Merupuri (Chapter 2)

merupuri exo2

Author: Queeney

Cast : Luhan, Minsu(OC)

Genre : Fantasy, Romance, Misteri

Type : Straight

Length : Chapter

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari sebuah komik. Ide maupun judul adalah milik sang komikus Matsuri Hino. Diksi, alur, dan penokohan ulang adalah hasil imajinasi saya. Sudah pernah di publish dengan nama author yang sama tapi versi berbeda.

Do not copy-paste without my permission or steal the story! thanks and enjoyed!

Chapter 2 © Queeney

Kim Minsu tidak pernah menyangka hidupnya akan berurusan dengan sesuatu yang disebut sihir. Pangeran sihir, negeri sihir, keturunan penyihir, kakak tiri yang menyihir adiknya, atau apapun itu yang kini tengah memenuhi otak Minsu.

Pening hebat mendera kepala Minsu saat pikirannya kembali melayang pada penjelasan seorang namja bernama Xiumin, yang lagi-lagi dibelakang namanya terdapat sebuah kata yang saat ini paling membuat Minsu frustasi, sihir.

“Astaga, apa katanya kemarin? Aku ini keturunan penyihir? Yang benar saja! Mereka pasti bercanda” Minsu berucap dengan keras, berharap suara lantangnya bisa menghilangkan hari-hari barunya yang tidak normal ini dan mengembalikan ia pada kehidupannya yang normal, yang penuh dengan serial drama romantis tentang seorang namja idaman yang begitu mencintai sang istri dan akan melakukan apapun untuk membahagiakannya.

“Jadi kapan kau akan memberikan ‘ciuman sang gadis’ padaku?” sebuah suara mengusik Minsu. Yeoja itu mendesah keras sebelum berpaling menatap namja biang masalah hidupnya. 

Mata Minsu menyipit dan berusaha menatap namja itu setajam mungkin, ingin namja itu merasakan bahwa ia terganggu dengan kehadirannya di rumah itu.

“Jangan bicara segampang itu Luhan! Kau kira ciumanku bisa didapatkan dengan mudah?!” Minsu mendelik, menaikan sebelah alisnya kesal. Sementara namja tinggi nan tampan itu tersenyum kecut.

Nuna, seperti penjelasan yang telah kau dengar dari Xiumin hyung, aku tidak akan bisa kembali ke tubuh kecilku jika kau tidak menciumku, yang berarti aku tidak akan bisa menggunakan kekuatanku untuk kembali ke Merupuri” jelas Luhan dengan senyum setulus mungkin, yang dalam pandangan mata Minsu adalah smirk menyebalkan.

“Oke, kalau memang benar tubuhmu akan kembali seperti semula jika mendapat ‘ciuman sang gadis’, tapi kan mungkin saja bukan aku yang harus melakukannya! Lagi pula, cerita seperti itu biasanya diikuti dengan rasa suka Lu! bukan asal mendapat ciuman saja” Minsu melengos, merasa jengah menatap Luhan dewasa.

Aishh, bagaimana mungkin ada kejadian seperti ini di dunia ini? Minsu menghela nafas.

Jika diulang kembali penjelasan Lay tadi malam, rasanya konyol sekali mengingat namja berbadan selayaknya namja normal berusia 17 tahun itu adalah namja kecil nan imut yang ditemukannya tempo hari tengah memegangi cermin peninggalan neneknya.

Ah, apa kata mereka  sebelumnya? Luhan datang dari cermin itu? Astaga, kepala Minsu kini benar-benar serasa mau pecah.

Dan tubuh tegap nan menggoda itu, ck… bagaimana mungkin tubuh itu Luhan dapatkan hanya karena sihir yang diberikan oleh kakak tirinya yang akan bereaksi dalam gelap. Berubah dewasa jika berada di tempat yang gelap eoh? Ajaib sekali. Jika Minsu dahulu pernah membayangkan sihir itu seperti apa, maka kejadian konyol saat ini pastilah pernah ada dalam memori terliarnya mengenai satu kata aneh itu.

“Kenapa tidak bisa kalau kau yang melakukannya? Gadis yang kusuka hanya kau nuna” ujar Luhan sembari menatap Minsu dalam.

Ditatap seperti itu seketika membuat Minsu gelagapan. Walaupun aslinya Luhan baru berumur 7 tahun, tapi tetap saja wujudnya itu membuat Minsu tidak leluasa. Dan lagi, jika diingat-ingat, banyak yang sudah mereka lakukan bersama hari sebelumnya. Makan, mandi, tidur…

“KYAAA! ANDWEE! ITU KAN KARENA AKU TIDAK TAHU DIA AKAN JADI SEPERTI INI!” Minsu tiba-tiba berteriak keras, protes ntah pada siapa. Luhan terlonjak kaget, dilihatnya Minsu dengan pandangan bertanya.

“Kau kenapa nuna? Marah-marah tidak jelas begitu, aneh” ucapan Luhan membuat emosi Minsu benar-benar memuncak, bantal yang sedari tadi berada dalam dekapannya seketika melayang dan sukses menimpa kepala Luhan.

Namja itu merengut sembari mengelus puncak kepalanya, “Nuna! Aku ini pangeran dari kerajaan Daimonia! Jangan melempariku dengan seenaknya begitu” sungut Luhan sembari menjatuhkan bantal Minsu ke sebelahnya kemudian berjalan dan menarik kursi meja makan, duduk persis di hadapan Minsu.

“Benar. walaupun kau keturunan kerajaan Ratreia, yang dulu memiliki tahta diatas kerajaan Daimonia, tetapi sekarang sudah berbeda Minsu-ssi! Karena pengkhianatan leluhurmu, Sungmin yang kabur menikah dengan Kyuhyun, kerajaan kalian sudah bukan kerajaan tertinggi lagi. Jadi, kau harus menghormati pangeran Luhan” Minsu berpaling cepat kearah suara dibelakanganya, itu Xiumin.

Minsu mendelik, melihat senyuman lebar namja itu seketika mengingatkannya kembali tentang cerita sang leluhur yang berkhianat dengan menikahi manusia, alih-alih pangeran dari negeri Aster, membuat Minsu jadi semakin kesal saja.

“Xiumin hyung, jangan berbicara begitu pada Minsu!” ujar Luhan, menanggapi Xiumin yang kini beralih menatapanya.

“Ah, pangeran Luhan kalau tidak kecil, tidak lucu” ucap Xiumin pelan, memasang mimik sedih yang berlebihan, tangannya mengelus keningnya perlahan, seolah menghapus lelah.

“Tidak lucu juga tidak apa-apa” gerutu Luhan mem-poutkan bibirnya, menolehkan pandangan kearah lain. Xiumin terkekeh pelan, rupanya sifat Luhan yang kekanakan masih belum hilang, dan itu membuat Xiumin senang.

Tujuh tahun lalu ketika Luhan lahir, Xiumin langsung didaulat menjadi pengawal pribadinya. Ia telah berumpah akan selalu mendampingi Luhan apapun yang terjadi. Ia akan menjadi orang kepercayaan Luhan nomor satu dan tidak akan pernah mengkhianatinya. Sumpah ini diabadikan di sebuah tempat sakral, tempat ‘sang arwah’ yang merupakan dewa tertinggi didunia Merupuri berada. Jika melanggar, maka nyawa merekalah yang akan menjadi taruhannya.

Hyung, kau sudah berhasil mengetahui bagaimana caranya aku kembali ke Merupuri?” tanya Luhan kemudian, selang beberapa saat setelah hening menyelimuti mereka bertiga.

Ne, seperti yang aku jelaskan semalam, kau hanya bisa kembali lewat cermin milik Minsu-ssi, pangeran! Dan itu harus dengan menggunakan sihirmu, tidak ada cara lain lagi” jelas Xiumin sembari mendudukan dirinya diatas westafel didekat meja makan. Namja itu melipat kakinya dengan anggun dan kemudian menatap Luhan dan Minsu bergantian.

“Minsu-ssi, memang apa susahnya memberikan satu ciumanmu pada pangeran Luhan? Akan aku pastikan kau mendapat imbalan jika menolong pangeran, yang berarti secara tidak langsung juga menolong kerajaan Daimonia” lanjut Xiumin kini hanya menatap intens pada Minsu.

Minsu seketika gelisah, pikirannya berkecamuk. Memberikan ciuman pertamanya pada Luhan otomatis akan mengembalikan kehidupannya pada keadaan semula, karena namja itu akan langsung pulang ke Merupuri. Tapi, itu ciumannya yang berharga!

“Tidak mau! Ciuman pertamku hanya untuk pria idaman yang menjadi takdirku!” Minsu membuang wajah mentah-mentah, menghindari menatap Luhan ataupun Xiumin

“Takdir? Memangnya kalau aku kenapa?” pertanyaan polos Luhan sukses membuat Minsu melongo, tangannya otomatis terangkat mengurut dada.

‘Sabar Minsu-ya. dia ini bocah 7 tahun, berapa kalipun kau jelaskan juga dia tidak akan mengerti apa itu takdir atau jodoh’ batin Minsu berusaha memberikan alasan logis pada dirinya sendiri agar tidak melaksanakan tawaran menggoda dari otaknya untuk melayangkan satu pukulan keras ke kepala Luhan.

Geure… kalau kau memang tidak mau mencium pangeran Luhan agar tubuhnya kembali seperti semula sehingga ia bisa menggunakan sihir dan kembali ke Merupuri melalui cerminmu, maka aku tidak bisa berlama-lama lagi disini. Aku serahkan penjagaan pangeran padamu sampai kekuatan pangeran kembali”

Minsu terperanjat kaget saat Xiumin tiba-tiba beranjak dari atas westafel, merapikan jubah panjangnya yang terbuat dari sutra, membenarkan letak hiasan dirambutnya yang terbuat dari sejenis bulu merak yang disematkan dibelakang telinga. Tidak dipungkiri, saat pertama kali melihat Xiumin, Minsu sempat terpesona pada sosok itu dan mengiranya seorang yeoja, alih-alih seorang namja yang bahkan cukup kuat untuk menjadi pengawal pribadi seorang pangeran dari kerajaan tertinggi.

“Memangnya kau mau kemana? Kenapa tidak membawa Luhan bersamamu?” ujar Minsu, kentara tidak menyukai ide Xiumin untuk meninggalkan Luhan menghuni apartemen sepi pengunjung itu bersamanya. Luhan mendelik melihat ke arah Minsu, yang diacuhkan begitu saja oleh yeoja itu.

“Aku harus kembali ke Merupuri Minsu-ssi, karena pangeran Kris baru saja tertangkap tadi malam. dan Raja akan membutuhkanku untuk mengintrogasi namja nyentrik itu untuk mendapatkan mantra pembalik yang mungkin bisa mengembalikan tubuh pangeran Lu” penjelasan Xiumin mau tidak mau membuat Minsu menghela nafas.

Jika disuruh tinggal seatap bersama Luhan kecil, Minsu pasti akan langsung menyanggupinya tanpa pikir panjang, karna memang yeoja itu mengingankan seseorang untuk menemaninya di apartement. Tapi, mengingat kondisi Luhan sekarang yang memiliki tubuh dewasa itu, sedikit membuat Minsu tidak tenang.

“Baiklah, karena tidak ada lagi yang harus dibicarakan, aku akan kembali ke Merupuri sekarang. Aku pergi pangeran” tanpa sempat melontarkan beberapa kalimat protes, Minsu melihat Xiumin kini telah hilang melalui cerminnya yang memang ternyata adalah portal yang menyambungkan dunia manusia dengan Merupuri.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan nuna?” tanya Luhan bersemangat, kedua matanya membulat sempurna  membuat Minsu merasa jengah. Menatap namja itu lama-lama dalam tubuhnya sekarang, benar-benar memberikan perasaan lain dengan saat Luhan berkeliaran dengan tubuh imut dan wajah yang sedikit angkuh. Minsu tidak bisa memungkiri bahwa Luhan dewasa dengan rambut berwarna silver –bukannya hitam- benar-benar suatu masalah.

“Hari minggu ini ada pentas Bika Ranger live, kau mau nonton?” ajak Minsu setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Dia memang sudah bermaksud mengajak Luhan saat namja itu masih di dalam tubuh kecilnya, tapi siapa sangka akan terjadi keajaiban seperti ini dalam semalam.

Mata Luhan berkilat begairah, semburat merah yang pernah dilihat Minsu sebelumnya ketika namja itu masih dalam tubuh 7 tahunnya, kini kembali muncul membuat Minsu gemas. Luhan menganggukkan kepala tanpa melepas tatapan intensnya pada Minsu.

“Aku mau mandi dulu” ujar Minsu sembari mengalihkan wajah dari pandangan Luhan, berjalan meninggalkan namja itu dengan sedikit tergesa.

“Aku juga” dua kata yang meluncur dari mulut Luhan itu kontan membuat Minsu berbalik dan menatap namja itu murka,

“KITA TIDAK BISA MANDI BERSAMA LAGI. DASAR BODOH!” teriak yeoja itu seketika. Tangan Minsu telak memukul keras kepala Luhan, membuat namja itu mengeluarkan wajah protes yang dengan mudah diabaikan Minsu.

“Aihss… kenapa dia semarah itu?” Luhan menggerutu pelan sembari mengelus puncak kepalanya.

***

“Kalau didepan umum, kau harus jaga sikapmu ya” ujar Minsu mengingatkan Luhan.

Saat ini mereka sedang berada di dalam kereta yang akan membawa mereka ke taman hiburan tempat dilangsungkannya Bika Ranger Live Show. Luhan mengalihkan pandangan dari jendela kereta dan menatap Minsu tidak suka.

“Aku ini dari keluarga bangsawan kalau kau lupa atau apa, nuna” ucapnya dengan sindiran tajam dan dagu terangkat, mengingatkan Minsu seketika bahwa namja disebelahnya itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya.

‘Ntah dia tahu atau tidak arti harga diri itu apa’ keluh Minsu dalam hati.

“WAAAA! BIKA RANGER!” teriakan keras dari Luhan selang beberapa menit semenjak mreka duduk manis untuk menonton pertunjukan, sukses membuat Minsu terlonjak kaget dan seketika menghujami Luhan dengan tatapan tajam.

Tentu saja, yang berteriak tadi adalah pangeran dari kerajaan tertinggi negeri Merupuri yang selalu mangatakan harga diri adalah hal paling penting dalam hidupnya. Ck, kalau boleh tertawa, Minsu merasa inilah saat yang tepat untuk melakukannya. Tapi, yeoja itu sontak mengurungkan niat saat teriakan Luhan terdengar lagi, lebih keras dan lebih lantang dari pada semua anak berumur 4-10 tahun yang memadati tempat itu.

“MANUSIA MACAM APA DIA DITEMPAT UMUM MENYANDRA ANAK KECIL!” marah Luhan sambil mengacungkan tunjuknya kearah sang penjahat yang sedang berada di atas panggung.

Semua penonton kini memandang heran pada Luhan dan Minsu, bertanya-tanya apakah benar yang berteriak seperti orang kesetanan tadi adalah namja tampan dengan setelan kemeja santai itu.

Minsu mengalihkan pandangan berkeliling, wajah yeoja itu sudah sangat merah sekarang, sibuk menyesali  kenapa ia menawari mengajak Luhan kesana.

“Lu, ayo kita pergi dari sini” bisik Minsu tepat di telinga Luhan. Namja itu menoleh pada Minsu dengan tatapan bingung, “Wae?” tanyanya dengan alis bertaut.

Ani, aku hanya ingin pergi. ayo!” tanpa aba-aba lagi, Minsu beranjak meninggalkan tempat duduknya sembari menggandeng tangan Luhan meninggalkan tempat tersebut.

Luhan sempat memberontak, tapi akhirnya menurut ketika Minsu menyebut-nyebut tentang tata krama keluarga bangsawan yang seharusnya tidak berteriak-teriak seperti orang gila hanya karena pertunjukan sesosok icon pahlawan untuk anak-anak sesusianya. Tapi, mengingat kondisi tubuh Luhan saat ini, Minsu tidak mau ambil resiko dilempari oleh penonton yang lain karena Luhan dianggap merusuh ditengah tontonan.

Karena kejadian ini, Luhan kini hanya diam dan berjalan mengikuti kemana arah Minsu pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Wajahnya mengeluarkan ekspresi dingin, dengan dagu yang terangkat tinggi saat berjalan. Rupanya ucapan Minsu tadi merupakan penghinaan terhadap harga dirinya yang tinggi.

Minsu merasa tidak enak dengan aura permusuhan dari Luhan yang sangat terasa. Ia berhenti mendadak dan menoleh kearah Luhan saa namja itu ikut-ikutan berhenti mendadak karena posisinya memang tengah berjalan di belakang Minsu. Luhan mengangkat kedua alisnya, menandakan ia masih dalam zona marah.

Minsu terkekeh pelan, “Iya…iya… aku minta maaf. Mianhae eoh?” ujarnya.

Tangan Minsu terjulur dan merapikan sedikit rambut Luhan yang berantakan, sembari tersenyum minta maaf dengan tulus. Luhan tertegun saat Minsu melakukannya, ia berdiri kaku dan hanya menatap bola mata Minsu dalam-dalam saat yeoja itu berusaha mencapai rambutnya dengan sedikit berjinjit.

“Baiklah, aku sudah tidak marah lagi” jelas Luhan tanpa melepas tatapannya.

Minsu yang merasa jengah tiba-tiba dilihat seperti itu, mengalihkan pandangan dan mengecek apa kira-kira permainan di tempat itu yang tidak berbahaya dinaiki bersama anak berusia 7 tahun.

‘Tidak mungkin naik yang itu, Luhan akan takut nanti. Ah! Yang itu mungkin aman’

Minsu sibuk berucap dalam hati sambil memilih permainan mana yang dapat dinaikinya bersama Luhan. Ia tidak merasakan sesuatu yang aneh sampai saat ia menoleh ke belakang untuk menanyai Luhan bagaimana pendapat namja itu dengan permainan yang ia pilih, saat Minsu menyadari bahwa Luhan sudah tidak ada lagi didekatnnya.

Minsu mengedarkan pandangan dengan kalut ke seluruh penjuru teman bermain. Yeoja itu berlari sepanjang antrian-antrian disetiap permainan yang ada di tempat itu. Ia merasakan takut luar biasa, bagaimana mungkin ia kehilangan Luhan?

“Eh? Minsu?” seseorang di belakang Minsu berucap, memanggilnya cukup keras. Minsu berbalik.

Hati Minsu mencolos tepat saat matanya beradu dengan namja yang tengah memandangnya dengan tatapan remeh, seolah Minsu sama sekali tidak berharga untuk sekedar ditatap secara baik-baik.

“Hakyeon…” desah Minsu lemah mengucap satu nama yang begitu sulit ia lontarkan itu. Seketika yeoja itu mengutuki kesialannya.

“Hakyeon-ah, siapa gadis itu?” Minsu mendengar seorang yeoja disebelah Hakyeon berucap manja, sekaligus menatap Minsu dengan pandangan curiga.

“Dia teman SMP-ku! Dia pernah menembakku saat upacara kelulusan. gadis pemimpi yang pernah kuceritakan” Minsu merasa tertohok tepat didasar hatinya. Luka yang sempat hilang kini seolah dipaksa lagi untuk terbuka.

Minsu ingat kejadian itu, saat ia dengan kaki gemetar dan dengan persiapan hati yang begitu matang akhirnya menyatakan cinta namja dihadapannya itu. Masih dengan jelas terpatri dalam ingatan Minsu bagaimana cara namja itu menolaknya. Mengatainya didepan umum, meneriaki Minsu layaknya ia yeoja yang perasaanya paling tidak berharga untuk dipertimbangkan.

“Benarkah? yeoja yang terobsesi dengan kata takdir itu? Hahaha lucu sekali” telinga Minsu serasa berapi saat mendengar ejekan yang terang-terangan dilontarkan padanya.

Tangan Minsu mengepal, ia merasa urat-urat dipelipisnya sudah berdenyut dalam tahap berbahaya, dan ia tak mau hilang kendali dengan melayangkan apapun dari bagian tubuhnya untuk menyakiti tubuh yeoja dan namja tidak tahu diri yang ada didepannya itu.

Maka Minsu berusaha memantapkan suara saat berkata, “Kau masih seperti dulu ya? Aku harus permisi, aku sedang mencari seseorang” sembari menahan air yang akan segera menggenangi kelopok matanya, atau bahkan semenit lebih lama lagi akan turun mengalir dengan deras.

“Orang itu pasti bukan laki-laki ‘kan?” suara remeh dan pandangan menyebalkan itu kembali meluapkan emosi Minsu sampai batas paling berbahaya yang bisa ditahannya.

“Di dunia ini mana ada laki-laki yang mau jadi pacar gadis pemimpi sepertimu?” namja itu, kembali berucap sembari terkekeh pelan. Tampaknya namja tanpa hati itu menikmati saat-saat ia bisa mengejek dan mempermalukan Minsu dengan habis-habisan.

“Aku harus pergi. Dan asal kau tahu saja Hakyeon-ssi, dia memang laki-laki” balas Minsu dengan suara bergetar.

Minsu baru akan berbalik dan berniat kabur dari tempat itu secepat kakinya bisa berlari, saat tiba-tiba sebuah tangan menelusup dalam genggamannya, memberikan kehangatan luar biasa sesaat setelah tangan itu benar-benar memantapkan genggamannya disana.

Minsu mengalihkan pandangan dengan cepat dan tatapannya kini telak beradu dengan tatapan tajam nan hangat, cukup hangat untuk membuatmu merasa aman hanya dengan menatapnya saja.

I’ve found you” suara merdu itu memenuhi gendang telinga Minsu.

Tatapan Minsu tertumbuk pada seukir senyum lebar namja dihadapannya itu. Tiba-tiba pertahan Minsu goyah, ia bisa  merasa kedua matanya memanas dan mungkin sudah ada banyak air mata yang menggenang disana, siap dikeluarkan kapan saja.

Luhan menatap Minsu tajam, menilik wajah yeoja itu yang seperti baru saja terkena tamparan kuat. Luhan merasa ada yang tidak berers, “Kau kenapa?” tanyanya seketika.

“Kau kemana saja? Mengganggu yeoja lain ya?” tanpa aba-aba Minsu menjatuhkan kepalanya perlahan ke pundak lebar Luhan. Rasa aman yang luar biasa membuat Minsu seketika terisak.

Luhan tertegun di tempatnya, namja itu mengalihkan pandangan dan saat itulah ia melihat ternyata ada dua orang yang berada didekat mereka dan tengah menatap intens pada Luhan dan Minsu. Matanya perlahan menyipit tajam dan memerhatikan kedua sosok dihadapannya itu,

“Apa yang kalian lakukan padanya?” tanyanya tajam.

Hakyeon sempat mematung ditempat saat merasakan tatapan tajam Luhan, seolah namja itu hendak mengulitinya hidup-hidup jika ia tidak segera beranjak dari tempat itu. Maka itulah sekarang yang berusaha ia lakukan, ditariknya kuat tangan yeoja disebelahnya tepat saat mendengar sang yeojachingu memuji Luhan.

“Ayo pergi!” gumam Hakyeon, berlalu dari hadapan Luhan.

“Aku juga ingin punya namjachingu sekeren itu” samar-samar Luhan dan Minsu bisa mendengar teriakan dari yeoja yang tengah ditarik tangannya menjauh oleh Hakyeon.

Minsu masih betah menyandarkan kepala di dada bidang Luhan, berniat menghabiskan semua tangisnya disana sebelum ia kembali kekehidupannya yang biasa sebelum bertemu namja itu tadi.

Luhan mengusap kepala Minsu dengan tangan kiri, berusaha memberikan penghiburan pada yeoja itu. Ia tidak tahu apakah itu berguna, tapi setidaknya begitu pelajaran yang ia dapat saat sempat menonton drama picisan kesukaan Minsu kemarin.

“Sudahlah jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk disia-siakan hanya karena namja menyebalkan yang tidak berharga seperti dia” Minsu sesenggukan dalam tangisnya, mau tidak mau ia membenarkan ucapan Luhan.

Minsu mengangkat kepala dari pundak Luhan, menatap namja itu sepersekian detik sebelum tangannya kemudian terangkat dan merapikan poni Luhan yang berantakan karena angin yang berhembus. Minsu tersenyum singkat, yeoja itu menghapus sisa air mata dipipinya.

“Aku tadi dapat benda bulat yang kenyal ini” ucapan Luhan seketika membuat Minsu mengalihkan pandangan pada sebuah balon berwarna biruyang talinya tengah digenggam Luhan dengan erat.

Minsu terkekeh pelan. Astaga, ia sempat lupa kalau namja pemilik dada bidang tempat ia bersandar dan menangis beberapa saat lalu itu berumur tidak lebih dari seorang anak ingusan yang akan merengek minta sesuatu yang mereka inginkan. Ntah kenapa sesaat lalu, ia benar-benar merasa bahwa Luhan adalah namja seusianya yang bisa dia jatuhi cinta kapan saja.

Minsu menggelengkan kepala dengan kuat saat satu kata itu terlintas dibenaknya.

‘Cinta? Ck, yang benar saja, namja ini berusia 7 tahun Minsu-ya! Jangan tertipu dengan tampilannya’ Minsu membatin. Sedangkan Luhan kini memiringkan kepala seolah menilai Minsu.

Luhan menyodorkan tangan kanannya yang menggenggam balon  itu ke arah Minsu, membuat yeoja itu mengernyitkan keningnya tidak mengerti.

“Untukmu biar tidak sedih lagi” ucapan singkat Luhan membuat Minsu melongo hebat.

Ia tertegun beberapa saat, memperhatikan wajah Luhan yang sedikit dipenuhi semburat merah dengan kedua bola mata yang intens menatap Minsu. Sedetik Minsu hanya bisa mengumpat dalam hati karena ntah kenapa ia merasa berdebar-debar.

Gomawo” ujar Minsu singkat sebelum menerima balon hadiah dari Luhan tersebut. Minsu kemudian menarik tangan Luhan dan mengajak namja itu pulang, yang segera disanggupinya dengan anggukan bersemangat.

“Ayo! aku tidak sabar untuk makan nasi omelet buatanmu” ucap Luhan dengan mata berbinar, membuat Minsu gemas setengah mati dan kekehan berhasil lolos dari bibirnya yang kissable.

***

“Luhan-ah, boleh aku tahu kenapa kau bisa muncul dari cerminku? Sedangkan seperti penjelasan Xiumin oppa, ada beberapa cermin yang berfungsi sebagai portal selain cerminku” Minsu bertanya pelan pada Luhan yang tengah berkonsentrasi menghabiskan piring keduanya yang berisi nasi omelet.

Luhan memandang Minsu sesaat, “Ketika aku mengucapkan mantra, aku memohon agar diberi tempat yang paling aman” ujarnya disela-sela acara kunyah mengunyahnya.

Minsu mengangguk perlahan seolah mengerti. Tapi, sebenarnya pikiran yeoja itu saat ini tidaklah terfokus sepenuhnya pada informasi tentang cermin. Minsu tiba-tiba saja teringat penjelasan Xiumin dua hari lalu.

Ada satu cara untuk menghilangkan beberapa sihir langka yang digunakan keluarga penyihir di Merupuri, yaitu dengan sebuah ciuman. Jika yang terkena kutukan adalah seorang namja, maka ciuman sang gadislah yang diperlukannya. Ia harus menemukan gadis yang tepat, gadis yang disukainya, atau ciuman ini tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Dan saat ini, pangeran Luhan hanya memiliki satu pilihan tersebut untuk kembali ke wujud aslinya, karena kakak tiri-nya belum tertangkap dan tidak bisa menghilangkan sihir yang berkerja pada tubuhnya secara otomatis” begitu kira-kira ucapan Xiumin waktu itu.

Minsu teringat hal lain yang bersangkutan dengan Luhan, namja itu dengan percaya diri mengatakan kalau dia menyukai Minsu dan ingin hanya dia yang melakukan ciuman itu.

Minsu menghela nafas. Pikirannya seperti sedang menampung beban berat. Jujur saja, detik ini yang dipikirkannya hanyalah efek lain jika ia memberikan ciuman itu.

Luhan akan kembali ke Merupuri karena dengan tubuh aslinya, ia akan bisa melakukan sihir yang terkendali. Fakta ini sedikit banyak menghantam Minsu, ia sudah sedikit terbiasa akan kehadiran Luhan. Namja itu adalah orang pertama yang membuatnya betah berada di rumah. Tingkah laku lucu ataupun menyebalkannya pasti akan sangat dirindukan Minsu jika Luhan kembali ke Merupuri dan menjalani hidup yang mewah seperti yang seharusnya.

“Lu, tutup matamu” Minsu merasakan suaranya sedikit bergetar saat berbicara.

Luhan telah menyelesaikan suapan terakhirnya dan sudah berlari ke kamar mandi untuk membersihkan muka dan menggosok gigi. Namja itu terlihat segar dan lebih dari cukup siap untuk sekedar menerima ciuman pertama Minsu.

Luhan memiringkan kepala bingung, tapi hanya sesaat karena detik berikutnya namja itu telah duduk tegap di kursi dengan kedua mata yang tertutup, “Ada apa?” tanyanya pelan.

“Jangan bergerak” jawab Minsu atas pertanyaan Luhan.

Luhan menurut dan menunggu dengan diam. Tapi kata sabar ternyata memang tidak akan pernah bisa menjadi kekuatannya. Namja itu membuka kedua mata tepat saat wajah Minsu hanya berjarak 10 centi dari wajahnya. Mata mereka beradu. Luhan melihat Minsu tersenyum sekilas sebelum ia sendiri kembali menutup mata, dan dengan perasaan berdebar menunggu ciuman Minsu yang berharga.

“Hmm… cium dipipi saja sudah cukup kok”

Suara seorang namja bernama Xiumin sukses membuat Minsu menjauh seketika dari hadapan wajah Luhan. Refleks kepala Minsu menghadap pada namja itu–

Mworago?” tanyanya seperti tengah terhantam sesuatu.

“Ah, tidak…tidak… lanjutkan saja” ucapan kedua dari Xiumin seketika membuat wajah Minsu dipenuhi sembura merah. Ia membuang wajah, menatap kearah lain selain pada Xiumin yang kini terkekeh geli, maupun Luhan yang wajahnya seperti anak kecil yang permen kesukaanya direbut dengan paksa.

Hyung! Apa maksudmu datang tiba-tiba begitu?” sungut Luhan mengutarakan kekesalan. Xiumin beralih menatap Luhan dan tersenyum gemas.

“Aku minta maaf sudah menginstruksi yang tidak penting pangeran, tapi sekarang aku tidak akan mengganggu. ayo lanjutkan saja” ujar namja itu enteng.

Luhan mendelik sebentar sebelum tersadar akan sesuatu yang lembut dan sedikit lembab menyentuh pipinya perlahan. Minsu mencium pipi Luhan cukup lama sebelum melepas ciumannya dan menjauh dari Luhan yang diam tidak bergerak.

Tiba-tiba sebuah cahaya dahsyat menyelimuti tubuh Luhan, dan detik berikutnya saat mata Minsu sudah kembali menemukan fokus, ia sudah melihat seorang bocah 7 tahun yang ditemuinya beberapa hari lalu kini berada tepat dihadapannya dan tengah melihat Minsu dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Luhan besar kembali menjadi kecil. Aihh… lucunya…” Minsu berucap pelan sembari mencolek pipi chubby Luhan pelan. Namja itu merengut–

“Jangan mengataiku lucu” kesalnya.

“Nah, beres kalau begitu. Pangeran, kau sudah bisa kembali ke Merupuri sekarang. Ayo sentuh cermin ini dan sebutkan mantranya”

Minsu dan Luhan mengalihkan pandangan menatap Xiumin.

“Oh ya, aku hampir lupa! Cheonmal gomapsumnida Minsu-ssi atas bantuan berharga darimu. Setelah kami sampai di kerajaan, aku akan mengutus seseorang untuk mengurus hal apa saja yang kau inginkan sebagai balas jasa ini” Xiumin mengucapkanya sembari menunduk formal.

Minsu tertegun sesaat, ia sama sekali lupa tentang tetek-bengek masalah balas jasa yang pernah dibahas Xiumin pertama kali.

“Aku tidak ingin apa-apa, hanya satu permintaan sederhana untuk Luhan” Minsu berucap pelan kemudian beralih menatap Luhan–

“Kau akan datang lagi ‘kan? Setidaknya berkunjung beberapa jam” lanjut Minsu penuh harap.

Luhan tersenyum lebar, membuat pipinya yang chubby tertarik sedikit keatas dan itu membuatnya semakin tampak imut.

Ne, tentu saja!” ujar Luhan tanpa perlu berpikir. Ia membalas tatapan Minsu dengan pandangan teduh dan senyum yang Minsu kategorikan sebagai senyum yang menenangkan.

“Baiklah, kami pergi dulu Minsu-ssi” ucapan Xiumin yang sedikit dikeraskan, menyadarkan keduanya.

Minsu tersenyum manis dan melambai pada Luhan yang kini sudah menyentuhkan jari ke cermin. Luhan balas menatap Minsu untuk beberapa saat, kemudian beralih pada cermin dan mengucapkan mantra. Sebelum mantra terakhir terucap, Luhan kembali menatap Minsu. Yeoja itu  tertegun. Dan merasa kesal saat memikirkan ia akan kembali hidup sendirian di apartemennya yang suram.

***

To Be Continue…

http://quillstarney.wordpress.com

28 pemikiran pada “Merupuri (Chapter 2)

    • duh aku juga cekikikan sendiri waktu ngetik, kebayang gitu hahaa pasti lucu
      bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang 😉
      makasi udah tinggalin komen

  1. Luhan yang kecil lebih imut>< Oh ya, untuk koreksi, setelah percakapan harus ada tanda baca (,) atau (,) untuk yg pernyataan ex. "Luhan-ah(,)" panggilnya. atau "Tidak ada." Ia pun berlalu. Aturan ini bisa dilihat di novel^^ Semangat menulis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s