau begitu sentuhlah, dan siapa tahu di masa depan kita akan dikaruniai anak-anak yang tampan dan cantik.”

Rein berjengit mendengar kata-kata Chanyeol. “Apa yang kau katakan babo!”

Rein sudah hendak angkat kaki dari tempatnya tapi langkahnya terseret lagi ke belakang karena Chanyeol menariknya tepat ke samping namja itu. Namja itu merangkulnya dan ‘clik’. Dirinya dan Chanyeol telah berfoto bersama.

-:Ilhae’s PoV:-

Heush… Ke mana perginya semua orang kali ini? Aku memandang hampa ke arah televisi yang menyala di hadapanku. Acara yang tersiar di sana tidak ada yang menyenangkan sama sekali, padahal aku sudah mengganti chanelnya berpuluh-puluh kali.

Aku amat sangat bosan, dan ke mana perginya Jung Rein?! Teman yang selalu aku ganggu ketika aku sedang bosan itu! Seharian ini aku tidak melihat sosoknya sejak bangun tidur. Villa yang kemarin ramai sekali ini dengan hebatnya menjadi sepi.

Heol…

What to do….

Oke, aku benar-benar mati bosan di sini.

Clek, blam.

Aku mendongak dari posisiku begitu mendengar pintu villa terbuka lalu tertutup. Mataku langsung menangkap sosok Kyungah.

“Kyungah! Dari mana?”

“Ah eonni. Aku habis berbelanja. Oleh-oleh untuk eomma dan appa.” Kyungah berjalan menuju dapur dengan barang belanjaan di kedua tangannya.

“Ehmm, bukankah eomoni dan aboeji tidak tinggal di Korea?” Aku berjalan mengikutinya.

“Benar. Tapi ketika oppa mengabari kalau kami akan menggunakan villa di jeju mereka minta dikirim oleh-oleh ke Amerika sana.” Kyungah meletakkan plastik belajaan tersebut dan aku melihat-lihat isinya.

“Apakah semuanya untuk dikirim? Ini terlalu.. Banyak.” Aku mulai menghitung benda-benda yang sama ada berapa buah.

“Tentu saja tidak. Ini untuk kita juga. Kita juga harus mencoba beberapa makanan yang wajib dibeli di Jeju bukan?”

“Kau benar. Jadi aku – kita semua, boleh membuka salah satunya?” Aku menahan tatapanku pada plastik berisi botol-botol minuman yang serupa namun banyak sekali isinya. Aku haus.

“Tentu saja eonni. Oppa yang menyarankannya. Sebentar lagi ia pasti masuk. Ia sedang menyuruh beberapa orang untuk membawa beberapa belajaan lagi.”

Mendengar persetujuan Kyungah tanpa ragu lagi aku langsung mengambil botol tersebut, membukanya dan mengambil gelas lalu menuangkannya.

Kudengar suara pintu kembali di buka dengan diriku yang sedang mencicipi cairan yang agak terasa seperti jeruk itu.

“Oppa!” Kyungah menyambut Kyungsoo.

“Soo-ya.” Aku pun menyapanya.

Kyungsoo menghampiri kami dan meletakkan kunci mobilnya di konter dapur. Ia berbincang dengan Kyungah sebentar sebelum berahlih padaku, matanya menatapku lama sehingga aku merasa aneh.

“Waeyo?”

“Apa yang kau minum?”

Aku menurunkan arah pandangku pada gelas dan mengerti arti tatapannya. Aku meraih botol dengan kapasitas 750ml itu. “Ini.”

“Geum Ilhae, itu Jeju kamgyul (citrus) wine.” Ia berkata perlahan. “Wine itu adalah kesukaan appa.”

Langsung saja aku panik. “Omo! Maafkan aku kalau aku meminumnya! Eottoke?”

“Ilhae! Tenang… Aku sama sekali tidak keberatan kau meminumnya. Minuman memang ada lebih karena bonus membeli banyak. Tapi….”

Aku menatap Kyungsoo. “Tapi…”

“Itu wine Ilhae-ya…”

“Hah?” Aku menaikkan alisku.

“Ahahaha! Good job Geum Ilhae. Kau baru saja meminum minuman memabukkan. Kau tahu.. Kata penjaga toko itu adalah sejenis sake dengan rasa citrus segar.” Mataku langsung tertuju pada Baekhyun yang baru masuk disusul dengan Chen.

Tapi aku masih tidak dapat mengerti.

“Kyungsso-ssi, kau tenang saja. Ilhae tidak mudah mabuk, karena toleransi alkoholnya tinggi. Ia tidak akan seperti Rein.” Chen berjalan menghampiriku, dengan mudah ia mengambil gelas dan botol yang masih kupegang. Dengan santainya ia menuangkan isinya pada gelas tersebut dan meminumnya.

Otakku yang berjalan terlampau lambat karena kebayakan tidur sejak makan siang, sedikit-sedikit mulai menyatukan informasi yang kudapat.

Seperti yang baru saja Chen katakan, aku memang memiliki toleransi yang lumayan pada alkohol, sake, dan sebangsanya.

Aku masih ingat saat beberapa bulan setelah berteman dengan kelompok si berat aku terjebak dalam pesta ulang tahun Choi Siwon sunbae. Entah bagaimana aku bisa masuk dalam daftar undangan tolol itu. Dan di sanalah dengan bodohnya Siwon-sunbae itu memberikan aku minuman berakohol dan aku sempat minum 2-3 gelas karena rasanya lumayan, namun begitu teman yeojaku Amber memberitahuku aku langsung menendangnya, yeah dialah sunbae yang kutendang. Dan juga beruntunglah diriku yang masih tetap segar setelahnya.

Lalu…

Plak!

Aku memukul lengan Chen sesegera mungkin. “Kenapa kau meminumnya juga?”

“Appo! Aku ingin mencobanya. Karena saat aku dan Baekhyun ingin mencobanya Kyungsoo-ssi melarang.”

“Oh… Jadi kenapa villa ini kosong karena kalian semua pergi berbelanja ya… Bagus… Kalian meninggalkanku sendirian…” Aku menatap ganas ke arah mereka semua.

“Eung… Kai oppa tidak ikut…”

“Aku tidak butuh orang itu Kyungah. Sekarang mana Rein?” Aku benar-benar harus menggantung yeoja itu.

“Rein tidak ikut Ilhae, dan jangan menakuti Kyungah.” Baekhyun menepuk pelan puncak kepala Kyungah.

“Please… Lalu ke mana teman seperjuangan kalian Chanyeol?” Aku menambahkan karena sosok tinggi yang menganggu itu tidak nampak, tidak mungkin bukan ia bertransformasi menjadi seimut Kyungsoo.

“Dia juga tidak ikut.”

Aku mengerutkan dahiku. “Sehun?”

“Namja itu tidur di villa tidak berbeda jauh dengan Kai.” Kyungsoo menambahkan.

Lalu… Sebelum aku dapat memproses semua informasi yang ada, seseorang telah membantuku.

“Jadi-jadi! Hanya Chanyeol oppa dan Rein eonni yang tidak diketahui keberadaannya?” Kyungah menyela dengan nada suara yang kelewat bersemangat.

“Kau tidak berulah bukan?” Kyungsoo menatap tajam yeodongsaengnya.

“Aniyo oppa! Aku berani bersumpah!” Kyungah menunjukkan tanda peace.

“Hmmm…” Aku mengigit bibirku. Ke mana dan di mana kedua orang itu? Eodi? AH! Micheossoe! Ke mana kedua orang itu??

-:Rein’s PoV:-

Aku tidak mengerti dengan apapun yang terjadi hari ini. Chanyeol, namja yang selalu kujauhi beberapa tahun kebelakang. Hari ini dia menunjukan bahwa aku bisa merasa nyaman dan senang berada di sampingnya.

Bahkan beberapa tindakan kecilnya yang ia lakukan untukku membuat jantungku sedikit berdebar. Lebih hebatnya, aku bisa terkesima pada namja yang tingginya kira-kira 15 cm lebih tinggi dariku.

Selain dari hal itu, aku juga merasa aneh dengannya.

Park Chanyeol, dia seperti mengenalku dengan sangat baik.

Dia tahu bagaimana selera pakaianku, tahu rasa es krim favouriteku, dia tahu aku suka pergi ke tempat bersejarah sehingga mengajakku ke sana. Aku juga teringat pembicaraan kami beberapa bulan yang lalu, Chanyeol juga mengetahui bahwa aku phobia dengan kegelapan.

Seakan belum cukup dengan keanehan ini, sekarang Chanyeol mengajakku ke sebuah pantai di Jeju yang sangat indah view nya ketika matahari terbenam. Aku pernah mencari tahunya di internet, dan jatuh cinta saat itu juga ketika melihat gambar-gambar sunset yang diambil dari pantai ini oleh photographer ahli.

“Kenapa kau mengajakku kesini?” Pertanyaan ini tergelincir begitu saja dari lidahku. Chanyeol yang sedang melepas sepatunya dan menyimpannya di atas pasir menegakkan tubuhnya, sehingga kini kami berhadapan.

“Kau menyukainya, kan?”

Aku terkesiap. Bukan hanya dengan jawabannya, melainkan dirinya yang berada beberapa meter di depanku memandangku sambil tersenyum dengan begitu tulusnya. Dengan latar warna jingga milik matahari yang mulai turun sedikit demi sedikit, kembali pada peraduannya. Dari posisinya, Chanyeol seperti sedang menantang matahari untuk melihatku.

Dan hal ini benar- benar membuatku menahan napas dan tenggelam dalam pesona yang begitu luar biasa kuatnya menyerang akal sehatku.

Chanyeol, dia.. Dia benar- benar namja yang sangat tampan!!! Jika aku tidak menggigit lidahku sendiri, mungkin aku sudah kehilangan kata-kata ini dan meneriakannya seperti orang aneh.

Tapi harus ku akui, dia benar-benar tampan. Sepertinya aku membutuhkan latar matahari yang akan tenggelam untuk dapat menyadari hal ini.

“Apakah kau baru saja berpikir bahwa aku ini tampan?” Aku tersentak dari lamunan tak berbatasku hanya karena suara Chanyeol dan posisinya yang sudah benar-benar di depanku. Hanya ada satu langkah kecil, jarak di antara kami.

Aku ingin mencoba mundur beberapa langkah, namun rasanya kakiku terasa berat. Sehingga aku masih bergeming di tempat yang sama.

“Aniyo.” Aku berhasil berbohong untuk menutupi harga diriku.

Namun Chanyeol hanya menyeringai, dan sengaja mengunci bola mataku hanya padanya.

Dia tersenyum kecil sambil mengusap puncak kepalaku.

“Kau tidak bisa berbohong, Rein-ah. Kau sudah pernah mengatakan bahwa aku ini tampan.”

EON…JE?!

KAPAN?!!

Merasa panik aku buru-buru melangkah mundur dan menatapnya bingung.

Chanyeol sepertinya tidak memusingkan reaksiku, ia malah membalikan tubuhnya dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dalam plastik hitam yang ia bawa sejak tadi.

“Apa itu?” Tidak bisa menahan rasa penasaran yang timbul, aku pun bertanya sambil menunjuk kantong plastik itu.

“Kembang api.” Dengan nada santai namja tinggi itu menjawab pertanyaanku.

“Sebentar lagi matahari akan tenggelam sempurna dan langit benar- benar akan gelap, ini tempat asing sehingga kau akan takut. Jika aku tidak salah, kau walau takut pada gelap. Kau suka bermain kembang api di pantai saat masih kecil.” Chanyeol melanjutkan penuturannya dan nafasku benar-benar tercekat.

Park Chanyeol…

“YAK! KAU STALKER??!!!” Jeritku ketakutan dan melangkah beberapa langkah mundur. Sepertinya wajahku sangat ketakutan sekarang, apalagi setelah matahari benar-benar terbenam dan langit menunjukan kegelapan pekat. Aku merasa tubuhku menegang.

Tapi Chanyeol, dia dengan cepat menyalakan satu kembang api. Sehingga percikan cahaya menerangi kami.

“Kau pernah menceritakannya saat kelas 10. Waktu itu songsaengnim memintamu untuk menceritakan pengalamanmu saat liburan musim panas. Kau bercerita bahwa kau bermain kembang api di pantai bersama adikmu. Kau bilang kau sangat menyukai hal itu.”

Entah kesekian kalinya pada hari ini, Chanyeol mengubah perasaan dan ekspresi semudah membalikan telapak tangan. Aku yang sedetik yang lalu merasa takut kini aku lebih merasa kaget.

Ya, Chanyeol tidak salah. Aku ingat aku pernah bercerita hal semacam itu di depan kelas saat masih di High School.

“Kau… Mengingatnya?” Suaraku terasa bergetar di lidahku. Rasanya aku tahu apa alasannya.

Chanyeol mengangguk tenang, dan saat itu percikan pada kembang api pertama pun padam.

Chanyeol menyerahkan batang kembang api lainnya padaku dan aku menerimanya. Aku tersenyum sekilas saat kembang api di tanganku dinyalakan namja itu, bercahaya terang di genggaman tanganku.

Dan dalam beberapa waktu ke depan, aku hanya menikmati cahaya dari percikan kembang api yang sangat kusukai.

Ini adalah kembang api ke 8 ku dan sejak kembang api ke 3 aku memilih untuk duduk di atas pasir dan menggoyang- goyangkan kembang apiku di udara. Sehingga terangnya membentuk sebuah huruf.

고마워

Aku merasa sangat berterima kasih pada namja yang juga memutuskan untuk duduk di sampingku dan bermain kembang api bersamaku. Hari ini, walau terasa aneh dan membingungkan -lebih tepat membingungkan bagi diriku, diriku yang bisa menjalankan sepanjang hari tanpa harus merasa perlu untuk menjauhi namja ini- tapi aku merasa senang.

Entah kencan, atau apapun yang Chanyeol sebut.

Tapi kegiatan hari ini, antara aku dan dirinya membuatku sangat senang.

“Cheonmaneyo..”

Aku terkekeh mendengar deep voicenya membalas ucapan terima kasih yang kutulis melalui kembang apiku.

“Sebenarnya Park Chanyeol…” Aku membuka percakapan, sementara dia menoleh ke arahku. Dan aku yakin tatapannya dapat membuatku meleleh sehingga aku tidak mau menoleh balik melainkan fokus pada kembang apiku.

“Apa saja yang kau ketahui tentang diriku?” Dan pertanyaan ini lolos begitu saja tanpa bisa kusaring terlebih dahulu.

Kudengar suara dehaman bercampur kekehan darinya, sebelum dia menyebutkan. “Selain hal-hal yang kau sukai yang kita lakukan pada hari ini. Kau juga suka naik Ferris Wheel, saat darmawisata ke Lotte World di kelas 10 kau menaiki wahana itu hampir 4x, sehingga aku menyimpulkan kau benar-benar menyukai wahana itu. Kau sangat suka warna putih, sehingga baju yang kau pakai ke kampus didominasi warna itu. Kau tidak menyukai pelajaran biologi karena tidak bisa memakai mikroskop dengan benar. Pernah mendapat nilai 5 karena kesalahan fatal itu saat praktikum protozoa di kelas 10. Kau pernah mengikuti kursus renang karena hampir tenggelam di kolam renang tetanggamu saat masih di Elementary. Kau tidak menyukai caramel dan aku baru tahu kemarin jika kau juga tidak menyukai madu.” Chanyeol mencoba mengambil nafas panjang sebelum terkekeh. Aku merasa bahwa Chanyeol tenggelam dalam penuturannya sendiri. Karena dia menyempatkan diri untuk tertawa kecil dan menggeleng-geleng sambil menyebutkan hal-hal di atas.

Sementara diriku, masih mematung di tempat dengan kembang api yang sudah padam sejak beberapa saat yang lalu.

Pikiranku terasa kacau. Aku benar-benar merasa bingung, mengapa dia bisa mengetahui sesuatu tentangnya yang bahkan tidak diperhatikan orang lain.

“Masih banyak yang kuketahui tentangku?”

“Jika aku harus menyebutkan semuanya, kurasa aku bisa membuat buku setebal 200 halaman itu penuh, Jung Rein.” Dia tertawa di ujung kalimatnya, dan aku tahu dia hanya bercanda.

Aku mendengus, dan aneh merasakan kekecewaan timbul dalam diriku. “Kau tidak mengetahui sebanyak yang kukira. Sepertinya kau juga tidak tahu aku membenci binatang apa.” Aku merasa diriku ini tolol ketika mendengar nada suaraku yang terdengar seperti orang ngambek.

Intuisiku benar, ada yang benar-benar salah tentang diriku beberapa hari ke belakang.

Tepatnya ketika aku merasa bersalah pada Park Chanyeol karena terus mengabaikannya, kejadian feri.

“Kadal, cicak kau benci pada binatang seperti ini.”

Bingo! Ternyata Chanyeol salah akan suatu hal.

“Aku benci pada anjing.” Aku menoleh ke samping dengan tatapan mengoreksi. Namun Chanyeol terlihat percaya diri dan menggeleng.

“Kau tidak membenci anjing. Kau takut pada binatang itu. Aku pernah bertanya pada Ilhae, dia bilang bahwa saat di Middle School kau mempunyai seekor anjing. Kau sangat mencintai hewan peliharaan itu. Tapi suatu saat anjing itu menghianatimu dan mengigit salah satu jari tanganmu sehingga dokter harus menjahit kulitmu yang robek. Sejak saat itu kau takut pada anjing.”

Aku mendengus sekali lagi mengingat anjing itu. “Yah, seharusnya anjing menyebalkan itu kuberi nama Park Chanyeol.”

Dan sedetik setelah aku mengucapkan kalimat itu, aku merasa ada sebuah kemiripan antara Chanyeol dan anjing yang sangat kusayangi itu.

Chanyeol terkekeh, dan aku merasakan sebuah kecurigaan tentang apa yang sedang dipikirkannya. “Setidaknya di masa lalu, kau menyukai dan menyayangi ‘Park Chanyeol’ itu.”

Aku mendengus. “Maksudku bukan begitu.”

“Lalu, bagaimana dengan Park Chanyeol yang ini.” Chanyeol menunjuk dirinya sendiri dan menatapku dengan tatapan andalannya yang bisa membuatku sistem kerja rasionalku membeku seketika. “Apakah kau menyukainya?”

Aku terhenyak, mendengar nada suaranya yang menyatakan bahwa ia tidak memerlukan jawaban untuk mengetahuinya. Dia juga tidak terdengar ragu, seakan-akan dia sudah tahu pasti bahwa aku akan menjawab ‘Iya’.

“Apa maksudmu?!”

Aku melihat Chanyeol menatapku dengan pandangan yang amat serius dan aku secara sadar merasa ciut – Hah?! Sejak kapan aku bisa mengkeret hanya karena tatapan Park Chanyeol?

Tring…

Telingaku mendeteksi suara ponsel dan begitu mendengar decakan kesal Chanyeol aku mengetahui kalau itu adalah ponselnya.

“YA! Di mana kau?! Ini sudah malam cepat bawa Rein pulang atau aku akan mencingcangmu! Besok kita sudah harus pulang kau tahu! Lagipula bisa-bisanya kalian hilang dan membuatku mati bosan di villa hah?!”

Chanyeol berjengit sedangkan bibirku tertarik ke samping mendengar suara cempreng Ilhae yang memancar dari speaker ponsel Chanyeol. Aku tidak mendengar percakapan mereka selanjutnya karena Chanyeol berjalan menjauh dan menonaktifkan mode loudspeaker ponselnya. Aku menunggu sambil memainkan kembang api sisa-sisa terakhir. Beberapa menit kemudian aku menyadari langkah kaki yang mendekat.

Aku berdiri. “Kkaja, ayo pulang. Geum Ilhae pasti tidak akan membiarkanku lolos jika pulang lebih larut lagi.”

Yeah, lebih baik aku pulang untuk menyusun kembali isi pikiranku yang akhir-akhir ini kacau balau.

To Be Continue…

Iklan

16 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 8)

  1. omo~ keren bgt thor! beneran deh 😀 jd mupeng baca part rein chanyeol nya hohoho nextnya lbh panjang lg thor #pyong pyong :3 hehe

  2. aduh hampir aja mau nembak eh illhae malah nelpon chanyeol 🙂
    sebenernya itu chanyeol tau dari ilhae semua tentang rein, apa emang dari lama udah ngelihatin rein jd tau 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s