Raindrop Prelude

 

g

 

 

Title      :  Raindrop Prelude

 

Author              :sugasugar^^

 

Genre   :  Romance, sad, angst
Cast     :

Byun Baekhyun (Exo K)

Kim Yeo Kyung (OC)

Kim Jun Myeon / Suho (Exo K)
Length : Oneshot

 

Rating   : General

 

Note : Holla readers 😀 ini fanfic pertama author yang mudah mudahan diposting di web ini, setelah membaca, mohon komentar dan kritik yang membangun, karena author masih amatir jadi maap kalau ff nya rada gaje , Oh ya, cerita dari awal hingga akhir sudut pandang Baekhyun yaaa.  Enjoy reading!!!

 

Raindrop Prelude

Prelude Rintik Hujan

Baekhyun’s POV

 

Setelah berminggu minggu kudengar kabar tentang tetangga baru, akhirnya mereka benar benar datang pagi tadi. Aku lega rumah itu akhirnya terjual. Bangunan terbengkalai di samping rumahku yang sialnya, memiliki jendela berlatar gelap yang hanya berjarak sekitar tiga meter dengan jendela sisi rumahku.

Civic abu-abu mereka terparkir di depan rumah kosong itu. awalnya kukira mereka keluarga besar dengan banyak anggota. Tapi yang kulihat hanya seorang Wanita paruh baya keluar dari pintu kemudi. Ia mengenakan blus cokelat sederhana, sambil menjinjing tiga carrier sekaligus, memasuki rumah dengan terburu buru. Ia kembali dan mengetuk jendela mobil, mengintip ke dalamnya lalu berlalu ke bagasi, mengambil barang-barang dan masuk kedalam. Begitu seterusnya sampai sampai aku agak kasihan melihatnya,

Sebagai tetangga yang baik, seharusnya aku turun dan membantunya. Tapi sesuatu mengurungkan niatku.

Seseorang di dalam mobil membuka pintunya perlahan lahan. Ia menurunkan sepasang kakinya yang dari atas sini kelihatan kecil sekali. Dengan sebelah tangan menggenggam pintu, orang itu menarik tubuhnya hati hati. Seorang yeoja. Awalnya, kukira ia baru saja bagun tidur sehingga agak pusing, karena setiap gerakannya begitu lamban dan kaku. Tapi setelah kakinya menjejak tanah dan mulai berdiri, ia terjatuh.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, dengan bodohnya aku hanya menyaksikan dari atas balkon dengan wajah terkejut. Benar benar tak ada yang menolongnya disana sampai wanita ber-blus cokelat itu berlari dengan panik dari dalam rumah, merangkul perlahan gadis yang tengah susah payah menyeret tubuhnya

***

Di pagi berikutnya, bahkan saat aku belum bisa melupakan kejadian itu, seseorang nampak membuka jendela di seberang. Wanita itu, dengan gadis yang kemarin terjatuh duduk di kursi membelakangi jendela. Entah apa yang mereka bicarakan. tapi setelahnya gadis itu ditinggal sendirian.

Ia -yang awalnya nyaris seperti patung- bergerak beberapa menit kemudian dengan menggeser posisi tubuhnya hingga aku hampir dapat melihat sebagian sisi wajahnya. Aku terdorong untuk melihat lebih dekat dari celah tirai, tapi lama-lama ia menunduk dan semakin menunduk sampai seluruh rambutnya jatuh menutupi wajah.

 

Akhirnya, Setiap kali berada disana rasanya seperti diingatkan akan sesuatu, aku selalu memerhatikan ruangan diseberang dari jendela kamarku dengan setengah tirai yang sesekali tertiup angin. Sore hari saat sering kali kudapati jendela mereka justru tertutup.

 

Suatu hari di akhir pekan kuputuskan untuk beristirahat di sofa yang berada tepat didepan jendela. mencoba memejamkan mata sambill sedikit-sedikit melirik ke arah sana. tidak ada siapapun, itu membuatku benar-benar terlelap sampai sesuatu jatuh menimpa keningku dan menggelinding ke bawah. Aku langsung terbangun karena kukira itu cicak, sebelum kusadari bahwa cicak tidak menggelinding.Yang kulihat hanya sebuah gulungan kertas. Aku mengambil dan membukanya, isinya sebuah kalimat yang ditulis acak-acakan dengan tulisan yang benar benar buruk.

 

Jangan memata-matai aku”

Tahu kan, rasanya. Seorang gadis memergokiku tengah mengintainya dari seberang. Memalukan. Sontak saja aku panik bukan main. Aku merangkak menuju laci dan mengacak-acaknya dengan liar, mencari sebuah ballpoint. Dan setelah kutemukan, dengan sangat bodohnya aku membalas :

 

“Ah, Mianhae. Aku tidak bermaksud memata-matai, aku hanya ingin tahu tetangga baruku”.

Lalu aku melemparnya dari bawah jendela.

 

“Itu agak kurang sopan, kalau kau ingin mengenal tetanggamu, berkunjunglah kerumahnya.” Pesannya.

Itu yang terakhir karena aku terlalu malu untuk membalasnya. Ia bilang aku kurang sopan, memata-matainya, dan ingin mengenalnya.

 

Sejak kejadian itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuka jendela selama gadis itu berada di sana. Tapi setelah beberapa kali aku tidak sengaja melihat kearah jedelanya yang terbuka, ia  benar-benar tidak ada disana. Jadi kurasa, ia dan ibunya mungkin sedang pergi –paling tidak, dari ruangan itu-. Ini saatnya aku tidak perlu merasa khawatir untuk membuka jendela, membiarkan udara busuk dikamarku bertukar tempat dengan udara segar pagi hari.

Kini ruangan itu tidak lagi gelap dan menakutkan. Kamar itu telah didekorasi sedemikian rupa, catnya –kalau aku tidak salah lihat- berwarna jingga, dan lampu lampu kuning yang berpendar kecil pada malam hari membuatnya tampak hangat. Tiba-tiba terbayang olehku gadis itu duduk di depan jendela, kepalanya menunduk dengan rambut panjang terurai, terpapar sinar matahari. Aku merasa angin menerpa wajahku dengan lembut.

 

Aku duduk di kursi, menelusuri tuts-tuts piano yang berada di pojok ruangan untuk mulai memainkan sebuah lagu yang pernah Eomma ajarkan padaku dulu, kami menamainya ‘prelude rintik hujan’. Diluar memang tidak sedang hujan, namun dulu, irama yang menenangkan ini biasa Eomma mainkan kapanpun aku memintanya.

 

***

Malamnya, aku menemukan gulungan kertas lain di atas sofa. Aneh. Padahal aku sudah tidak pernah memata-matainya.

“Aku mengadukanmu pada Eomma dan ia bilang, aku terlalu kasar. Aku sungguh sungguh minta maaf.”

Mengejutkan setelah beberapa hari ini semuanya tenang tenang saja, tapi kurasa aku tersenyum. Tanpa berfikir panjang kubalas surat itu

 

“Tak apa. Asalkan Eomma-mu tidak datang ke tempatku dan memarahiku karena ‘memata-matai’ anak perempuannya. Haha”.

Sebelum melemparkannya, diam diam kulihat ruangan di seberang dan tak kutemui siapapun. Mungkin ia bersembunyi, jadi aku melemparkannya lalu dengan gerakan secepat kilat duduk di bawah jendela.

 

Dan menurutku, ini luar biasa. Samar samar kudengar suara tawa kecil yang kedengaran murni. Apa itu lucu? Aku jadi tersipu malu.

 

“Eomma tidak akan. Ngomong-ngomong, aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya, tapi permainan pianomu sangat indah”

    Lagi-lagi aku dibuatnya terkejut karena ternyata ia mendengarku, ia ada disana saat aku membuka jendela lebar-lebar dan bermain piano.

 

Aku menuliskan “Aku tidak tahu kau mendengarnya, tapi terima kasih. Aku Baekhyun. Siapa namamu?” Tepat saat kertas itu tiba disana, ibunya datang dan sepertinya menyuruh ia tidur. Pendar lampunya padam. Jadi kukira pembicaraan kami cukup sampai disitu, sesingkat biasanya. Dan aku malu untuk mengakui bahwa aku terlalu mengharapkan balasan darinya dengan tidur di sofa.

Tapi mungkin memang begitu seharusnya, karena gulungan kertas itu kembali menimpa keningku.

 

Aku Yeo Kyung”

 

***

 

Esoknya hari-hari dimana aku kembali pada rutinitasku, kuliah. Pagi hingga sore hari sekitar pukul lima saat matahari tengah bersinar lembut. Dan dalam perjalanan pulang, aku memikirkan hal semalam.Tentang Yeo Kyung dan tulisan ceker ayamnya, tertawanya, dan tentang rambut panjangnya yang seperti saddako .

   Hey, Bagaimana kalau nanti aku memainkan prelude rintik hujan untuknya?

 

***

 

Aku benar-benar melakukannya, membuka jendela lebar-lebar dan bermain piano. Mungkin kau berpikir aku bisa saja berteriak “Hey!Kau ada disana? Dengarkan ya, aku akan bermain piano!”. Tapi entahlah, ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa dia ada disana, mendengarkan.

Rasanya menyenangkan ada seseorang yang menyukai apa yang kulakukan. Dan begitulah setiap hari, Aku tidak pernah terlambat pulang untuk Yeo Kyung. Memainkan Prelude setiap sore hingga matahari terbenam. Terkadang kami mengobrol lewat surat-surat meskipun Akulah yang lebih banyak bercerita. Satu hal yang kutahu, Yeo Kyung menyukai musik dan hal-hal yang indah.

 

Aku ingin ini berlangsung lama. Tapi karena keadaan seperti ini tak memungkinkan untuk dilakukan setiap hari, akhirnya kami bertukar alamat e-mail. kami lebih sering mengobrol. Yeo Kyung menulis lebih banyak dan sesekali membagi pengalaman menyenangkannya denganku. Berbulan-bulan berlalu, kurasa kami berteman akrab.

 

***

Pernah suatu hari sepulang kuliah aku melihat seorang pria muda mengunjungi rumah Yeo Kyung. Ia nampak seperti orang berada, dengan mobil mengkilap dan setelan jas rapi. Belum lagi, Ia masuk sambil membawa banyak bingkisan.

Karena penasaran kuputuskan segera ke kamar untuk -lagi-lagi,- mengintai. Dari kaca jendela terlihat Mereka berkumpul di sana. Tawa pria itu sesekali pecah, diikuti suara tawa Eomma Yeo Kyung. Rasanya ganjil ketika ruangan itu mendadak ramai. Sore itu, aku tak memainkan satu lagu pun.

Malamnya kutanyakan pada Yeo Kyung sesuatu yang kemudian aku sesali.

 

“Namja itu pacarmu ya?”

e-mail terkirim

“Bukan, dia Jun Myeon, kakakku. Kenapa kau berpikir dia pacarku?”

 

Ya, dia benar. Kenapa aku berpikir dia pacarnya?

 

Karena aku belum pernah melihat seseorang berkunjung ke rumahmu sebelumnya.”

 

     “Kau benar, lagipula aku tidak pernah punya pacar”

 

Tanpa bermaksud menyinggung aku mengatakan :

 “Kenapa bisa? Padahal kau orang yang menyenangkan”

 

“Jadi menyenangkan bukan jaminan mempunyai pacar. Seorang Yeoja harus mempunyai daya tarik, dan kenyataannya aku tidak. Ngomong-ngomong kurasa tidak seharusnya kau bilang aku menyenangkan. Aku bahkan tidak pernah melakukan apapun untukmu.”

 

Aku terdiam membacanya. Karena tak tahu harus mengatakan apa, aku tak membalas. Aku memikirkan kata-kata Yeo Kyung sepanjang malam.

Dia,  bahkan tidak pernah melakukan apapun untukku. Dia bahkan tidak pernah memperlihatkan wajahnya. Dia benar, masih banyak yang aku tidak tahu . Aku bahkan lupa menanyakan kenapa waktu itu ia terjatuh,dan kenapa hampir setiap saat ia berada di kamarnya.

 

Sejak itu aku tersadar, Yeo Kyung menganggapku orang asing. Sedangkan aku, yang lebih banyak tak mengenalnya, tak sedikitpun terpikirkan hal itu.

 

***

Suatu hari aku pulang lebih malam karena sebuah studi ke Museum Seni Kansong. Kurasa aku sedikit dapat melupakan kejadian sebelumnya karena aku cukup bersenang-senang. Tapi, saat melalui pusat kota aku mengunjungi toko souvenir dan membeli sebuah gantungan bersimpul dengan beberapa aksesori kerang di sekelilingnya, serta tiga buah silinder besi yang berdenting saat bersentuhan.

 

Jujur saja, saat membelinya aku teringat pada Yeo Kyung. Dengan merasa bodoh aku memandangi benda itu yang pada akhirnya kugantung di balkon kamar. Mereka berdenting lembut saat suasana benar benar tenang. Sekecil apapun angin bertiup, aku mendengarnya. Apa Yeo Kyung juga?

 

Setelah terlau jengah untuk meringkuk tidak jelas di sofa sambil memandangi tirai jendela yang tertutup rapat, aku membuka Laptop yang tergeletak di atas meja. Bermain soiltare selama beberapa menit rupanya tak membantu. Kuputuskan untuk membuka e-mail yang cukup lama terabaikan.

 

 

Pukul 17:05

“sepertinya akhir-akhir ini kau sibuk, aku merindukan prelude rintik hujan-mu”

 

Pukul 17:30

“Baekhyun?”

 

Pesan itu serta beberapa kiriman lainnya yang berisi kurang lebih sama, masuk sekitar enam hari yang lalu.

 

    Suatu sisi dihatiku berkata “terserah” atau “apa maumu sebenarnya?” tapi sisi lainnya berkata “maafkan aku menghilang selama beberapa hari ini. Ngomong-ngomong, Benda di balkon kamarku menakjubkan, aku ingin memperlihatkannya padamu” .

 

Karena dilema yang luar biasa aku memutuskan untuk tidak membalasnya. Aku melakukannya beberapa hari, kini aku tidak usah menolak ajakan temanku dan terburu-buru pulang hanya demi orang yang baru kukenal. Sampai aku menyadari beberapa hari kemudian, aku lelah. Yeo Kyung telah membuat semua hal yang ingin kukatakan padanya, kutahan hingga terasa melelahkan.

 

Pukul  19:22

“Baekhyun, entah kapan kau akan membaca ini. Mungkin di lain hari, dan aku paham alasannya. Jika kau sibuk, kau juga tidak perlu membalasnya. Tapi, aku tidak tahu harus berbagi kesenangan ini pada siapa lagi. Eomma memberiku sebuah gaun cantik berwarna biru langit. Dan saat aku mencobanya, Eomma bilang aku tampak menawan. Aku jadi terfikirkan untuk memperlihatkannya padamu, tapi itu tidak mungkin. Jadi aku hanya bisa menceritakan ini.^^”

 

Terbayang olehku bahwa Yeo Kyung benar benar bahagia. Aku berusaha untuk mengabaikannya. Lagipula, aku tidak mau membuatnya menganggap aku sebagai orang yang berarti, -aku bukan siapa-siapa- . Yeo Kyung sakit, dan aku tidak mau melukainya saat kami sudah semakin mengenal.

 

Aku berhasil untuk beberapa hari dan tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Sampai sebuah gulungan kertas mendarat di bingkai jendela suatu siang. Mungkin saat meraihnya aku tampak enggan, tapi sungguh, ini adalah sesuatu yang begitu kurindukan.

 

“Baek, mungkin kau sudah tidak ingat padaku..Tapi kau pasti masih ingat tentang Prelude Rintik Hujan yang kau mainkan setiap sore. Aku punya satu permintaan yang mungkin akan menyita waktumu. Aku ingin kau mainkan itu untukku sore nanti, untuk terakhir kalinya. Dan setelah itu, aku berjanji tidak akan pernah memintanya lagi. Kumohon.”

 

Bagiku, setiap kata-katanya terasa tidak benar. Yeo Kyung yang selau berada di dalam rumah tidak pernah tahu apa yang kurasakan. Kenapa ia harus bilang ‘untuk terakhir kalinya’. Lihat saja, Aku tidak perlu membalasnya, Yeo Kyung yang duduk di bawah jendela sana tahu bahwa aku tidak pergi kemanapun dan menanti datangnya saat ini. Sore hari saat aku mulai melantunkan Prelude Rintik Hujan, dan berkata dalam hati bahwa ini bukan yang terakhir kali.

***

Esoknya, tanggal sepuluh bulan desember.  Kabar itu kudengar dari Nyonya Seo Min –Ibu Yeo Kyung- saat aku pulang dan melihat rumah mereka dipenuhi banyak orang. Ia mengatakannya di depanku sambil berusaha menahan airmata. Begitupula aku. Tapi aku berusaha tenang, dan datang kerumah keluarga Seo sebagai tetangga yang baik .

Bagian dalam rumah itu luas. Dipadati orang-orang dengan pakaian berkabung serta rangkaian bunga. Kulihat namja itu –Jun Myeon- tengah berbincang dengan para tamu sambil berusaha nampak baik baik saja. Aku menghampirinya setelah ia sendirian dan memperkenalkan diri sebagai tetangga Yeo Kyung.

Pada akhirnya setelah kami berbincang cukup lama, Jun Myeon mengantarkanku ke ruang tengah. Dimana sebuah peti diletakkan di atas altar buatan dengan banyak sekali karangan bunga disekitarnya.

 

Adik perempuan Jun Myeon, Kim Yeo Kyung, memiliki kulit seputih salju dan mengkilap layaknya porselen, Gaun berwarna biru langit membalut tubuhnya yang kurus. Dan itulah saat pertama aku melihat wajahnya. Tadinya Kukira wajahku akan keram dan aku akan menangis, tapi yeoja cantik itu meninggal dalam senyum yang begitu teduh. Lembut, indah, dan menenangkan. Seperti prelude rintik hujan.

***

Sepulang pemakaman, Nyonya Seo Min menyampaikan surat yang ditinggalkan Yeo Kyung sebelumnya padaku.

 

Baekhyun,

   Aku tidak tahu harus mulai dari mana, terlalu banyak yang ingin kusampaikan padamu. Dan saat aku masih bisa melihat sinar matahari, aku bahkan tidak punya cukup waktu untuk ini.Jadi kumulai dari hal yang sepertinya ingin kau tahu sejak awal. Aku tidak pernah keluar dari rumah,berhenti sekolah, bahkan hampir setiap saat berada di ranjang karena aku sakit. Eomma tidak pernah mau memberitahuku penyakit apa tepatnya, ia bahkan tidak suka membahasnya. Yang aku tahu, aku tidak bisa berjalan lagi, dan tidak boleh terlalu banyak terkena sinar matahari. Saat-saat seperti itu hanya bisa kulalui di pagi hari, ketika Eomma mendudukanku di depan jendela. Aku tahu kau pernah mengawasiku dari atas balkon, tapi kali itu kau mengintip di balik jendela. Aku gugup karena tidak biasa diperhatikan seperti itu. Awalnya aku marah, aku jadi tidak bisa duduk berlama-lama di depan jendela karena dirimu, dan aku berkata kasar padamu. Tapi saat hari itu, aku benar-benar jatuh hati pada permainan piano mu yang kau sebut prelude rintik hujan, jadi seperti yang selama ini kulakukan, aku bercerita pada Eomma, semua yang kualami . Dan berkatnya aku mengenalmu, lelaki pertama yang begitu baik padaku –selain Jun Myeon Oppa- . Karena itu aku tidak pernah mau kehilanganmu, meskipun aku tahu hal ini bukan apa-apa bagimu.Tapi bagiku, inilah pertama kalinya aku merasakan suatu perasaan aneh yang menyenangkan. 

     Tapi kemudian, yang kubayangkan benar-benar terjadi, semakin hari kau terasa menjauh. Mungkin tanpa disadari aku melakukan kesalahan, jadi untuk itu, aku minta maaf, Baek.

      Dan, terimakasih teramat sangat untuk sisa hidupku yang sangat berarti. Untuk prelude rintik hujanmu yang pertama hingga yang terakhir, untuk silinder-silinder berdenting itu, untuk kata-katamu yang membuatku tertawa –hal yang sulit kulakukan dari dulu-.Dan yang paling indah yang pernah kau berikan, -saat aku bertanya pada Eomma, apa yang membuat seseorang  yang gemar duduk di depan jendela menjadi lebih suka duduk dibawah jendela, dan mulai mampu memainkan pena dan kertas ,berusaha menulis sebagus mungkin walaupun dengan selang infus membelit lengannya- Eomma bilang: cinta.

Aku tidak tahu apa artinya buatmu, tapi buatku itu cinta.

 

 

                                                                                                            26 agustus, 2013

_____________

 

Finish! Bagaimana ffnya? Kependekan ya? Mungkin lebih pantas disebut drabble hahah =D maaf kalau ceritanya rada aneh dan ya begitulah, posternya juga ga bagus bagus amat =,= tapi apapun itu mudah mudahan ada sesuatu yang bisa dipelajari dari ff saya yang berantakan ini. Mohon kritik saran dan comment-nya ya, bagaimana kesan dan pesan setelah membaca ff ini (alah) babay 🙂 Kamshahamnida ^^ ~

Iklan

34 respons untuk ‘Raindrop Prelude

  1. Terlalu sedih 😥
    kelebihan dapet feel sampe-sampe nangis nggak jelas sambil sesenggukan 😥
    keep writing aja deh, ff ini bagus *nangisterharu*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s